EtIndonsia. Tiga puluh menit yang lalu, aku masih meragukan keputusanku. Datang ke pernikahan mantan pacar jelas membutuhkan keberanian besar—terlebih setelah bertahun-tahun berlalu dan berat badanku bertambah lebih dari lima belas kilogram.
Namun setelah kupikirkan kembali hubungan kami dulu — aku tak pernah bertemu orangtuanya, juga tak terlalu mengenal teman-temannya— aku akhirnya memutuskan untuk berpura-pura tegar, berdandan sebaik mungkin, dan melangkah masuk ke gedung pernikahan itu.
Sekitar sepuluh tahun lalu, saat baru mulai bekerja, aku pernah menjalin hubungan dengannya selama setahun. Hubungan kami sebenarnya nyaris tanpa pertengkaran. Selain alasan putus yang tidak pernah jelas, dia sejatinya adalah pacar yang sangat baik.
Upacara pernikahannya sendiri tidak terlalu istimewa. Sesuai kebiasaan pernikahan di Taiwan beberapa tahun terakhir, acara diawali dengan pemutaran foto-foto masa kecil kedua mempelai (beberapa di antaranya pernah kulihat), lalu disusul foto prewedding. Semua itu terasa hambar bagiku— hingga pembawa acara mengumumkan aturan permainan khusus malam itu.
“Untuk memberi kesempatan kepada setiap sahabat istimewa memberikan berkat istimewa bagi pengantin, kami akan mengundang tamu yang terpilih untuk naik ke panggung, menjelaskan hubungan mereka dengan pengantin, dan menceritakan satu kenangan paling berkesan bersama mereka.”
Hubungan!?
Hatiku langsung tercekat.
Semua tamu jelas adalah orang-orang yang dikenal pengantin pria. Aku tidak mungkin mengaku sebagai rekan kerja, teman sekolah, atau kenalan lama—apa pun alasannya pasti akan terbongkar. Lalu… apakah aku harus mengatakan bahwa aku mantan pacarnya?
Suasana ruangan mulai riuh. Berbeda denganku yang panik, kebanyakan tamu justru tampak antusias.
Satu per satu, seiring hidangan dihidangkan, berbagai tamu naik ke panggung— ada yang menangis saat memberi restu, ada pula yang bercanda sambil membongkar kisah memalukan sang pengantin pria. Sebagian besar hanyalah cerita ringan tanpa makna mendalam.
Sementara itu, aku terus berkeringat dingin. Aku berdoa agar namaku tidak dipanggil hingga acara usai. Kalau pun dipanggil, aku sudah berniat kabur diam-diam.
Lalu, seorang wanita berpenampilan mencolok naik ke panggung.
Riasannya pas, menonjolkan kulitnya yang indah. Gaun elegannya memperlihatkan siluet tubuh yang anggun.
Begitu dia berbicara, ruangan langsung senyap.
“Aku adalah mantan istri pengantin pria.”
Kalimat itu membuat suasana membeku.
“Dia pria yang baik—baik padaku, pada keluargaku, dan pada teman-temannya. Hal yang paling kuingat adalah kalimat yang sering dia ucapkan: ‘Hal yang paling kusukai darimu adalah kecantikanmu.’ Tapi aku tak pernah mengerti, mengapa pernikahan kami yang belum genap setahun berakhir dengan perceraian… padahal saat itu aku sangat mencintainya.”
Kenangan mulai berkelebat di kepalaku. Aku baru ingat, sepuluh tahun lalu saat berpacaran denganku, dia memang pernah menyebut bahwa dia baru saja bercerai. Namun aku tak pernah membayangkan bahwa mantan istrinya seindah ini.
Meski wanita itu tetap mengucapkan selamat kepada pengantin, suasana ruangan berubah menjadi penuh bisik-bisik yang aneh dan canggung.
Untuk mencairkan suasana, pembawa acara segera memanggil tamu berikutnya.
Seorang wanita lain naik ke panggung— rambut pendek rapi, penampilan profesional, seperti eksekutif perusahaan multinasional.
“Namaku Subrina. Kalau tidak salah hitung, aku seharusnya adalah mantan pacar sebelum mantan pacar…”
Aku terkejut—lalu tersenyum lega.
Ternyata bukan hanya aku yang duduk dengan jantung berdebar.
Rasa takutku perlahan menghilang. Namun aku justru mulai penasaran dengan perasaan sang pengantin pria.
Aku berdiri dan menatap meja utama. Wajahnya tetap tenang dan bahagia.
Namun aku juga melihat sang pengantin wanita dengan jelas— dibandingkan mantan istri yang cantik dan mantan pacar yang cerdas serta berwibawa, pengantin wanita itu tampak biasa saja, bahkan dengan gaun pengantin.
Subrina melanjutkan: “Aku memiliki banyak kenangan indah bersamanya. Kalimat yang paling sering dia ucapkan kepadaku adalah: ‘Hal yang paling kusukai darimu adalah kecerdasanmu.’ Tapi aku pun tak mengerti, mengapa dia akhirnya memilih berpisah denganku…”
Ruangan semakin gaduh. Polanya terlalu mirip— bercerai dari istri, putus dari pacar, putus lagi dari pacar berikutnya.
Lalu, bagaimana dengan pernikahan ini? Masih pantaskah mendapat restu?
Kenangan masa laluku bersamanya kembali bermunculan. Aku samar-samar ingat, dia pernah mengatakan sesuatu yang mirip kepadaku… namun aku tak bisa mengingatnya dengan jelas.
“Maria Chen!”
Aku tersentak. Tanpa sadar aku berdiri.
“Ya!” Begitu kata itu keluar dari mulutku, aku sadar—yang memanggil namaku adalah pembawa acara.
Semua rencana untuk menghindar lenyap seketika.
Saat aku masih bingung hendak menyebut hubunganku apa, pengantin pria tiba-tiba berdiri dan naik ke panggung.
“Aku rasa aku perlu menjelaskan perjalanan beberapa hubungan dalam hidupku.”
Kata-kata berikutnya membuat seluruh ruangan terdiam, lalu terharu.
“Dalam pernikahan pertamaku sepuluh tahun lalu, aku mengejar keindahan. Aku percaya bahwa memiliki pasangan yang cantik adalah tujuan terpenting hidupku. Namun ketika kusadari bahwa kecantikan bukanlah tujuan akhir kehidupan, aku memilih pergi dan menjadi lebih berhati-hati dalam memilih pernikahan.”
“Saat bersama Subrina, aku mengagumi kecerdasan dan kemampuannya dalam karier. Namun ketika kecerdasannya justru menjadi tekanan dalam hidupku, aku kembali memilih pergi.”
“Setelah itu, aku merasa bahwa kesamaan nilai dan minat adalah yang terpenting. Maka aku menjalin hubungan dengan Maria. Tetapi ketika aku didiagnosis menderita kanker, semua itu menjadi tidak berarti, dan aku kembali memilih pergi.”
“Setelah bertahun-tahun menjalani pengobatan, aku akhirnya menyadari— yang terpenting dalam hidup bukan kecantikan, bukan kecerdasan, bukan isi batin, melainkan kesetiaan untuk tidak meninggalkan satu sama lain. Karena itulah aku memilih istriku.”
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan.
Aku melihat mantan istri dan mantan pacarnya pun tersenyum— senyum pengakuan, senyum kelegaan.
Renungan
Pandangan tentang cinta, pernikahan, dan hubungan berbeda-beda bagi setiap orang.
Seorang pakar cinta di luar negeri pernah berkata: manusia seharusnya menikah tiga kali dalam hidupnya:
- Saat muda, menikah dengan teman petualangan untuk menikmati masa muda yang liar.
- Saat membangun karier, menikah dengan pasangan yang mau berjuang bersama.
- Saat tua, menikah dengan seseorang yang mau saling merawat.
Pemikiran ini memang memiliki kemiripan dengan kisah di atas. Namun dari sudut pandang lain, pemikiran tersebut juga bisa keliru.
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika kita hanya melihat kelebihan sesuai kebutuhan saat itu, lalu ketika situasi berubah kita mulai menyoroti kekurangannya, maka pasangan hanya menjadi alat, sekadar pelampung untuk melewati satu fase kehidupan—
bukan cinta sejati.
Pada akhirnya, bahkan pasangan yang setia sekalipun tak bisa menemani kita melewati kematian. Maka, apakah hidup ini seperti kata ajaran Buddha— hidup hanyalah mimpi, dan segala sesuatu pada akhirnya kosong?
Namun satu hal yang pasti: dalam perjalanan hidup, kebutuhan dan cara pandang manusia akan terus berubah.
Karena itu, ketika mencari pasangan hidup, pilihlah seseorang yang bersedia tumbuh bersama, berjuang bersama, mampu menghadapi kesulitan, dan juga berbagi kebahagiaan.
Itulah pasangan yang layak disebut teman hidup sejati. (jhn/yn)


