Pohon Apel – Kisah Menyentuh Tentang Kasih Tanpa Syarat

EtIndonesia. Dahulu kala, ada sebuah pohon apel yang tinggi besar. Seorang anak kecil setiap hari datang bermain di bawah pohon itu. DIa memanjat ke dahan, memetik apel segar, makan dengan gembira, lalu tertidur pulas di bawah naungan daun-daunnya.

Anak itu sangat menyayangi pohon apel, dan pohon apel pun mencintai anak itu. Mereka adalah sahabat yang tak terpisahkan.

Masa Muda Sang Anak

Waktu berlalu, anak kecil itu tumbuh besar dan jarang datang bermain lagi.

Suatu hari, dia kembali ke bawah pohon dengan wajah murung. Pohon apel ingin mengajaknya bermain, tapi anak itu berkata: “Aku sudah besar, aku tak bisa main denganmu lagi. Aku ingin mainan, tapi aku tak punya uang.”

Pohon apel menjawab: “Aku tidak punya uang, tapi ambillah semua buah apelku. Juallah, maka kamu akan punya uang untuk membeli mainan.”

Anak itu girang bukan main. Dia memetik semua buah apel, lalu berlari pergi dengan penuh semangat. Pohon apel tersenyum bahagia—namun setelah itu, anak itu tak kembali lagi. Pohon pun kesepian.

Membangun Rumah

Bertahun-tahun kemudian, anak itu datang lagi. 

Pohon apel gembira dan berkata: “Ayo, mari kita bermain lagi!”

Tapi anak itu menjawab: “Aku sudah dewasa. Aku harus bekerja keras demi keluargaku. Kami butuh rumah. Bisakah kamu menolongku?”

Pohon apel berkata: “Aku tak punya rumah. Tapi kamu boleh menebang semua dahanku, gunakanlah untuk membangun rumah.”

Anak itu pun menebang seluruh cabang pohon, membawanya pergi untuk membangun rumah. Pohon merasa sakit, tapi dia senang melihat anak itu bahagia. Namun setelah itu, anak itu lama tak pernah kembali lagi.

Mencari Kebebasan

Suatu musim panas, anak itu kembali dengan wajah murung. 

Pohon apel berkata: “Datanglah, mari bermain lagi.”

Tapi anak itu berkata: “Aku sudah tua. Aku ingin berlayar jauh untuk mencari ketenangan. Bisakah kau memberiku sebuah kapal?”

Pohon apel berkata dengan lembut: “Tebanglah batangku, jadikan perahu, dan pergilah berlayar.”

Anak itu melakukannya. Dia menebang batang pohon, membuat perahu, lalu berlayar jauh. Pohon merasa senang—tapi sesungguhnya hatinya hampa, karena yang tersisa hanyalah akar yang sepi.

Perjumpaan Terakhir

Bertahun-tahun berlalu. Anak itu kembali, kini sudah renta. Pohon apel hampir tak punya apa-apa lagi untuk diberikan. 

Ia berkata dengan sedih: “Maafkan aku, Nak. Aku sudah tak punya buah untukmu.”

Anak itu tersenyum lemah:“Tak apa. Gigi-gigiku sudah tanggal, aku tak bisa makan apel.”

“Aku juga tak punya batang untuk kau panjat.”

“Aku terlalu tua untuk memanjat.”

“Yang tersisa hanyalah akarku yang tua dan rapuh.”

 “Itu sudah cukup. Aku hanya butuh tempat duduk untuk beristirahat.”

Mendengar itu, pohon apel pun berkata sambil berlinang air mata: “Baiklah, duduklah di atas akarku. Mari beristirahat bersamaku.”

Anak itu duduk dengan tenang. Pohon apel menangis bahagia—akhirnya, sahabat kecilnya kembali.

Makna Kisah

Itulah kisah kita semua. Pohon apel adalah orangtua kita.

Saat kecil, kita selalu ingin bersama ayah-ibu. Namun setelah dewasa, kita meninggalkan mereka, hanya kembali ketika butuh sesuatu. Meski begitu, mereka selalu memberi tanpa syarat—bahkan sampai tak tersisa apa pun—demi kebahagiaan anaknya.

Mungkin kita menganggap anak itu kejam pada pohon. Tapi jika bercermin, bukankah itulah cara banyak dari kita memperlakukan orangtua?

Kasih sayang orang tua itu seperti pohon apel: tak pernah perhitungan, tak pernah menuntut, hanya memberi tanpa pamrih. Yang mereka inginkan hanyalah satu hal sederhana: kita pulang, dan duduk sebentar menemani mereka. (jhn/yn)

Kekhawatiran Drone Menutup Bandara Kopenhagen dan Oslo – Apakah Rusia Berada di Baliknya?

EtIndonesia. Bandara Kopenhagen, bandara tersibuk di kawasan Nordik, terpaksa ditutup selama hampir empat jam pada Senin malam (22/9) setelah drone terlihat terbang di dekatnya. Pada saat yang sama, Bandara Oslo Norwegia menutup wilayah udaranya menyusul penampakan serupa. Penutupan tersebut menyebabkan kekacauan bagi penumpang, dengan puluhan penerbangan dialihkan ke bandara lain.

Apa kata polisi tentang drone tersebut?

Wakil Asisten Komisaris Kepolisian Kopenhagen, Jakob Hansen, mengonfirmasi bahwa para penyelidik masih berusaha mengidentifikasi drone tersebut.
“Polisi telah meluncurkan penyelidikan intensif untuk menentukan jenis drone ini. Drone-drone itu telah hilang dan kami tidak menangkap satu pun,” kata Hansen kepada wartawan.

Pihak berwenang di Denmark dan Norwegia kini bekerja sama untuk menentukan apakah kedua insiden tersebut saling terkait.

Apakah drone-drone itu milik Rusia?

Ketika ditanya apakah drone-drone itu mungkin terkait dengan Rusia, Hansen mengatakan dia tidak dapat mengonfirmasi atau menyangkal kemungkinan tersebut. Para pejabat telah menjanjikan informasi terbaru lebih lanjut pada konferensi pers yang dijadwalkan Selasa pagi.

Berapa banyak penerbangan yang terdampak?

Situs web pelacakan penerbangan Flightradar24 melaporkan bahwa setidaknya 35 penerbangan menuju Kopenhagen terpaksa dialihkan. Sebanyak 50 penerbangan lainnya menuju Oslo juga dialihkan setelah wilayah udara di sana ditutup pada tengah malam waktu setempat.

Bandara Kopenhagen mengumumkan di media sosial bahwa penundaan dan pembatalan akan tetap terjadi bahkan setelah dibuka kembali, dan penumpang diimbau untuk menghubungi maskapai masing-masing.

Bagaimana hal ini berkaitan dengan gangguan bandara Eropa yang lebih luas?

Insiden drone ini terjadi hanya beberapa hari setelah bandara-bandara Eropa dilanda serangan siber yang melumpuhkan sistem check-in dan boarding di Heathrow, Berlin, dan Brussels. Perjalanan di seluruh wilayah tersebut telah terganggu, dan penampakan drone telah menambah tekanan pada penumpang dan maskapai penerbangan.(yn)

Pesan Terakhir Anjing Penyelamat

EtIndonesia. Itu adalah kali ketiga Grete, seekor anjing penyelamat berusia 17 tahun, terserang stroke. Namun kali ini, tak ada lagi keajaiban. Dia berusaha keras untuk bangkit, terutama saat tuannya Toshio Noguchi tak ada di sisi. Tapi tubuhnya sudah terlalu renta. Bahkan penglihatannya semakin kabur; wajah tuannya tak lagi jelas, meski dia masih bisa merasakan sentuhan penuh kasih dari tangan yang menggenggam erat cakarnya.

Pertemuan yang Mengubah Hidup

Noguchi masih ingat pertemuan pertama mereka, tahun 1995. Saat itu Grete baru berusia dua tahun, menjadi anjing penyelamat pertama di Jepang, datang ke rumahnya. Grete muda penuh semangat, melingkari kursi roda Noguchi dengan gembira.

Namun Noguchi kala itu dingin dan murung. Dia adalah mantan atlet tenis meja yang kehilangan kedua kakinya akibat kecelakaan. Hidup baginya tak lagi berarti. Tapi malam pertama bersama Grete mengubah segalanya.

Saat Noguchi terjatuh dari tempat tidur, Grete segera mengambilkan urinal, lalu menoleh ke arah lain seakan tak ingin membuatnya malu. Setelah itu, dia menatap wajah tuannya dengan mata penuh kasih, lalu berbaring di samping ranjang hingga pagi. Esoknya, Grete membantu Noguchi mengenakan kaus kaki, menyiapkan pakaian, bahkan mendorong kursi roda mendekat.

Hari demi hari, Grete bukan hanya jadi penolong fisik, tapi juga penghangat hati.

Penjaga, Sahabat, Pendengar

Di supermarket, Grete tahu apa yang tuannya inginkan hanya dengan tatapan. Dia selalu setia menunggu pujian. Saat di lingkungan rumah, dia mendorong Noguchi untuk bersosialisasi, memperkenalkan sang tuan dengan tetangga seolah berkata: “Ini majikanku. Tolong jaga dia baik-baik.”

Malam-malam panjang, Noguchi berbicara—tentang masa lalunya sebagai atlet, rasa putus asa setelah kecelakaan, kerinduan pada laut, mimpi melihat matahari terbit. Grete mendengarkan dengan sabar. Jika Noguchi menangis, dia mengambilkan tisu dengan mulutnya dan menempelkan kepala hangatnya di pangkuan sang tuan.

Suatu subuh, Grete tiba-tiba menggonggong pelan di depan pintu, memaksa Noguchi berangkat. Mereka naik bus pertama menuju laut. Saat matahari terbit di ufuk, Grete berlari riang di pantai. Bagi Noguchi, itulah pagi paling indah sejak kecelakaan—laut, cahaya matahari, dan seekor anjing penyelamat yang mengerti isi hatinya.

Masa Senja

Sepuluh tahun masa tugas resmi berakhir, namun Grete tetap tinggal bersama Noguchi.  Dia bukan sekadar penolong, melainkan bagian dari jiwa sang tuan.

Noguchi kerap berkata pada teman-temannya:“Tuhan mengambil kedua kakiku, tapi memberi aku Grete. Dia bukan hanya kakiku, dia adalah sahabat paling setia.”

Namun waktu tak bisa dilawan. Tahun 2007, saat membantu melepas kaus kaki Noguchi, Grete terjatuh—stroke pertamanya. Dokter berkata dia takkan bisa berdiri lagi. Tapi dua hari kemudian, dengan tekad kuat, dia bangkit, lalu mendorong kursi roda tuannya berkeliling kompleks, seakan ingin berkata: “Lihat, aku masih bisa. Aku masih ingin bersamamu.”

Warisan Cinta Terakhir

Setelah stroke ketiga, tubuh Grete makin rapuh. Dia sering meraung pilu. Noguchi yakin, anjingnya ingin menyampaikan sesuatu. Dia meminta bantuan seorang ahli “bahasa anjing” bernama Heidi.

Awalnya Grete enggan berkomunikasi, hingga seekor anjing lain bernama Marble—sahabatnya—dipanggil. 

Grete berbisik rendah, Heidi menerjemahkan: “Mataku sudah buta. Tolong Marble, periksa apakah orang-orang di sekitar ini bisa dipercaya.”

Marble mengendus semua tamu, lalu memberi tanda aman. Grete pun kembali bersuara. 

Heidi meneteskan air mata dan berkata: “Dia ingin Marble menggantikannya menjaga dan melindungimu. Tubuhnya sudah tak sanggup, hanya suaranya yang tersisa.”

Noguchi menangis tersedu, memeluk Grete: “Terima kasih… jangan khawatir.”

Heidi melanjutkan: “Dia ingin terus merawatmu. Dia tahu betul kesedihanmu, kecemasanmu, dan tak ingin kamu bersedih karenanya.”

Air mata jatuh dari mata Grete sendiri. 

Dengan sisa tenaga, dia menyampaikan pesan terakhir: “Meski tubuhku lemah, aku tetap akan melindungimu. Aku ingin melihat wajahmu yang tersenyum, seperti saat menonton pertandingan bisbol.”

Noguchi terisak, mengingat masa-masa dia menonton di stadion bersama Grete. Dia menggenggam erat cakar anjingnya.

Akhirnya, dengan napas tersengal, Grete berbisik: “Keinginanku sederhana—aku ingin seumur hidup menjadi sahabatmu.”

Beberapa saat kemudian, dia menutup mata selamanya.

Epilog

Perpisahan mereka direkam dalam sebuah video berdurasi 15 menit, yang kemudian tersebar luas di internet. Jutaan orang meneteskan air mata, ikut “mengubur” Grete dalam kesedihan sekaligus penghormatan.

Grete telah pergi, tapi cinta dan kesetiaannya tetap hidup—di hati tuannya, Noguchi, dan di hati semua orang yang mendengar kisah ini.

Jika ada yang bertanya apa arti kesetiaan, ingatlah Grete—anjing penyelamat yang setia hingga hembusan napas terakhirnya.(jhn/yn)

300 juta Dolar per Pesawat: Apa yang Menjadikan F-47 Jet Tempur Termahal Saat ini?

EtIndonesia. Boeing telah memulai produksi F-47, pesawat tempur siluman generasi keenam terbaru Angkatan Udara Amerika Serikat. Jet ini merupakan bagian dari program Next Generation Air Dominance (NGAD), yang juga mencakup drone canggih, senjata, sensor, dan sistem peperangan elektronik. Kepala Staf Angkatan Udara, Jenderal David Allvin mengonfirmasi pembaruan tersebut pada konferensi Asosiasi Angkatan Udara & Antariksa 2025, dengan mengatakan bahwa penerbangan perdana direncanakan pada tahun 2028.

Mengapa ini penting?

Presiden Donald Trump mengumumkan pada bulan Maret bahwa Boeing telah memenangkan kompetisi untuk membangun elemen pesawat tempur berawak NGAD. Para pejabat mengatakan F-47 akan memastikan superioritas udara Amerika di masa depan.

“Semua sistem [NGAD] lainnya, bersama dengan F-47, akan memastikan dominasi. Kita harus bergerak cepat … tim berkomitmen untuk menerbangkan yang pertama pada tahun 2028,” kata Jenderal Allvin.

Seberapa rahasia desainnya?

Sejauh ini, hanya ada dua rendering resmi F-47, dan Angkatan Udara telah memperingatkan bahwa rendering tersebut mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan jet aslinya. Sekretaris Angkatan Udara Troy Meink bercanda bahwa analis intelijen Tiongkok kemungkinan sedang mempelajari gambar-gambar tersebut dengan saksama tetapi “tidak akan menemukan sesuatu yang berguna”. Jet tersebut diharapkan memiliki fitur siluman di semua aspek, tanda inframerah yang dikurangi, dan jaringan generasi mendatang untuk mengendalikan drone masa depan.

Apa yang dapat dilakukan F-47?

Menurut Angkatan Udara, pesawat tempur ini akan memiliki:

  • Radius tempur lebih dari 1.000 mil laut, sekitar 25% lebih besar dari jet yang ada saat ini.
  • Kecepatan di atas Mach 2.
  • Potensi kemampuan supercruise, meskipun detailnya masih dirahasiakan.

F-47 juga akan terhubung ke sistem NGAD yang lebih luas, dengan sensor canggih dan tautan data untuk mengelola Pesawat Tempur Kolaboratif nirawak.

Berapa banyak yang akan dibangun, dan berapa biayanya?

Angkatan Udara berencana membeli setidaknya 185 jet, menggantikan F-22 Raptor. Namun, jumlahnya dapat berubah, dan mungkin akan ada beberapa versi seiring waktu. Biaya adalah pertanyaan besar. Perkiraan menunjukkan setiap F-47 bisa tiga kali lipat harga F-35, lebih dari 300 juta dolar per pesawat.

Para pejabat mengatakan laju ini didorong oleh persaingan dengan Tiongkok.

“Musuh tidak mau menyerah. Kita tidak boleh terpikat dengan platform, sistem yang menghubungkan merekalah yang membuatnya berhasil,” Jenderal Allvin memperingatkan. (yn)

Perpustakaan Unta

EtIndonesia. Namanya Sahara—seorang bocah laki-laki yang bahkan tak tahu bahwa namanya sama dengan padang pasir terbesar di dunia. Dia pun tak sadar bahwa dirinya benar-benar sedang hidup di tengah gurun Sahara.

Setiap kali matahari menyinari bukit pasir, Sahara berlari menuju sebuah cekungan yang jauh, berharap melihat dua ekor unta yang pernah dia kenal. Tapi hampir setahun berlalu, pemandangan itu tak kunjung datang.

Meski begitu, Sahara tidak menyerah. Dia tetap menunggu di sana, duduk di atas tanah yang agak datar, membuka sebuah buku lusuh tanpa sampul, dan membacanya berulang kali. Padahal, isi buku itu sudah ia hafal luar kepala.

Tak ada yang memberitahunya bahwa buku itu berjudul “Menunggu Godot”—sebuah kisah tentang penantian yang tak pernah pasti. Dan begitulah Sahara: dia juga sedang menunggu, dengan hasil yang sama samar, seolah-olah dia sendiri adalah tokoh dalam buku itu.

Jejak Perpustakaan Unta

Dulu, setiap Selasa pagi, dua ekor unta itu akan berhenti di sebuah bukit pasir bernama Tali. Di punggung mereka, berderet peti-peti berisi buku. Mereka adalah milik Wycliffe Olych, pendiri Perpustakaan Unta.

Bagi anak-anak desa, Olych bagaikan tokoh legendaris. Dia mengajarkan: bacalah di tempat, lalu kembalikan, agar buku tidak hilang. Tak ada yang membantah, sebab semua anak sadar, buku-buku itu adalah jendela mereka untuk melihat dunia.

Namun Sahara berbeda. Cintanya pada buku begitu besar hingga suatu sore, saat Olych hendak pergi bersama untanya, dia memberanikan diri mengulurkan tangan. Dengan suara bergetar ia berjanji: “Izinkan aku meminjam satu buku. Minggu depan, aku akan mengembalikannya dengan tanganku sendiri.”

Olych terdiam lama, lalu tersentuh oleh kesungguhan anak itu. Dia menyerahkan sebuah buku, menepuk pundak Sahara dan berkata: “Ingatlah, Perpustakaan Unta adalah harapan suku kita. Banyak anak seperti dirimu yang ingin membaca, agar gurun ini tidak hanya luas dan tandus, tapi juga punya cahaya pengetahuan.”

Sejak itu, meski buku yang dia pegang tak bersampul, Sahara menjaganya bagai harta karun.

Dia selalu mengingat semboyan: “Sahara tidak menakutkan. Yang menakutkan adalah Sahara tanpa budaya.”

Penantian yang Panjang

Namun hidup sering berjalan tak sesuai harapan. Tiga hari setelah dia meminjam buku, seluruh suku harus pindah mendadak. Sahara menangis, memeluk buku erat-erat, tak rela pergi. Tapi tangan kuat ayahnya menyeretnya menjauh.

Bertahun-tahun, dia mencoba mencari kembali Perpustakaan Unta, tapi luasnya padang pasir membuat usahanya sia-sia. Hingga setahun kemudian, ketika sukunya kembali lagi ke tempat semula, hal pertama yang dia lakukan adalah berlari ke bukit Tali. Dia menunggu lama… tapi suara lonceng unta tak pernah terdengar lagi.

Seperti tokoh dalam Menunggu Godot, dia terus bertahan dengan keyakinan yang bagi orang lain tak masuk akal. Sesuatu yang begitu sederhana, tapi justru membuat dunia terhenyak.

Dari Sahara untuk Dunia

Seorang pelancong akhirnya menulis kisah Sahara dan Perpustakaan Unta di Los Angeles Times. Cerita itu mengguncang dunia.

Media internasional berlomba meliput. Relawan membawa ribuan buku dan puluhan unta menuju Tali. Perpustakaan Unta yang dulu kecil kini menjelma besar.

Buku tanpa sampul berjudul Menunggu Godot itu pun menjadi semacam “ikon suci”, simbol kesetiaan dan dahaga ilmu pengetahuan di tengah gurun pasir.

Warisan Pengetahuan

Tahun demi tahun berlalu. Sahara tumbuh, dari seorang pembaca kecil menjadi pengelola Perpustakaan Unta. Kini, setiap kali ada anak yang datang meminjam buku, dia selalu mengucapkan kalimat yang dulu dia dengar dan dia hayati dalam hidupnya: “Jangan biarkan Sahara selamanya menjadi gurun budaya.”

Kisah Sahara mengajarkan kita: kadang, pengetahuan datang lewat jalan yang sederhana—bahkan lewat punggung seekor unta. Tapi dia mampu mengubah padang pasir tandus menjadi taman harapan. (jhn/yn)

Gangguan atau Sabotase? Dari Erdogan Hingga Prabowo Subianto, Para Pemimpin Dunia Mengalami Gangguan Mikrofon Saat Mengangkat Isu Palestina dan Gaza di PBB

EtIndonesia. Serangkaian gangguan teknis di Perserikatan Bangsa-Bangsa membuat para pemimpin dunia kesulitan didengar saat mereka berpidato di Majelis Umum tentang Gaza dan kenegaraan Palestina.
Gangguan mikrofon mengganggu pidato Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, dan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Staf PBB kemudian mengatakan gangguan tersebut disebabkan oleh kerusakan peralatan di aula Majelis Umum, menekankan bahwa “tidak ada indikasi” adanya gangguan yang disengaja.

Apa yang terjadi pada Prabowo Subianto di tengah pidatonya?

Pada hari Selasa, Presiden Indonesia, Prabowo Subianto sedang menguraikan rencana untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Gaza ketika mikrofonnya tiba-tiba mati. Penerjemah tidak dapat melanjutkan hingga siaran kembali beberapa detik kemudian.

Peringatan Erdogan tentang Gaza dipersingkat

Beberapa jam sebelumnya, Presiden Turki, Erdogan mengecam apa yang disebutnya “genosida di Gaza” oleh Israel dan mendesak pengakuan segera atas Palestina ketika rekaman audionya gagal.

Para delegasi sempat mendengar penerjemah berkata: “Tidak bisa mendengar Presiden, suaranya hilang.” Suara itu kembali terdengar tak lama kemudian, tetapi kebingungan menyebar di aula.

Pengakuan Kanada atas Palestina disambut sorak sorai, lalu hening

Kekacauan paling dramatis terjadi ketika Perdana Menteri Kanada, Mark Carney secara resmi mengakui Negara Palestina.

Pernyataannya: “Dalam konteks ini, Kanada mengakui negara Palestina,” disambut tepuk tangan meriah dari para delegasi. Beberapa saat kemudian, mikrofonnya mati total, menimbulkan pertanyaan tentang waktu terjadinya gangguan tersebut.

Seorang delegasi kemudian berkomentar: “Pengakuan itu terdengar keras dan jelas, meskipun mikrofonnya tidak.”

Mengapa status negara Palestina mendominasi sidang PBB?

Sidang Umum tahun ini didominasi oleh seruan untuk pengakuan Palestina dan tindakan segera terkait Gaza. Prancis, Belgia, Malta, Luksemburg, dan Kanada telah bergabung dengan daftar negara yang terus bertambah yang memberikan pengakuan, dengan Presiden Emmanuel Macron mengatakan: “Hari ini, Prancis mengakui negara Palestina.”

Israel telah menolak langkah tersebut, dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan,: “Negara Palestina tidak akan didirikan di sebelah barat Sungai Yordan.” AS juga menentang pengumuman tersebut, dengan Gedung Putih memperingatkan bahwa pengakuan tersebut akan dipandang sebagai “hadiah bagi Hamas.”

Meskipun terdapat masalah audio, momentum untuk kenegaraan Palestina telah meningkat pesat, dengan sekitar 150 negara kini mendukung pengakuan. Inggris, Prancis, Kanada, dan negara-negara lain telah mengubah posisi mereka dalam beberapa bulan terakhir, sementara Jepang telah mengisyaratkan keputusannya sendiri akan segera diambil.(yn)

Kisah di Balik Lagu  Any Empty Wine Bottles for Sale, Sungguh Mengharukan 

EtIndonesia. Pada tahun 1980-an, lagu “酒干倘卖无” (Any Empty Wine Bottles for Sale) yang berarti “Ada botol kosong untuk dijual?” dalam bahasa Hokkien Taiwan—menyebar dari Taiwan ke seluruh dunia berbahasa Mandarin. Lagu ini bukan hanya sebuah karya musik, tapi lahir dari kisah nyata yang mengharukan.

Seorang Kakek Pincang dan Seorang Anak Yatim

Ada seorang kakek pincang, tuli sekaligus bisu. Dia hidup sebatang kara, hanya bisa mengais nafkah dengan mengumpulkan botol-botol bekas untuk dijual. Hidupnya sudah cukup pahit, sampai suatu hari dia menemukan seorang bayi perempuan yang ditelantarkan di jalan.

Bayi itu seperti hadiah dari langit. Dia membawa pulang anak itu, merawatnya dengan hasil jerih payah dari menjual botol kosong. Dia membeli susu bubuk murah, dengan susah payah membuat bayi itu tetap hidup.

Ketika gadis kecil itu berusia enam tahun, Dia memungut seekor anak anjing kurus, lalu menamainya Wangcai (Si Beruntung). Sejak itu, rumah botol itu dihuni tiga jiwa: seorang kakek bisu-tuli, seekor anjing setia, dan seorang anak kecil yang polos.

Gadis Kecil dengan Suara Indah

Sang gadis tumbuh dalam timbunan botol bekas, namun juga tumbuh dengan suara merdu. Suaranya yang lantang menjadi “mulut” bagi sang ayah angkat yang bisu.

Setiap pagi, dia akan menggandeng kakeknya yang bertongkat, lalu berteriak di jalan:
“酒干倘卖无!酒干倘卖无!”  (Ada botol kosong untuk dijual?)

Begitulah, hidup keras tapi penuh kasih sayang itu berjalan.

Cinta dan Perubahan Hidup

Gadis itu tumbuh dewasa. Dia jatuh cinta pada seorang penulis lirik muda. Laki-laki itu miskin, namun tulus mencintainya. Dia menulis lagu-lagu untuk sang gadis, mengajaknya masuk ke dunia seni, dan selalu menghormati kakek tua itu—setiap berkunjung dia membantu mengangkut botol, berbicara dengan bahasa isyarat, bahkan bercanda dengan anjing Wangcai.

Namun, ketika gadis itu akhirnya terkenal, hidupnya berubah total. Rumah besar, mobil mewah, dan para penggemar mengelilinginya. Dia masih mencintai kekasihnya, tetapi mulai merasa malu terhadap asal-usulnya—terutama kakek bisu-tuli yang dianggapnya “aib.”

Luka yang Tak Terobati

Dia meminta kekasihnya untuk tidak kembali ke “rumah botol.” Tetapi pemuda itu menolak, tetap setia mengunjungi sang kakek. Perlahan-lahan, gadis itu semakin sibuk, semakin jauh.

Suatu hari, kakek rindu pada “putrinya,” lalu memohon agar dibawa menemuinya. Tetapi bahkan belum sempat masuk ke gedung konser, dia sudah diusir oleh penjaga. Hatinya hancur.

Gadis itu akhirnya memberikan sejumlah uang, menyuruh kakek “jangan mengganggu lagi.” Namun sang kakek tak mau menerima. Dia hanya meninggalkan sekantong kecil kacang pinus—makanan kesukaan putrinya sejak kecil—lalu pergi dengan mata berkaca-kaca.

Tragedi di Jalan

Kekasih sang gadis marah, menegurnya, tapi jarak di antara mereka terlalu besar—akhirnya mereka berpisah. Tak lama, kakek jatuh sakit karena rindu. Pemuda itu memohon pada gadis agar pulang menengok, tapi dia menolak.

Mengetahui jadwal konser gadis itu, kakek memutuskan untuk datang diam-diam. Dia berjalan tertatih dengan tongkat. Namun, di jalan, sebuah truk melaju kencang. Saat maut hampir merenggut kakek, anjing Wangcai mendadak melompat, mendorong tuannya menjauh, dan dirinya sendiri tewas tergilas.

Lagu Terakhir

Mendengar kabar itu, sang penulis lirik hancur hatinya. Dia begadang semalam suntuk, menuliskan sebuah lagu terakhir untuk gadis itu. Dia tahu tubuhnya yang sakit-sakitan takkan lama lagi. Dengan sisa tenaga, dia menulis kata-kata yang menggetarkan hati—sebuah nyanyian tentang kasih sayang seorang ayah yang bisu, namun mencintai anaknya sepenuh hidup.

Tak lama setelah menulis lagu itu, pemuda itu meninggal dunia. Gadis itu menerima lembaran kertas terakhir darinya, dengan lirik:

“Kalau bukan engkau yang membesarkanku, memberiku rumah, melindungiku… nasibku akan jadi apa? Walau kau tak bisa bicara, cintamu selalu nyata. Walau kau tak pandai mengungkapkan perasaan, hidupmu telah kau berikan untukku…”

Kesadaran yang Terlambat

Membaca lirik itu, gadis itu baru tersadar. Semua kenangan menyerbu: timbunan botol, keringat ayah angkatnya, sekantong kacang pinus, anjing Wangcai yang setia… Air matanya jatuh tak terbendung.

Di panggung, dia akhirnya menyanyikan lagu itu untuk pertama kali—《酒干倘卖无》. Suaranya pecah penuh emosi. Seluruh penonton menangis. Di atas panggung, dia menceritakan asal-usulnya.

Kemudian, dia berlari ke rumah sakit untuk menemui ayah angkatnya. Sang kakek, dengan tubuh lemah, hanya mampu meneteskan air mata bahagia, tersenyum, lalu menutup mata untuk selamanya. Gadis itu meraung, menjerit, memeluk tubuh yang telah dingin—menyesal yang takkan pernah tertebus.

Pesan di Balik Kisah

Inilah kisah di balik “酒干倘卖无”—lagu tentang kasih sayang yang tak bisa diukur dengan harta.

“Tanpa ayah dan ibu, takkan ada kita.”

Mungkin orangtua kita tidak memberi harta berlimpah atau hidup serba nyaman. Tapi mereka memberi segalanya yang mereka punya—waktu, tenaga, cinta, bahkan hidupnya.

Marilah kita mencintai orang tua selagi mereka masih ada. Karena rasa terima kasih itu tak akan pernah cukup, bahkan seumur hidup sekalipun.(jhn/yn)

Ibu yang Dicap “Gila”

EtIndonesia. 23 tahun yang lalu, seorang wanita muda yang terlunta-lunta datang ke desa kami. Rambutnya kusut, wajahnya kotor, dan dia selalu menyeringai bodoh kepada siapa pun yang ditemuinya. Bahkan, dia tidak malu untuk buang air kecil di depan umum.

Para wanita di desa sering menghina dia—ada yang meludahinya, ada pula yang menendangnya sambil berteriak: “Pergi jauh sana!” Namun dia tidak pernah benar-benar pergi, hanya terus berkeliling di desa dengan senyumannya yang kosong.

Pernikahan yang Dipaksakan

Saat itu, ayah saya berusia 35 tahun. Dia pernah bekerja di tambang batu, namun kehilangan tangan kirinya karena mesin. Karena miskin, dia belum pernah menikah.

Nenek, melihat perempuan gila itu meski lusuh tapi masih memiliki rupa, timbul niat: dia ingin menjadikannya menantu, agar bisa melahirkan cucu laki-laki untuk “meneruskan keturunan.” Setelah itu, katanya, baru wanita itu diusir.

Ayah jelas tidak rela, tapi melihat kondisi keluarga yang miskin, dia hanya bisa menggertakkan gigi dan setuju. Begitulah, tanpa mengeluarkan sepeser pun, ayah saya menjadi pengantin pria.

Lahirnya Saya

Ketika saya lahir, nenek menggendong saya dengan senyum sumringah meski giginya sudah tinggal beberapa. Dia berkata penuh kegembiraan: “Wanita gila ini ternyata memberiku cucu laki-laki.”

Namun sejak detik pertama, nenek tak pernah membiarkan ibu menyentuh saya.

Ibu, meski dengan pikiran tidak stabil, selalu berusaha meminta: “Beri… beri aku… (menggendong).” 

Tapi nenek menolak mentah-mentah.

“Jangan harap bisa menggendong anak ini. Kalau ketahuan kau mencurinya, kupukul mati! Kalau tidak, kuusir dari rumah!”

Ibu paham ancaman itu, wajahnya penuh ketakutan. Akhirnya dia hanya bisa memandang saya dari jauh. Meski dadanya penuh ASI, saya tidak pernah menyusu padanya. Setiap hari, nenek menyuapi saya dengan sendok kecil.

Nenek bahkan berkata: “Air susunya penuh penyakit gila. Kalau ketularan, bagaimana nanti?”

Hidup Makin Sulit

Rumah kami semakin miskin setelah ada saya dan ibu. Nenek merasa ibu hanya “makan gratis” dan sesekali menimbulkan masalah.

Suatu hari, nenek memasak nasi banyak, lalu memberinya semangkuk penuh:

“Menantu, rumah ini terlalu miskin. Maafkan aku. Setelah habis semangkuk ini, pergilah cari keluarga kaya untuk hidup. Jangan kembali lagi, ya?”

Ibu terkejut, nasi di mulutnya mendadak terhenti. Dia menoleh pada saya yang berada di pelukan nenek, lalu dengan suara terbata-bata berkata: “Tidak… jangan…”

Nenek langsung berubah wajah: “Kamu ini keras kepala! Dari awal kamu cuma pengembara, aku sudah menampungmu dua tahun. Sekarang pergilah. Kalau membangkang, tak ada baiknya untukmu!”

Nenek menggebrak tanah dengan cangkul, suaranya keras membuat ibu gemetar.

Permintaan yang Mengharukan

Ibu menunduk menatap mangkuk nasi. Air matanya menetes jatuh ke nasi putih. Lalu dia melakukan hal yang mengejutkan: dia membagi setengah nasi ke mangkuk kosong di sebelah, seolah berkata: “Aku cukup makan setengah saja, asal jangan usir aku.”

Nenek tersentak. Dia tahu, ibu sedang memohon agar tetap diizinkan tinggal.

Namun dengan hati yang keras, nenek tetap bersikap dingin: “Makanlah cepat, lalu pergilah. Di rumah ini kamu akan mati kelaparan.”

Ibu akhirnya bangkit, terhuyung keluar rumah. Tapi dia berdiri lama di depan pintu, enggan pergi. 

Nenek kembali mengusir: “Pergi! Jangan kembali. Dunia ini penuh keluarga kaya, kenapa masih bertahan di sini?”

Namun alih-alih pergi, ibu mendekat dan mengulurkan tangannya ke arah pelukan nenek. Dia hanya ingin menggendong saya sekali saja.

Nenek ragu sejenak, lalu menyerahkan saya kepadanya. Untuk pertama kali, ibu memeluk saya erat-erat. Wajahnya tersenyum lebar, seakan dunia seketika terang. Nenek, khawatir, tetap menopang saya dari bawah, takut kalau tiba-tiba ibu “kumatan.”

Tiga menit kemudian, nenek buru-buru merebut saya kembali, masuk ke rumah, dan menutup pintu.

Saat Saya Menyadari

Ketika saya mulai besar, saya sadar saya tidak punya ibu di sisi. Ayah dan nenek selalu berkata: “Ibumu sudah meninggal.”

Namun teman-teman mengejek saya: “Ibumu itu gila, diusir nenekmu.”

Saya marah, menuntut nenek agar “mengembalikan ibu saya.” Saya bahkan menyebut nenek “nenek serigala” dan menumpahkan makanan yang diberikannya.

Waktu itu saya belum paham apa arti “gila.” Saya hanya tahu, saya sangat merindukan ibu: bagaimana rupanya? Apakah masih hidup?

Tak disangka, ketika saya berusia enam tahun—setelah lima tahun menghilang—ibu kembali.

Pertemuan yang Mengecewakan

Hari itu, teman-teman berlari memberi kabar: “Xiaoshu, cepat keluar! Ibumu kembali. Ibumu yang gila itu kembali!”

Saya sangat gembira, langsung berlari keluar bersama ayah dan nenek.

Saya melihat seorang wanita lusuh duduk di batu besar dekat lumbung padi desa. Rambutnya kusut, tubuhnya berbau, bajunya robek. Di tangannya ada balon kotor.

Ketika melihat saya, matanya langsung berbinar. Dia berdiri, berteriak terbata: “Xiaoshu… bola… bola!” Sambil mengulurkan balon itu untuk saya.

Namun saya justru mundur selangkah demi selangkah. Saya kecewa. Sosok yang saya impikan ternyata seperti ini.

Teman-teman mengejek: “Sekarang kamu tahu kan, orang gila itu seperti apa? Itulah ibumu.”

Saya marah, tapi pada akhirnya berteriak: “Bukan ibuku! Aku tidak mau ibu gila!”

Lalu saya berlari pergi.

Hidup Bersama Lagi

Ayah dan nenek justru membawa ibu kembali ke rumah. Setelah mengusirnya dulu, hati nenek semakin diliputi penyesalan seiring bertambah tua. Kini dia tidak sanggup lagi mengeraskan hati, dan memutuskan membiarkan ibu tinggal.

Namun bagi saya, keberadaan ibu membuat saya malu. Saya tidak pernah menyapanya, tidak pernah memanggilnya “ibu.” Jika berbicara, selalu dengan teriakan. Dan dia, tidak pernah membantah.

Di rumah, nenek memutuskan ibu tidak boleh “makan gratis.” Dia melatih ibu mengerjakan pekerjaan remeh. Saat turun ke ladang, nenek mengajak ibu ikut “mengamati,” dan memperingatkan: kalau tidak patuh, akan dipukul.

Beberapa waktu kemudian, merasa latihannya sudah cukup, nenek menyuruh ibu pergi sendirian untuk memotong rumput babi. Tak disangka, hanya setengah jam kemudian ibu sudah kembali dengan dua keranjang “rumput babi.” Begitu melihat, nenek panik—yang ibu potong ternyata padi milik orang, yang sedang berbulir! Nenek memaki: “Perempuan gila, rumput dan padi saja tak bisa bedakan!”

Saat nenek masih memikirkan cara menyelesaikan masalah, pemilik sawah datang dan menuduh nenek sengaja menyuruh. Nenek naik pitam, mengangkat tongkat dan menghajar ibu di pinggang: “Kubunuh kamu, perempuan gila! Minggat jauh-jauh!”

Meski gila, rasa sakit tetap terasa. Ibu meloncat-loncat menghindari pukulan, mulutnya merintih, “Jangan… jangan…” 

Akhirnya, si pemilik sawah tak tega: “Sudahlah, kami tak menuntut. Lain kali diawasi ketat saja.”

Setelah keributan reda, ibu duduk tersungkur sambil terisak. Aku memandang rendah dan berkata: “Rumput sama padi saja tak bisa bedakan—kau benar-benar seperti babi.” 

Belum selesai, tengkukku terasa panas—sebuah tamparan mendarat. 

Nenek membentak: “Anak kurang ajar! Bagaimanapun juga, dia ibumu!” 

Aku mencibir: “Aku tidak punya ibu sebodoh dan segila itu!”

“Semakin menjadi-jadi! Kubikin kamu kapok!” Nenek mengangkat tangan lagi. 

Seketika, ibu bangun dari tanah, berdiri di antara aku dan nenek. Dia menunjuk kepalanya sendiri, sambil berulang: “Pukul aku… pukul aku…”

Saat itu aku mengerti: ibu menyuruh nenek memukul dirinya, jangan aku. Tangan nenek pun turun perlahan. 

Dia bergumam: “Perempuan gila ini… ternyata juga tahu sayang anaknya.”

Tak lama setelah aku masuk sekolah, ayah dipekerjakan untuk menjaga kolam ikan di desa sebelah, bergaji 50 yuan sebulan. Ibu tetap keluar bekerja di bawah arahan nenek—terutama mencari rumput babi—dan sejak itu tak lagi membuat masalah besar.

Payung di Hari Hujan

Suatu hari musim dingin, saat aku kelas 3 SD, hujan turun mendadak. Nenek menyuruh ibu mengantarkan payung. Sepertinya di sepanjang jalan ibu beberapa kali terpeleset; tubuhnya belepotan lumpur layaknya monyet tanah. Dia berdiri di jendela kelas, menatapku sambil senyum bodoh dan gagap memanggil: “Shu… payung…”

Beberapa teman tertawa-tawa. Aku gelisah, marah, malu—benci karena dia “tidak tahu diri” dan membuatku kehilangan muka—lebih benci lagi pada Fan Jiaxi yang menertawakan paling keras. Saat dia terus mengejek, aku melemparnya dengan kotak pensil, tapi dia menghindar dan mencekik leherku. Kami bergumul; tubuhku kecil, mudah sekali dihempaskan.

Tiba-tiba, dari luar kelas terdengar pekikan panjang. Ibu berlari seperti pendekar, menyambar Fan Jiaxi dan menyeretnya ke luar. Kata orang, orang gila tenaganya besar—ternyata benar. Ibu mengangkatnya tinggi-tinggi. Fan ketakutan, kaki gempalnya menendang-nendang di udara. Ibu tak peduli—dia melemparkan anak itu ke kolam di depan gerbang sekolah, lalu berjalan pergi dengan wajah datar.

Ibu menimbulkan masalah besar untukku—namun di hadapanku, dia kembali berwajah takut, menatapku dengan penuh hati-hati, seakan minta maaf. Saat itu aku paham: itulah cinta seorang ibu. Sekalipun pikirannya kabur, cintanya pada anak tetap jernih—karena anaknya dirundung orang.

Tanpa sadar aku berseru: “Ibu!”—pertama kalinya seumur hidup. Ibu tergetar, memandangku lama, lalu pipinya memerah seperti anak kecil; dia menyeringai malu-malu, tertawa bodoh. Hari itu, untuk pertama kalinya kami pulang berdua di bawah satu payung.

Di rumah, kuceritakan semuanya pada nenek. Nenek sampai terjengkang di kursi, buru-buru menyuruh orang memanggil ayah. Begitu ayah masuk, sekelompok pria bertubuh kekar membawa senjata tajam menerobos rumah kami. Mereka menghancurkan panci, piring—rumah serasa diguncang gempa. Itulah orang-orang suruhan ayah Fan Jiaxi. Dengan garang dia menuding ayahku: “Anakku syok saraf, sedang terbaring di klinik. Kalau kamu tak keluarkan seribu yuan untuk biaya, kubakar rumahmu!”

Seribu yuan? Gaji ayah hanya lima puluh!

Tatapan ayah memerah. Dia menoleh ke ibu, melepas sabuk dari pinggang, lalu menghajarnya tanpa ampun. Sabetan demi sabetan—ibu melompat seperti tikus ketakutan, seperti hewan buruan yang tersudut, menjerit-jerit. Suara sabuk yang menghantam tubuhnya—jernih, menyayat—takkan pernah kulupa.

Akhirnya, kepala kantor polisi datang dan menghentikan ayah. Hasil mediasi: kerugian dianggap saling meniadakan; siapa pun yang berulah lagi akan ditangkap.

Setelah semua pergi, ayah memandangi pecahan piring dan tubuh ibu yang penuh luka lebam. Dia tiba-tiba memeluk ibu dan menangis: “Perempuan gila… bukan karena aku tega memukulmu. Kalau aku tak memukulmu, urusan ini tak akan selesai—kita tak punya uang membayar. Semua ini gara-gara kemiskinan!” 

Lalu ayah menatapku: “Shu, kau harus belajar sungguh-sungguh, kuliah setinggi-tingginya. Kalau tidak, kita akan diinjak orang seumur hidup!”

Aku mengangguk, mulai mengerti.

Jalan Panjang Ibu

Musim panas tahun 2000, aku diterima di SMA favorit. Nenek, yang kelelahan seumur hidup, meninggal. Hidup kami kian sulit. Dinas Sosial Enshi memasukkan keluarga kami sebagai keluarga sangat miskin, memberi tunjangan 40 yuan per bulan. Sekolah juga mengurangi sebagian biaya, sehingga aku bisa terus belajar.

Karena tinggal di asrama dan belajar ketat, aku jarang pulang. Ayah masih bekerja dengan gaji 50 yuan. Tugas mengirim sayuran ke asrama jatuh pada ibu. Biasanya bibi tetangga membantu menyiapkan sayur asin, lalu menitipkannya untuk dibawa ibu. Jalan setapak pegunungan sepanjang 20 kilometer, berliku-liku—anehnya, ibu menghafalnya tanpa salah, hujan maupun angin. Benar-benar ajaib: untuk urusan menyangkut anaknya, ibu sama sekali tidak “gila.” Selain cinta seorang ibu, aku tak tahu bagaimana ilmu kedokteran menjelaskannya.

Tanggal 27 April 2003, hari Minggu, ibu datang lagi. Selain membawa sayuran, dia membawakan belasan buah persik liar. Aku menggigit satu, manis sekali.

“Dari mana?” tanyaku. 

“Aku… memetiknya…” jawabnya. 

Ternyata ibu bisa memetik persik.

 Aku memujinya tulus: “Ibu, kamu makin hebat.”

 Ibu terkekeh senang.

Sebelum pulang, seperti biasa, kuingatkan agar hati-hati di jalan. Dia mengiyakan. Keesokan harinya saat pelajaran berlangsung, bibiku datang tergesa-gesa memanggilku keluar kelas

“Ibumu sudah pulang?” tanyanya. 

“Sudah, kemarin,” jawabku.

 “Belum,” kata bibi. “Sampai sekarang belum sampai rumah.”

Dadaku mencelos. Masak ibu bisa salah jalan? Dia sudah tiga tahun menempuh rute itu. 

“Dia bilang apa kemarin?” 

“Tidak. Hanya membawakan persik liar,” jawabku.

 Bibi menepuk tangan: “Celaka! Mungkin gara-gara persik itu.”

Bibi mengurus izinku, lalu kami menelusuri jalan pulang. Di sepanjang jalur memang ada beberapa pohon persik liar, dan karena tumbuh di tebing, masih ada buah yang tersisa. Kami melihat satu pohon dengan dahan patah. Di bawahnya—jurang curam.

“Turun ke bawah tebing,” kata bibi. “Jangan takutkan aku…” suaraku gemetar. Bibi menarik tanganku, kami menuruni lembah.

Ibu terbaring diam di dasar jurang. Di sekelilingnya berserakan buah persik; satu masih dia genggam erat. Darah di tubuhnya sudah menghitam, mengeras. Dadaku seperti diremuk. 

Aku memeluknya, meraung: “Ibu… Ibu malangku… Anak ini tak seharusnya bilang persiknya manis… Akulah yang membuat Ibu seperti ini… Ibu belum menikmati sehari pun kebahagiaan…”

Kupeluk wajahnya yang dingin, dan rasanya seluruh batu gunung pun ikut menangis.

Surat Emas yang Terlambat

7 Agustus 2003, tepat 100 hari setelah pemakaman ibu, surat penerimaan bersegel emas dari Universitas Hubei melintasi jejak yang pernah ditempuh ibu, melewati pohon-pohon persik liar, melintasi lantai jemur padi di depan desa, dan “terbang” masuk ke rumah kami.

Kukibaskan debu, lalu kuselipkan surat itu di nisan sunyi ibu: “Ibu, anakmu berhasil. Ibu dengar, kan? Ibu bisa tersenyum tenang sekarang di alam sana.” (jhn/yn)

Serangan Terhadap Kapal Cepat Narkoba di Lepas Pantai Dominika, Maduro Berharap Bisa Berdialog dengan Trump

EtIndonesia. Setelah beberapa kali militer AS menyerang kapal yang dicurigai menyelundupkan narkoba di perairan Venezuela, kini operasi pemberantasan narkoba juga diperluas ke Laut Karibia dengan menghantam sebuah kapal cepat yang kemungkinan besar berangkat dari Venezuela. Sementara itu, pada 21 September, pemerintah Venezuela mengumumkan bahwa Presiden Nicolás Maduro telah mengirim surat kepada Presiden AS Donald Trump, menyerukan agar kedua pihak membuka dialog.

Menurut laporan AFP, Kepala Badan Pengendalian Narkotika Dominika (DNCD) bersama juru bicara Kedutaan Besar AS mengumumkan operasi tersebut pada konferensi pers 21 September.

Juru bicara DNCD, Carlos Devers, menyatakan bahwa target serangan kali ini adalah sebuah kapal cepat yang mengangkut 1.000 kilogram kokain. Kapal itu dihantam ketika berada sekitar 80 mil laut dari Pulau Beata, Dominika.

Juru bicara pihak AS menambahkan bahwa inilah operasi yang pertama kali disebutkan Presiden Trump pada 19 September, meski saat itu ia tidak menyebutkan lokasi.

Trump mengatakan pada 19 September bahwa militer AS menghancurkan sebuah kapal penyelundup narkoba di laut lepas, menewaskan tiga orang, namun ia tidak menyebutkan Venezuela.

Dalam operasi kali ini, pihak AS memilih langsung menyerang dan menghancurkan kapal penyelundup, alih-alih menaiki kapal untuk menangkap awak seperti biasanya. Menurut sumber yang mengetahui situasi, kapal cepat itu kemungkinan besar berasal dari Venezuela.

Sebelumnya, militer AS telah beberapa kali menyerang kapal yang dicurigai menyelundupkan narkoba di lepas pantai Venezuela. Hingga kini, AS mengkonfirmasi bahwa dalam tiga serangan terakhir di Laut Karibia, lebih dari 10 orang tewas.

AS juga telah menempatkan armada kecil di perairan Venezuela dengan alasan untuk memberantas penyelundupan narkoba. Setelah pemerintah Trump mengerahkan 10 jet siluman F-35 untuk operasi ini, pada 13 September, lima di antaranya terlihat mendarat di Puerto Rico, wilayah AS.

Maduro Berharap Bisa Berdialog dengan Trump, Venezuela Gelar Latihan Militer Sipil

Seiring meningkatnya ketegangan akibat operasi pemberantasan narkoba, pada 21 September pemerintah Venezuela mengumumkan bahwa Presiden Nicolás Maduro pada 6 September lalu telah mengirim surat kepada Presiden Trump. Dalam surat itu, Maduro membantah tuduhan AS yang menyebut dirinya sebagai gembong narkoba, sekaligus menyerukan agar Trump membuka dialog.

Surat itu dikirim beberapa hari setelah AS mengerahkan kapal perang untuk menyerang kapal Venezuela yang diduga mengangkut narkoba, yang menewaskan 11 orang. Setelahnya, dua insiden serupa kembali terjadi.

Setelah surat itu dikirim, militer AS kembali menyerang dua kapal yang menurut Washington mengangkut narkoba, satu di perairan Venezuela dan satu lagi di lepas pantai Dominika.

Sebagai respons terhadap pengerahan militer AS di Karibia, pada 21 September Venezuela menggelar latihan militer satu hari untuk warga sipil.

Di kawasan padat penduduk Petare, Caracas, jalan utama ditutup untuk memberikan pelatihan taktis singkat kepada warga. Setelah ribuan sukarelawan dilatih di barak militer dalam seminggu terakhir, Maduro memerintahkan militer masuk ke komunitas untuk memperluas mobilisasi. Namun, kekuatan yang ditampilkan kali ini relatif terbatas—di ibu kota hanya terlihat sekitar 25 kendaraan lapis baja, dan jumlah peserta latihan juga lebih sedikit.

Latihan juga digelar di pinggiran Caracas, tetapi menurut pengamatan jurnalis AFP, jumlah pesertanya tetap tidak banyak.

Selain itu, Venezuela juga melaksanakan latihan militer tiga hari di Pulau La Orchila, Laut Karibia, sebagai respons terhadap ancaman dari armada AS yang terdiri atas tujuh kapal perang dan satu kapal selam nuklir. (***)

Sumber : NTDTV.com

Pengakuan Palestina Jadi Bola Api: Inggris Diguncang Tuntutan, Italia Rusuh, Israel Ancam

EtIndonesia. Sidang Majelis Umum PBB ke-80 resmi dibuka di New York pada 22–30 September dengan agenda utama membahas perdamaian Timur Tengah, khususnya isu pembentukan negara Palestina. Namun, momen ini langsung diguncang dinamika diplomatik yang mengejutkan.

Inggris dan Sekutu Barat Akui Palestina

Pada 21 September 2025, Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal secara resmi mengumumkan pengakuan atas Negara Palestina. Keputusan ini langsung memicu protes keras dari Israel dan Presiden Amerika, Serikat Donald Trump.

Langkah tersebut menambah daftar panjang negara yang mendukung Palestina—hingga kini 144 negara anggota PBB telah mengakui Palestina, sementara sekitar 46 negara termasuk AS, Israel, Jerman, dan Italia tetap menolak. Analis memperkirakan Prancis dan Belgia akan segera mengikuti jejak Inggris, yang bisa menambah tekanan internasional terhadap Israel.

Namun, hanya beberapa jam setelah pengumuman Inggris, Otoritas Palestina menuntut kompensasi sebesar £2 triliun (sekitar Rp40.000 triliun) sebagai ganti rugi atas “hilangnya tanah dan penderitaan rakyat Palestina” selama periode mandat Inggris di Palestina (1917–1948). Tuntutan ini langsung menambah ketegangan baru dalam diplomasi global.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menanggapi tegas: “Negara Palestina tidak akan pernah ada. Pengakuan ini adalah hadiah besar bagi ekstremisme.”

Washington sejalan dengan Tel Aviv. Gedung Putih menyebut langkah sekutu Barat itu sebagai “hadiah diplomatik untuk Hamas.” Sebaliknya, Inggris dan Kanada menegaskan bahwa pengakuan Palestina dimaksudkan untuk membuka jalan menuju perdamaian abadi dan solusi dua negara.

Protes di Italia

Di Italia, kebijakan Perdana Menteri Giorgia Meloni yang menolak pengakuan Palestina justru memicu kerusuhan besar pada 21 September 2025 malam. Ribuan demonstran pro-Palestina turun ke jalan di Milan. Bentrokan pecah di sekitar Stasiun Pusat Milan, memaksa polisi antihuru-hara menggunakan gas air mata dan water cannon. Puluhan orang dilaporkan terluka, termasuk aparat kepolisian.

Hubungan Israel–Tiongkok Memburuk

Seiring memanasnya isu Palestina, hubungan bilateral Israel–Tiongkok juga mengalami guncangan. Pada 22 September, beredar video pekerja konstruksi asal Tiongkok yang ditolak masuk ke lokasi proyek di Tel Aviv. Mereka bahkan dijaga ketat oleh polisi Israel, memperlihatkan tanda-tanda keretakan hubungan ekonomi kedua negara.

Ketegangan semakin diperburuk oleh hubungan Israel–Taiwan yang makin erat. Anggota parlemen Israel, Boaz Toporovsky, dari Partai Masa Depan, melakukan kunjungan keduanya ke Taipei sepanjang 2025. Beijing menuduh Israel “mengacaukan hubungan diplomatik” dan memperingatkan konsekuensi serius.

Taiwan baru saja merilis sistem pertahanan rudal balistik Qiang Gong (Strong Bow). Analisis militer AS menyebut teknologi itu sangat mirip dengan rudal Israel Gabriel Mk2, memunculkan dugaan adanya kerja sama pertahanan rahasia antara Israel dan Taiwan. Media Beijing menilai langkah ini sebagai “Xi Jinping sedang bermain api” yang membuat Israel murka.

Trump, Hamas, dan Panggung PBB

Presiden AS Donald Trump menegaskan sikapnya pada 22 September melalui juru bicara Gedung Putih, Leavitt: “Mengakui Palestina sama saja memberi hadiah pada Hamas.”

Trump dijadwalkan menyampaikan pidato di Majelis Umum PBB pada 23 September 2025, dan menggelar pertemuan dengan sejumlah pemimpin Arab—termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Mesir, Yordania, dan Turki—untuk membahas peta jalan perdamaian Timur Tengah.

Sementara itu, Netanyahu dijadwalkan bertemu langsung dengan Trump di Washington pada 29 September 2025.

Di sisi lain, Hamas mengirimkan surat resmi ke Washington yang berisi tawaran gencatan senjata selama 60 hari dengan imbalan pembebasan setengah jumlah sandera yang masih ditahan. Tawaran ini datang meski Gaza hampir rata akibat serangan udara Israel dalam beberapa pekan terakhir.

Kesimpulan

Pengakuan Palestina oleh Inggris dan sekutunya pada 21 September 2025 menjadi titik balik baru dalam konflik berkepanjangan Timur Tengah. Namun, alih-alih mendekatkan jalan menuju perdamaian, langkah itu justru memicu gelombang reaksi keras: dari tuntutan triliunan pound oleh Palestina, penolakan Israel–AS, kerusuhan di Italia, hingga ketegangan diplomatik Israel dengan Tiongkok.

Majelis Umum PBB ke-80 yang berlangsung 22–30 September di New York pun dipastikan akan menjadi ajang pertempuran diplomasi global paling panas dalam beberapa tahun terakhir.

Babak Baru Konflik Gaza: Sekutu AS Tiba-tiba Akui Palestina, Dunia Kian Terbelah

EtIndonesia. Gelombang dukungan internasional terhadap Palestina semakin menguat. Pada 21 September 2025, empat negara Barat – Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal – secara berturut-turut mengumumkan pengakuan resmi atas Negara Palestina. Langkah ini menambah daftar panjang negara yang telah mengakui kedaulatan Palestina sejak Majelis Umum PBB pertama kali membahas isu tersebut puluhan tahun lalu.

Netanyahu Marah Besar: “Hadiah untuk Ekstremisme”

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu bereaksi keras. Dalam konferensi pers di Yerusalem, dia menyebut pengakuan terhadap Palestina pasca tragedi 7 Oktober 2023 sebagai “pengkhianatan terhadap korban” dan “hadiah untuk ekstremisme.”

“Dunia seharusnya belajar dari apa yang terjadi. Mengakui Palestina setelah pembantaian itu hanya memperkuat kelompok radikal yang ingin menghancurkan Israel,” tegas Netanyahu.

Latar Belakang: Konflik Gaza Masih Membara

Pengakuan empat negara ini datang di tengah konflik Gaza yang belum mereda. Serangan balasan Israel sejak Oktober 2023 telah menewaskan puluhan ribu warga sipil Palestina, sementara kelompok Hamas terus melancarkan perlawanan. Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza pun memburuk, dengan PBB melaporkan lebih dari 2 juta warga sipil berada dalam kondisi krisis pangan dan kesehatan.

Analisis: Dampak Geopolitik dan Diplomatik

Pengamat politik menilai, langkah Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal akan mempercepat polarisasi global:

  • Blok Pro-Palestina: mayoritas negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan sebagian Eropa Timur.
  • Blok Pro-Israel: sebagian negara Barat yang masih menahan diri, terutama Jerman, dan beberapa negara Uni Eropa.

Bagi Washington, keputusan ini juga paradoksal: di satu sisi ingin mempertahankan posisi sebagai mediator utama, di sisi lain harus mengimbangi tekanan dari sekutu dan opini publik internasional yang semakin pro-Palestina.

Kesimpulan

Dengan pengakuan empat negara besar ini, diplomasi Palestina mendapatkan momentum baru. Namun, jalan menuju perdamaian masih panjang. Israel menolak tegas, sementara AS masih menekankan keamanan sekutu utamanya. Situasi ini diperkirakan akan memicu babak baru dalam diplomasi Timur Tengah—antara dorongan pengakuan kedaulatan Palestina dan penolakan keras dari Tel Aviv.

Orang Berusia 80 Tahun dengan Ingatan Orang Berusia 30 tahun: Para “Penua Super” Ini Memiliki Satu Kesamaan

EtIndonesia. Sejak tahun 2000, tim peneliti dari Northwestern University, Amerika Serikat, telah mengikuti kelompok lansia yang disebut “super senior”. Mereka berusia di atas 80 tahun, tetapi skor daya ingatnya setara dengan orang berusia di bawah 30 tahun — mampu mengingat setidaknya 9 kata hanya dalam 15–30 menit.

Para ilmuwan menemukan bahwa para lansia dengan otak super sehat ini tidak memiliki pola makan khusus, juga tidak melakukan latihan otak intensif. Namun, mereka semua memiliki satu kesamaan: kemampuan sosial yang sangat kuat.

Dalam kehidupan sehari-hari mereka, hubungan keluarga yang erat, pertemanan yang terjaga baik, keterlibatan dalam kehidupan komunitas, serta kegiatan sukarela adalah hal yang biasa. Para “super senior” ini haus membangun relasi, senang menjalin pertemanan baru, dan konsisten menjaga kehidupan sosial mereka.

Hasil pemindaian otak menunjukkan bahwa korteks prefrontal mereka masih sangat tebal, bahkan lebih tebal daripada banyak orang dewasa yang jauh lebih muda. Area otak ini terkait dengan emosi, motivasi, dan interaksi sosial. 

Di otak para “super senior”, terdapat konsentrasi tinggi neuron Von Economo, yaitu sel saraf yang berperan penting dalam perilaku sosial dan ketahanan kognitif. Bahkan, sebagian lansia meski memiliki tanda-tanda patologis khas Alzheimer (penyebab utama demensia), tidak mengalami penurunan kognitif. Ini menandakan adanya ketahanan luar biasa.

Para ilmuwan membagi “super senior” menjadi dua kelompok:

  1. Mereka yang mampu menolak pembentukan protein beracun (daya tahan tinggi).
  2. Mereka yang mampu membatasi dampak protein beracun pada fungsi kognitif (daya lenting tinggi).

Mereka juga menemukan bahwa sistem kolinergik otak para “super senior” lebih terjaga, sangat penting untuk memori dan perhatian. Proses pemecahan asetilkolin pada mereka lebih lambat, sehingga komunikasi antar-neuron tetap efisien.

Singkatnya, para “super senior” membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang mutlak bagi daya ingat. Justru, hubungan sosial yang kaya, kemampuan bersosialisasi, serta ketahanan mental adalah pilar utama yang menopang otak baja mereka.

Sumber : NTDTV.com

Perwira Rusia Berguguran, Tank Hancur Ratusan, Ukraina Tak Terbendung

EtIndonesia. Dalam lima hari terakhir, medan perang Ukraina–Rusia kembali memanas dengan intensitas pertempuran yang meningkat tajam. 

Dari Krimea hingga Donetsk, bahkan sampai ke wilayah perbatasan Rusia di Kursk, pasukan Ukraina melancarkan serangkaian serangan besar yang menimbulkan kerugian signifikan di pihak Rusia.

Serangan Besar di Krimea: Radar dan Helikopter Rusia Dihancurkan

21 September 2025 dini hari, pasukan intelijen Ukraina meluncurkan drone serang Ghost ke wilayah Krimea. Serangan ini berhasil menembus pertahanan udara Rusia dan menghantam pangkalan militer penting.

Hasil awal mencatat:

  • Tiga helikopter Mi-8 Rusia hancur.
  • Sistem radar Nebo-U rusak berat.
  • Ledakan besar terjadi di sekitar Pelabuhan Feodosia dan Danau Chornoklozk, titik pertahanan udara utama Rusia.

Kerugian Rusia diperkirakan mencapai 124 juta dolar AS, meski angka pasti masih menunggu konfirmasi satelit.

Donetsk: 300 Kendaraan Tempur Rusia Dihancurkan

Dalam pidatonya pada 19 September 2025 malam, Presiden Volodymyr Zelensky mengumumkan keberhasilan besar di Front Timur Donetsk.

Pasukan Ukraina diklaim berhasil:

  • Membuka celah di garis pertahanan Rusia sejauh 3–7 km.
  • Membebaskan 7 permukiman dengan luas total 160 km².
  • Menghancurkan sekitar 300 kendaraan lapis baja Rusia, termasuk tank, IFV, APC, dan kendaraan logistik.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim menguasai Muravka dan Sivanivka serta memutus jalur logistik Pokrovsk. Klaim tersebut segera dibantah Ukraina.

Laporan Institute for the Study of War (ISW) menegaskan kerugian Rusia meningkat tajam namun belum ada terobosan strategis berarti.

Mykolaiv: 150 Pasukan Elite Rusia Dimusnahkan

Pertempuran sengit juga berlangsung di Mykolaiv, di mana kota berubah menjadi medan tempur perkotaan.

Menurut intelijen Ukraina:

  • Pasukan khusus Ukraina menewaskan 150 tentara elite Rusia melalui operasi penyergapan.
  • Pertempuran berlangsung berjam-jam dengan kontak jarak dekat hingga perkelahian tangan kosong.
  • Kota mengalami kerusakan parah akibat artileri Rusia, sementara Ukraina memanfaatkan reruntuhan sebagai titik serangan balik.

Kursk: Serangan ke Pusat Logistik Rusia

18 September 2025 malam, pasukan khusus Ukraina melancarkan serangan presisi ke pusat logistik Brigade Marinir ke-810 Rusia di wilayah Kursk.

Akibat serangan ini:

  • Gudang amunisi utama Rusia hancur.
  • Banyak kendaraan transportasi terbakar.
  • Persediaan logistik vital, termasuk bahan bakar dan makanan, musnah.

Serangan ini dipandang strategis karena menghambat operasi Rusia di garis depan.

Kupiansk: Pertahanan Ukraina Tetap Kokoh

Di Kupiansk, wilayah Kharkiv timur, Rusia berusaha mengepung dari tiga arah. Namun, Ukraina terus mempertahankan posisinya.

Kota Kupiansk tercatat beberapa kali berpindah tangan sejak 2022. Saat ini, Ukraina menegaskan Rusia belum mampu merebut kendali penuh.

Zaporizhzhia: Pos Komando Rusia Dilumpuhkan

19 September 2025, Ukraina menggunakan roket HIMARS untuk menghantam pos komando Divisi Lintas Udara ke-7 Rusia di Zaporizhzhia.

Kerugian yang ditimbulkan:

  • 7 perwira Rusia tewas, termasuk dua kolonel.
  • Serangan lanjutan di Voskresehnka menewaskan 18 perwira Rusia akibat kebakaran besar di markas.
  • Drone FPV dan jet Su-27 Ukraina dengan bom GBU-62 menghancurkan depot amunisi, memicu ledakan berantai.

NATO vs Rusia: Krisis Udara di Estonia

19 September 2025, tiga jet tempur MiG-31 Rusia tanpa izin memasuki wilayah udara Estonia selama 12 menit.

  • Estonia segera mengaktifkan mekanisme Pasal 4 NATO untuk konsultasi darurat.
  • PM Estonia menyebut insiden ini sebagai “provokasi paling serius sepanjang tahun.”
  • NATO menegaskan kesiapan meningkatkan kehadiran militer di kawasan Baltik.

Kolaborasi Ukraina–AS: Produksi Drone D4

Kerja sama pertahanan antara Ukraina dan Amerika Serikat semakin erat. Perusahaan ShieldA (AS) dan IronBelly (Ukraina) kini memproduksi drone serang D4 dengan spesifikasi:

  • Sistem navigasi optik otonom.
  • Jangkauan 100 km.
  • Kapasitas muatan 3 kg hulu ledak.
  • Target produksi 1.000 unit per bulan.

Drone ini diharapkan memperkuat serangan jenuh terhadap garis pertahanan Rusia.

Analisis: Titik Balik Baru Perang?

Serangkaian kemenangan Ukraina menunjukkan perubahan besar dalam dinamika perang:

  • Rusia kehilangan ratusan kendaraan tempur dan puluhan perwira.
  • Ukraina mampu menyerang hingga ke wilayah Rusia.
  • NATO semakin terlibat melalui mekanisme pertahanan kolektif.

Meski demikian, perang belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir. Dunia kini menanti apakah perkembangan ini akan membuka jalan menuju perundingan damai, atau justru memicu eskalasi militer lebih luas di Eropa Timur. (***)

Trump Sentil Tiongkok, Ingin Rebut Kembali Pangkalan Bagram dari Taliban

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan arah kebijakan luar negeri yang konfrontatif terhadap Tiongkok. Dalam upacara penghormatan bagi aktivis konservatif Charlie Kirk yang digelar di Arizona, Trump mengejutkan publik dengan pernyataannya: Amerika Serikat berencana merebut kembali Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan.

Bagram: Pusat Strategis di Dekat Tiongkok

Trump menyebutkan bahwa Bagram, yang ditinggalkan pasukan AS pada tahun 2021, memiliki posisi militer yang sangat penting. Lokasinya hanya berjarak sekitar satu jam penerbangan dari pangkalan nuklir Tiongkok di Xinjiang. Menurut Trump, penguasaan kembali atas pangkalan ini akan memperkuat strategi AS dalam menghadang pengaruh Beijing di kawasan Asia Tengah.

“Jika Afghanistan tidak mengembalikan pangkalan itu kepada Amerika Serikat yang membangunnya, sesuatu yang buruk akan terjadi,” ujar Trump dalam pidatonya, menegaskan ancaman nyata terhadap Taliban.

Dampak Strategis bagi Taiwan

Analis pertahanan di Taiwan menilai langkah Trump ini bukan sekadar retorika politik. Jika AS kembali menempatkan pasukan di Bagram, maka Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) akan dipaksa membagi perhatian dan kekuatan antara pesisir timur—yang menghadap Taiwan—dan perbatasan barat dekat Xinjiang. Artinya, ancaman invasi Tiongkok ke Taiwan berpotensi berkurang karena beban militer yang terbagi.

Penolakan Taliban dan Bayangan Beijing

Namun, pemerintah Taliban di Kabul langsung menolak mentah-mentah wacana tersebut. Taliban menegaskan bahwa perjanjian yang ditandatangani pada masa jabatan pertama Trump mencakup penghormatan terhadap kedaulatan Afghanistan. 

Penolakan ini dipandang banyak pihak sebagai cerminan pengaruh Tiongkok, mengingat hubungan erat Kabul–Beijing yang semakin intensif sejak penarikan pasukan AS pada 2021.

Janji Investasi Tiongkok di Afghanistan

Tiongkok sendiri menjanjikan investasi bernilai miliaran dolar dalam sektor energi dan mineral Afghanistan, termasuk rencana eksploitasi sumber daya tembaga dan litium. Namun, laporan menunjukkan sebagian besar komitmen tersebut belum terealisasi hingga kini. Meski begitu, Beijing tetap menjadi mitra politik dan ekonomi terkuat Taliban di kancah internasional.

Tekanan AS: Antara Ekonomi dan Militer

Pengamat militer memperkirakan bahwa Trump, jika kembali berkuasa, tidak akan mengandalkan opsi militer semata. 

Amerika Serikat kemungkinan akan menggunakan kombinasi tekanan ekonomi, diplomasi keras, dan tawaran bantuan finansial untuk memaksa Taliban melunak. Skema ini mirip dengan strategi Washington pada masa lalu dalam menekan rezim-rezim yang menolak kebijakan luar negeri AS.

Kesimpulan:

 Pidato Trump pada 21 September 2025 bukan hanya penghormatan bagi mendiang Charlie Kirk, tetapi juga penegasan bahwa persaingan AS–Tiongkok akan terus meningkat. Wacana pengambilalihan Bagram berpotensi membuka babak baru ketegangan geopolitik, tidak hanya di Afghanistan, tetapi juga dalam dinamika keamanan Asia Timur, khususnya Taiwan. (***)

Dunia di Ujung Perang Nuklir? NATO–Rusia Panas di PBB, Ukraina Bongkar Senjata Rahasia

EtIndonesia. Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat pada Senin (22 September 2025) atas permintaan Estonia, setelah insiden serius yang melibatkan jet tempur Rusia. Pada 19 September 2025, tiga jet tempur Rusia diketahui melanggar wilayah udara Estonia selama 12 menit sebelum berhasil diusir oleh NATO. Insiden ini menyusul pelanggaran lain pekan sebelumnya, ketika 19 drone Rusia menembus wilayah Polandia.

NATO–Rusia: Ancaman Konfrontasi di Eropa Timur

Estonia mengecam keras tindakan Moskow dan menyebutnya sebagai provokasi paling serius sejak negara itu bergabung dengan PBB 34 tahun lalu.

Presiden AS Donald Trump, dalam pidatonya pada 21 September 2025, menegaskan bahwa Amerika Serikat berkomitmen penuh terhadap pertahanan NATO.

“AS akan melindungi setiap jengkal wilayah NATO,” ujar Trump dengan nada tegas.

Dalam sidang PBB, Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, memperingatkan risiko konfrontasi langsung antara NATO dan Rusia. Sementara itu, Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB, Dmitry Poliansky, membantah tuduhan tersebut dan menyebut Eropa hanya mencari alasan untuk memperburuk ketegangan.

Di saat yang sama, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan kesiapan memperpanjang Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) selama satu tahun. Perjanjian ini membatasi kepemilikan maksimal 1.550 hulu ledak nuklir strategis dan 700 sistem peluncur bagi AS dan Rusia. Namun, kelanjutan negosiasi masih buntu akibat perang Ukraina yang belum reda.

Ukraina: Drone Jadi Penentu Medan Perang

Sementara dunia fokus pada ketegangan NATO–Rusia, perang di Ukraina menunjukkan babak baru dengan meningkatnya peran drone. Menurut laporan Associated Press pada 19 September 2025, kekuatan drone Ukraina kini menghancurkan hingga 70% peralatan Rusia dalam radius 15 km dari garis depan.

Kemampuan produksi dalam negeri juga melonjak tajam:

  • Tiga tahun lalu hanya bisa memenuhi 10% kebutuhan militer,
  • Saat ini sudah mencapai 60%,
  • Dan ditargetkan dua kali lipat lagi dalam waktu dekat.

Presiden Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa kapasitas produksi tahunan drone Ukraina kini mencapai USD 30 miliar, tiga kali lipat dari total anggaran militer negaranya.

Dukungan dari Uni Eropa juga kian mengalir. Denmark telah mengumumkan pendirian pabrik persenjataan di Ukraina, sebuah langkah yang menandai investasi besar-besaran Eropa dalam memperkuat ketahanan militer Kyiv.

Analisis

Ketegangan di PBB memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas keamanan global. NATO berhadapan langsung dengan Rusia di kawasan Baltik, sementara di medan perang Ukraina, teknologi drone mengubah kalkulasi militer secara drastis.

  • Bagi NATO, insiden Estonia dan Polandia bisa menjadi titik pemicu konfrontasi terbuka jika Moskow tidak mengendalikan militernya.
  • Bagi Ukraina, kemandirian produksi persenjataan berteknologi tinggi menjadi kunci bertahan menghadapi perang berkepanjangan, sekaligus memperlihatkan bagaimana perang modern kian ditentukan oleh inovasi teknologi.

Situasi ini membuat Eropa, Amerika Serikat, dan Rusia berada pada persimpangan jalan: melanjutkan eskalasi berbahaya atau membuka ruang diplomasi yang semakin sempit. (***)