Seorang mahasiswi pascasarjana asal Tiongkok ditemukan menjadi korban pembunuhan di Korea Selatan. Tersangka merupakan seorang dosen berkewarganegaraan Tiongkok. Ia mengaku membunuh korban karena takut korban melaporkan hubungan “asmara antara dosen dan mahasiswa” mereka kepada pihak kampus.
Setelah membunuh korban, tersangka memutilasi jenazahnya dan membuang bagian-bagian tubuh tersebut di lima lokasi berbeda. Ia bahkan mengenakan pakaian perempuan untuk menciptakan kesan seolah-olah korban masih hidup dan membuat penyamaran.
EtIndonesia.com Pada 4 September, kepolisian Korea Selatan mengumumkan bahwa Zheng Changsheng 31 tahun, seorang dosen universitas berkewarganegaraan Tiongkok, telah diserahkan kepada jaksa. Ia didakwa atas sejumlah tindak pidana, termasuk pembunuhan, perusakan dan pembuangan serta penyembunyian jenazah, dan mengganggu pelaksanaan tugas aparat dengan cara menipu.
Menurut laporan Yonhap News Agency, Zheng Changsheng diduga membunuh seorang mahasiswi pascasarjana asal Tiongkok berusia 25 tahun sekitar pukul 06.00 pada 20 Agustus di kediamannya di Kota Gyeongsan, Provinsi Gyeongsangbuk-do, kemudian memutilasi jenazahnya.
Kepolisian Korea Selatan telah menyerahkan Zheng kepada kejaksaan dan sekaligus mengumumkan hasil penyelidikan.
Zheng Changsheng mengaku bahwa dirinya dan korban memiliki hubungan asmara. Sebelum kejadian, mereka bertengkar karena masalah hubungan.
“Saya membunuhnya karena saat bertengkar dia mengatakan akan memberitahukan hubungan kami kepada pihak kampus. Saya takut kehilangan pekerjaan.”
Karena korban telah meninggal dan tidak dapat memberikan kesaksian, polisi mengatakan penyelidikan terutama mengandalkan pemeriksaan forensik dan hasil tes poligraf. Berdasarkan bukti yang tersedia, polisi menilai ada kemungkinan kuat bahwa keduanya memang pernah menjalin hubungan asmara.

Menurut informasi kepolisian, korban berkuliah di program pascasarjana Daegu Catholic University. Ia sebenarnya telah lulus dan kembali ke Tiongkok, tetapi kembali ke Korea Selatan pada 14 Agustus untuk menghadiri upacara wisuda. Sehari sebelum upacara tersebut, keluarganya kehilangan kontak dengannya.
Zheng mengajar di program pascasarjana tempat korban berkuliah, dan korban pernah mengikuti kelas yang diajarkannya.
Pada pagi hari kejadian, Zheng diduga mencekik korban hingga tewas di kediamannya. Setelah itu, ia memutilasi jenazah dan membuang bagian-bagian tubuh korban di lima lokasi berbeda, yaitu di Gyeongsan, Gyeongju, Sangju, Daegu, dan Gunpo di Provinsi Gyeonggi.
Lokasi pembuangan tersebut antara lain tempat pembuangan sampah, kawasan hutan, dan tepi sungai. Sebagian sisa jenazah juga disembunyikan di kediaman Zheng. Polisi masih terus mencari beberapa bagian tubuh korban yang belum ditemukan.
Penyidik juga menduga Zheng Changsheng membuat laporan orang hilang palsu untuk menciptakan kesan bahwa korban menghilang.
Polisi mengatakan bahwa setelah melakukan pembunuhan, Zheng juga mengenakan pakaian perempuan dan membawa ponsel milik korban ke Stasiun Dongdaegu untuk memalsukan jejak keberadaan korban.
Kepolisian menyatakan akan terus menyelidiki apakah Zheng Changsheng pernah terlibat dalam tindak pidana lainnya selama bekerja sebagai dosen.


