Luo Tingting
Biden dan Putin menggelar pertemuan puncak di Villa La Grange di Jenewa, Swiss, pada 16 Juni 2021, pembicaraan tersebut berlangsung lebih dari tiga jam. Biden dan Putin sempat bertemu secara tertutup selama 90 menit. Usai pertemuan, kedua pihak mengeluarkan pernyataan bersama.
KTT Biden-Putin digelar ketika hubungan AS-Rusia mencapai titik beku. Dunia luar percaya, Biden mengundang Putin untuk bertemu. Tujuannya, untuk memudahkan hubungan dengan Rusia dan berkonsentrasi berurusan dengan Komunis Tiongkok.
Radio Free Asia melaporkan pada 16 Juni bahwa mantan wakil pejabat intelijen nasional Dewan Intelijen Nasional AS (NIC) yang bertanggung jawab atas Rusia dan Eropa dan Asia, dan peneliti senior New American Security Center (CNAS) saat ini, Andrea Kendall-Taylor mengatakan, Pemerintahan Biden tak ingin memiliki masalah dengan Rusia. Oleh karena itu, akan mencegah mereka menerapkan prioritas kebijakan luar negeri lainnya, yaitu, mereka sering menyebutnya dengan 3 C: China, Climate dan Covid.
Biden baru-baru ini mengunjungi Eropa dan berpartisipasi dalam KTT G7 dan KTT NATO.
Kedua KTT negara-negara besar itu menunjuk kepada Komunis Tiongkok. Komunike KTT G7 menyebutkan, masalah keamanan Selat Taiwan dan asal muasal virus Komunis Tiongkok. Sedangkan komunike KTT NATO mencantumkan ekspansi militer Komunis Tiongkok sebagai “ancaman strategis sistematis” untuk pertama kalinya. Ini berarti Komunis Tiongkok sudah jatuh ke dalam lingkaran internasional yang didominasi oleh Amerika Serikat.
Faktanya, Beijing menyoroti setiap langkah Biden di Eropa, terutama pernyataan AS dan Rusia tentang masalah Komunis Tiongkok. Sebelum KTT AS-Rusia, juru bicara Kementerian Luar Negeri Komunis Tiongkok, Zhao Lijian, menyebut hubungan Tiongkok-Rusia sebagai “tidak dapat dipatahkan.”
Selama pembicaraan, Hu Xijin, serigala perang Komunis Tiongkok dan pemimpin redaksi Global Times, mencoba untuk menjauhkan terpaan dari Komunis Tiongkok. Ia mengklaim bahwa satu-satunya hasil dari KTT AS-Rusia adalah untuk menghindari konflik baru.
Dalam hal ini, pakar Tiongkok Zhang Jiadun mengatakan, “Ketika media Tiongkok melakukan kegiatan publisitas terkoordinasi, Anda tahu apa yang mereka khawatirkan.”
Miles Yu, pemikir kebijakan Tiongkok dari pemerintahan Trump, percaya bahwa respon Komunis Tiongkok menunjukkan kekhawatiran ditinggalkan oleh Rusia. Ia percaya, kini Komunis Tiongkok berhadapan dengan isolasi. Fokus strategisnya adalah berharap bahwa Rusia tidak akan meninggalkannya. “
Miles Yu kepada Radio Free Asia mengatakan bahwa Komunis Tiongkok sedang mencoba untuk menciptakan ilusi bahwa hubungannya dengan Rusia tidak dapat dihancurkan. Faktanya, hubungan Rusia dengan negara-negara seperti Vietnam dan India, yang menentang Komunis Tiongkok, menjadi lebih intens.
Ia juga mengatakan, bahwa konflik kepentingan dan keamanan antara Tiongkok dan Rusia sebenarnya sangat besar. Ia yakin, Rusia sebenarnya tak pernah mengikuti praktik ini serta menolak untuk lebih dekat dengan Komunis Tiongkok.
Mantan Asisten Sekretaris Departemen Luar Negeri AS, David J. Kramer juga setuju dengan penilaian ini, dia menggambarkan Tiongkok dan Rusia sebagai “pernikahan formal.” Alasannya, mengapa kedua pihak semakin dekat adalah “langkah yang dapat dihentikan” di bawah sanksi dan tekanan internasional.
Setelah Rusia dikenai sanksi oleh pihak Barat pada tahun 2014, ia berharap mendapatkan kompensasi ekonomi dari Beijing. Volume perdagangan bilateral antara Tiongkok dan Rusia terus meningkat, melebihi US$ 100 miliar pada tahun 2020. Pada saat yang sama, kedua negara juga meningkatkan latihan militer bersama dan kerja sama teknologi militer.
Namun demikian, Andrea Kendall-Taylor menunjukkan dalam sebuah laporan yang dirilis oleh the Center for a New American Security (CNAS) pada Agustus tahun lalu, bahwa Rusia dan Komunis Tiongkok “tidak mungkin membentuk aliansi militer formal. Dikarenakan, perbedaan tujuan mereka dan asimetri hubungan mereka pada akhirnya dapat memisahkan kedua negara.”
Dia mengatakan, perlu bagi Amerika Serikat untuk mengingatkan kepada Rusia bahwa “Komunis Tiongkok sedang menyantap makan siang orang Rusia.”
Miles Yu juga percaya bahwa, Rusia sangat waspada terhadap permintaan Komunis Tiongkok untuk transfer teknologi militer dan pelanggaran hak kekayaan intelektual. Apalagi Rusia memiliki posisi yang sama dengan negara-negara ASEAN dalam masalah Laut Cina Selatan. Sedangkan Amerika Serikat dapat menarik Rusia dan bersatu menghadapi komunisme. (hui)


