Peradaban Ini bukan cerita fiksi ilmiah, tetapi adalah sejarah masa lalu peradaban bumi, kami sebut prasejarah, yaitu sejarah sebelum sejarah yang kita kenal sekarang, prasejarah ini seharusnya dapat digunakan sebagai referensi bagi umat manusia saat ini terhadap peradaban modern dan masa akan datang, “Seorang Jepang yang berusia 66 tahun yang mengaku sebagai reinkarnasi dari Sakyamuni, dengan cerita pembukaannya, menceritakan kembali tentang sembilan peradaban bumi.Peradaban umat manusia saat ini sebenarnya adalah peradaban manusia yang ke berapa? Sampai sekarang ini, masih ada perbedaan pendapat, ilmuwan besar seperti Newton, Einstein, Hawking, dan lain-lain, juga tidak bisa berbuat apa-apa dalam masalah ini. Lantas siapakah orang Jepang yang menceritakan kembali tentang peradaban ke-9 bumi ini? Apa yang tidak berani dikatakan oleh para ilmuwan, dia berani mengatakan, apakah yang dia katakan itu sesungguhnya adalah benar?
Protes Pekerja Tiongkok Meningkat Dua Kali Lipat Sepanjang 2023, Menjadi Ancaman bagi Kekuasaan PKT
Sophia Lam – The Epoch Times
Para pekerja Tiongkok melakukan aksi protes dua kali lipat lebih banyak untuk membela hak-hak mereka pada 2023 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menurut sebuah kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Hong Kong. Para pengamat Tiongkok mengatakan bahwa meluasnya unjuk rasa dapat menyebabkan kejatuhan Partai Komunis Tiongkok (PKT).
China Labor Bulletin (CLB), sebuah organisasi nirlaba di Hong Kong yang “mendukung dan secara aktif terlibat dengan gerakan buruh yang sedang berkembang di Tiongkok,” melaporkan 1.779 protes pada 31 Desember di tengah-tengah pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, pengurangan upah, dan penutupan bisnis di negara tersebut.
Lai Jianping, mantan pengacara Tiongkok dan komentator masalah saat ini yang berbasis di Kanada, dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan edisi The Epoch Times bahasa Mandarin bahwa munculnya aksi protes pekerja Tiongkok berskala besar adalah “hasil yang tak terelakkan” dari krisis ekonomi Tiongkok.
Lai percaya bahwa protes-protes tersebut dapat menyebabkan runtuhnya rezim komunis Tiongkok.
Protes Pekerja Nasional pada 2023
Ekonomi Tiongkok tetap lesu pada 2023 meskipun ada pelonggaran mendadak dari tindakan nol-COVID yang kejam sejak Desember 2022.
CLB melaporkan, berkurangnya pesanan dari pembeli internasional dan kondisi ekonomi yang buruk di negara tersebut telah menyebabkan pabrik-pabrik memberhentikan pekerja, merelokasi untuk meminimalkan biaya, atau tutup sama sekali.
Laporan CLB mengungkapkan bahwa protes tersebut terutama terkait dengan industri yang berorientasi ekspor – seperti elektronik, garmen dan pakaian jadi, mainan, dan otomotif – dan para pekerja memprotes upah, PHK, dan relokasi, serta menuntut kompensasi.
Aksi protes meletus di seluruh Tiongkok, termasuk di empat kotamadya yang berada di bawah pemerintahan langsung PKT.
Provinsi Guangdong, pusat manufaktur utama, mencatat 510 protes dengan berbagai ukuran tahun lalu, yang tertinggi di negara itu, menurut laporan CLB.
Jumlah protes tertinggi kedua (108) dilaporkan terjadi di Provinsi Shandong di bagian timur Tiongkok, diikuti oleh Provinsi Henan di bagian tengah dan Provinsi Shanxi di bagian utara (masing-masing tercatat 100 aksi protes).
Dari keempat kota tersebut, Beijing, ibu kota Tiongkok, dilaporkan mencatat 33 aksi protes tahun lalu, sementara Shanghai mencatat 47 aksi protes, Chongqing mencatat 35 aksi protes, dan Tianjin mencatat 25 aksi protes.
Pada 7 Januari tahun lalu, protes berskala besar meletus di Chongqing setelah ribuan pekerja secara tiba-tiba di-PHK oleh Zybio, Inc, produsen alat tes COVID-19, salah satu aksi protes paling awal di bulan pertama tahun ini yang tercatat dalam laporan CLB. Pihak berwenang setempat mengirimkan polisi anti huru hara untuk menekan protes tersebut.
Aksi Protes Lainnya
Menurut Nikkei Asia, 1.777 demonstrasi tercatat di negara ini yang terkait dengan sektor properti antara Juni 2022 dan Oktober 2023. Dua pertiga dari demonstran ini adalah pembeli rumah dan pemilik rumah yang memprotes “penundaan proyek, pelanggaran kontrak, dugaan penipuan, dan pengerjaan yang buruk.”
Sebagian besar demonstran yang tersisa adalah pekerja konstruksi yang menuntut upah yang belum dibayar.
Pada 21 Juli 2023, ribuan orang tua berunjuk rasa di berbagai instansi pemerintah di kota Xi’an, Provinsi Shaanxi, untuk memprotes kebijakan pemerintah yang membatasi akses siswa terhadap peluang pendidikan sekolah menengah dan perguruan tinggi.
Dikarenakan pemerintah Tiongkok memiliki catatan buruk dalam menutup-nutupi informasi, sulit untuk menilai skala sebenarnya dari aksi protes ini.
‘Mereka Harus Berjuang untuk Kelangsungan Hidup Mereka’
Lai mengatakan bahwa kampanye pembelaan hak asasi manusia baru-baru ini di Tiongkok melibatkan “lebih banyak peserta” dan aksi-kasi tersebut “lebih intens dari sebelumnya.”
Dia menambahkan bahwa banyak orang saat ini menghadapi kemiskinan ekstrem, kekurangan sumber daya keuangan untuk menghidupi keluarga mereka, membiayai pendidikan anak-anak mereka, menutupi biaya medis, dan membayar hipotek.
Lai menegaskan : “Orang-orang ini hanya dapat tegak untuk mempertahankan hak-hak mereka yang sah, menuntut tunggakan gaji, dan meminta kesempatan kerja.”
Selain itu, dengan kembali ke era revolusi Mao Zedong, pemimpin partai komunis Tiongkok, Xi Jinping, “telah menghalangi investor asing dan pengusaha swasta Tiongkok untuk terlibat dengan Tiongkok.”
Li Yuanhua, seorang mantan pakar sejarawan Tiongkok yang sekarang tinggal di Australia, percaya bahwa protes yang meluas di kalangan pekerja terutama berasal dari “keinginan mereka untuk bertahan hidup.”
Li kepada The Epoch Times menjelaskan : “Kelas istimewa di dalam PKT telah menjarah aset-aset sosial, sementara para pekerja Tiongkok yang berada di lapisan terbawah masyarakat telah terdesak hingga ke batas kemampuan mereka. Karena tidak dapat mengamankan kebutuhan dasar dan kelangsungan hidup mereka, lalu mereka terpaksa mengambil sikap.”
Ia menambahkan, sistem kesejahteraan sosial Tiongkok berada di ambang kehancuran dan tidak dapat memberikan dukungan apa pun kepada kelas pekerja miskin, seraya mengutarakan bahwa “mereka harus berjuang untuk kelangsungan hidup mereka.”
Aksi Protes Massal Mungkin Mengakhiri Kekuasaan PKT
PKT telah mengadopsi pendekatan keras untuk menekan para pembangkang dan pengunjuk rasa demi mempertahankan pemerintahan otoriternya.
Namun demikian, ketika rakyat berjuang untuk bertahan hidup, mereka tidak lagi takut akan penindasan PKT, kata Li, seraya mengatakan bahwa inilah yang ditakuti oleh rezim tersebut.
“Perlawanan dari masyarakat semacam ini adalah tulus, dan mereka tidak takut terhadap penindasan kejam yang dilakukan oleh PKT. Bagi mereka, perlawanan dapat menyebabkan kematian, namun tanpa perlawanan, kematian tidak bisa dihindari. Jadi mengapa mereka tidak melawan?!”
Bagi Mr. Lai, PKT tidak dapat secara efektif menghentikan semua kampanye protes nasional.
“PKT menghadapi tantangan yang luas, dengan gelombang pengangguran dan PHK yang berdampak pada berbagai industri dan sektor. Aksi protes dan insiden pembelaan hak asasi manusia terus bermunculan, dan kekacauan terjadi di mana-mana di negara ini. … Maka dapat diperkirakan bahwa PKT tidak punya cara untuk menanganinya,” ujarnya.
“Sampai batas tertentu, situasi ini merupakan ancaman signifikan terhadap kekuasaan rezim komunis. Seperti kata pepatah Tiongkok kuno, ‘Jika seseorang tidak takut mati, maka tidak ada gunanya mengancam mereka dengan kematian,” jelasnya.
Zhang Hong dan Luo Ya berkontribusi pada laporan ini.
Peristiwa Inilah Penyebab Punahnya Dinosaurus
Kali ini akan membahas tentang makhluk purbakala, dinosaurus. Diperkirakan kesan paling intuitif tentang dinosaurus adalah wujudnya dalam film fiksi ilmiah. Tapi sebenarnya, tidak ada yang tahu apakah wujud dinosaurus benar-benar seperti itu, bentuknya diperkirakan berdasarkan tulang kerangkanya.Pertanyaan lainnya adalah, apakah dinosaurus itu adalah Homoiterm / hewan berdarah panas atau Poikiloterm / berdarah dingin, masih belum diketahui secara pasti. Lalu apakah yang membuat makhluk itu musnah?
Mengerikan! Begitu Perang Luar Angkasa Meletus, Tiongkok Berkolaborasi dengan Kekuatan Gelap Alien?
Banyak misteri-misteri dalam alam semesta yang belum terungkap ke permukaan. Ketika kita masih tenggelam dalam perdebatan apakah alien itu ada, mereka telah melakukan invasi ke bumi. Ada juga yang ingin menyelamatkan bumi. Bahkan, konon beberapa negara sudah bekerja sama dengan alien.Alien itu memang ada. Mereka berada pada dimensi lain, karena mata kita hanya bisa melihat benda-benda pada dimensi kita ini saja. Maka tidak bisa melihat alien. Jika mereka tidak menampakkan diri pada dimensi manusia ini, kita tidak akan bisa melihatnya. Misalnya kita tidak bisa melihat atom, inti atom, elektron dan lain-lain, atau juga dalam udara kita ini ada oksigen, hydrogen dan lain-lain. Namun, kita tak bisa melihatnya.Konten yang dibagikan kepada Anda hari ini mungkin sedikit tidak terduga. Jauh lebih tinggi, kami coba melepaskan konsep yang ada pada kita, melepaskan ilmu pengetahuan yang ada. Mencoba melihat sisi lain, terlepas dari apakah Anda percaya atau tidak. Bagaimana memahaminya, kami mengharapkan Anda dapat melihat dan hadapi dengan sikap positif dan optimis, setelah itu berikan komentar-komentar anda
Petinggi Pimpinan Hamas Dibunuh, Militer Israel dalam Siaga Tinggi
Chen Qian – NTD
Setelah pembunuhan politisi peringkat kedua Hamas, Saleh al-Arouri, militer Israel menyatakan bahwa mereka dalam keadaan siaga tinggi dalam menghadapi kemungkinan pembalasan.
Pertempuran sengit terjadi di Gaza tengah dan selatan pada Rabu (3 Januari), dan pasukan Israel yang bertempur di Gaza berhenti di Israel selatan untuk berkumpul kembali dan menambah pasokan.
Pada hari yang sama, juru bicara IDF mengatakan bahwa Israel menggunakan metode baru untuk membersihkan jaringan terowongan bawah tanah di Khan Younis, kota terbesar kedua di Gaza, dan mengatakan akan terus memperluas operasi rahasia ini.
Juru bicara IDF Daniel Hagari: “Di Gaza, di Khan Younis, pasukan kami terus melakukan operasi bawah tanah. Ini adalah operasi yang membutuhkan waktu, baik untuk keselamatan pasukan kami dan karena kami menggunakan cara-cara baru yang terselubung. , namun, kami melakukannya tidak perlu mengungkapkan taktik kita kepada musuh.”
Saat ini, Amerika Serikat sedang berusaha mencegah meluasnya konflik dan telah mengerahkan dua kapal induk dan pasukan militer lainnya ke wilayah tersebut. Menlu Turki mengatakan Menteri Luar Negeri AS Blinken juga akan mengunjungi Turki pada Sabtu (6 Januari) ini untuk membahas masalah bilateral dan regional.
Selain itu, Hamas membenarkan bahwa pemimpin peringkat kedua Hamas Leh Aluri dibunuh bersama enam anggota organisasi lainnya, termasuk dua komandan militer.
Militer Israel mengatakan pihaknya “sangat siap menghadapi situasi apapun” setelah pembunuhan Arouri.
Arouri tewas dalam serangan pesawat tak berawak di selatan Beirut, basis Hizbullah. Namun Israel belum mengaku bertanggung jawab.
Hizbullah, kelompok militan Lebanon yang didukung Iran, mengatakan pihaknya telah melancarkan sembilan serangan terhadap posisi Israel di perbatasan Lebanon, termasuk menembakkan roket.
Kelompok ini beroperasi di Lebanon selatan dan diyakini memiliki sedikitnya 150.000 roket, sebagian besar merupakan roket jarak jauh. (Hui)
Korea Utara Tiba-tiba Tembakkan 200 Peluru Artileri, Korea Selatan Perintahkan Penduduk Pulau Yeonpyeong Mengungsi
oleh Lin Peiyun – NTDTV Asia Pasifik
Kantor Berita Yonhap melaporkan bahwa militer Korea Selatan menyatakan Korea Utara menembakkan sekitar 200 peluru artileri ke arah pantai barat Korea Selatan pada 6 Januari pagi dan menargetkan Pulau Yeonpyeong yang berdekatan dengan Korea Utara. Warga setempat diinstruksikan mengungsi.
Laporan menunjukkan bahwa Korea Utara menembakkan lebih dari 200 artileri pantai di Pulau Baengnyeong, Pulau Yeonpyeong, dan perairan lainnya pagi ini. Sebagai tanggapan, Pemerintah Kota Incheon dua kali mengeluarkan instruksi evakuasi kepada penduduk Pulau Yeonpyeong. Militer membantu masyarakat dalam proses evakuasi dan pelayaran laut terkait di dekatnya juga diatur.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan menyebutkan, tidak ada kerusakan yang terjadi pada pihak militer maupun warga sipil Korea Selatan. Lokasi jatuhnya peluru berada di utara Jalur Utara (NLL). Saat ini tidak ada laporan adanya korban luka pada warga di Pulau Yeonpyeong.
Laporan media lain menyebutkan bahwa militer Korea Selatan akan melakukan latihan penembakan di laut pada pukul 03.00 sore sebagai tanggapan atas provokasi Korea Utara.
Secara terpisah, Reuters melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan Korea Selatan tidak akan mengonfirmasi apakah perintah evakuasi tersebut dipicu oleh penembakan peluru artileri Korea Utara atau latihan militer Korea Selatan sebagai tanggapannya.
Namun, dalam pesan singkat yang dikirimkan kepada warga setempat dan dikonfirmasi oleh pejabat di pulau tersebut, disebutkan bahwa pasukan Korea Selatan akan melakukan “latihan penembakan angkatan laut” mulai pukul 03.00 sore pada hari itu. (Hui)
5 Badak Abu-Abu Perekonomian Menyerang Zhongnanhai, Pakar : Masyarakat Tiongkok Perlu Ambil 6 Langkah Penyelamatannya
NTD
Setelah mengalami berbagai pukulan seperti dampak epidemi, hengkangnya investasi asing dan hancurnya pasar real estat, situasi ekonomi Tiongkok terus terpuruk. Analisis para ahli menunjukkan bahwa di tahun 2024 ini perekonomian Tiongkok akan menghadapi 5 “badak abu-abu” (Gray Rhino) sehingga situasi ekonomi bakal semakin memburuk. Jika masyarakat Tiongkok ingin menghindari risiko tersebut, maka mereka perlu memperhatikan setidaknya 6 aspek yang akan dijelaskan di bawah ini.
Pada 5 Januari, komentator keuangan dan politik Qin Peng mengatakan dalam program Pinnacle View (Forum Elit) NTDTV, bahwa perekonomian Tiongkok di tahun 2024 berpotensi memburuk karena penurunan ekonomi Tiongkok sudah menjadi tren, sehingga dengan sendirinya akan bergulir semakin cepat ke bawah. Dan tentunya persepsi yang diperoleh dunia luar juga berbeda ketika ramalan terhadap perekonomian Tiongkok jelek. Meskipun di masa lalu banyak orang terus berinvestasi, tapi sekarang mereka akan memilih untuk wait and see atau meninggalkan pasar Tiongkok.
Kelima badak abu-abu utama dalam perekonomian Tiongkok
Qin Peng mengatakan bahwa akan ada lima badak abu-abu utama dalam perekonomian Tiongkok pada tahun 2024 :
Yang pertama adalah pasar real estat, krisis real estate belum dapat diatasi otoritas, bahkan sekarang berada dalam kondisi penurunan baik volume maupun harga. Pasar real estat berada dalam kekacauan.
Badak abu-abu kedua adalah utang pemerintah daerah. Beberapa krisis telah terjadi pada utang pemerintah daerah pada tahun 2023, dan krisis berikutnya akan menjadi lebih besar dan lebih serius, sehingga menyebabkan penurunan tajam dalam seluruh belanja pemerintah daerah.
Badak abu-abu ketiga adalah masalah konsumsi. Sementara itu Xi Jinping tidak bersedia lagi mengeluarkan uang untuk meningkatkan konsumsi.
Badak abu-abu keempat adalah epidemi.
Badak abu-abu kelima adalah hubungan internasional.
Qin Peng mengatakan bahwa hingga saat ini belum terlihat tanda-tanda adanya perbaikan dalam hubungan internasional Tiongkok, yang terlihat hanyalah apakah hubungan internasional akan memburuk lebih cepat atau lebih lambat. Para investor internasional akan sangat berhati-hati dalam melihat masalah-masalah Tiongkok ini. Peringatan banyak ahli menunjukkan bahwa perekonomian Tiongkok berpotensi lebih terpuruk di masa mendatang.
Guo Jun, pemimpin redaksi media “Epoch Times” mengatakan di “Forum Elite”, bahwa secara umum perekonomian Tiongkok di tahun 2024 akan menjadi lebih buruk, karena di negara-negara yang menganut sistem otokratis, pemerintahnya lebih kuat dan mereka cenderung akan menunda masalah. Sebenarnya mereka sedang menumpuk masalah. Jika tidak ada perubahan besar dalam situasi masyarakat Tiongkok, dapat dipastikan permasalahan ekonomi Tiongkok akan menjadi lebih serius.
Pakar menawarkan 6 saran bagi masyarakat Tiongkok untuk menghindari risiko memburuknya perekonomian
Menanggapi krisis yang akan dihadapi perekonomian Tiongkok pada tahun 2024, Qin Peng mengemukakan 6 saran tentang bagaimana masyarakat Tiongkok dapat menghindari risiko dan mengelola keuangan :
Yang pertama adalah sedapat mungkin menghindari investasi pada perusahaan manufaktur, karena sekarang semua industri sedang tidak bagus, barang yang diproduksi belum tentu terjual, dalam keadaan deflasi ini perusahaan sulit dapat menghasilkan uang.
Kedua adalah dari segi konsumsi, yaitu jika memungkinkan sebaiknya tidak berinvestasi di real estat.
Yang ketiga, jika Anda memiliki beberapa rumah investasi, sebaiknya segera dijual agar Anda memiliki uang tunai di tangan. Banyak orang yang masih berharap harga rumah akan stabil setelah mengalami penurunan. Saya tidak berpikir aspek ini bisa terjadi.
Keempat tentang beberapa produk investasi, harga emas pada dasarnya sudah mencapai titik tertinggi sekarang, kalau Anda masih mau berinvestasi lagi di emas, saya khawatir ada risiko tertentu, risikonya sangat besar. Ada juga fakta bahwa pasar saham saat ini sulit untuk memprediksikan harga batasan terendah, karena perekonomian secara keseluruhan sudah memburuk. Orang-orang pintar kini memilih meninggalkan pasar saham.
Kelima adalah jika Anda ingin berinvestasi, menurut saya dolar AS adalah sesuatu yang dapat Anda beli. Tetapi Anda harus mentransfer dan menyimpannya dalam rekening di luar negeri.
Qin Peng memperkirakan bahwa dalam jangka menengah dan panjang, nilai tukar riil antara mata uang renminbi dengan dolar AS sebenarnya bukan 1:7 atau 1:8 seperti yang diberlakukan saat ini, tetapi bisa jadi sudah berada di kisaran 1:15 atau 1:20. Nilai renminbi sudah jauh merosot akibat rezim Beijing mencetak uang secara berlebihan.
Yang keenam adalah tentang pembelian produk keuangan. Dalam hal ini, Qin Peng menyarankan agar pemilik uang untuk lebih memikirkan bagaimana menghindari risiko daripada memikirkan bagaimana cara menghasilkan uang. Karena banyak produk keuangan mempunyai kelemahan, di belakangnya mungkin didukung oleh obligasi lokal atau perusahaan investasi perkotaan, jadi risiko itu tidak kecil. So, lebih baik uang itu “dipegang” saja, atau disimpan di bank-bank besar yang umumnya memiliki risiko lebih kecil. (sin)
Kelompok Houthi Mengincar AL Amerika, Dari Mana Kepercayaan Dirinya Berasal?
Li Xin
Ketika seluruh dunia menaruh perhatian pada Israel yang sedang memerangi Hamas di Gaza, di kawasan lain di Timur Tengah konflik berskala lebih kecil secara perlahan mulai memuncak, pengamat militer mengkhawatirkan hal ini akan merusak perekonomian seluruh dunia, dan bahkan dapat meningkat menjadi suatu perang serius yang akan melibatkan seluruh kawasan tersebut.
AS Membalas di Laut Merah, Tenggelamkan Tiga Kapal Militan Houthi
Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Minggu (31/12) lalu menyatakan, pasukan AS (Amerika Serikat) telah merespon sinyal meminta pertolongan yang dikirimkan oleh sebuah kapal dagang yang berlayar di Laut Merah, dan menenggelamkan tiga unit kapal kecil bermotor milik kelompok militan Houthi.
Dalam suatu pernyataannya pada Minggu lalu CENTCOM menyebutkan, sekitar pukul 6.30 pagi waktu setempat, kapal kontainer “Hangzhou” berbendera Singapura milik perusahaan pelayaran Denmark yakni Maersk A/S telah mengirimkan sinyal S.O.S (meminta pertolongan, red.), dan menyebutkan bahwa ada empat kapal kecil sedang menyerang mereka.
Pihak CENTCOM menyatakan, “Kapal-kapal kecil dari wilayah kekuasaan kelompok militan Houthi yang berasal dari Yaman itu telah menembakkan senjata multikru (crew-served weapon, red.) dan senjata jenis ringan dari jarak kurang dari 20 meter dari kapal tersebut, dan berupaya untuk menaiki kapal.” Pejabat AS tersebut melanjutkan, untuk meresponnya, kapal induk USS Dwight D. Eisenhower bersama kapal perusak USS Gravely mengirimkan sejumlah helikopter, untuk memberikan peringatan verbal terhadap kapal-kapal kecil itu.
CENTCOM AS juga mengatakan, ketika helikopter memberikan peringatan secara verbal terhadap kapal-kapal kecil itu, para militan Houthi di atas kapal itu justru melepaskan tembakan pada helikopter militer AS, maka helikopter pun menenggelamkan tiga dari empat kapal tersebut, dan menembak mati awak kapalnya. Satu kapal yang tersisa lalu melarikan diri dari lokasi. “Helikopter AL Amerika melakukan serangan balasan untuk membela diri”, begitu penjelasan CENTCOM, dan menambahkan, tidak ada personel militer AS yang terluka, juga tak ada perlengkapan militer AS yang mengalami kerusakan.
Sejak Israel diserang oleh Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu dan menyatakan perang terhadap kelompok itu, pemberontak Houthi Yaman yang mendukung Hamas terus meningkatkan serangannya terhadap semua kapal dagang yang berlayar di Laut Merah.
Rudal balistik Iran juga sangat mengkhawatirkan, tapi kemungkinan besar belum memiliki kemampuan melacak dan menyerang kapal yang bergerak di lautan. Walau demikian, rudal balistik Iran yakni Shahab-3 yang mampu membawa 1.000 kg hulu ledak, memiliki jarak tembak setidaknya 1.300 kilometer.
Rudal balistik generasi ke-4 yang lebih berbahaya yakni Khorramshahr, dikabarkan menggunakan bahan bakar gas, mampu membawa hulu ledak seberat 1.800 kg, dan jarak tembaknya antara 2.000 hingga 3.000 kilometer.
Semua rudal tersebut dapat ditembakkan oleh militan Houthi, juga dapat ditembakkan dari berbagai lokasi di Iran untuk langsung menyerang Israel. Iran juga memiliki rudal balistik jarak menengah dan rudal jelajah yaitu Emad dan Paveh yang memiliki jarak tembak lebih dari 1.600 kilometer.
Walaupun kapal militer AS berhasil menghancurkan rudal dan drone yang diluncurkan Houthi, akan tetapi jika ditembakkan serempak dalam skala besar atau diserang secara mendadak oleh Houthi tetap akan berbahaya.
Jika armada AS tidak mampu memberikan respon terhadap serangan Houthi pada kawasan perang yang lebih luas, maka ada kemungkinan militan Houthi akan menggunakan serangan serempak rudal berskala besar yang dapat langsung meningkatkan konflik, akibatnya mungkin menyebabkan kapal dagang bahkan kapal militer AS terjebak dalam bahaya.
Karena serangan Houthi terus meningkat, maka tingkat bahaya ini eksis secara objektif. Tentu saja AL Amerika mampu mencegah bahaya ini yang dapat menyebabkan kerugian yang sesungguhnya. Radar Aegis, intelijen satelit, sistem pengawasan dan pengintaian serta sistem kendali komando zona perang terpadu yang dimiliki armada kapal induk AS, mungkin dapat mendeteksi rudal yang ditembakkan Houthi sejak dini dan bisa mencegatnya.
Sejak perang Israel dengan Hamas meletus, rezim Iran dan militan Houthi Yaman telah melakukan lebih dari 33 kali aksi serangan di laut, termasuk menembakkan rudal dan serangan drone terhadap kapal dagang, menyita secara ilegal dan mengusik kapal AL Amerika dan pasukan sekutu di kawasan perairan Timur Tengah.
Menurut data yang dirilis oleh Institut Riset Keamanan Nasional Yahudi (JINSA), hanya pada Desember saja telah terjadi 27 kali serangan di laut yang melibatkan Iran. Houthi dan pendukungnya dari Teheran tidak hanya ingin meningkatkan tekanan terhadap Israel, sebenarnya juga telah merusak perekonomian dunia.
Serangan seperti ini telah menimbulkan dampak bagi perekonomian, dan sejumlah kapal terpaksa menghindari jalur pelayaran Timur Tengah yang lebih cepat, serta memilih jalur pelayaran memutar mengitari Afrika yang menelan biaya lebih besar.
Akan tetapi, hingga kini, AS hanya menjanjikan akan mencegat rudal dan drone dengan dukungan AL sekutu. AS belum mengambil langkah konkrit untuk membalas tindakan agresi maritim oleh Iran dan juga Houthi di perairan Timur Tengah, hanya sebatas mengambil tindakan perlindungan terhadap peningkatan serangan yang didukung oleh Iran. Dalam tingkat tertentu, ini sama saja dengan mendorong Iran dan Houthi agar terus menyerang.
Krisis yang intens menuntut AS mengambil tindakan, untuk membuat rezim Iran dan militan Houthi mendapatkan ganjaran langsung atas agresi yang telah dilakukannya. “Operation Prosperity Guardian” adalah langkah penting untuk mengorganisir para mitra bekerjasama mencegah serta membalas serangan agresi Iran di laut.
Negara yang telah secara terbuka menyatakan ambil bagian dalam “Operation Presperity Guardian” adalah AS, Inggris, Bahrain, Kanada, Prancis, Italia, Belanda, Norwegia, Seychelles, dan Spanyol. Aliansi yang longgar ini akan dipimpin oleh Satuan Tugas Gabungan (Combined Task Force atau CTF) ke-153 dari Combined Maritime Forces (CMF) AS, yang akan bertanggung jawab atas keamanan di Laut Merah.
Komandan senior pasukan AL Amerika di Timur Tengah mengatakan, untuk mencegah militan Houthi melakukan serangan di Laut Merah, AS harus berubah dari bertahan menjadi menyerang, dan tidak hanya mengambil tindakan perlindungan. Mereka menilai, sekarang sudah waktunya bagi “Operation Prosperity Guardian” AS itu untuk mengambil tindakan konkrit.
Untuk mencegah dan melemahkan kemampuan Iran dan Houthi melakukan serangan, maka harus dilakukan operasi militer menyerang basis kelompok Houthi di Yaman, menghancurkan menara peluncur rudal, bahkan aset terkait di wilayah Iran, agar dapat tercapai sasaran menghentikan Houthi berikut pihak lain yang didukung oleh Iran memperluas konfrontasi.
AS tentu memiliki kemampuan menghancurkan fasilitas peluncur rudal milik Houthi. Dalam konflik pada 2016, AS telah menghancurkan tiga sasaran militan Houthi, beberapa tahun terakhir juga telah beberapa kali menyerang kawanan Iran lainnya di kawasan tersebut, termasuk Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak.
Bagaimana pun, Komando Pusat AL (NAVCENT) AS dapat segera memanfaatkan satuan tugas pada CMF dan IMSC untuk melakukan operasi militer. CMF dan IMSC telah membentuk tim kerja khusus, fokusnya adalah melenyapkan ancaman pada jalur pelayaran internasional di Timur Tengah. Lewat koordinasi AL Amerika, aliansi gabungan dapat mengambil tindakan yang lebih percaya diri, untuk menurunkan atau menyingkirkan ancaman yang ada. (sud/whs)
G7 Vs ‘BRI-plus’
Anders Corr
Negara-negara demokrasi memilih keluar dari pendekatan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan organisasi-organisasi yang dimaksudkan untuk memfasilitasi kejahatan semacam itu. Pada 29 Desember, Argentina mengumumkan bahwa mereka telah berubah pikiran dan tidak akan menerima undangan untuk bergabung dengan negara-negara BRICS (yang dimulai oleh Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, dan dipimpin oleh Beijing).
Organisasi-organisasi internasional partai Komunis Tiongkok (PKT) kini semakin nakal sementara mereka mengklaim memperjuangkan sistem internasional yang “adil” dan “multilateral”. Negara-negara otokrasi dan pelanggar hak asasi manusia-termasuk Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Ethiopia-mendaftarkan diri pada visi Beijing mengenai dunia di mana diktator yang tidak terpilih semakin bebas melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga negaranya dan orang-orang di luar negeri.
Organisasi internasional lainnya yang dipimpin oleh PKT, the Belt and Road Initiative(BRI), juga menghadapi masalah dengan keanggotaannya. Italia, satu-satunya negara Kelompok Tujuh (G7) dalam kelompok itu, secara resmi meninggalkan BRI pada akhir 2023.
Negara-negara demokrasi yang masih berada dalam organisasi PKT memiliki masalah mereka sendiri. India mengikuti kebijakan luar negeri yang kurang memiliki nilai-nilai demokrasi. India terlibat dengan Rusia melalui pembelian energi dan senjata, misalnya, meskipun Moskow berperang melawan Ukraina. India lalai untuk mengutuk agresi di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Amerika Serikat ingin menarik New Delhi sebagai sekutu untuk melawan Moskow dan Beijing, sehingga tidak lebih vokal dalam kritiknya. Namun, ada ancaman finansial yang tersirat terhadap India karena keterlibatannya yang terus berlanjut dengan Rusia.
Afrika Selatan merupakan contoh kasus sosialisme, kriminalitas, dan disfungsi. Situasinya sangat buruk sehingga perusahaan milik negara yang paling penting, perusahaan listrik, tidak dapat diandalkan untuk terus menyediakan listrik. PDB per kapitanya turun hampir 23 persen sejak tahun 2011. Bahkan Afrika Selatan, yang merupakan anggota pendiri BRICS dan anggota BRI sejak tahun 2015, tidak dapat memanfaatkan hubungan dengan Tiongkok untuk mendapatkan bantuan pembangunan yang cukup agar tetap menyalakan listrik, menggambarkan kemiskinan yang mendasari klaim Beijing untuk mendukung pembangunan internasional.
Visi awal BRICS, yang terdiri dari empat negara (Afrika Selatan ditambahkan kemudian) yang dilihat oleh Wall Street sebagai jalur cepat pertumbuhan ekonomi, kini telah bermuara pada India, salah satu dari satu-satunya negara demokrasi dalam kelompok ini. Pertumbuhan tersebut bergantung pada perdagangannya dengan G7.
Pertumbuhan ekonomi di Brasil dan Afrika Selatan terus menerus tersendat-sendat, dan Rusia serta Tiongkok mengalami stagnasi atau bahkan lebih buruk lagi, sebagian karena seringnya mereka berseberangan dengan “Barat”. Beijing dan Moskow sekarang mencoba untuk memanfaatkan kelompok ini menjadi serikat mata uang yang akan membuat para anggotanya kebal dari jenis sanksi yang menargetkan Rusia yang mana juga dapat digunakan untuk melawan Tiongkok, jika mereka menginvasi Taiwan.
Anggota-anggota terbaru BRICS, yang diumumkan pada 29 Desember, sebagian besar adalah diktator dan pelanggar hak-hak asasi manusia. Iran adalah yang terburuk dari kelompok baru ini, dengan dukungan berkelanjutan untuk terorisme internasional melawan Amerika Serikat dan Israel melalui proksi-proksi mereka, Hamas, Hizbullah, dan Houthi. Bendera Houthi mencantumkan slogan, “Tuhan Maha Besar, Matilah Amerika, Matilah Israel, Terkutuklah Yahudi, dan Kemenangan bagi Islam.” Oleh karena itu, menjadi bagian dari organisasi internasional dengan Iran seharusnya tidak terpikirkan.
Untuk membalikkan dinamika ini, diperlukan pembebanan biaya ekonomi dan politik terhadap negara-negara yang bergabung dengan organisasi internasional Tiongkok. Sanksi terhadap negara-negara BRI dan BRICS (bersama-sama disebut “BRI-plus”) harus dipimpin oleh Amerika Serikat, sekutu-sekutunya, dan negara-negara G7 lainnya, dan termasuk penurunan akses ke pasar aliansi.
Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan negara-negara lain yang dekat dengan G7, seperti Korea Selatan, mengimpor lebih banyak dari negara-negara BRI-plus daripada sebaliknya. Hal ini memberikan G7 lebih banyak pengaruh perdagangan daripada BRI-plus berdasarkan aturan bahwa importir neto dalam hubungan perdagangan memiliki lebih banyak pengaruh perdagangan daripada eksportir neto, dengan asumsi yang sama. Hal ini konsisten dengan pengamatan mantan Presiden Donald Trump, ketika berbicara tentang perdagangan dengan Tiongkok, bahwa “pelanggan selalu benar.”
Amerika Serikat dan sekutunya juga dapat membebankan biaya kepada bank-bank asing yang mendukung negara-negara BRI-plus. Pada 22 Desember, pemerintahan Biden mengeluarkan perintah eksekutif yang mengesahkan sanksi baru terhadap bank-bank di negara-negara pihak ketiga yang memfasilitasi pelanggaran larangan ekspor militer ke Rusia. Hal ini akan memukul Tiongkok dan India paling keras.
Membebankan biaya kepada negara-negara BRI-plus juga dapat dilakukan dengan menjadikan keanggotaan di BRI-plus sebagai diskualifikasi untuk keanggotaan di G7. Negara-negara yang menerima perdagangan, bantuan, atau hak-hak istimewa ekonomi lainnya dari G7 harus diharapkan untuk menghindari BRI-plus dan meningkatkan ketaatan mereka terhadap pemilihan umum yang bebas dan hak asasi manusia. Dengan demikian, negara-negara tersebut akan menunjukkan diri mereka sebagai negara yang mendukung demokrasi atau tidak. Hanya negara-negara yang mendukung demokrasi yang akan terus didukung oleh G7.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah pendapat penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.











