EtIndonesia.com Laporan media daratan Tiongkok, pada 4 September menyebutkan topan Saudel yang kembali mendarat membawa curah hujan ekstrem ke seluruh Fujian. Banjir di Putian, Fuding, Fu’an, dan Zhangzhou sangat parah. Wilayah perkotaan maupun pedesaan terendam dalam skala luas. Banyak rumah roboh, sementara harta benda dan barang-barang terseret arus. Banyak orang dilaporkan hilang.
Menurut keterangan warga setempat, sejumlah waduk di Putian dan Fu’an melakukan pelepasan air tanpa peringatan. Warga disebut tidak menerima pemberitahuan sebelumnya. Pada tengah malam, air bah merendam desa-desa dan rumah-rumah terus roboh. Sejumlah warga terjebak di tengah banjir.
Seorang pengguna Weibo menulis:
“Banjir di Fujian kali ini sangat parah. Beberapa hari terakhir hujan deras turun terus-menerus, seolah-olah langit bocor. Desa tempat kakak perempuan saya tinggal di Putian mengalami pelepasan air waduk pada tengah malam tadi. Dia mengatakan tidak menerima peringatan maupun pemberitahuan.”
“Ketika bangun pagi, air sudah mencapai satu lantai rumah. Mobil-mobil terendam. Saat dia menelepon saya, rumah-rumah disekitarnya roboh satu demi satu. Dia bahkan memperdengarkan kepada saya suara rumah yang runtuh.”
Tulisan tersebut juga mengatakan:
“Rumah kakak saya dibangun cukup tinggi sehingga masih ada tempat untuk mengungsi. Namun, warga desa lainnya tidak memiliki tempat untuk pergi. Keluarga kakak saya mengalami kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Tetapi kita harus mengakui bahwa dalam menghadapi bencana alam, kondisi setiap orang sangat tidak setara.”
Seorang warga Fu’an, Fujian, mengatakan bahwa pelepasan air di wilayah mereka juga tidak disertai pemberitahuan.
“Situasi bencana di Fu’an dan Fuding juga sangat mengkhawatirkan. Di Fuding, ada waduk yang menghadapi risiko jebol. Waduk di Fu’an melepaskan air tanpa pemberitahuan yang efektif, bahkan bisa dikatakan tanpa pemberitahuan sama sekali. Toko-toko di sepanjang jalan terendam, dan desa-desa serta kota-kota kecil berubah menjadi lautan air berwarna kuning.”
“Perhatian publik terhadap situasi ini sangat kecil, mungkin karena Fujian dianggap sebagai wilayah yang berpengalaman dalam menghadapi topan. Namun, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan pengalaman masa lalu. Masih banyak sekali tempat dan kelompok masyarakat yang terabaikan. Mohon perhatikan bencana di Fujian.”
Wilayah Minhou di Fuzhou juga dilaporkan mengalami banjir di banyak tempat. Banyak orang hilang, terjebak, atau terseret arus setelah hujan deras yang berlangsung selama berhari-hari. Sejumlah pekerja juga terjebak di dalam pabrik tanpa persediaan kebutuhan pokok. Banyak warga meminta pertolongan melalui internet, tetapi tidak kunjung mendapatkan bantuan.
Video yang beredar di internet memperlihatkan rumah-rumah roboh satu demi satu, jalan-jalan terendam, arus banjir mengalir deras, kendaraan terseret arus, dan sejumlah orang terjebak di tengah banjir.
Menurut laporan media daratan Tiongkok, hujan deras mulai turun tanpa henti sejak 1 September. Hingga 3 September, permukaan air naik dengan sangat cepat. Pada pagi hari itu, banyak toko di Kawasan Pengembangan Ekonomi Hualin, Kota Putian, Fujian, mulai terendam. Video menunjukkan lantai pertama toko-toko dan bangunan di sekitar kawasan tersebut telah terendam.
Seorang pemilik toko mengatakan: “Saya sudah membuka toko di sini selama 20 tahun, tetapi belum pernah mengalami banjir sebesar ini.”
Rekaman udara juga menunjukkan seluruh Kota Putian seolah-olah terendam banjir.
Meskipun banjir di Fujian sangat parah, perhatian di media sosial daratan Tiongkok justru dilaporkan relatif kecil.
Banyak warganet Fujian menyerukan secara daring agar masyarakat “memperhatikan” dan “memberikan perhatian lebih” terhadap bencana tersebut. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa pihak berwenang sengaja menutupi informasi mengenai kondisi bencana.
(Reporter: Li Li; disusun berdasarkan berbagai laporan / Editor: Xia He


