Pada episode mata ketiga kali ini akan membahas tentang insiden ganjil kerap terjadi di Segitiga Bermuda dalam 100 tahun terakhir. Kapal, pesawat terbang, bahkan balon udara panas yang melewatinya telah lenyap silih berganti.
{ Eps. 1 } * Kuasai Bahasa Ini, Anda Bisa Melihat Masa Depan…?
Film ini mengisahkan tentang kedatangan alien ke bumi dengan pesawat mereka yang berbentuk lengkung dan mendarat di 12 negara berbeda, antara lain di Amerika Serikat, Tiongkok dan Rusia. Tak hanya sekedar datang dan mendarat. Para alien ini juga membawa sebuah pesan misterius yang disampaikan melalui simbol.
Uni Eropa Siap Bergabung dengan AS dalam Meluncurkan Koridor Maritim Bantuan Kemanusiaan Gaza
oleh Yi Jing
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan pada Jumat (8 Maret) bahwa Koridor Maritim Bantuan Kemanusiaan Gaza akan diluncurkan pada akhir pekan ini, Jadi gelombang pertama dari pasokan bantuan untuk Gaza akan diberangkatkan dari Siprus.
Presiden AS Joe Biden secara resmi mengumumkan dalam pidato kenegaraannya pada Kamis malam, bahwa AS berencana membangun pelabuhan darurat di pantai Gaza untuk menangani pasokan bantuan yang dikirim melalui laut.
“Malam ini, saya akan mengarahkan militer AS agar memimpin misi darurat dengan membangun sebuah dermaga sementara di sepanjang pantai Gaza guna menampung kiriman barang-barang seperti makanan, air, obat-obatan, tempat penampungan bantuan sementara dan sebagainya,” kata Biden.
Ketika Amerika Serikat bersiap untuk membangun pelabuhan tersebut, gelombang pertama bantuan maritim diperkirakan akan tiba di Gaza dari Siprus pada akhir pekan ini.
Pada Jumat, Presiden Komisi Eropa Ursula Von Der Leyen bertemu dengan Presiden Siprus Nikos Christodoulides dan meninjau pelabuhan Larnaca di Siprus selatan, yang akan berfungsi sebagai titik awal Koridor Maritim Bantuan Kemanusiaan Gaza.
“Siprus, Uni Eropa, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat bersama-sama meluncurkan Koridor Maritim Siprus. Meskipun mendapat berbagai tantangan, upaya tersebut tak kenal lelah, Namun, Anda (Siprus) yang dengan getolnya membangun dan menjalankan koridor ini sangat menginspirasi orang sehingga patut mendapat pujian,” ujarnya.
Saat ini, sebagian besar pasokan bantuan yang masuk ke Gaza dilakukan melalui titik penyeberangan Rafah di perbatasan dengan Mesir, namun ada banyak kendala dalam kedatangan dan distribusi pasokan karena prosedur peninjauan yang rumit, gangguan keamanan, dan jalan yang rusak. (sin)
Mantan Inspektur NTSB AS Mengajukan Teori Baru Tentang Hilangnya MH370
oleh Li Yan
Pada 8 Maret 2014 dini hari, pesawat penumpang Boeing 777 milik Malaysia Airlines MH370 menghilang dari layar radar saat dalam penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Beijing. Meskipun telah menghabiskan biaya pencarian yang sangat mahal, tetapi hilangnya pesawat tersebut masih tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan. Baru-baru ini, mantan inspektur Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) mengemukakan teori baru tentang penyebab dan keberadaan pesawat yang hilang tersebut.
Menurut laporan Fox News Digital Channel pada Jumat (8 Maret), Alan Diehl, seorang inspektur NTSB AS yang memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun dalam menyelidiki kecelakaan pesawat, yakin bahwa Boeing 777 yang hilang itu jatuh di Laut Andaman yang berada di bagian barat laut Malaysia. Jika klaim Alan Diehl benar, hal ini akan merevolusi upaya pencarian yang selama ini difokuskan di bagian selatan Samudera Hindia di lepas pantai barat daya Australia.
Alan Diehl yakin pilot MH370, Zaharie Ahmad Shah, Ingin membuat pernyataan politik melawan rezim saat itu melalui pembajakan pesawat.
Alan mengatakan bahwa pilot bermaksud untuk menyiarkan pernyataannya dalam penerbangan, kemudian mendaratkan pesawat untuk melepaskan penumpangnya.
Penerbangan jalur rutin MH370 dari Kuala Lumpur ke Beijing pada 8 Maret 2014 ternyata disimpangkan dari rute semestinya oleh pilot lewat serangkaian tikungan tajam yang tidak normal, setelah hilangnya kontak radar, pesawat kemudian menghilang, meninggalkan misteri yang belum terungkap sampai sekarang.
Sejauh ini, misteri hilangnya pesawat MH370 telah menimbulkan berbagai spekulasi dan teori.
Hingga 10 tahun ini, sebagian besar dari keluarga, kerabat dan teman-teman dari 239 orang korban yang mayoritasnya adalah warga negara Tiongkok hanya dapat mengandalkan berita spekulatif itu, meskipun kedengarannya aneh. Tetapi bagaimana pun juga, itu karena pemerintah terkait tidak mempunyai jawaban yang pasti.
“Pernyataan politik”
Alan Diehl, seorang ahli psikolog riset yang mengabdikan hidupnya untuk menampilkan kembali tindakan yang mungkin dilakukan pilot dan awak pesawat dalam penerbangan melalui analisis kondisi mental mereka. Dia percaya bahwa pilot memang sengaja melakukan pembelokan arah pesawat dan meredupkan beberapa perangkat elektronik pesawat.
“Pesawat itu terbang melewati udara Thailand dan Malaysia, juga keluar masuk wilayah udara internasional, dan dia (pilot) mungkin mematikan lampu penerangan”, kata Alan Diehl, bahwa itu hanya terlihat sebagai satu titik kecil di layar operator radar.
Pada pukul 01.19 waktu setempat, pilot mengirimkan pesan terakhirnya yaitu “Selamat malam. Malaysia MH370” kepada pengatur lalu lintas udara Malaysia. Kemudian komunikasi terputus.
Setelah itu terjadilah kekacauan di mode penebangan. Meskipun pengatur lalu lintas udara kehilangan jejak pesawat tersebut, tetapi radar militer Malaysia mampu melacaknya. Radar tersebut menunjukkan bahwa MH370 berbelok tajam di luar rencana (keluar dari jalur rutin).
Sementara beberapa pihak menduga pilot pesawat ingin melakukan bunuh diri dan bermaksud agar pesawat menghilang di lokasi terpencil, yakni lepas pantai barat daya Australia, dan percaya pesawat tersebut jatuh di sana.
Berdasarkan dugaan tersebut, pilot mengunci co-pilotnya, Fariq Abdul Hamid di luar kokpit, lalu mematikan perangkat komunikasi dan menurunkan tekanan udara pesawat agar para penumpang meninggal karena kekurangan oksigen, lalu pesawat jatuh ke laut.
Namun Alan Diehl mengatakan, informasi publik tidak menemukan adanya motif bunuh diri pilot tersebut, sedangkan kopilot dapat kembali ke kabin melalui kabin elektronik.
Alan Diehl percaya bahwa pilotnya akan mengarahkan pesawat menuju Palung Mariana. Palung yang terletak di Samudera Pasifik dengan panjang kira-kira 1.580 mil dan kedalamannya mencapai lebih dari 40 mil. Lebih dalam daripada ketinggian Gunung Everest, jika pilot MH370 ingin menghilangkan pesawat.
“Itu memberi indikasi kepada saya bahwa pilot tidak ingin menghilang pesawat”. Diehl menambahkan, bahwa palung itu sudah berada di jalur penerbangannya, jadi dia tidak perlu berbelok tajam ke kiri.
“Hal itu membuat saya berkesimpulan bahwa pilot hanya ingin membuat pernyataan politiknya, tapi ada yang tidak beres dengan pesawatnya”.
“Batu rosettta”
Diehl mengatakan kepada Fox News Digital bahwa dirinya mengajukan fiksi yang masuk akal bahwa pilot sengaja mengunci kopilot ketika dia ingin membuat pernyataan politiknya. Tapi kopilot tahu dia bisa membuka pintu kokpit melalui lubang tersembunyi.
Menurut penjelasan Diehl dalam bukunya “Best Laid Plans”, lubang tersembunyi itu mengarah ke kompartemen elektromekanis. “Area yang penuh dengan rak peralatan elektronik, kotak hitam, dan kabel-kabel panjang yang mirip spageti Italia”.
Pada saat itulah, pilot mungkin membelokkan pesawat secara tajam. “Karena di dalam area itu banyak kabel bertegangan tinggi, jika sampai badan dia (kopilot) berbenturan dengan sesuatu di sana, mungkin saja akan terjadi konsleting yang dapat menimbulkan masalah besar”, kata Alan Diehl.
“Kabin dalam pesawat akan dipenuhi dengan asap, dan sebuah lubang dapat terbakar di badan pesawat … hal ini dapat menyebabkan dekompresi yang eksplosif bagi pesawat yang berada pada ketinggian 35.000 kaki”. “Sisanya, seperti yang dikatakan orang, yaitu menjadi sejarah”, katanya.
Alan Diehl telah mempelajari sejarah pesawat Boeing 777, yang ia sebut “sangat aman”, walau pesawat jenis ini juga pernah terjadi kecelakaan fatal akibat kebakaran di kompartemen listrik dan mekanik.
Sejak kecelakaan 2014, beberapa puing pesawat telah ditemukan di lepas pantai Afrika Selatan dan di pulau Madagaskar, Mauritius, Reunion, dan Rodrigues.
Diehl mengatakan puing-puing itu merupakan “bukti paling penting” dan menjadi “Batu Rosetta” untuk mendukung teorinya. Tanpa puing-puing tersebut, salah satu misteri terbesar dalam sejarah penerbangan mungkin tidak akan pernah terpecahkan.
Dia mengatakan jika kesimpulannya benar, bahwa pesawat itu terbang menuju pangkalan militer AS di Diego Garcia, maka pencarian harus difokuskan di Laut Andaman dekat Malaysia.
Sebelumnya, pemerintah Australia, Malaysia, dan Tiongkok melakukan pencarian seluas hampir 50.000 mil persegi di bawah Samudera Hindia yang menghabiskan biaya sekitar USD.150 juta. Pada Januari tahun 2017 pencarian di bawah air secara resmi dihentikan.
Pada Januari 2018, pemerintah Malaysia mulai bekerja sama dengan perusahaan swasta bernama “Ocean Infinity”. Kabarnya perusahaan tersebut terus melakukan analisis data untuk mempersempit pencarian. Pejabat Malaysia mengatakan pada awal pekan ini, bahwa jika kerja sama dapat disepakati, maka pemerintah Malaysia akan membahas operasi pencarian baru dengan perusahaan tersebut. (sin)
Tiga Orang Meninggal Dunia Pasca Banjir dan Longsor di Kabupaten Padang Pariaman
PARIT MALINTANG – Bencana banjir dan tanah longsor akibatkan tiga korban meninggal dunia, wilayah Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat. Kejadian bermula saat hujan deras pada Kamis (7/3) sore hingga Jumat (8/3) pagi yang sebabkan meluapnya beberapa sungai yang melintasi wilayah Kabupaten Padang Pariaman dan sebabkan longsor di beberapa titik.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, merilis berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatra Barat hingga Jumat (8/3) pukul 18.00 WIB, tercatat satu orang meninggal dunia karena terseret arus banjir dan dua orang lainnya ditemukan meninggal dunia tertimbun material longsor.

Data sementara yang berhasil dihimpun, terdapat 2.958 warga terdampak banjir dan 800 unit rumah terendam dengan ketinggian muka air berkisar di antara 30 hingga 300 centimeter. Total 15 kecamatan dan 32 nagari terkena dampak dari banjir dan longsor tersebut. Sebagian warga memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman
Sejumlah infrastruktur pun turut alami kerusakan, antara lain tiga unit rumah warga alami, tiga unit jembatan, satu unit jalan, lima unit fasilitas umum dan sekitar 10 hektar lahan pertanian.

BPBD Kabupaten Padang Pariaman bersama tim gabungan masih bahu membahu untuk melakukan penanganan darurat, evakuasi dan juga pembersihan material lumpur. Untuk pemenuhan kebutuhan permakanan Dinas Sosial telah mendirikan dapur umum dan pihak Nagari/Kelurahan mendirikan dapur umum secara swadaya. Dinas Kesehatan juga telah mendirikan posko kesehatan di beberapa titik banjir untuk mengantisipasi adanya warga yang mengalami sakit. (Bnpb)
Ekonom yang Disensor Menjabarkan Mengapa Ekonomi Tiongkok Terpuruk
Jane Tao dan Cathy Yin-Garton – The Epoch Times
Sebuah langkah yang membuat para pengamat Tiongkok risau, Beijing menindak keras kritik terhadap ekonomi Tiongkok. Tahun lalu ada peningkatan yang signifikan dalam penyensoran artikel berita keuangan, dan tindakan keras tersebut diperluas pada tahun 2024, dengan Kementerian Keamanan Negara Tiongkok, dalam serangkaian unggahan di akun WeChat resminya, mendesak warga untuk tidak mendengarkan “narasi palsu” tentang ekonomi dan memperingatkan adanya peningkatan berbagai upaya dari badan-badan keamanan untuk mengunci pembicaraan negatif tentang ekonomi.
Di antara mereka yang menyebut ekonomi Tiongkok yang menurun, dan disensor karenanya, adalah Chen Shouhong, seorang ekonom Tiongkok yang dikenal karena wawasannya tentang tren investasi global. Chen yang biasa dipanggil “Ge Long” ini adalah pendiri Gelonghui, sebuah platform online untuk informasi mengenai investasi global. Dalam sebuah video di Weibo pada musim gugur lalu, ia menyoroti tiga alasan mengapa ekonomi Tiongkok sedang mengalami krisis. Tidak mengherankan jika video tersebut dengan cepat dihapus oleh sensor Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Pemeriksaan fakta pada 23 Februari oleh The Epoch Times menemukan bahwa akun Weibo Chen, dengan 377.000 pengikut, telah ditangguhkan. Penjelasan yang diberikan oleh Weibo hanya menyatakan: “Pengguna saat ini berada di bawah larangan karena melanggar hukum dan peraturan yang relevan.”
Kredibilitas Mr. Chen sangat kuat. Ia meraih gelar Ph.D. di bidang keuangan dari Zhongnan University of Economics and Law, saat ini ia menjabat sebagai chairman dan CEO dari Gelonghui Information Technology (Group) Co, Ltd. Dengan 25 tahun pengalaman dalam investasi domestik dan asing, perspektifnya memiliki bobot yang signifikan dalam lingkaran ekonomi.
Chen memandang situasi dari tiga aspek, mengingat kebijakan ekonomi PKT tentang “sirkulasi ganda”. Dia menyatakan kekhawatirannya tentang prospek Tiongkok yang mengadopsi jalur “isolasi dan penutupan internal dan eksternal.” Dia memperingatkan bahwa lintasan seperti itu dapat mengakibatkan ekonomi Tiongkok menjadi “ekonomi yang terisolasi yang dipaksa untuk hanya mengandalkan sirkulasi internal.”
Menjelang akhir tahun 2023, diskusi berputar-putar di dalam komunitas online mengenai penyensoran video Chen. Dirilis di saluran media pribadinya, “Talking About Stocks Today,” video tersebut membahas tiga aspek penting dari “sirkulasi eksternal” ekonomi Tiongkok, yaitu perdagangan dan investasi internasional. Aspek-aspek tersebut adalah turis, penerbangan maskapai, dan modal.
Sirkulasi eksternal, seperti yang ia jelaskan, menunjukkan interaksi antara penawaran dan permintaan dalam rantai industri internasional. Sirkulasi internal menandakan siklus penawaran dan permintaan dalam negeri.
Wisatawan Menjauh
Analisis Chen berfokus pada berkurangnya jumlah pengunjung asing ke Tiongkok. Dia mencatat bahwa pada kuartal pertama tahun 2019, Tiongkok menyambut 3,7 juta wisatawan asing, sedangkan pada periode yang sama tahun 2023, angkanya anjlok menjadi hanya 52.000 – penurunan mengejutkan sebesar 98,6 persen.
Sebagian besar wisatawan tersebut berasal dari Hong Kong dan Makau, dan hanya menyisakan persentase yang lebih kecil dari wisatawan dari belahan dunia lainnya.
Chen memperingatkan bahwa kelangkaan ini tidak hanya menimbulkan masalah bagi industri pariwisata inbound, tetapi juga membangkitkan kesamaan dengan isolasi semu yang mengingatkan kita pada tahun 1970-an, di mana keterlibatan eksternal berkurang bukan karena pembatasan, tetapi lebih karena hilangnya minat.
Yang menambah kekhawatiran adalah pengalihan investor asing ke negara-negara seperti Meksiko, Vietnam, India, dan Indonesia, ujar Chen. Dampak dari tren ini begitu luas.
Contoh yang menonjol adalah Shanghai, yang merupakan rumah bagi populasi ekspatriat yang cukup besar. Kota ini melihat banyak penduduk asing pergi setelah penguncian tanpa COVID-19 dan langkah-langkah lainnya. Berdasarkan laporan Kamar Dagang Uni Eropa cabang Shanghai di Tiongkok, kota ini kehilangan sekitar 25 persen populasi Jerman dan 20 persen penduduk Prancis dan Italia.
Penduduk Shanghai berbicara dengan The Epoch Times tentang dampak dari eksodus tersebut. Seorang penduduk Shanghai, Chen King (nama samaran), mengatakan dalam sebuah wawancara pada 21 Februari bahwa, sebelum pandemi, dia kadang-kadang melihat begitu banyak orang asing di Distrik Huangpu di pusat kota Shanghai sehingga dia merasa seperti berada di luar negeri. Kini ia menyesali kehadiran orang asing yang jauh lebih sedikit di kota itu, seorang teman sopir taksi, katanya, hanya menjemput orang asing sekali atau dua kali seminggu sekarang, padahal sebelum pandemi, ia mengantar mereka setiap hari.
Seorang warga Shanghai lainnya, yang tidak ingin disebutkan namanya, menyoroti dampak psikologis mendalam dari kebijakan nol-COVID di Tiongkok, yang menimbulkan ketakutan di antara penduduk lokal dan orang asing. (asr)
Miliarder Tiongkok Menempuh Tren Emigrasi Global, Membawa Kekayaan Miliaran Dolar ke Luar Tiongkok
Grace Hsing dan Michael Zhuang
Seiring dengan memburuknya kondisi politik dan ekonomi di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah besar miliarder Tiongkok beremigrasi ke negara lain. Keamanan finansial telah menjadi motivasi utama bagi orang kaya Tiongkok untuk meninggalkan negara tersebut dengan aset mereka.
Pada 29 Februari, Financial Times melaporkan bahwa pengusaha dan investor teknologi asal Tiongkok, Neil Shen, memperoleh izin tinggal permanen di Singapura sebelum pandemi dan kemudian membuka kantor di negara tersebut untuk perusahaan modal ventura senilai $56 miliar.
Pada usia 56 tahun, Shen menjadi terkenal karena investasi awalnya di perusahaan-perusahaan seperti Alibaba dan ByteDance, perusahaan induk TikTok. Dia juga telah menjadi investor utama dalam ratusan perusahaan teknologi digital di Tiongkok, yang mencakup hampir semua bidang kecerdasan buatan, big data, blockchain, dan Internet of Things.
Shen juga merupakan miliarder pendiri Sequoia China. Tahun lalu, terungkap bahwa Sequoia secara tidak langsung mempengaruhi kebijakan Washington terhadap Tiongkok dengan memberikan donasi ke berbagai universitas di Amerika. Oleh karena itu, pada Juni tahun lalu, Sequoia China dipisahkan dari perusahaan induknya yang berbasis di Amerika Serikat, Sequoia Capital, dan berganti nama menjadi HongShan.
Pada Februari, HongShan dan dua perusahaan yang diinvestasikannya, Moonshot AI dan ByteDance, disebut dalam sebuah laporan kepada Kongres AS karena membantu dan mendukung tindakan militer dan penindasan rezim Tiongkok terhadap kelompok etnis minoritas di Xinjiang.
Sejak pandemi, HongShan juga memimpin beberapa perusahaan portofolio di Tiongkok untuk mendirikan entitas di Singapura. Setelah Neil Shen berhasil berimigrasi ke Singapura, para pendukungnya menjadi lebih mudah untuk melakukan hal yang sama.
Melarikan Kekayaan
Di bawah kedok “kemakmuran bersama”, Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah menekan perusahaan swasta dan perusahaan teknologi, memberlakukan kontrol keamanan nasional, memperburuk hubungan dengan mitra dagang utama Barat, dan menerapkan penguncian yang keras selama pandemi. Hal ini telah menyebabkan meningkatnya jumlah miliarder dan individu dengan kekayaan bersih tinggi di Tiongkok yang beremigrasi ke luar negeri dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam satu dekade terakhir, Tiongkok menduduki peringkat pertama dalam hal arus keluar bersih jutawan. Australia, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Singapura adalah pilihan utama.
Menurut statistik sebelumnya dari konsultan migrasi investasi yang berbasis di Inggris, Henley & Partners, pada tahun 2022, lebih dari 10.800 jutawan memilih untuk meninggalkan Tiongkok, dengan masing-masing membawa pergi rata-rata $6,6 juta dalam bentuk kekayaan saat beremigrasi ke luar negeri. Dengan kata lain, pada 2022, para miliarder Tiongkok membawa pergi sekitar $71,2 miliar kekayaan dari Tiongkok.
Pada tahun 2023, jumlah jutawan Tiongkok yang beremigrasi mencapai 13.500 orang, meningkat 25 persen dari tahun 2022. Antara tahun 2023 dan 2025, jumlah total emigran Tiongkok dapat melebihi 700.000, menurut laporan Agustus 2023 dari Juwai IQI, sebuah perusahaan real estat internasional. Australia adalah tujuan utama bagi para ultra-kaya Tiongkok, diikuti oleh Uni Emirat Arab, dengan Singapura berada di peringkat ketiga.
Andrew Amoils, kepala penelitian di perusahaan intelijen kekayaan global New World Wealth, menunjukkan dalam sebuah laporan bahwa pertumbuhan kekayaan Tiongkok secara keseluruhan telah melambat, yang berarti bahwa arus keluar modal baru-baru ini mungkin lebih mengganggu daripada di masa lalu.
Menurut laporan CNBC tahun lalu, sejak PKT mengusulkan gagasan “kemakmuran bersama”, para miliarder Tiongkok telah mempercepat laju pemindahan dana ke berbagai lokasi yang lebih baik, salah satunya dengan mendirikan kantor keluarga untuk mentransfer aset, dan banyak di antaranya yang memilih Singapura.
Menurut data dari perusahaan analitik Amicus, per Agustus 2023, di antara orang kaya yang telah mendirikan kantor keluarga di Singapura dari lebih dari 60 wilayah di seluruh dunia, orang kaya Tiongkok menyumbang jumlah terbesar, dengan 699 orang, atau 34 persen.
Zhou Daochuan, kepala direktur riset dan strategi Yunfeng Financial, mengadakan upacara pembukaan kantor keluarga di Singapura pada Februari lalu. Dia mengatakan kepada media berbahasa Mandarin bahwa modal awal untuk kantor keluarga mereka adalah sekitar $100 juta.
Dalam 2 hingga 3 tahun terakhir, banyak perusahaan telah pindah ke Singapura dengan dukungan investasi Sequoia China, termasuk perusahaan rintisan kecerdasan buatan Tiongkok seperti Moonshot AI dan Hai Robotics, serta perusahaan induk TikTok, ByteDance, dan peritel fesyen cepat saji, Shein.
Tren Aliran Modal Keluar dari Tiongkok dan Hong Kong
Ketika kebijakan regresif PKT memperburuk lingkungan ekonomi dan politik di Tiongkok dan Hong Kong, laju emigrasi Tiongkok tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Hal ini dapat menyebabkan arus keluar modal lebih lanjut dari Tiongkok dan Hong Kong.
Berdasarkan Laporan Hurun yang dirilis pada 2023, terdapat 969 miliarder Tiongkok di seluruh dunia, dan sekitar 18 persennya tinggal di luar Tiongkok.
Menurut Laporan Kekayaan Global 2023, ada lebih dari 32.900 orang di Tiongkok dengan aset melebihi 100 juta dolar AS pada tahun 2023, nomor dua setelah Amerika Serikat.
Meskipun Tiongkok diperkirakan memiliki 823.800 jutawan, tren arus modal keluar akan menyebabkan puluhan juta dolar kekayaan menghilang dari Tiongkok, yang semakin memperburuk perlambatan ekonomi di Tiongkok.
Di Hong Kong, diperkirakan sekitar 1.000 jutawan beremigrasi tahun lalu, sehingga sangat mempengaruhi upaya pemerintah Hong Kong untuk menarik dana dan menjadikan Hong Kong sebagai pusat kantor keluarga.
Di masa lalu, Hong Kong dinilai sebagai ekonomi paling bebas di dunia. Banyak miliarder Tiongkok menjadi imigran baru di Hong Kong. Namun, dengan runtuhnya bentuk pemerintahan “satu negara, dua sistem” yang dijanjikan PKT sebelum mengambil alih Hong Kong, banyak miliarder Hong Kong lama dan baru mulai menarik dana mereka dari Hong Kong.
Lew Mon-hung, seorang pengusaha Hong Kong yang terkenal dan mantan anggota kongres stempel Tiongkok, baru-baru ini mengatakan kepada The Epoch Times bahwa alasan perubahan mentalitas para miliarder adalah karena PKT pada dasarnya telah membalikkan kebijakan “reformasi dan keterbukaan”. Hal ini telah berdampak pada Hong Kong, dan “satu negara, dua sistem.” Pada kenyataannya, ini adalah “satu negara, satu sistem,” yang membawa aturan seseorang, bukan aturan hukum, ke Hong Kong.
“Di daratan [Tiongkok], selalu ada praktik tercela dan jahat yang merugikan pengusaha swasta, seperti saham swasta yang disita, gagal bayar proyek tanpa konsekuensi, dan debitur yang ditahan secara kriminal. Hal ini membuat para miliarder Hong Kong khawatir akan menyebar ke Hong Kong. Mereka merasa dirugikan dan khawatir. Jadi mereka mempertimbangkan kembali keamanan dan stabilitas keluarga mereka sendiri, yang mengarah pada gagasan untuk beremigrasi,” katanya. (asr)
Media Tiongkok Bungkam Soal Kebakaran Hutan Besar-besaran di Guizhou, Mengingatkan akan Kekacauan ‘Akhir Dinasti’
Pinnacle View Team
Provinsi Guizhou di barat daya Tiongkok baru saja mengalami lebih dari 200 kebakaran gunung yang telah membakar hampir setengah dari provinsi tersebut, namun baik saluran resmi maupun media pemerintah Tiongkok tetap bungkam selama berminggu-minggu, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Penyebab kebakaran masih menjadi misteri, namun kebakaran tersebut telah memperlihatkan beberapa tanda kegagalan rezim partai komunis Tiongkok.
Kemungkinan Alasan untuk Bungkamnya Media
Para ahli Tiongkok berbagi pandangan mereka di program Pinnacle View di NTDTV tentang apa yang mungkin menyebabkan kebakaran hutan dan mengapa media pemerintah tetap bungkam tentang bencana alam yang begitu besar.
Menurut Tang Jingyuan, seorang komentator senior urusan terkini, mungkin ada tiga alasan mengapa media resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT) tidak melaporkan kebakaran di Guizhou.
Yang pertama tentu saja terkait dengan Tahun Baru Tiongkok. PKT memiliki tradisi untuk tidak mengizinkan publikasi berita negatif apa pun selama festival untuk menciptakan suasana yang disebut damai. Hal ini semakin menjadi-jadi sejak kepala PKT Xi Jinping berkuasa.
Ketika pandemi COVID-19 pertama kali merebak di Wuhan, justru karena Xi sangat menghargai suasana harmonis selama periode Tahun Baru Tiongkok dan tidak ingin suasana itu rusak. Jadi, pihak berwenang di Wuhan diperintahkan untuk menyembunyikan situasi virus baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Akibatnya, hal itu menyebabkan ledakan wabah virus yang luar biasa, mengubahnya menjadi pandemi global.
Faktor kedua adalah bahwa Xi menghadapi ekonomi yang amat sulit. Sebelum Tahun Baru Tiongkok, pasar saham mengalami longsoran salju – sebuah keterpurukan besar. Dia kemudian meminta lembaga keuangan milik negara turun tangan dan membeli saham guna menstabilkan pasar, bahkan mengeluarkan perintah eksekutif untuk membatasi penjualan saham.
“Hanya melalui praktik seperti hooligan semacam inilah pasar saham nyaris pulih sedikit sebelum Tahun Baru Tiongkok, hanya demi menghindari pemandangan yang memalukan selama festival penting ini,” kata Tang.
Dalam situasi seperti ini, bencana alam besar tiba-tiba terjadi di Guizhou. Bagi PKT, berita tentang kebakaran hutan dan gunung sama sekali tidak dapat diterima untuk diumumkan kepada publik, ujar Tang.
Faktor ketiga adalah bahwa kebakaran kecil terjadi sekitar Tahun Baru hampir setiap tahun karena pada saat itulah orang Tiongkok membakar uang kertas untuk leluhur yang telah meninggal, sehingga pemerintah setempat mungkin tidak terlalu memperhatikan pada awalnya.
Namun, kebakaran gunung terjadi di beberapa lokasi, dan beberapa di antaranya sangat besar dan dengan cepat menjadi kebakaran hebat. Ketika kebakaran yang tersebar itu terhubung dan berkembang menjadi kebakaran besar, para pejabat setempat tidak berani melaporkannya. Jadi mereka memblokir berita tersebut.
Tang berkata : “Keterlambatan respon dan pemblokiran berita pada akhirnya berujung pada hasil yang kita lihat saat ini.”
Proyek Infrastruktur Masif Merusak Ekosistem
Tang juga menunjukkan bahwa Guizhou adalah daerah pegunungan dan ketika Wen Jiabao menjabat sebagai perdana menteri Tiongkok, Guizhou mulai membangun infrastruktur secara ekstensif untuk merangsang ekonomi, termasuk banyak proyek pemeliharaan air berskala besar.
“Hasil yang mungkin terjadi adalah erosi tanah,” katanya dalam acara tersebut. “Menurut laporan resmi dari Guizhou sendiri, hanya ada satu kali hujan dalam tiga musim dari musim panas 2022 hingga musim dingin, yang berlangsung hingga tahun 2023. Media menyebutnya sebagai ‘kekeringan seratus tahun’, dan tentu saja ini adalah kekeringan yang sangat serius.”
Menurut Tang, pembangunan infrastruktur berskala besar di Guizhou telah menyebabkan kerusakan pada tanah dan air, terutama di daerah pegunungan. Ketika tanah tidak dapat mempertahankan kelembapan dan menjadi kering, maka secara alamiah tanah menjadi berisiko tinggi terhadap kebakaran.
Guo Jun, pemimpin redaksi The Epoch Times edisi Hong Kong, menambahkan bahwa beberapa provinsi di barat daya Tiongkok memiliki lanskap Karst yang khas, yaitu lanskap batu kapur dengan gua-gua bawah tanah. Sistem sirkulasi air underground di daerah Karst sangat rapuh, dan pembangunan banyak proyek buatan manusia di Guizhou mungkin telah menyebabkan permukaan air turun dengan cepat, mengakibatkan berkurangnya air di tanah dan udaranya, serta tanah yang lebih gersang.
Menurut Guo, di masa lalu, barat daya dan selatan Tiongkok adalah tempat dengan curah hujan paling banyak di Tiongkok, tetapi mulai sekitar tahun 2008, iklim Tiongkok telah berubah secara dramatis, terutama karena pergeseran ke utara dari sabuk curah hujan dan kekeringan di bagian barat daya negara itu, yang semakin serius.
Dia juga mencatat bahwa peningkatan curah hujan di utara telah membawa beberapa masalah, seperti banjir baru-baru ini yang telah kita lihat di Henan, Hebei, Heilongjiang, dan bahkan Mongolia Dalam, dengan banjir tahun 2023 di Kota Zhuozhou, Provinsi Hebei, yang paling parah, yang jarang terlihat di masa lalu.
Guo membeberkan, Di sisi lain, ada juga manfaatnya, seperti melambatnya perluasan gurun di utara, dan bahkan mundurnya beberapa gurun. PKT telah membanggakan pencapaiannya dalam pengendalian gurun, penghapusan beberapa gurun, dan sebagainya, percaya bahwa ini adalah hasil dari upaya manusia, tetapi pada kenyataannya, menurut pendapatnya, ini terutama disebabkan oleh perubahan iklim, karena zona curah hujan telah bergeser ke utara. Peningkatan curah hujan tahunan, bahkan sedikit lebih banyak, memiliki efek yang sangat signifikan terhadap alam.”
Fenomena ‘Akhir Dinasti’
Shi Shan, seorang penulis senior dan kontributor The Epoch Times, berbagi dalam acara tersebut bahwa dalam sistem otoriter, struktur kekuasaannya memiliki karakteristik bahwa ketika ada sesuatu yang tidak beres di tingkat akar rumput, para pejabat lokal pertama-tama akan mencoba untuk menutupinya, dan ketika sudah terlambat untuk menutupinya, mereka akan menggunakan sumber daya dari seluruh negara dengan mati-matian untuk menekan arus informasi. Pada saat masalah tersebut harus dilaporkan ke pihak berwenang pusat, masalah tersebut sudah menjadi tidak terkelola dan tidak dapat dikendalikan.
” Sebenarnya, telah kita amati bahwa hal serupa terjadi berulang kali di akhir sebuah dinasti, terutama kerusuhan sipil, atau bencana. Sebagai contoh, pada akhir Dinasti Ming, Provinsi Shaanxi dan Henan mengalami kekeringan, para pejabat setempat juga berusaha menutup-nutupi hal tersebut di awal. Akhirnya, mereka tidak punya cara lain selain melapor ke Beijing, tetapi pada saat itu, sudah terlambat untuk mengangkut makanan dari daerah lain guna memberikan bantuan bencana.”
Dia percaya bahwa situasi saat ini di Tiongkok sangat mirip.
“Meskipun kebakaran di Guizhou mungkin tidak dapat membakar rezim PKT, tetapi memang ada pertanda – yakni model menutup-nutupi dan penindasan – yang mengingatkan kita pada akhir sebuah dinasti. Model ini pasti akan menyebabkan banyak masalah seperti itu,” kata Shi. (asr)














