Tak Perlu Berharap Banyak dari Belt and Road Summit ke-10

Belt and Road Initiative (BRI) Kian Stagnan, Tiongkok Terjebak Krisis, Utang Indonesia Menggunung

oleh: Fadjar Pratikto

Ajang Belt and Road Summit ke-10 yang digelar pada 10–11 September 2025 di Hong Kong Convention and Exhibition Centre kembali menegaskan citra Tiongkok sebagai promotor konektivitas global. Ribuan delegasi, ratusan peserta pameran, hingga sederet kesepakatan bisnis digadang-gadang sebagai bukti bahwa inisiatif ambisius yang diluncurkan Presiden Xi Jinping sejak 2013 ini masih relevan di tengah gejolak geopolitik multipolar.

Namun di balik panggung megah itu, muncul pertanyaan besar: apakah benar-benar ada peluang nyata bagi Indonesia dan Hong Kong dari forum ini? Ataukah sekadar retorika manis di tengah realitas program Belt and Road Initiative (BRI) yang semakin kehilangan tenaga akibat krisis ekonomi yang menjerat Beijing?

Janji Manis dari Hong Kong

KTT Sabuk dan Jalan merupakan platform internasional utama untuk mempromosikan kolaborasi bisnis di sepanjang Sabuk dan Jalan. Forum ini mempertemukan para pejabat senior pemerintah dan pemimpin bisnis dari berbagai negara dan kawasan di sepanjang dan di luar Sabuk dan Jalan untuk bertukar wawasan tentang kerja sama multilateral dan menjajaki peluang bisnis konkret.

Patrick Lau, Wakil Direktur Eksekutif Hong Kong Trade Development Council (HKTDC), menyebut Belt and Road Summit sebagai “super connector” yang mempertemukan modal, teknologi, dan pasar global. Sejak edisi pertama pada 2016, lebih dari 700 pembicara internasional hadir, melibatkan 45.000 peserta dari 120 negara, serta memfasilitasi lebih dari 2.000 proyek lintas sektor.

“Hong Kong memiliki jaringan 51 kantor global, yang membuat kami menjadi penghubung penting bagi dunia. Summit ini bukan hanya soal proyek besar, tapi juga peluang kolaborasi kecil yang memberi dampak nyata,” kata Lau dalam sesi briefing media, 9 September 2025.

Bagi Indonesia, Lau menyoroti peluang kerja sama pada proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan. Dari infrastruktur bandara dan jalan, hotel, hingga teknologi 5G dan 6G, Hong Kong diyakini bisa berperan melalui dukungan keuangan dan jasa profesional.

Bahkan ia mencontohkan proyek peternakan ayam di IKN tahun 2023 senilai beberapa juta dolar AS, yang mampu menghasilkan 1 juta butir telur per hari berkat teknologi unggas dari Tiongkok dan kolaborasi universitas Hong Kong. “Ini bukti bahwa BRI tidak hanya soal kereta cepat atau pelabuhan, tapi juga proyek sosial-ekonomi yang langsung menyentuh masyarakat,” ujarnya.

Meski narasi yang dibangun terkesan positif, pengalaman Indonesia dalam BRI justru menimbulkan beban berat pada keuangan negara. Proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (KCJB) adalah contoh paling nyata. Dari estimasi awal Rp 80 triliun, biaya membengkak hingga lebih dari Rp 120 triliun, dengan skema pembiayaan didominasi pinjaman dari Bank Pembangunan Tiongkok.

Alih-alih menjadi simbol modernisasi transportasi, KCJB justru memunculkan kontroversi: rendahnya tingkat okupansi, ketergantungan pada subsidi pemerintah, serta utang yang terus menekan APBN.

Hal serupa mengintai proyek-proyek lain yang dipromosikan lewat BRI, termasuk rencana keterlibatan perusahaan Tiongkok dalam pembangunan IKN. Skema pembiayaan berbasis pinjaman, ketimbang investasi murni, dikhawatirkan kembali mengulangi pola yang sama: keuntungan bagi kontraktor Tiongkok, sementara Indonesia menanggung risiko finansial jangka panjang.

Hong Kong: Super Connector atau Sekadar Etalase?

Lebih jauh, posisi Tiongkok sendiri kini sedang goyah. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi 2025 melambat di bawah 4%, dengan sektor properti dan manufaktur masih terguncang. Cadangan devisa Beijing menyusut, sementara utang daerah dan korporasi melonjak.

Situasi ini membuat kemampuan Tiongkok mendanai proyek-proyek BRI di luar negeri semakin terbatas. Negara-negara penerima pun mulai menyadari jebakan yang mengintai. Sri Lanka, Pakistan, Kenya, Zambia, hingga Laos menghadapi krisis utang setelah proyek BRI gagal memberikan keuntungan ekonomi yang dijanjikan.

Bahkan dalam beberapa kasus, ketergantungan pada Tiongkok memicu gejolak politik dan kerusuhan sosial.

  • Angola: investasi tambang dan minyak dari Tiongkok tidak banyak memberi manfaat bagi rakyat. Ketergantungan pada pinjaman BRI memperburuk krisis fiskal, memicu protes keras terhadap pemerintah.
  • Mali: proyek infrastruktur yang didanai Tiongkok gagal menyejahterakan warga, malah memperbesar utang negara. Ketidakpuasan rakyat berujung pada instabilitas politik yang masih berlangsung hingga kini.
  • Nepal: rezim komunis yang bergantung pada Beijing akhirnya tumbang setelah gelombang protes besar-besaran yang dipelopori generasi Z. Demonstrasi menurunkan simbol palu arit, menandai runtuhnya dominasi Beijing di negara Himalaya itu.

Fenomena ini menegaskan bahwa BRI tidak hanya berpotensi menjadi beban fiskal, tapi juga dapat menimbulkan krisis politik dan sosial yang mengguncang legitimasi pemerintah negara penerima.

Bagi Hong Kong, Summit ke-10 adalah ajang untuk menegaskan kembali statusnya sebagai pusat keuangan internasional setelah diguncang pandemi, protes politik, dan tekanan dari Beijing. Dengan menjadi tuan rumah forum bergengsi, Hong Kong ingin menampilkan diri sebagai simpul konektivitas global.

Namun dalam praktiknya, posisi Hong Kong semakin terjepit. Investor asing masih ragu akibat ketidakpastian politik pasca penerapan Undang-Undang Keamanan Nasional 2020. Peran sebagai “super connector” pun lebih banyak menjadi perpanjangan tangan Beijing, ketimbang benar-benar independen sebagai pusat keuangan dunia.

Indonesia Mesti Belajar dari Pengalaman

Pertanyaannya kini: apakah Indonesia harus menaruh harapan pada Belt and Road Summit? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa manfaat konkret yang diterima Indonesia dari BRI jauh lebih kecil dibanding beban yang ditanggung.

Proyek-proyek yang digembar-gemborkan seringkali lebih banyak menguntungkan kontraktor, bank, dan pemasok teknologi dari Tiongkok. Sementara bagi Indonesia, hasilnya adalah utang baru, risiko fiskal, dan infrastruktur yang belum tentu sesuai kebutuhan rakyat.

Krisis ekonomi yang kini menjerat Tiongkok seharusnya menjadi alarm tambahan. Bila Beijing saja kesulitan menopang inisiatif globalnya, mustahil Indonesia bisa berharap banyak. Sebaliknya, Indonesia perlu memperkuat posisi tawar dengan mencari mitra alternatif: dari Jepang, Korea Selatan, Uni Eropa, hingga memperkuat pembiayaan domestik.

Belt and Road Summit ke-10 di Hong Kong mungkin tampak sebagai pesta akbar diplomasi ekonomi. Tapi di balik cahaya panggung, kenyataan yang muncul tidak seindah retorika.

Bagi Indonesia, pengalaman dengan KCJB dan potensi keterlibatan BRI di IKN menjadi cermin bahwa harapan besar berbanding lurus dengan risiko besar. Dengan kondisi Tiongkok yang tengah menghadapi krisis ekonomi mendalam, janji-janji BRI semakin sulit diwujudkan.

Lebih buruk lagi, pengalaman negara-negara seperti Angola, Mali, dan Nepal memperlihatkan sisi gelap BRI: proyek yang gagal, utang menumpuk, instabilitas politik, hingga kerusuhan sosial.

Alih-alih menaruh semua harapan pada Beijing, Indonesia perlu berhitung ulang: memperkuat kemandirian, menjaga keseimbangan dalam geopolitik multipolar, dan memastikan bahwa setiap kerja sama internasional tidak menjadi jebakan baru.

KTT Sabuk & Jalan boleh saja berlangsung megah, tapi Indonesia tak boleh lagi membeli mimpi dengan harga utang yang mahal.

Indosat Ooredoo Hutchison Hadiahi Mitra Outlet Terbaik dengan Sepeda Motor melalui Program “Kejutan Simpel IM3”

0

Surabaya, 18 September 2025 – Sebanyak dua mitra outlet terbaik IM3 di Jawa Timur berhasil membawa pulang sepeda motor sebagai Grand Prize dalam program “Kejutan Simpel IM3” yang diselenggarakan oleh Indosat Ooredoo Hutchison (IOH). Program ini merupakan bentuk apresiasi bagi mitra outlet yang konsisten berkontribusi dalam penjualan dan promosi produk IM3.

Program undian berhadiah tersebut berlangsung dari 10 Maret hingga 10 Mei 2025 dan diikuti oleh puluhan outlet IM3 di seluruh Jawa Timur. Dua pemenang yang terpilih adalah outlet yang paling aktif dalam menjual produk IM3, melakukan aktivitas branding, serta mengedukasi pelanggan mengenai layanan terbaru IM3, termasuk fitur anti-spam berbasis AI bernama SATSPAM.

Fahd Yudhanegoro, EVP Head of Java Circle Indosat Ooredoo Hutchison, menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam mendukung kemitraan yang berkelanjutan. “Kami ingin menciptakan ekosistem bisnis yang sehat dan saling menguntungkan, di mana mitra outlet tidak hanya menjadi ujung tombak penjualan, tetapi juga bagian dari pertumbuhan digital Indonesia,” ujarnya dalam acara penyerahan hadiah di Kantor Regional Jawa Timur, Surabaya.

Salah satu pemenang, Ali Fahrudin, pemilik Outlet Nabil Cell di Kediri yang telah beroperasi selama 15 tahun, mengungkapkan rasa syukur dan motivasinya untuk semakin giat mempromosikan layanan IM3. “Tanpa biaya apa pun, IM3 memberikan apresiasi yang luar biasa. Ini memacu semangat kami untuk terus memberikan yang terbaik bagi pelanggan,” katanya.

Program “Kejutan Simpel IM3” tidak hanya fokus pada penjualan, tetapi juga mendorong outlet untuk aktif mengenalkan inovasi terbaru IM3, seperti SATSPAM, yang dirancang untuk melindungi pelanggan dari ancaman spam dan scam. Hal ini sejalan dengan strategi Indosat untuk memperkuat kepercayaan konsumen sekaligus mendukung transformasi digital.

Di sisi lain, Indosat juga mengingatkan seluruh mitra outlet untuk selalu waspada terhadap penipuan yang mengatasnamakan perusahaan. Setiap informasi kemenangan resmi hanya disampaikan melalui saluran komunikasi terverifikasi, seperti Call Center 185 atau gerai IM3 terdekat.

Keberhasilan program ini menunjukkan sinergi positif antara Indosat dan mitra outlet dalam menghadapi dinamika pasar telekomunikasi yang semakin kompetitif. Kedepannya, Indosat berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program serupa yang tidak hanya mendorong penjualan, tetapi juga memperkuat hubungan kemitraan dan inovasi layanan.

Aku Lebih Peduli daripada Orang Lain

EtIndonesia. Usianya baru 15 tahun ketika dia mengikuti pertandingan tenis meja tingkat kota. Gedung olahraga yang tak terlalu besar itu penuh sesak oleh penonton. Namun, hari itu dia bermain buruk. Banyak bola yang seharusnya bisa dia kuasai, justru gagal dia kembalikan.

Pertandingan usai. Penonton bubar, rekan-rekannya pun meninggalkan arena. Hanya dia yang masih duduk termenung di bangku, diliputi rasa kecewa. Keraguan menyelinap: Mungkinkah aku memang tidak punya bakat bermain? Mungkinkah aku salah jalan?

Dia tidak tahu berapa lama sudah duduk di sana. Hingga rasa lapar mulai muncul, dia pun berkemas untuk pulang. Saat itulah dia menoleh—dan terkejut melihat seseorang masih duduk diam di bangku penonton. Ketika pandangan mereka bertemu, yang dia lihat adalah senyuman lembut. Itu  adalah ibunya.

Tanpa pikir panjang, dia melempar semua barang dan berlari naik ke tribun. Dia langsung memeluk ibunya erat-erat, lalu menangis keras. 

Sambil terisak, dia menyalahkan ibunya:  “Kenapa Ibu ada di sini tapi diam saja? Kenapa tidak menolongku?”

Ibunya mengusap kepalanya dengan penuh kasih, sambil tersenyum berkata: “Anakku, jalan paling sulit dalam hidup ini harus kamu lalui sendiri. Ibu tidak bisa menggantikanmu.”

Dia masih tak puas, bertanya: “Kalau begitu, kenapa Ibu tidak ikut pulang dengan yang lain? Kenapa tetap menunggu di sini?”

Ibunya menjawab lembut:  “Karena, Nak, apa pun yang terjadi, seberat apa pun jalanmu, Ibu akan selalu berdiri di belakangmu. Selamanya memperhatikanmu…”

Kemenangan yang Sebenarnya

Setahun kemudian, di gedung olahraga yang sama, dalam pertandingan yang sama, dia berhasil mengalahkan lawannya—dan juga mengalahkan dirinya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, dia meraih berbagai gelar juara tenis meja di berbagai tingkat.

Dalam sebuah wawancara, seorang wartawan bertanya tentang rahasia kesuksesannya. 

Dia menjawab:  “Saya bisa sampai sejauh ini karena ibu saya selalu ada di belakang saya. Tidak peduli menang atau kalah, beliau terus memperhatikan dengan tatapan penuh kasih, penuh dorongan, kepercayaan, pengakuan, dan harapan…”

Wartawan itu masih penasaran:  “Bukankah setiap anak di dunia juga mendapat perhatian ibu? Bahkan yang jauh di negeri lain pun tetap dipikirkan ibunya. Tapi kenapa tidak semua bisa sukses seperti Anda?”

Jawabannya sederhana:  “Itu karena saya lebih peduli pada ibu saya dibanding orang lain.”

Pesan Kehidupan

Benar sekali. Hanya ketika seseorang benar-benar menghargai dan peduli pada cinta yang diberikan kepadanya, cinta itu akan melahirkan kekuatan tak terbatas—yang menuntun kita menciptakan satu demi satu keajaiban dalam hidup. (jhn/yn)

Sopir Bus Dipuji karena dengan Tenang Menghentikan Busnya Setelah Tertusuk Pipa Besi Sepanjang 2 Meter ke Dadanya

Baru-baru ini di Hong Kong terjadi sebuah insiden menegangkan. Seorang sopir bus tiba-tiba tertusuk pipa besi sepanjang sekitar 2 meter yang menembus kaca depan bus dan langsung masuk ke dadanya. Meski menahan rasa sakit yang hebat, sopir tersebut tetap tenang menghentikan bus di pinggir jalan. Netizen ramai-ramai memuji profesionalisme dan keberaniannya.

EtIndonesia.  Menurut laporan media Hong Kong, pada  15 September 2025 sore, seorang sopir bermarga Luo sedang mengemudikan bus di dekat Jalan Tsing Long, ketika sebuah pipa besi sepanjang 2 meter tiba-tiba menembus kaca depan dan langsung menusuk bagian dada kirinya di dekat tulang rusuk.

Dalam video yang beredar di internet terlihat, pipa besi yang melengkung itu menembus kaca depan kendaraan lalu menancap ke dada sopir, membuat tubuhnya seperti “terpaku” di kursi pengemudi sambil menunggu pertolongan.

Dilaporkan, setelah terluka, sopir Luo pertama-tama memperlambat laju bus dan dengan tenang menghentikannya di pinggir jalan, baru kemudian meminta tolong dengan suara lemah: “Ada yang bisa bantu saya?” Penumpang di dalam bus pun segera membantu menghubungi polisi.

Sopir segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan darurat. Beruntung, kondisinya kini stabil meski masih dirawat dan dalam pengawasan.

Kejadian ini kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu perbincangan hangat. Netizen memuji sikap tenang sopir tersebut dalam situasi kritis, sambil mendoakan kesembuhannya: “Semoga sopir baik-baik saja”, “Selamat dari maut pasti akan ada keberkahan”, “Doa agar cepat sembuh.”

Rekaman CCTV menunjukkan, sekitar satu jam sebelum kejadian, sebuah truk besar melintas di lokasi. Saat itu sebuah pipa besi jatuh dari truk, menghantam sebuah mobil sedan, lalu terpental hingga menembus kaca depan bus yang dikemudikan sopir Luo dan menyebabkan luka serius tersebut.

Polisi kemudian menangkap sopir truk berusia 43 tahun bermarga Zeng yang terkait kasus ini. Rincian lebih lanjut masih dalam penyelidikan.

Sumber : NTDTV.com

Siapa Sebenarnya yang Buta

EtIndonesia. Sejak lahir, aku buta. Aku tidak pernah melihat wajahku sendiri, dan hanya bisa membentuk bayangan tentang diriku lewat mata orang lain. Sayangnya, dalam pandangan banyak orang, sosokku tampak lebih “cacat” dari yang sebenarnya.

Ada orang yang mengira, karena aku buta, tentu pendengaranku juga terganggu. Mereka sering berbicara padaku dengan suara keras, mengucapkan setiap kata dengan lambat dan sangat jelas, seolah aku tidak bisa mendengar dengan normal. Bahkan ada pula yang berbisik-bisik di depanku, merasa yakin aku tak akan mendengarnya.

Misalnya, saat aku pergi ke bandara dan meminta agen tiket membantu proses naik pesawat, mereka sering menelpon petugas lalu berkata dengan suara pelan:  “Halo, di sini ada seorang tua renta yang butuh bantuan.”

Mereka sengaja tidak menyebut kata “buta,” seolah-olah ingin menyembunyikan dariku sebuah kenyataan yang konon menakutkan.

Ada juga yang berpikir, orang buta memang bisa mendengar, tapi tidak bisa berbicara. Saat aku makan malam bersama istriku di restoran, pelayan sering bertanya langsung kepadanya: “Apakah dia mau minum sesuatu?”

Aku pun segera menyela dengan suara lantang:  “Ya, dia memang ingin minum segelas.”

Namun, pengalaman paling konyol pernah kualami ketika belajar hukum di Universitas Oxford, Inggris. Suatu kali aku jatuh sakit dan harus menjalani rontgen di rumah sakit.

Aku duduk di kursi roda yang didorong seorang petugas perawat. Di depan ruang rontgen, seorang wanita tua—aku mengenalinya lewat suaranya—bertanya kepada perawat:  “Siapa namanya?”

Perawat menoleh kepadaku:  “Siapa namamu?”

 “Harold Krents,” jawabku.

Perawat mengulang keras-keras: “Harold Krents.”

Wanita itu bertanya lagi: “Kapan dia lahir?”

 “5 November 1944,” jawabku.

Dan lagi-lagi, perawat mengulang:  “5 November 1944.”

Proses seperti itu berlangsung hampir lima menit, hingga kesabaranku habis. 

Aku akhirnya berkata: “Hei! Ini sungguh konyol. Memang aku tidak bisa melihat, tapi apa kalian tidak sadar aku tidak membutuhkan penerjemah?”

Perawat dengan tenang menoleh ke wanita itu dan berkata: “Dia bilang dia tidak butuh penerjemah.”

Ironis, bukan?

Namun, yang paling menyakitkan adalah stigma bahwa karena aku buta, aku dianggap “tidak mampu bekerja.” Lebih dari 40 firma hukum menolak lamaran kerjaku, meski dalam riwayat hidupku tertera prestasi cemerlang, termasuk nilai cum laude dari Harvard.

Orang-orang tak pernah mau mempertimbangkan kemampuanku. Mereka hanya melihat satu hal: aku buta. Itulah kenyataan paling kejam yang harus kutelan.

Untunglah, pada 16 April 1976, Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat mengeluarkan undang-undang yang memberi penyandang disabilitas hak yang sama dalam pekerjaan. Sejak itu, masa depan kerja bagi kaum difabel mulai terbuka.

Aku berharap, di masa depan, para pemberi kerja bisa memandang penyandang disabilitas dengan kacamata yang lebih adil—seperti cara seorang anak kecil dulu memandangku.

Waktu itu, kami tinggal di Scarsdale. Aku sering bermain basket di halaman belakang bersama ayahku. Karena aku tak bisa melihat ring, kami membuat aturan sendiri: ayah berdiri di bawah ring, dan saat ia memanggil, aku melempar bola ke arah suaranya.

Suatu hari, seorang anak tetangga berusia 5 tahun datang bersama temannya. 

Ia berbisik kepada kawannya:  “Dia buta.”

Aku dan ayah mendengar jelas. Saat itu, ayah gagal memasukkan bola. Aku juga gagal. Giliran ayah lagi, dan ia bahkan melempar “airball” tanpa menyentuh apa pun. Ketika aku melempar, bolaku mengenai ring.

Teman anak itu pun bertanya polos: “Jadi, yang mana sebenarnya yang buta?”

Pesan yang bisa direnungkan:
Sering kali, kebutaan sejati bukan terletak pada mata, melainkan pada hati dan pikiran. Orang yang tidak bisa melihat potensi, kemampuan, dan nilai orang lain—itulah orang yang benar-benar buta.(jhn/yn)

Bukan Hamas, Bukan Iran—Netanyahu Malah Tuding Tiongkok dan Qatar Sebagai Musuh Baru Israel

EtIndonesia. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengeluarkan tuduhan serius terhadap Qatar dan Tiongkok, menyebut kedua negara tersebut sebagai aktor utama dalam upaya memblokade Israel — bukan secara militer, melainkan melalui tekanan politik dan media. Pernyataan Netanyahu menuai perhatian internasional karena jika sebuah negara menyebut Tiongkok dalam konteks “perang pengaruh” terhadap Israel, hal itu dianggap menunjukkan bahwa ancaman tersebut dianggap nyata dan mendesak.

Berikut rangkuman fakta terkini, reaksi, dan implikasi dari tuduhan tersebut:

Apa yang Dikatakan Netanyahu

  • Pada konferensi yang diadakan di Kementerian Keuangan Israel pada 15 September 2025, Netanyahu menyatakan bahwa terdapat upaya yang dikordinasikan oleh beberapa negara, terutama Qatar dan Tiongkok, untuk “mengepung” Israel secara politik.
  • Bentuk pengepungan itu menurutnya berupa blokade media, dukungan ke arus kritik terhadap Israel di Eropa Barat dan media sosial Barat, serta kampanye yang didanai dalam jumlah besar untuk mempengaruhi persepsi publik internasional mengenai Israel. 
  • Netanyahu menegaskan bahwa sementara Israel belum sepenuhnya terisolasi secara global, ada tekanan nyata di Eropa, dan pihaknya harus memperkuat kemandirian dalam hal militer, pertahanan, dan industri senjata agar lebih mampu tahan terhadap “blokade politik” tersebut.

Latar Belakang dan Pemicu Tuduhan

Beberapa peristiwa terbaru diyakini menjadi pemicu retorika ini:

  1. Serangan udara Israel di Doha, Qatar, yang menewaskan beberapa tokoh Hamas dan seorang anggota keamanan Qatar, termasuk satu petugas keamanan lokal.
    • Qatar mengecam serangan sebagai pelanggaran kedaulatan dan menyebutnya sebagai “teror negara.”
    • Qatar menegaskan bahwa perwakilan Hamas yang ada di Doha berada di sana sebagai bagian dari upaya mediasi yang diakui secara internasional.
  •  
  1. Kritik internasional terhadap kebijakan Israel di Gaza, termasuk korban sipil, kerusakan infrastruktur, serta tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dalam konflik yang sedang berlangsung. Tekanan publik, organisasi HAM, dan pemerintah asing terhadap Israel meningkat.
  2. Persepsi bahwa media internasional, terutama media Arab dan media Barat, semakin kritis terhadap Israel, dan bahwa Qatar serta Tiongkok berperan dalam membiayai atau mendukung penyebaran narasi yang merugikan Israel. 

 Reaksi dari Qatar dan Pihak Internasional

  • Pemerintah Qatar segera membalas dengan menyebut bahwa tuduhan Netanyahu adalah “tidak bertanggung jawab” dan “sering kali digunakan untuk membenarkan tindakan militer yang banyak dikritik internasional.”
  • Qatar menegaskan bahwa Hamas yang ada di Doha adalah bagian dari upaya mediasi yang transparan, didukung oleh AS dan pihak-pihak internasional, bukan sebagai tempat perlindungan rahasia atau basis dukungan militer.
  • Di Eropa dan komunitas internasional lainnya, terdapat kampanye diplomatik dan diskusi serius tentang bagaimana mendamaikan dukungan untuk Israel dengan keprihatinan hak asasi manusia dan hukum internasional. Beberapa negara menyuarakan keinginan agar Israel mempertanggungjawabkan tindakan yang dianggap melanggar aturan perang.

 Analisis: Seberapa Nyata Ancaman “Pengepungan Politik”?

Beberapa poin yang perlu diperhatikan untuk menilai apakah tuduhan Netanyahu tersebut mencerminkan ancaman yang serius:

AspekIndikator
Media dan opini publicSudah ada kritik luas terhadap Israel, terutama terkait konflik Gaza dan dampak kemanusiaan. Media internasional dan organisasi HAM semakin menyoroti tindakan Israel.
Diplomasi & Perjanjian InternasionalTekanan dari negara-negara Arab, Liga Arab, dan negara-negara Islam untuk mengambil sikap lebih tegas terhadap Israel; upaya-upaya mediasi yang bisa terganggu oleh insiden-insiden seperti serangan di Doha.
Kekuatan Politik Tiongkok dan QatarTiongkok memiliki pengaruh ekonomi dan diplomatik di berbagai belahan dunia; Qatar sebagai mediator dan negara kaya yang mendanai media seperti Al Jazeera memiliki kemampuan membentuk narasi internasional.
Reaksi IsraelKomitmen untuk memperkuat industri pertahanan sendiri, upaya meningkatkan pengaruh media, dan penolakan terhadap isolasi kritik internasional.

Implikasi dan Potensi Dampak ke Depan

  • Diplomasi Israel kemungkinan akan semakin intensif dalam menjalin hubungan dengan negara-negara yang tetap mendukungnya, terutama AS dan sekutu-sekutu Eropa yang lebih konservatif, untuk meredam kritik dan memulihkan persepsi.
  • Pertahanan dan industri militer dalam negeri akan menjadi prioritas agar Israel tidak terlalu bergantung pada impor senjata atau dukungan eksternal. Netanyahu sudah menyebut perlunya kemandirian dalam persenjataan.
  • Ketegangan dengan Qatar bisa meningkat, khususnya terkait peran mediator Qatar dalam konflik Israel-Hamas dan tuduhan bahwa Doha memberikan fasilitas atau dukungan kepada Hamas.
  • Pengaruh Tiongkok — jika tuduhan tersebut diikuti dengan tindakan diplomatik dari Israel terhadap Tiongkok — bisa menjadi sumber ketidakpastian dalam relasi bilateral, terutama jika Tiongkok melihat sangkaan tersebut sebagai ancaman terhadap kepentingannya di Timur Tengah.
  • Resiko isolasi politik — jika Israel gagal menangkal apa yang disebut Netanyahu sebagai “blokade politik,” kritik internasional bisa memperkuat gerakan boikot, sanksi, atau pembatasan diplomatik yang lebih besar.

Kesimpulan

Tuduhan Netanyahu bahwa Tiongkok dan Qatar mencoba “mengepung Israel” secara politik dan media bukanlah retorika ringan. Dia dilontarkan di tengah meningkatnya kritik internasional terhadap Israel atas konfliknya di Gaza dan tindakan-tindakan militer terakhirnya, termasuk serangan di wilayah negara lain (Doha) dan korban sipil. Walau belum jelas seberapa jauh organisasi blokade politik ini sudah terbentuk dan efektif, Netanyahu menilai ancaman itu nyata dan mendesak untuk direspons.

Yang menjadi kunci adalah bagaimana Israel akan merespons — apakah lebih banyak diplomasi, reformasi kebijakan dalam konflik, atau peningkatan kapasitas internal untuk menghadapi tekanan global. Demikian pula, bagaimana komunitas internasional dan negara-negara seperti Tiongkok dan Qatar bereaksi terhadap tuduhan ini akan sangat mempengaruhi dinamika geopolitik di Timur Tengah ke depan.

Pencerahan dari Sebuah Makan Siang

EtIndonesia. Hari itu, Mark mendampingi Wakil Kepala Biro Jin untuk melakukan inspeksi ke sebuah pabrik. Wakil kepala biro ini berlatar belakang militer, dan konon, direktur pabrik yang mereka kunjungi dulu pernah menjadi anak buahnya.

Biasanya, kunjungan kerja semacam ini diwarnai jamuan besar dengan minuman keras. Namun, karena baik sang wakil kepala biro maupun Mark sama sekali tidak bisa minum, ditambah hubungan pribadi yang dekat antara pejabat dan direktur, Mark yakin kali ini mereka akan terbebas dari jamuan berat.

Benar saja. Begitu mereka turun dari mobil, Wakil Kepala Biro Jin langsung berkata lugas kepada Direktur Li:  “Xiao Li, siapkan makan siang sederhana saja di kantin pabrik.”

Direktur Li yang terkenal luwes segera menyahut: “Baik, kebetulan di Tianjin banyak makanan ringan yang enak.”

Namun sang pejabat buru-buru menambahkan:  “Tidak perlu macam-macam. Cukup buatkan pancake ikan kecil seperti yang dulu sering kita makan di barak.”

Direktur Li agak terkejut: “Wah, itu kan makanan ala tentara di pegunungan dulu, Pak!”

“Justru itu, sederhana dan praktis. Lagi pula, ikan kecil di Tianjin kan banyak?”

 “Ada, tentu ada. Saya akan suruh orang membelinya.” jawab Li, sambil mengeluarkan ponselnya.

Sementara Mark dan Wakil Kepala Biro Jin mengikuti rapat serta berkeliling pabrik, Mark beberapa kali melihat Li keluar masuk sambil menerima telepon. Dia bahkan sempat mendengar sepintas Li berkata dengan suara ditekan: “Apa? Tidak ada? Cepat pergi ke sisi barat sungai. … Apa? Hotel, pasar, supermarket sudah dicari semua? Kalau begitu segera ke tepi sungai, cari nelayan!”

Mark mulai resah. Setiap kali Li kembali, dia terlihat gelisah sambil melihat jam tangan.

Menjelang pukul dua belas siang, perut semua orang sudah keroncongan. Wakil kepala biro akhirnya juga melihat jam dan bertanya:  “Xiao Li, pancake ikan kecil sudah siap?”

“Hampir, Pak. Sedang dimasak,” jawab Li sambil segera keluar lagi. Dia kembali sambil membawa pisang, mengupasnya untuk sang pejabat, lalu satu lagi untuk Mark.

Namun, Wakil Kepala Biro Jin mulai curiga: “Membuat pancake ikan kecil kok rumit sekali?”

“Sebenarnya tidak rumit, Pak. Hanya saja juru masak kantin kurang terbiasa, jadi hasilnya jelek,” Li berusaha menutupi.

“Kalau begitu, biar saya saja yang masak. Ayo, antar saya ke dapur.”

 “Ah, mana bisa membiarkan Bapak repot begitu. Saya akan segera urus,” kata Li buru-buru sambil menahannya.

Akhirnya, hampir pukul satu siang barulah makan siang siap.

Di meja bundar besar kantin pabrik, tidak ada minuman keras, hanya beberapa masakan sederhana dan dua baskom besar pancake ikan kecil yang masih mengepul wangi daun bawang. 

Semua orang yang sudah kelaparan pun makan lahap sambil memuji: “Enak sekali!”, “Luar biasa!”

Sang pejabat tersenyum puas:  “Tidak kusangka, setelah lebih dari sepuluh tahun, rasa pancake ikan kecil masih sama seperti dulu.”

Direktur Li cepat menambahkan:  “Pak, Anda memang teladan kami—hidup sederhana, bersih, penuh integritas!”

Para pimpinan pabrik pun serentak mengiyakan:  “Betul! Gaya hidup yang sederhana inilah yang harus kami teladani.”

Di perjalanan pulang ke hotel, Wakil Kepala Biro Jin bergumam penuh emosi: “Xiao Li, kita ini anak petani. Bisa sampai ke posisi sekarang tidaklah mudah. Jadi jangan lupa asal-usul. Jamuan mewah hanya buang-buang uang. Orang zaman sekarang bukannya kurang gizi, yang kurang itu justru hati nurani.”

Direktur Li mengantarkannya masuk kamar, lalu menyelinap ke kamar Mark dan berbisik:  “Wakil kepala biro itu terlalu kaku. Jujur saja, demi makan siang sederhana ini, delapan orang anak buah saya menghabiskan setengah hari, keliling seluruh kota mencari ikan kecil. Untung akhirnya di tepi sungai bisa membelinya dengan harga mahal dari tiga nelayan. Padahal, zaman sekarang apa sih yang sulit didapat? Cukup telepon, semuanya beres. Tapi ya begitulah…”

Mark terperangah, menarik napas panjang. Ternyata, pejabat yang paling khawatir mengganggu kerja di akar rumput justru—tanpa sadar—telah menimbulkan kerepotan besar.

Pesan yang bisa direnungkan:
Kadang niat sederhana bisa berubah jadi beban berat bagi orang lain, terutama jika kita terlalu kaku tanpa memahami situasi. Kesederhanaan sejati bukan pada jenis makanan yang diminta, melainkan pada sikap yang tidak menambah kesulitan bagi orang lain. (jhn/yn)

Mengapa Beijing Mau Beri Konsesi soal TikTok? Trump Kembali Perpanjang Batas Waktu Larangan

EtIndonesia. Sehubungan dengan kesepakatan antara AS dan Tiongkok mengenai TikTok, publik bertanya-tanya mengapa Beijing mau memberi konsesi. Analisis menunjukkan bahwa langkah ini diambil Beijing akibat tekanan berlapis, pertimbangan geopolitik, serta faktor ekonomi.

Setelah dua hari pembicaraan di Madrid, Beijing akhirnya setuju untuk sepenuhnya mengalihkan kepemilikan bisnis TikTok di Amerika kepada investor AS. Rincian akhir kemungkinan akan disepakati sebelum akhir pekan ini.

Pada Selasa (16 September), Gedung Putih mengeluarkan pernyataan bahwa Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif untuk keempat kalinya memperpanjang batas waktu penjualan bisnis TikTok di Amerika. Larangan yang seharusnya berlaku mulai 17 September ditunda hingga 1 Desember.

TikTok memiliki valuasi pasar sekitar 50 miliar dolar AS, dengan lebih dari 170 juta pengguna di AS. Namun, sejak lama TikTok dituding menimbulkan risiko keamanan karena perusahaan induknya, ByteDance, dituduh mengumpulkan data pengguna untuk kepentingan rezim Tiongkok, sehingga dianggap sebagai ancaman bagi keamanan nasional Amerika.

“Tidak ingin TikTok menggunakan algoritma dan kontennya untuk melakukan operasi kognitif atau infiltrasi di AS. Namun Trump menilai platform ini sudah tertanam dalam kehidupan orang Amerika, jadi lebih baik dibeli. Itu sebabnya sejak awal Trump selalu menuntut pihak Tiongkok melepas kepemilikan TikTok, atau menjadikannya perusahaan Amerika,” kata Profesor studi internasional Universitas St. Thomas, Ye Yaoyuan. 

Analis menilai, tercapainya kesepakatan kerangka kerja ini terutama karena Tiongkok memberi konsesi. Alasannya, selain tekanan politik, kondisi ekonomi Tiongkok yang memburuk juga membuat Beijing menilai bahwa penjualan TikTok dapat membawa aliran devisa masuk.

Ye Yaoyuan menambahkan: “Pihak Tiongkok mungkin menghadapi tekanan besar, ditambah kondisi ekonomi yang buruk. Jadi, penjualan TikTok ini bisa mendatangkan aliran valuta asing yang signifikan.”

Sejak Februari tahun ini, Trump kembali memulai perang dagang dengan Tiongkok. Tarif tinggi atas barang-barang asal Tiongkok tetap diberlakukan. Pada 2025, ekspor Tiongkok ke AS turun 15%, membuat ekonomi Tiongkok semakin terpuruk.

Dalam perundingan Madrid baru-baru ini, kedua pihak berfokus pada isu pengurangan tarif, ekspor teknologi, pemberantasan fentanyl, dan pencucian uang. Analisis menyebut, dalam perang dagang ini, Beijing sudah hampir tak sanggup bertahan, sehingga menjadikan TikTok sebagai “tukar tambah” untuk berusaha mendapatkan keringanan tarif atau akses teknologi canggih dari AS.

Ye Yaoyuan menegaskan: “AS menginginkan hal-hal yang Tiongkok tidak bisa berikan. Tapi jika mau berunding soal TikTok, setidaknya akan muncul ‘good gesture’ (sikap goodwill) sehingga komunikasi bisa berlangsung lebih bersahabat.”

Ada pula analisis lain yang menilai kesepakatan TikTok ini merupakan kompromi kedua belah pihak, karena AS juga tidak ingin isu ini memengaruhi pemilu sela.

Penulis sekaligus Presiden perusahaan real estate, Jiang Pinchao, mengatakan: “Secara substansi, ini mirip dengan bagaimana Tiongkok menggunakan rare earth untuk menekan Amerika. Ini adalah kartu tawar. Namun menjelang pemilu sela, pemerintahan Trump akan membuat konsesi tertentu agar masalah ini tidak mengganggu pemilu.”

Perwakilan Dagang AS, Jamieson Lee Greer, menyatakan bahwa isu perdagangan AS-Tiongkok lainnya, seperti soal tanah jarang, akan dibahas dalam perundingan sebulan mendatang.

Sumber : NTDTV.com

Jumlah Lansia Berusia 100 Tahun di Jepang Hampir 100 Ribu – 7 Rahasia Panjang Umur Terungkap

EtIndonesia. Hingga 1 September 2025, jumlah lansia berusia 100 tahun di Jepang mencapai hampir 100 ribu orang, rekor tertinggi dalam sejarah dan telah meningkat selama 55 tahun berturut-turut. Para ahli menilai, umur panjang orang Jepang berkat pola makan seimbang, hubungan sosial yang baik, serta gaya hidup aktif. Selain itu, layanan kesehatan, langkah pencegahan, dan lingkungan yang bersih juga berperan penting.

Jepang termasuk negara dengan angka harapan hidup tertinggi di antara negara-negara anggota OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi). Hingga 1 September 2025, Jepang memiliki 99.763 orang berusia 100 tahun, sebagian besar perempuan (sekitar 88%). Yang tertua adalah Shigeko Kagawa (114 tahun), seorang dokter pensiunan, sementara hidup mereka? Bagaimana peran lingkungan, budaya, dan layanan kesehatan?

Sejak era Showa, orang Jepang mempertahankan pola hidup sederhana: bekerja keras, makan makanan musiman, serta hidup mandiri dan bersyukur.

Filosofi hidup mereka berpegang pada konsep ikigai — yang berarti “alasan untuk hidup” atau “makna kehidupan”. Istilah ini berasal dari iki (hidup) dan gai (nilai/arti). Ikigai ditemukan ketika seseorang menjalani hal yang dicintai, dikuasai, dibutuhkan dunia, sekaligus memberi manfaat.

Berikut adalah tujuh rahasia panjang umur orang Jepang, sebagaimana dirangkum The Times of India:pria tertua adalah Kiyotaka Mizuno (111 tahun).

Mengapa begitu banyak orang Jepang bisa hidup melewati usia 100 tahun? Bagaimana gaya 

  1. Pola makan seimbang berbasis nabati
    Orang Jepang lebih banyak mengkonsumsi ikan, sayuran, produk kedelai (seperti tahu dan miso), rumput laut, serta jamur, sementara daging merah dan makanan olahan relatif sedikit.
    Pola makan tradisional menekankan makanan segar, porsi kecil namun sering, serta variasi. Di Okinawa, ada kebiasaan makan “hara hachi bu” (makan sampai 80% kenyang) serta mengunyah perlahan.
  2. Angka rendah penyakit mematikan tertentu
    Dibanding banyak negara Barat, Jepang memiliki tingkat kematian lebih rendah akibat kanker tertentu (payudara, prostat) dan penyakit jantung. Asupan ikan (Omega-3), rendah lemak jenuh, serta garam secukupnya membantu menjaga jantung dan pembuluh darah.

Studi menunjukkan pria Jepang paruh baya memiliki timbunan kolesterol arteri lebih sedikit dibanding pria kulit putih Amerika, berkat tingginya konsumsi makanan laut.

  1. Hubungan sosial dan tujuan hidup yang kuat
    Riset panjang umur (terutama di Okinawa) menunjukkan ikigai, aktivitas mental-fisik berkelanjutan, serta jaringan sosial yang erat sangat penting.
    Lansia Jepang umumnya tetap aktif dalam pekerjaan, keluarga, maupun kegiatan komunitas.
  2. Tetap aktif secara fisik
    Aktivitas fisik adalah bagian dari keseharian, seperti berjalan, berkebun, olahraga ringan, menggunakan transportasi umum, hingga mengurus rumah. Semua ini menjaga tubuh tetap bugar.
    Program olahraga harian seperti Radio Taiso (senam pagi via radio) juga populer.
  3. Layanan kesehatan, pencegahan, dan lingkungan bersih
    Jepang memiliki infrastruktur medis yang baik, pemeriksaan kesehatan rutin, tradisi pencegahan, serta sistem sanitasi yang terjaga.
    Air bersih, udara relatif bebas polusi, serta pengelolaan limbah yang baik berkontribusi pada kesehatan masyarakat.
  4. Faktor genetik
    Penelitian menunjukkan orang Jepang memiliki variasi gen tertentu yang membantu melawan penuaan, penyakit, serta menjaga metabolisme tetap baik. Studi pada saudara kandung lansia Okinawa mendukung keunggulan genetik ini.
  5. Pola pikir positif dan tradisi budaya
    Rasa hormat kepada orang tua, pengakuan komunitas, sikap positif menghadapi penuaan, serta kesehatan mental berperan besar. Banyak lansia Jepang tetap merasa bermanfaat, memiliki ikatan sosial, dan hidup damai. Konsep seperti ikigai, mindfulness, serta keterlibatan sosial memperkuat ketahanan psikologis mereka.

Singkatnya, meski penuaan tak bisa dihindari, pengalaman Jepang menunjukkan bahwa dengan gaya hidup yang tepat, usia tua tetap bisa dijalani dengan sehat dan kuat.

Sumber : NTDTV.com

Militer Israel Luncurkan Operasi Darat di Gaza, Trump Peringatkan Hamas Jangan Gunakan Sandera sebagai Perisai Manusia

EtIndonesia. Pada Selasa (16 September), Israel secara resmi melancarkan operasi militer darat terhadap Kota Gaza. Presiden AS Donald Trump memperingatkan Hamas agar tidak menjadikan sandera sebagai perisai manusia, jika tidak maka mereka akan kehilangan segalanya. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan kembali bahwa prasyarat penyelesaian konflik Gaza melalui negosiasi adalah Hamas harus melucuti senjata dan membebaskan semua sandera.

Pada hari itu, Israel meningkatkan serangan terhadap Gaza. Suara ledakan terus terdengar, cahaya api silih berganti menyinari langit.

Sejumlah besar tank Israel berkumpul di perbatasan Gaza, sementara jet tempur berputar di atas Kota Gaza.

 “Semalam, militer Israel memperluas operasi darat di Kota Gaza, ini menandai dimulainya fase baru pertempuran. Angkatan udara, pasukan darat, dan unit intelijen bekerja sama melakukan serangan presisi, menargetkan sasaran militer Hamas yang mengancam keamanan Israel,” ujar Juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Daniel Hagari. 

Ia juga menegaskan bahwa serangan di Gaza akan terus berlangsung sampai semua tujuan tercapai, dan menuduh Hamas telah menjadikan Kota Gaza sebagai perisai manusia terbesar dalam sejarah.

Video yang dirilis militer Israel pada hari yang sama memperlihatkan Kepala Staf Umum, Herzi Halevi, meninjau pasukan yang ditempatkan di Jalur Gaza. Rekaman menunjukkan Kota Gaza diliputi api peperangan, dengan asap hitam besar membumbung ke langit.

Pada hari yang sama, Israel juga membombardir pelabuhan Hodeidah di Laut Merah yang dikuasai kelompok Houthi di Yaman. Sebelumnya, Houthi menyerang kapal di Laut Merah dengan dalih mendukung Hamas dan meluncurkan rudal ke arah Israel, meski sebagian besar berhasil dicegat.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa militer Israel tengah melakukan operasi di beberapa front sekaligus.

Benjamin Netanyahu mengatakan:  “Beberapa menit lalu, jet tempur kami membombardir Pelabuhan Hodeidah di Yaman—pelabuhan utama pasokan rezim teroris Houthi. Pada saat yang sama, pasukan kami sedang beroperasi di Kota Gaza, dengan tujuan tidak hanya menghancurkan musuh (Hamas), tetapi juga mengevakuasi penduduk setempat.”

Pada hari itu, setelah mengakhiri kunjungannya di Israel, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bertolak ke Doha dan mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani.

Dalam perjalanan dari Tel Aviv ke Doha, Rubio menegaskan kembali bahwa AS mendukung penyelesaian perang Gaza melalui negosiasi, namun syarat utamanya adalah Hamas harus dilucuti senjata dan dibubarkan. Ia juga mengecam tindakan Hamas yang menyandera warga sipil.

Marco Rubio menekankan:  “Harus saya katakan, seharusnya sama sekali tidak ada sandera! Jika ingin berperang, seharusnya berlangsung antara pihak yang bertikai. Warga sipil tidak boleh dijadikan perisai manusia dalam peperangan.”

Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menulis di media sosial Truth Social, memperingatkan Hamas agar tidak menjadikan sandera sebagai perisai manusia.

Trump menulis:  “Saya baru saja membaca sebuah laporan bahwa Hamas telah memindahkan sandera ke permukaan tanah, bermaksud menggunakan mereka sebagai perisai manusia untuk menahan serangan darat Israel. Semoga para pemimpin Hamas sadar konsekuensi dari tindakan ini. Ini adalah kekejaman yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan tidak boleh dibiarkan terjadi. Jika dilakukan, Hamas akan kehilangan semua taruhannya. Segera bebaskan semua sandera!”

Sumber : NTDTV.com

Populasi Tiongkok Banyak yang Hilang, Pengambilan Sampel DNA oleh Aparat Picu Kecurigaan

Beberapa tahun terakhir, banyak remaja, anak-anak, praktisi Falun Gong, serta warga etnis minoritas di Xinjiang di Tiongkok yang hilang secara misterius. Baru-baru ini, beredar kabar di internet bahwa sebuah kantor polisi di Tiongkok mewajibkan seluruh pria di wilayahnya menyerahkan sampel darah DNA. Tujuan di balik tindakan ini menimbulkan kecurigaan besar.

Putin pernah berkata: “Seiring perkembangan bioteknologi, organ manusia bisa terus ditransplantasikan, bahkan manusia bisa semakin muda, bahkan hidup abadi.”

Pemimpin PKT, Xi Jinping, juga mengatakan: “Diperkirakan, pada abad ini, manusia mungkin bisa hidup sampai usia 150 tahun.”

EtIndonesia. Pada 3 September 2025 lalu, saat parade militer di Beijing, siaran langsung media corong Partai Komunis Tiongkok (PKT), CCTV tanpa sengaja merekam percakapan Xi Jinping dengan Putin tentang transplantasi organ. Hal tersebut membuat dunia luar merinding.

“Dalam percakapan santai antara pemimpin Rusia dan PKT, mereka bisa begitu enteng membicarakan soal organ. Itu justru membuka kedok kejahatan negara yang selama ini mati-matian disembunyikan oleh PKT. Tidak heran jika hal ini langsung meledak di opini publik dunia,” ujar Kolumnis Epoch Times, Wang He. 

Baru-baru ini, sebuah tangkapan layar dari pemberitahuan “Kantor Polisi Chengbei” di Tiongkok menyebar luas di internet. Pemberitahuan itu mewajibkan “semua pria yang berstatus penduduk di Kota Wanxing” untuk berkumpul di pusat layanan properti pada 14 September pagi, guna melakukan pengambilan sampel darah DNA.

Dalam pemberitahuan disebutkan bahwa hal itu dilakukan demi “memberantas perdagangan manusia” dan “identifikasi orang hilang atau mencari keluarga”. Namun, alasan ini memicu meluasnya keraguan.

 “Setiap kali Partai Komunis ingin berbuat jahat, mereka selalu membungkusnya seolah demi kebaikan, untuk menipu masyarakat. Kalau benar-benar peduli terhadap keamanan sosial dan perdagangan anak, seharusnya tingkat anak hilang di Tiongkok tidak setinggi itu,” kata Mantan kepala Departemen Akupunktur Rumah Sakit Pengobatan Tiongkok, David Xu. 

Tahun lalu, organisasi yang berbasis di New York, Human Rights Watch, melaporkan adanya praktik “pengumpulan DNA dalam skala besar dan pembangunan basis data” di Tiongkok. Diperkirakan, basis data DNA nasional di Tiongkok telah mencatat lebih dari 140 juta sampel DNA. Organisasi itu memperingatkan bahwa hal ini merupakan pelanggaran serius terhadap privasi dan hak asasi manusia.

Pakar dari Dewan HAM PBB menyerukan agar dilakukan penyelidikan lintas negara, dan menekankan bahwa “basis data DNA berskala besar ini bisa menjadi fondasi bagi praktik penghilangan paksa dan perdagangan organ.”

Menurut Buku Putih Populasi Hilang di Tiongkok yang dirilis oleh China Social Assistance Research Institute bersama proyek Toutiao Xunren, pada tahun 2020 jumlah orang hilang di Tiongkok mencapai 1 juta jiwa. Banyak pihak menilai angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Pada awal Juli tahun ini, Daily Telegraph Inggris melaporkan, mengutip data organisasi HAM internasional End Transplant Abuse in China, bahwa PKT berencana membangun 6 pusat medis baru dengan fasilitas transplantasi organ di Xinjiang hingga tahun 2030, termasuk 4 pusat di ibu kota Urumqi.

“Ini jelas bukan karena kebutuhan medis. Ini adalah ekspansi strategi PKT dalam transplantasi organ hidup, yang di baliknya tersembunyi kejahatan serius terhadap kemanusiaan, bahkan genosida,” ujar Wakil Ketua Aliansi Demokratik Tiongkok, Sheng Xue. 

Pada 13 September, World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong  (WOIPFG) merilis laporan investigasi yang menyebutkan bahwa sejak 1999, setelah PKT memulai penganiayaan terhadap Falun Gong, industri transplantasi organ di Tiongkok berkembang pesat. Banyak praktisi Falun Gong yang menjadi korban pengambilan organ hidup, sehingga terbentuk rantai industri besar dalam negeri. 

Sejak 2017, transplantasi organ anak di Tiongkok juga meningkat tajam, bahkan transplantasi hati anak di Tiongkok kini menempati peringkat pertama di dunia.

Laporan itu juga menyebutkan, banyak pusat transplantasi di Tiongkok melakukan transplantasi organ anak dalam jumlah besar. Ada indikasi bahwa bayi baru lahir dijadikan seperti “mesin produksi organ”. Hal ini kemungkinan besar terkait dengan ambisi PKT untuk memenuhi target umur panjang “150 tahun” bagi pejabat tinggi mereka.

Menurut laporan China National Radio pada 2013, setiap tahun sekitar 200 ribu anak hilang di Tiongkok, namun yang berhasil ditemukan kembali hanya 0,1%. (***)

Sumber : NTDTV.com

Hujan Deras Melanda Banyak Provinsi di Tiongkok Hingga Merendam Kota-kota (Video)

Beberapa provinsi di Tiongkok, termasuk Henan, Liaoning, Shandong, Sichuan, dan Hubei, dilanda hujan deras pada Selasa 16 September 2025. Banyak kota mengalami banjir parah hingga jalanan berubah menjadi lautan air. Mobil-mobil dan toko-toko terendam yang menyebabkan kerugian besar

EtIndonesia. Badan Meteorologi Pusat Tiongkok pada 16 September mengeluarkan peringatan cuaca dengan status biru untuk potensi konvektif kuat. Sejumlah wilayah, termasuk Jiangsu, Hubei, Shandong, dan Sichuan, diperkirakan akan dilanda angin kencang dengan kecepatan lebih dari level 8, disertai badai guntur serta hujan es.

Pada 16 September dini hari, wilayah Chengdu (Sichuan) dan sekitarnya mengalami cuaca ekstrem berupa sambaran petir dan hujan deras, Bahkan, dalam waktu singkat kawasan kota terendam banjir. Jalanan berubah seperti sungai hingga ada warga yang menggunakan perahu untuk beraktivitas.

Di kota Luohe, Provinsi Henan, hujan deras juga menyebabkan jalan-jalan tergenang air dalam, banyak mobil terendam.

Seorang warga yang merekam video mengatakan: “Hujannya deras sekali dan sangat cepat, air menggenang parah, mengemudi rasanya seperti naik kapal.” Dalam video tampak warga berjalan di jalan dengan air setinggi pinggang.

Selain itu, kota Pingdingshan, Zhumadian, dan Xuchang di Henan juga dilanda hujan deras hingga kota-kota berubah menjadi lautan air. Seorang warga mengunggah video dengan komentar satir: “Mereka bilang Xuchang ini sudah jadi kota di tepi laut.”

Ada pula video dari Zhumadian, Henan, yang memperlihatkan sebuah sekolah kebanjiran. Para siswa terpaksa berjalan di genangan air sambil membawa payung untuk masuk ke gedung kelas.

Pada hari yang sama, Biro Meteorologi Shandong mengeluarkan peringatan biru hujan deras serta peringatan bahaya banjir bandang. Disebutkan bahwa Jinan, Tai’an, Zibo, Weifang, Heze, Jining, Zaozhuang, Linyi, Rizhao, Qingdao, Yantai, dan Weihai akan terdampak hujan deras.

Video dari Heze (Shandong) menunjukkan hujan deras yang membuat langit tiba-tiba gelap gulita, siang berubah seperti malam.

Di Linyi (Shandong), hujan deras bercampur hujan es merusak kaca mobil. Seorang warga merekam dan berkata: “Sudah 20 tahun, baru kali ini saya mengalami hujan es sebesar ini!”

Sementara itu, Dalian (Liaoning) juga dilanda hujan lebat pada hari yang sama. Beberapa kawasan kota terendam, banyak mobil terendam air, pusat perbelanjaan kebanjiran, bahkan ada seorang lansia yang terseret arus deras di jalan.

Di Hubei, sejumlah daerah pun dihantam hujan deras. Dalam sebuah video terlihat, sebuah pusat perbelanjaan di jalan khusus pejalan kaki di kota Yicheng seluruhnya terendam banjir, dengan kerugian besar.

Menurut China Weather Network, diperkirakan pada 17–18 September, sebagian wilayah Sichuan, Guizhou, Yunnan, Chongqing, Shaanxi, Hubei, dan Henan masih akan diguyur hujan lebat. Pusat Meteorologi Nasional pada 17 September  pukul 06.00 pagi kembali mengeluarkan peringatan kuning hujan deras.

Sumber : NTDTV.com

Remaja di Tiongkok Didenda Rp 5 Miliar atas Video Kencing di Restoran Hotpot yang Menyebabkan Pemilik Mengembalikan Uang 4.000 Pelanggan

EtIndonesia. Dua remaja Tiongkok diperintahkan untuk membayar ganti rugi sebesar 2,2 juta yuan (sekitar Rp 5 miliar) setelah merekam diri mereka sendiri buang air kecil ke dalam hidangan hotpot di sebuah restoran populer.

Pasangan ini mengunggah video “lelucon” mereka secara daring, dan gerai tersebut, salah satu jaringan restoran Haidilao nasional, terpaksa mengembalikan uang lebih dari 4.000 pelanggan.

Insiden tersebut terjadi pada 24 Februari, ketika dua remaja berusia 17 tahun, bermarga Tang dan Wu, sedang makan di ruang pribadi di salah satu restoran jaringan tersebut di Shanghai.

Dua remaja yang mabuk itu naik ke meja makan dan buang air kecil ke dalam hotpot sementara salah satu dari mereka merekam aksi tersebut dalam video.

Wu kemudian mengunggah rekaman tersebut ke media sosial, yang kemudian menjadi viral dan memicu kemarahan publik, terutama terkait keamanan pangan.

“Saya tidak akan pergi ke Haidilao untuk saat ini. Saya tidak ingin makan hidangan hotpot yang sudah dikencingi orang lain, atau mengunggah momen bahagia makan hotpot saya tetapi mendapat komentar seperti orang kencing di sana,” kata seorang pengamat daring.

Kedua orang yang terlibat ditempatkan di bawah penahanan administratif setelah insiden tersebut.

Untuk meyakinkan pelanggan dan memulihkan reputasinya, cabang Haidilao mengeluarkan permintaan maaf di media sosial pada 12 Maret, menjanjikan bahwa semua peralatan makan yang digunakan di restoran telah dihancurkan dan diganti, dan tempat tersebut telah didisinfeksi.

Haidilao juga mengumumkan akan mengembalikan sepenuhnya semua biaya makan dan memberikan kompensasi tunai sebesar 10 kali lipat dari jumlah pesanan kepada masing-masing dari 4.109 pelanggan yang makan selama periode yang terdampak.

Pada 14 Maret, restoran tersebut mengajukan gugatan perdata terhadap Tang, Wu, dan orangtua mereka, meminta pertanggungjawaban hukum mereka dan menuntut kompensasi lebih dari 23 juta yuan (sekitar Rp 53 miliar) atas kerusakan properti, kerugian operasional, dan kerusakan reputasi.

Pada 12 September, Pengadilan Rakyat Distrik Huangpu Shanghai memutuskan bahwa Tang, Wu, dan masing-masing orangtua mereka harus membayar Haidilao bersama-sama dengan total 2,2 juta yuan.

Putusan tersebut mencakup 130.000 yuan untuk peralatan makan yang rusak dan biaya kebersihan, 2 juta yuan untuk kerugian operasional dan reputasi, serta tambahan 70.000 yuan untuk biaya hukum.

Banyak orang di media sosial memuji hukuman tersebut.

Seseorang berkata: “Putusannya adil, tetapi sejujurnya, mereka seharusnya menerima hukuman yang lebih lama.”

Yang lain berkata: “Mereka menuntut 23 juta yuan, tetapi pengadilan hanya memberikan 2,2 juta yuan. Itu sangat ringan,”.

“Ini pasti pipis termahal dalam sejarah,” kata yang ketiga.

Insiden ini mengingatkan pada kontroversi lain pada Mei 2023, ketika seorang anak tertangkap basah meludah ke mesin sterilisasi sumpit di sebuah perguruan tinggi di Tiongkok.(yn)