oleh Daniel Holl
Seorang lelaki melompat keluar jendela dari lantai lima sebuah rumah sakit tempat putranya dirawat, jatuh dan meninggal. Melansir dari media pemerintahan disponsori Tiongkok, The Paper, putra lelaki ini berada di rumah sakit akibat dipukul oleh kepala sekolah karena berperilaku tidak sopan.
Xu bunuh diri pada 13 Maret 2019 di sebuah rumah sakit di Provinsi Sichuan, Tiongkok. Istrinya, Tan, percaya Xu bunuh diri karena dia tidak dapat menerima kritik mengenai perilaku putra mereka di media sosial.
Banyak komentar media sosial menuduh Jay sebagai “anak beruang,” julukan untuk anak manja dan tidak disiplin di Tiongkok. Kepala sekolah dasar, Hu Gang, telah dipecat dari jabatannya
Insiden Pemukulan
Anak laki-laki itu berusia 12 tahun, diberi nama samaran Jay, berada di dekat rumahnya pada sore hari 7 Maret 2019. Ketika Hu Gang, kepala sekolah, lewat, ia mendengar Jay meneriakkan nama panggilan yang agak menghina baginya.
Jay meneriakkan “anak hitam” berulang-ulang pada Hu Gang. “Anak hitam” mengacu pada anak yang lahir di luar kebijakan satu anak di Tiongkok.
Hu Gang kepada The Paper mengatakan panggilan ‘anak hitam’ hanya dilakukan oleh teman-teman dekat Hu Gang, dan selain itu siapa pun yang memanggilnya “anak hitam” dianggapnya tidak sopan. Hu Gang juga mengatakan bahwa ia tidak menyadari bahwa Jay pernah menjadi murid di sekolahnya.
Hu Gang segera menemui Jay. Hu Gang bertanya apakah orangtua Jay ada di rumah. Jay jawab tidak ada. Bertepatan saat itu, ayah Jay, Xu, tiba di rumah.
“Aku berkata kepada ayah anak itu, aku akan memberi anak itu pelajaran di depan anda,” kata Hu Gang kepada The Paper.
Hu Gang lalu mencubit dan menampar Jay. Hu mengatakan bahwa Xu tidak berusaha menghentikannya.
Ibu Jay, Tan, segera mengambil video luka yang diderita oleh Jay saat ia tiba di rumah dan membagikannya di media sosial.
“Lihat, bagaimana kepala sekolah Huzhu memukuli anak-anak. Putraku hanya mengatakan ‘anak hitam,’ putraku tidak mengerti … kepala sekolah memukuli seorang anak, membuat aku benar-benar marah,” kata Tan dalam video itu, menurut The Paper.
Orangtua Jay melaporkan Hu Gang ke polisi. Mereka membawa Jay ke rumah sakit dan mendapati Jay mengalami cedera jaringan lunak, tetapi Jay dalam kondisi stabil.
Pada tanggal 25 Maret 2019, Jay masih dirawat di rumah sakit.
Hu Gang menyesal memukul Jay.
“Tindakan tersebut memang terburu-buru. Aku benar-benar menyesalinya … Aku seharusnya membiarkan ayah bocah itu yang mendidiknya, sehingga tidak terjadi masalah sebesar ini,” kata Hu Gang kepada The Paper pada 25 Maret.
Konsekuensi
Pada 8 Maret 2019, Hu Gang, bersama istrinya, pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Jay. Mereka tiba lebih awal di pagi hari untuk meminta maaf kepada orangtua Jay. Hu Gang membayar biaya pengobatan Jay.
Investigasi atas insiden itu dimulai pada 8 Maret 2019. Diputuskan pada 10 Maret 2019 bahwa Hu Gang akan dipecat sebagai kepala sekolah. Jay mulai menerima perawatan psikologis pada11 Maret 2019.
Kemudian, pada 13 Maret 2019 pagi hari, tiba-tiba Xu bunuh diri dengan melompat dari jendela lantai lima rumah sakit. Pihak berwenang setempat mengatakan bahwa Xu melakukan bunuh diri. Istrinya, Tan, berada di tempat kejadian saat Xu melompat dari jendela.
The Paper tidak melaporkan sentimen duka apa pun dari istri Xu.
Seorang teman lama Xu, bernama Zhao, mengatakan bahwa Xu adalah pria yang jujur dan pekerja keras yang tidak berjudi dan jarang minum arak. “Xu meletakkan makanan di atas meja, tetapi ia tidak pernah dapat mengucap sepatah kata pun, karena istrinya sering memarahinya,” kata Zhao kepada The Paper.
Zhao juga bertindak sebagai mediator antara keluarga dan Hu ketika mereka menegosiasikan kompensasi finansial.
Tan mengatakan bahwa ia mencurigai alasan bunuh diri suaminya adalah kritik luas yang diterima keluarga secara online, menurut The Paper. Tan tidak mau membahas aspek-aspek lain dari kehidupan Xu.
The Paper melaporkan bahwa beberapa netizen mengatakan: “Anak-anak beruang seharusnya dipukuli,” “anak itu tidak mengerti, orangtua bahkan lebih tidak mengerti lagi— jadi tidak mengerti,” “jika itu aku, aku akan memukulnya juga.”
Netizen yang lain menunjukkan kesalahan kepala sekolah: “Sebagai pendidik, apakah ini cara anda mendidik anak-anak?”
“Ada banyak orang menyalahkan putraku, bahwa kami sebagai orangtua tidak mendidiknya dengan baik, [Xu] merasa ia telah dipermalukan,” kata Tan kepada The Paper.
Tan mengatakan bahwa ia meminta Xu untuk tidak membaca komentar secara online, tetapi Xu tidak mendengarkannya. Adik ipar Tan mengatakan bahwa Xu adalah seorang pebisnis dan keluarganya tinggal di sebuah kota kecil — jadi setiap orang akan menggosipkan mereka, menurut The Paper. Tan mengatakan bahwa Xu tidak membela putranya sendiri, dan bahwa Xu tidak akan dapat menerima apa yang dikatakan orang lain mengenai dirinya.
Anak Beruang
Konsekuensi modern dari kebijakan satu anak di Tiongkok yang kini terlantar adalah “anak beruang.”
Dahulu anggota keluarga di Tiongkok sangat banyak. Kini yang terjadi adalah keadaan sebaliknya. Akibatnya, banyak keluarga memiliki empat kakek-nenek dan dua orangtua yang memusatkan semua perhatian mereka pada satu anak.
Sehingga ada beberapa kasus anak beruang menjadi anak yang sangat manja. Anak beruang sehari-hari disebut sebagai “kaisar kecil.”
Pada satu contoh, seorang nenek mengizinkan cucunya bermain dengan tombol lift. Ada juga wanita lain di lift bersama mereka. Wanita itu meminta sang nenek untuk menghentikan kelakuan cucunya, tetapi sebaliknya yang terjadi, sang nenek menyuruh wanita itu untuk mengurus urusannya sendiri.
Wanita itu memutuskan untuk membalas dendam pada anak beruang tanpa bertengkar. Ia mengambil suguhan lezat dari tasnya dan memakannya di depan bocah itu, mengejek si bocah dan menyebabkan masalah bagi si nenek. (Vv/asr)


