‘Avatar: Fire and Ash’ : Masih Formula Lama, Tapi Tetap Memukau

0

Kalau pun publik berharap James Cameron melahirkan karya orisinal baru, seri “Avatar” sudah seperti trilogi “Lord of the Rings”—lanjutkan saja kisah berikutnya.

Durasi | 3 jam 17 menit | Fantasi, Aksi | 2025

Setelah duduk selama 3 jam 17 menit menyaksikan seri terbaru “Avatar”, satu hal jelas: film senilai 400 juta dolar AS ini benar-benar memberikan tontonan sepadan dengan harganya. Meski “Avatar: Fire and Ash” tidak menuai pujian seluas dua pendahulunya, film ini tetap satu paket utuh —difilmkan beriringan dengan “Avatar: The Way of Water” (2022).


Kembali ke Pandora

“Fire and Ash” melanjutkan kisah mantan marinir Jake Sully (Sam Worthington) yang kini berpihak pada suku Na’vi berkulit biru setinggi tiga meter, penghuni bulan Pandora di sistem bintang Alpha Centauri, sekitar 4,37 tahun cahaya dari Bumi. Mereka terus melawan Sawtute—“Manusia Langit”—kolonis manusia rakus dari Bumi yang merampok sumber daya.

Neytiri (Zoe Saldaña), istri Jake Sully, dalam misi balas dendam di “Avatar: Fire and Ash.” 20th Century Studios

Kelompok ini dipimpin oleh Kolonel Marinir Miles Quaritch (Stephen Lang), yang secara teknologi “dihidupkan kembali” sebagai avatar Na’vi, dan menjabat Kepala Operasi Keamanan (SecOps) RDA di Pandora.

Quaritch dan Sully sama-sama mengklaim peran ayah bagi Spider (Jack Champion), seorang bocah manusia yang dibesarkan Na’vi namun harus memakai masker untuk bernapas di atmosfer Pandora yang beracun. Keduanya berebut melindungi dan membentuk masa depan bocah ini.

Kolonel Marinir Miles Quaritch (Stephen Lang) mengenakan cat perang Mangkwan, dalam “Avatar: Fire and Ash.” 20th Century Studios

Dari Biru, Hijau, Kini Merah-Putih

Varang (Oona Chaplain), pemimpin klan Mangkwan, dalam “Avatar: Fire and Ash.” 20th Century Studios

Na’vi asli berkulit biru. Film kedua memperkenalkan Metkayina, kerabat akuatik berkulit pirus yang tinggal di terumbu—matriarknya disuarakan Kate Winslet.

Sesuai judulnya, kini hadir varian Na’vi baru: merah untuk api, putih untuk abu—klan Mangkwan, penghuni wilayah vulkanik. Mereka dipimpin Varang, antagonis perempuan karismatik sekaligus mematikan (diperankan dan disuarakan melalui motion capture oleh Oona Chaplin, cucu Charlie Chaplin). Varang tampil ramping namun berlekuk, menggoda sekaligus mengerikan—penjahat yang sulit dilupakan.

Sully, yang masih menyimpan senjata sisa pertempuran terakhir dengan RDA—yang menewaskan putra sulungnya—menantang pasifisme spiritual Na’vi. Ia mendorong perlawanan terhadap keserakahan kapitalistik dan perusakan lingkungan oleh “kulit merah muda” (manusia). Cameron tampak terang-terangan mengusung narasi ras “kulit putih jahat”.

Putri angkat Sully, Kiri (Sigourney Weaver), yang bisa berkomunikasi dengan dewi Pandora, Eywa, memfasilitasi transformasi genetik yang memungkinkan Spider bernapas tanpa masker. Lahir dari tubuh avatar yang mati otak lewat peristiwa misterius—praktis “kelahiran perawan” oleh Eywa—Kiri kembali menghidupkan pola “Anak Terpilih”.

Anak angkat Jake Sully, Kiri (Sigourney Weaver), dalam “Avatar: Fire and Ash.” 20th Century Studios

Ya, di semua film “Avatar”, penonton perlu sedikit memejamkan mata dan bergumam “la-la-la” saat pseudo-sainsnya mulai menguji nalar.

Siapa yang akhirnya berhak memanggil Spider sebagai anak? Apakah Lo‘ak (Britain Dalton), putra bungsu Sully, akan membuktikan diri dan meraih pengakuan ayahnya? Dan akankah Tulkun—makhluk raksasa mirip paus—akhirnya membalas perburuan brutal ala kapal pemburu berteknologi tinggi yang bergaya Jepang? Jika itu terjadi, Anda pasti ingin menyaksikannya.

Tonton “Fire and Ash” di IMAX dan 3D jika bisa—di sanalah keajaiban Avatar benar-benar hidup. Tiga setengah jam film ini terasa berlalu dengan cepat.

Jake Sully bersama Toruk Makto yang legendaris, predator udara puncak yang ia jinakkan dalam film Avatar pertama, dalam “Avatar: Fire and Ash.” 20th Century Studios

Lalu, Apa Selanjutnya?

Kebaruan dunia Pandora memang mulai terasa menipis—maklum, ini sudah sekuel bertumpuk. Tapi Cameron jelas belum mau turun gas. Dua film “Avatar” lagi sudah antre di depan mata. Dan jujur saja, siapa yang bisa menyalahkannya? Walau tidak lagi penuh kejutan, “Avatar” tetap memanjakan mata dan efektif mengaduk emosi penonton. Satu hal yang terasa benar-benar baru: Pandora kini bukan sekadar dunia indah, tapi sudah berubah jadi “ladang senjata hidup”—di mana tumbuhan dan hewannya bisa dijadikan alat serang dan pertahanan.

Seorang anggota dari “Wind Traders” (Klan Tlalim, kelompok Na’vi nomaden yang berkeliling langit Pandora dengan kapal udara besar), dalam “Avatar: Fire and Ash.” 20th Century Studios

Apakah Cameron akan menghabiskan sisa kariernya di satu waralaba? Sangat mungkin. Tapi kalau ia memilih menutup hidupnya sambil terus membangun dunia Pandora, itu justru terdengar seperti akhir yang pantas bagi seorang maestro. Dan jika dua seri berikutnya sampai batal, penyebabnya hampir pasti bukan karena penonton bosan—melainkan karena ongkos produksinya yang makin menggila.

“Fire and Ash” mungkin menutup satu bab cerita, tapi sama sekali bukan titik akhir “Avatar”. Rasanya seperti “Lord of the Rings” dulu—tidak ada yang keberatan kalau kisahnya terus diperpanjang.

Poster promosi untuk “Avatar: Fire and Ash.” 20th Century Studios

‘Avatar: Fire and Ash’
Sutradara: James Cameron
Pemeran: Sam Worthington, Zoe Saldaña, Stephen Lang, Sigourney Weaver, Oona Chaplin
Rating MPAA: PG-13
Durasi: 3 jam 17 menit
Rilis: 19 Desember 2025
Nilai: 4 dari 5 bintang

Kisah Inspiratif: Tak Seorang pun Bisa Menggantikan Hidupmu

EtIndonesia. Suatu hari, ketika saya membawa para siswa berkunjung ke Caterham School di Inggris, seorang siswa saya pergi bermain ke pantai bersama seorang anak dari sekolah tersebut. Tak disangka, mereka terjebak gelombang besar.

Dalam sekejap, tempat yang mereka pijak berubah menjadi sebuah pulau kecil terisolasi. Menghadapi air laut yang mengamuk dan angin kencang, kedua anak itu diliputi ketakutan yang mendalam. Namun mereka sama-sama menyadari satu hal: jika tidak menyelamatkan diri, cepat atau lambat air laut akan menelan pulau berbahaya itu.

Anak dari Tiongkok segera terpikir untuk menelpon minta pertolongan, tetapi tak lama kemudian dia menyadari bahwa ponselnya sudah tidak ada sinyal. Sementara itu, anak Inggris bertindak berbeda—dia mencari dua batang kayu.

Setelah sekitar setengah jam, kondisi laut mulai sedikit mereda. Anak Inggris mengamati dengan cermat dan memperkirakan bahwa jarak dari pulau kecil itu ke daratan membutuhkan sekitar 10 menit berenang. Dia kemudian melepaskan pakaiannya, merobeknya, dan membuat dua tali, lalu mengikatkan tubuhnya dengan kuat ke batang kayu tersebut. Dia juga membantu mengikatkan kayu itu pada tubuh anak dari Tiongkok.

Jarak yang seharusnya hanya 10 menit berubah menjadi perjuangan hidup dan mati. Dihantam sisa ombak, keduanya berkali-kali tersedak air laut. Anak Inggris hampir kehabisan napas. Ketika dia menoleh ke temannya, anak dari Tiongkok sudah tidak sadarkan diri. Dia pun mendekat dengan susah payah dan mendorong tubuh temannya sambil terus berenang maju.

Setelah hampir tiga puluh menit, mereka akhirnya mencapai pantai. Anak Inggris yang sudah kelelahan memberikan napas buatan kepada anak Tiongkok, lalu mencari tim penyelamat yang telah tiba. Keduanya segera dibawa ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa mereka hanya mengalami beberapa luka ringan.

Ketika anak Tiongkok itu siuman, saya bertanya kepadanya:  “Apakah kamu tahu mengapa dia bisa menyelamatkan diri, sementara kamu hanya bisa menunggu untuk diselamatkan?”

Dia menggelengkan kepala.

Saya berkata pelan namun tegas : “Itu karena kamu terbiasa dibantu. Sedangkan dalam pemikiran anak Inggris itu, segala sesuatu harus diusahakan sendiri. Karena hidupmu adalah milikmu—kamu itu unik, dan tak seorang pun bisa menggantikanmu.”

Pesan Kehidupan

Mengandalkan bantuan orang lain mungkin terasa aman, tetapi bertanggung jawab atas hidup sendiri adalah kekuatan sejati.

Karena pada saat paling genting dalam hidup, tak ada siapa pun yang bisa menggantikanmu untuk bertahan dan melangkah.(jhn/yn)

Grand Mercure Malang Mirama Hadirkan Dua Konsep Seru dalam Perayaan Malam Tahun Baru 2026

0

Malang – Grand Mercure Malang Mirama kembali membuktikan diri sebagai trendsetter perayaan akhir tahun di kawasan Malang Raya dengan menyajikan dua konsep berbeda dalam satu malam pergantian tahun. Acara yang digelar serentak di Grand Ballroom dan Sky Lounge lantai 19 ini berlangsung meriah sejak pukul 18.00 hingga tengah malam.

Mengusung tema “Fur & Fiction (2F)” di Grand Ballroom dan “Antartic” di Sky Lounge, acara ini berhasil menarik minat berbagai kalangan usia, dari anak-anak hingga dewasa. Pengunjung dapat menikmati berbagai hiburan, termasuk penampilan dari Jingga Production, Emdy Dance, Brewok Magician, Marching Band Ekalavya Suara Brawijaya, serta beragam games seru yang dipandu oleh MC Titi & Abi.

Sugito Adhi, Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama & Mercure Surabaya Grand Mirama, menjelaskan bahwa konsep tahun ini tidak hanya fokus pada kemeriahan, tetapi juga mengusung nilai literasi. “Kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda, di mana acara tidak hanya tentang hiburan, tetapi juga tentang makna yang lebih dalam,” ujarnya.

Para tamu dimanjakan dengan sajian buffet beragam di Grand Ballroom dan menu khusus di Sky Lounge, lengkap dengan suasana dingin yang menghadirkan pengalaman unik layaknya di Antartika. Spot foto Celebrity Box yang kembali hadir menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen.

Tak ketinggalan, berbagai hadiah menarik dibagikan sepanjang malam, termasuk 1 unit sepeda motor, 1 unit sepeda listrik, 1 malam menginap gratis di kamar Penthouse, serta berbagai peralatan elektronik. Puncak acara diakhiri dengan pemandangan kembang api yang menyala di beberapa titik Kota Malang, dinikmati langsung dari ketinggian Sky Lounge.

Grand Mercure Malang Mirama terus berinovasi dalam menyajikan pengalaman tak terlupakan bagi tamu, sekaligus memperkuat posisinya sebagai destinasi utama perayaan akhir tahun di Malang.

“Mirama Games Land” Sukses Gelar Perayaan Tahun Baru 2026 dengan Konsep Interaktif untuk Semua Generasi

0

Surabaya, – Mercure Surabaya Grand Mirama berhasil menghadirkan pengalaman tahun baru yang berbeda melalui acara bertajuk “Mirama Games Land” pada malam pergantian tahun 2025 menuju 2026. Dengan mengusung konsep hiburan interaktif berbasis permainan, acara ini berhasil menarik minat berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa, untuk merayakan momen spesial bersama keluarga dan kerabat.

Grand Ballroom hotel tersebut disulap menjadi arena permainan modern yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas canggih seperti PlayStation 5 (PS5), Virtual Reality (VR), Nintendo Switch, serta permainan klasik seperti mesin capit boneka dan gacha. Tak hanya bermain, tamu juga dimanjakan dengan hidangan istimewa berupa buffet internasional yang menampilkan menu spesial seperti Roasted Lamb Carcas dan Beef Wellington.

Acara semakin meriah dengan rangkaian hiburan langsung dari panggung, seperti penampilan live band oleh Hi Music Entertainment, aksi panggung ULALA Dancer, atraksi sulap jalanan oleh Viko & Friend Entertainment, serta penampilan penutup dari DJ Henry yang memeriahkan malam hingga hitungan detik terakhir menuju 2026. Salah satu momen kejutan yang paling disorot adalah flashmob yang dilakukan oleh staf hotel, yang disambut antusias oleh para tamu.

Puncak acara terjadi pada sesi countdown pergantian tahun, dilanjutkan dengan pengundian Grand Prize Nintendo Switch yang semakin meningkatkan kegembiraan para pengunjung.

Dalam pernyataannya, Sugito Adhi selaku Cluster General Manager Mercure Surabaya Grand Mirama dan Grand Mercure Malang Mirama mengungkapkan, “Melalui Mirama Games Land, kami ingin memberikan ruang bagi tamu untuk melepas penat sambil menciptakan kenangan bersama keluarga. Antusiasme ini akan mendorong kami untuk terus menghadirkan konsep perayaan yang inovatif.”

Acara ini juga menjadi penutup rangkaian kegiatan Mercure Surabaya Grand Mirama sepanjang 2025, sekaligus memperkuat komitmen hotel dalam menyediakan pengalaman yang kreatif dan berkesan bagi tamu. Hotel ini juga telah menyiapkan berbagai promo menarik sepanjang Januari 2026, termasuk penawaran spesial untuk perayaan Imlek dan Ramadan.

KPPU Akhiri 2025 dengan Tegas, Raih Denda Rp 698,5 Miliar dan Kejar Kartel Fintech

JAKARTA – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menutup tahun 2025 dengan catatan penegakan hukum yang lebih tegas, menegaskan perannya sebagai garda depan dalam menjaga iklim usaha yang sehat. Sepanjang tahun, lembaga antimonopoli ini telah menjatuhkan 13 putusan dengan total denda mencapai Rp 698,5 miliar.

Ketua KPPU M. Fanshurullah Asa menegaskan, penguatan sumber daya manusia menjadi pilar utama efektivitas penegakan hukum. Dalam situasi pasar yang dinamis, KPPU mengingatkan bahwa target pertumbuhan ekonomi 8% mustahil tercapai tanpa peningkatan Indeks Persaingan Usaha Nasional dari 4,95 menuju 6,33.

“Penegakan hukum persaingan bukan hanya untuk memberikan efek jera, tetapi untuk menciptakan fondasi pasar yang adil, yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” tegas Asa.

Sanksi Besar dan Perkara Strategis

Dari total putusan, sanksi tertinggi sebesar Rp 449 miliar dijatuhkan dalam perkara dugaan integrasi vertikal dan penguasaan pasar oleh perusahaan truk Sany pada Agustus lalu. KPPU juga memberikan sanksan signifikan kepada raksasa teknologi, yakni Rp 202,5 miliar untuk Google (Januari 2025) dan Rp 15 miliar kepada TikTok Nusantara akibat keterlambatan notifikasi akuisisi Tokopedia (September 2025).

Kasus lain yang menyita perhatian adalah persekongkolan tender proyek air bersih di Lombok Utara dengan denda Rp 12 miliar. Namun, tantangan terbesar KPPU di tahun ini adalah menangani kasus dugaan kartel suku bunga pinjaman daring yang melibatkan 97 platform fintech dengan nilai pasar mencapai Rp 1.650 triliun. Sidang perdana yang dimulai Agustus 2025 ini menjadi ujian serius kemampuan KPPU merespons disrupsi ekonomi digital.

Kontribusi Keuangan Negara dan Pengawasan Merger

Penegakan hukum KPPU turut berkontribusi pada penerimaan negara. Hingga akhir tahun, total piutang denda persaingan usaha telah melebihi Rp 1 triliun, dengan 75% atau sekitar Rp 862 miliar telah dibayarkan ke Kas Negara. Khusus tahun 2025, realisasi pembayaran denda mencapai Rp 55,54 miliar.

Di sisi pengawasan merger, KPPU menerima 115 notifikasi sepanjang 2025 dengan total nilai transaksi fantastis, Rp 1.093,6 triliun, terutama di sektor real estat, pertambangan, dan logistik. Akuisisi Tokopedia oleh TikTok Nusantara yang disetujui bersyarat pada Juni lalu menjadi salah satu transaksi paling menonjol.

Jaga Komoditas Strategis dan Reformasi Kelembagaan

KPPU tidak hanya aktif menindak pelanggaran, tetapi juga proaktif menjaga kepentingan publik. Lembaga ini mendalami fenomena kelangkaan BBM non-subsidi sejak Agustus 2025 dan memantau kenaikan harga beras yang konsisten di atas HET. KPPU mendorong Bulog untuk memperkuat peran stabilisasi harga demi keterjangkauan komoditas pokok.

Menutup tahun, KPPU memperkuat fondasi kelembagaan dengan melantik 394 pegawai sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Desember 2025. Ketua KPPU juga menekankan pentingnya revisi Undang-Undang No. 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat untuk memperkuat mandat lembaga.

“Dengan dukungan kerangka hukum yang kuat dan SDM yang mumpuni, KPPU berkomitmen meningkatkan kualitas penegakan hukum secara konsisten. Ini sinyal kuat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia harus berlangsung dalam koridor persaingan yang sehat dan berkeadilan,” pungkas Asa.

Transformasi kelembagaan ini diharapkan memperkuat posisi KPPU sebagai institusi yang tegas, independen, dan dipercaya publik dalam mengawal ekonomi pasar Indonesia di tahun-tahun mendatang.

Ratusan Tamu Rayakan Malam Tahun Baru dengan Sentuhan Nostalgia 90-an di Dafam Pacific Caesar Surabaya

0

Surabaya – Ratusan tamu memadati Pacific Sky Hall Dafam Pacific Caesar Surabaya dalam perayaan malam pergantian tahun yang mengangkat tema “Semarak Akhir Tahun: Wanderer Years Ahead”. Mengusung nuansa nostalgia era 90-an yang kental, acara ini berhasil menciptakan atmosfer hangat penuh kenangan sambil menyambut optimisme di tahun baru.

Bertempat di lantai 17 hotel, para tamu disuguhkan dengan gala dinner spesial yang menghadirkan beragam kuliner Nusantara. Menu unggulan malam itu mencakup Nasi Goreng Kemangi Ikan Teri, Sego Tempong, dan Brengkes Ikan Bumbu Jangkep. Pengalaman kuliner semakin interaktif dengan kehadiran live cooking station yang menyajikan Tahu Campur, Mie Tek Tek Nyemek, Sate Bakaran Suroboyo, dan Kebab Pegirian.

“Kami ingin tamu merayakan tahun baru dengan cita rasa yang akrab di lidah, namun dalam balutan suasana yang mewah,” ujar Hogi Budiarto, General Manager Dafam Pacific Caesar Surabaya.

Andry Bagus Prasetya, Food and Beverage Supervisor, menambahkan bahwa fokus acara adalah pada kualitas autentik kuliner lokal. “Respons tamu terhadap menu tradisional ini sangat luar biasa, membuktikan bahwa kuliner Nusantara tetap menjadi primadona di acara berkelas,” katanya.

Kemeriahan malam semakin lengkap dengan hiburan musik dari Barcode Band dan penampilan DJ Devie. Panitia juga membagikan puluhan doorprize berupa voucher staycation dan goodie bag menarik bagi para tamu yang hadir.

Darren Vai Celosse, salah satu tamu sekaligus pemain Pacific Caesar Basketball Club, mengungkapkan kekagumannya. “Sangat jarang menemukan acara tahun baru dengan pilihan makanan tradisional selengkap ini. Rasanya pas dinikmati sambil melihat kembang api dari lantai 17,” tuturnya.

Perayaan ini tidak hanya menjadi pesta tahun baru, tetapi juga sebuah perjalanan waktu yang penuh makna bagi seluruh tamu yang hadir, menegaskan komitmen Dafam Pacific Caesar Surabaya dalam menghadirkan pengalaman tak terlalui yang kaya akan rasa dan kenangan.

Dari Drone hingga Nuklir: Babak Tersenyap Perang Rusia–Ukraina yang Mengguncang Eropa

EtIndonesia. Ketika sebagian pengamat internasional menilai perang Rusia–Ukraina mulai bergerak menuju fase kebuntuan jangka panjang, serangkaian perkembangan justru menunjukkan arah yang jauh lebih berbahaya. Di balik garis depan, sebuah perang bayangan yang berfokus pada kemampuan serangan jarak jauh, tekanan psikologis, dan simbol ancaman nuklir tengah meningkat tajam menjelang pergantian tahun 2025.

Modal Timur Tengah Dorong Akselerasi Industri Pertahanan Ukraina

Di satu sisi, Ukraina memperoleh dorongan signifikan pada sektor militernya. Berdasarkan laporan harian Jerman Bild, raksasa industri pertahanan Uni Emirat Arab, Edge Group, berencana mengakuisisi 30 persen saham perusahaan Ukraina FirePoint dengan nilai transaksi mencapai 760 juta dolar. Kesepakatan ini diperkirakan akan difinalisasi pada akhir Desember 2025.

FirePoint dikenal sebagai salah satu bintang baru industri pertahanan Ukraina, dengan fokus utama pada pengembangan drone tempur dan sistem rudal jarak jauh. Produk unggulannya, rudal jelajah “Flamingo”, serta drone balistik FP-1 dan FP-2, telah digunakan secara nyata di medan tempur Rusia–Ukraina sepanjang 2025 dan dinilai sebagai sedikit dari sistem senjata produksi dalam negeri Ukraina yang teruji tempur dan terbukti efektif.

Masuknya modal besar dari Timur Tengah bukan sekadar kerja sama bisnis. Banyak analis menilai langkah ini sebagai pernyataan posisi geopolitik: di tengah sikap ambigu sejumlah negara, kepentingan keamanan dan potensi keuntungan industri pertahanan mulai mendorong pilihan yang lebih tegas ke arah Kyiv.

Ketegangan Diplomatik dan Kritik Standar Ganda

Menariknya, tak lama sebelum kabar investasi ini muncul, Uni Emirat Arab dan India sempat menyampaikan keberatan kepada Kyiv terkait rumor serangan drone Ukraina terhadap kediaman Presiden Rusia, Vladimir Putin. Namun rumor tersebut segera menuai tanda tanya besar karena tidak disertai bukti konkret. Ukraina secara resmi membantah, sementara pihak Rusia gagal menghadirkan verifikasi yang meyakinkan.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy kemudian menyampaikan kritik terbuka. Dia menyoroti sikap sejumlah negara yang diam terhadap pengeboman rutin Rusia atas fasilitas sipil Kyiv, namun justru membesar-besarkan kabar yang belum terverifikasi. Menurut Zelenskyy, standar ganda semacam ini mencerminkan kenyataan pahit politik internasional di tengah perang.

Rusia Tampilkan Rudal Nuklir di Belarus

Hampir bersamaan dengan dinamika tersebut, Belarus secara mengejutkan mengumumkan bahwa sistem rudal Rusia “Oreshnik” telah resmi memasuki status kesiapan tempur, disertai publikasi pertama citra penempatannya pada akhir Desember 2025.

Dalam tayangan resmi, kendaraan peluncur terlihat bermanuver di kawasan hutan yang kemudian diidentifikasi analis Barat sebagai Pangkalan Militer Keenam Krichev, Belarus timur—sekitar 5 kilometer dari perbatasan Rusia dan 180 kilometer dari Ukraina. Media Rusia menyebut sistem ini mampu membawa hulu ledak nuklir, serta ditempatkan di wilayah yang memungkinkan waktu tempuh serangan ke sasaran Eropa dipersingkat drastis, mencakup Polandia, Lituania, dan Latvia.

Putin mengklaim Oreshnik memiliki kecepatan lebih dari 10 Mach dan hampir mustahil dicegat. Namun, peneliti Amerika Serikat dengan cepat melacak lokasi tersebut melalui citra satelit, menegaskan bahwa penempatan rudal ini berada di bawah pengawasan intelijen Barat secara real time.

Lebih jauh, Presiden Belarus, Alexander Lukashenko secara tidak sengaja mengungkap bahwa jumlah sistem Oreshnik yang dikerahkan tidak akan melebihi 12 unit—sebuah pengakuan yang secara signifikan mengurangi kesan ancaman strategis berskala besar.

Banyak pakar militer Barat meragukan klaim jangkauan 5.500 kilometer yang disebut-sebut Moskow. Seorang pejabat Amerika bahkan menyatakan secara terbuka bahwa Oreshnik bukan senjata penentu perubahan medan perang, melainkan lebih menyerupai pertunjukan politik berbalut ancaman nuklir untuk menekan Barat agar menahan bantuan militer kepada Ukraina.

Tekanan Udara Rusia dan Bayang-bayang Korea Utara

Di tengah kebuntuan operasi darat dan tekanan ekonomi domestik, Rusia juga menghadapi kendala serius dalam dukungan udara dan serangan presisi. Hal ini tercermin dari pernyataan kontroversial pakar militer Rusia, Vladimir Khrustalyov, yang dilaporkan Defence Blog pada akhir Desember 2025.

Khrustalyov menyatakan Rusia secara realistis dapat menyewa pesawat serang Su-25 era Soviet dari Korea Utara untuk digunakan di Ukraina. Pernyataan ini muncul setelah parade peringatan 80 tahun Angkatan Udara Korea Utara, di mana Su-25 Pyongyang terlihat membawa rudal berprofil kotak yang dinilai mirip rudal jelajah Taurus buatan Jerman–Swedia.

Jika klaim tersebut benar, langkah ini akan menjadi pengakuan tersirat atas tekanan besar yang dialami Rusia dalam hal ketersediaan pesawat tempur dan amunisi berpemandu presisi.

Serangan Drone Ukraina Guncang Moskow

Sementara itu, Ukraina meningkatkan tekanan langsung ke jantung Rusia. Pada malam 30–31 Desember 2025, drone Ukraina menyerang wilayah Ramenskoye, tenggara Moskow. Sebuah gardu listrik besar dilaporkan terkena serangan, disertai ledakan beruntun.

Pemadaman listrik berskala luas terjadi di Ramenskoye, Lytkarino, dan Zhukovsky, dengan hampir satu juta penduduk terdampak. Meski otoritas Rusia mengklaim semua drone berhasil dicegat dan kerusakan disebabkan puing-puing, rekaman lapangan menunjukkan iring-iringan generator darurat dikerahkan ke berbagai sudut Moskow, menandakan pemulihan tidak berlangsung cepat.

Sepanjang 2025, frekuensi pemadaman listrik dan penutupan sementara bandara di Moskow tercatat melampaui total beberapa tahun sebelumnya, memperkuat kesan meningkatnya kerentanan infrastruktur ibu kota.

Kampanye Energi: Kilang dan Depot Minyak Jadi Sasaran

Tekanan Ukraina berlanjut ke sektor energi Rusia. Pada malam 31 Desember 2025, lembaga intelijen independen Astro melaporkan serangan drone ke Kota Tuapse di pesisir Laut Hitam. Kilang minyak Tuapse, dengan kapasitas lebih dari 12 juta ton per tahun, mengalami kebakaran hebat setelah unit AVT-12—jantung proses penyulingan—terbakar dan meledak berulang kali.

Hampir bersamaan, depot minyak Kopayevo di Oblast Yaroslavl, sekitar 282 kilometer dari Moskow, juga diserang. Api berkobar hingga fajar, dengan bola api besar terlihat dari pinggiran kota. Serangan ini menegaskan bahwa sasaran Ukraina kini tidak lagi terbatas pada wilayah perbatasan, melainkan mulai merambah ke pusat wilayah Rusia.

Analisis menunjukkan pola yang semakin jelas: Ukraina melakukan serangan rutin di selatan dekat Krimea, sambil memperluas jangkauan secara bertahap ke sekitar Moskow, menciptakan tekanan psikologis dan sistemik.

“Operasi Jaring” dan Perluasan Medan Perang

Tak lama sebelum akhir tahun, Dinas Keamanan Ukraina secara langka merilis ringkasan operasi 2025. Fokus utama tertuju pada rangkaian serangan berkode “Operasi Jaring”, yang diklaim berhasil melumpuhkan sejumlah pesawat pembom strategis Rusia, memaksa sebagian armada udara Moskow mundur ke pangkalan yang lebih jauh.

Laporan tersebut juga mengungkap tiga serangan terhadap Jembatan Krimea, berbagai serangan ke pelabuhan dan kilang Rusia, serta—untuk pertama kalinya—publikasi rekaman serangan terhadap anjungan minyak Rusia di laut lepas. Ini menandai perluasan signifikan medan perang ke jalur energi dan logistik strategis.

Kesimpulan

Menjelang 2026, perang Rusia–Ukraina jelas belum mendekati akhir. Sebaliknya, konflik ini memasuki fase yang lebih senyap namun jauh lebih berisiko: investasi militer lintas kawasan, demonstrasi ancaman nuklir, serangan presisi ke infrastruktur vital, dan eskalasi psikologis yang menembus jauh ke wilayah inti Rusia. Di balik kebuntuan garis depan, perang bayangan justru bergerak menuju titik yang semakin berbahaya bagi stabilitas regional dan global.

Video Malam Tahun Baru 2026, Partai Komunis Tiongkok Seperti Menghadapi Musuh Besar : Meski Dilarang! Warga Tetap Berkumpul, Menyalakan Kembang Api Langsung Dikejar Polisi 

Pada malam Tahun Baru 31 Desember 2025, Partai Komunis Tiongkok (PKT) bersikap waspada. Banyak daerah melarang kegiatan perayaan. Selain itu, mengerahkan sejumlah besar polisi bersenjata untuk siaga penuh. Namun, tetap banyak warga yang secara spontan berkumpul untuk merayakan Tahun Baru, bahkan ada yang menyalakan kembang api dan kemudian dikejar oleh polisi.

EtIndonesia. Menjelang tibanya tahun 2026, pemda di banyak daerah di daratan Tiongkok mengeluarkan pemberitahuan bahwa, dengan alasan “keadaan kahar” dan faktor lainnya, perayaan hitung mundur Tahun Baru 2026 di lokasi-lokasi besar dibatalkan. Meski demikian, pada malam pergantian tahun, di berbagai tempat tetap terlihat warga dalam jumlah besar berkumpul secara spontan untuk menyambut Tahun Baru.

Sejumlah video menunjukkan, di kawasan InTime Mall Hubin, Hangzhou, meskipun otoritas mengerahkan banyak polisi dan menerapkan penjagaan ketat di seluruh kota, pusat perbelanjaan tersebut menutup layar besar hitung mundur. Stasiun MRT Longxiangqiao di dekat Hubin InTime Mall juga ditutup dan dihentikan sementara pelayanannya.

Namun demikian, banyak warga tetap berkumpul secara spontan di lokasi tersebut untuk merayakan Tahun Baru. 

Seorang pemuda yang merekam video di InTime Mall menunjukkan bahwa polisi Hangzhou berjaga seperti menghadapi musuh besar, berdiri membentuk barikade manusia di jalan dan siaga penuh. Akan tetapi, mereka tampak tidak berdaya menghadapi para pemuda yang menyambut datangnya Tahun Baru.

Di lokasi, orang-orang bersama-sama menghitung mundur: “4, 3, 2, 1, Selamat Tahun Baru!” Pemuda tersebut bahkan sengaja menjadikan barisan polisi sebagai latar belakang dalam videonya.

Netizen daratan Tiongkok (tangkapan layar)

Dalam video tersebut, banyak warganet daratan Tiongkok meninggalkan komentar bernada sindiran terhadap otoritas PKT, seperti “suasana Tahun Baru yang luar biasa” dan “benar-benar pemandangan yang memalukan”.

Video-video terkait juga beredar di platform X. Seorang warganet berkomentar:  “Perayaan Tahun Baru yang aneh di akhir era Xi ini akan selamanya tercatat dalam sejarah.”

Di Qingdao, Provinsi Shandong, pemerintah setempat juga menerapkan pengendalian ketat terhadap kegiatan malam Tahun Baru. Sepanjang 1,7 kilometer garis pantai kawasan wisata Shilaoren dipasangi pagar, penjagaan dilakukan setiap beberapa langkah, dan di setiap pos pemeriksaan polisi melakukan pemeriksaan badan. 

Pada malam Tahun Baru, 31 Desember 2025, sejumlah besar petugas polisi bersenjata dikerahkan di Qingdao, Provinsi Shandong, untuk pengamanan. (Gambar dari internet)



Pada malam Tahun Baru, 31 Desember 2025, sejumlah besar petugas polisi bersenjata dikerahkan di Qingdao, Provinsi Shandong, untuk pengamanan. (Gambar dari internet)
Pada malam Tahun Baru, 31 Desember 2025, sejumlah besar petugas polisi bersenjata dikerahkan di Qingdao, Provinsi Shandong, untuk pengamanan. (Gambar dari internet)



Bahkan polisi bersenjata khusus dikerahkan untuk berpatroli. Meski demikian, banyak warga tetap berkumpul secara spontan di Lapangan 4 Mei, bersama-sama menghitung mundur, melepaskan balon, dan merayakan datangnya Tahun Baru.

Di platform X, sejumlah warganet mengkritik:  “Ini sampai mengerahkan pasukan? Tentara seharusnya untuk menghadapi musuh luar, kok malah digunakan ke dalam negeri? Benar-benar keterlaluan!”

“Pergantian tahun tidak diisi kembang api, tapi diawali pengerahan aparat; pantai seperti garis depan, warga seperti tersangka. Keamanan bergantung pada pagar, kegembiraan bergantung pada izin. Inilah yang disebut ‘stabilitas mengatasi segalanya’.”

“Mengapa mereka begitu takut warga berkumpul? Setiap hari raya, para aparat selalu bersikap seolah menghadapi musuh besar.”

“Apakah otoritas khawatir perayaan Tahun Baru akan langsung berubah menjadi aksi protes atau bahkan kerusuhan?”

“Apa yang disebut negara paling aman di dunia, demi ‘keamanan negara’ justru mencegah rakyat merayakan Tahun Baru. Bisa dimengerti.”

“PKT takut rakyat berkumpul dalam bentuk apa pun.”

“Natal tidak boleh dirayakan, Tahun Baru juga tidak boleh dirayakan. Kalau begitu, tunggu saja saat ‘kaisar’ (Xi Jinping) meninggal, baru kita rayakan bersama.”

Tangkapan layar

Ada pula video yang menunjukkan bahwa pada malam Tahun Baru, sejumlah anak muda mengabaikan larangan otoritas dan menyalakan kembang api untuk merayakan, namun kemudian dikejar oleh polisi, dan beberapa orang dibawa pergi.

Sebagian warganet di platform X menyatakan dukungan terhadap aksi perlawanan kaum muda Tiongkok:  “Anak muda harus punya sikap anak muda. Menghadapi pembatasan yang tidak masuk akal, harus melawan!”

Tangkapan layar

oleh reporter Luo Tingting / Wen Hui

AS Jatuhkan Sanksi ke 4 Perusahaan Tiongkok serta 4  Kapal Tanker Minyak Terkait dengan Industri Minyak Venezuela

EtIndonesia. Pemerintahan Presiden Donald Trump di Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap ekspor minyak Venezuela dengan menjatuhkan sanksi kepada sejumlah perusahaan yang berbasis di Hong Kong dan daratan Tiongkok, serta kapal-kapal tanker yang dituduh membantu menghindari pembatasan sanksi.

Menurut laporan Bloomberg News, Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri Departemen Keuangan AS (Office of Foreign Assets Control/OFAC) pada Rabu (31 Desember) memasukkan empat perusahaan yang terlibat dalam industri minyak Venezuela ke dalam daftar Specially Designated Nationals and Blocked Persons (SDN). 

Perusahaan-perusahaan tersebut meliputi Corniola Ltd. yang berkantor pusat di Provinsi Zhejiang, serta Aries Global Investment Ltd., Krape Myrtle Co., dan Winky International Ltd. yang berbasis di Hong Kong.

Pada saat yang sama, OFAC juga menjatuhkan sanksi terhadap empat kapal yang terkait dengan perusahaan-perusahaan tersebut, yaitu Della, Nord Star, Rosalind, dan Valiant.

Amerika Serikat sebelumnya telah memasukkan kapal dan perusahaan yang terlibat dalam perdagangan minyak Venezuela ke dalam daftar sanksi. Namun, menjadikan perusahaan Tiongkok yang beroperasi di wilayah tersebut sebagai target sanksi tergolong jarang, dan langkah ini dinilai sebagai sinyal kepada Beijing agar menghindari keterlibatan dalam konfrontasi antara pemerintahan Trump dan rezim Nicolás Maduro. Tiongkok merupakan pembeli terbesar minyak Venezuela, sementara ekspor minyak menyumbang sekitar 95% dari pendapatan negara tersebut.

 “Kapal-kapal ini, yang sebagian merupakan bagian dari armada bayangan yang melayani Venezuela, terus menyediakan pendanaan yang menopang rezim narkoterorisme ilegal Maduro. Rezim Maduro semakin bergantung pada armada bayangan yang tersebar di seluruh dunia untuk membantu melakukan aktivitas yang dapat dikenai sanksi, termasuk menghindari sanksi dan menciptakan pendapatan bagi tindakan-tindakannya yang bersifat destabilisasi,” demikian Departemen Keuangan AS  dalam sebuah pernyataan. 

Menurut laporan Reuters, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan:  “Presiden Trump telah menegaskan sikapnya: kami tidak akan membiarkan rezim ilegal Maduro memperoleh keuntungan dari ekspor minyak, sambil pada saat yang sama membiarkan narkoba mematikan mengalir masuk ke Amerika Serikat.”

Maduro dan pemerintahannya dengan tegas membantah keterlibatan dalam aktivitas kriminal apa pun, serta menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang mendorong perubahan rezim demi menguasai cadangan minyak Venezuela yang sangat besar.

Berdasarkan data pelacakan kapal, dari kapal-kapal yang disebutkan Departemen Keuangan AS pada 31 Desember, hanya satu kapal yang baru-baru ini terdeteksi mendekati Venezuela, yaitu Rosalind, yang biasanya melakukan pelayaran jarak pendek yang dikenal sebagai pelayaran pesisir. Namun, kapal-kapal lainnya juga kemungkinan berlayar tanpa mengirimkan sinyal transponder. (Hui)

Dikutip dari CNA / Editor Lu Yongxin

Iran Bergolak di Awal 2026: Protes Nasional Memasuki Hari Kelima, Tantang Langsung Sistem Teokrasi

EtIndonesia. Gelombang gerakan anti-pemerintah berskala nasional di Iran resmi memasuki hari kelima pada Rabu, 1 Januari 2026, dengan skala dan intensitas yang terus meningkat. Aksi protes yang semula dipicu oleh krisis ekonomi kini berkembang menjadi gerakan politik terbuka yang secara langsung menantang fondasi sistem teokrasi Republik Islam Iran.

Hingga awal Tahun Baru 2026, demonstrasi dilaporkan telah meluas ke lebih dari 50 kota di berbagai provinsi. Para pengamat menilai situasi ini sebagai salah satu tantangan paling serius terhadap kekuasaan ulama sejak Revolusi Islam 1979.

Krisis Ekonomi Jadi Pemicu Awal

Akar gelombang protes ini bermula dari krisis nilai tukar rial Iran yang anjlok tajam dalam waktu sangat singkat. Dalam kurun dua hari terakhir Desember 2025, nilai tukar merosot dari 1 dolar AS = 1,38 juta rial menjadi sekitar 1,44 juta rial.

Sebagai negara yang sangat bergantung pada devisa impor, kejatuhan mata uang ini membuat aktivitas perdagangan lumpuh. Banyak pedagang melaporkan bahwa mereka tidak lagi mampu menentukan harga, bahkan terpaksa menutup toko.

Menariknya, demonstrasi awal dipimpin oleh kalangan pebisnis dan pedagang, sebuah fenomena yang relatif jarang terjadi di Iran. Hal ini menandakan bahwa krisis telah menghantam kelas menengah dan kelompok ekonomi mapan, sehingga mengubah struktur ketidakpuasan publik secara mendasar.

Dari Protes Ekonomi ke Seruan Ganti Rezim

Dalam waktu singkat, tuntutan ekonomi bertransformasi menjadi seruan politik radikal. Di berbagai kota, massa terdengar meneriakkan slogan seperti:

  • “Tumbangkan diktator”
  • “Khamenei mati”
  • “Hidup Raja”

Nama Ali Khamenei secara terbuka diserang, sementara dukungan terhadap Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran, semakin lantang disuarakan di ruang publik.

Penyerbuan Kantor Gubernur dan Retaknya Aparat

Pada 1 Januari 2026, eskalasi signifikan terjadi di Kota Fasa, Iran selatan. Massa demonstran menyerbu kantor gubernur dan berhasil masuk secara paksa. Dalam peristiwa ini, Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan menolak perintah untuk melepaskan tembakan.

Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan pengunjuk rasa merebut perisai dan perlengkapan keamanan dari aparat, sebuah simbol kuat bahwa otoritas negara mulai kehilangan kendali di sejumlah wilayah.

Bentrok di Kota Suci Qom dan Wilayah Strategis

Ketegangan juga merambah Qom, kota suci yang selama ini dianggap sebagai jantung ideologis kekuasaan teokrasi Iran. Bentrokan jalanan dilaporkan pecah di beberapa titik.

Sementara itu, di Provinsi Hamadan, Fars, dan Khuzestan, sejumlah basis Garda Revolusi, markas milisi Basij, serta wilayah yang dikuasai rezim Islam diklaim telah direbut oleh demonstran. Di Marvdasht, pasukan keamanan terlihat mundur, sementara massa terus bergerak maju.

Perempuan di Garis Depan

Salah satu ciri paling mencolok dari gelombang protes kali ini adalah peran sentral kaum perempuan Iran. Banyak perempuan berdiri di garis depan, memimpin yel-yel “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan”.

Di sejumlah lokasi, perempuan secara terbuka melepaskan jubah hitam Islam di tempat umum. Gerakan ini turut diikuti oleh mahasiswa, sopir truk, perawat, dan serikat guru, membentuk aliansi lintas profesi yang luas.

Para demonstran juga menargetkan kamera pengawas milik pemerintah, yang dihancurkan sebagai simbol perlawanan terhadap sistem pengawasan negara.

Kecaman terhadap Kebijakan Luar Negeri

Slogan-slogan terbaru tak lagi hanya menyasar kepemimpinan domestik, tetapi juga kebijakan luar negeri Iran. Massa mengecam aliran dana dan sumber daya ke Suriah, Lebanon, Yaman, dan Gaza, sementara rakyat Iran sendiri terperosok dalam kemiskinan dan inflasi ekstrem.

Respons Pemerintah: Lunak di Permukaan, Keras di Lapangan

Berbeda dari pola sebelumnya, media pemerintah dan media pro-rezim belum langsung melabeli demonstran sebagai perusuh.

Presiden Masoud Pezeshkian mengakui bahwa rakyat memiliki hak untuk memprotes kenaikan harga. Dia memerintahkan Kementerian Dalam Negeri membuka dialog dengan perwakilan demonstran. Gubernur bank sentral pun berjanji mengendalikan inflasi dan merombak sistem perbankan.

Namun di sisi lain, sejak 31 Desember 2025, pemerintah menutup sekolah, kantor, dan pasar di 26 provinsi selama empat hari. Alasan resmi adalah penghematan energi dan gelombang dingin, tetapi publik menilai langkah ini sebagai upaya meredam momentum protes.

Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei juga menunjuk Ahmad Vahidi, tokoh garis keras yang dikenal dalam penindasan internal dan tercatat sebagai buronan Interpol, sebagai wakil komandan Garda Revolusi.

Kekerasan, Penyamaran, dan Retaknya Barisan

Di berbagai wilayah dilaporkan terjadi penembakan dengan peluru tajam, penangkapan massal, serta operasi pasukan khusus yang menyamar sebagai warga sipil untuk memprovokasi kerusuhan dan menjebak demonstran.

Meski demikian, aparat keamanan disebut kekurangan personel dan tidak mampu mengendalikan banyak kota secara bersamaan. Di beberapa daerah, polisi dan militer memilih mundur, bahkan muncul laporan sejumlah ulama melepas jubah dan meninggalkan kota demi keselamatan.

Rencana Transisi dari Reza Pahlavi

Dari pengasingan selama 46 tahun, Reza Pahlavi meluncurkan rencana pemulihan Iran pasca-rezim. Dia mengusulkan masa transisi darurat 3–6 bulan untuk menjaga pasokan air, listrik, dan energi, serta menyiapkan program kebangkitan nasional.

Arah masa depan Iran, menurutnya, akan ditentukan melalui referendum nasional. Dia juga menjanjikan amnesti bagi aparat keamanan dan pejabat tingkat bawah. Disebutkan bahwa puluhan ribu anggota militer dan polisi telah diam-diam menyatakan dukungan, menjadi faktor utama keraguan pasukan di lapangan.

Tekanan Internasional dan Peran Amerika Serikat

Dalam konflik Israel–Iran tahun sebelumnya, Israel dilaporkan mengerahkan sekitar 200 jet tempur untuk menyerang markas komando Garda Revolusi, menewaskan perwira tinggi dan melumpuhkan sistem komando militer Iran. Tekanan ini diperkuat oleh manuver diplomatik Amerika Serikat.

Presiden AS, Donald Trump menilai kebutuhan paling mendesak rakyat Iran adalah kebebasan informasi. AS dilaporkan membantu warga Iran menembus blokade internet, memungkinkan video protes menyebar luas.

Trump secara terbuka mengecam penembakan warga sipil Iran, menyebut situasi ini sebagai “momen Tiananmen”, yang justru mendongkrak semangat demonstran. Dia menegaskan tidak ingin terlibat perang berkepanjangan, namun tidak menyesalkan jika rezim teokrasi anti-Amerika runtuh oleh gelombang rakyatnya sendiri.

Reaksi Global dan Retaknya Aliansi Otoriter

Seorang akademisi ilmu politik AS, Schatz, menyoroti ironi global: kelompok yang selama dua tahun lantang mengutuk Israel di berbagai kota Barat kini menghilang saat perempuan Iran dipukuli, dipenjara, bahkan dibunuh. Menurutnya, krisis Iran membuka wajah asli aktivisme ideologis yang selektif.

Dukungan terhadap rakyat Iran kini menggema hingga Jerman, Amerika Serikat, Arab Saudi, Prancis, Kanada, dan Inggris. Seorang warganet Arab menyatakan solidaritas penuh dan menyerukan kebebasan bagi Iran.

Sementara itu, Tiongkok dan Rusia—yang selama ini dipandang bersama Iran sebagai “segitiga besi” penyeimbang Barat—memilih diam. Beijing fokus pada kepentingan energi dan Jalur Sutra, sedangkan Moskow tersedot penuh oleh perang di Ukraina.

Awal Bab Baru Iran?

Dengan cetak biru pasca-Khamenei dari Reza Pahlavi, tekanan militer Israel, serta gelombang rakyat yang kian berani, banyak pengamat menilai awal Tahun Baru 2026 bisa menjadi titik balik sejarah Iran.

Apakah ini benar-benar fajar baru bagi Iran, atau justru awal dari konfrontasi yang lebih keras, kini menjadi pertanyaan besar yang jawabannya sedang ditulis di jalanan kota-kota Iran.

Aksi Protes Menyebar di Seluruh Iran, Para Demonstran Menyerbu Berbagai Gedung Pemerintah

EtIndonesia. Pada 31 Desember 2025, aksi protes nasional di Iran telah memasuki hari keempat dan terus meluas. Di sejumlah wilayah, warga berupaya menyerbu gedung-gedung pemerintah, dan bentrokan antara pasukan keamanan dan massa terjadi di berbagai tempat. Pemerintah Iran dalam sebuah pernyataan langka menyatakan kesediaannya untuk berdialog dengan masyarakat.

Kota Fasa, yang terletak di wilayah tengah-selatan Iran, menjadi pusat aksi protes. Video yang disiarkan media pemerintah Iran menunjukkan bahwa pada 31 Desember, massa demonstran mencoba menyerbu kantor gubernur setempat, serta membakar dan melempari gedung pemerintahan daerah dengan batu.

Kantor berita semi-resmi Tasnim mengutip pernyataan pejabat setempat yang menyebutkan bahwa empat demonstran telah ditangkap, termasuk seorang perempuan berusia 28 tahun yang disebut-sebut sebagai pemimpin aksi protes. Laporan tersebut menyatakan tiga polisi mengalami luka-luka, dan membantah adanya korban jiwa.

Aksi protes juga meluas ke lingkungan universitas. Pada 30 Desember, ratusan mahasiswa menggelar demonstrasi di empat universitas di Teheran.

Pada hari yang sama, seorang perempuan Yahudi keturunan Iran menulis di media sosial X:
“Malam ini, kota Hamedan di Iran berada dalam kekacauan, orang-orang ditembaki dengan peluru.”

Dalam video yang beredar, terdengar suara tembakan.

Di dunia maya juga beredar banyak video perempuan muda Iran dengan berani melepas kerudung sebagai bentuk perlawanan. Dalam video-video tersebut, mereka membuat gerakan meminta pertolongan lalu melepaskan kerudung mereka.

Di Iran, perempuan yang tidak mengenakan kerudung di tempat umum dianggap melanggar hukum dan dapat dipenjara.

Pada 30 Desember, para demonstran turun ke jalan-jalan di Teheran dan wilayah sekitar ibu kota. Sebuah video memperlihatkan para demonstran meneriakkan nama Raja Pahlavi, yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979.

Ada pula warga yang menyerukan agar Putra Mahkota Dinasti Pahlavi, Reza Pahlavi, yang saat ini hidup di pengasingan di Amerika Serikat, memimpin Iran menuju negara yang baru dan bebas. Putra Mahkota tersebut menyerukan rakyat Iran untuk bergabung dalam aksi protes dan pemogokan nasional.

Pemicu utama aksi protes nasional ini adalah persoalan kenaikan harga. Sejak Amerika Serikat kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran pada 2018, negara tersebut terjerumus ke dalam kesulitan ekonomi. 

Sepanjang tahun 2025, nilai tukar mata uang Iran, rial, terhadap dolar AS telah terdepresiasi hampir setengahnya, yang menyebabkan harga pangan melonjak tajam. Tingkat inflasi pada bulan Desember mencapai 42,5%.

Pemerintah Iran menyatakan bersedia membangun sebuah “mekanisme dialog” dengan para pemimpin aksi protes, namun belum menjelaskan bagaimana mekanisme tersebut akan dijalankan. Presiden Masoud Pezeshkian pada Senin malam menyatakan di media sosial bahwa ia telah meminta Menteri Dalam Negeri untuk mendengarkan “tuntutan yang sah” dari para demonstran.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah berkali-kali dilanda aksi protes nasional yang dipicu oleh masalah harga, kekeringan, hak-hak perempuan, dan kebebasan politik. Sebelumnya, pemerintah selalu menanggapi protes-protes tersebut dengan tindakan represif. (Hui)

Liu Mingxiang

Satu Kesalahan, Akhir Peradaban: Bahaya Nuklir yang Tak Pernah Dibahas Media

EtIndonesia. Jika membuka berita internasional saat ini, banyak orang mungkin beranggapan bahwa krisis nuklir dunia hanya bersumber dari satu tokoh: Vladimir Putin. Setiap kali Presiden Rusia itu melontarkan pernyataan bernada ancaman nuklir, Eropa pun seketika menahan napas.

Namun, bahaya terbesar sebenarnya bukan terletak pada ancaman yang paling keras terdengar, melainkan pada satu kesalahan penilaian—sebuah salah tafsir yang bisa terjadi dalam hitungan menit, memaksa keputusan fatal diambil tanpa sempat dikoreksi. Dalam konteks senjata nuklir modern, satu kekeliruan saja dapat menyeret dunia ke jurang kehancuran yang tak bisa dipulihkan.

Rusia Menempatkan Senjata Hipersonik Nuklir di Belarus

Pada 30 Desember 2025, Rusia merilis sebuah video resmi yang mengonfirmasi bahwa sistem rudal hipersonik yang mampu membawa hulu ledak nuklir telah resmi beroperasi di wilayah Belarus.

Penempatan senjata ini memiliki implikasi strategis yang sangat serius. Dari wilayah Belarus, rudal tersebut dapat menjangkau hampir seluruh kawasan Eropa hanya dalam hitungan menit. Belarus sendiri berbatasan langsung dengan Ukraina dan berada sangat dekat dengan Polandia, Lituania, serta Latvia—semuanya merupakan anggota NATO.

Pesan yang ingin disampaikan Moskow dan Minsk sangat jelas: dalam kondisi ekstrem, Rusia kini memiliki kemampuan untuk menyerang target Eropa dengan waktu reaksi yang jauh lebih singkat, sehingga mempersempit ruang pengambilan keputusan bagi pihak lawan.

Sikap Donald Trump Berubah Tajam dalam 24 Jam

Hampir bersamaan dengan pengumuman Rusia tersebut, terjadi perubahan sikap yang mencolok dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Moskow.

Pada 29 Desember 2025, Rusia mengklaim bahwa sebuah serangan drone Ukraina telah menargetkan kediaman Presiden Putin. Menanggapi klaim itu, Trump sempat mengkritik Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dengan menyebut waktu serangan tersebut “sangat tidak tepat”.

Namun, hanya 24 jam kemudian, sikap Trump berbalik arah secara drastis.

Pada 30 Desember 2025, Trump membagikan sebuah editorial dari New York Post melalui media sosial pribadinya. Artikel tersebut secara tegas menyebut bahwa Rusia telah mengarang narasi serangan terhadap Putin, dan justru menunjukkan bahwa Moskow adalah penghalang utama bagi tercapainya perdamaian.

Editorial itu menggunakan bahasa yang sangat keras, menggambarkan pertemuan Trump dan Zelenskyy berlangsung dengan suasana hati-hati namun optimistis, sementara Putin digambarkan memilih jalan kebohongan, kebencian, dan kematian.

Intelijen AS dan Terbongkarnya Narasi Rusia

Perubahan sikap Trump ini diyakini kuat berkaitan dengan pengarahan intelijen Amerika Serikat yang dia terima setelah pernyataannya sehari sebelumnya.

Menurut informasi tersebut, target serangan drone Ukraina bukanlah kediaman Putin, bahkan bukan di sekitar lokasi kediaman tersebut. Sasaran sebenarnya adalah sebuah fasilitas militer di kawasan yang sama—dan target itu telah beberapa kali diserang sebelumnya oleh Ukraina.

Dengan kata lain, klaim Rusia tentang “serangan terhadap pemimpin negara” dinilai sebagai narasi simbolik yang sengaja dibangun untuk menaikkan eskalasi politik dan psikologis.

Pola Lama Moskow: Narasi Provokasi dan Tekanan Nuklir

Jika kedua rangkaian peristiwa ini disatukan—penempatan senjata hipersonik nuklir dan klaim serangan terhadap Putin—muncullah pola klasik Rusia yang sudah berulang kali terlihat.

Saat tekanan diplomatik dan militer meningkat secara bersamaan:

  • Di satu sisi, digunakan narasi simbolik seperti “pemimpin negara diserang” untuk membingkai konflik sebagai provokasi ekstrem.
  • Di sisi lain, ancaman nuklir dinaikkan, baik secara eksplisit maupun implisit.

Langkah ini tidak serta-merta berarti Rusia akan menggunakan senjata nuklir. Namun, yang jelas, strategi tersebut menaikkan biaya kesalahan tafsir. Begitu satu pihak salah membaca sinyal sebagai ancaman nyata, reaksi militer bisa dipercepat secara paksa—dan di situlah bahaya terbesar mengintai.

Ancaman Nuklir Sesungguhnya: Salah Tafsir Sistem Peringatan Dini

Dalam konteks inilah peringatan dari Dunbar Call, peneliti senior di Program Keamanan Global Amerika Serikat, menjadi sangat relevan.

Dalam analisis terbarunya, Dunbar Call menegaskan bahwa krisis nuklir paling berbahaya di masa depan kemungkinan besar tidak akan terjadi di depan kamera, saat para pemimpin dunia berpidato. Bahaya sesungguhnya justru muncul di balik layar—pada tahap sistem peringatan dini.

Dia menekankan bahwa meskipun negara-negara pemilik senjata nuklir umumnya sepakat keputusan akhir penggunaan nuklir tidak boleh diserahkan kepada kecerdasan buatan (AI), ada satu aspek lain yang sama pentingnya: sistem peringatan serangan nuklir juga tidak boleh didominasi oleh AI.

Kesalahan interpretasi dalam hitungan menit dapat berujung pada kehancuran global.

Pelajaran 1983: Keputusan Manusia Menyelamatkan Dunia

Sebagai contoh, Dunbar Call mengingatkan kembali pada peristiwa tahun 1983, di puncak Perang Dingin. Saat itu, sistem peringatan nuklir Uni Soviet secara keliru mendeteksi bahwa Amerika Serikat telah meluncurkan serangan nuklir.

Dunia nyaris memasuki perang nuklir global—jika bukan karena keputusan seorang petugas jaga bernama Stanislav Petrov. Dengan ketenangan dan penilaian manusia, Petrov menyimpulkan bahwa alarm tersebut hanyalah kesalahan sistem, dan memilih tidak meneruskan peringatan tersebut ke tingkat komando tertinggi.

Keputusan satu orang itu menyelamatkan dunia.

Garis Merah Nuklir di Era AI

Dunbar Call menyerukan agar Departemen Pertahanan AS menetapkan garis merah yang sangat tegas dalam penggunaan AI di sektor nuklir, meskipun militer AS tengah gencar mendorong pemanfaatan teknologi tersebut di berbagai bidang lainnya.

Dengan semakin singkatnya waktu reaksi senjata nuklir modern—misalnya rudal balistik antarbenua yang dapat mencapai target dalam waktu sekitar 30 menit—para pengambil keputusan hanya memiliki beberapa menit untuk menilai apakah sebuah peringatan adalah serangan nyata atau kesalahan sistem.

Dalam kondisi seperti itu, satu kesalahan tafsir saja sudah cukup untuk menimbulkan konsekuensi yang tidak akan pernah bisa diperbaiki.

Rial Jadi Kertas Bekas, Jalanan Jadi Medan Perang: Iran Memanas di Persimpangan 2026

EtIndonesia. Situasi di berbagai kota Iran dalam beberapa hari terakhir digambarkan bak letusan gunung berapi. Gelombang protes nasional yang dipicu krisis ekonomi akut kini telah memasuki hari keempat, menyebar cepat dari pusat ibu kota ke lebih dari 30 kota di seluruh negeri. Api kecil yang awalnya menyala di Bazaar Besar Teheran kini menjalar menjadi kebakaran sosial berskala nasional.

Akar Masalah: Krisis Ekonomi yang Tak Tertahankan

Gelombang kemarahan publik ini berakar pada kemerosotan ekonomi yang sangat parah. Sepanjang 2025, mata uang Iran, rial, terjun bebas. Puncaknya terjadi pada 29 Desember 2025, ketika nilai tukar mencapai rekor terendah sepanjang sejarah: 1 dolar AS = 1,4 juta rial Iran.

Untuk menggambarkan besarnya kejatuhan ini, perbandingan lintas waktu menjadi sangat mencolok:

  • 1978 (akhir Dinasti Pahlavi): 1 dolar AS ≈ 70 rial
  • 2015: 1 dolar AS ≈ 30.000 rial
  • 2025: 1 dolar AS ≈ 1.400.000 rial

Artinya, nilai mata uang Iran telah terdepresiasi lebih dari 20.000 kali lipat. Tabungan seumur hidup rakyat dapat berubah nyaris tak bernilai dalam waktu singkat. Banyak pengamat menyebut situasi ini bukan sekadar inflasi, melainkan kehancuran ekonomi sistemik.

Dampaknya terasa di kehidupan sehari-hari. Harga bahan pangan melonjak hingga 72% dalam setahun. Daging dan buah-buahan menjadi barang mewah. Sejak Desember 2024, harga bensin meroket, membuat masyarakat kelas menengah ke bawah semakin terhimpit. Tak hanya buruh dan pegawai, pedagang pun terpukul: biaya membuka toko kini lebih mahal daripada menutupnya, memaksa banyak usaha gulung tikar.

Di tengah keputusasaan, muncul kalimat yang kini menjadi slogan jalanan: “Ketika mata uang runtuh, kebohongan pun ikut runtuh.”

Tudingan Publik terhadap Rezim

Selama puluhan tahun, rezim di Teheran dituding mengalirkan sumber daya negara ke konflik regional—mulai dari Suriah, Lebanon, Yaman, hingga Gaza—serta mendukung kelompok bersenjata seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi. Di mata rakyat, kebijakan ini dilakukan saat mereka sendiri bergulat dengan kemiskinan dan masa depan yang kian gelap.

Pemicu Langsung: Bazaar Besar Teheran

Ledakan protes dipicu pada 28 Desember 2025 di Bazaar Besar Teheran, jantung ekonomi Iran. Ribuan pedagang menutup toko dan turun ke jalan, memprotes runtuhnya nilai tukar dan melonjaknya biaya hidup. Rekaman video menunjukkan massa meneriakkan “Javid Shah”—“Hidup Sang Raja!”

Seruan ini dianggap sangat mengguncang. Protes tak lagi berhenti pada isu ekonomi, melainkan berubah menjadi tantangan politik terbuka terhadap rezim teokrasi, dengan seruan agar monarki Pahlavi kembali dipertimbangkan.

Latar Sejarah: Dari Revolusi 1979 hingga Kini

Untuk memahami kemarahan hari ini, publik menengok 1979—tahun tumbangnya Dinasti Pahlavi yang sekuler dan modern. Saat itu, Shah memilih pengasingan demi menghindari pertumpahan darah. Namun, pemerintahan baru di bawah Ayatollah Khomeini justru mendirikan rezim teokrasi keras.

Empat puluh enam tahun kemudian, Iran berubah dari “permata Teluk Persia” menjadi negara terisolasi, ekonominya tertekan sanksi internasional. 

Sejarah seolah berputar: dulu rakyat meneriakkan anti-monarki, kini—setelah puluhan tahun di bawah kekuasaan ulama—sebagian justru memanggil kembali monarki.

Penyebaran Cepat ke Seluruh Negeri

  • 28 Desember malam: Protes merembet ke kawasan permukiman; remaja dan perempuan ikut bergabung.
  • 29 Desember: Kerusuhan pecah di Isfahan dan Hamadan; aparat dipukul mundur. Buruh minyak di Ahvaz melakukan mogok, diikuti sektor energi lain.
  • 30 Desember: Lebih dari 30 kota terlibat. Mahasiswa, buruh, pedagang, hingga pensiunan turun ke jalan. Perempuan memimpin barisan dengan slogan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan.”
  • 31 Desember: Hari keempat protes. Aksi di Bazaar Besar Teheran berlanjut; pemogokan nasional meluas ke sopir truk, perawat, dan guru.

Di media sosial beredar pesan memilukan dari seorang remaja: “Saya merekam ini dalam ketakutan. Tolong sebarkan. Biarkan dunia tahu bahwa kami tidak menginginkan rezim ini.”

Respons Pemerintah dan Tuduhan Provokasi

Pemerintah merespons dengan penindasan keras. Di sejumlah daerah, terekam pasukan berpakaian sipil merusak toko dan restoran—dituding sebagai upaya menyalahkan demonstran dan membingkai protes sebagai kerusuhan. Banyak warga menilai pola ini mengingatkan pada Tragedi Tiananmen 1989.

Namun kali ini, ponsel dan media sosial menjadi saksi. Video menyebar luas, mematahkan narasi resmi.

Korban Jiwa dan Eskalasi

Pada 31 Desember 2025, laporan menyebutkan lebih dari 1.500 orang tewas akibat penembakan aparat. Internet diputus di berbagai wilayah, penangkapan massal dilakukan. Meski demikian, di beberapa kota—termasuk Fasa—dilaporkan aparat mundur dan gedung pemerintahan setempat sempat dikuasai demonstran.

Peran Tokoh dan Faktor Eksternal

Putra Mahkota di pengasingan, Reza Pahlavi, merespons seruan publik. Pada Oktober 2025, dia meluncurkan “Cetak Biru Politik untuk Merebut Kembali Iran”, menegaskan bahwa bentuk negara—republik atau monarki konstitusional—akan ditentukan lewat referendum nasional. Dia juga menjanjikan amnesti bagi aparat yang berpihak pada rakyat.

Di sisi eksternal, konflik Israel–Iran pada Juni 2025 disebut melemahkan Garda Revolusi Iran. Serangan udara Israel, dengan dukungan AS, menargetkan fasilitas strategis dan memperlihatkan rapuhnya sistem komando militer Iran. Amerika Serikat menyoroti isu kebebasan informasi dan membantu rakyat Iran menembus pemblokiran internet. Presiden Donald Trump secara terbuka mengecam penembakan demonstran, menyebutnya sebagai “Tiananmen versi Iran.”

Sementara itu, Tiongkok dan Rusia cenderung diam—sebuah sikap yang dipahami banyak analis sebagai kalkulasi kepentingan dan penghindaran risiko.

Di Persimpangan 2026: Titik Balik Sejarah?

Banyak pihak menyebut rangkaian peristiwa ini sebagai “pertarungan terakhir Iran.” Sebuah era sering kali berakhir sunyi, namun penutupnya menggelegar. Ketika dunia memasuki tahun 2026—diawali oleh Kiribati, disusul Selandia Baru dan Australia—pertanyaan besarnya tetap menggantung: apakah fajar baru Iran benar-benar akan terbit di awal 2026?

Kisah Inspiratif: Dari Mana Datangnya Martabat

EtIndonesia. Sebagian orang memahami “martabat” sebagai kondisi di mana mereka bisa mengurus segala hal tanpa perlu meminta tolong siapa pun—justru orang lainlah yang harus datang memohon. Ke mana pun pergi diperlakukan bak VIP. Menurut saya, itu bukan martabat, melainkan hak istimewa.

Tahun lalu, saat bepergian ke Qinghai Lake, saya menyewa mobil dan berkenalan dengan seorang sopir. Dia hanya lulusan sekolah dasar, tetapi setiap hari selalu tampil rapi dengan setelan jas. Dia selalu tiba sepuluh menit lebih awal, sarung jok mobil diganti setiap hari, dan di dalam mobil tersedia tempat sampah, air mineral, tisu basah, serta selimut tipis untuk penumpang yang ingin tidur.

Dia membawa kamera DSLR miliknya sendiri. Diam-diam dia memotret tamu saat sedang menikmati pemandangan—biasanya dari belakang atau dari kejauhan. Saat berpisah, foto-foto itu dia serahkan sebagai kenang-kenangan.

Saya juga pernah bertemu seorang tukang kayu saat memesan furnitur. Usahanya besar, tetapi cara kerjanya sangat lambat—karena teliti. Meski dua barang yang saya pesan tidaklah mahal, dia datang sendiri untuk mengukur, hanya demi memastikan, “Warna wallpaper rumah Anda seperti apa? Apakah jenis kayu ini cocok?”

Saat pengantaran, dia pun datang sendiri bersama pegawainya, cemas jika penempatannya kurang pas. Bahkan ketika posisi furnitur yang saya inginkan tidak sesuai dengan seleranya, dia terlihat gelisah. Tangannya mengusap kayu yang halus, matanya penuh kasih—seolah sedang merawat sesuatu yang bernyawa.

Selama sepuluh tahun, keluarga kami menggunakan pengasuh yang sama. Beberapa hari lalu, untuk pertama kalinya dia meminta izin cuti selama seminggu. Setelah dia pulang ke kampung, saya baru menyadari bahwa tempat sampah dapur telah dia lapisi dengan tujuh lapis kantong plastik—rapi, bersih, dan penuh perhatian.

Saya sungguh jatuh cinta pada setiap orang yang mencurahkan seluruh dirinya pada pekerjaan yang dia lakukan—entah itu menulis kode, membuat furnitur, menyetir mobil, atau menyapu jalan.

Bukan demi pujian siapa pun. Bukan untuk terlihat hebat. Melainkan karena dirinya sendiri adalah alasan terbesar.

Tidak asal-asalan. Tidak setengah hati. Tidak kabur dan tidak menghindar.

Dia memperlakukan apa yang sedang dia kerjakan sebagai titik perjumpaan dirinya dengan dunia—tempat dia bernapas dan memberi makna.

Di sanalah martabat berasal.(jhn/yn)