EtIndonesia. Kebakaran dahysat bak “Kiamat” melanda Hong Kong. Kebakaran bermula terjadi pada Rabu 26 November 2025 di sebuah kompleks perumahan di distrik Tai Po, wilayah New Territories. Api dengan cepat melahap tujuh dari delapan menara di kompleks Wang Fuk Court, menyemburkan kobaran api dan asap tebal dari jendela-jendela bangunan.
Menurut laporan media, perancah bambu di bagian luar gedung pertama kali terbakar, kemudian api dengan cepat merambat ke beberapa gedung tinggi, mengirimkan asap hitam tebal ke langit. Api semakin tak terkendali dan situasinya sangat memilukan.
Hingga Jumat 28 November pukul 06.00 pagi waktu setempat, sebanyak 94 orang telah dipastikan tewas dalam kebakaran paling mematikan di Hong Kong dalam beberapa dekade terakhir.
Petugas pemadam kebakaran masih terus mencari orang-orang yang hilang, demikian disampaikan departemen pemadam kebakaran kota itu dalam pembaruan terbarunya.Sebelumnya sempat dilaporkan 279 orang dinyatakan hilang.
Hingga kini api belum sepenuhnya dipadamkan dan sejumlah warga masih terjebak di dalam gedung. Upaya evakuasi dan pencarian terus dilakukan.
Api berwarna oranye terang menjulang tinggi disertai suara ledakan tak henti-hentinya. Dalam sekejap, beberapa gedung tampak sepenuhnya dilalap api, seperti adegan dari dunia kiamat. Masyarakat yang menyaksikan kebakaran itu sangat panik dan putus asa.
Warga Hong Kong: “Kenapa pemadam kebakaran hanya punya satu selang air? Sudah berjam-jam, kenapa hanya satu?”
Menurut media Hong Kong, sekitar pukul 14.00 waktu setempat pada 26 November, kronologi kejadian bermula perancah bambu yang dipasang di bagian luar gedung tiba-tiba terbakar. Dengan bantuan angin kencang, api merambat naik melalui rangka perancah dan berubah menjadi pilar api raksasa. Seluruh gedung pun seketika dilalap si jago merah.
Penduduk Hong Fook Yuen, Harry Cheung: “Sekitar pukul 14.45 saya mendengar suara ledakan keras. Saya melihat ke luar jendela dan melihat cahaya api dari arah gedung nomor 5. Saat turun ke bawah, orang-orang mengatakan api di gedung 5 sangat besar.”
Wakil Direktur Pemadam Kebakaran Hong Kong, Chan Hing-yung: “Karena suhu yang sangat tinggi di lokasi, kami memutuskan untuk meningkatkan status kebakaran ke peringatan level 5, agar lebih banyak sumber daya bisa dikerahkan.”
Karena suhu ekstrem di dalam gedung, petugas pemadam sama sekali tidak dapat masuk untuk memadamkan api atau melakukan penyelamatan. Api terus membesar selama berjam-jam. Saat malam tiba, kebakaran meluas ke gedung lain seperti Hong Tai House dan Hong Sun House, sehingga ribuan rumah terdampak.
Penduduk Hong Fook Yuen, Y.Y. Chan: “Tentu saja saya sangat sedih. Begitu banyak gedung terbakar, bahkan ada yang apinya sudah masuk ke dalam rumah. Siapa yang tidak sedih? Walaupun gedung tempat saya tinggal apinya sudah dipadamkan, tapi melihat sekeliling masih menyala di mana-mana, rasanya sangat menyakitkan.”
Mr. Hung, 65 tahun, penghuni gedung nomor 1, mengatakan api merambat sangat cepat.
Mr. Hung: “Hati saya hancur. Banyak tetangga dan teman saya… Saya tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang. Semua apartemen terbakar. Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana.”
Salah satu tetangganya masih belum menemukan istrinya. Penghuni lain, Mr. Cheung, hanya bisa pasrah saat melihat rumahnya sendiri terbakar.
Harry Cheung: “Sekarang hanya bisa menjalani langkah demi langkah. Saya bahkan bingung harus tidur di mana malam ini, karena sepertinya saya tidak bisa pulang.”
Petugas pemadam kebakaran bekerja sepanjang malam untuk mengendalikan api. Menurut laporan, masih ada orang yang berhasil diselamatkan pada tengah malam, termasuk seorang bayi. Seorang petugas pemadam berusia 37 tahun dinyatakan gugur dalam tugas. Lebih dari 700 warga kini mengungsi di pusat penampungan sementara.
Kebakaran ini adalah kebakaran level 5 pertama di Hong Kong dalam 17 tahun terakhir. Polisi sedang menyelidiki penyebab kebakaran dan telah menangkap tiga tersangka.
Kompleks Wang Fuk Court, memiliki delapan gedung, beberapa setinggi 32 lantai. Tujuh di antaranya terbakar dalam insiden ini. Total ada 2.000 unit hunian, yang sebagian baru selesai diperbaiki beberapa bulan terakhir. (Hu/asr)
Laporan disusun oleh reporter NTDTV, Yi Jing.










