Siklon Dahsyat Mengamuk di Wilayah Timur AS, 150 Juta Warga Terpukul Badai Musim Dingin Ekstrem

Akhir pekan lalu, sebuah badai musim dingin kuat yang dikenal sebagai “siklon bom” menyapu wilayah tenggara Amerika Serikat, menerjang dari pesisir Teluk Meksiko hingga kawasan New England.  Sekitar 150 juta penduduk AS terpapar suhu ekstrem yang sangat dingin. 

Negara bagian North Carolina mengalami hujan salju lebat, memaksa ratusan penerbangan dibatalkan; bahkan di Florida turun salju ringan. Suhu rendah ekstrem juga menyebabkan iguana hijau Amerika membeku kaku. Hingga saat ini, ribuan rumah tangga di wilayah selatan masih mengalami pemadaman listrik akibat gelombang dingin parah tersebut dan hidup dalam kondisi sulit.

EtIndonesia. Sejak akhir Januari, badai musim dingin datang bertubi-tubi melanda Amerika Serikat. Jumlah kematian terkait cuaca buruk secara nasional telah melampaui 110 orang. Para ahli meteorologi menyebutkan bahwa pada Minggu, sekitar 150 juta orang di wilayah timur AS berada dalam status peringatan cuaca dingin atau peringatan suhu ekstrem.

Di beberapa negara bagian selatan, suhu turun hingga di bawah 10 derajat Fahrenheit (sekitar minus 12 derajat Celsius). Bahkan Florida Selatan yang biasanya hangat mengalami gelombang udara dingin terparah sejak Desember 1989.

North Carolina menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Badai musim dingin langka ini menyebabkan salju turun di seluruh 100 county di negara bagian tersebut. Di kota terbesar, Charlotte, ketebalan salju hampir mencapai 12 inci (sekitar 30 sentimeter), menjadikannya salah satu dari lima catatan salju tertebal sepanjang sejarah kota.

Warga Goldsboro, North Carolina, Stan Davis, mengatakan: “Ini adalah salju terbanyak yang pernah saya lihat dalam 65 tahun hidup saya di Wayne County, North Carolina. Saya memang pernah melihat salju yang lebih tebal di luar negeri, tapi untuk Wayne County, ini benar-benar badai salju besar.”

Menurut data perusahaan pelacak penerbangan FlightAware, pada hari Sabtu lebih dari 2.800 penerbangan di AS dibatalkan, disusul lebih dari 1.800 pembatalan pada hari Minggu. Di antaranya, lebih dari 800 penerbangan berasal dari atau menuju Bandara Internasional Charlotte Douglas (CLT).

Gubernur North Carolina, Josh Stein, menyatakan: Akhir pekan ini, kami mencatat lebih dari 1.000 kecelakaan lalu lintas, termasuk dua korban meninggal dunia, yang terjadi dalam kecelakaan beruntun besar di Jalan Tol Interstate 85 yang melibatkan lebih dari 100 kendaraan.”

Florida juga mengalami suhu dingin yang jarang terjadi. Di wilayah Tampa, tercatat adanya hujan salju ringan. Akibat suhu dingin, sejumlah warga melihat iguana hijau Amerika yang ‘membeku kaku’ jatuh dari pohon, tergeletak tak bergerak di tanah.

Sementara itu, di wilayah selatan AS, kerusakan infrastruktur masih membuat puluhan ribu warga hidup dalam kesulitan. Di Tennessee dan Mississippi, lebih dari 81.000 rumah tangga masih mengalami pemadaman listrik, dan sebagian warga telah hidup tanpa listrik selama beberapa hari.

Di tengah musim dingin yang terus berlanjut, “peramal cuaca” paling terkenal di Pennsylvania, seekor marmut bernama Punxsutawney Phil, muncul pada 2 Februari, Hari Marmut, untuk melakukan ramalan tahunan. Hasilnya menunjukkan bahwa musim dingin masih akan berlangsung selama enam minggu lagi.

Menurut tradisi, jika marmut melihat bayangannya sendiri pada 2 Februari, itu berarti musim dingin akan berlanjut enam minggu lagi; jika tidak melihat bayangannya, maka musim semi akan datang lebih awal.

Reporter New Tang Dynasty Television, Liu Jiajia, melaporkan dari Amerika Serikat.

Serangan Rusia Tewaskan 12 Penumpang Bus Ukraina, Putaran Baru Dialog Damai Dikonfirmasi

EtIndonesia Militer Rusia pada 1 Februari menyerang sebuah bus yang mengangkut para pekerja sektor energi, menewaskan 12 orang. Namun demikian, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Senin (2 Februari) menyatakan bahwa Rusia pada dasarnya telah mematuhi kesepakatan gencatan senjata yang melindungi infrastruktur energi Ukraina. 

Sementara itu, baik Ukraina maupun Rusia mengkonfirmasi bahwa putaran baru perundingan tiga pihak akan digelar pada 4 dan 5 Februari di Uni Emirat Arab. Selain itu, perjanjian pengendalian senjata nuklir AS–Rusia akan berakhir dalam tiga hari. Presiden Rusia Vladimir Putin mengusulkan perpanjangan perjanjian selama satu tahun, dan bagaimana Presiden Trump akan mengambil keputusan menjadi sorotan utama opini publik.

Serangan Udara Rusia ke Bus Ukraina Tewaskan 12 Orang, Perundingan Baru Segera Dimulai

Sebuah bus yang hancur dan jasad korban yang berserakan—sebuah video yang beredar pada Senin memperlihatkan secara jelas kengerian di lokasi pasca serangan udara. Di wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina tenggara, sebuah bus yang mengangkut para penambang diserang drone Rusia pada 1 Februari, menyebabkan setidaknya 12 orang tewas dan 16 orang luka-luka.

Perusahaan energi swasta terbesar Ukraina, DTEK, menyatakan bahwa para korban merupakan karyawan yang sedang dalam perjalanan pulang setelah bekerja. Ini merupakan jumlah korban tewas terbanyak dalam satu hari di antara karyawan perusahaan tersebut sejak perang meletus.

Pada hari yang sama, sebuah rumah sakit bersalin di Zaporizhzhia juga dibom oleh pasukan Rusia, mengakibatkan enam orang terluka. Saat serangan terjadi, dua perempuan sedang menjalani proses persalinan.

Seorang perawat, Zvurska, mengatakan: “Saya masih merasa sangat terguncang. Ini sungguh menyakitkan.”

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mengecam serangan-serangan tersebut, dengan mengatakan bahwa hal ini menunjukkan Putin mengabaikan upaya perdamaian dan terus melancarkan perang terhadap warga sipil.

Sementara itu, Ukraina bekerja sama dengan Starlink untuk melawan drone Rusia dan telah mencapai hasil yang cepat dan signifikan. Elon Musk mengkonfirmasi melalui unggahannya bahwa langkah-langkah yang diambil SpaceX untuk mencegah Rusia menggunakan jaringan Starlink secara tidak sah telah berhasil.

Diplomasi: Perundingan tiga pihak akan digelar di Abu Dhabi

Dalam bidang diplomasi, Presiden Ukraina Zelensky pada Senin kembali menegaskan bahwa putaran baru perundingan tiga pihak akan dilanjutkan pada 4 dan 5 Februari di Abu Dhabi, dan Ukraina siap untuk melakukan perundingan substantif.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berkata: “Delegasi kami sudah berangkat. Pembicaraan akan berlangsung pada hari Rabu dan Kamis ( 4 dan 5 Februari). Tidak hanya perundingan tiga pihak, tetapi juga pertemuan bilateral dengan Amerika Serikat.”

Kremlin pada Senin juga mengkonfirmasi kabar tersebut, seraya menyatakan bahwa Rusia dan Ukraina telah memperkecil perbedaan pendapat dalam beberapa isu, namun pada sejumlah persoalan yang dinilai lebih kompleks, belum tercapai kemajuan serupa.

Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia, Dmitry Medvedev, dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa usulan negara-negara besar Eropa untuk menempatkan pasukan negara anggota NATO di Ukraina sebagai bagian dari jaminan keamanan dan perjanjian damai tidak dapat diterima oleh Rusia.

Medvedev mengatakan: “Saya tidak ingin situasi semakin meningkat, tetapi kondisi saat ini sangat berbahaya.”

Medvedev telah berulang kali mengecam Kyiv dan negara-negara Barat, serta mengancam bahwa konflik tersebut dapat meningkat hingga ke perang nuklir.

Putin usulkan perpanjangan perjanjian nuklir AS–Rusia, Trump hadapi keputusan besar

Selain itu, Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin menyatakan bahwa jika Presiden Trump setuju untuk memperpanjang perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara AS dan Rusia selama satu tahun, ia juga siap melakukannya.

Perjanjian New START (New Strategic Arms Reduction Treaty) membatasi jumlah hulu ledak nuklir Amerika Serikat dan Rusia masing-masing hingga 1.550 unit, dan perjanjian ini akan berakhir dalam tiga hari pada 5 Februari.

Para pengamat menilai bahwa apakah perjanjian ini akan diperpanjang atau dibiarkan berakhir akan menjadi keputusan besar pertama terkait senjata strategis sejak Trump kembali ke Gedung Putih. 

Pendukung berakhirnya perjanjian berpendapat bahwa tanpa batasan perjanjian, Amerika Serikat dapat mengembangkan kemampuan nuklirnya untuk menghadapi arsenal nuklir Tiongkok yang terus berkembang, sekaligus meningkatkan daya tangkal terhadap Rusia. Namun para penentang memperingatkan bahwa langkah tersebut berisiko memicu perlombaan senjata nuklir.

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing.

Tukang Cukur dan Tuhan

EtIndonesia. Suatu hari, seorang pria pergi ke sebuah tempat cukur untuk memotong rambut dan merapikan janggutnya.

Selama proses itu, dia dan sang tukang cukur terlibat dalam percakapan yang menyenangkan. Mereka membahas banyak hal dan berbagai topik.

Ketika pembicaraan akhirnya menyentuh soal Tuhan, sang tukang cukur berkata: “Saya tidak percaya Tuhan itu ada.”

“Mengapa Anda berkata begitu?” tanya sang pelanggan.

Tukang cukur menjawab: “Cukup keluar ke jalan dan lihatlah sendiri, Anda akan sadar bahwa Tuhan tidak ada. Katakan pada saya, jika Tuhan benar-benar ada, mengapa begitu banyak orang yang sakit? Mengapa ada begitu banyak anak yang ditelantarkan? Jika Tuhan ada, seharusnya tidak ada penderitaan dan rasa sakit. Saya tidak bisa membayangkan Tuhan yang penuh kasih membiarkan semua ini terjadi.”

Pelanggan itu terdiam sejenak. Dia tidak menjawab apa pun, karena dia tidak ingin memulai perdebatan.

Setelah selesai mencukur, pelanggan itu pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun baru saja dia melangkah keluar, dia melihat seorang pria dengan rambut panjang kusut dan janggut lebat, wajahnya kotor dan penampilannya sangat tidak terawat, berdiri di pinggir jalan.

Pelanggan itu berbalik arah, kembali masuk ke tempat cukur, dan berkata kepada sang tukang cukur : “Tahukah Anda? Tukang cukur itu sebenarnya tidak ada.”

Tukang cukur terkejut dan berkata :  “Bagaimana Anda bisa mengatakan begitu? Saya ada di sini! Saya tukang cukur, dan saya baru saja melayani Anda!”

“Tidak!” jawab pelanggan itu. “Tukang cukur tidak ada. Jika tukang cukur benar-benar ada, tidak mungkin ada orang yang membiarkan rambut dan janggutnya panjang, kotor, dan tidak terurus seperti pria yang berdiri di luar itu.”

Sang tukang cukur menghela napas dan berkata : “Ah, tukang cukur tentu saja ada. Masalahnya, orang-orang itu tidak datang kepada saya. Karena itulah keadaannya menjadi seperti itu.”

“Tepat sekali!” kata pelanggan itu dengan mantap. “Itulah intinya. Tuhan juga ada. Namun karena manusia tidak mencari-Nya, tidak mendekat kepada-Nya, dan tidak bersandar kepada-Nya, maka begitu banyak penderitaan dan bencana terjadi di dunia ini.”

“Sahabatku, apakah kamu sudah menemukan Tuhan?”

Semoga Tuhan memberkatimu.

Hikmah Cerita

Cerita hari ini mengingatkan kita pada satu kebenaran sederhana: pertolongan hanya bermakna jika kita mau mendatangi sumber pertolongan itu sendiri.

Tuhan, dewa, atau keyakinan apa pun sering kali menjadi sandaran batin yang memberi manusia kekuatan untuk bangkit dari kesulitan. Namun jika seseorang hanya berdoa setiap hari tanpa pernah mau bergerak dan berusaha, maka keberhasilan akan tetap terasa jauh.

Surga dan neraka sejatinya hanya dipisahkan oleh satu keputusan. Menolong diri sendiri adalah awal dari pertolongan orang lain, dan setelah itu barulah pertolongan Tuhan datang.

Jika bahkan usaha untuk menolong diri sendiri pun tidak mau dilakukan, lalu dari mana pertolongan manusia dan pertolongan Tuhan bisa datang? (jhn/yn)

Trump Menyelesaikan Kesepakatan Besar AS-India, Modi Berjanji untuk Menghentikan Pembelian Minyak dari Rusia

Pada Senin  (2 Februari), Presiden AS Donald Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa Amerika Serikat dan India telah mencapai kesepakatan perdagangan besar. Kedua negara akan saling menurunkan tarif, dan India juga setuju menghentikan pembelian minyak Rusia, serta beralih membeli produk dari Amerika Serikat.

EtIndonesia. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pada pagi hari ia telah berbicara lewat telepon dengan Perdana Menteri India Narendra Modi, membahas perdagangan, energi, serta cara mendorong berakhirnya perang Rusia–Ukraina.  Modi menyetujui bahwa ke depannya India akan membeli lebih banyak minyak dari Amerika Serikat dan Venezuela, dan tidak lagi mengimpor dari Rusia. Trump menambahkan bahwa kerja sama ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga dapat mempercepat berakhirnya perang Rusia–Ukraina.

Kesepakatan perdagangan ini langsung berlaku. Trump mengungkapkan bahwa Amerika Serikat akan menurunkan tarif terhadap India dari 25% menjadi 18%. Sementara itu, India berkomitmen untuk menghapus seluruh tarif dan hambatan non-tarif terhadap produk Amerika Serikat.

Kesepakatan yang lebih besar lagi adalah komitmen India untuk membeli produk Amerika Serikat senilai total 500 miliar dolar AS dalam lima tahun ke depan, mencakup sektor energi, produk pertanian, teknologi, batu bara, dan lainnya, serta akan semakin memperluas kebijakan “membeli produk Amerika”.

Trump memuji Modi sebagai “pemimpin yang kuat dan dihormati”, serta menyebutnya sebagai “salah satu sahabat terbaiknya”. Ia mengatakan:

“Saya dan Modi adalah orang-orang yang bisa menyelesaikan sesuatu. Kebanyakan orang tidak bisa.”

Modi juga menanggapi melalui platform X, mengatakan bahwa ia senang berbicara dengan “sahabat terkasih, Trump”, dan berterima kasih kepada Amerika Serikat atas penurunan tarif menjadi 18%. Ia menyebut hal ini sebagai kabar baik bagi 1,4 miliar rakyat India, serta menekankan bahwa kepemimpinan Trump sangat penting bagi perdamaian dan stabilitas global.

Modi juga menyatakan harapannya untuk mengangkat hubungan kedua negara ke tingkat baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perlu diketahui, pada Agustus tahun lalu, Trump sempat memberlakukan tambahan tarif hukuman sebesar 25% terhadap India karena negara itu membeli minyak Rusia, sehingga total tarif mencapai 50%. Kini, tambahan tarif tersebut telah disetujui untuk dicabut oleh Amerika Serikat.

Menurut laporan Bloomberg, seorang pejabat India mengkonfirmasi komitmen pembelian tersebut, yang mencakup pesawat terbang, teknologi, logam mulia, energi, dan berbagai sektor lainnya. Kerja sama kedua negara dinilai berlangsung secara menyeluruh.

Liu Mingxiang

Puting Beliung Langka Melanda Chengdu, Rekaman Mengerikan Telah Dirilis (Beberapa Video)

EtIndonesia. Pada 1 Februari, ketika banyak warga Chengdu, Tiongkok sedang berjemur di bawah sinar matahari di area rumput sebuah taman pameran, tiba-tiba angin puting beliung muncul di lokasi tersebut. Sejumlah warga yang berada di tempat kejadian merekam momen menegangkan itu dengan ponsel mereka.

Kejadian berlangsung di Taman Pameran Warisan Budaya Takbenda Internasional Chengdu. Sejumlah video yang diunggah warganet memperlihatkan banyak pengunjung mendirikan tenda, berkemah, menggelar alas duduk untuk berjemur, sementara orang dewasa bermain bersama anak-anak di lapangan rumput yang luas. 

Tiba-tiba, sebuah pusaran angin kecil muncul dari tanah tidak jauh dari mereka, membalikkan perlengkapan luar ruang, mengangkat kantong plastik dan benda-benda lain ke udara, sambil berputar dan menghamburkan debu ke sekeliling. Bahkan terlihat seseorang mengejar sofa malas (lazy sofa) yang terseret angin.

Di lokasi terdengar teriakan kaget dari warga, namun banyak orang tidak segera menjauh, melainkan tetap berdiri di sekitar untuk menyaksikan. Ada yang mengatakan bahwa dua tempat tidur lipat luar ruang miliknya “terbawa angin”.

Seorang pengunggah video menuliskan keterangan: “Di Taman Pameran Warisan Budaya Takbenda, pukul 15.16 muncul tornado. Pada awalnya ada orang dewasa yang terseret dan terjatuh! Berlangsung sekitar 3 menit!”

Pada 2 Februari pagi, seorang staf taman pameran tersebut mengatakan kepada media daratan Tiongkok bahwa fenomena itu adalah pusaran debu (dust devil), bukan tornado, dan durasi kejadiannya sangat singkat, hanya beberapa menit.

Namun, warganet setempat meninggalkan berbagai komentar, seperti:
“Sekarang semuanya bilang ini tornado.”
“Tornado sebesar ini, saya belum pernah melihatnya.”
“Kasur udara berwarna oranye yang terbang di langit itu milik kami.”
“Saya ada di lokasi, sangat menakutkan, anginnya menyapu beberapa orang.”
“Bola sepak sampai terbang ke udara.”
“Tikar rumput dan balon di tanah ikut terangkat.”

Ada pula yang mengingatkan:
“Jangan meremehkan tornado.”
“Kekuatan alam terlalu besar.”
“Kita harus menghormati alam.”
“Kalau berbahaya, sebaiknya cepat menghindar.”

Penyunting : Li Enzhen

Satu Langkah dari Perang: Provokasi Iran Meledak Tepat Jelang Perundingan 6 Februari

EtIndonesia. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat tajam hanya beberapa hari menjelang jadwal perundingan yang semula direncanakan berlangsung pada Jumat, 6 Februari 2026, di Turki. Rangkaian insiden militer, manuver diplomatik mendadak, hingga laporan ledakan di ibu kota Iran mempertegas rapuhnya situasi keamanan kawasan Timur Tengah.

Perundingan Dijadwalkan, Format Mendadak Diubah

Sebelumnya, kedua negara dikabarkan siap melanjutkan pembicaraan nuklir di Istanbul, dengan melibatkan perwakilan Mesir, Arab Saudi, serta sejumlah negara Timur Tengah lain sebagai pihak pendukung. Namun, menurut laporan Reuters, Iran secara tiba-tiba meminta perubahan signifikan.

Teheran mengusulkan agar lokasi perundingan dipindahkan ke Oman, sekaligus mengubah format pembahasan menjadi murni bilateral—hanya antara Iran dan Amerika Serikat—dengan fokus terbatas pada isu nuklir. Permintaan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di laut, yang dinilai banyak pengamat sebagai sinyal tarik-ulur strategi Iran.

Insiden Selat Hormuz: Kapal Pesiar AS Dikejar

Pada awal Februari 2026, enam kapal patroli milik Garda Revolusi Iran dilaporkan bertindak agresif di Selat Hormuz, mencoba menahan sebuah kapal pesiar berbendera Amerika Serikat. Kapal Iran memerintahkan kapal tersebut untuk berhenti, namun kapal pesiar justru meningkatkan kecepatan.

Setelah pengejaran singkat, kapal-kapal Iran menghentikan aksinya. Kapal pesiar itu kemudian bertemu dengan kapal Angkatan Laut AS dan dikawal hingga tiba dengan aman di Bahrain. Insiden ini menambah daftar panjang konfrontasi berisiko tinggi di jalur pelayaran paling vital dunia tersebut.

Drone Iran Ditembak Jatuh di Laut Arab

Ketegangan meningkat lebih jauh pada 3 Februari 2026, ketika militer AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang bertindak agresif dan mendekati USS Abraham Lincoln di Laut Arab. Saat itu, kapal induk AS tersebut berlayar sekitar 500 mil dari pantai selatan Iran.

Drone tersebut ditembak jatuh oleh jet tempur F-35 yang lepas landas dari USS Abraham Lincoln. Tak lama berselang, Iran dilaporkan mengirimkan drone kedua untuk memantau kapal induk tersebut. Menurut laporan yang belum sepenuhnya dikonfirmasi, drone kedua itu juga berhasil ditembak jatuh oleh militer AS.

Manuver Militer AS dan Rusia

Di tengah memanasnya situasi, Amerika Serikat menarik Kelompok Tempur Kapal Induk Lincoln ke Teluk Aden, sekitar 1.400 kilometer dari Iran, tepat ketika proses diplomasi AS–Iran mulai berjalan. Langkah ini dipandang sebagai sinyal tekanan militer sekaligus upaya menjaga fleksibilitas operasional.

Sementara itu, di Teheran, Iran pada hari yang sama mengumumkan penerbangan perdana jet tempur MiG-28 Rusia yang baru dibeli—sebuah demonstrasi kekuatan yang dinilai sarat pesan politik di tengah ketegangan dengan Washington.

Gedung Putih: “Semua Opsi Ada di Meja”

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt mengonfirmasi insiden penembakan drone dan menegaskan bahwa Presiden Donald Trump selalu memiliki berbagai opsi, termasuk penggunaan kekuatan militer. Dia menyebut Iran memahami risiko tersebut, seraya merujuk pada preseden Operasi Midnight Hammer sebagai contoh nyata.

Trump tetap bersikukuh bahwa Iran harus memenuhi empat tuntutan utama dalam perundingan 6 Februari:

  1. Menghentikan seluruh program nuklir
  2. Mengakhiri pengembangan rudal balistik
  3. Menghentikan pendanaan terhadap seluruh kelompok proksi
  4. Memperlakukan demonstran anti-pemerintah secara adil

Israel Dorong Kebebasan Bertindak Militer

Menurut laporan Channel 14, Israel terus memperingatkan Washington bahwa Iran tidak akan secara sukarela membongkar program nuklir maupun kemampuan misilnya. Penundaan perundingan dinilai sebagai upaya Teheran memindahkan senjata ofensif ke lokasi yang lebih aman.

Pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel, Menteri Pertahanan, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Letnan Jenderal Eyal Zamir, serta Kepala Mossad menggelar pertemuan tertutup selama tiga jam dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff. Dalam pertemuan itu, pihak Israel memaparkan intelijen terbaru mengenai ancaman Iran dan menyatakan keyakinan bahwa Trump tengah membuka jalan bagi kemungkinan serangan besar terhadap Teheran.

Ledakan dan Kebakaran di Teheran

Di tengah tekanan eksternal, situasi domestik Iran juga bergejolak. Pada hari ini, sejumlah ledakan dilaporkan terjadi di wilayah barat Teheran, disusul kebakaran besar di Pasar Zanat. Asap hitam tebal menyelimuti sebagian kota, memicu kepanikan warga dan memperkuat spekulasi tentang kerentanan stabilitas internal Iran.

Sumber-sumber regional menyebutkan bahwa pimpinan Iran kini berada dalam kondisi tertekan, khawatir serangan AS dapat memicu kemarahan publik dan mendorong gelombang protes anti-pemerintah kembali merebak.

Analisis: Mengapa Iran Tetap Memprovokasi?

Meski menyadari kesenjangan kekuatan militer dengan Amerika Serikat, Iran tampaknya sengaja memainkan strategi provokasi terkendali. Tujuannya dinilai berlapis: meningkatkan posisi tawar menjelang perundingan, menguji batas respons AS, sekaligus menunjukkan ketegasan kepada publik domestik dan sekutu regional.

Namun, dengan meningkatnya insiden bersenjata, pengerahan militer, dan tekanan diplomatik, ruang kesalahan semakin menyempit. Satu langkah keliru berpotensi mengubah ketegangan ini menjadi konflik terbuka—sebuah risiko yang kini menghantui seluruh kawasan.

Retakan di Jantung Kekuasaan Beijing: Ketidakpatuhan Militer Menguji Otoritas Xi Jinping

EtIndonesia. Berdasarkan sejumlah sumber yang memahami dinamika internal tingkat tinggi, dalam beberapa waktu terakhir telah muncul gejala ketidakpatuhan yang semakin nyata di dalam sistem perwira militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) terhadap instruksi Komisi Militer Pusat (KMP) yang dipimpin langsung oleh Xi Jinping. 

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Sistem birokrasi sipil Partai Komunis Tiongkok (PKT) juga menunjukkan sikap pasif, memilih menunda atau diam, sehingga sejumlah perintah strategis dari pusat gagal dieksekusi secara efektif.

Guncangan Pasca Penanganan Zhang Youxia dan Liu Zhenli

Seorang narasumber yang memahami situasi internal PKT, yang menggunakan nama samaran Tuan Feng, mengungkapkan bahwa penanganan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli sejak pertengahan Januari 2026 telah menimbulkan guncangan besar di tubuh militer. Dampaknya tidak terbatas pada struktur komando PLA, tetapi juga merembet ke mekanisme kerja tingkat tertinggi Partai.

Menurut Tuan Feng, sikap pasif dari perwira militer dan birokrasi sipil menunjukkan bahwa model “satu orang memegang Komisi Militer”—yang selama ini menjadi pilar kekuasaan Xi—kini menghadapi kesulitan operasional serius yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan ini berlangsung diam-diam, namun bersifat substantif.

Seruan Loyalitas yang Tak Sepenuhnya Dijawab

Dalam beberapa hari terakhir Januari 2026, pihak yang berkaitan dengan Zhang menuntut agar lima zona komando militer dan seluruh matra angkatan bersenjata menyatakan sikap tegas mendukung komando terpadu Komisi Militer Pusat. Namun, menurut sumber internal, implementasi di lapangan sangat terbatas.

Para analis menilai kondisi ini mencerminkan dua persoalan besar:

  1. Melemahnya daya eksekusi loyalitas politik di tubuh militer, dan
  2. Akumulasi masalah sistemik akibat ketergantungan jangka panjang pada kontrol politik, bukan profesionalisme militer, yang kini meledak secara bersamaan.

Militer dalam Mode “Menunggu dan Menghindar”

Sejumlah analis Beijing menegaskan bahwa suasana internal PLA saat ini bukan sekadar kegelisahan biasa, melainkan kecemasan kolektif disertai sikap menunggu. Walaupun arah politik Xi Jinping jelas, realitas di lapangan menunjukkan bahwa otoritas pusat tidak lagi otomatis memicu respons dari bawah.

Seorang akademisi hukum tata negara di Beijing menyebut kondisi ini sebagai konsekuensi logis dari kontrol politik jangka panjang atas militer. Menurutnya, perbedaan daya tarik dan kapasitas eksekusi antara perwira profesional berpengalaman tempur dan Ketua Komisi Militer Pusat yang ditunjuk secara politis kini semakin mencolok.

Ia menambahkan, setelah Zhang Youxia disingkirkan, operasional militer semakin bergantung pada propaganda dan slogan politik, alih-alih sistem komando profesional yang solid.

Perubahan Tuduhan yang Terlalu Cepat

Akademisi tersebut juga menyoroti perubahan cepat narasi resmi PKT terkait Zhang Youxia dan Liu Zhenli. Dalam waktu kurang dari satu minggu—sekitar akhir Januari hingga awal Februari 2026—tuduhan resmi bergeser:

  • dari merusak sistem tanggung jawab Ketua CMC,
  • menjadi ancaman terhadap garis politik absolut Partai atas militer,
  • lalu berubah lagi menjadi kasus korupsi.

Perubahan secepat ini sangat jarang terjadi di tingkat elit PKT dan dinilai mencerminkan hambatan serius dalam konsolidasi kekuasaan tingkat atas.

Sinyal Tak Lazim dari Media Militer

Pada 2 Februari 2026, media resmi militer PKT, PLA Daily, menerbitkan artikel yang menekankan agar seluruh perwira dan prajurit “teguh mendukung keputusan Komite Sentral Partai”.

Menurut para pengamat, penekanan semacam ini tidak lazim dalam teks politik militer yang biasanya bersifat normatif. Pengulangan dan penegasan berlebihan justru mengindikasikan bahwa konsensus dukungan internal belum terbentuk.

Seorang staf propaganda di salah satu zona komando menyatakan bahwa ini bukan sekadar penyesuaian redaksi, melainkan sinyal langsung untuk memaksa implementasi perintah. Jika kepatuhan harus terus-menerus ditegaskan dalam dokumen otoritatif, itu berarti akar rumput militer masih memilih diam, menunda, atau menunggu perkembangan.

Resistensi Meluas ke Birokrasi Sipil

Tuan Feng menambahkan bahwa resistensi pasif kini tidak hanya terjadi di militer, tetapi juga menyebar ke sistem birokrasi sipil. Dalam situasi seperti ini, jika pucuk pimpinan mendorong keputusan berisiko tinggi, kepatuhan di permukaan dapat runtuh dengan cepat, sehingga melumpuhkan operasional tingkat atas PKT.

Pelajaran Sejarah dari Zhongnanhai

Seorang mantan staf yang pernah dekat dengan lingkaran Jiang Zemin mengungkapkan detail sejarah yang relevan. Pada April 1999, saat praktisi Falun Gong melakukan aksi damai di Zhongnanhai, Jiang Zemin mencoba mengerahkan militer ke Beijing. Namun, perintah tersebut tidak dijalankan.

Jiang kala itu secara terbuka mengkritik Wakil Ketua KMP yang memegang kekuasaan nyata karena dianggap tidak kooperatif. Meski lama disegel, peristiwa ini dikenal luas di kalangan elit militer dan menunjukkan bahwa slogan “Partai mengendalikan senjata” selalu memiliki celah laten antara tekanan politik dan pelaksanaan nyata.

Kontrol Formal yang Kian Kosong

Para analis Beijing menyimpulkan bahwa PKT saat ini masih mempertahankan kontrol formal atas militer, tetapi kontrol tersebut semakin kosong secara substansi. Militer tampak patuh di permukaan, namun semakin enggan menanggung risiko dan konsekuensi atas keputusan kepemimpinan tertinggi.

Dalam kondisi normal, sistem masih berjalan. Namun, jika melibatkan aksi besar atau keputusan ekstrem, kepatuhan semu ini berpotensi runtuh dengan cepat, menyebabkan kebijakan macet di tahap eksekusi.

Retakan yang Bisa Melebar

Seorang akademisi senior menilai bahwa langkah Xi Jinping terhadap Zhang Youxia justru membuka retakan mendalam yang telah lama tersembunyi antara militer profesional dan elit kekuasaan politik. Penunjukan politis yang tidak sejalan dengan kultur perwira profesional membuat sistem komando semakin kehilangan efektivitas.

Ia memperingatkan bahwa slogan “Partai mengendalikan senjata” berisiko merosot dari mekanisme nyata menjadi sekadar jargon politik. Dalam beberapa minggu ke depan, setiap gejolak kecil di Beijing dapat menjadi jendela penting untuk mengamati pelebaran retakan kekuasaan ini. (***)

Plagiarisme & Pengulangan

EtIndonesia. Di Amerika Serikat, untuk menjadi pendeta seseorang harus lulus ujian kependetaannya. Salah satu tahap penting dalam ujian tersebut adalah pidato terbuka di depan umum.

Pemuda ini datang ke kota tempat ujian setengah bulan lebih awal. Dia menyewa sebuah kamar hotel dan menetap di sana khusus untuk menyiapkan naskah pidatonya.

Setelah pidato selesai ditulis, setiap hari dia membacanya dengan suara keras di dalam kamar, berulang-ulang, hingga dia bisa menghafalnya di luar kepala.

Hari ujian pun tiba. Dengan penuh percaya diri, dia datang ke lokasi ujian. Setelah mengambil nomor undian, dia duduk di bawah panggung untuk mendengarkan pidato para peserta yang tampil sebelum dirinya.

Tinggal satu orang lagi sebelum gilirannya tiba, ketika tiba-tiba dia terkejut luar biasa: Isi pidato peserta yang sedang berbicara di atas panggung persis sama dengan pidatonya sendiri!

Dia memperhatikan lebih saksama dan baru menyadari bahwa peserta tersebut adalah orang yang menginap di kamar sebelahnya.

Tak perlu diragukan lagi—orang itu telah mendengar dia berlatih membaca pidato di kamar, lalu menjiplak seluruh isi pidatonya.

Sebentar lagi gilirannya tiba.

Dia menahan amarah dan kepanikan yang membuncah di dalam hati, berusaha keras mencari jalan keluar.

Tiba-tiba, sebuah ide cemerlang muncul di benaknya…

Kini tiba gilirannya berbicara.

Pemuda itu melangkah ke atas panggung dan dengan tenang berkata:

“……”

Pidatonya justru disambut dengan tepuk tangan meriah, dan pada akhirnya dia berhasil lulus ujian.

Lalu, apa yang sebenarnya dia lakukan?

Ingin tahu caranya?

Begini kisah aslinya:

Pemuda itu berdiri di atas panggung dan berkata dengan santai: “Untuk menjadi seorang pendeta, seseorang harus memiliki kesabaran, kemampuan mendengarkan, dan daya ingat yang baik. Sekarang, saya akan memperagakannya—saya akan mengulangi pidato peserta sebelumnya.”

Setelah itu, dia mulai membacakan pidato yang telah dia persiapkan dengan sangat matang, bahkan menyampaikannya dengan lebih baik dan lebih hidup dibanding peserta sebelumnya.

Tepuk tangan pun kembali menggema di seluruh ruangan.

Hikmah Cerita

Ini adalah kisah yang ringan namun penuh kecerdikan dan inspirasi. 

Hal pertama yang terlintas di benak kami setelah membaca cerita ini adalah pepatah:  “Dinding pun bisa punya telinga—kerahasiaan itu penting.”

Yang lebih patut dikagumi adalah kebijaksanaan dan kecerdasan emosional sang pemuda. Naskah pidatonya dicuri, tetapi dia mampu menahan amarah, menenangkan diri, dan menemukan solusi yang elegan.

Di sisi lain, meskipun caranya keliru, daya ingat peserta yang menjiplak pidato itu pun luar biasa—dia mampu menghafal isi pidato hanya dari mendengarkan latihan orang lain.

Cerita ini mengajarkan kita bahwa dalam hidup, kecerdikan, ketenangan, dan sikap dewasa sering kali jauh lebih menentukan hasil daripada kemarahan dan kepanikan. (jhn/yn)

Operasi Senyap Dimulai? Pangkalan Rahasia Aktif, B-2 Dirumorkan Muncul, Timur Tengah di Ambang Api

EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah memasuki fase paling tegang dalam beberapa tahun terakhir. Informasi terbaru yang beredar pada awal Februari 2026 menyebutkan bahwa kekuatan tempur Amerika Serikat telah memasuki Pangkalan Udara Nakhchivan di Azerbaijan serta Pangkalan Udara Shamsi di Pakistan. Dengan dukungan logistik dan politik dari Uni Emirat Arab, Pakistan, Azerbaijan, dan Kuwait, tahap awal operasi militer terhadap Iran disebut-sebut telah dimulai. Status keamanan kawasan pun dinaikkan ke siaga tinggi, memicu lonjakan ketegangan lintas negara.

Peringatan Mengejutkan dari Serbia

Presiden Serbia, Aleksandar Vučić, melontarkan pernyataan mengejutkan dengan memperkirakan bahwa Amerika Serikat berpotensi melancarkan serangan militer terhadap Iran dalam 48 jam, bahkan menyasar Teheran. Vučić menilai Gedung Putih mungkin menggunakan opsi militer untuk mengalihkan tekanan politik domestik.

Pernyataan ini menjadikan Serbia sebagai kepala negara pertama yang secara terbuka memprediksi pecahnya perang AS–Iran dalam waktu dekat. Mengingat kedekatan Serbia dengan Israel—sekutu paling strategis Washington di Timur Tengah—ucapan tersebut langsung memicu spekulasi luas di kalangan analis internasional.

Kesiapan Pertahanan AS Dipacu

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Washington mempercepat pengerahan sistem pertahanan udara berlapis untuk mengantisipasi aksi balasan Iran. Langkah ini mengindikasikan bahwa sebelum perintah serangan udara skala besar dikeluarkan, AS masih memerlukan waktu guna menyempurnakan kesiapan tempur menyeluruh.

Saat ini, AS telah membangun jaringan pertahanan di kawasan yang mencakup delapan kapal perusak berkemampuan intersepsi udara, jet tempur F-15E di Yordania untuk misi pencegatan drone, serta pengerahan THAAD dan Patriot di Yordania, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar. Tambahan enam jet tempur F-35 juga dipindahkan dari Karibia ke Timur Tengah, sementara pesawat perang elektronik EA-18G dikerahkan ke Eropa—menegaskan persiapan konflik berintensitas tinggi secara sistematis.

Armada Kapal Induk dan “Garis Merah” Trump

Seiring kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln sepenuhnya memasuki wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS, konsentrasi militer Amerika di Timur Tengah terus diperluas. Presiden Donald Trump menyebut armada tersebut sebagai kekuatan militer Amerika yang “sangat besar”, memberi Gedung Putih ruang manuver militer dan politik yang lebih luas.

Fox News mengutip pernyataan Duta Besar AS untuk NATO, Matt Whitaker, yang menegaskan bahwa pengerahan armada bukan sekadar demonstrasi kekuatan, melainkan jalan keluar terakhir bagi Iran. Menurutnya, Trump telah menarik garis merah yang jelas: eskalasi atau deeskalasi sepenuhnya bergantung pada keputusan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei—dan Washington tidak akan menunggu tanpa batas waktu.

Meski spekulasi serangan menguat, Whitaker menekankan bahwa AS tidak berniat menggulingkan rezim Iran, melainkan memaksa Teheran membuat konsesi pada isu-isu kunci. Gedung Putih menegaskan prioritas tetap pada perjanjian, namun keputusan harus diambil sebelum terlambat.

Respons Iran: Unjuk Kekuatan dan Isyarat Kompromi

Sebelumnya, Khamenei memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dapat memicu konflik regional besar. Garda Revolusi Iran memamerkan latihan rudal balistik Khaibar Shekan (jangkauan 1.450 km, hulu ledak 500 kg) sebagai sinyal kemampuan balasan. Namun, setelah peringatan AS, Iran dilaporkan membatalkan latihan militer di Selat Hormuz.

Menurut Reuters, Teheran mengusulkan penyerahan sekitar 400 kg uranium yang diperkaya sebagai imbalan pencabutan sanksi. Juru bicara Kemenlu Iran, Ismail Baghaei, menyatakan bahwa semua dimensi perundingan tengah dievaluasi dan menegaskan waktu sangat krusial, dengan pencabutan sanksi sebagai prioritas utama. Iran mengajukan syarat awal penarikan pasukan AS dari wilayah sekitar Iran. Pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, mengonfirmasi melalui platform X bahwa pengaturan perundingan sedang berjalan.

Sumber-sumber Iran menyebutkan tiga prasyarat yang diajukan Washington: nol pengayaan uranium, pembatasan program rudal balistik, dan penghentian dukungan terhadap kelompok proksi regional. Dua pejabat Iran mengakui bahwa isu rudal balistik merupakan titik paling sulit untuk dikompromikan.

Koordinasi AS–Israel dan Eskalasi di Lebanon

Di tengah ketegangan, koordinasi militer AS–Israel meningkat tajam. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menggelar pertemuan darurat dengan Kepala Staf Umum Israel, Eyal Zamir, mengirim sinyal kuat koordinasi tingkat tinggi.

Hampir bersamaan, Israel Defense Forces meningkatkan operasi udara terhadap Hizbullah di Lebanon. Setelah peringatan evakuasi sipil, gelombang serangan presisi dilancarkan. IDF mengonfirmasi tewasnya Ali Dawoud Amich, pejabat teknik senior Hizbullah, serta dilumpuhkannya satu komandan pertahanan udara senior. Langkah ini dipandang sebagai tekanan tidak langsung terhadap Iran.

Rumor B-2 dan Sikap Rusia

Beredar pula laporan belum terkonfirmasi mengenai pendaratan pesawat siluman B-2 di Pangkalan Udara Bagram, Afghanistan, dengan rumor bahwa Taliban mengizinkan penggunaan pangkalan tersebut sebagai imbalan dukungan finansial. Meski belum ada konfirmasi resmi, kabar ini menambah kekhawatiran eskalasi.

Di sisi lain, Kremlin menyatakan bahwa Rusia tidak berencana mengirim pasukan untuk membela Iran jika AS menyerang. Moskow menegaskan solusi terbaik tetap diplomasi dan memperingatkan dampak destabilisasi regional. Para analis menilai sikap ini mencerminkan dua pesan: Rusia tidak ingin terseret perang baru, dan Moskow menjaga fleksibilitas strategis di tengah tekanan global serta beban konflik Ukraina.

Gambaran Besar:  Hingga awal Februari 2026, kawasan berada di persimpangan berbahaya. Pengerahan militer besar-besaran AS dan Israel berjalan beriringan dengan jalur diplomasi yang rapuh. Keputusan-keputusan dalam hitungan hari ke depan—baik di Washington maupun Teheran—akan menentukan apakah krisis ini mereda lewat perjanjian, atau justru meluncur ke konflik terbuka berskala regional.

Semangkuk Nasi Putih

EtIndonesia. Sekitar dua puluh tahun yang lalu, pada suatu senja, seorang pemuda yang tampak seperti mahasiswa mondar-mandir di depan sebuah rumah makan prasmanan di jalanan Taipei. Dia menunggu hingga sebagian besar pelanggan selesai makan dan pergi, barulah dia melangkah masuk ke dalam dengan wajah penuh rasa malu.

“Tolong beri saya satu mangkuk nasi putih, terima kasih,” katanya sambil menundukkan kepala.

Pasangan suami istri pemilik rumah makan yang masih baru merintis usaha itu merasa heran karena pemuda tersebut tidak mengambil lauk apa pun. Namun mereka tidak bertanya, dan langsung menyendokkan semangkuk nasi putih penuh lalu menyerahkannya.

Saat membayar, pemuda itu berkata dengan ragu :  “Bolehkah saya menyiramkan sedikit kuah sayur di atas nasi?”

Sang istri pemilik toko tersenyum dan menjawab “Tidak apa-apa, silakan saja. Tidak perlu bayar.”

Ketika setengah mangkuk nasi telah habis, pemuda itu teringat bahwa kuah sayur tidak dipungut biaya. Dia pun memesan satu mangkuk lagi.

“Satu mangkuk kurang ya? Kali ini saya beri lebih banyak!” jawab sang pemilik dengan ramah.

“Bukan begitu. Saya ingin membawanya pulang, dimasukkan ke kotak makan, untuk bekal makan siang besok di kampus.”

Mendengar itu, sang pemilik langsung memahami situasinya. Dia menduga pemuda itu berasal dari keluarga miskin di daerah pedesaan selatan, datang sendiri ke Taipei demi menuntut ilmu, mungkin sambil bekerja paruh waktu. Kesulitan hidupnya pasti tidak ringan.

Diam-diam, sang pemilik menyendokkan satu sendok besar daging cincang khas warung makan tersebut ke dasar kotak makan, menambahkan sebutir telur rebus kecap, lalu menutupinya dengan nasi putih hingga penuh. Dari luar, terlihat seolah-olah hanya nasi putih biasa.

Melihat itu, sang istri mengerti niat suaminya untuk menolong pemuda tersebut, namun dia bertanya dengan heran :  “Kenapa tidak langsung saja menaruh lauk di atas nasi? Mengapa harus disembunyikan di bawah?”

Sang suami berbisik di telinga istrinya: “Kalau dia langsung melihat nasi dengan lauk, bisa jadi dia merasa kita sedang mengasihaninya. Bukankah itu melukai harga dirinya? Kalau begitu, dia pasti sungkan datang lagi. Kalau pindah ke tempat lain dan terus hanya makan nasi putih, bagaimana dia punya tenaga untuk belajar?”

Sang istri tersenyum haru :  “Kamu benar-benar orang baik. Menolong orang lain sambil tetap menjaga harga diri mereka.”

Sang suami tertawa kecil : “Kalau aku bukan orang baik, mana mungkin kamu mau menikah denganku?”

Pasangan muda itu pun larut dalam kebahagiaan karena bisa membantu orang lain.

“Terima kasih, saya sudah kenyang. Sampai jumpa!” kata pemuda itu sambil bangkit berdiri.

Saat menerima kotak makan yang terasa berat di tangannya, dia tak kuasa menoleh kembali ke arah pasangan pemilik toko.

“Semangat ya! Sampai besok!”  Sang pemilik melambaikan tangan, kalimatnya seolah mengundang sang pemuda untuk datang lagi esok hari.

Mata pemuda itu berkaca-kaca, namun dia menahan air matanya agar tak terlihat.

Sejak hari itu, kecuali saat libur panjang, hampir setiap senja pemuda tersebut datang ke warung itu. Dia selalu makan satu mangkuk nasi putih di tempat, dan membawa pulang satu mangkuk lagi. Dan tentu saja, di bawah nasi putih yang dibawanya pulang, selalu tersembunyi kejutan berbeda setiap hari.

Hingga akhirnya pemuda itu lulus kuliah.  Selama dua puluh tahun berikutnya, dia tak pernah lagi terlihat di rumah makan tersebut.

Suatu hari, ketika pasangan pemilik toko itu hampir berusia lima puluh tahun, mereka menerima surat dari pemerintah kota tentang pembongkaran paksa bangunan toko mereka yang dianggap melanggar aturan. Menghadapi ancaman kehilangan mata pencaharian, sementara tabungan mereka telah habis untuk membiayai kuliah anak di luar negeri, mereka tak kuasa menahan tangis di dalam warung.

Tiba-tiba, seorang pria berjas rapi bermerek, tampak seperti eksekutif perusahaan besar, datang berkunjung.

“Halo. Saya wakil direktur sebuah perusahaan besar. Direktur utama kami menugaskan saya datang untuk mengundang Bapak dan Ibu membuka rumah makan prasmanan di gedung kantor kami yang segera beroperasi. Semua peralatan dan bahan akan dibiayai perusahaan. Bapak dan Ibu hanya perlu mengelola dapur dan memasak. Keuntungan akan dibagi dua dengan perusahaan.”

Pasangan itu saling berpandangan dengan bingung : “Siapa direktur utama perusahaan Anda? Mengapa beliau begitu baik kepada kami? Kami tidak merasa mengenal orang sehebat itu.”

Pria itu tersenyum :  “Bapak dan Ibu adalah penolong besar sekaligus sahabat baik direktur utama kami. Beliau sangat menyukai telur rebus kecap dan daging cincang dari warung ini. Itu saja yang saya tahu. Sisanya, silakan dibicarakan langsung saat bertemu beliau.”

Akhirnya, pemuda yang dulu hanya memesan semangkuk nasi putih, muncul kembali.

Setelah dua puluh tahun berjuang membangun usaha, dia telah berhasil menciptakan kerajaan bisnisnya sendiri. Semua pencapaiannya hari ini, tak lepas dari dorongan, perhatian, dan bantuan diam-diam pasangan pemilik rumah makan itu. Tanpa mereka, ia tak akan mampu menyelesaikan pendidikannya.

Saat perbincangan usai dan pasangan itu bersiap pamit, sang direktur utama berdiri, membungkuk dalam-dalam, lalu berkata dengan hormat : “Semangat ya! Ke depan, perusahaan ini masih sangat membutuhkan bantuan kalian. Sampai besok!”

Hikmah Cerita

Pemilik rumah makan dalam cerita ini berbuat baik tanpa ingin dikenal. Yang lebih mengharukan, ia menolong dengan penuh empati, bahkan menjaga harga diri orang yang ditolong. Cara halusnya mengundang sang pemuda untuk kembali, tanpa membuatnya merasa dikasihani, sungguh menunjukkan kebijaksanaan dalam memperlakukan sesama.

Beginilah seni menolong manusia—membantu tanpa melukai, memberi tanpa merendahkan.  Sebuah pelajaran hidup yang patut direnungkan dan diteladani.(yn)

Putin Langgar Janji ke Trump, Kyiv Dibombardir Besar-besaran: Dunia Masuk Fase Perang Baru

EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina memasuki fase krusial baru. Pada 4–5 Februari 2026, perwakilan Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat dijadwalkan bertemu di Uni Emirat Arab untuk membahas kemungkinan solusi politik guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir dua tahun. Pertemuan ini dinilai sebagai salah satu titik balik paling menentukan sejak perang dimulai, dengan implikasi luas terhadap tatanan keamanan global.

Menurut laporan Financial Times, yang mengutip sumber internal diplomatik, Ukraina telah mencapai kesepahaman awal dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa mengenai mekanisme respons jika Rusia kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Skema Respons Bertahap Barat terhadap Rusia

Dalam kesepakatan tersebut, disusun mekanisme penegakan berlapis sebagai bentuk pencegah yang lebih kredibel:

  • 24 jam pertama: Peringatan diplomatik resmi dilayangkan kepada Moskow.
  • Tahap lanjutan: Ukraina diberi legitimasi melakukan respons militer terbatas.
  • Tahap kedua: Pengerahan pasukan koalisi sukarelawan, yang melibatkan sejumlah negara Uni Eropa, Inggris, Norwegia, Islandia, dan Turki.
  • 72 jam berikutnya: Jika eskalasi berlanjut, akan diaktifkan mekanisme koordinasi militer yang melibatkan Amerika Serikat.

Skema ini dirancang untuk meningkatkan efek gentar dan mencegah Rusia secara sepihak merusak kesepakatan.

Namun, Rusia tetap bersikukuh menuntut Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas, tuntutan yang secara tegas ditolak Kyiv. Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan memperingatkan bahwa kehadiran pasukan atau fasilitas militer asing di Ukraina akan dianggap sebagai campur tangan langsung dan menjadi target sah militer Rusia.

Putin Menyetujui Permintaan Trump, Lalu Melanggar Janji

Pada 29 Januari, Donald Trump mengungkapkan bahwa Ukraina tengah menghadapi gelombang dingin ekstrem, dan dia secara pribadi meminta Vladimir Putin untuk menahan serangan terhadap Kyiv dan kota-kota besar lainnya selama satu minggu. Permintaan itu, menurut Trump, disetujui Putin.

Namun kenyataan di lapangan berkata lain.

Serangan Terbesar Musim Dingin (2–3 Februari)

Pada malam 2 Februari hingga dini hari 3 Februari, Rusia melancarkan serangan udara terbesar sepanjang musim dingin ini. Menurut laporan Angkatan Udara Ukraina, Rusia menembakkan:

  • 71 rudal, dan
  • 450 drone, termasuk hampir 300 drone Shahed.

Serangan tersebut memicu pemadaman listrik dan sistem pemanas di berbagai wilayah, menyebabkan ratusan ribu warga terdampak di tengah suhu ekstrem yang turun hingga di bawah minus 20 derajat Celsius.

Ironisnya, alarm serangan udara di Kyiv dibunyikan tepat pada 3 Februari, saat Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte tengah melakukan kunjungan resmi ke ibu kota Ukraina.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada 3 Februari, menyatakan bahwa Kyiv menunggu respons tegas Amerika Serikat, seraya menegaskan bahwa penghentian serangan terhadap infrastruktur energi selama masa diplomasi adalah permintaan pribadi Presiden Trump.

Rutte menilai tindakan Moskow menunjukkan bahwa Rusia tidak sungguh-sungguh menginginkan perdamaian. Sikap serupa disampaikan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, yang menegaskan persatuan Eropa dalam menghadapi agresi Rusia.

Perkembangan Militer: Dari Starlink hingga Ruang Angkasa

Di medan perang, Ukraina melaporkan keberhasilan menembak jatuh helikopter Mi-35 Rusia serta melancarkan serangan drone terhadap jalur logistik musuh. Rusia, di sisi lain, terpantau mengonsentrasikan drone di sekitar Kyiv dan Ukraina barat, mengindikasikan persiapan serangan lanjutan.

Ukraina juga mulai menerapkan sistem whitelist terminal Starlink, sehingga perangkat yang tidak terverifikasi tidak dapat digunakan. Langkah ini dinilai berpotensi melumpuhkan operasi drone Rusia secara signifikan.

Pada 3 Februari, Jerman mengumumkan investasi sekitar 35 miliar euro untuk membangun jaringan satelit militer orbit rendah yang mencakup lebih dari 100 satelit, guna komunikasi aman dan sistem peringatan dini rudal. Militer Jerman menegaskan bahwa perang Rusia–Ukraina telah membuktikan ruang angkasa kini menjadi medan tempur strategis baru.

Tekanan AS Meningkat: Tomahawk hingga Sanksi Energi

Pada 3 Februari, Senator AS, Lindsey Graham menyatakan bahwa strategi diplomatik untuk menekan Putin telah gagal. Dia mendesak Trump agar segera mengirimkan rudal jelajah Tomahawk ke Ukraina, yang menurutnya dapat mengubah keseimbangan perang secara drastis.

Graham juga mendukung kebijakan tarif Trump terhadap India, yang berdampak langsung pada penurunan tajam pembelian minyak Rusia. Tekanan ekonomi ini dinilai dapat mempercepat berakhirnya perang, sembari memperingatkan bahwa negosiasi yang “memberi hadiah pada agresi” akan membawa bencana global.

Krisis Nuklir dan Ancaman Tanpa Batas

Situasi semakin genting karena Perjanjian New START (2010) akan berakhir pada 5 Februari. Jika tidak diperpanjang, untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade AS dan Rusia tidak lagi dibatasi jumlah senjata nuklir strategis.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menyatakan di Beijing bahwa Moskow siap menghadapi realitas tanpa pembatasan senjata nuklir, bahkan memperingatkan akan mengambil langkah militer jika AS menempatkan sistem pertahanan rudal di Greenland.

Pergeseran Global: Korea Utara, Panama, dan Krisis PBB

Di Asia Timur, Korea Utara merilis kalender resmi 2026 yang memuat hadiah dari pemimpin dunia. Menariknya, hadiah dari Putin tercantum dua kali, sementara tidak ada satu pun hadiah dari Xi Jinping, kecuali catatan lama tahun 1991 untuk Kim Il-sung. Analis menilai ini sebagai sinyal pergeseran orientasi Pyongyang ke Moskow.

Di belahan lain, perusahaan Eropa mengambil alih pengelolaan pelabuhan strategis di sekitar Terusan Panama, langkah yang dipandang menghancurkan ambisi geopolitik Partai Komunis Tiongkok di kawasan tersebut.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghadapi krisis keuangan serius akibat tunggakan iuran negara anggota, menambah ketidakstabilan global di tengah eskalasi konflik.

Penutup: Dunia Berubah Cepat, Kepastian Makin Langka

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa tatanan dunia tengah direstrukturisasi secara besar-besaran—dari perang konvensional, tekanan ekonomi, hingga ancaman nuklir dan militerisasi ruang angkasa. Di tengah ketidakpastian global yang kian tajam, satu hal yang semakin jelas: stabilitas internasional kini berada pada titik paling rapuh dalam beberapa dekade terakhir.

Editorial Surat Kabar Militer Partai Komunis Tiongkok Menuntut Kesetiaan Tentara Pasca-Pembersihan Dua Jenderal, Memicu Pertanyaan soal Stabilitas PLA

Serangan ulang terhadap dua jenderal yang disingkirkan serta seruan kesetiaan kepada Xi Jinping mengisyaratkan kegelisahan di tubuh militer Tiongkok setelah perombakan tingkat tinggi yang jarang terjadi

Michael Zhuang

EtIndonesia. Surat kabar resmi militer partai komunis Tiongkok kembali melancarkan serangan terbuka terhadap dua jenderal puncak yang baru saja disingkirkan, sambil mendesak pasukan untuk mendukung penyelidikan terhadap mereka dan bersumpah setia kepada pemimpin Tiongkok Xi Jinping—langkah yang menurut para analis mencerminkan meningkatnya kegelisahan di internal Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Dalam editorial halaman depan yang diterbitkan pada 31 Januari, PLA Daily menggambarkan penyelidikan terhadap mantan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Zhang Youxia dan anggota CMC Liu Zhenli sebagai sebuah “kemenangan besar” dalam kampanye anti-korupsi Partai Komunis Tiongkok (PKT). Artikel tersebut menyerukan para perwira dan prajurit di seluruh militer untuk “secara tegas mendukung” kepemimpinan Partai dan “menjaga tingkat konsistensi yang tinggi” dengan Xi.

Pesan yang diperbarui ini—muncul hanya beberapa hari setelah kedua jenderal tersebut secara resmi dicopot—memunculkan pertanyaan di kalangan analis apakah Beijing tengah kesulitan meredam perbedaan pendapat di dalam angkatan bersenjata, menyusul salah satu pembersihan militer paling dramatis dalam beberapa tahun terakhir.

Kecaman Kedua yang Langka

Pada 24 Januari, diumumkan bahwa Zhang dan Liu sedang diselidiki. Malam itu juga, PLA Daily memuat editorial bernada keras yang menuduh mereka telah secara serius merusak sistem yang menempatkan militer di bawah otoritas langsung pemimpin Partai—sebuah tuduhan politik yang menyita perhatian luas.

Setelah itu, media propaganda resmi sebagian besar bungkam. Artikel 31 Januari menjadi kecaman publik kedua yang jarang terjadi, dengan berulang kali menyebut nama kedua tokoh tersebut dan membingkai kasus mereka terutama dari sudut pandang korupsi.

Editorial tersebut menegaskan bahwa penyelidikan ini menunjukkan kampanye anti-korupsi tidak mengenal “nol toleransi.” Artikel itu ditutup dengan tuntutan agar militer mematuhi perintah Xi dan bertanggung jawab langsung kepadanya.

Analis Melihat Tanda-Tanda Kegelisahan

Shen Ming-Shih, peneliti di Institute for National Defense and Security Research Taiwan, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa bahasa yang luar biasa keras itu mengisyaratkan kemungkinan munculnya masalah moral di tubuh militer pasca-pembersihan.

“PKT cenderung menekankan apa yang justru mereka kekurangan,” ujarnya. “Fakta bahwa surat kabar militer merasa perlu melancarkan serangan kedua beberapa hari kemudian menunjukkan adanya ketidakstabilan di barisan—bahkan mungkin perlawanan.”

Setelah pembersihan awal terhadap kedua jenderal tersebut, orang dalam mengungkapkan bahwa Komisi Militer Pusat (KMP) menerapkan tingkat pengendalian internal “mendekati kondisi perang” demi menjaga stabilitas politik rezim. Shen mengatakan dorongan propaganda terbaru ini mungkin mencerminkan kekhawatiran bahwa sebagian unit masih bersimpati kepada Zhang, sosok berpengaruh yang telah lama berkiprah di PLA.

Menurut Shen, Xi kemungkinan menggunakan surat kabar militer untuk memproyeksikan kesan final—menegaskan bahwa Zhang dan Liu tidak memiliki peluang untuk dipulihkan—guna mencegah pembangkangan lebih lanjut dan menegaskan kembali kendali.

Anti-Korupsi atau Pembersihan Politik?

Sejumlah analis menilai bingkai “korupsi” menutupi fakta bahwa yang terjadi pada dasarnya adalah perebutan kekuasaan politik.

Dalam editorial 24 Januari, Zhang dan Liu pertama-tama dituduh melakukan pelanggaran politik—khususnya menantang otoritas ketua KMP, jabatan yang dipegang Xi. Sebaliknya, artikel 31 Januari hampir sepenuhnya berfokus pada korupsi, tanpa menyajikan tuduhan atau bukti spesifik.

“Korupsi menjadi label serba guna yang bisa dikenakan kepada siapa pun yang terkait dengan mereka,” kata Shen. “Begitulah cara pembersihan politik dilakukan.”

Su Tzu-yun, peneliti di lembaga yang sama, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa pesan tersebut mencerminkan rasa tidak aman yang mendalam di kalangan kepemimpinan Tiongkok.

“Slogan ‘anti-korupsi pasti menang, penguatan militer pasti berhasil’ justru menyingkap kecemasan PKT,” ujarnya. “Apa yang kita saksikan bisa jadi tahap awal fragmentasi politik dan militer PKT.”

Su menambahkan bahwa korupsi di PLA berakar mendalam, bermula dari kebijakan era 1990-an di bawah mantan pemimpin PKT Jiang Zemin yang mengizinkan unit militer menjalankan bisnis. Xi menggunakan kampanye anti-korupsi untuk menegaskan kembali kendali atas militer; namun kini, menurut Su, ia mungkin telah melangkah terlalu jauh.

“Di dalam militer, orang-orang paham ini adalah pembersihan politik,” katanya. “Upaya melegitimasinya tidak memulihkan moral—justru berisiko menghancurkannya.”

Sinyal Politik yang Lebih Luas

Perkembangan ini terjadi di tengah pesan politik yang lebih luas dari Beijing. Pada 30 Januari, Komite Tetap Politbiro PKT—badan pengambil keputusan tertinggi—menggelar pertemuan yang menekankan perlunya menjunjung “kepemimpinan terpusat dan terpadu,” menurut kantor berita negara Xinhua.

Komentator urusan Tiongkok yang berbasis di AS, Wang He, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa penekanan ini kemungkinan bertujuan memperkuat otoritas Xi setelah pembersihan tersebut.

Su memperingatkan bahwa pendekatan Xi yang tanpa kompromi dapat membawa konsekuensi berbahaya. Pembersihan yang berlanjut, katanya, berisiko menggerus moral, mengacaukan rantai komando, dan membuat militer tidak siap menghadapi krisis.

“Jika Xi memilih jalur petualangan militer, mungkin tidak ada lagi yang mampu menahannya,” ujarnya. “Pada saat yang sama, ia bisa mendapati dirinya kekurangan personel yang diperlukan untuk mengeksekusi langkah-langkah tersebut secara efektif—yang meningkatkan kemungkinan kegagalan.”

Risiko Reaksi Balik

Dalam beberapa hari setelah pencopotan Zhang dan Liu, PLA tidak mengeluarkan pernyataan kolektif yang mendukung keputusan Xi. Tinjauan The Epoch Times terhadap situs-situs resmi militer menunjukkan bahwa sejumlah unit, termasuk pasukan yang bertanggung jawab atas keamanan Beijing, justru mengintensifkan sesi studi politik yang berfokus pada “Pemikiran Xi Jinping tentang penguatan militer.”

Shen mengatakan artikel 31 Januari tampaknya dirancang untuk menopang kampanye ideologis tersebut. Namun, tanpa bukti korupsi yang jelas, ia memperingatkan bahwa indoktrinasi politik yang keras bisa menjadi bumerang.

“Mungkin efektif sementara,” kata Shen, “tetapi reaksi baliknya, ketika terjadi, bisa jauh lebih kuat.”

Sumber-sumber yang dekat dengan militer Tiongkok mengatakan kepada The Epoch Times bahwa sejumlah arahan yang dikeluarkan KMP pasca-penyelidikan menghadapi perlawanan luas di tingkat akar rumput. Menurut sumber tersebut, setidaknya dua dokumen yang dikirim ke komando teater utama tidak dijalankan, memunculkan tanda-tanda disfungsi dalam rantai komando PLA.

Laporan ini disumbangkan oleh Ning Haizhong dan Luo Ya.

Platform Perdagangan Emas Shuibei Shenzhen Kolaps, Video Para Korban dari Seluruh Penjuru Tiongkok Membludak Menuntut Hak Mereka

Laporan wawancara oleh reporter Epoch Times edisi bahasa mandarin, Gu Xiaohua

EtIndonesia. Bermula dari lonjakan tajam harga emas internasional, insiden kolaps dan kaburnya platform perdagangan kerap terjadi di Pusat Perdagangan Perhiasan Internasional Shuibei, Shenzhen. Setelah Hecx Chengxing Silver House kabur, platform perdagangan emas “Jie Wo Rui” kini ikut meledak. Ratusan korban dari seluruh negeri berkumpul di depan Shuibei untuk menuntut hak mereka. Aparat setempat merespon dengan memukul dan menangkap orang-orang di lokasi, situasi pun lepas kendali.


Ratusan Korban di Lokasi Kantor, Korban Datang dari Seluruh Negeri

Para korban mengatakan kepada Epoch Times edisi bahasa mandarin bahwa sekitar tanggal 20 Januari, harga emas melonjak lebih dari 2% dalam sehari, memicu gelombang spekulan emas masuk pasar. Platform perdagangan emas pasar gelap daring “Jie Wo Rui” mengalami penarikan dana besar-besaran hingga rantai pendanaannya putus. Pengguna tidak bisa menarik dana maupun mengambil emas yang telah dibeli di platform tersebut. Nilai dana yang terlibat setidaknya mencapai ratusan juta yuan.

Zhang Xiao (nama samaran) dari Hefei, Anhui, mengatakan bahwa ia menginvestasikan 60.000 yuan (Rp 145 juta) di platform tersebut pada akhir bulan lalu. Namun pada 20 Januari, dana tidak lagi bisa ditarik. Saat itu, pemilik Jie Wo Rui masih mengklaim di Xiaohongshu bahwa semuanya baik-baik saja. Beberapa hari berlalu tanpa perkembangan, Zhang merasa ada yang tidak beres dan pada 26 Januari ia datang ke Shuibei bersama istrinya.

Ia mengatakan kepada wartawan bahwa lebih dari seratus korban dari berbagai daerah berkumpul di lokasi. Pemerintah setempat tidak menyelesaikan masalah, melainkan mengerahkan polisi khusus dan petugas keamanan untuk “menjaga stabilitas”.

“Polisi memisahkan kami, tidak membiarkan kami berkumpul. Banyak orang dipukuli. Polisi berdiri di samping dan berkata mereka hanya menjaga ketertiban, tidak boleh emosional, tidak boleh ada yang memimpin. Siapa yang memimpin, ditangkap.”

Menurut Zhang, sebagian korban ditempatkan di stadion, sebagian di Gedung Shuibei, dan sebagian lagi di toko fisik Jie Wo Rui.

“Mereka sengaja memecah kami, tidak membiarkan kami berkumpul di Shuibei. Ada yang bahkan dikurung di lantai atas gedung Shuibei.”

Ia juga mengungkapkan bahwa pada 26 Januari terjadi tiga insiden percobaan bunuh diri dengan melompat.

“Di area lapangan olahraga, ada seorang perempuan hamil yang melompat, tapi tidak terlalu tinggi dan berhasil dicegah. Ada satu perempuan yang benar-benar melompat dan dibawa ambulans—tidak tahu ke mana. Yang lainnya ditarik turun oleh pacar atau keluarga. Mereka sudah diberi kompensasi, dan tidak ingin hidup lagi.”

Zhang mengatakan sebagian besar korban adalah perempuan, banyak di antaranya pasangan muda yang membeli emas ‘tiga perhiasan’ untuk pernikahan. Di lokasi juga ada seorang nenek berusia lebih dari 70 tahun, memegang KTP sambil duduk di tanah menangis histeris. Uang dirinya dan anaknya lebih dari 4 juta yuan tidak bisa ditarik.


Pemerintah Tambah Aparat Kepolisian, Korban Ditangkap

Menurut informasi wartawan, pada 27 Januari jumlah korban yang datang semakin banyak. Pemerintah setempat menambah pengerahan polisi. Terjadi bentrok fisik, dan sejumlah korban ditangkap.

Seorang korban yang dihubungi wartawan mengatakan ia sedang berada di kantor polisi untuk diperiksa, sehingga tidak bisa diwawancarai. Korban lain mengaku akun Douyin miliknya diblokir, tidak bisa mengirim informasi apa pun.

Zhang Xiao menegaskan bahwa satu-satunya tuntutan mereka adalah pengembalian modal, namun skema penggantian Jie Wo Rui hanya 20% dari modal.

“Kalau kamu top up 1 juta yuan, kamu hanya bisa ambil kembali 200 ribu yuan—itu pun belum tentu. Kamu harus tanda tangan perjanjian. Katanya uang akan dibayar dalam setengah bulan, tapi setelah itu bagaimana, tidak ada yang tahu.”

Ia menolak menandatangani perjanjian tersebut.

“Kalau ditandatangani, ini jadi perkara perdata—urusan pribadi antara kamu dan Jie Wo Rui. Kami ingin melaporkan kasus pidana, ini penipuan.”

Karena merasa haknya tidak dilindungi pemerintah dan polisi Shenzhen, Zhang memutuskan pulang ke daerah asal untuk melapor secara pidana.

Diketahui bahwa pada 27 Januari malam, pemilik Jie Wo Rui, Zhang Zhiteng, merilis video tanggapan dan menyatakan akan “memberi penjelasan kepada publik.”


Lebih dari 1.000 Korban, Dana Diduga Capai Ratusan Juta Yuan

Shenzhen Jie Wo Rui Jewelry Co., Ltd. didirikan pada 2014, dengan modal terdaftar 11 juta yuan. Zhang Zhiteng tercatat sebagai perwakilan hukum.

Menurut laporan Blue Whale News, nilai dana yang terlibat dalam kasus ini diperkirakan mencapai ratusan juta yuan, berdampak pada lebih dari seribu investor, dengan kerugian besar.

Dalam daftar pengumpulan korban “Jie Wo Rui”, kerugian individu umumnya puluhan ribu yuan, dengan kerugian tertinggi mencapai ratusan ribu hingga jutaan yuan per orang. Saat ini lebih dari 1.000 korban telah terdaftar, dengan total dana diperkirakan menembus 100 juta yuan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa Jie Wo Rui memiliki toko fisik di Shuibei, bergerak di bidang jual beli dan daur ulang logam mulia serta perhiasan. Zhang Zhiteng dan kerabatnya dikenal sebagai figur populer di lingkaran emas Shuibei, dan Zhang memiliki hampir 70 ribu pengikut di Xiaohongshu.

Namun kini, dana dan emas titipan tidak dapat diambil. Sumber “ledakan” diduga berasal dari bisnis penetapan harga, yang pada dasarnya merupakan perdagangan berjangka ilegal tanpa lisensi (pasar gelap).


“Jie Wo Rui” Berkali-kali Diterpa Isu Kolaps

Seorang blogger Zhihu yang mengaku sebagai “veteran perhiasan Shuibei” mengulas jalur perkembangan Zhang Zhiteng dan akar penyebab kolaps kali ini.

Menurut artikel tersebut, Zhang awalnya bergerak di bisnis berlian, lalu beralih ke emas. Ia memasarkan gelang emas polos gaya kuno dengan ongkos kerja hanya 3 yuan, membangun reputasi lewat pembelian kelompok. Setelah basis pelanggan terbentuk, ia beralih ke daur ulang emas dan penetapan harga, serta mengembangkan mini-program spekulasi emas pertama di Shuibei untuk masyarakat umum.

Pengguna cukup menyetor uang, lalu mengunci harga 1 gram emas dengan uang muka 20 yuan. Emas dikirim untuk didaur ulang, dan uang cepat masuk ke rekening.

Belakangan, sistem ini bisa dipakai spekulasi—jual beli kosong tanpa emas fisik. Bahkan bagi yang tidak punya emas, Jie Wo Rui membuat mini-program lain bernama Longyejin, memungkinkan emas dipindahkan instan ke Jie Wo Rui. Tanpa pernah menyentuh emas, transaksi daur ulang tetap terjadi.

Selama bertahun-tahun, Jie Wo Rui menyedot penggemar lewat harga murah, dan menggiring mereka ke spekulasi berjangka.

Platform ini berkali-kali diterpa rumor kolaps, dan berusaha mencari “pelindung”. Salah satunya adalah perusahaan BUMN Jinqu, anggota bursa. Setelah Jinqu di Shenzhen kolaps akibat spekulasi berjangka, Jie Wo Rui mengambil alih perusahaan Shenzhen milik Jinqu, membuat banyak penggemar yakin ada backing kuat. Tahun lalu, Jie Wo Rui bahkan mengumumkan pendirian perusahaan patungan dengan otoritas aset negara setempat, untuk membungkus diri sebagai perusahaan “resmi”.

Artikel tersebut menutup dengan menyebutkan bahwa Zhang Zhiteng secara inovatif menggabungkan aplikasi internet pengumpulan emas, penjualan bahan baku, dan spekulasi emas, serta membukanya ke publik luas—dan inilah akar penyebab mengapa begitu banyak warga berbondong-bondong datang ke Shenzhen.

Editor Penanggung Jawab: Li Muen

Militer AS Menembak Jatuh Drone Iran di Laut Arab Saat Mendekati Kapal Induk USS Abraham Lincoln

Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/CENTCOM) menyatakan bahwa sebuah drone Iran mengabaikan instruksi de-eskalasi saat terbang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln.

EtIndonesia. Sebuah jet tempur Amerika Serikat menembak jatuh drone Iran ketika drone tersebut mendekati kapal induk AS di Laut Arab pada 3 Februari, demikian diumumkan CENTCOM.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Presiden Donald Trump baru-baru ini memerintahkan pengerahan kekuatan angkatan laut ke Timur Tengah, serta mengancam serangan militer terhadap Iran jika Teheran tidak menyetujui pembatasan baru atas pengembangan nuklirnya.

CENTCOM, yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, mengatakan bahwa USS Abraham Lincoln saat itu beroperasi sekitar 500 mil dari pantai selatan Iran, ketika pasukan AS mendeteksi sebuah drone yang mereka identifikasi sebagai drone Shahed-139 milik Iran.

Dalam pernyataan pers yang dikirim melalui email, CENTCOM menyebutkan bahwa drone Iran tersebut “melakukan manuver yang tidak perlu ke arah kapal induk.”

CENTCOM mengatakan bahwa pasukan AS telah mengeluarkan instruksi de-eskalasi, namun drone itu tetap melanjutkan lintasannya menuju kapal induk. Pada titik itulah, sebuah jet tempur siluman F-35C Lightning II yang berpangkalan di kapal induk tersebut melakukan intervensi dan menembak jatuh drone.

“Tidak ada personel militer Amerika yang terluka dalam insiden ini, dan tidak ada peralatan AS yang mengalami kerusakan,” ujar CENTCOM.

CENTCOM juga melaporkan insiden terpisah beberapa jam kemudian, ketika dua kapal Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) serta sebuah drone Mohajer milik Iran mendekati kapal dagang berbendera dan berawak Amerika Serikat, M/V Stena Imperative. Kapal tersebut saat itu beroperasi di dekat Selat Hormuz.

Kapal-kapal IRGC tersebut diduga mengancam akan menaiki kapal dagang AS, namun kapal perusak berpeluru kendali USS McFaul tiba di lokasi. Angkatan Udara AS juga turun tangan untuk memberikan dukungan udara defensif.

Menurut CENTCOM, insiden kedua ini berhasil diredakan setelah kapal perang dan pesawat AS melakukan intervensi.

Pekan lalu, CENTCOM telah mengeluarkan peringatan langsung kepada pasukan Iran agar menghindari perilaku provokatif di dekat pasukan AS, mitra regional, maupun kapal-kapal komersial.

Penembakan jatuh drone Iran ini terjadi menjelang pertemuan yang direncanakan di Turki pada Jumat, antara Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Berbicara kepada wartawan di luar Gedung Putih pada Selasa, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan,

“Pembicaraan, sejauh ini, masih dijadwalkan.”

“Jelas, diplomasi membutuhkan dua pihak yang mau bekerja sama. Anda membutuhkan mitra yang bersedia. Dan itulah yang ingin dijajaki dan dibahas oleh Utusan Khusus Witkoff,” tambahnya.

Leavitt juga menyatakan bahwa Trump memiliki berbagai opsi untuk menghadapi Iran, seraya menyinggung serangan pada Juni 2025 terhadap tiga fasilitas nuklir Iran.