Provinsi di Tiongkok yang Berpenduduk 38 Juta Jiwa Memberitahukan Warganya untuk Isolasi di Rumah Saat Wabah Virus Memburuk

Nicole Hao

Pihak berwenang Tiongkok pada tanggal 14 Januari 2021 mengumumkan kematian terkait COVID-19 yang pertama dalam beberapa bulan. Saat Tiongkok menghadapi kebangkitan virus Komunis Tiongkok di seluruh Tiongkok, jumlah kematian yang rendah dipertanyakan.

Menurut kepala dokter dari tim medis COVID-19 di Provinsi Hebei, Yan Xixin, wanita penderita berusia 69 tahun itu didiagnosis pada tanggal 9 Januari setelah menderita demam. Penderita tersebut dibawa ke Rumah Sakit Dada Hebei untuk diobati, tetapi kondisi penderita tersebut memburuk dengan cepat.

Penderita tersebut ditempatkan di mesin jantung-paru ECMO. Ia meninggal dunia pada tanggal 13 Januari dengan beberapa kegagalan organ, kata Yan Xixin pada konferensi pers Kamis di Shijiazhuang, kota dengan wabah paling parah.

Wanita penderita tersebut adalah kematian COVID-19 pertama yang dipastikan pihak berwenang sejak bulan Mei 2020.

Wabah di Provinsi Heilongjiang di timur laut Tiongkok terus merebak. Pada hari Kamis 14 Januari, pemerintah Provinsi Heilongjiang memberitahu semua penduduk yang berjumlah 38 juta orang untuk swa-karantina di rumah. Tidak disebutkan berapa lama masa karantina akan  berlangsung, tetapi pihak berwenang Tiongkok biasanya membutuhkan karantina setidaknya selama 21 hari.

Dan pada hari Rabu 13 Januari, Shanghai memerintahkan semua penduduk untuk tetap berada di Shanghai dan tidak bepergian selama liburan Tahun Baru Imlek yang akan datang. Orang-orang dari daerah lain dengan wabah tidak akan diizinkan memasuki Shanghai.

Wabah-wabah baru juga dilaporkan di daerah-daerah lain Tiongkok.

Fasilitas Sementara

Media yang dikelola negara Tiongkok, Xinhua melaporkan bahwa pemerintah daerah Shijiazhuang memilih sebidang tanah seluas 3.000 acre untuk membangun sebuah fasilitas karantina darurat.

Menurut laporan Xinhua pada hari Kamis 14 Januari, 3.000 rumah kontainer tiba dalam tiga hari di Shijiazhuang.

Para pejabat mengatakan fasilitas tersebut akan digunakan untuk mengkarantina orang-orang yang dicurigai tertular COVID-19. Tetapi pabrik-pabrik — tiga perusahaan berbasis 

di kota Tangshan, Hebei — memberitahukan kepada Xinhua bahwa kontainer-kontainer tersebut akan dibuat dibangun mirip dengan yang mereka bangun untuk rumah sakit-rumah sakit sementara di Huoshenshan di Wuhan, selama episentrum pandemi pada awal tahun 2020.

Pihak berwenang Wuhan menghabiskan 10 hari untuk membangun fasilitas tersebut untuk merawat sejumlah besar penderita COVID-19 dalam kondisi parah.

Setiap kontainer akan berukuran lebih dari 190 kaki persegi — sedikit lebih besar dari kamar yang berukuran 177 kaki persegi di Huoshenshan, menurut Xinhua.

Pihak berwenang tidak mengumumkan tanggal penyelesaian yang diharapkan untuk fasilitas tersebut di Shijiazhuang.

Wabah setempat terus memburuk. Pada hari Kamis 14 Januar, Dewan Negara pemerintah pusat menginstruksikan provinsi-provinsi lain untuk menyediakan ambulans ke Shijiazhuang untuk mengangkut penderita COVID-19, menurut sebuah laporan surat kabar milik negara Tiongkok, Dahe.

Provinsi Henan di tengah Tiongkok mengorganisir sebuah tim yang terdiri dari 95 orang dan 18 kendaraan dari Zhengzho, ibukota Provinsi Henan dan mengirim tim tersebut ke Shijiazhuang dalam waktu beberapa jam, menurut Dahe. 80 Persen anggota staf tim tersebut telah pergi ke Wuhan pada tahun 2020 untuk membantu mengangkut penderita-penderita.

Hingga hari Kamis 14 Januari, lebih dari 20.000 penduduk di Shijiazhuang terpaksa meninggalkan rumahnya dan dikarantina di hotel, asrama sekolah, dan fasilitas lainnya diubah menjadi pusat karantina darurat. Semua penduduk yang berjumlah 11 juta orang itu tetap dikarantina di rumah masing-masing.

Xinhua juga melaporkan pada hari Kamis 14 Januari bahwa Li Ruizhi yang berusia 55 tahun, meninggal dunia kurang dari dua jam setelah ia tiba-tiba pingsan di sebuah lokasi pengujian komunitas COVID-19 pada tanggal 7 Januari 2021. Kota Shijiazhuang mewajibkan semua penduduk untuk diuji.

Li Ruizhi adalah salah satu wanita staf yang membantu menjaga ketertiban. Ia meninggal dunia karena serangan jantung, menurut Xinhua. Pihak berwenang tidak menjelaskan mengapa mereka mengumumkan kematian Li Ruizhi beberapa hari kemudian.

Xingtai

Di kota Xingtai yang berdekatan, pihak berwenang mengkarantina semua orang yang tinggal di desa Sanlizhuang. Mereka dipaksa meninggalkan rumahnya dan diangkut ke hotel dan rumah sakit di pusat kota Xingtai.

Para pembaca The Epoch Times berbahasa Mandarin di Tiongkok membagikan video-video penduduk desa yang mengenakan pakaian pelindung, saat mereka menunggu untuk dibawa pergi oleh bus yang bolak-balik.

Li Ming (nama samaran) adalah seorang pria yang tinggal di lingkungan sebelah Sanlizhuang. Ia berkata dalam wawancara telepon pada hari Kamis, bahwa seluruh desa telah ditutup dan penduduk desa dibawa ke tempat-tempat karantina, setelah empat dari penduduk tersebut dinyatakan positif menderita COVID-19 sehari sebelumnya.

“Mereka dibawa pergi oleh pemerintah…. Kami beruntung [bahwa kami masih dapat tinggal di rumah],” kata Li Ming.

Suhu anjlok hingga lebih rendah dari minus 8 Celcius dalam beberapa hari terakhir. Penduduk desa memposting di platform media sosial Tiongkok, Weibo bahwa mereka harus menunggu bus-bus yang bolak-balik selama berjam-jam di udara dingin saat staf pemerintah mengatur ruang karantina bagi mereka.

Penduduk desa yang dikarantina di asrama-asrama sekolah mengeluhkan sistem pemanas yang tidak berfungsi dengan baik dan mereka tidak punya makanan untuk dimakan.

Wabah-Wabah Baru

Pada hari Kamis 14 Januari, kota Hulunbuir di wilayah paling utara Mongolia Dalam mengumumkan bahwa sebuah rumah sakit setempat harus ditutup, itu setelah pihak berwenang menemukan bahwa sampel-sampel lingkungan yang diambil dari fasilitas yang dinyatakan positif tertular COVID-19.

Pemerintah kota Hulunbuir memberitahu penduduk yang telah mengunjungi rumah sakit tersebut sejak tanggal 31 Desember 2020, bahwa mereka harus mengisolasi diri sendiri di rumah masing-masing, dan menangguhkan semua  transportasi penumpang yang menuju ke atau berangkat dari kota Bayantuohai, di mana rumah sakit tersebut berada.

Pihak berwenang tidak mengatakan apakah orang-orang yang  terinfeksi virus Partai Komunis Tiongkok di wilayah tersebut, atau bagaimana mengenai sampel-sampel virus sampai di rumah sakit tersebut.

Sementara itu, kota Nanning di wilayah selatan Guangxi mengumumkan seorang pasien yang didiagnosis baru-baru ini, yaitu seorang karyawan di perusahaan pemasok disinfektan.

Penderita tersebut menderita gejala-gejala pada tanggal 12 Januari, tetapi tidak pergi ke rumah sakit. Keesokan harinya, perusahaan pemasok disinfektan menyuruh semua staf untuk mengikuti sebuah uji, dan hasil uji penderita tersebut adalah positif. (Vv)

Keterangan Foto : Penduduk desa dari desa Sanlizhuang di Nangong, Provinsi Hebei Tiongkok utara sedang menunggu untuk naik bus antar-jemput ke pusat karantina pada 13 Januari 2021. (Tangkapan Layar / Video Disediakan untuk The Epoch Times oleh narasumber)

Video Rekomendasi :

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine