EtIndonesia. Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase yang sangat menegangkan pada awal Mei 2026. Di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mendadak menghentikan operasi militer “Project Freedom ” atau rencana pengawalan kapal-kapal internasional yang terjebak di Selat Hormuz.
Keputusan mendadak itu awalnya dijelaskan Washington sebagai bagian dari upaya memberi ruang bagi proses negosiasi yang disebut telah mengalami “kemajuan besar”. Pemerintah AS juga menyatakan penghentian sementara operasi tersebut dilakukan atas permintaan Pakistan dan beberapa negara lain di kawasan.
Namun di balik pernyataan resmi tersebut, banyak pihak mempertanyakan alasan sebenarnya. Sebab operasi yang baru diumumkan beberapa hari sebelumnya itu tiba-tiba dihentikan hanya dalam waktu singkat, padahal Selat Hormuz saat itu masih berada dalam situasi sangat rawan.
Kini, laporan terbaru dari NBC yang dikutip pada Selasa, 6 Mei 2026, mulai mengungkap tekanan besar yang sebenarnya sedang dihadapi pemerintahan Trump di balik layar.
Pada saat yang sama, ketegangan baru juga muncul setelah serangkaian ledakan misterius mengguncang Iran pada dini hari 7 Mei 2026. Berbagai indikasi pun mulai mengarah pada kemungkinan adanya operasi rahasia Israel di wilayah Iran.
Operasi Hormuz yang Mendadak Dihentikan
Sebelumnya, pada Minggu, 4 Mei 2026, Trump secara mengejutkan mengumumkan dimulainya operasi “Freedom Navigation Plan” melalui media sosial.
Operasi tersebut dirancang untuk mengawal sekitar 2.000 kapal internasional yang terjebak di Selat Hormuz akibat meningkatnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk melewati jalur sempit tersebut. Karena itu, setiap gangguan di kawasan itu langsung memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Namun hanya sekitar 36 jam setelah pengumuman operasi dimulai, Trump tiba-tiba memutuskan menghentikannya sementara.
Dua pejabat Amerika Serikat yang berbicara kepada NBC pada 6 Mei mengungkap bahwa keputusan tersebut sebenarnya dipicu oleh tekanan besar dari sekutu-sekutu utama Washington di Timur Tengah.
Menurut laporan tersebut, negara-negara sekutu maritim AS seperti Arab Saudi dan Kuwait merasa sangat terkejut sekaligus marah karena Washington dianggap tidak melakukan koordinasi memadai sebelum mengumumkan operasi militer besar itu.
Kemarahan kedua negara itu kemudian berubah menjadi langkah konkret yang langsung mengguncang kemampuan militer Amerika Serikat di kawasan.
Arab Saudi dan Kuwait Langsung Membatasi Operasi Militer AS
Sebagai bentuk tekanan terhadap Washington, Arab Saudi disebut langsung menutup Pangkalan Udara Pangeran Sultan bagi aktivitas tertentu militer Amerika.
Riyadh juga dilaporkan melarang pesawat militer AS lepas landas maupun melintasi wilayah udaranya untuk mendukung operasi terkait Selat Hormuz.
Tidak lama kemudian, Kuwait mengambil langkah serupa dengan menghentikan izin penggunaan fasilitas militer Amerika serta membatasi hak lintas udara bagi pesawat militer AS.
Langkah gabungan kedua negara Teluk tersebut langsung memukul sistem logistik dan dukungan udara Amerika Serikat di Timur Tengah.
Padahal selama ini, operasi militer Amerika di kawasan sangat bergantung pada jaringan pangkalan militer dan akses wilayah udara negara-negara Teluk.
Laporan NBC menyebut Trump bahkan sempat mencoba menghubungi Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman guna menyelesaikan krisis tersebut. Namun upaya itu dikabarkan tidak berhasil.
Di bawah tekanan besar dari para sekutu regional itulah, Trump akhirnya memutuskan menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz.
Mengapa Arab Saudi dan Kuwait Berubah Sikap?
Perubahan sikap Arab Saudi dan Kuwait memunculkan pertanyaan besar di kalangan analis internasional.
Sebelumnya, kedua negara itu dikenal mendukung kebijakan keras Washington terhadap Iran. Namun dalam krisis terbaru ini, mereka justru terlihat berusaha menahan eskalasi.
Analis pertahanan pro-Iran, Taghvaei, menilai langkah kedua negara Teluk itu didorong oleh kepentingan strategis masing-masing.
Menurutnya, operasi pemulihan jalur pelayaran Selat Hormuz kali ini berbeda dibanding operasi-operasi sebelumnya terhadap Iran.
Ia mengatakan pihak yang paling diuntungkan secara ekonomi dari pemulihan jalur pelayaran justru adalah Uni Emirat Arab (UEA), karena negara tersebut memiliki ketergantungan yang jauh lebih besar terhadap perdagangan maritim melalui Selat Hormuz.
Sementara itu, apabila operasi pengawalan Amerika memicu perang yang lebih luas dengan Iran, maka seluruh negara Teluk akan ikut menanggung risiko keamanan dan ancaman serangan balasan.
Dengan kata lain, Arab Saudi dan Kuwait dinilai tidak ingin ikut menanggung risiko perang besar demi keuntungan ekonomi yang lebih banyak dirasakan UEA.
Israel Diduga Mulai Bergerak Diam-Diam
Di saat Amerika Serikat mulai menahan langkah militernya, muncul berbagai indikasi bahwa Israel justru mulai meningkatkan operasi rahasia terhadap Iran.
Pada Rabu dini hari, 7 Mei 2026, analis pertahanan Taghvaei mengutip sejumlah sistem peringatan sumber terbuka dan menyampaikan laporan mengejutkan.
Ia menyebut Iran diduga berhasil menembak jatuh sebuah drone yang kemungkinan besar milik militer Israel.
Drone tersebut disebut berpotensi berasal dari Angkatan Udara Israel atau bahkan unit antariksa Israel yang selama ini dikenal memiliki kemampuan pengintaian canggih.
Hampir bersamaan dengan laporan itu, enam wilayah di Teheran bagian barat dilaporkan mengalami ledakan keras hanya dalam waktu sekitar dua menit.
Wilayah-wilayah yang terdampak antara lain Zakir Abad, Shakran, Zeba Barat, Punak, dan Faiz.
Warga setempat mengaku mendengar suara ledakan yang berbeda dari biasanya.
Menurut kesaksian sejumlah warga, suara yang terdengar lebih menyerupai ledakan drone dibanding ledakan rudal.
Beberapa warga bahkan melaporkan mendengar suara mesin drone bernada tajam di udara sesaat sebelum ledakan terjadi.
Ada pula dugaan bahwa lebih dari satu drone sedang beroperasi di langit Teheran pada saat itu.
Taghvaei mengisyaratkan bahwa insiden tersebut kemungkinan merupakan bagian dari operasi infiltrasi dan pengintaian Israel terhadap ibu kota Iran.
Hingga kini, media resmi Iran masih belum memberikan penjelasan rinci terkait ledakan-ledakan tersebut.
Netanyahu: Gencatan Senjata Bukan Akhir Perang
Ketegangan juga terus meningkat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menegaskan bahwa gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran tidak berarti konflik telah berakhir.
Netanyahu mengatakan Israel tetap siap melanjutkan perang kapan saja apabila dianggap diperlukan.
“Jari kami tetap berada di pelatuk,” tegas Netanyahu dalam salah satu pernyataannya baru-baru ini.
Pernyataan tersebut dianggap sebagai sinyal bahwa Israel tidak akan mengendurkan tekanan militernya terhadap Iran maupun kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.
Israel Serang Beirut untuk Pertama Kalinya Sejak Gencatan Senjata
Sementara itu, operasi militer Israel di Lebanon juga terus meningkat.
Menurut laporan media Israel pada 6 Mei 2026 malam, Pasukan Pertahanan Israel melancarkan serangan presisi terhadap sebuah bangunan di pinggiran selatan Beirut.
Target utama serangan itu disebut merupakan Barut, seorang komandan senior Pasukan Radwan — unit elite milik Hizbullah.
Wakil komandan dan beberapa anggota lainnya juga dilaporkan tewas dalam operasi tersebut.
Serangan ini menjadi perhatian besar karena merupakan pertama kalinya Israel kembali menyerang kawasan inti Beirut sejak perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku pada 17 April 2026.
Pasukan Radwan sendiri dikenal sebagai unit operasi khusus paling elite Hizbullah yang selama ini aktif meluncurkan roket ke wilayah perbatasan Israel serta melakukan berbagai operasi tempur langsung melawan militer Israel.
Dalam pernyataan bersama, Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz menegaskan bahwa Israel tidak akan membiarkan kelompok bersenjata mana pun lolos dari serangan.
Mereka menyatakan jangkauan operasi Israel akan terus diperluas terhadap siapa pun yang dianggap mengancam keamanan negara itu.
“Kami berjanji membawa keamanan bagi warga di wilayah utara. Kami selalu melakukan itu, dan akan terus melakukannya,” demikian isi pernyataan resmi tersebut.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa meskipun Amerika Serikat mulai menahan sebagian langkah militernya akibat tekanan sekutu regional, situasi di Timur Tengah justru semakin bergerak menuju konflik yang lebih rumit dan sulit diprediksi.
Dengan Iran, Israel, Hizbullah, serta negara-negara Teluk kini memainkan strategi masing-masing, kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang eskalasi besar yang dapat memengaruhi stabilitas global dalam waktu singkat. (***)