OJK Pastikan Sektor Keuangan RI Tetap Stabil di Tengah Badai Global

Jakarta, 7 September 2026 — Di tengah gejolak ekonomi global yang tak kunjung reda, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan sektor jasa keuangan Indonesia tetap dalam kondisi stabil. Keyakinan ini disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan yang digelar 26 Agustus lalu dan dipaparkan dalam konferensi pers pada Senin (7/9).

Dunia Dilanda Ketidakpastian, Indonesia Masih Tahan Banting

Konflik berkepanjangan di Iran dan penutupan Selat Hormuz masih menjadi momok utama. Gangguan jalur distribusi energi ini memicu lonjakan harga minyak dan komoditas global. Belum lagi fenomena El Nino yang berkepanjangan menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan di berbagai kawasan, mengancam pasokan pangan dunia.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi global melambat. Amerika Serikat mencatat pertumbuhan di bawah ekspektasi, sementara Tiongkok hanya tumbuh 4,3 persen pada kuartal II-2026.

Namun, di tengah badai itu, ekonomi Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang patut diacungi jempol. Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 tercatat solid di angka 5,29 persen secara tahunan, ditopang investasi, belanja pemerintah, dan konsumsi rumah tangga yang tetap kuat.

Pasar Modal Menguat, Investor Asing Masih Masuk

Berita baik juga datang dari pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Agustus 2026 ditutup di level 6.525,48, menguat 4,64 persen dibanding bulan sebelumnya.

Yang menarik, investor asing masih menunjukkan minatnya. Tercatat net buy atau pembelian bersih saham domestik mencapai Rp1,19 triliun sepanjang Agustus 2026. Likuiditas pasar pun membaik, dengan rata-rata nilai transaksi harian naik menjadi Rp15,86 triliun.

Di pasar obligasi, minat asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) juga tetap tinggi dengan net buy Rp15,35 triliun.

Investor Makin Banyak, Dana Korporasi Melimpah

Kabar menggembirakan lainnya: jumlah investor di pasar modal terus melonjak. Hingga Agustus 2026, total investor mencapai 31,14 juta, bertambah 1,07 juta hanya dalam satu bulan.

Penghimpunan dana oleh korporasi di pasar modal juga tetap deras. Nilai total fundraising mencapai Rp128,80 triliun hingga Agustus 2026.

Produk Baru: ETF Emas Mulai Dilirik

OJK juga meluncurkan produk investasi anyar, Exchange Traded Fund (ETF) Emas, pada 10 Agustus 2026. Hanya dalam waktu tiga minggu, tujuh produk ETF Emas dari tujuh manajer investasi berhasil mengumpulkan dana kelolaan Rp90,39 miliar.

Produk ini menarik karena memungkinkan masyarakat berinvestasi emas tanpa perlu menyimpan logam mulia secara fisik. ETF Emas juga telah mendapatkan sertifikasi syariah dari Dewan Syariah Nasional MUI.

Literasi Keuangan Lampaui Target 2029

Pencapaian lain yang tak kalah membanggakan datang dari sisi edukasi masyarakat. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 69,57 persen, sementara indeks inklusi keuangan menyentuh 93,61 persen.

Angka ini bahkan sudah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 yang baru ditargetkan tercapai pada 2029. Artinya, Indonesia berhasil mencapai target literasi keuangan tiga tahun lebih cepat dari jadwal.

Sepanjang Januari—Agustus 2026, OJK telah menggelar 3.557 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau lebih dari 12 juta peserta.

Perang Melawan Pinjol Ilegal dan Penipuan

Di sisi lain, OJK melalui Satgas PASTI terus memerangi aktivitas keuangan ilegal. Hingga Agustus 2026, sebanyak 1.222 entitas ilegal berhasil dihentikan, terdiri dari 951 pinjaman online ilegal, 242 investasi ilegal, 27 gadai ilegal, dan dua aktivitas ilegal lainnya.

Untuk menangani penipuan transaksi keuangan, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) yang dibentuk OJK bersama Satgas PASTI telah menerima 668.441 laporan sejak mulai beroperasi November 2024. Total dana korban yang berhasil diblokir mencapai Rp771,2 miliar, dan Rp206 miliar di antaranya telah dikembalikan kepada korban.

Perbankan Tetap Sehat

Kinerja perbankan juga menunjukkan tren positif. Pertumbuhan kredit pada Juli 2026 mencapai 13,58 persen secara tahunan, dengan total penyaluran kredit Rp9.135 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,21 persen menjadi Rp10.336 triliun.

Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan tercatat di level 23,84 persen, jauh di atas ambang batas minimum. Ini menandakan perbankan Indonesia memiliki bantalan modal yang kuat untuk menghadapi berbagai risiko.


Dengan berbagai capaian ini, OJK optimistis sektor jasa keuangan Tanah Air akan terus menjadi pilar penopang ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Masyarakat pun diimbau untuk terus meningkatkan literasi keuangan dan mewaspadai berbagai modus penipuan yang kian canggih.

Kenali 4 Level Status Gunung Api, Ini Langkah Mitigasi yang Perlu Dilakukan

SURABAYA — Indonesia adalah negeri yang berada di atas cincin api. Ratusan gunung api tersebar dari Sabang sampai Merauke, dan belakangan ini aktivitas beberapa di antaranya sedang meningkat. Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) per 6 September 2026 mencatat lima gunung api berstatus Level III Siaga, 22 gunung Level II Waspada, dan 42 gunung Level I Normal.

Lalu, apa bedanya keempat level itu? Dan apa yang harus dilakukan masyarakat ketika gunung di sekitar mulai menunjukkan peningkatan aktivitas?

Empat Level Status Gunung Api

Ahli Vulkanologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr M Haris Miftakhul Fajar, menjelaskan bahwa keempat tingkatan status gunung api—Normal, Waspada, Siaga, dan Awas—bukan sekadar penanda akan terjadi letusan. “Status gunung api normal, waspada, siaga, hingga awas menjadi acuan mitigasi, bukan sekadar penanda akan terjadi letusan,” terang Haris.

Level I – Normal

Ini adalah kondisi paling aman. Aktivitas vulkanik sangat rendah atau tidak ada gejala berbahaya. Gunung tidak menunjukkan perubahan aktivitas secara visual, seismik, dan kejadian vulkanik yang signifikan.

Level II – Waspada

Pada level ini, pengamatan visual dan instrumental mulai memperlihatkan peningkatan aktivitas. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan mengikuti perkembangan informasi dari pihak berwenang.

Level III – Siaga

Ini adalah satu tingkat di bawah Awas. Aktivitas gunung sudah menunjukkan peningkatan yang lebih jelas berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental. Masyarakat harus mematuhi rekomendasi resmi terkait kawasan rawan bencana dan menjaga pembatasan aktivitas pada zona tertentu.

Level IV – Awas

Ini adalah status tertinggi yang menunjukkan adanya ancaman erupsi besar. Jika status sudah mencapai Awas, masyarakat di sekitar kawasan gunung perlu mempersiapkan diri untuk melakukan evakuasi.

Informasi Resmi Bisa Diakses Lewat MAGMA Indonesia

Pemerintah melalui PVMBG telah menyediakan sistem informasi terpadu melalui platform MAGMA Indonesia (magma.esdm.go.id). Platform digital ini menyajikan laporan aktivitas seluruh gunung api di Indonesia yang diperbarui secara berkala.

Masyarakat bisa melihat peta Indonesia dengan ikon gunung yang memiliki warna berbeda: hijau (Normal), kuning (Waspada), oranye (Siaga), dan merah (Awas). Informasi ini bisa diakses melalui situs web maupun aplikasi di ponsel.

“Pada level Waspada dan Siaga, masyarakat dapat menjaga pembatasan aktivitas pada zona tertentu. Pembatasan tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko lontaran material vulkanik yang dapat terjadi mengikuti karakter erupsi,” saran Haris.

Bahaya Abu Vulkanik: Dari Kesehatan hingga Penerbangan

Abu vulkanik bukanlah debu biasa. Material mikro tajam ini sangat berbahaya bagi saluran pernapasan manusia, serta dapat menggores kaca jika terjadi gesekan pada permukaan. Sebaran abu juga dapat mengurangi jarak pandang hingga berpotensi mengganggu mesin pesawat yang membahayakan penerbangan.

Jika terjadi hujan abu, penggunaan lensa kontak sangat dilarang dan wajib diganti dengan kacamata pelindung (goggles). Masyarakat juga dianjurkan menggunakan respirator partikulat seperti N95, KN95, atau FFP2 dengan ukuran yang pas dan terpasang rapat. Pintu dan jendela sebaiknya ditutup dan celahnya disumbat menggunakan kain lembab untuk mencegah abu masuk ke dalam rumah.

Bahaya abu vulkanik bagi penerbangan bukanlah sekadar potensi. Pada 24 Juni 1982, pesawat British Airways Penerbangan 9 menembus awan abu Gunung Galunggung di ketinggian 37.000 kaki. Abu yang masuk ke mesin meleleh lalu mengeras menyumbat turbin, membuat keempat mesin mati total. Pesawat sempat melayang tanpa tenaga sebelum akhirnya mendarat darurat dengan selamat di Halim Perdanakusuma. Insiden inilah yang mendorong dibentuknya Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC), sebuah pusat pemantauan abu vulkanik yang kini menjadi rujukan internasional.

Jangan Mudah Percaya Hoaks

Di tengah tingginya aktivitas vulkanik, masyarakat diimbau untuk menyaring informasi dan tidak mudah terpengaruh kabar bohong (hoaks). “Saat ini sering beredar ramalan tidak berdasar di media sosial, padahal secara ilmiah tidak ada teknologi yang mampu memprediksi hari dan jam pasti terjadinya erupsi,” tegas Haris.

Bangun Budaya Mitigasi

Untuk jangka panjang, Haris menganjurkan pemerintah serta instansi terkait untuk memperkuat edukasi kebencanaan sebelum aktivitas meningkat. “Budaya mitigasi harus dibangun melalui pemahaman terhadap proses alam dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Haris.

Mitigasi juga perlu dilakukan melalui pemetaan risiko, penyiapan jalur evakuasi, serta penguatan komunikasi kebencanaan. Koordinasi lintas sektor juga menjadi keharusan, melibatkan PVMBG selaku pemantau aktivitas gunung api, BMKG untuk analisis arah angin dan cuaca, serta Kementerian Perhubungan untuk pengaturan jalur penerbangan.

Dengan pemahaman yang baik terhadap status gunung dan langkah mitigasi yang tepat, masyarakat dapat lebih siap menghadapi aktivitas vulkanik. Kesiapsiagaan membantu mengurangi dampak ketika erupsi terjadi. Aktivitas vulkanik dapat dihadapi melalui kewaspadaan, kepatuhan terhadap rekomendasi, dan pemanfaatan informasi resmi yang tersedia.


Fakta Cepat Status Gunung Api di Indonesia (per 6 September 2026)

LevelStatusJumlah
INormal42 gunung
IIWaspada22 gunung
IIISiaga5 gunung
IVAwas0 gunung

Sumber: MAGMA Indonesia/PVMBG


Tips Saat Terjadi Hujan Abu

  1. Gunakan masker N95, KN95, atau FFP2 dan kacamata pelindung
  2. Tutup pintu, jendela, dan ventilasi, sumbat celah dengan kain lembab
  3. Lindungi sumber air dan makanan dari kontaminasi abu
  4. Kurangi penggunaan kendaraan saat abu turun
  5. Patuhi rekomendasi dan batas aman yang ditetapkan PVMBG
  6. Cek informasi resmi melalui MAGMA Indonesia atau kanal PVMBG

Tujuh Gunung Api Erupsi Hampir Bersamaan, Pakar ITS: Bukan Efek Domino, Ini Penjelasannya

Surabaya, 7 September 2026 – Akhir pekan lalu, aktivitas vulkanik di Indonesia terbilang cukup ramai. Tercatat, tujuh gunung api di berbagai wilayah mengalami erupsi dalam kurun waktu yang berdekatan. Fenomena ini tentu menyita perhatian dan memicu berbagai pertanyaan di masyarakat. Namun, tenang saja, para ahli telah memberikan penjelasan yang menenangkan sekaligus mendidik.

Rentetan erupsi ini dimulai dari Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda pada Jumat (4/9) malam. Menyusul kemudian, aktivitas serupa terjadi di Gunung Ibu dan Dukono di Maluku Utara, Gunung Ili Lewotolok dan Lewotobi Laki-Laki di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gunung Sinabung di Sumatera Utara, serta Gunung Semeru di Jawa Timur.

Kemunculan beberapa gunung api secara bersamaan kerap menimbulkan anggapan di publik bahwa ini adalah fenomena ‘efek domino’, di mana satu erupsi memicu erupsi lainnya. Namun, anggapan ini dibantah oleh para ahli.

Bukan Saling Memicu, Ini Alasannya

Ahli Geologi bidang Vulkanologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr. M. Haris Miftakhul Fajar, M.Eng., menegaskan bahwa aktivitas yang terjadi adalah bagian dari dinamika alam yang wajar. “Fenomena meletusnya beberapa gunung api secara bersamaan itu merupakan bagian dari dinamika alam akibat aktivitas tektonik regional,” jelas Haris dalam keterangan resminya.

Menurutnya, setiap gunung api di Indonesia memiliki karakteristik, sistem dapur magma, dan siklus erupsi yang unik dan berbeda satu sama lain. Dengan kata lain, aktivitas satu gunung tidak serta-merta mempengaruhi gunung lainnya karena sistem magmatisme di bawah permukaan pun berbeda.

Untuk memudahkan pemahaman, Haris memberikan beberapa analogi dan penjelasan:

  1. Dapur Magma yang Berbeda: Masing-masing gunung api memiliki “dapur” sendiri. Contohnya, Gunung Semeru dan Anak Krakatau dipengaruhi oleh interaksi Lempeng Asia-Australia, sementara Gunung Ibu memiliki sistem tektonik yang berbeda karena pengaruh double subduction (penunjaman ganda). Gunung Ili Lewotolok pun unik karena berada di dekat batas subduksi yang telah usai, namun menyisakan struktur yang tetap memasok magma.
  2. Anatomi Erupsi: Gunung api bisa dianalogikan seperti botol soda tertutup yang berisi cairan bersoda. Di dalam perut bumi, terdapat ruangan berongga besar seperti spons yang menampung batuan cair atau magma. Magma ini mengandung gas dan uap air. “Semakin tinggi tekanan gasnya, maka saat jalurnya terbuka akan memicu erupsi terjadi,” terang Haris.
  3. Penyebab Lain: Selain tekanan dari dalam, erupsi juga bisa dipicu oleh faktor eksternal, seperti guncangan gempa bumi tektonik yang cukup besar dan lokasinya berdekatan dengan gunung api.

Pentingnya Mitigasi dan Pemantauan

Dr. Haris juga mengajak masyarakat untuk tidak panik, melainkan lebih cerdas dalam memahami informasi. Ia menekankan pentingnya mengikuti data pemantauan resmi dari aplikasi Magma Indonesia, yang secara aktif memantau aktivitas gunung api di tanah air.

Status gunung api yang terdiri dari empat level—Normal, Waspada, Siaga, dan Awas—harus dipahami sebagai acuan untuk mitigasi, bukan sekadar penanda akan terjadi letusan. “Status gunung api normal, waspada, siaga, hingga awas menjadi acuan mitigasi, bukan sekadar penanda akan terjadi letusan,” tegasnya.

Dengan memahami bahwa aktivitas gunung api adalah proses alam yang wajar dan setiap gunung memiliki karakternya sendiri, masyarakat diharapkan dapat lebih tenang dan waspada, serta mengambil langkah mitigasi yang tepat berdasarkan data dan arahan dari pihak berwenang.

Makanan Beracun Marak di Daratan Tiongkok, Selada Batang Berwarna Kembali Terungkap di Yuzhong, Gansu

Di daratan Tiongkok, kasus makanan beracun terus bermunculan. Setelah sebelumnya terungkap kasus kubis yang diduga menggunakan formaldehida di Hebei, kini Kabupaten Yuzhong, Lanzhou, Provinsi Gansu, kembali terseret dalam kasus “selada batang yang diberi pewarna”. Berikut laporannya.

EtIndonesia.com  Seorang blogger yang membahas edukasi keamanan pangan mengungkapkan bahwa dirinya mengunjungi 13 gudang sayuran di Kabupaten Yuzhong. Di lebih dari separuh gudang tersebut, ia melihat orang-orang menggunakan cairan yang tidak diketahui untuk merendam selada batang.

Di lokasi, blogger tersebut melihat sebuah wadah yang diberi label “bahan tambahan pangan campuran” berisi cairan berwarna hijau apel (apple green). Bahan yang tercantum di dalamnya antara lain Tartrazine (Yellow No. 4), Brilliant Blue (Blue No. 1), dan garam.

Setelah kasus tersebut terungkap, Biro Pertanian Kabupaten Yuzhong dan Biro Pengawasan Pasar menyatakan bahwa dari 53 perusahaan pengumpulan dan penyimpanan sayuran di seluruh wilayah kabupaten, ditemukan 6 perusahaan yang secara ilegal menggunakan pewarna “hijau apel” pada tahap pembelian atau pengumpulan sayuran.

Petugas juga menyita 11,8 ton selada batang di lokasi. Namun, pihak berwenang tidak menjelaskan apakah produk tersebut sebelumnya sudah terlanjur didistribusikan ke wilayah lain.

Mantan pekerja media dari Beijing, yang disebut bermarga Jin, mengatakan kepada NTD bahwa masyarakat Tiongkok selama puluhan tahun telah hidup dalam kondisi seperti ini. Menurutnya, masyarakat sudah terbiasa dengan berbagai persoalan makanan yang tidak aman.


“Selama Zhongnanhai memiliki makanan khusus yang hanya diperuntukkan bagi pejabat, keamanan pangan rakyat biasa tidak akan pernah benar-benar terjamin. Jika makanan khusus itu dihapus dan para pejabat Zhongnanhai hidup seperti masyarakat biasa—ketika membeli bahan makanan mereka juga pergi ke pasar tradisional atau supermarket biasa—pada saat itulah keamanan pangan akan memiliki jaminan,” katanya. 

Menurut Jin, persoalan tersebut disebabkan oleh sistem yang berlaku di Partai Komunis Tiongkok. Para pedagang yang tidak bertanggung jawab mengejar keuntungan, sementara hukuman terhadap pelanggaran semacam itu dinilai terlalu ringan.

“Di dalam negeri, bahkan jika hal seperti ini ketahuan, mereka tampaknya tidak perlu membayar harga yang terlalu mahal. Tidak banyak metode hukuman, dan tingkat hukumannya juga sangat ringan. Karena itulah mereka berani mengambil risiko. Masyarakat saat ini seperti berada dalam sebuah pola ‘saling merugikan’: rakyat saling merugikan satu sama lain, sementara pihak yang berkuasa tidak terpengaruh karena mereka memiliki makanan khusus,” ujarnya. 

Jin juga mengkritik Partai Komunis Tiongkok karena mempromosikan ateisme, menjalankan gerakan “menghancurkan Empat Kebiasaan Lama” (破四舊) dan menghancurkan kuil-kuil, yang menurutnya telah merusak budaya tradisional Tiongkok dan membuat masyarakat kehilangan batasan moral serta spiritual.

“Sekarang, di Tiongkok daratan, seluruh masyarakat seolah-olah sedang memakan makanan beracun. Hal ini juga sangat berkaitan dengan hilangnya keyakinan masyarakat Tiongkok, serta berkaitan erat dengan puluhan tahun pemerintahan Partai Komunis Tiongkok. Manusia telah kehilangan keyakinan, tidak lagi memiliki batas moral, dan tidak memiliki rasa takut atau hormat terhadap sesuatu yang lebih tinggi. Demi mendapatkan keuntungan, seseorang bisa melakukan apa saja,” katanya. 

Jin menegaskan bahwa menurut pandangannya, pemerintahan Partai Komunis Tiongkok yang bersifat diktator merupakan akar dari berbagai persoalan tersebut.

“Hilangnya moral dan budaya menyebabkan masyarakat lapisan bawah saling merugikan. Sistem satu partai menciptakan kelompok istimewa yang memiliki akses terhadap makanan khusus. Itulah sebabnya tidak ada yang benar-benar peduli dengan apa yang dimakan masyarakat biasa. Hanya dengan menghapus sistem pemerintahan satu partai, masalah keamanan pangan dapat diselesaikan secara menyeluruh,” ujarnya. 

Reporter NTD: Zhang Zhongyuan dan Gao Yu.

Setelah Banjir di Putian, Fujian, Tiongkok, Rumah-Rumah Terus Ambruk 

EtIndonesia.com Topan Saudel telah tiga kali melakukan pendaratan dan menyebabkan berbagai wilayah di Zhejiang dan Fujian terdampak bencana. Di banyak daerah pedesaan di Putian, Fujian, rumah-rumah tua terus ambruk setelah terendam banjir. Warga mengatakan ada orang yang tewas atau hilang, tetapi pihak berwenang diduga menutup-nutupi informasi tersebut.

Akibat pendaratan kembali Topan Saudel, pada 3 hingga 4 September 2026, Kota Putian, Fujian, dilanda hujan lebat ekstrem. Sejumlah waduk melakukan pelepasan air dalam jumlah besar, menyebabkan banjir meluas di berbagai wilayah kota. Banyak rumah tua di pedesaan ambruk secara beruntun.

Meskipun air banjir kini mulai surut, desa-desa dan permukiman masih porak-poranda, sampah berserakan di mana-mana dan bau busuk menyengat. Sejumlah warga juga masih dinyatakan hilang.

“Banyak sekali rumah yang ambruk. Air memang sudah surut, tetapi rumah-rumah sudah menyerap air dan terus berjatuhan. Ada seorang lansia yang terjebak selama lebih dari 10 hingga 20 jam sebelum akhirnya diselamatkan. Ada juga orang yang hilang. Sebagian tertimbun reruntuhan rumah yang roboh, sebagian terseret banjir. Ada juga yang masuk ke garasi dengan mobil, tetapi mobilnya tidak sempat keluar dan mereka tewas tenggelam,” ujar Chen, warga Kota Huating, Distrik Chengxiang, Putian. 

Pada 4 hingga 5 September, warga terus melihat dan mendengar suara rumah-rumah yang ambruk, membuat mereka hidup dalam ketakutan.

Warga mengungkapkan bahwa sebagian besar rumah yang roboh adalah rumah tua yang dibangun sejak lama dengan struktur tanah liat, bata, atau campuran tanah dan bata. Biasanya rumah-rumah tersebut dihuni oleh lansia atau disewakan kepada pekerja migran. Sebagian kecil bangunan yang ambruk merupakan rumah yang dibangun sendiri oleh warga, dengan ketinggian antara lantai dua hingga lantai lima.

“(Bunyi keras!) Dengarnya? Rumah ambruk lagi. Itu suara rumah tanah yang roboh. Rumah tetangga di seberang juga mengkhawatirkan karena bangunan-bangunan ini sudah berusia puluhan tahun,” kata Li, warga Kota Baitang, Distrik Hanjiang, Putian. 

“Di dekat Danau Baitang, ada sebuah rumah empat lantai yang ambruk. Itu bukan rumah tanah. Rumah saya hanya dua lantai, lantai pertamanya hampir seluruhnya terendam. Rumah kami sudah berusia lebih dari 30 tahun. Setelah terendam seperti ini, rumah tersebut sudah termasuk bangunan berbahaya,” jelasnya. 

Sungai Mulan, yang dikenal sebagai “sungai induk” Kota Putian, juga menyebabkan dampak parah terhadap desa-desa di sepanjang alirannya. Rumah-rumah tua berbahan tanah di sejumlah desa, termasuk Xizhu dan Xinjiao di kawasan Gongchen, hampir seluruhnya ambruk. Kerugian harta benda yang dialami warga setempat sangat besar.

“Di beberapa tempat di Desa Xizhu, kedalaman air mencapai lebih dari 2 meter, bahkan 3 meter. Banyak rumah yang ambruk. Semua gudang terendam dan banyak mobil juga terendam. Saya keluar dari sana dengan menggunakan perahu karet. Perahu karet itu harus masuk kembali untuk menyelamatkan orang,” ujar Yang, warga kawasan Gongchen, Distrik Licheng, Putian. 

Warga mengatakan bahwa ketika waduk melepaskan air, masyarakat tidak diberi pemberitahuan tepat waktu untuk melakukan evakuasi. Kini, bantuan penyelamatan juga dinilai masih kurang.

Warga mengaku mengalami pemadaman listrik dan terputusnya pasokan air, bahkan ada yang harus menahan lapar selama dua hari.

Setelah banjir, banyak warga kehilangan hampir seluruh harta benda mereka dan tidak memiliki uang untuk membangun kembali rumah.

Lin, warga Kota Xindu, Distrik Licheng, Putian: “Banyak sekali rumah yang ambruk. Rumah-rumah yang sudah berusia lebih dari 100 tahun pada dasarnya hampir semuanya roboh. Banyak mobil juga terendam. Di desa kami, air tidak terlalu dalam, pada dasarnya mencapai sekitar setengah lantai. Airnya sangat kotor. Sungai sudah meluap penuh.”

Reporter NTD: Xiong Bin dan Bai Ni

Operasi “F1212” Partai Komunis Tiongkok di Guangzhou, Tiongkok Terungkap, 15 Praktisi Falun Gong Lansia Ditangkap 

EtIndonesia.com  Situs Minghui.org pada 5 September mengungkap apa yang disebut sebagai “Proyek F1212” yang dijalankan oleh Biro Keamanan Publik Distrik Baiyun, Guangzhou. Dalam kasus ini, 15 praktisi Falun Gong yang berusia di atas 60 tahun ditangkap. Saat ini, 12 orang telah dipindahkan ke Kejaksaan Distrik Liwan.

Salah satu dari mereka adalah Wan Mengying, seorang praktisi Falun Gong berusia 74 tahun yang tinggal di Distrik Baiyun, Guangzhou.

Pada 20 April, ketika Wan Mengying dan suaminya, Wei Yingxin, sedang bepergian ke luar rumah, mereka ditangkap oleh Lin Guotai, dari unit keamanan nasional Biro Keamanan Publik Distrik Baiyun, bersama lebih dari 10 polisi dari Kantor Polisi Tonghe.

Polisi merampas kunci yang mereka bawa, kemudian masuk secara paksa ke rumah mereka dan menyita komputer, printer, buku-buku Falun Gong, serta barang-barang pribadi lainnya.

Pada hari itu, Wan Mengying ditahan di Pusat Penahanan Distrik Baiyun, sementara Wei Yingxin dibebaskan dengan status yang disebut “jaminan sambil menunggu penyelidikan/persidangan”.

Penangkapan tersebut tidak hanya menargetkan pasangan Wan Mengying dan Wei Yingxin. Pada hari yang sama, unit keamanan nasional Biro Keamanan Publik Distrik Baiyun bekerja sama dengan sejumlah kantor polisi untuk melakukan operasi penangkapan serentak terhadap 15 praktisi Falun Gong yang semuanya berusia di atas 60 tahun. Operasi tersebut diberi kode “F1212”.

Dari para praktisi Falun Gong yang ditangkap, tiga orang telah dibebaskan, lima orang dikenai status “jaminan sambil menunggu penyelidikan/persidangan”, sementara tujuh orang ditahan di pusat penahanan.

Pada akhir Agustus, 12 praktisi Falun Gong, termasuk Wan Mengying, Xu Runmei, dan Xie Kunxiang, dipindahkan ke Kejaksaan Distrik Liwan.

“Bukti” versi aparat yang dikumpulkan oleh polisi antara lain tuduhan bahwa para praktisi tersebut menjelaskan kepada masyarakat tentang Falun Gong dan apa yang mereka sebut sebagai fakta mengenai penganiayaan terhadap Falun Gong, membuat materi informasi, serta membuat atau menggunakan uang kertas yang memuat informasi tentang Falun Gong.

Bahkan interaksi normal di antara sesama praktisi Falun Gong disebut polisi sebagai tindakan yang dianggap “merusak pelaksanaan hukum”.

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual tradisional yang memadukan latihan gerakan lembut dan meditasi dengan ajaran tentang peningkatan moral. Diperkenalkan oleh Master Li Hongzhi pada 13 Mei 1992, Falun Gong berlandaskan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.

Praktik ini diberikan secara gratis di seluruh dunia. Sejak 1992, Falun Gong telah menyebar ke lebih dari 100 negara dan wilayah, sementara buku utamanya, Zhuan Falun, telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa. Falun Gong juga telah menerima puluhan ribu penghargaan dan proklamasi dari berbagai pihak di seluruh dunia.

Pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) saat itu, Jiang Zemin, melancarkan kampanye penganiayaan untuk memberantas praktik tersebut pada Juli 1999. Ia memandang popularitas Falun Gong di Tiongkok sebagai ancaman terhadap kekuasaan rezim. 

Para hukum yang tinggal di Amerika Serikat, Li Yuqing, mengatakan bahwa tindakan-tindakan tersebut pada dasarnya termasuk dalam ruang lingkup normal kebebasan berbicara dan kebebasan berkeyakinan warga negara.

“Konstitusi menetapkan adanya kebebasan berkeyakinan, dan selain itu ada kebebasan berbicara. Ketika seseorang menyampaikan fakta mengenai suatu masalah, atau hanya menyampaikan suatu pandangan maupun fakta, Anda justru menganggapnya sebagai tindakan ‘merusak pelaksanaan hukum’,” ujarnya. 

“Padahal itu sebenarnya merupakan bagian dari kebebasan berbicara. Ketika kebebasan berkeyakinan dan kebebasan berbicara diberi label seperti itu, pihak yang sebenarnya merusak pelaksanaan hukum justru adalah kelompok aparat keamanan publik, kejaksaan dan pengadilan, bahkan orang-orang dari Kantor 610 tersebut,” katanya. 

Banyak praktisi Falun Gong yang ditangkap dalam proyek “F1212” sebelumnya juga pernah mengalami penganiayaan.

Contohnya, Xie Kunxiang, yang berusia 73 tahun, sebelumnya merupakan pegawai Kantor Polisi Xingang di Distrik Haizhu. Pada 2001, ia dihukum secara ilegal selama 1,5 tahun di kamp kerja paksa karena membagikan materi informasi. Pada 2005, ia dijatuhi hukuman 3 tahun 6 bulan penjara, dan pada 2015 kembali dijatuhi hukuman 4 tahun penjara.

Li Yuqing mengatakan bahwa selama bertahun-tahun, pihak berwenang terus menggunakan Pasal 300 KUHP Tiongkok untuk menjerat praktisi Falun Gong, tetapi menurutnya dasar tersebut secara logika hukum tidak dapat dipertahankan.

“Di Tiongkok daratan, dalam kasus Falun Gong, sebenarnya keputusan tidak sepenuhnya berada di tangan aparat keamanan publik, kejaksaan, dan pengadilan. Ada Kantor 610 dan Komite Urusan Politik dan Hukum yang menentukan hukuman bagi mereka, sedangkan aparat keamanan, kejaksaan, dan pengadilan hanya menjalankan apa yang disebut sebagai formalitas,” katanya. 

“Dulu saya berbicara dengan para hakim mengenai hal ini. Mereka mengatakan bahwa keputusan juga bukan berada di tangan mereka. Mereka hanya menjalankan putusan sesuai perintah. Kasus seperti ini disebut sebagai kasus politik dan pada dasarnya merupakan bentuk penganiayaan politik murni,” tambahnya. 

Saat ini, Wan Mengying telah ditahan secara ilegal selama hampir dua bulan.

Menurut laporan tersebut, selama berada di pusat penahanan, ia mengalami kondisi yang disebut sebagai penganiayaan. Ia sempat mengalami gejala hipertensi tingkat dua, sering tidak mendapatkan makanan yang cukup, tubuhnya menjadi sangat kurus, dan antara Juni hingga Juli ia dilaporkan pingsan sebanyak empat kali.

Namun, permohonan pengacaranya agar ia mendapatkan status “jaminan sambil menunggu penyelidikan/persidangan” ditolak.

Komentator isu terkini yang tinggal di Amerika Serikat, Zheng Haochang, mengatakan bahwa Tiongkok memiliki tradisi yang sangat kuat dalam menghormati orang lanjut usia. Selain itu, kondisi kesehatan banyak lansia sebenarnya tidak memenuhi persyaratan untuk ditahan.

Menurutnya, dahulu polisi di tingkat akar rumput masih memiliki sejumlah kekhawatiran ketika menangani orang lanjut usia, tetapi sekarang penangkapan dilakukan secara massal.

Zheng Haochang, komentator isu terkini yang tinggal di AS: “Ini menunjukkan bahwa kebijakan penganiayaan Partai Komunis Tiongkok sedang berubah. Mereka semakin tidak mengenal batas dalam memperlakukan orang lanjut usia. Coba pikirkan, setiap orang memiliki orang tua. Jika orang tua orang lain yang berusia 70 atau 80 tahun Anda masukkan ke penjara, dan seandainya lansia tersebut adalah orang tua Anda sendiri, bagaimana perasaan Anda?

“Tentu saja, dari sudut pandang lain, hal ini juga menunjukkan bahwa rezim Partai Komunis Tiongkok sekarang semakin lemah dan semakin merasa terancam dari segala arah. Bahkan terhadap pria dan wanita lansia berusia 70 atau 80 tahun pun mereka merasa begitu takut.”

Penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong lanjut usia dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Tiongkok.

Situs Minghui pada 6 September melaporkan bahwa pada April tahun ini, Cao Ping, seorang praktisi Falun Gong berusia 74 tahun, meninggal dunia setelah mengalami penganiayaan di Penjara Wanita Shaanxi.

Ia dijatuhi hukuman berat selama delapan tahun penjara karena keyakinannya dan kemudian kehilangan penglihatannya pada kedua mata. Namun, seluruh permohonan agar ia mendapatkan perawatan di luar penjara atau dibebaskan dengan alasan medis dilaporkan ditolak oleh pihak penjara.

Editor: Shang Yan/Yi Ru/Zhong Yuan

Kabut Asap di Malaysia Kembali ke Tingkat “Berbahaya”, Dokter Sarankan Memakai Masker 

Kabut asap terus menyelimuti Malaysia. Status darurat kabut asap di Serian, Sarawak, baru dicabut kurang dari sehari, tetapi indeks polusi udara Selasa (8 September) kembali masuk kategori “berbahaya”. Dokter menyarankan masyarakat memakai masker saat berada di luar ruangan. Di daerah dengan tingkat polusi tinggi, masyarakat dapat mempertimbangkan penggunaan masker N95 untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap saluran pernapasan.

EtIndonesia.com  Dokter praktik di Kuching, Sarawak, Malaysia Timur, Wong Kai Siong, dalam wawancara dengan Central News Agency (CNA) pada Selasa  8 September mengatakan bahwa selama periode kabut asap parah, keluhan yang paling sering ditemui pasien di klinik adalah infeksi saluran pernapasan atas dan gejala alergi, termasuk batuk dan tenggorokan gatal. Sebagian pasien juga mengalami ketidaknyamanan pada mata, kulit gatal, atau reaksi alergi lainnya.

Ia mengatakan bahwa saat ini pemerintah setempat belum mewajibkan masyarakat memakai masker, tetapi menyarankan dan mendorong masyarakat untuk memakainya ketika berada di luar ruangan. Untuk daerah dengan kabut asap yang lebih parah, seperti Serian dan Kuching, masyarakat dapat mempertimbangkan penggunaan masker N95. Namun, permintaan masker belakangan ini meningkat tajam sehingga pasokan harus didatangkan dari wilayah lain di Sarawak.

Foto udara memperlihatkan kawasan hutan di Serian, Divisi Kuching, Sarawak, Malaysia, yang diselimuti kabut asap tebal pada 5 September 2026. (Mohd Rasfan / AFP via Getty Images)

Indeks polusi udara Serian sempat melonjak hingga 519

Menurut sistem pengelolaan Indeks Polusi Udara (APIMS) milik Departemen Lingkungan Hidup Malaysia (DOE), indeks polusi udara (API) antara 201 hingga 300 dikategorikan sebagai “sangat tidak sehat”, sedangkan angka di atas 300 masuk kategori “berbahaya”.

Pada 4 September, indeks polusi udara di Serian sempat melonjak hingga 519, membuat hampir seluruh kota diselimuti kabut asap. Menghadapi memburuknya kondisi kabut asap, Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim pada hari itu menyetujui penetapan Serian dalam status darurat kabut asap.

Seiring dengan sempat membaiknya kualitas udara setempat, Yang di-Pertuan Agong pada hari berikutnya menyetujui pencabutan status darurat tersebut. Namun, kurang dari sehari setelah status itu dicabut, indeks polusi udara di Serian kembali meningkat menjadi 303 pada pukul 06.00 pagi, sehingga kembali masuk tingkat “berbahaya”. Pada pukul 09.00 pagi, indeks masih berada di angka 302. Hingga siang hari, indeks sedikit turun menjadi 282, tetapi masih berada dalam kategori “sangat tidak sehat”.

)Sebuah pemandangan dari udara memperlihatkan kabut asap tebal menyelimuti jalan utama di kota Serian, Divisi Kuching, Sarawak, Kalimantan, pada 5 September 2026. (Mohd Rasfan / AFP via Getty Images)

Kabut asap terus menyelimuti berbagai wilayah, jarak pandang menurun

Kabut asap belakangan ini terus menyelimuti berbagai wilayah di Malaysia. Di sejumlah daerah, jarak pandang menurun secara signifikan dan kualitas udara memburuk.

Menteri Pendidikan Malaysia Fadhlina Sidek mengatakan bahwa jika orang tua khawatir terhadap dampak kabut asap terhadap anak-anak, mereka dapat memilih untuk sementara tidak mengirim anak ke sekolah, tetapi harus terlebih dahulu memberitahukan pihak sekolah.

Departemen Lingkungan Hidup Malaysia menyarankan agar sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak ditutup apabila indeks polusi udara melebihi 200. Instansi terkait juga harus terus memantau indeks polusi udara sehingga dapat segera mengambil langkah lebih lanjut apabila kondisi polusi memburuk.

Setelah Melahirkan Bayi Perempuan, Wanita Ini Terkejut Mengetahui Masih Ada Janin di Dalam Rahim dan Kemudian Melahirkan Bayi Laki-Laki 

Baru-baru ini, seorang wanita di Tiongkok daratan melahirkan seorang bayi perempuan. Namun, setelah itu diketahui bahwa masih ada janin lain di dalam rahimnya. Ia kemudian berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki.

EtIndonesia.com  Menurut laporan media daratan Tiongkok, pada 4 September, seorang ibu yang sebelumnya pernah melahirkan dibawa ke Rumah Sakit Pingshan Shenzhen, Universitas Kedokteran Selatan, karena sudah memasuki tahap persalinan secara darurat.

Saat menjalani pemeriksaan ketika masuk rumah sakit, pembukaan serviks sang ibu sudah mencapai 9 sentimeter. Proses persalinan berlangsung sangat cepat dan kepala bayi sudah hampir keluar.

Pada pukul 09.40, ia berhasil melahirkan seorang bayi perempuan.

Hanya lima menit kemudian, saat bidan melakukan pemeriksaan sebelum plasenta keluar, ditemukan adanya sesuatu yang tidak normal.

Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, diketahui bahwa sang ibu ternyata mengalami kehamilan kembar tersembunyi yang sangat langka dan masih terdapat satu janin di dalam rahim.

Saat itu, bayi kedua berada dalam posisi sungsang dengan kaki sebagai bagian yang keluar terlebih dahulu, sehingga terdapat risiko bayi tersangkut saat persalinan.

Menurut laporan, sang ibu dan keluarganya sebelumnya sama sekali tidak mengetahui bahwa ia mengandung bayi kembar. Selama seluruh masa kehamilan, ia tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan maupun pemeriksaan USG. Karena itu, tidak ada rencana persalinan ataupun penilaian risiko sebelumnya.

Pada pukul 10.19, tenaga medis melakukan tindakan persalinan dengan bantuan ekstraksi bokong (persalinan sungsang) di bawah anestesi umum. Sang ibu akhirnya berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki.

Banyak warganet menyampaikan ucapan selamat dan berharap ibu serta kedua bayinya berada dalam kondisi sehat. Namun, mereka juga mengaku tidak memahami mengapa wanita tersebut tidak pernah menjalani pemeriksaan kehamilan.

Beberapa komentar warganet antara lain:

“Anak laki-laki ini benar-benar punya keberuntungan besar.”

“Berani sekali. Sekarang masih ada orang yang sama sekali tidak melakukan pemeriksaan kehamilan?”

“Sudah tahun 2026, masih ada yang sama sekali tidak memeriksakan kehamilan? Biaya pemeriksaan juga tidak terlalu mahal.”

“Ada orang yang sejak awal merasa pemeriksaan kehamilan hanya membuang-buang uang, sehingga sama sekali tidak pergi ke rumah sakit.”

Ada pula yang berkomentar:

“Ternyata masih ada orang yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan. Kalau ternyata janinnya mengalami kelainan atau masalah lainnya bagaimana? Pemeriksaan tetap sangat diperlukan.”

“Kalau hamil, harus melakukan pemeriksaan kehamilan!”

Warganet lain yang pernah mengalami kehamilan kembar juga mengungkapkan keheranan:

“Saya pernah hamil kembar, dan pada tahap akhir kehamilan rasanya sangat berat. Dia juga sudah pernah melahirkan sebelumnya, apakah dia tidak merasa ada sesuatu yang berbeda? Kenapa tidak pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan apa yang terjadi? Benar-benar berani sekali.”

“Ya Tuhan! Sama sekali tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan? Itu sama saja mempertaruhkan nyawa. Semoga tidak ada ibu hamil lain yang meniru tindakannya.”

Monster Air Muncul Lagi? Makhluk Misterius Sepanjang 7 Meter Terlihat di Loch Ness, Inggris 

Legenda Monster Loch Ness merupakan salah satu misteri yang paling sulit terpecahkan di dunia dan kerap menarik wisatawan untuk datang mencarinya. Pada Agustus lalu, seorang wisatawan asal Eropa mengaku melihat makhluk misterius sepanjang 7 meter di dalam danau. Penampakan tersebut berlangsung sekitar 15 menit dan kembali menarik perhatian publik.

Menurut data tahun 2026 yang dipublikasikan oleh situs resmi pencatatan penampakan Monster Loch Ness, hingga kini telah diterima 13 laporan penampakan pada tahun ini. Dua laporan terbaru terjadi pada 5 dan 6 Agustus.

EtIndonesia.com Pada 6 Agustus, wisatawan asal Barcelona, Spanyol, Joslyn Boyes, bersama keluarganya sedang melihat Loch Ness dari sebuah titik pengamatan di Kastel Urquhart. Di permukaan air, sekitar setengah mil dari tepi danau, ia melihat sebuah benda berbentuk gundukan berwarna gelap, hampir hitam, muncul ke permukaan. Ia merekam video selama sekitar 13 detik.

Pada 5 Agustus pukul 20.50, wisatawan asal Malta, Norbert Kawka, mengatakan bahwa saat itu cuaca berkabut dan sedikit gerimis, tanpa angin, sementara permukaan danau tenang.

Ia mengaku melihat makhluk yang panjangnya setidaknya 7 meter bergerak melawan arus. Makhluk tersebut sesekali muncul ke permukaan dan bentuk tubuhnya menyerupai belut raksasa. Penampakan tersebut berlangsung sekitar 15 menit.

Pada malam 5 Agustus 2026, wisatawan Eropa Norbert Kawka mengaku melihat makhluk misterius sepanjang sedikitnya 7 meter di dalam danau. (Sumber: situs resmi pencatatan penampakan Monster Loch Ness)

Pada 27 Juli pukul 10.46, pasangan John dan Jamie Wallace dari Renfrewshire, Skotlandia, Inggris, berhasil memotret bayangan aneh di dalam air. Namun, tidak terlihat apa pun di permukaan danau.

Pada 23 Juli pukul 11.30, seorang anak perempuan berusia 9 tahun bernama Crystal datang berwisata bersama keluarganya dari Australia. Ketika berada di dek bawah sebuah kapal wisata di danau, ia mengambil sebuah foto yang menurutnya memperlihatkan kepala suatu makhluk di dalam air.

Pada sekitar 21 Juli pukul 15.30, wisatawan Australia bernama Oscar Gray mengatakan bahwa ketika berdiri di tepi Danau Loch Ness dekat Kastel Urquhart, ia melihat sebuah kepala datar berwarna hijau tua muncul dari air yang berada cukup jauh dari tepi.

Di belakang kepala tersebut kemudian muncul dua tonjolan lain dengan warna serupa, yang menurutnya kemungkinan merupakan tubuh makhluk tersebut.

Kemudian, sekitar 500 meter di belakang tonjolan tersebut, ia melihat riak air dan gelombang putih yang cukup besar. Ia menduga itu merupakan ekor makhluk tersebut yang bergerak di dalam air.

Setelah ekornya beberapa kali mengaduk air di belakang kepala, makhluk itu kemudian kembali berenang ke bawah permukaan.

Menurut laporan Glasgow Live, selain laporan penampakan dari wisatawan, pekerja berpengalaman di kawasan Loch Ness juga pernah menangkap sinyal yang diduga berkaitan dengan Monster Loch Ness menggunakan peralatan pendeteksi.

Seorang pekerja bernama Shaun Sloggie, yang telah bekerja di Loch Ness selama 11 tahun, mengingat bahwa pada Mei tahun ini ia menggunakan sistem sonar dua frekuensi untuk melakukan pemindaian di kedalaman sekitar 300 kaki atau 91,44 meter.

Ia mendeteksi sinyal kuat dan dapat dengan jelas menangkap keberadaan suatu objek di perairan dalam.

Sloggie menganalisis bahwa gema berbentuk lengkung yang ditampilkan sonar menunjukkan bahwa objek tersebut mengandung udara di dalam tubuhnya. Menurutnya, hal itu berarti target tersebut kemungkinan besar merupakan makhluk hidup.

Ia mengatakan bentuk yang terlihat melalui sonar tersebut sangat mirip dengan gambaran Monster Loch Ness dan memiliki kemiripan dengan makhluk air berukuran besar seperti plesiosaurus, reptil laut purba berleher panjang.

Serangkaian laporan penampakan terbaru ini kembali memicu antusiasme untuk mencari Monster Loch Ness.

Saat ini, ratusan sukarelawan telah mendaftarkan diri untuk mengikuti operasi pencarian berskala besar. Mereka ditempatkan di ratusan titik pengamatan di sekitar danau untuk terus memantau permukaan air, dengan harapan dapat melihat langsung sosok monster legendaris tersebut.

Menurut laporan The Star, penjelajah Loch Ness Rob Brown mengatakan bahwa meskipun mereka sangat ingin melihat Monster Loch Ness, mereka tidak ingin terlalu mengganggu makhluk tersebut.

Sumber : NTDTV.com

Basarnas Lampung Kerahkan Dua RIB Cari Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

EtIndonesia.com — Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Lampung mengerahkan dua unit Rigid Inflatable Boat (RIB) untuk mendukung operasi pencarian delapan orang yang berada di dalam kapal speed boat yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Dukungan tersebut dilakukan setelah Basarnas Lampung menerima Rencana Operasi SAR (Renops) H.2 dari Basarnas Banten pada Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 00.33 WIB. Permohonan tersebut berkaitan dengan dukungan personel dan alat utama SAR untuk memperkuat operasi pencarian.

Pada pukul 07.00 WIB, Kantor Pencarian dan Pertolongan Lampung mengerahkan RIB 02 dengan tujuh personel serta RIB 03 dengan 10 personel. Kedua RIB bergerak menuju lokasi pencarian untuk melakukan penyisiran sesuai search area yang telah ditetapkan dalam Renops SAR H.2.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Lampung Deden Ridwansah mengatakan, pengerahan dua RIB tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap pelaksanaan operasi SAR di wilayah Banten. Menurutnya, seluruh unsur yang diberangkatkan telah dipersiapkan untuk melaksanakan pencarian secara terkoordinasi sesuai sektor yang telah ditentukan.

“Kami mengerahkan dua unit RIB beserta personel untuk mendukung operasi SAR di wilayah Selat Sunda. Tim akan melaksanakan pencarian sesuai search area yang telah ditetapkan dan berkoordinasi dengan seluruh unsur SAR gabungan di lapangan. Kami berharap upaya pencarian ini dapat segera menemukan kedelapan korban,” ujar Deden.

Ia menambahkan, kondisi di lapangan akan terus menjadi perhatian tim dalam menentukan pola pencarian. Personel diminta tetap mengutamakan keselamatan selama melaksanakan operasi, mengingat pencarian dilakukan di wilayah perairan dengan cakupan area yang cukup luas.

Delapan orang yang masih berstatus dalam pencarian terdiri atas Warta, 55 tahun, selaku kapten kapal; Surakman, 60 tahun, ABK; Heriyanto, 49 tahun, guide; serta lima jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis freelance.

Operasi pencarian melibatkan sejumlah unsur gabungan dari Lampung, di antaranya personel Pos SAR Bakauheni, kru KN SAR Basudewa, Lanal Lampung, Polairud, Mabes Polairud, Ditpolairud Polda Lampung, Kesbangpol Provinsi Lampung, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan, BPBD Lampung, serta ITERA.

Selain dua RIB, unsur pendukung yang digunakan dalam operasi ini meliputi KRI Lepu, satu paket alat pelindung diri (APD), serta berbagai peralatan pendukung lainnya. Seluruh unsur bergerak dengan mengacu pada rencana operasi dan sektor pencarian yang telah ditetapkan tim SAR gabungan.

Hingga Rabu (9/9/2026), kedelapan korban masih berstatus dalam pencarian (DP). Tim SAR gabungan terus melakukan penyisiran di area yang telah ditentukan guna menemukan keberadaan speed boat dan seluruh penumpangnya.

Kantor Basarnas Lampung memastikan dukungan operasi akan terus dilakukan secara terkoordinasi bersama unsur SAR gabungan. Upaya pencarian akan dioptimalkan dengan mengerahkan personel dan alat utama SAR yang tersedia, dengan tetap mengedepankan keselamatan seluruh petugas di lapangan. (***)

Israel Bersiap Perang Total! Netanyahu Sebut Rezim Iran Goyah dan Kejatuhannya Semakin Dekat

EtIndonesia.com Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan bahwa pemerintahannya semakin dekat dengan salah satu sasaran paling ambisius Israel: berakhirnya pemerintahan Republik Islam Iran.

Pernyataan keras tersebut disampaikan Netanyahu pada Minggu, 6 September 2026, dalam pertemuan pemerintah menjelang perayaan Rosh Hashanah. Dalam kesempatan itu, Netanyahu mengatakan bahwa menurut penilaiannya, pemerintahan Iran kini berada dalam kondisi yang semakin rapuh dan bahwa “akhir” pemerintahan tersebut semakin dekat.

Netanyahu bahkan menggambarkan kemungkinan perubahan pemerintahan di Teheran sebagai sebuah peristiwa yang dapat mengubah masa depan Timur Tengah.

Pernyataan tersebut bukan muncul secara tiba-tiba.

Hanya beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada Kamis, 3 September 2026, Netanyahu telah menyampaikan pesan serupa ketika berbicara di hadapan Forum Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel atau IDF.

Dalam pertemuan tersebut, Netanyahu menyebut upaya menjatuhkan pemerintahan Iran sebagai salah satu “misi utama” yang masih berada di depan Israel. Ia menilai pemerintahan di Teheran sedang goyah, berada dalam posisi yang lebih lemah dibandingkan sebelumnya, dan sedang berjuang mempertahankan kelangsungan kekuasaannya.

Netanyahu bahkan mengatakan bahwa tujuan tersebut kini berada “dalam jangkauan.”

Pernyataan itu menunjukkan adanya perubahan penting dalam retorika Israel terhadap Iran. Sebelumnya, tujuan operasi militer Israel dan Amerika Serikat lebih banyak dijelaskan sebagai upaya melemahkan kemampuan nuklir, rudal balistik, serta infrastruktur militer Iran. Kini Netanyahu secara terbuka memasukkan masa depan pemerintahan Iran ke dalam pembicaraan mengenai tujuan strategis Israel.

Namun, menggulingkan sebuah pemerintahan melalui tekanan militer merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar menghancurkan fasilitas militer.

Karena itu, pernyataan Netanyahu juga dapat dibaca sebagai bagian dari strategi tekanan psikologis terhadap elite politik Iran, terutama ketika Teheran menghadapi tekanan ekonomi, militer, dan keamanan secara bersamaan.

Netanyahu juga memberikan peringatan keras agar Iran tidak melakukan serangan besar terhadap wilayah Israel. Pesan Israel dalam beberapa hari terakhir semakin jelas: apabila Teheran meningkatkan eskalasi secara langsung, Israel siap membalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

Situasi tersebut menjadi semakin serius karena konflik Amerika Serikat-Iran masih berlangsung dan aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz terus menjadi salah satu pusat ketegangan kawasan. Laporan terbaru juga menunjukkan Iran masih memiliki kemampuan melakukan serangan rudal dan drone terhadap sasaran Amerika Serikat maupun negara-negara di kawasan.

Israel Menggelar Latihan Perang Multi-Front

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Israel tidak hanya mengeluarkan ancaman melalui pernyataan politik.

Pada Minggu pagi, 6 September 2026, IDF memulai latihan kesiapan nasional secara mendadak yang diberi nama “Breaking Dawn 2.0.”

Latihan tersebut diperintahkan oleh Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir untuk menguji kemampuan militer Israel menghadapi sebuah serangan mendadak, kompleks, dan berskala besar yang berlangsung secara serentak di berbagai front.

Dalam latihan itu, para komandan dari berbagai komando regional, direktorat, dan cabang militer dipanggil secara mendadak. Pasukan siaga diaktifkan, kesiapan pasukan cadangan diperiksa, sementara pusat komando harus menghadapi simulasi perkembangan perang yang berubah dengan cepat.

Dengan kata lain, Israel sedang menguji apakah struktur militernya mampu bereaksi apabila suatu hari negara tersebut menghadapi serangan serentak dari beberapa arah.

Latihan ini juga membawa pelajaran penting dari serangan 7 Oktober 2023, ketika Hamas melancarkan serangan mendadak dari Jalur Gaza dan menimbulkan kegagalan besar pada sistem peringatan serta respons awal Israel.

Zamir menegaskan bahwa posisi dasar IDF sekarang adalah selalu siap menghadapi kemungkinan serangan mendadak.

Kekhawatiran Israel juga meningkat di Tepi Barat. Pada 7 September 2026, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan bahwa dirinya bersama Netanyahu telah menginstruksikan IDF untuk bersiap menghadapi kemungkinan serangan berskala besar yang menyerupai 7 Oktober apabila terdapat bukti konkret mengenai rencana semacam itu dari unsur-unsur yang berkaitan dengan Otoritas Palestina.

Lebanon Kembali Membara

Pada saat yang hampir bersamaan, front Lebanon kembali mengalami eskalasi.

Pada Senin, 7 September 2026, Israel melancarkan gelombang serangan udara terhadap sejumlah sasaran di Lebanon selatan setelah Hezbollah sebelumnya meluncurkan drone bermuatan bahan peledak ke arah pasukan Israel.

Salah satu serangan paling mematikan terjadi di Kfar Rumman, Lebanon selatan.

Menurut laporan otoritas Lebanon dan kantor berita internasional, sedikitnya 12 orang dilaporkan tewas, termasuk anak-anak dan perempuan. Israel mengatakan serangannya diarahkan terhadap anggota Hezbollah dan aktivitas pemindahan persenjataan, sementara laporan mengenai korban sipil masih menjadi sumber kontroversi.

Karena itu, klaim bahwa “sedikitnya 20 anggota Hezbollah tewas” belum dapat dipastikan berdasarkan laporan kredibel yang tersedia.

IDF menyatakan serangan tersebut merupakan respons terhadap aktivitas Hezbollah. Sejumlah fasilitas yang menurut Israel digunakan sebagai gudang senjata, pusat komando, dan infrastruktur militer turut menjadi sasaran.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat kerangka gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada Juni, perbatasan Israel-Lebanon tetap sangat rapuh.

Setiap serangan drone Hezbollah berpotensi memicu serangan balasan Israel, dan setiap serangan Israel berpotensi mendorong Hezbollah meningkatkan responsnya.

Hubungan Israel-Inggris Memanas

Ketegangan Israel juga merembet ke bidang diplomatik.

Pemerintah Inggris sedang mengambil sikap lebih keras terhadap aktivitas permukiman Israel di wilayah Palestina, termasuk rencana pembatasan perdagangan terhadap barang dan layanan tertentu yang berasal dari permukiman Israel yang dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional.

Langkah London memicu reaksi keras dari Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich.

Pada malam 7 September 2026, Smotrich menyerukan agar Duta Besar Inggris untuk Israel, Simon Walters, segera diusir. Ia menuduh pemerintah Inggris menerapkan tekanan ekonomi terhadap Israel dan menggunakan bahasa yang sangat keras untuk mengecam kebijakan London.

Namun, penting ditegaskan bahwa berdasarkan informasi yang tersedia hingga 8 September 2026, pernyataan tersebut merupakan seruan Smotrich untuk mengusir duta besar Inggris, bukan konfirmasi bahwa pemerintah Israel telah resmi melakukan pengusiran.

Nauru Justru Membuka Kedutaan di Yerusalem

Menariknya, ketika hubungan Israel dengan Inggris semakin tegang, Israel justru memperoleh dukungan diplomatik baru dari Pasifik.

Pada Senin, 7 September 2026, negara kepulauan kecil Nauru secara resmi membuka kedutaan pertamanya di Israel, yang berlokasi di Yerusalem.

Peresmian tersebut dihadiri Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar bersama Wakil Presiden sekaligus Menteri Luar Negeri Nauru Lionel Rouwen Aingimea.

Dengan langkah tersebut, Nauru menjadi negara kesembilan yang menempatkan kedutaannya di Yerusalem.

Keputusan itu memiliki nilai simbolis yang cukup besar karena status Yerusalem masih menjadi salah satu persoalan paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina. Sebagian besar komunitas internasional tidak mengakui kedaulatan Israel atas seluruh Yerusalem, terutama Yerusalem Timur yang direbut Israel pada 1967 dan kemudian dianeksasi—langkah yang tidak diakui oleh sebagian besar dunia.

Dengan demikian, perkembangan sepanjang 6–8 September 2026 memperlihatkan bagaimana Israel sedang bergerak di beberapa arena sekaligus.

Di satu sisi, Netanyahu semakin terbuka berbicara mengenai kemungkinan berakhirnya pemerintahan Iran. Di sisi lain, IDF meningkatkan kesiapan menghadapi perang mendadak di berbagai front, sementara pertempuran dengan Hezbollah di Lebanon kembali meningkat.

Pada saat bersamaan, hubungan diplomatik Israel dengan Inggris memasuki periode penuh ketegangan, sementara Nauru justru mengambil langkah yang memperkuat posisi diplomatik Israel dengan membuka kedutaan di Yerusalem.

Semua perkembangan tersebut memperlihatkan satu kenyataan penting: Timur Tengah sedang memasuki fase yang sangat sensitif.

Jika Iran memutuskan memperluas operasi militernya dan Israel memberikan respons sebagaimana yang telah diperingatkan Netanyahu, konflik yang sekarang tersebar di Iran, Selat Hormuz, Lebanon, dan wilayah Palestina dapat berkembang menjadi konfrontasi regional yang jauh lebih besar.

Dan karena Israel kini secara terbuka membicarakan bukan hanya pelemahan kemampuan militer Iran, tetapi juga masa depan pemerintahan di Teheran, pertarungan antara kedua negara tampaknya telah bergerak menuju tingkat yang jauh lebih menentukan. (***)

Iran Mulai Terjepit! Selat Hormuz Memanas, Harga Bensin Naik 2 Kali Lipat dan Pasukan Dikerahkan

EtIndonesia.com Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat pada Senin, 7 September 2026, ketika Iran memperingatkan Korea Selatan mengenai kemungkinan tindakan balasan apabila Seoul terlibat dalam operasi internasional untuk membantu mengamankan jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz.

Peringatan tersebut muncul ketika semakin banyak negara disebut mempertimbangkan keterlibatan dalam upaya menjaga keamanan pelayaran di kawasan strategis tersebut. Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Korea Selatan disebut telah mempersiapkan dukungan, sementara Kanada dilaporkan mempertimbangkan langkah tambahan yang dapat meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Perkembangan ini membuat Selat Hormuz kembali menjadi salah satu pusat ketegangan paling berbahaya di Timur Tengah. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu memiliki arti sangat penting bagi perdagangan energi dunia karena menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.

Di tengah meningkatnya tekanan dari luar, kondisi politik di dalam Iran sendiri tampaknya tidak sepenuhnya seragam. Menurut laporan The Wall Street Journal, muncul perbedaan pandangan di kalangan elite Iran mengenai bagaimana konflik harus dilanjutkan.

Sebagian pejabat disebut mulai mempertimbangkan cara menghentikan kerugian dan membuka jalan menuju penyelesaian konflik. Namun, kelompok yang lebih keras, terutama yang berhubungan dengan struktur keamanan dan militer, dinilai masih ingin mempertahankan tekanan terhadap lawan.

Perbedaan tersebut menjadi semakin penting karena Iran dalam beberapa hari terakhir masih dikaitkan dengan serangkaian serangan terhadap kapal dan aktivitas militer di sekitar jalur pelayaran Teluk.

Pada 7 September 2026, pejabat keamanan senior Iran juga menyatakan bahwa Teheran berencana kembali menetapkan apa yang disebut sebagai “zona terbatas” di sekitar Selat Hormuz. Ketentuan secara terperinci mengenai kawasan tersebut disebut akan diumumkan dalam beberapa hari berikutnya.

Iran memperingatkan bahwa kapal yang memasuki kawasan tersebut tanpa memperoleh persetujuan dapat menghadapi tindakan pembatasan atau dimasukkan ke dalam daftar sanksi versi Teheran.

Langkah itu berpotensi semakin memperumit situasi karena Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya pada prinsipnya menolak tindakan sepihak yang dianggap dapat menghambat kebebasan navigasi internasional.

Pada saat bersamaan, laporan mengenai aktivitas militer kembali bermunculan dari kawasan tersebut. Sejumlah ledakan disebut terdengar di jalur pelayaran bagian selatan Selat Hormuz.

Media Iran, termasuk Tasnim, melaporkan bahwa pasukan Iran telah menggunakan rudal jelajah antikapal dalam operasi yang diarahkan ke kawasan selat. Laporan dari pihak Iran menyebut serangan itu sebagai bagian dari rangkaian operasi terhadap aset udara dan laut Amerika Serikat.

Namun, klaim mengenai sasaran, jumlah serangan, maupun hasil operasi tersebut perlu diperlakukan secara hati-hati selama belum terdapat konfirmasi independen yang memadai dari pihak lain.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa Washington terlihat tidak selalu langsung memberikan respons militer besar terhadap setiap serangan atau ancaman yang datang dari Iran.

Salah satu penjelasannya adalah bahwa strategi Amerika Serikat tidak hanya bergantung pada kekuatan militer.

Washington juga berusaha meningkatkan tekanan melalui jalur ekonomi, terutama dengan mempersempit kemampuan Iran menjual minyak, melakukan transaksi keuangan internasional, memperoleh valuta asing, serta mempertahankan jaringan perdagangan yang digunakan untuk membiayai negara dan kekuatan militernya.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent pada 7 September menyampaikan penilaian mengenai semakin beratnya tekanan terhadap sektor minyak Iran. Dalam narasi yang beredar, persediaan minyak Iran yang masih dapat digunakan untuk menopang ekspor disebut semakin terbatas.

Tekanan terhadap pendapatan minyak menjadi sangat penting karena ekspor energi merupakan salah satu sumber utama devisa Iran.

Jika kemampuan menjual minyak terus menurun sementara biaya perang dan operasi keamanan meningkat, pemerintah Iran harus menghadapi tekanan fiskal yang semakin berat. Situasi tersebut diperburuk oleh pelemahan nilai mata uang, kenaikan harga barang, dan tekanan inflasi terhadap masyarakat.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah Iran juga menghadapi persoalan sensitif lainnya: harga bahan bakar domestik.

Pemerintah disebut akan memberlakukan perubahan harga bensin mulai Selasa, 8 September 2026. Dalam skema yang dilaporkan, harga bensin untuk kategori konsumsi tingkat ketiga akan dinaikkan dari sekitar 50.000 rial menjadi 100.000 rial per liter, atau meningkat dua kali lipat.

Kebijakan semacam itu memiliki risiko politik yang sangat besar.

Iran memiliki sejarah panjang ketegangan sosial akibat kenaikan harga bahan bakar. Karena itu, menjelang pemberlakuan tarif baru pada tengah malam, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC bersama milisi Basij dilaporkan meningkatkan pengerahan personel keamanan di sejumlah wilayah, termasuk Provinsi Isfahan.

Langkah tersebut disebut sebagai tindakan pencegahan terhadap kemungkinan munculnya demonstrasi maupun kerusuhan.

Kekhawatiran pemerintah bukan tanpa alasan. Jika masyarakat harus menghadapi kenaikan harga bahan bakar ketika inflasi dan tekanan ekonomi sudah tinggi, ketidakpuasan dapat berkembang dengan cepat menjadi persoalan politik.

Seorang pejabat senior Iran bahkan menuding bahwa tekanan ekonomi Amerika Serikat memang dirancang untuk memperbesar ketidakpuasan masyarakat dan pada akhirnya mengguncang stabilitas pemerintahan dari dalam.

Dengan demikian, pertempuran antara Washington dan Teheran tidak lagi hanya berlangsung melalui rudal, drone, kapal perang, dan operasi militer. Pertarungan juga berlangsung melalui minyak, mata uang, perdagangan, pelayaran, dan kemampuan pemerintah Iran mempertahankan kondisi ekonomi domestiknya.

Kombinasi tekanan tersebut diduga menjadi salah satu alasan mengapa sebagian elite Iran mulai membicarakan kemungkinan mencari jalan keluar dari konflik.

Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa kubu militer Iran belum sepenuhnya mengendurkan tekanan.

IRGC masih dikaitkan dengan koordinasi bersama kelompok-kelompok sekutu Iran di kawasan. Salah satu yang paling penting adalah kelompok Houthi di Yaman.

Pada 7 September 2026, laporan mengenai eskalasi baru kembali muncul dari Semenanjung Arab. Houthi disebut melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone terhadap sasaran yang berkaitan dengan infrastruktur energi Arab Saudi, termasuk fasilitas yang dikaitkan dengan Saudi Aramco.

Apabila dikonfirmasi, serangan tersebut menunjukkan bahwa konflik Iran dan lawan-lawannya masih berpotensi meluas melalui jaringan kelompok bersenjata di kawasan.

Namun Houthi sendiri pada saat bersamaan menghadapi tekanan di medan perang Yaman.

Pasukan yang berhadapan dengan Houthi dilaporkan melanjutkan operasi di Provinsi Al-Jawf, Yaman utara, salah satu kawasan yang memiliki arti strategis karena menghubungkan beberapa jalur operasi menuju Marib serta wilayah perbatasan Arab Saudi.

Dalam pertempuran tersebut, pasukan anti-Houthi dilaporkan berhasil menguasai kamp militer Rabatna di Al-Jawf.

Lokasi itu disebut menjadi salah satu titik pertahanan dan konsentrasi logistik Houthi. Setelah posisi tersebut mendapat tekanan, pasukan Houthi dilaporkan mundur dan meninggalkan sejumlah posisi pertahanannya.

Jika penguasaan pangkalan tersebut dapat dipertahankan, perkembangan itu berpotensi mengganggu jalur pergerakan, suplai, dan operasi Houthi di kawasan tersebut.

Situasi pada 7–8 September 2026 dengan demikian memperlihatkan konflik yang bergerak melalui beberapa medan sekaligus.

Di Selat Hormuz, Iran berusaha mempertahankan kemampuan untuk memberikan tekanan terhadap pelayaran internasional. Di bidang ekonomi, Teheran menghadapi tekanan terhadap ekspor minyak, nilai mata uang, inflasi, dan biaya kehidupan masyarakat. Di dalam negeri, pemerintah bersiap menghadapi potensi ketidakpuasan akibat kenaikan harga bahan bakar.

Sementara itu, di tingkat regional, kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran masih berusaha mempertahankan tekanan terhadap negara-negara lawan, tetapi pada saat yang sama mereka juga menghadapi serangan balik di medan perang.

Semua perkembangan tersebut menunjukkan satu persoalan besar bagi kepemimpinan Iran: berapa lama Teheran dapat mempertahankan konfrontasi apabila tekanan militer, ekonomi, dan domestik terus meningkat secara bersamaan?

Jawabannya akan sangat bergantung pada keputusan yang diambil elite Iran dalam beberapa hari mendatang—apakah kelompok yang mendorong jalan keluar politik semakin memperoleh pengaruh, atau kelompok garis keras memilih meningkatkan eskalasi dengan menjadikan Selat Hormuz sebagai kartu tekanan utama.

Yang jelas, Selat Hormuz kini bukan hanya menjadi medan perebutan pengaruh militer. Kawasan tersebut telah berubah menjadi salah satu titik penentu dalam pertarungan yang jauh lebih besar mengenai ekonomi Iran, keamanan energi dunia, dan arah konflik Timur Tengah selanjutnya. (***)

Iran Mulai Terdesak!  Elite Teheran Desak Akhiri Perang, Operasi Rahasia AS di Selat Hormuz Terbongkar

EtIndonesia.com— Tekanan terhadap Iran semakin memasuki fase kritis. Di tengah berlanjutnya konflik dengan Amerika Serikat, muncul tanda-tanda bahwa sebagian elite politik tertinggi di Teheran mulai mempertimbangkan secara serius bagaimana mengakhiri perang sebelum tekanan ekonomi dan militer semakin mempersempit ruang gerak Iran.

Pada Senin, 7 September 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membagikan sebuah laporan The Wall Street Journal melalui akun Truth Social miliknya. Artikel yang dibagikan itu berjudul “Iran’s Top Politicians Urge an End to the War”, yang membahas dorongan sejumlah pemimpin politik Iran untuk mencari jalan keluar dari konflik.

Trump membagikan laporan tersebut tanpa memberikan komentar tambahan. Namun keputusan Presiden AS itu menarik perhatian karena laporan tersebut menggambarkan perdebatan yang semakin terbuka di tingkat tertinggi pemerintahan Iran mengenai masa depan perang.

Tokoh utama yang disebut mendorong pendekatan tersebut adalah Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Keduanya pada dasarnya menilai bahwa Iran perlu mempertimbangkan penyelesaian konflik ketika Teheran masih memiliki sejumlah kartu tawar, daripada menunggu sampai kondisi ekonomi dan posisi strategis negara semakin memburuk.

Pezeshkian sebelumnya mengatakan bahwa perang pada akhirnya harus berakhir. Menurut pandangannya, akan lebih baik bagi Iran mengakhiri konflik ketika negara tersebut masih dapat mengklaim berada dalam posisi kuat dan mempertahankan martabatnya.

Ghalibaf bahkan memberikan peringatan lebih keras mengenai kondisi dalam negeri. Menurutnya, kekuatan militer saja tidak cukup mempertahankan sebuah negara apabila masyarakat mengalami kesulitan, perputaran uang terganggu, pertumbuhan ekonomi melemah, dan produksi nasional tidak berkembang.

Pernyataan seperti itu menjadi penting karena memperlihatkan bahwa perhitungan mengenai perang tidak lagi semata-mata berkaitan dengan rudal, kapal perang, pertahanan udara ataupun kemampuan Iran mengancam jalur pelayaran internasional.

Ekonomi kini menjadi bagian utama dari kalkulasi perang Teheran.

Di lingkungan kepemimpinan Iran sendiri, pendekatan terhadap konflik tampaknya belum sepenuhnya seragam. Sebagian pejabat politik dan pemerintah cenderung melihat diplomasi sebagai jalan yang perlu kembali dibuka. Namun kelompok garis keras, khususnya yang berhubungan dengan struktur keamanan dan militer, dinilai masih lebih siap menghadapi konfrontasi berkepanjangan.

Perbedaan tersebut menciptakan dilema besar bagi Teheran.

Semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula kemungkinan kemampuan tawar Iran terkikis. Dengan kata lain, apabila Teheran memang pada akhirnya harus kembali ke meja perundingan, kesepakatan yang bisa diperoleh beberapa bulan mendatang belum tentu sebaik kesepakatan yang mungkin diperoleh sekarang.

Tekanan itu semakin terasa karena salah satu senjata strategis terbesar Iran, yakni kemampuannya mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, menghadapi tantangan serius.

Selat Hormuz selama puluhan tahun menjadi salah satu kartu strategis terpenting Iran. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut merupakan urat nadi perdagangan energi dunia. Kemampuan Iran mengancam kapal tanker yang melewati kawasan itu secara otomatis memberikan Teheran pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan ukuran ekonominya.

Namun negara-negara Teluk kini semakin serius berusaha mengurangi ketergantungan mereka terhadap jalur tersebut.

Pada 7 September 2026, Uni Emirat Arab menyatakan tengah mengembangkan jalur alternatif bagi perdagangan dan ekspor energinya. Langkah itu mencakup peningkatan kapasitas pelabuhan di sisi timur, jaringan pipa, serta koridor perdagangan alternatif. Penasihat Presiden UEA Anwar Gargash menegaskan bahwa aktivitas energi dan ekonomi negaranya tidak boleh terus menjadi “sandera” konflik regional.

Apabila pembangunan infrastruktur alternatif semacam ini terus diperluas oleh negara-negara Teluk, dalam jangka panjang kemampuan Iran menggunakan Hormuz sebagai alat tekanan politik berpotensi berkurang.

Namun ancaman terbesar terhadap kartu Hormuz Iran bukan hanya datang dari pembangunan jalur alternatif.

Sebuah laporan Financial Times yang diterbitkan pada 6 September 2026 mengungkap operasi berisiko tinggi yang selama beberapa bulan terakhir dilakukan Amerika Serikat untuk membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz.

Menurut laporan tersebut, operasi rahasia itu berlangsung selama sekitar empat bulan dan melibatkan personel khusus Angkatan Laut Amerika Serikat, termasuk Navy SEAL, serta wahana robotik dan kendaraan bawah air.

Operasi tersebut menjadi sangat berbahaya karena militer AS tidak dapat hanya mengandalkan kapal penyapu ranjau konvensional.

Sebagai gantinya, tim-tim kecil dikerahkan untuk bergerak terutama pada malam hari. Mereka menggunakan berbagai sistem untuk mencari ranjau yang diduga ditempatkan di jalur pelayaran strategis.

Dalam beberapa operasi, penyelam harus mendekati ranjau secara langsung di bawah permukaan laut. Setelah sasaran ditemukan, bahan peledak ditempatkan pada ranjau untuk kemudian dihancurkan secara terkendali.

Metode seperti ini memiliki risiko luar biasa tinggi.

Penyelam tidak hanya menghadapi kemungkinan ledakan ranjau. Mereka juga beroperasi di kawasan yang berada dalam jangkauan sistem pengawasan dan persenjataan Iran, sementara operasi berlangsung di tengah konflik aktif.

Financial Times melaporkan bahwa sekitar 80 ranjau diperkirakan telah ditempatkan di jalur-jalur strategis setelah pecahnya konflik pada Februari 2026. Meskipun Trump kemudian mengklaim seluruh ranjau telah dibersihkan, masih terdapat keraguan mengenai sejauh mana Selat Hormuz benar-benar telah terbebas dari ancaman.

Masalahnya, ranjau bukan satu-satunya bahaya.

Kapal-kapal yang melintas masih harus memperhitungkan kemungkinan serangan rudal, drone dan berbagai bentuk gangguan lainnya. Kekhawatiran itu membuat perusahaan pelayaran serta perusahaan asuransi tetap berhati-hati meskipun Amerika Serikat berusaha meyakinkan bahwa keamanan jalur pelayaran telah meningkat.

Dengan demikian, pertempuran di Hormuz kini tidak hanya berlangsung dalam bentuk konfrontasi militer, tetapi juga menjadi perang psikologis dan perang persepsi.

Iran berkepentingan mempertahankan kesan bahwa Teheran masih mampu mengendalikan atau setidaknya mengancam jalur tersebut. Sebaliknya, Washington berkepentingan membuktikan bahwa kemampuan Iran mengganggu perdagangan internasional dapat dilumpuhkan.

Pada saat bersamaan, kondisi ekonomi Iran memberikan tekanan tambahan.

Reuters melaporkan pada 2 September 2026 bahwa blokade laut Amerika Serikat telah menyebabkan penurunan tajam ekspor minyak Iran. Menurut laporan tersebut, ekspor yang sebelumnya berada di sekitar dua juta barel per hari telah merosot menjadi sekitar 240.000 barel per hari.

Jika kondisi itu berlangsung lama, dampaknya bukan hanya terhadap pemasukan pemerintah, tetapi juga terhadap nilai mata uang, inflasi, kemampuan membiayai operasi militer, hingga stabilitas sosial di dalam negeri.

Inilah yang menjelaskan mengapa perdebatan mengenai jalan keluar perang semakin penting di Teheran.

Iran masih memiliki kemampuan militer, masih memiliki pengaruh geografis di Selat Hormuz, dan masih mempunyai kartu yang dapat digunakan dalam negosiasi. Namun pertanyaan bagi kepemimpinan Iran kini bukan sekadar apakah mereka masih mampu bertempur.

Pertanyaan yang jauh lebih menentukan adalah: berapa lama Iran mampu mempertahankan perang tanpa membuat biaya yang harus dibayar negara menjadi lebih besar daripada keuntungan strategis yang ingin dipertahankan?

Karena itu, dorongan Pezeshkian dan Ghalibaf untuk mempertimbangkan penyelesaian konflik dapat dibaca sebagai tanda bahwa sebagian elite Iran melihat adanya batas waktu strategis.

Jika perundingan dilakukan sekarang, Teheran mungkin masih memiliki sesuatu untuk ditawarkan dan dipertukarkan.

Namun apabila perang terus berlanjut sementara ekspor minyak ditekan, jalur alternatif Hormuz semakin berkembang, dan Amerika Serikat terus mengurangi ancaman ranjau serta meningkatkan keamanan pelayaran, posisi tawar tersebut dapat semakin menyusut.

Dengan kata lain, perlombaan yang berlangsung saat ini bukan hanya mengenai siapa yang mampu bertahan lebih lama di medan perang.

Ini juga merupakan perlombaan antara tekanan ekonomi, kekuatan militer, diplomasi, dan waktu.

Dan untuk pertama kalinya dalam fase terbaru konflik ini, perdebatan tentang bagaimana perang harus diakhiri tampaknya telah bergerak semakin dekat ke pusat kekuasaan di Teheran. (***)

Hari Kedua Pencarian, Tim SAR Gabungan Perluas Area Pencarian Speed Boat Hilang Kontak di Selat Sunda

EtIndonesia.com – Memasuki hari kedua operasi pencarian, Tim SAR Gabungan kembali melakukan pencarian terhadap sebuah speed boat yang dilaporkan hilang kontak di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten. Sebanyak delapan orang yang berada di dalam speed boat tersebut masih dalam pencarian.

Operasi SAR hari kedua dimulai pada Rabu (9/9/2026) pukul 07.00 WIB dengan melibatkan sejumlah unsur SAR dan dukungan berbagai sarana serta peralatan pencarian.

Dalam pelaksanaan pencarian hari kedua, Tim SAR Gabungan membagi operasi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) untuk memperluas cakupan area pencarian.

SRU 1 menggunakan KN SAR Tetuka 247 dengan rencana penyisiran sejauh 68,3 nautical mile (NM) dan jarak antarjalur pencarian atau spacing 3 NM. Sementara SRU 2 menggunakan KAL Anyer dengan total jarak penyisiran 69,5 NM dan spacing 3 NM.

Kedua SRU tersebut melakukan pencarian di area perairan yang telah ditentukan berdasarkan perencanaan operasi SAR. Sementara itu, SRU 3 menggunakan RIB 01 Lampung dengan total rencana penyisiran 67 NM dan spacing 1 NM.

SRU 4 menggunakan RIB 02 Banten untuk melakukan penyisiran di sepanjang Pulau Rakata dan Pulau Panjang, yang menjadi salah satu area pencarian berdasarkan hasil evaluasi operasi sebelumnya.

Pencarian melibatkan personel Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, USS Pandeglang, Kantor Pencarian dan Pertolongan Lampung, serta unsur TNI-Polri, pemerintah daerah, Balawista, nelayan, masyarakat, dan unsur terkait lainnya.

Sejumlah sarana turut dikerahkan dalam operasi ini, di antaranya KN SAR Tetuka 247, KAL Anyer, KP Sanjaya, RIB 02 Banten, RIB 02 Lampung, RIB 03 Lampung, rescue car, truk personel, drone thermal, serta berbagai peralatan SAR air, medis, komunikasi, dan peralatan pendukung lainnya.

Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri dari Warta (55), selaku kapten kapal; Surakman (60), ABK; Heriyanto (49), guide; serta lima orang jurnalis, yaitu M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis freelance.

Kondisi cuaca di lokasi pencarian dilaporkan cerah berawan, dengan angin bertiup dari arah selatan ke utara berkecepatan sekitar 14 knot dan tinggi gelombang berkisar antara 0,4 hingga 1 meter.

Tim SAR Gabungan akan terus melakukan pencarian dengan mengoptimalkan seluruh unsur, sarana, dan peralatan yang tersedia. Pencarian juga akan dievaluasi secara berkala dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, arus, serta perkembangan informasi di lapangan.

Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten mengimbau masyarakat, nelayan, dan pengguna jasa transportasi laut untuk turut memberikan informasi apabila menemukan tanda-tanda keberadaan speed boat maupun delapan orang yang masih dalam pencarian. (***)

12 Kali Dihantam! Kapal Rusia Terbakar di Mediterania, Diduga Angkut Senjata dari Iran

EtIndonesia.com  Jangkauan perang Rusia-Ukraina kembali menunjukkan tanda-tanda meluas jauh melampaui kawasan pertempuran tradisional. Setelah selama ini serangan jarak jauh banyak diarahkan terhadap kilang minyak, depot bahan bakar, pangkalan udara, serta fasilitas industri pertahanan di wilayah Rusia, kini sebuah insiden di Laut Mediterania memunculkan pertanyaan baru mengenai keamanan jalur transportasi maritim Moskow.

Pada 6 September 2026, kapal kargo Ro-Ro berbendera Rusia Lady Mariia, yang juga dikenal dengan nama sebelumnya Stella-Maria, dilaporkan menjadi sasaran serangan drone ketika berlayar di kawasan Mediterania tengah, di wilayah laut yang secara luas digambarkan berada antara Pulau Kreta dan Libya.

Kapal dengan nomor IMO 9220641 tersebut bukan kapal biasa. Lady Mariia telah masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat dan Ukraina karena keterkaitannya dengan jaringan pelayaran Rusia. Kapal tersebut juga dikaitkan oleh intelijen militer Ukraina dengan pengangkutan perlengkapan militer untuk kepentingan Rusia.

Sebelum insiden terjadi, data pelacakan kapal menunjukkan Lady Mariia telah meninggalkan Pelabuhan Oran di Aljazair dan bergerak ke arah timur melintasi Laut Mediterania. Sejumlah laporan menyebut kapal tersebut kemungkinan menuju Suriah.

Drone Menjatuhkan Munisi ke Atas Kapal

Rekaman yang beredar setelah kejadian memperlihatkan sesuatu yang tidak biasa.

Alih-alih menggunakan drone laut untuk menabrak lambung kapal, seperti yang pernah terlihat dalam berbagai operasi di Laut Hitam, serangan terhadap Lady Mariia dilaporkan melibatkan drone udara yang menjatuhkan munisi langsung ke bagian atas kapal.

Sejumlah ledakan terlihat terjadi di area dek dan sekitar cerobong kapal. Setelah beberapa hantaman, api tampak muncul di salah satu bagian kapal.

Laporan mengenai jumlah serangan masih berbeda-beda. Perusahaan keamanan maritim Ambrey, sebagaimana dikutip sejumlah media, menyebut sedikitnya delapan hantaman terlihat dalam rekaman. Sementara itu, jurnalis oposisi Rusia Alexander Nevzorov mengklaim kapal tersebut menerima hingga 12 hantaman langsung.

Klaim 12 hantaman itu hingga kini belum memperoleh konfirmasi independen.

Nevzorov juga mengklaim drone yang digunakan dalam operasi tersebut diterbangkan dari wilayah Libya. Jika informasi itu benar, serangan tersebut tentu memiliki implikasi sangat besar karena berarti pelakunya mampu menjalankan operasi terhadap kapal Rusia dari kawasan yang sangat jauh dari wilayah Ukraina.

Namun, sekali lagi, asal drone tersebut belum dapat dipastikan secara independen.

Misteri Muatan Lady Mariia

Pertanyaan berikutnya adalah: apa sebenarnya yang sedang dibawa kapal tersebut?

Sejumlah laporan yang beredar mengklaim Lady Mariia membawa persenjataan, perlengkapan militer, dan bahkan kendaraan lapis baja yang dikaitkan dengan Iran.

Akan tetapi, informasi mengenai muatan kapal pada saat serangan belum terverifikasi secara independen.

Yang lebih jelas adalah riwayat Lady Mariia sendiri. Kapal tersebut telah dikaitkan dengan aktivitas pengangkutan barang untuk kepentingan Rusia dan sebelumnya dilaporkan beroperasi pada jalur yang menghubungkan Rusia dengan Suriah, termasuk rute Novorossiysk–Tartus.

Karena itu, status kapal sebagai objek yang terkena sanksi membuat insiden tersebut langsung menarik perhatian komunitas keamanan maritim internasional.

Hingga laporan ini disusun pada 8 September 2026, belum terdapat konfirmasi resmi yang dapat memastikan bahwa Ukraina bertanggung jawab atas serangan tersebut. Moskow maupun Kyiv juga belum memberikan penjelasan lengkap mengenai siapa yang mengoperasikan drone.

Belum ada pula laporan terkonfirmasi mengenai korban jiwa. Tingkat kerusakan kapal juga masih belum sepenuhnya diketahui.

Mediterania Menjadi Medan Baru?

Justru di sinilah insiden Lady Mariia menjadi sangat penting.

Selama bertahun-tahun, pusat konfrontasi maritim Rusia-Ukraina berada di Laut Hitam. Ukraina menggunakan rudal antikapal, drone laut, drone udara, serta berbagai operasi khusus untuk menekan Armada Laut Hitam Rusia dan fasilitas pendukungnya.

Namun perang maritim itu secara perlahan mulai bergerak keluar.

Pada Desember 2025, Dinas Keamanan Ukraina atau SBU bahkan mengaku melakukan operasi terhadap sebuah tanker yang dikaitkan dengan apa yang disebut sebagai “armada bayangan” Rusia di perairan Mediterania.

Karena itu, serangan terhadap Lady Mariia—apabila nantinya terbukti melibatkan Ukraina—akan menjadi bagian dari pola yang jauh lebih besar: upaya membawa tekanan terhadap jaringan logistik Rusia ke perairan yang sebelumnya relatif jauh dari medan perang Ukraina.

Implikasinya tidak kecil.

Bagi Rusia, jalur pelayaran di Mediterania memiliki nilai strategis karena menghubungkan berbagai kepentingan Moskow di Eropa, Laut Hitam, Suriah, Afrika Utara, dan kawasan lainnya.

Jika kapal-kapal yang terkait dengan jaringan logistik Rusia mulai menghadapi ancaman bahkan di Mediterania, maka persoalannya bukan lagi sekadar kehilangan satu kapal atau satu muatan.

Moskow harus mempertimbangkan biaya keamanan, perlindungan pelayaran, asuransi, perubahan rute, hingga risiko terhadap rantai logistiknya secara keseluruhan.

Jarak Aman Semakin Sulit Ditentukan

Perkembangan perang selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa konsep “wilayah belakang” semakin kehilangan maknanya.

Drone jarak jauh Ukraina telah membuat fasilitas yang berada ratusan bahkan lebih dari seribu kilometer dari garis depan harus menghadapi risiko serangan. Infrastruktur energi, pangkalan militer, radar, gudang amunisi dan fasilitas industri Rusia yang sebelumnya dianggap berada jauh dari perang kini harus memperhitungkan ancaman udara.

Di laut, logika yang sama tampaknya mulai muncul.

Laut Hitam tidak lagi menjadi satu-satunya kawasan yang harus diperhitungkan. Operasi dan serangan yang dikaitkan dengan konflik Rusia-Ukraina telah menjangkau kawasan yang semakin jauh dari garis depan.

Karena itu, kasus Lady Mariia memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar rekaman sebuah kapal yang dihantam drone.

Jika pada akhirnya keterlibatan Ukraina dapat dikonfirmasi, serangan 6 September 2026 tersebut akan menunjukkan perubahan penting dalam karakter perang: Kyiv bukan hanya berusaha menghancurkan kemampuan tempur Rusia di garis depan, tetapi juga menekan jaringan yang menopang mesin perang Moskow di mana pun jaringan tersebut dapat dijangkau.

Dari Laut Hitam menuju perairan yang semakin jauh, batas geografis konflik perlahan menjadi semakin kabur.

Dan bagi Rusia, pesan strategis yang muncul dari perkembangan tersebut cukup serius: jarak dari Ukraina tidak lagi secara otomatis menjamin keamanan aset yang dianggap berkontribusi terhadap operasi militernya. (***)