Arab Saudi Mengamuk! Houthi Dihujani Bom, Pangkalan King Khalid Dibalas dengan Puluhan Rudal!

EtIndonesia.com  Ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman memasuki fase yang semakin berbahaya. Dalam beberapa hari terakhir, kedua pihak saling melancarkan serangan dalam skala besar, mulai dari penggunaan rudal balistik dan drone hingga operasi udara yang menyasar berbagai wilayah di Yaman.

Eskalasi terbaru terjadi pada 14 September 2026, ketika kelompok Houthi mengumumkan telah melancarkan serangan besar terhadap Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait, Arab Saudi bagian selatan. Pangkalan tersebut merupakan salah satu fasilitas militer penting yang digunakan untuk mendukung operasi udara Saudi.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan operasi tersebut melibatkan puluhan rudal balistik dan pesawat nirawak atau drone. Menurut klaim Houthi, sasaran serangan mencakup hanggar pesawat tempur, fasilitas radar, landasan pacu, gudang amunisi, serta infrastruktur militer lainnya.

Houthi mengklaim serangannya mengenai sasaran secara langsung dan menimbulkan kerugian besar. Namun, hingga laporan mengenai serangan tersebut muncul pada 14 September, belum ada konfirmasi independen mengenai skala kerusakan di Pangkalan King Khalid. Otoritas Saudi juga belum memberikan konfirmasi terperinci mengenai klaim kerusakan yang disampaikan Houthi.

Houthi mengatakan serangan itu merupakan balasan terhadap peningkatan operasi udara Arab Saudi di Yaman. Kelompok tersebut mengeklaim pesawat tempur F-15 dan Eurofighter Typhoon Saudi telah melakukan lebih dari 300 serangan udara dalam lima hari sebelumnya di berbagai wilayah Yaman.

Pernyataan itu sekaligus menunjukkan betapa cepatnya konflik meningkat. Pada 8 September 2026, misalnya, otoritas Saudi menyatakan sedikitnya 73 warga sipil terluka akibat serangkaian serangan Houthi yang mengenai lokasi sipil dan fasilitas ekonomi di Abha, Khamis Mushait, Jizan, dan Najran.

Saudi kemudian meningkatkan operasi militernya di Yaman. Serangan udara dilaporkan berlangsung di sejumlah provinsi, termasuk Taiz, Hodeidah, Marib, Al-Jawf dan wilayah lain yang menjadi medan pertempuran antara Houthi dengan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh.

Pada 14 September 2026, laporan dari Yaman menyebut serangan udara telah menyasar posisi Houthi di sedikitnya enam provinsi. Pada saat bersamaan, pasukan pemerintah Yaman mengatakan mereka berhasil merebut kembali sejumlah posisi di bagian barat Provinsi Taiz dan melanjutkan pergerakan menuju wilayah baru.

Pertempuran ini semakin penting karena tidak lagi semata-mata menyangkut perebutan wilayah di dalam Yaman. Salah satu pusat konflik sekarang berada di sekitar Selat Bab al-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu koridor pelayaran strategis dunia.

Pada 10 September 2026, Houthi merebut kota pelabuhan Mocha di pesisir Laut Merah. Sehari kemudian, pada 11 September, kelompok tersebut memperluas kendalinya menuju Dhubab dan Pulau Perim atau Mayun yang berada tepat di kawasan Bab al-Mandeb. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran internasional.

Dalam perkembangan lain, muncul laporan mengenai keberadaan Abdolreza Shahlai, tokoh senior Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, di balik operasi Houthi.

Sejumlah sumber pemerintah Yaman menyebut Shahlai sebagai salah satu tokoh yang mengarahkan operasi Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah. Laporan mengenai keberadaannya menjadi perhatian karena ia selama bertahun-tahun dikaitkan dengan dukungan militer dan keuangan Iran kepada Houthi. Namun, laporan mengenai foto terbaru Shahlai yang beredar serta dugaan bahwa identitas atau keberadaannya sengaja dibocorkan oleh pihak tertentu di dalam Iran belum dapat dipastikan secara independen.

Hubungan Iran dengan Houthi sendiri bukanlah sesuatu yang baru. Iran selama bertahun-tahun dikenal sebagai pendukung utama kelompok tersebut. Akan tetapi, Houthi juga memiliki kepentingan dan struktur pengambilan keputusan sendiri sehingga tidak setiap tindakan kelompok itu dapat secara otomatis dianggap sebagai perintah langsung dari Teheran.

Di tengah pertempuran tersebut, tekanan terhadap Arab Saudi semakin berat setelah infrastruktur energinya ikut menjadi sasaran.

Serangan drone yang dikaitkan dengan kelompok bersenjata yang beroperasi dari Irak menyebabkan kerusakan serius pada jaringan pipa minyak East-West Arab Saudi, jalur strategis yang memungkinkan minyak dari kawasan timur kerajaan dialirkan menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Pada 15 September 2026, laporan terbaru menyebut perbaikan jaringan tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar tiga hingga lima minggu. Gangguan itu menjadi sangat sensitif karena pipa East-West dapat mengangkut jutaan barel minyak per hari dan memiliki arti strategis ketika jalur ekspor melalui Selat Hormuz berada di bawah tekanan.

Situasi ini membuat konflik Yaman memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas. Jika jalur Hormuz terganggu sementara keamanan Bab al-Mandeb dan jaringan pipa menuju Laut Merah juga terancam, maka kemampuan negara-negara Teluk untuk mengalihkan ekspor energi menghadapi tekanan dari beberapa arah sekaligus.

Arab Saudi karena itu mulai mengandalkan kekuatan udaranya secara lebih intensif. Riyadh memiliki armada pesawat tempur modern, terutama F-15 dan Eurofighter Typhoon, ditambah persenjataan berpemandu presisi dalam jumlah besar.

Pada saat bersamaan, kerajaan tersebut juga sedang memperkuat kemampuan pesawat nirawak. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah pengadaan drone tempur berat Bayraktar AKINCI buatan Turki. Laporan pada 14 September menyebut sekitar 60 unit dikaitkan dengan tahap awal pengadaan Saudi dan pengiriman dilaporkan telah dimulai. AKINCI mampu membawa muatan hingga sekitar 1.500 kilogram dan dapat menjalankan misi pengintaian maupun serangan jarak jauh.

Ada pula perkembangan yang cukup menarik mengenai persenjataan rudal Arab Saudi.

Foto puing rudal yang beredar dari Yaman pada September 2026 disebut memiliki kemiripan dengan DF-15A buatan Tiongkok. Apabila identifikasi tersebut benar, peristiwa ini berpotensi menjadi salah satu indikasi pertama penggunaan rudal balistik jenis itu oleh Arab Saudi dalam pertempuran.

Namun, identifikasi tersebut masih berdasarkan analisis sumber terbuka. Kepemilikan dan penggunaan DF-15A oleh Arab Saudi dalam serangan tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh Riyadh maupun Beijing. Karena itu, informasi ini harus diperlakukan sebagai temuan awal, bukan fakta yang sudah dipastikan.

Di tingkat diplomatik, Riyadh juga berusaha memperkuat dukungan dari mitra internasional. Pada 14 September 2026, Putra Mahkota Mohammed bin Salman bertemu dengan Komandan Komando Pusat Amerika Serikat, Laksamana Brad Cooper, di Jeddah untuk membahas perkembangan keamanan regional.

Washington dilaporkan belum bersedia melakukan serangan langsung terhadap Houthi, tetapi Amerika Serikat memberikan dukungan berupa pertukaran intelijen dan bantuan penentuan sasaran kepada Arab Saudi.

Hubungan pertahanan Riyadh dengan Inggris juga semakin diperkuat. Pemerintahan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham sebelumnya telah menyatakan niat meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Arab Saudi dan menunjuk Air Chief Marshal Sir Harv Smyth sebagai utusan pertahanan Inggris untuk kerajaan tersebut.

Dengan demikian, pertempuran yang berlangsung pada pertengahan September 2026 bukan lagi sekadar babak baru dalam perang saudara Yaman.

Konflik tersebut kini bersinggungan langsung dengan persaingan Iran-Arab Saudi, keamanan infrastruktur minyak, keselamatan pelayaran di Laut Merah, serta stabilitas dua jalur energi terpenting dunia: Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb.

Serangan Houthi terhadap Pangkalan King Khalid pada 14 September memperlihatkan bahwa kelompok itu masih memiliki kemampuan menyerang jauh ke wilayah Arab Saudi. Sebaliknya, meningkatnya operasi udara Riyadh menunjukkan bahwa Arab Saudi juga mulai meninggalkan sikap relatif menahan diri yang dijalankannya setelah meredanya perang besar Yaman sejak gencatan senjata 2022.

Kini pertanyaan terbesarnya adalah apakah serangan-serangan tersebut akan memaksa kedua pihak kembali ke meja perundingan, atau justru membuka fase perang baru yang lebih luas.

Sebab, apabila pertempuran terus meningkat dan serangan terhadap fasilitas energi serta jalur pelayaran semakin sering terjadi, dampaknya tidak akan berhenti di Yaman dan Arab Saudi. Efeknya berpotensi menjalar ke harga minyak, perdagangan internasional, dan keamanan seluruh kawasan Timur Tengah.

INSPIRASI ERABARU

Mid Autumn dalam Syair: Bagaimana Para Penyair Timur dan Barat Menemukan Inspirasi dari Pergantian Musim

Dari Danau Dongting yang diterangi cahaya bulan dalam puisi Li Bai hingga angin barat yang liar dalam karya Shelley, para penyair selama berabad-abad di...

Perangkat Penting untuk Menaklukkan Bacaan yang Sulit

Saat Tahun ajaran baru tiba. Itu berarti para pelajar di seluruh dunia kembali berkutat dengan buku pelajaran—menghadapi mata pelajaran baru dengan bahan bacaan yang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine