Empat Petuah Sang Bijak

EtIndonesia. Seorang remaja berusia enam belas tahun datang mengunjungi seorang bijak yang telah lanjut usia.

Dia bertanya: “Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi orang yang bahagia, sekaligus mampu membawa kebahagiaan bagi orang lain?”

Sang bijak tersenyum memandangnya dan berkata : “Nak, di usiamu yang masih sangat muda, memiliki keinginan seperti ini saja sudah sangat berharga. Banyak orang yang jauh lebih tua darimu—dari cara mereka bertanya saja sudah terlihat bahwa, sebanyak apa pun penjelasan diberikan, mereka tetap tak akan memahami kebenaran yang paling penting. Maka, biarlah mereka tetap seperti itu.”

Remaja itu mendengarkan dengan penuh ketulusan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bangga diri.

Sang bijak melanjutkan: “Aku akan memberimu empat kalimat.”

Kalimat pertama: “Anggaplah dirimu sebagai orang lain.”

“Bisakah kamu menjelaskan makna kalimat ini?” tanya sang bijak.

Remaja itu menjawab: “Apakah maksudnya, ketika aku sedang merasa sakit dan sedih, aku mencoba memandang diriku sebagai orang lain, sehingga rasa sakit itu akan berkurang? Dan ketika aku terlalu gembira, dengan menganggap diriku sebagai orang lain, kegembiraan itu akan menjadi lebih tenang dan seimbang?”

Sang bijak mengangguk pelan.

Kalimat kedua: “Anggaplah orang lain sebagai dirimu sendiri.”

Remaja itu termenung sejenak, lalu berkata: “Dengan begitu, aku bisa benar-benar merasakan penderitaan orang lain, memahami kebutuhan mereka, dan ketika mereka membutuhkan pertolongan, aku bisa memberikan bantuan yang tepat?”

Mata sang bijak berbinar. Dia melanjutkan.

Kalimat ketiga:“Anggaplah orang lain sebagai orang lain.”

Remaja itu berkata:  “Apakah maksudnya kita harus sepenuhnya menghormati kemandirian setiap orang, dan dalam keadaan apa pun tidak boleh melanggar batas inti kehidupan orang lain?”

Sang bijak tertawa lepas:  “Bagus! Sangat bagus! Anak ini bisa diajar.”

Kalimat keempat: “Anggaplah dirimu sebagai dirimu sendiri.”

Sang bijak tersenyum dan berkata: “Kalimat ini terlalu sulit untuk dipahami sekarang. Simpanlah dulu, kelak kamu akan memahaminya perlahan.”

Remaja itu berkata : “Makna kalimat ini memang belum bisa langsung aku pahami. Namun keempat kalimat ini tampak saling bertentangan satu sama lain. Dengan apa aku bisa menyatukannya?”

Sang bijak menjawab dengan tenang: “Sederhana saja—dengan seumur hidupmu, dan dengan seluruh pengalaman hidupmu.”

Remaja itu terdiam lama. Lalu dia bersujud memberi hormat dan berpamitan.

Tahun demi tahun berlalu. Remaja itu tumbuh menjadi pria dewasa, lalu menjadi seorang tua.

Dan lama setelah dia meninggalkan dunia ini, orang-orang masih sering menyebut namanya.

Mereka berkata, dia adalah seorang bijak, karena dia adalah orang yang bahagia, dan juga membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang pernah berjumpa dengannya.

Hikmah Cerita

Menganggap diri sebagai orang lain, menganggap orang lain sebagai diri sendiri, menganggap orang lain sebagai orang lain, dan menganggap diri sebagai diri sendiri—empat kalimat ini terdengar seperti permainan kata yang membingungkan.

Namun ketika direnungkan dengan sungguh-sungguh, kita belajar bahwa:

  • Ada saatnya kita harus menempatkan diri pada posisi orang lain.
  • Jika kita menuntut orang lain dengan keras, kita pun harus menuntut diri sendiri dengan standar yang sama.
  • Jika kita bisa memaafkan diri sendiri, kita juga harus mampu memaafkan orang lain.
  • Hormatilah bahwa setiap orang memiliki cara berpikir dan sudut pandang yang berbeda.
  • Jangan memaksakan pola pikir sendiri kepada orang lain.
  • Setiap orang unik, tak perlu membandingkan diri secara berlebihan.
  • Kenali kebutuhan diri, dan hiduplah sebagai diri sendiri.

Inilah pemahaman kami atas empat petuah sang bijak. Lalu, bagaimana denganmu? Empat kalimat ini—pelajaran apa yang kamu temukan di dalamnya? (jhn/yn)

Kuba Digenggam Trump: Tanpa Serangan, Tanpa Ampun, Havana–Beijing–Moskow Terkejut

EtIndonesia. Pada 1 Februari, sebuah pernyataan mengejutkan disampaikan langsung oleh Donald Trump dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida. Dalam kesempatan tersebut, Trump mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat tengah membuka jalur dialog langsung dengan otoritas tertinggi Kuba. Bahkan mengisyaratkan kemungkinan tercapainya sebuah kesepakatan besar.

Pernyataan singkat ini segera memicu keguncangan geopolitik. Para analis menilai, sinyal tersebut tidak hanya mengguncang Havana, tetapi juga menimbulkan kegelisahan serius di Beijing dan Moskow.

Trump, dengan gaya khasnya yang spontan namun sarat makna strategis, mengatakan bahwa Kuba saat ini berada dalam krisis kemanusiaan dan ekonomi yang sangat berat. Ia menegaskan bahwa Washington sedang berbicara langsung dengan pejabat tertinggi Kuba dan berharap dialog tersebut akan berujung pada kesepakatan.

Trump juga menyinggung nasib warga Kuba yang menurutnya “diperlakukan dengan sangat buruk”, serta keluarga-keluarga yang telah terpisah selama bertahun-tahun akibat kebijakan rezim komunis.

Pernyataan itu dinilai bukan sekadar empati, melainkan sinyal tekanan sekaligus tawaran—sebuah pendekatan klasik Trump: tongkat dan wortel, namun dengan aturan keras bahwa hanya ada satu wortel, dan siapa yang menolak akan menghadapi konsekuensi berat.


Mengapa Kuba Sangat Penting bagi Amerika Serikat?

Selama ini, Kuba kerap dipersepsikan dunia sebagai negara tropis dengan cerutu, pantai, dan mobil klasik. Namun dalam kalkulasi geopolitik Amerika Serikat, Kuba adalah titik strategis yang sangat sensitif.

Secara geografis, Kuba merupakan negara asing terdekat dengan wilayah daratan Amerika Serikat. Jarak terpendek dari Kuba ke Key West, titik paling selatan Florida, hanya sekitar 90 mil atau 150 kilometer. Dalam konteks militer modern, jarak ini berarti hitungan menit bagi jet tempur.

Kuba juga menguasai dua jalur laut paling vital di selatan Amerika:

  • Selat Florida
  • Selat Yucatán

Kedua selat ini merupakan pintu keluar-masuk utama menuju Teluk Amerika (dahulu dikenal sebagai Teluk Meksiko). Siapa pun yang menguasai Kuba, secara efektif dapat memantau dan mengancam perut selatan Amerika Serikat.

Tak heran, dalam pepatah Tiongkok disebutkan:

“Di sisi ranjang sendiri, mana mungkin membiarkan orang lain tidur nyenyak.”

Dalam pandangan Washington, Kuba praktis berada di sisi bantal Amerika.


Mengapa Kuba Tidak Dijatuhkan Sejak Dulu?

Jawabannya terletak pada sejarah Perang Dingin.

Pada 1961, lebih dari 1.400 eksil Kuba yang didukung CIA mendarat di Teluk Babi dalam upaya menggulingkan pemerintahan Fidel Castro. Operasi ini gagal total hanya dalam tiga hari.

Tak lama kemudian, dunia menghadapi Krisis Rudal Kuba, ketika Uni Soviet mencoba menempatkan senjata nuklir di Kuba, langsung mengarah ke Amerika Serikat. Demi mencegah Perang Dunia Ketiga, Washington akhirnya berjanji tidak akan menginvasi Kuba, sebagai imbalan penarikan rudal Soviet.

Janji ini, ditambah perlindungan strategis Uni Soviet, membuat rezim Kuba bertahan selama puluhan tahun.

Setelah Uni Soviet runtuh, Kuba kehilangan pelindungnya. Namun kala itu, Washington menilai Kuba sudah tidak lagi berbahaya—cukup dilemahkan perlahan melalui sanksi ekonomi, tanpa perlu konflik bersenjata.


Perubahan Fundamental: Masuknya Tiongkok

Situasi berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Meski Rusia melemah, Partai Komunis Tiongkok justru memperluas pengaruhnya di Kuba. Berbagai laporan intelijen Barat menyebutkan bahwa Tiongkok telah mendirikan fasilitas penyadapan dan pengawasan elektronik di Kuba, menjadikannya pos terdepan untuk memata-matai Amerika Serikat.

Bagi Trump, ini adalah pelanggaran langsung terhadap garis merah keamanan nasional AS.


Strategi Trump: Menjatuhkan Kuba Tanpa Perang

Berbeda dari pendekatan militer konvensional, Trump memilih perang ekonomi ultra-terarah, menyasar urat nadi energi Kuba.

Selama puluhan tahun, Kuba bertahan hidup melalui “transfusi energi”:

  • Dari Uni Soviet
  • Lalu dari Venezuela di era Hugo Chávez dan Nicolás Maduro, dalam bentuk pasokan minyak murah atau gratis

Namun setelah Venezuela runtuh, aliran minyak ke Kuba terputus total.

Laporan menyebutkan, cadangan minyak Kuba tersisa kurang dari 15 hari. Setelah itu, pembangkit listrik terancam berhenti dan negara bisa jatuh ke dalam pemadaman total.

Pada 29 Januari 2026, Trump menandatangani perintah eksekutif yang secara resmi:

  • Menetapkan Kuba sebagai ancaman terhadap keamanan nasional AS
  • Menyatakan status darurat nasional
  • Menerapkan nol toleransi terhadap rezim komunis Kuba
  • Mengancam negara mana pun yang menyuplai minyak ke Kuba dengan tarif dan sanksi tambahan
  • Menegaskan bahwa target kebijakan ini adalah Partai Komunis Kuba, bukan rakyatnya

Akibat kebijakan ini, Meksiko, pemasok minyak terbesar Kuba setelah Venezuela, langsung menghentikan ekspor minyak.

Prinsip Trump sederhana:  tanpa tentara, cukup mencekik energi.


Isi Kesepakatan yang Mungkin Dicapai

Para analis memperkirakan, kesepakatan yang dimaksud Trump kemungkinan mencakup tiga poin utama:

  1. Pengusiran dan pembongkaran seluruh fasilitas intelijen Tiongkok di Kuba
  2. Pemutusan hubungan Kuba dengan Iran, Hamas, dan Hizbullah
  3. Pembebasan tahanan politik serta langkah awal menuju demokratisasi

Jika poin-poin ini terwujud, maka seluruh strategi Tiongkok di Belahan Barat akan runtuh secara sistemik.


Faktor Marco Rubio

Tambahan penting dalam dinamika ini adalah Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS yang berdarah Kuba. Orang tuanya melarikan diri dari Kuba saat rezim komunis berkuasa, menjadikan sikapnya terhadap Havana sangat keras.

Di media sosial bahkan muncul candaan bahwa Rubio suatu hari bisa menjadi Presiden Kuba. Menanggapi hal itu, Trump hanya berkata singkat namun sarat makna:
“Kedengarannya bagus.”


Kesimpulan:

Apa yang terjadi bukan sekadar dialog diplomatik biasa. Ini adalah operasi geopolitik presisi tinggi, di mana Trump berupaya menutup satu-satunya duri strategis yang masih menancap di tenggorokan Amerika Serikat—tanpa melepaskan satu peluru pun. (***)

Tangan Berdoa (Praying Hands)

EtIndonesia. Seniman besar asal Jerman, Albrecht Dürer, memiliki sebuah lukisan terkenal berjudul “Tangan Berdoa” (Praying Hands). Namun, di balik lukisan ini tersembunyi sebuah kisah tentang cinta, pengorbanan, dan ketulusan yang sangat mengharukan.

Pada abad ke-15, di sebuah desa kecil di Jerman, hiduplah sebuah keluarga dengan delapan belas orang anak. Sang ayah adalah seorang pandai besi. Demi menghidupi seluruh keluarganya, dia harus bekerja hingga delapan belas jam setiap hari.

Meski hidup dalam keterbatasan dan kesulitan, dua dari anak-anak keluarga itu memiliki mimpi yang sama. Mereka adalah Franz (Fransiskus) dan Albrecht. Keduanya bercita-cita mengembangkan bakat mereka di bidang seni.

Namun mereka juga sadar, ayah mereka tidak mungkin mampu membiayai dua orang anak sekaligus untuk belajar di akademi seni.

Suatu malam, kedua bersaudara itu berdiskusi di atas tempat tidur dan akhirnya mengambil sebuah keputusan: mereka akan melempar koin. Siapa yang menang akan pergi belajar ke akademi seni, sedangkan yang kalah akan bekerja di tambang untuk mencari uang. Empat tahun kemudian, giliran yang bekerja di tambang akan melanjutkan sekolah seni, dibiayai oleh saudaranya yang telah lulus.

Hasilnya, Albrecht yang lebih muda memenangkan undian tersebut.

Di akademi seni, Albrecht menunjukkan bakat yang luar biasa. Karya-karyanya bahkan dinilai lebih baik dibandingkan karya para dosennya.

Setelah lulus, dia tidak melupakan janjinya. Dia segera kembali ke kampung halaman untuk mencari kakaknya, Franz, yang selama empat tahun bekerja keras di tambang demi membiayai pendidikannya.

Pada hari kepulangannya, keluarga mengadakan sebuah jamuan besar untuk merayakan keberhasilannya. 

Di tengah perjamuan itu, Albrecht berdiri dan dengan penuh rasa terima kasih berkata kepada kakaknya: “Sekarang giliranku, Kakak. Aku akan mendukungmu sepenuhnya untuk belajar di akademi seni dan mewujudkan mimpimu!”

Semua mata tertuju pada Franz. Namun yang terlihat justru air mata mengalir di pipinya. Franz menundukkan kepala, menggeleng pelan, dan berkata lirih: “Tidak… tidak…”

Dia lalu berdiri, menatap adiknya dengan penuh kasih, menggenggam tangannya, dan berkata: “Lihatlah kedua tanganku. Empat tahun bekerja di tambang telah menghancurkannya. Sendi-sendinya kaku, tak bisa digerakkan. Sekarang bahkan mengangkat gelas untuk bersulang pun aku tak sanggup—apalagi menggenggam kuas atau pisau pahat. Adikku… sudah terlambat. Tapi melihatmu berhasil mewujudkan mimpimu, aku sungguh bahagia.”

Beberapa hari kemudian, Albrecht tanpa sengaja melihat kakaknya berlutut di lantai, menyatukan kedua tangannya yang kasar dan berdoa: “Ya Tuhan, tanganku tak lagi mampu mewujudkan impianku menjadi seorang seniman. Aku mohon, lipatgandakanlah bakat dan kemampuan itu kepada adikku, Albrecht.”

Menyaksikan pemandangan itu, Albrecht—yang sejak awal sudah sangat berterima kasih—langsung mengambil keputusan: dia akan mengabadikan kedua tangan kakaknya dalam sebuah karya seni.

Empat ratus lima puluh tahun kemudian, hingga hari ini, karya-karya Albrecht Dürer—baik sketsa, gambar pensil, cat air, ukiran kayu, maupun ukiran tembaga—dapat ditemukan di berbagai museum di seluruh dunia. Namun di antara semuanya, yang paling dikenal dan dikenang sepanjang masa adalah “Tangan yang Berdoa”.

Hikmah Cerita

Kisah yang menyentuh hati sering kali dikenang lintas zaman. Pengorbanan yang rela mengorbankan diri demi menerangi jalan orang lain, terutama saudara sendiri, adalah nilai luhur yang patut dihormati dan dikenang.

Cinta tanpa pamrih, doa tanpa suara, dan tangan yang rusak demi mimpi orang lain—itulah alasan mengapa “Tangan yang Berdoa” bukan sekadar lukisan, melainkan simbol keagungan hati manusia. (jhn/yn)

Setelah Penangkapan Zhang Youxia, PKT Kembali Menyebutkan “Persiapan Perang,” Menarik Perhatian Trump

Surat kabar militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 2 Februari 2026 kembali menerbitkan artikel komentar yang mengecam Zhang Youxia sebagai “penghalang dan batu sandungan”, sekaligus menegaskan perlunya memperkuat latihan dan kesiapan tempur secara menyeluruh dengan tujuan “siap berperang kapan saja”. Pernyataan ini membuat situasi Selat Taiwan kembali menjadi sorotan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa ia mengawasi dengan sangat cermat perkembangan kasus Zhang Youxia dan isu Taiwan.

EtIndonesia. Setelah Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT Zhang Youxia dan Kepala Staf Departemen Staf Gabungan Komisi Militer Pusat, Liu Zhenli, secara resmi diumumkan “jatuh” pada 24 Januari, surat kabar militer PKT telah tiga hari berturut-turut menerbitkan artikel komentar terkait kasus tersebut.

Artikel komentar tanggal 2 Februari menyatakan:  “Penindakan tegas terhadap unsur-unsur korup seperti Zhang Youxia dan Liu Zhenli bertujuan menyingkirkan penghalang dan batu sandungan yang menghambat perkembangan perjuangan.”

Artikel itu juga menegaskan bahwa tahun ini merupakan tahun krusial untuk mencapai target perjuangan 100 tahun pendirian militer, sehingga diperlukan penguatan menyeluruh latihan dan kesiapan tempur, dengan kesiapan “berperang kapan saja”.

Seorang sumber internal militer bermarga Shen pada 29 Januari mengatakan kepada The Epoch Times bahwa konflik antara Zhang Youxia dan Xi Jinping bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil akumulasi ketegangan jangka panjang.

Menurut Shen, inti konflik antara Zhang dan Xi sebenarnya berfokus pada isu Taiwan. Zhang Youxia dan sebagian besar jenderal senior menentang penggunaan kekuatan militer untuk menyerang Taiwan, karena menilai hal itu akan menyebabkan korban jiwa dan kerugian peralatan yang sangat besar, bahkan berpotensi “menghabiskan satu cabang militer secara keseluruhan”. Namun, Xi Jinping disebut ingin menyerang Taiwan.

Setelah Zhang Youxia dan Liu Zhenli disingkirkan, stabilitas politik internal PKT dan situasi Selat Taiwan menjadi perhatian dunia internasional.

Presiden AS Donald Trump pada 31 Januari mengatakan kepada media di atas Air Force One bahwa ia akan mengawasi perkembangan ini dengan saksama.

Trump menyatakan:  “Bagi saya, di Tiongkok hanya ada satu ‘bos’, yaitu Ketua Xi. Orang yang saya hadapi adalah dia.”

Ketika ditanya apakah ia khawatir terhadap stabilitas Tiongkok atau isu Taiwan akibat kasus Zhang Youxia, Trump menjawab:  “Saya pikir Ketua Xi adalah ‘bos’. Saya mengawasi hal ini dengan sangat dekat.”

Setelah penangkapan Zhang Youxia, muncul banyak kejanggalan. Selain surat kabar militer PKT yang terus menyebut nama Zhang Youxia dan Liu Zhenli, media corong PKT lainnya secara kolektif bungkam mengenai kasus ini. Berbagai lembaga di bawah Komisi Militer Pusat, komando wilayah, dan matra-matra militer juga tidak memberikan pernyataan publik.

Pengamat politik Yuan Bin dalam tulisannya di The Epoch Times menilai situasi ini sangat tidak normal. Ia mengingatkan bahwa ketika Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Guo Boxiong dan Xu Caihou jatuh, surat kabar militer PKT juga menerbitkan editorial. Bahkan, dalam beberapa hari saja muncul laporan padat mengenai dukungan tegas dari seluruh wilayah militer, matra, markas besar, hingga prajurit tingkat akar rumput terhadap penindakan tersebut.

Yuan Bin menyatakan, hal ini menunjukkan bahwa dalam kasus Guo Boxiong dan Xu Caihou, militer PKT dari atas hingga bawah memang menjaga “keseragaman tingkat tinggi” dengan Xi Jinping.

Sebaliknya, dalam kasus penangkapan Zhang Youxia kali ini, meskipun Beijing berulang kali melalui surat kabar militer menyerukan agar seluruh militer menyatakan loyalitas kepada Xi Jinping, hingga kini tidak terlihat satu pun laporan atau pernyataan loyalitas di media militer PKT. 

Hal ini dianggap semakin menguatkan kebenaran rumor di dunia maya—bahwa secara luas terdapat ketidakpuasan di tubuh militer PKT terhadap penangkapan Zhang, berbagai perintah Komisi Militer Pusat mendapat perlawanan pasif, perintah militer tidak berjalan efektif, dan kondisi operasional militer PKT menunjukkan kejanggalan langka.

Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Editor Wen Hui

Aksi Protes Digelar di Berbagai Kota di Kanada, Fokus pada Kesulitan Hidup Hingga Ancaman Partai Komunis Tiongkok

EtIndonesia. Pada 31 Januari 2026, warga di berbagai kota di Kanada tetap turun ke jalan meski diterpa angin dan hujan, menggelar aksi unjuk rasa untuk menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap krisis ekonomi dan kesulitan hidup masyarakat. Para demonstran menyerukan agar pemerintah lebih memperhatikan kebutuhan rakyat kecil, sekaligus menghindari risiko politik yang dapat timbul dari hubungan dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Seorang peserta aksi di Vancouver, Renate, mengatakan:  “Biaya hidup sekarang lebih tinggi dari sebelumnya. Antrian di bank makanan makin panjang, dan lapangan kerja semakin langka. Ini benar-benar situasi yang sangat berbahaya.”

Peserta aksi Vancouver lainnya, Shar, menyatakan:  “Harga rumah sangat mahal. Mengajukan kredit hipotek sekarang sangat sulit.”

Renate menambahkan:  “Sistem kesehatan sudah runtuh, dan mereka juga mendorong kebijakan yang cukup ekstrim dengan melegalkan narkoba keras. Partai Liberal harus turun, negara ini sedang terus merosot.”

Peserta aksi Vancouver, Ryan Chen, mengatakan:  “Keamanan sekolah dan keamanan komunitas jauh lebih buruk dibanding saat saya pertama kali datang dari Taiwan pada tahun 2007.”

Di Toronto, demonstran Dave Toomath menyatakan:  “Semua ini sangat mengkhawatirkan. Hal-hal ini sedikit demi sedikit menggerogoti hakikat demokrasi yang saya kagumi.”

Para demonstran juga menyoroti hubungan dagang pemerintah dengan PKT, dengan kekhawatiran bahwa kerja sama tersebut menyimpan risiko politik tersembunyi. Mereka menyerukan agar Kanada melindungi nilai-nilai demokrasi.

Seorang demonstran bernama Renee mengatakan:  “Hari ini Carney membuat beberapa kesepakatan dengan Tiongkok (PKT), padahal itu bukan perdagangan yang adil. Pada akhirnya, PKT akan menipu dan mengambil seluruh kekayaan intelektual Kanada. Saya hanya ingin masyarakat sadar—jangan berurusan dengan iblis.”

Demonstran Toronto, Tammy Felts, mengatakan:  “Kesesuaian kita dengan Amerika Serikat jauh melampaui negara manapun di dunia. Namun dia justru membuka pintu bagi Tiongkok (PKT).”

Warga Hong Kong di Toronto, Dino Chan, menyatakan:  “Ini adalah bentuk pemaksaan politik. Hentikan perjanjian dagang dengan PKT, karena ini masalah yang sangat berbahaya. Kanada tidak boleh menipu dirinya sendiri.”

Dari isu ekonomi, imigrasi hingga nilai-nilai fundamental, para peserta aksi menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap arah masa depan Kanada.

Seorang mantan kontraktor di Toronto yang menggunakan nama samaran Ronda ‘Flying Dutchman’ berkata:  “Biarkan jaringan pipa minyak kembali beroperasi. Kita perlu menghasilkan uang.”

Peserta aksi Vancouver, Shar, menambahkan:  “Kita membutuhkan kebijakan imigrasi yang hati-hati dan terukur.”

Shar juga mengatakan:  “Kami berharap Kanada tetap mempertahankan citranya sebagai negara yang damai.”

Renee menutup dengan pernyataan:  “Saya berharap kita memilih jalan yang menjunjung akal sehat umat manusia dan moral dasar manusia. Kita tidak ingin menuju komunisme, kita tidak ingin menuju sosialisme.”

Laporan langsung dari berbagai daerah oleh reporter New Tang Dynasty Television Kanada

Kebiasaan Orang Miskin

EtIndonesia. Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pria yang sangat miskin. Melihat keadaannya yang memprihatinkan, seseorang yang kaya merasa iba dan tergerak hatinya untuk menolongnya agar bisa keluar dari kemiskinan.

Orang kaya itu kemudian memberikan seekor sapi kepadanya, sambil berpesan agar dia membuka lahan dengan sungguh-sungguh. Katanya, ketika musim semi tiba, tanamlah benih, dan saat musim gugur datang, dia pun bisa menjauh dari kata “miskin”.

Orang miskin itu pun dipenuhi harapan dan mulai berjuang.

Namun belum beberapa hari berlalu, masalah mulai muncul. Sapi butuh makan rumput, manusia butuh makan nasi. Kehidupan justru terasa lebih berat dibanding sebelumnya.

Lalu dia berpikir: “Lebih baik sapi ini aku jual. Dengan uangnya aku bisa membeli beberapa ekor kambing. Satu ekor bisa langsung disembelih untuk dimakan, sisanya bisa berkembang biak. Jika anak kambing lahir dan tumbuh besar, aku bisa menjualnya dan mendapatkan lebih banyak uang.”

Rencananya memang terwujud. Namun setelah memakan satu ekor kambing, anak kambing yang ditunggu-tunggu tak kunjung lahir. Hidup kembali terasa sulit, dan tanpa sadar dia pun menyembelih seekor kambing lagi.

Dia lalu berpikir: “Kalau begini terus tidak akan berhasil. Lebih baik kambing-kambing ini dijual, lalu uangnya dipakai membeli ayam. Ayam bertelur lebih cepat, telurnya bisa langsung dijual, dan hidupku bisa segera membaik.”

Sekali lagi, rencananya berjalan sesuai harapan. Namun kehidupan tetap tidak berubah. Kesulitan datang lagi, dan dia kembali tak mampu menahan diri untuk menyembelih ayam-ayamnya. Hingga akhirnya, hanya tersisa satu ekor ayam saja, dan seluruh impiannya runtuh.

Dia pun berpikir putus asa: “Menjadi kaya sudah tidak mungkin. Lebih baik ayam ini dijual saja, uangnya kupakai membeli arak. Tiga cawan diminum, maka semua masalah terasa tak ada.”

Tak lama kemudian, musim semi tiba. Orang kaya yang dulu bermurah hati datang dengan penuh semangat membawa benih. Namun yang dia temukan sungguh mengejutkan: si orang miskin sedang minum arak ditemani lauk ikan asin. Sapi sudah tidak ada, dan rumah itu tetap melarat seperti sebelumnya.

Orang kaya itu pun berbalik pergi.

Dan orang miskin itu tetap miskin selamanya.

Banyak orang miskin sebenarnya pernah memiliki mimpi. Bahkan pernah mendapat kesempatan, dan pernah pula mulai bertindak. Namun, bertahan sampai akhir adalah hal yang paling sulit.

Seorang investor pernah berkata bahwa rahasia kesuksesannya adalah ini: Saat tidak punya uang, seberat apa pun keadaannya, jangan pernah menyentuh modal investasi dan tabungan. Tekanan justru akan memaksamu menemukan cara baru untuk menghasilkan uang dan melunasi utang. Itu adalah kebiasaan yang baik.

Kepribadian membentuk kebiasaan. Kebiasaan menentukan keberhasilan.

Hikmah Cerita

Kebiasaan baik membawa seseorang menuju kesuksesan, sementara kebiasaan buruk menyeret seseorang menuju kegagalan. Sebuah kesempatan untuk bangkit yang sebenarnya tidak membutuhkan modal apa pun, justru terbuang sia-sia—sungguh disayangkan.

Pernah ada sebuah kalimat yang mengatakan: “Saat sebelum fajar adalah saat tergelap, dan detik sebelum sukses adalah saat paling melelahkan. Jika mampu bertahan, fajar akan menyingsing, dan kesuksesan sudah di depan mata.”

Perbedaan terbesar antara orang sukses dan orang gagal adalah ini: Orang sukses, setelah menetapkan tujuan, akan melangkah maju tanpa ragu. Saat menghadapi kesulitan, dia mengubah cara, bukan tujuannya, lalu terus berjuang. Sedangkan orang gagal, ketika baru menghadapi kesulitan, justru mengubah tujuan dan rencana. Akibatnya, rencana selalu kalah oleh perubahan, dan tak pernah benar-benar terwujud.(yn)

Pulang Lebih Lambat

EtIndonesia. Kemarin, kota kami menggelar sebuah ajang besar sehingga diberlakukan pembatasan lalu lintas. Kami telah menerima pemberitahuan sebelumnya: setelah jam kerja, kendaraan pribadi tidak boleh beroperasi dan baru diizinkan kembali pada malam hari.

Jika dilihat dari sudut pandang perencanaan pemerintah, pembatasan ini memang diperlukan.
Selama penyelenggaraan acara, banyak orang dari luar kota datang sehingga volume kendaraan meningkat drastis. Pengaturan lalu lintas sementara membantu memastikan kelancaran mobilitas pihak terkait acara, sekaligus mengurangi kemacetan dan risiko kecelakaan.

Namun dari sisi kehidupan warga, pembatasan ini terasa merepotkan. Jika memilih transportasi umum, kereta dan bus penuh sesak. Jika tetap ingin menggunakan mobil pribadi, kami harus menyesuaikan waktu agar tidak melanggar aturan. Setelah seharian bekerja, yang diinginkan tentu cepat pulang untuk beristirahat. Akibatnya, karena mobil tak bisa dipakai, kami hanya bisa menunggu di kantor—dan kelelahan pun terasa bertambah.

Setelah mempertimbangkan semuanya, kami memutuskan tetap menggunakan mobil. Sepulang kerja, kami menjemput anak, lalu mencari tempat untuk makan malam lebih dulu.  Restoran di sekitar tidak banyak, dan semuanya ramai. Butuh waktu cukup lama hingga akhirnya kami mendapatkan tempat.

Usai makan, waktu masih cukup. Kami pun memutuskan kembali ke kantor untuk bekerja sebentar.

Saya menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan, sementara anak mengerjakan PR. Ketika semua selesai, waktu pembatasan lalu lintas pun hampir berakhir. Kami menuju parkiran dan bersiap pulang. Saat membuka aplikasi navigasi untuk mengecek kondisi jalan, ternyata lalu lintas sangat lancar—bahkan jauh lebih baik dari hari biasa.

Mungkin karena pembatasan tersebut, banyak pemilik kendaraan memilih tidak keluar, sehingga jalanan menjadi lebih lengang.

Akhirnya, waktu tempuh kami lebih singkat sekitar belasan menit dibandingkan biasanya.

Biasanya, setibanya di rumah kami masih harus memasak, membereskan pekerjaan rumah, dan kadang menyelesaikan urusan kantor. Namun kali ini, kami sudah makan malam di luar, tak perlu lagi mengurus dapur. Pekerjaan sudah diselesaikan di kantor, tak perlu memikirkannya lagi. Anak pun telah menuntaskan PR-nya, tanpa perlu diingatkan.

Sisa malam sepenuhnya bisa kami gunakan untuk bersantai. Perasaan pun langsung terasa ringan. Kami menonton film, bermain gim bersama—sebuah waktu berkualitas yang jarang terjadi.

Padahal, secara harfiah kami pulang lebih lambat dari biasanya. Namun justru mendapatkan pengalaman yang lebih menyenangkan—sesuatu yang sama sekali tidak kami duga.

Awalnya, karena pembatasan lalu lintas, hati dipenuhi keluhan. Namun setelah benar-benar dijalani, ternyata ada begitu banyak sisi positif.

Saya pun tak bisa menahan rasa haru: ternyata, banyak hal yang kita bayangkan sebelumnya tidak selalu akurat. Antara baik dan buruk, sering kali hanya dipisahkan oleh satu sudut pandang—dan bisa saling bertukar tempat.

Di perjalanan bertumbuh, jika kita belajar tidak tergesa-gesa menyimpulkan, melainkan menerima setiap perubahan dengan tenang, barangkali kita akan menemukan wajah lain dari kehidupan— yang selama ini luput kita lihat.(jhn/yn)

Viral Video Debut XPeng Robotics di Pusat Perbelanjaan Shenzhen, Tiongkok Berakhir Jatuh Tersungkur  

EtIndonesia. Pada 31 Januari, robot XPeng IRON melakukan debut pertunjukan langsung pertamanya di MixC Shenzhen Bay. Namun, di tengah proses berjalan, robot itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai. Para staf segera bergegas membantu dan akhirnya tiga orang staf mengangkat robot tersebut keluar dari lokasi, sehingga menimbulkan kehebohan.

Video yang beredar menunjukkan robot XPeng IRON dirancang dengan penampilan perempuan. Didampingi oleh staf, robot tersebut berjalan ke tengah area plaza, dikelilingi oleh banyak pengunjung yang menonton, serta sejumlah jurnalis yang merekam kejadian tersebut.

Saat pembawa acara perempuan sedang memberikan penjelasan, robot XPeng mengangkat tangannya dan membuat beberapa pose. Tiba-tiba, pusat gravitasinya menjadi tidak stabil, tubuhnya terhuyung ke belakang, lalu terjatuh ke lantai.

Para staf langsung berlari ke depan untuk mencoba menopang robot. Pada akhirnya, tiga orang staf mengangkat robot itu dan membawanya pergi dari lokasi. Peristiwa ini pun dijuluki oleh warganet sebagai “momen malu massal berskala besar”.

Video kegagalan debut robot humanoid XPeng IRON ini dengan cepat viral di platform X, dan menuai berbagai komentar sindiran dari warganet, antara lain:

“Ini cuma mainan remot, jangan dianggap serius.”
“Lelucon Tiongkok yang lain lagi.”

“Sekarang bahkan robot pun mulai ‘rebahan’.”
“Selain jalan dan jatuh, apa lagi yang bisa dilakukan benda ini?”

Ada pula warganet yang berkomentar:

“Inilah kebenaran robot ‘buatan dalam negeri’ yang katanya canggih. Hanya alat untuk mengumpulkan dana. Perkembangan nyata harus menunggu Amerika membuka paten teknologinya.”

“Begitu melihat dua ‘pengawal’ yang selalu dekat, bermasker dan berpakaian hitam, sudah terasa tidak meyakinkan. Tapi benar-benar tak menyangka mereka mengangkatnya keluar secara horizontal. Setidaknya siapkan tandu.”

Pada 1 Februari, Wakil Presiden XPeng Motors, Thomas (julukan ‘Kereta Listrik’), memberikan tanggapan dengan mengatakan bahwa robot IRON kembali memperagakan berjalan nyata di MixC Shenzhen Bay agar warga Shenzhen—terutama anak-anak—dapat merasakan secara langsung gambaran masa depan. Ia mengatakan robot tersebut berjalan berkali-kali, dan salah satunya terjatuh. Sang pembawa acara pun berkomentar, “Di jalan kehidupan, kita juga harus mengalami kemunduran.” Insiden jatuh ini justru membuat orang semakin yakin bahwa robot tersebut bukan manusia yang menyamar.

Sebelumnya, pada 5 November 2025, XPeng merilis generasi terbaru robot humanoid IRON dalam acara Technology Day. Cara berjalan robot tersebut—mirip peragawan di catwalk—sempat memicu kecurigaan publik bahwa robot itu sebenarnya diperankan oleh manusia.

Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Editor Wen Hui 

Kisah Kehidupan Xiao Zhen

EtIndonesia. Daya hidup sejati tidak tercermin dari penampilan luar. Seseorang mungkin tampak biasa saja, namun belas kasih yang tersembunyi di dalam dirinya dapat secara halus mengubah lingkungan sekitar, bahkan arah hidupnya sendiri.

Saya bertemu Xiao Zhen secara tak sengaja di sebuah pasar. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk menjadi sahabat lintas usia. Kepolosan dan ketulusannya sungguh menyentuh hati.

Sebagai anak sulung dari keluarga petani miskin, Xiao Zhen terpaksa putus sekolah sejak kecil. Dia bekerja sebagai buruh kasar, lalu pada malam hari belajar di sekolah kejuruan hingga menguasai satu keterampilan. Setelah itu, dia berhasil bekerja di sebuah instansi pemerintah.

Kehidupannya perlahan membaik. Dia mampu membeli rumah sendiri— namun justru rumah itu mengundang iri dan ketamakan kerabat.

Meski hidupnya penuh liku, Xiao Zhen selalu bersyukur atas perlindungan Tuhan yang dia yakini hadir secara diam-diam dalam hidupnya.

Dengan mata berkaca-kaca, Xiao Zhen menceritakan pemderitaan hidup kedua orangtuanya sepanjang usia mereka, serta berbagai rintangan yang dia hadapi dalam perjuangan hidupnya sendiri.

Dia selalu memikirkan keluarganya dan siap mengulurkan tangan kapan pun dibutuhkan. Terhadap mereka yang lemah dan kekurangan, dia juga membantu sebisanya.

Tubuh Xiao Zhen lemah dan sering sakit-sakitan, namun justru dialah yang kerap mengingatkan orang lain tentang cara menjaga kesehatan diri.

Meski pendidikannya terbatas, Xiao Zhen sangat mencintai sastra.

Saat membaca The Epoch Times, dia memuji tampilan halamannya yang indah, tidak berbau tinta menyengat, dan isinya kaya serta beragam.

Ketika membaca kisah Li Bai di rubrik sastra, dia begitu gembira. Tanpa ragu, dia langsung memutuskan untuk berlangganan.

Mendengar saran saya, Xiao Zhen kini mulai mencoba menuliskan kisah-kisah yang selama ini dia ceritakan, kata demi kata, kalimat demi kalimat.

Saat menonton pertunjukan Shen Yun Performing Arts yang mendunia,  Xiao Zhen memuji tanpa henti, benar-benar terpesona.

Dia tertarik pada sebuah produk Shen Yun yang harganya jauh di atas anggarannya. Tak disangka, petugas toko memberi tahu bahwa barang itu sedang dijual dengan harga diskon.

Xiao Zhen pun berseri-seri penuh sukacita. Baginya, itu pertanda bahwa orang berhati baik selalu mendapat keberkahan— seolah langit benar-benar memberinya anugerah.

Kehidupan yang terus dipenuhi gelombang ujian adalah cara semesta menguji ketangguhan sebuah jiwa.

Melalui cobaan demi cobaan, kehidupan seseorang dapat terus dimurnikan, diangkat, dan ditempa hingga bersinar.

Hasil tempaan itulah yang mampu berdiri kokoh dalam semesta, sementara kemewahan dan kejayaan duniawi pada akhirnya akan sirna.

Xiao Zhen menghadapi tantangan hidup dengan keberanian dan ketulusan, menjalani hidup dengan penuh daya hidup.

Dan itulah— berkah terbesar dalam perjalanan hidup seorang manusia.(jhn/yn)

Aset Putra Kedua Khamenei di London Terungkap : Ia Memiliki Properti Senilai Ratusan Juta Poundsterling di Rich Street

EtIndonesia. Petunjuk baru mengenai aset luar negeri yang disembunyikan oleh keluarga Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, kembali terungkap. Aset tersebut diduga dimiliki oleh putra keduanya dan mencakup properti bernilai lebih dari 100 juta pound sterling yang berlokasi di “Jalan Para Miliarder” di London.

Menurut laporan Bloomberg, para penyelidik menemukan sebuah jaringan properti dan aset keuangan yang diyakini terkait dengan Mojtaba Khamenei. Jaringan ini beroperasi melalui perusahaan cangkang dan perantara, serta memiliki 11 properti di Bishops Avenue—yang dijuluki “Jalan Para Miliarder”—dengan nilai total melebihi 100 juta pound sterling (sekitar 137 juta dolar AS). Bishops Avenue terletak di kawasan Hampstead, London utara, yang dikenal sebagai kawasan tempat tinggal para superkaya dan selebritas.

Mojtaba Khamenei, kini berusia 56 tahun, dipandang sebagai salah satu kandidat potensial penerus Ayatollah Ali Khamenei. 

Sejak 2019, ia telah dikenai sanksi Amerika Serikat karena perannya di kantor Khamenei serta dugaan keterkaitannya dengan lembaga keamanan Iran. Selain di Inggris, portofolio properti Mojtaba juga mencakup vila-vila mewah di kawasan elit Dubai, serta properti komersial dan hotel di berbagai negara Eropa. Selain itu, ia juga dilaporkan memiliki rekening bank dan aset keuangan di sejumlah negara.

Seluruh aset tersebut tidak terdaftar atas nama Mojtaba secara langsung, melainkan dimiliki melalui perusahaan cangkang, perwalian, dan pihak ketiga. Skema semacam ini membantu menyamarkan identitas penerima manfaat sebenarnya dan mempersulit pelacakan.

Investigasi lebih lanjut menemukan bahwa jaringan aset ini bergantung pada seorang perantara kunci, yakni bankir Iran Ali Ansari. Ansari telah dijatuhi sanksi oleh Inggris pada Oktober tahun lalu karena diduga menyediakan pembiayaan bagi Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). 

Para penyelidik menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Ansari diduga digunakan untuk membeli, mengelola, dan menahan aset luar negeri yang berkaitan dengan kepentingan Mojtaba. Dana-dana tersebut diyakini dipindahkan melalui transaksi berlapis yang melibatkan Inggris, Uni Emirat Arab, Swiss, serta pusat keuangan lepas pantai.

Para analis menilai bahwa pendapatan negara Iran—termasuk pendapatan minyak—kemungkinan disalurkan ke dalam jaringan ini. Laporan investigasi tersebut menjadi bukti terbaru mengenai akumulasi kekayaan besar keluarga Khamenei. 

Keluarga Khamenei dipandang sebagai salah satu dari empat keluarga paling berpengaruh di Timur Tengah, dan dikabarkan mengendalikan kerajaan bisnis dengan aset lebih dari 300 miliar dolar AS, dengan kepentingan di hampir seluruh sektor industri di Iran.

Setelah pecahnya aksi protes besar-besaran anti-pemerintah di Iran, media Israel pada 14 Januari melaporkan bahwa sejumlah pejabat tinggi Iran—termasuk putra Khamenei—telah mentransfer 1,5 miliar dolar AS ke rekening kustodian di Dubai dalam dua hari terakhir.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada 15 Januari mengatakan kepada media bahwa Amerika Serikat akan melacak aliran dana besar yang dipindahkan pejabat Iran ke luar negeri. Ia menegaskan:

“Tugas Departemen Keuangan adalah melacak aliran dana, baik melalui sistem perbankan maupun aset digital. Kami akan mengejar aset-aset ini—mereka tidak akan bisa terus memilikinya.”

Laporan gabungan oleh Jin Jing / Editor penanggung jawab: Lin Qing

Pengalaman yang Tak Bisa Dibeli dengan Uang

EtIndonesia. Tumbuh dalam keluarga dengan tradisi saling mengalah dan menghargai, setelah kami—para saudara—berumah tangga, masing-masing belajar untuk menerima keadaan, menahan diri, dan diam-diam menopang langit kehidupan kami sendiri.

Ibu pernah berkata dengan nada penuh perasaan: “Anak perempuan semuanya lembut dan berbudi, sementara para menantu perempuan cenderung lebih kuat pendiriannya. Anak-anak laki-laki kebanyakan memilih menyesuaikan diri.”

Bertahun-tahun kemudian, ketika menoleh ke belakang, di antara untung dan rugi, kami menyadari bahwa sebagian besar pilihan yang kami ambil adalah pilihan terbaik.

Suatu musim panas, pengasuh di rumah harus mengambil cuti panjang. Pada suatu siang, ibu mertua saya yang lumpuh mengompol saat tidur. Saya langsung menggendongnya dan mendudukkannya di atas kloset. Saya menarik shower, berniat membersihkannya, namun dia terus-menerus menolak.

Saya segera paham—dia mengira airnya dingin. Saya menyemprotkan air ke lantai di dekat kakinya, memastikan itu air hangat. Barulah dia mengangguk pelan.

Saat itu, saya tersadar: barangkali dia pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya—tanpa merasakan kehangatan dan kepedulian.Betapa tak berdayanya seorang lansia. Kesadaran itu menusuk hati saya begitu dalam.

Setelah menidurkannya kembali, saya menangis diam-diam. Entah seberapa besar kepedihan yang dia simpan di dalam hatinya. Sementara itu, kondisi saya sendiri pun tidak mudah— saya sedang sibuk menulis tesis, sekaligus harus merawat bayi kecil.

Belum lagi, suatu ketika suami saya membawa sekelompok keponakan yang datang menjenguk untuk pergi berwisata, lalu meminta saya menyiapkan makan malam untuk semuanya. Saat itu, saya hampir runtuh.

Namun sesungguhnya, posisi suami saya juga tidak ringan. Dia memanfaatkan libur musim panas untuk menulis buku. Siang hari dia bekerja keras di laboratorium penelitian, malam hari pulang ke rumah dan terus menulis. Saat kelelahan, dia rebah di lantai untuk beristirahat. Tengah malam, dia masih harus membantu ibunya ke kamar kecil. Sepanjang musim panas itu, dia hampir tidak pernah tidur di ranjang.

Pemikiran suami saya sangat sederhana: “Kalau harus ada yang tumbang, biarlah satu orang saja.”

Sementara saya sendiri hanya ingin melakukan tugas mengajar dengan sebaik-baiknya. Saya tidak sefanatik suami dalam mengejar dunia akademik.

Akhirnya, saya memilih diam dan menerima peran sebagai “orang yang seharusnya berkorban”.

Namun bertahun-tahun kemudian, ketika merenungkannya kembali, dalam pandangan ajaran Buddha, saya menyadari bahwa ini mungkin adalah pelunasan karma. Dan di saat yang sama, saya menemukan bahwa kelapangan hati saya justru semakin luas. Jika dipikir-pikir, itu ternyata bukan hal buruk—bahkan sebuah anugerah.

Sesungguhnya, ketenteraman batin adalah hal yang paling berharga. Mengapa harus mengerahkan begitu banyak tenaga untuk saling mengukur dan membandingkan— apakah hati benar-benar menjadi lebih lega karenanya?

Sedikit lebih banyak empati, berarti sedikit lebih banyak kebebasan di dalam diri.

Dan pengalaman semacam ini— tak peduli berapa pun harganya, uang tak akan pernah mampu membelinya. Bukankah begitu? (jhn/yn)

Cuma Dapat 20 Yuan Semalam, Kurir Pria Menangis Tersedu-sedu di Jalan

EtIndonesia. Di tengah kelesuan ekonomi Tiongkok dan semakin sulitnya mencari pekerjaan, para pekerja seperti kurir makanan menghadapi penindasan sistemik, sehingga kehidupan mereka semakin berat. 

Baru-baru ini, seorang pria yang diduga bekerja sebagai kurir antar-makanan mendadak mengalami keruntuhan emosional saat berkendara di malam hari, berteriak dan menangis keras—pemandangan yang sungguh menyayat hati.

Dalam video terlihat:  Jalanan malam tampak sepi, hanya lampu jalan yang menemani. Lingkungan sekitar sunyi dan terasa dingin serta kesepian. Seorang pria mengenakan jaket gelap dan rompi reflektif sedang mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba ia kehilangan kendali atas emosinya, hampir terisak sambil berteriak keras ke arah kamera:

“Semalaman cuma dapat 20 yuan!
Bisa menghidupi keluarga nggak?
Bisa bayar utang nggak?
Bahkan menghidupi diri sendiri saja tidak bisa—memalukan!”

Setelah itu, ia kembali berteriak keras:

“Ah… ah… ah…”

Ucapan-ucapannya mencerminkan penghinaan terhadap diri sendiri yang mendalam serta keputusasaan terhadap kenyataan hidup. Sepanjang video tidak ada musik latar—hanya terdengar jeritan pria tersebut, suara kendaraan yang melaju, dan sesekali suara angin—menciptakan suasana yang menekan dan sangat nyata.

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Tiongkok mengalami kemerosotan tajam. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan sulit mendapatkan kerja, sehingga berbondong-bondong masuk ke sektor pengantaran makanan. Namun, mereka justru menghadapi eksploitasi modal dan berbagai kesulitan, dan harus berjuang keras hanya untuk bertahan hidup.

Adegan serupa telah berulang kali muncul di media sosial Tiongkok. Pada bulan November tahun lalu, sebuah video menunjukkan seorang kurir makanan yang tetap mengantar pesanan di tengah angin dan salju. Sambil menyeka salju es dari topinya, ia tak kuasa menahan tangis. Sepeda motor dan tubuhnya dipenuhi salju.

Bahkan dua hari lalu, sebuah video lain beredar di media sosial Tiongkok daratan yang memperlihatkan seorang kurir makanan berulang kali pingsan di pinggir jalan, namun setiap kali sadar, ia segera bangkit dan kembali mengantar pesanan.

Warganet pun menghela napas prihatin:  “Rakyat biasa di Tiongkok benar-benar hidup dengan sangat sulit. Begitu memilukan hingga membuat orang meneteskan air mata.” (Hui)

Editor: Lin Qing

Iran Kirim Sinyal Damai, Israel Membaca Tanda Bahaya: Diplomasi di Bawah Bayang-bayang Serangan

EtIndonesia. Ketegangan panjang antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase baru pada 2 Februari 2026, ketika Teheran secara terbuka mengirimkan sinyal kompromi yang jarang terjadi. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Iran menyatakan kesediaannya kembali ke meja perundingan nuklir tanpa prasyarat, bahkan membuka kemungkinan skema nol pengayaan uranium, sebuah posisi yang selama ini menjadi tuntutan utama Washington.

Iran Siap Serahkan Uranium Tingkat Tinggi

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Iran mengungkapkan bahwa Teheran tengah mempertimbangkan untuk menyerahkan sekitar 400 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan tinggi di bawah mekanisme pengawasan internasional. Langkah ini dinilai oleh para pengamat sebagai sikap paling mendekati tuntutan Amerika Serikat sejak kesepakatan nuklir lama runtuh.

Iran menyatakan bahwa langkah tersebut bertujuan membuka kembali jalur diplomasi dengan harapan sanksi internasional dapat dicabut, yang selama ini menekan ekonomi nasional dan memperburuk kondisi domestik.

Namun demikian, Teheran tetap mengajukan satu syarat penting: Amerika Serikat diminta menarik pasukan militernya yang berada di luar kawasan sekitar Iran sebelum perundingan resmi dimulai. Permintaan ini menunjukkan bahwa meskipun Iran melunak dalam isu nuklir, aspek keamanan regional tetap menjadi garis merah bagi Teheran.

Tiga Tuntutan Keras Washington

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menegaskan kembali sikap keras Washington. Dia mendesak Iran untuk segera kembali ke perundingan nuklir dengan tiga prasyarat utama:

  1. Nol pengayaan uranium,
  2. Pembatasan ketat program rudal balistik Iran,
  3. Penghentian dukungan terhadap kelompok proksi bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Sumber internal yang dikutip media internasional menyebutkan bahwa di dalam struktur kekuasaan Teheran berkembang pandangan bahwa program rudal balistik justru memiliki nilai tawar strategis lebih besar dibandingkan isu pengayaan uranium. Hal ini membuat negosiasi diperkirakan akan berlangsung alot dan sarat tarik-ulur kepentingan.

Pertemuan Rahasia Diatur di Ankara

Menurut laporan Axios, Amerika Serikat dan Iran, dengan mediasi Turki, Qatar, dan Mesir, tengah mengatur pertemuan tatap muka langsung dalam waktu dekat. Pertemuan tersebut direncanakan berlangsung di Ankara, Turki, dan diperkirakan akan mempertemukan utusan khusus Gedung Putih, Witkoff, dengan pejabat senior Iran.

Seorang pejabat yang mengetahui proses tersebut menyebutkan bahwa pembicaraan ini “sedang bergerak maju”, meskipun masih berada pada tahap awal dan penuh ketidakpastian.

Iran Akui Kehilangan Kepercayaan pada AS

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara eksklusif dengan CNN pada 2 Februari, mengonfirmasi bahwa peluang perundingan ulang masih terbuka. Dia menyatakan bahwa jika Amerika Serikat bersedia mematuhi prinsip kesepakatan nuklir yang adil, sebagaimana kerangka yang pernah diajukan Trump, maka dialog masih mungkin dilanjutkan.

Namun Araghchi juga secara terbuka mengakui bahwa Iran telah kehilangan kepercayaan terhadap Amerika Serikat, akibat pengalaman kegagalan kesepakatan sebelumnya dan perubahan kebijakan sepihak Washington.

Israel Tingkatkan Kewaspadaan Militer

Sementara jalur diplomasi kembali dibuka, Israel justru meningkatkan kewaspadaan militernya. Laporan The Times of Israel menyebutkan bahwa pimpinan militer Israel menilai kemungkinan aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran kini lebih tinggi dibandingkan sepekan sebelumnya.

Mantan Kepala Intelijen Militer Israel, Amos Yadlin, memperingatkan agar komunitas internasional tidak meremehkan sifat ideologis dan tak terduga dari rezim Iran. Dia juga menilai bahwa sinyal negosiasi yang dilepaskan Washington bisa jadi merupakan bagian dari strategi pengelabuan sebelum langkah militer diambil.

Rafah Dibuka Kembali, Gaza Masuk Tahap Awal Gencatan Senjata

Masih pada 2 Februari 2026, Israel mengambil langkah signifikan di front lain dengan membuka kembali penyeberangan Rafah—satu-satunya jalur darat yang menghubungkan Gaza dengan Mesir. Penyeberangan ini sebelumnya ditutup hampir total selama sebagian besar masa perang, memutus akses keluar-masuk bagi lebih dari dua juta penduduk Gaza.

Pembukaan Rafah disebut sebagai langkah kunci tahap awal kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Pada hari pertama, diperkirakan sekitar 50 orang akan memasuki Gaza, dengan pengamanan dan pemeriksaan ketat oleh otoritas Israel.

Dalam tahap lanjutan kesepakatan tersebut, Hamas akan diminta melucuti senjata, sementara proses rekonstruksi Gaza direncanakan berada di bawah kendali lembaga internasional yang didukung komunitas global.

Persimpangan Diplomasi dan Risiko Perang

Serangkaian perkembangan ini menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah kini berada di persimpangan kritis antara diplomasi dan konfrontasi militer. Di satu sisi, Iran mengirim sinyal kompromi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel tetap mempersiapkan berbagai skenario, termasuk opsi militer.

Apakah langkah Iran menandai awal deeskalasi nyata, atau sekadar jeda strategis sebelum krisis yang lebih besar, masih menjadi pertanyaan terbuka yang akan ditentukan dalam beberapa pekan ke depan.

Kamboja Bersihkan Kamp Scam Online, Ribuan Warga Tiongkok Ditangkap 

EtIndonesia. Pada 31 Januari, polisi Kamboja melancarkan operasi penegakan hukum berskala besar di sebuah kawasan penipuan telekomunikasi (scam online), dan menangkap lebih dari 2.000 warga negara asing, termasuk lebih dari 1.700 warga Tiongkok.

Menurut laporan Cambodia–China Times, pada pagi hari itu polisi Kamboja menggelar operasi besar-besaran di sebuah kamp penipuan online di Kota Bavet, Provinsi Svay Rieng. Dalam operasi tersebut, sekitar 2.044 orang asing yang terlibat ditangkap, termasuk 78 perempuan.

Di antara para warga asing yang ditahan terdapat:

  • 1.792 warga Tiongkok
  • 5 warga Taiwan
  • 177 warga Vietnam
  • 179 warga Myanmar
  • 30 warga Nepal
  • 1 warga Malaysia
  • 2 warga Laos
  • 36 warga India
  • 1 warga Meksiko

Operasi ini merupakan aksi pembersihan kamp penipuan terbesar yang dilakukan Kamboja dalam waktu dekat. Dilaporkan bahwa kawasan penipuan tersebut beroperasi dengan kedok kasino, memiliki 22 bangunan, dan telah lama digunakan untuk kegiatan ilegal.

Selain Provinsi Svay Rieng, beberapa wilayah lain seperti Provinsi Sihanoukville juga secara bersamaan melaksanakan operasi penindakan terhadap kamp-kamp penipuan online.

Sejak pertengahan Januari tahun ini, seiring dengan meningkatnya upaya pemerintah Kamboja dalam memberantas kejahatan penipuan online, banyak kamp penipuan dipindahkan atau dibubarkan. Akibatnya, sejumlah besar warga Tiongkok yang sebelumnya ditipu dan dipaksa bekerja di kamp-kamp tersebut berhasil melarikan diri dan mendatangi Kedutaan Besar Tiongkok di Phnom Penh untuk meminta bantuan.

Video yang beredar di internet menunjukkan banyak warga Tiongkok bertahan di luar gedung kedutaan, bahkan tidur di pinggir jalan pada malam hari, sehingga menarik perhatian media internasional. Namun, dilaporkan bahwa para warga Tiongkok yang sebelumnya menunggu di luar kedutaan tersebut kini telah dipindahkan seluruhnya.

Menurut media Kamboja, sekitar 500 warga Tiongkok yang keluar dari kamp penipuan online ditempatkan di sebuah lokasi penanganan sementara, berupa gudang besar yang telah dialihfungsikan di dekat bandara lama Phnom Penh.

Namun, banyak warganet menyatakan kekhawatiran atas keselamatan mereka, dengan komentar seperti:

“Sudah berhasil kabur dari kamp, tapi masih berani mendatangi Kedutaan Besar Tiongkok? Apakah mereka tidak tahu bahwa pemilik di balik kamp-kamp itu adalah pemerintah PKT?”

“Ditahan oleh PKT di gudang—jangan-jangan nanti malah dijual lagi ke pusat penipuan.”

Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Editor Wen Hui