Kecerdasan Tak Akan Pernah Mampu Menyelamatkan Kekosongan Moral  

EtIndonesia. Seorang gadis muda baru saja lulus dan berangkat ke Prancis untuk memulai hidup sebagai mahasiswa perantauan—sambil kuliah, sambil bekerja paruh waktu. Di sana dia mendapati bahwa sistem transportasi umum Prancis menggunakan sistem tiket self-service: penumpang cukup membeli tiket sendiri sesuai tujuan. Stasiunnya pun rata-rata berbentuk terbuka—tanpa pintu pemeriksaan, tanpa petugas tiket, dan bahkan hampir tak pernah ada razia acak.

Dia menyadari ini sebagai sebuah “celah sistem”.

Merasa cerdik atas penemuannya, dia pun mulai rutin naik kereta tanpa bayar. Dalam benaknya dia memaklumi sendiri tindakannya: “Aku kan mahasiswa miskin, hemat itu wajar.”

Empat tahun berlalu. Gelar dari universitas ternama dan nilai akademiknya yang gemilang membuatnya penuh percaya diri. Dia mulai melamar ke perusahaan-perusahaan multinasional di Paris — dengan ambisi besar membangun karier global.

Namun hasilnya mengejutkan — semua perusahaan awalnya antusias, tetapi berakhir dengan penolakan halus. Berkali-kali. Tanpa penjelasan jelas.

Dia marah. Dia menuduh perusahaan-perusahaan itu rasis dan anti-orang asing. Hingga suatu hari, dia menerobos masuk ke ruang HRD sebuah perusahaan besar dan meminta penjelasan secara langsung.

Dan jawaban yang dia terima membuatnya terdiam membeku.

“Nona, kami sama sekali tidak mendiskriminasi Anda. Sebaliknya, kami sangat menghargai Anda. Kami sangat tertarik dengan latar belakang pendidikan dan kompetensi Anda. Sejujurnya, secara kemampuan kerja — Anda adalah tipe kandidat yang kami cari.”

“Kalau begitu, mengapa Anda menolak saya?”

“Karena kami mengecek riwayat Anda — dan menemukan Anda tiga kali didenda karena ketahuan tidak membayar tiket bus.”

Gadis itu mencoba membela diri:  “Benar, itu memang terjadi. Tapi karena hal sepele seperti itu kalian menolak seorang kandidat yang sudah berkali-kali menerbitkan jurnal akademik?”

“Hal sepele? Kami tidak menganggap itu sepele.”

“Pertama kali Anda ketahuan, petugas percaya pada Anda. Anda bilang tidak paham sistem tiket otomatis — Anda hanya diminta membayar denda. Namun setelah itu… Anda masih mengulanginya dua kali lagi.”

“Waktu itu saya tidak punya uang receh —”

“Tidak. Jangan anggap kami bodoh. Kami sangat yakin — sebelum Anda tertangkap tiga kali, Anda sudah puluhan, bahkan mungkin ratusan kali melakukannya.”

“Ya ampun, masa gara-gara itu saya tidak bisa diterima kerja? Lain kali saya tidak akan mengulanginya, kan bisa diperbaiki?”

“Tidak bisa, Nona.  Kesalahan Anda menunjukkan dua hal : Pertama — Anda tidak menghargai aturan. Anda pandai menemukan celah, lalu menyalahgunakannya. Kedua — Anda tidak layak dipercaya.  Pekerjaan kami dibangun atas pondasi kepercayaan, bukan pengawasan.”

Perusahaan tidak bisa membuat sistem pengawas untuk semua hal, sama seperti transportasi publik kami. Karena itu — kami tidak bisa mempekerjakan Anda. Bahkan di seluruh Uni Eropa, kemungkinan besar tidak ada perusahaan yang mau merekrut Anda.

Baru pada saat itu, gadis muda itu terhenyak — tersadar, dan menyesal.

Namun kalimat terakhir sang manajer HR-lah  yang benar-benar menghantam batinnya:

“Moralitas sering kali bisa menutupi kekurangan kecerdasan,  tapi kecerdasan tidak akan pernah bisa menutupi kekosongan moral.” (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine