Ledakan Keras dan Pesawat Terbang Rendah Terdengar di Ibu Kota Venezuela Setelah Trump Memperingatkan Serangan Darat

EtIndonesia. Ledakan keras, disertai suara yang menyerupai pesawat terbang melintas, terdengar di Caracas sekitar pukul 02.00 pagi (waktu setempat ) Sabtu, menurut laporan seorang jurnalis AFP.

Ledakan tersebut terjadi ketika Presiden AS, Donald Trump, yang telah mengerahkan gugus tugas angkatan laut ke Karibia, meningkatkan kemungkinan serangan darat terhadap Venezuela.

Suara ledakan masih terdengar sekitar pukul 02.15 pagi, meskipun lokasi pastinya tidak jelas.

Trump pada hari Senin (29/12) mengatakan Amerika Serikat telah menyerang dan menghancurkan area dermaga untuk kapal-kapal yang diduga membawa narkoba Venezuela.

Pemimpin Partai Republik itu tidak mengatakan apakah itu operasi militer atau CIA atau di mana serangan itu terjadi, hanya mencatat bahwa itu “di sepanjang pantai.”

Serangan itu akan menjadi serangan darat pertama yang diketahui di tanah Venezuela.

Presiden Nicolas Maduro belum mengkonfirmasi atau membantah serangan hari Senin, tetapi mengatakan pada hari Kamis bahwa dia terbuka untuk kerja sama dengan Washington setelah berminggu-minggu tekanan militer AS.

Pemerintahan Trump menuduh Maduro memimpin kartel narkoba dan mengatakan sedang menindak tegas perdagangan narkoba, tetapi pemimpin sayap kiri itu membantah keterlibatannya dalam perdagangan narkoba, dengan mengatakan Washington berupaya menggulingkannya karena Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar yang diketahui di dunia.

Washington telah meningkatkan tekanan pada Caracas dengan secara tidak resmi menutup wilayah udara Venezuela, memberlakukan lebih banyak sanksi, dan memerintahkan penyitaan kapal tanker yang bermuatan minyak Venezuela.

Selama berminggu-minggu Trump telah mengancam serangan darat terhadap kartel narkoba di wilayah tersebut, dengan mengatakan serangan akan dimulai “segera,” dan Senin menjadi contoh pertama yang terlihat.

Pasukan AS juga telah melakukan banyak serangan terhadap kapal-kapal di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur sejak September, menargetkan apa yang Washington sebut sebagai penyelundup narkoba.

Namun, pemerintah belum memberikan bukti bahwa kapal-kapal yang ditargetkan terlibat dalam perdagangan narkoba, sehingga memicu perdebatan tentang legalitas operasi ini.

Kampanye maritim yang mematikan ini telah menewaskan sedikitnya 107 orang dalam setidaknya 30 serangan, menurut informasi yang dirilis oleh militer AS.(yn)

Kisah Inspiratif: Daun Kaktus

EtIndonesia. Pada pelajaran sains di Sekolah Hewan, Pak Guru Kuda Nil memberi para murid sebuah tugas rumah yang istimewa.

“Anak-anak, besok saat datang ke sekolah, ingatlah untuk membawa satu pot tanaman—boleh bunga atau rumput—yang kalian tanam di rumah.”

Begitu Pak Guru selesai berbicara, kelas langsung ramai oleh obrolan gembira. Sebab setiap murid di Sekolah Hewan pasti memiliki setidaknya satu pot tanaman di rumah. Ini kesempatan bagus untuk membawa tanaman masing-masing ke sekolah dan membandingkan siapa yang tanamannya tumbuh paling indah.

Keesokan harinya, setiap murid datang sambil memeluk pot tanaman.

Anak Beruang membawa anggrek dengan daun hijau ramping yang sangat cantik. Kelinci Abu-abu membawa bunga pacar air dengan bunga merah cerah—indah dan bisa dipakai untuk mewarnai kuku.  Anak Sapi membawa poinsettia, dengan daun-daun merah di ujung rantingnya seperti api yang sedang menyala. Anak Tikus kecil membawa kaktus—belum berbunga, hanya dipenuhi duri-duri yang tegak.

“Anak-anak, tujuan kalian membawa tanaman hari ini bukan untuk membandingkan bunganya, melainkan mengamati bentuk daun dari berbagai tanaman. Sekarang, sebutkan bentuk daun tanaman kalian satu per satu. Kita mulai dari kelompok pertama, baris depan,” kata Pak Guru Kuda Nil.

“Daun anggrekku panjang dan ramping,” kata Anak Beruang sambil berdiri.

“Daun poinsettiaku berbentuk lonjong,” sambung Anak Sapi yang duduk di sebelahnya.

“Daun bunga pacar airku berbentuk lonjong memanjang,” kata Kelinci Abu-abu dari baris kedua.

“Pak Guru… kaktusku tidak punya daun,” kata Anak Tikus sambil menundukkan kepala.

Seluruh kelas langsung tertawa.

“Anak-anak,” tanya Pak Guru Kuda Nil. “Menurut kalian, apakah kaktus benar-benar tidak punya daun?”

“Tentu saja tidak punya!” jawab murid-murid serempak. “Kaktus yang belum berbunga, selain duri tajam, tidak punya apa-apa!”

“Sebetulnya, kaktus punya daun,” kata Pak Guru sambil mengangkat pot kaktus ke meja depan.

“Kalau begitu, daunnya ada di mana?” tanya Trenggiling dengan heran.

“Daun kaktus, “adalah duri-duri tajam itu sendiri,”  jelas Pak Guru Kuda Nil.

Barulah semua murid mengerti—ternyata kaktus juga memiliki daun.

“Tapi kenapa daun kaktus bentuknya duri? Jelek sekali,” tanya Zebra Kecil.

“Karena kaktus berasal dari daerah gurun yang kering dan jarang hujan,” jawab Pak Guru.
“Daunnya berubah menjadi duri agar mengurangi penguapan air di dalam tubuhnya. Hanya dengan cara itu, kaktus bisa bertahan hidup di gurun.”

Mendengar penjelasan itu, murid-murid tak lagi menganggap daun kaktus jelek. Sebaliknya, mereka justru mengagumi ketangguhan kaktus.

Kartu Pengetahuan

Daun kaktus adalah duri-duri tajam dan keras yang tumbuh di tubuhnya. Setiap tanaman membutuhkan air untuk hidup. Sebagian air akan menguap melalui pori-pori di permukaan daun. Namun kaktus hidup di gurun yang panas dan kering, hampir tanpa hujan. Jika kaktus masih memiliki daun lebar seperti tanaman lain, air di dalam tubuhnya akan cepat menguap dan kaktus akan mati kehausan.

Selama waktu yang sangat panjang, daun kaktus perlahan berubah menjadi duri seperti sekarang. Dengan bentuk ini, air sulit menguap, sehingga kaktus mampu bertahan dan hidup turun-temurun di gurun yang gersang.

Pesan kehidupan: Apa yang tampak sebagai kekurangan, bisa jadi adalah kekuatan untuk bertahan hidup. Seperti kaktus—dia tidak cantik dengan cara biasa, tetapi dia kuat, tangguh, dan mampu hidup di tempat yang paling sulit.(jhn/yn)

 Kisah Inspiratif: Sepersepuluh Napas

EtIndonesia. Tom Dolan adalah perenang ternama Amerika Serikat. Saat kecil, pada suatu sesi latihan renang, fia tiba-tiba merasa sangat sulit bernapas. Orang tuanya segera membawanya ke dokter. 

Setelah pemeriksaan, dokter berkata dengan serius: “Saluran pernapasanmu menyempit. Kamu menderita asma berat. Oksigen yang masuk ke kedua paru-parumu hanya sepersepuluh dari orang normal. Semakin keras kamu berlatih, semakin berbahaya kondisimu. Kamu harus selalu membawa tabung oksigen.”

Tom terbaring di tempat tidur, diliputi pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya: “ Apakah karierku akan berakhir karena asma? Apakah aku masih bisa berenang?”

Keesokan harinya, dia kembali ke kolam renang—kali ini dengan tabung oksigen di sisinya.

Pada Olimpiade Atlanta 1996, aturan melarangnya membawa tabung oksigen ke kamar di kampung atlet. Dia hanya boleh menghirup oksigen di dalam trailer yang panas dan pengap. Satu jam menjelang lomba, setiap lima menit dia harus mengompres tubuhnya dengan es untuk meredakan ketidaknyamanan akibat kekurangan oksigen. Namun semua itu tak menghalangi tekadnya.

Dia akhirnya melaju ke final 400 meter gaya ganti perorangan. Meski napas terasa berat dan dada sesak, Tom terus memacu diri. Dia berenang dengan segenap daya—dan meraih medali emas.

Usai lomba, seorang wartawan bertanya:  “Jika Anda tidak menderita asma, kira-kira berapa banyak medali yang bisa Anda menangkan?”

Tom menjawab tenang :  “Mungkin tidak satu pun. Bisa jadi saya tak pernah belajar mengatasi kelemahan saya sendiri.”

Meski memiliki keterbatasan fisik, Tom Dolan tidak menyerah. Dia memanggul tabung oksigen, menundukkan kepala ke air, dan mengejar mimpinya dengan keras kepala yang berani. Pergulatan di tengah keterbatasan itulah yang membuatnya mengubah yang mustahil menjadi mungkin—dengan sepersepuluh kekuatan, dia menciptakan prestasi yang utuh.

Dalam keadaan serba mudah, manusia sering tak menyadari seberapa besar kemampuannya. Justru ketika kesulitan datang, potensi yang tersembunyi kerap meledak tanpa batas.(jhn/yn)

Iran Masuk Minggu Penentuan: Trump Ancam Terbuka, Rezim Mulai Retak

EtIndonesia. Memasuki awal tahun 2026, dunia kembali dihadapkan pada dua titik krisis global yang paling mencolok. Jika Ukraina masih terjerembap dalam perang berkepanjangan yang nyaris tanpa jeda, maka di luar zona konflik terbuka, Iran muncul sebagai wilayah paling bergejolak dan paling tersiksa secara politik, ekonomi, dan sosial.

Situasi ini kian memanas pada 2 Januari 2026, ketika sebuah pernyataan singkat namun sangat tajam dari Donald Trump memicu reaksi berantai—bukan hanya di Teheran, tetapi juga di Washington, Tel Aviv, dan pusat-pusat intelijen dunia.

Pernyataan Dini Hari Trump: “Locked and Loaded”

Pada pukul 02.58 dini hari waktu AS, Trump mengunggah sebuah pernyataan di media sosial dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida. Waktu unggahan yang tidak lazim menandakan urgensi pesan tersebut.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa: Jika rezim Iran kembali menembaki dan melakukan penindasan brutal terhadap demonstran damai, Amerika Serikat akan berdiri membantu. Pasukan kami siap siaga dan siap bertindak kapan saja.

Kalimat yang paling menyita perhatian adalah frasa “locked and loaded”—ungkapan khas militer yang secara harfiah berarti senjata telah terkokang dan siap ditembakkan. Ini bukan sekadar retorika politik, melainkan sinyal ancaman militer langsung.

Bagi pengamat internasional, bobot pernyataan ini sangat berat. Trump secara terang-terangan memberi pesan kepada Ali Khamenei bahwa Amerika Serikat tidak lagi sekadar menjadi penonton jika kekerasan negara terhadap rakyat Iran kembali meningkat.

Bayang-bayang Serangan Sebelumnya Masih Membekas

Ancaman tersebut tidak berdiri di ruang hampa. Beberapa bulan sebelumnya, militer AS diketahui telah mengerahkan pembom siluman B-2 dan menggunakan bom penghancur bunker dalam operasi terhadap target strategis Iran. Asap mesiu dari operasi itu bahkan belum sepenuhnya hilang dari ingatan kawasan Timur Tengah.

Karena itu, pernyataan Trump kali ini tidak dianggap sebagai gertakan kosong—kecuali oleh sebagian kecil buzzer propaganda internasional.

Respons Cepat Teheran: Pergerakan Rudal dan Retorika Kasar

Berdasarkan informasi intelijen yang beredar pada 2 Januari, tak lama setelah unggahan Trump muncul, unit-unit rudal Iran dilaporkan melakukan pergerakan intensif sebagai langkah kesiapsiagaan darurat.

Meski Trump mungkin telah kembali beristirahat, unggahan singkat itu langsung mendorong hubungan AS–Iran ke titik ketegangan ekstrem, bagaikan busur yang telah ditarik penuh dan siap dilepaskan.

Pejabat pro-rezim Iran dan buzzer pemerintah segera melontarkan balasan keras: Trump, jangan campuri urusan dalam negeri kami, atau Timur Tengah akan menjadi lebih kacau.

Nada ancaman tersebut justru memperlihatkan kepanikan internal, alih-alih kepercayaan diri.

Reaksi Jalanan: Nama Reza Pahlavi Menggema

Di sisi lain, reaksi rakyat Iran sangat kontras. Di berbagai kota, massa demonstran justru menyerukan agar Trump bertemu dengan Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran yang kini hidup di pengasingan.

Di jalan-jalan Teheran, Shiraz, Isfahan, hingga kota-kota kecil, terdengar teriakan lantang: “Ini tahun penagihan darah! Diktator harus tumbang! Pahlavi harus kembali!”

Dalam beberapa hari terakhir, Reza Pahlavi semakin aktif tampil di ruang publik internasional, menyatakan bahwa Republik Islam Iran telah mencapai ujung jalannya.

Israel Masuk ke Panggung: Dukungan Politik dan Aksi Nyata

Situasi kian rumit ketika Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan bahwa penderitaan rakyat Iran bersumber dari rezim teokratis yang brutal dan korup.

Dia menegaskan bahwa dana negara Iran telah disedot untuk:

  • Program nuklir,
  • Pendanaan kelompok ekstremis,
  • Ekspansi militer regional,

sementara rakyatnya justru hidup dalam kelangkaan listrik, air, dan pangan.

Pernyataan ini terasa semakin kuat karena datang dari Israel—negara kecil dengan populasi sekitar 10 juta jiwa, namun memiliki PDB yang lebih tinggi dibanding Iran, yang berpenduduk hampir 100 juta orang dan kaya sumber daya.

Lebih dari sekadar pernyataan, dalam beberapa hari terakhir Israel melancarkan serangan siber terkoordinasi yang melumpuhkan jaringan kamera pengawas di berbagai wilayah Iran. Langkah ini secara langsung melemahkan kemampuan rezim dalam mengidentifikasi dan menindak demonstran.

Pidato Putus Asa dari Dalam Istana

Pada malam 1 Januari 2026, Presiden Iran menyampaikan pidato yang mengejutkan, mengakui bahwa:

  • Ketidakpuasan rakyat adalah tanggung jawab pemerintah,
  • Para pejabat harus siap “berkorban hingga mati”.

Nada pidato tersebut dinilai luas sebagai tanda keputusasaan, bukan ketegasan. Kepercayaan publik telah runtuh.

Media internasional juga melaporkan bahwa Ali Khamenei diduga telah meninggalkan Teheran, berpindah ke lokasi yang dirahasiakan. Sejumlah ulama pro-rezim bahkan terlihat melepas atribut keagamaan dan meninggalkan kota-kota besar—sebuah pemandangan yang nyaris tak terbayangkan sebelumnya.

Hari Keenam Demonstrasi Nasional: Iran Terbakar

Memasuki hari keenam protes nasional, demonstrasi telah meluas ke lebih dari 70 kota di seluruh Iran.

  • Garda Revolusi mulai menggunakan peluru tajam,
  • Kendaraan sipil dan pejalan kaki diserang,
  • Kantor polisi dan simbol-simbol rezim dibakar,
  • Di Qom, pusat keagamaan Syiah paling konservatif, kaum muda turun ke jalan—sebuah momen simbolis yang mengguncang fondasi teokrasi.

Penangkapan brutal mahasiswi di asrama Universitas Teheran Utara memicu kemarahan internasional dan gelombang perlawanan baru. Markas Garda Revolusi diserbu, tahanan dibebaskan, dan potret Khamenei dibakar—tindakan yang sebelumnya dapat berujung hukuman mati.

Menuju Titik Balik Sejarah?

Rakyat Iran telah menyerukan demonstrasi besar pada Jumat berikutnya, dengan target simbol kekuasaan tertinggi. Jalan-jalan utama Teheran mulai dikuasai massa.

Banyak pengamat menilai, gelombang protes kali ini memiliki tiga ciri pembeda utama:

  1. Peleburan kelas sosial – pedagang, buruh, mahasiswa, hingga sebagian aparatur negara bergerak bersama.
  2. Goyangnya basis ideologis inti – kota-kota simbol teokrasi ikut bergolak.
  3. Krisis suksesi kekuasaan – usia Khamenei yang renta memicu kekacauan komando internal.

Iran hari ini menjadi cermin keras bagi seluruh rezim otoriter dunia:

Anda bisa menekan mata uang, memutus internet, dan mengerahkan senjata—tetapi Anda tidak akan pernah bisa memadamkan rakyat yang menuntut kebebasan, martabat, dan kehidupan yang layak.

Hari ini Iran. Besok, bisa jadi negara lain.

AS Bongkar Jaringan Bawah Tanah yang Menyelundupkan Chip Nvidia Senilai Rp 2,512 Triliun ke Tiongkok

Jaksa federal Amerika Serikat di negara bagian Texas baru-baru ini mengumumkan hasil penyelidikan besar-besaran terhadap jaringan penyelundupan yang beroperasi lintas Amerika Serikat hingga ke berbagai negara di dunia. Otoritas AS menyatakan bahwa sebuah jaringan bawah tanah penyelundupan chip yang terkait dengan Tiongkok telah menyelundupkan chip AI Nvidia senilai sedikitnya 160 juta dolar AS atau Rp 2,512 triliun dalam kurun waktu delapan bulan.

EtIndonesia. Pada 8 Desember 2025, jaksa federal Texas mengungkapkan bahwa dalam penyelidikan bertajuk “Operation Gatekeeper”, ditemukan sebuah kelompok penyelundupan rahasia yang melanggar Undang-Undang Pengendalian Ekspor Keamanan Nasional AS, dengan mengekspor chip ke Tiongkok.

Menurut dokumen pengadilan yang telah dibuka segelnya, antara Oktober 2024 hingga Mei 2025, seorang pria asal Houston beserta perusahaannya secara sengaja mengekspor atau mencoba mengekspor prosesor grafis (GPU) Nvidia H100 dan H200 ke Tiongkok dan wilayah lain, dengan nilai total sedikitnya 160 juta dolar AS. Disebutkan pula bahwa mereka menerima transfer dana dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) lebih dari 50 juta dolar AS.

Dalam putusan yang dijadwalkan pada 18 Februari, terdakwa terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara, sementara perusahaannya dapat dikenai denda hingga dua kali lipat dari keuntungan ilegal serta masa percobaan.

Jaksa federal Distrik Selatan Texas, Nicholas J. Ganjei, menyatakan bahwa chip semacam ini merupakan fondasi utama dalam persaingan kecerdasan buatan dan komponen yang tak terpisahkan dari militer modern. Menurutnya, jaringan penyelundupan tersebut menyalurkan teknologi mutakhir kepada pihak-pihak yang berniat menggunakannya untuk merugikan kepentingan Amerika Serikat, sehingga menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan nasional.

Namun demikian, pada hari yang sama ketika jaksa federal mengumumkan penyelidikan tersebut, Presiden Donald Trump menulis di platform media sosial Truth Social bahwa ia akan mengizinkan ekspor GPU Nvidia H200 ke Tiongkok, asalkan Amerika Serikat memperoleh 25% dari pendapatan penjualan.

Selain itu, dalam rangkaian Operation Gatekeeper, dua pengusaha berkewarganegaraan Tiongkok juga ditangkap—masing-masing pada 28 November di Virginia dan 3 Desember di New York. Mereka menghadapi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda hingga 1 juta dolar AS, sementara seorang tersangka lainnya terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Menurut surat dakwaan, kedua tersangka tersebut bersekongkol dengan sebuah perusahaan logistik di Hong Kong dan karyawan sebuah perusahaan teknologi kecerdasan buatan di Tiongkok untuk menghindari pengawasan ekspor Amerika Serikat.

Dalam proses pengumpulan bukti, seorang agen rahasia memasuki sebuah gudang di Secaucus, New Jersey. Ia melihat para tersangka mengganti label GPU Nvidia dengan label palsu milik perusahaan fiktif bernama Sandkayan.

Pada dokumen pengiriman dan ekspor, barang-barang tersebut secara keliru diklasifikasikan sebagai aksesori komputer umum.

Faktanya, dalam beberapa bulan terakhir, kasus penangkapan terkait ekspor ilegal produk Nvidia semakin sering terjadi. Lembaga pemikir Amerika Center for a New American Security (CNAS) memperkirakan bahwa sepanjang tahun 2024 saja, antara 10.000 hingga ratusan ribu chip AI telah diselundupkan ke Tiongkok. (hui)

Laporan oleh jurnalis New Tang Dynasty Television, Guo Yuexi, dari Amerika Serikat.

Kawasan Tambang Emas Peru Diserang Saat Malam Tahun Baru, 3 Orang Tewas dan 7 Dilaporkan Hilang

EtIndonesia. Pada malam Tahun Baru, 31 Desember 2025, di wilayah Pataz—salah satu kawasan utama penghasil emas di Peru bagian utara—terjadi serangan terhadap penambang ilegal. Sedikitnya 3 orang tewas, dan dilaporkan 7 orang lainnya hilang.

Menurut laporan Reuters, perusahaan tambang Poderosa menyatakan bahwa petugas keamanan perusahaan mendengar suara tembakan dan segera menuju lokasi. Di tempat kejadian, mereka menemukan tiga orang tewas akibat luka tembak, yang diduga merupakan penambang yang memasuki area tambang secara ilegal. Polisi telah menangkap dua orang terkait insiden tersebut.

Pihak kepolisian menyebutkan bahwa tidak ada laporan penculikan atau orang hilang. Namun, Wali Kota Pataz, Aldo Marino, sebelumnya mengatakan kepada media bahwa polisi telah melaporkan adanya tujuh orang yang hilang.

Kejaksaan setempat menyampaikan melalui media sosial bahwa mereka menemukan 11 selongsong peluru di lokasi kejadian dan telah memulai penyelidikan.

Wilayah Pataz merupakan salah satu daerah penghasil emas utama di Peru, yang sebagian besar bergantung pada pertambangan skala kecil, tradisional, atau sektor informal. Tambang-tambang ini beroperasi di bawah sistem izin sementara dari pemerintah.

Namun, ribuan izin tersebut telah disalahgunakan oleh penambang ilegal. Sumber dari kepolisian dan industri menyebutkan bahwa para penambang ilegal ini berkolusi dengan kelompok kriminal untuk mencuri hasil tambang.

Pada tahun 2024, nilai ekspor emas Peru mencapai 15,5 miliar dolar AS, meningkat tajam dibandingkan 11 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya. Sekitar 40% dari total produksi emas tersebut berasal dari pertambangan ilegal. (Hui)

Kapal Bermuatan Sekitar 200 Orang Terbalik di Perairan Gambia Menyebabkan 7 Tewas, 96 Orang Berhasil Diselamatkan

EtIndonesia. Pemerintah negara Afrika Barat, Gambia, pada Kamis (1 Januari) menyatakan bahwa sekitar tengah malam 31 Desember 2025, sebuah kapal yang membawa sekitar 200 orang terbalik di perairan dekat Gambia. Sebanyak 7 orang tewas tenggelam. Hingga kini diketahui sebanyak 96 orang berhasil diselamatkan, banyak diantaranya mengalami luka serius.

Menurut laporan AFP, dalam pernyataan resmi pemerintah Gambia disebutkan bahwa tragedi laut tersebut terjadi di dekat Desa Jinack, Wilayah Pantai Utara (North Bank Region). 

Angkatan Laut Gambia menerima sinyal darurat dan segera memulai operasi pencarian dan penyelamatan setelah tengah malam, dengan mengerahkan beberapa kapal perang angkatan laut. Sebuah kapal nelayan juga turut membantu proses evakuasi.

Pernyataan itu menambahkan bahwa sejumlah korban yang meninggal telah dipastikan bukan warga negara Gambia.

Kapal yang mengalami kecelakaan tersebut kemudian ditemukan kandas di sebuah gundukan pasir.

Banyak warga Afrika berupaya mencapai Kepulauan Canary milik Spanyol, yang mereka anggap sebagai pintu gerbang menuju daratan Eropa, sehingga berani mengambil risiko berlayar melintasi Samudra Atlantik.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir, negara-negara seperti Senegal, Mauritania, dan Maroko memperketat pengawasan laut. Akibatnya, kapal-kapal kecil yang menuju Kepulauan Canary harus berangkat dari lokasi yang lebih jauh, khususnya dari pesisir Gambia dan ibu kota Guinea, Conakry. Jarak pelayaran yang semakin panjang pun meningkatkan tingkat bahaya perjalanan tersebut. (Hui)

Malam Berdarah di Iran: Protes Melebar, Aparat Menembak, Ancaman Internasional Menguat

EtIndonesia. Gelombang protes anti-pemerintah di Iran terus berkobar dan memasuki fase paling berdarah sejak pergantian tahun. Dalam kurun 1 hingga 2 Januari 2026, sejumlah media internasional melaporkan lima hingga enam warga sipil tewas ditembak aparat keamanan dalam aksi protes yang meluas di Lorestan dan beberapa wilayah lain. Lebih dari sepuluh orang—termasuk demonstran dan anggota pasukan keamanan—dilaporkan mengalami luka-luka.

Rekaman Penembakan dan Peluru Tajam Beredar

Laporan terbaru dari Iran International menyebutkan, di Lorestan dan Hamadan, beredar rekaman video yang memperlihatkan aparat keamanan menembaki demonstran. Beberapa cuplikan yang menunjukkan penggunaan peluru tajam menyebar luas di platform X. Meski menghadapi risiko kematian, massa tetap bertahan di jalan-jalan, meneriakkan slogan anti-rezim tanpa henti.

Peringatan Terbuka dari Washington

Pasca pergantian tahun, Donald Trump mengunggah pernyataan keras di media sosial. Dia memperingatkan rezim Teheran bahwa jika terjadi pembantaian brutal terhadap demonstran damai, Amerika Serikat siap turun tangan. Trump menegaskan target telah dikunci dan Washington memantau situasi dengan sangat ketat.

Trump juga menilai gelombang protes kali ini sebagai tantangan terbesar terhadap sistem politik Iran sejak gerakan 2022, sembari menyoroti meningkatnya seruan internasional untuk pergantian rezim.

Ekspansi Protes ke Puluhan Kota

Aksi yang semula terkonsentrasi di Tehran, Isfahan, dan Lorestan kini meluas ke puluhan kota, termasuk Qom dan Mashhad. Video dari akun Iran Freedom di X menunjukkan wilayah miskin di tenggara, seperti Zahedan, ikut bergabung. Massa dari berbagai lapisan sosial turun ke jalan bersama, meneriakkan slogan “Mati bagi sang diktator.”

Pembakaran Kendaraan dan Markas Aparat

Menurut ABC News, situasi lapangan di sejumlah kota menyerupai medan perang skala kecil. Demonstran membakar kendaraan polisi dan kendaraan pemerintah, sementara bangunan di sekitar lokasi protes ikut terdampak.

Rincian insiden di berbagai kota (1–2 Januari 2026):

  • Azna — Pemuda menyerang kantor polisi utama, membakar gedung dan beberapa kendaraan pasukan keamanan setelah menghadapi penindasan dan tembakan.
  • Nurabad — Massa membalikkan kendaraan pasukan keamanan; gas air mata dan tembakan gagal membubarkan kerumunan.
  • Delphan — Kendaraan intelijen Garda Revolusi Iran dibakar.
  • Mashhad, Khorasan Razavi — Demonstran membakar basis milisi Basij.
  • Khayyam University — Mahasiswa menggelar aksi, meneriakkan slogan “Mahasiswa lebih baik mati daripada tunduk.”
  • Sabzevar — Markas milisi Basij kembali dibakar.
  • Nishapur — Warga memberikan perlawanan langsung terhadap tentara bayaran Basij.

Analisis: Dari Protes Ekonomi ke Penolakan Total Sistem

Analis Middle East Institute, Vatanka, menyatakan belum pernah melihat tingkat keputusasaan sedalam ini di dalam tubuh rezim Iran.

Sementara itu, Jafarzadeh, Wakil Direktur National Council of Resistance of Iran di AS, dalam program NewsNation, menilai momen ini sebagai titik awal rakyat Iran untuk benar-benar mengakhiri kediktatoran. Dia menekankan bahwa slogan “Hancurkan diktator” menandai pergeseran tuntutan: bukan lagi soal inflasi dan harga, melainkan penolakan menyeluruh terhadap sistem kediktatoran Islam. 

Slogan “Hancurkan para penindas, baik Shah maupun Khamenei” menunjukkan penolakan ganda—terhadap monarki masa lalu dan sistem pemimpin tertinggi saat ini—serta aspirasi mendirikan republik demokratis tanpa raja dan tanpa pemimpin tertinggi.

Aktivitas Penerbangan Militer Rusia Jadi Sorotan

Perhatian internasional juga tertuju pada aktivitas pesawat angkut militer Rusia menuju Teheran. Data pelacakan penerbangan menunjukkan bahwa antara 1 hingga 2 Januari 2026, empat hingga lima pesawat IL-76 buatan Rusia keluar-masuk bandara Teheran dalam waktu 48 jam.

Media oposisi Iran di pengasingan menafsirkan hal ini sebagai dukungan terselubung Rusia dan Tiongkok—diduga untuk mengirim senjata dan logistik agar mesin represi rezim tetap berjalan. Sejumlah komentar menyoroti slogan “Iran hari ini, Tiongkok besok”, yang disebut membuat Beijing waspada, karena gelombang perlawanan rakyat berpotensi mengguncang poros kediktatoran global.

Kesimpulan Sementara

Dengan korban jiwa yang terus bertambah, eskalasi kekerasan di banyak kota, serta tekanan internasional yang menguat, banyak analis menilai Iran memasuki fase awal yang berbahaya bagi kelangsungan rezim. Generasi muda Iran menolak model lama—baik monarki maupun teokrasi—dan menuntut republik demokratis sejati. Situasi pada awal Januari 2026 ini menempatkan Iran di titik balik sejarah yang berpotensi menentukan arah masa depannya.

Analisis: Partai Komunis Tiongkok Melarang Perayaan Malam Tahun Baru Dikarenakan Petinggi Khawatir Rakyat Marah Besar dan Situasi Menjadi Kacau 

Saat seluruh dunia merayakan datangnya Tahun Baru 2026, Tiongkok justru tanpa alasan jelas membatalkan seluruh kegiatan malam Tahun Baru. Pada malam 31 Desember 2025, Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengerahkan pasukan polisi dalam jumlah besar dan bersiaga ketat, membuat hari yang seharusnya penuh kegembiraan berubah menjadi muram dan kaku, bahkan menjadi bahan ejekan internasional. Banyak warganet menyindir bahwa “malam Tahun Baru terasa seperti kota hantu.” Sejumlah pengamat menganalisis alasan di balik larangan PKT terhadap perayaan malam Tahun Baru oleh masyarakat.

EtIndonesia. Menjelang datangnya 2026, pemerintah daerah di banyak wilayah Tiongkok mengumumkan bahwa tahun ini tidak akan menyelenggarakan bentuk apapun perayaan malam Tahun Baru, serta melarang warga berkumpul. 

Mulai dari Anhui, Xi’an, Jiangsu, Henan, Tianjin, Guangzhou hingga kawasan Bund di Shanghai, pertunjukan cahaya, acara hitung mundur, dan pesta kembang api semuanya dibatalkan.

Meski berbagai daerah telah lebih dulu membatalkan acara malam Tahun Baru, warga tetap turun ke jalan untuk merayakannya. 

Pada malam 31 Desember 2025, beredar banyak foto dan video di internet yang menunjukkan bahwa di sejumlah kota di Tiongkok, polisi dikerahkan secara besar-besaran, menutup alun-alun yang biasanya menjadi tempat warga berkumpul saat pergantian tahun. 

Bahkan, terlihat pemuda yang menyalakan kembang api dikejar dan ditangkap polisi. Pemandangan ini sangat kontras dengan suasana meriah di sebagian besar kota di dunia.

Banyak warganet melontarkan sindiran, antara lain:
“Ini bukan malam Tahun Baru, tapi seperti kuburan.”
“Malam Tahun Baru terasa seperti kota hantu.”
“Setiap hari waspada berlebihan, justru makin terlihat tidak percaya diri.”
“Begitu takut orang berkumpul, apakah ada rasa bersalah di hati?”

Lalu, apa yang membuat pimpinan tertinggi PKT menunjukkan kewaspadaan sedemikian besar terhadap sebuah kegiatan yang sebenarnya bersifat sekuler, konsumtif, dan nyaris tanpa muatan politik seperti perayaan malam Tahun Baru? 

Pada 2 Januari, komentator isu terkini Xin Gaodi menulis di platform X luar negeri dan menganalisis beberapa alasan berikut:

Alasan paling utama:

  1. Tidak ingin kaum muda dalam jumlah besar berkumpul dan membentuk “medan empati instan”.
  2. Gerakan Kertas Putih yang melanda seluruh Tiongkok pada akhir 2022 bermula dari perkumpulan malam Tahun Baru di Jalan Urumqi, Shanghai—berkembang dari berkumpul, berkabung, marah, hingga terhubung secara nasional. Ketika ratusan ribu orang berada pada waktu yang sama, dalam emosi yang sama, dan menggunakan bentuk ekspresi yang sama (hitung mundur, kembang api, meneriakkan slogan, menyalakan lampu ponsel), kecepatan penularan emosi meningkat secara eksponensial. Dan begitu penularan itu dimulai, sangat sulit untuk dipadamkan dalam waktu singkat.
  3. Sangat sensitif terhadap narasi “kehilangan kendali secara kolektif”

 Begitu muncul video—meski hanya beberapa detik—yang menunjukkan “seluruh rakyat bersuka ria berlebihan, situasi tak terkendali, dan teriakan slogan yang tidak terkontrol”, hal itu akan sangat merusak citra “kendali total” yang dibangun penguasa.

  1. Kembang api = “politik cahaya” tanpa izin

 Dalam beberapa tahun terakhir, penindasan terhadap kembang api bukan semata-mata soal lingkungan. Logika mendasarnya adalah bahwa kembang api merupakan satu-satunya cara yang masih memungkinkan bagi rakyat biasa untuk menciptakan “cahaya spontan” dalam skala besar secara legal. 

Setiap “cahaya luas” yang spontan dan tidak dilaporkan sebelumnya kini dipandang sebagai sinyal risiko potensial dalam sistem pengawasan saat ini (menyalakan lampu, laser pointer, lampu kilat ponsel, pertemuan dengan senter, dan sebagainya—semuanya semakin diperketat).

  1. Benturan antara euforia konsumerisme dan narasi resmi

Sikap batin Xi Jinping saat ini kemungkinan adalah: “Kami tidak takut kalian hidup miskin; yang paling kami takuti adalah kalian berkumpul dan terlihat bahagia.”

Ketidakpuasan akibat kemiskinan masih bisa ditekan sementara dengan penindasan, pengalihan konflik, atau pembagian uang. Namun begitu “kebahagiaan kolektif yang tak terkendali” terlihat, ia dengan mudah menjadi pendahulu dari “kemarahan kolektif yang tak terkendali”.

Penulis menyatakan bahwa fenomena pengendalian ketat terhadap perayaan publik dan perkumpulan massa sering kali muncul pada fase akhir sebuah dinasti. 

Dalam sejarah Tiongkok, terdapat banyak contoh serupa pada masa akhir dinasti, yang menunjukkan bahwa larangan penguasa terhadap perayaan dan pertemuan hari besar biasanya berakar pada ketakutan bahwa “kebahagiaan kolektif” akan berubah menjadi “kemarahan kolektif”. Hal ini sejalan dengan pembatalan perayaan malam Tahun Baru di banyak wilayah Tiongkok saat ini, demi mencegah terulangnya peristiwa serupa.

Pada 1 Januari, Hung Yao-nan, dosen pembantu Departemen Diplomasi dan Hubungan Internasional Universitas Tamkang, menulis di media Taiwan Mirror Media bahwa secara ironis, rezim Partai Komunis Tiongkok—yang paling piawai dalam mengendalikan dan mengawasi—justru menghadapi sebuah pertemuan damai tanpa slogan politik, tanpa kembang api, dan hanya untuk hitung mundur waktu, seolah menghadapi musuh besar. Semakin menekankan “paling aman”, semakin tampak kecemasan dalam tata kelola; semakin mengklaim “paling stabil”, semakin terekspos ketakutan terhadap aksi spontan masyarakat. Ini bukan masalah kemampuan, melainkan runtuhnya kepercayaan diri.

Hung Yao-nan menilai bahwa pemerintah PKT kerap menyatakan kepada dunia: “Kami adalah salah satu negara paling aman di dunia.” Namun melalui kebijakan nyata, mereka justru mengatakan kepada rakyat: “Sebaiknya kalian tidak berdiri bersama.” Ketika sebuah sistem bahkan tidak mampu menoleransi momen simbolis perayaan berupa hitung mundur, maka “keamanan” yang dimaksud itu sebenarnya milik siapa? Milik rakyat, atau milik rezim? Milik kota, atau milik sistem kekuasaan? Kembang api belum dinyalakan, kepercayaan sudah lebih dulu runtuh. Inilah dinginnya malam Tahun Baru di Tiongkok yang sesungguhnya.

Sejumlah warganet juga mengatakan bahwa perbandingan hitung mundur di Tianjin, Hong Kong, Shanghai, Chongqing, dan Taipei menunjukkan satu hal: tanpa perbandingan, tidak terasa lukanya. Ada pula yang menyindir, “Orang yang tidak tahu mungkin mengira kami adalah pihak yang sudah disatukan.” (Hui)

Tragedi Kebakaran Bar di Swiss Tewaskan 47 Orang dan 100 Lebih Terluka, Saksi Ungkap Kepanikan Saat Evakuasi

EtIndonesia. Pesta malam Tahun Baru di bar kawasan resor ski Crans-Montana, Swiss, berakhir tragis setelah terjadi kebakaran yang menewaskan 47 orang dan melukai lebih dari 100 orang dengan tingkat luka yang bervariasi. Pemerintah Swiss menetapkan masa berkabung nasional selama lima hari. Para penyelidik pada Jumat (2 Januari) mulai melakukan proses identifikasi jenazah korban—pekerjaan berat yang diperkirakan memakan waktu beberapa hari.

Menurut pihak berwenang, kebakaran terjadi sekitar pukul 01.30 dini hari waktu setempat. Kantor berita Reuters melaporkan, sebagian besar pengunjung yang berpesta di bar bernama Le Constellation adalah kaum muda, dan banyak di antaranya mengalami luka bakar parah.

Kesaksian sejumlah penyintas serta video yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa langit-langit ruang bawah tanah bar kemungkinan terbakar akibat lilin kembang api (sparkler) yang diletakkan terlalu dekat. Api dilaporkan menyebar dengan sangat cepat.

Polisi telah menutup lokasi kejadian dan menyatakan bahwa sebagian jenazah masih berada di dalam bar. Pihak berwenang berjanji akan bekerja tanpa henti, siang dan malam, untuk memastikan seluruh korban dapat diidentifikasi.

Pada malam sebelumnya (1 Januari), ratusan orang berkumpul di sekitar lokasi kejadian untuk mengheningkan cipta. Di area peringatan darurat di jalan menuju bar, puluhan orang meletakkan bunga dan lilin; sebagian menangis, sementara yang lain saling berpelukan dalam diam.

Keluarga korban yang dinyatakan hilang dengan cemas mencari bantuan, berharap memperoleh kabar tentang orang-orang tercinta. Sejumlah kedutaan besar asing juga segera melakukan verifikasi untuk memastikan apakah ada warga negara mereka di antara para korban.

Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Otoritas Swiss menyatakan bahwa insiden ini tampaknya merupakan kecelakaan, bukan tindakan penyerangan.

Saksi Mata: Evakuasi Picu Desak-desakan

Axel Clavier, penyintas berusia 16 tahun asal Paris, Prancis, mengatakan kepada Associated Press bahwa setelah kebakaran terjadi, suasana di dalam bar “sangat kacau”. Salah satu temannya telah meninggal dunia, sementara dua hingga tiga orang lainnya masih hilang.

Clavier mengaku tidak melihat langsung penyebab kebakaran, tetapi ia melihat pelayan membawa botol sampanye dengan lilin kembang api yang menyala.

Ia menceritakan, setelah api menyebar, dirinya hampir kehabisan napas. Awalnya ia bersembunyi di balik meja, lalu berlari ke atas dan berusaha memecahkan jendela akrilik dengan meja. Setelah jendela itu terlepas, ia berhasil melarikan diri. Dalam prosesnya, ia kehilangan jaket, sepatu, ponsel, dan kartu bank. Namun, ia mengatakan bahwa yang terpenting adalah ia masih hidup—“yang lain hanyalah harta benda.”

Dua perempuan lain mengatakan kepada stasiun televisi Prancis BFMTV bahwa mereka melihat seorang bartender pria mengangkat seorang bartender perempuan di pundaknya, sementara bartender perempuan itu memegang botol minuman yang ditancapi lilin. Api kemudian menyebar dan menyebabkan langit-langit kayu runtuh.

Salah satu perempuan tersebut menggambarkan bahwa semua orang panik ingin menyelamatkan diri. Dari klub malam di ruang bawah tanah, orang-orang berdesakan menaiki tangga sempit dan melewati pintu yang kecil, sehingga terjadi dorong-dorongan.

Seorang saksi mata pria lainnya mengatakan kepada BFMTV bahwa orang-orang memecahkan jendela demi melarikan diri. Beberapa korban mengalami luka serius. Orang tua yang panik bergegas ke lokasi dengan mobil untuk memastikan apakah anak-anak mereka terjebak. Ia menyaksikan sekitar 20 orang berjuang keluar dari asap tebal dan kobaran api dari seberang jalan. Ia juga menggambarkan proses pelarian itu seperti adegan film horor. (Hui)

91 Drone, Nol Ledakan: Misteri Klaim Serangan ke Kediaman Putin yang Mengguncang Dunia

EtIndonesia. Kementerian Pertahanan Rusia secara mendadak merilis pernyataan resmi yang menggemparkan publik internasional. Moskow mengklaim telah menggagalkan serangan drone Ukraina yang diduga menargetkan kediaman Presiden Rusia, Vladimir Putin di Oblast Novgorod.

Menurut pernyataan tersebut, insiden terjadi pada 28 Desember 2025 sekitar pukul 19:20 waktu setempat. Otoritas militer Rusia mengklaim mendeteksi 91 unit drone yang diluncurkan dari wilayah Sumy dan Chernihiv di Ukraina, memasuki wilayah Rusia dari berbagai arah dalam sebuah operasi yang disebut “terkoordinasi dan berskala besar”.

Klaim Resmi Rusia dan Bukti yang Dipertanyakan

Dalam rilisnya, Kementerian Pertahanan Rusia bahkan menyertakan rekaman video yang memperlihatkan seorang prajurit berdiri di dekat puing drone yang diklaim milik Ukraina. Rusia menyebut setiap drone membawa sekitar enam kilogram bahan peledak.

Namun, klaim tersebut segera menuai tanda tanya besar. Hingga kini, tidak ada informasi rinci mengenai:

  • lokasi jatuhnya drone,
  • jalur penerbangan drone,
  • maupun bukti ledakan yang dapat diverifikasi secara independen.

Sejumlah media independen yang mewawancarai warga setempat melaporkan bahwa tidak seorang pun mendengar suara drone, peringatan udara, atau ledakan pada malam yang diklaim sebagai waktu serangan. Beberapa warga bahkan menegaskan bahwa malam itu berlangsung sepenuhnya normal.

Tanda Tanya di Sekitar Kediaman Presiden di Valdai

Sorotan juga tertuju pada lokasi yang disebut sebagai target utama, yakni kawasan Valdai (Dolgiye Borody)—wilayah yang dikenal sebagai salah satu tempat peristirahatan Presiden Rusia.

Warga lokal menegaskan bahwa setiap kali Presiden Putin berada di Valdai, kawasan tersebut biasanya menunjukkan aktivitas keamanan yang sangat mencolok, termasuk patroli ketat dan lalu lintas helikopter yang intens. Namun, pada malam 28 Desember, tidak ada satu pun tanda pengamanan ekstra yang terlihat, memperkuat keraguan atas klaim Moskow.

Reaksi Ukraina dan Analisis Media Internasional

Laporan Reuters menyebutkan bahwa pihak Ukraina menilai klaim Rusia tersebut sebagai manuver politik. Kyiv menuding Moskow berupaya mengganggu momentum diplomatik yang sedang terbentuk.

Klaim ini muncul tepat setelah pertemuan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada 28 Desember 2025 di Mar-a-Lago, Florida. Dalam pertemuan tersebut, Trump menyatakan bahwa kedua pihak hampir mencapai kerangka kesepakatan perdamaian.

Trump sempat mengungkapkan kemarahannya setelah klaim serangan Rusia diumumkan. Namun, setelah menerima laporan intelijen lanjutan, sikapnya berubah. Pada 31 Desember, Trump justru membagikan editorial dari New York Post yang secara terbuka mengkritik Rusia karena dinilai menghambat proses perdamaian.

Sikap Tegas Kyiv dan Dukungan Eropa

Dalam pidato Tahun Baru 2026, Presiden Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina menginginkan perdamaian, tetapi bukan dengan mengorbankan kedaulatan dan integritas wilayah. Dia mengakui bahwa rakyat Ukraina telah kelelahan setelah perang berkepanjangan, namun menegaskan bahwa kelelahan bukanlah tanda menyerah.

Dari Eropa, Italia mengumumkan langkah lanjutan dengan memperpanjang bantuan militernya untuk Ukraina selama satu tahun ke depan—menjadi perpanjangan ke-11 sejak konflik pecah. Perdana Menteri Giorgia Meloni menegaskan bahwa Roma akan terus mendukung Kyiv hingga tercapai “perdamaian yang adil dan permanen.”

Medan Perang Memanas di Malam Pergantian Tahun

Ironisnya, di saat wacana perdamaian bergulir, medan perang justru memanas tajam pada malam pergantian tahun.

Militer Ukraina melancarkan serangan intensif terhadap target militer dan infrastruktur energi Rusia. Brigade ke-412 Ukraina, yang dijuluki “Dewi Pembalasan”, dilaporkan berhasil menghancurkan dua sistem pertahanan udara Rusia—Buk-M3 dan Tor-M2—di front Huliaipole hanya dalam waktu satu jam.

Serangan drone juga menghantam fasilitas energi di wilayah Krasnodar dan Kaluga, memicu ledakan besar dan kebakaran hebat. Bahkan, pelabuhan energi utama Rusia di Laut Hitam dilaporkan ikut diserang, menyebabkan kelumpuhan infrastruktur vital.

Dampak Langsung di Dalam Negeri Rusia

Di dalam negeri Rusia, dampak serangan terasa nyata. Pemadaman listrik meluas hingga ke Saint Petersburg dan wilayah Moskow, mengakibatkan gangguan listrik, pasokan air, dan sistem pemanas, tepat di tengah musim dingin yang keras.

Dari ibu kota, kota terbesar kedua Rusia, hingga pusat energi strategis di Laut Hitam, tahun baru dimulai bukan dengan meredanya konflik, melainkan dengan eskalasi yang kian menjalar jauh ke wilayah belakang Rusia—menandai bahwa perang Rusia–Ukraina masih jauh dari kata usai.

Protes di Iran: Milisi Basij, ‘Mata dan Telinga Rezim’, Menghadapi Serangan

EtIndonesia. Iran sekali lagi menyaksikan pemandangan yang sangat familiar bagi kepemimpinannya: pasar yang tutup, universitas yang lumpuh, dan demonstran di jalanan, sekali lagi menantang rezim Khamenei.

Apa yang dimulai sebagai kemarahan atas anjloknya rial, hiperinflasi yang terus-menerus, dan seruan untuk stabilitas ekonomi telah meningkat menjadi protes politik yang lebih luas. Di seluruh Teheran, Isfahan, Lorestan, dan wilayah lain, para demonstran tidak lagi hanya menuntut bantuan ekonomi tetapi sekarang mereka secara terbuka menyerukan diakhirinya pemerintahan ulama.

Video yang beredar online menunjukkan kerumunan orang meneriakkan slogan-slogan seperti ‘Mullah harus meninggalkan Iran’, ‘Matilah Khamenei’, dan ‘Shah akan kembali’, saat kerusuhan di seluruh Iran memasuki hari keenam, tanpa menyisakan ruang untuk ambiguitas.

Selama protes ini, seorang anggota sukarelawan Garda Revolusi paramiliter Iran tewas di Kuhdasht. Menurut Reuters, 13 anggota Basij lainnya, sebuah pasukan paramiliter sukarelawan yang berafiliasi dengan Garda Revolusi, dilaporkan terluka oleh para demonstran. Insiden-insiden ini telah menyoroti meningkatnya volatilitas dan perbedaan pendapat saat negara tersebut menghadapi kerusuhan terbesar dalam tiga tahun terakhir.

Perang Iran-Irak (1980–1988) mengubah IRGC menjadi kekuatan tempur konvensional. Kini sangat terinstitusionalisasi, IRGC tetap menjadi kekuatan yang setara dengan angkatan bersenjata reguler Iran. IRGC mencakup pasukan darat yang berbasis di 31 provinsi Iran, pasukan paramiliter Basij, angkatan laut yang terpisah dari cabang angkatan laut militer reguler Iran, angkatan udara yang terpisah, dan komando siber.

Asal Usul dan Struktur Basij

Basij, yang secara resmi dikenal sebagai Organisasi untuk Mobilisasi Kaum Tertindas (Sâzmân-e Basij-e Mostaz’afin), didirikan pada tahun 1980 atas perintah Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang menyerukan ‘20 juta penembak jitu’ untuk membela revolusi. Ini adalah milisi sukarelawan paramiliter Iran di bawah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Menurut Reuters, Basij adalah pasukan paramiliter sukarelawan yang beroperasi di bawah loyalitas langsung Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Modern Science menggambarkan strategi keamanan Iran sebagai ‘doktrin pertahanan mosaik,’ yang menggabungkan perlindungan teritorial berlapis-lapis dengan peperangan asimetris. Dalam kerangka ini, peran Basij tidak hanya terbatas sebagai anak perusahaan IRGC tetapi juga memainkan perannya dalam mekanisme sentral untuk mobilisasi sosial, menekan perbedaan pendapat, dan mencapai tujuan rezim.

Di luar penegakan hukum domestik, Basij mendukung kelompok-kelompok sekutu di luar negeri dan berpartisipasi dalam konflik regional, yang mencerminkan peran gandanya dalam strategi internal dan eksternal Iran. Basij sering dituduh berpartisipasi dalam penindakan kekerasan, terutama selama pemilihan presiden 2009 dan pada November 2019 ketika Basij dilaporkan termasuk di antara pasukan keamanan Iran yang bertanggung jawab atas kematian ratusan pria, wanita, dan anak-anak.

Fungsi dan Pengaruh

Menurut United States Institute of Peace, Basij adalah pasukan tambahan yang menjalankan berbagai tugas, mulai dari keamanan internal dan penegakan hukum hingga pengawasan moral dan pengorganisasian acara keagamaan atau politik khusus. Milisi ini memiliki cabang di hampir setiap kota dan desa di Iran, memberikan Pemimpin Tertinggi jangkauan yang luas di masyarakat.

Basij memperoleh peningkatan signifikansi setelah pemilihan 2009 yang dipersengketakan, ketika Khamenei memobilisasi pasukan tersebut untuk melawan ancaman ‘domestik’ yang dianggap ada. Pengaruh yang semakin besar ini telah memperkuat kekuatan politik dan ekonomi Basij, yang berkontribusi pada militerisasi rezim Iran.

Meskipun memiliki otoritas, Basij tidak kebal terhadap tantangan. Tanggapannya terhadap protes di masa lalu terkadang dikritik, dan anggarannya yang terbatas membatasi operasinya. Namun, serangan terhadap Basij bukanlah hal baru; pasukan ini telah menghadapi kemarahan serupa dari warga sipil dan ‘kelompok teroris’ di masa lalu. Integrasi ke dalam Pasukan Darat IRGC pada tahun 2008 semakin membentuk kembali strukturnya, sementara sanksi AS dan internasional terhadap IRGC dapat melemahkan kapasitasnya. Namun, peran sentralnya dalam aparat keamanan internal Iran tetap tidak diragukan.

Relevansi Kontemporer dan Peran Regional

Seiring berlanjutnya protes di seluruh negeri, sukarelawan Basij telah aktif dalam memberikan keamanan dan dukungan publik. Selama konflik Israel-Iran pada Juni 2025, Panglima Garda Revolusi Mohammad Pakpour menyatakan: “Para sukarelawan Basij aktif di bidang keamanan dan dukungan publik sejak hari pertama eskalasi.” Dalam perang yang sama, Mohammad Taghi Yousefvand, komandan perlindungan intelijen untuk pasukan Basij, tewas selama serangan rudal Israel.

Dalam struktur kekuasaan Iran yang kompleks, Basij tetap menjadi “mata dan telinga” rezim, sebuah alat serbaguna untuk kontrol domestik dan pengaruh regional. Integrasinya yang mendalam dengan IRGC, jaringan yang luas, dan komitmen ideologisnya memastikan bahwa seiring intensifikasi protes, Basij akan terus menjadi pusat bagi kelangsungan hidup dan proyeksi kepemimpinan ulama Iran.(yn)

Suriah Luncurkan Uang Kertas Baru, Mengganti Potret Assad dengan Simbol Alam

EtIndonesia. Suriah telah mulai meluncurkan mata uang nasional yang didesain ulang untuk menggantikan uang kertas era rezim Assad, menandai pergeseran simbolis dan praktis dalam perekonomian negara tersebut.

Uang kertas baru, yang diresmikan dalam sebuah upacara di Damaskus oleh Presiden sementara Ahmed al-Sharaa dan Gubernur Bank Sentral, Abdulkader Husrieh, mulai beredar pada 1 Januari 2026 sebagai bagian dari reformasi moneter yang lebih luas setelah penggulingan rezim mantan Presiden Bashar al-Assad pada tahun 2024.

Presiden Sharaa menggambarkan uang kertas yang didesain ulang sebagai pemutus dari masa lalu, dengan mengatakan bahwa uang kertas tersebut mencerminkan identitas nasional baru dan menjauh dari pengagungan individu.

Uang kertas tersebut kini menampilkan simbol-simbol pertanian dan alam seperti mawar, gandum, zaitun, jeruk, dan murbei, menggantikan potret keluarga Assad yang muncul pada uang kertas sebelumnya.

Dalam perubahan teknis besar, mata uang telah mengalami redenominasi dengan menghilangkan dua angka nol – artinya 100 pound Suriah lama sekarang akan sama dengan satu pound baru. Bank sentral telah menetapkan periode transisi 90 hari, di mana uang kertas lama dan baru dapat digunakan, dengan kemungkinan perpanjangan jika diperlukan.

Meskipun penghapusan angka nol dan perubahan desain akan menyederhanakan transaksi, para pejabat mengakui bahwa perubahan ini, dengan sendirinya, tidak akan memperbaiki perekonomian.

Sharaa menekankan bahwa pemulihan jangka panjang bergantung pada peningkatan produksi, pengurangan pengangguran, dan penguatan sektor perbankan.

Inisiatif mata uang baru ini bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan pada pound Suriah, yang telah kehilangan lebih dari 99 persen nilainya sejak 2011 karena perang, sanksi, dan ketidakstabilan ekonomi.

Meskipun disambut sebagai langkah menuju stabilisasi, beberapa ekonom khawatir bahwa tanpa reformasi yang lebih luas, mata uang yang direvisi saja mungkin tidak akan menekan inflasi atau secara signifikan meningkatkan daya beli.(yn)

Sudah Masuk ke Indonesia ! Ketahui Gejalanya, Tercatat 62 Kasus “Super Flu” Varian Subklade K, Terbanyak di Jatim, Kalsel dan Jabar

EtIndonesia. Penyebaran  influenza A(H3N2) subclade K sudah terdeteksi masuk ke wilayah Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan situasi influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih dalam kondisi terkendali 

Kemenkes RI juga mencatat, hasil surveilans juga menunjukkan bahwa influenza A(H3) merupakan varian dominan di Indonesia. Tren kasus influenza nasional tercatat menurun dalam dua bulan terakhir. 

Berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” kata Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine dikutip dari siaran pers Kemenkes RI. 

BACA JUGA : Warga di Tiongkok Melaporkan Memburuknya Wabah Influenza A, Varian Baru Subklad K Meledak di AS dan Eropa

BACA JUGA : Kasus Flu Mengganas di Tiongkok: Kasus Berat dan Kematian Meledak, Otoritas Diduga Tutup-Tutupi Fakta

BACA JUGA : 4 Wabah Virus Serangkai Secara Bersamaan Melanda Inggris dan AS, “Flu Super” Mendorong Pemberlakuan Kembali Kewajiban Penggunaan Masker

BACA JUGA : Kasus Virus Flu Tak Terbendung di Tiongkok: Beijing, Tianjin, dan Zhejiang Hentikan Kelas Belajar Hingga Viral di Medsos Tiongkok Paru-Paru Anak Kolaps dalam Waktu Singkat

Dari total 843 spesimen positif influenza yang diperiksa, sebanyak 348 sampel menjalani pemeriksaan WGS. Seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian yang telah dikenal dan saat ini bersirkulasi secara global dalam sistem surveilans WHO.

Kemenkes RI menegaskan akan terus memperkuat surveilans, pelaporan, serta kesiapsiagaan untuk merespons perkembangan situasi influenza sesuai dinamika yang ada.

“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujar dr. Prima.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta. Vaksin influenza tetap efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian.

Masyarakat juga diimbau untuk tetap berada di rumah saat mengalami gejala flu, menggunakan masker, menerapkan etika batuk, serta segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan apabila gejala memburuk atau tidak membaik dalam lebih dari tiga hari.

dr. Prima Yosephine, menjelaskan bahwa secara global peningkatan kasus influenza A(H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, seiring dengan masuknya musim dingin. 

Subclade K sendiri pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan hingga kini telah dilaporkan di lebih dari 80 negara. Di kawasan Asia, subclade K telah dilaporkan di sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025.  (asr)

2 Tewas, 50 Rumah Rusak Akibat Gempa Berkekuatan Magnitudo 6,5 Mengguncang Meksiko

EtIndonesia. Gempa berkekuatan magnitudo 6,5 mengguncang ibu kota Meksiko dan pusat wisata di pantai Pasifik pada hari Jumat (2/1), menewaskan sedikitnya dua orang dan menyebabkan kerusakan sedang di sebuah kota kecil dekat pusat gempa.

Badan Survei Geologi AS mengatakan gempa terjadi sesaat sebelum pukul 8:00 pagi di dekat Acapulco, sebuah pelabuhan utama dan resor pantai.

Gempa tersebut dirasakan sekitar 400 kilometer ke utara di Kota Meksiko, di mana alarm berbunyi dan membuat orang-orang bergegas ke jalan untuk menyelamatkan diri, mengganggu liburan akhir pekan.

Seorang pria berusia 60 tahun meninggal setelah jatuh saat menyelamatkan diri dari apartemennya di lantai dua di ibu kota, kata pihak berwenang setempat.

Dua belas orang lainnya terluka, tulis Walikota Clara Brugada di media sosial, tetapi tidak ada laporan kerusakan besar di kota terbesar di negara itu.

Presiden Claudia Sheinbaum terpaksa mengevakuasi istana kepresidenan selama konferensi pers pagi rutinnya.

Layanan Seismologi Nasional Meksiko mengatakan bahwa pusat gempa terletak 14 kilometer barat daya kota San Marcos di negara bagian Guerrero.

Sheinbaum mengatakan tidak ada laporan langsung tentang kerusakan besar, tetapi di San Marcos, dampaknya terlihat jelas.

Seorang wanita berusia lima puluhan “meninggal dunia ketika rumahnya runtuh menimpanya,” kata Gubernur Guerrero Evelyn Salgado.

Walikota San Marcos Misael Lorenzo Castillo mengatakan sekitar 50 rumah hancur dan “semua rumah retak.”

Warga menunjukkan kepada wartawan AFP retakan di dinding rumah mereka dan bagian dinding yang runtuh.

“San Marcos sangat terdampak, hancur,” ratap Rogelio Moreno, seorang warga, berdiri di depan rumahnya yang rusak.

‘Terbangun dalam ketakutan’

Meksiko terletak di antara lima lempeng tektonik dan karenanya merupakan salah satu negara paling aktif secara seismik di dunia.

Karen Gomez, seorang pekerja kantoran berusia 47 tahun yang tinggal di lantai 13 sebuah gedung apartemen di Mexico City, mengatakan kepada AFP bahwa ia terbangun dari tidurnya oleh sirene jalanan.

“Saya terbangun dalam ketakutan. Peringatan di ponsel saya mengatakan itu adalah gempa bumi yang kuat.”

Norma Ortega, seorang direktur taman kanak-kanak berusia 57 tahun, yang tinggal di apartemen lantai 10, mengatakan ia dapat merasakan gedungnya berguncang.

Di Acapulco, Ricardo, seorang turis dari negara bagian Morelos di Meksiko tengah, melarikan diri dari hotelnya tanpa mengenakan baju setelah sirene berbunyi.

Pusat Mexico City dibangun di atas tanah berlumpur yang dulunya merupakan dasar danau, sehingga sangat rentan terhadap gempa bumi.

Pengeras Suara di Tiang Lampu

Gempa bumi yang paling kuat dirasakan biasanya berasal dari lepas pantai negara bagian Guerrero di pesisir Pasifik.

Pada 19 September 1985, gempa bumi berkekuatan magnitudo 8,1 menghancurkan sebagian besar wilayah Kota Meksiko, menewaskan hampir 13.000 orang, sebagian besar di kota tersebut, menurut angka resmi.

Pada tahun 2017, juga pada tanggal 19 September, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 menewaskan 369 orang, juga sebagian besar di Kota Meksiko.

Sistem peringatan dini, termasuk aplikasi ponsel pintar, telah dikembangkan untuk memperingatkan warga tentang gempa bumi kuat dan mendesak mereka untuk mencari tempat aman.

Kota Meksiko juga telah memasang pengeras suara di tiang lampu untuk menyiarkan peringatan tersebut.(yn)