EtIndonesia. Pada 28 Oktober 2025, situasi antara Israel dan Hamas kembali memanas, hanya beberapa hari setelah gencatan senjata mulai stabil. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa jenazah yang diserahkan Hamas bukanlah milik sandera Israel yang hilang, sebagaimana dijanjikan dalam perjanjian gencatan senjata. Israel menilai hal ini sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan, dan memperingatkan bahwa akan memberikan respons keras.
Peristiwa ini bermula ketika Hamas pada Senin malam menyerahkan satu jenazah, yang mereka klaim sebagai salah satu sandera Israel yang hilang. Namun, setelah dilakukan identifikasi, Israel menemukan bahwa jenazah tersebut adalah milik Ofir Tzarfati, warga Israel yang telah tewas dalam serangan mendadak Hamas pada 7 Oktober tahun lalu. Jenazahnya sebenarnya sudah ditemukan oleh militer Israel beberapa minggu setelah pertempuran awal.
Menanggapi hal itu, Netanyahu menyatakan kemarahan besar dan mengumumkan akan menggelar rapat tingkat tinggi dengan pejabat pertahanan untuk membahas “langkah Israel berikutnya.”
Sementara itu, Hamas membantah telah melanggar perjanjian. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan kepada Reuters: “Hamas akan terus melakukan segala upaya untuk segera menyerahkan sisa jenazah hingga seluruh persoalan ini terselesaikan.”
Ia menambahkan bahwa kerusakan parah di Jalur Gaza serta kurangnya peralatan identifikasi membuat pencarian dan pengenalan seluruh jenazah menjadi tugas yang sangat sulit.
Namun, di dalam Israel sendiri, faksi garis keras menuntut agar pemerintah tidak lagi bersikap lunak terhadap Hamas. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir sama-sama mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan lebih keras terhadap kelompok itu.
Seorang pejabat senior Israel mengungkapkan bahwa setiap tindakan militer harus lebih dahulu mendapat persetujuan dari Washington, mengingat Amerika Serikat merupakan mediator utama dalam kesepakatan gencatan senjata ini.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu lalu juga menyatakan bahwa ia akan memantau secara ketat perkembangan penyerahan jenazah oleh Hamas.
Berdasarkan perjanjian gencatan senjata, Hamas telah membebaskan seluruh sandera yang masih hidup dengan imbalan pembebasan hampir 2.000 tahanan Palestina oleh Israel, serta penarikan pasukan dan penghentian serangan militer.
Hamas berjanji akan menyerahkan sisa jenazah sandera yang belum ditemukan, namun menegaskan mereka membutuhkan waktu lebih lama. Sementara itu, pihak Israel menuduh bahwa Hamas sebenarnya mengetahui lokasi sebagian besar jenazah, tetapi sengaja menunda prosesnya.
Saat ini, alat berat dari Mesir telah tiba di Khan Younis dan Nuseirat, di selatan Gaza. Buldoser mulai menggali reruntuhan, sementara anggota bersenjata Hamas berjaga di lokasi. Israel menduga beberapa jenazah mungkin disembunyikan di jaringan terowongan bawah tanah milik Hamas.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan bahwa sekitar 60% terowongan Hamas masih utuh, dan militer Israel akan terus menghancurkan jaringan tersebut. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


