Ketegangan Meningkat di Timur Tengah! Kapal Perang AS Memasuki Laut Merah Hingga Latihan Militer Iran 

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat. Pada Minggu lalu (1 Februari), sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS berlayar memasuki Laut Merah. Pada saat yang sama, Iran sejak Minggu lalu menggelar latihan militer dengan amunisi sungguhan di kawasan strategis Selat Hormuz.

Saat ini, Angkatan Laut AS menempatkan 10 kapal perang di kawasan Timur Tengah, termasuk enam kapal perusak, satu kapal induk, dan tiga kapal tempur pesisir. Pada Minggu lalu, sebuah kapal perusak yang sebelumnya bersandar di Pelabuhan Eilat, Israel, berlayar memasuki Laut Merah.

Pihak Israel menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari kerja sama militer berkelanjutan antara Amerika Serikat dan Israel.

Amerika Serikat terus memperkuat pengerahan kekuatan lautnya di Timur Tengah. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump berulang kali memperingatkan Iran bahwa jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan nuklir atau tidak menghentikan pembunuhan terhadap   para pengunjuk rasa, Amerika Serikat akan melakukan intervensi militer.

Pada Sabtu malam (31 Januari), saat dalam perjalanan menuju Florida, Trump menolak menjelaskan kepada wartawan apakah ia telah mengambil keputusan terkait Iran.para demonstran, maka Amerika Serikat akan melakukan intervensi militer.

“Artinya, tentu saja saya tidak bisa memberitahu Anda. Namun seperti yang Anda ketahui, kami memang memiliki kapal-kapal yang sangat kuat dan berskala besar yang sedang bergerak ke arah sana. Saya tidak bisa mengatakannya, Anda tahu itu. Tetapi saya berharap mereka dapat merundingkan sebuah solusi yang bisa diterima oleh kedua belah pihak,” katanya. 

Pada hari yang sama, pejabat keamanan senior Iran Ali Larijani menyatakan bahwa pihaknya sedang mendorong penyusunan kerangka perundingan dengan Amerika Serikat.

Namun hingga kini, tidak ada tanda-tanda terbuka bahwa Iran dan Amerika Serikat melakukan dialog langsung. Pemimpin Tertinggi Iran yang berusia 86 tahun, Ayatollah Ali Khamenei, juga berulang kali menutup kemungkinan tersebut.

Menghadapi mendekatnya kelompok tempur kapal induk USS Lincoln, Iran mengumumkan bahwa mulai Minggu (1 Februari), mereka menggelar latihan militer dengan peluru tajam selama dua hari di kawasan strategis Selat Hormuz.

Khamenei juga mengeluarkan peringatan keras bahwa jika Amerika Serikat melancarkan aksi militer, hal itu akan memicu “perang regional berskala penuh.”

Pada saat yang sama, Khamenei untuk pertama kalinya melabeli demonstrasi anti-pemerintah di dalam negeri sebagai “kudeta.” Langkah ini memicu kekhawatiran luas bahwa pihak berwenang akan menggunakan dalih tersebut untuk melakukan eksekusi massal terhadap puluhan ribu orang yang telah ditangkap.

Mengingat Presiden Trump sebelumnya secara tegas menyatakan bahwa “eksekusi massal” adalah garis merah yang dapat memicu aksi militer AS, langkah Iran ini dipandang sebagai uji coba berbahaya di ambang perang.

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television: Yan Feng dan Wang Yanqiao

Leverage Spekulatif Meniup Gelembung, Harga Emas–Perak Anjlok Tajam

Baru-baru ini harga emas dan perak global mengalami kejatuhan tajam secara mendadak. Harga emas turun sekitar 80 dolar AS, sementara perak anjlok sekitar 35 dolar AS, keduanya mencatat penurunan harian terbesar dalam sejarah. Banyak spekulan yang sebelumnya bertaruh bahwa harga emas dan perak akan terus melonjak langsung terkejut dan merugi besar; bahkan para analis keuangan pun tak lagi bisa “tenang”, ramai-ramai mengeluarkan analisis dan peringatan.

EtIndonesia. Sekitar pukul 03.00 dini hari waktu Beijing pada 31 Januari 2026, harga perak lebih dulu mengalami “flash crash”, jatuh lurus dari level tinggi 110 dolar AS per ons hingga menyentuh titik terendah 75,38 dolar AS, dengan penurunan mencapai 34,67%. 

Tak lama kemudian, emas yang dijuluki “raja aset lindung nilai” ikut runtuh. Harga emas merosot dari kisaran 5.500 dolar AS per ons hingga kembali ke 4.709 dolar AS, turun lebih dari 12%. Penurunan harian emas dan perak sama-sama mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah.

Badai ini datang begitu tiba-tiba tanpa tanda-tanda sebelumnya. Bahkan ada investor Tiongkok yang baru saja memamerkan di media sosial, “harga perak tembus 100, untung lagi”, namun hanya beberapa jam kemudian langsung kena margin call dan bangkrut, bukan hanya kehilangan seluruh modal, tetapi juga terlilit utang besar akibat penggunaan leverage.

Kalangan industri keuangan secara umum menilai bahwa pencalonan Kevin Warsh—mantan gubernur Federal Reserve—oleh Presiden AS Donald Trump sebagai Ketua The Fed berikutnya, menjadi pemicu langsung kejatuhan harga emas dan perak kali ini.

Kevin Warsh dikenal luas di dunia keuangan sebagai tokoh “hawkish”, yang kerap secara terbuka mengkritik kebijakan pelonggaran moneter berlebihan The Fed. Karena itu, pencalonannya sebagai Ketua The Fed merupakan pukulan telak bagi ekspektasi pasar sebelumnya yang memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga dan membiarkan dolar AS terus melemah.

Akibatnya, setelah kabar pencalonan Kevin Warsh diumumkan, indeks dolar AS langsung menguat tajam di pasar Eropa dan Amerika, sementara harga emas dan perak—yang dihitung dalam dolar AS—langsung mengalami kejatuhan seperti longsoran salju.

Selain itu, konsensus lain di kalangan pelaku pasar menyebutkan bahwa sentimen spekulatif di pasar logam mulia sepanjang Januari tahun ini sangat berlebihan. Aktivitas spekulasi dengan leverage telah mendorong harga emas dan perak jauh menyimpang dari fundamentalnya, sehingga ketika koreksi terjadi, dampaknya menjadi sangat brutal.

Akun media keuangan Tiongkok “Jinshi Xianweijing” (Mikroskop Pasar Emas) pada 31 Januari menulis komentar bahwa kejatuhan harga emas dan perak kali ini bukan sekadar penyesuaian ekspektasi, melainkan keruntuhan total strategi perdagangan yang dibangun di atas dua logika inti: “kebijakan moneter longgar” dan “pelemahan dolar AS”. 

Setelah perubahan ekspektasi kebijakan memicu sumbu ledakan, tumpukan leverage yang menggunung dan likuiditas pasar yang sangat rapuh membuat ledakan ini menjadi sangat menghancurkan.

Artikel tersebut menganalisis bahwa sebelum kejatuhan, pasar logam mulia telah memasuki fase spekulasi yang sangat ekstrem. Sejumlah besar investor ritel dan institusi berbondong-bondong masuk ke pasar melalui kontrak berjangka, opsi, dan berbagai produk derivatif dengan leverage tinggi. Akibatnya, indeks kekuatan relatif (RSI) emas dan perak sempat menembus level 90, yang merupakan sinyal “overbought ekstrem tingkat buku teks.”

Menjelang kejatuhan harga, Bursa Perdagangan Chicago (CME) menaikkan persyaratan margin untuk kontrak berjangka perak, yang menjadi jerami terakhir bagi banyak trader berleverage tinggi. 

Ditambah lagi, peristiwa ini terjadi tepat pada waktu pasar London sudah tutup dan pasar Asia baru mulai aktif, yaitu periode dengan likuiditas paling tipis. Setelah level harga kunci ditembus, sistem perdagangan algoritmik otomatis memicu gelombang besar perintah jual, melipatgandakan besarnya penurunan dalam waktu singkat dan membentuk “spiral kematian” klasik di pasar.

Artikel tersebut juga menegaskan bahwa logika jangka panjang yang mendorong kenaikan emas dan perak—seperti pembelian emas oleh bank sentral berbagai negara serta risiko geopolitik—sebenarnya belum berubah. Namun, ketika media sosial dipenuhi narasi fanatik seperti “menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah” dan investor ritel beramai-ramai “naik kereta”, pasar sejatinya sudah sarat dengan gelembung spekulatif yang ditiup oleh leverage dan algoritma.

Di bagian akhir, artikel itu mempertanyakan: ketika atribut finansial emas dan perak dipermainkan dan dieksploitasi oleh modal hingga sedemikian ekstrem, seberapa jauh nilai asli mereka sebagai “aset nilai lindung” masih mampu menopang harga? Saat ekspektasi likuiditas kembali berbalik dan arus modal besar datang lagi, apakah yang dilihat orang awam adalah peluang—atau jebakan lain yang telah dirancang dengan cermat?

Laporan komprehensif oleh reporter He Yating / Editor PLin Qing 

Konvoi Tank, Rudal, dan Pasukan Bersenjata Menutup Jalan: Tiongkok Menuju Krisis Kekuasaan Terbesar?

EtIndonesia. Sembilan hari telah berlalu sejak otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengumumkan kasus yang menimpa Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC). Namun alih-alih mereda, situasi justru berkembang ke arah yang semakin tidak biasa.

Dalam kurun waktu sembilan hari terakhir, ruang publik Tiongkok—baik di media sosial domestik maupun platform luar negeri—dibanjiri berbagai rumor, spekulasi, dan analisis. Di antara semua itu, terdapat satu fenomena yang hampir disepakati oleh banyak pengamat: pergerakan pasukan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) secara serempak dan berskala besar di berbagai wilayah Tiongkok.

Pergerakan Militer Terekam di Banyak Provinsi

Berdasarkan puluhan video dan rekaman lapangan yang beredar luas di internet sejak akhir Januari hingga awal Februari 2026, terlihat aktivitas militer yang tidak lazim di sejumlah provinsi dan kota besar.

Di wilayah Yixing (Provinsi Jiangsu), Xuzhou, dan Taizhou, terekam iring-iringan kendaraan yang diduga kuat merupakan peluncur rudal, tank, serta kendaraan lapis baja, bergerak melalui jalan tol utama dengan arah dominan menuju utara.

Sementara itu, di wilayah selatan dan timur Tiongkok—termasuk Guangdong, Fujian, Anhui, Shandong, Mongolia Dalam, Tianjin, serta kawasan Changping, Beijing—terlihat aktivitas intensif kendaraan militer yang ditutup terpal kamuflase, kendaraan pengangkut pasukan, kendaraan teknik militer, hingga helikopter tempur yang terbang rendah.

Beberapa rekaman bahkan menunjukkan tentara bersenjata lengkap turun langsung ke jalan, disertai pengumpulan pasukan sementara pada malam hari serta penutupan ruas-ruas jalan tertentu—langkah yang umumnya hanya dilakukan dalam kondisi keamanan tingkat tinggi.

Konvoi Besar di Guangxi Dini Hari 2 Februari

Pada dini hari 2 Februari 2026, sebuah video yang direkam oleh warganet di Pingnan, Guangxi memperlihatkan iring-iringan panjang truk militer melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya, menambah kekhawatiran publik akan adanya operasi berskala nasional.

Data terbuka menunjukkan bahwa Guangxi merupakan basis utama Angkatan Darat Grup ke-74 dan ke-75, yang berada di bawah Komando Wilayah Selatan PLA—salah satu komando paling strategis dalam struktur militer Tiongkok.

Pertanyaan Kritis: Siapa yang Memberi Perintah?

Rangkaian mobilisasi lintas wilayah ini memunculkan pertanyaan mendasar di kalangan analis militer dan politik:

Bagaimana mungkin mobilisasi militer berskala besar dapat terjadi, sementara hingga kini tidak ada satu pun komando wilayah atau matra militer yang secara terbuka menyatakan dukungan kepada Xi Jinping?

Pertanyaan ini semakin tajam mengingat Xi Jinping secara formal masih menjabat sebagai Ketua CMC. Namun, absennya pernyataan loyalitas terbuka dari struktur militer justru menimbulkan dugaan bahwa kendali nyata atas PLA sedang berada dalam kondisi tidak normal.

Analisis Mantan Perwira AL: Xi Tak Lagi Mengendalikan Militer

Pada 2 Februari 2026, Yao Cheng, mantan perwira Angkatan Laut PKT berpangkat Letnan Kolonel, mengunggah sebuah video analisis yang segera menarik perhatian luas.

Dalam pemaparannya, Yao Cheng menegaskan bahwa:

  • Mobilisasi pasukan secara serempak di berbagai wilayah tidak mungkin terjadi tanpa koordinasi tingkat tinggi,
  • dan hampir mustahil merupakan perintah langsung Xi Jinping.

Menurut Yao, selama bertahun-tahun Xi Jinping melakukan pembersihan internal besar-besaran di tubuh militer, yang justru memicu kejenuhan dan perlawanan diam-diam di kalangan perwira. Akibatnya, Xi dinilai telah kehilangan kemampuan efektif untuk mengendalikan militer.

Dugaan Rencana Darurat Zhang Youxia

Lebih jauh, Yao Cheng memperkirakan bahwa Zhang Youxia sebenarnya telah lama mengetahui rencana Xi untuk menyingkirkannya. Oleh karena itu, dia menduga bahwa rangkaian pergerakan lintas komando ini merupakan rencana darurat (contingency plan) yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh Zhang dan jaringan pendukungnya di dalam militer.

Menurut Yao, saat ini wilayah sekitar Beijing pada dasarnya telah berada dalam kondisi pengepungan militer, dengan rincian sebagai berikut:

  • Angkatan Darat Grup ke-79 dari Komando Wilayah Utara telah bergerak ke arah selatan,
  • Angkatan Darat Grup ke-80 dari Shandong juga telah dikerahkan,
  • Dari Komando Wilayah Tengah, Grup ke-81, ke-82, dan ke-83 dilaporkan telah melakukan pergerakan.

“Semua Jalur Mundur Ditutup”

Dalam kesimpulannya, Yao Cheng menyatakan bahwa: “Seluruh jalur mundur Xi Jinping pada dasarnya telah ditutup. Militer tidak akan membiarkannya melarikan diri.”

Dia bahkan membandingkan situasi ini dengan strategi pengepungan total yang biasa digunakan PLA dalam rencana operasi militer terhadap Taiwan, di mana seluruh jalur darat, udara, dan logistik dikunci secara simultan.

Situasi Masih Berkembang

Hingga 2 Februari 2026, belum ada pernyataan resmi tambahan dari pemerintah Tiongkok maupun Komisi Militer Pusat yang menjelaskan secara terbuka tujuan mobilisasi lintas wilayah tersebut. Namun, skala dan sinkronisasi pergerakan militer ini membuat banyak pengamat menilai bahwa Tiongkok tengah berada pada salah satu momen paling sensitif dalam sejarah politik-militernya dalam satu dekade terakhir.

Perkembangan selanjutnya diperkirakan akan menjadi penentu arah kekuasaan di Beijing—dan berpotensi berdampak jauh melampaui batas Tiongkok sendiri.

Kesaksian Lansia Ungkap Neraka Kelaparan Tahun 1959–1961  “Lompatan Jauh ke Depan” Partai Komunis Tiongkok : Kanibalisme Hingga Menumis Kotoran Angsa

Kelaparan besar selama tiga tahun yang disebabkan oleh penerapan “Lompatan Jauh ke Depan” Partai Komunis Tiongkok (PKT) menyebabkan puluhan juta rakyat tewas akibat kelaparan. Banyak lansia yang pernah mengalaminya mengenang kembali tragedi mengerikan saat itu—kisah-kisah yang membuat orang bergidik ngeri.

EtIndonesia. Berapa sebenarnya jumlah korban tewas akibat Kelaparan Besar tahun 1959–1961 hingga kini masih menjadi misteri. Banyak sejarawan memperkirakan jumlahnya melampaui puluhan juta orang. Untuk menutupi kebenaran, PKT menyebutnya sebagai “tiga tahun bencana alam”, padahal pada periode tersebut tidak terjadi bencana alam besar.

Saat itu, pemimpin PKT Mao Zedong melancarkan kebijakan “Lompatan Jauh ke Depan”. Program “peleburan baja besar-besaran” yang berlangsung bertahun-tahun, serta kebijakan “peningkatan produksi pertanian” yang bertentangan dengan hukum alam, menyebabkan produksi pangan anjlok. 

Di saat yang sama, propaganda bohong seperti “hasil panen 30.000 jin per mu” menciptakan target penyerahan hasil panen yang sangat tinggi. Demi memenuhi kewajiban setor pangan, pemerintah daerah secara besar-besaran merampas jatah makanan petani, yang akhirnya memicu kematian massal akibat kelaparan. (1 mu = kira-kira seperenam lapangan bulu tangkis (lahan kecil) – 30.000 jin = sekitar 15 ton hasil panen, 1 mu ≈ 666,7 meter persegi) 

Dalam beberapa tahun terakhir, beredar di internet banyak video yang direkam oleh blogger daratan Tiongkok, berisi kesaksian para lansia tentang penderitaan mereka selama Kelaparan Besar, yang mengejutkan banyak warganet.

Sepasang lansia mengenang bahwa warga desa yang kelaparan terpaksa memakan kulit pohon murbei, daun elm, berbagai jenis rumput liar, bahkan memungut kotoran angsa liar, membawanya pulang lalu menumisnya di wajan untuk dimakan.

Mereka mengatakan bahwa praktik kanibalisme saat itu sangat umum. Hingga kini masih ada lansia yang pernah memakan daging mayat dan tetap hidup. Sang kakek menceritakan satu kisah yang sangat tragis: seorang anak meninggal karena kelaparan, dan demi bertahan hidup, keluarganya memakan jasad anak mereka sendiri.

Sang nenek berkata bahwa ia bahkan tidak tahu seperti apa wajah orang tuanya. Ketika ia masih sangat kecil, orang tuanya suatu hari pergi bekerja, pingsan karena kelaparan, dan tidak pernah bangun lagi. Ia dibesarkan oleh neneknya. Ia memiliki empat bersaudara, dua diantaranya meninggal karena kelaparan. Setelah dewasa, ia tidak berani pulang ke kampung halaman; setiap kali pulang, ia teringat keluarga yang telah meninggal dan menangis tanpa henti.

Seorang lansia lain yang kini berusia lebih dari 80 tahun menceritakan bahwa pada tahun 1959, praktik kanibalisme sudah mulai muncul di daerahnya. Saat itu ia sedang bersekolah di luar daerah. Para guru mengurung murid-murid di sekolah dan melarang mereka pulang selama dua bulan, karena khawatir jika mereka keluar, mereka akan dibunuh dan dimakan oleh massa yang kelaparan.

Seorang warganet meninggalkan komentar di bawah video tersebut, mengatakan bahwa menurut cerita para lansia di kampung halamannya, ada tukang jagal yang mengolah daging mayat menjadi bakso dan menjualnya di pasar besar. Semua orang tahu, tetapi berpura-pura tidak tahu, membeli dan membawanya pulang untuk dimakan. Ada juga yang mengatakan bahwa di kampung halamannya, seorang nenek memakan cucu perempuannya sendiri.

Seorang lansia lainnya menceritakan bahwa pada awalnya setiap orang masih mendapat jatah beberapa liang makanan per hari, namun jatah itu terus berkurang, hingga akhirnya tidak ada sama sekali. Banyak orang mati kelaparan. Jika seorang warga meninggal, beberapa anggota keluarga yang sudah lemah dan bertopang tongkat berjalan tertatih-tatih ke pemakaman untuk menggali kubur. Karena sudah tidak bertenaga, menggali satu liang kubur dangkal bisa memakan waktu dua hari. Ada yang hari ini baru selesai menggali kubur untuk orang lain, keesokan harinya ia sendiri mati kelaparan dan orang lain kembali menggali kubur untuknya.

Ada pula yang meninggalkan desa untuk mengunjungi atau bergabung dengan kerabat, namun mati kelaparan di tengah jalan. Jika jasadnya ditemukan keluarga, mereka akan menyeretnya pulang. Jenazah yang tidak ada yang mengurus akan didorong ke parit pinggir jalan oleh warga yang tidak mengenalnya, lalu ditimbun dengan beberapa sekop tanah—selesai.

Ia mengatakan bahwa saat itu tidak ada pernikahan, pemakaman, atau perayaan apa pun. Tidak ada yang melahirkan anak, dan saat Tahun Baru pun tidak ada yang saling mengunjungi. Semua orang hanya memiliki satu tujuan: berjuang mati-matian untuk tetap hidup.

Seorang lansia dari Henan mengenang bahwa pada masa itu, bahan pangan sangat langka. Di seluruh Kota Shangqiu tidak bisa ditemukan satu pun roti kukus dari tepung putih. Orang-orang hanya bisa memakan sayuran liar. Kedua orang tuanya meninggal karena kelaparan.

Lansia Henan lainnya menceritakan bahwa warga desa memakan sayuran liar, kulit pohon elm, bahkan daun pohon poplar pun dimakan hingga habis. Dalam keadaan kelaparan, mereka tetap dipaksa bekerja. Di desanya, tujuh orang mati kelaparan, termasuk seorang pemuda berusia 20 tahun yang menjelang ajalnya masih memohon makanan kepada ibunya.

Seorang nenek yang saat Kelaparan Besar melarikan diri dari Anhui ke Shaanxi mengenang bahwa banyak orang mati kelaparan, hingga akhirnya hanya tersisa beberapa orang yang hidup. Suaminya dan satu anaknya juga meninggal karena kelaparan. Setelah melarikan diri ke Shaanxi, ia menikah lagi dengan penduduk setempat dan selamat dari bencana tersebut.

Ada pula seorang lansia yang menjelaskan mengapa saat itu orang tidak menangkap ikan atau memakan hewan kecil. Ia berkata:  “Orang sudah terlalu lapar sampai tidak bisa berjalan. Bagaimana mungkin masih sanggup menangkap hewan kecil?” (Hui)

Analisis : Siapa yang Semakin Dekat dengan Xi Jinping, Semakin Berbahaya

EtIndonesia. Pekan lalu, Jenderal Zhang Youxia—perwira aktif berpangkat tertinggi di militer Partai Komunis Tiongkok (PKT)—tiba-tiba disingkirkan. Ini bukan sekadar satu lagi berita tentang pejabat tinggi yang tumbang, melainkan kembali mengingatkan dunia: dalam kediktatoran komunis, yang paling ditakuti bukanlah musuh, melainkan orang sendiri yang tidak cukup patuh.

Dalam sistem komunis, tentara bukanlah milik negara, melainkan milik partai—lebih tepatnya, milik pemimpin tertinggi. Untuk mempertahankan “takhta”, hanya ada satu hukum besi: kendali militer harus berada di tangan sendiri, dan harus digenggam sekuat mungkin hingga “buku-buku jari memutih”.

Masalahnya, para diktator paling gemar menuntut “kesetiaan mutlak”, tetapi kesetiaan mutlak justru mustahil diverifikasi secara mutlak. Hari ini seseorang tampak setia—besok apakah ia akan berbalik? 

Sekarang ia meneriakkan slogan—siapa tahu di balik layar ia sedang merencanakan sesuatu? Akibatnya, pencarian kesetiaan mutlak tidak membawa ketenangan, melainkan ketakutan yang semakin dalam dan kecurigaan yang semakin parah, yang pada akhirnya bermuara pada gelombang demi gelombang pembersihan politik.

Ini bukan gangguan psikologis pribadi Xi Jinping. Ini adalah logika struktural dari kekuasaan komunis. Dari Stalin hingga Mao Zedong, dari Kim Jong-un hingga Xi Jinping—semakin terkonsentrasi kekuasaan, semakin semua orang dituntut untuk berlutut lebih rendah. Dan semakin keras tuntutan itu, semakin mudah pula orang dicurigai “berlutut tidak cukup tulus”.

Inti dari rezim komunis adalah seorang pemimpin tertinggi yang memonopoli seluruh kekuasaan—partai, negara, militer, kepolisian—semuanya harus tunduk pada satu orang. Namun yang ironis, sekejam apa pun ia, tetap harus mengandalkan para pejabat tinggi untuk mengeksekusi perintah. Dan orang-orang inilah yang memegang senjata, pasukan, intelijen, serta kendali atas mesin militer.

Di sinilah kontradiksi muncul:  Orang yang paling dekat dengan kekuasaan adalah yang paling berguna, sekaligus paling berbahaya.

Artinya, semakin cakap seseorang, semakin besar peluangnya dianggap sebagai ancaman; semakin tinggi wibawanya, semakin mudah ia dipandang sebagai calon penantang yang bisa “mendirikan tungku sendiri”.

Karena itu, seorang diktator pada akhirnya pasti terjerumus ke dalam paranoia yang tak terhindarkan—selalu merasa ada orang yang merencanakan pembunuhan, bermain dua muka, atau menjalin hubungan dengan kekuatan asing. Maka “kekuatan asing” menjadi alat yang paling ampuh: begitu seseorang dicap berkhianat dan bersekongkol dengan musuh luar, pertarungan kekuasaan yang paling kejam pun bisa dibungkus sebagai tindakan paling patriotik.

Skenario ini sudah lama dimainkan Stalin. Pada 1937, Marsekal Tukhachevsky—jenderal terbaik Tentara Merah Soviet—dituduh bersekongkol dengan Nazi Jerman dan merencanakan penggulingan Stalin. Tuduhan itu palsu, tetapi itu tidak penting. Yang penting adalah: ia terlalu cakap, terlalu berwibawa, dan terlalu dekat dengan pusat kekuasaan. Selama ia hidup, Stalin tidak bisa tidur nyenyak.

Pada masa Pembersihan Besar, Stalin sangat gemar menangkap “kelompok Trotskyis”, karena mereka memiliki koneksi internasional dan hubungan luar negeri—mudah dicap sebagai agen asing. Dari lima marsekal Uni Soviet, tiga dibunuh. Dua sisanya selamat karena alasan yang sangat realistis: kemampuan militer mereka rendah dan tidak menimbulkan ancaman politik. Dengan kata lain, tidak cukup kuat justru lebih aman.

Tiongkok tentu tidak menjadi pengecualian. Sejak 1949, pembersihan di tubuh militer PKT terjadi berulang kali, dengan ketakutan yang sama: apakah orang yang memegang senjata suatu hari akan mengarahkan moncongnya kepada pemimpin?

Pada era Mao Zedong, yang dihancurkan sering kali bukan orang bodoh atau tidak kompeten, melainkan mereka yang “tidak cukup berlutut”. Peng Dehuai hanya karena mengikuti Khrushchev mengkritik Lompatan Jauh ke Depan dan komune rakyat, langsung dicap anti-partai dan karier politiknya tamat seketika. Bahkan Lin Biao—pewaris kekuasaan yang ditunjuk Mao sendiri—akhirnya dituduh merencanakan kudeta dan tewas dalam kecelakaan pesawat misterius saat terbang menuju Moskow.

Ketakutan Mao bukan tanpa sebab. Setelah “Insiden Malinovsky” pada 1964, Mao sepenuhnya yakin bahwa kudeta militer yang didukung kekuatan asing bukanlah fiksi, melainkan kenyataan.

Pada Oktober tahun itu, Partai Komunis Soviet menggulingkan Khrushchev melalui kudeta tanpa pertumpahan darah. Beberapa minggu kemudian, Zhou Enlai dan He Long mengunjungi Moskow untuk menjajaki kemungkinan rekonsiliasi pasca-Khrushchev. 

Menteri Pertahanan Soviet Malinovsky—yang pernah memimpin pasukan Soviet merebut Tiongkok Timur Laut dan mengenal baik Lin Biao serta PKT—secara terang-terangan mengatakan kepada He Long bahwa hubungan Tiongkok–Soviet telah dirusak oleh Khrushchev dan Mao Zedong. “Kami orang Soviet sudah menyingkirkan Khrushchev. Kalian orang Tiongkok seharusnya juga menyingkirkan Mao Zedong.”

Ketika Mao mendengar ini, ia murka dan panik. Kalimat tersebut menancap seperti duri yang tak pernah bisa dicabut dari benaknya, menjadi halaman penting dalam sejarah PKT, dan memicu konsekuensi politik yang besar dan bencana.

Lebih ironis lagi, paranoia Mao akhirnya menghancurkan bahkan orang paling setia dalam sistem. Liu Shaoqi—seorang aparat yang sangat loyal—tidak bisa diselamatkan. Mao mencapnya sebagai “pengkhianat, mata-mata, dan perusak buruh”, menyebutnya Khrushchev yang bersembunyi di sisinya sendiri. 

Liu akhirnya disiksa hingga mati pada masa Revolusi Kebudayaan. Di sinilah kekejaman rezim komunis mencapai puncaknya: semakin dekat dengan inti kekuasaan, semakin cepat mati.

Setelah Mao meninggal dunia, logika ini tidak berhenti—bahkan terus dipertajam. Zhao Ziyang bukan seorang perwira militer, tetapi bernasib sama. Ia mengatakan kebenaran kepada Gorbachev: Tiongkok bukan sistem kepemimpinan kolektif; meski berbicara soal “penghapusan jabatan seumur hidup” dan “peremajaan kader”, Deng Xiaoping-lah penguasa tertinggi yang memerintah dari balik layar. Ditambah lagi, saat peristiwa 4 Juni, Zhao sebagai Wakil Ketua Komisi Militer Pusat menolak memberi perintah pembantaian. “Tidak cukup kejam” dan “terlalu jujur” langsung menjatuhkan vonis mati politik baginya.

Di bawah Xi Jinping, pembersihan di militer bukan saja tidak berhenti, tetapi semakin ganas. Sejak berkuasa pada 2012, lebih dari seratus perwira tinggi PLA telah disingkirkan—skala terbesar sejak Revolusi Kebudayaan. Secara formal disebut “anti-korupsi”, tetapi sejatinya lebih menyerupai operasi pembersihan ranjau politik: siapa yang semakin dekat dengan Xi Jinping, semakin berbahaya.

Di Tiongkok, kursi Wakil Ketua Komisi Militer Pusat mungkin adalah salah satu kursi paling berbahaya. Karena memegang kekuasaan nyata dan berada paling dekat dengan pemimpin tertinggi, setiap hari harus “bernapas di samping paranoia” sang pemimpin. Sejak 1949, sembilan Wakil Ketua KMP telah dibersihkan, sebagian besar dituduh berkhianat dan bersekongkol dengan musuh.

Pada masa Xi, Guo Boxiong dan Xu Caihou—yang baru pensiun—lebih dulu tumbang. Pada 2023, terjadi pembersihan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya: dari komandan Pasukan Roket, pejabat pengadaan persenjataan, hingga komandan wilayah militer. Bahkan orang-orang yang dipromosikan sendiri oleh Xi ikut disingkirkan.

Pada 2025, He Weidong dan Miao Hua juga dibersihkan. Kini giliran Zhang Youxia—sekutu lama Xi dan sesama “pangeran merah”. Ini semakin mencolok, karena ketika bahkan kelompok loyalis pun disingkirkan, itu menunjukkan satu hal: Xi Jinping tidak lagi mencari “orang jahat”, melainkan mencari orang yang membuatnya merasa tidak aman.

Yang patut dicermati, kali ini tuduhan tampaknya meningkat ke level paling tua dan paling mematikan dalam rezim komunis: berkhianat dan bersekongkol dengan musuh asing. Ada kabar yang sengaja dibocorkan bahwa Zhang mungkin dituduh membocorkan rahasia nuklir kepada Amerika Serikat. Tuduhan semacam ini sangat efektif secara politik: dengan dalih “menjaga keamanan negara”, perebutan kekuasaan paling telanjang dapat dikemas sebagai tindakan paling suci dan benar.

Inilah logika akhir pembersihan komunis: semakin tinggi posisi Anda, semakin besar kemungkinan Anda dicap sebagai pengkhianat. Dalam sistem seperti ini, bertahan hidup tidak ditentukan oleh kemampuan, integritas, atau jasa—melainkan satu hal saja: apakah Anda bisa terus menghindari ketakutan pemimpin tertinggi dan tidak menarik perhatiannya.

Karena di mata seorang diktator, ancaman terbesar bukanlah asing. Ancaman terbesar adalah orang yang paling dekat dengannya dan paling paham cara menarik pelatuk.

Pada akhirnya, pembersihan militer PKT tidak pernah benar-benar tentang “anti-korupsi”, melainkan naluri bertahan hidup sebuah rezim. Seorang diktator tidak sedang mengelola negara, melainkan mengelola ketakutan; bukan membangun militer kuat, melainkan memastikan moncong senjata tidak pernah diarahkan kepadanya. Nicolae Ceaușescu di Rumania gagal memahami hal ini—dan ia membayar mahal.

Inilah absurditas terbesar sistem komunis: ia selalu mengklaim paling stabil, paling bersatu, paling disiplin, tetapi hidup selamanya dalam ilusi bahwa “seseorang sedang merencanakan pembunuhan terhadapku”. Semakin dekat ke pusat, semakin berbahaya; semakin cakap, semakin mungkin disingkirkan; semakin loyal, semakin dicurigai.

Dalam logika politik seperti ini, Zhang Youxia bukan yang terakhir. Yang berikutnya tidak akan mengejutkan.

Karena dalam kediktatoran komunis, dosa terbesar bukanlah korupsi atau ketidakmampuan—
melainkan membuat pemimpin tertinggi tidak bisa tidur nyenyak.

(Dialihbahasakan dari unggahan Miles Maochun Yu atau Yu Maochun (mantan penasihat kebijakan Tiongkok untuk Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo)  di X / Editor penanggung jawab: Wen Bin)

PBB di Ambang Bangkrut : Dana Operasional Diperkirakan Habis Sebelum Juli Mendatang

EtIndonesia. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres menyatakan bahwa akibat tunggakan iuran dari negara-negara anggota, PBB kini menghadapi risiko serius kebangkrutan keuangan. Bahkan, dana operasionalnya kemungkinan akan habis sebelum Juli mendatang.

Dalam surat yang dikirim pada 28 Januari 2026 kepada 193 negara anggota, Guterres menegaskan bahwa seluruh negara harus memenuhi kewajiban pembayaran iuran wajib. Jika tidak, maka PBB harus melakukan peninjauan menyeluruh dan reformasi terhadap aturan keuangannya guna menghindari keruntuhan organisasi.

Peringatan ini disampaikan di tengah langkah Amerika Serikat—kontributor terbesar PBB—yang menarik diri dari puluhan badan PBB yang dinilai “tidak sejalan dengan kepentingan AS”, serta menolak menyalurkan dana untuk anggaran rutin dan anggaran misi penjaga perdamaian PBB.

Selain Amerika Serikat, sejumlah negara anggota lainnya juga telah lama menunggak atau menolak membayar iuran mereka.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, baru-baru ini memperingatkan bahwa PBB tengah menghadapi risiko “keruntuhan keuangan yang sudah di ambang pintu”, karena banyak negara anggota belum membayar iuran wajib mereka. Dana PBB diperkirakan bisa habis sebelum Juli tahun ini. (Foto arsip António Guterres / Wang Lili – Pool/Getty Images)

Guterres menyatakan dalam suratnya bahwa meskipun PBB pernah mengalami krisis keuangan sebelumnya, situasi saat ini “berbeda secara fundamental dari sebelumnya.”

Ia menulis: “Keputusan untuk menolak kewajiban membayar iuran yang menjadi sumber utama anggaran rutin yang telah disetujui kini telah diumumkan secara resmi.” Namun, ia tidak menyebutkan negara tertentu.

Guterres menegaskan bahwa “integritas” seluruh sistem PBB bergantung pada kepatuhan negara-negara anggota terhadap kewajiban yang tercantum dalam Piagam PBB, yaitu membayar iuran yang telah ditetapkan secara penuh dan tepat waktu.

Ia menambahkan bahwa pada tahun 2025, PBB hanya menerima 77% dari total iuran yang seharusnya dibayarkan, sehingga menciptakan jumlah tunggakan tertinggi dalam sejarah. Selain itu, terdapat aturan yang mengharuskan PBB mengembalikan dana yang tidak digunakan apabila suatu program anggaran tidak dapat dijalankan. Hal ini menyebabkan “pukulan ganda”, di mana PBB “diminta mengembalikan uang tunai yang sebenarnya tidak pernah ada.”

Untuk mengatasi krisis ini, Guterres tahun lalu membentuk satuan tugas reformasi khusus bernama “UN80”, yang bertujuan menekan biaya dan meningkatkan efisiensi. Anggaran rutin PBB tahun 2026 yang baru disetujui berjumlah 3,45 miliar dolar AS, mengalami pemangkasan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya—termasuk pengurangan sumber daya keuangan sebesar 15% dan pengurangan jumlah staf hampir 19%.

Di markas besar PBB di Jenewa, tanda-tanda kesulitan keuangan terlihat di mana-mana. Demi menghemat biaya, eskalator sering dimatikan dan pemanas ruangan diturunkan.

Dalam penutup suratnya, Guterres menyimpulkan: “Kesimpulannya sangat jelas. Entah semua negara anggota memenuhi kewajiban pembayaran secara penuh dan tepat waktu, atau negara-negara anggota harus secara mendasar mereformasi aturan keuangan kita untuk mencegah keruntuhan keuangan yang sudah di depan mata.”

Didirikan pada tahun 1945, Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations/UN) saat ini memiliki 193 negara anggota, dengan tujuan menjaga perdamaian dan keamanan internasional serta memajukan hak asasi manusia, pembangunan, dan kerja sama kemanusiaan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengkritik PBB sebagai organisasi yang “memiliki potensi besar namun kinerjanya mengecewakan”. Pemerintahannya telah memangkas sumbangan sukarela ke berbagai badan PBB, serta menolak membayar sebagian anggaran wajib dan biaya penjaga perdamaian. (Hui)

Gadis 7 Tahun di Tiongkok Merawat Ayahnya Sendirian yang Berjuang Melawan Penyakit Jantung, Menginspirasi Donasi Online

EtIndonesia. Seorang gadis berusia tujuh tahun di timur laut Tiongkok yang sendirian merawat ayahnya yang sakit di rumah sakit telah menyentuh hati jutaan pengguna internet.

San Mengru menarik perhatian besar secara online setelah seorang pria, bernama Pei, yang merawat ayahnya sendiri di ranjang sebelah ayah gadis itu, merilis video tentangnya pada 18 Januari, seperti yang dilaporkan oleh media lokal Kanqi News.

Ayah gadis itu, yang berusia 40-an, dirawat di Rumah Sakit Rakyat No. 1 Qiqihaer di Provinsi Heilongjiang karena penyakit jantung.

San mengatakan kepada Pei bahwa orangtuanya bercerai dan neneknya berusia lebih dari 70 tahun dan tidak dapat datang ke rumah sakit setiap hari.

Kerabat gadis kecil lainnya adalah pekerja migran di kota-kota lain.

Menurut Pei, San membantu membuat janji temu, mencari dokter atau perawat jika diperlukan, mengambil hasil tes, dan membeli makanan.

“Saya telah menyaksikan dia melakukan semua ini. Saya merasa sedih untuknya,” kata Pei dalam klip tersebut.

Pada suatu saat, ayah Pei perlu dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar di Harbin, juga di Heilongjiang, dan sebelum berangkat, dia mengirimkan uang kepada San melalui aplikasi media sosial dan memberinya beberapa buah dan susu.

“Saya memiliki banyak masalah dalam hidup saya sendiri, tetapi saya tidak tahan melihat orang lain menderita,” kata Pei, yang menambahkan bahwa dia berharap video tersebut akan mendorong orang untuk membantu keluarga San.

Rekaman tersebut telah dilihat 12 juta kali di beberapa platform media sosial, dengan banyak pengguna internet memberikan donasi dan mengirimkan kebutuhan sehari-hari kepada anak tersebut.

Rumah sakit di Qiqihaer juga telah mengurangi tagihan medis ayah San setelah mempertimbangkan situasi keuangan San yang buruk.

Ayah gadis kecil itu telah diperbolehkan pulang.

Dia mengatakan bahwa dia mampu mengurus dirinya sendiri tetapi kadang-kadang membutuhkan seseorang untuk menjalankan tugas-tugas kecil.

“Saya mengizinkan putri saya tinggal bersama saya di rumah sakit karena dia sedang liburan musim dingin dan tidak ada yang merawatnya di rumah,” katanya kepada media.

Kondisi ayah Pei juga telah membaik.

Kisah San menarik respons besar secara online.

“Dia mengenakan pakaian yang sangat tipis. Saya ingin menyumbangkan jaket bulu untuknya,” kata seorang pengamat online.

“Anak-anak dari keluarga miskin memahami kehidupan sejak dini. Anak-anak lain seusianya dimanjakan oleh orangtua mereka, tetapi dia harus menjadi pilar keluarganya. Saya merasa kasihan pada gadis yang bijaksana ini,” kata orang lain. (yn)

Setiap Potongan Itu Penting

EtIndonesia. Dulu, saya sering ditanya:  “Cinta, karier, keluarga, dan sahabat—bagaimana urutan prioritasmu? Mana yang paling penting?”

Setiap kali mendengar pertanyaan seperti itu, saya akan berpikir sangat serius. Apa yang seharusnya saya tempatkan di posisi pertama?

Namun sekarang, ketika mendengar pertanyaan semacam ini lagi, saya justru merasa… tidak ada gunanya.

Sebenarnya, tidak perlu menyusun urutan mana yang lebih dulu dan mana yang belakangan.

Ada orang yang menempatkan cinta di urutan pertama. Ketika dia kehilangan cinta, barulah dia sadar: ternyata cinta tidak sepenting yang dia bayangkan— karierlah yang terasa lebih penting.

Ada pula yang menaruh karier di posisi teratas dan menempatkan keluarga di urutan paling akhir. Namun saat dia berada di puncak kesuksesan, justru rasa kesepian yang menyelimuti hidupnya. Pada saat itu, dia rela menukar segalanya hanya untuk kembali menikmati waktu bersama keluarga.

Cinta, karier, keluarga, sahabat, idealisme, cita-cita, prinsip, dan martabat— semuanya penting, dan tak satu pun boleh hilang.

Bayangkan kamu telah menyusun sebuah puzzle berisi dua ribu keping. Namun saat hampir selesai, ternyata satu keping hilang.  Apakah keping yang hilang itu yang paling penting?

Tidak juga. Namun dia akan menjadi penyesalan terbesar.

Bukankah hidup memang selalu menyisakan penyesalan? Waktu berlalu, dan banyak hal tak lagi bisa diperbaiki. Setiap dari kita memiliki puzzle hidup yang tidak sepenuhnya utuh.

Jadi, jangan lagi bertanya potongan mana yang paling penting. Yang paling penting adalah:
kamu telah berusaha menyusun gambarnya hingga sejauh yang kamu mampu.(jhn/yn)

MA Panama Putuskan Kontrak Pelabuhan CK Hutchison Ilegal, Analisis: Pukulan Berat bagi Beijing

Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali ke Gedung Putih, memutus dan membendung pengaruh Partai Komunis Tiongkok (PKT) atas Terusan Panama dijadikan sebagai prioritas utama kebijakan AS di Amerika Latin. Pada 29 Januari, Mahkamah Agung Panama memutuskan bahwa kontrak konsesi pelabuhan milik perusahaan di bawah kendali taipan Hong Kong Li Ka-shing di Panama adalah inkonstitusional. Para analis menilai keputusan ini merupakan pukulan berat bagi PKT.

ETIndonesia. Mahkamah Agung Panama pada Kamis 29 Januari mengeluarkan putusan penting, menyatakan bahwa “Panama Ports Company”, anak perusahaan CK Hutchison Holdings (Cheung Kong Hutchison) yang berbasis di Hong Kong, yang mengoperasikan pelabuhan di kedua ujung Terusan Panama, memiliki kontrak konsesi yang bertentangan dengan konstitusi.

Dengan putusan ini, perusahaan tersebut akan dipaksa menghentikan operasinya di pelabuhan-pelabuhan Panama.

Keputusan ini dipandang sebagai kemenangan besar bagi pemerintahan Trump dalam memperkuat strategi keamanan inti di Belahan Barat.

Sebelumnya, Trump telah memperingatkan bahwa PKT terus memperluas pengaruhnya atas pelabuhan-pelabuhan di Terusan Panama. Dalam situasi krisis, Beijing dikhawatirkan dapat memanfaatkan pengaruh tersebut untuk memblokir atau menekan operasional kapal militer dan kapal dagang Amerika Serikat.

Presiden Panama José Raúl Mulino pada Jumat (30 Januari) menyatakan bahwa dalam jangka pendek, Panama berencana untuk mempertahankan operasional pelabuhan-pelabuhan tersebut di bawah satu operator sementara.

Setelah izin operasional pelabuhan CK Hutchison dicabut, hak pengelolaan sementara akan dialihkan kepada anak perusahaan lokal dari perusahaan logistik Denmark, Maersk Group, hingga proses tender terbuka dilakukan dan konsesi baru diberikan.

CK Hutchison menyatakan bahwa pihaknya akan mempertahankan seluruh hak untuk mengambil langkah hukum di Panama maupun di tempat lain.

Menurut laporan The Wall Street Journal pada Jumat, dalam kasus ini CK Hutchison tidak dapat mengajukan banding, tetapi masih dapat meminta klarifikasi atas putusan tersebut.

Pada Jumat yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menulis di media sosial X:
“Amerika Serikat merasa terdorong oleh keputusan terbaru Mahkamah Agung Panama yang menyatakan pemberian konsesi pelabuhan kepada PKT sebagai inkonstitusional.”

Para analis menilai keputusan ini merupakan pukulan besar bagi PKT.

 “Ini tanpa diragukan merupakan pukulan berat bagi Partai Komunis Tiongkok. Selama dua dekade terakhir mereka bertindak tanpa banyak hambatan. Kini Amerika Serikat kembali mengendalikan Terusan Panama serta keuntungan dan pendapatannya, yang jelas sangat signifikan bagi AS. Amerika dapat berbagi manfaat ini dengan Panama dan negara-negara Amerika Latin,” ujar Ketua dan CEO perusahaan konsultan risiko yang berbasis di Washington, BlackOps Partners, Casey Fleming. 

Perubahan kendali atas pelabuhan-pelabuhan tersebut juga diyakini akan berdampak besar pada geopolitik di masa depan.

 “Dalam situasi krisis, Amerika Serikat dapat bertindak sesuai keadaan dan memprioritaskan kepentingannya sendiri, bukan kepentingan PKT. Saya pikir ini sangat penting bagi perdagangan global, dan juga penting ketika menerapkan tarif atau langkah tekanan lainnya terhadap negara lain. Semua ini dicapai melalui pengendalian pelabuhan-pelabuhan tersebut, karena mereka menguasai volume besar perdagangan yang mengalir dari Asia ke Amerika Latin dan Eropa,” ujar Analis kebijakan dari Manhattan Institute, Santiago Calvo.

Laporan gabungan oleh reporter NTDTV Li Mei dan Liu Fang

Tentang Menjadi Manusia

EtIndonesia. Dalam hidup, ada hal-hal tertentu yang jika terlewat sesaat, bisa berarti kehilangan selamanya.

Berikut ini adalah sebuah kisah renungan kehidupan yang mengajak kita merenung tentang cara menjadi manusia yang utuh.

Tentang Menjadi Pribadi yang Dewasa

Seseorang pernah bertanya kepada saya :  “Untuk anakmu kelak, kamu berharap dia menjadi orang seperti apa?”

Selain jujur, satu hal yang sangat saya harapkan adalah agar dia menjadi pribadi yang mandiri.

Belajar mandiri berarti belajar memperlakukan diri sendiri dengan baik, mampu berhubungan dengan orang lain secara setara, dan benar-benar bisa melindungi diri sendiri.

Saya menganggap diri saya sebagai orang yang cukup mandiri. Latar belakang keluarga berperan besar, begitu pula sepuluh tahun hidup di asrama, yang melatih saya menjalani hidup secara independen. Namun kepribadian mandiri saya benar-benar terbentuk setelah bekerja—berpindah dari satu kota ke kota lain. Tanpa kemandirian, mungkin saya tidak akan mampu bertahan sampai hari ini.

Setiap orang sibuk dengan hidupnya masing-masing. Pada akhirnya, orang yang paling bisa menolong kita adalah diri kita sendiri.

Tentu kita boleh bergantung pada orang lain—pada seseorang yang kita percaya. Namun jika kita menyerahkan hidup sepenuhnya kepada orang lain dan kehilangan kemandirian, lalu ketika orang itu pergi… apa yang tersisa untuk kita?

Mandiri bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun. Seorang yang paling mandiri sekalipun tetap membutuhkan sahabat dan keluarga. Namun orang yang mandiri tidak akan menjadi beban, dan dalam hubungan dengan siapa pun, dia berdiri setara secara batin.

Tentang Menerima Realitas dan Belajar Berkompromi

Dunia ini sesungguhnya tidak sempurna.

Ketika masih kecil, saya pernah berpikir bahwa dengan menangis, saya bisa mendapatkan apa pun yang saya inginkan.
Atau dengan memejamkan mata, berpura-pura tidak melihat masalah, maka masalah itu seolah tidak pernah ada.

Namun dalam kehidupan nyata, tidak semua yang kita inginkan akan terwujud, dan hal-hal yang kita pura-pura tidak lihat, tetap terjadi—tak bisa dihindari.

Ketika kita menerima kenyataan ini, kita akan memahami bahwa hidup sering kali menuntut kompromi.

Ada hal-hal yang kita yakini benar, dan memang benar, tetapi dalam kondisi tertentu, dia tidak bisa diterapkan, atau tidak mendapat dukungan mayoritas. Pada saat seperti itu, kita perlu mengalah.

Saat pertama kali terjun ke dunia kerja, ketika pendapat saya tidak diterima, saya merasa sangat tidak adil dan tidak dipahami. Berulang kali seperti itu, ada orang yang akhirnya menjadi sinis, merasa dunia selalu tidak berpihak padanya.

Namun jika kita mau berkompromi, kita akan menyadari: jalan menuju solusi tidak hanya satu. Cara lain mungkin lebih lambat, tetapi setidaknya dia tetap membawa kita bergerak maju.

Tentang Prinsip dan Batasan

Menjadi jurnalis adalah profesi yang penuh kompromi. Hampir setiap jurnalis pernah mengalami tulisannya berubah total setelah sampai ke meja editor.

Perdebatan sengit, adu argumen, wajah memerah—namun sering kali tetap tidak ada yang menang. Karena sistem memang seperti itu: editor memegang keputusan akhir.

Pada akhirnya, kita belajar mengalah dan mencoba memahami sudut pandang editor.

Namun kompromi bukan berarti kehilangan prinsip.

Saya bisa menerima perubahan sudut pandang atau pilihan kata.

Tetapi prinsip saya jelas: saya tidak akan memutarbalikkan kebenaran, tidak akan mengatakan A sebagai B demi kepentingan tertentu.

Jika prinsip tidak bisa dipertahankan, saya lebih memilih melepaskan daripada berkompromi.

Tentang Menghormati Orang Lain

Akhir-akhir ini, saya sering bertanya dalam hati: mengapa begitu banyak anak muda sulit menempatkan diri di posisi orang lain?

Banyak orang merasa selalu benar. Ketika terjadi kesalahan, mereka tidak pernah bercermin, melainkan menyalahkan orang lain karena “tidak mendukung”.

Mungkin karena hidup mereka terlalu mulus— tanpa banyak kesulitan, tanpa tekanan hidup— sehingga merasa dunia berputar untuk mereka saja.

Namun orang seperti ini, cepat atau lambat, akan bertemu kritik dan kegagalan.

Jika tidak cukup kuat, hidupnya akan dipenuhi keluhan: “Mengapa dunia memperlakukan saya seperti ini?”

Saya melihat terlalu banyak contoh orang yang tidak tahu cara menghormati sesama. Ada orang yang di restoran berteriak-teriak pada pelayan, seolah pelayan dilahirkan untuk melayani mereka. Mereka jarang, bahkan tidak pernah, mengucapkan terima kasih.

Saya selalu merasa malu berada di dekat orang seperti itu. Saya hanya bisa menatap para pelayan dengan rasa bersalah, berharap ucapan “terima kasih” saya bisa sedikit menebus ketidakadilan itu.

Ironisnya, masyarakat seakan sudah terbiasa diperlakukan tidak sopan. Terlalu sering, hingga akhirnya menjadi sesuatu yang dianggap wajar.

Tentang Lingkungan dan Teladan

Suatu hari, saya turun dari taksi di depan hotel bintang lima. Seorang petugas pintu berbicara kasar kepada sopir taksi, menyuruhnya cepat pergi.

Saya tidak tahan dan menegurnya agar berbicara dengan lebih sopan.

Namun hasilnya? Sopir dan petugas itu sama-sama menatap saya dengan tatapan heran— seolah ingin mengatakan bahwa yang aneh adalah saya.

Saya pun sadar: lingkungan sosial sangat menentukan seperti apa manusia dibentuk.

Ketika berwisata di beberapa tempat di Shenzhen bersama anak-anak, saya melihat orang-orang berebut tanpa antre, berdesakan hingga menyenggol orang lain tanpa merasa perlu meminta maaf.

Anak perempuan saya menatap dengan mata membesar—bingung dan sedikit takut. Saya justru khawatir: jika orang dewasa bersikap seperti ini di depan anak-anak, akan menjadi apa generasi berikutnya?

Seorang teman pernah berkata: “Seperti di desa, meludah di tanah terasa biasa saja, karena semua orang melakukannya. Orang yang mencari tempat sampah justru dianggap aneh.”

Tanpa sadar, kita pun perlahan menjadi sama dengan lingkungan kita.

Penutup: Makna Menghormati Sesama

Menghormati orang lain bukan sekadar mengucapkan “terima kasih” atau “maaf”.

Penghormatan sejati lahir dari rasa hormat terhadap martabat manusia itu sendiri — sesuatu yang muncul dari dalam hati.

Dia menuntut kedewasaan, pengalaman hidup, dan kepekaan batin. Hanya dengan itulah seseorang benar-benar memahami bahwa setiap manusia dilahirkan setara, dan menghormati orang lain pada hakikatnya adalah menghormati diri sendiri. (jhn/yn)

Spanyol Memberikan Status Hukum kepada 500.000 Warga Asing, Para Pemohon Antri Panjang

Pemerintah Spanyol baru-baru ini mengumumkan akan memberikan status legal kepada sekitar 500 ribu warga asing tanpa dokumen. Para pemohon pun mengantri panjang; di jalanan Barcelona terlihat banyak imigran berbaris untuk mengambil dokumen terkait.

EtIndonesia. Pemerintahan kiri yang dipimpin Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez pada 27 Januari mengumumkan akan menerima sekitar 500 ribu imigran tanpa dokumen, memberikan mereka izin tinggal legal hingga maksimal satu tahun, serta membuka akses izin kerja. Kebijakan ini akan disahkan dalam bentuk dekret kerajaan, tanpa perlu pemungutan suara di parlemen.

Menurut perkiraan pemerintah, kebijakan baru ini akan menguntungkan lebih dari 500 ribu orang. Ini akan menjadi program regularisasi status imigran berskala nasional pertama di Spanyol sejak tahun 2005.

Harian Daily Mail melaporkan pada 30 Januari bahwa ratusan pemohon (sebagian besar laki-laki) mengantre di luar Konsulat Pakistan di pusat kota Barcelona untuk mengajukan “surat keterangan tidak memiliki catatan kriminal”, yang merupakan salah satu dokumen wajib dalam program legalisasi status imigrasi tersebut.

Para pemohon harus  tinggal di Spanyol sebelum 31 Desember 2025 dan dapat membuktikan tinggal secara terus-menerus setidaknya selama lima bulan, serta tidak memiliki catatan kejahatan serius. Dokumen yang dapat digunakan sebagai bukti tempat tinggal antara lain surat pendaftaran kependudukan kota, hasil pemeriksaan atau catatan medis, tagihan air dan listrik, kontrak sewa, bukti pengiriman uang, serta tiket transportasi.

Periode pengajuan permohonan dibuka dari awal April hingga 30 Juni tahun ini. Setelah permohonan diajukan, seluruh proses deportasi atau perintah pengusiran yang dimulai karena alasan administratif atau pekerjaan tanpa izin akan otomatis ditangguhkan.

Jika permohonan disetujui, pemohon akan terlebih dahulu memperoleh izin tinggal sementara selama satu tahun, dapat bekerja secara legal, serta menikmati hak-hak sosial dasar termasuk jaminan kesehatan. Setelah masa izin tinggal berakhir, perpanjangan dapat diajukan sesuai dengan peraturan imigrasi yang berlaku.

Menteri Inklusi Sosial dan Urusan Migrasi, Elma Sáiz, menyatakan bahwa sejak tanggal pengajuan permohonan, hasil penanganan dapat diperoleh paling lambat dalam waktu 15 hari. Setelah disetujui, pemohon dapat bekerja secara legal di wilayah mana pun dan di sektor apa pun di seluruh Spanyol.

Sánchez berpendapat bahwa imigran sangat penting bagi perekonomian Spanyol. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Spanyol mencapai 2,8%, tidak hanya lebih dari dua kali lipat rata-rata perkiraan zona euro, tetapi juga menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja masih terus ada.

Namun, kebijakan ini juga memicu penentangan keras. Pemimpin partai sayap kanan Vox, Santiago Abascal, menuduh Sánchez “membenci orang Spanyol” dan menyebut kebijakan ini sebagai upaya “mempercepat sebuah invasi”.

Partai oposisi utama Spanyol, Partai Rakyat (PP), bersama Vox mengecam pemerintah, dengan alasan kebijakan ini akan mendorong masuknya lebih banyak imigran ilegal. Vox menyatakan akan mengajukan gugatan ke Mahkamah Agung untuk mencoba menghentikan kebijakan tersebut. (Hui)

Reporter: Luo Tingting, laporan gabungan / Editor Wen Hui 

ISW : Bersiap untuk Perang dengan NATO? Rusia Memperluas Infrastruktur Militer di Dekat Finlandia

0

EtIndonesia. Rusia memperluas infrastruktur militernya di dekat perbatasan dengan Finlandia. Tindakan tersebut mungkin mengindikasikan persiapan untuk potensi konflik dengan NATO, menurut laporan baru dari Institut Studi Perang (ISW) yang berbasis di AS.

Menurut ISW, penyiar nasional Finlandia, Yle, menerbitkan citra satelit yang diambil antara Juni 2024 dan Oktober 2025.

Citra tersebut menunjukkan pembangunan aktif di pangkalan militer Rusia Rybka di Petrozavodsk di Karelia, yang terletak sekitar 175 km dari perbatasan Finlandia.

Seperti yang dicatat Yle, area garnisun era Soviet tersebut sebagian besar telah ditinggalkan sejak awal tahun 2000-an. Namun, sekarang direncanakan untuk digunakan oleh Korps Angkatan Darat ke-44 Distrik Militer Leningrad. Sebuah pangkalan udara besar dan depot peralatan militer sudah beroperasi di lokasi tersebut.

Selain itu, citra satelit dari Mei dan Agustus 2025 menunjukkan pembangunan kota militer baru di Kandalaksha, wilayah Murmansk, sekitar 115 km dari perbatasan dengan Finlandia.

Hal ini menyangkut garnisun Lupche-Savino, yang pembangunannya dimulai Rusia pada musim dingin 2024–2025 untuk brigade artileri dan zeni baru.

ISW mengingatkan bahwa sebelumnya telah mencatat perluasan infrastruktur militer Rusia di sepanjang perbatasan Finlandia.

Pada tahun 2024, Rusia juga merestrukturisasi Distrik Militer Barat, menciptakan distrik militer Leningrad dan Moskow, kemungkinan untuk memperkuat komando strategis ke arah utara dan melawan NATO.

Sebagai bagian dari perubahan ini, komando militer Rusia membentuk Korps Angkatan Darat ke-44.

“Para pejabat Rusia, termasuk Presiden Rusia, Vladimir Putin, sebelumnya secara langsung mengancam Finlandia, termasuk dengan menerapkan bahasa yang telah digunakan Rusia untuk secara keliru membenarkan invasi ke Ukraina kepada Finlandia,” kata laporan itu.

Rusia Bersiap Perang dengan NATO

Pada September 2025, Menteri Pertahanan Belanda, Ruben Brekelmans mengatakan bahwa ancaman yang datang dari Rusia mengkhawatirkan seluruh dunia Barat. Rusia sedang mengalihkan ekonominya ke kondisi siap perang, memperluas produksi senjata, dan semakin memobilisasi orang untuk bersiap menghadapi perang dengan NATO pada tahun 2030.

Analis ISW percaya bahwa Moskow sedang mengintensifkan serangan rahasianya terhadap Eropa dan telah memasuki fase nol persiapan untuk kemungkinan perang dengan NATO.

Rusia secara aktif memperkuat kehadiran militernya di dekat perbatasan Finlandia. Citra satelit menunjukkan pembangunan infrastruktur baru berskala besar, termasuk tempat perlindungan untuk jet tempur, gudang, dan kamp lapangan.

Selain itu, pada bulan September, mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev mengancam Finlandia, menggunakan retorika yang sebelumnya digunakan Kremlin untuk membenarkan invasi ke Ukraina. (yn)

Biarkan Hidup Berubah dari Kepompong Menjadi Kupu-kupu

EtIndonesia. Dalam hidup, ada hal-hal yang tidak bisa kita pilih— seperti latar belakang keluarga yang sederhana, rupa fisik yang kurang menarik, atau pengalaman hidup yang penuh luka. Semua itu bagaikan kepompong yang membungkus hidup kita.

Namun ada pula hal-hal yang selalu bisa kita pilih: harga diri, kepercayaan diri, ketekunan, dan keberanian. Inilah “pedang kehidupan” yang membantu kita menembus kepompong takdir dan berubah dari ulat menjadi kupu-kupu.

Kita sering iri pada orang-orang yang seolah tanpa usaha sudah melangkah jauh di jalan impian mereka. Namun mereka hanyalah segelintir orang yang beruntung.

Pada akhirnya, kita akan memahami satu kebenaran: mereka yang memikul beban penderitaan hidup, melangkah perlahan namun tak pernah berhenti, dan bertahan hingga akhir—itulah orang-orang yang melaju paling jauh dan paling kuat.

Ada seorang anak. Wajahnya kurang menarik, bicaranya gagap, dan karena penyakit, sebagian wajah kirinya lumpuh. Sudut mulutnya tampak tidak simetris, dan satu telinganya kehilangan pendengaran.

Ibunya tenggelam dalam kesedihan mendalam. Seorang anak yang baru beberapa tahun hadir di dunia sudah harus menanggung nasib seberat ini— bagaimana dia akan menjalani hidup ke depan?

Selain mencurahkan cinta dan perlindungan sepenuh hati, sang ibu tak tahu lagi apa yang bisa dia lakukan.

Namun barangkali anak ini memang ditakdirkan menjadi pejuang kehidupan.

Dia tumbuh lebih cepat dewasa dibandingkan anak-anak lain. Dia diam-diam menahan ejekan, olok-olok, dan tatapan meremehkan dari sekelilingnya. Dia memang merasa rendah diri— tetapi di dalam dirinya menyala tekad kuat untuk bangkit dan menjadi lebih baik.

Ketika anak-anak lain menghabiskan waktu dengan mainan, dia justru tenggelam dalam buku-buku. Banyak di antaranya bahkan bacaan orang dewasa. Dia membacanya dengan penuh minat, karena dari sanalah dia belajar arti keteguhan dan sikap pantang menyerah.

Untuk memperbaiki gagap bicaranya, dia meniru cara seorang orator terkenal dari zaman kuno: berlatih berbicara sambil menggigit kerikil kecil di dalam mulut.

Melihat bibir dan lidah anaknya terluka dan berdarah karena gesekan batu, sang ibu tak kuasa menahan air mata.

Dia berkata sambil menangis:  “Sudahlah, Nak… berhentilah berlatih. Ibu akan menemanimu seumur hidup.”

Anak itu dengan lembut menyeka air mata ibunya dan berkata: “Bu, buku yang kubaca mengatakan: setiap kupu-kupu yang indah, lahir karena dia sendiri merobek kepompongnya. Jika kepompong itu disobekkan oleh orang lain, kupu-kupu yang lahir tidak akan indah.  Aku ingin menjadi kupu-kupu yang indah.”

Waktu berlalu. Dia akhirnya mampu berbicara dengan lancar.

Karena ketekunan dan kebaikan hatinya, saat lulus sekolah menengah, dia bukan hanya meraih prestasi akademik yang cemerlang, tetapi juga mendapatkan penghormatan dari orang-orang di sekitarnya. Tak ada lagi ejekan—yang ada hanyalah rasa hormat dan kekaguman.

Ibunya kemudian membantunya mendapatkan pekerjaan yang cukup baik, berharap hidup anaknya berjalan lebih mudah.

Namun dia kembali berkata dengan tenang :  “Bu, aku ingin tetap menjadi kupu-kupu yang indah.”

Pada Oktober 1993, pria yang berpengetahuan luas dan telah menunjukkan banyak kontribusi ini maju dalam sebuah pemilihan umum.

Lawan politiknya, dengan niat buruk, menggunakan iklan televisi untuk membesar-besarkan cacat wajahnya, lalu menuliskan slogan kejam:  “Apakah kamu ingin orang seperti ini memimpinmu?”

Serangan yang tidak bermoral dan sarat penghinaan pribadi itu justru memicu kemarahan dan kecaman publik.

Ketika masyarakat mengetahui perjalanan hidupnya, dia justru memperoleh simpati dan rasa hormat yang luar biasa.

Slogan kampanyenya:“Saya ingin memimpin negara dan rakyat ini menjadi kupu-kupu yang indah,” menggetarkan hati banyak orang.

Dia pun terpilih dengan suara mayoritas, dan kembali memenangkan pemilihan pada tahun 1997, terpilih kembali untuk periode kedua.

Rakyat dengan penuh kasih menjulukinya “Kupu-Kupu”.

Dialah Jean Chrétien— Perdana Menteri Kanada pertama yang terpilih kembali dua periode dan memimpin melintasi pergantian abad.

Cerita ini mengajarkan kita satu hal yang sangat dalam:  jangan takut pada kepompong kehidupan. Selama kita berani bertahan, berjuang, dan merobeknya dengan kekuatan sendiri, kita semua memiliki kesempatan untuk terbang—  menjadi kupu-kupu yang indah dengan sayap hasil perjuangan sendiri.(jhn/yn)

Mantan Duta Besar Inggris Mengundurkan Diri di Tengah Skandal Epstein

EtIndonesia. Mantan Duta Besar Inggris untuk AS, Peter Mandelson, telah mengundurkan diri dari Partai Buruh untuk menghindari masalah tambahan bagi partai tersebut di tengah pengungkapan baru dalam kasus Jeffrey Epstein, lapor Bloomberg.

Mandelson yang berusia 72 tahun diduga menerima pembayaran sebesar 103.000 dolar yang diduga dikirim kepadanya dan pasangannya oleh terpidana pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein pada tahun 2003. Mantan duta besar itu juga dituduh mencoba memblokir pajak bonus bankir pada tahun 2009 atas permintaan Epstein.

Dokumen-dokumen baru yang dirilis oleh Departemen Kehakiman AS dilaporkan mencakup foto-foto dan korespondensi yang memalukan antara Mandelson dan Epstein, yang memicu skandal lain.

Media tersebut mengingatkan bahwa pada September 2025, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer mencopot Mandelson dari jabatannya sebagai duta besar untuk AS setelah investigasi Bloomberg tentang hubungan dekatnya dengan Epstein. Starmer menyimpulkan bahwa Mandelson tidak sepenuhnya jujur ​​selama proses pemeriksaan sebelum pengangkatannya.

Mandelson mengatakan dia telah menulis surat kepada sekretaris jenderal partai, Holly Ridley, untuk memberitahunya bahwa dia meninggalkan Partai Buruh guna menghindari rasa malu lebih lanjut.

Sebagai pengingat, Departemen Kehakiman AS telah merilis sejumlah dokumen baru terkait kasus Epstein, yang memicu gelombang skandal karena tokoh-tokoh politik terkemuka disebutkan dalam berkas tersebut.

Seperti yang dilaporkan, pada 10 Desember tahun lalu, pengadilan AS memutuskan bahwa materi dari penyelidikan Jeffrey Epstein dapat dipublikasikan.

Beberapa hari kemudian, Departemen Kehakiman mulai merilis sejumlah besar berkas baru, termasuk foto-foto yang menunjukkan Epstein bersama Michael Jackson, Bill Clinton, dan lainnya. Materi ini diharapkan dapat mengungkap koneksi Epstein di bidang politik, keuangan, dan media.