oleh Li Zhaoxi
Pada awalnya, virus komunis Tiongkok atau COVID-19 hanya dianggap sebagai penyakit radang paru-paru, tetapi orang-orang secara bertahap menemukan bahwa virus itu merusak banyak organ dan sistem dalam tubuh manusia.
Baru-baru ini, para ahli yang terus melakukan penelitian menemukan bahwa virus komunis Tiongkok ini tidak hanya lebih membahayakan nyawa pasien diabetes, tetapi juga mampu membuat orang yang tidak memiliki riwayat penyakit diabetes menjadi penderita diabetes. Tak kecuali anak-anak pun.
Menurut laporan Bloomberg News pada 5 Mei, tim peneliti dari Departemen Urusan Veteran Missouri, yang merupakan unit dari Veterans Affairs St. Louis Health Care System atau Sistem Perawatan Kesehatan Veterans St. Louis di Amerika Serikat sebelumnya menemukan bahwa diabetes tampaknya sering menyerang orang yang telah sembuh dari terinfeksi virus komunis Tiongkok.
Namun, Ziyad Al-Aly, Direktur dari Health Care System tersebut menduga bahwa pendapat itu mungkin salah, ia kemudian meminta 5 orang rekannya untuk melakukan pengkajian ulang.
Beberapa minggu kemudian, melalui penyaringan terhadap jutaan catatan pasien, mereka sampai pada kesimpulan yang sama. Pada saat itu, Ziyad Al-Aly juga mencari literatur ilmiah dan mulai menerima kenyataan yang mengejutkan bahwa virus komunis Tiongkok selain membuat penyakit diabetes menjadi semakin parah, juga dapat memicu terjadinya penyakit diabetes.
“Butuh waktu lama untuk meyakinkan saya. Sulit dipercaya bahwa virus COVID mampu melakukan hal ini,” ujar Ziyad Al-Aly.
Sampai saat ini, belum jelas mekanisme yang mendasari rangsangan terhadap munculnya penyakit diabetes yang baru. Para ilmuwan telah menemukan, bahkan beberapa anak yang terinfeksi virus komunis Tiongkok secara ringan pun dengan cepat akan terkena penyakit diabetes.
Menurut Ziyad Al-Aly, ada lebih dari 130.000 orang pasien diabetes di Amerika Serikat yang terinfeksi virus komunis Tiongkok perlu perawatan rumah sakit pada musim dingin tahun lalu.
Menurut laporan, virus komunis Tiongkok telah menginfeksi lebih dari 153 juta orang di seluruh dunia, di mana lebih dari 20 juta di antaranya berada di India. Penduduk India adalah negara dengan penderita diabetes terbanyak setelah Tiongkok.
Bulan lalu, penelitian Ziyad Al-Aly yang diterbitkan dalam jurnal Inggris ‘Nature’ menunjukkan bahwa melalui studi banding selama 3 bulan terhadap hampir 50.000 orang pasien terinfeksi virus komunis Tiongkok di Inggris, menemukan fakta baru.
Fakta itu adalah bahwa dalam waktu sekitar 20 minggu setelah pasien dinyatakan sembuh dan boleh keluar dari rumah sakit, kemungkinan pasien menjadi penderita diabetes 50% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok lain yang sedang dalam pantauan.
Francesco Rubino, MD dari King’s College London telah merancang sebuah sistem registrasi global untuk diabetes yang terkait dengan virus komunis Tiongkok. Mendekati 500 orang dokter dari seluruh dunia telah setuju untuk berbagi data melalui sistem tersebut. Mereka akan mengunggah faktor risiko pasien yang diketahui, hasil laboratorium, karakteristik klinis, pengobatan, termasuk perjalanan penyakit dan lainnya.
Sejauh ini, hampir 350 kasus telah dicatat di sana, dan hampir setiap hari ada kiriman email dari penderita maupun orang tua terkait penyakit diabetes.
Rubino mengatakan : “Orang-orang menulis kepada kami dan mengatakan bahwa anak saya baru saja didiagnosis menderita diabetes. Dia adalah anak berusia 8 tahun. Dia baru saja tertular virus komunis Tiongkok sebulan atau dua bulan lalu. Apa hal ini ada kaitannya ?”
Tujuan Rubino adalah mempublikasikan hasil awal data registrasi diabetes pada pertengahan tahun ini, dan memberikan peringatan dini kepada dunia bahwa terdapat cukup bukti yang menunjukkan virus komunis Tiongkok memiliki konsekuensi jangka panjang yang harus dihindari pada usia berapa pun.
“Ini bukan penyakit flu. Baiklah, mungkin saja Anda telah tertular kemudian Anda berpikir telah mengatasinya. Namun mungkin saja Anda tidak berhasil mengatasinya. Ini adalah masalah yang sangat serius,” kata Francesco Rubino. (sin)
Video Rekomendasi :


