EtIndonesia. Ada pepatah yang sering kita dengar: “Di rumah bergantung pada orangtua, keluar rumah bergantung pada teman.” Namun, sebuah pengalaman pribadi membuat saya mulai meragukan kebenarannya.
Beberapa waktu lalu, mata saya terasa tidak nyaman. Saat bercermin, saya melihat mata penuh dengan urat merah dan terasa sangat gatal. Begitu jam kerja usai, saya buru-buru pergi ke apotek. Sayangnya, sudah malam dan kebanyakan apotek kecil sudah tutup. Untungnya, seorang teman yang memiliki mobil pribadi bersedia mengantar saya ke sebuah apotek besar yang agak jauh.
Sesampainya di sana, petugas apotek berkata bahwa tanpa resep dokter, mereka tidak bisa memberikan obat. Saya panik, karena masalah mata ini benar-benar mengganggu aktivitas sehari-hari. Melihat kondisi saya, petugas berkata dia mengetahui beberapa rumah sakit dengan layanan dokter mata malam hari. Dia menawarkan diri untuk menelepon rumah sakit agar saya bisa segera mendapatkan resep. Setelah berhasil menghubungi, saya bersiap untuk berangkat.
Namun, di luar dugaan, teman saya justru tampak keberatan dan berkata dengan wajah kaku: “Tempat itu terlalu jauh, aku tidak mau ke sana.”
Saya terdiam, benar-benar tidak menyangka.
Pada saat itu, seorang ibu paruh baya yang sedang membeli obat mendekat dan berkata: “Kamu sebaiknya segera ke rumah sakit, kalau ditunda, penyembuhannya akan semakin lama. Saya tahu jalan ke rumah sakit itu, biar saya antar kamu saja.”
Sebelum saya sempat menjawab, teman saya malah dengan cepat menimpali: “Wah, kebetulan sekali! Terima kasih banyak ya, Bu!”
Saya hanya bisa terheran melihat kepandaiannya mengalihkan tanggung jawab.
Sepanjang perjalanan, saya merasa agak khawatir. Bagaimanapun, saya dibawa seorang asing ke tempat yang belum pernah saya datangi. Sejenak, pikiran buruk sempat menghantui: bagaimana kalau terjadi hal yang tidak diinginkan? Tapi apa boleh buat—yang terpenting adalah berobat.
Di dalam mobil, saya dan ibu itu mengobrol ringan. Kami sama-sama mengeluh tentang harga kebutuhan hidup yang semakin mahal. Saya sempat berpikir, andai saya harus naik taksi sendiri, biaya pulang-pergi jelas sangat besar, bahkan lebih dari gaji harian saya. Sebagai orang kecil yang hidup serba pas-pasan, itu sungguh beban berat.
Akhirnya kami sampai di rumah sakit. Dokter memeriksa dan mengatakan kondisi saya tidak serius, hanya akibat kelelahan dan kurang istirahat. Dia memberi resep dua botol obat tetes, dan saya pun merasa lega.
Dalam perjalanan pulang, ibu itu kembali mengantar saya sampai ke depan rumah.
Dia menasihati dengan penuh perhatian: “Obatnya harus dipakai tepat waktu. Jangan terlalu memaksakan diri bekerja. Jaga kesehatanmu.”
Kata-kata itu membuat hati saya hangat, seperti mendengar nasehat seorang ibu sendiri. Di zaman sekarang yang terasa semakin dingin dan individualis, betapa berharganya perhatian tulus seperti itu. Saya benar-benar terharu.
Yang mengejutkan, dia tidak pernah menyebutkan namanya, tidak meninggalkan nomor kontak, hanya menerima ucapan “terima kasih” dari saya sebelum berlalu.
Itulah sebuah pertemuan singkat yang tak akan terulang. Namun, bantuannya bukan hanya mengurangi rasa sakit saya, tetapi juga memberi saya keberanian baru dalam menjalani hidup.
Di saat seorang asing dengan tulus menolong tanpa pamrih, justru teman yang saya andalkan memilih menghindar.
Benar adanya—tidak semua teman bisa diandalkan.(jhn/yn)


