EtIndonesia. Gelombang protes anti-pemerintah di Iran terus berkobar dan memasuki fase paling berdarah sejak pergantian tahun. Dalam kurun 1 hingga 2 Januari 2026, sejumlah media internasional melaporkan lima hingga enam warga sipil tewas ditembak aparat keamanan dalam aksi protes yang meluas di Lorestan dan beberapa wilayah lain. Lebih dari sepuluh orang—termasuk demonstran dan anggota pasukan keamanan—dilaporkan mengalami luka-luka.
Rekaman Penembakan dan Peluru Tajam Beredar
Laporan terbaru dari Iran International menyebutkan, di Lorestan dan Hamadan, beredar rekaman video yang memperlihatkan aparat keamanan menembaki demonstran. Beberapa cuplikan yang menunjukkan penggunaan peluru tajam menyebar luas di platform X. Meski menghadapi risiko kematian, massa tetap bertahan di jalan-jalan, meneriakkan slogan anti-rezim tanpa henti.
Peringatan Terbuka dari Washington
Pasca pergantian tahun, Donald Trump mengunggah pernyataan keras di media sosial. Dia memperingatkan rezim Teheran bahwa jika terjadi pembantaian brutal terhadap demonstran damai, Amerika Serikat siap turun tangan. Trump menegaskan target telah dikunci dan Washington memantau situasi dengan sangat ketat.
Trump juga menilai gelombang protes kali ini sebagai tantangan terbesar terhadap sistem politik Iran sejak gerakan 2022, sembari menyoroti meningkatnya seruan internasional untuk pergantian rezim.
🔴Urgent#Kalantari Azna Lorestan was captured
— Alexkennedy (@Alexkennedy310) January 1, 2026
The oppressors' vehicles were set on fire
The great protest of the Iranian people pic.twitter.com/yPAxJ3qQcb
Ekspansi Protes ke Puluhan Kota
Aksi yang semula terkonsentrasi di Tehran, Isfahan, dan Lorestan kini meluas ke puluhan kota, termasuk Qom dan Mashhad. Video dari akun Iran Freedom di X menunjukkan wilayah miskin di tenggara, seperti Zahedan, ikut bergabung. Massa dari berbagai lapisan sosial turun ke jalan bersama, meneriakkan slogan “Mati bagi sang diktator.”
Pembakaran Kendaraan dan Markas Aparat
Menurut ABC News, situasi lapangan di sejumlah kota menyerupai medan perang skala kecil. Demonstran membakar kendaraan polisi dan kendaraan pemerintah, sementara bangunan di sekitar lokasi protes ikut terdampak.
14/ Protest activity today appeared more limited & geographically uneven, potentially shaped by a cold front.
— Sina Toossi (@SinaToossi) December 31, 2025
The most notable unrest was reported in Fasa, Fars province, where a governorate building was attacked & clashes reportedly followed security force intervention. pic.twitter.com/lwZ7onbqoM
Rincian insiden di berbagai kota (1–2 Januari 2026):
- Azna — Pemuda menyerang kantor polisi utama, membakar gedung dan beberapa kendaraan pasukan keamanan setelah menghadapi penindasan dan tembakan.
- Nurabad — Massa membalikkan kendaraan pasukan keamanan; gas air mata dan tembakan gagal membubarkan kerumunan.
- Delphan — Kendaraan intelijen Garda Revolusi Iran dibakar.
- Mashhad, Khorasan Razavi — Demonstran membakar basis milisi Basij.
- Khayyam University — Mahasiswa menggelar aksi, meneriakkan slogan “Mahasiswa lebih baik mati daripada tunduk.”
- Sabzevar — Markas milisi Basij kembali dibakar.
- Nishapur — Warga memberikan perlawanan langsung terhadap tentara bayaran Basij.
Analisis: Dari Protes Ekonomi ke Penolakan Total Sistem
Analis Middle East Institute, Vatanka, menyatakan belum pernah melihat tingkat keputusasaan sedalam ini di dalam tubuh rezim Iran.
Sementara itu, Jafarzadeh, Wakil Direktur National Council of Resistance of Iran di AS, dalam program NewsNation, menilai momen ini sebagai titik awal rakyat Iran untuk benar-benar mengakhiri kediktatoran. Dia menekankan bahwa slogan “Hancurkan diktator” menandai pergeseran tuntutan: bukan lagi soal inflasi dan harga, melainkan penolakan menyeluruh terhadap sistem kediktatoran Islam.
Slogan “Hancurkan para penindas, baik Shah maupun Khamenei” menunjukkan penolakan ganda—terhadap monarki masa lalu dan sistem pemimpin tertinggi saat ini—serta aspirasi mendirikan republik demokratis tanpa raja dan tanpa pemimpin tertinggi.
Aktivitas Penerbangan Militer Rusia Jadi Sorotan
Perhatian internasional juga tertuju pada aktivitas pesawat angkut militer Rusia menuju Teheran. Data pelacakan penerbangan menunjukkan bahwa antara 1 hingga 2 Januari 2026, empat hingga lima pesawat IL-76 buatan Rusia keluar-masuk bandara Teheran dalam waktu 48 jam.
Media oposisi Iran di pengasingan menafsirkan hal ini sebagai dukungan terselubung Rusia dan Tiongkok—diduga untuk mengirim senjata dan logistik agar mesin represi rezim tetap berjalan. Sejumlah komentar menyoroti slogan “Iran hari ini, Tiongkok besok”, yang disebut membuat Beijing waspada, karena gelombang perlawanan rakyat berpotensi mengguncang poros kediktatoran global.
Kesimpulan Sementara
Dengan korban jiwa yang terus bertambah, eskalasi kekerasan di banyak kota, serta tekanan internasional yang menguat, banyak analis menilai Iran memasuki fase awal yang berbahaya bagi kelangsungan rezim. Generasi muda Iran menolak model lama—baik monarki maupun teokrasi—dan menuntut republik demokratis sejati. Situasi pada awal Januari 2026 ini menempatkan Iran di titik balik sejarah yang berpotensi menentukan arah masa depannya.


