Ketika Utusan Xi Jinping Tiba  di Venezuela untuk Memberikan Dukungan, Trump Langsung Perintahkan Penangkapan Maduro Pada Malam Itu Juga

Utusan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping mengunjungi Venezuela pada 2 Januari, yang mana jelas dimaksudkan untuk memberi “semangat” kepada Presiden Venezuela Nicolás Maduro saat sedang berada di bawah tekanan berat Amerika Serikat. Militer AS mengungkapkan bahwa pada malam yang sama, Presiden Trump memerintahkan serangan malam ke Venezuela.

EtIndonesia. Pada 3 Januari 2026 dini hari, militer AS melancarkan serangan malam ke sejumlah kota di Venezuela dan menangkap pasangan Maduro dari ibu kota Caracas. Seluruh operasi hanya memakan waktu sekitar tiga jam.

Dalam konferensi pers  3 Januari, pihak militer AS menjelaskan bahwa pada 2 Januari pukul 22.46, Presiden Trump mengeluarkan perintah serangan. Militer AS mengerahkan sekitar 150 pesawat dan menyelesaikan operasi militer yang telah direncanakan selama berbulan-bulan hanya dalam hitungan jam.

Banyak pihak di luar negeri secara serempak mengaitkan peristiwa ini dengan pertemuan Maduro dan delegasi PKT pada  2 Januari siang. Sejumlah media melaporkan secara tersirat bahwa hanya “beberapa jam” sebelum ditangkap, Maduro baru saja bertemu dengan utusan khusus PKT.

Pada hari itu, utusan khusus Xi Jinping untuk urusan Amerika Latin, Qiu Xiaoqi, memimpin delegasi mengunjungi Venezuela. Istana Kepresidenan Venezuela secara terbuka mempromosikan pertemuan antara Maduro dan perwakilan PKT yang berlangsung lebih dari tiga jam, serta menekankan apa yang disebut sebagai “persahabatan bersaudara” dan “hubungan kerja sama sepanjang waktu.” Kedua pihak juga menandatangani lebih dari 600 perjanjian.

Dalam beberapa bulan sebelumnya, pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan terhadap Maduro, menuntut agar ia mengakhiri pemerintahan otoriter dan menghentikan pengiriman narkoba ke Amerika Serikat. 

Kunjungan PKT ke Venezuela pada saat ini jelas dimaksudkan untuk menunjukkan dukungan dan “bersatu melawan Amerika.” Banyak pengamat politik menilai bahwa kemampuan Maduro untuk bertahan lama di bawah tekanan berat AS berkaitan dengan dukungan diam-diam PKT. Keputusan Trump untuk menangkap Maduro hidup-hidup setelah pertemuannya dengan perwakilan PKT kemungkinan dimaksudkan sebagai peringatan keras kepada PKT.

Dalam konferensi pers 3 Januari, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memberi Maduro terlalu banyak kesempatan, namun ia tetap bersikeras pada jalannya sendiri.

Sebelumnya, media berulang kali melaporkan bahwa pemerintahan Trump dan Maduro pernah melakukan kontak rahasia, membahas berbagai skema untuk menjamin “pengunduran diri yang aman” bagi Maduro, namun semuanya gagal mencapai kesepakatan.

Seorang pembuat konten media independen melaporkan bahwa saat militer AS menangkap Maduro, delegasi Tiongkok belum meninggalkan Caracas. Namun, informasi ini untuk sementara sulit diverifikasi.

Trump sendiri mengatakan dalam wawancara media pada 3 Januari bahwa ketika ia memerintahkan penangkapan hidup terhadap Maduro, ia “tidak mengetahui” bahwa Maduro pada hari itu telah bertemu dengan perwakilan Tiongkok. (Hui)

Tangkap Maduro dan Istrinya Hidup-hidup, Dunia Tercengang, Rakyat Tiongkok Bersorak

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu dini hari mengumumkan di Truth Social bahwa Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya telah ditangkap oleh Amerika Serikat dan dideportasi keluar dari Venezuela. Kabar ini mengguncang komunitas internasional. Banyak pemerintah negara menyatakan keprihatinan dan perhatian, sementara warganet Tiongkok juga sangat menaruh perhatian pada perkembangan ini.

Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Kaja Kallas, menulis di platform X: “Uni Eropa sedang memantau dengan cermat situasi di Venezuela. Uni Eropa telah berulang kali menyatakan bahwa rezim Maduro tidak memiliki legitimasi dan mendukung transisi damai.” Ia menyerukan semua pihak untuk “menahan diri” dan menghormati “hukum internasional”.

Kementerian luar negeri Italia, Spanyol, Belanda, Belgia, dan negara-negara lain juga menyatakan bahwa mereka sedang memantau dengan ketat situasi di Venezuela, serta memperhatikan keselamatan warga negara mereka yang berada di negara tersebut.

Presiden Argentina Javier Milei menulis di platform X untuk memuji: “Kebebasan maju! Hidup kebebasan!”

Sejumlah analis menilai bahwa tindakan Amerika Serikat terhadap Venezuela kali ini memiliki dampak yang sangat besar. Pemerintah AS dalam waktu yang sangat singkat berhasil menyingkirkan sebuah pemerintahan diktator yang bermusuhan—sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah.

Arah hubungan antara Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Venezuela juga menjadi sorotan dunia luar. Beberapa jam sebelum ditangkap, Maduro masih berada di Venezuela dan bertemu dengan utusan khusus pemimpin PKT Xi Jinping, Qiu Xiaoqi, beserta rombongan.

Pembawa acara saluran militer Mark Space-Time, Mark, mengatakan: “Pendekatan ‘menangkap pemimpin terlebih dahulu’ seperti ini jelas merupakan bentuk guncangan besar bagi PKT dan rezim-rezim diktator lainnya.

Jika mereka benar-benar ditangkap, maka seluruh sistem politik akan mengalami guncangan hebat, termasuk di negara-negara tersebut—baik oposisi maupun para pemimpin politik dengan pandangan berbeda—yang berpotensi naik ke panggung kekuasaan.

Karena para diktator ini sering kali sarat dengan kejahatan dan tangan mereka berlumuran darah rakyat. Begitu mereka ditangkap, mereka akan diadili kembali dan kemudian dijatuhi hukuman.”

Menanggapi penangkapan Maduro, ada warganet yang berkomentar: “Teman PKT berkurang satu lagi.”

Warganet Tiongkok lainnya menulis: “Dunia ini sungguh ajaib. Trump menangkap Maduro, yang paling bahagia bukan orang Amerika, melainkan rakyat Tiongkok yang berada ribuan kilometer jauhnya. Ponsel saya terus berbunyi, pesan ucapan selamat yang masuk semuanya dari teman-teman di dalam negeri.” (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Tang Li dan Yuwei.

Trump : Militer AS Menangkap Maduro, Rakyat Merayakan Runtuhnya Kediktatoran

Pada Sabtu dini hari, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkonfirmasi bahwa militer AS melancarkan operasi militer dan menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, lalu membawanya keluar dari Venezuela. Trump juga mengatakan bahwa pada pukul 11.00 waktu Pantai Timur AS, ia akan mengadakan konferensi pers di Mar-a-Lago. Warga Venezuela yang tinggal di luar negeri, setelah mengetahui kabar penangkapan Maduro, berkumpul untuk merayakan runtuhnya rezim diktator.

EtIndonesia. Presiden AS Donald Trump menulis di platform media sosial sekitar pukul 04.00 dini hari pada Sabtu:  “Amerika Serikat telah berhasil melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan para pemimpinnya, Presiden Nicolás Maduro. Presiden Maduro dan istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara itu.”

Trump juga menyatakan:  “Operasi ini dilakukan bersama dengan lembaga penegak hukum Amerika Serikat.”

Menurut keterangan para saksi mata, beberapa jam sebelumnya terdengar beberapa ledakan di ibu kota Venezuela, Caracas.

Infrastruktur di Pangkalan Udara La Carlota, yang terletak di dekat Caracas, mengalami kerusakan, dan sejumlah kendaraan terbakar.

Seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Maduro ditangkap oleh pasukan khusus elite AS.

Sekitar pukul 06.00, Senator AS Mike Lee menulis di platform X bahwa ia baru saja berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Ia mengatakan:  “Rubio memberi tahu saya bahwa Nicolás Maduro telah ditangkap oleh personel militer AS dan akan dibawa ke Amerika Serikat untuk menjalani proses peradilan pidana. Aksi militer yang kita saksikan malam ini bertujuan untuk melindungi dan membela personel yang melaksanakan surat perintah penangkapan.”

Mike Lee sebelumnya secara terbuka mempertanyakan tindakan AS di Venezuela, namun setelah berbicara dengan Rubio ia menyatakan:  “Operasi ini kemungkinan berada dalam lingkup kewenangan inheren presiden, berdasarkan Pasal II Konstitusi, untuk melindungi personel Amerika dari serangan nyata atau yang akan segera terjadi.”

Pemerintah Venezuela menyatakan bahwa serangan udara pada hari Sabtu menyebabkan kematian warga sipil dan personel militer, namun tidak merinci jumlah korban.

Menurut hukum Venezuela, Wakil Presiden Delcy Rodríguez akan menjalankan kekuasaan presiden. Ia sebelumnya menuntut agar Amerika Serikat segera memberikan bukti bahwa Presiden Maduro dan istrinya masih hidup.

Pada November tahun lalu, Amerika Serikat menetapkan Maduro sebagai pemimpin organisasi teroris asing, dengan alasan keterkaitannya dengan kartel narkoba.

Belakangan ini, ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela terus meningkat. AS telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan Karibia untuk menindak kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba.

Sejatinya, sejak tahun 2020 Maduro telah menghadapi tuduhan terorisme narkoba di Amerika Serikat. Saat itu, jaksa federal New York menuduhnya bekerja sama dengan kelompok pemberontak Kolombia untuk membanjiri Amerika Serikat dengan kokain, yang membahayakan kesehatan warga Amerika.

Jaksa Agung AS Bondi pada pukul 08.00 mengonfirmasi melalui media sosial bahwa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah didakwa oleh Pengadilan Distrik Selatan New York.

Bondi mengatakan:  “Nicolás Maduro didakwa melakukan konspirasi terorisme narkoba terhadap Amerika Serikat, konspirasi penyelundupan kokain, kepemilikan ilegal senapan mesin dan bahan peledak, serta konspirasi kepemilikan senapan mesin dan bahan peledak.”

Bondi menambahkan:  “Mereka akan segera diadili sepenuhnya oleh sistem peradilan Amerika Serikat di pengadilan di wilayah AS.”

Warga Venezuela yang tinggal di Chili, setelah mengetahui kabar bahwa Maduro ditangkap oleh Amerika Serikat, berkumpul dan merayakan runtuhnya rezim diktator Maduro.

Warga Venezuela, Jose Gregorio, mengatakan:  “Bagi saya, ini adalah kebahagiaan yang tak terlukiskan. Hari ini saya merasa seperti orang Venezuela yang sejati. Setelah bertahun-tahun, begitu banyak perjuangan dan usaha, akhirnya hari ini tiba.”

Banyak komunitas diaspora Venezuela di Chili terpaksa meninggalkan tanah air mereka untuk melarikan diri dari kehancuran ekonomi dan penindasan politik di bawah rezim Maduro.

Di lokasi perayaan, massa meneriakkan “kebebasan” sambil mengibarkan bendera Venezuela dan Amerika Serikat. (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Li Mei dan Liu Fang.

MYZE Hotel Sumenep Sukses Meriahkan Akhir Tahun 2025 dengan Gala Dinner “Wanderer Years Ahead”

0

Sumenep, Januari 2026 – MYZE Hotel Sumenep berhasil menutup tahun 2025 dengan meriah melalui rangkaian program “Semarak Akhir Tahun” yang digelar sepanjang Desember. Puncak acara, yaitu Gala Dinner Tahun Baru bertajuk “Wanderer Years Ahead”, berlangsung sukses pada 31 Desember 2025 dan dihadiri lebih dari 400 tamu dari kalangan keluarga, komunitas, rekan bisnis, dan masyarakat umum.

Mengusung konsep Pop Art era 80–90’an yang penuh warna, ceria, dan energik, acara ini menawarkan pengalaman berbeda bagi seluruh hadirin. Gala dinner dimulai pukul 19.00 WIB dengan sajian all you can eat buffet, hiburan musik langsung dari Band MASTERBEAT, penampilan DJ, permainan interaktif, pembagian doorprize, dan puncaknya adalah momen countdown menyambut Tahun Baru 2026 yang penuh euforia.

Selain acara puncak, MYZE Hotel Sumenep juga menyediakan paket menginap eksklusif “Snooze & Stay” yang mendapat respons positif dari masyarakat yang ingin menghabiskan liburan akhir tahun dengan fasilitas hotel yang nyaman sekaligus merasakan kemeriahan perayaan tahun baru.

Anndy Bramasto, S.E., M.Par., General Manager MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL, menyatakan kebanggaannya atas antusiasme peserta. “Kehadiran lebih dari 400 orang dalam Gala Dinner menjadi bukti kepercayaan berbagai kalangan kepada MYZE Hotel Sumenep. Kami berharap momen ini menjadi pengalaman berkesan yang membawa kebahagiaan dan semangat baru di tahun 2026,” ujarnya.

Dengan kesuksesan ini, MYZE Hotel Sumenep berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program kreatif dan berkesan bagi masyarakat Sumenep dan tamu hotel, serta menjadi pilihan utama untuk menginap, bersantap, dan merayakan momen spesial di masa mendatang.

Mewujudkan Impian 

EtIndonesia. Banyak orang pernah mendengar tentang pikiran bawah sadar—mengetahuinya, memahaminya, bahkan ada yang mencoba memanfaatkannya. Salah satu praktisi terbaiknya adalah bintang Hollywood, Jim Carrey.

Ketika Jim Carrey masih remaja, dia sudah menetapkan satu tekad: dia harus sukses. Latar belakang keluarganya sederhana, sehingga setiap hari yang bisa dia lakukan hanyalah berlatih melucu—bercermin, membuat ekspresi wajah aneh dan segar berulang-ulang.

Jika kamu pernah menonton film-film Jim Carrey, mungkin kamu bertanya-tanya: bagaimana mulutnya bisa terbuka begitu lebar? Bagaimana wajahnya bisa berubah sedemikian ekstrem? Faktanya, semua itu adalah hasil latihan selama 15 tahun tanpa henti.

Itulah sebabnya, setiap orang yang berhasil selalu memiliki contoh nyata dari proses panjang menuju sukses.

Pada masa itu, saat Jim Carrey memantapkan tekad untuk berhasil, dia mulai memanfaatkan kekuatan pikiran bawah sadar. 

Suatu hari, dia mengambil selembar cek kosong dan menuliskan kalimat ini:  “Cek ini dibayarkan kepada Jim Carrey sebesar 10 juta dolar AS, dan pada akhir tahun 1995 saya akan memiliki 10 juta dolar AS dalam bentuk tunai.”

Setelah menulisnya, dia menyimpan cek tersebut dan selalu membawanya. Setiap kali ada waktu luang, dia mengeluarkan cek itu dan membacanya berulang-ulang:
“Jim Carrey memperoleh 10 juta dolar pada akhir 1995.”
“Jim Carrey memperoleh 10 juta dolar pada akhir 1995.”

Hari demi hari, dia mengulanginya.

Ajaibnya, pada tahun 1995, tepat di tahun kedua karier filmnya, Jim Carrey menandatangani kontrak film senilai 20 juta dolar AS per film—dua kali lipat dari target awalnya.

Setelah ayahnya meninggal, Jim Carrey datang ke makam sang ayah. Dia meletakkan cek kosong itu di samping nisan dan berkata: “Ayah, aku akhirnya berhasil.”

Kekuatan pikiran bawah sadar sungguh luar biasa. Hampir semua orang sukses memanfaatkannya. Karena itu, kita pun bisa menggunakan pikiran bawah sadar untuk mewujudkan impian kita.

Beberapa tahun lalu, saat mengunjungi sebuah pameran mobil, aku melihat sebuah sedan Mercedes-Benz. Saat itu, aku berencana membeli S320. Namun yang dipajang di pameran adalah S600. Karena bentuk luarnya mirip, aku berdiri di samping mobil itu dan meminta istriku memotretku. Setelahnya, foto itu kusimpan di laci dan nyaris tak pernah kulihat lagi.

Hingga suatu hari, asistensku datang ke rumah. Aku berkata kepadanya : “Kalau kamu ingin sukses, kamu harus menggunakan kekuatan pikiran bawah sadar.”

Lalu aku mengeluarkan papan impian lamaku dari dalam map cokelat. Banyak hal di sana ternyata sudah terwujud.

 Aku menunjukkannya satu per satu:  “Ini furniturku—sama dengan yang kamu lihat sekarang. Ini meja kerjaku. Ini model jam tanganku. Ini gambar mobilku. Ini miniatur mobilku.”

Asistensku terkejut. Ia berkata: “Pak Chen, sungguh… saya harus menggunakan kekuatan pikiran bawah sadar.”

Kemudian, dari map itu aku mengeluarkan gambar Mercedes-Benz S600 yang dulu pernah kutempel. Karena merasa mobil itu terlalu mahal, aku sempat menyimpannya kembali. Namun aku baru menyadari: aku menempel banyak sekali—gambar S600, interior S600, tulisan S600—semuanya pernah kupotong dan kutempel, hingga papan itu penuh bekas paku.

Aku pun berkata kepada asistensku :  “Sepertinya aku memang sangat ingin memiliki mobil ini, hanya saja selalu merasa terlalu mahal. Tapi sekarang aku akan menempelkannya lagi di papan impianku. Aku ingin melihat apa yang akan terjadi. Meski aku tidak berniat membelinya, mari kita lihat apakah pikiran bawah sadar akan mewujudkannya hanya karena aku melihatnya setiap hari.”

Hasilnya? Dua minggu lalu, aku benar-benar membeli S600, dan interiornya persis sama dengan yang ada di papan impian. Bahkan saat membeli, aku sempat memesan warna lain.

Namun malamnya, istriku berkata: “Tidak. Kita ganti warna. Kita pilih warna yang sama dengan yang ada di papan impian.”

Dari sini terlihat betapa dahsyatnya kekuatan pikiran bawah sadar. Jika kamu tidak memanfaatkannya, sejatinya kamu sedang menyia-nyiakan hidupmu sendiri.

Saat aku berusia 17 tahun, aku sering berkata:
“Bulan depan aku akan menghasilkan 100 ribu dolar.”
“Bulan depan aku akan membeli sebuah Porsche.”

Saat itu, tentu saja belum terwujud. Namun beberapa bulan yang lalu, aku benar-benar membeli sebuah Porsche cabriolet.

Sebenarnya, semua impian bisa diwujudkan. Kuncinya hanya satu: apakah kamu mampu bertahan dan konsisten sampai akhir.(jhn/yn)

Menghukum Diri Sendiri

EtIndonesia. Tentang “hukuman”, sejak aku masih sangat kecil, ayah pernah menceritakan sebuah kisah perumpamaan kepadaku.

Suatu hari, seekor kelinci bertemu dengan seekor tikus. 

Kelinci menasihati tikus:  “Kamu sering mencuri. Apa kamu tidak takut akan hukuman dari Tuhan?”

Tikus menjawab dengan santai : “Tuhan berada jauh di atas sana. Kami hanya mencuri hal-hal kecil. Mana mungkin Dia melihatnya?”

Dengan wajah serius, kelinci berkata : “Tuhan ada di mana-mana. Apa pun yang kalian lakukan, semuanya terlihat jelas oleh-Nya. Kalian pasti akan menerima hukuman yang setimpal.”

Tikus mengejek : “Hukuman? Hukuman apa yang akan Tuhan berikan kepada kami?”

Dengan suara tegas, kelinci menjawab : “Tuhan menciptakan kucing—itulah hukuman terbaik bagi kalian.”

Begitu mendengar kata “kucing”, tikus langsung lari tunggang-langgang ketakutan.

Ketika aku sedikit lebih besar, ayah kembali menceritakan sebuah kisah “hukuman” dalam kehidupan nyata.

Seorang pencuri bertanya kepada seorang bijak : “Jika seseorang melakukan kejahatan, apakah dia akan mendapat hukuman dari Tuhan?”

Orang bijak itu menjawab :  “Tentu saja.”

Pencuri itu bertanya lagi :  “Andaikan suatu hari aku berhasil mencuri banyak emas dan perak, dan perbuatan itu tidak pernah diketahui siapa pun, bukankah itu sesuatu yang patut disyukuri?”

Orang bijak bertanya balik :  “Bagaimana mungkin kamu bisa benar-benar bahagia?”

Pencuri menjawab :  “Aku memiliki begitu banyak harta. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia?”

Orang bijak berkata dengan tenang :  “Coba pikirkan: apakah kegembiraanmu itu berani kamu perlihatkan? Berani kamu ceritakan kepada orang lain? Sekalipun hatimu dipenuhi rasa senang, selama itu tidak bisa dibagikan kepada siapa pun, kebahagiaan itu justru berubah menjadi penderitaan. Dan itulah hukuman.”

Mendengar kata-kata itu, di dalam hati si pencuri tumbuh rasa takut dan hormat yang mendalam.

Kemudian, aku pun menjadi seorang ayah.

Suatu hari, anakku bertanya kepadaku :  “Para pembohong terus-menerus berbohong, membuat orang lain tertipu dan menderita kerugian. Tapi apa kerugian bagi si pembohong sendiri? Hukuman apa yang dia terima?”

Aku berpikir sejenak, lalu menjawab : “Ketika seorang pembohong ingin mengatakan kebenaran, tetapi tidak lagi menemukan siapa pun yang mau mendengarkannya—itulah kerugiannya. Ketika dia ingin berkata jujur, tidak ada seorang pun yang mempercayainya—itulah hukumannya.”

Baik pencuri, pembohong, maupun orang jahat, pada akhirnya tidak perlu menunggu hukuman dari luar.  Karena sesungguhnya, mereka telah menghukum diri mereka sendiri.(jhn/yn)

Maduro Ditangkap Hidup-hidup oleh Militer AS,  Spekulasi Online Beredar Luas Tentang yang Menjadi Target Selanjutnya 

Kabar bahwa militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Venezuela dan menangkap hidup-hidup Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya telah mengguncang dunia. Berita ini segera memicu perbincangan panas di media sosial, dengan warganet ramai-ramai menebak: siapa yang akan menjadi target berikutnya?

EtIndonesia. Menurut laporan, pada Sabtu (3 Januari) waktu setempat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkonfirmasi bahwa militer AS melancarkan serangan udara besar-besaran ke ibu kota Venezuela, Caracas, menangkap Presiden Maduro dan istrinya, lalu menerbangkan mereka ke luar negeri.

Wakil Presiden AS J.D. Vance pada hari Sabtu menulis di platform media sosial X bahwa sebelum militer AS akhirnya menangkap Maduro dan melancarkan serangan udara besar-besaran ke Caracas, Presiden Trump sebenarnya telah memberikan beberapa opsi jalan keluar kepada Maduro.

“Presiden telah menawarkan berbagai jalan keluar, tetapi sejak awal sangat jelas: perdagangan narkoba harus dihentikan, dan minyak yang dicuri harus dikembalikan kepada Amerika Serikat. Maduro adalah contoh terbaru yang merasakan sendiri bahwa Presiden Trump adalah orang yang menepati ucapannya.”

Berita ini segera memicu diskusi panas di platform X luar negeri.

Akun “Tanpa Raja Tanpa Kaisar (Brigade Operasi Khusus Aoshi)” menulis:

“Malam ini tidak ada seorang pun di dalam Partai yang bisa tidur! Lihatlah! Maduro telah memberi contoh bagi Partai Komunis Tiongkok. Jika benar-benar bertindak, PKT juga akan runtuh dan para petingginya akan tercerai-berai dalam hitungan menit, bahkan saling berkelahi satu sama lain. Para pejabat PKT sebaiknya segera berkemas, menyiapkan emas dan harta berharga untuk kabur!”

Jurnalis independen Tiongkok Gao Yu menulis bahwa awal tahun 2026 sungguh luar biasa:

“Seruan kebebasan bergema di seluruh dunia! Tiga jam sebelum Nicolás Maduro ditangkap hidup-hidup oleh pasukan khusus AS, ia baru saja bertemu secara hangat dengan Qiu Xiaoqi, utusan khusus urusan Amerika Latin yang dikirim oleh Xi Jinping dan baru tiba dari Beijing. Presiden Argentina Javier Milei mengirim ucapan selamat kepada Trump, mengatakan: ‘Maju terus kebebasan! Hidup kebebasan!’ Api kebebasan sedang berkobar di Iran—gas air mata, senapan mesin, dan tank tidak mampu menghentikan arus massa yang turun ke jalan! Iran yang bebas sedang melangkah maju!”

Akun “Mantan Agen Eric / Brigade Huruf V” menulis:

“Penangkapan hidup-hidup terhadap Maduro ini benar-benar dilakukan dengan sangat baik. Apa pun sikap seseorang terhadap Trump, tidak perlu bersikap sinis soal ini. Dari perencanaan, penyusunan strategi, pengajuan usulan, hingga pelaksanaan—semuanya tak lepas dari kerja keras dan keberanian para profesional garis depan. Kita patut memberi hormat kepada mereka.”

Akun “Langit dan Lautan Luas” menulis:

“Maduro akhirnya ditangkap dan dibawa ke Amerika. Beberapa hari lalu ia masih sombong berkata: ‘Saya menggunakan ponsel Huawei, hadiah langsung dari Ketua Xi. Bisa mencegah penyadapan dan pelacakan dari darat, laut, maupun udara. Orang Amerika jangan bermimpi bisa menemukan saya. Venezuela punya satu juta tentara, kalau militer AS datang, pasti tidak akan bisa pulang.’ Sekarang lihat hasilnya—bukan hanya omong kosongnya terbongkar, ponsel Huawei juga ikut terseret. Hahaha.”

Akun “Zhang Xiaomin – sineas” menulis:

“Aduh, tengah malam begini, kabar baik datang bertubi-tubi. Lihat betapa sombongnya para diktator saat membual? Mirip Saddam! Gaung kesombongan bandar narkoba itu belum hilang, sekarang sudah diborgol dan dibawa ke Amerika. Ada yang bilang tahun 2026 adalah tahun yang ‘ajaib’, tampaknya memang begitu. Besok tinggal menunggu drama Iran! Hari ini bendera Iran sudah ditendang jatuh oleh rakyatnya!”

Akun “Longwood (Dagen)” menulis:

“Setelah Venezuela, yang berikutnya pasti PKT. Adegan seperti ini pasti akan terjadi di Tiongkok, dan akan terjadi dengan cepat. Ini akan mendapat dukungan tercepat dari Amerika Serikat dan dukungan dunia. Ini adalah pandangan bersama, bukan pendapat pribadi siapa pun.”

Akun “Nestlé FON” menulis:

“Operasi darat Amerika Serikat di Venezuela telah resmi dimulai. Venezuela, Kuba, Iran, Korea Utara—semuanya akan terbebas dari kediktatoran komunis. Target akhir Amerika Serikat adalah PKT!”

Akun “Johnny Bi” menulis:

“Pergi ke negara orang, menangkap presiden dan istrinya, lalu langsung diterbangkan keluar negeri. Kedengarannya seperti cerita fantasi. Baik dari sisi militer, intelijen, maupun eksekusi, kekuatan Amerika sudah tak bisa lagi disebut ‘puncak’, negara lain butuh setengah abad untuk mengejar. Ngomong-ngomong, delegasi PKT berikutnya mau ke mana? Tidak mau mampir ke Iran? Rombongan pengantar jenazah memang bukan sembarang julukan.”

Akun “Yang Peichang” menulis:

“Tak ada kabar yang lebih baik dari ini. Ini adalah hadiah Tahun Baru terbaik. Terima kasih Presiden Trump, terima kasih Amerika Serikat karena telah menyingkirkan satu ‘benalu kecil peradaban’. Semangat!”

Akun “Pangu Qianxun” menulis:

“Pangkalan militer Partai Komunis di Venezuela dan Kuba akan diam-diam dihancurkan oleh Amerika Serikat! Semua ini akan mempercepat kehancuran komunis oleh sesama komunis.”

Akun “Asia Critic” menulis:

“PKT memiliki empat ‘sekutu inti’: Rusia, Iran, Korea Utara, dan Venezuela. Kali ini mungkin dua akan tumbang sekaligus. Mitra strategis sepanjang waktu, Presiden Venezuela Maduro dan istrinya, ditangkap hidup-hidup oleh Presiden AS Trump. Yang lain, Khamenei di Iran, kemungkinan besar akan tumbang sebelum pemilu paruh waktu AS. Total pinjaman yang diberikan Tiongkok kepada Venezuela diperkirakan antara 63 hingga 100 miliar dolar AS. Lalu bagaimana?”

Akun “YiFeng Su” menulis:

“Xi Jinping, bersiaplah gemetar! Cepat atau lambat giliranmu. Rakyat Tiongkok yang mencintai kebebasan dan menolak diperbudak menantikan hari itu—Tiongkok yang bebas.”

Akun “Manu Ginobili ✨✨✨ Armada Galaksi” menulis:

“Rezim preman mana yang akan dimusnahkan berikutnya?”  (Hui)

Rincian Penangkapan Maduro: Formasi Pesawat Militer AS Terbang Langsung ke Area Target

EtIndonesia. Pada 3 Januari 2026 dini hari, militer Amerika Serikat melancarkan serangan mendadak ke Venezuela dan dengan cepat menangkap penguasa otoriter Nicolás Maduro. Sistem pertahanan Venezuela praktis tidak berfungsi.

Menurut laporan gabungan media, sekitar pukul 00.50 waktu Pantai Timur AS pada 3 Januari (sekitar 01.50 waktu setempat Caracas), ibu kota Venezuela Caracas untuk pertama kalinya terdengar suara ledakan. Sedikitnya terjadi tujuh ledakan besar, warga setempat merasakan jendela-jendela bergetar, kemudian terdengar deru pesawat yang terbang rendah.

Warga setempat merekam bahwa sebuah formasi besar operasi khusus militer AS, yang terdiri dari helikopter angkut berat Chinook, helikopter Black Hawk, dan helikopter tempur Apache, memasuki ibu kota Venezuela dari ketinggian rendah.

Beberapa lokasi, termasuk Pangkalan Udara La Carlota di pusat kota serta Benteng Fuerte Tiuna, benteng terakhir tempat tinggal Maduro, dilaporkan dibom oleh militer AS.

Setelah itu, Maduro yang sedang tertidur lelap ditarik keluar dari kamar tidurnya oleh militer AS dan dibawa naik ke pesawat militer.

Pada saat yang sama, setidaknya lima kota di Venezuela juga diserang, termasuk kota pesisir La Guaira dan Higuerote, dua bandara, serta markas besar Angkatan Udara Venezuela di Maracay, yang semuanya dilaporkan dibom.

Pada pukul 04.21 waktu Pantai Timur AS, Presiden Donald Trump mengunggah pernyataan di media sosial: “Amerika Serikat telah berhasil melancarkan serangan besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolás Maduro. Presiden Maduro dan istrinya telah ditangkap dan dibawa keluar dari negara tersebut.”

Dari ledakan pertama di Caracas hingga pengumuman Trump bahwa pesawat yang membawa Maduro telah meninggalkan wilayah Venezuela, seluruh operasi hanya berlangsung sekitar dua setengah jam. Beberapa media melaporkan bahwa pengeboman sebenarnya hanya berlangsung sekitar setengah jam.

Sekitar pukul 03.00, pemerintah Venezuela mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam Amerika Serikat atas apa yang mereka sebut sebagai “invasi militer”.

Setelah Maduro ditangkap, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menyampaikan pernyataan melalui sambungan audio di televisi pemerintah Venezuela (VTV), menuntut pemerintah Trump untuk memberikan “bukti bahwa Presiden Maduro dan Ibu Negara masih hidup”. Artinya, hingga Trump mengumumkan penangkapan Maduro, pihak berwenang Venezuela masih belum mengetahui dengan jelas apa yang telah terjadi.

Pejabat Amerika Serikat menyatakan bahwa tidak ada satu pun personel militer AS yang tewas dalam operasi ini, meskipun beberapa orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Dalam serangan ini, sistem pertahanan udara Venezuela tidak mengeluarkan peringatan dan tidak melakukan perlawanan efektif, sehingga praktis tidak berfungsi. Padahal sebelumnya, Tiongkok dan Venezuela secara terbuka mengklaim bahwa Venezuela menggunakan radar anti-siluman buatan Tiongkok tipe JY-27. (Hui)

Di Tengah Tumpahnya Darah Demonstran di Iran, Apakah Militer AS Bersiap Menyerang?

EtIndonesia. Sungguh di luar dugaan. Menjelang akhir tahun 2025, dunia justru kembali dilanda kekacauan. Video yang sedang kita lihat sekarang memperlihatkan warga Iran yang terus turun ke jalan pada 29 hingga 30 Desember, siang dan malam, untuk memprotes rezim. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di Iran? Mengapa rakyat Iran turun ke jalan melakukan aksi protes?

Nilai Tukar Anjlok, Sistem Ekonomi Hampir Runtuh

Penyebab langsung dari aksi protes ini adalah nilai tukar mata uang Iran terhadap dolar AS yang jatuh ke titik terendah dalam sejarah, membuat sistem ekonomi hampir runtuh.

**Rial Ambruk, Inflasi Meroket

Gubernur Bank Sentral Mundur, Kenaikan Pajak Picu Kemarahan Publik**

Pada Senin (29/12), Gubernur Bank Sentral Iran mengundurkan diri. Nilai tukar rial Iran telah anjlok hingga 1 dolar AS = 1.420.000 rial.

Depresiasi mata uang yang sangat cepat ini memperparah tekanan inflasi, mendorong kenaikan harga pangan dan kebutuhan sehari-hari lainnya, sehingga semakin membebani kehidupan keluarga kelas bawah.

Data dari Badan Statistik Iran menunjukkan bahwa tingkat inflasi pada bulan Desember meningkat 42% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Khususnya, harga pangan melonjak 72%, sementara harga perlengkapan medis naik 50%.

Yang lebih buruk lagi, media resmi Iran melaporkan bahwa pemerintah berencana menaikkan pajak mulai 21 Maret, bertepatan dengan Tahun Baru Iran. Kebijakan ini semakin memicu kemarahan rakyat.

Bazar Besar Teheran Tutup, Protes Menyebar ke Warga Biasa

Aksi protes ini awalnya dipicu oleh para pedagang di Bazar Besar Teheran. Sejumlah besar pedagang dan pemilik toko berkumpul dan berdemonstrasi di pusat kota Teheran. Dalam aksi pada 28 Desember, para pedagang dan pemilik usaha kecil-menengah menjadi kekuatan utama, sebelum protes kemudian menyebar ke masyarakat umum yang juga sangat tidak puas dengan tingginya biaya hidup.

Para pedagang menutup toko mereka dan menyerukan pedagang lain untuk melakukan hal yang sama. Dalam video yang direkam di Bazar Besar Teheran, terlihat seluruh toko telah menutup pintu, sementara para demonstran memenuhi pasar.

Dalam video lainnya, terlihat pada 29 Desember sejumlah besar warga Iran berkumpul di Jalan Republik, memprotes depresiasi mata uang dan inflasi yang tinggi.

Dalam video lain yang direkam warga setempat, masyarakat berunjuk rasa di depan kantor pusat Badan Pangan dan Obat-obatan di Teheran, menentang rezim Islam. Terlihat jumlah peserta sangat besar, terdiri dari pria dan wanita dari berbagai usia, dengan lokasi protes yang hampir mencakup seluruh kawasan.

Polisi Tindak Keras dengan Gas Air Mata

Massa Mengepung Komandan, Tiang Bendera Dirobohkan

Di tengah gelombang protes, pada 29 Desember polisi Iran mulai membubarkan massa. Dalam video yang terlihat, seorang komandan pasukan khusus kepolisian Iran memberi peringatan kepada massa di persimpangan Istanbul, Teheran.

Dalam video jarak dekat lainnya, tampak warga Iran yang marah mengepung komandan pasukan khusus tersebut. Sang komandan memegang pengeras suara dan berbicara kepada massa, namun teriakan kemarahan warga membuat ucapannya hampir tidak terdengar. Banyak demonstran mengangkat ponsel untuk merekam momen bersejarah ini.

Beberapa menit kemudian, polisi mulai menindak keras demonstrasi tersebut. Dalam video yang diunggah hari itu, terlihat polisi menembakkan gas air mata ke arah massa, yang kemudian berhamburan melarikan diri. 

Di tengah kekacauan, tampak seseorang duduk di tengah jalan, menghalangi laju aparat. Polisi yang mengendarai sepeda motor berhenti di hadapannya tanpa melakukan tindakan ekstrim lainnya. Pemandangan ini mengingatkan banyak orang pada peristiwa “Tank Man” 4 Juni 1989.

Pada 30 Desember malam, warga Iran kembali turun ke jalan. Terlihat massa merobohkan tiang listrik yang dipasangi bendera Iran, disambut sorak sorai meriah di lokasi.

Banyak Kota Ikut Bergerak

Seruan Mengangkat Putra Mahkota Reza Pahlavi

Protes di Iran kali ini bersifat nasional. Aksi serupa terjadi di kota-kota besar lainnya, termasuk Isfahan di wilayah tengah, Shiraz di selatan, dan Mashhad di timur laut.

Dalam video dari Tabriz, terlihat banyak warga turun ke jalan hingga lalu lintas lumpuh, dengan teriakan yang menggema di seluruh kota.

Dalam video lain yang direkam di Malard, para demonstran menyerukan agar putra mahkota naik ke tampuk kekuasaan dan membawa Iran menuju pemilu serta demokrasi.

Dalam video lain yang direkam di jalanan Iran, para demonstran meneriakkan, “Hidup Iran dan Raja!”—sebuah suara yang sudah lama tidak terdengar di jalanan Iran.

Dalam video lainnya dari kota Hamedan di wilayah barat laut, massa juga meneriakkan “Hidup Raja!”, dengan suara yang menggema sepanjang malam.

Dalam rekaman video siang hari tanggal 29 Desember, terlihat warga Iran meneriakkan nama Reza Pahlavi.

Seruan dari Putra Mahkota Iran di Pengasingan

Pangeran Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, juga mengunggah video secara daring, menyerukan semua lapisan masyarakat Iran untuk bergabung dalam aksi protes jalanan.

Pesan keduanya ditujukan kepada polisi dan pasukan keamanan, meminta mereka untuk tidak berhadapan dengan rakyat, melainkan bergabung bersama rakyat.

Latar Belakang Geopolitik dan Analisis Situasi

Sejarah memang menarik. Sebenarnya, pemandangan seperti ini adalah sesuatu yang ingin dilihat oleh Israel dan Amerika Serikat pada musim panas tahun lalu. Dalam Perang 12 Hari, Israel menghancurkan pangkalan militer Garda Revolusi Iran di Teheran, Tabriz, dan wilayah pesisir selatan, bahkan kemudian melancarkan serangan udara ke kantor polisi dan aparat keamanan. Tujuan Israel adalah menciptakan kondisi agar rakyat Iran bangkit melawan.

Namun selama Perang 12 Hari tersebut, rakyat Iran tidak melancarkan protes besar. Sebaliknya, mereka tidak ingin Israel terus membombardir Iran, karena banyak warga terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi.

Kini, enam bulan telah berlalu. Seiring ekonomi Iran yang terus memburuk, inflasi yang parah, dan kehancuran ekonomi, rakyat Iran akhirnya tidak tahan lagi. Aksi protes besar terakhir terjadi pada tahun 2022. Namun dibandingkan tiga tahun lalu, rezim Iran kini jauh lebih rapuh setelah perang dengan Israel.

Yang lebih penting, rakyat Iran mulai menyadari bahwa rezim yang berkuasa saat ini hanyalah “macan kertas”. Meski biasanya berbicara keras, saat benar-benar berperang dengan Israel, mereka dipukul habis-habisan. Jika aksi protes berskala besar terus berlanjut dan pemerintah Iran kehilangan kendali sepenuhnya, tidak menutup kemungkinan rezim Khamenei akan runtuh. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Iran Dilanda Gelombang Protes Nasional, Rezim Merespons dengan Brutal, AS Turun Tangan

Iran pada pekan ini dilanda gelombang protes rakyat terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Aksi mogok kerja buruh dan demonstrasi mahasiswa yang meneriakkan slogan “Hancurkan diktator” terus meluas ke seluruh negeri. Krisis ekonomi yang semakin memburuk menjadi salah satu pemicu utama gelombang protes ini.

EtIndonesia. Rezim Iran mengerahkan polisi antihuru-hara dan pasukan keamanan untuk menindak demonstran, yang dilaporkan telah menyebabkan beberapa pengunjuk rasa tewas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunggah peringatan kepada otoritas Iran agar tidak membunuh demonstran damai, serta menyatakan bahwa AS “akan turun tangan membantu”. Dunia internasional kini mencermati apakah gejolak ini akan mengguncang fondasi rezim Islam Iran.

Di bawah sanksi berkelanjutan Amerika Serikat, perekonomian Iran berada dalam kondisi sulit.

Nilai mata uang Iran, rial, telah lama terdepresiasi tajam. Pada 28 Desember, nilai tukarnya anjlok hingga 1,42 juta rial per dolar AS, sebelum naik kembali menjadi 1,38 juta rial per dolar AS pada 29 Desember.

Menurut statistik resmi, tingkat inflasi pada Desember melonjak lebih dari 42% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Harga pangan naik lebih dari 70%, sementara harga obat-obatan melonjak hingga 50%.

Penyesuaian harga bensin yang baru diberlakukan semakin memperberat beban hidup masyarakat yang sudah tertekan.

Di bawah bayang-bayang krisis ekonomi, gelombang besar demonstrasi dan mogok kerja menyapu seluruh Iran, termasuk Teheran, Shiraz, Isfahan, Karaj, Mashhad, Ahvaz, dan kota-kota lainnya.

Rekaman dari dekat pasar pusat kota Teheran menunjukkan para demonstran terlibat aksi dorong-mendorong dengan polisi dan pasukan keamanan, serta melempar batu.

Saat pasukan keamanan mundur, mahasiswa Universitas Teheran meneriakkan “Hancurkan diktator” dan massa bergerak menuju gerbang utama kampus. Polisi menembakkan gas air mata ke sejumlah area yang dipenuhi demonstran.

Pada 30 Desember, aksi protes telah meluas ke banyak universitas di seluruh negeri.

Pada hari yang sama, di kota Fasa, Iran selatan, bentrokan terjadi antara demonstran dan polisi. Para pengunjuk rasa mencoba menerobos masuk ke kantor gubernur provinsi, dan terdengar suara tembakan di jalanan. Polisi setempat menyatakan telah menangkap empat demonstran.

Pada hari itu pula, Departemen Luar Negeri AS menulis di media sosial X bahwa mereka sangat prihatin terhadap warga Iran yang menghadapi “intimidasi, kekerasan, dan penangkapan”, serta mendesak otoritas Iran untuk menghentikan tindakan represif.

Pada 1 Januari 2026 pagi, di kota Lordegan, Iran barat daya, bentrokan sengit antara polisi dan demonstran menyebabkan dua warga tewas.

Pada 2 Januari, aksi protes memasuki hari keenam.

Seorang warga merekam adegan di lokasi: seorang demonstran duduk sendirian di tengah jalan, di belakangnya berkumpul banyak massa, sementara di depannya berdiri puluhan aparat keamanan bermotor yang tertahan oleh satu orang tersebut.

Video ini dengan cepat menyebar di internet, dan banyak netizen mengaitkannya dengan peristiwa “Tank Man” pada tragedi Tiananmen 4 Juni 1989, ketika seseorang menghadang tank dengan tubuhnya.

Menurut media Iran dan organisasi hak asasi manusia, setidaknya tujuh orang telah tewas sejauh ini.

Dalam beberapa dekade terakhir, Iran telah berulang kali mengalami gejolak besar. Pemerintah biasanya merespons dengan langkah-langkah keamanan yang keras dan penangkapan massal untuk menekan protes, serta menyalahkan Amerika Serikat—dan kali ini pun tidak berbeda.

Namun, untuk meredakan ketegangan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 1 Januari secara langka mengakui bahwa kelalaian pemerintah merupakan akar penyebab krisis Iran saat ini.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian berkata: “Ketidakpuasan rakyat adalah kesalahan kami, kesalahan kalian. Jangan terus menyalahkan Amerika; dan jangan pula melempar tanggung jawab kepada pihak lain yang tidak jelas.”

Kali ini, otoritas Teheran secara tidak biasa menyatakan akan membangun “mekanisme dialog” dengan para pemimpin aksi protes.

Pada 2 Januari dini hari, Presiden AS Donald Trump kembali mengunggah peringatan di media sosial, memperingatkan otoritas Iran agar tidak membunuh demonstran damai, dan menyatakan bahwa Washington “siap turun tangan”.

Dalam unggahannya tertulis: “Jika Iran, seperti biasanya, menembaki dan secara brutal membunuh demonstran damai, Amerika Serikat akan datang untuk menyelamatkan. Kami sepenuhnya siap dan dapat bertindak kapan saja.”

Ini merupakan aksi protes rakyat terbesar di Iran sejak tahun 2022. Saat itu, seorang perempuan berusia 22 tahun, Mahsa Amini, ditangkap oleh polisi moral Iran karena dianggap tidak mengenakan jilbab dengan benar, dan kemudian meninggal dalam tahanan, memicu gelombang demonstrasi nasional.

Protes kali ini juga mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat. Pelaku usaha ritel, klinik, dealer mobil, kafe, dan restoran menyatakan melalui media sosial bahwa mereka akan menutup usaha sebagai bentuk solidaritas.

Aksi protes besar yang dipicu oleh runtuhnya nilai mata uang ini dengan cepat meluas dari persoalan ekonomi menjadi penolakan terhadap pemerintahan otoriter saat ini.

Dalam sebuah video, para demonstran secara terbuka memuji Dinasti Pahlavi Iran di masa lalu sambil meneriakkan:

“Reza Pahlavi, semoga beristirahat dengan tenang!”

Para pedagang pasar pernah memainkan peran kunci dalam Revolusi Islam 1979 yang mengantarkan kaum mullah berkuasa di Iran. Oleh karena itu, bergabungnya para pedagang pasar dalam gelombang mogok kali ini menarik perhatian luas, dan memunculkan pertanyaan apakah gejolak ini akan mengguncang fondasi rezim Iran. (Hui)

Laporan gabungan New Tang Dynasty News Weekly oleh Liang Dong dan Chen Li.

Tingkatkan Keamanan, inDrive Perkuat Layanan Dukungan 24/7 untuk Pengguna dan Mitra di Indonesia

0

Jakarta – Sebagai bagian dari komitmen untuk menghadirkan layanan transportasi yang aman dan andal, platform ride-hailing global inDrive mengumumkan ekspansi signifikan tim Customer Service di Indonesia. Langkah ini difokuskan untuk memberikan dukungan cepat dan responsif 24 jam sehari, 7 hari seminggu kepada pengguna dan pengemudi di seluruh wilayah operasional.

Ekspansi ini bertujuan menjawab kebutuhan pengguna dalam menangani berbagai isu kritis, termasuk penggunaan tombol darurat di aplikasi, verifikasi latar belakang pengemudi, hingga penanganan insiden yang memerlukan bantuan segera. Dengan memperluas tim dukungan, inDrive menegaskan fokus utamanya pada keselamatan sebagai fondasi utama layanan mereka.

“Seiring pertumbuhan inDrive di Indonesia, layanan Customer Service menjadi prioritas utama. Ekspansi ini kami rancang untuk memberikan dukungan yang cepat dan empatik, sekaligus memastikan keselamatan pengguna dan pengemudi selalu terjaga,” ujar Rio Aristo, Country Manager inDrive Indonesia.

Pusat operasional layanan pelanggan kini terpusat di Jakarta, didukung oleh beberapa hub regional di kota-kota seperti Medan, Bali, Bandung, dan Surabaya untuk memastikan layanan yang konsisten baik di kota besar maupun kota tier-3. Ke depan, inDrive berencana memperluas jangkauan layanan ke Manado dan kota lainnya di Indonesia.

Pengguna dan mitra pengemudi diharapkan dapat merasakan peningkatan nyata dalam hal waktu respons dan efisiensi penanganan masalah. Tim spesialis yang terlatih juga telah disiapkan untuk menangani berbagai isu secara real-time dengan protokol keselamatan yang diprioritaskan.

Tak hanya berfokus pada keamanan, ekspansi ini juga selaras dengan prinsip keadilan dan keberlanjutan yang diusung inDrive. Selain membuka lebih banyak peluang kerja bagi talenta lokal, inisiatif ini turut mendukung pengembangan ekosistem ride-hailing yang lebih bertanggung jawab di Indonesia.

Dengan pengalaman operasional di lebih dari 48 negara, inDrive terus berkomitmen untuk membangun ekosistem mobilitas yang transparan, aman, dan memberi dampak positif bagi masyarakat Indonesia melalui pendekatan berbasis people-first.

Kisah Inspiratif: Jangan Menunggu Orang Lain Datang Menolongmu

EtIndonesia. Di Negara Bagian Maine, Amerika Serikat, hiduplah seorang penebang kayu bernama Barney Roberg. Suatu hari, ketika dia sedang menebang pohon, sebuah batang pohon besar tiba-tiba roboh dan menghantamnya. Kaki kanannya terjepit kuat di bawah batang pohon yang sangat berat, darah mengalir deras tanpa henti.

Menghadapi musibah terbesar yang belum pernah dia alami sepanjang kariernya sebagai penebang kayu, reaksi pertamanya hanyalah satu pertanyaan sederhana namun penuh keputusasaan: “Apa yang harus kulakukan?”

Saat itu, dia dihadapkan pada kenyataan yang sangat kejam. Dalam radius puluhan kilometer tidak ada desa maupun penduduk. Setidaknya selama sepuluh jam ke depan, tidak mungkin ada orang yang datang menolongnya. Dan jika dibiarkan, tak lama lagi dia akan meninggal akibat kehabisan darah.

Dia sadar satu hal: dia tidak bisa menunggu. Dia harus menyelamatkan dirinya sendiri.

Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik kaki yang terjepit, tetapi sia-sia—kakinya sama sekali tidak bisa bergerak. Dia meraba sekeliling dan menemukan kapaknya, lalu mulai menebas batang pohon itu. Namun karena terlalu memaksakan diri, baru tiga atau empat ayunan, gagang kapak tersebut patah.

Dia menoleh ke sekeliling dan melihat sebuah gergaji mesin tidak jauh dari tempatnya terjepit. Dengan gagang kapak yang patah, dia berusaha menarik gergaji itu hingga ke dekatnya, berniat memotong batang pohon yang menekan kakinya. Namun dia segera menyadari masalah baru: batang pohon itu miring. Begitu gergaji ditarik, tekanan batang justru akan menjepit mata gergaji dengan kuat, membuatnya mustahil digunakan.

Ketika hampir tenggelam dalam keputusasaan, sebuah keputusan yang sangat berani dan ekstrem tiba-tiba muncul di benaknya: memotong kaki yang terjepit itu sendiri.

Tanpa ragu sedikit pun, dia segera bertindak. Dengan tekad yang luar biasa, dia menggergaji pahanya sendiri dan akhirnya berhasil membebaskan diri—dan dengan itu, menyelamatkan nyawanya.

Seorang filsuf pernah berkata kepada seseorang yang mengalami kegagalan: “Dalam hidup, kegagalan tidak bisa dihindari. Saat kegagalan datang, cara terbaik adalah menghentikannya, mengatasinya, atau membalikkan keadaan. Namun sering kali, semua itu tidak berhasil. Maka, ubahlah cara berpikir—usahakan agar kegagalan itu berbelok arah. Jadikan kegagalan besar sebagai kegagalan kecil, dan temukan keberhasilan di dalam kegagalan itu sendiri.” (jhn/yn)

Trump Bongkar Detail Operasi: Maduro Diciduk di Benteng Superketat, Rakyat Rayakan Runtuhnya Kediktatoran

EtIndonesia. Pada Sabtu (3 Januari) dini hari, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkonfirmasi bahwa militer AS telah melancarkan operasi militer dan menangkap diktator Nicolás Maduro, lalu membawanya pergi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Jaksa Agung Bondi menyatakan bahwa Maduro akan diadili di Amerika Serikat.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump membandingkan operasi penangkapan Maduro dengan serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Ia mengatakan bahwa operasi ini kemungkinan bahkan lebih rumit. Trump juga mengungkapkan bahwa rencana penyerangan telah disusun sejak empat hari sebelumnya, dan pihak AS terus menunggu kondisi cuaca terbaik. Ketika cuaca tiba-tiba membaik pada hari itu, militer AS segera melancarkan aksi.

Trump mengatakan bahwa saat itu Maduro berada di sebuah “benteng dengan penjagaan sangat ketat” dan “langsung dikepung”, sehingga ia gagal melarikan diri ke rumah lain yang semula hendak ia tuju.

Salah satu helikopter militer AS terkena tembakan cukup parah, namun tidak jatuh. Beberapa tentara AS juga tertembak dan mengalami luka, tetapi seluruh personel dan pesawat berhasil menyelesaikan misi dan kembali dengan selamat.

Beberapa jam sebelum penangkapannya, Maduro sempat menerima kunjungan utusan khusus Partai Komunis Tiongkok, Qiu Xiaoqi, yang kembali menegaskan dukungan dengan menyebut bahwa “Tiongkok dan Venezuela adalah mitra strategis yang telah teruji waktu”. Namun hanya beberapa jam kemudian, peristiwa mengejutkan terjadi—“mitra” tersebut tiba-tiba lenyap, memicu perbincangan hangat di tengah opini publik. 

Warga Venezuela yang tinggal di luar negeri pun berkumpul untuk merayakan runtuhnya rezim diktator setelah mendengar kabar penangkapan Maduro.

Presiden AS Donald Trump:  “Tidak satu pun tentara Amerika gugur, dan tidak ada satu pun peralatan Amerika yang hilang.”

Trump menegaskan bahwa meskipun menghadapi perlawanan dari tembakan senjata darat, operasi tersebut sangat berhasil.


“Tadi malam hingga pagi hari ini, atas perintah saya, Angkatan Bersenjata Amerika Serikat melancarkan sebuah operasi militer yang luar biasa di ibu kota Venezuela. Kekuatan militer Amerika yang luar biasa—di udara, di darat, dan di laut—digunakan untuk melancarkan sebuah serangan kilat yang spektakuler. Ini adalah jenis serangan yang belum pernah disaksikan dunia sejak Perang Dunia Kedua,” kata Trump. 

Sejak perintah dikeluarkan hingga Maduro berhasil ditangkap oleh militer AS, seluruh operasi memakan waktu sekitar lima jam.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth:  “Inilah yang disebut ‘America First’. Inilah yang disebut ‘perdamaian melalui kekuatan’. Kementerian Pertahanan Amerika Serikat merasa terhormat dapat berpartisipasi dan mendorong terwujudnya semua ini.”

Maduro dan istrinya, Cilia Flores, saat ini ditahan di sebuah kapal serbu amfibi milik AS, USS Iwo Jima (LHD-7), yang sedang berlayar menuju New York. Ia akan menghadapi proses peradilan di Amerika Serikat.

Trump:  “Diktator ilegal Maduro adalah kepala dari sebuah jaringan kriminal raksasa yang bertanggung jawab menyelundupkan sejumlah besar narkoba ilegal yang mematikan ke Amerika Serikat.

“Selama bertahun-tahun, ribuan bahkan ratusan ribu warga Amerika telah meninggal akibat perbuatannya,” ujarnya. 

“Maduro juga mengirim geng-geng pembunuh yang brutal, termasuk geng penjara haus darah ‘Tren de Aragua’, untuk meneror komunitas Amerika di seluruh negeri,” tambahnya. 

Trump juga menuduh rezim sosialis Venezuela sebelumnya telah mengalihkan dan merampas aset minyak melalui nasionalisasi, sehingga menyebabkan Amerika Serikat kehilangan aset senilai puluhan miliar dolar.

Trump:  “Selain itu, Venezuela secara sepihak menyita dan menjual minyak Amerika, aset Amerika, dan platform Amerika, yang menyebabkan kami mengalami kerugian miliaran hingga puluhan miliar dolar. Ini terjadi sudah lama, tetapi tidak pernah ada satu pun presiden yang mengambil tindakan.”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Amerika Serikat telah berkali-kali memberi Maduro kesempatan untuk mundur secara damai, namun Maduro secara pribadi menolak membuat pilihan yang bijaksana.

 “Nicolás Maduro didakwa di Amerika Serikat pada tahun 2020. Ia bukan presiden Venezuela yang sah—dan ini bukan hanya klaim sepihak kami. Baik pemerintahan Trump pertama, pemerintahan Biden, maupun pemerintahan Trump kedua tidak pernah mengakui legitimasi dirinya. Uni Eropa dan banyak negara lain di dunia juga tidak mengakui legitimasi tersebut. Saat ini ia adalah buronan Departemen Kehakiman AS, dengan hadiah penangkapan hingga 50 juta dolar AS,” ujarnya. 

Terkait siapa yang akan memerintah Venezuela setelah penangkapan Maduro, Presiden Trump mengkonfirmasi bahwa Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez telah dilantik pada Sabtu (3 Januari) pagi sebagai presiden baru Venezuela dan setuju untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat.

Pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga akan terlibat dalam pengelolaan Venezuela hingga kekuasaan dapat diserahkan secara damai kepada rakyat Venezuela.

 “Kami akan memegang kendali hingga kami dapat mewujudkan transisi kekuasaan yang aman, tertib, dan adil. Kami tidak ingin setelah orang lain naik, kami kembali ke kekacauan seperti yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, kami akan terus memerintah sampai tercapai transisi yang aman, tertib, dan adil. Dan transisi itu harus adil, karena itulah yang kami perjuangkan. Kami berharap rakyat besar Venezuela dapat menikmati perdamaian, kebebasan, dan keadilan,” ujar Trump. 

Laporan oleh Zhang Liang, koresponden New Tang Dynasty, Amerika Serikat