Zhou Xiaohui
Jika dikatakan Partai Komunis Tiongkok saat ini sudah kacau balau dalam menghadapi perang dagang melawan Amerika Serikat dan masalah Hong Kong, serta dalam mempertahankan rezimnya tidak ditemukan jalan keluar, maka kobaran api yang kian membara itu semakin mempercepat keruntuhan Komunis Tiongkok dari dalam. Satu ciri khas yang paling mencolok beberapa tahun terakhir ini adalah: soal rahasia internal Komunis Tiongkok terus menerus terungkap ke luar negeri.
Beberapa rahasia yang paling disoroti dunia luar di antaranya adalah:
Pertama. Terkait reaksi Beijing terhadap hasil pemilihan anggota legislatif distrik di Hong Kong.
Pada 3 Desember 2019 lalu, surat kabar “The Epoch Times” mengutip informasi dari tokoh yang dekat dengan petinggi Zhongnanhai.
Informasi itu menyebutkan setelah hasil pemilihan anggota legislatif distrik Hong Kong dirilis, Xi Jinping merasa “panik dan tak berdaya.” Pasalnya hampir semua caleg dari kubu pro-Beijing mengalami kekalahan. Informasi itu sangat bertolak belakang dengan laporan Kepala Eksekutif Carrie Lam yang menyatakan “pasti menang.”
Pemerintah pusat seketika itu tidak mampu mengeluarkan kebijakan untuk mengatasinya. Sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suasana internal partai Komunis Tiongkok sangat kacau. Hal itu jelas terkait dengan Kantor Penghubung Pusat, Kantor Urusan Hong Kong & Macau, serta salah prediksi Kepala Eksekutif Carrie Lam.
Khususnya Carrie Lam yang bersikeras harus menyelenggarakan pilihan legislatif sesuai jadwal semula, karena dia ingin membuat kelompok penentang pemerintah, kalah telak dan tak mampu berdalih”.
Selain itu, Kantor Penghubung Pusat mengutus personel ke setiap pos pemungutan suara. Berita yang didapat adalah banyak warga usia lanjut antre panjang untuk memberikan suara. Ternyata salah memrediksi kubu pro-Beijing yang keluar sebagai pemenang, padahal media massa Komunis Tiongkok telah mempersiapkan artikel kemenangan.
Kedua. CCTV mencabut dan mengganti artikel.
Pada tanggal 2 dan 3 Desember 2019, lewat salah satu saluran acara Reuters di luar negeri yang mengungkap sebuah informasi penting, disebutkan pada 1 Desember malam hari itu sekitar 50 menit sebelum acara “Xinwen Lianbo” CCTV disiarkan, mendadak dicabut satu artikel. Pencabutan itu disinyalir merupakan “perintah kepala negara” Xi Jinping, namun kontennya tidak dijelaskan.
Setelah itu, staf dari Kantor Penghubung yang bertanggung jawab atas kerahasiaan pekerjaan diberhentikan.
Ketiga. Pakar Amerika Serikat ungkap ketakutan petinggi Partai Komunis Tiongkok.
Belum lama ini, wartawan “The Epoch Times” edisi bahasa Inggris dalam acara “American Thought Leaders” mewawancarai seorang pakar permasalahan Tiongkok dari Amerika Serikat bernama Arthur Waldron.
Waldron mengatakan ada staf senior yang dekat dengan Xi Jinping mengatakan pada dirinya, sistem Partai Komunis Tiongkok telah memasuki jalan buntu. Mereka sudah tidak ada lagi jalan lain, begitu salah langkah, mungkin akan hancur. Oleh sebab itu Arthur Waldron mengusulkan pada pemerintah Amerika agar mulai mempertimbangkan kebijakan untuk masa “pasca Komunis Tiongkok”.
Keempat. Terungkapnya dokumen Partai Komunis Tiongkok terkait penganiayaan, kebijakan dan doktrinasi di Xinjiang.
Seorang pejabat Partai Komunis Tiongkok mempertaruhkan nyawanya memberikan dokumen setebal lebih dari 400 halaman bagi surat kabar New York Times. Dokumen terkait tindakan Komunis Tiongkok memenjarakan tokoh suku Uighur dan kaum minoritas lainnya di Xinjiang dengan dalih Pendidikan penataran dan pelatihan profesi.
Sebagai imbalannya, pada 24 November 2019 lalu, sebuah NGO di Washington yakni International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) juga telah mengungkap sebuah dokumen internal Komunis Tiongkok terkait Kamp Konsentrasi Baiwan di Xinjiang. Media Amerika Serikat menyebutkan, konten dokumen tersebut membuat orang merinding karena mengerikan.
Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan, dokumen yang dibocorkan baru-baru ini jumlahnya sangat besar dan bukti yang terus bertambah saling menguatkan. Menjelaskan Partai Komunis Tiongkok dalam skala luas terus menindas HAM dan menyiksa para tawanan.
Kelima. Peristiwa mantan intelijen Partai Komunis Tiongkok yang membelot ke Australia terus berkembang.
Pada November 2019 lalu, media massa Australia mengungkap mantan mata-mata Partai Komunis Tiongkok bernama Wang Liqiang yang telah membelot ke Australia dan menyerahkan dokumen intelijen kelas berat bagi pemerintah Australia.
Wang Liqiang mengungkap mantan atasannya yang bernama Xiang Xin sebagai presiden komisaris sekaligus CEO Innovation Investment Limited (HK) beserta istrinya selaku kepala staf mata-mata yang bekerja bagi pihak militer Komunis Tiongkok.
Wang Liqiang juga mengungkap bagaimana Komunis Tiongkok mengacaukan aksi unjuk rasa di Hong Kong, bagaimana mempengaruhi pemilu di Taiwan, serta penyusupan Komunis Tiongkok terhadap Australia dan lain sebagainya.
Komunis Tiongkok memfitnah dengan cara-cara kotor, telah membuktikan nilai dan kebenaran data intelijen dari Wang Liqiang. Sedangkan Xiang Xin beserta istri yang diungkapnya saat ini telah dibatasi oleh instansi terkait sehingga tidak bisa meninggalkan Taiwan. Latar belakang mereka, pengalaman dan operasional perusahaannya, serta sumber dana, khususnya kaitannya dengan pihak militer Komunis Tiongkok, satu persatu muncul ke permukaan.
Keenam. Dokumen penting terkait kematian mantan Direktur Hainan Airlines bernama Wang Jian.
Pengusaha kaya Tiongkok bernama Guo Wengui alias Miles Kwok yang kini menetap di Amerika Serikat, mengungkap dokumen penting terkait kematian mantan Direktur Hainan Airlines bernama Wang Jian. Wang Jian adalah seorang pengusaha dan miliarder Tiongkok.
Guo Wengui bersama dengan Chen Feng, adalah co-founder dan co-chairman Hainan Airlines dan konglomerat terafiliasi HNA Group, dengan aset senilai US $ 230 miliar pada tahun 2018.
Sebagian dokumen ternyata bersumber dari Komisi Urusan Politik dan Hukum Pusat Partai Komunis Tiongkok. Dokumen itu menunjukkan, dalam kematian Wang Jian terdapat banyak kecurigaan. Oleh karena seseorang di Beijing ingin mencelakakan Wang Jian, sangat mungkin dia “berpura-pura mati”.
Rahasia di atas hanya sebagian dari yang paling penting yang baru terungkap baru-baru ini. Faktanya, sejak tahun 2012, tak terhitung sudah sedemikian banyaknya rahasia Komunis Tiongkok yang telah diungkap di luar negeri. Sebagai contoh skandal dan kasus korupsi pejabat tinggi Komunis Tiongkok, perebutan kekuasaan internal serta penyusupan terhadap negara asing, sampai kasus penganiayaan Komunis Tiongkok terhadap rakyatnya sendiri, termasuk merampas organ tubuh praktisi Falun Gong dan tahanan suku Uighur di Xinjiang.
Pengungkapan seperti itu seharusnya tak pernah terjadi sepanjang sejarah. Satu demi satu, kasus demi kasus, membuat masyarakat dunia melihat kejahatan, kekejian, dan hinanya Komunis Tiongkok.
Itu sekaligus juga membuat masyarakat memahami eksistensi Komunis Tiongkok, yang bagi rakyat Tiongkok dan dunia adalah ancaman besar. Banyak masyarakat dunia yang telah sadar mulai menapak jalan “anti-komunis”, dan memilih untuk terus mendukung pemerintah Amerika Serikat yang dipimpin Presiden Trump untuk “menentang komunis”.
Lalu, mengapa begitu banyak rahasia internal Komunis Tiongkok yang terungkap ke luar negeri? Apakah penguasa sekarang mampu menghentikannya?
Menurut Zhou Xiaohui, seorang penulis, penyebabnya ada dua hal. Penyebab yang pertama bersumber dari pertikaian para petinggi internal Komunis Tiongkok sendiri. Penyebab kedua karena tersadarnya sejumlah anggotanya yang masih berhati nurani.
Sejak Xi Jinping menjabat, pertikaian dengan kubu Jiang Zemin terus berlangsung diam-diam. Beberapa tahun lalu, dengan alasan pemberantasan korupsi, Xi Jinping menciduk tidak sedikit pejabat tinggi dari kubu Jiang Zemin. Pembersihan di kalangan pejabat, pada tingkatan tertentu memenangkan simpati rakyat. Akan tetapi, di saat rakyat mengira Xi Jinping akan menepati janjinya “meringkus dalang”, menjelang Kongres Nasional ke-19 yang dilangsungkan pada akhir Oktober 2019 lalu, Xi Jinping berkompromi dengan kubu Jiang Zemin serta menetapkan kekuasaan satu tangan.
Hal itu dengan dalih demi mempertahankan partai Komunis Tiongkok dan kekuasaan dirinya. Xi Jinping telah berbelok “ke kiri” secara ideologi.
Akibatnya adalah selain kehilangan peluang baik membawa Tiongkok ke jalan yang lebih baik, Xi Jinping juga kehilangan dukungan dari kubu reformasi di internal partai serta simpati rakyat. Dalam dua tahun terakhir ini Tiongkok mengalami banyak kekalahan baik dalam perang dagang dengan Amerika maupun dalam masalah Hong Kong. Juga memicu banyak ketidakpuasan di lingkungan internal Komunis Tiongkok.
Dalam pertikaian kalangan petinggi Partai Komunis Tiongkok yang berlangsung hingga kini, berbagai kubu kekuatan di dalam tuuh Partai Komunis Tiongkok berlandaskan pada tujuan masing-masing.
Tujuan itu, seperti mengalahkan saingannya, menaikkan bargain tawar menawar dan lain-lain. Berebutan memberikan berbagai macam informasi ke luar negeri, termasuk rahasia internal partai, sehingga semakin mempertajam sengitnya pertikaian antar kubu.
Dalam hal ini, Zhongnanhai selaku pemerintahan pusat Partai Komunis Tiongkok tak kuasa mencegah, juga tidak berdaya melakukan apa pun.
Partai Komunis Tiongkok yang selalu berlawanan dengan aspirasi rakyat, korup dan bobrok serta tidak memiliki kemampuan, juga membuat sebagian pejabatnya yang masih berhati nurani atau yang berkepentingan, mengungkap rahasia itu ke luar negeri.
Alasannya mungkin karena melindungi diri atau menegakkan kebenaran. Bisa juga dengan pertimbangan masa depan.
Ada yang menggunakan nama asli, seperti Wang Liqiang yang membelot ke Australia, ada pula yang menggunakan nama samaran atau membocorkannya dalam perbincangan tertutup.
Terhadap kejadian itu, Zhongnanhai pun tak berdaya mencegah, karena terhadap sebagian besar anggotanya, Komunis Tiongkok sama sekali tidak bisa sepenuhnya tahu dimana mereka bersembunyi. Pasalnya anggota yang melakukan hal itu tidak terbatas orang tertentu saja.
Bisa dikatakan, apa pun cara yang digunakan untuk membocorkan rahasia Komunis Tiongkok ke luar negeri, setelah rahasia terungkap bagi Komunis Tiongkok merupakan pukulan dengan berbagai tingkat kekuatan berbeda.
Hal itu, bisa terlihat mulai dari ketakutan Komunis Tiongkok terhadap Guo Wengui yang mengungkap rahasianya, memfitnah Wang Liqiang, mantan mata-matanya sendiri, hingga menyangkal keberadaan dokumen Xinjiang.
Sama sekali tidak berlebihan jika dikatakan pukulan seperti itu pada kenyataannya telah mempercepat kehancuran Partai Komunis Tiongkok. (SUD/WHS)


