Direktur WHO Sebut  COVID di Tiongkok Sudah Melonjak Sejak Awal, Bukan Dikarenakan Pencabutan  Kebijakan Nol COVID yang Ketat

Chen Beichen

Direktur Darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Mike Ryan pada konferensi pers membantah bahwa pelonggaran pembatasan “kebijakan nol kasus”  adalah alasan utama lonjakan infeksi di Tiongkok. Dia mengatakan virus Covid-19 telah menyebar “secara intensif” di seluruh Tiongkok  jauh sebelum Tiongkok mencabut pembatasan.

Pada  27 November, Tiongkok telah melaporkan peningkatan rawat inap di rumah sakit selama empat minggu berturut-turut.

“Mengingat penyebaran penyakit yang intens, saya tidak percaya tindakan pengendalian  saja akan menghentikan wabah. Saya yakin Tiongkok telah menyadari bahwa strategi ini bukan lagi pilihan terbaik,” ujar Riyan.

Setelah merebaknya gerakan kertas Putih, Beijing tiba-tiba mengubah tindakan dengan melonggarkan beberapa kebijakan nol COVID. Tanpa diduga, rumah sakit di banyak tempat di Tiongkok penuh sesak, sistem medis ambruk. Lebih banyak orang yang mengalami demam sedang menunggu dokter daripada tes PCR. Di Beijing, orang tua mengantri di luar klinik di tengah malam pada suhu minus 6 derajat untuk mendapatkan perawatan medis.  Sehingga menimbulkan kekhawatiran.

Sebagai tanggapan, Ryan mengatakan bahwa Tiongkok  dan beberapa negara perlu meningkatkan vaksinasi.  Dia yakin Beijing perlu mengonfirmasi apakah “vaksin dan dosis yang tepat tersedia di Tiongkok dan kapan orang-orang ini terakhir divaksinasi”.

Kepala Teknis Covid-19 WHO, Maria Van Kerkhove mengatakan PBB memberikan saran teknis kepada Tiongkok.

China Meheco Group Co Ltd mengatakan pada 14 Desember bahwa mereka akan mengimpor dan mendistribusikan Paxlovid,  obat antivirus baru yang dikembangkan oleh Pfizer.

Sementara itu, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dia “berharap” COVID-19 tidak lagi dianggap sebagai darurat global pada tahun depan. (hui)

Dampak Kebijakan Nol COVID, Banyak Toko di Tiongkok Tutup Karena Bangkrut

0

Lin Cenxin/Yi Ru/Chen Jianming

Partai Komunis Tiongkok (PKT) baru-baru ini mengumumkan “Sepuluh Tindakan Baru” untuk melonggarkan kendali epidemi. Namun, jutaan bisnis katering, bisnis ritel, dan toko serba ada telah tutup sebelum kebijakan diterapkan.  Jalan-jalan komersial di banyak kota menunjukkan tanda-tanda depresi. Kebijakan Nol COVID  telah berlangsung selama tiga tahun, menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada sektor ekonomi riil Tiongkok

Jalan Qianmen  yang ramai di Beijing hanya dikunjungi sedikit turis pada tahun ini, dan banyak toko terkenal sudah tutup.

Adapun Gongti West Road, di mana terdapat banyak klub malam, sejak kasus COVID meledak di sekitar Paradise Supermarket Bar pada  Juni lalu dan  semua toko di sekitar jalan ditutup.  Kini setengah tahun telah berlalu, dan blokade belum dicabut sampai 7 Desember. 

Distrik Haizhu di Guangzhou yang telah lama ditutup, masih jarang penduduknya setelah pembukaan distrik dalam dua hari terakhir. Pasalnya,  banyak bos dan pekerja yang pulang ke kampung halaman mereka lebih awal.

Video: “Dulu, jalan  sepanjang 300 meter ini sangat ramai, orang-orang berkerumun dan orang-orang saling berdesakan, tetapi sekarang lihatlah.”

Beberapa netizen berkata, “Tidak ada gunanya, bahkan jika dibuka untuk bekerja. Perusahaan sudah tidak ada dan toko sudah bangkrut.”

Ekonom Amerika David Huang: “Industri konsumen dalam negeri saat ini adalah hotel, pariwisata, konsumsi, jasa, restoran, bioskop, pusat perbelanjaan, sejumlah besar  industri jasa, dan  ritel. Mereka menghadapi dampak yang sangat besar, termasuk  beberapa pusat perbelanjaan, hypermarket, toko grosir, dan yang terkait dengan layanan ritel semacam itu, termasuk salon dan katering, semuanya pada dasarnya setengah mati.”

Menurut laporan Linkshop, sejumlah besar perusahaan dan swasta tak dapat bertahan, telah memilih untuk menarik diri dari pasar karena bolak-balik Buka Tutup Epidemi. Menurut “QCC”, pada 1 Desember 2022, sekitar 500.000 perusahaan katering dan 1,9 juta perusahaan terkait ritel akan ditutup.

Sejak Oktober, banyak pusat perbelanjaan termasuk Dayang Department Store Chongqing, New World Department Store Kunming Store, dan Ito-Yokado Chengdu Store telah menutup tokonya. Pusat perbelanjaan Xidan dari Biro Kereta Api Urumqi juga tutup pada 30 November, ini adalah pusat perbelanjaan ketiga di Urumqi yang tutup tahun ini.

Profesor  Sun Guo-xiang, Departemen Hubungan Internasional dan Administrasi Bisnis, Universitas Nanhua, Taiwan, berkata : “Ada banyak masalah dalam perekonomian daratan Tiongkok, pada kenyataannya, jumlah pekerjaan yang fleksibel menganggur, dan banyak toko belum dapat dibuka, karena Kebijakan Nol COVID.  Bahkan beberapa supermarket baru sudah lama tertunda dan akhirnya buka, tetapi ditutup lagi.  Akhirnya mereka memilih untuk menutupnya. 

Penutupan toko fisik  juga berhembus kuat ke pengecer besar. Baru-baru ini, Suning dan Gome, dua raksasa ritel peralatan listrik  menyatakan bangkrut. Yonghui Superstores juga menutup banyak gerai. Kerugian kuartal ketiga meluas menjadi RMB. 775 juta . Sejumlah besar kedai kopi, restoran hot pot, dan restoran cepat saji telah tutup karena wabah, dan musim dingin toko fisik telah tiba.

Ekonom Amerika, David Huang percaya bahwa lockdown COVID telah berdampak besar pada industri layanan ritel sehingga membuat masalah pengangguran di Tiongkok semakin buruk.

David Huang berkata: “Meskipun hal ini tidak akan menyebabkan risiko keuangan yang besar di Tiongkok, namun memiliki lapangan kerja yang sangat besar, dan sebagian besar lapangan kerja di Tiongkok berada di industri jasa ini, sehingga akan mempengaruhi stabilitas sosial.”

Selain menganggur, banyak wiraswasta yang menggunakan tabungan mereka untuk berbisnis, di bawah lockdown yang berulang kali akibat pandemi, tak hanya membuat orang kehilangan semua tabungan mereka, tetapi mereka juga mereka berhutang sehingga menambah orang miskin baru.

Mr. Chen, seorang warga daratan Tiongkok berkata : “Saya secara pribadi melihat seseorang. Sekarang ekonomi berada dalam Depresi Hebat, semua orang tidak punya uang. Dia menggunakan satu-satunya tabungannya sebesar RMB. 250.000 untuk membeli rumah, mobil, dan pinjaman. Menyebabkannya terlilit banyak hutang. Kemudian dia pergi membuka toko untuk memulai bisnis,  tapi  tidak ada bisnis, dia sudah membeli mobil dan tidak punya uang untuk mengendarainya. Walaupun hidup hemat masih tidak bisa membayar utang.”

Komentator urusan terkini yang berbasis di AS, Qin Peng, mengatakan bahwa pendekatan sederhana dan brutal Partai Komunis Tiongkok untuk memblokir epidemi,  kemudian membuka pemblokiran secara  tergesa-gesa, telah menghabiskan sumber daya dalam jumlah besar dan mendatangkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki lagi. 

Qing Peng menambahkan, tak hanya triliunan dolar yang terbuang sia-sia untuk pemagaran, mempekerjakan petugas penjaga epidemi, membangun rumah sakit darurat Fangcang dan sebagainya, tetap saja PDB  akan turun lebih dari  3 triliun RMB pada tahun ini. Pada saat yang sama, perusahaan dan wiraswasta yang tak terhitung jumlahnya akan bangkrut dan banyak nyawa tak berdosa akan meninggal dunia dalam penguncian ekstrem.

Sementara itu, sentimen sektor jasa Tiongkok semakin menurun,  purchasing manager’s index (PMI) Jasa Caixin turun menjadi 46,7 pada November, turun 1,7% dari  Oktober dan berada di level terendah terbaru sejak Juni. Indeks ketenagakerjaan juga jatuh ke rekor terendah. (hui)

‘Tsunami’ COVID-19 di Beijing Membuat Rumah Sakit Kewalahan, Rumah Duka dan Krematorium dengan Antrian Panjang

0

Ruili dan Xiong Bin – NTD

Setelah Partai Komunis Tiongkok (PKT) melonggarkan kendalinya atas epidemi, provinsi dan kota di Tiongkok menghadapi kesulitan dalam mengakses perawatan medis dan membeli obat-obatan. Dalam menghadapi lonjakan jumlah infeksi, pihak berwenang telah memutuskan untuk tidak mempublikasikan  jumlah orang yang terinfeksi tanpa gejala (OTG). Bahkan Rumah Duka dan Krematorium kelebihan beban. Pada saat yang sama, virus mutan strain baru telah muncul di Tiongkok.

“Demam saya sudah hilang, tetapi suara saya masih serak dan saya hanya bisa berbicara seperti burung,” kata seorang warga Beijing.

Menghadapi jumlah orang yang terinfeksi tak terkendali, Komisi Kesehatan dan Kesejahteraan Partai Komunis Tiongkok mengatakan tidak akan lagi merilis data tentang Orang Tanpa Gejala COVID-19 mulai 14 Desember.

Setelah rumah sakit dan apotek kewalahan, warga Beijing terpaksa “mengobati diri mereka sendiri” di rumah alias isoman.

Di distrik Fengtai Beijing, seorang netizen pergi ke apotek untuk membeli obat antipiretik (penurun demam) untuk istrinya yang sedang hamil dan diberitahu oleh staf apotek bahwa mereka tidak menjualnya.

Penduduk Beijing: “Saya menyelinap masuk, ayo, mari kita lihat, berapa banyak pil yang ada di sana, semuanya Tylenol. Saya memohon padanya, saya katakan tolong, jual saya sekotak, karena saya mengalami demam positif.

Warga Beijing : ” Barang ini Ibuprofen (obat analgesik dan antipiretik) sudah dijual mahal 80 RMB per kotak, Anda bahkan tidak bisa membelinya jika Anda sedikit ragu-ragu.

Tak hanya di Beijing, sebuah klinik kecil di Kota Dazhou, Provinsi Sichuan penuh sesak dengan orang-orang yang sedang diinfus dengan botol infus, dan ada antrian panjang pasien yang menunggu perawatan medis di luar klinik.

Sebuah klinik kecil di Kota Dazhou, Provinsi Sichuan penuh sesak dengan orang-orang yang sedang diinfus dengan botol infus, dan ada antrian panjang pasien yang menunggu perawatan medis di luar klinik. (internet)

Tang Jingyuan, seorang komentator berbais di AS menyarankan masyarakat Tiongkok, jika mereka demam dan tidak dapat membeli obat penurun demam, mereka dapat melakukan pendinginan fisik. Namun demikian, jika orangtua atau anak-anak mengalami demam tinggi secara terus-menerus, terutama jika mereka memiliki penyakit bawaan seperti pernapasan atau jantung, maka mereka harus segera mencari pertolongan medis.

Namun, karena badai epidemi datang begitu cepat, rumah sakit di Beijing lumpuh selama hampir seminggu. Agar dapat beroperasi secara normal, Beijing  mengedepankan langkah darurat yakni  mewajibkan staf medis yang terinfeksi ringan untuk tetap bekerja.

“Saya berbicara dengan teman-teman yang merupakan direktur atau staf medis di rumah sakit Tiongkok. Staf yang terinfeksi di rumah sakit juga diminta untuk pergi bekerja, yang menghasilkan lingkungan penularan, ” kata Xi Chen, Seorang profesor kesehatan masyarakat dari Yale University.

Pada 13 Desember, sebuah foto online menunjukkan pemberitahuan di kaca penerimaan obat di Rumah Sakit Haidian Beijing tertulis : “Semua apoteker sakit, mohon dimaklumi”.

Pengumuman apotek di Beijing

Pada 14 Desember, PKT mengumumkan bahwa strain baru yang bermutasi, Omicron BQ.1, telah muncul di Tiongkok. Kasus ini  telah muncul di sembilan provinsi. Karena seriusnya virus tersebut, internet daratan Tiongkok menyebutnya galur mutan BQ.1 “Cerberus”.

Beijing adalah  daerah yang paling terpukul penularan COVID-19, konsekuensi mengerikan dari virus varian baru telah menyebar ke semua Rumah Duka karena jumlah korban meninggal dunia terus melonjak. Karena lonjakan beban kerja, rumah duka telah meminta staf mereka yang terinfeksi agar tetap bekerja. 

Di depan sebuah krematorium di Beijing pada 13 Desember, antrian panjang kendaraan pembawa jenazah terlihat di pinggir jalan.

Penduduk Beijing berkata : “Anda bahkan tidak bisa menyemayamkan jenazah untuk dikremasi,  apalagi pergi ke krematorium. Lihatlah mobil ini, antriannya dimulai kemarin, bukan hari ini, tapi setiap hari mulai sekarang, tidak ada tempat.”

Pada hari yang sama, seorang netizen di Beijing memposting bahwa ayahnya meninggal dunia di rumah, ia menghubungi banyak rumah duka tetapi tidak dapat menyemayamkan jenazahnya, bahkan polisi tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut.

Staf rumah duka memberitahukan kepada NTD bahwa dibutuhkan setidaknya 5 hingga 7 hari untuk membuat janji kremasi, dan penumpukan jenazah sangat serius.

“Untuk kremasi, sepertinya sudah antre setidaknya empat atau lima hari sekarang. Kami tidak punya ruang  di sini, dan semuanya penuh. Mungkin juga terjadi bahwa tidak ada mobil untuk mengambil jenazah dengan tepat waktu, dan Anda masih tidak dapat menyemayamkannya,” kata Xiao Zhang (nama samaran), seorang pegawai rumah duka di Beijing.

“Karena selama periode waktu ini, rumah duka di seluruh kota berada di bawah tekanan besar. Dan, kami tidak diizinkan untuk istirahat sekarang. Pada dasarnya, semua orang akan terinfeksi lagi, dan kami telah melewatinya sejak lama,” tambahnya.

Wang dari Perusahaan Layanan Pemakaman Beijing juga berkata : “Sekarang jumlah kremasi melonjak. Kami harus menunggu beberapa hari. Ada begitu banyak orang sekarang, jadi saya mencoba yang terbaik mengirimkan mobil untuk menjemput mereka,  kalau bisa diatur dikremasi akan lebih bagus.”

Beberapa karyawan mengungkapkan bahwa orang meninggal dunia yang positif COVID-19 harus dilaporkan ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan Komisi Perawatan Kesehatan sebelum  Biro Urusan Sipil mengirim mereka ke rumah duka terdekat untuk dikremasi, tetapi banyak orang yang meninggal dunia positif COVID-19 tidak dilaporkan, yang juga meningkatkan risiko penularan di tempat kerja.  (hui)

Pemilu AS 2024 : Ron DeSantis Mengungguli Donald Trump dalam Jajak Pendapat Internal Partai

0

oleh Ren Hao

Kampanye presiden AS 2024 sudah mulai ramai. Sebuah jajak pendapat baru menunjukkan bahwa Gubernur Florida Ronald Dion DeSantis lebih unggul dari mantan Presiden Donald Trump dalam hal tingkat dukungan partai (Republik). Analis percaya bahwa akibat kandidat yang didukung Trump sebelumnya memiliki tingkat kegagalan yang lebih tinggi dalam pemilihan paruh waktu, menyebabkan popularitas Trump ikut melorot.

Pemilihan pendahuluan partai untuk kandidat presiden 2024 tidak akan diadakan setidaknya selama satu tahun ke depan, dan dari Partai Republik hanya mantan Presiden Trump yang mengumumkan pencalonannya. Namun, Wall Street Journal telah melakukan jajak pendapat awal untuk membandingkan siapa di antara Trump dan Gubernur Florida yang menggaet lebih banyak dukungan.

Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa jika hanya dua kandidat, DeSantis akan mengalahkan Trump dengan 52% suara. Namun jika tidak ada persaingan, ketika pemilih bebas memilih kandidat favoritnya, maka 86% pemilih lebih menyukai DeSantis, hanya 74% yang menyukai Trump, dan sekitar 10% mengatakan tidak mengenal Ron DeSantis.

DeSantis adalah seorang Katolik yang taat. Dia terpilih sebagai Gubernur Florida untuk pertama kalinya pada tahun 2018. Dalam menangani wabah COVID-19, dia menggunakan kebijakan longgar untuk menjadikan Florida unik dan menarik banyak warga Amerika Serikat dari seluruh penjuru untuk menetap di Florida. Selain epidemi terkendali dengan baik, ekonomi Florida pun berkembang cukup bagus.

Dalam pemilihan paruh waktu di bulan November tahun ini, DeSantis memimpin lawannya dengan 19 poin persentase dan meraih kemenangan besar. Namun, dia tetap tidak mau berkomentar tentang pencalonan dirinya sebagai presiden sampai bulan Mei tahun depan (2023).

Sedangkan menurut Wall Street Journal, akibat sebagian besar kandidat yang didukung oleh Trump mampu memenangkan pemilihan utama partai, tetapi kinerja mereka setelah menjadi kandidat justru kurang memuaskan, sehingga menurunkan keinginan pemilih untuk memberikan suara kepada Donald Trump. (sin)

Ultimatum Inggris Berakhir, PKT Memanggil Pulang 6 Orang Pejabat Konsulat yang Terlibat Pemukulan

oleh Chen Yue

Dua bulan setelah bentrokan kekerasan di luar gedung Konsulat Jenderal Tiongkok di Kota Manchester, pada Rabu (14/12), Kementerian Luar Negeri Inggris menyatakan bahwa pihak berwenang Beijing telah memanggil pulang keenam orang pejabat konsulat yang terlibat pemukulan terhadap para pengunjuk rasa. Diantaranya termasuk Konsul Jenderal Zheng Xiyuan.

Menteri Luar Negeri Inggris James Cleverley mengatakan : “Sebagai tanggapan dari permintaan kami, pemerintah Tiongkok telah menarik kembali para pejabatnya itu dari Inggris. Dan salah satunya adalah konsul jenderal mereka (Zheng Xiyuan)”.

James Cleverley mengatakan bahwa sepekan yang lalu, Kementerian Luar Negeri Inggris telah menetapkan 14 Desember sebagai tenggat waktu, yang menghendaki pihak berwenang Tiongkok untuk melepaskan kekebalan diplomatik dan menunggu penyelidikan polisi, kepada enam orang pejabat konsulat Tiongkok yang terlibat dalam insiden pemukulan terhadap para pengunjuk rasa. Dan memperingatkan bahwa jika pihak Tiongkok menolak melakukan hal itu, maka akan menghadapi konsekuensi diplomatik.

Akhirnya, otoritas Tiongkok tiba-tiba menarik pulang keenam orang pejabatnya tersebut, termasuk Konsul Jenderal Zheng Xiyuan dengan alasan masa jabatan mereka telah berakhir. Saat ini keenam orang tersebut telah meninggalkan Inggris.

Ada orang percaya bahwa langkah PKT itu adalah upaya mereka untuk menghindari perselisihan diplomatik dengan Inggris.

Pada 16 Oktober tahun ini, beberapa warga asal Hongkong berunjuk rasa di depan gedung konsulat Tiongkok di Kota Manchester, Inggris sebagai protes terhadap tirani Partai Komunis Tiongkok. Selama unjuk rasa itu beberapa orang pejabat dari konsulat Tiongkok berlari keluar dari halaman konsulat dengan tujuan untuk merusak spanduk, dan menyeret para pengunjuk rasa ke halaman konsulat untuk dipukuli secara brutal. Beruntung polisi Inggris berhasil menyelamatkan para warga Hongkong itu.

Usai kejadian itu, Zheng Xiyuan, Konsul Jenderal Tiongkok untuk Manchester mengakui bahwa dirinya juga berpartisipasi dalam serangan brutal itu. Hal mana menimbulkan ketidakpuasan dari pihak berwenang Inggris. Beberapa anggota parlemen Inggris menuntut agar personel terkait segera dideportasi dari Inggris. (sin)

Varian Baru Omicron BQ.1 Kasusnya Telah Bermunculan di 9 Provinsi Tiongkok

0

oleh Xiao Lusheng dan Luo Ya

Baru-baru ini, strain mutan baru dari virus Wuhan alias COVID-19 yakni Omicron BQ.1 telah muncul dan menyebar di 9 provinsi Tiongkok.

Stasiun resmi Tiongkok CCTV pada 14 Desember menyebutkan bahwa Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok menyatakan bahwa BQ.1 adalah subcabang generasi keenam dari strain mutan baru dari COVID-19 Omicron BA.5 yang dihasilkan melalui mutasi virus selama penyebaran populasi. BQ.1.1 adalah sub-cabang generasi pertama dari BQ.1.

Patogenisitas sub-cabang evolusioner ini melemah secara signifikan, sehingga proporsi penyakit parah dan kematian menjadi jauh lebih rendah daripada virus mutan terdahulu.

Menurut laporan, sudah ada 49 kasus BQ.1 yang telah terdeteksi menyebar di 9 provinsi Tiongkok. Strain yang menyebar di Tiongkok saat ini masih merupakan strain mutan Omicron BA.5.2 dan BF.7.

Jaringan Internet di daratan Tiongkok menamai strain mutan BQ.1 ini “Kerberos”. Lin Xiaoxu, ahli virologi Amerika Serikat dan mantan direktur Departemen Virologi di Institut Riset Angkatan Darat AS mengatakan kepada The Epoch Times pada 14 Desember, bahwa dirinya tidak tahu siapa yang memberikan nama sensasional “Kerberos”. Namun, baik Eropa maupun AS belum menemukan tanda-tanda tentang peningkatan patogenisitas dan penularan BQ.1. Jadi klaim ini mungkin hanya rumor di Internet, atau seseorang dengan tujuan untuk menyebarkan pernyataan sensasional.

Setelah pelonggaran pembatasan baru-baru ini, situasi epidemi di Tiongkok semakin memburuk. Lin Xiaoxu mengatakan bahwa banyak warga sipil di Tiongkok mengalami gejala seperti demam dan batuk, selain karena terinfeksi virus varian Omicron, mungkin ada faktor lain seperti influenza. Jadi diperlukan angka yang transparansi mengenai berapa orang yang sekarang menderita penyakit pernapasan parah, berapa yang butuh perawatan rumah sakit, berapa yang penyakitnya menjadi kritis dan kematian. Angka-angka ini yang tidak diberikan oleh pihak berwenang Tiongkok selama 3 tahun terakhir epidemi.

Berita terbaru adalah bahwa Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok menyatakan pada 14 Desember bahwa banyak infeksi tanpa gejala tidak lagi berpartisipasi dalam pengujian asam nukleat (PCR), karena itu tidak diketahui secara akurat berapa sebenarnya jumlah infeksi tanpa gejala. Mulai 14 Desember, jumlah infeksi tanpa gejala ini tidak akan diumumkan lagi oleh pihak berwenang.

Situasi Epidemi di Beijing Terus Memburuk

Jumlah pasien positif COVID-19 di Beijing meningkat tajam, dan pernah dilaporkan di Internet bahwa kasus positif COVID-19 di Beijing lebih serius daripada di Guangzhou.

Media resmi PKT “Renmin Rebao” mengutip hasil wawancara dengan pakar virologi Tiongkok pada 12 Desember melaporkan bahwa BA.5.2 yang menyebar di Guangzhou memiliki proporsi pasien tanpa gejala yang tinggi, tetapi kondisi klinisnya lebih ringan daripada BF.7 di Beijing.

Gejala setelah orang terinfeksi strain varian BF.7 terutama adalah demam tinggi, batuk terus-menerus, nyeri tubuh, sakit kepala, sakit tenggorokan, perubahan indra penciuman, dan kehilangan nafsu makan.

Seorang wanita warga Beijing bermarga Zhang kepada reporter Epoch Times mengatakan pada 14  Desember bahwa sewa ambulans sulit didapat karena memang banyak orang yang sakit. Dia mengatakan bahwa dirinya mendengar berita ada siswa di sekolah kedokteran yang sudah 3 hari mengalami demam, tetapi ditolak untuk menemui dokter, akibatnya ia meninggal dunia. Ia juga mendengar bahwa ada dosen perguruan tinggi yang meninggal secara tiba-tiba.

“Tidak ada lagi orang yang mau peduli dengan Anda. Jika Anda (karena positif terinfeksi) tidak masuk kerja, atau tidak masuk kerja tanpa alasan selama 3 hari berturut-turut, maka Anda akan dipecat”. “Sekarang tes harus bayar sendiri, tidak ada lagi yang peduli”, kata Mrs. Zhang

Dia mengatakan bahwa untuk mengeluarkan surat cuti / absen kerja pun ada aturannya, karyawan yang terinfeksi lalu perlu cuti kerja harus demamnya mencapai 38 derajat atau lebih. Di bawah itu tidak diberikan izin.

Selain itu, Mrs. Zhang juga menyinggung soal kurir paket kiriman di Beijing. Ia mengatakan : “(Paket) sudah menumpuk tinggal, dan kurir tidak ada yang mau melakukannya padahal dibayar RMB. 400,-.” (sin)

7 Kiat Mengurangi Stres Saat Hari-hari Sibuk

Mike Donghia

Dari yang sibuk tidak harus menjadi hari yang buruk. Nyatanya, banyak dari hari-hari tersibuk saya dipenuhi dengan aktivitas yang menurut saya bermakna dan memuaskan.

Tetapi kadang-kadang, saya tergelincir ke dalam musim ketika kesibukan mengejar saya, dan saya merasakan efek yang berkembang dari kecepatan pada tubuh dan jiwa saya.

Ada satu aliran pemikiran yang menyarankan solusinya, yakni selalu menyederhanakan hidup dan mengurangi jadwal Anda. Lagi pula, menjalani hidup di jalur lambat adalah saran yang cukup bagus. Ada kebijaksanaan luas dalam memperlambat dan mensyukuri hidup yang Anda miliki.

Tapi mungkin Anda seperti saya, dan itu sepertinya bukan nasihat yang tepat untuk bab hidup Anda ini. Mungkin Anda ingin memperlambat, tetapi Anda tidak bisa sekarang. Atau mungkin Anda sedang melakukan hal-hal sulit dengan sengaja— mendorong diri sendiri demi pertumbuhan pribadi atau melayani orang lain.

Sebenarnya, kita memiliki segala macam alasan untuk mengundang kesibukan ke dalam hidup kita, dan itu tidak selalu merupakan pilihan yang salah.

Apa pun alasan Anda, jika Anda berharap untuk mempertahankan kecepatan yang lebih sibuk untuk jangka waktu tertentu, Anda memerlukan rencana untuk menjaga tingkat stres tetap rendah dan energi tetap tinggi—atau jika tidak, upaya Anda akan sia-sia.

Interaksi Antara Stres, Kesehatan, dan Pikiran Anda

Banyak dari kita memiliki pengalaman langsung tentang bagaimana stres memengaruhi tidur kita, pencernaan kita, dan kemampuan sistem kekebalan kita untuk melawan penyakit. Tetapi efek jangka pendek itu mungkin yang paling tidak menjadi perhatian kita.

Pada 2017, tinjauan literatur dalam Journal of Experimental and Clinical Sciences menemukan bahwa stres adalah asal dari banyak gangguan dan pengaruh kuat pada banyak penyakit—terutama ketika stres itu parah dan berkepanjangan.

Tapi apa sebenarnya stres itu? Apakah tekanan dari luar yang diberikan kepada kita oleh kehidupan dan keadaan? Atau apakah itu persepsi kita tentang peristiwa itu?

Penelitian lebih lanjut diperlukan di bidang ini, tetapi studi tahun 2010 dalam jurnal Child Psychiatry & Human Development menemukan bahwa berbagai faktor psikologis dapat memediasi hubungan antara stres dan kesehatan. Misalnya, memiliki area kendali internal yang kuat di tengah tekanan tampaknya melindungi kita dari beberapa efek biologis stres pada tubuh kita.

Dengan kata lain, percaya saja bahwa ada sesuatu yang dapat Anda lakukan dalam menghadapi stres adalah penyangga yang kuat melawan efek negatif dari ketegangan dan tekanan.

Di sisa artikel ini, saya akan membagikan beberapa kiat yang telah membantu saya mengelola stres dan mencegah kejenuhan selama hari-hari sibuk. Hal yang penting adalah menemukan apa yang cocok untuk Anda secara pribadi— apa pun yang membantu Anda mempertahankan pola pikir yang tenang namun termotivasi untuk hari itu.

Memulai hari Anda dengan benar. Membuat kemajuan nyata pada proyek penting atau tugas yang menimbulkan kecemasan adalah salah satu cara favorit saya untuk memulai pagi hari. Aturan pribadi saya adalah saya tidak melakukan hal lain (membaca, memeriksa ponsel, menjawab email, dll.) sampai saya menghabiskan dua jam tanpa gangguan untuk pekerjaan bernilai tinggi. Ini membuat saya nyaman karena saya tahu bahwa apa pun yang terjadi hari ini, saya telah membuat momentum ke depan.

Miliki hal-hal yang Anda nantikan. Meskipun saya menganjurkan melakukan hal-hal sulit yang mendorong Anda keluar dari zona nyaman, saya menyadari bahwa kami bukanlah robot. Memiliki kesenangan yang tidak disengaja yang Anda antisipasi sepanjang hari dapat menjadi sumber kenyamanan dan motivasi yang nyata di musim kehidupan yang sibuk. Bahkan sesuatu yang sederhana seperti mandi air panas, camilan favorit, atau acara TV yang bagus bisa menjadi hadiah yang memuaskan setelah hari yang melelahkan. Yang lebih baik lagi adalah pengalaman yang lebih kaya seperti berhubungan dengan teman, tertawa terbahak- bahak, atau bersenang-senang secara spontan.

Tinggalkan margin di antara tugas. Dengan sendirinya, sibuk tidak membuat saya stres, tetapi ketika satu aktivitas berjalan tepat ke aktivitas berikutnya, saya mulai merasa seperti tidak dapat mengatur napas. Sensasi terjebak dalam pusaran aktivitas yang konstan ini harus diwaspadai. Bagi saya, menyisakan 10 hingga 15 menit ketenangan di antara aktivitas dapat menjadi perbedaan antara sehari penuh dan hari yang terasa di luar kendali.

Berolahraga, makan dengan baik, dan utamakan tidur. Jika Anda akan bertanya lebih banyak tentang diri Anda secara fisik dan mental, jangan juga mencoba mengambil jalan pintas pada rutinitas perawatan pribadi Anda. Anda harus bersandar pada mereka lebih keras. Sayangnya, selama musim-musim sibuk kehidupan kita kemungkinan besar akan membiarkan praktik-praktik ini menghilang begitu saja. Jika masa sibuk Anda hanya beberapa hari, tentu saja, Anda dapat memperoleh produktivitas ekstra di margin dengan mendorongnya, tetapi ini bukanlah resep untuk upaya yang berkelanjutan.

Jangan menyebar hingga terlalu tipis. Satu kesalahan yang saya buat adalah mencoba memeras terlalu banyak aktivitas kecil dalam satu hari. Hal ini akhirnya membuat saya merasa seperti hamba dari daftar tugas saya dan hampir tidak membuat kemajuan di satu area—hanya melompat dari satu tugas ke tugas berikutnya.

Sebaliknya, yang saya coba lakukan adalah mendedikasikan hari-hari tertentu dalam seminggu untuk jenis pekerjaan tertentu. Sabtu pagi untuk bersih-bersih. Malam lainnya untuk blogging, dan satu lagi untuk pekerjaan lepas. Saya tidak harus membuka setiap “kotak” setiap hari dan dapat percaya bahwa saya akan memiliki waktu untuk mengerjakan setiap hal ketika saatnya tiba.

Perhatikan pernapasan Anda. Seperti kebanyakan orang, napas saya cenderung cepat dan pendek saat saya sedang terburu-buru dan bekerja keras. Ketika saya menahan diri dan akhirnya menghirup udara yang panjang dan lambat, saya menyadari betapa sedikit paru-paru saya yang mengembang dan bagaimana hal itu memperkuat perasaan stres di seluruh tubuh saya.

Penelitian yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology pada 2017 mendukung gagasan ini dengan menunjuk- kan bahwa pola pernapasan kita berkorelasi dengan berbagai tingkat kortisol dalam tubuh kita. Anda dapat mencoba menggunakan aplikasi di ponsel untuk mengingatkan Anda untuk bernapas perlahan di berbagai titik dalam hari Anda.

Fokus pada hari ini, tidak semua pekerjaan yang perlu dilakukan. Saat kita hidup di saat ini, sibuk dengan pekerjaan di depan kita, kita jarang mengalami stres. Hanya ketika kita mulai hidup di masa depan — memikirkan tentang segala sesuatu yang perlu dilakukan hari ini atau minggu ini — kita mulai merasakan tekanan stres yang semakin mendekat.

Salah satu ritual manajemen stres saya yang paling membantu adalah secara mental “membersihkan papan tulis” setiap kali saya memulai tugas baru. Setelah saya memutuskan untuk melakukan sesuatu, saya mencoba untuk tidak memikirkan hal lain sampai saya selesai. Ini tidak hanya menghilangkan stres, tetapi juga membantu Anda memanfaatkan waktu yang Anda miliki. (aus)

Blog Mike (dan istrinya, Mollie) di This Evergreen Home tempat mereka berbagi pengalaman hidup sederhana, sengaja, dan relasional di dunia modern ini. Anda dapat mengikuti dengan berlangganan buletin mereka, dua kali seminggu.

Klinik PTT Dr. Wen Pinrong : Gugur Kelopak Bunga Meski Angin Timur Berhembus Semilir

Seiring dengan semakin bertambahnya pengalaman dalam pengobatan klinis, kekaguman terhadap tubuh manusia, perasaan terpesona terhadap Sang Maha Kuasa pun terus meningkat. Penyakit yang sama, jika disembuhkan dengan jalan pemikiran yang berbeda, juga menimbulkan keterkejutan yang menyegarkan.

Seorang nenek berusia 72 tahun, seluruh rambutnya putih berkilau, dalam keluarganya dia menempati urutan anak ke-8, sangat disayangi oleh ketujuh kakak perempuannya, sebagai anak bungsu sekaligus adik kesayangan, dia selamanya tidak perlu melakukan pekerjaan rumah, bahkan diperlakukan ibarat mustika di dalam keluarga, siapa pun tak boleh mengganggunya. Manula berambut putih ini, selalu sukses dalam berbagai ujian. Dalam ujian pegawai negeri pun, sekali ikut ujian langsung direkrut hingga masa pensiun. Pada pekerjaannya, di kantor yang sama, meja yang sama, pekerjaan yang sama, telah ditekuninya selama 35 tahun penuh.

Mulai keikut-sertaannya dalam ujian pegawai negeri sampai pensiun, dari berpacaran hingga menikah, telah menikahi seorang suami yang baik, hidupnya sungguh lancar, bahagia dan penuh warna, seumur hidupnya manula itu tidak pernah menderita sakit keras, walaupun sudah berusia 70 tahun lebih, dia masih lincah dan sehat, mampu mengemudikan mobil, dan berwisata kemana-mana. Kehidupannya begitu tenang tanpa gejolak, juga tidak mengejar apapun. Suatu hari di usia senjanya ini Tuhan bergurau dengan manula berambut putih ini, suatu hembusan angin timur yang lemah, cukup memecahkan ketenangan selama 70 tahun itu.

Pada suatu hari, subuh yang dibarengi hembusan angin timur, bertepatan dengan terbitnya matahari, suara kicauan burung di pedesaan menyambut semilir angin timur. Wanita beruban itu setelah menggeliat sejenak, bersiap hendak bangkit dari ranjang. Aduh! Begitu kurang berhati-hati, dia menabrak meja rias, emak yang biasanya cekatan itu, mengapa begitu ceroboh? Tahu-tahu pandangannya sepertinya tidak begitu jelas? Perempuan beruban itu merangkak dan berdiri dari lantai, berkaca di depan meja rias, kelopak mata kanannya tertutup rapat, tidak bisa dibuka, dia pun menjadi pendekar wanita bermata satu! Betapa sedihnya! Benar-benar terasa bagai pukulan hebat bagi hidupnya.

Suami yang penuh kepedulian, langsung mengantarkannya ke rumah sakit untuk diperiksa. Dokter mengatakan ini disebabkan putusnya saraf ketiga (dari dua belas saraf kranial) atau saraf okulomotor, harus dilakukan CT Scan agar dapat dipastikan lebih lanjut, dan dikatakan penyakit ini sangat sulit diobati, hanya bisa membiarkan matanya sendiri mengobatinya perlahan secara alami, setidaknya dibutuhkan waktu 1 tahun. Mendengar penjelasan itu sang manula berpikir, hidup setahun dengan satu mata, bagaimana rasanya? Dia sangat panik dan tak berdaya.

Ibaratnya di saat manusia mengalami naas di lautan, yang pertama terpikirkan adalah pelabuhan yang aman. Emak beruban itu lantas teringat akan dokter keluarganya 6 tahun silam, dia pun bergegas meninggalkan rumah sakit dan langsung datang ke klinik penulis. Setelah melihat matanya, saya pun berkata, “Jangan khawatir, Anda akan dapat melihat lagi.” Emak beruban itu kegirangan dan menjawab, “Dokter, saya serahkan pada Anda.” Sejak saat itu dia memutus hubungannya dengan rumah sakit, tidak lagi berobat ke dokter medis Barat, juga rencana melakukan CT Scan telah dia batalkan.

Mengenai saraf ketiga dari saraf kranial (nervus kranial), atau disebut juga saraf okulomotor, yang dapat menyebabkan kelopak mata atas turun (blepharoptosis), kelopak menempel, dan tidak bisa membuka mata, saya telah berhasil menyembuhkannya, namun dilakukan dengan jalan pemikiran medis Barat. Penyebab kelopak mata atas turun, selain karena masalah saraf ketiga, apakah ada jalan pemikiran lain? Atau metode pengobatan lain? Kelopak mata tergolong otot, kelopak mata yang turun, apakah otot mata tidak bertenaga? Apakah tergolong Miastenia Gravis (MG, melemahnya otot tubuh akibat gangguan pada saraf dan otot)? Apakah semacam otot lemah? Apakah atrofi (suatu kondisi saat Anda mulai kehilangan massa otot karena terjadi penyusutan)? Ototnya telah lumpuh?

Penanganan Akupunktur

Emak rambut putih itu telah berusia 70 tahun lebih, maka hawa Yang harus diperkuat lebih dulu, lalu tusuk titik Baihui. Limpa terkait dengan otot, untuk menyehatkan limpa, tusuk titik Sanyinjiao. Khusus untuk Atrofi hanya menusuk Yangming, untuk melancarkan meridian Yangming, meridian tersebut mengandung banyak Qi (baca: chi, red.) dan darah, serta untuk melancarkan darah dari Qi, tusuk titik Sibai, Chengqi, Hegu, Quchi, dan Zusanli. Limpa dan juga lambung tergolong bagian tengah (Zhongjiao), tusuk zona bagian tengah di kulit kepala, kurang lebih di antara titik Shangxing dan titik Xinhui. Mata terletak di bagian depan kepala, tusuk kulit kepala di bagian depan kepala, kira-kira antara titik Shangxing dan titik Shenting. Meningkatkan elastisitas otot kelopak mata, tusuk titik Zanzhu menembus ke titik Yuyao, tusuk juga di titik Sizhukong menembus ke titik Yuyao, tusuk kedua jarum saling berhadapan.

Penyakit yang timbul mendadak, mayoritas erat kaitannya dengan masuk angin, tergolong akut, untuk menghalau angin, maka tusuk titik Fengchi, serta memperlancar peredaran di bagian kepala dan leher, dapat meningkatkan kecerahan mata, setelah menusuk rampung titik Fengchi, jarum agak diangkat dan ditusukkan ke arah mata yang lain. Hawa ginjal pada wanita tua itu lemah, memperkuat ginjal bermanfaat bagi sumsum, serta melembabkan pupil mata, sebagai persiapan setelah dia dapat membuka matanya, dilanjut dengan mengobati masalah tidak fokus di kedua matanya, dan tusuk titik Guanyuan, Qihai, dan Yongquan.

Merawat darah pada liver, dan menambah darah pada mata, tusuk titik Taichong dan Sanyin, sekaligus mengobati kaki wanita itu yang terkadang tidak bertenaga. Kantung mata membengkak, dan mengandung air, tusuk titik Sanyinjiao dan Taixi. Agar tendon berkumpul di titik Yanglingquan, meningkatkan kekuatan tendon mata untuk buka tutup, tusuk titik Yanglingquan, sekaligus mengobati nyeri lutut pada wanita beruban itu. Memperlancar sirkulasi di sekitar mata, tusuk titik Baihui, Yangbai, Fengchi, Tongziliao, Taiyang, Jingming, dan Qiuhou. Kelopak mata menutup rapat, juga merupakan semacam kondisi memar, maka tusuk titik Xuehai dan Sanyinjiao.

Sesi pengobatan tadinya 10 hari pertama setiap hari diterapi tusuk jarum setiap hari, setelah itu, seminggu cukup 2 kali. Tetapi emak rambut putih itu tidak sabaran, inginnya alisnya segera berkembang dan matanya terbuka lebar, jadi setiap hari terus melakukan tusuk jarum. Suami yang penuh pengertian, setiap hari mengantarkannya dengan mobil walau harus menempuh perjalanan 1 jam lebih untuk sekali jalan karena mereka berdiam di kawasan pegunungan di Tawan Tengah, juga setiap hari mengantarkan istri tercinta berobat merekalah yang selalu pertama tiba di klinik, semangat dan keseriusannya berobat sungguh mengharukan.

Pesan Khusus

• Pada kondisi terbangun, setiap jam, membalikkan kelopak mata yang turun, melihat-lihat sekeliling, setidaknya selama 1 menit.

• Malam hari saat tidur harus mengenakan penutup mata, agar kelopak mata tidak kedinginan di malam hari.

• Keluar rumah saat cuaca dingin, harus memakai topi dan syal, bagian yang ditutupi syal bertepatan dengan titik Fengchi dan Fengfu, yang berguna untuk mencegah masuk angin di bagian kepala, serta juga memperlancar sirkulasi di bagian leher dan kepala.

• Jangan makan dan minum yang dingin-dingin, pagi dan malam jangan makan buah, kurangi konsumsi buah, agar tidak menambah penumpukan air di bola mata.

• Ambil kacang tanah 5 Tael (1 tael = 37,8 gram, red.), Angco (kurma merah/jujuba) 10 butir, dimasak kuah, diminum sambil dimakan kacangnya, dapat mencegah atau meredakan mata tua (rabun dekat/presbiopi).

• Setiap pagi, ambil jahe digeprek beberapa kali, lalu iris 3 potong, seduh dalam gelas dengan air panas 300CC, saat suhu air turun sekitar 60oC, tambahkan sedikit madu, lalu diminum sedikit demi sedikit.

Resep Ramuan

Otot lemah, atrofi, Miastenia Gravis (MG), digunakan resep Yuebi Jiashu Tang. Dengan resep warisan Dr. Wu Xiongzhi: Jiawei Yuebi Tang. Ephedra 0,7~1 Tael, Gipsum 1 Tael, Licorice China 0,5 Tael, jahe 0,2 Tael, jujuba 0,2 Tael, Aconite 0,2 Tael, Bai Zhu 1 Tael, daun murbei 0,3 Tael, Lutut Sapi (Achyranthes Bidentata) 1 Tael, Cibotii Rhizoma 0,5 Tael, Eucommia Ulmoides 0,7 Tael, dan Cynomorium Songaricum 0,5 Tael.

Ephedra, mulai dari 0,7 Tael, bagi yang kondisi akut dapat digunakan sampai 1 Tael, kandungan Efedrina (Ephedrine) di dalamnya adalah semacam Sympathomimetic, yang memiliki fungsi adrenalin, dan digunakan sebagai neurotransmitter (pemancar saraf motorik).

Gipsum, 1 Tael, merupakan obat untuk meridian Yangming, mengendalikan Ephedra, sekaligus berfungsi sebagai anti-inflamasi (anti-infeksi).

Licorice China, sejenis glukokortikoid.

Jahe, menstimulus saraf melepaskan zat.

Jujuba, menambah gizi. Licorice, jahe, dan jujuba dikonsumsi bersamaan dapat menguatkan kekebalan, dan menyelaraskan sistem imun tubuh.

Aconite, menghangatkan ginjal, meningkatkan hormon androgen, sebagai glucokortikoid.

Bai Zhu, menyehatkan limpa, meningkatkan pertumbuhan sel otot.

Bai Zhu, Aconite, Licorice, Jujuba, kalau digabung menjadi Zhufu Tang, resep ini dapat menghangatkan otot, dan menguatkan Qi pada organ tubuh bagian tengah dan Qi saripati.

Suo Yang (tumbuhan parasit yang hidup pada akar Nitraria sibirica), menstimulus metabolisme otot, mencegah penyusutan otot, sekaligus mengobati kaki yang tidak bertenaga.

Lutut sapi, menunjang kelemahan liver dan ginjal, menguatkan tendon dan tulang, memperlancar peredaran darah dan melancarkan menstruasi, mengalirkan darah ke bagian bawah, sekaligus mengobati sakit pada tempurung lutut.

Eucommia Ulmoides, menunjang liver dan ginjal, serta tendon dan tulang, melenturkan tulang dan tendon di bawah kelopak mata, sekaligus mengobati sakit pinggang wanita berambut putih itu.

Cibotii Rhizoma, menunjang liver dan ginjal, menghilangkan rematik, menyingkirkan rematik di punggung, mengalir melalui meridian Du, memperkuat punggung, sekaligus untuk menopang kekuatan otot pada kelopak mata.

Daun murbei, membersihkan liver menguras angin menjernihkan mata, juga dapat mengobati hawa panas pada liver yang mengakibatkan pusing.

Manula berusia 70 tahun, biasanya memiliki kemampuan pemulihan yang agak lambat. Tapi di luar dugaan, di antara sekian banyak pasien yang saya obati masalah kelopak mata tidak bisa membuka, manula ini berusia paling tua, tapi justru sembuh paling cepat, bahkan lebih cepat daripada kaum muda. Setelah 20 kali terapi tusuk jarum matanya sepenuhnya telah terbuka, terjadi diplopia atau penglihatan ganda setelah mata terbuka, mengakibatkan pergerakan bola mata tidak sempurna, kepala pusing, berjalan seakan tidak stabil, terapi 16 kali tusuk jarum lagi, maka sepenuhnya kembali normal. Selain itu, hasil pemeriksaan penglihatan, mata kiri 1.0 dan mata kanan 1,2 serta tidak ada mata tua, sungguh di luar dugaan!

Terapi tusuk jarum dan minum obat herbal, rajin dan percaya diri, ditambah dengan perubahan strategi pengobatan, tak dinyana telah mendapatkan hasil luar biasa, baik si emak berambut putih maupun saya sangat senang karenanya. (sud)

Puluhan Rumah Rusak Pasca Gempa di Bali, Gempa Susulan Termonitor Sebanyak 21 Kali

ETIndonesia- BPBD Kabupaten Karangasem memutakhirkan data dampak gempa bumi magnitudo 5,2 per Rabu (14/12), pukul 06.00 WIB. Sebanyak 34 rumah warga mengalami kerusakan yang dipicu fenomena geologi pada Selasa , pukul 20.38 waktu setempat. 

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, merilis sebaran kerusakan rumah warga teridentifikasi di beberapa kecamatan, antara lain Kecamatan Kubu, Manggis, Karangasem, Rendang dan Bebandem.

Selain kerusakan, rilis dia, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karangasem juga melaporkan dua warga mengalami luka-luka akibat peristiwa yang dipicu gempa dengan pusat 23 km timur laut Karangasem. Salah satu korban luka-luka akibat terkena air panas karena panik saat gempa. Kedua warga tersebut telah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Karangasem. 

“Hingga hari ini, petugas BPBD setempat masih melakukan pendataan dan pemantauan di lokasi terdampak,” tambahnya.

Gempa susulan atau _aftershock_ termonitor sebanyak 21 kali dengan magnitudo terbesar 4,5. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa bumi ini akibat aktivitas sesar naik Flores atau Flores back arc thurst. Dilihat dari analisis mekanisme sumber gempanya, terjadi mekanisme pergerakan naik. 

Guncangan gempa yang dirasakan warga Karangasem, Provinsi Bali, juga dirasakan warga di kabupaten lain, bahkan hingga mereka yang berada di Nusa Tenggara Barat. BMKG merilis intensitas kekuatan gempa dengan skala Modified Mercalli Intensity (MMI) di wilayah Karangasem III – IV MMI, Mataram, Lombok Utara, Lombok Tengah dan Lombok Barat III MMI, Tabanan, Kuta, Buleleng dan Lombok Timur II MMI.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan warga untuk selalu waspada dan siap siaga terhadap potensi bahaya gempa. Peristiwa ini tidak dapat dideteksi dengan pasti dan dapat terjadi setiap saat.

Warga yang wilayahnya berada di sekitar episenter gempa dapat melakukan pengecekan kondisi rumah sebelum memasukinya kembali. Pascagempa Karangasem ini, BNPB dan BPBD Provinsi Bali terus berkoordinasi dan memonitor BPBD di wilayah terdampak.  (BNPB/asr)

AS Jatuhkan Sanksi Kepada Pejabat PKT karena Menganiaya Falun Gong

Eva Fu

Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada seorang pejabat Partai Komunis Tiongkok (PKT) atas perannya dalam menganiaya Falun Gong, sebuah praktik spiritual yang telah menjadi target rezim komunis  berkuasa di Tiongkok dalam kampanye pemberantasan tak henti-hentinya selama lebih dari 23 tahun.

Tang Yong,  sebelumnya menjabat sebagai wakil direktur Penjara Area Chongqing di Tiongkok barat daya, sekarang ditetapkan sebagai pelanggar hak asasi manusia  berat. Ia  dan keluarga dekatnya dilarang memasuki Amerika Serikat.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa Tang bertanggung jawab atas “pelanggaran berat hak asasi manusia, yaitu penahanan sewenang-wenang terhadap praktisi Falun Gong, yang juga merupakan pelanggaran kebebasan beragama yang sangat parah.”

Hanya ada sedikit informasi lain yang tersedia tentang Tang dari lembaran sanksi Departemen Luar Negeri AS – yang menargetkan daftar panjang individu yang terlibat dalam korupsi atau pelanggaran hak asasi manusia – yang dirilis pada 9 Desember, malam Hari Hak Asasi Manusia Internasional. 

“Semua orang memiliki hak-hak ini dan harus bebas untuk melaksanakannya, tanpa diskriminasi, tidak peduli apa yang mereka yakini, siapa yang mereka cintai, atau di mana mereka tinggal, semua berarti semua,” kata Menteri Luar Negeri Antony Blinken dalam pernyataan pada 9 Desember.

Pada 12 November 2022, sekitar 5.000 praktisi Falun Gong dari Taiwan berkumpul di Lapangan Liberty di Gedung Memorial Chiang Kai-shek untuk berlatih lima perangkat latihan. (Chen Baizhou/Epoch Times)

Latihan spiritual Falun Gong menampilkan latihan meditasi bersama dengan ajaran yang didasarkan pada nilai-nilai inti dari Sejati, Baik dan Sabar. Sejak tahun 1999, Partai Komunis Tiongkok (PKT)  berusaha untuk memberantas latihan ini dalam kampanye nasional yang melibatkan penangkapan sewenang-wenang, pemenjaraan, penyiksaan, pengambilan organ, dan taktik kekerasan lainnya. Jutaan orang telah ditahan di fasilitas penahanan PKT yang luas di seluruh Tiongkok.

“Kami memuji sanksi AS terhadap pejabat PKT yang terlibat dalam penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok dan kami mendorong  lainnya di komunitas internasional untuk mengikuti langkah ini,” kata Erping Zhang, juru bicara Falun Dafa Information Center, merespon tindakan terbaru AS.

Wang Zhiyuan dari World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong (WOIPFG) atau Organisasi Dunia untuk Menyelidiki Penganiayaan Falun Gong, sebuah kelompok advokasi yang berbasis di AS, telah mendesak pemerintahan Biden untuk berbuat lebih banyak. 

Dia mengatakan bahwa tindakan AS masih jauh dari cukup, mengingat skala dan kebiadaban penganiayaan yang dihadapi oleh pengikut Falun Gong di Tiongkok. Dia mencatat bahwa ada jauh lebih banyak sanksi terkait Uighur untuk kejahatan PKT di Xinjiang, sementara kejahatan yang menargetkan Falun Gong telah tersebar luas di seluruh Tiongkok. 

“Ini adalah awal yang baik,” kata Wang kepada The Epoch Times, menambahkan bahwa dia berharap melihat lebih banyak tindakan konkret untuk ditindaklanjuti oleh AS.

“Penganiayaan PKT terhadap Falun Gong adalah yang paling jahat, masih banyak yang harus dilakukan,” katanya, mencatat rezim secara paksa memanen organ dari praktisi Falun Gong yang masih hidup dalam skala besar. Tetapi pemerintah AS belum secara eksplisit mengutuk praktik mengerikan tersebut.

Kisah-kisah Penyiksaan

Di Chongqing, salah satu kota terbesar di Tiongkok dengan penduduk lebih dari 32 juta jiwa, pihak berwenang telah menjatuhkan hukuman minimal kepada ratusan pengikut Falun Gong atas keyakinan mereka, menurut statistik tidak lengkap yang dikumpulkan oleh Minghui.org, sebuah situs web yang berbasis di AS yang didedikasikan untuk melacak kisah penganiayaan Falun Gong. Di antara mereka adalah serangkaian catatan siksaan dan kematian di tangan PKT yang diberikan secara detail grafis.

Zhang Luyuan, seorang asisten profesor di Chongqing Social Work Professional College, kehilangan suami dan koleganya pada tahun 2004 di tengah penggerebekan dan pelecehan yang sering dilakukan oleh polisi. Kemudian, selama setahun mengalami penyiksaan penjara, dia kehilangan 29 gigi, sementara kakinya menjadi cacat, membuatnya hampir tidak bisa berjalan atau makan.

Praktisi Falun Gong berpartisipasi dalam parade untuk memperingati 23 tahun seruan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing, di Flushing, N.Y., pada 23 April 2022. (Larry Dye/The Epoch Times)

Zhang, yang meninggal pada November 2018 pada usia 76 tahun, pernah mengingat, dalam sebuah pernyataan kepada Minghui.org, ditangkap di jalan karena “terlihat seperti Falun Gong.”

Liu Fanxin, seorang pensiunan eksekutif senior di sebuah pabrik instrumen optik milik negara, diborgol selama lebih dari 30 jam berturut-turut setelah dia memutuskan untuk mengungkapkan pelecehan seksual terhadap sesama wanita pengikut Falun Gong yang dipenjara kepada media luar negeri pada tahun 2003. Kedua lengan Liu menjadi lemas akibat dikekang.

Namun, dia kemudian dikirim ke Penjara Wanita Chongqing selama sembilan tahun, di mana dia harus duduk di bangku rendah hingga 17 jam setiap hari, tanpa bergerak – sebuah siksaan yang menimbulkan rasa sakit tak tertahankan pada bahu, lengan, dan pinggangnya yang sudah terluka. Para penjaga memerintahkannya untuk melakukan kerja paksa seperti penganut agama lain yang dipenjara, memungut manik-manik kaca untuk sarung jok mobil dan membersihkannya.

Untuk menggerakkan sapu, Liu harus menstabilkan dirinya dengan kedua tangan dan menambatkan sikunya di pinggangnya untuk menyeret sapu ke depan dan ke belakang dengan tubuhnya. Rasa sakit dari aktivitas fisik seperti itu begitu menyiksa sehingga dia terkadang tidak bisa tidur.

“Bahkan jika Anda mati di sini di penjara, lalu apa? Kami akan mengurusnya dengan 80 [yuan] ($11,50),” kata Liu, seorang penjaga wanita mengatakan kepadanya selama upaya berulang kali yang gagal untuk membuatnya menandatangani surat-surat yang meninggalkan keyakinannya. Uang itu, Liu percaya, adalah biaya kremasi.

Sulit untuk menilai peran Tang dalam upaya penganiayaan di wilayah tersebut. WOIPFG memiliki tiga nama pelaku dalam berkasnya yang memiliki nama yang sama dengan Tang. Mereka adalah kepala unit divisi keamanan dalam negeri untuk Biro Keamanan Publik Kabupaten Fengjie yang telah memimpin beberapa penangkapan, interogasi, dan penyiksaan terhadap pengikut Falun Gong; seorang manajer untuk perusahaan sepatu Chongqing yang mencari tenaga kerja budak dari Penjara Wanita Chongqing; dan seorang sekretaris Partai di sebuah komite lingkungan di distrik Jiangbei kota yang dikenal sebagai Dashiba.

Pejabat Departemen Luar Negeri AS tidak menanggapi permintaan The Epoch Times untuk informasi lebih lanjut mengenai Tang.

Tang adalah pejabat Tiongkok kedua yang dijatuhi sanksi sehubungan dengan penganiayaan Falun Gong di bawah pemerintahan Biden. Pada Mei 2021, menjelang Hari Falun Dafa Sedunia, Departemen Luar Negeri AS memberikan sanksi kepada Yu Hui, mantan pengawas kampanye penindasan di Chengdu di Provinsi Sichuan barat daya.

Di bawah pemerintahan Trump, Amerika Serikat memberikan sanksi kepada Huang Yuanxiong, seorang kepala polisi setempat di Provinsi Fujian selatan, dalam memperingati Hari Hak Asasi Manusia pada tahun 2020.

Selain Tang, empat orang lainnya yang ditempatkan pada daftar sanksi pada 9 Desember termasuk Wu Yingjie, mantan sekretaris Partai Tibet dari tahun 2016 hingga 2021; dan Zhang Hongbo, direktur Biro Keamanan Publik Tibet sejak tahun 2018, atas pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di wilayah tersebut.

Li Zhenyu dan Zhuo Xinrong, yang masing-masing mengendalikan Dalian Ocean Fishing Co. dan Pingtan Marine Enterprise, dijatuhi sanksi atas pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi pada kapal penangkap ikan mereka. (asr)

Apa yang Terjadi di Zhongnanhai ? Perubahan Drastis Sikap Pejabat Tinggi Menimbulkan Pertanyaan

0

NTD

Terdesak oleh berbagai tekanan yang dihadapi serta Gerakan Kertas Putih yang berkobar di berbagai tempat di Tiongkok, pihak berwenang Tiongkok langsung membatalkan kebijakan Nol Kasus yang diusung Xi Jinping guna mencegah penyebaran epidemi. Beberapa hari  lalu, ilmuwan politik Prancis Bai Xia merilis sebuah artikel yang isinya menyebutkan bahwa perubahan sikap pejabat tinggi di Beijing yang begitu cepat membuat orang bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam Partai Komunis Tiongkok ?

Pada akhir November, kematian dan cedera tragis yang disebabkan oleh kebakaran gedung apartemen di Urumqi, Xinjiang, memicu protes warga sipil di lebih dari selusin kota termasuk Shanghai, Beijing, Wuhan, dan Chongqing. Mereka meneriakkan slogan-slogan tuntutan politik seperti “Buka pemblokiran di seluruh negara, Partai Komunis Tiongkok mundur ! Kami menginginkan kebebasan, dan memilih demokrasi”. Gerakan ini, yang dikenal sebagai Revolusi Kertas Putih juga menyebar ke luar negeri.

Pada 13 Oktober, 3 hari menjelang Kongres Nasional ke-20 Partai Komunis Tiongkok, dunia dikejutkan oleh seorang pemuda bernama Peng Zaizhou (nama asli Peng Lifa), yang memasang 2 spanduk kain putih di atas Jembatan Sitong, Beijing dengan tulisan berwarna merah yang antara lain berbunyi : “Tolak blokade kita ingin kebebasan. Kita ingin pemilu bukan pemimpin”. “Singkirkan diktator dan pengkhianat Xi Jinping”.

Pada 14 Desember, Radio France Internationale (RFI) mengutip artikel kolom ilmuwan politik dan sinolog Prancis Jean-Philippe Béja di surat kabar “Le Monde” pada 13 Desember melaporkan bahwa setelah protes jalanan berskala besar terjadi di berbagai wilayah Tiongkok kemudian mendapat penindasan dari pihak berwenang, tidak menutup kemungkinan ada konflik yang terjadi di internal PKT.

Artikel tersebut menyebutkan bahwa tanpa diduga rakyat Tiongkok meneriakkan slogan-slogan : “Partai Komunis Tiongkok mundur ! Xi Jinping mundur !” . Ini adalah untuk pertama kalinya sejak tahun 1949, para pengunjuk rasa di daratan Tiongkok secara langsung mengarahkan “tombak” kepada orang yang menduduki Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok.

Menurut analisis penulis, sebagian besar pengunjuk rasa yang meneriakkan slogan-slogan ini di belasan kota besar di Tiongkok dari utara ke selatan dan dari timur ke barat, tidak menggunakan masker, dan mereka jelas termasuk orang-orang dari kelas menengah. Di puluhan universitas Tiongkok, para mahasiswa dan mahasiswi memegang lembaran kertas putih dengan gerakan menantang. Kertas putih itu menunjukkan bahwa tidak ada gunanya mengungkapkan alasan kemarahan atau mengungkapkan tuntutan, karena semua orang pasti  sudah mengetahuinya dengan baik.

Selanjutnya, pihak berwenang mulai memburu para demonstran yang berani menantang mereka. Polisi mendatangi rumah beberapa demonstran muda dan mengancam mereka. Liburan universitas dimajukan 1 bulan guna mencegah mahasiswa berkumpul lagi. Polisi  menduduki beberapa jalan di mana diperkirakan demo bisa terjadi, dan langsung menangkap mereka jika tetap membandel. Sejak 29 November, para demonstran di jalan-jalan kota tampaknya telah menghilang.

Pada saat yang sama, terjadi perubahan drastis terhadap pelaksanaan kebijakan Nol Kasus, pihak berwenang langsung melonggarkan sejumlah besar langkah blokade dan kontrol yang ketat.

Artikel tersebut menyebutkan bahwa, siapa yang menyangka kebijakan Nol Kasus yang merupakan gagasan pribadi Xi Jinping, dan yang diterbangkan tinggi-tinggi bagaikan layangan untuk melambangkan keunggulan dari sistem sosialis dalam menangani epidemi, langsung putus benang cuma gegara tekanan pendemo jalanan ? …. Padahal Partai Komunis dulunya tidak seperti itu ! Biasanya Partai Komunis akan melakukan penindasan terlebih dahulu, menangkap, memvonis penjara sang pemimpin, kemudian pelaksanaan kebijakan dilonggarkan sedikit demi sedikit untuk meredakan kemarahan masyarakat.

Keputusan yang berubah begitu drastis memicu orang bertanya-tanya soal apa yang sedang terjadi pada internal partai diktator itu ? Tulis artikel tersebut.

Meskipun Xi Jinping tampaknya telah berhasil ditunjuk kembali sebagai Sekjen PKT periode ketiga pada 23 Oktober tahun ini. Walau kelihatannya Xi Jinping mampu menyingkirkan semua lawan politiknya dari Politbiro, tetapi masyarakat belum percaya jika konflik internal partai sudah reda. Apakah tidak ada lagi musuh yang tersisa di partai ?  Apakah tidak mungkin di kemudian hari muncul seorang pejabat tinggi yang melimpahkan semua kesalahan atas kerusakan ekonomi dan ketidakpuasan rakyat yang ditimbulkan oleh kebijakan Nol Kasus ekstrem kepada Xi Jinping ? Apakah tidak mungkin ada beberapa orang pemimpin yang mendesak Xi Jinping untuk mengubah arah kebijakan ? Bagaimana pun sudah terlihat bahwa protes telah melemahkan Xi Jinping yang baru saja sebulan menggenggam kekuasaan penuh. 

Voice of America melaporkan pada 13 Desember bahwa Wei Jingsheng, seorang aktivis pro-demokrasi Tiongkok yang terkenal, mengatakan bahwa meskipun pengawasan PKT saat ini termasuk sangat ketat, tetapi tidak semua pejabat setia kepada Xi Jinping.

Laporan tersebut juga mengutip Dr. Wu Guoguang, seorang peneliti senior di Stanford University, Amerika Serikat yang mengatakan bahwa makna terbesar dari Revolusi Kertas Putih adalah, rakyat Tiongkok telah mematahkan ketakutan mereka dan mulai bangkit.

Beberapa hari yang lalu, Hu Ping, seorang pakar urusan Tiongkok menuliskan pesannya di Twitter : Xi Jinping berada dalam dilema soal membatalkan atau tidak kebijakan Nol Kasus yang ia usung. Jika kebijakan dibatalkan ternyata tidak ada masalah, itu membuktikan bahwa kebijakannya tidak masuk akal. Jika epidemi menyebar luas dan banyak orang meninggal dunia segera setelah kebijakan dibatalkan, itu berarti kebijakan Nol Kasus tidak efektif. Wah ! tampaknya apa pun hasil yang terjadi, itu akan mempermalukan baik pihak berwenang maupun Xi Jinping sebagai Sekjen PKT. (sin)

Beijing Beralih Dari Kemarahan Zero-COVID ke Mengatasi Infeksi

0

Reuters via The Epoch Times

Seorang ahli memperingatkan ribuan kasus COVID-19 baru di Beijing pada 11 Desember karena kemarahan atas kebijakan COVID-19 Tiongkok sebelumnya memberikan jalan kekhawatiran tentang mengatasi infeksi.

Rezim komunis Tiongkok mencabut sebagian besar pembatasan COVID-19 yang ketat pada 7 Desember setelah protes yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap mereka bulan lalu, tetapi kota-kota yang sudah berjuang melawan wabah yang paling parah, seperti Beijing, mengalami penurunan tajam dalam kegiatan ekonomi setelah aturan seperti test rutin dibatalkan.

Bukti anekdotal menunjukkan bahwa banyak bisnis terpaksa tutup karena pekerja yang terinfeksi menjalani karantina di rumah, sementara banyak orang lain memutuskan untuk tidak keluar rumah karena risiko infeksi yang lebih tinggi.

Zhong Nanshan, seorang ahli epidemiologi Tiongkok terkemuka, mengatakan kepada media pemerintah bahwa jenis virus Omicron yang lazim di Tiongkok sangat mudah menular dan satu orang yang terinfeksi dapat menyebarkannya kepada 18 orang lainnya.

“Kita bisa melihat bahwa ratusan ribu atau puluhan ribu orang terinfeksi di beberapa kota besar,” kata Zhong.

Dengan pengujian COVID-19 rutin terhadap penduduk Beijing yang dihapus dan hanya diperuntukkan bagi kelompok-kelompok seperti petugas kesehatan, jumlah resmi untuk kasus-kasus baru telah menurun.

Otoritas kesehatan melaporkan 1.661 infeksi baru di Beijing pada 10 Desember, turun 42 persen dari 3.974 pada 6 Desember, sehari sebelum kebijakan nasional dilonggarkan secara dramatis.

Akan tetapi bukti menunjukkan bahwa ada lebih banyak kasus infeksi di kota berpenduduk hampir 22 juta orang ini.

“Di perusahaan saya, jumlah orang yang negatif COVID mendekati nol,” kata seorang wanita yang bekerja untuk perusahaan pariwisata dan acara di Beijing yang meminta untuk diidentifikasi hanya sebagai Nancy.

“Kami menyadari bahwa hal ini tidak dapat dihindari-semua orang, hanya harus bekerja dari rumah.”

Jumlah kasus COVID-19 yang sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi. Data COVID-19 Tiongkok sulit untuk diverifikasi, karena rezim Tiongkok secara rutin menekan atau mengubah informasi.

‘Risiko Lebih Tinggi’

Hari Minggu adalah hari kerja normal untuk toko-toko di Beijing dan biasanya ramai, terutama di tempat-tempat seperti kawasan Shichahai  bersejarah yang dipenuhi dengan butik dan kafe.

Tetapi hanya sedikit orang yang keluar dan berkeliling pada 11 Desember, dan mal-mal di Chaoyang, distrik terpadat di Beijing, praktis sepi dengan banyak salon, restoran, dan pengecer tutup.

Para ekonom secara luas memperkirakan jalan Tiongkok menuju kesehatan ekonomi tidak merata, dikarenakan guncangan seperti krisis tenaga kerja karena pekerja yang memanggil sakit menunda pemulihan penuh untuk beberapa waktu lagi.

“Transisi keluar dari zero-COVID pada akhirnya akan memungkinkan pola belanja konsumen kembali normal, tetapi risiko infeksi yang lebih tinggi akan membuat pengeluaran secara langsung tertekan selama berbulan-bulan setelah dibuka kembali,” tulis Mark Williams, kepala ekonom Asia di Capital Economics, dalam sebuah catatan.

Sementara rezim Tiongkok telah menghapus sebagian besar pembatasan COVID-19 domestiknya, perbatasan internasionalnya sebagian besar masih tertutup bagi orang asing, termasuk wisatawan.

Wisatawan yang masuk dikenakan karantina selama lima hari di fasilitas terpusat dan tiga hari tambahan pemantauan mandiri di rumah.

Tetapi bahkan ada petunjuk bahwa aturan ini bisa berubah.

Staf di bandara internasional utama di kota Chengdu, ketika ditanya apakah aturan karantina dilonggarkan, mengatakan bahwa pada 10 Desember, apakah seseorang perlu melakukan karantina di rumah selama tiga hari atau tidak, akan tergantung pada otoritas lingkungan seseorang. (asr)

Layanan Kesehatan Tiongkok Berjuang Setelah Pembatasan COVID yang Ketat Secara Mendadak Dihentikan

0

Dorothy Li

Selama seminggu terakhir, antrean panjang mengular di luar klinik demam, panggilan telepon telah membanjiri hotline darurat Tiongkok, dan dunia usaha bersiap-siap menghadapi gangguan terbaru karena semakin banyak karyawan yang jatuh sakit.

Pemandangan kekacauan yang dilepaskan oleh rezim Tiongkok secara tiba-tiba membalikkan kebijakan nol-COVID selama hampir tiga tahun ini ketika virus tersebut melaju melalui populasi 1,4 miliar jiwa, meningkatkan kekhawatiran bahwa pihak berwenang kurang siap untuk pembukaan kembali yang tergesa-gesa.

Pada tengah malam pada 12 Desember, pihak berwenang Tiongkok membatalkan aplikasi yang diamanatkan negara pada ponsel yang digunakan untuk melacak riwayat perjalanan orang-orang.  Bagi pihak berwenang, aplikasi tersebut untuk mengidentifikasi apakah penduduk telah mengunjungi daerah-daerah berisiko COVID selama 14 hari terakhir, meskipun para kritikus khawatir bahwa aplikasi itu dapat digunakan untuk pengawasan massal dan menindak para pembangkang.

Penonaktifan sistem yang juga dikenal sebagai “kode perjalanan,” mengikuti 10 pedoman terbaru yang diumumkan oleh Komisi Kesehatan Nasional pada 7 Desember, yang membatasi pengujian wajib, mengizinkan karantina di rumah, dan mengurangi penguncian.

Orang-orang bersorak-sorai menyambut kemunduran besar-besaran dari kebijakan nol-COVID rezim yang ketat di media sosial. Warga memandang langkah baru-baru ini sebagai sinyal untuk kembali ke kehidupan normal setelah penguncian sporadis selama tiga tahun terakhir yang mana menjungkirbalikkan kehidupan sehari-hari bagi ratusan juta orang. Penguncian yang keras telah menyebabkan kesulitan massal akibat kekurangan makanan dan perawatan kesehatan serta kematian di fasilitas karantina di bawah standar.

Mundurnya rezim dari kebijakan kejam itu dipicu oleh aksi protes jalanan paling berani yang pernah terjadi di negara itu dalam beberapa dekade.

Pada akhir pekan terakhir November, demonstrasi anti-penguncian melanda seluruh negeri. Dari Beijing hingga daerah terpencil Korla, para demonstran terlihat meneriakkan slogan-slogan, menolak pembatasan COVID-19 rezim yang ketat, dan menuntut kebebasan. Orang-orang di Shanghai dan di tempat lain melangkah lebih jauh, menyerukan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan pemimpin tertingginya agar mundur.

Pihak berwenang Tiongkok, dapat diprediksi, tidak mengaitkan perubahan kebijakan dengan luapan kemarahan nasional yang dipicu oleh kebakaran mematikan minggu lalu di Urumqi, ibu kota provinsi Xinjiang barat jauh, di mana beberapa bagian wilayah tersebut telah dikunci selama lebih dari tiga bulan. Postingan online di media sosial di negara itu dan penduduk Tiongkok menyalahkan pembatasan COVID-19 yang ketat atas setidaknya 10 kematian, dengan mengatakan bahwa pembatasan tersebut menghambat pelarian dari gedung apartemen bertingkat tinggi yang terbakar dan menunda upaya penyelamatan, sebuah tuduhan yang dibantah oleh pejabat setempat.

Sementara pergantian resmi yang langka dari rezim Tiongkok disambut baik di antara penduduk yang lelah dengan lockdown, para pengamat telah membunyikan alarm bahwa negara itu tidak diperlengkapi untuk menangani efek dari perubahan kebijakan secara mendadak. 

Sistem rumah sakit Tiongkok tidak siap menghadapi potensi lonjakan infeksi setelah pembalikan mendadak kebijakan nol-COVID, menurut para ahli medis. Selama pandemi COVID-19, pihak berwenang berfokus pada pemberantasan infeksi melalui penguncian seketika dan penelusuran kontak erat serta mengerahkan sumber daya untuk membangun fasilitas karantina dan bilik pengujian, alih-alih memperluas bangsal dan tempat tidur perawatan intensif.

Ketika penduduk mulai berbondong-bondong ke rumah sakit, media pemerintah dan pakar kesehatan sekarang berusaha meyakinkan publik bahwa orang-orang dengan kasus COVID-19 ringan dapat pulih di rumah – setelah tiga tahun pesan resmi yang mengatakan bahwa virus itu berbahaya dan mematikan.

Sedikit Persiapan

Pada akhir pekan pertama setelah pelonggaran kontrol COVID-19, jalanan sebagian besar tetap sepi di Beijing, dan beberapa bisnis tetap tutup. Sebaliknya, antrean panjang terlihat di luar apotek.

Di luar klinik demam yang berafiliasi dengan rumah sakit, puluhan orang mengantre berjam-jam di tengah angin dingin untuk menemui dokter atau mendapatkan obat flu atau demam yang telah habis stoknya di beberapa apotek, demikian menurut media pemerintah dan penduduk.

“Ada begitu banyak orang [yang menunggu di luar rumah sakit] sehingga saya tidak bisa melihat ujungnya sepintas,” kata seorang pria yang menunggu selama empat jam di luar Rumah Sakit Umum Penerbangan Sipil di distrik Chaoyang Beijing pada 8 Desember.

Pasien, yang berbicara melalui telepon kepada The Epoch Times dengan syarat anonim karena takut akan pembalasan, mengatakan dia akhirnya menyerah dan mengobati sendiri di rumah untuk suhu tinggi dan nyeri pada tubuhnya.

Seorang dokter di rumah sakit lain di Beijing, Rumah Sakit Chaoyang, mengatakan fasilitas tersebut sudah ” benar-benar kekurangan staf” karena banyak perawat dan dokter yang terkena COVID-19. Rumah sakit lain di kota itu menghadapi situasi yang sama, kata dokter, yang hanya memberikan nama keluarganya, Song, kepada The Epoch Times.

Pusat Darurat di Beijing, sebuah badan resmi yang menangani panggilan ambulans, mendesak orang-orang dengan gejala COVID-19 ringan atau tanpa gejala COVID-19 agar tidak memanggil ambulans, untuk menghemat sumber daya medis bagi mereka yang benar-benar membutuhkannya.

Panggilan ke layanan darurat melonjak menjadi lebih dari 30.000 panggilan per hari dari rata-rata biasanya sekitar 5.000, menurut Chen Zhi, kepala dokter di Pusat Darurat Beijing.

“Dengan peningkatan besar dalam jumlah panggilan, sumber daya saat ini untuk menjawab panggilan darurat dan mengirim ambulans sangat ketat, menyebabkan beberapa pasien yang kritis mengalami kesulitan ketika menelepon 120 untuk mendapatkan pertolongan darurat,” kata Chen seperti dikutip dalam laporan 11 Desember oleh Beijing Daily, media yang didukung pemerintah.

Secara resmi, jumlah kasus COVID-19 Tiongkok menurun sejak pelonggaran pemeriksaan massal wajib. Komisi Kesehatan Nasional mencatat 7.679 infeksi baru pada 13 Desember, jauh lebih rendah dari lebih dari 10.000 infeksi yang dilaporkan akhir pekan lalu.

Namun, jumlah infeksi yang sebenarnya mungkin beberapa kali lebih tinggi dari penghitungan resmi, menurut penduduk dan para ahli, mengingat bahwa lebih banyak orang sekarang membeli alat pengujian antigen untuk dites di rumah dan juga sejarah rezim yang mengecilkan informasi tentang wabah.

Zhong Nanshan, seorang ahli epidemiologi Tiongkok terkemuka, mengatakan kepada media pemerintah bahwa virus yang lazim di Tiongkok adalah varian virus corona Omicron yang sangat menular, di mana satu orang yang terinfeksi dapat menyebar kepada sebanyak 18 orang lainnya.

“Dalam hal ini, tidak peduli seberapa kuat tindakan pencegahan dan pengendaliannya, akan sulit untuk sepenuhnya memutus rantai penularannya,” kata Zhong kepada Xinhua, kantor berita resmi Tiongkok.

Perubahan Pesan

Media domestik sekarang meremehkan risiko varian Omicron dan melukiskannya sebagai virus mirip flu. Dalam wawancara yang sama diterbitkan pada 10 Desember, Zhong, yang sebelumnya menegaskan kembali pentingnya menegakkan pembatasan COVID-19, mengatakan 99 persen orang yang sekarang terinfeksi virus akan pulih dalam tujuh hingga 10 hari.

Pernyataan itu menandai perubahan pesan resmi.

Zhang Wenhong, direktur Pusat Nasional Penyakit Menular, dikutip oleh otoritas Shanghai yang mengatakan bahwa Omicron bukan hanya “flu besar” dan  tidak ada dasar ilmiah untuk melihat varian tersebut hanya dapat menyebabkan influenza parah.

“Tanpa sumber daya medis yang memadai, Omicron akan menggigit,” kata Zhang pada saat itu.

Menggemakan narasi resmi, selebritas Tiongkok, seperti pendiri raksasa e-commerce JD.com Richard Liu, mulai berbagi di platform media sosial bagaimana mereka pulih dari COVID-19. Komentar seperti itu jarang terjadi di internet yang dikontrol ketat di Tiongkok selama tiga tahun terakhir.

“Dari pengalaman saya sendiri, itu [gejala COVID-19] memang lebih ringan daripada flu,” kata Liu dalam sebuah video di Weibo, platform mirip Twitter.

Liu mendesak masyarakat untuk tidak panik dan menyarankan agar mereka yang menunjukkan gejala ringan mencari nasihat medis secara online, sehingga menghemat sumber daya rumah sakit untuk pasien yang lebih sakit.

‘Tes Paling Parah’

Menurut Sean Lin Xiaoxu, yang bertugas di Angkatan Darat A.S. sebagai ahli mikrobiologi, waktu pembatalan kebijakan nol-COVID oleh rezim  tidaklah ideal.

Musim dingin adalah musim puncak untuk penyakit pernapasan, dan rumah sakit sudah akan menghadapi lonjakan pasien. Setidaknya 3 juta orang dirawat di rumah sakit karena influenza di Tiongkok setiap tahun, demikian menurut Lin.

“Penyebaran Omicron semakin memperumit seluruh situasi, yang dapat menyebabkan tekanan pada sistem perawatan kesehatan,” ujar Lin, yang berbasis di Amerika Serikat, mengatakan kepada The Epoch Times.

Dia mencatat bahwa pembatasan nol-COVID yang keras di Tiongkok tidak dapat menghentikan varian Omicron dari penyebaran tetapi menunda pengobatan dan perawatan untuk penyakit rutin. Ketika rezim tersebut semakin dekat dengan pembukaan kembali, Lin memperkirakan bahwa pasien non-COVID akan berbondong-bondong kembali ke rumah sakit, yang semakin membebani sistem medis.

Untuk melegitimasi kebijakan kerasnya, media resmi rezim melukiskan varian Omicron sebagai berbahaya. Lin mengatakan propaganda itu menyebabkan ketakutan akan COVID-19 di kalangan masyarakat, menambah risiko bahwa rumah sakit akan kewalahan ke depannya.

Gordon Chang, penulis dan rekan senior Gatestone Institute, mengatakan komitmen pihak berwenang terhadap kebijakan nol-COVID telah memengaruhi kemampuan untuk memperluas kapasitas tempat tidur perawatan intensif dan sumber daya medis lainnya.

“Penekanan pada isolasi membuat pemerintah pusat Tiongkok kehilangan sumber daya untuk membangun, antara lain, ICU dan tempat tidur rumah sakit umum. Pemerintah memang membangun – dan tampaknya masih membangun – fasilitas karantina besar-besaran, seperti lokasi 250.000 tempat tidur di Guangzhou,” katanya dalam komentar 10 Desember di situs web 19fortyfive.

Rezim  enggan menyiapkan rencana B jika pendekatan isolasinya gagal, tulis Chang, meskipun kebijakan nol-COVID itu sendiri “jelas tidak berkelanjutan.”

Pakar Tiongkok memandang wabah yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dihadapi negara itu sekarang sebagai salah satu “ujian paling berat yang pernah dialami rezim komunis.” Tetapi PKT “tidak memiliki siapa pun untuk disalahkan atas kesulitan yang mengancam rezimnya.”

“Sejak awal pandemi, PKT menjadikan pengendalian penyakit sebagai ujian legitimasinya, membanggakan bahwa kemampuannya untuk menangani virus corona adalah bukti keunggulan komunisme Tiongkok atas demokrasi secara umum dan demokrasi Amerika pada khususnya,” ungkapnya. (asr)

Fasilitas Kesehatan Beijing Kolaps Mengancam Orang-orang yang Terinfeksi, Ribuan Pasien Kanker Tak Memiliki Akses ke Kemoterapi

0

Zheng Gusheng/Lin Qing

 Partai Komunis Tiongkok (PKT) secara tiba-tiba mengubah kebijakan pencegahan epidemi dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya, sebagian besar tanpa persiapan. Para pejabat Beijing dengan cepat “berbalik arah” yang menyebabkan fasilitas medis kolaps, kesulitan dalam mengakses perawatan medis bagi mereka yang terinfeksi parah dan ancaman terhadap nyawa pasien sakit kritis lainnya.

Dikutip NTD, Rabu (14/12/2022) jumlah orang yang terinfeksi di Beijing meningkat dengan cepat, dan sistem perawatan kesehatan kelebihan beban dengan sejumlah besar tenaga kesehatan yang juga terinfeksi. Pihak berwenang telah meningkatkan jumlah klinik demam secara signifikan, tetapi masih ada antrean panjang orang-orang yang mencari pengobatan. Banyak netizen lokal melaporkan antrian berjam-jam untuk klinik demam, dengan beberapa orang mengantri dari siang hari hingga dini hari untuk masuk ke rumah sakit.

Menurut Radio Free Asia, nomor panggilan darurat 120  juga kolaps. Seorang netizen mengatakan bahwa seorang lansia di keluarganya sakit parah, tetapi antrian untuk panggilan 120 melebihi urutan 4000. Seorang operator 120 di Beijing mengatakan kepada wartawan tanpa ragu-ragu bahwa ada lebih dari 40 orang yang menunggu ambulans pada saat panggilan telepon.  Jika mereka terinfeksi, mereka dapat pergi sendiri ke rumah sakit, mereka tidak harus menunggu ambulans, yang tidak akan tiba selama enam jam.

Keruntuhan perawatan kesehatan tak hanya berdampak kepada pasien sakit parah yang terinfeksi, tetapi pasien sakit kritis lainnya juga berada dalam ambang bahaya.

Media Tiongkok dan Hong Kong mengutip seorang anggota keluarga pasien kanker paru-paru  mengatakan bahwa hanya sembilan rumah sakit di Beijing yang masih bisa membuat janji untuk kemoterapi, sementara sebagian besar rumah sakit lainnya telah menutup departemen onkologi mereka dan hanya merawat pasien yang disebut “sakit kritis”. Seorang relawan dari kelompok kanker mengungkapkan bahwa ribuan pasien kanker di Beijing  tidak dapat menerima kemoterapi karena merebaknya wabah.

Selain Beijing, kota Shijiazhuang di Hebei dan Harbin di Heilongjiang juga dilaporkan berisiko bagi pasien kanker paru-paru dan pasien glomerulonefritis. Pasalnya, mereka juga mengalami kesulitan mencari perawatan medis.

Saat ini Partai Komunis Tiongkok ambruk di banyak tempat dalam memerangi pandemi, para pejabat telah melakukan semua yang mereka bisa untuk mempromosikan gagasan bahwa “virus itu tak menakutkan” dan  kasus-kasus yang dicurigai penyakit serius serta kematian menjadi hal tabu untuk dilaporkan. Beberapa media di daratan hanya  melaporkan situasi berbahaya dari orang-orang yang tidak terinfeksi dengan penyakit serius.

Namun, menurut berita yang beredar di internet, meskipun tingkat keparahan dan  kematian strain Omicron relatif rendah, peningkatan penularan yang cepat dan runtuhnya sistem medis juga akan membunuh banyak orang yang terinfeksi, terutama orang lansia dengan kondisi medis berisiko, dan sejumlah besar kematian telah terjadi.

Menurut berbagai laporan di internet,   pemakaman di Beijing sudah mulai kelebihan beban. Baru-baru ini, rilis obituari untuk para pensiunan lansia di situs web Universitas Tsinghua telah menarik perhatian luas.

Pemodelan dari para dokter dan kelompok media yang beredar di Internet menunjukkan bahwa, berdasarkan tingkat kematian Omicron di Hong Kong, secara kasar dapat dihitung bahwa setidaknya 30.000 orang yang terinfeksi akan meninggal dunia di Beijing. Mengingat tingkat polusi udara yang tinggi di sejumlah tempat seperti Beijing, tingkat vaksinasi yang efektif lebih rendah daripada di Hong Kong. Tingkat kematian di Beijing hanya akan lebih tinggi ketika pihak berwenang “ambruk sepenuhnya”.

Baru-baru ini, menurut berita dari kelompok medis, tiga anak dari Shijingshan, Tangshan dan Yanjiao meninggal dunia di Rumah Sakit Anak Beijing,  setelah menderita demam tinggi. Mereka masing-masing berusia 13 tahun, 8 tahun dan 2,5 tahun. Mereka awalnya sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit bawaan.

Selain itu, seorang wanita berusia 32 tahun meninggal dunia karena terus menerus mengalami demam tinggi  di Kota Nanchong, Provinsi Sichuan.