EtIndonesia. Daily Mail Australia pada 4 Oktober 2025 mengungkap detail gaya hidup super mewah, sosok wanita yang bernama, Yang Lanlan di Australia — bahkan anjing peliharaan pun mengenakan barang-barang bermerek dari kepala hingga kaki.
Menurut laporan tersebut, di Sydney, untuk memesan salah satu dari sepuluh kursi di restoran Jepang mewah Yoshii’s Omakase di hotel Crown, seseorang mungkin harus menunggu hingga dua tahun, dengan biaya pengalaman makan minimal 380 dolar Australia. Namun bagi Yang Lanlan, pengeluaran seperti itu hanyalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia pernah mengunggah foto dirinya sedang makan di restoran tersebut di media sosial, sambil menikmati sebotol sampanye Dom Pérignon senilai 1.000 dolar Australia.
Menjelang Natal tahun lalu, rumah mode Chanel mengadakan pertunjukan pribadi The Nutcracker di Gedung Opera Sydney khusus bagi pelanggan topnya, dan menjamu mereka dengan makan malam di restoran Bennelong. Para tamu yang diundang semuanya adalah “VVIP” (Very Very Important Persons), dan Yang Lan Lan termasuk di antara mereka. Ia dikabarkan diundang karena pengeluarannya di butik Chanel melebihi 1 juta dolar Australia per tahun (Rp10 miliar), menempatkannya di daftar pelanggan paling eksklusif merek tersebut.
Laporan itu juga menyebut bahwa di akun Instagram-nya, Yang Lanlan sering memamerkan foto-foto dirinya makan di restoran kelas atas Sydney seperti LuMi Dining, Allta, dan Yoshii’s Omakase, yang semuanya merupakan restoran bintang dua Michelin dalam panduan kuliner 2025.
Namun, dalam foto-foto yang ia unggah, latar belakangnya sering dibuat buram dan wajahnya selalu tertutup, seolah-olah ia takut dikenal publik.
Seorang mahasiswa keturunan Tionghoa yang mengenal Yang Lanlan mengungkapkan, “Dia setiap hari makan makanan mewah, sering berbelanja gila-gilaan di Chanel atau Louis Vuitton, dan kadang bahkan menyewa seluruh toko untuk dirinya sendiri.”
Diketahui, Yang Lanlan memelihara seekor anjing jenis Shiba Inu bernama “Wangzai”, yang juga menikmati kehidupan mewah — mengenakan kalung Celine seharga 990 dolar, tidur di atas bantal Louis Vuitton, dan berselimutkan kain Hermès.
Menurut laporan itu, Shiba Inu adalah anjing pemburu asal Jepang, dan di Australia harga seekor anak Shiba Inu biasanya berkisar antara 5.000 hingga 6.500 dolar AS.
Mahasiswa yang sama mengatakan, “Anjingnya punya lebih banyak barang bermerek daripada saya,” dan “hidupnya lebih nyaman daripada kebanyakan sopir.”
Mahasiswa itu juga menambahkan bahwa Yang Lanlan hanya bergaul di kalangan komunitas Tionghoa karena kemampuan bahasa Inggrisnya sangat terbatas.
Dalam acara-acara publik, Yang Lanlan selalu tampil dengan pakaian bermerek dari kepala hingga kaki — terutama dari Chanel, Hermès, dan Louis Vuitton. Namun ia hampir selalu mengenakan masker dan topi. Satu-satunya saat ia tertangkap kamera tanpa masker adalah pada 3 September, ketika makan siang bersama temannya di Museum Seni Kontemporer Sydney.
Saat itu, ia mengenakan jaket Louis Vuitton senilai 4.326 dolar AS, celana kerja Louis Vuitton 3.000 dolar AS, sepatu bot Hermès 2.600 dolar AS, dan topi ikonik Louis Vuitton 1.220 dolar AS.
Satu-satunya kesempatan Yang Lanlan difoto tanpa topi adalah ketika ia pergi ke kantor polisi Rose Bay untuk melapor, mengenakan rompi ungu Chanel senilai 16.000 dolar AS.
Sejak kecelakaan mobil pada 26 Juli, nama Yang Lanlan langsung terkenal. Namun tak lama kemudian, ia menghapus seluruh akun media sosialnya.
Sebelumnya, pengacaranya, John Korn, mengungkapkan bahwa Yang Lanlan dikirim oleh orang tuanya ke Australia pada usia 14 tahun untuk bersekolah. Ia kini telah memperoleh izin tinggal permanen. Ia disebut “jarang keluar rumah” dan menderita masalah kesehatan mental yang serius.
Seorang kenalan Yang Lanlan mengatakan kepada Daily Mail bahwa sejak tahun 2021, Yang telah tinggal di Australia dan terdaftar sebagai mahasiswa jurusan bisnis di Universitas Sydney, namun “sebenarnya ia hampir tidak pernah hadir di kelas.”
Yang Lanlan dijadwalkan akan kembali menghadiri sidang di pengadilan pada 17 Oktober mendatang.
Latar Belakang Kasus dan Rincian Dakwaan
Kasus ini berawal dari kecelakaan yang terjadi pada 26 Juli dini hari di kawasan elit Rose Bay, Sydney. Saat itu, Yang Lanlan yang berusia 23 tahun sedang mengemudikan SUV Rolls-Royce senilai 1,5 juta dolar Australia, ketika mobilnya bertabrakan langsung dengan van Mercedes.
Pengemudi Mercedes, George Plassaras (52 tahun), mengalami luka serius. Plassaras merupakan sopir pribadi penyiar radio terkenal Australia, Kyle Sandilands, yang kebetulan tidak berada di mobil saat kecelakaan terjadi.
Cedera yang dialami Plassaras sangat parah: patah tulang punggung, sepuluh tulang rusuk, panggul, dan tulang paha, tulang panggul hancur, pendarahan internal di limpa, serta pengangkatan total sendi panggul kanan. Laporan medis menunjukkan bahwa ia mungkin akan mengalami cacat permanen.
Karena mobil mewah yang dikendarai Yang dan latar belakangnya yang misterius, kasus ini segera menarik perhatian luas dari media dan publik, terutama di komunitas Tionghoa. Pada sidang pertama Agustus, hampir seratus anggota komunitas Tionghoa antre di luar gedung pengadilan. Meskipun jumlahnya berkurang pada sidang kedua, ruang sidang tetap penuh — sebagian besar oleh warga keturunan Tionghoa — menunjukkan tingginya minat dan keprihatinan publik terhadap kasus tersebut.
Sidang Awal dan Reaksi Publik
Sidang pertama digelar pada 15 Agustus, menarik hampir 100 orang penonton, banyak di antaranya berasal dari komunitas Tionghoa yang penasaran ingin melihat sosok “perempuan misterius di mobil mewah” itu.
Yang hanya muncul sekitar 10 menit melalui video, di mana pengacaranya menyatakan bahwa mereka belum siap mengajukan pembelaan. Sidang kemudian ditunda hingga 26 September.
Setelah kasus ini terungkap ke publik, identitas misterius Yang menjadi topik panas di dunia maya, disertai klaim berlebihan yang menyebar dengan cepat — seperti tuduhan bahwa ia membayar uang jaminan 70 juta dolar Australia hanya dalam hitungan menit serta memiliki kekayaan 270 miliar dolar Australia (Rp 2.700 triliun).
Namun, pejabat Departemen Komunitas dan Kehakiman New South Wales membantah rumor tersebut secara terbuka, menegaskan bahwa tidak pernah ada jaminan sebesar itu. Bahkan, pembebasan Yang dilakukan sesuai prosedur standar jaminan kepolisian. (Hui/asr)


