EtIndonesia. Saya punya seorang teman yang berwirausaha. Dia sangat sibuk. Hampir setiap hari selalu ada orang yang menghubunginya—entah untuk membahas kerja sama, bertukar pengalaman, atau sekadar ingin bertemu dan berbincang. Akibatnya, dia kelelahan, kewalahan, dan merasa sangat terganggu.
Suatu hari, dia menemukan sebuah cara yang cukup cerdik. Setiap kali ada orang menelepon dan meminta bertemu, dia sengaja memilih lokasi yang sangat terpencil—aksesnya sulit, jauh dari pusat kota, dan membutuhkan waktu tempuh yang sangat lama pulang-pergi.
Hasilnya sungguh mengejutkan.
Begitu mendengar nama tempat tersebut, banyak orang langsung meminta maaf dan mengatakan waktu mereka tidak cukup, sehingga kemungkinan besar tidak bisa datang. Ada juga yang menghilang begitu saja dan tak pernah menghubunginya lagi. Namun, selalu ada beberapa orang yang—meski harus bersusah payah dan menempuh perjalanan panjang—tetap datang menemuinya.
Dan orang-orang inilah yang benar-benar berbeda.
Mereka yang tidak takut kesulitan dan tetap bersikeras ingin bertemu, hampir selalu datang dengan urusan yang penting dan sikap yang penuh ketulusan. Benar juga—kalau urusannya tidak penting, kalau niatnya tidak sungguh-sungguh, siapa yang rela menempuh perjalanan sejauh itu hanya untuk bertemu seseorang?
Sejak menerapkan cara ini, teman saya tidak lagi sesibuk dulu. Dan setiap kali dia bertemu orang, tingkat keberhasilan kerja samanya justru sangat tinggi.
Saya juga punya seorang teman sekelas yang dulu sangat ingin belajar menulis. Setelah tahu bahwa saya pernah mempublikasikan beberapa artikel, dia datang meminta saya mengajarinya. Tentu saja saya tidak keberatan. Masalahnya adalah, dia tipe orang yang sangat menyukai keramaian. Setiap kali duduk di depan komputer kurang dari setengah jam, dia sudah merasa pusing, tubuh tidak nyaman, dan harus keluar berjalan-jalan.
Selain itu, dia juga tidak sanggup menerima kenyataan bahwa setidaknya selama enam bulan pertama menulis tidak akan menghasilkan uang. Dia juga tidak bisa menerima kemungkinan terkena penyakit akibat pekerjaan, seperti gangguan kesehatan karena duduk terlalu lama.
Jalan menulis, yang terlihat seperti jalan pintas menuju kesuksesan, sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan. Di sepanjang perjalanan, ada begitu banyak rintangan. Misalnya, kamu harus sanggup menghadapi kesepian; kamu harus siap tidak memiliki penghasilan setidaknya selama enam bulan—dan setelah enam bulan pun, belum tentu ada hasil; duduk terlalu lama di depan komputer juga bisa menyebabkan masalah pada bahu, leher, dan pinggang.
Di hadapan semua rintangan ini, semangat teman saya hanya bertahan kurang dari sebulan. Karena tidak melihat hasil apa pun, perlahan-lahan dia pun menyerah.
Sebenarnya, ada rintangan yang memang diciptakan untuk menyaring orang-orang yang tidak cocok. Jika kamu memang tidak sesuai menempuh jalan ini, jika keinginanmu tidak cukup kuat, maka pilihan terbaik bukanlah memaksa diri—melainkan berbalik arah dan mencari jalan yang lebih sesuai dengan dirimu.
Di dunia ini, tidak ada orang yang menyukai rintangan. Namun, sejujurnya, kita patut berterima kasih pada rintangan-rintangan itu. Dia seperti hukum seleksi alam—secara otomatis menyingkirkan orang dan hal-hal yang tidak penting, membantu kita menghemat waktu dan tenaga, dan memaksa kita menggunakan sumber daya paling berharga kita untuk hal-hal yang benar-benar penting.
Inilah kebaikan terbesar yang diberikan kehidupan kepada kita—agar kita tidak terlalu banyak menempuh jalan berliku.(jhn/yn)


