Pada Selasa (28 Oktober), Menteri Perang AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi bahwa pada Senin (27 Oktober), militer AS melancarkan serangan di wilayah Samudra Pasifik bagian timur, menargetkan empat kapal penyelundup narkoba. Dalam operasi tersebut, 14 penyelundup tewas dan satu orang ditangkap hidup-hidup.
EtIndonesia. Laporan dari Li Jiayin, jurnalis New Tang Dynasty menyebutkan keempat kapal yang dihancurkan itu dioperasikan oleh organisasi teroris DTO, yang telah ditetapkan oleh pemerintah AS sebagai kelompok teroris. Menteri Hegseth menjelaskan bahwa badan intelijen AS sudah lama memantau jalur penyelundupan kapal-kapal itu dan mengetahui bahwa kapal tersebut membawa narkoba.
Militer AS melancarkan operasi tersebut dalam tiga gelombang serangan. Serangan pertama menghancurkan dua kapal yang membawa total 8 pria penyelundup narkoba. Dua serangan berikutnya masing-masing menargetkan satu kapal, yang membawa 4 dan 3 pria. Setelah serangan, pihak AS segera memulai operasi pencarian dan penyelamatan standar, dengan Meksiko ikut berpartisipasi dalam proses evakuasi.
Dari 15 penyelundup, 14 orang tewas, sementara 1 orang berhasil ditangkap. Semua operasi dilakukan di perairan internasional, dan tidak ada korban di pihak militer AS.
Hegseth menegaskan bahwa jumlah warga Amerika yang tewas akibat narkoba yang diselundupkan oleh kelompok teroris ini lebih banyak dibandingkan korban serangan Al-Qaeda, sehingga militer AS akan terus memburu, membongkar, menangkap, dan memusnahkan jaringan tersebut.
Menurut data yang dilaporkan, pada tahun 2024, sekitar 80.000 orang Amerika tewas akibat overdosis narkoba; pada tahun 2023, jumlahnya lebih dari 100.000 orang, dan pada 2022 hampir 110.000 orang. Di antara kelompok usia 18 hingga 44 tahun, narkoba merupakan penyebab utama kematian.
Sejak Presiden Donald Trump kembali ke Gedung Putih, ia telah memerangi penyelundupan narkoba melalui sanksi ekonomi dan tindakan militer. Hingga kini, militer AS telah melancarkan lebih dari 10 operasi di Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur, menewaskan lebih dari 50 penyelundup narkoba.
Namun, beberapa pakar hukum dan anggota Partai Demokrat mempertanyakan apakah operasi-operasi tersebut sesuai dengan hukum perang internasional.
Menanggapi hal itu, Presiden Trump menyatakan bahwa dirinya memiliki wewenang untuk menghancurkan kapal penyelundup di laut tanpa harus menyatakan perang secara resmi. Ia juga mengatakan bahwa jika militer AS berencana melakukan operasi darat terhadap “kartel narkoba Venezuela”, maka ia akan memberi tahu Kongres terlebih dahulu. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


