EtIndonesia. Dalam film “Me Before You”, kita melihat kisah Will—seorang pengusaha muda sukses yang sebelumnya aktif dalam berbagai olahraga. Hidupnya berubah drastis ketika sebuah kecelakaan motor membuatnya lumpuh total. Merasa hidupnya tidak lagi layak dijalani, dia meminta orangtuanya membawa dirinya ke Swiss untuk menjalani euthanasia (tindakan mengakhiri hidup secara medis).
Film ini memicu reaksi keras dari banyak kelompok advokasi penyandang disabilitas. Mereka menilai film tersebut menyesatkan, seolah-olah menyatakan bahwa penyandang disabilitas adalah “beban” bagi keluarganya, serta menggambarkan euthanasia sebagai pilihan “ideal” untuk mengakhiri penderitaan. Itu satu sisi dari kontroversi. Namun, jika ditelaah lebih dalam, ada sisi lain yang jauh lebih serius: isu mendasar tentang hakikat kehidupan.
Euthanasia: Saat Mengatur Kematian Menjadi Tindakan Manusia
Euthanasia berarti memilih waktu dan cara untuk mengakhiri kehidupan, dan pelakunya membutuhkan satu atau lebih orang lain untuk membantu proses kematiannya—demi menghindari penderitaan dunia. Tanpa disadari, orang-orang yang “membantu”—entah itu keluarga, dokter, atau perawat—secara hakikat turut mengambil bagian dalam tindakan yang setara dengan mengakhiri nyawa seseorang.
Dengan kata lain, euthanasia adalah bentuk bunuh diri yang melibatkan pihak lain, atau dalam pandangan moral tertentu, bunuh diri sekaligus pembunuhan.
Bagi banyak tradisi spiritual, langit (atau Tuhan) memiliki sifat mengasihi kehidupan. Ketika manusia dengan tangan sendiri mengakhiri hidup seseorang, meski dengan alasan belas kasih, pada dasarnya manusia sedang:
- mencampuri hak yang bukan miliknya,
- menghapus kesempatan seseorang untuk bertumbuh melalui penderitaannya,
- merampas peluang ia melewati masa tersulit lalu mencapai kemuliaan yang lebih tinggi.
Saya pernah mendengar kisah seorang pembaca berita yang memutuskan menjalani euthanasia. Dia merekam seluruh prosesnya, disertai “restu” dari orang-orang terdekat.
Sampai sekarang, setiap kali saya mengingat kejadian itu, hati saya tetap tercekik: apakah ada yang benar-benar memikirkan apa yang ia hilangkan? Apakah mereka sadar bahwa mereka telah menjadi bagian dari sebuah tragedi?
Penderitaan Modern: Ketika Teknologi Melampaui Kodrat
Di zaman modern, banyak orang mengalami penderitaan luar biasa menjelang akhir hidup mereka akibat over-medicalization—pengobatan berlebihan yang mempertahankan kehidupan secara tidak alami. Ini adalah hasil dari teknologi yang berkembang dengan prinsip: manusia harus menang melawan alam.
Dalam upaya menantang batas alamiah kehidupan dan kematian, teknologi kerap malah membawa malapetaka baru—baik bagi pasien maupun keluarga. Sesungguhnya, ini adalah bentuk kesombongan manusia, ketika mereka ingin merebut kewenangan pencipta dalam menentukan hidup dan mati.
Setiap Pertemuan Adalah Ladang untuk Bertumbuh
Tidak peduli seberapa berat sebuah kondisi, semua itu adalah anugerah dari langit—medium yang mempertemukan orang-orang tertentu untuk bertumbuh bersama.
Di tengah gesekan dan konflik:
- kita dipaksa menatap ego diri sendiri,
- belajar melepaskan ambisi dan kelekatan,
- menemukan titik harmoni,
- membiarkan cinta tanpa pamrih tumbuh sedikit demi sedikit.
Akhirnya, manusia dapat melampaui keterikatan duniawi dan menjadi makhluk yang berdiri teguh di alam semesta dengan cinta yang tak terbatas.
Penutup: Hidup dan Mati—Bisakah Kita Tidak Merenungkannya dengan Serius?
Kehidupan dan kematian adalah perkara yang sangat agung dan serius. Mereka bukan domain yang boleh manusia sentuh dengan anggapan sederhana “demi kebaikan”.
Setiap penderitaan, setiap ujian, setiap kejatuhan—semuanya terkandung makna pertumbuhan. Mencabut kesempatan itu berarti mencabut kemungkinan seseorang mencapai kemuliaan yang disediakan baginya.(yn)


