Jumlah Kasus COVID-19 Melonjak, Sejumlah Sekolah di Jiangsu, Zhejiang, dan Shanghai, Tiongkok Diliburkan

Berdasarkan angka resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT), pada Agustus 2026 jumlah kasus COVID-19 di Tiongkok melebihi 770.000 kasus, meningkat 47,64% dibandingkan Juli. Sejumlah sekolah dan kelas di Jiangsu, Zhejiang, dan Shanghai telah diliburkan, sementara siswa menjalani isolasi di rumah. Namun, media propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT) justru gencar memberitakan wabah influenza dan pemerintah mendorong pemberian vaksin flu gratis kepada lansia dan pelajar, yang menurut laporan ini bertujuan mengalihkan perhatian dan menutupi wabah COVID-19.

EtIndonesia.com Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (Tiongkok CDC) merilis “Gambaran Umum Wabah Penyakit Menular Nasional Agustus 2026”.  Menurut laporan tersebut, jumlah kasus COVID-19 di seluruh Tiongkok mencapai 770.671 kasus, naik 47,64% dari sekitar 522.000 kasus pada Juli. Terdapat 6 kasus kematian. 

Namun demikian, seorang pegawai Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok (NHC) mengungkapkan bahwa angka yang diumumkan pemerintah hanya berasal dari laporan rumah sakit sentinel, sehingga jumlah sebenarnya diyakini lebih tinggi.

“Sekarang banyak sekolah di Jiangsu, Zhejiang, dan Shanghai yang diliburkan. Mereka yang tertular diminta beristirahat di rumah, sementara yang belum tertular diminta melakukan pemantauan di rumah. Ada yang diisolasi selama 4 hari, ada pula yang 14 hari. Ini baru permulaan,” ujar Seorang pegawai NHC bermarga Li (nama samaran). 

“Yang cukup parah adalah Jiangsu, Zhejiang, Shanghai, tiga provinsi di timur laut, serta Guangdong dan Guangxi. Daerah lain juga mulai mengalami hal serupa. Tidak ada yang menghitung data secara spesifik dan tidak ada yang akan mengumumkannya,” katanya. 

Pegawai NHC tersebut juga mengungkapkan bahwa media propaganda PKT gencar memberitakan wabah influenza. Pemerintah bahkan meluncurkan kebijakan pemberian vaksin influenza gratis kepada lansia dan pelajar. Menurutnya, langkah tersebut bertujuan mengalihkan perhatian masyarakat untuk menutupi wabah COVID-19 yang sedang merebak.

“Media memberitakan influenza dan tidak membicarakan virus COVID-19, sehingga membuat masyarakat mengabaikannya. COVID-19 lebih parah, jadi kita harus menyadarinya sendiri dan jangan sampai diarahkan oleh pemberitaan,” kata Li. 

“Influenza tidak akan menyebabkan begitu banyak orang meninggal, tidak akan menyebabkan gejala sisa pada begitu banyak orang, tidak akan menyebabkan masalah dan penyumbatan pembuluh darah, serta tidak akan menyebabkan herpes zoster,” ujarnya. 

Pegawai NHC tersebut mengingatkan bahwa berbagai penelitian di dalam dan luar negeri menunjukkan bahwa selain menyerang sistem pernapasan secara langsung dan menyebabkan pneumonia atau kondisi paru-paru yang disebut “paru-paru putih”, virus COVID-19 juga dapat menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh dan menyerang bagian tubuh yang paling lemah. Karena itu, gejalanya sangat beragam dan dapat memicu penyakit lainnya.

Li (nama samaran) mengatakan: “Sekarang COVID-19 berada di urutan pertama. Setiap orang yang tertular dapat mengalami gejala yang berbeda. Saat ini ada banyak jenis virus. Setelah terinfeksi COVID-19, kekebalan tubuh menurun sehingga seseorang dapat kembali tertular virus lain. Akibatnya, bisa terjadi banyak infeksi secara bersamaan.”

Menurut data pemantauan terbaru yang dirilis Tiongkok CDC, selama 7 hingga 13 September, dari 216 rumah sakit sentinel, tiga virus dengan tingkat positif tertinggi pada pasien rawat jalan dan unit gawat darurat adalah virus influenza, virus corona baru (COVID-19), dan rhinovirus.

Seorang ahli virologi Tiongkok bermarga Wang (nama samaran) mengatakan bahwa berdasarkan data virus yang terdeteksi melalui pemantauan air limbah di berbagai wilayah, kadar COVID-19 dan influenza A sama-sama tinggi. Seseorang bahkan mungkin dapat terinfeksi beberapa jenis virus secara bersamaan.

Wang (nama samaran) mengatakan: “COVID-19 di Jiangsu, Zhejiang, dan Shanghai selama ini memang cukup tinggi. Namun, saat ini konsentrasi virus dalam air limbah di wilayah utara justru paling tinggi. Bukan hanya COVID-19, influenza A juga sangat tinggi. Karena COVID-19 dapat menekan sel T dan menurunkan kekebalan tubuh, influenza A menjadi lebih mudah menginfeksi. Virus lain yang menyebabkan pilek berkepanjangan, seperti rhinovirus, juga memiliki kemungkinan menginfeksi yang sangat tinggi.”

Laporan wawancara Xiong Bin dan Peng Xinyu, NTD Television

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine