Misteri yang Belum Terpecahkan : Bangsa yang Menghilang dari Peradaban

Fu Yao

Mengenai kasus penduduk yang menghilang misterius dalam jumlah besar pada 900 tahun silam, dimana jutaan orang mendadak menghilang dari muka bumi dalam waktu singkat, tidak ada yang mengetahui kemana mereka pergi. Mereka itulah bangsa Khitan yang pernah menguasai Tiongkok Utara selama 200 tahun.

Benarkah Khitan Adalah Tiongkok?!

“Khitan” dalam bahasa Khitan bermakna besi Damaskus atau pedang/golok. Dari nama ini bisa dipastikan bahwa bangsa ini adalah pemberani dan jago berperang. Memang demikianlah halnya, pada masa itu pasukan kavaleri berbaju zirah Dinasti Liao (907 – 1125) yang dibentuk oleh etnis Khitan jarang ada yang mampu menandingi dimanapun mereka berada. Dengan cepat bangsa ini telah mendirikan kerajaan yang tersohor ke seluruh penjuru, dan wilayahnya sangat luas, ke timur sampai ke Laut Jepang, ke barat sampai ke Pegunungan Altai di Kazakhstan, ke utara sampai Da Hinggan Ling dan sungai perbatasan Tiongkok-Rusia kini, Sungai Reka Argun, ke selatan hingga mencapai Sungai Baigou di selatan Provinsi Hebei. Bahkan negara-negara di Asia Barat dan Eropa pada masa itu pun hanya tahu ada Khitan, tapi tidak mengetahui keberadaan Dinasti Song.

Sampai sekarang tidak sedikit negara yang menyebut Tiongkok adalah Khitan. Misalnya seperti dalam bahasa Rusia menyebut Tiongkok dengan sebutan “Китай” (dibaca: Kitai), orang Spanyol menyebut Tiongkok “Catay”, sementara orang Iran di Asia Barat menyebut Tiongkok dengan sebutan “Katay”. Bahkan dalam bahasa Inggris juga terdapat istilah kuno “Cathay” dalam menyebut Tiongkok. Maskapai penerbangan terbesar Hong Kong bernama “Cathay Pacific”, yang jika diterjemahkan maknanya adalah “Tiongkok Pasifik”.

Namun pasukan kavaleri Khitan sesampainya di bawah Tembok Raksasa tak bisa bergerak maju lagi, pada akhirnya tidak bisa menyatukan Tiongkok seperti orang Mongol. Mengapa? Karena di masa itu ada para jenderal keluarga (marga) Yang yang gagah berani dan mahir berperang.

Jenderal Yang Tak Terkalahkan

Jenderal Yang Ye telah puluhan tahun berurusan dengan pasukan Khitan di perbatasan, di mana pun Jenderal Yang berada musuh selalu dikalahkannya, kemudian muncullah julukan baginya yakni “jenderal yang tak terkalahkan”. Sayangnya dia dicelakakan (dikhianati) oleh teman seperjuangannya sendiri yakni Pan Mei, sehingga dirinya tertangkap oleh pasukan Khitan. Bangsa Khitan sangat menghargai orang-orang yang hebat, mereka berusaha membujuk sang jenderal agar mau mengabdi bagi Khitan, dan membantu mereka menyatukan seantero negara, Jenderal Yang juga bakal menjadi terpandang. Sayangnya Yang Ye tidak mau bekerjasama, setelah tiga hari mogok makan akhirnya sang jenderal meninggal dunia.

Walaupun sangat menyayangkannya namun bangsa Khitan pun agak kegirangan, setelah batu sandungan besar ini tersingkir, invasi ke wilayah selatan tidak ada masalah lagi. Penyatuan seluruh Tiongkok akan segera terwujud. Sayangnya yang tidak mereka duga, seorang yang lebih hebat daripada Yang Ye telah muncul, ia adalah putra sulung Yang Ye yang bernama Yang Yanzhao.

Bicara soal Yang Yanzhao, ia memiliki nama alias lain yang mungkin lebih dikenal luas, yaitu Yang Liulang (arti harfiah: putra keenam keluarga Yang, red.). Tetapi walaupun putra sulung, seharusnya ia dipanggil si Sulung Yang, tetapi mengapa disebut Liulang? Sebutan ini ada asal usulnya. Menurut catatan sejarah “Song Shi (Sejarah Song)”, sebutan Liulang diberikan oleh bangsa Khitan. Yang Yanzhao selalu mampu mengalahkan bangsa Khitan sampai takluk berkali-kali. Bangsa Khitan sangat menghormati ksatria, sehingga memujinya sebagai titisan Dewa Jiang Xing (Bintang Jenderal). Mereka menyebut Dewa Jiang Xing dengan sebutan Liulang Xing (Bintang Putra ke 6), maka Yang Yanzhao disebut juga Yang Liulang.

Yang Liulang selalu penuh dengan taktik dalam berperang, banyak akal, dan sering mengalahkan lawan yang banyak dengan sedikit pasukan, sangat mirip dengan Dewa Perang Han Xin. Dalam Perang Suicheng Yangshan (4 November 1001 hingga 16 November 1001) yang terkenal itu, Yang Liulang menjaga benteng seorang diri, ditambah dengan seluruh warga kota yang mengikutinya, total hanya ada tiga ribu orang. Sementara seratus ribu serdadu Dinasti Liao berikut persenjataan lengkap yang dipimpin oleh Ratu Xiao Yanyan berbaris di depannya, sementara bala bantuan di belakangnya tak kunjung tiba, bagaimana pun pasti kalah. Akan tetapi di tengah keputus-asaan itu Yang Liulang mendapat suatu ide brilian.

Waktu itu bertepatan dengan masa di musim dingin yang paling menusuk tulang, tetesan air pun langsung membeku menjadi es. Ia meminta pasukan dan warga kota ramai-ramai menyiram air di sepanjang tembok kota sepanjang malam. Keesokan harinya tembok di seluruh benteng kota itu telah membeku menjadi tembok es, seluruh tembok menjadi licin. Bangsa Khitan pun bingung. Bagaimana memanjat naik ke benteng? Dengan pasukan lebih banyak pun tidak akan bisa menaiki tembok kota. Akhirnya Khitan memutar hendak menyerang Taizhou di dekatnya. Namun begitu mereka menarik pasukan, Yang Liulang langsung menghubungi jenderal di dua benteng lain yang terdekat, dan memutuskan membuka gerbang kota menyerbu keluar bersamaan, menyerang musuh dari belakang. Akibatnya pasukan Liao kalah telak, korban berjatuhan, baju zirah dan panji mereka berserakan hingga sejauh ratusan li.

Enam Belas Wilayah Yanyun

Setelah beberapa kali pertempuran seperti ini, ambisi bangsa Khitan menguasai Tiongkok pun surut, kemudian ditandatangani “Perjanjian Chanyuan” dengan Dinasti Song Utara, dan kedua negara pun bersahabat, serta mengangkat persaudaraan. Dinasti Song sebagai kakak, Dinasti Liao sebagai adik. Yang menjadi kakak seharusnya setiap tahun memberikan uang jajan kepada sang adik, dan sang adik pun tidak akan mengganggu kakak di selatan. Tetapi uang jajan ini bukan angka yang kecil, Liao meminta seratus ribu tael perak, dan dua ratus ribu potong kain sutra. Akan tetapi sebagai dinasti yang paling lemah sekaligus juga paling kaya dalam sejarah Tiongkok, Dinasti Song Utara telah menyanggupinya.

Itulah perdamaian yang diraih hingga beberapa abad kemudian. Sayangnya sepanjang drama kolosal 5000 tahun sejarah Tiongkok selalu disertai dengan gejolak dan jatuh bangun, permukaan air yang terlihat tenang acap kali bergejolak di dalamnya. Bangsa Jurchen di timur diam-diam mulai bangkit, dan mendirikan kerajaan, yang disebut juga Jin Raya (dibaca: cin raya atau Dinasti Kin, 1115-1234, red.).

Bangsa Jurchen datang kepada Dinasti Song Utara untuk berunding, mengatakan Dinasti Liao keterlaluan, karena sudah menindas Dinasti Song, dan selain memaksa Dinasti Song membayar upeti, di sisi lain juga menindas kaum wanita di Jurchen. Maka bangsa Jurchen mengajak Dinasti Song untuk bersatu menumpas Khitan. Imbalannya Dinasti Song dapat menguasai kembali enam belas wilayah Yanyun yang dulunya direbut oleh mereka, dan bangsa Jurchen hanya meminta jatah upeti Khitan diberikan kepada mereka. Bicara soal enam belas wilayah Yanyun itu, juga ada cerita di baliknya.

Enam belas wilayah Yanyun di zaman sekarangi ini adalah: Beijing dan Tianjin serta Provinsi Hebei utara, juga sebagian wilayah Provinsi Shanxi utara, medannya tinggi, sehingga mudah bertahan dan sulit diserang, merupakan garis perbatasan alami antara bangsa nomaden di utara dengan warga petani di selatan, juga merupakan wilayah strategis penting yang diperebutkan antara dinasti di Tiongkok dengan bangsa nomaden di utara.

Enam belas wilayah Yanyun awalnya dikuasai oleh Dinasti Tang. Setelah Dinasti Tang runtuh, Tiongkok memasuki era Lima Dinasti dan Sepuluh Negara (907-960 Masehi). Kaisar Shi Jingtang dari Dinasti Jin Akhir demi mendapatkan dukungan dari bangsa Khitan, mengikhlaskan semua wilayah tersebut kepada Kaisar Liao yakni Yelu Deguang. Kaisar Liao sangat senang, dan mengatakan ini adalah hadiah dari Tuhan kepadanya. Sejak saat itu bangsa Khitan mulai hidup bercampur dengan bangsa Han (etnis mayoritas di Tiongkok. Red.), hal ini juga yang menjadi dasar punahnya bangsa ini, mengenai hal ini berikutnya akan dijelaskan lebih lanjut.

Begitu mendengar dapat mengambil alih enam belas wilayah Yanyun tersebut Dinasti Song merasa transaksi ini menguntungkan, karena mengambil kembali wilayah tersebut selalu menjadi impian Dinasti Song. Tetapi awalnya rencana mereka adalah menebusnya dengan uang, untuk itu Kaisar Dinasti Song bahkan khusus membangun sebuah gudang emas mini yang disebut “Feng Zhuang Ku”.

Begitulah kedua pihak mencapai kesepakatan, dan dibuatlah “perjanjian”, kedua pihak menyerang menjepit Dinasti Liao secara berbarengan. Dengan cepat pada tahun kedua, Liao telah kehilangan setengah wilayahnya, dan setahun kemudian, kaisar terakhir Dinasti Liao yakni Kaisar Tianzuo (Yelu Yanxi) memulai pelariannya, tiga tahun kemudian berhasil ditangkap oleh Dinasti Kin, maka hancurlah Dinasti Liao. Setelah kerajaannya musnah, sejumlah keluarga kerajaan Liao yang tersisa mendirikan Liao Barat di Xinjiang (Uighur). Dan Liao Barat sempat berekspansi hingga mencapai Persia, serta menjadi negara kuat di Asia Tengah, tapi mereka hanya bertahan sekitar 80 tahun sebelum akhirnya dimusnahkan oleh kavaleri Mongol. Sejak saat itu bangsa Khitan pun menghilang dari sejarah.

Bagaimana dengan Dinasti Song Utara? Bukankah Dinasti Song Utara telah mengikat janji persaudaraan dengan Dinasti Liao? Dua tahun setelah Liao dimusnahkan, Song Utara juga hancur di tangan Jin Raya. Walaupun kemudian muncul Dinasti Song Selatan, tapi enam belas wilayah Yanyun kemudian direbut kembali oleh Jin Raya, dan setiap tahun upeti yang dibayar terus bertambah. Bisa dibilang sia-sia belaka, bagai mimpi di siang bolong.

Jutaan Orang Menghilang Bersamaan?!

Sementara itu Bangsa Khitan bernasib lebih tragis lagi. Kehancuran suatu dinasti semestinya adalah hal lumrah, tapi sebagai suatu kerajaan besar yang menguasai Tiongkok utara mencapai 200 tahun lamanya, saat baru didirikan, Kerajaan Liao yang berpenduduk 2 juta orang, pada masa kejayaannya bahkan mencapai 9 juta orang. Akan tetapi pada saat Dinasti Liao dari Bangsa Khitan itu runtuh, populasi yang cukup besar itu lenyap tak berbekas, dalam buku sejarah pun tidak ditemukan jejak mereka, hal ini sungguh aneh.

Seperti diketahui, setelah kehancuran Imperium Mongol bangsa Mongol masih hidup di padang rumput leluhur mereka, setelah Dinasti Qing (dibaca: ching) runtuh bangsa Manchu masih eksis. Akan tetapi setelah Liao runtuh, bangsa Khitan tidak lagi eksis, dalam 56 suku yang ada di TIongkok sekarang tidak ada bangsa Khitan. Dimanakah mereka berada? Ada sebagian kecil di antaranya telah mengungsi ke Liao Barat, akhirnya berasimilasi dengan bangsa di Asia Barat. Ada juga bangsawan yang mengubah marganya setelah takluk pada Dinasti Kin, di antaranya mayoritas bermarga “Liu” (劉). Ada juga yang menyerah pada bangsa Mongol, salah satu contohnya adalah Yelu Chucai yang pernah menjadi penasihat Jengis Khan, dan kemudian menjadi perdana menteri Dinasti Yuan. Tetapi ini pun hanya segelintir orang saja, terutama dari kalangan bangsawan dari populasi Khitan, lantas, dimana populasi jutaan rakyatnya?

Faktanya terkait menghilangnya bangsa Khitan dalam sekejap, selama ini selalu menjadi misteri tak terpecahkan di kalangan ilmu sejarah. Jika mereka tidak lenyap, melainkan tetap eksis dengan metode tertentu, lalu dimanakah keturunan mereka berada?

DNA Membuktikan Keturunan Bangsa Khitan Adalah…

Terkait pertanyaan ini, di internet beredar tiga versi jawaban yang berbeda.

Jawaban pertama adalah mereka kembali ke kampung halamannya di timur laut Tiongkok, dan menjadi suku Dauria (Tanah Daurian). Ada akademisi yang telah membandingkan kebiasaan hidup, agama kepercayaan, dan bahasa orang Khitan dengan suku Dauria, hasilnya suku Dauria ini dinilai mewarisi paling banyak tradisi orang Khitan. Misalnya, orang Khitan memiliki tradisi saling menyiramkan air untuk meminta hujan, di suku Dauria juga ada kebiasaan ini. Bangsa Khitan sangat mengunggulkan warna hitam, dan berlutut untuk memberikan penghormatan, demikian pula suku Dauria. Bangsa Khitan sangat menyukai olahraga polo, yang pada masa itu disebut “Dakyu”, suku Dauria juga acap kali mengadakan pertandingan Dakyu, dan pria wanita tua muda akan ikut berpartisipasi.

Namun melulu kemiripan kebiasaan tertentu belum dapat benar-benar menjelaskan pertanyaan ini. Untuk benar-benar memecahkan misteri ini, para pakar mengeluarkan jurus pamungkas, yakni pemeriksaan DNA. Setelah 1922, dari sejumlah tempat di Mongolia Dalam telah digali sejumlah makam kuno bangsa Khitan. Dari specimen gigi dan tulang di dalam makam kuno tersebut para pakar berhasil mengumpulkan mitokondria DNA, lalu mencocokkannya dengan DNA suku Dauria, hasil yang diperoleh menyimpulkan, keduanya memiliki hubungan genetik yang paling mirip, suku Dauria adalah keturunan langsung dari bangsa Khitan.

Identifikasi DNA yang sama juga dilakukan terhadap suku “Benren” dari Yunnan. Inilah jawaban versi kedua tentang keturunan bangsa Khitan.

Konon pada akhir abad ke-12, sekelompok bangsa Khitan mengikuti pasukan Mongolia datang ke Yunnan di selatan Tiongkok, kemudian menjadi kekuatan utama bagi Dinasti Yuan dalam menguasai kawasan Yunnan, sejumlah orang Khitan bahkan menjadi pejabat daerah setempat. Kemudian setelah Dinasti Yuan menyatukan seluruh daratan Tiongkok, perang pun usai, para prajurit itu beralih profesi, dan menetap di Yunnan. Lalu pada masa Dinasti Ming dan Qing diberlakukan kebijakan “menghapus jabatan pejabat daerah dan menggantikannya dengan pejabat utusan dari kerajaan”, sistem pejabat daerah yang sudah turun temurun itu dicabut, orang Khitan sangat tidak puas, sejak saat itu mereka mengubah marga dan nama serta mengasingkan diri di pedalaman hutan. Mereka menyebut dirinya “Benren”, sekarang populasi mereka masih ada sekitar 150.000 orang. Jika pembaca berasal dari Yunnan, dan bermarga “A” (阿), atau bermarga “Mang” (莽), atau bermarga “Jiang” (蔣), maka ada kemungkinan Anda adalah keturunan bangsa Khitan.

Namun jumlah populasi kedua suku ini tidak banyak, dan tidak mampu menjelaskan misteri menghilangnya jutaan orang bangsa Khitan. Maka muncullah jawaban versi ketiga, yang mengatakan bangsa Khitan mungkin telah berasimilasi dengan bangsa Han setempat. Hal ini dapat dilihat dari sejarah Khitan.

Terkait asal usul bangsa Khitan, terdapat dua macam penjelasan dalam kitab sejarah “Liao Shi”. Penjelasan pertama mengatakan mereka adalah keturunan dewa. Ada seorang dewa datang ke Sungai Futu di Gunung Mayu, melihat seorang bidadari mengendarai kereta sapi dari hutan cemara menyusuri Sungai Kuning, dan keduanya bertemu di pertemuan aliran kedua sungai. Setelah itu saling jatuh hati dan menjadi suami istri, lalu melahirkan 8 orang anak laki-laki, merekalah leluhur pada delapan perkampungan bangsa Khitan.

Ada semacam penjelasan lain yang lebih sederhana, yang mengatakan mereka adalah “keturunan dari Kaisar Yan Dinasti Liao”. Jika menggabungkan keduanya, bangsa Khitan beranggapan mereka adalah keturunan dewa, sama seperti bangsa Han, juga merupakan keturunan leluhur Tiongkok. Faktanya Dinasti Liao selalu menyebut kerajaannya “Dinasti Utara”, sedangkan Dinasti Song di selatan mereka sebut sebagai “Dinasti Selatan”, apa maknanya? Yaitu mereka sendiri merasa bahwa merekalah bangsa Tiongkok yang ada di utara, bukan bangsa asing, dan juga berhak berkompetisi di Dataran Tengah Tiongkok.

Setelah memperoleh enam belas wilayah Yanyun, mereka sangat menjunjung budaya Han. Kaisar Dinasti Liao yakni Yelu Degung sendiri adalah pengikut setia ajaran Konfusius. Tapi kebudayaannya sendiri tidak boleh sampai hilang, lalu bagaimana? 

Ia lantas memikirkan suatu cara, menerapkan “sistem birokrasi utara-selatan”, dan pada buku sejarah disebut “mencakup Tiongkok, birokrasi dibagi utara dan selatan”.

Pejabat dibagi menjadi dua kelompok yakni pejabat utara dan pejabat selatan. Pejabat utara adalah pejabat Dinasti Liao, menangani bangsa Khitan. Pejabat selatan disebut juga pejabat Han, menangani bangsa Han dengan sistem pemerintahan Han. Pejabat utara dibentuk berdasarkan sistem yang sudah ada pada bangsa Khitan. Pejabat selatan dibentuk meniru sistem Dinasti Tang, semua jabatan ada sesuai dengan sistem.

Jadi ada sejarawan yang mengatakan, “Kerajaan Khitan sesungguhnya meliputi dua negara, yang satu dibentuk dari bangsa Khitan dan suku di luar suku Han, dan dikuasai sendiri oleh Kaisar Liao; dan yang satu lagi dibentuk dari bangsa Han, yang dikuasai oleh pejabat yang ditunjuk oleh Dinasti Liao.” (buku “Penelitian Sejarah Liao: Lima Bab Penelitian Empat Generasi Liao” karya Fu Lehuan)

Dengan begitu, kebudayaan Han mendapat perlindungan yang sangat baik di enam belas wilayah Yanyun, dan bangsa Khitan juga dapat hidup damai dengan bangsa Han. Ditambah lagi di Dinasti Liao mulai dari rajanya sampai rakyatnya sangat menyanjung kebudayaan Han, jadi setelah Dinasti Liao dimusnahkan, agar terhindar dari kejaran, rakyat mereka pun menyamar menjadi bangsa Han.

Ditambah lagi dalam kebudayaan Khitan sendiri, hanya bangsawan yang memiliki marga. Seluruh kerajaan hanya memiliki dua marga: keluarga raja bermarga Yelu, dan keluarga ratu bermarga Xiao (蕭, dibaca: siao, red.). Selain itu, semua rakyat hanya memiliki nama, tidak memiliki marga, hal ini menimbulkan kesulitan untuk menelusuri garis keturunan mereka setelah berasimilasi dengan bangsa Han, hal itu telah menyebabkan bangsa Khitan seolah telah menghilang dalam semalam. (sud/whs)

Semenanjung Korea, Pertikaian Kakak Beradik yang dapat Menyengsarakan Seluruh Dunia

Pinnacle View

Konflik dunia berkepanjangan, dimana-mana terjadi titik panas, dan yang mengkhawatirkan adalah banyaknya titik panas di kawasan Asia, terutama di kawasan Asia Timur. Selama dua tahun terakhir, Korea Utara berulang kali melakukan uji coba rudal dan roket, dengan harapan mampu menembakkan senjata nuklir terbatas yang telah mereka kembangkan ke tempat yang semakin jauh, semua aksi ini telah membuat situasi di Asia Timur menjadi semakin tegang. 

Pada awal tahun ini Kim Jong-Un, pemimpin Korut (Korea Utara) telah memerintahkan untuk mengubah konstitusi Korut, dan menghapus pasal reunifikasi damai dengan Korsel (Korea Selatan), serta memerintahkan seluruh pasukannya agar bersiap untuk perang. Maka, akankah meletus lagi perang di Semenanjung Korea? Sejak berhentinya Perang Korea selama lebih dari setengah abad (tepatnya 71 tahun), apakah sebenarnya yang terjadi antara Korut dan Korsel? Pergulatan apakah yang dimainkan oleh negara-negara besar di belakang Semenanjung Korea?

Poros Kejahatan Baru Terbentuk, Korut telah Masuk dalam Strategi Keseluruhan PKT Terhadap Taiwan

Pakar hukum liberalisme yang berdiam di Australia yakni Profesor Yuan Hongbing berkata kepada “Pinnacle View”, selama PD-II partai komunis di Semenanjung Korea pada dasarnya hanya berupa organisasi boneka bentukan PKT (Partai Komunis Tiongkok), hanya saja setelah PD-II berakhir, setelah Uni Soviet mengintervensi paksa, barulah Partai Komunis Korea Utara memiliki sejumlah kemandirian. 

Faktanya, tulang punggung kekuatan dari pasukan Korut adalah dua divisi tentara Korut yang berada di dalam Angkatan Perang Ke-4 PKT yang dipimpin Lin Biao (*), pasca PD-II, kedua divisi ini dibentuk oleh Lin Biao setelah menampung banyak kekuatan Tentara Kwantung (**), karena pada masa itu Korea merupakan jajahan Jepang, maka di dalamnya selain terdapat orang Jepang, juga orang Korea. 

Orang-orang Korea itu pun menjadi kesatuan tempur yang kuat di dalam “Angkatan Perang Ke-4” Lin Biao. Kemudian, PKT mengubah pasukan tempur tersebut menjadi KPA (Korean People’s Army) di bawah kepemimpinan Kim Il-Sung, sejak saat itulah Kim Il-Sung memiliki semacam kekuatan militer yang mampu melawan Korea Selatan. Maka dengan kedua divisi inilah Kim Il-Sung mengobarkan Perang Korea (pada 1950), jadi dilihat dari sudut pandang ini, Korea Utara pada kenyataannya merupakan suatu rezim komunis agresif yang dibentuk oleh PKT dan dibina bersama dengan mantan Uni Soviet.

Yuan Hongbing menyatakan, dari segi populasi, ekonomi, bahkan kekuatan energi dari senjata nuklirnya, Korea Utara belum mampu mengakibatkan bencana abad ke-21 dalam lingkup internasional. Terhadap perdamaian sepanjang abad ke-21, faktor Korut hanya suatu masalah kecil, dan masalah besarnya adalah: PKT. 

Korea Utara sendiri baik dalam hal kemampuan teknologi maupun kemampuan ekonomi, sama sekali tidak berkemampuan mengembangkan senjata nuklir dan rudal, jadi kemampuan rudal dan nuklirnya pasti didatangkan dari luar, dan negara pemasoknya adalah PKT (yang pada 1949 membentuk pemerintahan RRT, Republik Rakyat Tiongkok, Red.).

Keberadaan rezim tirani RRT merupakan suatu kediktatoran terpusat yang belum pernah ada dalam sejarah umat manusia, yang menguasai populasi yang begitu besar, menguasai sumber daya alam dan energi begitu luas di Kontinental Asia Timur, ditambah lagi dengan kekuatan senjata nuklir yang dimilikinya saat ini, jauh lebih tinggi dari jumlah yang diperkirakan oleh dunia Barat. Dalam kondisi seperti ini, sumber bencana manusia pada abad ke-21 ini bukan Korea Utara, melainkan rezim tirani Beijing. Korut sendiri telah menjadi bagian dari keseluruhan strategi PKT dalam perang totalnya melawan Amerika Serikat. 

Yuan Hongbing mengatakan, mencermati hubungan antara PKT dengan Korut, termasuk ketegangan hubungan antara kedua Korea saat ini, seharusnya dilihat dari sudut pandang politik internasional yang lebih luas agar lebih jelas. Yang disebut dengan sudut pandang politik internasional yang lebih luas adalah Xi Jinping hendak melalui pengobaran Perang Selat Taiwan sebagai langkah pertama ekspansi komunismenya di seluruh dunia, ini adalah suatu fondasi kebijakan nasionalnya, semua tindakan yang sekarang dilakukannya adalah seputar kebijakan nasional ini. Di dunia saat ini telah terbentuk poros kejahatan abad ke-21 dengan rezim tirani RRT sebagai pusat yang menentang kekuatan AS, dan beranggotakan Rusia, Korea Utara, dan Iran, bahkan termasuk kekuatan anti Amerika di sejumlah negara Timur Tengah. Mengapa baru-baru ini Korut mendadak mengubah sikapnya terhadap Korsel, dan perubahan ini begitu keras, karena kini Korea Utara realitanya telah menggabungkan dirinya ke dalam lingkup keseluruhan strategi PKT dalam duel di Selat Taiwan.

Jadi begitu meletus perang antara AS dengan RRT di Selat Taiwan, maka peran utama Korut, pertama-tama adalah mendeterensi (mencegah-tangkal) kekuatan militer AS di Korea Selatan; kedua, mendeterensi kekuatan militer Jepang; dan ketiga, mendeterensi militer AS yang berada di pangkalan militer Jepang, dengan demikian membentuk yang disebut Perang Cekal (Cegah Tangkal) oleh PKT, dan Perang Cekal untuk menaklukkan Taiwan yang demokratis menyajikan suatu kartu as. Inilah sebuah peran yang kemungkinan dapat dimainkan oleh Korea Utara.

Awan Perang Menyelimuti Semenanjung, Aliansi AS-Jepang-Korsel Bidik PKT

Pemimpin redaksi The Epoch Times yakni Guo Jun menyatakan kepada “Pinnacle View”, hubungan Korea Utara dan Korea Selatan pasca usainya Perang Korea (1950-1953) sempat mengalami beberapa titik balik yang besar. Penyebab perubahan itu, salah satunya adalah perubahan kondisi negara besar di balik kedua Korea tersebut, faktor lainnya adalah akibat kesenjangan ekonomi kedua Korea yang semakin menganga.

Bicara soal ekonomi lebih dahulu, hubungan Korut dan Korsel awalnya adalah bermusuhan. Setelah perang baru saja usai, Presiden Korsel Syngman Rhee beranggapan pemilu Korea diadakan di bawah pengawasan PBB, dan seyogyanya mewakili seluruh Semenanjung Korea. Itulah mengapa ia dengan tegas menolak mengakui rezim utara. 

Faktanya, pada saat penandatanganan Perjanjian Gencatan Senjata Korea di Panmunjom hanya dihadiri oleh tiga perwakilan, yakni: RRT, Korea Utara, dan Amerika Serikat, sedangkan Korea Selatan tidak ikut menandatanganinya. Di saat itu AS mewakili pasukan PBB menandatanganinya, sedangkan pasukan Korea Selatan ikut tergabung dalam pasukan PBB, jadi telah diwakili oleh pihak AS. Faktanya, Syngman Rhee sangat tidak bisa menerimanya, ia berpendapat bahwa Korea seharusnya dipersatukan lebih dulu, setelah reunifikasi secara militer barulah membangun kembali negaranya.

Hingga era 1960-an, setelah Park Chung-hee menjabat, pembangunan ekonomi dimulai, sejak saat itulah perekonomian antara kedua Korea semakin melebar perbedaannya, hingga era 1970-an, PDB kedua Korea masih setara, hingga era 1990-an awal, perbedaannya pun semakin menganga lebar. PDB Korut sekarang hanya kurang dari 300 dolar AS (4,7 juta rupiah, kurs per 26/02), sedangkan Korsel hampir 40.000 dolar AS (626 juta rupiah), PDB Korut kurang dari 1% PDB Korsel. Jumlah penduduk Korsel satu kali lipat lebih besar daripada Korut, dan sekarang mencapai 50 juta jiwa, Korut hanya 25 juta jiwa. Jadi PDB Korsel secara keseluruhan adalah 200 kali lipat dibandingkan Korut, perbedaan keduanya ibarat langit dan bumi.

Penyebab kedua adalah politik negara besar. Korsel senantiasa didukung oleh AS, dan Korut didukung oleh Uni Soviet dan PKT, kemudian Uni Soviet runtuh, PKT pun tidak begitu mendukungnya lagi. Hingga era 1990-an awal, Rusia dan RRT telah menjalin hubungan diplomatik dengan Korsel, tetapi AS tidak juga menjalin hubungan diplomatik dengan Korut, hal ini telah menjadi batu ganjalan di hati Korut. Di era 1990-an Korsel dipimpin oleh Kim Young-Sam sampai Kim Dae-Jung, lalu dipimpin oleh Roh Moo-Hyun, kedua pihak Korsel dan Korut mulai menjalin masa bulan madu, Korsel dan Korut telah memulihkan kontak, maka telah dibentuk suatu Komite Reunifikasi Damai Tanah Air. 

Tetapi AS tetap tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Korea Utara, bahkan hingga sebelum Trump menjabat, pemimpin kedua negara tidak pernah bertatap muka. Maka dari itu Korut mulai mengutak-atik senjata nuklir, dan juga rudal balistik antar benua, tetapi sebagai akibat riilnya justru membuat AS semakin khawatir. Kondisi sekarang lagi-lagi mengalami perubahan lain, yakni akibat perseteruan Rusia dengan AS, yang menyebabkan Rusia semakin mempererat hubungan dengan Korut. Demikian pula dengan RRT, setelah hubungan dengan AS mengalami ketegangan, membuat Beijing kembali menggunakan Korut sebagai kartu as. Itulah sebabnya sekarang Korut merasa ada peluang, dan menjadi semakin nekat.

Guo Jun menyatakan, tadinya Xi Jinping tidak menyukai rezim keluarga Kim, lima tahun pertama setelah Xi Jinping menjabat sejak 2013, ia tidak pernah pergi ke Korea Utara, juga tidak pernah menemui keluarga Kim. Hingga Mei 2018, Xi Jinping baru menemui Kim Jong-Un. Pada saat itu Kongres Nasional ke-19 PKT telah usai, Xi Jinping dipastikan akan menjabat kembali, dengan dalih telah menetapkan jadwal untuk reunifikasi Taiwan. Tentu saja hal ini menimbulkan reaksi keras dari AS, yang dengan segera mengeluarkan “Taiwan Travel Act”, yang berarti jika terjadi masalah dengan Taiwan, maka pihak AS akan langsung berhadapan dengan PKT. Pada saat itu tujuan Xi Jinping menemui Kim Jong-Un karena ingin menggunakan kartu ini, Beijing ingin memastikan Korea Utara menjadi zona penyangga (buffer zone) baginya, di satu sisi menjadi penyerang depan melawan AS, di sisi lain juga bisa menjadi bidak catur untuk tawar menawar dengan AS.

Sebenarnya situasi di Asia Timur Laut sekarang sangat jelas, terdapat dua kubu, di setiap kubu ada tiga negara, di pihak AS ada Jepang dan Korsel, di pihak PKT ada Rusia dan Korut. Sedangkan titik konflik langsungnya dan lokasi konfrontasi antara 2 musuh bebuyutannya adalah Semenanjung Korea. Saat ini AS berupaya keras mengukuhkan aliansi AS-Jepang-Korsel, khususnya dalam aliansi militer, tujuannya tentu bukan mengincar Korut, melainkan mengincar PKT. Pangkalan AU Amerika di Korsel berjarak sekitar 960 km dari Beijing, dapat dijangkau dalam 40 menit oleh pesawat tempur F16 dan F15 milik AS dengan kecepatan jelajah normal, jika menggunakan F22 atau F35, Beijing dapat dijangkau hanya dalam 20 menit saja. Itulah sebabnya kawasan Wafangdian di dekat kota Dalian dikawal oleh tentara pertahanan udara terbaik RRT, yang digunakan juga radar terbaik, guna mengantisipasi pesawat tempur milik AU Amerika di Korsel. Menurut rekomendasi RAND Corporation, jika RRT menyerang Taiwan, maka militer AS dapat menggunakan serangan udara untuk menyerang pusat industri di utara Tiongkok secara mendadak, yang digunakannya adalah pesawat tempur AS yang berada di Korsel dan Jepang. Jadi keberadaan militer AS di Korsel, adalah ancaman yang sangat besar bagi PKT, dan selama ini Beijing pun selalu bereaksi keras atas hal ini.

Pemikiran Irasional Diktator Otokratis, Ancaman Nuklir Menyelimuti Asia Timur

Produser televisi independen bernama Li Jun menyatakan pada “Pinnacle View”, situasi sekarang seperti yang dikatakan Presiden Korsel Yoon Suk-Yeol, terhadap ancaman Korut selain harus memiliki penilaian rasional juga harus memiliki penilaian irasional. Berdasarkan penilaian rasional, Korut tidak akan menggunakan senjata nuklir untuk mengobarkan perang ini, karena begitu meletus perang nuklir, AS pasti akan membalas, dan rezim keluarga Kim akan dihancurkan. Tetapi juga terdapat penilaian yang tidak rasional, yakni pemimpin kediktatoran seperti Kim Jong-Un ketika sampai pada titik tertentu, pemikirannya akan sulit ditebak. Dewasa ini Korut tidak akan menang menggunakan senjata konvensional, tetapi begitu ia menggunakan senjata nuklir, maka tidak hanya Semenanjung Korea, bahkan seluruh Asia Timur pun akan mengalami bencana besar. Maka dari itu, argument Yoon Suk-Yeol ini sangat jelas, kita harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Sekarang walaupun perang nuklir tidak terjadi, tapi jika keadaan ini terus berlanjut, di pihak Korsel mungkin akan mengalami perubahan, dan membuat seluruh kawasan Asia Timur mengalami perubahan. Tahun lalu Yoon Suk-Yeol telah mengatakan, jika Korut terus mengancam seperti ini, Korea Selatan mungkin juga akan mengembangkan senjata nuklir, Yoon Suk-Yeol mengatakan, jika kami ingin mengembangkan senjata nuklir, tidak butuh waktu lama untuk bisa membuatnya. Tahun lalu media massa Korsel Chosun Ilbo melakukan survei, sebanyak 68,1% warga Korsel merasa, Korsel seharusnya memiliki senjata nuklirnya sendiri.

Sejumlah wadah pemikir AS juga telah menganalisa, jika Korut melakukan serangan senjata nuklir terhadap Korsel, mampukah AS memberikan bantuan sesegera mungkin? Dengan kata lain mampukah AS sesegera mungkin menghentikan serangan nuklir dari Korut? Jika tidak bisa menghentikannya, maka itu akan menjadi suatu malapetaka bagi Korea Selatan.

Editor senior sekaligus penulis utama The Epoch Times yakni Shi Shan menyatakan pada “Pinnacle View”, AS menilai bahwa bom atom milik Korut saat ini adalah setara dengan 20.000 ton TNT, atau setara dengan bom nuklir yang dijatuhkan AS di Hiroshima dulu, yang sebenarnya daya ledaknya kecil. Tetapi bom atom adalah senjata yang mengerikan, jika Korut menjatuhkan bom atom, terlepas dari bom atom itu meledak atau tidak, atau ketika AS merasa Korut akan menjatuhkan bom nuklir, maka negara Korut akan langsung lenyap dari muka bumi.

Senjata nuklir AS sekarang, hulu ledak nuklir yang terpasang pada rudal balistik Trident yang berbasis kapal selam, satu unit saja ekuivalen dengan ratusan ribu ton TNT, daya ledaknya amat sangat mengerikan, dan membalas dengan itu akan sangat menakutkan. Jadi senjata nuklir tidak bisa dijadikan sebagai alat dalam taktik perang, hanya bisa dijadikan alat deterensi strategis. Tapi presiden Korsel mengatakan kita harus menggunakan penilaian irasional, apa maknanya? Bagi diktator tertentu, jika ia merasa terpojok dan tidak bisa hidup lagi, maka negaranya tidak perlu tetap eksis, jika ia kehilangan kekuasaan, maka dunia ini pun tak perlu eksis. Seorang diktator yang berkuasa, begitulah pandangannya terhadap dunia, ia benar-benar memandang dunia seperti itu. Inilah yang disebut irasional. Namun bagi sang diktator itu sendiri, mungkin baginya pemikiran ini justru sepenuhnya “rasional”, karena ia memandang dunia seperti itu.

Shi Shan menyatakan, dalam lingkup seluruh dunia, Korut belum tentu menimbulkan efek yang sangat besar, tetapi dalam situasi di Asia Timur, khususnya pada masalah antara Tiongkok dengan Taiwan, dalam hal pertikaian geopolitik secara keseluruhan, dikhawatirkan akan memainkan banyak peran yang tak terduga bagi kita semua. (sud/whs)

Catatan kaki:

Lin Biao*: Dibaca: lin piao, adalah seorang pemimpin militer dan politik dari Tiongkok Komunis. Ia awalnya dikenal sebagai rekan dan berprospek sebagai penerus Mao Zedong, tetapi kemudian dinyatakan sebagai seorang pengkhianat. (Wikipedia).

Tentara Kwantung**: 1906-1945, merupakan sebuah army group dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang yang eksis pada paruh awal abad ke-20 dan berkembang menjadi grup komando paling besar dan bergengsi di Angkatan Darat Kekaisaran Jepang pada saat itu. Tentara Kwantung memiliki andil besar terhadap pendirian Kekaisaran Manchukuo, di wilayah Timur Laut Tiongkok. (Wikipedia)

Dua Tahun Perang Sengit, Mampukah Ukraina Rebut Inisiatif

Shen Zhou

Perang Rusia-Ukraina telah berlangsung dua tahun, kedua pihak telah mengalami kerugian yang teramat besar dalam perang parit. Pasukan Rusia menyerang secara menyeluruh, Ukraina didesak terpaksa bertahan, dan kehilangan inisiatif di medan perang. Ukraina sangat membutuhkan bantuan persenjataan dari Barat, masihkah Ukraina pada 2024 ini mampu merebut inisiatif? Berapa lama lagi perang atrisi ini akan berlangsung?

Rusia Serang Menyeluruh Memaksa Ukraina Bertahan

Pada Oktober 2023 lalu, serangan balasan pasukan Ukraina di kawasan Zaporizhia mulai berhenti, dan pasukan Rusia mulai melancarkan gempuran sengit di Avdiivka di timur Ukraina; serangan itu berlangsung sepanjang musim dingin, sampai dengan 18 Februari 2024, pasukan garis depan Ukraina terpaksa mundur agar tidak terkepung dan bisa membentuk garis pertahanan baru.

Dalam serangan selama empat bulan itu, diperkirakan pihak Rusia telah kehilangan 47.000 orang prajuritnya, dan sekitar 16.000 orang di antaranya tewas, berhasil mendesak maju sekitar 10 km ke arah Avdiivka. Hasil dari pertempuran ini dianggap oleh Menhan Rusia Sergei Shoigu bahwa Rusia telah meraih kemenangan gemilang, walaupun kemenangan tragis ini jelas telah dibesar-besarkan, namun Rusia telah meraih kembali inisiatif perang. Dari utara hingga Selatan, Rusia berperang di garis perang timur Ukraina, dengan melakukan penyerangan menyeluruh yang setidaknya dari tiga arah, di saat yang sama juga mulai menyerang di Zaporizhia, untuk berusaha merebut kembali celah besar yang sempat terbuka akibat serangan Ukraina pada 2023 lalu.

Tahun 2023, Ukraina melancarkan serangan balasan berskala cukup besar di kawasan Zaporizhia, dan juga melakukan serangan terbatas di kawasan Bakhmut di timur, garis pertahanan Rusia sempat dalam bahaya. Ukraina berhasil memenangkan inisiatif perang, pasukan Rusia terpaksa mengalihkan sebagian kekuatan utamanya dari timur Ukraina ke wilayah selatan, untuk membendung serangan balasan Ukraina.

Pihak luar berharap pasukan Ukraina mampu menerobos garis pertahanan terakhir Rusia dalam sekali gempur, agar seluruh pertahanannya runtuh. Akan tetapi, pasukan Ukraina harus membersihkan kawasan ranjau dengan lamban dan penuh kehati-hatian, pada akhirnya mereka memilih hanya mempertahankan serangan secara terbatas, dan tidak berani mengambil risiko. Tindakan ini cukup bijaksana, setelah itu pasukan Rusia mengalami kerugian parah akibat penyerangan kendaraan lapis baja mereka di Avdiivka, hal ini membuktikan Ukraina telah mengambil keputusan yang tepat untuk tidak menempuh risiko bergerak maju.

Terhentinya serangan balasan Ukraina telah memberikan kesempatan bagi pasukan Rusia untuk menarik nafas, agar dapat menghimpun lagi kekuatannya dalam skala besar, dan berbalik dari bertahan menjadi menyerang. Hal ini dikarenakan perbedaan kekuatan militer yang besar antara kedua pihak. Kini, Ukraina hanya bisa beralih menjadi perang bertahan secara menyeluruh.

Ukraina Tidak Hanya Minim Amunisi

Pihak militer Ukraina terus menerus mengutarakan, karena kurangnya amunisi di garis depan, situasi perang menjadi sulit, dan sangat dibutuhkan segera bantuan lebih lanjut dari Barat. Rusia pun memanfaatkan peluang ini dengan terus melakukan serangan kuat pada posisi Ukraina, walaupun kurang akan dukungan tank dan kendaraan lapis baja, pasukan Rusia  tetap mengerahkan pasukan infantrinya dalam jumlah besar.

Seiring dengan negara NATO terus mendapatkan pasokan pesawat tempur F-35, maka terutama untuk pesawat tempur F-16 seharusnya sudah bisa diserahkan kepada Ukraina. Dan hal ini akan menjadi sesuatu yang baru dalam perang Rusia-Ukraina di tahun 2024 ini. (the Epoch Times)

Pemilu presiden Rusia pada Maret mendatang seharusnya menjadi katalis terbesar serangan Rusia saat ini. Sering kali setelah pasukan penyerang Rusia berkurang 50% hingga 70%, barulah pasukan Ukraina ditarik dari garis depan, bisa dibayangkan betapa brutal serangan tersebut. Sebaliknya pihak Ukraina tak mampu menerima begitu banyak korban seperti itu. Militer Ukraina menyatakan, antara 1 Januari hingga 20 Februari lalu, pihak Rusia telah kehilangan 212 unit tank dalam serangan di timur; dalam 4 bulan terakhir Rusia telah kehilangan 364 unit tank, 248 unit meriam, 748 unit kendaraan lapis baja, dan 5 unit pesawat; tetapi serangan Rusia tidak mengendur, sedangkan Ukraina tidak memiliki perlengkapan sebanyak itu untuk digunakan. Blogger militer Rusia mengakui, kerugian yang dialami pasukan Ukraina jauh lebih sedikit. Namun, Rusia tetap lebih unggul dalam hal kekuatan serdadu secara keseluruhan.

Di awal 2023, kekuatan prajurit Rusia yang ditempatkan di Ukraina adalah sekitar 360.000 orang, kemudian bertambah hingga 410.000 orang; pada awal 2024, Rusia telah menempatkan 470.000 orang prajuritnya di Ukraina. Militer Rusia terus merekrut prajurit baru, dan telah melampaui jumlah korban di pihaknya, Moskow telah memulai suatu pertaruhan baru. Meskipun pelatihan prajurit baru membutuhkan waktu 2 bulan, tetapi Rusia tetap mempertahankan tempo serangan di seluruh garis depan. Kremlin bahkan memperkirakan, walaupun dengan rasio penggerusan prajurit seperti sekarang ini, masih mampu bertahan hingga 2025.

Menurut perkiraan badan intelijen AS dan Inggris, sejak perang dimulai, pihak Rusia telah kehilangan sekitar 315.000 orang, dan hingga akhir 2024 diperkirakan akan kehilangan sekitar 500.000 orang, namun tetap melangsungkan perang. Di tahun 2022 Rusia telah merekrut 300.000 orang, lalu pada 2023 kembali merekrut 300.000 orang, jadi tambahan prajurit baru ada sekitar 600.000 orang, jumlah ini bisa mengisi kekosongan akibat kehilangan 315.000 orang, kekuatan prajurit di garis depan justru semakin bertambah.

Pihak Militer Ukraina tidak mempublikasikan jumlah korban di pihaknya, meskipun hanya kehilangan 1/3 atau ½ dari pihak Rusia, kemungkinan juga mencapai 100.000 hingga 150.000 orang. Di awal perang, pasukan Ukraina di garis depan sekitar 200.000 orang, setelah 2 tahun perang sengit, mungkin telah kehilangan setengahnya. NATO membantu melatih sekitar 40.000 hingga 50.000 orang pasukan Ukraina, pasukan yang dilatih sendiri oleh Ukraina seharusnya lebih banyak, anggota baru itu bisa menambal kekosongan akibat kehilangan 100.000 hingga 150.000 orang, tapi saat ini kekuatan serdadu Ukraina masih sangat terbatas. Jika dibandingkan dengan 470.000 orang serdadu Rusia saat ini, Ukraina masih dalam posisi lemah.

Jumlah populasi Ukraina sebelum perang adalah 44 juta jiwa, setelah perang sekitar 6 hingga 8 juta jiwa telah mengungsi, populasi saat ini hanya sekitar 36 juta hingga 38 juta jiwa. Jumlah populasi Rusia adalah sekitar 144 juta jiwa, setelah Moskow mulai merekrut prajurit baru, sekitar 1 juta orang telah meninggalkan Moskow, tetapi kekuatan serdadu yang bisa dikerahkan setidaknya 3 kali lipat dibandingkan Ukraina.

Ukraina tidak hanya kekurangan amunisi, juga kekurangan prajurit; tidak mudah bagi pasukan Ukraina saat ini berkonfrontasi secara menyeluruh dengan pasukan Rusia, senjata bantuan dari NATO secara luas telah menambal kelemahan Ukraina dalam hal kekuatan serdadu. NATO membantu melatih perwira dan serdadu Ukraina, yang di medan perang berhasil menunjukkan kemampuan tempur yang lebih kuat daripada pasukan Rusia.

Persediaan di Gudang Amunisi NATO dan Ukraina Tidak Begitu Banyak

Apakah kongres AS akan meloloskan RUU bantuan militer bagi Ukraina yang terbaru, sepertinya ini telah menjadi suatu fokus baru. Namun, minimnya amunisi Ukraina, tidak berkaitan langsung dengan RUU ini; karena persediaan amunisi NATO sama dengan Ukraina, tidak begitu banyak, pesanan baru pun tidak bisa membentuk kemampuan pasokan dalam jumlah besar, sehingga sulit memenuhi kebutuhan mendesak di depan mata.

Dalam serangan balasan Ukraina pada 2023, yang digunakan adalah sebagian besar senjata bantuan Barat yang disimpan selama setahun, yang terutama berasal dari gudang NATO. Dalam 4 bulan terakhir, persediaan itu telah digunakan lebih lanjut, namun kecepatan pasokannya tidak mampu mengimbangi kecepatan penggunaannya.

AS telah memberikan bantuan terbesar bagi Ukraina, sekarang yang paling dibutuhkan oleh Ukraina adalah peluru artileri atau meriam. Kapasitas produksi peluru artileri AS hingga Oktober 2023 adalah 28.000 buah setiap bulannya, dan diperkirakan akan meningkat sampai sekitar 60.000 buah per bulan pada Oktober 2024, harapannya pada April 2025 dapat ditingkatkan lagi hingga menjadi 75.000 buah per bulan, dan naik lagi menjadi 100.000 buah pada bulan oktober 2025.

Saat ini pasukan Rusia menembakkan sekitar 15.000 buah artileri setiap hari, sedangkan Ukraina hanya menembakkan sekitar 5.000 hingga 8.000 buah setiap hari. Walaupun dengan jumlah terendah 5.000 buah setiap hari, maka setiap bulan dibutuhkan setidaknya 150.000 buah peluru artileri, hingga Oktober 2024 AS hanya mampu memproduksi 60.000 buah, masih kurang dari setengahnya. Militer AS harus mengisi kembali gudang amunisinya sendiri, juga masih harus membantu Israel.

Dari Maret 2023 hingga Januari 2024, Uni Eropa telah memberikan 330.000 buah peluru artileri bagi Ukraina, rata-rata 30.000 buah per bulan; diperkirakan hingga Maret 2024 akan menyerahkan 524.000 buah, dan hingga akhir 2024 sebanyak 630.000 buah peluru artileri. Dengan kata lain, pesanan Uni Eropa di tahun 2024 adalah sekitar 70.000 buah per bulan; sebagian pesanan itu diberikan pada pabrik di AS, yang digunakan adalah kapasitas produksi AS; sisanya adalah produksi Uni Eropa, dan sebagian lagi mungkin akan dipesankan pada Korea Selatan. Kapasitas industri pertahanan Eropa telah meningkat sebesar 40%, jika kapasitas AS dan Korsel digabungkan, maka hingga akhir 2024 permintaan terendah Ukraina sebanyak 150.000 buah per bulan mungkin baru dapat terpenuhi.

Meskipun kongres AS segera mensahkan RUU bantuan milyaran dolar itu, dalam waktu dekat tidak akan mampu menghasilkan amunisi sebanyak itu. Ini bukan hanya masalah uang, juga masalah kapasitas produksi. Mantan Presiden AS Donald Trump telah mengungkapkan faktanya, anggaran militer mayoritas anggota NATO dalam kurun waktu panjang tidak mencapai target 2% dari PDB, gudang senjata dan industri militer menumpuk hutang selama bertahun-tahun, kini kontradiksi tersebut telah mencuat.

Satu lagi faktor penting lainnya yaitu, dibandingkan dengan tingkat akurasi dan jangkauan tembakan artileri yang terbatas, baik AS maupun sekutu NATO lebih mengutamakan kemampuan serangan udara, oleh sebab itu jumlah persediaan dan kapasitas produksi peluru artileri tidak banyak; begitu persediaan habis dipakai, bisa dibayangkan betapa sulitnya melipat-gandakan kapasitas produksinya dalam sekejap. Di ajang perang Rusia-Ukraina, tembakan artileri telah menjatuhkan sebagian besar korban, yang paling dibutuhkan kedua belah pihak adalah amunisinya.

Antara September hingga November 2023, Rusia telah memperoleh 1 juta buah peluru artileri dari Korea Utara, sehingga mampu mengobarkan serangan menyeluruh, berikutnya mungkin masih ada 1 juta buah lagi akan segera menyusul. Dalam kondisi kekurangan amunisi, Ukraina mungkin terpaksa harus beralih menjadi posisi bertahan di sepanjang tahun 2024 ini.

Perang Bertahan 2024 yang Penuh Derita

AS telah merekomendasikan Ukraina agar mengambil strategi “pertahanan proaktif”, untuk mempertahankan basis/posisi yang ada di tahun 2024 ini, sebagai persiapan logistik dan pasukan untuk serangan balasan pada 2025 nanti. Di tahun 2024, sepanjang tahun Ukraina akan berperang untuk bertahan, sekaligus juga melakukan serangan balasan secara terbatas, sedapat mungkin menahan tentara Rusia; bisa juga menyerang armada laut hitam Rusia dengan kapal nirawak; tapi untuk bisa merebut kembali inisiatif di medan perang sepertinya harus menunggu 2025. Dengan demikian, dengan inisiatif di pihak Rusia, sebelum pemilu presiden pada Maret mendatang atau sebelum memasuki musim semi, militer Rusia harus sebisa mungkin meraih sejumlah kemenangan multi aspek, setidaknya harus menguras sumber daya Ukraina yang terbatas.

Belum lama ini, militer Ukraina menembak jatuh beberapa unit pesawat tempur Su-34/Su-35 Rusia di garis depan, selain itu juga menjatuhkan pesawat peringatan udara Beriev A-50 Rusia di atas Laut Azov, namun ada selisih pada angka yang dirilis kedua pihak. Ukraina menempatkan rudal Patriot yang jumlahnya sangat terbatas di garis depan, sangat berisiko bagi pesawat tempur Rusia untuk menjatuhkan glide bomb. Jarak terjauh menjatuhkan glide bomb adalah 70 km, sedangkan jarak tembak rudal Patriot 2 mencapai 160 km, ini merupakan ancaman yang sangat nyata bagi pesawat tempur Rusia. Akan tetapi serangan rudal beskala besar yang diluncurkan berulang kali oleh Rusia telah terus menerus menguras rudal Patriot, jadi selain peluru artileri, Ukraina juga sangat membutuhkan lebih banyak bantuan sistem pertahanan udara.

Pasukan Rusia juga telah menguras amunisi dan perlengkapan dalam jumlah besar. Industri militer Rusia juga terus diperluas, tapi belum mampu memenuhi kebutuhannya, dan masih membutuhkan peluru artileri dari Korut juga drone dan rudal dari Iran. Bagaimana pun kemampuan industri Korut dan Iran sendiri terbatas, jika RRT tidak langsung memasok senjata dan amunisi, maka bila Ukraina berhasil melewati tahun 2024, maka pada saat itu amunisi Rusia pun akan terkuras habis, tapi proses ini akan sangat sulit bagi Ukraina.

Pada tahun 2024 ini, pesawat tempur F-16 akan terus berdatangan ke Ukraina, walau belum mampu mengubah situasi di medan perang, namun setidaknya dapat meredakan tekanan di garis depan. Seiring dengan negara NATO terus mendapatkan pasokan pesawat tempur F-35, maka pesawat tempur F-16 dan lain-lain seharusnya sudah bisa diserahkan kepada Ukraina. Sepertinya hal ini akan menjadi sesuatu yang baru dalam perang Rusia-Ukraina di tahun 2024.

AS mungkin akan memberikan lebih banyak rudal taktis MGM-140 kepada Ukraina, melalui penembakannya dengan roket HIMARS, dapat menyerang sasaran penting yang lebih jauh di garis belakang Rusia. Di ajang perang Indo-Pasifik, AS juga akan mengandalkan rudal taktis ini, tapi tipe awal jarak tembak terjauh hanya 165 km, bisa diberikan pada Ukraina; militer AS sendiri masih menyimpan rudal berjarak tembak 300 km ke atas, dan membeli lagi jenis terbaru dengan jarak tembak 500 km.

Perang Masih akan Berlanjut Dua Tahun lagi?

Moskow merasa kesempatan telah tiba, maka itu mereka sekarang tidak mungkin menarik pasukannya; Kiev telah mendapat janji dari Barat, juga tidak ingin menyerahkan wilayahnya untuk berdamai, kedua belah pihak bersiap untuk berperang setidaknya satu tahun lagi, atau dua tahun.

Tentu saja masih banyak variabel, baik Moskow maupun Kiev setidaknya salah satu pihak kemungkinan bakal mengalami pergantian kekuasaan. Dalam perang ini Rusia telah menguras 211 milyar dolar AS; jika berlangsung 2 tahun lagi, diperkirakan hingga 2026 kerugian ekonomi Rusia akan mencapai 1,3 trilyun dolar AS. Begitu terjadi pergantian penguasa di Kremlin, yang mungkin saja akan memilih menarik pasukan. Jika presiden Ukraina berganti, karena merasa tidak ada harapan menang, tidak tertutup kemungkinan akan menerima situasi saat ini. Jika Trump kembali ke Gedung Putih, harus menunggu tibanya tahun 2025; sebelum itu kebijakan AS dan NATO membantu Ukraina dalam mengikis kekuatan Rusia tidak akan berubah.

Ukraina membutuhkan bantuan dari luar negeri secara terus menerus untuk mampu bertahan melawan Rusia; di saat yang sama harus meningkatkan kemampuan sendiri dalam hal memproduksi senjata, saat ini yang bisa dilakukannya adalah membuat drone biaya rendah dalam jumlah besar, juga sebagian peluru artileri dan amunisi senjata ringan. Dengan demikian, Ukraina baru memiliki kemampuan yang efektif dalam perang bertahan, dengan menimbulkan lebih banyak korban pada pihak Rusia.

Perang riil menunjukkan, walaupun Rusia unggul dalam hal kuantitas serdadunya, tapi kemampuan taktis dan komando mereka tidak mumpuni, perlengkapan berat pun tidak bisa segera dipasok, sehingga sulit meraih kemenangan dari keunggulan jumlah serdadunya. Setiap maju selangkah, pasukan Rusia harus membayar mahal tumbal korban jiwa prajuritnya. Perang atrisi yang kejam ini mungkin akan berlangsung sepanjang 2024 ini. (sud/whs)

Nubuat Baru Pasca Perubahan, Xi Waspadai Selatan

Xu Ke

Tahun 2024 telah memasuki bulan ketiga, di Tiongkok, masyarakat baru saja melalui suasana tahun baru Tiongkok yang tidak begitu menggembirakan, PKT (Partai Komunis Tiongkok) sedang mempersiapkan “Dua Sesi (Tionghoa: 两会 = Liang Hu) adalah istilah kolektif untuk sidang pleno tahunan Kongres Rakyat Nasional (NPC) dan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) yang diadakan setiap Maret di Aula Besar Rakyat di Beijing)” yang menguras uang dan tenaga rakyat. 

Pada 1 Maret, di Kabupaten Dezhou Provinsi Shandong seorang pria diduga melakukan pembalasan sosial dengan menenggak pestisida sampai mabuk lalu menabrak sekumpulan pelajar SD, korban yang tertabrak sekitar 40 orang, dan 7 di antaranya meninggal dunia, si pelaku juga tewas………

Ini hanyalah salah satu kejadian dari berturut-turut bencana yang memberi kesan berdarah pada Tiongkok.

Selama ini, kemerosotan hati manusia dan kekacauan di tengah masyarakat selalu ada kaitan erat dengan pemerintahan yang tirani dan penguasa yang tak bermoral. Hati dan pikiran manusia berubah, sekarang banyak orang berharap PKT akan runtuh, membahas soal kapan perubahan akan terjadi pada Zhongnanhai (pusat pemerintahan Republik Rakyat Tiongkok), ramalan terkait pun bersifat kekal.

Ramalan lama sudah banyak didengar, ada yang terbukti, tapi ada pula yang mengecewakan. Ramalan baru pun beredar tanpa disengaja, terkadang mungkin kita abaikan. Seperti tahun lalu penulis pernah membaca ramalan dari seorang tabib PTT (Pengobatan Tradisional Tiongkok, red.) yang berdiam di Inggris yang terlahir di keluarga tabib PTT turun temurun selama 600 tahun, dia mengemukakan bahwa di selatan Tiongkok mungkin akan terjadi pemberontakan oleh para penguasa daerah.

Penulis tidak berpendapat bahwa untuk melihat perubahan di tengah masyarakat maka harus mengandalkan ramalan, karena variabelnya terlalu banyak.

 Jadi setelah membaca tentang ramalan ini penulis tidak menghiraukannya. Tetapi belum lama ini seorang sahabat lama saya yang baru saja melarikan diri dari Tiongkok mengungkapkan suatu rahasia: “Di selatan ada yang telah mempersiapkan diri sejak lama…” Hal ini mau tidak mau menarik perhatian penulis.

Ramalan Perubahan: Api Peperangan di Selatan dan Kekuatan Baru

Seorang dokter Timur yang berdiam di Inggris yakni Nyonya Su Rong (dikenal juga Doctor Rong, pendiri Dr. Rong TCM Clinic di Cambridge, Inggris, red.) adalah keturunan dari keluarga tabib ilmu kedokteran tradisional Tiongkok (PTT) yang telah turun temurun selama 600 tahun, dia tidak hanya memahami PTT, juga sangat mendalami ilmu I Ching (Yi Jing, disebut juga Zhouyi, sebuah Kitab Perubahan tentang teknik peramalan tertua Tiongkok, red.). Pada 27 Desember akhir tahun lalu, di acara “Pinnacle View” luar negeri dia meramal nasib negara RRT, dari sudut pandang kebudayaan tradisional, diharapkan agar orang-orang di sana terhindar dari marabahaya.

Dr. Rong meramalkan dengan “Zhouyi”, pada 2024 ini energi di bumi dan energi di langit, juga energi bintang akan saling bertabrakan, seluruh dunia diliputi peperangan, dan akan muncul perang baru, harus mewaspadai negara di selatan dan kawasan perairan di Laut Tiongkok Selatan.

Di tahun 2024 api pertikaian merebut kekuasaan internal politik di dalam negeri Tiongkok juga akan meningkat, Xi Jinping menjadi target bagi semua orang, kekuasaannya akan menyusut lebih lanjut. Disamping itu, di arah selatan akan ada suatu kekuatan anti-pemerintah yang akan semakin menguat. Tetapi pada 2024 ini seharusnya Xi tidak sampai lengser.

Dia berkata, sesampainya tahun 2025, Xi akan mengalami kesulitan yang sangat besar, ia akan kehilangan kekuasaan, dan orang yang menggantikannya besar kemungkinan adalah orang internal partai. Di saat baru menjabat orang ini akan sangat kebingungan, dan tidak tahu harus melangkah kemana, apakah mencampakkan PKT? Atau terus melanjutkan jalan yang telah ditempuh oleh Xi Jinping? Namun dengan segera akan ada seorang arif bijaksana yang membimbingnya, lalu ia pun mulai membersihkan segala elemen komunisme, serta akan ada lebih banyak orang yang membantunya, semua kekuatan kebenaran akan melebur ke dalam, dan secara bertahap menyingkirkan segala unsur yang tidak baik, membuat seluruh masyarakat kembali pada kondisi tradisional yang bersih. Di saat tibanya tahun 2029, pekerjaan ini pada dasarnya telah selesai. Pada saat itu, semua orang dapat kembali hidup dalam kondisi yang normal, saat itu rakyat Tiongkok baru akan mulai hidup seperti manusia yang sesungguhnya, yang bermoral, dan juga bermartabat.

Ramalan Dr. Rong ini menurut penulis terutama ramalan soal api peperangan di seluruh dunia, telah sesuai dengan kondisi di dunia saat ini. Negara di selatan, mungkin yang dimaksud adalah negara yang disebut sedang berkembang, tapi bisa juga negara di selatan Tiongkok, di selatan Tiongkok sekarang ada Filipina, lalu India, keduanya ada kemungkinan mengalami perang dengan Tiongkok. Sementara Taiwan, adalah wujud “perang” yang lain, mungkin lebih berbahaya daripada perang yang terang-terangan.

Berikutnya adalah dari dalam negeri Tiongkok sendiri, walaupun Xi Jinping telah tiga kali berturut-turut berkuasa lewat Kongres Nasional ke-20, juga telah membersihkan dan menerima kekuatan faksi lain lawan politiknya, atau mencapai kompromi di tingkat tertentu, namun dalam kekuasaannya kembali muncul masalah baru. Terutama karena Xi Jinping sendiri mengeluarkan berbagai jurus busuk, dimana sebelumnya kebijakan Nol Covid selama tiga tahun telah menyulut kemarahan warga, ia menyatakan policy tersebut tidak akan goyah, tetapi Xi malah menjilat ludahnya kembali dengan mencabut lockdown begitu saja tanpa peringatan, sehingga banyak warga meninggal karena tertular. Melulu jurus ini saja, Xi telah kehilangan secara tuntas dukungan dan kewibawaannya.

Setelah itu sejak 2023 perekonomian Tiongkok merosot. Menghadapi fakta terbuka ini, di satu sisi pemerintah mempublikasikan data palsu, di sisi lain warganya hanya boleh mendengungkan “ulasan ekonomi cerah”, tanpa mempedulikan tingginya tingkat pengangguran di tengah masyarakat, dan tidak menyelesaikan masalah secara realistis. Sementara hutang daerah merefleksikan parahnya kesulitan keuangan, juga kebohongan tentang yang disebut “keajaiban di muka bumi” dari keberhasilan mengentaskan kemiskinan diungkapkan ke seluruh dunia.

Dalam kondisi seperti ini, orang dalam faksi Xi sendiri sudah mulai berselisih paham, dan tak ada seorang pun yang benar-benar setia pada Xi, mereka hanya saling berkomplot sementara demi kepentingannya sendiri. Mengutip kata-kata komentator bernama Wang He: “Pasca Kongres Nasional ke-20, kekuasaan Xi Jinping mencapai puncaknya, tetapi kewibawaan dan pengaruhnya telah terpuruk hingga ke dasar jurang, sehingga terbentuklah kesenjangan yang menganga sangat lebar.” Membandingkan kondisi semacam ini, maka ramalan Dr. Rong pun memiliki lebih banyak keakuratan.

Siapakah yang akan Menggantikan Xi Jinping?

Dr. Rong mengatakan akan muncul seseorang yang akan menggantikan Xi Jinping, dan kemungkinan orang itu adalah orang internal partai, menurut penulis belum tentu orang itu adalah anggota dari faksi Xi yang menduduki posisi tinggi, melainkan besar kemungkinan seseorang dari level menengah yang berambisi besar, dan mereka telah membaca buku “9 Komentar tentang Partai Komunis Tiongkok”, mungkin diam-diam telah menggalang kekuatan untuk bersatu dalam menentang Xi.

Pada 2022 sebelum Kongres Nasional ke-20 PKT, pada 13 Oktober muncul seorang pembela keadilan bernama Peng Zaizhou (Peng Lifa), ia berunjuk rasa dengan membentang spanduk bertuliskan lengserkan Xi runtuhkan komunis di Jembatan Sitong, Beijing. 

Slogan di spanduk itu telah menjadi kutipan terkenal di dunia: “Tidak mau PCR – mau makan! Tidak mau lockdown – mau kebebasan! Tidak mau kebohongan – mau kehormatan! Tidak mau Revolusi Kebudayaan – mau reformasi! Tidak mau pemimpin – mau pemilu! Tidak mau menjadi budak – mau menjadi warga negara!” Juga ada satu kalimat lagi: “Mogok sekolah, mogok kerja, lengserkan diktator pengkhianat Xi Jinping”.

Dalam dokumen politik Peng Zaizhou yang beredar di internet menunjukkan, ia menghimbau kepada semua polisi dan tentara di seluruh negeri, “Harus berani seperti Cai E, seperti Tang Jiyao, dan Li Leijun, jangan mau membantu tiran menindas rakyat, jangan mau mengabdi pada seorang diktator, jangan mau menjadi tumbal bagi seorang diktator.”

Pada akhir 1915 (tahun ke-4 era pemerintahan Republik Tiongkok), Cai, Tang, dan Li, telah mengobarkan Perang Perlindungan Negara (Perang Anti-Monarki, red.) dan menggerakkan ekspedisi militer terhadap Yuan Shikai, untuk memaksa Yuan Shikai menghapus sistem monarki bentukannya. Kini penguasa PKT meralat konstitusi dan menghapus pembatasan periode kekuasaan, dan acap kali juga diidentikkan dengan Yuan Shikai. 

Meskipun PKT memblokade slogan-slogan Peng Zaizhou secara menyeluruh di semua situs internet, tapi informasi terkait masih terus beredar secara diam-diam di seluruh Tiongkok. Di tembok maupun tiang listrik di daerah-daerah, bahkan di toilet sekolah, dijumpai selebaran dengan tulisan tangan maupun cetakan yang merespon dan mendukung tuntutan Peng Zaizhou.

Kita tidak bisa mengetahui apakah pasukan pengawal partai di tubuh militer PKT akan muncul seorang prajurit yang seperti Cai E. Tapi di Tiongkok mulai dari pejabat tingkat dasar sampai pengusaha konglomerat, dari rakyat jelata sampai mahasiswa, banyak orang mengetahui peristiwa ini, dan cukup menyentuh sanubari mereka. Jadi diyakini pejabat tinggi PKT, termasuk perwira tinggi militer, mereka lebih memahaminya.

Di samping itu, dalam ramalan Dr. Rong juga tidak mengesampingkan adanya orang dari luar partai yang akan menggantikan Xi Jinping. Konteks ini lebih luas lagi, pada dasarnya mencakup semua warga Tiongkok, siapa pun bisa menentang Xi Jinping dan menentang komunis.

Bulan lalu, seorang pemimpin oposisi Rusia yang bernama Alexei Navalny baru saja meninggal dunia secara mendadak di dalam penjara, pihak luar beranggapan kejadian itu berkaitan dengan Putin. Pemakaman Navalny diadakan pada 1 Maret lalu, dan diperingati dalam skala besar. 

Di jejaring medsos luar negeri, orang-orang mulai membicarakan siapa Navalny dari Tiongkok, seperti Ren Zhiqiang yang divonis penjara 18 tahun, atau Gao Zhisheng yang telah menghilang selama enam tahun, atau pengacara HAM Xu Zhiyong, Ding Jiaxi, dan Xu Wensheng yang masih dipenjara. 

Bila ada yang berhasil menggulingkan rezim PKT, maka para pembela keadilan seperti Gao Zhisheng dan kawan-kawan memang ada kemungkinan akan diusung untuk menggantikan Xi, untuk memimpin Tiongkok menapak jalan demokrasi kebebasan. Tapi di luar pengacara, siapakah yang akan menjadi kekuatan baru yang mampu menggulingkan PKT dan Xi Jinping? Ramalan Dr. Rong mengarah ke selatan.

Mengapa penulis percaya di selatan terdapat kekuatan baru yang akan membawa perubahan? Pertama, berdasarkan tradisi. Sejak periode akhir Dinasti Qing, selatan Tiongkok selalu menjadi lahan panas reformasi atau revolusi, mulai dari aktivitas awal Dr. Sun Yat-Sen (1866-1925), sampai Pemberontakan Wuchang (1911), kemudian Perang Perlindungan Nasional (1915-1916), sampai Ekspedisi ke Utara (1926-1928). Bahkan yang disebut PKT sebagai Reformasi Keterbukaan (Reformasi Ekonomi Tiongkok, 1978), juga mulai digalakkan dari selatan. Satu lagi alasan penulis mengharapkan kebangkitan pemberontakan dari selatan, karena di awal telah disebutkan seorang sahabat lama yang baru saja keluar dari salah satu provinsi di selatan memberitahu saya, kalangan rahasia orang kaya di selatan itu, walaupun didominasi sipil, tapi juga terdapat berbagai tokoh internal partai, termasuk pejabat level menengah, bahkan ada pula polisi. Selama jangka waktu panjang mereka secara cerdik mempersiapkan “revolusi”, dan menganggap dirinya sebagai “pencetus”.

Ini mengingatkan saya akan Gerakan Kertas Putih (aksi protes menentang penguncian COVID-19 di Tiongkok, red.), seorang pria paruh baya turun ke jalan memimpin aksi menentang lockdown dan meneriakkan “lebih baik mati daripada tidak bebas”, juga para mahasiswa muda yang berorasi di jalan-jalan. Sahabat lama saya berkata, sebagian dari mereka telah memilih untuk hengkang, tapi kekuatan utama masih ada, terutama yang ada di internal partai, mereka toh juga tidak bisa keluar, bisa sekaligus menjadi “mata-mata”.

Khawatir Lengser, Xi Waspadai Selatan

Realita bagi rezim yang otokratis adalah sangat kejam, untuk mengubah semua ini ada yang memilih revolusi tanpa kekerasan, tapi bagi mereka yang memiliki kondisi akan memilih kudeta atau pemberontakan, sejak dulu sudah seperti itu. Para pejabat daerah di wilayah selatan, sementara tidak terlihat siapa yang memiliki nyali dan kemampuan untuk menjadi pemimpin yang menentang pemerintah, kuncinya adalah Xi Jinping sejak awal telah mengambil alih kekuasaan militer.

Tahun 2016 setelah Xi Jinping melakukan reformasi militer dan menyusun kembali kekuasaan militer, bahkan Kepolisian Bersenjata Rakyat (PAP) dan prajurit cadangan pun telah ditarik ke pusat, pejabat daerah akan sulit melakukan pemberontakan. Tapi perwira tinggi militer yang dibentuk Xi Jinping pasca reformasi militer tersebut, telah rontok begitu banyak selama setahun terakhir, termasuk Menhan Li Shangfu, Komandan Angkatan Roket (AR) yakni Li Yuchao telah bermasalah. Oleh sebab itu, bagaimana pun sebagian orang dari pihak luar membantu PKT mempropagandakan betapa kekuasaan militer Xi Jinping begitu kokoh, tapi semua itu adalah palsu.

Xi Jinping sangat berambisi, bahkan berniat menyulut peperangan di wilayah selatan, khususnya Selat Taiwan. Beberapa tahun terakhir Provinsi Fujian dan Guangdong di selatan, termasuk juga Hong Kong, telah dijadikan sebagai basis untuk menyerang Taiwan. Namun, sejumlah jenderal yang ambisius telah menahan diri cukup lama, menunggu kesempatan untuk bisa memberontak; mungkin akan seperti Pemberontakan Wuchang (pemberontakan yang terjadi di Tiongkok pada 10 Oktober 1911 – 1 Desember 1911 yang menjadi katalis terhadap Revolusi Xinhai, yang mengakhiri Dinasti Qing – dan dua milenium kekuasaan kekaisaran – serta mengantar ke arah terbentuknya Republik Tiongkok bentukan Sun Yat Sen. Pemberontakan ini dimulai dengan ketidakpuasan penanganan krisis kereta api. Wikipedia), pada saat itu sejumlah prajurit baru akan mendadak membelot saat berperang, maka akan memicu runtuhnya rezim PKT.

Xi Jinping mirip dengan Mao Zedong, di mulut menyanjung “ateisme”, tapi di dalam hati sangat percaya pada ramalan Tiongkok kuno. WikiLeaks pernah mengungkapkan, Xi Jinping percaya kemampuan supranatural. Dan ramalan adalah salah satu manifestasi dari kekuatan supranatural di tengah masyarakat. 

Mengenai ramalan baru “pemberontakan di selatan” ini sejak lama telah diketahui oleh Xi Jinping, tidak tertutup kemungkinan ia telah memerintahkan untuk mewaspadai selatan, pertama-tama mengawasi para pejabat tinggi dan militer secara ketat, juga para perwira Kepolisian Bersenjata. Tapi hal ini mungkin akan semakin memperburuk antipati internal sehingga membuat terjadinya perubahan dalam waktu dekat di Tiongkok akan semakin besar kemungkinannya. (sud/whs)

Banjir dan Longsor di Sumatera Barat, 19 Orang Meninggal Dunia dan 7 Orang Hilang

PADANG – Banjir dan longsor yang terjadi di wilayah Sumatera Barat sejak Kamis (7/3) telah menelan korban jiwa sebanyak 19 orang meninggal dunia, 2 orang luka-luka dan 7 orang hilang. 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam rilisnya, berdasarkan informasi dari Pusat Pusat Pengendalian Operasi (PUSDALOPS) BNPB, wilayah Kota Padang sebanyak 10.150 kk/35.299 Jiwa terdampak. Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 16 Jiwa meninggal, 7 Jiwa hilang, dan 25.794 KK terdampak banjir. Kabupaten Padang Pariaman sebanyak 3 orang meninggal dunia, 2 orang luka-luka dan sebanyak 800 KK / 2958 jiwa terdampak. Kota Solok sebanyak 238 KK / 813 jiwa terdampak. Kabupaten Limapuluh Kota sebanyak 24 KK /100 jiwa terdampak. Kabupaten Agam sebanyak 36 KK / 144 jiwa terdampak. Kabupaten Solok sebanyak 10 KK terdampak. Kabupaten Pasaman Barat sebanyak 31 KK terdampak, dan Kabupaten Pasaman sebanyak 191 KK terdampak. 

Dampak Kejadian banjir dan longsor memaksa warga untuk mengungsi. Di wilayah Kota Padang sebanyak 3.734 jiwa mengungsi, Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 29.483 KK / 76.178 jiwa mengungsi, dan Kabupaten Agam sebanyak 49 KK / 209 jiwa mengungsi.

Banjir dan longsor menyebabkan kerugian material di wilayah Sumatera Barat sebanyak 37.265 unit rumah terdampak, 666 rumah rusak, 3 unit rumah hanyut, 26 unit jembatan rusak, 45 unit ibadah terendam, 25 unit sekolah terendam, 13 titik ruas jalan terdampak, 2 unit irigasi rusak, 113 ha lahan terdampak, 300 m2 lahan pertanian terdampak dan 5 unit fasum terdampak. 

Sementara itu informasi Petugas Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat, Gilang melalui sambungan telepon, Minggu (10/3). Upaya penanganan banjir dan longsor Tim Reaksi Cepat BPBD Sumatera Barat melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan intansi terkait. Petugas melakukan evakuasi warga yang terdampak. Wilayah yang sudah surut banjir segera dilakukan pembersihan.

“Untuk wilayah Kabupaten Padang Pariaman, akses jalan raya keluar masuk masyarakat ke desa Kotamenara tertutup longsor sepanjang 50 meter. Kabupaten Agam, kabupaten Pesisir, Kota Solok banjir berangsur surut, sedangkan Kabupaten Pesisir Selatan, dan kota Padang sebagian besar wilayah terdampak banjir masih digenangi air. Di Kabupaten Limapuluh Kota, banjir berangsur surut dan telah dilakukan pembersihan rumah dan fasilitas umum yang terendam,” ujar Gilang. (BNPB)

Banjir Kota Padang Surut, Warga Bersama-sama Lakukan Pembersihan Lingkungan

Banjir yang melanda Kota Padang, Sumatera Barat telah surut. Warga bersama tim gabungan melakukan pembersihan lingkungan dan rumah, dibantu dengan semprotan air dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Hendri Zulviton mengatakan, banjir telah surut sejak Sabtu (9/3). 

“Karena ini sifatnya banjir bandang, jadi cepat surut, kemarin air sudah surut”, terang Hendri melalui sambungan telepon pada Minggu (10/3) pagi dalam rilis Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.  

Sebelumnya dilaporkan banjir bandang menerjang wilayah Kota Padang pada Kamis dan Jumat (7-8 Maret) akibat hujan berintensitas tinggi di bagian hulu sebabkan meluapnya air di beberapa sungai ke jalan dan pemukiman warga.

Total warga terdampak banjir Kota Padang mencapai 10.150 KK atau 35.299 jiwa. Sebanyak 3.734 warga yang mengungsi saat kejadian kini telah kembali ke rumah masing-masing. 

“Kemarin sore para pengungsi sudah kembali ke rumah,” ujar Hendri.

Meskipun banjir sudah surut dan warga telah kembali ke rumah namun kebutuhan permakanan dan selimut masih menjadi kebutuhan mendesak bagi warga saat ini. 

Berdasarkan hasil kaji cepat tercatat sebanyak 10.150 unit rumah terdampak, dua unit rumah hanyut, tiga titik ruas jalan terdampak dan satu unit Mushalla terdampak akibat banjir.

*Waspadai Potensi Ancaman Bencana Lain*

Selain banjir bandang yang menerjang 31 lokasi di delapan kecamatan wilayah Kota Padang, pada 7-9 Maret 2024 BPBD Kota Padang juga mencatat kejadian longsor di enam lokasi, pohon tumbang akibat angin kencang sebanyak 19 kejadian, dan satu kejadian abrasi pantai. 

Abrasi pantai terjadi di Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Lubuk Begalung. Abrasi pantai meruntuhkan 100 pohon pinus pantai hingga mengakibatkan dua rumah beresiko runtuh. Berdasarkan penggukuran, abrasi pantai telah memanjang satu kilometer dari RT02 menuju RT03 RW07 Pasia Jambak Muaro Anai.

BPBD Kota Padang mengimbau warga untuk selalu wasapada akan potensi bencana mengingat letak geografis Kota Padang berada di kawasan rawan bencana salah satunya juga gempa bumi. Dalam rangka upaya mengurangi risiko bencana, BPBD Kota Padang melaksanakan beberapa program mitigasi bencana bersama warga. 

“Setiap bulan BPBD Kota Padang menggelar latihan kebencanaan. Warga sudah paham kalau langganan banjir, tanah longsor, angin kencang, kami juga ada sosialisasi gempa. Tapi yang namanya warga ya masih sering panik”, kata Hendri.

Selain persiapan mitigasi bencana kepada masyarakat, BPBD Kota Padang juga mempersiapkan perlengkapan dan peralatan penanggulangan bencana. 

“Berdasarkan pengalaman pada kejadian banjir kemarin, kami membutuhkan tambahan perahu karet untuk evakuasi dan mesin pompa,” pungkas Hendri. (BNPB)

Pencarian Hari Kedua, Lokasi Diduga Jatuhnya Pesawat Pilatus Milik Smart Air Ditemukan

TARAKAN – Pencarian Pesawat SMART Air yang hilang kontak memasuki hari kedua. Pencarian ini akhirmya membuahkan titik terang pada Sabtu (9/3/2024)

Pada pukul 17.20 WITA menerima informasi dari Tim SAR gabungan di lapangan bahwa tim sudah menemukan titik pesawat yang hilang kontak. Namun dikarenakan cuaca yang kurang baik tim belum dapat melakukan evakuasi. Direncanakan evakuasi dilakukan esok harinya.

Proses pencarian pesawat Pilatus Smart Air (Dok Basarnas)

Diberitakan sebelumnya hilang kontak setelah lepas landas dari Bandara Juwata Tarakan menuju Bandara Binuang Kota Tarakan, pada Jumat (8/3).

Pukul 08.00 Wita, tim SAR gabungan kembali melakukan briefing dan persiapan untuk bergerak menuju last know position (LKP) dengan rencana operasi yang telah dibuat. Adapun area pencarian dengan alut 1 unit Heli Bell-412 EPI REG HA-5224 dengan ketinggian 5500 FT.

Proses pencarian pesawat Pilatus Smart Air (Dok Basarnas)

Berdasarkan rencana operasi, akan ada penambahan alut dari Skadron Udara 5 Lanud Sultan Hasanudin yaitu 1 unit Boeing 737 200 REG AI-7302 dan Heli Caracal H-225 M REG H-2209. Area pencarian dari Boeing 737 200 REG AI-7302.

Titik lokasi jatuhnya pilatus Smart Air

Pencarian di hari kedua ini dilakukan via udara dan darat. Adapun unsur yang terlibat di antaranya tim rescue Kansar Tarakan, Lanud Anang Busra Tarakan, Kodam VI Mulawarman, Brimob Polda Kaltara, Polres Tarakan, Polres Malinau, Kodim 0910 Malinau, Batalyon 614 Raja Pandita, BPBD Kabupaten Malinau, Air NaV Tarakan, UPBU Juwata Tarakan, BMKG Tarakan, Smart Aviation, Susi Air, RMPB Kabupaten Malinau dan Satrad 225 Tarakan.

Kepala Kantor Basarnas Tarakan, Syahril, mengatakan pihaknya juga masih mengandalkan pemancar dari Emergency Locator Transmiter (ELT) dari pesawat PK-SNE. (basarnas)

Hilang Kontak, Pesawat Pilatus Milik Smart Air dalam Pencarian Tim SAR Gabungan

TARAKAN – Pesawat milik operator penerbangan PT Smart Aviation atau SMART AIR mengalami hilang kontak setelah lepas landas dari Bandara Juwata Tarakan, Kota Tarakan, Jumat (8/3/2024).

Pesawat dengan registrasi PK SNE tipe Pilatus PC 6 tersebut bertolak dari Tarakan pada pukul 08.26 WITA dan estimasi tiba di Bandara Binuang, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan pukul 09.20 WITA. Namun hingga pukul 11.26 WITA, Airnav Tarakan belum mendapat informasi keberadaan pesawat sehingga melaporkannya kepada Kantor SAR (Basarnas) Tarakan.

Berdasarkan laporan yang diterima tersebut, tim rescue Basarnas Tarakan langsung melakukan koordinasi dengan seluruh pihak terkait di Bandara Juwata Tarakan. Tim SAR Gabungan langsung bergerak melakukan penyisiran menggunakan Pesawat PK-SNO dari Long Bawan ke Binuang berdasarkan lokasi spider track pada koordinat 3°37’34.58″N 116°24’51.46″E dengan hasil nihil.

“Pukul 12.30 WITA, Basarnas Pusat menginformasikan koordinat Emergency Locator Transmitter (ELT) dari SMART AIR yang diterima Local User Terminal (LUT) pada koordinat 3°44’10.00″N 115°50’53.58″E dan 3°44’9.10″N 115°55’45.36″. Berdasarkan sinyal dari LET yang diterima LUT tersebut, Pesawat PK-SNG dan PK-VVU melakukan penyisiran dari Malinau ke Binuang mulai dari pukul 14.26 hingga 16.08 Wita namun hasil nihil dan pesawat mendarat di Malinau untuk pengisian bahan bakar,” ungkap Kepala Kantor SAR Tarakan, Syahril.

Penyisiran kembali dilakukan dengan menggunakan Heli Bell 412 EPI REG GA 5224 milik Kodam VI Mulawarman dari Tarakan menuju Binuang pukul 16.57 WITA dengan estimasi 45 menit dan tiba di Binuang pukul 17.43 WITA. “Heli Bell membawa 6 tim rescue Basarnas Tarakan dan 4 kru Heli,” sebut Syahril.

Hingga pukul 19.00 WITA, operasi SAR pesawat hilang kontak dihentikan sementara dikarenakan kondisi cuaca gelap dan melakukan pengisian bahan bakar di Malinau. Operasi SAR dilanjutkan esok hari sesuai rencana operasi tim SAR gabungan. (BASARNAS)

‘Hollywood Takeover’ : Kendali Tiongkok dalam Industri Film’

Film dokumenter yang membuka mata ini mengekspos pengaruh Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap dunia hiburan Amerika

oleh Michael Clark

Durasi | 1 jam 4 menit | Dokumenter, Film, Politik | 

Selama urutan judul pembuka “Hollywood Takeover: China’s Control in the Film Industry” sebuah kartu judul menyertakan kutipan dari Mao Zedong, ketua keenam hingga ke-10 Partai Komunis Tiongkok (PKT). Kutipan tersebut berbunyi “Sebenarnya tidak ada yang namanya seni demi seni,” sebuah sindiran yang jelas terhadap teks “ars gratia artis” (bahasa Latin yang berarti “seni demi seni”) yang mengelilingi logo “Leo si Singa” di awal semua produksi studio MGM.

Apa yang Mao maksudkan (menurut penulis) adalah bahwa meskipun seni, terutama film, pada dasarnya adalah sarana hiburan, namun ia juga dapat dan memang harus digunakan sebagai wadah propaganda politik dan sosial, sesuatu yang tidak hilang dari para penerusnya.

Koresponden Epoch Times, Tiffany Meier, pembawa acara “Hollywood Takeover: China’s Control in the Film Industry.” (EpochTV)

Meskipun Tiongkok mulai melarang film asing pada awal abad ke-20, dengan meningkatnya perdagangan luar negeri, Tiongkok mulai mengizinkan beberapa film untuk ditayangkan. PKT baru mulai menggunakan “otot pameran global” yang cukup besar dengan sungguh-sungguh pada 1997 (lebih lanjut mengenai hal ini di bawah). Pada 2008, tepat setelah Olimpiade Beijing pertama dan di bawah pengawasan pemimpin Tiongkok saat itu, Hu Jintao, PKT meningkatkan permainannya menjadi penyensoran dan manipulasi film asing secara besar-besaran, terutama yang diproduksi di Amerika Serikat.

Tidak akan pernah berhenti

Dipandu oleh koresponden Epoch Times, Tiffany Meier, “Takeover” dengan ahli meneliti pengaruh PKT yang terus meningkat terhadap industri film AS, dan bagaimana dan mengapa hal itu tidak akan pernah berhenti. Perhatian utama PKT adalah konten yang bertentangan dengan kebijakan sosial dan politiknya.

Sebagai contoh, film “Looper” pada 2012 mendapat perlawanan karena subplot perjalanan waktu, yang menurut PKT, dapat mengubah kejadian di masa lalu dan masa depan, suatu hal yang dilarang. PKT mengabaikan komponen perjalanan waktu dan memberikan “restu” kepada film tersebut hanya setelah film tersebut menjelaskan bahwa tinggal di Tiongkok di masa depan lebih baik daripada tinggal di Prancis, dan jika ada peran aktris Tiongkok yang sedang naik daun, Xu Qing, yang ditambahkan ke dalam cerita. Hal ini dilakukan, seperti halnya pencantuman gambar Xu pada poster iklan berbahasa Mandarin dan bukan pada versi Amerika.

Ada banyak contoh lain dari tuntutan PKT lainnya yang disajikan dalam “Takeover,” tetapi ada tiga yang perlu dicatat di sini; dua di antaranya ada dalam film Tom Cruise.

Poster Tiongkok untuk “Looper” yang menampilkan aktris Tiongkok Qing Lu. (TriStar Pictures)

Kontrol PKT

Dalam “Mission: Impossible III” (2006), karakter Tom Cruise berlari di atas atap rumah-rumah di Shanghai yang sedang menjemur cucian. PKT tidak ingin terlihat bahwa warganya tidak mampu membeli pengering, sehingga gambar cucian dihapus secara digital dari cetakan akhir.

Dalam cuplikan film “Top Gun: Maverick” (2022), ada gambar sekilas dari bagian belakang jaket bomber Maverick yang terlihat di film pertama, di mana terdapat tempelan bendera Taiwan dan Jepang. Gambar-gambar tersebut dihapus atas permintaan Tencent Pictures yang dikendalikan oleh PKT. Setelah Tencent mundur dari produksi, gambar-gambar tersebut dikembalikan.

Selain intervensi langsung, PKT juga memiliki kekuatan untuk menyensor film di negara lain. Contoh terbaru dari intervensi PKT yang perlu dicatat adalah “Barbie” (2023), di mana karakter utama berdiri di depan peta Asia Tenggara yang menggambarkan “sembilan garis putus-putus” Tiongkok, sebuah gambar fiksi yang secara keliru diyakini oleh PKT sebagai bagian dari kekaisaran Tiongkok. Sebagai akibat dari pencantuman peta tersebut, “Barbie” dilarang di Vietnam.

Salah satu contoh yang lebih mengerikan dari upaya penyensoran PKT tidak termasuk di sini. Pada  2019, Shannon Lee, yang dibesarkan di Hong Kong, menyuarakan ketidaksenangannya terhadap bagaimana mendiang ayahnya, Bruce Lee, digambarkan dalam film “Once Upon a Time in Hollywood” (2019) karya Quentin Tarantino.

Stunt Man (Brad Pitt) dan Bruce Lee (Mike Moh), dalam “Once Upon a Time in Hollywood”. (Rilis Sony Pictures)

Lee berpendapat bahwa ayahnya dibuat terlihat lemah selama adegan perkelahian di belakang layar TV dadakan antara karakternya (Mike Moh) dan pemeran pengganti (Brad Pitt). Lee mengajukan keluhan kepada Administrasi Film Tiongkok yang pada gilirannya meminta Tarantino untuk menghapus adegan tersebut, yang mana ia menolak untuk melakukannya. Akibatnya, PKT membatalkan perilisan film tersebut sepekan sebelum jadwal pembukaannya. Hingga saat ini, film tersebut tak pernah diputar di Tiongkok.

Pitt, Scorsese, dan Gere

Berbicara tentang Pitt, pada  1997, ia membintangi salah satu dari tiga film yang diincar oleh PKT. Lantaran memasukkan karakter Dalai Lama, film “Seven Years in Tibet” (Columbia) dan “Kundun” (Disney) karya Martin Scorsese dilarang tayang. Akibatnya, Pitt dan Scorsese dilarang mengunjungi Tiongkok selama 10 tahun. Karena penggambarannya yang tidak menyenangkan tentang sistem peradilan PKT, judul ketiga, “Red Corner,” (MGM/UA) yang dibintangi oleh aktivis Tibet yang blak-blakan, Richard Gere, juga dilarang.

Demi memastikan pihak studio yang mengeluarkan film tersebut menerima pesan, PKT sementara waktu melarang semua film dari studio-studio tersebut. Dalam kesaksiannya di 2020 di hadapan Komite Keuangan Senat AS, Gere berpendapat bahwa karena pemberangusan PKT, tidak ada satupun dari judul film 1997 yang disebutkan di atas  diproduksi hari ini, dan dia benar.

Mengerdilkan apa yang terjadi pada Pitt, Scorsese, dan  Gere adalah apa yang terjadi pada Christian Bale. Setelah menunjukkan dukungan publik untuk pengacara tunanetra Tiongkok dan aktivis hak-hak sipil Chen Guangcheng, PKT melarang semua film Bale.

Chris Fenton memfasilitasi persyaratan konten dan produksi antara studio Amerika dan PKT. (Feeding the Dragon)

Mungkin bagian yang paling mencerahkan dari produksi ini adalah wawancara dengan Chris Fenton, seorang “diplomat” yang mengaku sebagai penghubung antara mesin Hollywood dan PKT. Seorang pria yang memulai dari bagian bawah rantai makanan industri, Fenton bekerja dengan cara yang sama dan pada akhirnya memfasilitasi konten dan persyaratan produksi antara studio dan PKT.

Bisa dibilang, “pencapaian” terbesar Fenton adalah ketika ia membantu casting dan pemasaran film “Iron Man 3” (2013) dari Marvel. Fenton meyakinkan Marvel untuk memasukkan karakter pendukung protagonis PKT, seorang dokter bernama Dr Wu (Wang Xueqi), dan membujuk pemeran utama Robert Downey Jr. untuk melakukan penampilan yang memuji-muji dan agak penjilat di Tiongkok, yang oleh banyak rekan-rekan Downey mungkin akan dianggap “di bawah” tuntutan promosi industri yang normal. Fenton yang reflektif dan penuh penyesalan atas motif masa lalunya sangat menyentuh.

Tenzin Gyatso (Jamyang Jamtsho Wangchuk) dan Heinrich Harrer (Brad Pitt) dalam “Seven Years in Tibet”. (Rilis Sony Pictures)

Satu-satunya keluhan saya tentang “Takeover” adalah bahwa film ini tidak berdurasi panjang. Dalam waktu 64 menit, film ini mencapai tujuannya dan kemudian beberapa tujuan lainnya dengan efisiensi yang luar biasa dan ketenangan dokumenter yang tepat dan tidak bias. Meier dan penulis-sutradara Penny Zhou layak mendapatkan penghargaan tertinggi karena berpegang teguh pada landasan etika dan profesional dari disiplin jurnalistik masing-masing.

Sebagai seseorang yang percaya bahwa sebagian besar produksi TV dan film sering kali memberikan sambutan yang berlebihan dengan tambahan dan pengisi yang tidak perlu, “Takeover” hanya membuat saya menginginkan lebih banyak konten. Saya sangat merasa bahwa sekuel lanjutan atau bagian kedua sudah saatnya dibuat.

“Takeover” mulai tayang pada 8 Maret di Epoch TV.

‘Hollywood Takeover: China’s Control in the Film Industry’

Dokumenter

Sutradara Penny Zhou

Durasi: 1 jam, 4 menit

Tanggal Rilis 8 Maret 2024 

Rating 4.5 bintang dari 5

Apakah Anda ingin melihat artikel-artikel seni dan budaya lainnya? Kirimkan ide cerita atau masukan Anda melalui email ke [email protected]

Berasal dari Washington, D.C., Michael Clark telah menyediakan konten film ke lebih dari 30 media cetak dan online. Dia ikut mendirikan Atlanta Film Critics Circle pada tahun 2017 dan merupakan kontributor mingguan untuk Shannon Burke Show di FloridaManRadio.com. Sejak 1995, Mr. Clark telah menulis lebih dari 4.000 ulasan film dan artikel terkait film. Dia menyukai komedi gelap, thriller, dan dokumenter.

Bukber Bersama Selama Ramadhan di Mercure Surabaya Grand Mirama Bisa Dapatkan Hadiah 

Surabaya – Ramadhan adalah momen yang sangat dinanti oleh umat muslim setiap tahunnya. Momen penuh kehangatan dan kebersamaan dengan keluarga dan teman merupakan salah satu hal yang ditunggu saat bulan Ramadhan. Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama hadir dengan mengusung tema “Kampoeng Ramadhan”.

Mercure Surabaya Grand Mirama menyediakan Buffet Ramadhan di Trimurti Restaurant dengan menyajikan menu all you can eat seperti aneka ta’jil hingga live cooking stall. Selain itu, Curry Beef Brisket with Pita Bread merupakan menu signature yang dihadirkan pada Ramadhan kali ini dan tentunya tidak boleh terlewatkan.

Pada momen penuh berkah ini, Mercure Surabaya Grand Mirama menyediakan door prize berupa kepingan emas dari PT Pegadaian serta berbagai voucher dan giveaway yang akan diundi setiap minggu. Mercure Surabaya Grand Mirama juga mempersiapkan grand prize utama yaitu tiket umroh gratis untuk 1 orang dari Ebad Tour and Travel Surabaya. Selain all you can eat buffet, pengunjung juga akan dimanjakan dengan berbagai hiburan yang telah disediakan, seperti live music setiap harinya serta 360 spin photobooth oleh Amigo Photobooth bagi para pengunjung yang ingin mengabadikan momen bersama keluarga dan kerabat.

“Di momen Ramadhan kali ini, Mercure Surabaya Grand Mirama memberikan paket berbuka puasa dengan promo yang cukup special memberikan berbagai hadiah bagi tamu seperti paket umroh gratis maupun doorprize lainnya. Harapan kami bahwa Ramadhan kali ini dapat membawa berkah bagi kita semua dan Mercure Surabaya Grand Mirama dapat selalu menjadi pilihan di Kota Surabaya,” ujar Sugito Adhi, selaku General Manager Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama dan Grand Mercure Malang Mirama. (aml)

TPID Rumuskan Strategi Pengendalian Inflasi Agar Harga Pangan Terkendali

SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur sebagai Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menyelenggarakan High Level Meeting (HLM) merespon potensi kenaikan permintaan dan harga bahan pangan serta angkutan menjelang HBKN Ramadhan dan Idul Fitri 2024.

HLM yang diselenggarakan pada 8 Maret 2023 tersebut dipimpin oleh Pj. Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono, dan dihadiri oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim, Bupati/Walikota, Kepala Perum Bulog Kanwil Jatim, Satgas Pangan, BPS, OJK, dan OPD terkait se-Jawa Timur. Dengan tema HLM “Memperkuat Sinergi Mendukung Stabilitas Harga dan Ketersediaan Pasokan Komoditas Pangan Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional Ramadhan dan Idul Fitri 2024”, TPID berkomitmen mengusung Program JATIM SIGATI (Sinergi Gapai Inflasi Terkendali) untuk mengendalikan inflasi. 

Program JATIM SIGATI tetap menerapkan strategi 4K dalam mengendalikan inflasi, yakni (1) Keterjangkauan Harga melalui program stabilisasi harga diantaranya intensifikasi operasi pasar; (2) Ketersediaan Pasokan melalui program pengaturan pola tanam antara lain percepatan masa tanam; pengembangan demplot, pemberian bantuan saprotan dan alsintan, serta optimalisasi armada angkutan; (3) Kelancaran Distribusi melalui program penguatan kerjasama dan fasilitasi distribusi komoditas; serta (4) komunikasi efektif melalui program koordinasi pusat dan daerah; peningkatan kualitas digitalisasi data, dan pengendalian ekspektasi inflasi. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) angka inflasi Jatim per Februari 2024 sebesar 2,81% (y-on-y). Dengan capaian ini ia optimis sasaran inflasi berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 101/PMK.010/2021 sebesar (2,5±1) persen pada tahun 2024 bisa tercapai.  Kepala Perwakilan Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, HLM kali ini merupakan rangkaian dari komitmen pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Jawa Timur dengan seluruh stakeholder termasuk Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi. ”Koordinasi, kerjasama, dan sinergi antara Pempus, Pemda, dan Bank Indonesia dalam TPIP dan TPID berperan penting dalam meminimalkan tekanan inflasi, terutama dari sisi supply,” ucap Erwin Gunawan Hutapea. 

HLM TPID menghasilkan 8 Komitmen Utama Pengendalian Inflasi Menjelang HBKN Idul Fitri. Pertama, giat stabilisasi harga pangan melalui OP/GPM/SPHP. Kedua, optimalisasi Etalase Pengendalian Inflasi Kabupaten/Kota (EPIK). Ketiga, menjaga ketersediaan pasokan selama HBKN dengan memastikan kelancaran panen di daerah sentra dan giat sidak gudang dan distributor. Keempat, memperkuat kerjasama intra provinsi antara daerah surplus dan defisit. Kelima, memastikan kelancaran arus orang dan barang selama HBKN melalui kecukupan armada angkutan berbagai moda serta program mudik gratis. Keeenam, menjaga ekspektasi masyarakat dan mengurangi asimetri informasi ketersediaan pangan. Ketujuh, penguatan kelembagaan korporasi petani, peternak, dan nelayan. Kedelapan, peningkatan kualitas digitalisasi data melalui pengembangan neraca pangan dan sinergi sistem informasi pengendalian harga.

Dari komitmen tersebut, TPID Jatim telah melakukan upaya pengendalian inflasi jelang HBKN Idul Fitri, yakni : (1) pelaksanaan operasi pasar murah untuk bahan pokok strategis di lebih dari 350 titik lokasi yang tersebar di 38 Kabupaten/Kota; (2) optimalisasi EPIK TPID di 15 kabupaten/kota dalam mendukung pelaksanaan Operasi Pasar Murah yang berkelanjutan; (3) Penyelenggaraan mudik gratis moda bus dengan menyediakan 164 armada; (4) penyelenggaraan mudik gratis moda kapal laut dengan menyediakaan 7 voyage; dan (5) komitmen transparasi harga bahan pangan strategis melalui optimalisasi aplikasi monitoring harga di 16 kabupaten/kota.    

Faktor dominan penyumbang inflasi masih dikarenakan kenaikan harga pangan seperti beras, cabai, bawang putih, telur ayam ras, dan daging ayam ras. Untuk hal tersebut Pj. Gubernur Jawa TImur, Adhy Karyono, pihaknya berupaya melakukan pengendalian inflasi termasuk menekan kenaikan harga pangan menjelang Ramadan dan Idul Fitri telah dipersiapkan dengan baik. “Ketersediaan BBM dan LPG kita pastikan mencukupi. Jadi masyarakat tidak perlu panik dan bisa menjalankan Ibadah di Bulan Ramadan dengan tenang,” katanya.

Meski demikian, Pj. Gubernur Adhy juga meminta komitmen penuh TPID baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota se-Jatim untuk bersama-sama dan bersinergi dalam mengendalikan inflasi. Terutama di momen menjelang HBKN ini. Strategi ketersediaan pasokan dicapai dengan sidak ke pasar dan distributor agar tidak menahan stok barang hingga penguatan kelembagaan produsen. Salah satu bentuk penguatan tersebut dengan skema korporasi petani. Strategi selanjutnya ialah memastikan kelancaran distribusi dengan cara mengoptimalkan kerja sama intra provinsi dan memberi bantuan angkutan bahan pangan strategis. Serta terakhir ialah komunikasi efektif dengan cara mengendalikan ekspektasi inflasi dan mencegah asimetri informasi di masyarakat. (aml)

Demi Kulit Cerah dan Sehat Lunesse Luncurkan Serum Vitamin C Berteknologi Terkini

SURABAYA – Kebutuhan akan kulit sehat dan cerah menjadi perhatian setiap individu saat ini. Karenanya industri kecantikan semakin berfokus pada kulit sehat konsumennya.

Lunesse, salah satu merek lokal yang konsentrasi pada perawatan kulit   meluncurkan produk terbarunya, Lunesse Vitamin C Serum. Serum ini diformulasikan khusus untuk membantu mencerahkan dan meratakan warna kulit, serta memberikan perlindungan antioksidan yang kuat.

Lunesse Vitamin C Serum diperkaya dengan 10% Ethyl Ascorbic Acid, bentuk Vitamin C yang stabil dan mudah diserap oleh kulit. Kandungan ini bekerja secara efektif untuk mengurangi pigmentasi, meningkatkan warna kulit secara merata, dan membantu melindungi kulit dari bahaya radikal bebas.

Serum ini juga dilengkapi dengan 1% Yam Bean Extract (Pachyrhizus Erosus Root) yang kaya akan Vitamin C alami, serta 0.5% Tocopherol (Vitamin E) dan Triple Hyaluronic Acid (HA) untuk menghidrasi dan melembabkan kulit secara mendalam.

Manfaat Utama Lunesse Vitamin C Serum:

● Mencerahkan dan meratakan warna kulit

● Meningkatkan produksi kolagen dan elastin

● Memudarkan garis halus dan kerutan

● Melindungi kulit dari radikal bebas

● Menjaga kesehatan skin barrier

● Melembabkan dan menghidrasi kulit

● Cocok untuk semua jenis kulit, termasuk kulit sensitif

Teknologi Plus-some™

“Lunesse Vitamin C Serum menggunakan Teknologi Plus-some™ yang inovatif untuk memastikan bahan aktif meresap ke bagian kulit secara mendalam. Teknologi ini membuat serum mudah penetrasi ke kulit untuk memberikan hasil yang lebih maksimal,” jelas manajemen Lunesse. (aml)

{Eps.2} ** Penglihatan Tunanetra yang Sulit Dipercaya, Pikiran Tertinggi Mengendalikan Otak Manusia

Apakah Anda percaya pria yang berjalan melewati berbagai rintangan adalah seorang tunanetra?Video sisipan yang direkam pada 2008 oleh seorang ahli neuropsikologi yang bernama Beatrice de Gelder. Pria yang berinisial TN itu mengalami stroke yang merusak bagian penglihatan pada cerebral cortex-nya, kemudian kehilangan penglihatannya, biasanya untuk berjalan ia harus menggunakan tongkat tunanetra.

Setelah Setengah Abad, Pesawat Ruang Angkasa AS Kembali Mendarat di Bulan

Pendaratan Kali Ini Dilakukan oleh Perusahaan Swasta

Xia Yu

Sebuah pesawat ruang angkasa yang dibuat dan dioperasikan oleh Intuitive Machines yang berbasis di Texas mendarat di dekat kutub selatan Bulan. Ini adalah kedua kalinya pesawat ruang angkasa AS mendarat di permukaan Bulan dalam kurun lebih dari setengah abad, dan ini juga pertama kalinya pendaratan di Bulan dilakukan sepenuhnya oleh sektor swasta.

Komentator dari Intuitive Machines dan NASA mengatakan dalam siaran web bersama dari Pusat Operasi Misi perusahaan di Houston bahwa pendarat Nova-C berkaki enam, Odysseus dikerahkan dari AS bagian Timur. Pesawat tersebut mendarat di permukaan Bulan sekitar pukul 18.23 waktu AS pada Selasa (20/2). Rencananya, pesawat ruang angkasa tersebut akan berhenti di sebuah kawah bernama Malapert A, dekat kutub selatan bulan.

Misi tersebut diberi nama sandi IM-1. Situasi spesifik pendaratan di permukaan Bulan saat ini masih belum jelas.

Odysseus mencapai orbit Bulan pada Rabu (21/2), seminggu setelah diluncurkan dari Florida. Odysseus membawa serangkaian instrumen sains NASA dan dirancang untuk menggunakan energi Matahari selama tujuh hari sebelum Matahari terbenam di lokasi pendaratan di kutub selatan Bulan.

Ini adalah pendaratan terkendali pertama pesawat ruang angkasa AS di permukaan Bulan sejak misi pendaratan berawak terakhir NASA di Bulan pada 50 tahun lalu. Pada 1972, Gene Cernan dan Harrison Schmitt dari Apollo 17 mendarat di Bulan. Ini adalah kali terakhir manusia menginjakkan kaki di Bulan atau melintasi orbit rendah Bumi.

Pendaratan di Bulan yang sukses ini juga menandai “pendaratan lunak” pertama pesawat ruang angkasa pribadi di Bulan, dan juga merupakan “pendaratan lunak” pertama dari program pendaratan Bulan “Artemis” NASA.

“Odysseus Menemukan Rumah Baru”

Beberapa menit setelah perkiraan waktu pendaratan, pengendali misi Intuitive Machines masih mencoba menghubungkan kembali komunikasi dengan pesawat ruang angkasa Odysseus untuk memastikan bahwa pesawat tersebut telah mendarat. Pengendali misi perusahaan akhirnya menerima sinyal dan mengumumkan bahwa pesawat telah mencapai permukaan Bulan.

“Apa yang dapat kami pastikan, tanpa keraguan, adalah bahwa peralatan kami ada di permukaan Bulan dan kami sedang melakukan transmisi. Jadi selamat untuk IM-1,” tegas Tim Crane, chief technology officer perusahaan dan direktur misi IM-1.

“Odysseus telah menemukan rumah barunya,” tambahnya.

“Saya tahu ini rumit, namun kami tetap berada di lapangan dan terus memberitakan perkembangan terbaru,” kata CEO Intuitive Machines, Steve Altemus melalui webcast “To the Moon”.

NASA Ucapkan Selamat atas Keberhasilan Pendaratan di Bulan

NASA mengunggah tanggapan terhadap misi pendaratan di Bulan di media sosial X: “Pesanan Anda telah dikirimkan… ke Bulan!”

“Pendarat Bulan tak berawak (Intuitive Machines) mendarat pada pukul 18.23 (waktu AS), membawa instrumen ilmiah NASA ke permukaan Bulan. Instrumen ini akan mempersiapkan kami untuk eksplorasi Bulan di masa mendatang di bawah program Artemis.”

“Hari ini, Amerika Serikat kembali ke Bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad,” kata Administrator NASA, Bill Nelson dalam siaran langsung web.

“Hari ini adalah hari yang menunjukkan kekuatan dan komitmen kemitraan komersial NASA,” tambahnya. “Selamat kepada semua orang yang terlibat dalam eksplorasi hebat dan berani ini.”

Muatan dari NASA akan berfokus pada pengumpulan data tentang interaksi cuaca ruang angkasa dengan permukaan Bulan, astronomi radio, dan aspek lain dari lingkungan Bulan untuk membantu pendarat di masa mendatang dan mendukung rencana NASA untuk mengembalikan astronot ke Bulan.

Sejauh ini, hanya empat negara yang telah mendaratkan pesawat ruang angkasa di Bulan: Uni Soviet, Tiongkok, India, dan Jepang. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang pernah mengirim manusia ke permukaan. (eko)

Bakteri Ganas Mungkin Menumpang di Sepatu Anda

Sepatu adalah ‘jalan raya super’ bagi kuman berbahaya untuk masuk ke rumah kita, para ahli memperingatkan

Amy Denney

Banyak di antara kita yang tanpa sadar membawa bakteri yang menyebabkan infeksi “kuman super” yang berbahaya.

Clostridium difficile (C. diff) pernah dianggap sebagai infeksi terkait layanan kesehatan, karena diyakini bahwa mereka yang terinfeksi tertular dari rumah sakit atau tempat layanan kesehatan. C. diff mudah menular dan mematikan di antara mereka yang sistem kekebalan tubuhnya lemah karena usia atau penggunaan antibiotik baru-baru ini. Ini menyebabkan peradangan di usus besar yang menyebabkan demam dan diare parah— hingga 15 hingga 30 kali sehari.

Penelitian baru menantang sudut pandang bahwa C. diff terutama ditemukan dan ditularkan di rumah sakit. Faktanya, penelitian yang sedang berlangsung di University of Houston menemukan C. diff memiliki tingkat yang hampir sama di dalam dan di luar fasilitas layanan kesehatan, dan dari semua lokasi yang diuji, sol sepatu memiliki tingkat positif tertinggi, yaitu 45 persen.

Tidak ada keraguan bahwa sepatu kita berperan sebagai “jalan raya super” serangga yang mengangkut penumpang patogen ke mana pun kita melangkah. Semakin banyak bukti yang menyoroti bahwa cara penularan mikroba yang  sering  diabaikan ini dikaitkan dengan kebiasaan yang tidak semua orang ingin ubah: memakai sepatu di rumah. Banyak orang

Amerika tidak meninggalkan sepatu mereka di depan pintu, sebuah praktik yang umum terjadi di sebagian besar budaya lain.

Tentang Sepatu

Menurut jajak pendapat CBS pada tahun 2023 ,  sekitar 37 persen orang Amerika memakai sepatu di  dalam  rumah, dan 76 persen mengizinkan tamu untuk tetap memakai sepatu di dalam rumah. Namun, jajak pendapat yang sama menemukan bahwa 90 persen orang menganggap wajar  jika  diminta  melepas sepatu saat mengunjungi ke rumah orang lain.

Terlepas dari apakah mereka melepas sepatunya atau tidak, kebanyakan orang tidak berpikir untuk mendisinfeksi bagian bawah sepatu mereka. Banyak orang bahkan mungkin bersentuhan langsung dengan sol sepatu mereka—atau sepatu anak- anak mereka—saat mereka memakai dan melepasnya.

Bukan hal yang tidak masuk akal untuk berpikir bahwa tangan yang terkontaminasi dapat mengenai wajah seseorang dan menyebabkan   infeksi,   menurut Kevin Garey, salah satu penulis studi tentang sepatu dan menjabat  ketua di University of Houston College of Pharmacy.

“Ada penelitian hebat yang dilakukan Curtis Donskey yang menunjukkan bahwa roda kursi roda dapat menjadi vektor spora C. diff. Jadi memasukkan kuman dari lantai dan

sepatu, hingga tangan, ke dalam mulut mungkin tidak terlalu sulit,” kata Kevin, yang memegang gelar doktor di bidang farmasi, dalam sebuah pernyataan.

Sekitar seperempat dari seluruh sampel yang diambil oleh tim peneliti antara tahun 2014 dan 2017 dinyatakan positif C. diff. Amerika Serikat dan 11 negara lainnya terwakili dalam sampel, yang diambil dari area publik, tempat layanan kesehatan, dan sol sepatu—termasuk untuk membuat konsep penularan.

Sepatu sebagai Vektor Kuman

Penelitian Kevin lain-nya pada tahun 2014 yang diterbitkan di Anaerobe mengumpulkan tiga hingga lima benda atau debu lingkungan dari 30 rumah di Houston dan mengujinya untuk C. diff.

Empat puluh satu dari 127 sampel yang dikumpulkan dari debu lantai, kamar mandi, permukaan rumah tangga lainnya, dan sol sepatu dinyatakan positif. Penyekaan dari bagian bawah sepatu menunjukkan persentase C. diff positif tertinggi, yaitu hampir 40 persen.

Kevin bukan satu-satunya peneliti yang menemukan hubungan ini. Tinjauan sistematis tahun 2016 dalam Journal of Applied Microbiology meneliti penelitian tentang apakah sol sepatu dapat menjadi vektor patogen menular. Secara keseluruhan, ada 13 penelitian yang mendokumentasikan C. diff— serta patogen resistan obat lainnya seperti Staphylococcus aureus—di bagian bawah sepatu di fasilitas pelayanan kesehatan, serta di masyarakat dan pekerja di sektor pangan.

Sebuah studi pada tahun 2019 tentang C. diff pada sampel sol sepatu di Australia juga menggambarkan bagaimana bakteri tersebut menyebar di luar sistem layanan kesehatan, serta dibawa ke rumah sakit dari masyarakat. Dalam upaya untuk mengetahui seberapa cepat sepatu terkontaminasi, peneliti Universitas Arizona Charles Gerba mengenakan sepasang sepatu baru selama dua minggu dan kemudian menguji solnya untuk menemukan 440.000 unit bakteri, menurut surat kabar mahasiswa universitas tersebut, The Daily Wildcat.

Tampaknya bukan hanya sepatu yang melacak mikroba di rumah kita. Tim peneliti Kevin juga menemukan bahwa cakar anjing dapat terkontaminasi C. diff. Dia mengatakan kepada The Epoch Times bahwa apa pun yang menyentuh tanah, tempat tinggal C. diff, dan tidak dicuci secara teratur, kemungkinan besar menjadi sarang mikroba.

“Saya  pikir  ini  membantu  kita untuk lebih menghargai bahwa organisme ini ada di sekitar kita. Pada pasien berisiko tinggi, hal ini memperkuat pengendalian infeksi yang baik dan perlunya mencuci tangan,” kata Kevin kepada The Epoch Times.

Timnya juga menunjukkan bahwa mencuci sepatu bisa efektif. Sepuluh relawan memakai sepatu baru di luar selama dua minggu. Setelah dicuci dengan air dingin dan deterjen, 99 persen bakterinya hilang.

Kebersihan yang buruk adalah salah satu dari banyak alasan mengapa infeksi terus menyebar. Ada sekitar 223.900 kasus C. diff pada tahun 2017 yang mengakibatkan sekitar 12.800 kematian, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC). Menurut penelitian yang dipublikasikan di BMC Infectious Diseases pada tahun 2023, terdapat sekitar 500.000 infeksi C. diff setiap tahun di Amerika Serikat dan sekitar 30.00 kematian.

Era Superbug

Sebuah artikel tahun 2023 di Microorganisms mendukung klasifikasi infeksi C. diff—kadang-kadang disebut CDI—sebagai bakteri super. CDC menganggap CDI, yang sering kali resisten terhadap antibiotik, merupakan “ancaman mendesak.” Superbug adalah infeksi dengan angka kematian tinggi yang sulit diobati.

“Sampai akhir abad ke-20, CDI diterima sebagai komplikasi terapi antimikroba, sebagian besar didapat di rumah sakit, dan tidak dianggap sebagai masalah besar dalam sistem layanan kesehatan,” tulis artikel tersebut.

Karena alasan yang belum dipahami dengan baik namun mungkin terkait dengan meluasnya penggunaan antibiotik dan antimikroba, strain C. diff telah berevolusi menjadi lebih ganas, menyebabkan wabah di berbagai negara termasuk Amerika Serikat dan terkadang berdampak pada mereka yang tidak berada dalam risiko yang cukup besar.

“Ini adalah masalah yang sangat besar, dan ini menjadi situasi kesehatan masyarakat yang semakin mendesak,” Tanya Dunlap, direktur pelaksana Perio Protect, menjelaskan dalam sesi pelatihan American Academy for Oral Systemic Health baru-baru ini.

“Satu dari setiap lima kunjungan UGD untuk kejadian efek samping obat berhubungan dengan antibiotik. Ini adalah situasi serius yang menurut saya tidak terlalu kita sadari. Kami menganggap antibiotik sebagai obat yang aman dan andal yang telah mengubah layanan kesehatan, dan memang demikian adanya. Namun masih banyak kejadian buruk yang terjadi, dan kita sedang memasuki era bakteri super.”

Tanya Dunlap menekankan bahwa laporan utama CDC mengenai resistensi antibiotik yang dikeluarkan pada Desember 2019 diabaikan oleh dunia yang terobsesi dengan COVID-19—dan hal ini mempunyai implikasi besar terhadap cara orang Amerika menghadapi infeksi patogen.

“Berhentilah mengacu pada era pasca-antibiotik yang akan datang—hal ini sudah ada di sini,” tulis mantan Direktur CDC, Dr. Robert Redfield, dalam laporan tersebut. “Anda dan saya hidup di masa ketika beberapa obat ajaib tidak lagi memberikan keajaiban dan keluarga-keluarga terkoyak oleh musuh yang sangat kecil.”

C. diff Ada Dimana-mana

Laporan Microorganisms memperjelas bahwa C. diff dapat ditemukan hampir di mana saja dan mendukung pengembangan vaksin.

Di antara tempat-tempat di mana C. diff dapat ditemukan adalah:

• Hewan peliharaan yang biasanya tidak menunjukkan gejala tetapi dapat menularkan patogen tersebut ke manusia.

• Anak-anak di bawah usia 2 tahun yang dapat mengidap C. diff.

• Hingga 17,5 persen dari populasi orang dewasa yang sehat, serta persentase yang jauh lebih tinggi pada komunitas rumah sakit.

• Sekitar 30 persen pasien sudah pernah menjalani CDI. Angka kekambuhan meningkat sekitar 10 persen, dan angka kekambuhan meningkat sekitar 10 persen, dan angka kematian terus meningkat.

“Saat kita mulai menyadari seberapa sering kita terpapar bakteri yang berpotensi membahayakan ini, kita mulai menyadari betapa tangguhnya tubuh kita untuk tidak terinfeksi bakteri ini,” kata Kevin. Menurut laporan CDC tahun 2019, hampir 50.000 orang Amerika meninggal setiap tahunnya karena infeksi yang kebal antibiotik.

CDC, berbagai organisasi nirlaba, koalisi dokter, dan lainnya telah menyoroti bahwa penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat berkontribusi terhadap peningkatan bakteri super. Faktor risiko lainnya termasuk:

• Dirawat di rumah sakit atau tinggal di panti jompo.

• Lebih tua dari usia 65 tahun.

• Perempuan.

• Kelainan imun.

• Memiliki riwayat infeksi C. diff.

RIBUAN ALASAN TAK TERLIHAT UNTUK MULAI MELEPAS SEPATU ANDA

C. diff bukan satu-satunya alasan untuk meninggalkan sepatu Anda di depan pintu saat Anda masuk ke dalam rumah. Penelitian dan pakar

lain memperingatkan bahaya berikut yang dapat dihindari saat Anda melepas sepatu di dalam ruangan:

• Pupuk rumput komersial dan pembasmi gulma diterapkan pada pekarangan yang berakhir di debu dan permukaan rumah tangga.

• Bahan kimia beracun dan mikroplastik ditemukan di banyak sepatu, serta yang menempel di sol sepatu. Bahan anti air dan PFA, kependekan dari zat per dan polifluoroalkil, sering digunakan dalam konstruksi sepatu. “Bahan kimia selamanya” dapat menemani Anda ke mana pun Anda pergi.

• Residu aspal penyebab kanker.

• Tanah yang diberi timbal. Banyak peringatan telah dikeluarkan yang menyatakan bahwa jumlah kecil sekalipun dapat berbahaya, terutama bagi anak-anak, dan mengharuskan pelepasan sepatu.

• Mikroba lain yang menyebabkan penyakit dan penyakit.

Meningkatkan Ketahanan

Namun, ada tindakan perlindungan yang tampaknya membantu, termasuk melepas sepatu dan mencuci tangan saat memasuki rumah.

Strategi lain yang tampaknya memperkuat sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi adalah memiliki mikro- bioma dengan berbagai jenis bakteri, virus, jamur, dan mikroba lain yang terwakili. Semakin banyak mikroba komensal, semakin baik sistem kekebalan tubuh dalam menghentikan infiltrasi bakteri jahat.

“Anda menginginkan mikrobioma yang sehat. Keberagaman tersebut menjaga komunitas tersebut tetap terkendali… dan membantu Anda melawan infeksi C. diff,” kata Tanya Dunlap. “Tubuh manusia sungguh menakjubkan.”

Bahkan satu jenis antibiotik saja dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma dan dapat menyebabkan berkembang biaknya patogen oportunistik. Namun kebanyakan orang yang tidak terpapar antibiotik baru-baru ini lebih dari mampu mencegah infeksi, menurut Kevin.

Namun, jika Anda baru saja dirawat di rumah sakit dan mendapat antibiotik, sebaiknya Anda lebih waspada, ujarnya.

“Untungnya, hal-hal sederhana seperti sering mencuci tangan dengan sabun dan air umumnya cukup baik untuk meminimalkan kemungkinan infeksi.”

Beberapa ahli juga menyarankan penggunaan probiotik saat mengonsumsi antibiotik, terutama bagi mereka yang usus buntunya telah diangkat atau memiliki kerentanan lainnya. Pola makan yang beragam dengan banyak warna buah dan sayuran yang berbeda juga dikaitkan dengan beragam mikrobioma.

Di sisi lain, pemutih yang berlebihan dan bahan pembersih lainnya membunuh semua mikroba (termasuk mikroba baik) namun belum terbukti efektif di rumah sakit atau rumah. Serangga yang menular sering kali muncul kembali dalam beberapa jam. Beberapa peneliti telah menemukan bahwa pembersih probiotik, yaitu pembersih yang mengandung bakteri bermanfaat, bekerja lebih baik dalam mencegah kembalinya bakteri patogen dibandingkan pembersih antimikroba biasa.

Ide Dekontaminasi Baru

Tinjauan Journal of Applied Microbiology juga mengamati studi tentang strategi dekontaminasi C. diff dan tidak menemukan satupun yang “berhasil secara konsisten.” Sejak itu, sebuah penelitian pada tahun 2022 menawarkan beberapa hasil yang menjanjikan dengan sinar ultraviolet (UV) sebagai disinfektan pada infeksi terkait layanan kesehatan.

Menurut penelitian, hampir semua unit pembentuk koloni pada strain bakteri dihilangkan sepenuhnya  setelah 12 hingga 20 detik paparan sinar UV-C menggunakan alas kaki yang memberikan cahaya ke bagian bawah sepatu.

Diterbitkan dalam International Journal for Environmental Research and Public Health, penelitian ini menyimpulkan bahwa “temuan ini memberikan bukti penting mengenai efektivitas desinfeksi UV-C; oleh karena itu, penelitian lebih lanjut harus didorong untuk memastikan kemanjurannya sebagai tambahan terhadap pembersihan standar dalam mengurangi patogen rumah sakit terkait HAI.” (mel)

Amy Denney adalah reporter kesehatan untuk The Epoch Times. Amy memiliki gelar master dalam pelaporan urusan masyarakat dari Universitas Illinois Springfield dan telah memenangkan beberapa penghargaan untuk pelaporan investigasi dan kesehatan. Dia membahas mikrobioma, perawatan baru, dan kesehatan integratif