EtIndonesia. Suatu ketika, dalam sebuah ekspedisi militer, Napoleon Bonaparte memimpin pasukan bersama seorang insinyur untuk melakukan pengintaian medan. Mereka tiba di tepi sebuah sungai. Di sungai itu tidak ada jembatan, sementara pasukan harus segera menyeberanginya.
Napoleon pun bertanya kepada sang insinyur : “Katakan padaku, seberapa lebar sungai ini?”
“Maaf, Yang Mulia, semua alat ukur saya tertinggal bersama pasukan di belakang. Mereka masih sekitar sepuluh mil dari sini,” jawab insinyur itu.
“Aku ingin kau segera mengukurnya,” kata Napoleon.
“Itu tidak mungkin dilakukan, Yang Mulia,” jawab insinyur
“Aku memerintahkanmu sekarang juga mengukur lebar sungai ini. Jika tidak, aku akan menghukummu!” Kata Napoleon.
Insinyur itu segera berpikir keras dan menemukan sebuah cara. Dia melepaskan helm baja yang dikenakannya, lalu mengatur posisi sehingga tepi helm, matanya, dan satu titik di seberang sungai berada tepat dalam satu garis lurus. Setelah itu, dia menjaga tubuhnya tetap tegak dan perlahan-lahan mundur ke belakang.
Ketika posisi matanya, tepi helm, dan satu titik di sisi sungai tempat dia berdiri kembali berada pada satu garis lurus, dia berhenti. Dia menandai titik tempatnya berdiri, lalu mengukur jarak antara dua titik tersebut dengan langkah kakinya.
Setelah itu, dia berkata kepada Napoleon : “Jarak inilah yang kira-kira sama dengan lebar sungai.”
Napoleon sangat gembira. Dia segera memberikan promosi jabatan kepada insinyur tersebut.
Renungan
Metode selalu lebih banyak daripada masalah. Untuk persoalan-persoalan yang tampak sulit, sering kali bukan karena tidak ada jalan keluar, melainkan karena kita belum menemukannya.
Kebijaksanaan sejatinya sudah tersembunyi di dalam pikiran kita sendiri. Mereka yang mampu menyingkirkan kemalasan, berani melampaui batas diri, dan mau berpikir kreatif, akan membuat kecerdasannya benar-benar bersinar—dan pada akhirnya meraih keberhasilan.(jhn/yn)


