Kapal Perang Rusia Tiba-Tiba Terbakar Hebat! Zelenskyy Kirim Pesan Mengejutkan kepada Putin

EtIndonesia.com — Ketika perhatian dunia masih tertuju pada pertempuran sengit di berbagai garis depan perang Rusia–Ukraina, perkembangan baru yang terjadi jauh di dalam wilayah Rusia kembali menarik perhatian internasional. Kemampuan Ukraina untuk melancarkan serangan jarak jauh ke wilayah Rusia dilaporkan terus meningkat, sementara Moskow merespons dengan gelombang serangan drone dan rudal dalam skala besar ke berbagai sasaran di Ukraina.

Di tengah meningkatnya eskalasi tersebut, sebuah insiden yang melibatkan kapal perang penting Angkatan Laut Rusia memicu berbagai spekulasi dan kekhawatiran baru mengenai keamanan armada laut Rusia, khususnya di kawasan Baltik.

Kapal Fregat Rusia Terbakar Hebat di Kronstadt

Pada 5 Juni 2026, sejumlah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sebuah kapal perang Rusia dilalap kobaran api besar saat berada di fasilitas perawatan kapal di wilayah Kronstadt, dekat Saint Petersburg.

Kapal yang terbakar tersebut diidentifikasi sebagai fregat kelas  RFS Boiky  salah satu kapal tempur utama yang bertugas di bawah Armada Baltik Rusia.

Rekaman video menunjukkan hampir seluruh bagian tengah kapal diselimuti api, sementara asap hitam pekat membumbung tinggi ke udara dan terlihat dari jarak yang cukup jauh. Sejumlah saksi mata melaporkan bahwa kebakaran berlangsung cukup lama sebelum tim pemadam kebakaran dan personel militer berhasil mengendalikan situasi.

Insiden itu terjadi saat kapal sedang berada di Galangan Kapal Veresenksy di Kronstadt untuk menjalani proses pemeliharaan dan perbaikan rutin.

Hingga berita ini ditulis, Kementerian Pertahanan Rusia belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai tingkat kerusakan kapal maupun penyebab pasti kebakaran tersebut.

Kebakaran Terjadi Sehari Setelah Serangan Drone Ukraina ke Saint Petersburg

Yang membuat insiden ini semakin menarik perhatian adalah waktu kejadiannya.

Kebakaran kapal perang Boiky terjadi hanya satu hari setelah Ukraina melancarkan serangan drone jarak jauh berskala besar terhadap sejumlah fasilitas militer dan infrastruktur energi di sekitar Saint Petersburg, kota terbesar kedua Rusia sekaligus kampung halaman Presiden Vladimir Putin.

Serangan tersebut dilaporkan menargetkan berbagai fasilitas strategis yang berkaitan dengan sektor energi dan pertahanan Rusia. Beberapa laporan menyebutkan bahwa sejumlah drone Ukraina berhasil menembus pertahanan udara Rusia dan mencapai wilayah yang berjarak lebih dari seribu kilometer dari garis depan perang.

Meskipun belum ada bukti yang menunjukkan hubungan langsung antara kebakaran kapal Boykiy dan operasi drone Ukraina tersebut, kedekatan waktu kedua peristiwa itu memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pengamat militer internasional.

Sejumlah analis menilai bahwa jika terdapat keterkaitan antara kedua insiden tersebut, maka hal itu akan menjadi indikasi bahwa kemampuan serangan jarak jauh Ukraina semakin berkembang dan mampu mengancam aset-aset militer Rusia yang sebelumnya dianggap relatif aman dari jangkauan serangan.

Zelenskyy Tawarkan Gencatan Senjata, Tetapi Sekaligus Mengirim Peringatan

Pada hari yang sama, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengambil langkah diplomatik yang menarik perhatian dunia.

Zelenskyy dilaporkan mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Rusia Vladimir Putin yang berisi usulan untuk segera memberlakukan gencatan senjata berdasarkan posisi garis depan saat ini.

Dalam surat tersebut, Zelenskyy juga mengusulkan penyelenggaraan pertemuan tingkat tinggi antara kedua pemimpin di negara ketiga yang netral guna membahas kemungkinan jalan keluar diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

Namun isi surat itu tidak sepenuhnya bernada damai.

Zelenskyy justru menyertakan peringatan keras mengenai kemampuan militer Ukraina yang terus berkembang, khususnya dalam bidang perang drone jarak jauh.

Ia menyatakan bahwa mayoritas rakyat Ukraina menyambut positif operasi drone yang berhasil mencapai wilayah Saint Petersburg pada saat berlangsungnya Forum Ekonomi Internasional Saint Petersburg, salah satu acara ekonomi paling penting di Rusia.

Dalam pesannya kepada Putin, Zelenskyy menegaskan: “Anda juga tahu bahwa ini bukan batas kemampuan kami.”

Pernyataan tersebut dianggap banyak analis sebagai bentuk strategi diplomasi dan tekanan militer secara bersamaan. Di satu sisi Ukraina menawarkan ruang negosiasi, tetapi di sisi lain menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kapasitas untuk menyerang sasaran-sasaran penting jauh di dalam wilayah Rusia.

Ukraina Klaim Korban Rusia Melebihi 30.000 Orang Selama Mei

Dalam pernyataan yang sama, Zelenskyy juga menyinggung besarnya kerugian yang dialami Rusia selama beberapa bulan terakhir.

Berdasarkan data yang diklaim pihak Ukraina, jumlah korban personel militer Rusia sepanjang Mei 2026 telah melampaui 30.000 orang, dengan lebih dari 60 persen di antaranya disebut tewas dalam berbagai operasi tempur.

Pemerintah Ukraina berpendapat bahwa tingkat kerugian tersebut tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Menurut Zelenskyy, perang modern abad ke-21 tidak memungkinkan negara mana pun untuk terus-menerus menanggung kehilangan personel dalam jumlah sebesar itu tanpa menimbulkan dampak serius terhadap kemampuan militernya.

Meski demikian, Rusia hingga saat ini belum memberikan indikasi akan mengurangi operasi militernya.

Rusia Balas dengan Gelombang Serangan Drone dan Rudal

Laporan militer terbaru menunjukkan bahwa Rusia justru meningkatkan tekanan terhadap Ukraina.

Dalam operasi yang berlangsung semalam, militer Rusia meluncurkan satu rudal balistik Iskander-M dan mengerahkan hingga 293 drone serang ke berbagai wilayah Ukraina.

Serangan tersebut merupakan bagian dari pola perang jarak jauh yang semakin mendominasi konflik saat ini.

Walaupun tidak menghasilkan perubahan besar di garis depan, kedua pihak terus berusaha menguras kemampuan militer lawan melalui serangan terhadap infrastruktur energi, fasilitas logistik, pusat komando, gudang amunisi, dan industri pertahanan.

Banyak analis menilai perang Rusia–Ukraina kini semakin bergerak menuju fase perang pengurasan sumber daya (war of attrition), di mana kemenangan tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan merebut wilayah, tetapi juga kemampuan mempertahankan ekonomi, industri, dan pasokan militer dalam jangka panjang.

Rusia Percepat Modernisasi Sistem Tempur

Di tengah konflik yang masih berlangsung, Rusia juga terus berupaya memperkuat kemampuan militernya melalui modernisasi teknologi.

Baru-baru ini, Kementerian Pertahanan Rusia memperkenalkan sistem informasi manajemen tempur generasi terbaru yang dirancang untuk meningkatkan koordinasi operasi militer di medan perang.

Sistem tersebut memungkinkan integrasi data secara real-time antara unit tempur, pusat komando, sistem pengintaian, serta platform persenjataan modern yang digunakan oleh pasukan Rusia di Ukraina.

Sejumlah pengamat militer memperkirakan teknologi baru tersebut akan menjadi salah satu fokus utama dalam latihan militer strategis “Tsentr-2026” yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026.

Latihan itu diperkirakan akan melibatkan berbagai mitra militer Rusia dan menjadi ajang untuk menguji konsep peperangan modern yang sedang dikembangkan Moskow.

Tekanan Ekonomi Rusia Semakin Terlihat

Di balik berbagai upaya menunjukkan kekuatan militer, Rusia masih menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan.

Dalam Forum Ekonomi Internasional Saint Petersburg 2026, para pejabat Rusia berusaha menampilkan gambaran bahwa ekonomi nasional tetap stabil meskipun menghadapi sanksi Barat dan tingginya biaya perang.

Namun sejumlah lembaga penelitian dan pengamat ekonomi internasional menilai situasi di lapangan jauh lebih kompleks.

Beberapa masalah yang masih menjadi perhatian antara lain:

  • Kekurangan tenaga kerja akibat mobilisasi militer dan migrasi tenaga profesional.
  • Tekanan terhadap sektor energi dan industri strategis.
  • Kenaikan biaya produksi dan logistik.
  • Tingginya pengeluaran negara untuk kebutuhan perang.
  • Gangguan pasokan bahan bakar di beberapa wilayah.
  • Tekanan inflasi dan berkurangnya investasi asing.

Banyak analis menilai terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara narasi optimistis pemerintah Rusia dan tantangan ekonomi yang sebenarnya sedang dihadapi negara tersebut.

Konflik Memasuki Fase yang Semakin Berbahaya

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa perang Rusia–Ukraina kini memasuki fase yang semakin kompleks dan sulit diprediksi.

Di satu sisi, Ukraina terus meningkatkan kemampuan serangan jarak jauhnya hingga mampu menjangkau wilayah-wilayah strategis Rusia yang sebelumnya relatif aman. Di sisi lain, Rusia tetap mempertahankan tekanan militer melalui serangan drone dan rudal dalam jumlah besar.

Kebakaran yang menimpa fregat Boykiy, terlepas dari apa pun penyebabnya, menjadi simbol bahwa bahkan aset-aset militer penting Rusia kini menghadapi risiko yang semakin besar di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Sementara itu, usulan gencatan senjata dari Zelenskyy menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka. Namun pesan keras yang menyertai tawaran tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kedua pihak masih terus bersiap menghadapi kemungkinan perang berkepanjangan dengan intensitas yang semakin tinggi. (***)

Dunia Bersiap untuk Momen Bersejarah: 15 Negara Akan Bersihkan “Bom Waktu” di Selat Hormuz

EtIndonesia.com – Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus menunjukkan perkembangan positif. Di tengah meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan gencatan senjata jangka panjang antara Washington dan Teheran, negara-negara Barat mulai menyusun langkah konkret guna mengamankan salah satu jalur energi paling vital di dunia, yakni Selat Hormuz.

Menurut laporan yang dipublikasikan Bloomberg pada 5 Juni 2026, Inggris dan Prancis saat ini hampir menyelesaikan perencanaan operasi internasional berskala besar untuk membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz. Operasi tersebut dipersiapkan sebagai langkah antisipatif apabila situasi keamanan di kawasan Teluk membaik dan kesepakatan gencatan senjata benar-benar dapat diwujudkan.

Operasi Internasional Libatkan 15 Negara

Sumber yang mengetahui proses perencanaan tersebut mengungkapkan bahwa operasi penyapuan ranjau akan melibatkan sekitar 15 negara yang akan mengerahkan kapal perang, kapal penyapu ranjau, tim penyelam militer, sistem deteksi bawah laut, serta berbagai sumber daya profesional lainnya.

Tujuan utama operasi ini adalah memastikan jalur pelayaran internasional kembali aman bagi kapal-kapal dagang dan tanker minyak yang setiap hari melintasi Selat Hormuz.

Selain pengerahan armada laut multinasional, negara-negara yang terlibat juga berencana mempertahankan mekanisme komunikasi langsung dengan Iran. Jalur komunikasi tersebut dinilai penting untuk mencegah kesalahpahaman di lapangan yang dapat memicu insiden militer atau eskalasi konflik baru.

Para perencana operasi menyadari bahwa meskipun peluang perdamaian meningkat, kawasan Teluk tetap menjadi salah satu wilayah dengan tingkat sensitivitas keamanan tertinggi di dunia. Oleh karena itu, koordinasi diplomatik dan militer akan berjalan secara bersamaan.

Selat Hormuz: Jalur Energi Paling Strategis di Dunia

Selat Hormuz selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi global.

Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dan gas dari negara-negara produsen energi di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, Qatar, dan Iran.

Setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi langsung memengaruhi harga minyak dunia, biaya pengiriman internasional, serta stabilitas pasokan energi bagi berbagai negara industri.

Karena itu, jika operasi penyapuan ranjau berhasil dilaksanakan dan stabilitas keamanan benar-benar pulih, dampaknya diperkirakan akan sangat signifikan bagi pasar energi global. Investor dan pelaku industri energi internasional juga terus memantau perkembangan situasi tersebut dengan cermat.

Amerika Serikat Tetap Siaga Penuh

Meski pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan kemajuan, Washington belum menunjukkan tanda-tanda mengurangi kesiagaan militernya di kawasan Timur Tengah.

Rekaman terbaru yang beredar pada 5 Juni memperlihatkan kapal induk USS Abraham Lincoln, salah satu kapal induk kelas Nimitz milik Angkatan Laut Amerika Serikat, sedang menjalani operasi pengisian logistik di Laut Arab.

Dalam operasi tersebut, kapal induk tersebut didampingi oleh USS Bulkeley, kapal perusak rudal kendali kelas Arleigh Burke yang menjadi bagian dari kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat.

Kegiatan pengisian logistik di laut merupakan indikator penting bahwa armada AS tetap mempertahankan kemampuan operasional penuh dan siap menjalankan berbagai misi apabila situasi keamanan di kawasan kembali memburuk.

Pengamat militer menilai langkah tersebut menunjukkan pendekatan ganda Washington: mendukung proses diplomasi sekaligus memastikan kesiapan militer tetap terjaga apabila negosiasi gagal atau terjadi insiden tak terduga.

Peringatan Perjalanan AS Ditingkatkan

Di tengah kemajuan proses perundingan, pemerintah Amerika Serikat juga mengambil langkah pencegahan dengan memperbarui peringatan perjalanan bagi warganya yang berencana mengunjungi Timur Tengah.

Departemen Luar Negeri AS menempatkan beberapa wilayah dalam kategori risiko tertinggi atau Level 4: “Do Not Travel” (Jangan Bepergian), yaitu:

  • Iran
  • Irak
  • Suriah
  • Jalur Gaza
  • Yaman

Kategori tersebut merupakan tingkat peringatan tertinggi yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat dan umumnya diberikan kepada wilayah yang menghadapi konflik bersenjata aktif, ancaman terorisme tinggi, penculikan, atau kondisi keamanan yang sangat tidak stabil.

Sementara itu, sejumlah negara lain di kawasan ditempatkan pada Level 3: “Reconsider Travel” (Pertimbangkan Kembali Perjalanan Anda), meliputi:

  • Arab Saudi
  • Bahrain
  • Israel
  • Yordania
  • Kuwait
  • Oman
  • Qatar
  • Uni Emirat Arab

Status tersebut menunjukkan bahwa pemerintah AS masih menilai terdapat risiko keamanan yang perlu diperhatikan oleh para pelancong, meskipun situasi di negara-negara tersebut relatif lebih stabil dibanding wilayah yang masuk kategori Level 4.

Perdamaian Masih Rapuh

Meskipun peluang tercapainya kesepakatan jangka panjang antara Amerika Serikat dan Iran semakin besar, berbagai langkah yang dilakukan Washington dan sekutunya menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap potensi konflik belum sepenuhnya hilang.

Persiapan operasi penyapuan ranjau di Selat Hormuz, keberadaan armada tempur Amerika Serikat di Laut Arab, serta peningkatan peringatan perjalanan ke berbagai negara Timur Tengah menjadi indikasi bahwa komunitas internasional masih memandang situasi kawasan sebagai kondisi yang rapuh dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Dalam beberapa pekan ke depan, perhatian dunia akan tertuju pada hasil akhir negosiasi antara Washington dan Teheran. Jika kesepakatan berhasil dicapai dan implementasinya berjalan lancar, Selat Hormuz berpotensi kembali menjadi jalur perdagangan energi yang aman dan stabil. Namun apabila perundingan menemui jalan buntu, kawasan Teluk dapat kembali menjadi salah satu titik ketegangan paling berbahaya di dunia. (***)

Drama Penyanderaan di California: Pelaku Tahan 10 Orang dan Ancam Ledakkan Bom, Ditembak Mati FBI 

Sebuah kasus penyanderaan dan ancaman bom yang terjadi di California Tengah, Amerika Serikat menjadi perhatian publik. Setelah melalui kebuntuan, negosiasi, dan operasi penyerbuan selama 15 jam, FBI bersama kepolisian setempat berhasil menyelamatkan 10 sandera dan menembak mati pelaku di lokasi kejadian.

EtIndonesia.com Baru-baru ini, sebuah insiden menegangkan terjadi di gedung JPMorgan Chase Bank yang terletak di pusat kota Bakersfield.

Setelah menerima laporan, polisi tiba di lokasi dan menemukan bahwa pelaku telah menyandera 10 orang di sebuah ruangan lantai dua yang dikunci dari dalam. Di lokasi juga ditemukan beberapa alat peledak.

“Tersangka mengaku membawa bahan peledak yang dipasang pada tubuhnya, dan petugas penyelamat kami juga melihat bahan peledak tersebut. Ia juga memberitahu aparat penegak hukum bahwa beberapa sandera dipasangi bahan peledak tambahan. Berdasarkan pengamatan kami sendiri, hal itu memang benar,” kata Wakil Kepala Kepolisian Bakersfield, Jeremy Blakemore, Rabu (3/6/2026).

Pihak berwenang mengkonfirmasi bahwa gedung bank tersebut juga digunakan sebagai kantor administrasi distrik sekolah di Kern County. Seluruh sandera merupakan pegawai kantor distrik sekolah, dan lima di antaranya diikat oleh pelaku.

Polisi segera mengevakuasi orang-orang dari bangunan di sekitar lokasi, menutup jalan-jalan di sekitarnya, dan mengerahkan tim negosiator untuk berkomunikasi dengan pelaku.

Dalam beberapa jam berikutnya, pelaku melepaskan dua sandera secara terpisah. Namun setelah itu, perundingan mengalami jalan buntu dan agen FBI mengambil alih penanganan situasi.

Tiga belas jam setelah penyanderaan dimulai, aparat memasuki tahap operasi taktis. Pada akhirnya, pelaku ditembak mati dan seluruh sandera berhasil dibebaskan dengan selamat.

“Pelaku bernama Anthony Scott Thurl-Harris. Ia adalah pria kulit putih berusia 41 tahun yang pernah bertugas di Angkatan Darat Amerika Serikat pada tahun 2006 hingga 2007, tetapi kemudian diberhentikan karena meninggalkan tugas tanpa izin (AWOL),” kata Kepala Agen FBI Kantor Sacramento, Sid Patel. 

Selain itu, pada tahun 2014 ia didakwa melakukan hubungan seksual dengan seorang anak di bawah umur dan terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual.

Jeremy Blakemore menambahkan: “Ia tidak puas dengan cara penanganan kasus sebelumnya yang melibatkannya serta dampak lanjutan dari kasus tersebut, termasuk putusan hukum yang dijatuhkan kepadanya.”

Saat ini, belum ada bukti yang menunjukkan adanya komplotan atau rekan pelaku. Motif pasti penyanderaan tersebut masih dalam penyelidikan.

Laporan oleh Li Jiayin, NTD Television, Amerika Serikat.

Kearifan Kesehatan Tiongkok Ribuan Tahun : Apa yang Dikatakan Kitab Ritus tentang Tubuh

Dalam Pemikiran Klasik Tiongkok, Kebajikan Menghasilkan Dampak Fisik yang Dapat Diamati pada Tubuh

Kitab Ritus (Liji) adalah salah satu dari tiga kitab ritual kanonik Tiongkok kuno, bersama Ritus Zhou (Zhouli) dan Etiket dan Upacara (Yili). Jika dua kitab lainnya menjelaskan apa yang harus dilakukan, Liji menjelaskan mengapa hal itu harus dilakukan, dengan mendasarkan perilaku ritual pada alasan moral dan kosmologis. 

Orang Tiongkok kuno memahami kata “ritus” (li) sebagai sinonim dari “melaksanakan” atau “memenuhi”, yang berarti ritual harus dijalani dalam kehidupan nyata, bukan sekadar dipentaskan. Menurut kitab tersebut, upacara yang kosong dari makna sama sekali kehilangan tujuan utamanya.

Di inti pandangan dunia Liji terdapat sebuah pernyataan yang tegas mengenai sebab dan akibat: segala sesuatu yang diterima seseorang dalam hidup ini—baik status, kekayaan, maupun reputasi—ditukar dengan kebajikan yang telah ia kumpulkan.

Pembelajaran Agung (Daxue), salah satu dari Empat Kitab Konfusianisme, menyatakannya dengan lugas:

“Kebajikan mendatangkan manusia; kebajikan mendatangkan tanah; kebajikan mendatangkan kekayaan.”

Sang Jalan Tengah (Zhongyong) memperluas logika ini hingga ke tubuh manusia:

“Mereka yang memiliki kebajikan besar akan memperoleh kedudukan, penghasilan, nama baik, dan umur panjang.”

Umur panjang menjadi penting. Dalam kerangka pemikiran ini, kebajikan membawa konsekuensi fisik yang langsung.

Pembelajaran Agung merangkum gagasan tersebut dalam satu kalimat:

“Kekayaan memperindah rumah; kebajikan memperindah tubuh.”

Kata yang diterjemahkan sebagai “memperindah” adalah run, yang memiliki makna lebih kuat dan spesifik: kilau, vitalitas, dan kelembapan.

Secara fisik, run menggambarkan wajah yang bercahaya, aliran darah yang lancar, kulit yang sehat dan lentur. Bayangkan bagaimana alam tampak pada musim semi dan awal musim panas, ketika segala sesuatu terlihat dipenuhi energi kehidupan. Menurut kitab ini, itulah yang dilakukan kebajikan terhadap seseorang.

Pembinaan Moral Meninggalkan Jejak yang Terlihat pada Tubuh

Catatan klasik menunjukkan bahwa pembinaan moral meninggalkan tanda yang dapat dilihat pada tubuh.

Pada Dinasti Song dan Ming, banyak cendekiawan Konfusianisme terkenal. Catatan yang ditinggalkan para murid mereka menunjukkan pengalaman yang konsisten. Berada di dekat seorang guru besar terasa secara fisik seperti berdiri di tengah angin musim semi yang hangat.

Sensasi itu bukan sekadar kiasan. Para murid menggambarkannya sebagai sesuatu yang benar-benar mereka rasakan pada kulit mereka.

Teks-teks Buddhis mencatat fenomena serupa. Mereka yang mendengarkan Dharma dari seorang guru yang tercerahkan sering kali merasa terpikat, seolah tidak mampu memalingkan pandangan. Setelahnya, mereka merasakan kegembiraan dan rasa syukur yang mendalam.

Walaupun berasal dari tradisi yang berbeda dan dipisahkan oleh berabad-abad, catatan-catatan tersebut menggambarkan pengamatan yang sama: pembinaan moral mengubah sesuatu dalam tubuh yang dapat dirasakan oleh orang lain.

Sebaliknya, kondisi yang berlawanan juga banyak dicatat.

Dalam sastra klasik Tiongkok, tokoh-tokoh yang mengalami penderitaan batin sering digambarkan merasakan tubuh yang berat, anggota badan yang lemah, dan dada yang terasa sesak. Hal ini dianggap sebagai gambaran realistis tentang respons tubuh terhadap energi vital yang terhambat atau rusak, bukan sekadar bahasa puitis.

Penulis klasik membandingkan run (kilau dan vitalitas) dengan jiang dan ku (kaku dan layu).

“Kaku dan layu” menggambarkan cabang pohon yang kehilangan kelembapan sehingga mudah patah. Dalam bahasa sehari-hari Tiongkok, terdapat hinaan yang kira-kira berarti “sekaku mayat”, yang sebenarnya mengandung penilaian moral: kekakuan dianggap sebagai tanda kurangnya kebajikan.

Kebanyakan orang yang mengucapkan ungkapan tersebut tidak menyadari bahwa mereka sedang mengutip filsafat medis klasik Tiongkok.

Catatan kuno juga menyebutkan bahwa orang-orang yang terkenal berkarakter buruk sering meninggal dengan tubuh yang cepat menjadi kaku. Sebaliknya, banyak kisah tentang para bijak dan guru spiritual besar yang mengetahui kapan kematian mereka mendekat, lalu duduk tenang menyambutnya. Setelah wafat, anggota tubuh mereka tetap lentur, pipi mereka masih berwarna kemerahan, dan bagian ubun-ubun kepala masih terasa hangat.

Penafsiran tradisional menyatakan bahwa jiwa mereka telah naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Penelitian modern tentang fisiologi stres menemukan bahwa emosi yang ekstrem, seperti kemarahan berkepanjangan atau ketakutan akut, memicu pelepasan senyawa biokimia tertentu yang dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya.

Bahasa yang digunakan ilmu pengetahuan modern berbeda dengan istilah klasik, tetapi pengamatannya serupa: keadaan batin seseorang dapat terbaca dari luar, dan kebajikan menghasilkan jejak fisik yang berbeda dibandingkan ketiadaannya.

Pedoman Perawatan Lansia Berdasarkan Tahapan Usia

Selain gagasan metafisik tersebut, Liji juga berisi panduan yang sangat praktis mengenai perawatan lansia yang disusun berdasarkan dekade usia.

Bab Peraturan Kerajaan (Wangzhi) menjelaskan perubahan tubuh secara rinci:

  • Pada usia 50 tahun, tubuh mulai melemah.
  • Pada usia 60 tahun, seseorang memerlukan daging dalam setiap kali makan agar merasa puas.
  • Pada usia 70 tahun, tubuh membutuhkan sutra dan pakaian hangat untuk menjaga suhu.
  • Pada usia 80 tahun, bahkan dengan bantuan pelayan, kehangatan tubuh tidak selalu dapat dipertahankan.
  • Pada usia 90 tahun, perawatan dari luar tidak lagi dapat sepenuhnya mengimbangi menurunnya kemampuan tubuh untuk mengatur dirinya sendiri.

Dalam keluarga kaya di Tiongkok kuno, anak-anak kecil sering ditempatkan sebagai pendamping bagi orang yang sangat lanjut usia.

Praktik ini mungkin terdengar aneh bagi masyarakat modern, tetapi didasarkan pada teori medis Tiongkok klasik. Anak-anak dianggap memiliki energi yang yang melimpah, murni, kuat, dan menghangatkan. Kedekatan dengan energi tersebut diyakini bermanfaat bagi tubuh lansia.

Dengan kata lain, perawatan lansia dibangun di atas teori perpindahan energi vital, dan keyakinan ini memengaruhi tata kehidupan rumah tangga selama berabad-abad.

Makanan Khusus bagi Orang Tua

Pedoman makanan dalam bab yang sama juga sangat rinci.

  • Pada usia 50 tahun, makanan harus diolah berbeda dibandingkan makanan orang yang lebih muda.
  • Pada usia 60 tahun, daging harus tersedia secara teratur.
  • Pada usia 70 tahun, makanan ringan di antara waktu makan utama dianggap sesuai.
  • Pada usia 80 tahun, makanan berkualitas tinggi harus menjadi bagian rutin kehidupan.
  • Pada usia 90 tahun, makanan harus selalu berada dalam jangkauan tangan agar dapat dimakan kapan saja saat tubuh membutuhkannya.

Bab Aturan Internal (Neize) bahkan menjelaskan delapan jenis hidangan istimewa yang dibuat khusus untuk anggota keluarga yang lanjut usia.

Potongan daging terbaik dipilih dan dimasak menjadi makanan yang lembut serta mudah dicerna. Perhatian terhadap pencernaan lansia, pemilihan bahan makanan, dan pengolahan daging menjadi sesuatu yang berada di antara sup dan bubur menjelaskan salah satu sumber kehalusan teknik kuliner Tiongkok yang sering terlewatkan.

Seni memasak Tiongkok yang rumit berkembang sebagian karena kewajiban untuk memberi makan para lansia dengan baik.

Peringatan terhadap Pakaian yang Terlalu Tebal untuk Anak-anak

Bab Yuzao (Bejana Giok) memuat aturan yang mungkin mengejutkan pembaca modern:

Anak-anak tidak boleh mengenakan bulu tebal maupun sutra tebal.

Alasannya, kehangatan yang berlebihan dianggap merusak zhuangqi, yaitu energi kuat yang secara alami dimiliki anak-anak.

Menurut pengobatan klasik Tiongkok, anak-anak secara bawaan memiliki sifat yang: hangat, aktif, dan penuh energi. Membungkus mereka dengan terlalu banyak lapisan pakaian dianggap mengganggu kondisi alami tersebut dan pada akhirnya justru melemahkan mereka.

Namun ini tidak berarti pakaian anak harus polos dan membosankan.

Yuzao memperbolehkan bahkan menganjurkan penggunaan bordir, hiasan kain brokat, dan ornamen dekoratif pada ujung pakaian. Dengan demikian, anak tetap cukup sejuk untuk menjaga energi vitalnya, tetapi tetap dapat menikmati keindahan warna dan pola.

Seorang pejabat sekaligus sarjana pada masa Tiga Kerajaan (220–280 M), Wang Lang, pernah mengamati bahwa anak-anak Kaisar Wei, Cao Rui, meninggal pada usia muda dengan tingkat yang tidak biasa.

Setelah melakukan pengamatan, Wang menyimpulkan bahwa penyebab yang paling mungkin adalah karena mereka dibesarkan dalam kondisi yang terlalu hangat.

Kesimpulannya hampir identik dengan prinsip yang telah ditulis Yuzao berabad-abad sebelumnya.

Postur Tubuh, Batu Giok, dan Keselarasan dengan Musim

Bab Yuzao juga memuat salah satu kutipan paling terkenal dari Liji:

“Seorang junzi (manusia berbudi luhur), tanpa alasan khusus, tidak membiarkan batu giok terlepas dari dirinya.”

Di Tiongkok kuno, batu giok bukan sekadar perhiasan.

Sifatnya—halus tetapi kuat, berkilau tetapi tidak mencolok, keras tetapi tidak rapuh—dipandang sebagai model fisik dari kebajikan yang harus dimiliki seseorang.

Mengenakan batu giok berfungsi sebagai pengingat terus-menerus untuk mewujudkan sifat-sifat tersebut dalam kehidupan.

Bab Liyun (Ritus dalam Gerak) menyatakan:

“Ketika keempat anggota tubuh berada dalam posisi yang benar, kulit akan terisi dan menjadi penuh.”

Dalam pandangan ini, postur tubuh dan pembinaan moral berkembang bersama. Berdiri tegak bukan hanya mencerminkan kelurusan batin, tetapi juga membantu membentuknya.

Seiring waktu, hasilnya terlihat pada kondisi fisik seseorang.

Liji juga memandang tubuh manusia sebagai bagian dari siklus alam.

Titik balik musim dingin menandai saat energi yang mulai bangkit kembali setelah masa surutnya yang panjang. Titik balik musim panas menandai mulai bangkitnya energi yin.

Pada kedua masa peralihan tersebut, kitab ini menganjurkan ketenangan, pengendalian diri, dan pembatasan keinginan.

Logikanya adalah bahwa selama masa transisi, ritme tubuh sedang berubah. Memaksakan aktivitas yang bertentangan dengan perubahan itu dianggap membuang energi dan menciptakan kerentanan.

Menunggu hingga siklus kembali stabil dipandang sebagai bentuk kecerdasan praktis, bukan takhayul.

Bab Makna Persembahan (Jiyi) mencatat bahwa ketika embun dan embun beku turun, seorang yang berbudi luhur secara alami merasakan sedikit kesedihan saat berjalan di atasnya.

Kitab tersebut tidak menganggap perasaan itu sebagai kelemahan, melainkan sebagai kepekaan yang tepat terhadap perubahan alam semesta.

Sebuah Sistem Pengetahuan yang Sebagian Besar Telah Hilang

Besarnya warisan yang tersimpan dalam teks-teks ini baru terlihat ketika dibaca secara menyeluruh.

Para penyusunnya bukanlah dokter, tetapi melalui berabad-abad pengamatan, praktik, dan pewarisan pengetahuan, mereka berhasil merumuskan berbagai pemahaman tentang penuaan, fisiologi anak-anak, keselarasan dengan musim, dan dampak fisik dari kondisi moral manusia.

Setiap petunjuk dalam Liji mengenai makanan, pakaian, postur tubuh, dan hubungan manusia dengan musim mengandung pengalaman kolektif dari ribuan kehidupan manusia yang kemudian dirumuskan menjadi aturan yang dapat diwariskan.

Teks tersebut memuat pengetahuan empiris yang diungkapkan melalui bahasa filsafat, dan keduanya tidak dapat dipisahkan dengan mudah.

Kini, sistem pengetahuan hidup itu sebagian besar telah menghilang.

Kitab Ritus saat ini lebih banyak menjadi bahan kajian para ahli teks klasik dan arkeolog. Jejak-jejaknya masih bertahan dalam tradisi rakyat, kebiasaan keluarga, dan praktik generasi yang lebih tua, tetapi semakin sulit ditemukan.

Apa yang dahulu diwariskan dari guru kepada murid dan dari orang tua kepada anak kini memerlukan upaya penggalian kembali agar dapat dipahami dan dipulihkan.

Oleh Bai Song, Vision Times.

Para Pelaut Tiongkok Terdampar di Selat Hormuz Selama 94 hari, Netizen: Cepat Cari Wu Jing!

EtIndonesia.com Menurut laporan New Tang Dynasty Television (NTD), baru-baru ini beredar informasi di internet bahwa seorang pelaut Tiongkok mengeluhkan nasibnya melalui media sosial. Ia mengatakan kapal kargo Tiongkok tempatnya bekerja telah tertahan di Selat Hormuz selama lebih dari 94 hari.

Setelah unggahan tersebut beredar, banyak warganet meninggalkan komentar bernada sindiran dan humor, dengan menyarankan agar ia “mencari Wu Jing”.

Kolom Komentar Dipenuhi Candaan “Wolf Warrior”

Menurut informasi yang beredar secara daring, pada 1 Juni seorang awak kapal dari sebuah perusahaan pelayaran mengatakan bahwa kapal kargo Tiongkok yang ditumpanginya telah terjebak di Selat Hormuz selama 94 hari.

Tak lama setelah kabar itu tersebar, kolom komentar berubah menjadi ajang berbagai lelucon yang berkaitan dengan film Wolf Warrior dan bintangnya, Wu Jing.

Beberapa komentar yang muncul antara lain:

  • “Tempel saja foto Wu Jing di wajahmu.”
  • “Coba tunjukkan paspor Tiongkok kepada mereka, mungkin langsung bisa lewat tanpa hambatan.”
  • “Kibarkan bendera nasional dan teriak lewat pengeras suara: ‘Saya orang Tiongkok!'”

Komentar-komentar tersebut merujuk pada adegan terkenal dalam film Wolf Warrior 2, yang menampilkan tokoh utama menghadapi konflik di luar negeri sambil membawa simbol-simbol nasional Tiongkok.

Warganet Mengusulkan Judul Film Baru

Sebagian warganet bahkan bercanda dengan menciptakan judul film baru, yaitu:

“Operasi Hormuz” (Operation Hormuz).

Ada pula yang berkomentar:

“Sudah 94 hari berlalu, cukup waktu bagi Wu Jing untuk menyelesaikan syuting Wolf Warrior 3.”

Memicu Diskusi tentang Film dan Realitas

Perbincangan hangat di dunia maya ini kembali memunculkan diskusi mengenai perbedaan antara narasi heroik yang ditampilkan dalam film-film patriotik dan kenyataan yang dihadapi warga Tiongkok di luar negeri.

Banyak komentar bernada satir yang membandingkan gambaran kemampuan negara dalam film dengan situasi nyata yang dialami para awak kapal tersebut.

Angin Kencang Level 11, Hujan Lebat dan Hujan Es Hantam Baoding, Tiongkok,  Pejalan Kaki Tersungkur dan Pohon Tercabut

EtIndonesia.com Berbagai bencana alam dan kecelakaan terus terjadi di Tiongkok dalam beberapa waktu terakhir. Menurut laporan New Tang Dynasty Television (NTD), pada 3 Juni, banyak wilayah di Provinsi Hebei dilanda angin kencang dan hujan lebat. 

Video-video yang beredar di internet menunjukkan bahwa di wilayah Baoding, hembusan angin yang sangat kuat mampu menjatuhkan pejalan kaki dan mencabut pohon-pohon besar dari akarnya. Beberapa kota dan kabupaten juga dilaporkan mengalami hujan es berukuran besar.

Cuaca Berubah Drastis dalam Sehari

Menurut laporan China Weather Network pada 3 Juni, sehari sebelumnya (2 Juni) Hebei masih mengalami cuaca sangat panas. Suhu tertinggi di banyak daerah bagian selatan mencapai lebih dari 37°C, bahkan beberapa lokasi melampaui 38°C.

Namun pada 3 Juni, sebagian besar wilayah Hebei diperkirakan mengalami hujan yang disertai:

  • Badai petir
  • Angin kencang
  • Hujan deras dalam waktu singkat
  • Hujan es

Bahkan di beberapa lokasi, kecepatan angin sesaat diperkirakan dapat mencapai level 11 atau lebih.

Prakiraan Resmi Cuaca

Menurut prakiraan dari Hebei Meteorological Observatory:

  • Pada siang hari, wilayah Zhangjiakou, bagian barat Baoding, dan barat laut Shijiazhuang diperkirakan mengalami hujan badai petir yang tersebar.
  • Wilayah lainnya serta kawasan Laut Bohai diperkirakan mengalami hujan dan badai petir, dengan beberapa daerah mengalami hujan sedang hingga lebat.
  • Pada malam hari, wilayah Tangshan, Qinhuangdao, Langfang, bagian selatan Shijiazhuang, Cangzhou, Hengshui, Xingtai, dan Handan diperkirakan masih mengalami hujan badai petir.

Pada saat yang sama, beberapa wilayah di Cangzhou, Hengshui, Xingtai, dan Handan masih menghadapi cuaca panas.

Video Menunjukkan Kondisi Lebih Parah dari Prakiraan

Namun, sejumlah besar video yang beredar menunjukkan bahwa setidaknya di wilayah Baoding, kondisi cuaca pada 3 Juni tampak jauh lebih ekstrim dibandingkan prakiraan resmi.

Dalam video tersebut terlihat:

  • Angin kencang menerjang kawasan perkotaan.
  • Hujan turun sangat deras.
  • Pohon-pohon besar tumbang akibat terpaan angin.
  • Jalanan dipenuhi ranting dan daun yang berserakan.
  • Beberapa fasilitas listrik mengalami kerusakan dan memercikkan bunga api.

Pohon Tercabut, Pejalan Kaki Tersapu Angin

Di berbagai kabupaten dan kota di bawah administrasi Baoding, badai juga dilaporkan menyebabkan:

  • Pohon-pohon besar tercabut hingga ke akar.
  • Pejalan kaki kesulitan berdiri dan ada yang tersungkur akibat terpaan angin.
  • Hujan es turun di banyak lokasi.

Beberapa laporan menyebutkan ukuran butiran hujan es mencapai sebesar telur ayam, yang menyebabkan kerusakan cukup serius pada:

  • Pohon-pohon
  • Lahan pertanian
  • Tanaman budidaya

Selain itu, beberapa bangunan dilaporkan mengalami kerusakan akibat angin kencang maupun atap yang bocor karena hantaman hujan es.

Cuaca Ekstrem Terjadi di Berbagai Wilayah Tiongkok

Dalam beberapa hari terakhir, banyak daerah di Tiongkok utara maupun selatan mengalami cuaca ekstrem serupa.

Heilongjiang

Pada 31 Mei, Heilongjiang dan ibu kotanya Harbin dilanda badai debu besar yang disertai angin sangat kencang hingga menggoyangkan dan merobohkan pohon-pohon besar.

Menurut informasi yang beredar di internet, terdapat laporan mengenai korban jiwa, meskipun informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Guangdong dan Fujian

Pada 29 Mei, berbagai wilayah di Guangdong dan Fujian juga mengalami hujan deras dan angin kencang yang menyebabkan kerusakan di kawasan perkotaan. (***)

Mengapa Kopi yang Anda Seduh Tidak Enak? Perhatikan Empat Detail Penting Ini

EtIndonesia.com Bagi banyak orang, hari yang menyenangkan dimulai dengan secangkir kopi. Namun, terkadang meskipun biji kopi yang digunakan cukup baik, hasil seduhannya terasa terlalu asam atau terlalu pahit, dan aroma khas kopi tidak muncul dengan optimal.

Hal ini karena banyak faktor yang mempengaruhi cita rasa akhir kopi, mulai dari tingkat kehalusan gilingan, suhu air, hingga cara penyimpanan biji kopi.

1. Tingkat Kehalusan Gilingan Kopi

Banyak orang tidak menyadari bahwa ukuran gilingan kopi sangat mempengaruhi rasa.

  • Jika gilingan terlalu kasar, kopi akan terasa terlalu ringan dan cenderung asam.
  • Jika gilingan terlalu halus, kopi bisa menjadi terlalu pahit dan berat.

Karena itu, tingkat kehalusan gilingan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan kualitas rasa kopi.

2. Suhu Air yang Digunakan

Suhu air juga berperan penting dalam proses ekstraksi.

  • Biji kopi dengan sangrai gelap (dark roast) memiliki pori-pori yang lebih terbuka sehingga lebih mudah diekstraksi. Jika menggunakan air yang terlalu panas, rasa pahit akan lebih mudah muncul.
  • Sebaliknya, biji kopi dengan sangrai ringan (light roast) memiliki kepadatan lebih tinggi. Untuk mengeluarkan keasaman dan kompleksitas rasanya, biasanya diperlukan suhu air yang sedikit lebih tinggi.

Menyesuaikan suhu air dengan tingkat sangrai dapat membantu menghasilkan rasa yang lebih seimbang.

3. Kesegaran dan Cara Penyimpanan Biji Kopi

Kesegaran biji kopi sangat mempengaruhi aroma dan cita rasa.

Secara umum, biji kopi memberikan rasa terbaik dalam 1–2 minggu setelah kemasan dibuka.

Selain itu, tidak disarankan menyimpan biji kopi di dalam kulkas atau freezer karena biji kopi mudah menyerap kelembaban dan bau dari lingkungan sekitarnya.

Cara penyimpanan yang lebih baik adalah:

  • Membeli dalam jumlah secukupnya.
  • Menyimpan dalam wadah kedap udara.
  • Menaruhnya di tempat yang sejuk, kering, dan terhindar dari sinar matahari langsung pada suhu ruangan.

4. Setiap Jenis Kopi Membutuhkan Perlakuan Berbeda

Perlu diingat bahwa tidak ada dua jenis kopi yang benar-benar sama.

Baik itu:

  • kopi sangrai ringan,
  • kopi sangrai gelap,
  • kopi dengan aroma buah-buahan,
  • maupun kopi bercita rasa cokelat,

masing-masing memerlukan kombinasi yang berbeda dalam hal:

  • tingkat kehalusan gilingan,
  • suhu air,
  • dan rasio kopi terhadap air.

Menyesuaikan ketiga faktor tersebut dengan karakteristik biji kopi yang digunakan akan membantu menampilkan cita rasa terbaik dari setiap seduhan.

Ringkasan Empat Kunci Utama Seduhan Kopi yang Enak

  1. Sesuaikan tingkat kehalusan gilingan — jangan terlalu kasar atau terlalu halus.
  2. Gunakan suhu air yang tepat sesuai tingkat sangrai kopi.
  3. Pastikan biji kopi masih segar dan simpan dengan benar.
  4. Sesuaikan metode seduh dengan karakter kopi karena setiap jenis kopi memiliki kebutuhan yang berbeda.

Dengan memperhatikan empat detail sederhana ini, secangkir kopi pagi Anda dapat memiliki aroma yang lebih harum, rasa yang lebih seimbang, dan pengalaman minum kopi yang jauh lebih nikmat. ☕

Sumber : NTDTV.com

Peringatan 37 Tahun Tragedi 4 Juni: Kelompok “Ibu-Ibu Tiananmen” Berterima Kasih kepada Semua Pendukung

EtIndonesia.com Pada peringatan 37 tahun peristiwa 4 Juni (Tiananmen), anggota kelompok “Ibu-Ibu Tiananmen”, Zhang Xianling, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua individu dan organisasi yang terus mengenang serta memberikan dukungan kepada para korban Tragedi Tiananmen.

Ia menegaskan:”Sebagai keluarga korban, kami harus menyampaikan kebenaran, menolak untuk melupakan, mencari keadilan, membangkitkan hati nurani, dan memperjuangkan keadilan bagi orang-orang yang kami cintai.”

Mengenang Korban Tragedi Tiananmen

Kelompok Tiananmen Mothers merupakan organisasi hak asasi yang terdiri dari keluarga korban yang tewas dalam peristiwa 4 Juni 1989.

Pada 4 Juni 2026, Zhang Xianling yang kini berusia 88 tahun merilis sebuah video yang menyatakan: “Hari ini adalah peringatan 37 tahun Tragedi 4 Juni. Kami berterima kasih kepada semua orang yang mengenang para mahasiswa dan warga sipil yang melakukan demonstrasi damai dan dibunuh secara brutal oleh pemerintah Partai Komunis Tiongkok 37 tahun lalu.”

Ia mengenang situasi Tiongkok pada tahun 1989. Saat itu, negara baru memasuki era reformasi dan keterbukaan ekonomi. Namun sistem harga ganda menyebabkan ketimpangan sosial, sementara korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan mulai meluas. Banyak pejabat dan orang-orang yang memiliki koneksi politik memperoleh keuntungan besar, sedangkan masyarakat umum menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok dan harga perumahan yang terus meningkat.

Dalam situasi tersebut, para mahasiswa tampil menyuarakan aspirasi masyarakat dan melakukan demonstrasi damai untuk mendesak pemerintah memberantas korupsi serta praktik penyalahgunaan kekuasaan. Gerakan itu mendapat dukungan luas dari warga kota dan berbagai kelompok masyarakat.

Menurut Zhang, harapan masyarakat saat itu adalah agar pemerintah mengambil langkah nyata untuk mengatasi berbagai masalah tersebut.

Namun, katanya, pemerintah saat itu tidak menanggapi tuntutan masyarakat, melainkan mengerahkan ratusan ribu tentara bersenjata lengkap dan kendaraan lapis baja untuk membubarkan demonstrasi. Tindakan tersebut mengakibatkan banyak korban jiwa dan menimbulkan penderitaan bagi ribuan keluarga.

Zhang mengatakan:”Orang-orang yang berada di Beijing saat itu tidak akan pernah melupakan suara tembakan yang memekakkan telinga, deru kendaraan lapis baja, sirine ambulans, dan teriakan kemarahan masyarakat pada malam itu.”

Ia menambahkan bahwa kehilangan anggota keluarga mereka merupakan luka yang tidak akan pernah hilang.”Air mata kami telah habis. Kesedihan tersimpan jauh di dalam hati. Yang tersisa adalah kerinduan abadi kepada keluarga kami dan kebencian terhadap kejahatan pembantaian terhadap rakyat.”

Seruan untuk Menghadapi Kebenaran Sejarah

Atas nama kelompok Tiananmen Mothers, Zhang mengucapkan terima kasih kepada masyarakat internasional yang selama 37 tahun terus mengecam tindakan penindasan tersebut dan tidak melupakan para korban.

Ia juga menyerukan agar pihak berwenang menghadapi fakta sejarah dan membuka dialog guna menyelesaikan persoalan terkait Tragedi 4 Juni.

Di akhir video, ia kembali menegaskan: “Sebagai keluarga korban, kami harus mengatakan yang sebenarnya, menolak untuk melupakan, mencari keadilan, membangkitkan hati nurani, dan memperjuangkan keadilan bagi orang-orang yang kami cintai, agar arwah para korban memperoleh ketenangan.”

Tuduhan Penutupan Informasi Mengenai Peristiwa 4 Juni

Peristiwa 4 Juni, yang juga dikenal sebagai Gerakan Demokrasi 1989, merujuk pada demonstrasi pro-demokrasi yang dipelopori mahasiswa Tiongkok sejak April 1989 dan berlangsung hampir dua bulan.

Pada dini hari 4 Juni 1989, tentara memasuki kawasan sekitar Tiananmen Square dan melakukan tindakan yang mengakhiri demonstrasi tersebut. Jumlah korban hingga kini masih menjadi perdebatan karena tidak pernah ada angka resmi yang disepakati secara luas.

Menurut artikel ini, meskipun telah berlalu 37 tahun, keluarga korban menilai kasus tersebut belum mendapatkan penyelesaian yang memadai. Mereka juga menuduh pemerintah Tiongkok terus membatasi diskusi publik mengenai peristiwa tersebut.

Menjelang peringatan 4 Juni tahun ini, anggota kelompok Tiananmen Mothers dilaporkan menerima pemberitahuan dari otoritas keamanan Beijing yang melarang mereka mengadakan kegiatan peringatan di pemakaman, membacakan pidato penghormatan, maupun mempublikasikan foto-foto kegiatan peringatan.

Pada 1 Juni, sejumlah keluarga korban mengeluarkan surat protes yang menyatakan bahwa pembatasan tersebut bertentangan dengan konstitusi, hukum, dan prinsip-prinsip kemanusiaan, serta mendesak pemerintah mencabut larangan tersebut.

Dalam wawancara dengan media asing pada 2 Juni, Zhang Xianling mengatakan bahwa sejak 28 April para anggota kelompok berada di bawah pengawasan ketat, termasuk penjagaan polisi dan pembatasan aktivitas keluar rumah maupun komunikasi dengan dunia luar.

Reaksi Internasional

Amnesty International mengkritik pemerintah Tiongkok karena dinilai terus menekan upaya masyarakat untuk mengenang peristiwa 4 Juni dan membatasi hak keluarga korban untuk berkabung.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa sensor tidak dapat menghapus ingatan tentang tindakan keras terhadap para demonstran yang tidak bersenjata pada tahun 1989, dan bahwa para korban suatu hari nanti akan memperoleh keadilan. (***)

Sumber : NTDTV.com

Donald Trump :  Iran Telah Setuju Denuklirisasi Tetapi Mungkin Akan Berubah Pikiran

EtIndonesia.com Menurut laporan New Tang Dynasty Television (NTD), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir. Namun, ia juga mengakui bahwa Teheran masih mungkin mengubah sikapnya di kemudian hari.

Seiring kemajuan perundingan yang disebut berjalan lancar, Trump mengatakan bahwa ia berharap dapat bertemu dengan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba. Sementara itu, situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Kuwait dan Bahrain menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran. Di Kuwait, sedikitnya satu orang dilaporkan tewas dan 63 orang lainnya terluka.

Trump: Iran Sudah Setuju Tidak Memiliki Senjata Nuklir

Trump mengatakan bahwa Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir. Ia juga menyebut bahwa jika proses negosiasi terus berjalan dengan baik, dirinya “mungkin” akan bertemu dengan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba, pada suatu waktu nanti.

Trump mengatakan:”Kita tidak boleh membiarkan mereka (Iran) memiliki senjata nuklir. Ya, mereka sudah menyetujuinya. Mereka mungkin bisa berubah pikiran, tetapi ini adalah salah satu hal yang harus mereka setujui, dan mereka telah menyetujuinya. Ini adalah hal yang paling penting.”

Trump juga mengkonfirmasi bahwa Mojtaba ikut terlibat dalam proses perundingan. Menurutnya, ia mendengar bahwa kondisi kesehatan Mojtaba kurang baik, namun tetap memberikan dukungan selama negosiasi berlangsung.

Presiden AS itu juga menyebut bahwa blokade laut yang dilakukan militer AS kemungkinan akan berlanjut hingga Hari Buruh Amerika Serikat pada 7 September tahun ini. Meski demikian, ia mengisyaratkan bahwa langkah blokade terhadap Iran mungkin dapat segera diselesaikan apabila tercapai kesepakatan.

Kuwait Diserang, Bentrokan AS-Iran Kembali Terjadi

Kementerian Pertahanan Kuwait mengonfirmasi bahwa sebuah drone Iran menyerang Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait.

Serangan tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia dan 63 orang terluka. Tujuh korban dilaporkan harus menjalani operasi darurat. Bandara juga sempat ditutup untuk sementara waktu.

Rekaman dari lokasi menunjukkan dinding luar terminal runtuh, fasilitas di dalam bangunan mengalami kerusakan, serta asap dan api memenuhi area bandara. Puing-puing dan pecahan material terlihat berserakan di lokasi kejadian.

Insiden ini disebut sebagai salah satu peristiwa dengan jumlah korban luka terbanyak yang terjadi di negara-negara Arab Teluk dalam lebih dari tiga bulan terakhir. Peristiwa tersebut juga menambah tekanan terhadap kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi rapuh.

Pada saat yang sama, United States Central Command (CENTCOM) mengkonfirmasi bahwa Iran meluncurkan sejumlah rudal dan drone ke negara-negara tetangga di kawasan Teluk.

Menurut CENTCOM:

  • Dua rudal yang diarahkan ke Kuwait jatuh atau hancur di tengah perjalanan.
  • Tiga rudal yang ditembakkan ke Bahrain berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.

Meski demikian, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah berhasil menyerang markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, sebuah pangkalan udara, dan beberapa helikopter.

Militer AS membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa seluruh serangan Iran gagal mencapai sasaran.

CENTCOM juga menyatakan bahwa sejauh ini sedikitnya 125 kapal dagang telah mematuhi instruksi blokade dan berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran. Selain itu, enam kapal yang dianggap melanggar aturan blokade telah dilumpuhkan.

Sebelumnya, militer AS menembakkan rudal Hellfire ke kapal tanker M/T Lexie yang sedang menuju Iran.

Menurut pihak militer AS, kapal tersebut selama 24 jam berulang kali menolak mematuhi instruksi yang diberikan. Karena itu, AS melakukan serangan yang melumpuhkan ruang mesin kapal guna mencegahnya melanjutkan pelayaran ke Iran.

Inflasi Iran Melonjak, Dikhawatirkan Memicu Krisis Politik Baru

Menurut laporan Associated Press, tingkat inflasi tahunan berdasarkan indeks harga konsumen Iran pada bulan Mei mencapai 77,2 persen.

Kenaikan harga untuk kebutuhan sehari-hari seperti obat-obatan dan layanan komunikasi bahkan mencapai 113,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Lembaga kajian ekonomi Iran Bamdad Institute for Economic Studies menyebut laju kenaikan harga saat ini sebagai sesuatu yang “belum pernah terjadi sejak Perang Dunia II”. Meski demikian, pemerintah Iran dinilai tidak terlalu menonjolkan pentingnya data ekonomi tersebut.

Baru-baru ini, Central Bank of Iran juga mengeluarkan laporan yang untuk pertama kalinya mengakui bahwa mata uang Iran, rial, telah mengalami depresiasi yang sangat tajam.

Sekitar sepuluh tahun lalu, satu dolar AS masih dapat ditukar dengan sekitar 32.000 rial. Kini nilai tukarnya telah merosot hingga lebih dari 1,7 juta rial per dolar AS.

Sejumlah pengamat menilai bahwa lonjakan inflasi yang sangat tinggi menunjukkan dampak tekanan militer dan ekonomi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Mereka juga memperingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi memicu krisis politik atau ketidakstabilan pemerintahan di masa mendatang.

Laporan oleh Wang Ziyi, NTD Television, Amerika Serikat.

Ukraina Menyerang Saint Petersburg, Kebakaran Besar Terjadi pada Hari Pembukaan Forum Ekonomi Putin

EtIndonesia.com   Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengkonfirmasi bahwa 3 Juni dini hari, menjelang Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Saint Petersburg untuk memimpin Forum Ekonomi Internasional 2026, militer Ukraina berhasil menyerang terminal minyak di wilayah Leningrad dekat Saint Petersburg yang memiliki kapasitas bongkar muat tahunan mencapai 12,5 juta ton. Setelah beberapa ledakan, kebakaran besar terjadi dan asap tebal membumbung ke udara.

Terminal Kilang Minyak di Saint Petersburg Diserang Drone Ukraina

Pada Rabu (3 Juni), sebuah terminal pengolahan dan penyimpanan minyak berskala besar di Saint Petersburg, kota terbesar kedua di Rusia, menjadi sasaran serangan drone Ukraina dalam skala besar. Api berkobar hebat dan asap hitam memenuhi langit.

Dari sekitar lokasi Saint Petersburg International Economic Forum, yang sering dijuluki sebagai “Davos versi Rusia” dan dipimpin oleh Putin, kepulan asap tebal terlihat jelas dari kejauhan.

Dalam unggahannya di platform X pada 4 Juni, Zelenskyy menulis bahwa terminal minyak Saint Petersburg, yang disebut sebagai salah satu fasilitas penyimpanan dan ekspor bahan bakar terbesar di Rusia, telah berhasil diserang meskipun berjarak sekitar 1.100 kilometer dari perbatasan Ukraina.

Zelenskyy menyatakan bahwa serangan jauh ke dalam wilayah Rusia bertujuan menciptakan posisi yang lebih setara bagi Ukraina dalam perundingan damai dengan Rusia.

“Saya berterima kasih kepada angkatan bersenjata kami. Hari ini kami menunjukkan kekuatan yang besar di medan perang. Kami telah mencapai kemajuan signifikan dalam serangan jarak jauh dan berhasil menghantam target yang berjarak 1.100 kilometer,” katanya. 

Ia juga menambahkan : “Saya siap melakukan perundingan langsung dengan Putin untuk mengakhiri perang ini, bukan menunggu hingga seluruh konflik di dunia selesai baru giliran kami melakukan perundingan.”

Serangan Terjadi Saat Para Pejabat Rusia Berkumpul di Saint Petersburg

Serangan tersebut terjadi ketika para pejabat tinggi Rusia, pemimpin bisnis, dan tokoh penting lainnya sedang berdatangan ke Saint Petersburg untuk menghadiri forum ekonomi yang dipimpin Putin.

Filsuf Rusia Alexander Dugin mengatakan : “Pesan yang ingin disampaikan oleh serangan ini adalah: jangan datang ke Rusia, jangan berurusan dengan orang Rusia, jangan mempercayai mereka, karena tempat itu tidak aman.”

Sementara itu, Kremlin menyatakan bahwa Rusia akan terus melancarkan serangan terhadap Ukraina sebagai tanggapan atas serangan-serangan semacam ini.

Laporan kompilasi oleh Yu Liang, NTD Television.

Iran Luncurkan 30 Rudal dan Drone, Kuwait Laporkan 1 Orang Tewas dan 63 Orang Terluka

EtIndonesia.com  Menurut laporan New Tang Dynasty Television (NTD), situasi di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke tiga negara kawasan Teluk. Pada saat yang sama, perundingan antara Amerika Serikat dan Iran tampaknya menunjukkan kemajuan. Sejumlah analis menilai bahwa jika situasi Timur Tengah mereda, fokus strategis militer AS kemungkinan akan beralih ke kawasan Indo-Pasifik.

Militer AS Mengklaim Berhasil Mencegat Rudal dan Drone Iran

Pembawa acara Yu Ting bertanya kepada koresponden NTD di Washington, Zhang Liang, mengenai perkembangan terbaru dari pihak Iran.

Zhang Liang menjelaskan bahwa United States Central Command (CENTCOM) menyatakan bahwa pada Selasa (2 Juni), militer AS berhasil mencegat sejumlah rudal balistik dan drone yang diluncurkan Iran ke wilayah Kuwait, Bahrain, dan kawasan sekitar Teluk Persia.

Menurut CENTCOM, tidak ada korban dari pihak militer AS maupun pasukan sekutunya. Namun, kondisi keamanan regional masih menjadi perhatian utama.

Trump: Dialog AS-Iran Tidak Pernah Terhenti

Pada Selasa, Presiden AS Donald Trump menulis di media sosial bahwa laporan yang menyebut dialog antara Amerika Serikat dan Iran telah terhenti beberapa hari sebelumnya adalah berita palsu.

Trump mengatakan bahwa komunikasi dan perundingan antara kedua negara tetap berlangsung.

“Tidak ada yang bisa memastikan ke mana arah akhir perundingan ini. Namun apapun hasilnya, sekarang adalah saat yang tepat untuk mencapai kesepakatan. Situasi ini telah berlangsung selama 47 tahun dan tidak bisa terus berlanjut,” kata Trump. 

Dalam wawancara terpisah, Trump juga mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang melakukan mediasi dengan Teheran untuk mengakhiri konflik, dan Iran pada prinsipnya telah menyetujui untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Gedung Putih: Iran Akan Berkomitmen Tidak Mengembangkan Senjata Nuklir

Gedung Putih mengkonfirmasi bahwa berdasarkan nota kesepahaman yang sedang dibahas kedua pihak, Iran akan secara resmi berjanji untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Trump juga mengatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran yang baru terpilih, Mojtaba Khamenei, “pasti terlibat” dalam pembicaraan mengenai penghentian perang.

Ia menambahkan bahwa dirinya berharap suatu saat nanti dapat bertemu langsung dengan pemimpin Iran tersebut.

Kuwait Mendeteksi 30 Rudal dan Drone Iran

Pada Rabu (3 Juni), pemerintah Kuwait mengumumkan bahwa mereka mendeteksi sekitar 30 rudal balistik dan drone yang berasal dari Iran.

Serangan drone dilaporkan merusak Kuwait International Airport, mengakibatkan satu orang tewas dan sejumlah lainnya terluka. Operasional penerbangan di bandara tersebut juga sempat dihentikan.

Rubio: Kebijakan AS terhadap Taiwan Tidak Berubah

Selain perkembangan di Timur Tengah, perhatian juga tertuju pada kebijakan Amerika Serikat terhadap Taiwan setelah pertemuan antara Trump dan pemimpin PKT.

Dalam sidang dengar pendapat di Senat AS, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa kebijakan Amerika Serikat terhadap Taiwan tidak mengalami perubahan.

Rubio mengatakan:”Kebijakan Amerika Serikat terhadap Taiwan tidak berubah. Tentu saja pihak PKT berharap ada perubahan dalam penyampaiannya, tetapi faktanya tidak ada perubahan.”

Ia juga menyebut bahwa pada bulan Desember lalu pemerintah AS menyetujui paket penjualan senjata kepada Taiwan senilai sekitar 11 miliar dolar AS.

Rubio menyatakan: “Menurut saya, itu adalah penjualan senjata tunggal terbesar kepada Taiwan dalam sejarah. Nilainya sangat besar. Itu baru terjadi pada Desember lalu. Saya rasa jumlahnya bahkan lebih besar daripada total penjualan senjata kepada Taiwan selama empat tahun pemerintahan Biden.”

Rubio juga memberi tahu para senator bahwa rencana penjualan senjata tambahan senilai 14 miliar dolar AS kepada Taiwan masih dalam tahap peninjauan. (***)

Sumber : NTDTV.com

Tak Hanya Mahir Terbang, Awak Pesawat Kini Diajak Melek Saham: BEI Luncurkan Program “Awak Pesawat Investor Saham”

JAKARTA – Selama ini, pilot, pramugari, dan personel penerbangan dikenal terampil mengendalikan pesawat di angkasa. Kini, mereka juga diajak mengendalikan masa depan finansial mereka melalui pasar modal.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meresmikan program “Awak Pesawat Investor Saham” di Main Hall Gedung BEI, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Program yang digelar bersamaan dengan pembukaan Sharia Investment Week (SIW) 2026 ini merupakan hasil kolaborasi BEI dengan sejumlah maskapai nasional: Garuda Indonesia, Citilink, AirAsia Indonesia, dan Jaya Trishindo.

Tujuannya? Meningkatkan literasi keuangan dan pemahaman investasi di kalangan pekerja industri penerbangan yang dinamis dan penuh tantangan.

Pj. S Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa industri penerbangan memiliki peran strategis dalam menjangkau masyarakat luas di berbagai wilayah Indonesia. Karena itu, sektor ini menjadi mitra penting untuk memperluas literasi keuangan sekaligus mendukung peningkatan inklusi pasar modal nasional.

“Kami berharap para pekerja di industri aviasi semakin memahami pentingnya pengelolaan keuangan dan investasi yang legal, terukur, dan sesuai dengan tujuan keuangan masing-masing,” ujar Jeffrey.

Ia menambahkan, dinamika industri penerbangan yang berkembang cepat menuntut para pekerjanya memiliki ketahanan finansial yang baik. “Di balik peran penting penerbangan dalam konektivitas nasional, para pekerjanya juga menghadapi tantangan besar. Pemahaman tentang perencanaan keuangan dan mitigasi risiko menjadi sangat relevan,” katanya.

Investor Saham Indonesia Tembus 9,5 Juta

Jeffrey juga membeberkan data menggembirakan: hingga akhir April 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 26,4 juta Single Investor Identification (SID), tumbuh lebih dari 30 persen dibanding akhir tahun sebelumnya. Khusus investor saham, angkanya telah melampaui 9,5 juta SID.

“Melalui kolaborasi ini, kami ingin menghadirkan edukasi pasar modal yang lebih dekat, relevan, dan mudah diakses oleh para pekerja industri penerbangan,” ujarnya.

Dukungan Penuh dari Maskapai

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menyambut baik program ini sebagai langkah strategis membangun SDM penerbangan yang adaptif dan berdaya saing. “Kesiapan SDM tidak hanya ditentukan oleh kompetensi profesional, tetapi juga oleh kemampuan membangun ketahanan dan perencanaan finansial yang sehat,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama AirAsia Indonesia, Kapten Achmad Sadikin, menambahkan bahwa pemahaman tentang investasi dapat membantu pekerja mempersiapkan masa depan yang lebih baik serta mendorong budaya finansial yang produktif di lingkungan penerbangan.

Simbolis Penyematan Pin “Aku Investor Saham”

Peluncuran program dilakukan secara simbolis dengan menyematkan pin “Aku Investor Saham” kepada perwakilan pekerja penerbangan, mulai dari pilot, awak kabin, hingga personel operasional. Acara juga dirangkaikan dengan penyerahan cinderamata dan dukungan simbolis pembukaan rekening investasi.

BEI menyatakan bahwa ke depan, program edukasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan, baik melalui kunjungan langsung maupun platform digital.

“Kami berharap kolaborasi ini menjadi inspirasi bagi berbagai industri lain di Indonesia,” tutup Jeffrey.

Sampah Sarapan Hotel Jadi Pakan Ternak: Gerakan “Beyond Waste” Grand Mercure Malang Sulap Limbah Makanan Jadi Berkah

MALANG, 5 Juni 2026 – Tepat pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, sebuah gerakan nyata lahir dari kolaborasi lintas sektor di Malang Raya. Grand Mercure Malang Mirama bersama Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Local Preneur, dan People Hub meluncurkan inisiatif “Beyond Waste” – sebuah terobosan mengubah limbah makanan hotel menjadi pakan ternak dan produk bernilai ekonomi.

Langkah ini bukan sekadar seremonial. Sugito Adhi, Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama & Mercure Surabaya Grand Mirama, menegaskan komitmennya terhadap prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).

“Beyond Waste diharapkan menjadi awal dari gerakan keberlanjutan yang dapat diterapkan secara nyata. Kami tidak hanya mengelola limbah, kami sedang membangun warisan tanggung jawab untuk generasi mendatang,” ujar Sugito dalam peluncuran di hotel setempat, Kamis (4/6/2026).

Dari Meja Sarapan ke Kandang Ternak

Bagaimana caranya? Ternyata, volume sampah makanan di hotel sangat bergantung pada tingkat hunian. Wahyu Widianto, Operational Manager Grand Mercure Malang Mirama, membeberkan data mengejutkan.

“Jika kuota sarapan 250 orang, sampah yang dihasilkan 8–10 kilogram. Saat hunian melonjak hingga 500 orang, volume sampah naik ke 13–15 kilogram,” paparnya.

Hotel ini telah menetapkan batas maksimal food waste harian sebesar 15 kilogram sesuai standar jaringan Accor global. Roti sisa dari kafe dan bar diolah kembali menjadi hidangan penutup Om Ali. Stroberi yang kurang mulus bentuknya disulap menjadi selai. Adapun sisa makanan yang benar-benar tidak layak konsumsi dialokasikan untuk kompos dan pakan ternak.

Peluang Ekonomi dari Tumpukan Sampah

Baskoro, Founder Local Preneur, menekankan bahwa bisnis masa depan harus bertanggung jawab pada lingkungan. “Langkah yang diambil tidak harus muluk-muluk, melainkan apa yang bisa dilakukan saat ini, sekecil apa pun itu,” tegasnya.

Sementara itu, pakar lingkungan dari Fakultas Peternakan Unikama, Dr. Ir. Tri Ida Wahyu Kustyorini, mengingatkan bahwa limbah makanan yang dibiarkan begitu saja akan memperparah emisi gas rumah kaca dan merusak atmosfer.

“Limbah restoran maupun rumah tangga jika tidak dimanfaatkan justru akan menambah cemaran. Padahal, jika diolah dengan baik, limbah ini memiliki nilai ekonomi tinggi yang bisa menjadi sumber pendapatan baru,” ujar Dr. Tri Ida.

Namun, ia menyayangkan masih banyak pelaku industri dan restoran yang belum mengoptimalkan pengolahan limbah mereka.

Target Ambisius: 80 Persen Pengurangan Limbah

Acara peluncuran yang dihadiri sekitar 50 delegasi dari industri perhotelan, UMKM kuliner, akademisi, dan NGO ini juga menghadirkan demonstrasi langsung pengolahan food waste menjadi pakan ternak bersama peternak lokal.

Mengusung visi “Building a Sustainable Future, One Waste at a Time” , gerakan Beyond Waste menargetkan tingkat kesadaran masyarakat sebesar 95 persen dan pengurangan limbah makanan hingga 80 persen. Inisiatif ini mendukung pencapaian SDGs, terutama SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 17 (Kemitraan).

Partai Komunis Tiongkok Perketat Pengawasan, Tambah Larangan Perjalanan Menjelang Peringatan 37 Tahun Pembantaian Tiananmen 

Para aktivis melaporkan meningkatnya pemantauan, larangan bepergian, dan pengawasan ketat selama 24 jam ketika Beijing memperingati 37 tahun pembantaian tahun 1989.

EtIndonesia.com Menjelang peringatan ke-37 Pembantaian Lapangan Tiananmen 1989, rezim Tiongkok meningkatkan langkah-langkah keamanan terhadap para pembangkang dan aktivis di seluruh negeri. Hal ini berdasarkan wawancara dengan sejumlah individu yang mengatakan bahwa mereka ditempatkan di bawah pengawasan, dibatasi di rumah mereka, atau diperingatkan agar tidak berbicara secara terbuka mengenai peringatan tersebut.

Dalam pembantaian yang terjadi pada 4 Juni 1989 itu, militer Tiongkok secara brutal menindas gerakan pro-demokrasi yang dipimpin mahasiswa, mengakibatkan korban tewas dalam jumlah besar dan terluka. Hingga kini, rezim tetap sangat sensitif terhadap segala bentuk peringatan publik atas tragedi tersebut.

Pembatasan yang dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Tiongkok ini mencerminkan pola yang telah berlangsung lama, di mana Partai Komunis Tiongkok (PKT) setiap tahun meningkatkan operasi keamanan politik menjelang tanggal 4 Juni.

Pada saat yang sama, organisasi advokasi yang berbasis di New York, Human Rights in China, merilis pernyataan peringatan tahunan dari Tiananmen Mothers, sebuah kelompok yang mewakili keluarga para korban yang tewas dalam pembantaian tersebut.

Kelompok itu kembali menegaskan tuntutan mereka yang telah lama disuarakan, yakni agar PKT mengungkapkan seluruh kebenaran mengenai peristiwa tersebut, memberikan kompensasi kepada keluarga korban, dan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Seorang pria menyaksikan pasukan bersenjata memasuki Beijing pada malam menjelang Pembantaian Lapangan Tiananmen pada Juni 1989. Foto disediakan untuk The Epoch Times.
(Kiri) Para demonstran pro-demokrasi saat melakukan aksi unjuk rasa di Lapangan Tiananmen, Beijing, pada tahun 1989. (Kanan) Lubang-lubang bekas peluru yang tersisa setelah otoritas Tiongkok melepaskan tembakan untuk menumpas gerakan pro-demokrasi di Beijing pada tahun 1989. Foto disediakan untuk The Epoch Times.
(Berlawanan arah jarum jam dari kiri atas) Mahasiswa dari berbagai universitas di seluruh negeri berpartisipasi dalam demonstrasi pro-demokrasi di Beijing pada tahun 1989. (Kanan atas) Sebuah spanduk menampilkan pesan pro-demokrasi selama aksi protes di Lapangan Tiananmen, Beijing, pada tahun 1989. Foto disediakan untuk The Epoch Times.
Para demonstran menyambut para perwira militer Tiongkok selama gerakan pro-demokrasi di Beijing pada tahun 1989. Foto disediakan untuk The Epoch Times.
Orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk (searah jarum jam dari kiri atas) editor dan wartawan media pemerintah Tiongkok, personel militer Tiongkok, seorang profesor purnabakti Universitas Peking, serta staf Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, terlihat berpartisipasi dalam demonstrasi pro-demokrasi di Beijing pada tahun 1989. Foto disediakan untuk The Epoch Times.
Orang-orang berkumpul di dekat Zhongnanhai, kompleks kepemimpinan Tiongkok, setelah wafatnya pemimpin reformis Hu Yaobang di Beijing pada tahun 1989. Foto disediakan untuk The Epoch Times
Pasukan bersenjata memasuki Beijing pada malam menjelang Pembantaian Lapangan Tiananmen pada Juni 1989. Foto disediakan untuk The Epoch Times.
Para demonstran pro-demokrasi bersorak menyambut pasukan Tiongkok di Beijing sekitar 20 Mei 1989. Pasukan tersebut akhirnya mundur setelah para demonstran berhasil memperoleh simpati mereka. Foto disediakan untuk The Epoch Times.

Pengawasan dan Pembatasan Meningkat

Beberapa pembangkang di Tiongkok mengatakan kepada The Epoch Times bahwa petugas keamanan negara, polisi, dan pejabat lingkungan setempat mulai menghubungi mereka sejak akhir Mei, memperingatkan mereka agar tidak bepergian, menghadiri pertemuan, atau berbicara dengan media luar negeri menjelang peringatan tersebut. Mereka berbicara dengan syarat hanya nama keluarga mereka yang dipublikasikan karena khawatir akan pembalasan.

Seorang pembangkang yang tinggal di Beijing bermarga Liu mengatakan bahwa pengawasan polisi di sekitar rumahnya telah meningkat.

“Polisi sudah ditugaskan untuk mengawasi saya,” kata Liu. “Ada sebuah van tanpa tanda yang diparkir di luar, dan ke mana pun saya pergi, mereka mengikuti.”

Menurut Liu, petugas keamanan negara memerintahkannya agar tidak berpartisipasi dalam pertemuan terkait 4 Juni dan tidak mempublikasikan informasi di situs web luar negeri. Ia mengatakan bahwa pengendalian tahun ini tampaknya lebih banyak mengandalkan pengawasan langsung dibanding praktik yang di kalangan aktivis Tiongkok dikenal sebagai “perjalanan paksa”.

Dalam praktik tersebut, rezim biasanya memindahkan para pembangkang, aktivis hak asasi manusia, atau mantan peserta gerakan 1989 dari kota asal mereka dengan dalih wisata, perjalanan istirahat, atau pertemuan informal, dan menahan mereka jauh dari rumah hingga peringatan tersebut berlalu.

“Orang-orang yang terlibat langsung dalam peristiwa 4 Juni dan lebih dikenal publik mungkin masih akan dibawa pergi,” kata Liu. “Sebagian besar lainnya hanya diawasi di rumah.”

Di kalangan aktivis Tiongkok, praktik menugaskan personel untuk mengawasi seseorang selama 24 jam sehari biasanya disebut sebagai “bertugas jaga” (being on post). Pengawasan ini dapat melibatkan polisi, personel keamanan negara, komite lingkungan, petugas keamanan, atau pejabat lokal lainnya yang ditempatkan di dekat tempat tinggal seseorang.

Pembangkang dan aktivis lain yang tinggal di Beijing, bermarga Chen, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa petugas keamanan mulai mengawasinya beberapa hari sebelum peringatan tersebut.

“Dua petugas keamanan duduk bergantian di lorong luar apartemen saya,” katanya. “Bahkan ketika saya keluar untuk membeli sesuatu, mereka mengikuti saya.”

Menurut Chen, PKT sangat khawatir terhadap orang-orang yang membicarakan Pembantaian Tiananmen atau berkumpul untuk memperingatinya.

Para aktivis hak asasi manusia di wilayah lain Tiongkok juga melaporkan menerima peringatan serupa.

Seorang aktivis HAM di Provinsi Hunan bermarga Huang mengatakan kepada The Epoch Times bahwa petugas keamanan negara berulang kali menghubunginya dan memerintahkannya agar tidak meninggalkan daerah tersebut atau bertemu teman-teman di kota lain.

Menurut Huang, para aktivis di Guangxi, Chengdu, dan Chongqing menerima peringatan yang serupa dan diberitahu bahwa mereka mungkin akan dipanggil untuk diinterogasi pada 4 Juni.

“Pada tahun-tahun sebelumnya, mereka mungkin membawa orang pergi selama beberapa hari,” kata Huang. “Sekarang mereka lebih cenderung mengawasi orang-orang itu di daerah masing-masing.”

Liu mengatakan ia yakin perubahan ini lebih mencerminkan upaya penghematan biaya daripada pelonggaran kontrol.

Mantan anggota Partai Demokrasi Tiongkok yang telah dilarang di Provinsi Zhejiang juga tetap berada di bawah pengawasan ketat, menurut seorang pembangkang di provinsi tersebut yang meminta identitasnya dirahasiakan sepenuhnya.

Pembangkang itu mengatakan bahwa beberapa aktivis terkemuka, termasuk mantan pemimpin gerakan mahasiswa Xu Guang, yang baru-baru ini dibebaskan dari penjara, serta pembangkang senior Chen Shuqing, yang menyelesaikan masa hukumannya tahun lalu, menghadapi pembatasan pergerakan dalam beberapa hari terakhir.

Ia menambahkan bahwa petugas keamanan negara memperingatkan para aktivis agar tidak menggunakan virtual private network (VPN) untuk melewati sistem sensor internet Tiongkok dan agar tidak mengunggah komentar dalam kelompok diskusi daring.

PKT tidak mengumumkan secara terbuka langkah-langkah keamanan khusus terkait peringatan tahun ini.

Namun, para aktivis di Shanghai dan Chengdu mengatakan kepada The Epoch Times bahwa pembatasan terhadap pergerakan mereka mulai diberlakukan minggu ini. Beberapa mengatakan bahwa pejabat lingkungan setempat memberi tahu mereka bahwa perjalanan normal baru akan diizinkan kembali setelah 5 Juni.

Fang Zheng, seorang aktivis pro-demokrasi yang kedua kakinya hancur terlindas tank militer Tiongkok dalam Pembantaian Lapangan Tiananmen, menghadiri aksi malam penyalaan lilin di Portsmouth Square, San Francisco, pada 3 Juni 2025. (Nathan Su/The Epoch Times)

Tiananmen Mothers Kembali Menuntut Pertanggungjawaban

Sementara itu, Tiananmen Mothers menggunakan pernyataan peringatan tahunan mereka untuk kembali menyerukan pengakuan resmi atas pembantaian tersebut.

Dalam pernyataan yang disahkan oleh kelompok itu dan dirilis oleh Human Rights in China melalui platform X pada 28 Mei, organisasi tersebut menggambarkan peristiwa 3–4 Juni 1989 sebagai sebuah tragedi ketika kekuatan militer dikerahkan terhadap mahasiswa dan warga sipil yang berpartisipasi dalam demonstrasi damai.

Kelompok tersebut mendesak PKT untuk menangani warisan tragedi tersebut melalui cara-cara yang sah dan damai serta memberikan keadilan bagi keluarga para korban.

“Selama 37 tahun, kami telah menanggung penderitaan sambil mencari kebenaran dan pertanggungjawaban,” demikian bunyi pernyataan itu, seraya menegaskan kembali tiga tuntutan utama kelompok tersebut: pengungkapan fakta-fakta yang sebenarnya, kompensasi bagi para korban, dan pertanggungjawaban bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Zhou Yu turut berkontribusi dalam laporan ini.

37 Tahun Pembantaian di Tiananmen, Penyintas Serukan Keadilan dan Kebebasan bagi Mereka yang Masih Dipenjara

Oleh : Zhou Fengsuo

Zhou Fengsuo, direktur eksekutif Human Rights in China dan pemimpin mahasiswa yang berada di Lapangan Tiananmen pada malam 3–4 Juni 1989, menyampaikan pidato berikut dalam konser peringatan 37 tahun Pembantaian Tiananmen yang diadakan di North York Civic Centre Square, Toronto, Kanada pada 30 Mei 2026.

Berada di Toronto hari ini membuat saya merasakan ikatan yang mendalam, seolah-olah saya berada di tengah teman-teman sendiri. Di saat penuh duka seperti ini, hanya ada sedikit tempat yang dapat memberikan penghiburan dan harapan, karena kita berkumpul di sini dalam jumlah besar untuk berdiri bersama Chow Hang-tung yang masih dipenjara; berdiri bersama Tiananmen Mothers; dan berdiri bersama setiap jiwa yang kehilangan nyawanya pada tahun itu.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Toronto Association for Democracy in China dan berbagai organisasi demokrasi di kota ini yang telah bertahan selama bertahun-tahun. Toronto adalah salah satu kota terpenting di dunia dalam peringatan 4 Juni. Kita harus mengingat bahwa acara seperti ini, seperti aksi nyala lilin yang dahulu diadakan di Victoria Park, Hong Kong, disaksikan oleh seluruh dunia.

Tiga puluh tujuh tahun lalu, saya berada di Lapangan Tiananmen. Larut malam pada 3 Juni, saya mendengar suara tembakan dari segala arah dan melihat tank-tank bergerak masuk. Saya termasuk di antara mahasiswa terakhir yang dipaksa meninggalkan lapangan, didorong keluar oleh tank-tank itu sendiri.

Mahasiswa Universitas Peking di Lapangan Tiananmen, Beijing, pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)

“Lebih dari Empat Puluh Jenazah”

Saya juga berada di sebuah rumah sakit dan melihat lebih dari empat puluh jenazah, termasuk rekan-rekan mahasiswa dari Universitas Tsinghua. Rumah Sakit Fuxing, yang terletak di bagian barat Jalan Chang’an, dipenuhi korban tewas dan terluka. Beberapa korban yang gugur dengan berani bahkan hanya bisa dibaringkan di tempat parkir sepeda di sepanjang jalan.

Saat-saat itu, hari-hari itu, tidak akan pernah saya lupakan. Saya memikul utang moral kepada setiap orang yang kehilangan nyawa. Karena itulah setiap tahun, kapan pun ada kesempatan untuk memperingati 4 Juni, saya selalu hadir.

Kita berkumpul hari ini karena terlalu banyak korban yang belum memperoleh keadilan. Kita berkumpul karena begitu banyak orang masih bertahan: bertahan di seluruh dunia, bertahan di daratan Tiongkok, dan bertahan dari balik sel-sel penjara di Hong Kong.

Hari ini saya harus berbicara tentang Xu Guang, seorang aktivis mahasiswa angkatan 1989 yang dijatuhi hukuman empat tahun penjara hanya karena memperingati 4 Juni. Ia menjalani seluruh masa hukumannya sambil melakukan mogok makan selama dipenjara. Ketika dibebaskan pada Mei 2026, tubuhnya begitu lemah hingga tidak mampu berdiri. Namun kata-kata yang ia sampaikan adalah: “Demi demokrasi dan kebebasan, kami tidak menyesal.”

Tank-tank bersiaga dalam posisi ofensif menjelang Pembantaian Lapangan Tiananmen di Beijing pada tahun 1989. Foto disediakan untuk The Epoch Times.
Lapangan Tiananmen saat peristiwa 4 Juni 1989 (sumber: internet)

Itulah makna 4 Juni. Bagi kami yang berada di sana saat itu, misi terpenting adalah mendorong Tiongkok menuju demokrasi.

Di Toronto pada 4 Juni ini, saya juga harus berbicara tentang Dong Guangping. Ia adalah seorang polisi aktif, berasal dari keluarga pejabat Partai Komunis, seorang pria yang sepenuhnya dibentuk oleh sistem tersebut. Ketika dihadapkan pada pilihan antara keadilan dan keterlibatan dalam ketidakadilan, ia memilih keadilan.

Ia berulang kali menyuarakan kebenaran tentang korban tewas dan tentang peristiwa 4 Juni. Karena itu, ia telah dipenjara sebanyak empat kali. Ia menolak menyerah dan terus mengejar kebebasan. Pada berbagai kesempatan, ia melarikan diri ke Thailand dan Vietnam, namun ditangkap dan dipulangkan secara paksa ke daratan Tiongkok.

Beberapa hari lalu, ia berhasil mencapai Korea Selatan dengan rakit yang dibuatnya sendiri setelah mengarungi laut selama lebih dari tiga puluh jam. Keluarganya telah memperoleh suaka di Kanada, dan kami bersyukur atas hal itu. Kami berharap seseorang seperti Dong Guangping dapat segera dipersatukan kembali dengan keluarganya. Saya berharap tahun depan ia dapat berdiri bersama kita, dalam keadaan bebas, untuk memperingati 4 Juni tanpa takut dibawa pergi oleh Partai.

Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Deskripsi saksi mata yang melihat enam jenazah mahasiswa demonstran berlumuran darah di Lapangan Tiananmen di Beijing pada pagi hari tanggal 4 Juni 1989. Diberikan kepada The Epoch Times.

“Partai Komunis Ingin Kita Melupakannya”

Kita juga memperingati 4 Juni karena satu alasan sederhana: Partai Komunis ingin kita melupakannya.

Mereka telah menggunakan segala cara yang tersedia untuk menghapus peristiwa itu dari ingatan. Namun setiap tahun, semakin banyak kebenaran yang muncul ke permukaan: lebih banyak kesaksian saksi mata, lebih banyak foto, dan lebih banyak dokumen.

Bukti paling penting yang muncul dalam setahun terakhir adalah rekaman selama enam jam dari pengadilan militer Jenderal Xu Qinxian, komandan senior PKT yang menolak perintah untuk mengerahkan pasukan terhadap para demonstran. Siapa pun yang belum menontonnya sebaiknya melakukannya. Nilai sejarahnya sangat besar.

Saat ini, militer PKT masih menjadi ancaman bagi perdamaian dunia, terutama terhadap Taiwan. Pada saat yang kritis ini, kami juga menyerukan kepada para prajurit yang masih memiliki hati nurani di dalam militer tersebut agar menolak menjadi alat penindasan dan menolak menjalankan perintah semacam itu.

Hari ini, ketika kita memperingati 4 Juni, kita juga berutang rasa terima kasih yang mendalam kepada rakyat Hong Kong.

Seorang pria Tionghoa sendirian menghalangi barisan tank yang bergerak ke arah timur di Jalan Perdamaian Abadi Beijing setelah pembantaian Lapangan Tiananmen, pada 5 Juni 1989. Jeff Widener/AP Photo

Selama lebih dari tiga dekade, aksi nyala lilin di Victoria Park—pertemuan publik tahunan terbesar di dunia untuk mengenang 4 Juni—membuat dunia tetap mengingat apa yang terjadi. Ketika PKT memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional di Hong Kong pada tahun 2020 dan secara sistematis menghancurkan masyarakat sipil, aksi-aksi tersebut dilarang. Para penyelenggaranya dipenjara.

Rasa hormat terdalam kami ditujukan kepada para pemimpin berani Hong Kong Alliance in Support of Patriotic Democratic Movements of China, terutama Chow Hang-tung, seorang pengacara dan aktivis Hong Kong yang masih kecil ketika tragedi 4 Juni terjadi, tetapi kini menjadi simbol paling hidup dari semangat tahun 1989.

Kami yang berada di sana pada malam itu memberikan penghormatan kepadanya.

Mahasiswa pro-demokrasi menggelar aksi mogok makan di Lapangan Tiananmen di Beijing pada musim semi tahun 1989.
(Disediakan untuk The Epoch Times)
(Kiri) Seorang demonstran pro-demokrasi yang melakukan mogok makan mengamati dari Lapangan Tiananmen di Beijing pada musim semi tahun 1989. Bajunya bertuliskan, “Aku mendedikasikan darahku untuk tanah air.” (Kanan Atas) Sebuah bus membawa spanduk bertuliskan, “Hidup mahasiswa universitas,” di Beijing pada musim semi tahun 1989. (Kanan Bawah) Sekelompok demonstran pro-demokrasi berdiri di sekitar plakat bertuliskan “deklarasi mogok makan” di Beijing pada musim semi tahun 1989.
Disediakan untuk The Epoch Times
Para demonstran pro-demokrasi bersorak dan berbicara dengan pasukan Tiongkok yang diperintahkan untuk memasuki Beijing pada Mei 1989. Para tentara bersimpati kepada para demonstran dan akhirnya mundur. (Disediakan untuk The Epoch Times)
Seorang perwira militer mengangkat papan bertuliskan, “Kemenangan bagi kampus mahasiswa,” sementara kerumunan bersorak selama protes pro-demokrasi di Beijing pada musim semi tahun 1989. (Disediakan untuk The Epoch Times)
(Kiri) Seorang perwira militer melambaikan tangan kepada para demonstran pro-demokrasi di Beijing pada musim semi tahun 1989. (Searah jarum jam dari kanan atas) Para demonstran pro-demokrasi dalam konfrontasi dengan pasukan militer Tiongkok di Beijing pada Mei 1989. Disediakan untuk The Epoch Times

Hong Kong Kini Diperintah dengan Lebih Keras

Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)

Hong Kong saat ini, di bawah rezim keamanan nasional PKT, diperintah dengan lebih keras daripada banyak wilayah di daratan Tiongkok.

Chow Hang-tung dipenjara, dan akhir masa hukumannya masih belum terlihat. Namun setiap kali mendapat kesempatan, ia tetap berbicara.

Ketika Victoria Park ditutup dan aksi peringatan dilarang, ia mengubah ruang sidang menjadi Victoria Park, menggunakan persidangannya untuk menyampaikan kebenaran, berbicara bagi Tiananmen Mothers, dan berbicara demi sejarah.

Dengan adanya orang-orang seperti dirinya, saya tahu bahwa cita-cita yang diperjuangkan mereka yang gugur pada tahun 1989 masih hidup hingga hari ini. Dengan adanya orang-orang seperti dirinya, bagaimana mungkin kami yang hidup di pengasingan membenarkan diri jika berhenti berjuang?

Teladannya menunjukkan satu hal dengan jelas: sekeras apa pun tirani PKT memenjarakan tubuh seseorang, mereka tidak dapat memenjarakan hati nurani.

Tanggal 4 Juni bukan hanya milik masa lalu. Ia juga milik hari ini: milik setiap tahanan politik, setiap jurnalis yang menolak dibungkam, dan setiap orang yang berani mengatakan kebenaran.

Selama kita terus melangkah dan terus memperingatinya, impian tentang Tiongkok yang bebas dan demokratis akan tetap hidup.

Pekerjaan kita suatu hari nanti akan membantu membawa Tiongkok menuju demokrasi. Sebuah Tiongkok yang demokratis akan menjadi hadiah terbesar yang dapat diterima dunia. Terima kasih.

Sumber : Visiontimes.com