Taliban Bebaskan Warga AS yang Ditahan Secara Sewenang-wenang di Afghanistan

Qatar berperan penting dalam memastikan pembebasan Amir Amiry, menurut Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

EtIndonesia. Taliban pada Minggu (28/9/2025) membebaskan seorang warga negara Amerika Serikat yang sebelumnya ditahan secara tidak sah di Afghanistan, demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri AS.

Pembebasan Amir Amiry difasilitasi melalui mediasi Qatar. Pihak kementerian tidak memberikan rincian terkait kapan Amiry ditahan ataupun alasan penahanannya di Afghanistan.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Qatar dan menyebut bahwa “kemitraan yang kuat dan upaya diplomatik yang tak kenal lelah” dari negara itu sangat penting bagi keberhasilan pembebasan Amiry.

“Presiden Trump tidak akan beristirahat sampai semua warga kami yang ditawan kembali ke rumah,” kata Rubio dalam sebuah pernyataan. “Pembebasan hari ini merupakan langkah penting dari pemerintahan di Kabul untuk mewujudkan tujuan tersebut.”

Menteri Luar Negeri Taliban, Mawlawi Amir Khan Muttaqi, bertemu dengan utusan khusus AS untuk urusan sandera, Adam Boehler, dan delegasinya di Afghanistan pada 28 September, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Taliban.

Kementerian itu menyebut pembebasan Amiry menunjukkan bahwa rezim Taliban “tidak memandang isu-isu yang berkaitan dengan warga negara asing dari perspektif politik” dan menekankan pentingnya diplomasi dalam menyelesaikan persoalan semacam itu.

Kementerian Luar Negeri Qatar dalam pernyataan di platform X menyebut Amiry telah dipindahkan dari Afghanistan ke Doha, Qatar, pada 28 September. Kementerian itu juga menegaskan komitmennya untuk “mendorong upaya mediasi yang bertujuan mencapai solusi damai atas konflik dan isu-isu internasional yang kompleks.”

Kunjungan Boehler ke Afghanistan berlangsung hanya sepekan setelah Presiden AS Donald Trump mendesak penguasa negara itu untuk mengembalikan Pangkalan Udara Bagram ke kendali Amerika Serikat, seraya memperingatkan bahwa “hal-hal buruk akan terjadi” bila Taliban menolak.

Rezim Taliban menegaskan bahwa “kemerdekaan dan integritas teritorial Afghanistan adalah hal yang paling penting” dan mendesak Amerika Serikat untuk menaati komitmen yang dibuat dalam Perjanjian Doha 2020.

Pangkalan udara Bagram sebelumnya merupakan pangkalan militer AS terbesar di Afghanistan, berfungsi sebagai pusat utama operasi pasukan AS setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Pasukan AS melepaskan kendali atas pangkalan tersebut saat penarikan pasukan dari Afghanistan pada 2021. Kendali diserahkan kepada Republik Islam Afghanistan yang didukung AS, namun pemerintahan itu runtuh pada Agustus 2021 ketika Taliban merebut ibu kota Kabul.

Perjanjian Doha mengatur penarikan pasukan AS dari Afghanistan sekaligus mencakup jaminan bahwa kelompok teroris internasional tidak akan menggunakan wilayah Afghanistan untuk melancarkan serangan terhadap Amerika Serikat.

Laporan tambahan oleh Ryan Morgan

Sumber : Theepochtimes.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine