EtIndonesia. Hasil imbal obligasi pemerintah Tiongkok tenor 10 tahun baru-baru ini untuk pertama kalinya turun di bawah imbal hasil obligasi Jepang, suatu kondisi langka yang disebut “inverted yield” atau pembalikan kurva imbal hasil. Media Korea dan Jepang menganalisis bahwa Jepang kini sepenuhnya keluar dari “30 tahun masa stagnasi”, sementara Tiongkok—yang pernah menjadi “mesin pertumbuhan global”—telah terperosok ke dalam deflasi dan berpotensi menjadi risiko bagi ekonomi dunia.
Kabinet Jepang diperkirakan akan menyetujui paket stimulus ekonomi senilai 21,3 triliun yen (sekitar USD 136 miliar) paling cepat pada 28 November. Pemerintah Jepang akan menerbitkan lebih dari 11 triliun yen obligasi tambahan. PM Jepang Sanae Takaichi mengatakan pada 26 November bahwa pemerintah telah siap dan tidak akan mengulangi runtuhnya kepercayaan pasar seperti yang terjadi di Inggris.
“Jika kami puas dengan pertumbuhan upah, maka berapa pun situasi politiknya, kami akan menyesuaikan tingkat suku bunga,” ujar Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda pada 30 Oktober 2025.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa Bank of Japan kemungkinan akan segera menaikkan suku bunga, dengan pertumbuhan upah sebagai faktor utama.
“Kita akhirnya melihat benih-benih inflasi mulai tumbuh, dan besar kemungkinan Jepang akan perlahan kembali ke lingkungan kebijakan moneter yang lebih normal. Kenaikan gaji dalam spring wage negotiation tahun depan diperkirakan tidak jauh berbeda dengan tahun ini—sekitar 5%,” kata Jiang Haonong, General Manager Taishin Investment Advisory.
Perusahaan-perusahaan Jepang kini berani menaikkan gaji karyawan secara signifikan, sebuah tanda bahwa perekonomian dan kebijakan moneternya sedang menuju “normalisasi”.
Menurut data LSEG Inggris, imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun minggu lalu sempat naik hingga 1,84%. Imbal hasil obligasi Tiongkok tenor 10 tahun tetap berada di sekitar 1,83%.
Media seperti Chosun Ilbo dan Nikkei melaporkan bahwa untuk pertama kalinya, imbal hasil obligasi Tiongkok terkoreksi hingga lebih rendah dari Jepang, menandakan “pembalikan imbal hasil” yang sangat tidak biasa. Jepang telah sepenuhnya keluar dari deflasi berkepanjangan, sementara Tiongkok—yang ekonominya stagnan—jatuh ke dalam perangkap deflasi. Media tersebut memperingatkan bahwa Tiongkok berpotensi menjadi risiko besar bagi ekonomi global.
“Di Tiongkok, kita melihat gambaran berbeda. Kekhawatiran publik semakin besar. Seperti yang disampaikan ekonom Richard Koo, Tiongkok mungkin sedang menuju jalur deflasi yang pernah dialami Jepang. Fenomena involution (kompetisi internal berlebihan) masih sangat parah, dan sektor properti—yang dulu menjadi motor utama ekonomi Tiongkok—baik harga rumah baru maupun bekas masih terus jatuh tanpa tanda pemulihan,” Jiang Haonong menambahkan.
Pada September, CPI Tiongkok turun 0,3% secara tahunan, dan PPI turun 2,3%, menunjukkan ekonomi sudah lama memasuki “musim dingin”.
Pada 25 November, Nikkei melaporkan bahwa kondisi “Jepang dan Tiongkok berbalik arah” ini mengisyaratkan bahwa Tiongkok mungkin menjadi risiko ekonomi global. Dua kekuatan ekonomi Asia tersebut kini berkembang ke arah yang sangat berbeda. (Hui/asr)
Laporan oleh NTD Asia Pasifik: Gao Jianlun dan Shen Weitong, Taipei


