Mengapa Trump Menyambut Xi dengan Protokol Tinggi? Seorang Pengamat Media Mengungkap Alasannya

EtIndonesia.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini menyambut pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping yang berkunjung ke AS dengan protokol kenegaraan tingkat tinggi. Publik pun memperhatikan hasil konkret apa yang diperoleh kedua pihak. 

Pengamat media senior Akio Yaita menganalisis bahwa alasan Trump menyambut Xi dengan protokol tinggi pada dasarnya adalah karena Trump memahami bahwa Xi sangat mementingkan “gengsi”, lalu menggunakan “gengsi” untuk ditukar dengan “keuntungan nyata”.

Pihak resmi PKT menyatakan bahwa Xi Jinping mengunjungi Amerika Serikat pada 23 hingga 25 September. Namun, setelah dikurangi waktu perjalanan pergi dan pulang, kunjungan Xi ke AS hanya berlangsung satu hari. Xi juga melewatkan kesempatan untuk berpidato di Majelis Umum PBB, dan setelah bertemu dengan Trump, ia segera kembali ke Tiongkok.

Akio Yaita menulis analisis di platform X, yang sebelumnya bernama Twitter, bahwa jika pertemuan Trump dan Xi kali ini dirangkum dalam satu kalimat, maka intinya adalah: Trump menukar “gengsi” dengan “keuntungan nyata” dari Xi. 

Ia juga menulis bahwa Xi Jinping sangat mementingkan gengsi, sehingga Trump memberikan semua yang bisa diberikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut: penyambutan kedatangan, karpet merah, penghormatan militer, jamuan kenegaraan—semuanya diberikan. Bagi Trump, gengsi itu murah. Berjabat tangan, berfoto bersama, dan mengucapkan kata-kata yang menyenangkan hampir tidak membutuhkan biaya.

Namun, menurut Akio Yaita, bagi Amerika Serikat, apa yang diinginkan Trump dapat dirangkum dalam lima karakter Mandarin yang secara harfiah berarti “kentang tumbuk + pesawat”: “tanah” mengacu pada mineral tanah jarang (rare earths), “kacang” mengacu pada kedelai, “lumpur” mengacu pada fentanil, ditambah pesawat Boeing.

Akio Yaita menganalisis bahwa Amerika Serikat akan segera menghadapi pemilu paruh waktu. Mineral tanah jarang berkaitan dengan teknologi tinggi dan industri pertahanan, kedelai berkaitan dengan pemilih di negara-negara bagian pertanian, fentanil merupakan persoalan sosial yang penting, sementara Boeing berkaitan dengan manufaktur dan lapangan kerja. 

Karena itu, Trump menginginkan hasil yang dapat dilihat langsung oleh para pemilih: pasokan mineral tanah jarang tidak terputus, pembelian kedelai terus berlanjut, pengawasan terhadap prekursor fentanil terus dilakukan, dan pesanan pesawat segera direalisasikan. Menurut analisis tersebut, pihak Tiongkok pada dasarnya menyetujui tuntutan-tuntutan ini.

Sebaliknya, apa yang diinginkan pihak Tiongkok? Mereka berharap Amerika Serikat memberikan kelonggaran dalam persoalan Taiwan, menentang kemerdekaan Taiwan, serta tidak menjual senjata kepada Taiwan. Selain itu, Beijing menginginkan pelonggaran pembatasan terhadap chip kelas atas, penghentian upaya memutus “rantai pasokan merah”, serta penurunan tarif. Namun, sejauh ini tampaknya Amerika Serikat belum memberikan konsesi konkret dalam isu-isu inti tersebut.

Akio Yaita menekankan bahwa Xi Jinping memperoleh kunjungan kenegaraan dengan protokol tinggi, sekaligus mendapatkan perpanjangan gencatan senjata perdagangan serta ruang untuk bernapas. Dengan demikian, Xi mendapatkan “gengsi”, sedangkan Trump memperoleh “keuntungan nyata” yang dapat dipertanggungjawabkannya kepada para pemilih Amerika.

Akio Yaita secara terus terang mengatakan bahwa Trump ingin menghasilkan uang dari Tiongkok, tetapi juga tidak ingin membereskan kekacauan akibat keruntuhan PKT. Karena itu, kebijakan Trump adalah membatasi akses PKT terhadap teknologi mutakhir, mengurangi risiko rantai pasokan, mempertahankan daya tangkal militer, sekaligus mencegah konflik berkembang di luar kendali.

Akio Yaita mengibaratkan strategi Trump dalam menghadapi Xi Jinping sebagai “memukul dengan tongkat, lalu memberikan kurma manis”—yakni memberikan tekanan, kemudian memberikan insentif. Setelah memberikan “kurma manis”, persaingan tetap dilanjutkan. Karena itu, menurut Yaita, ketika melihat Amerika Serikat memberikan sejumlah insentif kepada pihak Tiongkok, Taiwan tidak perlu langsung merasa cemas, karena struktur persaingan jangka panjang antara AS dan Tiongkok tidak berubah.

Akio Yaita menyatakan bahwa karpet merah adalah “gengsi”, sedangkan “kentang tumbuk + pesawat” adalah “keuntungan nyata”. Dalam melihat hubungan AS–Tiongkok, masyarakat sebaiknya lebih sedikit memperhatikan aspek gengsi dan lebih banyak melihat keuntungan nyata, sehingga dapat memahami arah sebenarnya dari hubungan kedua negara.

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Harmoni Langit dan Bumi: Bagaimana Lima Unsur Menghubungkan Alam, Musim, dan Kesehatan

Di Tiongkok kuno, filosofi “langit, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan” telah menjadi pedoman untuk menjaga kesehatan selama ribuan tahun. “Empat musim dan yin-yang...

Perlambat Makan, Nikmati Hidangan Anda Sebaik-baiknya

Shoba RajamaniAnda sibuk, terlalu banyak bekerja, dan mengalami stres. Terkadang Anda bahkan hampir tidak menyadari apa yang sedang Anda makan—atau siapa yang duduk di...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine