EtIndonesia.com Pada petang hari ketika pertemuan Trump–Xi berlangsung, sejumlah praktisi Falun Gong dari berbagai wilayah Amerika Serikat duduk bersama dalam keheningan di Navy Memorial Plaza di Washington, D.C., untuk mengadakan aksi berjaga dengan cahaya lilin. Mereka mengenang para praktisi Falun Gong yang kehilangan nyawa selama 27 tahun penganiayaan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Berikut laporan sebelumnya dari reporter NTD Fiona Ji.
Fiona Ji, reporter NTD: “Ketika matahari terbenam di pusat kota Washington, D.C., cahaya lilin yang berkelap-kelip mulai menerangi alun-alun. Sekitar 200 praktisi Falun Gong dari berbagai wilayah di Pantai Timur Amerika Serikat berkumpul di sini. Mereka duduk dengan tertib dan mengheningkan cipta untuk mengenang banyak rekan praktisi yang kehilangan nyawa selama 27 tahun penganiayaan di Tiongkok.
“Beberapa praktisi di belakang saya memegang spanduk bertuliskan ‘Hentikan Penganiayaan terhadap Falun Gong’. Inilah pesan utama yang ingin disampaikan melalui aksi berjaga dengan cahaya lilin malam ini.”
Erik Meltzer, juru bicara Himpunan Falun Dafa Washington, D.C.: “Bagi para praktisi Falun Gong, aksi berjaga dengan cahaya lilin ini merupakan pengalaman yang sangat khidmat dan menggugah pemikiran. Mengingat mereka dan pengorbanan yang telah mereka lakukan merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab bagi kami.”

Di Tiongkok, menurut laporan tersebut, praktisi Falun Gong menghadapi penahanan, kerja paksa, dan penyiksaan oleh PKT karena mempertahankan prinsip utama latihan mereka, yaitu “Sejati, Baik, dan Sabar”. Laporan tersebut juga menyebut adanya tuduhan pengambilan organ secara paksa dan pembunuhan terhadap praktisi.
Sementara itu, di Washington, D.C., mereka menyatakan kepada dunia bahwa mereka tidak akan tinggal diam.
Mark Yang, peneliti dari Falun Dafa Information Center: “Di saat pemimpin PKT berkunjung ke Amerika Serikat, kami ingin memperlihatkan kepadanya bahwa masih banyak praktisi Falun Gong yang tetap ada. Setelah 27 tahun, PKT masih belum berhasil menghapuskan Falun Gong. Baik di Tiongkok maupun di luar negeri, masih ada jutaan orang yang berlatih Falun Gong.”
Di jantung ibu kota Amerika Serikat, di pusat dunia bebas, para praktisi tersebut menyatakan rasa syukur atas kebebasan yang mereka nikmati, sekaligus mengungkapkan kesedihan atas kondisi di Tiongkok yang menurut mereka kebebasannya telah diinjak-injak.
Duane Harper, praktisi Falun Gong: “Melihat praktisi Falun Gong dan orang-orang lainnya mengalami penganiayaan karena keyakinan mereka membuat saya marah dan sangat sedih. Karena disini kami memiliki kebebasan, sementara di sana mereka tidak memilikinya.”
Dalam suasana yang khidmat tersebut, para praktisi Falun Dafa menyatakan keyakinan mereka bahwa masyarakat Tiongkok akan segera dapat menjalankan keyakinan mereka secara bebas tanpa harus khawatir mengalami penganiayaan.

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah praktik spiritual yang berlandaskan prinsip sejati, baik, dan sabar. Diperkenalkan kepada masyarakat di Tiongkok pada awal 1990-an, praktik ini kemudian memperoleh popularitas yang luas, dengan jumlah praktisi mencapai antara 70 juta hingga 100 juta orang pada akhir dekade tersebut, menurut perkiraan resmi pada saat itu.
Pada Juli 1999, PKT, yang khawatir bahwa popularitas Falun Gong mengancam kekuasaan rezim, melancarkan kampanye brutal untuk memberantas praktik tersebut. Sejak saat itu, banyak praktisi mengalami penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, penyiksaan, bahkan meninggal akibat pengambilan organ secara paksa.
Laporan Fiona Ji dan Wang Ziyi dari NTD, Washington, D.C., Amerika Serikat.


