Penjara Brooklyn: “Neraka di Bumi” Tempat Maduro dari Venezuela Ditahan

EtIndonesia. Penjara Brooklyn yang menahan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro adalah fasilitas yang begitu bermasalah, beberapa hakim menolak untuk mengirim orang ke sana meskipun pernah menampung narapidana terkenal seperti bintang musik R Kelly dan Sean “Diddy” Combs.

Dibuka pada awal tahun 1990-an, Metropolitan Detention Center, atau MDC Brooklyn, saat ini menampung sekitar 1.300 narapidana.

Ini adalah tempat penahanan rutin bagi orang-orang yang menunggu persidangan di pengadilan federal di Manhattan dan Brooklyn, menahan terduga gangster dan pengedar narkoba bersama beberapa orang yang dituduh melakukan kejahatan kerah putih.

Sekumpulan ekspatriat Venezuela, banyak yang mengenakan bendera, berkumpul di trotoar di luar penjara pada Sabtu malam untuk merayakan penangkapan Maduro. Kerumunan bersorak ketika iring-iringan kendaraan penegak hukum yang diyakini membawa pemimpin yang digulingkan dan istrinya tiba di penjara.

Maduro bukanlah presiden pertama suatu negara yang dipenjara di sana.

Juan Orlando Hernández, mantan presiden Honduras, dipenjara di MDC Brooklyn saat diadili karena menyelundupkan ratusan ton kokain ke AS. Setelah dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 45 tahun penjara, Hernández diampuni dan dibebaskan oleh Presiden Donald Trump pada bulan Desember.

Para tahanan saat ini termasuk salah satu pendiri kartel narkoba Sinaloa Meksiko, Ismael “El Mayo” Zambada Garcia, dan Luigi Mangione, yang dituduh membunuh CEO UnitedHealthcare. Mantan tahanan termasuk taipan kripto Sam Bankman-Fried dan rekan lama Jeffrey Epstein, Ghislaine Maxwell.

Terletak di sebelah pusat perbelanjaan di kawasan industri tepi laut dan dalam jarak pandang Patung Liberty, penjara ini digambarkan, dalam kondisi terburuknya, sebagai “neraka di bumi” dan “tragedi yang terus berlanjut.”

Para tahanan dan pengacara mereka telah lama mengeluhkan kekerasan yang merajalela. Dua narapidana tewas dibunuh oleh narapidana lain pada tahun 2024, dan para pekerja penjara telah didakwa menerima suap atau menyediakan barang selundupan.

Selama musim dingin tahun 2019, pemadaman listrik membuat fasilitas dan para narapidananya berada dalam kegelapan yang dingin selama seminggu.

Namun, baru-baru ini, Biro Penjara federal mengatakan telah berupaya untuk memperbaiki kondisi.

Fasilitas tersebut menambah staf pemasyarakatan dan medis, memperbaiki lebih dari 700 permintaan pemeliharaan yang tertunda dan menjawab kekhawatiran para hakim. Perbaikan juga dilakukan pada saluran listrik dan pipa, layanan makanan, serta sistem pemanas dan pendingin udara.

Selain peningkatan fisik, otoritas federal telah berupaya untuk memberantas kejahatan di dalam penjara. Maret lalu, 23 narapidana didakwa dengan berbagai pelanggaran, mulai dari penyelundupan senjata dalam kantong Doritos hingga penusukan seorang pria yang dihukum karena pembunuhan legenda hip-hop Jam Master Jay.

“Singkatnya, MDC Brooklyn aman bagi para narapidana dan staf,” kata Biro Penjara pada bulan September. Jumlah narapidana juga menurun dari 1.580 pada Januari 2024, yang menurut laporan tersebut, menyebabkan “penurunan substansial” dalam kejahatan dan penyelundupan.

Di sana, Maduro kemungkinan akan melihat beberapa wajah yang familiar jika dia diizinkan keluar dari tempat isolasi tempat dia akan ditempatkan awalnya.

Salah satunya adalah terdakwa bersama Hugo Carvajal, mantan kepala intelijen Venezuela yang memisahkan diri dari Maduro pada tahun 2019 dan telah mengindikasikan bahwa dia ingin bekerja sama dengan otoritas AS.

Ada juga Anderson Zambrano-Pacheco, yang diduga anggota geng Tren de Aragua Venezuela yang ditangkap tahun lalu di New York atas tuduhan kepemilikan senjata api. Zambrano-Pacheco termasuk di antara mereka yang tertangkap dalam video keamanan yang meneror warga di kompleks apartemen di pinggiran Kota Denver, sebuah insiden yang dimanfaatkan Trump selama kampanye presidennya.

MDC telah menuai lebih banyak sorotan sejak tahun 2021, ketika Biro Penjara menutup penjara Kota New York lainnya — Metropolitan Correctional Center — setelah bunuh diri Jeffrey Epstein di sana menyoroti keamanan yang longgar, infrastruktur yang runtuh, dan kondisi yang berbahaya serta kumuh.(yn)

Biarkan Tamu Mempromosikan Anda

EtIndonesia. Di Thailand, ada seorang pemilik hotel bernama Kut yang telah mengelola usaha perhotelan selama lebih dari 20 tahun. Dari pengalamannya itu, dia mengumpulkan banyak pelajaran berharga tentang manajemen. 

Ketika seseorang bertanya bagaimana seharusnya promosi hotel wisata dilakukan, dia tersenyum dan menjawab: “Raih simpati para tamu, biarkan tamu yang mempromosikan Anda.”

Bagaimana caranya meraih simpati tamu? Menurut Kut, wisatawan yang datang dari berbagai penjuru dunia memiliki kebiasaan hidup, karakter, dan selera yang berbeda-beda. Sehebat apa pun layanan yang disediakan hotel, tetap mustahil memenuhi seluruh permintaan khusus mereka. Karena itu, satu-satunya kunci adalah bersikap fleksibel, menanggapi perubahan dengan lembut, dan mengalahkan kekakuan dengan keluwesan.

Suatu kali, beberapa pengusaha dari Eropa dijemput dengan mobil hotel Mandarin Oriental Bangkok. Mereka tahu bahwa jalan-jalan utama Bangkok sering macet, sehingga meminta untuk mengganti rute dan naik perahu kecil melalui Sungai Chao Phraya menuju hotel. Saat itu, kapal wisata sudah berangkat. Selain itu, sesuai rencana awal, makan malam telah disiapkan di kamar mereka. Perubahan mendadak ini jelas akan mengacaukan pengaturan, membuat staf bekerja lembur, dan menambah biaya.

Namun, petugas hotel tidak mengeluh sedikit pun. Dengan senyum ramah, dia mengantar para tamu ke dermaga, menyewa sebuah perahu kecil dengan harga tinggi, mengantar mereka ke hotel, lalu menyiapkan ulang hidangan dan minuman.

Para tamu Eropa itu sangat terkesan. Mereka memuji pelayanan hotel tersebut ke mana pun mereka pergi, menyebut manajemennya luar biasa.

Iklan memang merupakan sarana objektif yang memengaruhi psikologi konsumen dan mendorong mereka membeli produk atau menggunakan jasa. Namun pemahaman Kut tentang iklan jauh lebih unik. Dia tahu bahwa penilaian tamu terhadap sebuah hotel bukan hanya soal makanan lezat atau kamar mewah, tetapi juga layanan-layanan kecil yang bersifat situasional dan sementara. Jika hal-hal ini ditangani dengan baik, kesannya akan bertahan lama di ingatan tamu. Pilihan hotel mereka di masa depan, serta cerita yang mereka sampaikan kepada orang lain, itulah iklan paling hidup dan paling meyakinkan.

Untuk mencapai standar tersebut, hotel harus terus meningkatkan kualitas layanan.

Kut melengkapi lebih dari 400 kamar hotel dengan lebih dari 900 staf layanan—rata-rata dua staf untuk menangani kebutuhan mendadak setiap kamar. Selain itu, para staf secara berkala mengikuti pelatihan, seleksi, dan promosi jabatan. Para manajer senior memiliki peran penting dalam membimbing karyawan baru. Dalam hal ini, Kut sangat berhasil—hampir semua manajer senior mampu membantu karyawan baru mengatasi berbagai masalah mendesak yang mereka hadapi.

Pernah suatu kali, seorang tamu asal Australia menempati kamar yang menghadap jalan raya. Dia marah karena suara peluit polisi lalu lintas mengganggu istirahatnya, hingga membanting dan memecahkan dua vas bunga. Petugas hotel menahan amarahnya, segera menyuguhkan segelas jus jeruk dingin, menenangkan sang tamu, lalu dengan cepat memindahkannya ke kamar yang menghadap taman dalam. Permintaan tamu pun terpenuhi.

Tamu Australia itu merasa sangat berterima kasih. Dia secara sukarela mengganti kerugian vas yang pecah dan bahkan memesan kamar mewah hotel tersebut untuk jangka panjang.

Persaingan pasar memang keras, tetapi juga sarat dengan sisi kemanusiaan. Seperti pepatah mengatakan: jika Anda memberi kebaikan kepada pelanggan, pelanggan pun akan membalas dengan kebaikan yang setimpal.(jhn/yn)

Harga Minyak Turun Setelah AS Menangkap Pemimpin Venezuela Nicolas Maduro

EtIndonesia. Harga minyak turun pada hari Senin (5/1) setelah operasi militer AS menangkap pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, yang negaranya memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia.

Peningkatan volume minyak Venezuela yang memasuki pasar akan menambah kekhawatiran kelebihan pasokan dan memberikan tekanan lebih lanjut pada harga minyak, yang telah turun dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam perdagangan pagi di Asia, Brent Crude turun 0,21 persen menjadi 60,62 dolar per barel sementara West Texas Intermediate turun 0,35 persen menjadi 57,12 dolar, keduanya dari titik terendah sebelumnya.

Pasukan AS menyerang Caracas pada dini hari Sabtu, membom target militer dan membawa Maduro dan istrinya untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba federal di New York.

Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat sekarang akan “mengelola” Venezuela dan mengirim perusahaan AS untuk memperbaiki infrastruktur minyaknya yang sangat rusak.

Setelah bertahun-tahun mengalami kurangnya investasi dan sanksi, Venezuela saat ini memproduksi sekitar satu juta barel minyak per hari, turun dari sekitar 3,5 juta barel per hari pada tahun 1999.

Namun, para analis mengatakan bahwa di samping pertanyaan-pertanyaan besar lainnya tentang masa depan Venezuela, peningkatan produksi minyak secara substansial tidak akan mudah atau cepat.

“Pemulihan produksi apa pun akan membutuhkan investasi besar mengingat infrastruktur yang runtuh akibat bertahun-tahun salah urus dan kurangnya investasi,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo, kepada AFP.

Berinvestasi saat ini juga kurang menarik: harga minyak tertekan oleh kelebihan pasokan dan turun pada tahun 2025 meskipun ada hambatan pertumbuhan yang signifikan seperti perang tarif Trump dan konflik yang sedang berlangsung di Ukraina.(yn)

Mitos Kebal Hukum Mantan Presiden di Indonesia: Belajar dari “Buku Putih” Hingga Kasus Najib Razak

ETIndonesia– Diskursus mengenai pertanggungjawaban hukum mantan kepala negara kembali mengemuka di tengah publik. Fenomena hukum yang menimpa mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, yang divonis total 165 tahun penjara atas kasus korupsi dan pencucian uang, menjadi cermin besar bagi sistem hukum di Indonesia.

Namun, bagi pengamat politik Foxpoll, Pangi Syarwi Chaniago, gagasan untuk menyeret mantan presiden ke meja hijau di Indonesia masih dianggap sebagai sebuah “mitos politik” yang sulit ditembus.

Dalam bincang-bincang di kanal YouTube Forum Keadilan TV  (31/12/2025), Pangi menyoroti adanya hambatan struktural dan budaya yang membuat posisi mantan presiden seolah memiliki hak imunitas tak tertulis. Ia menyebutkan adanya istilah “Buku Putih” sebagai bentuk konsensus antara presiden terpilih dan pendahulunya,.

“Di Indonesia itu ada buku putih yang hanya mereka yang tahu. Artinya, ada perjanjian tersendiri yang membuat mereka tidak bisa tersentuh oleh hukum,” ujar Pangi Syarwi Chaniago dalam wawancara tersebut,. Menurutnya, kesepakatan ini memberikan rasa aman bagi mantan penguasa sehingga mereka seringkali tidak mempertimbangkan risiko hukum jangka panjang saat masih menjabat.

Budaya Feodal dan Intervensi Politik

Pangi menilai bahwa lemahnya penegakan hukum terhadap elit di Indonesia berakar pada “DNA” politik yang masih sangat dominan dibandingkan DNA penegakan hukum itu sendiri,. Ia berpendapat bahwa hukum di Indonesia seringkali masih berada di bawah kendali kekuasaan, berbeda dengan negara maju di mana kekuasaan tunduk pada supremasi hukum.

“Hukum kita di Indonesia ini kan masih feodal semangatnya. DNA penegakan hukum kita itu intervensi politiknya lebih kuat daripada DNA penegakan hukum,” tegas Pangi. Hal ini diperparah dengan budaya masyarakat Timur yang cenderung “pemaaf dan pelupa,” serta adanya rasa sungkan atau “nggak enakan” untuk memproses hukum seseorang yang dianggap pernah berjasa bagi negara,,.

Lebih lanjut, Pangi memberikan kritik tajam terhadap lembaga penegak hukum seperti KPK dan Polri yang menurut pengamatannya masih berada di bawah pengaruh kendali politik tertentu,. Terkait isu laporan dugaan korupsi yang menyeret nama Presiden Joko Widodo dan keluarganya, Pangi menyatakan keraguannya akan keberanian lembaga anti-rasuah saat ini,.

“Komisioner KPK sekarang enggak akan berani ketika berhadapan dengan keluarga Jokowi, dia tumpul… akan mencret lah kata orang begitu, enggak akan berani,” ucapnya merujuk pada pengaruh politik yang masih membayangi pasca-masa jabatan,.

Perbandingan Internasional dan Harapan Masa Depan

Secara global, tren mengadili mantan pemimpin bukanlah hal baru. Pangi mencontohkan Park Geun-hye di Korea Selatan, Nicolas Sarkozy di Prancis, hingga Luis Inácio Lula da Silva di Brasil sebagai bukti bahwa di negara dengan sistem hukum egaliter, presiden dan rakyat memiliki kedudukan yang sama di depan hukum,,.

Meski di Indonesia hal ini masih dianggap “mimpi di siang bolong,” Pangi menekankan pentingnya tekanan publik yang konsisten untuk mendorong transparansi,,. Ia berharap ke depannya para pemimpin Indonesia tidak lagi bersikap “ugal-ugalan” karena merasa terlindungi oleh mitos imunitas,.

“Kita merindukan penegakan hukum yang memang setara atau equal. Bahwa semua warga negara itu sama di hadapan hukum,” pungkas Pangi, menutup pandangannya mengenai urgensi reformasi hukum yang lepas dari bayang-bayang oligarki.(isw)

Sinyal Keras dari Washington: Setelah Penangkapan Maduro, Siapa Berikutnya?


EtIndonesia.
Sebuah operasi penangkapan lintas negara yang dilakukan Amerika Serikat tidak hanya mengubah peta politik Venezuela, tetapi juga memicu gelombang kejut besar di dunia berbahasa Mandarin, khususnya di Tiongkok. Setelah Nicolás Maduro ditangkap hidup-hidup, berbagai rekaman, bocoran informasi, serta spekulasi politik dengan cepat menyebar luas di internet, memicu euforia, satire, hingga kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Euforia Digital dan Sindiran Terbuka terhadap Beijing

Dalam hitungan jam setelah kabar penangkapan dikonfirmasi, opini publik dunia maya meledak. Di berbagai platform media sosial, terutama yang diakses warganet Tiongkok, muncul gelombang komentar sarkastik, ejekan politik, dan harapan terbuka agar operasi serupa juga menimpa Xi Jinping, pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Sejumlah pengguna secara terang-terangan menulis bahwa militer Amerika Serikat seharusnya segera “menangkap” Xi Jinping, menyamakan nasibnya dengan Maduro. Di saat yang sama, beredar laporan tidak resmi yang menyebutkan adanya pergerakan tidak biasa di fasilitas militer sekitar Beijing, serta peningkatan signifikan terhadap pengamanan pribadi Xi Jinping.

Maduro Dibawa ke New York: Borgol, Helikopter, dan Penahanan

Pada malam hari waktu setempat, 3 Januari 2026, Maduro dan istrinya dikawal ketat ke Amerika Serikat. Setibanya di New York, Maduro turun dari pesawat dengan kaki terborgol, lalu segera diterbangkan menggunakan helikopter menuju Metropolitan Detention Center (MDC) Brooklyn untuk menjalani penahanan.

Operasi ini dinilai sebagai salah satu penangkapan lintas negara paling bersih dan cepat dalam sejarah modern, tanpa laporan korban jiwa.

Pertemuan Tertutup dengan Delegasi PKT Jadi Sorotan

Fakta penting yang kemudian memicu spekulasi luas adalah bahwa beberapa jam sebelum penangkapannya, Maduro diketahui baru saja menggelar pertemuan tertutup selama berjam-jam dengan delegasi tingkat tinggi PKT. Selama bertahun-tahun, Beijing secara terbuka menyebut Maduro dan sejumlah pemimpin otoriter lain sebagai “teman lama”.

Kedekatan ini membuat banyak analis menilai bahwa penangkapan Maduro tidak hanya menjadi pukulan bagi Venezuela, tetapi juga peringatan strategis bagi Beijing.

Reaksi Komunitas Tionghoa: Dari Pujian hingga Ejekan Pedas

Begitu kabar penangkapan menyebar, komunitas Tionghoa—baik di dalam maupun luar negeri—langsung bereaksi keras. Di platform Douyin, banyak komentar yang memuji kekuatan militer Amerika Serikat dengan nada sinis.

“Menangkap seorang presiden lebih cepat daripada menangkap anak ayam. Ini baru benar-benar cepat,” tulis seorang pengguna.

Sebagian lainnya membandingkan operasi AS dengan latihan militer PKT yang dinilai hanya bersifat demonstratif.

“Tanpa latihan, tanpa slogan, langsung ditangkap. Kita selama ini menertawakan mereka, ternyata mereka benar-benar menakutkan.”

Di platform X berbahasa Mandarin di luar negeri, muncul komentar bernada satir: “Kami sudah antre terlalu lama. Amerika, tolong bergerak lebih cepat.”

Julukan ejekan terhadap Xi Jinping juga kembali bermunculan, dengan banyak warganet menegaskan bahwa penangkapan dan pengadilan Xi merupakan “suara hati mayoritas rakyat Tiongkok”.

Fenomena Unik di Tianjin: “Hari Mi Penangkapan”

Di kota Tianjin, 3 Januari 2026 menjadi hari yang tak biasa. Sejumlah warganet melaporkan bahwa sejak pukul 08: 00 pagi, seluruh jenis mie—baik mie bulat maupun mie pipih—habis terjual. Para pedagang kebingungan menghadapi lonjakan permintaan.

Warga setempat bahkan menjuluki hari itu sebagai “hari mie penangkapan”, sebuah permainan kata yang bermakna “tertangkap sejak pagi”. Bagi masyarakat Tianjin, mie bukan sekadar makanan, melainkan simbol ritual dalam momen besar.

“Kalau suatu hari rakyat benar-benar bangkit dan rezim komunis runtuh, mie pun akan habis tak bersisa,” tulis seorang pengguna.

Budaya Pop dan Simpati Global

Di tengah gelombang ini, lagu Liang Jingru berjudul ‘Sayang Bukan Kamu’ kembali viral. Kolom komentarnya dipenuhi tafsir politik tersirat, mencerminkan emosi kolektif yang sedang bergejolak.

Menariknya, pada kolom komentar media resmi PKT yang memberitakan “kerusuhan di Iran”, mayoritas komentar justru menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran, bukan aparat negara.

Iran, Khamenei, dan Sinyal Geopolitik Baru

Sejumlah laporan menyebut bahwa Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang juga disebut sebagai “teman lama” PKT, telah meninggalkan Teheran. Pada saat bersamaan, Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang hidup di pengasingan, dilaporkan berada di Mesir.

Beredar spekulasi bahwa Presiden AS, Donald Trump mungkin akan mengirim pasukan atas nama perlindungan rakyat Iran, guna mengawal Reza Pahlavi kembali ke negaranya dan membuka jalan bagi monarki konstitusional sebagai alternatif rezim teokrasi.

Selain itu, seorang perwira tinggi Iran, Kolonel Sajjad Azad, dikabarkan membelot dan menyatakan akan melawan rezim hingga Iran merdeka.

Pengakuan Media AS dan Ketakutan Global

Bahkan CNN, media Amerika yang dikenal kritis terhadap Trump, mengakui bahwa Tiongkok, Rusia, dan Iran diam-diam sangat terkesan dengan operasi militer AS di Venezuela.

Komentator CNN menilai operasi tersebut “sederhana, presisi, dan mematikan”: menemukan target, mengunci, lalu menangkap—bahkan bersama istrinya—tanpa korban jiwa. Menurut mereka, ketiga negara tersebut tidak memiliki kapasitas melakukan operasi sebersih itu.

Beijing dalam Fase Tegang

Pada 4 Januari 2026, seorang pengusaha asal Shanghai, Hu Liren, menulis di media sosial bahwa penangkapan Maduro telah menyeret Xi Jinping ke dalam fase ketakutan ekstrem. Dia mengklaim Beijing memperketat pengamanan pribadi Xi, sementara aktivitas militer di sekitar ibu kota meningkat tajam, termasuk dugaan aktivasi sistem bunker bawah tanah.

Partai Komunis Tiongkok tercatat dua kali mengeluarkan pernyataan resmi mengecam tindakan Amerika Serikat. Para analis menilai langkah Washington ini akan berdampak langsung dan negatif terhadap kepentingan geopolitik serta ekonomi PKT di Amerika Latin.

Dari Havana hingga Beijing, rezim-rezim otoriter kini dilaporkan semakin gelisah. Seperti ditulis seorang warganet dengan nada tajam.

Dapur di Balik MBG : Antara Karut-Marut Tata Kelola dan Bayang-Bayang Patronase Politik

EtIndonesia. Ambisi besar pemerintah untuk menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tengah berada dalam sorotan tajam. Di balik tujuan mulia untuk menuntaskan kelaparan dan memperbaiki gizi anak sekolah, program ini justru memperlihatkan celah besar dalam implementasinya. Data hingga Oktober 2025 mencatat lebih dari 11.000 anak di Indonesia mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi menu MBG.

Ironisnya, di tengah kegagalan sistemik tersebut, anggaran program ini justru diproyeksikan melonjak tajam. Dari Rp71 triliun pada APBN 2025, dana MBG direncanakan naik hingga lima kali lipat menjadi Rp335 triliun pada tahun 2026. Kenaikan anggaran yang drastis ini memicu kekhawatiran mengenai siapa yang sebenarnya diuntungkan di balik pengelolaan “dapur” MBG.

Gurita Afiliasi di Balik Yayasan Penyedia

Hasil penelusuran Indonesia Corruption Watch (ICW) terhadap 102 yayasan penyedia MBG di 38 provinsi menunjukkan adanya indikasi kuat praktik patronase dan konflik kepentingan. ICW mengelompokkan yayasan-yayasan tersebut ke dalam berbagai kategori afiliasi, mulai dari partai politik, aparat penegak hukum, hingga orang dekat pejabat.

“Partai Gerindra yang juga dipimpin oleh Presiden Prabowo menempati urutan pertama sebagai partai yang terafiliasi dengan individu paling banyak di Yayasan Penyedia MBG,” demikian kutipan hasil investigasi ICW yang diunggah melalui kanal YouTube resminya bertajuk Mereka yang Berkepentingan di balik Dapur MBG. Selain Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) juga tercatat memiliki politisi yang duduk di dalam struktur yayasan penyedia.

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah ditemukannya empat individu yang pernah tersangkut kasus korupsi di dalam yayasan tersebut. Fakta ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai proses verifikasi dan pengecekan rekam jejak yang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dalam memilih mitra pelaksana.

Intervensi Aparat dan Pelemahan Pengawasan

Keterlibatan aparat penegak hukum (APH) juga menjadi catatan krusial. ICW menemukan jejak petinggi kepolisian melalui Yayasan Kemala Bhayangkari, serta jejak jaksa melalui Yayasan Inklusi Pelita Bangsa. Keterlibatan aktif APH dalam pelaksanaan program MBG dianggap berbahaya bagi fungsi pengawasan dan penegakan hukum di masa depan.

“Bagaimana kemudian apabila di waktu mendatang ditemukan sejumlah permasalahan… tentu hal ini akan sulit diawasi apabila APH-nya justru ikut terlibat dalam proses pelaksanaan MBG,” sebut laporan tersebut.

Selain itu, ditemukan pula 12 yayasan yang terafiliasi dengan birokrasi pemerintahan, termasuk tenaga ahli dan tim teknis dari Badan Gizi Nasional itu sendiri. Padahal, BGN merupakan lembaga yang memegang mandat utama untuk memantau dan mengawasi jalannya program pemenuhan gizi nasional.

Politik Balas Budi di Meja Makan

Temuan ICW menunjukkan bahwa MBG berpotensi menjadi wadah “bancakan” atau sarana mencari keuntungan bagi lingkaran kekuasaan. Program ini diduga kuat digunakan untuk mengakomodir politik balas budi (patronage politics) atas dukungan elektoral pada pemilihan presiden lalu, maupun untuk menjaga loyalitas jejaring politik di masa mendatang.

Secara keseluruhan, ICW mencatat ada 28 yayasan yang terafiliasi partai politik, 18 yayasan dengan pebisnis, 6 yayasan dengan militer, serta 9 yayasan yang terafiliasi dengan kelompok relawan atau ormas pendukung kampanye Pilpres 2024.

“Bila demikian, maka bukan penerima MBG yang pada akhirnya diuntungkan tapi justru kelompok-kelompok yang dengan sengaja terlibat agar bisa mendapatkan keuntungan dari pelaksanaan proyek ini,” tegas ICW dalam ulasannya. Jika praktik ini terus berlanjut, manfaat program tidak akan sepenuhnya dirasakan oleh siswa, ibu hamil, maupun ibu menyusui, melainkan hanya mengalir ke saku para elit di lingkaran rezim saat ini. (isw)

Pemburu dan Serigala

EtIndonesia. Dia adalah seorang pemburu muda. Sebelumnya, dia bekerja di proyek bangunan di kota. Setelah istrinya melahirkan putri mereka, Niu Niu, dia pun pulang kampung dan berhenti bekerja. Demi menyambung hidup, setiap musim senggang dari bertani, dia akan memanggul senapan berburu peninggalan ayahnya dan masuk ke hutan.

Sudah bertahun-tahun tak ada orang berburu, sehingga hewan liar di gunung cukup melimpah. Hampir setiap kali masuk hutan, dia selalu pulang dengan hasil. Paling tidak, dia masih bisa membawa pulang seekor ayam hutan.

Suatu hari, tanpa sadar dia melangkah semakin jauh hingga ke pedalaman gunung. Saat sedang mengamati sekeliling, tiba-tiba dia melihat semak-semak di dekat tebing bergoyang tanpa henti, disertai suara “ciit-ciit” yang sangat pelan. Dia terkejut sekaligus gembira. Dengan senapan terangkat sejajar dada, dia melangkah perlahan mendekat.

Ketika sudah berdiri di atas batu, dia baru melihat dengan jelas: ternyata ada dua anak serigala—tampaknya baru berusia sekitar satu bulan. Tanpa ragu, dia membidik dua anak serigala yang sedang bermain itu dan menarik pelatuk. Karena peluru yang digunakan adalah butiran besi, satu tembakan itu langsung menjatuhkan kedua anak serigala tersebut.

Malam itu, tepat tengah malam, seekor serigala dewasa datang. Dia mengelilingi rumah sambil melolong panjang dan pilu. Mengintip dari celah pintu, dia melihat bahwa itu adalah seekor serigala betina. Dia segera mengerti—itulah induk dari dua anak serigala yang dia bunuh, datang untuk menuntut balas.

Dia menambah palang kayu di pintu, mengisi senapan dengan peluru, lalu berjaga kaku di dekat jendela. Istrinya, sambil menggendong Niu Niu yang menangis keras, mondar-mandir di dalam rumah. Hingga menjelang fajar, serigala betina itu baru pergi sambil terus melolong lirih.

Istrinya mengusap mata yang memerah dan berkata dengan cemas: “Bagaimana ini? Serigala itu sangat pendendam. Dia pasti akan datang lagi.”

Dia mengangguk pelan : “Aku harus masuk hutan lagi dan membunuh serigala betina itu.”

Keesokan harinya, dia kembali memanggul senapan dan masuk ke gunung. Selama beberapa hari berturut-turut, dia tak menemukan jejak sang serigala. Namun setiap malam, serigala betina itu selalu datang ke depan rumahnya dan melolong. Dia beberapa kali mencoba menembaknya, tetapi tembakannya selalu meleset.

Pada suatu malam, akhirnya dia berhasil melukai kaki serigala itu. Serigala betina tersebut tertatih-tatih melarikan diri. Sejak saat itu, dia tak pernah datang lagi ke rumah. Namun si pemburu tetap tidak berhenti mencarinya. Dia tahu betul, sifat serigala kejam dan tidak akan berhenti begitu saja.

Musim panen tiba. Dia tak lagi masuk hutan. Suatu hari, setelah istrinya menyusui Niu Niu hingga tertidur, dia pun pergi ke ladang menemani suaminya memanen jagung. Belum setengah jam berlalu, seorang tetangga berlari tergopoh-gopoh memberi kabar mengerikan:
Niu Niu telah dibawa pergi oleh serigala pincang itu!

Berita itu bagai petir di siang bolong. Mereka berdua terpaku, seakan kehilangan kesadaran. Butuh waktu lama sebelum dia tersadar, lalu berlari pulang dengan langkah terhuyung.

Niu Niu sudah tidak ada di atas ranjang. Rumah dipenuhi warga desa yang datang setelah mendengar kabar itu. Dia memeriksa lantai dengan saksama—tak ada bercak darah. Hatinya sedikit lega. Namun ketika teringat bahwa Niu Niu dibawa oleh serigala betina pincang itu, harapan kembali mencekik dadanya.

Dia memanggul senapan, mengajak belasan warga desa, lalu masuk ke gunung. Mereka menyusuri bukit demi bukit, lembah demi lembah, punggung gunung, dan aliran sungai, hingga hari gelap. Namun tak satu pun menemukan jejak serigala pincang atau Niu Niu.

Pulang ke rumah, dia melihat istrinya menangis hingga suaranya serak. Dia menelan sepotong mantou keras, meneguk setengah mangkuk air, lalu kembali mengajak beberapa kerabat masuk ke hutan.

 “Sekalipun Niu Niu sudah dibunuh oleh serigala itu, aku tetap harus menemukannya dan membunuhnya!”

Namun hingga fajar menyingsing, mereka tetap tidak menemukan apa-apa.

Hari itu, dia sendirian naik ke gunung. Di bawah sebuah batu besar yang tersembunyi, dia melihat serigala betina pincang itu terbaring membelakanginya, seolah sedang tidur. Detak jantungnya yang berdebar hebat, dia mengendap-endap mendekat, membidik, lalu menarik pelatuk.

Butiran besi menyebar seperti kipas. Serigala betina itu roboh tanpa sempat mengerang.

Namun pada saat yang sama, dia terpaku membatu.

Di samping serigala betina itu, terbaring Niu Niu. Tubuh kecilnya masih hangat—dan dia juga tertembak mati.

Dia berdiri kaku lama sekali. Lalu tiba-tiba dia menjerit keras, mengangkat senapannya, dan menghantamkannya dengan penuh amarah ke jurang di bawah tebing.(jhn/yn)

30 Tewas, Banyak yang Diculik Saat Kelompok Bersenjata Menyerang Pasar di Nigeria

EtIndonesia. Setidaknya 30 orang tewas dan beberapa lainnya diculik ketika kelompok bersenjata menyerang sebuah pasar di Negara Bagian Niger, Nigeria, kata polisi pada hari Minggu (4/1).

Juru bicara polisi Wasiu Abiodun mengatakan para pelaku bersenjata, yang secara lokal disebut bandit, memasuki pasar Kasuwan Daji di desa Demo, sekitar pukul 16:30 pada hari Sabtu, membakar kios dan menjarah barang-barang makanan.

“Lebih dari 30 korban tewas selama serangan itu, dan beberapa orang juga diculik. Upaya sedang dilakukan untuk menyelamatkan para korban penculikan,” kata Abiodun.

Saksi mata mengatakan para pelaku bersenjata datang dengan sepeda motor dan melepaskan tembakan tanpa pandang bulu. Mereka mengatakan kekerasan itu merupakan bagian dari serangkaian serangan yang dimulai pada hari Jumat di desa-desa terdekat Agwarra dan Borgu.

“Wanita dan anak-anak tidak luput dari serangan,” kata Dauda Shakulle, yang terluka saat melarikan diri. “Tidak ada kehadiran pasukan keamanan sejak serangan dimulai. Saat ini kami sedang mengevakuasi jenazah.”

Militer Nigeria tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Serangan itu terjadi beberapa minggu setelah para penembak menyandera lebih dari 300 anak dan staf sekolah Katolik di negara bagian di Nigeria tengah. Para korban tersebut dibebaskan setelah hampir sebulan dalam penahanan.

Kejahatan semacam itu telah meningkat di seluruh Nigeria barat laut dan tengah, dengan kelompok-kelompok bersenjata melakukan pembunuhan massal dan penculikan di komunitas pedesaan. Pasukan keamanan kesulitan untuk mengendalikan kekerasan meskipun operasi terus berlangsung.

Saksi mata Khalid Pissa mengatakan para penembak menyerang komunitas di Kasuwan Daji, dan juga di Chukama dan Shanga di dekatnya. Pissa menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 40 orang. (yn)

Menagih Koreksi Fundamental di Tengah “Kabinet Darurat” dan Resentralisasi Kekuasaan

EtIndonesia. – Ketika memasuki penghujung tahun 2025 dan menyambut tahun baru, pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo Subianto dinilai masih terjebak dalam bayang-bayang kebijakan satu dekade terakhir. Meskipun narasi yang dibangun adalah keberlanjutan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa beban kegagalan struktural masa lalu—mulai dari tata kelola bencana hingga pelemahan otonomi daerah—menjadi ujian berat yang belum teratasi sepenuhnya. 

Dalam diskusi refleksi kebangsaan di kanal YouTube Kanal SA (31/2/2025), pakar otonomi daerah Profesor Ryaas Rasyid menyoroti bahwa pemerintahan saat ini memikul beban dari kesalahan kebijakan masa lalu. Ia menekankan bahwa tugas utama presiden seharusnya bukanlah sekadar melanjutkan, melainkan melakukan koreksi total terhadap arah pembangunan yang menyimpang,.

“Semuanya harus dikoreksi. Itu sebenarnya tugas pokoknya Prabowo, bukan melanjutkan,” tegas Ryaas Rasyid dalam ruang dialektika tersebut,. Menurutnya, kegagalan mendefinisikan masalah sejak awal membuat pemerintah gagap dalam mengambil tindakan nyata.

Kegagapan Mitigasi: Belajar dari Bencana Sumatera

Salah satu parameter kegagalan yang disoroti adalah penanganan banjir bandang dan longsor di Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat). Ryaas membandingkan respon pemerintah saat ini dengan penanganan tsunami Aceh 2004 yang dinilai jauh lebih lincah dan solid,. Keengganan pemerintah menetapkan status bencana nasional meskipun korban jiwa mencapai lebih dari 1.000 orang dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap penderitaan rakyat,.

Ryaas menduga ada asimetri informasi atau kepentingan tertentu yang dilindungi di balik bencana tersebut, terutama terkait isu penggundulan hutan oleh perusahaan besar,. Ia mengibaratkan pemerintah seperti seorang dokter yang gagal menuliskan resep karena salah melakukan diagnosis.

“Pemerintah itu seperti dokter memang, dia tidak bisa menghantam saja. Begitu Anda mengaku batuk, langsung dikasih obat flu… kalau Anda salah mendeskripsikan, akan salah membuat analisis, akan salah membuat action,” jelas Ryaas menggambarkan ketidaksinkronan antara penyebab bencana (kerusakan hutan) dengan kebijakan yang diambil,.

Daerah yang Lumpuh akibat Resentralisasi

Persoalan kian pelik dengan adanya tren resentralisasi kewenangan yang memangkas otonomi daerah, termasuk melalui UU Cipta Kerja,. Ryaas menilai daerah kini kehilangan kreativitas dan kemampuan spontan dalam mengatasi keadaan darurat karena seluruh sumber daya keuangan ditarik ke pusat,.

“Indonesia ini adalah daerah-daerah. Ketika Anda potong anggaran 30 persen ke daerah, itu otomatis menimbulkan kelambatan gerak ekonomi daerah… kalau daerah lumpuh, Indonesia lumpuh,” ujarnya. Akibatnya, pemerintah daerah seperti di Aceh merasa putus asa hingga menyurati PBB karena merasa bantuan dari Jakarta tidak memadai,.

Menanti Kekompakan Kabinet di 2026

Memasuki tahun 2026, tantangan konsolidasi kabinet masih menjadi pekerjaan rumah besar. Ryaas menyebut susunan menteri saat ini sebagai “kabinet darurat” yang belum kompak dan masih saling mengintip satu sama lain. Ia juga mengkritik fenomena di mana para menteri atau pejabat tinggi, seperti Kapolri atau Menteri Hukum, membuat tafsiran mandiri terhadap putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tanpa arahan jelas dari Presiden,.

Bagi Ryaas, demokrasi bukan sekadar prosedur pemilihan, melainkan kebijakan yang berpihak pada rakyat. Ia mengingatkan bahwa tanpa kecerdasan dan kesejahteraan minimum di tingkat masyarakat, demokrasi hanya akan menjadi alat produksi koruptor,.

“Jangan pemerintahnya mandek lalu mengharap masyarakatnya yang bangkit. Prakarsa kebaikan itu harus ada di pemerintah, penguasalah yang punya berbagai macam sumber daya,” pungkas Ryaas Rasyid menutup refleksinya untuk tahun mendatang.  Ia menekankan bahwa reformasi sejati hanya bisa berjalan jika pemegang kendali memiliki niat kuat untuk mengoreksi kesalahan diri sendiri. (isw)

Operasi “Tekad Teguh”: Kronologi Lengkap Penangkapan Nicolás Maduro

EtIndonesia. Pada awal Januari 2026, dunia dikejutkan oleh sebuah operasi militer lintas negara yang dinilai sebagai salah satu aksi paling presisi dan paling berani dalam sejarah operasi khusus modern Amerika Serikat. Operasi ini berujung pada penangkapan hidup-hidup Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, hanya dalam hitungan jam, tanpa satu pun korban jiwa di pihak Amerika Serikat.

Pidato Provokatif dan “Hadiah Tahun Baru”

Dalam beberapa pekan menjelang pergantian tahun, Nicolás Maduro secara terbuka terus menyampaikan pidato nasional bernada konfrontatif. Dia berulang kali melontarkan tantangan langsung kepada Amerika Serikat, seolah ingin menunjukkan bahwa rezimnya tidak tersentuh dan tetap kokoh.

Namun, alih-alih mundur, Amerika Serikat justru menanggapi provokasi tersebut dengan tindakan nyata. Pada dini hari tanggal 3 Januari 2026, militer AS melancarkan sebuah operasi khusus bersandi “Absolute Resolve”—sebuah operasi kilat yang langsung mengubah peta politik Venezuela dan mengguncang tatanan geopolitik kawasan Amerika Latin.

Penangkapan Kilat di Tengah Malam

Dalam waktu hanya beberapa jam sejak operasi dimulai, militer Amerika Serikat berhasil menangkap Nicolás Maduro hidup-hidup di wilayah Caracas. Penangkapan ini secara de facto mengakhiri kekuasaan seorang pemimpin yang selama bertahun-tahun memegang kendali penuh atas militer, aparat keamanan, dan struktur negara Venezuela.

Pada malam hari tanggal 3 Januari 2026, pesawat yang membawa Maduro mendarat di Bandara Stewart, kawasan pinggiran Kota New York. Bandara ini merupakan fasilitas sipil-militer, yang berlokasi sangat dekat dengan United States Military Academy at West Point, akademi militer paling bergengsi di dunia.

Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan Maduro dikawal ketat oleh puluhan personel militer AS, sebelum dibawa masuk ke dalam gedung bandara dengan pengamanan berlapis.

Pertemuan Terakhir dengan Utusan Tiongkok

Salah satu detail paling mencolok adalah waktu penangkapan yang sangat berdekatan dengan agenda diplomatik Maduro. Hanya beberapa jam sebelum ditangkap, Maduro diketahui baru saja bertemu dengan Qiu Xiaoqi, utusan khusus Tiongkok untuk urusan Amerika Latin.

Qiu Xiaoqi dikenal sebagai pakar kebijakan kawasan Amerika Latin di lingkaran Partai Komunis Tiongkok, serta pernah menjabat sebagai duta besar di Brasil dan Meksiko. Pertemuan tersebut sontak memicu spekulasi luas, terutama karena tak lama setelahnya, Amerika Serikat langsung mengeksekusi operasi penangkapan.

Operasi yang Dirancang Bertahun-tahun

Dalam konferensi pers pada 3 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine membeberkan sebagian detail operasi tersebut.

Fakta yang terungkap menunjukkan bahwa operasi ini bukan keputusan mendadak. Sejak Agustus 2025, CIA telah aktif beroperasi di Venezuela. Melalui jaringan informan berlapis, Amerika Serikat menguasai detail kehidupan Maduro secara menyeluruh—mulai dari rutinitas harian, kebiasaan pribadi, hingga lokasi real-time keberadaannya.

Menurut laporan Reuters, Amerika bahkan memiliki informan inti yang sangat dekat dengan lingkaran Maduro, sehingga posisi sang presiden dapat diketahui secara akurat setiap saat. Informasi ini menjadi krusial karena keberhasilan operasi sangat bergantung pada kondisi cuaca dan waktu eksekusi yang tepat.

Simulasi Rumah Maduro dan Latihan Delta Force

Secara paralel, militer AS membangun fasilitas latihan khusus di dalam negeri yang dibuat menyerupai kediaman Maduro secara detail. Di lokasi inilah pasukan elite Delta Force berlatih berulang kali, mensimulasikan berbagai skenario penangkapan.

Sejak awal Desember 2025, operasi ini sejatinya sudah siap dieksekusi kapan saja. Namun Presiden Trump masih membuka jalur negosiasi. Maduro ditawari opsi mundur secara sukarela dan diizinkan meninggalkan Venezuela dengan aman. Tawaran itu ditolak. Dalam negosiasi, Maduro justru terus menaikkan tuntutan—sebuah keputusan yang kemudian terbukti fatal.

Jam-jam Penentuan: 2–3 Januari 2026

Selama 10 hari antara Natal hingga Tahun Baru, militer AS terus memantau kondisi cuaca. Akhirnya, pada malam 2 Januari 2026, cuaca dinilai ideal.

Pada pukul 22.46 waktu setempat, Presiden Trump mengeluarkan perintah resmi penangkapan. Dalam waktu satu jam, sekitar 150 pesawat tempur AS lepas landas dari 20 titik pangkalan di kawasan Karibia, bergerak menuju Venezuela.

Armada tersebut mencakup:

  • F-22 Raptor (dominasi udara)
  • F-35 dan F/A-18 Super Hornet (serangan darat presisi)
  • EA-18 Growler (peperangan elektronik)
  • Drone siluman RQ-170 untuk pengintaian

Serangan Udara dan Lumpuhnya Pertahanan Venezuela

Sekitar pukul 02.00 dini hari waktu Caracas, Angkatan Udara AS mulai melancarkan serangan. Fokus awal adalah SEAD (Suppression of Enemy Air Defenses) untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Venezuela.

Target utama meliputi:

  1. Pelabuhan La Guaira
  2. Pangkalan Udara La Carlota
  3. Kompleks militer Fuerte Tiuna
  4. Instalasi radar pegunungan

Sistem pertahanan udara Rusia Buk dan S-300V milik Venezuela dihancurkan total. Ledakan beruntun menerangi langit malam Caracas, sementara sistem radar dan komando musuh lumpuh sepenuhnya.

Pendaratan Helikopter dan Penangkapan Maduro

Dengan pertahanan udara runtuh, helikopter militer AS terbang rendah—sekitar 100 kaki dari permukaan tanah—tanpa terdeteksi. Operasi udara ini dijalankan oleh Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 “Night Stalkers”.

Pasukan Delta Force mendarat di dekat kediaman Maduro. Meski sempat terjadi tembakan sporadis, tidak ada korban di pihak AS. Tim penyerbu langsung membagi tugas: satu tim mengamankan perimeter, satu tim masuk ke dalam bangunan.

Maduro diketahui memiliki bunker baja berat, namun senjata pemotong termal yang disiapkan AS tidak perlu digunakan. Operasi berlangsung terlalu cepat. Maduro dilaporkan ditangkap di kamar tidurnya, hampir tanpa perlawanan.

Evakuasi dan Akhir Operasi

Pada pukul 03 : 26 dini hari waktu AS Timur, pasukan AS beserta Maduro berhasil dievakuasi dan mendarat dengan selamat di kapal serbu amfibi USS Iwo Jima di Laut Karibia.

Total durasi operasi: 4 jam 40 menit.

Reaksi dan Dampak

Militer Venezuela nyaris lumpuh total. Kendaraan lapis baja baru terlihat bergerak setelah matahari terbit. Beberapa pesawat tempur bahkan baru lepas landas saat presidennya sudah berada dalam tahanan Amerika.

Sebaliknya, rakyat Venezuela turun ke jalan. Mereka mengibarkan bendera nasional, bernyanyi, dan merayakan runtuhnya rezim Maduro—sebuah pemandangan yang mencerminkan kelelahan panjang akibat krisis ekonomi, hiperinflasi, dan represi politik.

Kesimpulan

Operasi “Tekad Teguh” dinilai sebagai puncak kemampuan operasi khusus modern Amerika Serikat—bahkan disebut lebih kompleks daripada operasi penangkapan Osama bin Laden, dan lebih bersih dari Operasi Panama.

Tanpa korban jiwa, dengan presisi nyaris sempurna, operasi ini kemungkinan besar akan dicatat dalam sejarah sebagai contoh klasik peperangan khusus abad ke-21—sebuah demonstrasi kekuatan yang tidak hanya menjatuhkan seorang pemimpin, tetapi juga mengubah arah sejarah sebuah negara.

150 Pesawat Bergerak Serentak: Malam Ketika Maduro Tak Bisa Lari

EtIndonesia. Pada 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan sebuah operasi militer lintas negara yang langsung mengguncang panggung politik dan keamanan global. Dalam operasi yang dinilai sebagai “operasi tingkat buku teks”, pasukan AS berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro hidup-hidup tanpa satu pun korban di pihak Amerika Serikat—sebuah preseden langka dalam sejarah operasi militer modern AS.

Keberhasilan ini disampaikan secara resmi oleh Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, dalam konferensi pers pada 3 Januari. Namun, di luar detail taktis operasi, publik justru dibuat terkejut oleh isu teknologi militer rahasia yang kembali mencuat ke permukaan sehari kemudian.

Persiapan Super Rahasia Berbulan-bulan

Menurut laporan Fox News, operasi ini tidak dilakukan secara spontan. Selama berbulan-bulan, lima matra militer AS—bekerja sama erat dengan komunitas intelijen—melaksanakan perencanaan, simulasi, dan latihan intensif dengan tingkat kerahasiaan sangat tinggi.

Salah satu detail paling mencolok adalah pembangunan replika istana kepresidenan Venezuela dalam skala 1:1. Replika ini digunakan untuk latihan berulang pasukan Delta Force, yang disebut telah berlatih ratusan kali guna memastikan tidak ada satu pun mata rantai operasi yang gagal.

Di saat yang sama, badan intelijen AS melakukan pemantauan jangka panjang yang sangat rinci terhadap Maduro:

  • pola makan dan kebiasaan berpakaian,
  • jadwal harian dan rute pergerakan,
  • tingkat keamanan internal istana,
  • hingga detail sekecil perilaku hewan peliharaan di lingkungan istana.

Seluruh informasi tersebut dipetakan secara presisi untuk menentukan momen eksekusi paling sempurna.

Setelah semua parameter terpenuhi, militer AS menunggu jendela waktu ideal. Kondisi cuaca dan lapisan awan pada dini hari 3 Januari dinilai memenuhi syarat optimal, dan lampu hijau operasi pun diberikan.

Perintah Presiden dan Serangan Udara Terkoordinasi

Pada 2 Januari pukul 22:45, Presiden Donald Trump secara resmi mengeluarkan perintah operasi.

Menjelang dini hari 3 Januari, pada saat tingkat visibilitas paling rendah dan risiko deteksi paling kecil, militer AS melancarkan serangan udara terkoordinasi besar-besaran.

Sebanyak 150 pesawat militer—termasuk F/A-18, F-22, F-35, pesawat peperangan elektronik, pesawat peringatan dini, serta pembom strategis—lepas landas serentak dari sekitar 20 pangkalan darat dan laut.

Angkatan Udara, Angkatan Laut, Korps Marinir, dan Garda Nasional membentuk perisai udara berlapis, sementara pasukan khusus Angkatan Darat diterbangkan menggunakan helikopter pada ketinggian sangat rendah (sekitar 30 meter di atas permukaan laut) menuju ibu kota Caracas.

Langkah pertama operasi gabungan ini adalah melumpuhkan sistem pengawasan dan komunikasi elektronik militer Venezuela. Serangan kejutan tersebut berhasil total, membuat pihak Venezuela nyaris tidak menyadari ancaman hingga pasukan khusus sudah berada di jantung target.

Maduro Ditangkap Hidup-hidup di Istana

Pada pukul 01: 01 dini hari, pasukan khusus AS mendarat langsung di kompleks istana kepresidenan. Kontak senjata terjadi dengan pasukan pengawal Maduro. Salah satu helikopter AS sempat terkena tembakan, namun tetap mampu beroperasi.

Dengan keunggulan daya tembak dan koordinasi, pasukan AS dengan cepat menguasai situasi. Maduro yang terkejut mencoba melarikan diri ke ruang aman berlapis baja, namun berhasil dikejar dan ditangkap sebelum pintu ruang tersebut tertutup.

Menariknya, militer AS sebenarnya telah menyiapkan perangkat penghancur pintu baja berdaya tinggi yang secara teori mampu menembus pintu ruang aman dalam waktu sekitar 47 detik. Namun karena operasi berlangsung terlalu cepat, perangkat tersebut tidak sempat digunakan.

Tak lama kemudian, helikopter evakuasi dipanggil. Maduro beserta istrinya segera diterbangkan keluar area, sementara pesawat tempur tetap berjaga di udara. Hanya terjadi kontak senjata kecil selama fase penarikan pasukan.

Pada pukul 03 : 29, seluruh 150 pesawat kembali ke pangkalan masing-masing dengan selamat. Tidak ada korban jiwa di pihak AS. Operasi berisiko tinggi ini pun berakhir sempurna.

Isu “Teknologi Hitam”: Menangkap Siapa Pun dalam Satu Jam

Sehari setelah operasi, pada 4 Januari, perhatian publik beralih ke sebuah pernyataan lama dari Letnan Jenderal Angkatan Udara AS (purnawirawan) Steven Kwast, yang disampaikan pada November 2019.

Dalam pidato tersebut—yang kembali viral—Kwast menyebut bahwa Amerika Serikat telah menguasai teknologi revolusioner yang berpotensi membuat teknologi kedirgantaraan saat ini menjadi usang.

Media militer The War Zone melaporkan bahwa pada menit ke-12 pidatonya, Kwast menyatakan: “Teknologi ini sudah berada di meja uji coba teknik. Saya menghabiskan 33 tahun bersama para ilmuwan ini. Teknologi ini tidak memerlukan pengembangan lebih lanjut dan mampu memindahkan siapa pun dari titik mana pun di bumi ke lokasi lain dalam waktu kurang dari satu jam.”

Kwast sebelumnya menjabat sebagai Komandan Komando Pendidikan dan Pelatihan Angkatan Udara AS di Pangkalan Gabungan San Antonio, sebuah posisi strategis dalam struktur militer. Ia resmi pensiun pada 2019. Meski beredar rumor bahwa ia dipensiunkan lebih awal karena berbicara terlalu terbuka soal isu luar angkasa, Kwast tidak pernah mengonfirmasi kabar tersebut.

Pernyataan Trump dan Dampak Global

Isu teknologi ini kembali menguat setelah publik mengingat pernyataan Presiden Trump pada April tahun lalu di Ruang Oval: “Kita sangat kuat. Negara ini memiliki kekuatan yang jauh melampaui imajinasi manusia. Kita memiliki senjata yang tidak diketahui siapa pun—dan itu adalah senjata paling kuat di dunia.”

Apakah teknologi “penangkapan dalam satu jam” benar-benar ada masih belum dapat dipastikan. Namun satu hal jelas: tanpa teknologi tersebut pun, Amerika Serikat telah berhasil menangkap Nicolás Maduro melalui operasi militer konvensional yang sangat presisi.

Operasi ini disebut-sebut memberi efek gentar besar terhadap poros negara-negara pesaing seperti Tiongkok dan Rusia. 

Di media sosial, warganet bahkan berseloroh: “Kalau teknologi itu benar-benar ada, mungkin ada pemimpin dunia yang tak bisa tidur nyenyak lagi.”

150 Pesawat Bergerak Serentak: Malam Ketika Maduro Tak Bisa Lari

EtIndonesia. Pada 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan sebuah operasi militer lintas negara yang langsung mengguncang panggung politik dan keamanan global. Dalam operasi yang dinilai sebagai “operasi tingkat buku teks”, pasukan AS berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro hidup-hidup tanpa satu pun korban di pihak Amerika Serikat—sebuah preseden langka dalam sejarah operasi militer modern AS.

Keberhasilan ini disampaikan secara resmi oleh Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, dalam konferensi pers pada 3 Januari. Namun, di luar detail taktis operasi, publik justru dibuat terkejut oleh isu teknologi militer rahasia yang kembali mencuat ke permukaan sehari kemudian.

Persiapan Super Rahasia Berbulan-bulan

Menurut laporan Fox News, operasi ini tidak dilakukan secara spontan. Selama berbulan-bulan, lima matra militer AS—bekerja sama erat dengan komunitas intelijen—melaksanakan perencanaan, simulasi, dan latihan intensif dengan tingkat kerahasiaan sangat tinggi.

Salah satu detail paling mencolok adalah pembangunan replika istana kepresidenan Venezuela dalam skala 1:1. Replika ini digunakan untuk latihan berulang pasukan Delta Force, yang disebut telah berlatih ratusan kali guna memastikan tidak ada satu pun mata rantai operasi yang gagal.

Di saat yang sama, badan intelijen AS melakukan pemantauan jangka panjang yang sangat rinci terhadap Maduro:

  • pola makan dan kebiasaan berpakaian,
  • jadwal harian dan rute pergerakan,
  • tingkat keamanan internal istana,
  • hingga detail sekecil perilaku hewan peliharaan di lingkungan istana.

Seluruh informasi tersebut dipetakan secara presisi untuk menentukan momen eksekusi paling sempurna.

Setelah semua parameter terpenuhi, militer AS menunggu jendela waktu ideal. Kondisi cuaca dan lapisan awan pada dini hari 3 Januari dinilai memenuhi syarat optimal, dan lampu hijau operasi pun diberikan.

Perintah Presiden dan Serangan Udara Terkoordinasi

Pada 2 Januari pukul 22:45, Presiden Donald Trump secara resmi mengeluarkan perintah operasi.

Menjelang dini hari 3 Januari, pada saat tingkat visibilitas paling rendah dan risiko deteksi paling kecil, militer AS melancarkan serangan udara terkoordinasi besar-besaran.

Sebanyak 150 pesawat militer—termasuk F/A-18, F-22, F-35, pesawat peperangan elektronik, pesawat peringatan dini, serta pembom strategis—lepas landas serentak dari sekitar 20 pangkalan darat dan laut.

Angkatan Udara, Angkatan Laut, Korps Marinir, dan Garda Nasional membentuk perisai udara berlapis, sementara pasukan khusus Angkatan Darat diterbangkan menggunakan helikopter pada ketinggian sangat rendah (sekitar 30 meter di atas permukaan laut) menuju ibu kota Caracas.

Langkah pertama operasi gabungan ini adalah melumpuhkan sistem pengawasan dan komunikasi elektronik militer Venezuela. Serangan kejutan tersebut berhasil total, membuat pihak Venezuela nyaris tidak menyadari ancaman hingga pasukan khusus sudah berada di jantung target.

Maduro Ditangkap Hidup-hidup di Istana

Pada pukul 01: 01 dini hari, pasukan khusus AS mendarat langsung di kompleks istana kepresidenan. Kontak senjata terjadi dengan pasukan pengawal Maduro. Salah satu helikopter AS sempat terkena tembakan, namun tetap mampu beroperasi.

Dengan keunggulan daya tembak dan koordinasi, pasukan AS dengan cepat menguasai situasi. Maduro yang terkejut mencoba melarikan diri ke ruang aman berlapis baja, namun berhasil dikejar dan ditangkap sebelum pintu ruang tersebut tertutup.

Menariknya, militer AS sebenarnya telah menyiapkan perangkat penghancur pintu baja berdaya tinggi yang secara teori mampu menembus pintu ruang aman dalam waktu sekitar 47 detik. Namun karena operasi berlangsung terlalu cepat, perangkat tersebut tidak sempat digunakan.

Tak lama kemudian, helikopter evakuasi dipanggil. Maduro beserta istrinya segera diterbangkan keluar area, sementara pesawat tempur tetap berjaga di udara. Hanya terjadi kontak senjata kecil selama fase penarikan pasukan.

Pada pukul 03 : 29, seluruh 150 pesawat kembali ke pangkalan masing-masing dengan selamat. Tidak ada korban jiwa di pihak AS. Operasi berisiko tinggi ini pun berakhir sempurna.

Isu “Teknologi Hitam”: Menangkap Siapa Pun dalam Satu Jam

Sehari setelah operasi, pada 4 Januari, perhatian publik beralih ke sebuah pernyataan lama dari Letnan Jenderal Angkatan Udara AS (purnawirawan) Steven Kwast, yang disampaikan pada November 2019.

Dalam pidato tersebut—yang kembali viral—Kwast menyebut bahwa Amerika Serikat telah menguasai teknologi revolusioner yang berpotensi membuat teknologi kedirgantaraan saat ini menjadi usang.

Media militer The War Zone melaporkan bahwa pada menit ke-12 pidatonya, Kwast menyatakan: “Teknologi ini sudah berada di meja uji coba teknik. Saya menghabiskan 33 tahun bersama para ilmuwan ini. Teknologi ini tidak memerlukan pengembangan lebih lanjut dan mampu memindahkan siapa pun dari titik mana pun di bumi ke lokasi lain dalam waktu kurang dari satu jam.”

Kwast sebelumnya menjabat sebagai Komandan Komando Pendidikan dan Pelatihan Angkatan Udara AS di Pangkalan Gabungan San Antonio, sebuah posisi strategis dalam struktur militer. Ia resmi pensiun pada 2019. Meski beredar rumor bahwa ia dipensiunkan lebih awal karena berbicara terlalu terbuka soal isu luar angkasa, Kwast tidak pernah mengonfirmasi kabar tersebut.

Pernyataan Trump dan Dampak Global

Isu teknologi ini kembali menguat setelah publik mengingat pernyataan Presiden Trump pada April tahun lalu di Ruang Oval: “Kita sangat kuat. Negara ini memiliki kekuatan yang jauh melampaui imajinasi manusia. Kita memiliki senjata yang tidak diketahui siapa pun—dan itu adalah senjata paling kuat di dunia.”

Apakah teknologi “penangkapan dalam satu jam” benar-benar ada masih belum dapat dipastikan. Namun satu hal jelas: tanpa teknologi tersebut pun, Amerika Serikat telah berhasil menangkap Nicolás Maduro melalui operasi militer konvensional yang sangat presisi.

Operasi ini disebut-sebut memberi efek gentar besar terhadap poros negara-negara pesaing seperti Tiongkok dan Rusia. 

Di media sosial, warganet bahkan berseloroh: “Kalau teknologi itu benar-benar ada, mungkin ada pemimpin dunia yang tak bisa tidur nyenyak lagi.”

03 : 30 Dini Hari yang Mengubah Dunia: Caracas Dibombardir, Maduro Ditangkap Hidup-Hidup”

EtIndonesia. Tanggal 3 Januari 2026 layak dicatat sebagai salah satu momen paling menentukan dalam sejarah politik global sekaligus sejarah militer internasional. Pada hari itu, dunia tersentak oleh sebuah operasi militer Amerika Serikat yang cepat, presisi, dan berujung pada penangkapan hidup-hidup pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, langsung dari jantung ibu kota Caracas.

Dini Hari yang Menjadi Titik Balik

Beberapa jam sebelumnya, publik internasional masih bertanya-tanya mengapa Donald Trump dilaporkan aktif hingga lewat pukul 02 : 00 dini hari. Awalnya, banyak yang menduga fokusnya tertuju pada krisis Iran. Namun, kenyataan terungkap kemudian: Trump tengah memimpin persiapan akhir sebuah operasi besar yang telah dirancang berbulan-bulan—menyasar Venezuela.

Bagi rakyat Amerika, momen ini dipandang sebagai unjuk kekuatan paling dramatis sejak Trump kembali menempati Gedung Putih. Sebaliknya, bagi Maduro, dini hari tersebut menjadi titik tergelap dalam hidup dan kekuasaannya.

03 : 30 Waktu Setempat: Caracas Diguncang Ledakan

Sekitar pukul 03:30 dini hari, 3 Januari 2026, warga Caracas terbangun oleh rentetan ledakan dahsyat yang berlangsung hampir satu jam penuh. Target gelombang pertama serangan militer AS sangat jelas dan terukur:

  • Sistem pertahanan udara Venezuela
  • Pusat komando militer dan komunikasi
  • Pangkalan militer strategis dan bandara utama

Militer AS mengerahkan rudal jelajah serta bom luncur presisi, menghantam sasaran-sasaran vital secara akurat. Secara bersamaan, listrik di wilayah selatan Caracas terputus total, menenggelamkan sebagian besar ibu kota ke dalam kegelapan—sebuah langkah klasik untuk melumpuhkan koordinasi pertahanan.

Para analis menegaskan, ini bukan pemboman acak. Ini adalah operasi presisi tinggi, dirancang sebagai pembuka jalan menuju misi utama: penangkapan langsung kepala rezim.

Langit Venezuela “Menghilang” dari Radar

Tak hanya warga Caracas yang merasakan kejanggalan. Situs pelacak penerbangan global mendeteksi anomali besar: seluruh transponder pesawat di wilayah udara Venezuela mendadak dimatikan oleh Angkatan Udara AS. Pada peta pemantauan real-time, wilayah udara Venezuela tampak kosong total.

Bagi komunitas pengamat militer internasional, tanda ini hanya memiliki satu makna: sebuah operasi militer berskala besar sedang berlangsung.

Helikopter Muncul di Langit Caracas

Di tengah dentuman ledakan, sebagian warga berhasil merekam pemandangan yang jauh lebih mencekam: rombongan besar helikopter militer AS terbang rendah memasuki Caracas.

Helikopter-helikopter tersebut membawa pasukan khusus Amerika Serikat, bergerak langsung menuju lokasi persembunyian Maduro, sebuah kompleks militer dengan tingkat pengamanan tertinggi yang difungsikan sebagai kediaman sementaranya.

04:21: Konfirmasi Resmi dari Gedung Putih

Pada pukul 04:21 dini hari, 3 Januari 2026, Presiden Trump secara pribadi mengonfirmasi kabar yang langsung mengguncang dunia melalui pernyataan resminya. 

Dalam unggahan tersebut ditegaskan: “Amerika Serikat telah berhasil melaksanakan operasi penindakan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya. Nicolás Maduro beserta istrinya telah ditangkap dan dibawa keluar dari negara tersebut. Operasi ini dilakukan melalui kerja sama berbagai lembaga penegak hukum Amerika Serikat.”

Di Balik Penangkapan: Operasi Pasukan Elit

Penangkapan Maduro dijalankan oleh unit paling elit militer AS:

  • Delta Force Angkatan Darat AS
  • Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 (Night Stalkers)

Operasi ini melibatkan helikopter Apache, Black Hawk, dan helikopter angkut berat Chinook bermesin ganda.

Tahap pertama dimulai dengan serangan Apache yang melumpuhkan penjaga dan perlawanan di sekitar kompleks. Setelah area dinyatakan aman, pasukan khusus yang diangkut Black Hawk dan Chinook bergerak cepat menembus pusat kota.

Maduro dan istrinya ditemukan di kamar tidur, masih mengenakan pakaian tidur, sebelum sempat melakukan perlawanan berarti.

Kolaborasi Delta Force dan Night Stalkers dikenal sebagai pasangan paling mematikan dalam operasi khusus Amerika, dengan rekam jejak panjang sejak operasi penangkapan Saddam Hussein hingga misi-misi berisiko tinggi lain di berbagai belahan dunia.

Ruang Aman yang Tak Pernah Terpakai

Dalam wawancara televisi setelah operasi, Trump mengungkap detail krusial: di dalam rumah Maduro terdapat ruang aman berdinding dan berpintu baja solid. Maduro sempat berusaha mencapainya, namun ditangkap lebih dulu.

Militer AS diketahui telah mempelajari secara rinci tata letak rumah dan ruang pribadi Maduro, bahkan menyiapkan peralatan pemotong logam berdaya tinggi untuk membobol pintu baja tersebut jika diperlukan. Namun, kecepatan operasi membuatnya tak pernah digunakan.

Pasca-Penangkapan: Transisi dan Kekhawatiran

Meski sebagian rakyat Venezuela turun ke jalan merayakan kejatuhan diktator, para analis menilai jalan pemulihan baru saja dimulai.

Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Trump menyatakan bahwa militer AS akan sementara mengambil alih pengelolaan Venezuela, hingga transisi politik yang aman dapat diwujudkan. Langkah ini menuai perdebatan soal kedaulatan, namun dinilai perlu untuk mencegah kekacauan oleh sisa loyalis Maduro, kartel narkoba, dan kelompok bersenjata.

Tokoh oposisi Venezuela peraih Penghargaan Nobel Perdamaian, María Corina Machado, menegaskan kesiapan oposisi mengambil alih pemerintahan. Dia mendesak pengakuan internasional terhadap Edmundo González sebagai presiden sah demi memulihkan supremasi hukum dan demokrasi parlementer.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengonfirmasi telah berbicara via telepon dengan Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, yang akan menjabat sebagai presiden sementara dan menyatakan kesediaannya menjalankan transisi demokratis sesuai syarat AS.

Dakwaan Federal Menanti di New York

Tak lama setelah penangkapan, Jaksa Agung AS, Pam Bondi mengumumkan bahwa Maduro dan istrinya resmi didakwa di Pengadilan Federal Distrik Selatan New York.

Maduro menghadapi tiga dakwaan utama:

  • Konspirasi narkoterorisme
  • Konspirasi penyelundupan kokain
  • Konspirasi kepemilikan senapan mesin dan perangkat penghancur di wilayah AS

Ironisnya, mantan penguasa Venezuela itu diperkirakan akan ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn—di mana Patung Liberty tampak jelas dari kejauhan, menjadi simbol kontras antara kebebasan dan kejatuhan seorang diktator.

Dari puncak kekuasaan ke balik jeruji besi, semuanya terjadi dalam hitungan menit—pada satu dini hari yang mengubah arah sejarah Venezuela dan mengguncang tatanan dunia.

Bekerja untuk Mewujudkan Mimpi

EtIndonesia. Charles Schwab lahir di pedesaan Amerika Serikat dan hanya mengecap pendidikan formal dalam waktu yang sangat singkat. Pada usia 15 tahun, karena keluarganya hidup dalam kemiskinan, dia pergi ke sebuah desa pegunungan untuk bekerja sebagai penjaga kuda. Namun, meski hidup serba kekurangan, Schwab memiliki ambisi besar dan tak pernah berhenti mencari peluang baru.

Tiga tahun kemudian, Schwab bekerja di sebuah proyek pembangunan milik raja baja Andrew Carnegie. Begitu menginjakkan kaki di lokasi proyek, dia langsung bertekad untuk menjadi pekerja terbaik di antara rekan-rekannya. Saat para pekerja lain mengeluhkan kerasnya pekerjaan dan rendahnya upah hingga bekerja asal-asalan, Schwab justru diam-diam mengumpulkan pengalaman kerja dan belajar sendiri ilmu teknik konstruksi.

Suatu malam, ketika para pekerja lain asyik mengobrol, Schwab terlihat menyendiri di sudut, membaca buku. Kebetulan, manajer perusahaan datang memeriksa lokasi. Dia melirik buku yang dipegang Schwab, membuka catatan yang ditulisnya, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.

Keesokan harinya, manajer memanggil Schwab ke kantornya dan bertanya: “Mengapa kamu mempelajari semua itu?”

Dengan tenang Schwab menjawab : “Menurut saya, perusahaan kita tidak kekurangan tenaga kerja. Yang kurang adalah orang-orang yang memiliki pengalaman kerja sekaligus pengetahuan profesional—tenaga ahli atau manajer, bukan?”

Manajer itu terdiam, mengangguk pelan, lalu menatap serius pemuda sederhana di hadapannya. Tak lama kemudian, Schwab dipromosikan menjadi teknisi.

Beberapa rekan kerjanya mengejek dan menyindirnya. 

Schwab menjawab:  “Aku bukan sekadar bekerja untuk bos, dan bukan semata-mata demi uang. Aku bekerja untuk impianku sendiri, untuk masa depanku. Kita hanya bisa meningkatkan nilai diri lewat kinerja. Aku ingin nilai yang kuhasilkan dari pekerjaanku jauh melampaui gaji yang kuterima. Hanya dengan begitu aku akan dipercaya dan mendapatkan kesempatan.”

Dengan keyakinan itu, Schwab terus naik jabatan hingga menjadi kepala insinyur. Pada usia 25 tahun, dia diangkat sebagai manajer umum perusahaan baja tersebut dan memikul tanggung jawab besar untuk membangun pabrik baja terbesar—Brad Steel Works. Berkat kerja keras luar biasa, dua tahun kemudian dia menjadi direktur pabrik, dan perlahan-lahan menjelma sebagai tokoh kunci dalam perusahaan baja milik Carnegie. Beberapa tahun berselang, Carnegie menunjuknya sebagai ketua perusahaan.

Pada tahun ketujuh masa jabatannya sebagai ketua, taipan besar yang menguasai jalur kereta api Amerika, J. P. Morgan, mengajukan kerja sama pengelolaan industri baja dengan Carnegie. Awalnya, Carnegie mengabaikannya. Morgan lalu menyebarkan kabar bahwa jika Carnegie menolak, dia akan bekerja sama dengan perusahaan baja terbesar kedua saat itu, Bethlehem Steel. Mendengar itu, Carnegie menjadi cemas karena aliansi tersebut jelas akan mengancam usahanya.

Suatu hari, Carnegie menyerahkan selembar daftar persyaratan kepada Schwab dan berkata: “Berdasarkan syarat-syarat ini, pergilah dan bicarakan kerja sama dengan Morgan.”

Schwab membaca daftar itu sekilas, lalu tersenyum dan berkata: “Anda memang memiliki keputusan akhir. Namun izinkan saya menyampaikan bahwa jika negosiasi dilakukan dengan syarat-syarat ini, Morgan pasti setuju—tetapi Anda akan kehilangan banyak uang. Sepertinya Anda belum meneliti masalah ini sedetail saya.”

Setelah menganalisis ulang, Carnegie mengakui bahwa dia terlalu melebihkan posisi Morgan. Dia pun memberi Schwab wewenang penuh untuk bernegosiasi. Hasilnya, Schwab berhasil mendapatkan syarat kerja sama yang sangat menguntungkan pihak Carnegie.

Merasa dirugikan, Morgan berkata: “Kalau begitu, minta Carnegie datang ke kantor saya besok untuk menandatangani perjanjian.”

Keesokan paginya, Schwab justru datang sendiri ke kantor Morgan dan menyampaikan pesan Carnegie: “Jarak dari Jalan 51 ke Wall Street sama persis dengan jarak dari Wall Street ke Jalan 51.”

Morgan terdiam lama, lalu berkata : “Baiklah, aku yang akan datang.”

Morgan belum pernah merendahkan diri dengan mendatangi kantor orang lain. Namun kali ini, dia berhadapan dengan seseorang yang sepenuhnya bekerja demi misinya—Schwab—sehingga dia pun harus menurunkan kepala yang penuh kesombongan itu.

Pada akhirnya, Schwab mendirikan sendiri perusahaan baja raksasa Bethlehem Steel, menciptakan prestasi luar biasa, dan benar-benar menuntaskan lompatan besar dalam hidupnya—dari seorang buruh menjadi seorang pengusaha besar.(jhn/yn)

Ketika Utusan Xi Jinping Tiba  di Venezuela untuk Memberikan Dukungan, Trump Langsung Perintahkan Penangkapan Maduro Pada Malam Itu Juga

Utusan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping mengunjungi Venezuela pada 2 Januari, yang mana jelas dimaksudkan untuk memberi “semangat” kepada Presiden Venezuela Nicolás Maduro saat sedang berada di bawah tekanan berat Amerika Serikat. Militer AS mengungkapkan bahwa pada malam yang sama, Presiden Trump memerintahkan serangan malam ke Venezuela.

EtIndonesia. Pada 3 Januari 2026 dini hari, militer AS melancarkan serangan malam ke sejumlah kota di Venezuela dan menangkap pasangan Maduro dari ibu kota Caracas. Seluruh operasi hanya memakan waktu sekitar tiga jam.

Dalam konferensi pers  3 Januari, pihak militer AS menjelaskan bahwa pada 2 Januari pukul 22.46, Presiden Trump mengeluarkan perintah serangan. Militer AS mengerahkan sekitar 150 pesawat dan menyelesaikan operasi militer yang telah direncanakan selama berbulan-bulan hanya dalam hitungan jam.

Banyak pihak di luar negeri secara serempak mengaitkan peristiwa ini dengan pertemuan Maduro dan delegasi PKT pada  2 Januari siang. Sejumlah media melaporkan secara tersirat bahwa hanya “beberapa jam” sebelum ditangkap, Maduro baru saja bertemu dengan utusan khusus PKT.

Pada hari itu, utusan khusus Xi Jinping untuk urusan Amerika Latin, Qiu Xiaoqi, memimpin delegasi mengunjungi Venezuela. Istana Kepresidenan Venezuela secara terbuka mempromosikan pertemuan antara Maduro dan perwakilan PKT yang berlangsung lebih dari tiga jam, serta menekankan apa yang disebut sebagai “persahabatan bersaudara” dan “hubungan kerja sama sepanjang waktu.” Kedua pihak juga menandatangani lebih dari 600 perjanjian.

Dalam beberapa bulan sebelumnya, pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan terhadap Maduro, menuntut agar ia mengakhiri pemerintahan otoriter dan menghentikan pengiriman narkoba ke Amerika Serikat. 

Kunjungan PKT ke Venezuela pada saat ini jelas dimaksudkan untuk menunjukkan dukungan dan “bersatu melawan Amerika.” Banyak pengamat politik menilai bahwa kemampuan Maduro untuk bertahan lama di bawah tekanan berat AS berkaitan dengan dukungan diam-diam PKT. Keputusan Trump untuk menangkap Maduro hidup-hidup setelah pertemuannya dengan perwakilan PKT kemungkinan dimaksudkan sebagai peringatan keras kepada PKT.

Dalam konferensi pers 3 Januari, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memberi Maduro terlalu banyak kesempatan, namun ia tetap bersikeras pada jalannya sendiri.

Sebelumnya, media berulang kali melaporkan bahwa pemerintahan Trump dan Maduro pernah melakukan kontak rahasia, membahas berbagai skema untuk menjamin “pengunduran diri yang aman” bagi Maduro, namun semuanya gagal mencapai kesepakatan.

Seorang pembuat konten media independen melaporkan bahwa saat militer AS menangkap Maduro, delegasi Tiongkok belum meninggalkan Caracas. Namun, informasi ini untuk sementara sulit diverifikasi.

Trump sendiri mengatakan dalam wawancara media pada 3 Januari bahwa ketika ia memerintahkan penangkapan hidup terhadap Maduro, ia “tidak mengetahui” bahwa Maduro pada hari itu telah bertemu dengan perwakilan Tiongkok. (Hui)