Konsep Tradisional pada Karir Pejabat di AS

Oleh: Dr. Xie Tian

Amerika betul-betul adalah negara yang menarik. Pada saat pilpres empat tahun sekali, masyarakat begitu antusiasnya, terjun sepenuh diri ke dalamnya. Konflik kampanye pilpres begitu sengit, kata-kata yang saling serang begitu tajam, perbedaan konsepnya ibarat langit dan bumi, membuat masyarakat dunia terperangah.

Namun begitu pilpres berakhir, semua kembali normal, masyarakat tetap melakukan yang seharusnya dilakukan; yang terpilih sibuk memerintah, yang kalah pilpres pun menantikan ronde berikutnya, mencoba meraih kemenangan pada putaran berikutnya.

Setelah presiden baru terpilih, setiap kali begitu banyak orang mengeluh tak bisa bertahan lagi, dan bersumpah akan bermigrasi ke Kanada, atau lari ke Meksiko. Orang seperti ini, pada akhirnya tidak kemana-mana, dan tetap bertahan di Amerika. Orang seperti apa pun, betapa berseberangan konsepnya satu sama lain, selalu menghormati hasil pemilu.

Mungkin ada yang bersiap-siap memutar balik keadaan empat tahun kemudian, juga mungkin memimpikan akan terjadi pemakzulan (impeachment, Red.) dalam empat tahun; namun dalam empat tahun, semua mengakui efektivitas pemilu, menerima hasil pemilu, menghormati orang yang terpilih menjadi presiden.

Ini, adalah hasil dari kekuatan suatu sistem, adalah menghormati peraturan, melakukan sesuatu sesuai aturan dan melakukan sesuatu sesuai hukum.

Pemilu paruh waktu di sela antara tahun pemilu, hanya memilih Kongres, tidak memilih presiden, tapi umumnya orang beranggapan ini adalah pemilu kepercayaan terhadap sang presiden, atau semacam pratinjau untuk pilpres berikutnya. Pemilu paruh waktu tahun ini, luar biasa sengit, kedua belah pihak memandang sangat penting.

Di satu sisi Trump turun tangan sendiri, di sisi lain Obama yang sudah hampir habis pamornya, juga masih sering beraksi, apalagi dengan melihat satu persatu kebijakan yang dibuatnya telah digulingkan oleh Trump, satu demi satu kinerja politiknya telah dipatahkan, perasaannya tentu tidak nyaman.

Trump mengajukan hakim agung Mahkamah Agung Brett Kavanaugh, proses validasinya di Senat sungguh menegangkan. Debat dan interogasi difokuskan pada kekuatan kepribadian Kavanaugh, kelurusan hati, pengasuhan diri dan kemampuan memimpin keluarga.

Calon hakim agung jika tidak memiliki moral yang baik, berpihak pada rakyat dan selalu berusaha melakukan hingga yang terbaik dan mempertahankannya, maka tidak mungkin diajukan oleh presiden, juga tidak mungkin diakui oleh Senat.

Orang-orang Partai Demokrat yang menyerang Kavanaugh membongkar kembali peristiwa 35 tahun silam, sebenarnya ini juga membuktikan selama 35 tahun terakhir Kavanaugh terjun di bidang politik, tidak memiliki satu pun kelemahan untuk bisa diserang.

Kita semua bisa berpikir, dalam lembaran sejarah sampai dengan 35 tahun silam, adakah kemungkinan melakukan kesalahan yang bisa dicomot? Mungkin saja sebagian besar dari kita ada.

Karir Nikki Haley sebagai mantan duta Amerika untuk PBB juga membuktikan proses kelurusan hatinya, pengasuhan dirinya dan kemampuan memimpin keluarganya, kemampuan menjalankan pemerintahan dan menentramkan dunia.

Nikki Haley adalah gubernur negara bagian South Carolina (2011-2017), dia adalah seorang gubernur wanita pertama South Carolina, juga menjadi gubernur berdarah Asia yang pertama, suaminya adalah perwira AD South Carolina.

Haley adalah orang Amerika Serikat keturunan India, dia adalah keturunan kaum Sikh dari Punjab, India. Saat menikahi suaminya diadakan dua kali ritual pernikahan, satu kali dengan tata cara Gereja Kristen Methodist dan yang kedua kali dengan ritual Sikh. Dia juga mempunyai pengalaman militer, pernah mengabdi satu tahun di Afganistan.

Kemudian selama beberapa tahun menjadi anggota dewan negara bagian South Carolina, lalu sukses memenangkan pemilu gubernur South Carolina, sempat menjabat selama enam tahun, sampai akhirnya menerima panggilan Trump.

Saat Trump berkampanye, awalnya Haley bukanlah pendukung Trump, waktu itu dia mendukung Marco Rubio, kemudian beralih mendukung Ted Cruz. Selama kampanye Trump dan Haley bahkan saling mengecam, namun pada akhirnya tidak menghalangi keduanya untuk bekerja sama; pada akhir pemilu, Haley justru jelas memberikan dukungannya pada Trump.

Setelah Trump menjabat, tadinya Haley dipertimbangkan menjabat sebagai Menlu AS, namun Haley merasa dia tidak memiliki kemampuan untuk mengemban tanggung jawab diplomatik AS di dunia, termasuk berdiplomasi dengan Korea Utara, Suriah, Venezuela, Rusia dan Tiongkok.

Kemudian dia menerima jabatan sebagai duta AS bagi PBB. Trump memberitahu Haley, dia bisa secara lugas mengutarakan isi hatinya, dan Haley telah melakukannya. Sebagai duta AS bagi PBB selama dua tahun, kinerjanya cukup meyakinkan, namun kemudian dia memilih untuk mundur.

Haley yang telah mundur, bukan mundur dari politik, sejumlah kalangan menyebut dirinya akan mencalonkan diri dalam pilpres 2020. Akan tetapi, seharusnya dia tidak akan bersaing dengan Trump sang mantan majikan, namun pada pilpres 2024, dia mungkin akan mencalonkan diri.

Pada acara jamuan makan malam menggalang dana tahunan di Alfred E. Smith Memorial Foundation, Haley menyampaikan pidato utama, membuat masyarakat semakin terkesima dengan bintang baru di kancah politik ini.

Senator negara bagian Massachusetts Partai Demokrat bernama Elizabeth Ann Warren mengatakan dirinya berdarah suku Indian, Haley lantas di dalam jamuan makan malam itu berseloroh, ketika Trump memanggilnya dan mendengar dirinya adalah orang Amerika keturunan India (Indian Americans, Red.), Trump bertanya padanya apakah berasal dari satu perkampungan suku Indian yang sama dengan Warren, hal ini memicu gelak tawa, masyarakat terkagum akan kecerdikan dan rasa humor Haley.

Dalam bahasa Inggris, suku Indian (American Indians) dengan orang Amerika keturunan India (Indian Americans), kata “Indian” pada kedua kosa kata itu adalah sama penulisannya.

Alasan mundurnya Haley terdapat berbagai versi, namun ada dua di antaranya yang paling memungkinkan. Pertama, Trump mungkin tidak berencana untuk menempatkan lagi duta di PBB, dan kedua adalah Haley mungkin membutuhkan uang.

Bersama suaminya Haley telah mengabdi pada negara selama bertahun-tahun, kondisi ekonominya pun cukup sulit. Bandingkan dengan sebagian besar negara berkembang dimana sebagian besar para pensiunan pejabatnya malah hidup dengan makmur.

Kini dengan pengalamannya yang mumpuni dia bisa menduduki posisi dengan gaji tinggi di perusahaan swasta, memperbaiki dahulu kondisi rumah tangganya untuk kemudian mempersiapkan masa depan, ini adalah contoh baik memimpin/menyempurnakan keluarga, baru memerintah Negara dan akhirnya mendamaikan dunia. (sud/whs/asr)

Artikel Diterbitkan di Media Cetak Epochtimes Indonesia Edisi 578

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine