Trump Tutup Pintu Damai! Iran Makin Terjepit, Selat Hormuz Membara dan Pentagon Siapkan Langkah Besar

EtIndonesia.com Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah berakhirnya periode 60 hari memorandum sementara kedua negara. Pada Selasa, 18 Agustus 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Washington tidak sedang melakukan pembicaraan dengan Teheran dan tidak memiliki agenda dialog baru dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut sekaligus memperkecil harapan tercapainya terobosan diplomatik dalam krisis yang terus mengguncang kawasan Teluk Persia.

Melalui unggahan di Truth Social pada pagi hari 18 Agustus, Trump mengatakan tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung maupun dijadwalkan dengan Republik Islam Iran. Ia juga menegaskan bahwa blokade maritim Amerika Serikat terhadap Iran tetap diberlakukan secara penuh.

Trump bahkan mengklaim bahwa Selat Hormuz telah terbuka dan beroperasi, serta seluruh ranjau laut di kawasan tersebut telah disingkirkan atau diledakkan. Namun, klaim Washington itu bertentangan dengan pernyataan Teheran. Ketua Parlemen sekaligus salah satu negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Iran menganggap Selat Hormuz tetap tertutup sampai Amerika Serikat memenuhi sejumlah ketentuan yang menurut Teheran telah disepakati sebelumnya.

Perselisihan tersebut menunjukkan bahwa bukan hanya proses diplomasi yang mengalami kebuntuan, tetapi kedua negara kini bahkan memberikan gambaran yang sangat berbeda mengenai kondisi jalur pelayaran strategis tersebut.

Situasi semakin kontroversial setelah Trump mengunggah sebuah gambar peta yang menandai Selat Hormuz sebagai “New U.S. Territory” atau “Wilayah Baru Amerika Serikat”. Unggahan tersebut dipandang sebagai penegasan simbolis atas klaim Washington mengenai kendalinya terhadap jalur laut tersebut, meskipun tidak mengubah status hukum internasional Selat Hormuz.

Perkembangan itu terjadi hanya sehari setelah periode 60 hari memorandum sementara Amerika Serikat-Iran berakhir pada Senin, 17 Agustus 2026, tanpa menghasilkan kesepakatan perdamaian yang lebih luas. Memorandum tersebut sebelumnya diharapkan membuka jalan menuju penyelesaian perang sekaligus mengatasi perselisihan mengenai program nuklir Iran dan kebebasan pelayaran melalui Selat Hormuz.

Namun bukannya mereda, ketegangan di laut kembali meningkat.

Pada 18 Agustus 2026, sebuah kapal yang sedang meninggalkan kawasan Selat Hormuz dilaporkan terkena serangan proyektil. Insiden itu semakin memperkuat kekhawatiran perusahaan pelayaran terhadap keamanan rute perdagangan energi terpenting dunia tersebut.

Rudal dari Arah Iran Picu Alarm di UEA

Ketegangan kemudian merembet langsung ke Uni Emirat Arab.

Pada hari yang sama, Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Trump untuk membahas hubungan bilateral dan perkembangan regional. Akan tetapi, tidak lama kemudian, otoritas pertahanan UEA mengumumkan telah mendeteksi dua rudal balistik yang datang dari arah Iran.

Menurut Kementerian Pertahanan UEA, satu rudal jatuh di luar wilayah negara tersebut, sementara rudal lainnya jatuh di dalam perairan teritorial UEA. Tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan akibat insiden tersebut.

Abu Dhabi kemudian menegaskan bahwa pasukan pertahanannya tetap berada dalam tingkat kesiagaan tinggi menghadapi kemungkinan ancaman berikutnya.

Dampak diplomatik dan ekonominya berlangsung cepat. Pemerintah UEA mengumumkan penghentian sementara seluruh perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut. Langkah tersebut menjadi pukulan baru terhadap hubungan kedua negara yang sebelumnya berusaha menurunkan ketegangan.

Iran sendiri membantah bertanggung jawab atas peluncuran tersebut. Dengan demikian, tuduhan mengenai asal dan pihak yang memerintahkan serangan tetap menjadi bagian dari perselisihan antara Teheran dan Abu Dhabi.

Pentagon Mulai Memikirkan Ulang Kehadiran Militer di Teluk

Di tengah meningkatnya ancaman terhadap negara-negara Teluk, muncul perkembangan lain yang tidak kalah penting.

Menurut laporan yang mengutip The Washington Post, Pentagon tengah mengevaluasi kembali struktur penempatan pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk kemungkinan mengurangi secara permanen jejak militernya di kawasan Teluk Persia setelah konflik Iran berakhir.

Pertimbangan tersebut muncul setelah sejumlah pangkalan dan fasilitas Amerika Serikat di kawasan menjadi sasaran serangan selama konflik. Kerusakan terhadap fasilitas militer AS menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas mempertahankan konsentrasi pasukan dalam jumlah besar di pangkalan tetap yang dapat menjadi sasaran rudal dan drone Iran.

Salah satu contoh paling serius adalah fasilitas Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain, yang menjadi markas Armada Kelima. Analisis citra satelit dan sumber terbuka sebelumnya menunjukkan adanya kerusakan akibat serangan Iran terhadap fasilitas tersebut.

Karena itu, Pentagon dilaporkan mulai mempertimbangkan apakah sejumlah fasilitas yang rusak harus dibangun kembali sepenuhnya atau justru menjadi momentum untuk menciptakan struktur kekuatan yang lebih tersebar dan sulit diserang. Jika benar-benar diterapkan, kebijakan tersebut dapat menjadi salah satu perubahan terbesar dalam postur militer Amerika di Teluk dalam beberapa dekade terakhir.

Isu Senjata Nuklir Penembus Bunker Ikut Mencuat

Di tengah kebuntuan tersebut, perhatian juga tertuju pada persoalan fasilitas nuklir Iran yang dibangun jauh di bawah tanah.

Salah satu senjata nuklir Amerika yang memang dirancang untuk menghadapi target bawah tanah adalah B61-11, bom gravitasi nuklir penetrasi yang dikembangkan untuk menyerang sasaran bawah tanah yang diperkuat. Keberadaan senjata tersebut kembali mendapat perhatian karena fasilitas nuklir Iran yang dibangun jauh di bawah pegunungan dinilai menjadi tantangan bahkan bagi senjata konvensional penembus bunker terbesar Amerika.

Namun, klaim bahwa Washington saat ini secara konkret sedang mempertimbangkan penggunaan satu atau dua B61-11 terhadap fasilitas Iran, berdasarkan sumber anonim Israel sebagaimana disebutkan dalam bahan awal, belum dapat dikonfirmasi secara memadai dari sumber kredibel yang tersedia. Karena konsekuensi penggunaan senjata nuklir akan sangat besar, informasi tersebut perlu diperlakukan sebagai klaim yang belum terverifikasi, bukan keputusan atau rencana resmi pemerintah Amerika Serikat.

Tekanan Ekonomi Iran Semakin Berat

Sementara tekanan militer dari luar terus meningkat, pemerintah Iran juga menghadapi persoalan ekonomi yang semakin serius di dalam negeri.

Pada 18 Agustus 2026, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyoroti persoalan pasokan bensin dan mendesak pemerintah mencari solusi yang efektif terhadap tekanan sektor energi. Persoalan bahan bakar menjadi semakin sensitif karena terjadi ketika Iran juga menghadapi sanksi ekonomi, gangguan perdagangan, tekanan terhadap ekspor energi, serta biaya perang yang semakin besar.

Dengan demikian, berakhirnya memorandum 60 hari ternyata tidak membawa Amerika Serikat dan Iran mendekati perdamaian. Sebaliknya, 18 Agustus 2026 justru menjadi titik baru peningkatan ketegangan: Trump menutup pintu pembicaraan, Washington dan Teheran saling bertentangan mengenai status Selat Hormuz, kapal kembali menjadi sasaran serangan, UEA menghentikan hubungan perdagangan dan keuangan dengan Iran setelah insiden rudal, sementara Pentagon mulai mempertimbangkan kembali bentuk kehadiran militernya di Teluk.

Jika ketegangan ini terus meningkat tanpa jalur diplomasi yang efektif, pertarungan berikutnya mungkin tidak lagi hanya menentukan siapa yang mengendalikan Selat Hormuz. Krisis tersebut berpotensi mengubah arsitektur keamanan Teluk Persia, pola penempatan militer Amerika Serikat, dan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah untuk tahun-tahun mendatang. (***)

Gila! Hampir 800 Drone Ukraina Serbu Rusia dalam Semalam, 600 Lebih Mengarah ke Moskow!

EtIndonesia.com  Perang Rusia-Ukraina kembali memasuki fase serangan udara yang semakin intensif. Pada Selasa, 18 Agustus 2026, Ukraina melancarkan salah satu serangan drone terbesar terhadap wilayah Rusia sejak perang skala penuh dimulai pada Februari 2022. Hampir 800 pesawat nirawak dilaporkan dikerahkan dalam satu malam, dengan sebagian besar diarahkan ke Moskow dan wilayah sekitarnya.

Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan 791 drone Ukraina. Lebih dari 600 drone disebut diarahkan ke kawasan Moskow, menjadikan serangan tersebut sebagai salah satu gelombang serangan udara paling masif yang pernah dihadapi ibu kota Rusia selama perang berlangsung.

Besarnya jumlah drone menunjukkan perubahan penting dalam pola operasi Ukraina. Kyiv kini semakin mengandalkan serangan dalam jumlah besar untuk menekan pertahanan udara Rusia sekaligus membawa dampak perang semakin jauh dari garis depan.

Serangan pada 18 Agustus juga bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Hanya beberapa hari sebelumnya, Ukraina telah melancarkan serangan udara besar lainnya ke berbagai wilayah Rusia. Intensitas serangan yang berlangsung berdekatan memperlihatkan kemampuan Kyiv untuk mengerahkan drone dalam jumlah sangat besar secara berulang.

Di Oblast Moskow, kebakaran kembali dilaporkan terjadi di sebuah kawasan industri. Sebuah gudang yang berkaitan dengan salah satu perusahaan perdagangan daring terbesar Rusia dilaporkan terbakar. Insiden semacam ini menjadi perhatian karena fasilitas logistik dan industri Rusia semakin sering berada dalam jangkauan operasi drone Ukraina.

Namun, eskalasi tidak hanya terjadi di wilayah Rusia.

Pada hari yang sama, 18 Agustus 2026, serangan Rusia menghantam Pechenihy di Oblast Kharkiv, Ukraina timur laut. Sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas dan 17 lainnya terluka, sementara sejumlah rumah dan bangunan mengalami kerusakan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam serangan tersebut sebagai serangan brutal. Ia menegaskan bahwa Ukraina tidak akan membiarkannya tanpa respons dan berjanji negaranya akan memberikan balasan.

Dua rangkaian serangan tersebut memperlihatkan karakter perang yang semakin didominasi pertarungan jarak jauh. Rusia terus menggunakan rudal dan drone untuk menghantam wilayah Ukraina, sementara Kyiv secara bertahap meningkatkan kemampuan untuk menyerang sasaran ratusan kilometer di dalam wilayah Rusia.

Drone Inggris Mulai Menjadi Sorotan

Di tengah serangan besar tersebut, perhatian juga tertuju pada perubahan sumber persenjataan drone Ukraina.

Laporan media Inggris mengungkap bahwa drone buatan Inggris telah digunakan Ukraina dalam operasi serangan jarak jauh terhadap sasaran militer, industri, dan ekonomi di wilayah Rusia. Salah satu sistem yang menjadi sorotan adalah drone bernama Nyan, sebuah one-way effector atau wahana nirawak sekali jalan yang dikembangkan oleh perusahaan Inggris Callen-Lenz, yang berada di bawah BAE Systems.

Keberadaan Nyan sebenarnya telah diketahui sebelumnya. Pada 18 Juni 2026, Callen-Lenz mengungkapkan bahwa ribuan unit sistem tersebut telah dikirim dan telah digunakan secara operasional oleh pelanggan yang identitasnya tidak diumumkan. Sejumlah publikasi pertahanan menduga pelanggan tersebut adalah Ukraina.

Nyan merupakan drone serang yang menggunakan mesin microturbine dan diluncurkan melalui sistem katapel pneumatik. Sistem tersebut dirancang sebagai wahana sekali jalan, sehingga dalam operasi tertentu fungsinya menyerupai rudal jelajah berbiaya lebih rendah.

Konsep seperti ini memberikan keuntungan strategis bagi Ukraina. Dibandingkan mengandalkan rudal jelajah yang jauh lebih mahal dan jumlahnya terbatas, drone serang dapat diproduksi serta dikerahkan dalam jumlah lebih besar.

Jika puluhan atau bahkan ratusan drone diluncurkan hampir bersamaan dari berbagai arah, pertahanan udara Rusia dipaksa mendeteksi, melacak, menentukan prioritas, dan menembak jatuh banyak sasaran dalam waktu singkat. Bahkan apabila sebagian besar berhasil dihancurkan, sejumlah kecil drone yang lolos masih berpotensi mencapai sasaran.

Karena itulah penggunaan drone jarak jauh semakin menjadi salah satu unsur penting strategi Ukraina untuk menyerang fasilitas militer, kilang minyak, pusat logistik, serta infrastruktur lain jauh di belakang garis pertempuran.

Inggris Siapkan 150.000 Drone

Dukungan London terhadap kemampuan nirawak Ukraina juga terus meningkat.

Pada 18 Juni 2026, Pemerintah Inggris secara resmi mengumumkan paket senilai sekitar 752 juta pound sterling, yang antara lain mencakup penyediaan 150.000 drone hingga akhir 2026, selain lebih dari 350 rudal pertahanan udara dan sistem radar.

Sebagian besar drone tersebut memang merupakan sistem yang dibutuhkan untuk operasi medan tempur dan tidak semuanya merupakan drone serang jarak jauh buatan Inggris. Namun, masuknya sistem serangan jarak jauh ke dalam operasi Ukraina memiliki konsekuensi politik yang jauh lebih besar karena membuka kemungkinan meningkatnya serangan terhadap sasaran jauh di wilayah Rusia.

Moskow pun bereaksi keras.

Pada 18 Agustus 2026, Kedutaan Besar Rusia di London memperingatkan bahwa Inggris akan menghadapi “konsekuensi” atas keterlibatannya dalam memasok kemampuan yang kemudian digunakan Ukraina untuk melakukan serangan jauh ke wilayah Rusia. Rusia menuduh London sengaja mendorong eskalasi konflik.

Pemerintah Inggris menolak mundur.

Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan London tetap berdiri bersama Ukraina dan berkomitmen menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan Kyiv untuk mempertahankan negaranya. Namun, kementerian tersebut tidak secara resmi mengonfirmasi rincian mengenai penggunaan drone Inggris dalam serangan tertentu ke Rusia.

Perkembangan pada 18 Agustus 2026 dengan demikian menandai babak penting dalam perang drone Rusia-Ukraina. Hampir 800 drone yang dikerahkan dalam satu malam bukan sekadar menunjukkan besarnya skala serangan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana teknologi nirawak semakin menggantikan sebagian fungsi senjata jarak jauh konvensional.

Dan dengan semakin banyaknya teknologi serta kapasitas produksi Barat yang masuk ke dalam ekosistem drone Ukraina, pertempuran udara jarak jauh tampaknya akan semakin sulit dipisahkan dari persaingan industri pertahanan antara Rusia dan negara-negara pendukung Kyiv.

Bagi Moskow, ancamannya kini bukan hanya apa yang terjadi di garis depan. Perang semakin mampu menjangkau pusat industri, fasilitas energi, jaringan logistik, bahkan kawasan di sekitar ibu kota Rusia—sementara peringatan keras Moskow kepada London menunjukkan bahwa dampak politik dari perang drone tersebut kini juga semakin meluas ke hubungan langsung Rusia dengan negara-negara NATO. (***)

Rusia Diguncang Serangan Besar! Ratusan Drone Terbang ke Moskow, Gudang Raksasa Dilalap Api

EtIndonesia.com  Perang Rusia-Ukraina kembali menunjukkan perubahan besar pada pertengahan Agustus 2026. Pertempuran kini tidak lagi hanya berlangsung di parit dan kota-kota dekat garis depan. Serangan jarak jauh menggunakan drone semakin dalam menembus wilayah Rusia, sementara meningkatnya insiden di sekitar perbatasan Eropa memperlihatkan bahwa dampak konflik semakin sulit dibatasi secara geografis.

Salah satu perkembangan paling mencolok terjadi pada Minggu, 16 Agustus 2026, ketika Ukraina melancarkan gelombang serangan drone berskala sangat besar ke sejumlah wilayah Rusia. Kawasan Moskow menjadi salah satu sasaran utama.

Di tengah serangan tersebut, kebakaran hebat melanda sebuah pusat logistik yang dikaitkan dengan Wildberries, salah satu perusahaan e-commerce terbesar Rusia. Kompleks itu bukan gudang kecil. Berdasarkan materi sumber, fasilitas tersebut memiliki luas sekitar 250.000 meter persegi dan melibatkan sekitar 13.000 pekerja.

Setelah serangan, api besar dilaporkan melahap bagian fasilitas, sementara asap hitam membubung tinggi dan dapat terlihat dari kejauhan.

Peristiwa ini menjadi penting karena memperlihatkan pergeseran sasaran dalam kampanye serangan jarak jauh Ukraina. Selain instalasi militer, kilang minyak dan industri pertahanan, jaringan pergudangan dan distribusi yang menopang aktivitas ekonomi Rusia kini semakin berada dalam jangkauan serangan.

Wildberries sendiri sebelumnya telah beberapa kali dikaitkan dengan serangan drone. Materi sumber menyebut fasilitas perusahaan itu menjadi sasaran pada 20 Juli dan 28 Juli 2026, meskipun tingkat kerusakan dalam serangan-serangan tersebut disebut lebih terbatas.

Gelombang 16 Agustus berbeda karena skala serangannya jauh lebih besar.

Menurut materi sumber, salah satu alasan jaringan logistik Wildberries dianggap memiliki nilai strategis adalah dugaan bahwa platform tersebut turut memperdagangkan barang-barang dual-use, yakni produk yang secara sipil dapat digunakan masyarakat tetapi dalam kondisi tertentu juga mempunyai kegunaan militer.

Dengan demikian, serangan terhadap pusat distribusi tidak semata-mata dipandang sebagai upaya menghancurkan barang konsumsi. Dalam perang modern, sebuah gudang besar merupakan simpul yang menghubungkan produsen, transportasi, pemasok, perusahaan dan konsumen. Ketika simpul sebesar itu terganggu, efeknya dapat merambat ke berbagai bagian perekonomian.

Tekanan tersebut bahkan mulai menjadi perhatian di tingkat politik Rusia.

Pada 12 Agustus 2026, persoalan kerugian yang berkaitan dengan serangan terhadap fasilitas Wildberries dibahas dalam pertemuan di Duma Negara Rusia. Berdasarkan perkiraan industri yang disebut dalam materi sumber, potensi kerugian perusahaan dan para penjual yang menggunakan platform tersebut dapat mencapai ratusan miliar rubel.

Namun, dampak strategis serangan drone tidak hanya dihitung dari nilai bangunan atau barang yang terbakar.

Serangan semacam ini juga menciptakan dilema besar bagi sistem pertahanan udara Rusia. Sebagai negara dengan wilayah sangat luas, Rusia harus melindungi ribuan sasaran potensial secara bersamaan—mulai dari pangkalan udara, depot amunisi, pabrik pertahanan, kilang minyak dan pembangkit listrik hingga pusat logistik dan kota-kota besar.

Setiap sistem pertahanan udara yang ditempatkan untuk menjaga sebuah fasilitas ekonomi berarti sumber daya tersebut tidak dapat ditempatkan di lokasi lain.

Di sinilah drone murah mulai mengubah perhitungan ekonomi peperangan.

Sebuah drone dapat memiliki biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan rudal pertahanan udara yang digunakan untuk menghancurkannya. Ketika puluhan atau bahkan ratusan drone diterbangkan secara bersamaan, pihak bertahan menghadapi pilihan sulit: menggunakan persediaan rudal mahal dalam jumlah besar atau menerima risiko sebagian drone berhasil menembus pertahanan.

Efek lainnya bersifat psikologis.

Selama bertahun-tahun, konsekuensi fisik terbesar perang dirasakan oleh masyarakat Ukraina serta wilayah Rusia yang berada dekat perbatasan. Moskow, yang terletak ratusan kilometer dari Ukraina, relatif jauh dari medan pertempuran.

Perkembangan teknologi drone Ukraina perlahan mengubah kondisi tersebut.

Ketika pusat distribusi, fasilitas industri, kilang minyak dan infrastruktur transportasi di sekitar ibu kota mulai menjadi sasaran, perang semakin terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Rusia.

Pada saat yang sama, tekanan perang juga mulai menjadi bagian dari perdebatan mengenai kemampuan ekonomi Rusia bertahan dalam konflik berkepanjangan.

Salah satu tokoh yang menjadi sorotan adalah ekonom Rusia Andrei Klepach, mantan wakil menteri pembangunan ekonomi yang kemudian menjadi kepala ekonom VEB.RF.

Dalam pidato pada Mei 2026, Klepach memperingatkan mengenai risiko Rusia tertinggal dalam kompetisi ekonomi dan teknologi. Ia juga mempertanyakan anggapan bahwa Ukraina secara otomatis akan runtuh apabila perang berlangsung cukup lama.

Menurut pandangannya, bahaya bagi Rusia tidak harus berbentuk keruntuhan ekonomi secara mendadak. Risiko yang lebih serius justru dapat muncul secara perlahan melalui melemahnya produktivitas, tertinggalnya teknologi, meningkatnya ketergantungan ekonomi dan terus terkurasnya sumber daya untuk membiayai perang.

Pada 17 Agustus 2026, Klepach dilaporkan meninggalkan posisinya sebagai kepala ekonom VEB. Namun, tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa kepergiannya secara langsung disebabkan oleh kritik yang pernah disampaikannya.

Di tengah tekanan tersebut, Ukraina juga terus mempercepat pengembangan senjata buatan dalam negeri.

Materi sumber menyebut sebuah bom udara berpemandu yang dikenal sebagai Vyrivniuvach atau “Balancer”, dengan hulu ledak sekitar 250 kilogram dan jangkauan yang diklaim dapat mencapai sekitar 130 kilometer. Ukraina juga disebut sedang mengembangkan sejumlah senjata udara-ke-darat berpemandu lainnya.

Tujuannya jelas: mengurangi ketergantungan terhadap pasokan senjata Barat sekaligus membangun kemampuan produksi sendiri dalam skala besar.

Perkembangan yang lebih mengkhawatirkan kemudian muncul di luar wilayah Rusia dan Ukraina.

Pada periode yang sama, muncul laporan mengenai aktivitas drone di sekitar wilayah udara negara-negara tetangga. Rumania, sebagai anggota NATO yang berbatasan dengan Ukraina, berada dalam posisi sangat sensitif karena serangan Rusia terhadap kawasan Ukraina di sekitar Sungai Danube berlangsung tidak jauh dari wilayahnya.

Semakin banyak drone dan rudal diterbangkan, semakin besar pula risiko salah satu wahana keluar jalur, memasuki wilayah negara tetangga, atau memicu respons militer.

Moldova menghadapi risiko serupa. Negara yang bukan anggota NATO tersebut berbatasan langsung dengan Ukraina dan berulang kali menghadapi kekhawatiran mengenai limpahan perang ke wilayahnya.

Situasi ini memperlihatkan bahwa konsekuensi konflik semakin sulit dibatasi hanya pada Rusia dan Ukraina.

Sementara itu, pada 18 Agustus 2026, kekerasan kembali menunjukkan wajah sebaliknya. Ketika Rusia menghadapi serangan drone Ukraina dalam skala besar, serangan Rusia terhadap Ukraina kembali menimbulkan korban sipil. Sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian serangan Rusia, yang kemudian mendorong Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa negaranya akan memberikan respons.

Artinya, meningkatnya kemampuan Ukraina menyerang jauh ke wilayah Rusia sama sekali tidak berarti ancaman terhadap kota dan permukiman Ukraina telah berkurang.

Justru sebaliknya, kedua negara semakin meningkatkan kemampuan untuk menyerang jauh di belakang wilayah lawan.

Perang Rusia-Ukraina kini memasuki sebuah perlombaan yang tidak hanya ditentukan oleh siapa memiliki lebih banyak tank, pesawat tempur atau rudal.

Pertarungan juga ditentukan oleh siapa yang mampu memproduksi drone paling cepat dan murah, siapa yang mempunyai jaringan logistik paling tahan terhadap serangan, siapa yang dapat mempertahankan persediaan rudal pertahanan udara, serta siapa yang memiliki kekuatan ekonomi untuk menanggung biaya perang lebih lama.

Dalam konteks itulah kebakaran pusat logistik Wildberries mempunyai arti lebih luas.

Sebuah pusat e-commerce yang dalam kehidupan normal identik dengan paket, perdagangan dan aktivitas konsumen kini dapat berubah menjadi bagian dari perhitungan strategis sebuah perang.

Dan ketika drone mulai mendekati atau memasuki wilayah negara-negara tetangga, muncul bahaya yang jauh lebih besar: risiko perang Rusia-Ukraina berkembang menjadi krisis keamanan regional yang melibatkan negara lain.

Rangkaian perkembangan 16 hingga 18 Agustus 2026 pada akhirnya memberikan gambaran mengenai wajah baru peperangan modern. Drone yang relatif murah dapat diterbangkan ratusan hingga ribuan kilometer, infrastruktur ekonomi dapat berubah menjadi sasaran strategis, dan pertahanan udara bernilai jutaan dolar dipaksa menghadapi gelombang senjata tanpa awak yang terus bertambah.

Perang yang dahulu terkonsentrasi di wilayah Ukraina kini semakin meninggalkan jejak jauh di dalam Rusia—dan pada saat bersamaan, semakin mendekati perbatasan negara-negara Eropa lainnya. (***)

Perang Pengurasan Berbalik Menghantam Rusia? Peringatan Mengejutkan Datang dari Dalam Moskow!

EtIndonesia.com — Gelombang serangan jarak jauh Ukraina terhadap berbagai sasaran Rusia kini tidak hanya menimbulkan persoalan militer. Memasuki Agustus 2026, perang yang telah berlangsung bertahun-tahun itu semakin memunculkan pertanyaan mengenai seberapa lama Rusia mampu mempertahankan tekanan perang tanpa mengalami kemunduran ekonomi dan teknologi yang semakin dalam.

Peringatan mengenai risiko tersebut bahkan datang dari dalam lingkaran ekonomi negara Rusia sendiri. Salah satu suara yang paling mendapat perhatian adalah Andrei Klepach, ekonom senior yang pernah menjabat sebagai wakil menteri pembangunan ekonomi Rusia dan sejak 2014 menjadi kepala ekonom VEB.RF, lembaga pembangunan milik negara yang memainkan peran penting dalam pembiayaan proyek-proyek strategis Rusia.

Pernyataan Klepach menjadi sorotan setelah isi pidatonya dalam sebuah forum di Moskow pada Mei 2026 kembali beredar luas pada Agustus.

Dalam pernyataan tersebut, Klepach memberikan gambaran yang jauh lebih suram dibandingkan narasi mengenai ketahanan ekonomi Rusia yang selama ini kerap disampaikan pemerintah.

Ia memperingatkan bahwa Rusia sedang menghadapi persoalan serius dalam persaingan teknologi dan ekonomi global. Menurut penilaiannya, Rusia bukan hanya tertinggal dari kekuatan ekonomi besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, tetapi dalam sejumlah aspek bahkan menghadapi ketertinggalan dibandingkan Ukraina yang memperoleh dukungan teknologi dan ekonomi dari negara-negara Barat.

Pernyataan itu penting karena Klepach bukan figur oposisi yang berdiri di luar sistem. Selama bertahun-tahun ia terlibat langsung dalam struktur kebijakan dan ekonomi Rusia. Karena itulah, kritik yang datang darinya dipandang memiliki bobot berbeda.

Mempertanyakan Strategi Perang Jangka Panjang

Salah satu bagian paling penting dari peringatan Klepach adalah penilaiannya terhadap konsep “perang pengurasan” atau war of attrition.

Strategi semacam ini pada dasarnya mengandalkan kemampuan sebuah negara bertahan lebih lama daripada lawannya dengan terus mengerahkan manusia, uang, industri, energi dan persenjataan hingga pihak lawan tidak lagi sanggup mempertahankan perang.

Namun Klepach mempertanyakan asumsi bahwa Ukraina pada akhirnya akan runtuh hanya karena konflik berlangsung semakin lama.

Masalahnya, Ukraina tidak menjalankan perang tersebut hanya dengan sumber daya domestiknya. Kyiv memperoleh bantuan finansial, persenjataan, teknologi, intelijen dan dukungan industri dari sejumlah negara Barat.

Sementara itu, Rusia harus menghadapi kombinasi pengeluaran militer yang tinggi, tekanan sanksi, kebutuhan investasi domestik serta kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan Ukraina terhadap fasilitas ekonomi dan infrastruktur Rusia.

Menurut Klepach, kondisi semacam itu berisiko memperlebar ketertinggalan teknologi Rusia dan pada akhirnya dapat menciptakan tekanan sosial yang lebih besar. Reuters melaporkan bahwa ia juga menyoroti meningkatnya ketergantungan Rusia terhadap Tiongkok serta persoalan efisiensi dalam pengelolaan ekonomi.

Artinya, ancaman terbesar terhadap Rusia belum tentu berupa keruntuhan ekonomi secara tiba-tiba.

Risiko yang lebih realistis justru dapat muncul secara perlahan: produktivitas yang melemah, investasi sipil yang tertekan, perkembangan teknologi yang tertinggal, meningkatnya ketergantungan terhadap mitra luar negeri, hingga semakin besarnya bagian sumber daya nasional yang harus dialihkan untuk mempertahankan perang.

Klepach Diberhentikan dari VEB.RF

Perkembangan berikutnya terjadi pada 17 Agustus 2026.

Reuters melaporkan bahwa Klepach telah diberhentikan dari posisinya sebagai kepala ekonom VEB.RF. Lembaga tersebut mengonfirmasi kepergiannya, tetapi tidak menjelaskan secara resmi alasan pemberhentian tersebut.

Karena itu, tidak dapat dipastikan sebagai fakta bahwa Klepach kehilangan jabatannya secara langsung akibat pernyataan kritisnya mengenai perang dan perekonomian Rusia.

Namun, waktu pemberhentian tersebut membuat pidatonya kembali mendapatkan perhatian luas.

Situasi itu semakin menarik karena terjadi ketika Ukraina terus memperluas penggunaan drone untuk menyerang berbagai sasaran Rusia, termasuk pertahanan udara, fasilitas militer dan kapal-kapal yang oleh Kyiv disebut sebagai bagian dari “armada bayangan” Rusia.

Drone Murah Mengubah Ekonomi Peperangan

Salah satu contoh mencolok muncul pada 8 Agustus 2026, ketika Pasukan Sistem Nirawak Ukraina merilis rekaman serangan terhadap kapal yang disebut berkaitan dengan armada bayangan Rusia di kawasan Laut Hitam.

Menurut laporan Ukraina, sebuah drone mereka menjadi sasaran tiga rudal yang ditembakkan sistem pertahanan udara Pantsir-S1, tetapi drone tersebut tetap berhasil mencapai kapal yang ditargetkan. Klaim dan rekaman dari medan perang semacam ini tetap harus diperlakukan dengan hati-hati karena tidak seluruh detail kerusakan dapat diverifikasi secara independen.

Pantsir-S1 sendiri merupakan sistem pertahanan udara jarak dekat Rusia yang dirancang untuk menghadapi pesawat, helikopter, rudal jelajah dan drone. Sistem tersebut menggabungkan rudal permukaan-ke-udara dengan meriam otomatis 30 milimeter.

Namun, perang Ukraina menunjukkan persoalan yang semakin besar dalam penggunaan sistem pertahanan udara mahal untuk menghadapi drone yang jauh lebih murah.

Inilah yang disebut sebagai ketimpangan biaya serangan dan pertahanan.

Sebuah drone serang sederhana dapat diproduksi dengan biaya yang relatif rendah dibandingkan sebuah rudal pertahanan udara modern. Ketika hanya satu drone datang, persoalannya mungkin masih dapat dikendalikan. Tetapi ketika puluhan bahkan ratusan drone dikirim dalam gelombang serangan, perhitungannya berubah drastis.

Pihak bertahan menghadapi dilema.

Jika setiap drone ditembak menggunakan rudal mahal, persediaan rudal pertahanan udara dapat terkuras dengan cepat. Namun apabila pertahanan memilih menghemat rudal, sebagian drone berpotensi lolos dan menghantam sasaran bernilai jauh lebih tinggi.

Pada 9 Agustus 2026, Ukraina kembali menyatakan pasukannya menyerang sebuah tanker minyak dan dua kapal kargo yang disebut termasuk dalam armada bayangan Rusia. Dalam operasi yang sama, Ukraina juga mengklaim menyerang sejumlah sistem pertahanan udara Rusia, termasuk S-400, Pantsir-S1 dan Tor serta beberapa radar di Krasnodar Krai dan Rostov Oblast.

Perang Kini Juga Menjadi Pertarungan Ekonomi

Perkembangan tersebut memperlihatkan hubungan langsung antara medan perang dan persoalan yang sebelumnya diperingatkan Klepach.

Pertarungan Rusia-Ukraina bukan lagi sekadar mengenai berapa banyak tank, rudal atau tentara yang tersedia. Konflik tersebut semakin berubah menjadi perlombaan mengenai siapa yang mampu menghasilkan kemampuan tempur dalam jumlah terbesar dengan biaya paling efisien.

Drone murah dapat memaksa lawan mengaktifkan radar, mengerahkan sistem peperangan elektronik, menembakkan rudal mahal dan mempertahankan jaringan pertahanan udara selama berjam-jam.

Karena itulah Rusia dan Ukraina sama-sama meningkatkan produksi drone dalam skala besar.

Dalam perang berkepanjangan, kemampuan ekonomi pada akhirnya menjadi bagian dari kemampuan militer itu sendiri.

Peringatan Klepach dengan demikian menyentuh persoalan yang lebih luas. Rusia mungkin masih memiliki sumber daya besar untuk melanjutkan perang, tetapi pertanyaan strategisnya bukan hanya apakah negara itu mampu bertahan.

Pertanyaan yang semakin penting adalah berapa besar harga ekonomi, teknologi dan sosial yang harus dibayar apabila perang pengurasan tersebut terus berlangsung selama bertahun-tahun—sementara teknologi murah seperti drone terus mengubah perhitungan biaya peperangan modern.  (***)

17 Unit Kerja, Satu Semangat: BRI Region 12 Surabaya Gelar Lomba Agustusan di Brilian Stadium

SURABAYA — Semangat kemerdekaan tak hanya dirayakan dengan upacara bendera. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui BRI Region 12 Surabaya membuktikannya dengan menggelar Semarak Kemerdekaan, rangkaian lomba Agustusan yang mempertemukan Insan BRILian dari berbagai unit kerja di Brilian Stadium, Surabaya, Senin (17/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung pada pagi hari tersebut menjadi momentum bagi Insan BRILian untuk mempererat kebersamaan sekaligus membangun kekompakan melalui berbagai perlombaan yang mengusung semangat sportivitas, kreativitas, dan kolaborasi.

Lomba Kreatif, dari Pindah Sedotan hingga Merdeka Cooking

Beragam perlombaan dihadirkan dalam Semarak Kemerdekaan, mulai dari:

  • Pindah Sedotan
  • Daster Balon (salah satu lomba yang menarik perhatian)
  • Tennis Ball Estafet
  • Merdeka Cooking Indonesia (khusus jajaran manajemen)
  • Corong Air
  • Estafet Balon
  • Foot Water Estafet

Setiap perlombaan menghadirkan tantangan tersendiri yang mendorong peserta untuk bekerja sama dan menunjukkan kekompakan dalam suasana yang penuh keceriaan.

Manajemen Turun Tangan di Dapur

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah Merdeka Cooking Indonesia, yang secara khusus diikuti oleh jajaran manajemen. Peserta dalam perlombaan ini berasal dari unsur Regional Head, Area Head, dan Regional Assurance Head. Keterlibatan jajaran manajemen turut menciptakan suasana kebersamaan yang lebih hangat bersama para Insan BRILian.

12 Kantor Cabang dan Unit Kerja Bergabung

Semarak Kemerdekaan melibatkan peserta dari berbagai unit kerja BRI Region 12 Surabaya, di antaranya:

  • KC Surabaya Kaliasin, KC Rajawali, KC Pahlawan
  • KC Kapas Krampung, KC Kusuma Bangsa, KC Jemursari
  • KC Tanjung Perak, KC Kertajaya, KC Diponegoro
  • KC Manukan, KC Mulyosari, KC HR Muhammad
  • KC Waru, RO Surabaya, RAO Surabaya
  • Campus Surabaya, serta Perusahaan Anak

Keterlibatan lintas unit tersebut menjadi bagian penting dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Para peserta tidak hanya berkompetisi untuk meraih kemenangan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dan memperkuat hubungan antarrekan kerja dari berbagai unit.

Lebih dari Sekadar Lomba

Rangkaian kegiatan berlangsung secara terstruktur, diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan berbagai perlombaan, kemudian ditutup dengan awarding pemenang dan foto bersama. Antusiasme peserta terlihat dari semangat dalam mengikuti setiap perlombaan hingga rangkaian kegiatan berakhir.

Reza Syahrizal Setiaputra, Regional Chief Executive Officer (RCEO) BRI Region 12 Surabaya, mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi bentuk perayaan kemerdekaan yang melibatkan berbagai jenjang dan unit kerja dalam satu momentum kebersamaan.

“Semangat tersebut sejalan dengan pesan dalam amanat peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang mengajak seluruh Insan BRILian untuk terus berkarya dengan integritas serta menjadikan setiap langkah dan kontribusi sebagai bagian dari perjuangan mengisi kemerdekaan,” paparnya.

Semangat Kebersamaan untuk Indonesia

Melalui Semarak Kemerdekaan, BRI Region 12 Surabaya terus memperkuat semangat kebersamaan dan kolaborasi di antara seluruh Insan BRILian. Momentum ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk terus berkarya bagi BRI sebagai bentuk bakti untuk negeri serta memperkuat BRI sebagai Satu Bank untuk Semua, melayani masyarakat dari desa hingga kota dan menggerakkan ekonomi rakyat menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Update Penanganan Gempa M7,7 di NTT- Korban Meninggal Dunia 71 Jiwa, 398 Ton Bantuan Telah Terdistribusi

ETIndonesia.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan perkembangan penanganan darurat gempa M7,7 yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur, per Rabu (19/8) pukul 16.00 WIB. Jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi sebanyak 71 jiwa. 

“Penambahan satu korban meninggal berada di wilayah Kabupaten Nagekeo,” ujar Berton SP Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Terkait penyaluran logistik, sampai dengan Selasa (18/8) pukul 18.00 WIB distribusi bantuan terus dilakukan melalui jalur udara dan laut. Total bantuan yang telah terkirim pada periode 15-18 Agustus sebanyak 398 Ton.

Jalur darat masih menjadi opsi utama penyaluran bantuan dari titik logistik menuju lokasi pengungsian. Penyaluran dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi geografis dan akses jalan menuju titik pengungsian.

Kondisi rumah yang terdampak gempa M 7,7 Flores di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Rabu (19/8).

Sementara itu, pemerintah juga mengoptimalkan transportasi laut untuk menjangkau wilayah lebih luas. Pada Selasa (18/8), KRI Bung Hatta diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok, Kabupaten Manggarai, dengan membawa paket bantuan BNPB berupa sembako, tenda keluarga dan tenda pengungsi, serta bantuan dari berbagai unsur masyarakat.

Penanganan pengungsi masih menjadi fokus utama karena sebagian masyarakat memilih untuk tidak kembali ke rumah akibat kondisi bangunan yang rusak dan kekhawatiran terhadap gempa susulan.

Berdasarkan pemutakhiran data per Rabu (19/8) pukul 16.00 WIB, total pengungsi sebanyak 59.647 dengan jumlah pengungsi terbanyak di Kabupaten Manggarai sebanyak 20.333 jiwa.

Pemerintah daerah bersama BNPB terus memastikan pemenuhan kebutuhan dasar di lokasi pengungsian, meliputi makanan dan air bersih, tenda, matras dan selimut, layanan kesehatan, sanitasi dan kebersihan, serta pemenuhan kebutuhan kelompok rentan termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas.

Kondisi rumah yang terdampak gempa M 7,7 Flores di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Rabu (19/8).

Penanganan pengungsi tidak hanya dilakukan di satu lokasi terpusat. Mengingat masyarakat tersebar di sejumlah titik, maka pendataan dan distribusi bantuan dilakukan secara bertahap hingga menjangkau lokasi pengungsian mandiri. 

Pemerintah daerah juga didorong untuk memperkuat posko dan satuan tugas sehingga seluruh kebutuhan masyarakat dapat tercatat dan ditangani secara tepat sasaran.

Untuk mempercepat penanganan darurat, pemerintah mengerahkan sumber daya nasional termasuk TNI/Polri dan seluruh unsur pentaheliks. Pengerahan tersebut ditujukan untuk mendukung mobilisasi personel, logistik, pelayanan kesehatan, serta menjangkau wilayah yang memiliki kendala akses. Pesawat dan kapal militer digunakan sebagai bagian dari dukungan transportasi udara dan laut.

BNPB menegaskan bahwa seluruh pengerahan sumber daya tersebut diarahkan untuk satu tujuan, yaitu mempercepat pelayanan kepada masyarakat terdampak. 

Dengan segala upaya yang dilakukan oleh seluruh pihak ini, menjadi momentum bahwa pemerintah hadir dan terus bekerja untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi. BNPB memastikan dukungan akan terus diberikan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kondisi di lapangan, selain itu pemerintah akan terus mendampingi proses penanganan hingga tahap pemulihan

VASA Hotel Surabaya Rilis Mooncake 2026 “The Royal Fengxian” dengan 21 Varian Rasa

Surabaya, Agustus 2026 – Menyambut perayaan Mid-Autumn Festival 2026, VASA Hotel Surabaya meluncurkan koleksi mooncake eksklusif bertajuk “The Royal Fengxian” dengan konsep “Moonlight Lunar Gallery: Where the Moon Becomes Art.” Tahun ini, tradisi menyantap mooncake dikemas dalam pengalaman kuliner yang memadukan cita rasa, budaya, dan estetika.

Mengusung tema yang terinspirasi dari kemegahan tradisi kerajaan Tiongkok dan keindahan cahaya bulan, “The Royal Fengxian” menghadirkan mooncake bukan sekadar sajian khas festival, melainkan representasi seni kuliner yang mempertemukan warisan tradisional dengan sentuhan modern.

Suasana Galeri Seni di Lobby Hotel

Pengunjung Vasa Hotel akan disambut dekorasi bertema taman surgawi yang terinspirasi dari legenda dewi bulan Chang’e. Palet warna lembut—merah muda pastel, hijau, dan putih bersih—menciptakan nuansa keanggunan dan harmoni. Elemen oriental yang halus, kain menjuntai, serta paduan mooncake dan bunga segar menghadirkan suasana layaknya galeri seni. Dekorasi ini tersebar di area lobby dan restoran Xiang Fu Hai sepanjang Agustus hingga September 2026.

21 Varian Rasa dalam Empat Koleksi

Executive Chinese Chef VASA Hotel Surabaya, Lim Kim Loong, menyatakan bahwa koleksi tahun ini dirancang untuk memenuhi selera penikmat mooncake modern tanpa meninggalkan karakter autentik tradisi.

“Melalui The Royal Fengxian, kami ingin membawa esensi Mid-Autumn Festival ke dalam pengalaman yang lebih refined dan memorable. Mooncake kami interpretasikan sebagai bagian dari perjalanan budaya dan culinary artistry,” ujarnya.

Terdapat 21 varian rasa yang dibagi dalam empat koleksi:

1. The Timeless Baked Mooncake (rasa klasik):

  • White lotus egg yolk, Red bean egg yolk, Green tea egg yolk, Pandan egg yolk, Taro egg yolk, Custard egg yolk, Pandan mix red bean, White lotus red date goji berry

2. Signature Snowskin Mooncake:

  • White lotus, Green tea, Pandan, Taro, Naiwong custard, Red bean mix peanut butter, Pandan mix naiwong, Summer mango peach

3. Signature Snowskin Mooncake Selection:

  • Rose bean pistachio dubai chocolate, Taro red velvet, Pandan mochi salted egg, New York cheesecake

4. Snowskin Musang King Durian:

  • Varian durian Musang King yang dinantikan dengan tekstur lembut dan aroma khas.

Dengan koleksi yang menggabungkan rasa klasik dan kontemporer, VASA Hotel Surabaya menghadirkan mooncake sebagai simbol kebersamaan, penghormatan, serta doa untuk kemakmuran dan keberuntungan di tengah perayaan Mid-Autumn Festival tahun ini.

Kelebihan Kapasitas Produksi Mengancam Dunia, PKT Dikhawatirkan Memicu Krisis Ekonomi Global 

EtIndonesia.com  Ketua Council on Foreign Relations Amerika Serikat, Michael Froman, dalam tulisan terbarunya memperingatkan bahwa model ekonomi “berorientasi ekspor” yang dibangun oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 20 tahun terakhir telah menemui jalan buntu dan sangat berpotensi memicu krisis ekonomi global.

Froman menunjukkan bahwa tahun lalu surplus perdagangan PKT mencapai hampir 1,2 triliun dolar AS, sementara ekspor Tiongkok telah mencapai tiga kali lipat perdagangan barang global. Model yang sangat bergantung pada ekspor ini memang menguntungkan PKT dalam jangka pendek, tetapi secara politik dan struktural tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang serta menimbulkan resiko besar bagi perekonomian dunia.

Untuk merebut pasar, perusahaan-perusahaan Tiongkok tidak segan melakukan persaingan harga rendah, sementara pemerintah memberikan subsidi untuk memperluas kapasitas produksi.

 Akibatnya, harga barang Tiongkok sekitar 30% lebih rendah dibandingkan produk sejenis dari produsen internasional, sementara hampir 30% perusahaan industri berada dalam kondisi merugi. Ekspor murah yang ditopang subsidi dan kelebihan kapasitas ini akan memberikan tekanan besar terhadap industri dan manufaktur negara-negara lain.

“Industri manufaktur Tiongkok, karena logika model ekonomi terencana, terus memperbesar skala produksinya. Terutama karena mereka ingin memanfaatkan subsidi negara dan keunggulan dari persaingan yang tidak seimbang untuk mengalahkan produsen lain di dunia. Akibatnya, mereka membuang produk murah ke pasar global,” kata wkonom Amerika Serikat David Huang. 

Menurut Huang, harga murah tersebut bukan semata-mata karena kualitas dan efisiensi harga, melainkan karena adanya persaingan yang tidak adil dan subsidi ekspor. Kondisi tersebut secara alami akan memberikan tekanan besar terhadap perekonomian negara-negara kapitalis lain yang beroperasi berdasarkan mekanisme ekonomi normal.

Analisis menunjukkan bahwa kelebihan kapasitas produksi Tiongkok bukan sekadar akibat penurunan permintaan secara siklus, melainkan merupakan persoalan struktural ekonomi yang lebih mendalam. Akar masalahnya adalah ekspansi investasi yang didorong oleh kepentingan politik, dengan penekanan berlebihan pada produksi dan kurang memperhatikan konsumsi, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

Menghadapi ekspor murah dan kelebihan kapasitas produksi dari Tiongkok, masyarakat internasional mulai beralih pada langkah-langkah perlindungan perdagangan dan industri yang lebih komprehensif.

David Huang menjelaskan bahwa pembatasan terhadap produk ekspor murah dari Tiongkok kini tidak lagi sebatas tarif tradisional. Langkah-langkah tersebut mencakup:

  1. Anti-dumping dan anti-subsidi;
  2. Pemeriksaan negara asal barang;
  3. Investigasi aktif terhadap pengalihan atau pencucian asal produk;
  4. Pelacakan rantai pasokan;
  5. Peningkatan persyaratan produksi lokal;
  6. Pembatasan yang semakin luas di bidang investasi dan keamanan nasional.

Menurutnya, pada masa mendatang negara-negara Eropa bahkan mungkin mengikuti langkah tersebut.

Analis juga menyatakan bahwa model ekonomi PKT yang mengandalkan subsidi dan ekspor murah pada dasarnya tidak berkelanjutan. Dalam dua bulan pertama tahun ini, surplus perdagangan PKT meningkat lebih dari 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini hanya sekitar 3,1%.

Permintaan global pada dasarnya tidak mampu menyerap ekspor Tiongkok dalam jumlah besar. Surplus perdagangan tersebut dikhawatirkan dapat mengalami keruntuhan secara tiba-tiba seperti yang terjadi pada pasar properti Tiongkok, dan dampaknya juga dapat merembet ke negara-negara lain.

Para pakar memperingatkan bahwa jika PKT terus memaksakan ketergantungan pada ekspor yang disubsidi dan menolak mendorong konsumsi domestik, risiko ekonomi Tiongkok akan semakin memburuk. Pada saat yang sama, masyarakat internasional juga harus mewaspadai kemungkinan terjadinya badai ekonomi yang dipicu oleh kebijakan PKT.

“Perkembangan ekonomi Tiongkok dalam banyak hal dipengaruhi oleh ekonomi politik Marxisme dan model pembangunan Uni Soviet. Konsekuensi dari model ini adalah investasi tinggi yang menghasilkan kelebihan kapasitas produksi. Ini disebabkan oleh kelembaman sistem dan tidak mampu melakukan koreksi secara mandiri, sehingga pada akhirnya tidak dapat diselamatkan,” ujar Xu Zhen, seorang veteran dari kalangan modal Tiongkok. 

Reporter New Tang Dynasty Chen Yue dan Chang Chun melaporkan.

Jenazah Zhu Rongji Dikremasi di Beijing, Hu Jintao “Muncul”

Pada Selasa (18 Agustus), upacara perpisahan untuk mantan Perdana Menteri Partai komunis TIongkok (PKT) Zhu Rongji digelar di Beijing. Pada hari yang sama, mantan Sekretaris Jenderal PKT Hu Jintao tidak menghadiri upacara tersebut dan hanya mengirimkan karangan bunga sebagai tanda belasungkawa.

EtIndonesia.com Mantan Perdana Menteri PKT Zhu Rongji meninggal dunia di Beijing pada 12 Agustus dalam usia 98 tahun. Pada 18 Agustus, jenazahnya dikremasi di Pemakaman Babaoshan, Beijing. Kantor Berita Pusat Taiwan (CNA) melaporkan bahwa suasana di sekitar Babaoshan hari ini sangat berbeda dari biasanya. Polisi, polisi bersenjata, petugas keamanan berpakaian sipil, serta kendaraan polisi ditempatkan secara tersebar dan pengamanan di lokasi sangat ketat.

Media resmi PKT, Xinhua, melaporkan bahwa sekitar pukul 09.30 pagi, Xi Jinping, Li Qiang, Zhao Leji, Wang Huning, Cai Qi, Ding Xuexiang, Li Xi, dan Han Zheng hadir untuk memberikan penghormatan terakhir serta menyampaikan belasungkawa kepada keluarga. Hu Jintao mengirimkan karangan bunga untuk menyampaikan belasungkawa kepada Zhu Rongji.

Laporan tersebut menyatakan bahwa selama Zhu Rongji sakit parah dan setelah meninggal dunia, tujuh anggota Komite Tetap Politbiro, Han Zheng, Hu Jintao, dan lainnya telah mengunjungi Zhu di rumah sakit atau menyampaikan belasungkawa serta simpati kepada keluarganya melalui berbagai cara.

Kemunculan publik terakhir Hu Jintao adalah pada Desember 2022. Pengamat politik independen Cai Shenkun baru-baru ini menulis di platform X bahwa mantan Perdana Menteri PKT Li Keqiang meninggal secara mendadak di Shanghai kurang dari setahun setelah Kongres Nasional PKT ke-20 berakhir. 

Dalam sidang penutupan Kongres ke-20, ketika Hu Jintao dibawa keluar dari ruang sidang oleh staf, ia sempat menepuk ringan bahu Li Keqiang. Gerakan kecil tersebut kemudian memicu berbagai interpretasi luas dari opini publik di dalam maupun luar negeri. Setelah itu, dalam sejumlah acara politik penting, Xi Jinping tidak ingin Hu Jintao tampil di depan umum atau mungkin khawatir Hu Jintao muncul secara terbuka.

Data publik menunjukkan bahwa pada awal kariernya Zhu Rongji bekerja di Komisi Perencanaan Negara dan Komisi Ekonomi Negara PKT. Sejak 1987, Zhu Rongji menjabat sebagai Wali Kota Shanghai dan Sekretaris Partai Shanghai. 

Sejak 1991, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Dewan Negara sekaligus Kepala dan Sekretaris Partai Kantor Produksi Dewan Negara, serta posisi lainnya. 

Sejak Oktober 1992, ia berturut-turut menjabat sebagai anggota dan anggota Komite Tetap Politbiro Pusat, Wakil Perdana Menteri, Gubernur Bank Sentral, Perdana Menteri Dewan Negara, serta merangkap sebagai Kepala Komisi Reformasi Ekonomi Negara. Pada 2003, Zhu Rongji mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri Dewan Negara PKT.

Setelah Zhu Rongji meninggal, Epoch Times memperoleh informasi eksklusif bahwa seorang sumber dari dalam sistem PKT yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa di sekitar Zhu Rongji terdapat petugas keamanan, sekretaris, dokter, dan perawat yang ditugaskan oleh Cai Qi, Kepala Kantor Umum Komite Sentral PKT. Pada masa tuanya, setiap gerak-gerik Zhu diawasi, dan perawatan medis pada tahap akhir juga harus mendapat persetujuan Cai Qi.

Pada April 1991, Zhu Rongji dipilih secara langsung oleh Deng Xiaoping untuk menjadi Wakil Perdana Menteri. Ketika menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Eksekutif, ia sudah secara efektif memegang kendali atas urusan ekonomi.

Setelah Deng Xiaoping meninggal pada 1997, kekuasaan Jiang Zemin berkembang sangat pesat. Jiang menguasai militer dan juga merupakan “inti partai”. Satu-satunya bidang yang tidak dapat ia campuri adalah pengambilan keputusan ekonomi yang berada di tangan Zhu Rongji, yang dikenal sebagai “tsar ekonomi”. Hal ini membuat Jiang tidak dapat menoleransinya.

Selama menjabat, Zhu Rongji mendukung reformasi pasar. Namun, “reformasi BUMN” yang ia dorong pernah memicu gelombang besar PHK dan pengangguran, sehingga menimbulkan bencana bagi para pekerja biasa. Di luar sistem politik resmi, penilaian terhadap Zhu Rongji pun beragam.

Kebijakan berorientasi pasar yang didorong pada era Zhu Rongji tidak berjalan bersamaan dengan kebebasan politik, pengawasan media, dan pembatasan kekuasaan melalui sistem peradilan. Pada akhir masa kekuasaan Jiang Zemin, korupsi semakin parah dan materialisme merajalela. Segala sesuatu diukur berdasarkan uang, status, dan kepentingan, sehingga moral masyarakat mengalami kemerosotan.

Setelah Jiang Zemin mengundurkan diri pada 2002, ia dikatakan melemahkan pemerintahan Hu Jintao dan Wen Jiabao, tetapi tetap mengendalikan kekuasaan partai, pemerintahan, dan militer PKT. Kelompok Jiang Zemin kemudian menguasai sumber-sumber ekonomi utama Tiongkok selama lebih dari dua dekade. BUMN pusat dan perusahaan milik negara hampir menjadi “mesin uang” bagi kelompok kepentingan faksi Jiang. Mereka dituduh mengeruk aset negara secara besar-besaran dan mengumpulkan kekayaan, sementara rakyat yang menanggung biayanya.

Setelah Xi Jinping berkuasa, Hu Jintao, Wen Jiabao, Zhu Rongji dan lainnya beberapa kali tampil secara terbuka untuk menunjukkan dukungan kepada Xi. Namun, sejak Kongres Nasional PKT ke-19, Xi berbelok secara menyeluruh ke arah kiri demi mempertahankan partai dan kekuasaannya, sehingga urusan dalam negeri maupun luar negeri menjadi kacau. Baik di kalangan masyarakat maupun di dalam PKT, suara yang mengecam Xi, menentangnya, menuntut agar ia turun, dan menyerukan penggulingannya terus bermunculan.

Meskipun Zhu Rongji tidak pernah berkonfrontasi langsung dengan Xi, citra politiknya yang “berpegang teguh pada reformasi pasar” sangat kontras dengan model pemerintahan Xi. Karena itu, ia dipandang oleh sebagian pihak sebagai salah satu sesepuh PKT yang dikhawatirkan oleh Xi.

Pakar masalah Tiongkok dan komentator politik senior Chen Pokong mengatakan kepada Epoch Times bahwa Zhu Rongji memang mendukung Hu Jintao dan juga mendukung Wen Jiabao, tetapi Zhu Rongji tidak mendukung Xi Jinping karena Xi adalah “ultra-kiri”. Ketika Xi terpilih kembali pada Kongres Nasional PKT ke-19, rekaman berita menunjukkan bahwa Zhu Rongji adalah satu-satunya orang di seluruh ruangan yang tidak bertepuk tangan. Zhu Rongji adalah seorang sesepuh politik sekaligus tokoh reformis. Xi sejak awal takut terhadap para sesepuh politik, dan terlebih lagi takut terhadap kaum reformis.

Selain itu, Hu Jintao, Wen Jiabao, dan Zhu Rongji semuanya merupakan lawan politik Jiang Zemin.

Yang juga patut diperhatikan, pada 25 April 1999, lebih dari 10.000 praktisi Falun Gong datang ke sekitar Kantor Pengaduan Dewan Negara di Zhongnanhai, Beijing, untuk menyampaikan petisi. Pada hari itu, Zhu Rongji, yang saat itu baru kembali dari kunjungan ke Amerika Serikat, menerima perwakilan praktisi Falun Gong.

Sejumlah media berbahasa Mandarin di luar negeri melaporkan bahwa Zhu Rongji pernah menyetujui tiga tuntutan yang dianggap wajar oleh praktisi Falun Gong, termasuk membebaskan praktisi yang ditangkap di Tianjin, menyediakan lingkungan latihan yang relatif lebih longgar, serta mengizinkan penerbitan buku-buku terkait.

Penyelesaian yang dianggap wajar terhadap “Peristiwa 4.25” membuat reputasi Zhu Rongji di dalam maupun luar negeri meningkat tajam. Namun, hal ini justru semakin membuat Jiang Zemin tidak dapat menerimanya. Setelah itu, kebijakan Jiang Zemin dan rezim PKT terhadap Falun Gong dengan cepat berubah menjadi lebih keras.

Laporan gabungan reporter Li Enzhen / Editor: Li Quan

Xi Jinping Jarang Singgung “4 Juni” dan Puji Jiang Zemin; Analis: Ketidakstabilan Partai Tidak Dapat Lagi Diredam

EtIndonesia.com Pada 17 Agustus, pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping dalam acara memperingati 100 tahun kelahiran Jiang Zemin secara anumerta, secara tidak biasa beberapa kali menyebut topik sensitif “Peristiwa 4 Juni”. Sejumlah analis menilai Xi berusaha menggunakan pujian terhadap Jiang untuk menunjukkan kekuasaannya. Hal ini mencerminkan ketidakstabilan di dalam partai, sementara kekuatan yang menentang Xi masih sangat kuat dan Xi tidak lagi mampu sepenuhnya menekannya.

Dalam pidatonya pada acara tersebut, Xi Jinping setidaknya tiga kali menyebut peran Jiang Zemin dalam “gejolak politik 1989”. Xi mengatakan bahwa pada musim semi dan musim panas 1989 terjadi “gejolak politik yang serius”, dan Jiang “dengan tegas mendukung serta melaksanakan keputusan yang benar dari Komite Sentral Partai”, yang secara tersirat menunjukkan bahwa Jiang mendukung keputusan Komite Sentral untuk melakukan penindasan berdarah pada saat kritis tersebut.

Pada 4 Juni 1989, PKT mengerahkan pasukan untuk menumpas para mahasiswa yang melakukan aksi protes damai di Lapangan Tiananmen, Beijing. 

Setelah tragedi tersebut, Sekretaris Jenderal PKT saat itu, Zhao Ziyang, yang tidak mendukung penindakan militer, dicopot dari jabatannya. Sementara itu, Jiang Zemin, yang saat itu menjabat Sekretaris Partai Komunis di Shanghai, dengan cepat dipromosikan dan menduduki posisi Sekretaris Jenderal PKT.

Xi secara tidak biasa menyebut secara terbuka sejarah berdarah “Peristiwa 4 Juni” dan menjadikan dukungan Jiang terhadap “Komite Sentral” saat itu sebagai salah satu pencapaian politik pentingnya. Hal tersebut menarik perhatian publik. 

Sejumlah analis menilai Xi menggunakan pujian terhadap Jiang untuk menunjukkan kekuasaannya sekaligus mengirimkan peringatan kepada seluruh pejabat PKT, yang menunjukkan bahwa pidatonya memiliki maksud politik tertentu.

Pengamat politik independen yang menggunakan nama “Finding” menulis di platform X bahwa pada awal tahun ini Xi Jinping menyingkirkan Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT, kemudian menyingkirkan sejumlah jenderal senior militer. Setelah itu, Xi mulai menindak sekretaris dan orang-orang dekat para mantan pejabat senior tingkat nasional. Kini, dalam acara memperingati Jiang Zemin, Xi kembali menyebut “Peristiwa 4 Juni”.

“Jika semua ini dilihat sebagai satu rangkaian, akan sangat jelas: Xi Jinping sedang melakukan pembersihan, bahkan pembersihan besar-besaran yang berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa kekuatan yang menentangnya di dalam partai masih sangat kuat, bahkan telah memaksanya menggunakan cara yang paling keras untuk menunjukkan kekuasaannya.”

Ia menganalisis, “Jika partai sudah benar-benar bersatu tanpa perpecahan, Xi Jinping sama sekali tidak perlu melakukan semua ini.”

Ia menunjukkan bahwa tindakan Xi terhadap Zhang Youxia menunjukkan bahwa Xi telah menilai jajaran tertinggi militer sudah memiliki kekuatan yang tidak dapat dipercaya atau bahkan berpotensi menjadi kekuatan yang menghambatnya.

“Sejak awal tahun, satu demi satu jenderal senior tumbang. Sistem militer sedang dicabut hingga ke akarnya. Ini bukan sekadar pemberantasan korupsi, tetapi pembersihan kembali untuk menguasai kekuatan militer. Ketika pembersihan diarahkan ke dalam hingga sejauh ini, satu-satunya kesimpulan adalah bahwa bagian internal militer memang tidak stabil.”

Selain para perwira militer, sekretaris dan orang-orang dekat para pejabat senior tingkat nasional yang telah pensiun juga satu demi satu ditindak.

Pada Januari lalu, Tian Xuebin, yang pernah menjadi sekretaris mantan Perdana Menteri Tiongkok Wen Jiabao dan mantan Wakil Menteri Sumber Daya Air, dicopot dari jabatannya dan diperiksa.

Pada 24 Maret, Wakil Ketua Administrasi Nasional Regulasi Keuangan, Zhou Liang, diperiksa saat masih menjabat. Ia telah menjadi sekretaris Wang Qishan, mantan anggota Komite Tetap Politbiro PKT, selama 20 tahun.

Pada 2 Juni, Li Xiaohong, mantan Direktur Kantor Inspeksi Pusat Komite Sentral PKT, secara resmi diumumkan telah dicopot dan diperiksa. Li Xiaohong, yang kini berusia 73 tahun, telah lama menduduki posisi penting dalam sistem keuangan dan dianggap sebagai sekretaris politik penting sekaligus penasihat inti Wang Qishan, mantan Sekretaris Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin PKT.

“Finding” mengatakan, “Menindak sekretaris dan orang-orang dekat para pejabat senior tingkat nasional yang telah pensiun berarti menyentuh jaringan hubungan yang lebih dalam. Politik PKT adalah politik sekretaris dan politik orang kepercayaan. Seorang mantan anggota Komite Tetap Politbiro mungkin tidak disentuh secara langsung, tetapi jika sekretaris utama, kepala kantor, dan bawahan lama yang telah berada di sekelilingnya selama 20 tahun disingkirkan, itu berarti mencabut fondasi kekuasaannya serta memutus jalur informasi dan pengaruhnya.”

Artikel tersebut menyatakan, “Ini menunjukkan bahwa lawan Xi Jinping bukanlah seorang anggota Politbiro yang sedang menjabat, melainkan jaringan ‘campur tangan para pejabat senior yang telah pensiun’ yang telah mengakar selama bertahun-tahun. Meskipun para pejabat senior tersebut sudah pensiun, mantan bawahan dan orang-orang yang pernah mereka bina masih ada dan masih mampu menciptakan hambatan secara diam-diam dalam pengambilan keputusan personel penting dan arah kebijakan. Xi Jinping harus mengikis lapisan demi lapisan ‘kekuatan bayangan’ ini.”

Penulis menganalisis bahwa Xi Jinping secara terbuka menyebut “Peristiwa 4 Juni” dalam acara untuk memuji Jiang, menggunakan “simbol politik yang paling berdarah dan paling sensitif” untuk menuntut “loyalitas mutlak” dari para pejabat PKT. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa Xi sudah tidak mampu lagi sepenuhnya mengendalikan situasi.

“Semakin keras dan penuh ancaman suatu tindakan terlihat, semakin besar kemungkinan bahwa perlawanan internal juga semakin kuat.”

Laporan gabungan reporter Luo Tingting / Editor: Wenhui

Perluasan Penangkapan Imigran, ICE Memperketat Penegakan Hukum di New York 

EtIndonesia.com  Setelah Kepala Urusan Perbatasan Gedung Putih, Homan, memperingatkan bahwa Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) akan menambah personil penegak hukum yang ditempatkan di New York City, sejumlah kelompok imigran dalam beberapa hari terakhir mengatakan bahwa berbagai komunitas, termasuk Queens dan Brooklyn, telah menjadi sasaran utama penegakan hukum imigrasi. 

Wartawan NTD : Sejumlah kelompok imigran di New York baru-baru ini mengatakan bahwa dalam setengah bulan terakhir, penegakan hukum imigrasi meningkat secara nyata di berbagai komunitas Asia dan Hispanik di Brooklyn, seperti Sunset Park, Dyker Heights, Cypress Hills, dan Bensonhurst, serta di wilayah Manhattan seperti Inwood dan Washington Heights.

Pengacara imigrasi New York, Zhu Wei: “Kami memiliki klien seperti ini. Dahulu, penegakan hukum imigrasi biasanya menangkap orang yang memiliki catatan kriminal. Sekarang, cakupan orang yang ditangkap petugas imigrasi jauh melampaui mereka yang memiliki catatan kriminal.”

Sejumlah pengacara imigrasi New York menyarankan agar para imigran lebih memperhatikan jadwal persidangan dan informasi dari layanan imigrasi, serta jangan sampai dideportasi karena melewatkan persidangan atau wawancara. Bahkan jika ditangkap, mereka juga harus secara aktif mencari bantuan pengacara.

Pengacara imigrasi New York, Zhu Wei: “Setelah ditangkap, kami menyarankan klien untuk selalu menjaga komunikasi dengan keluarga, teman, dan pengacara. Hukum mengizinkan warga negara asing mengajukan permohonan sidang jaminan kepada pengadilan imigrasi, dan mereka juga berhak mengajukan permohonan habeas corpus ke pengadilan federal.”

Wartawan: Selain itu, dilaporkan bahwa Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS berencana menghabiskan 10 hingga 20 juta dolar AS untuk melengkapi petugas penegak hukum imigrasi dengan sarung tangan listrik, guna memperkuat penindakan terhadap orang-orang yang menolak ditangkap.

Laporan dari wartawan New Tang Dynasty Television, Yu Liang dan Ying Xiang, dari New York.

Penjaga Pantai Berusia 16 Tahun Berani Menyelamatkan Korban di Tengah Ombak Besar, Bertemu Trump dan Menjawab Pertanyaan NTD

EtIndonesia.com Seorang penjaga pantai berusia 16 tahun yang dengan berani terjun ke laut untuk menyelamatkan seseorang, pada Senin (17 Agustus) datang ke Gedung Putih. Ia  diterima oleh Presiden Donald Trump. Kemudian, Trump memujinya sebagai pahlawan sejati. 

Selain itu, menjelang latihan militer AS-Korea Selatan, Trump memerintahkan pengurangan besar-besaran skala latihan. Para senator AS lintas partai juga mengajukan rancangan undang-undang yang menyerukan pemberian sanksi terhadap pejabat Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang menganiaya kelompok agama. 

Berikut laporan wartawan Gedung Putih NTD Tao Ming dan Li Jiayin.

Wartawan Gedung Putih NTD, Tao Ming : “Presiden Trump hari ini menerima pahlawan muda Ryder Williams di Ruang Oval. Ryder Williams adalah remaja yang mempertaruhkan keselamatannya sendiri untuk menyelamatkan orang lain. Trump mengatakan kepada NTD bahwa ia berharap generasi muda Amerika dapat belajar darinya tentang keberanian menghadapi bahaya dan profesionalisme.”

Presiden AS Donald Trump : “Dia adalah pahlawan sejati. Ini luar biasa. Dia (korban yang selamat) juga merupakan orang yang sangat beruntung. Tuhan mengawasi kalian.”

Pada 25 Juli lalu, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun terseret ombak besar ke laut. Penjaga pantai berusia 16 tahun, Williams, tanpa ragu terjun ke laut untuk melakukan penyelamatan. Keduanya terombang-ambing di tengah gelombang yang ganas, dalam situasi yang sangat berbahaya. Pada akhirnya, dengan bantuan penjaga pantai lainnya, Williams berhasil membawa anak tersebut ke daratan.

Wartawan NTD Tao Ming kemudian bertanya kepada Williams.

Wartawan Gedung Putih NTD, Tao Ming: “Bisakah Anda memberi tahu kami, apa yang Anda pikirkan pada saat-saat berbahaya itu? Apa rencana Anda di masa depan? Bagaimana pengalaman Anda sebagai penjaga pantai memengaruhi Anda?”

Penjaga pantai berusia 16 tahun, Ryder Williams: “Pada saat-saat berbahaya seperti itu, kami selalu mengandalkan pelatihan. Seperti banyak orang lainnya, kami telah menerima pelatihan yang sangat profesional dan mampu menangani situasi seperti ini sebaik mungkin. Jadi, yang saya pikirkan saat itu hanyalah bagaimana secepat mungkin membawa anak tersebut keluar dari air.”

Tao Ming juga bertanya kepada Presiden Trump.

Wartawan Tao Ming: “Apa yang Anda harapkan dapat dipelajari oleh generasi muda negara kita dari pemuda luar biasa ini?”

Trump: “Itu pertanyaan yang bagus. Mereka akan mengagumi Ryder. Menurut saya, yang lebih penting adalah mereka akan menghormati pekerjaan yang dilakukan orang-orang seperti ini, serta menghormati mereka yang bekerja di bidang penjagaan pantai dan keselamatan.”

Latihan militer gabungan AS-Korea Selatan “Ulchi Freedom Shield” secara resmi dimulai hari ini. Namun, menjelang latihan tersebut, Presiden Trump mengatakan bahwa latihan militer gabungan AS-Korea Selatan tidak hanya mahal, tetapi juga mengirimkan sinyal yang “tidak tepat dan bermusuhan” kepada Korea Utara. Karena itu, ia memerintahkan pengurangan besar-besaran skala latihan.

Trump juga mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Presiden Korea Selatan apakah bersedia bergabung dalam upaya yang didorong Amerika Serikat untuk melakukan denuklirisasi Iran.

Trump: “Dia berkata, ‘Tidak, terima kasih.’ Saya berkata, ‘Tunggu, kami menempatkan 39.000 tentara di sana untuk melindungi kalian dari ancaman Kim Jong-un, negara tetangga kalian, tetapi kalian tidak bersedia membantu kami menangani operasi militer sederhana di Iran. Ini aneh.’ ‘Tidak, kami tidak ingin terlibat.’ Saya berkata, kalau begitu, mengapa kami harus membantu kalian?”

Para senator AS lintas partai baru-baru ini mengajukan sebuah rancangan undang-undang bernama “Combatting the Persecution of Religious Groups in the People’s Republic of China Act” atau Undang-Undang Memerangi Penganiayaan Kelompok Agama di Republik Rakyat Tiongkok. RUU tersebut menyerukan pemberian sanksi terhadap pejabat PKT yang menganiaya kelompok agama seperti umat Buddha, Kristen, dan Falun Gong, serta kelompok etnis minoritas. Bentuk pelanggaran yang secara spesifik disebutkan antara lain penahanan sewenang-wenang, sterilisasi paksa, penyiksaan, dan kerja paksa.

RUU tersebut juga menginstruksikan Departemen Luar Negeri AS untuk memantau tindakan represi lintas negara yang dilakukan PKT terhadap kelompok etnis minoritas dan kelompok agama.

Komandan Komando Pusat AS, Brad Cooper, baru-baru ini mengunjungi kapal induk USS Abraham Lincoln dan bertemu dengan para pelaut serta personel Korps Marinir.

Cooper mengakui bahwa penugasan jangka panjang di laut sangat menantang dan berat. Namun, ia mengonfirmasi bahwa dari 11 kapal induk yang saat ini aktif dalam Angkatan Laut AS, USS Abraham Lincoln memiliki jumlah kasus kesehatan mental paling sedikit.

Wartawan Tao Ming : “Selain itu, Ibu Negara AS Melania Trump hari ini kembali berhasil mempertemukan seorang anak dengan keluarganya. Anak tersebut terpisah dari keluarganya akibat perang Rusia-Ukraina. Ini merupakan anak ke-34 yang telah ia bantu. Melania mengatakan bahwa setiap reuni keluarga selalu mengharukan dan ia akan berusaha membantu lebih banyak keluarga yang hancur akibat perang Rusia-Ukraina agar dapat kembali berkumpul.”

Laporan dari wartawan Gedung Putih NTD, Tao Ming dan Li Jiayin.

Pentagon Perintahkan 30 Universitas Meninjau Kerja Sama dengan Tiongkok, Jika Tidak Dana Akan Diputus

EtIndonesia.com Pentagon memerintahkan 30 universitas di AS untuk segera melakukan peninjauan menyeluruh terhadap hubungan kerja sama mereka dengan entitas asing yang dianggap berisiko bagi keamanan nasional, termasuk kerja sama dengan universitas dan lembaga penelitian Tiongkok serta organisasi yang berkaitan dengan bekas Institut Konfusius. Jika tidak dilakukan, universitas-universitas tersebut dapat kehilangan kelayakan untuk menerima pendanaan federal.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan Departemen Perang AS pada Senin (17 Agustus), disebutkan bahwa 30 universitas tersebut harus meninjau hubungan akademik, keuangan, dan penelitian mereka dengan entitas yang tercantum dalam “Daftar Pasal 1286”, dan mungkin harus mengakhiri hubungan kerja sama tersebut demi mempertahankan pendanaan federal.

“Daftar Pasal 1286” yang diperbarui pada 23 Juli tahun ini mencakup 130 universitas dan lembaga penelitian dari Tiongkok, Rusia, dan Iran. Sebanyak 88 diantaranya berasal dari daratan Tiongkok.

Pentagon secara khusus menyebut organisasi yang berkaitan dengan “Institut Konfusius yang telah berganti nama”. Setelah Institut Konfusius mendapat pemeriksaan ketat di Amerika Serikat, sejumlah Institut Konfusius berganti nama dan tetap beroperasi.

Pentagon meminta 30 universitas tersebut menyerahkan hasil audit dan tindakan yang telah diambil langsung kepada Departemen Pendidikan paling lambat 31 Agustus tahun ini. Departemen Pendidikan diberikan waktu dua minggu untuk menyelesaikan peninjauan tersebut.

Pentagon menyatakan bahwa langkah ini bertujuan melindungi investasi penelitian yang dibiayai oleh wajib pajak Amerika Serikat dari transfer teknologi yang tidak sah, pencurian kekayaan intelektual, serta pemanfaatan oleh pihak yang bermusuhan.

“Departemen Perang AS menerapkan kebijakan toleransi nol terhadap setiap kerja sama akademik yang membahayakan keamanan nasional,” kata Wakil Menteri Perang untuk Riset dan Rekayasa, Emil Michael. “Lembaga yang menerima pendanaan dari wajib pajak Amerika Serikat harus mempertahankan standar keamanan penelitian yang tertinggi, dan audit wajib ini akan memastikan adanya akuntabilitas di semua aspek.”

Asisten Menteri Perang untuk Sains dan Teknologi, Dr. Joseph Jewell, mengatakan bahwa universitas merupakan mitra penting Departemen Perang dalam berbagai program penelitian. “Karena itu, Departemen Perang harus memastikan bahwa investasi penelitian kami terlindungi sepenuhnya dari eksploitasi oleh pihak asing.”

Dalam pernyataannya, Pentagon tidak mencantumkan nama 30 universitas tersebut maupun hubungan kerja sama mereka dengan entitas asing.

Peninjauan ini berkaitan dengan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang tercantum dalam “Daftar Pasal 1286”. Daftar tersebut dibentuk berdasarkan Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (National Defense Authorization Act) tahun 2019, dengan tujuan mengidentifikasi universitas dan lembaga penelitian asing yang mungkin menimbulkan risiko terhadap penelitian yang didanai Amerika Serikat serta keamanan nasional.

“Daftar Pasal 1286” yang diperbarui pada 23 Juli tahun ini menambahkan sejumlah institusi Tiongkok. Selain Universitas Fudan dan Universitas Jiao Tong Shanghai, daftar tersebut juga mencakup Universitas Shandong, Universitas Teknologi Chongqing, Universitas Sains dan Teknologi Elektronik Hangzhou, Universitas Penerbangan dan Antariksa Shenyang, Universitas Hubungan Internasional, serta Universitas Teknik Pasukan Dukungan Logistik Gabungan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.

Dalam pernyataan 23 Juli, Pentagon memerintahkan bahwa mulai tahun fiskal 2026, penelitian dasar yang didanai Pentagon dilarang dilakukan bersama lembaga-lembaga tersebut atau menggunakan peralatan milik mereka.

Pernyataan yang dikeluarkan Senin ini menandai langkah lanjutan dalam proses peninjauan. Pentagon meminta 30 universitas tersebut mengevaluasi risiko keamanan penelitian yang sensitif atau berada di bawah kendali ekspor, serta menerapkan rencana mitigasi yang ketat, termasuk mengakhiri hubungan kerja sama.

Pentagon juga menyatakan bahwa pihaknya sedang bekerja sama dengan Komite Angkatan Bersenjata DPR dan Senat, Komite Alokasi DPR dan Senat, serta Komite Khusus DPR untuk Persaingan Strategis dengan Partai Komunis Tiongkok, guna melindungi hasil penelitian akademik dari penyalahgunaan.

Pada 13 Agustus, Komite Pendidikan dan Tenaga Kerja DPR AS serta Komite Khusus DPR untuk Persaingan Strategis dengan Partai Komunis Tiongkok menerbitkan laporan yang menyebut bahwa para peneliti Universitas Harvard telah bekerja sama dengan Universitas Sains dan Teknologi Pertahanan Nasional Tiongkok, Universitas Beihang, Universitas Sains dan Teknologi Nanjing, serta sejumlah universitas lain yang termasuk dalam kelompok “Tujuh Universitas Pertahanan Nasional” Tiongkok, dan telah menerbitkan lebih dari 140 makalah akademik bersama. Universitas-universitas tersebut memiliki hubungan erat dengan industri pertahanan dan sistem industri militer Partai Komunis Tiongkok, sehingga Kongres menilai institusi-institusi pendidikan tinggi Tiongkok tersebut memiliki risiko keamanan penelitian yang relatif tinggi bagi Amerika Serikat.

Penembakan Kembali Terjadi di Sekolah Filipina, Dua Orang Tewas; Pelaku Diduga Menyiarkan Aksinya Secara Streaming

EtIndonesia.com Filipina kembali mengalami insiden penembakan di sekolah untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari dua bulan. Selasa (18/8/2026), penembakan terjadi di sebuah sekolah menengah di wilayah selatan dan menewaskan dua orang. Situasi saat ini telah berhasil dikendalikan. Dari rekaman video terlihat bahwa pelaku diduga menyiarkan langsung proses aksinya.

Menurut laporan Reuters, penembakan tersebut terjadi di sekolah menengah yang berafiliasi dengan Ateneo de Zamboanga University di kota Zamboanga, wilayah selatan Filipina.

Menurut laporan awal kepolisian, pelaku membawa pistol dan senapan masuk ke dalam sekolah, kemudian menembaki para siswa yang berada di ruang kelas.

Polisi mengatakan pelaku adalah seorang siswa kelas 9 yang kemudian meninggal dunia karena mengakhiri hidup. Korban adalah seorang siswa laki-laki yang duduk satu tingkat di atas pelaku.

Sebuah video yang diduga merupakan siaran langsung beredar di media sosial Facebook. Video tersebut menampilkan sudut pandang seperti dalam permainan tembak-menembak orang pertama. Terlihat laras senjata bergerak menyusuri koridor, kemudian diarahkan ke ruang kelas dan melepaskan tembakan. Para siswa yang mengenakan seragam berteriak dan berlarian menuju pintu keluar. Menurut laporan, akun Facebook pelaku telah dinonaktifkan.

Wali Kota Khymer Adan Olaso mengatakan kepada stasiun radio DZMM bahwa kedua korban tewas adalah siswa, salah satunya merupakan pelaku. Ia menggunakan “senjata api berkekuatan tinggi”.

Olaso mengatakan kepada sebuah stasiun radio bahwa dalam video terlihat pelaku terlebih dahulu menembak seorang guru yang sedang duduk di depan meja, tetapi diduga tidak mengenainya. Pelaku kemudian masuk ke ruang kelas lain dan menembaki seorang siswa.

Presiden universitas, Ernald Andal, mengkonfirmasi bahwa insiden penembakan telah berakhir dan tidak ada laporan korban lainnya.

“Sejauh ini kami telah memastikan ada dua orang yang tewas. Tidak ada penembak lain di lokasi,” katanya. 

Andal mengatakan pihak sekolah sedang bekerja sama dengan pihak berwenang dalam penyelidikan dan akan memberikan informasi lebih lanjut setelah memperoleh keterangan tambahan.

Pada Juni lalu, sebuah sekolah menengah negeri di kota besar Tacloban City, Filipina bagian tengah, juga mengalami insiden penembakan di sekolah. Saat itu, dua siswa melepaskan tembakan di dalam lingkungan sekolah, menyebabkan sedikitnya tiga siswa tewas dan sekitar 20 orang terluka.

Penembakan di sekolah jarang terjadi di Filipina. Negara itu memiliki aturan yang relatif ketat mengenai kepemilikan senjata api, termasuk persyaratan pemeriksaan latar belakang dan evaluasi psikologis. Meskipun demikian, senjata api ilegal masih beredar.

Semarak Kemerdekaan dengan Berbagi: BRI Bantu Kebutuhan Pokok 9 Lembaga Sosial di Surabaya

SURABAYA — Semangat kemerdekaan tak hanya dirayakan dengan upacara dan lomba-lomba. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Region 12 Surabaya memilih jalur lain: berbagi. Melalui program BRI Peduli Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) , BRI menyalurkan paket sembako kepada sembilan panti asuhan, lembaga kesejahteraan sosial anak, dan gereja di Surabaya dan sekitarnya.

Penyaluran bantuan yang berlangsung pada 30 Juli 2026 ini menjadi bagian dari rangkaian program Berbagi Bahagia Natal 2025 sekaligus momentum menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bantuan Langsung untuk Mereka yang Membutuhkan

Bantuan diserahkan secara langsung oleh perwakilan BRI Region 12 Surabaya, Amatus Susilardi, bersama para Insan BRILiaN. Penerima bantuan terdiri dari:

  • Panti Asuhan Don Bosco
  • Panti Asuhan Pondok Hayat
  • Panti Asuhan Sumber Kasih
  • Panti Pondok Kasih
  • Panti Yestoya
  • Gereja Yohanes Pemandi
  • Panti Asuhan Undaan
  • Panti Asuhan Wedha Usia
  • LKSA Immanuel

Wujud Nyata Kepedulian di Tengah Masyarakat

Amatus Susilardi menyampaikan bahwa penyaluran bantuan tersebut merupakan bentuk nyata komitmen BRI untuk hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya kelompok yang membutuhkan.

“Penyaluran bantuan sembako dari BRI Peduli merupakan wujud nyata kepedulian perusahaan dalam menebarkan kasih, kebersamaan, serta solidaritas sosial kepada sesama,” ujar Amatus, Rabu (19/8/2026).

Menurut dia, program tersebut tidak sekadar memberikan bantuan kebutuhan pokok, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan harmonis antara BRI dan masyarakat di lingkungan sekitar.

“Hal ini merupakan komitmen BRI dalam mendukung kesejahteraan sosial sekaligus mempererat hubungan yang harmonis dengan masyarakat. Bantuan diserahkan langsung oleh karyawan BRI di unit-unit kerja yang telah ditunjuk dan menyasar masyarakat yang membutuhkan, sebagai upaya meringankan beban ekonomi kelompok masyarakat yang kurang beruntung,” katanya.

Kontribusi untuk Ketahanan Nasional

Amatus menegaskan, kepedulian sosial merupakan bagian dari tanggung jawab BRI sebagai perusahaan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga memiliki perhatian terhadap pembangunan sosial dan keberlanjutan lingkungan.

Penyaluran sembako ini juga menjadi bagian dari kontribusi BRI dalam mendukung agenda Asta Cita Pemerintah, terutama yang berkaitan dengan:

  • Penguatan ketahanan nasional dan kemandirian bangsa
  • Dukungan terhadap swasembada pangan, energi, dan air
  • Penguatan ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru

“BRI senantiasa berupaya hadir di tengah masyarakat melalui berbagai program yang memberikan manfaat secara langsung. Kami berharap bantuan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menghadirkan rasa kebersamaan bagi para penerima,” tutur Amatus.

Komitmen Berkelanjutan

Ke depan, BRI Peduli akan terus menjalankan berbagai program sosial secara berkelanjutan sebagai bentuk kontribusi perusahaan terhadap pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Melalui bantuan tersebut, BRI berharap manfaat yang diberikan tidak berhenti pada bantuan material semata, tetapi juga mampu menumbuhkan semangat gotong royong dan solidaritas di tengah keberagaman masyarakat.