700 Ton Peledak Mengguncang Lebanon! Israel Klaim Rebut Benteng Bawah Tanah Hizbullah

EtIndonesia.com  Pada malam 3 September 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merilis sebuah video yang langsung menarik perhatian di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Dalam pengumuman tersebut, Israel menyatakan bahwa Divisi ke-36 Pasukan Pertahanan Israel atau IDF telah menguasai kawasan Pegunungan Ali Taher di Lebanon selatan. Penguasaan itu diklaim tidak hanya mencakup wilayah di permukaan, tetapi juga jaringan fasilitas bawah tanah yang selama bertahun-tahun disebut digunakan Hizbullah sebagai salah satu pusat pertahanannya.

Waktu pengumuman tersebut menjadi perhatian karena hanya beberapa jam sebelumnya muncul laporan bahwa Iran, melalui Oman, telah menyampaikan peringatan mengenai kemungkinan serangan Israel terhadap kawasan tersebut.

Menurut laporan yang beredar, Teheran memperingatkan bahwa serangan besar terhadap posisi strategis itu dapat memicu pembalasan Iran.

Namun Israel justru mengumumkan bahwa pasukannya telah berhasil menguasai kawasan itu. 

Posisi Strategis di Lebanon Selatan

Pegunungan Ali Taher memiliki nilai militer yang sangat penting karena terletak di Lebanon selatan, relatif dekat dengan perbatasan Israel.

Kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 600 meter itu dilaporkan berada sekitar 15 kilometer dari wilayah Israel. Dari posisi tinggi tersebut, pasukan yang menguasainya memiliki keuntungan besar dalam melakukan pengamatan terhadap sejumlah kawasan di Israel utara.

Selain itu, beberapa jalur yang menghubungkan kawasan pesisir Lebanon dengan Lembah Bekaa juga dapat dipantau dari wilayah tersebut.

Karena alasan inilah kawasan Ali Taher selama bertahun-tahun disebut menjadi salah satu posisi penting Hizbullah.

Menurut sejumlah laporan Israel, selama hampir dua dekade Iran membantu mendanai pembangunan infrastruktur militer Hizbullah di wilayah tersebut.

Di dalam gunung disebut terdapat jaringan terowongan, pusat komando, gudang persenjataan, ruang logistik, serta fasilitas yang memungkinkan personel bertahan dalam waktu lama tanpa harus sering muncul ke permukaan.

Kompleks tersebut juga disebut berkaitan dengan Pasukan Badr Hizbullah, salah satu formasi yang beroperasi di Lebanon selatan.

Bagi Israel, keberadaan jaringan bawah tanah semacam itu merupakan ancaman serius karena dapat digunakan untuk menyimpan persenjataan, memindahkan personel secara tersembunyi, serta mempersiapkan operasi terhadap wilayah Israel utara.

Ledakan Besar pada 31 Juli

Operasi untuk merebut kawasan tersebut dilaporkan telah berlangsung lebih dari satu bulan.

Menurut narasi yang beredar mengenai operasi tersebut, fase penting dimulai pada 31 Juli 2026, ketika militer Israel menggunakan bahan peledak dalam jumlah sangat besar untuk menghancurkan bagian utama jaringan terowongan.

Jumlah bahan peledak yang digunakan diklaim mencapai sekitar 700 ton.

Ledakan besar tersebut disebut menghancurkan sejumlah bagian fasilitas bawah tanah sekaligus memutus jaringan listrik yang digunakan di dalam kompleks.

Setelah penghancuran tersebut, pasukan Israel dikabarkan tidak langsung memasuki seluruh jaringan terowongan.

Sebaliknya, kawasan itu terlebih dahulu dikepung dan diisolasi selama lebih dari satu bulan. Langkah tersebut diduga bertujuan memutus jalur pasokan serta membatasi pergerakan kelompok bersenjata yang masih berada di dalam kompleks.

Pasukan Israel kemudian bergerak masuk untuk melakukan penyisiran terhadap terowongan, gudang senjata, pusat komando dan berbagai fasilitas lainnya.

Pada 3 September 2026, Israel akhirnya mengumumkan bahwa operasi tersebut telah mencapai tahap ketika kawasan strategis itu berada di bawah kendalinya.

Muncul Klaim Personel IRGC Terjebak

Di tengah operasi tersebut, muncul pula laporan yang menyebut sejumlah anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC berada di dalam fasilitas bawah tanah.

Beberapa sumber bahkan mengklaim lebih dari sepuluh personel Iran terjebak di kompleks tersebut, termasuk sedikitnya dua perwira berpangkat tinggi.

Namun informasi itu masih diperdebatkan.

Militer Israel sendiri dilaporkan membantah klaim mengenai keberadaan personel IRGC tersebut, sehingga informasi tentang keterlibatan langsung perwira Iran di dalam kompleks Ali Taher belum dapat dipastikan secara independen.

Terlepas dari kontroversi tersebut, keberhasilan merebut kawasan ini memiliki nilai simbolis dan strategis bagi Israel.

Kawasan tersebut disebut sebagai salah satu posisi yang pernah berada dalam pengaruh militer Israel sebelum penarikan pasukannya dari sebagian besar Lebanon selatan pada Mei 2000.

Dengan demikian, perkembangan terbaru ini dipandang sebagai perubahan penting dalam konfigurasi militer di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon.

Pergerakan Pesawat Militer Amerika Menjadi Sorotan

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana Iran akan merespons perkembangan tersebut.

Perhatian kemudian tertuju pada aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.

Data pelacakan penerbangan yang dikutip sejumlah pengamat disebut menunjukkan aktivitas beberapa pesawat tanker KC-135 Stratotanker Angkatan Udara Amerika Serikat, bersamaan dengan keberadaan pesawat nirawak pengintai maritim MQ-4C Triton.

Aktivitas semacam ini menjadi perhatian karena pesawat tanker KC-135 memiliki fungsi penting dalam operasi udara jarak jauh. Pesawat tersebut memungkinkan jet tempur dan pesawat militer lainnya mengisi bahan bakar di udara sehingga dapat beroperasi lebih lama tanpa harus kembali ke pangkalan.

Menurut laporan yang beredar, pola penerbangan tersebut dianggap memiliki kemiripan dengan aktivitas yang terlihat menjelang operasi militer Amerika Serikat terhadap sasaran-sasaran di Iran pada 1 September 2026.

Dalam perkembangan sebelumnya, militer AS dilaporkan melancarkan gelombang serangan terhadap sekitar 100 sasaran, termasuk fasilitas yang berkaitan dengan kemampuan pertahanan udara, radar, komunikasi dan infrastruktur maritim Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga telah memperingatkan Teheran bahwa Washington dapat meningkatkan skala serangan apabila Iran melakukan pembalasan lebih lanjut.

Karena itu, kemunculan pesawat tanker dan platform pengintaian Amerika di kawasan Teluk dipandang sebagian pengamat sebagai sinyal bahwa Washington mempertahankan kesiapan militernya.

Namun, aktivitas pesawat tanker dan pengintaian saja tidak dapat dijadikan bukti bahwa serangan baru terhadap Iran pasti akan dilakukan.

Timur Tengah Memasuki Fase yang Semakin Berbahaya

Situasi tersebut memperlihatkan betapa kompleksnya perkembangan keamanan di Timur Tengah pada awal September 2026.

Israel berusaha memperlemah infrastruktur militer Hizbullah di Lebanon selatan, sementara Iran menghadapi tekanan langsung dari Amerika Serikat setelah meningkatnya konfrontasi di kawasan Teluk Persia.

Bagi Israel, penguasaan kawasan strategis di Lebanon selatan dapat memperbesar zona keamanan di sepanjang perbatasannya sekaligus mengurangi kemampuan Hizbullah untuk mengancam kota-kota di wilayah utara.

Bagi Iran, kehilangan salah satu posisi penting sekutunya di Lebanon dapat menjadi pukulan terhadap jaringan pengaruh regional yang selama bertahun-tahun dibangun melalui dukungan kepada Hizbullah.

Namun risiko terbesar justru terletak pada kemungkinan salah perhitungan.

Satu serangan terhadap fasilitas strategis, satu pembalasan terhadap pasukan Amerika, atau satu operasi lintas batas dapat dengan cepat memicu rangkaian respons yang jauh lebih besar.

Karena itulah perkembangan di Lebanon selatan, Iran dan Teluk Persia pada awal September 2026 kini tidak lagi dapat dilihat sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.

Ketiganya telah menjadi bagian dari satu rangkaian ketegangan regional yang saling berkaitan—dan setiap perubahan di satu medan dapat menentukan apa yang terjadi di medan lainnya. (***)

INSPIRASI ERABARU

Jangan Sembarangan Bersihkan Telinga! Serumen Ternyata Punya Manfaat Penting bagi Kesehatan

Serumen telinga ternyata memiliki peran yang jauh lebih penting dalam melindungi telinga daripada yang mungkin Anda sadari.Emma SuttieSerumen telinga memang lengket dan sedikit menjijikkan—kebanyakan...

Mengapa Kita Masih Membutuhkan Buku Fisik

Oleh Ila BonczekIla meraih gelar Sarjana dari College of Agriculture and Life Sciences, Cornell University. Ia tinggal di Garden State, tempat ia telah menanam...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine