Mata Uang Kripto Yuan Tiongkok: Hanya Alat Lain dari Kendali Digital
Antonio Graceffo
Dorongan Tiongkok untuk meluncurkan stablecoin yang didukung yuan bukanlah tentang inovasi atau keuangan global, melainkan lebih dari perluasan pengawasan dan kendali digital oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), sehingga kecil kemungkinan bisa menggantikan dolar atau menghadirkan kebebasan finansial sejati.
Tiongkok sedang bersiap menyetujui rencana besar untuk meningkatkan penggunaan yuan secara global dengan memungkinkan pembuatan stablecoin yang didukung yuan, sebuah langkah balik dari sikap sebelumnya yang menolak aset digital.
Dewan Negara diperkirakan akan meninjau peta jalan pada Agustus untuk menetapkan target penggunaan yuan internasional, menetapkan peran regulasi, dan membangun langkah-langkah pengendalian risiko.
Rezim Tiongkok memandang stablecoin sebagai alat untuk menginternasionalkan yuan, mengurangi ketergantungan pada dolar AS, dan memperluas pembayaran perdagangan lintas batas. Jika disetujui, rencana ini akan menjadi perubahan kebijakan besar. Tiongkok melarang perdagangan dan penambangan kripto pada tahun 2021, tetapi rencana ini mencerminkan pengakuan Beijing bahwa token berbasis blockchain dan didukung mata uang fiat mungkin menjadi cara untuk menginternasionalkan yuan.
Stablecoin adalah jenis mata uang kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai yang konsisten, biasanya setara US$1, melalui cadangan aset nyata. Ada beberapa jenis stablecoin: stablecoin berbasis kripto (menggunakan kripto lain sebagai jaminan); stablecoin algoritmik (mengandalkan kode atau algoritma untuk menjaga stabilitas); dan stablecoin berbasis fiat (didukung mata uang fiat—uang kertas—yang disimpan di rekening bank). Stablecoin yuan yang diusulkan akan masuk kategori terakhir ini.
Gagasan di balik stablecoin berbasis yuan adalah bahwa dengan adanya mata uang fiat sebagai jaminan, nilainya akan stabil. Namun, mata uang fiat sendiri sebenarnya tidak benar-benar stabil; nilainya berfluktuasi setiap menit. Jika dolar AS naik atau turun, stablecoin berbasis dolar akan ikut bergerak. Hal yang sama berlaku untuk stablecoin berbasis yuan. Dalam arti ini, istilah “stabil” menyesatkan: stablecoin berbasis fiat tetap terikat pada volatilitas mata uang fiat dan karena itu tidak mewakili lompatan nyata dari sistem fiat tradisional.
Bank sentral Tiongkok kemungkinan melirik pasar stablecoin dengan tujuan menggantikan dolar AS, yang saat ini mendukung 98 persen dari semua stablecoin yang berdenominasi fiat berdasarkan volume. Pemerintah AS sendiri tidak langsung menerbitkan stablecoin, meskipun undang-undang terbaru seperti GENIUS Act telah menciptakan kerangka regulasi bagi stablecoin.
Di sebagian besar negara, stablecoin diterbitkan oleh perusahaan swasta di bawah pengawasan pemerintah. Sebaliknya, stablecoin berbasis yuan yang diusulkan hampir pasti akan dikendalikan negara, bukan diterbitkan secara swasta.
Para pendukung stablecoin menyoroti beberapa fungsi yang bisa mereka penuhi. Misalnya, stablecoin dapat diprogram dengan smart contracts untuk memungkinkan pembayaran otomatis, pinjaman, dan layanan keuangan lainnya. Namun, fungsi ini tidak unik. Kemampuan serupa sudah ada melalui PayPal, Wise, rekening bank tradisional, dan platform pialang. Di Tiongkok, Alipay dan WeChat Pay menawarkan fungsi-fungsi ini.
Keuntungan lain yang sering diklaim adalah transfer lintas batas: stablecoin dapat berpindah secara global 24/7 tanpa bergantung pada infrastruktur perbankan tradisional. Namun, hal ini juga dapat dicapai melalui berbagai aplikasi dan sistem perbankan daring. Yang lebih penting, di Tiongkok, fitur semacam itu bertentangan dengan kebijakan negara.
PKT memberlakukan kontrol modal ketat untuk membatasi arus keluar uang dari negara. Mengizinkan warga maupun non-warga untuk memindahkan uang ke luar negeri secara mulus melalui stablecoin berbasis yuan akan melemahkan kontrol tersebut dan berpotensi melemahkan kemampuan PKT untuk memanipulasi nilai yuan.
Para penggemar kripto sering mengutip dugaan anonimitas blockchain sebagai keuntungan, meskipun deskripsi yang lebih akurat adalah bahwa transaksi hanya “pseudonim.” Tidak seperti transfer bank, pengguna tidak perlu mengungkapkan identitas mereka untuk setiap transaksi. Namun kenyataannya, transaksi blockchain lebih mudah dilacak dibandingkan uang tunai fisik, meninggalkan catatan publik permanen yang dapat dilacak dan dianalisis tanpa batas.
Setiap transfer dapat dilacak dari ujung ke ujung, dengan unit tertentu di dompet dapat ditelusuri ke setiap pemegang sebelumnya. Sebagian besar mata uang kripto bersifat pseudonim, bukan benar-benar anonim; mereka hanya memberikan nama samaran digital, bukan anonimitas sejati. Sebuah studi tahun 2024 menemukan bahwa 60 persen transaksi bitcoin dapat ditelusuri kembali ke individu.
Lembaga pemerintah seperti Dinas Pajak AS – IRS- kini menggunakan perusahaan analisis blockchain untuk menghubungkan alamat kripto dengan identitas dunia nyata melalui data bursa dan prosedur Know Your Customer (KYC). Tidak seperti uang tunai fisik yang tidak meninggalkan catatan permanen, mata uang kripto menciptakan basis data publik yang tidak dapat diubah atas setiap transaksi yang dapat dianalisis oleh siapa saja.
Tidak ada pemerintah berdaulat yang akan pernah mengizinkan transaksi benar-benar anonim, baik karena alasan perpajakan, penegakan sanksi, maupun pencegahan terorisme dan aktivitas kriminal. Mulai tahun 2026, semua bursa kripto di AS (kecuali yang terdesentralisasi) akan diwajibkan melaporkan data transaksi ke IRS, menunjukkan perluasan pengawasan pemerintah yang tak terelakkan. Hal ini terlebih lagi berlaku di Tiongkok.
Hal terakhir yang diinginkan PKT adalah transaksi pseudonim. Beijing mengendalikan setiap aspek ekonomi dan masyarakat sipil melalui sistem pengawasan digital paling canggih yang pernah dikembangkan, termasuk lebih dari 200 juta kamera CCTV dalam sistem “Skynet” dengan teknologi pengenalan wajah.
Pada Juli, Tiongkok meluncurkan sistem identitas digital terpadu yang memusatkan jejak digital warga dan terintegrasi dengan sistem kredit sosial untuk pemantauan waktu nyata. Yuan digital dirancang untuk memberi PKT wawasan yang belum pernah ada sebelumnya terhadap keuangan pribadi dan alat yang kuat untuk tindakan hukuman. Mengizinkan aktivitas finansial anonim akan merusak kendali itu, sebab itulah Beijing tidak akan pernah mengizinkannya.
Rezim Tiongkok mengejar stablecoin berbasis yuan bukan karena mengabaikan kekhawatiran pengawasan, melainkan karena stablecoin ini dapat direkayasa untuk meningkatkan pengawasan sekaligus memajukan tujuan geopolitik. Strateginya adalah menggabungkan efisiensi blockchain dan kemampuan pembayaran lintas batas dengan kendali negara total, menciptakan apa yang oleh para pakar disebut “senjata geopolitik” daripada alat untuk kebebasan finansial.
Dengan menawarkan ekosistem alternatif yang melewati penjaga gerbang tradisional, PKT berupaya mengikis dominasi dolar AS dalam perdagangan dan pembayaran. Bahkan dengan hanya merebut sebagian kecil pasar stablecoin global, Beijing dapat memperluas penggunaan yuan secara internasional sambil mempertahankan kendali politik yang ketat.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan The Epoch Times.
Antonio Graceffo, Ph.D., adalah analis ekonomi Tiongkok yang telah menghabiskan lebih dari 20 tahun di Asia. Graceffo adalah lulusan Universitas Olahraga Shanghai, meraih gelar MBA dari Universitas Jiaotong Shanghai, dan belajar keamanan nasional di American Military University.
(Edisi Khusus): “Terbongkar! Parade Drone Tiongkok Hanyalah Ilusi Photoshop”
EtIndonesia. Pada parade militer 3 September, pemerintah Tiongkok dengan bangga memamerkan “keluarga besar” drone buatan dalam negeri. Media resmi langsung mengklaim bahwa kehadiran armada ini akan “mengubah aturan peperangan udara”. Namun, jika diteliti lebih dalam, tampak jelas bahwa apa yang ditampilkan hanyalah ilusi—sebuah “foto keluarga” yang dipoles demi propaganda, bukan gambaran nyata kekuatan militer.
Ilusi Drone “Penguasa Langit”
Yang paling menarik perhatian adalah drone nomor 5 dan 6, dijuluki “pengendali langit tanpa awak”. Nama garang itu seolah menandingi F-35 milik Amerika Serikat. Namun, faktanya justru memalukan:
- Lemah secara teknologi: Drone ini bergantung sepenuhnya pada data link—ibarat layang-layang yang terikat benang. Begitu sinyal terganggu, kendali hilang total.
- Tidak lincah: Panjang badan mencapai 16,67 meter, bahkan lebih besar daripada J-20. Tanpa ekor dan bobot berat, drone sebesar ini mustahil bermanuver cepat di udara.
- Harga tak masuk akal: Dibanderol 30–40 juta dolar per unit, lebih mahal daripada jet J-10C, tetapi kemampuan tempurnya nihil. Julukan yang lebih tepat: “peti mati terbang emas”.
Dalam pertempuran modern, F-35 bisa mengunci dan menembaknya dari jarak puluhan kilometer, sementara drone ini hanya bisa menunggu hancur.
Drone Penopang J-20
Drone nomor 3 dan 4 disebut loyal wingman atau pendamping tempur J-20. Namun, realitanya lebih mirip:
- Karung pasir: Dijadikan tameng untuk melindungi J-20 dari tembakan lawan.
- Mata tambahan: Memberi data sensor tambahan, namun bergantung penuh pada jaringan komunikasi yang rentan.
- Korban pengganti: Bila situasi genting, drone inilah yang “dikorbankan” agar J-20 bisa kabur.
Nomor 1 berbentuk seperti pembom mini B-2, tetapi lambat dan hanya cocok untuk serangan sekali pakai. Nomor 2 tampak seperti pesawat model skala besar, lebih cocok diekspor ke negara berkembang untuk menyerang target lapis baja ringan.
Kesimpulannya, yang disebut “sistem” ini hanyalah tempelan produk tambal-sulam, bukan jaringan operasi tempur yang utuh.
J-20: Sang “Naga Sakit”
Kebanggaan Tiongkok, jet tempur J-20, sesungguhnya rapuh. Jika didiagnosis layaknya pasien rumah sakit:
- “Penyakit jantung bawaan”
Mesin WS-10 lemah, sementara bodi terlalu besar. Akibatnya, manuver setara jet era 1960-an. - “Paru-paru lemah”
Tangki kecil, boros bahan bakar. Strategi tempur hanya berani menembak dari jauh, lalu segera kabur. - “Baju besi kertas”
Kemampuan siluman mudah ditembus radar UHF milik pesawat peringatan dini AS. Bahkan sebelum menembak, posisinya sudah diketahui.
Karena itu, J-20 membutuhkan “kursi roda” berupa drone nomor 3 dan 4. Ironisnya, justru jaringan komunikasi mereka menjadi lampu suar yang memperlihatkan lokasi kepada musuh.
Krisis Pilot dan Skandal Global
Masalah Tiongkok bukan sekadar mesin, tetapi juga manusianya.
- Kasus Daniel Duggan: Mantan pilot top Korps Marinir AS ditangkap karena melatih pilot Tiongkok secara diam-diam di Afrika Selatan. Puluhan pilot NATO pensiunan juga direkrut.
- Istilah ejekan internal: “Lima Ketidakmampuan”—tidak bisa menganalisis, tidak memahami maksud atasan, tidak berani mengambil keputusan, tidak bisa menyusun formasi, dan tidak mampu menghadapi situasi mendadak.
Semua ini lahir dari sistem militer yang menuntut loyalitas politik di atas profesionalisme. Pilot Barat bertanya: “Bagaimana cara menang?” Pilot Tiongkok justru berpikir: “Kalau saya lakukan ini, melanggar aturan partai tidak?” Dalam duel udara, sepersekian detik keraguan berarti kematian.
Dari Parade ke Pasar Saham
Parade seharusnya jadi simbol kejayaan, tetapi ironisnya pada hari itu, pasar saham Tiongkok justru anjlok.
- Saham sektor pertahanan yang semestinya naik, justru memimpin penurunan.
- Ratusan miliar yuan modal kabur, investor kecil menderita.
- Banyak yang menuding elit partai sengaja menggunakan parade untuk menjebak investor.
Namun kenyataannya lebih parah: bukan konspirasi rapi, melainkan perpecahan elit internal. Saat pemimpin berdiri gagah di menara, para kapitalis di belakangnya sibuk mencairkan keuntungan.
Simbol Runtuhnya Sistem
Peristiwa ini mencerminkan retakan mendalam:
- Kepemimpinan gagal: Tidak mampu mengendalikan kapitalis internal.
- Elit kehilangan kepercayaan: Lebih memilih melarikan modal daripada menjaga narasi “kebangkitan bangsa”.
Inilah simbol bahwa sistem sedang runtuh dari dalam—propaganda di panggung megah tidak lagi sejalan dengan kenyataan di balik layar.
Pertarungan Masa Depan
Dalam perang modern, yang menentukan bukan sekadar teknologi, melainkan industri dan daya tahan.
- Amerika membangun sistem murah, massal, dan andal.
- Tiongkok sibuk menciptakan “bintang mahal” yang rapuh.
Cara menilai klaim Tiongkok sederhana:
- Apakah ada teknologi komunikasi laser anti-gangguan?
- Apakah drone diuji massal dalam lingkungan elektromagnetik kompleks?
- Apakah drone sering terbang latihan, atau hanya dipajang di hanggar?
- Apakah latihan benar-benar mensimulasikan operasi lintas Selat Taiwan?
Jawabannya jelas: propaganda bisa dipoles, tetapi industri, data link, dan kapasitas produksi tidak bisa dibohongi.
Penutup
Parade 3 September bukanlah demonstrasi kekuatan sejati, melainkan panggung ilusi. Drone yang dipuji sebagai penguasa langit ternyata rapuh, J-20 terbukti cacat sejak lahir, pilotnya dilanda krisis kepercayaan, dan pasar saham menelanjangi retaknya elit.
Semua ini menunjukkan bahwa di balik gemerlap parade, Tiongkok menghadapi kenyataan pahit: ilusi kejayaan tak bisa menutupi rapuhnya fondasi militer dan politiknya. (***)
Ledakan Beruntun, Drone Mengamuk, dan Pasukan Eropa Bergerak, Rusia Terdesak
EtIndonesia– Dalam 24 jam terakhir, perang Rusia–Ukraina kembali memasuki fase yang menentukan. Serangan balasan Ukraina berhasil mencatatkan sejumlah kemajuan signifikan di berbagai lini, mulai dari Donetsk hingga Zaporizhzhia, dengan dukungan baru dari sekutu Eropa.
Ledakan Dahsyat di Donetsk
Pada 5 September 2025, pasukan Ukraina menghantam gudang amunisi besar Rusia di daerah Selidove, selatan Pokrovsk, hanya 8 km dari garis depan. Ledakan besar mengguncang kawasan, asap hitam membubung tinggi, dan rekaman amatir memperlihatkan seorang tentara Rusia linglung berjalan sambil bergumam: “Selesai sudah.”
Serangan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Brigade Artileri ke-45 Ukraina juga menghancurkan gudang logistik Rusia yang lebih besar, memperlambat laju ofensif Moskow di sektor selatan.
Operasi Darat: Ukraina Rebut Kembali Desa
- Zatsochok: Brigade Serbu ke-425 Ukraina menangkap sembilan tentara Rusia.
- Boykivka: Pasukan Kyiv berhasil merebut kembali desa strategis ini.
- Novotoretsk & New Yinkyne: Rusia dipaksa mundur dari sejumlah posisi yang mereka kuasai dengan kerugian besar.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa strategi Ukraina menekan titik lemah logistik Rusia mulai membuahkan hasil.
Serangan Udara dan Rudal Presisi
Ukraina juga mengandalkan kekuatan udara:
- Sebuah MiG-29 menjatuhkan bom berpemandu GBU-62 ke posisi Rusia di Malynivka, menghancurkan unit serbu dan amunisi mereka.
- Unit khusus Ukraina menghancurkan sistem pertahanan udara Buk M1 SA-11 Rusia senilai sekitar 1 miliar rubel (10 juta USD).
Sebaliknya, Rusia justru membuang sia-sia empat rudal senilai total 12 juta USD hanya untuk menargetkan tim pengintai Ukraina beranggotakan tiga orang. Para prajurit Ukraina selamat tanpa luka, bahkan menyebutnya “pertunjukan kembang api gratis.”
Perang Drone dan Infrastruktur Energi
Ukraina makin intensif memakai drone:
- Unit Phoenix menghancurkan kendaraan logistik Rusia.
- Drone kamikaze menghantam radar dan sistem komunikasi di Krimea.
- 5 September dini hari, drone Ukraina menyerang kilang minyak Ryazan, salah satu yang terbesar di Rusia. Ledakan terdengar hingga pinggiran Moskow.
- Serangan juga menghantam fasilitas Energiya di Lipetsk, produsen baterai dan sistem tenaga militer.
- Depot minyak terakhir Rusia di Luhansk turut dihancurkan.
Serangan beruntun ini menambah tekanan pada jalur pasokan energi militer Rusia.
Pertempuran di Selatan: Kherson & Zaporizhzhia
- Zaporizhzhia: artileri Ukraina menghancurkan gudang senjata dan pusat komando Rusia.
- Kherson: pasukan Ukraina menenggelamkan kapal pengangkut Rusia di delta Sungai Dnipro.
- Oleshky: jet MiG-29 menjatuhkan bom presisi ke markas komando Rusia, melumpuhkan sistem kendali musuh.
Dukungan Eropa: Perubahan Besar
Pada 4 September 2025, Presiden Prancis Emmanuel Macron memimpin konferensi 35 negara aliansi sukarela. Hasilnya: 26 negara Eropa berkomitmen mengerahkan pasukan darat, laut, dan udara jika tercapai gencatan senjata atau perjanjian damai di Ukraina.
- Jerman memastikan bantuan berupa pembentukan lima brigade baru, dilengkapi kendaraan tempur modern dan sistem pertahanan udara.
- Berlin juga ikut membiayai pengembangan rudal jelajah Ukraina.
Langkah ini menandai perubahan besar: Eropa tak lagi hanya mengirim senjata, tetapi juga membangun ulang industri militer Ukraina.
Peringatan Keras dari Kremlin
Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan dalam Forum Ekonomi Timur bahwa pasukan asing di Ukraina akan dianggap sebagai target sah. Kremlin menilai rencana Eropa sebagai provokasi serius yang dapat memicu eskalasi lebih luas.
Balapan Persenjataan Jarak Jauh
Ukraina kini berpacu memperkuat rudal jarak jauh:
- Produksi Neptunus versi terbaru masih terbatas 15–20 unit per bulan, dibandingkan produksi Iskander-M Rusia yang mencapai 60 unit per bulan.
- FirePoint sedang mengembangkan rudal balistik FP9 dengan jangkauan 850 km, kecepatan Mach 6, dan hulu ledak 800 kg. Jika diproduksi massal, Moskow dan St. Petersburg akan masuk dalam jangkauan Ukraina.
Kesimpulan
Serangkaian serangan pada 5–6 September 2025 menunjukkan bahwa Ukraina semakin agresif, memukul Rusia di lini depan sekaligus melemahkan infrastruktur energi musuh jauh di belakang. Dukungan nyata dari Eropa memperkuat posisi Kyiv, namun juga meningkatkan risiko eskalasi langsung dengan Rusia.
Perang kini memasuki fase baru: bukan hanya tentang mempertahankan wilayah, tetapi juga tentang siapa yang lebih cepat membangun kekuatan industri militer untuk jangka panjang. (***)
Shigeru Ishiba Mengundurkan Diri: Siapa Saja Kandidat Teratas untuk Jabatan PM Jepang?
EtIndonesia. Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba telah mengumumkan pengunduran dirinya, dan kini semua mata tertuju pada siapa yang akan menggantikannya, meskipun nama-nama beberapa calon PM potensial sudah mulai beredar.
Prosedur untuk memilih pemimpin Jepang berikutnya kini sulit, karena Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Ishiba, yang memerintah Jepang hampir sepanjang periode pascaperang, dan mitra koalisi juniornya kehilangan mayoritas di kedua majelis parlemen. Dan karena presiden LDP tidak lagi dijamin menjadi perdana menteri, ada kemungkinan seorang pemimpin partai oposisi akan mengambil alih kepemimpinan.
Lalu apa selanjutnya?
Pertama, LDP harus memilih presiden baru untuk menggantikan Ishiba. Ada sembilan kandidat dalam pemilihan terakhir, dan Ishiba menang dalam putaran kedua.
Kandidat Utama dari LDP
Kandidat utama untuk posisi tersebut yang mungkin akan ikut serta dalam persaingan ini antara lain:
Sanae Takaichi, 64 tahun, berasal dari Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa, dan jika terpilih, Takaichi akan menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang. Seorang veteran partai yang pernah menjabat sebagai menteri keamanan ekonomi dan urusan dalam negeri, dia kalah dari Ishiba dalam pemilihan putaran kedua tahun lalu.
Takaichi dikenal karena posisi konservatifnya seperti merevisi konstitusi pasifis pascaperang dan merupakan pengunjung tetap kuil Yasukuni untuk menghormati para korban perang Jepang.
Dia menonjol karena penentangannya yang vokal terhadap kenaikan suku bunga Bank of Japan dan seruannya untuk meningkatkan belanja guna mendorong perekonomian yang rapuh.
Shinjiro Koizumi, 44 tahun, juga mencalonkan diri dalam pemilihan ketua partai tahun lalu dan menampilkan dirinya sebagai seorang reformis yang mampu memulihkan kepercayaan publik terhadap partai yang dilanda skandal, dan jika dia menang, dia akan menjadi perdana menteri termuda Jepang di era modern.
Meskipun Takaichi meninggalkan pemerintahan setelah kekalahannya dalam kontes tersebut, Koizumi tetap dekat dengan Ishiba sebagai menteri pertanian, mengawasi upaya yang dipublikasikan secara luas untuk mengekang lonjakan harga beras.
Yoshimasa Hayashi, 64, telah menjabat sebagai kepala sekretaris kabinet Jepang, sebuah jabatan yang mencakup jabatan juru bicara pemerintah, sejak Desember 2023 di bawah Perdana Menteri Fumio Kishida dan Ishiba. Dia telah memegang beberapa jabatan, termasuk menteri pertahanan, luar negeri, dan pertanian.
Sebagai seorang penutur bahasa Inggris yang fasih, Hayashi mencalonkan diri sebagai pemimpin LDP pada tahun 2012 dan 2024 dan telah berulang kali menyerukan penghormatan terhadap independensi BOJ dalam kebijakan moneter.
Para Kandidat Utama dari Oposisi
Yoshihiko Noda, 68, mantan perdana menteri, adalah pemimpin kelompok oposisi terbesar, Partai Demokrat Konstitusional yang berhaluan kiri-tengah.
Sebagai perdana menteri dari tahun 2011 hingga 2012, dia mendorong undang-undang untuk menggandakan pajak konsumsi Jepang menjadi 10% guna membantu mengekang utang publik yang membengkak dan mendapatkan reputasi sebagai seorang yang tegas dalam kebijakan fiskal.
Dalam pemilihan majelis tinggi bulan Juli, Noda melakukan perubahan haluan dan menyerukan pemotongan sementara pajak konsumsi untuk bahan makanan.
Yuichiro Tamaki, 56, dari Partai Demokrat untuk Rakyat yang berhaluan kanan-tengah, adalah mantan birokrat kementerian keuangan. Tamaki ikut mendirikan Partai Demokrat untuk Rakyat pada tahun 2018 dan mengadvokasi peningkatan pendapatan bersih rakyat dengan memperluas pembebasan pajak dan memangkas pajak konsumsi.
Dia mendukung peningkatan kemampuan pertahanan, regulasi yang lebih ketat untuk akuisisi lahan oleh orang asing, dan pembangunan lebih banyak pembangkit listrik tenaga nuklir. (yn)
Korea Selatan Akan Memulangkan 300 Pekerja yang Ditahan dalam Penggerebekan Pabrik Hyundai di AS
EtIndonesia. Lebih dari 300 pekerja Korea Selatan yang ditahan setelah penggerebekan imigrasi besar-besaran di pabrik Hyundai di Georgia akan dibebaskan dan dipulangkan, Pemerintah Korea Selatan mengumumkan pada hari Minggu (7/9).
Kang Hoon-sik, kepala staf Presiden Lee Jae Myung, mengatakan bahwa Korea Selatan dan AS telah menyelesaikan negosiasi pembebasan para pekerja tersebut. Dia mengatakan Korea Selatan berencana untuk mengirimkan pesawat carteran untuk memulangkan para pekerja segera setelah langkah-langkah administratif yang tersisa selesai.
Menteri Luar Negeri Cho Hyun akan berangkat ke AS pada hari Senin untuk melakukan pembicaraan terkait pembebasan para pekerja tersebut, media Korea Selatan melaporkan.
Otoritas imigrasi AS mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka menahan 475 orang, sebagian besar warga negara Korea Selatan, ketika ratusan agen federal menggerebek pabrik manufaktur Hyundai yang luas di Georgia, tempat produsen mobil Korea tersebut memproduksi kendaraan listrik. Para agen berfokus pada pabrik yang masih dalam pembangunan di mana Hyundai telah bermitra dengan LG Energy Solution untuk memproduksi baterai yang menggerakkan kendaraan listrik.
Cho Hyun mengatakan bahwa lebih dari 300 warga Korea Selatan termasuk di antara mereka yang ditahan.
Operasi ini merupakan yang terbaru dari serangkaian penggerebekan tempat kerja yang dilakukan sebagai bagian dari agenda deportasi massal pemerintahan Trump. Namun, penggerebekan pada hari Kamis ini sangat berbeda karena ukurannya yang besar dan fakta bahwa para pejabat negara telah lama menyebut lokasi yang ditargetkan sebagai proyek pembangunan ekonomi terbesar Georgia.
Penggerebekan ini mengejutkan banyak orang di Korea Selatan karena negara tersebut merupakan sekutu utama AS. Pada bulan Juli, Korea Selatan setuju untuk membeli energi AS senilai 100 miliar dolar dan melakukan investasi sebesar 350 miliar dolar di AS sebagai imbalan atas penurunan tarif AS. Sekitar dua minggu yang lalu, Presiden AS, Donald Trump dan Lee mengadakan pertemuan pertama mereka di Washington.
Lee mengatakan bahwa hak-hak warga negara Korea Selatan dan aktivitas ekonomi perusahaan Korea Selatan tidak boleh dilanggar secara tidak adil selama prosedur penegakan hukum AS.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan secara terpisah mengeluarkan pernyataan untuk menyatakan “keprihatinan dan penyesalan” atas kasus tersebut dan mengirimkan diplomat ke lokasi tersebut.
Video yang dirilis oleh Imigrasi dan Bea Cukai AS pada hari Sabtu menunjukkan konvoi kendaraan yang melaju ke lokasi kejadian dan kemudian agen federal mengarahkan para pekerja untuk berbaris di luar. Beberapa tahanan diperintahkan untuk mengangkat tangan mereka ke arah bus saat mereka digeledah dan kemudian diborgol di sekitar tangan, pergelangan kaki, dan pinggang mereka.
Sebagian besar orang yang ditahan dibawa ke pusat penahanan imigrasi di Folkston, Georgia, dekat perbatasan negara bagian Florida. Belum ada yang didakwa atas kejahatan apa pun, Steven Schrank, agen utama Investigasi Keamanan Dalam Negeri Georgia, mengatakan dalam konferensi pers hari Jumat, menambahkan bahwa penyelidikan masih berlangsung.
Dia mengatakan bahwa beberapa pekerja yang ditahan telah melintasi perbatasan AS secara ilegal, sementara yang lain telah memasuki negara itu secara legal tetapi visanya telah kedaluwarsa atau telah masuk dengan status bebas visa yang melarang mereka bekerja.
Kang, kepala staf kepresidenan Korea Selatan, mengatakan bahwa Korea Selatan akan mendorong peninjauan dan peningkatan sistem visa bagi mereka yang bepergian ke AS dalam perjalanan bisnis untuk proyek investasi. (yn)
Xi dan Putin Bahas Transplantasi Organ, Tersingkap Skandal Proyek Kesehatan Rahasia “981”
EtIndonesia. Percakapan antara pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang transplantasi organ di Beijing saat parade militer memicu perdebatan global. Publik segera mengaitkannya dengan proyek rahasia internal PKT bernama “Proyek Kesehatan Pimpinan 981”, sebuah layanan medis eksklusif untuk pejabat tinggi PKT dengan target memperpanjang usia hingga 150 tahun. Di baliknya tersimpan praktik gelap transplantasi organ.
Pada Jumat (5 September), Kantor berita Reuters menghapus video tersebut dengan alasan mendapat tekanan dari media resmi PKT, CCTV, serta pencabutan izin penggunaan.
Terjemahan pernyataan Putin: “Dengan perkembangan bioteknologi, organ manusia dapat terus ditransplantasi, bahkan manusia bisa makin muda, bahkan bisa hidup abadi.”
Pernyataan Xi Jinping: “Prediksi, pada abad ini, manusia mungkin bisa hidup hingga 150 tahun.”
Setelah percakapan ini bocor, iklan terkait “Proyek Kesehatan 981” kembali ditemukan publik.
Proyek ini diluncurkan pada 2005 oleh Rumah Sakit 301 Beijing, khusus untuk memberikan layanan medis bagi pimpinan tertinggi PKT. Slogan promosinya secara terang-terangan menyatakan “melawan kematian” dengan target memperpanjang usia hingga 150 tahun.
Dalam iklan tersebut disebutkan bahwa proyek ini mengintegrasikan teknologi medis mutakhir, termasuk transplantasi organ, dan mengklaim bahwa dalam 60 tahun terakhir, “hasilnya signifikan,” di mana usia rata-rata pimpinan PKT jauh lebih tinggi dibanding rata-rata usia pemimpin negara Barat.
Karena menyangkut isu sensitif, iklan itu segera dihapus. Dalam 25 tahun terakhir, jumlah transplantasi organ di Tiongkok melonjak tajam, dengan waktu tunggu organ jauh lebih singkat daripada standar internasional.
Pada 2019, “Pengadilan Rakyat Independen” di London, Inggris, mengadakan sidang investigasi terkait tuduhan PKT melakukan pengambilan organ secara paksa. Hasilnya menemukan bahwa praktik pengambilan organ paksa di Tiongkok sangat meluas, dengan praktisi Falun Gong sebagai sumber organ utama.
Sejak 1999, PKT melancarkan penganiayaan brutal terhadap Falun Gong, yang hingga kini belum berhenti.
Seorang penyintas pengambilan organ paksa yang berhasil melarikan diri ke AS, praktisi Falun Gong Cheng Peiming, mengatakan bahwa praktisi Falun Gong menjadi “bank organ hidup” bagi PKT. Menyaksikan Xi dan Putin dengan ringan berbicara soal transplantasi organ membuatnya sangat pedih. Ia berharap kekuatan keadilan di seluruh dunia bersatu untuk mengakhiri kejahatan ini.
Ia diyakini sebagai satu-satunya orang yang masih hidup yang pernah menjadi korban pengambilan organ paksa oleh PKT.
“PKT dalam penganiayaannya terhadap Falun Gong telah menyediakan banyak organ dari kelompok ini. Dahulu orang memperpanjang usia lewat kultivasi rohani, tetapi para pemimpin PKT, iblis-iblis ini, memperpanjang hidup mereka dengan mengambil organ manusia untuk transplantasi,” demikian kesaksian Cheng Peiming.
“Kejahatan ini terlalu besar, mereka ingin menghancurkan seluruh umat manusia. Saya sangat sedih. Dunia harus sadar, semua orang yang berjiwa adil harus mengulurkan tangan yang kuat untuk menghapus kejahatan ini,” lanjutnya.
Sebagai tanggapan atas praktik pengambilan organ paksa oleh PKT, pada Mei lalu, DPR AS telah meloloskan “Undang-Undang Penghentian Pengambilan Organ Paksa” untuk menuntut pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat.
Sumber : NTDTV.com
Beijing Jadi ‘Bank Organ’? Bocoran Xi–Putin Bikin Warga Kabur Massal!
EtIndonesia. Suasana politik dan sosial di Tiongkok kembali memanas setelah Parade Militer 3 September. Sebuah percakapan mengejutkan antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Rusia, Vladimir Putin mengenai praktik pencabutan organ demi memperpanjang usia hidup bocor ke publik. Dialog yang seharusnya bersifat tertutup itu justru tersiar langsung melalui media Barat maupun dalam negeri, mengguncang Beijing layaknya “bom atom politik” dan memicu gelombang eksodus warga.
Fenomena Aneh di Langit dan Kasus Bullying
Netizen Tiongkok ramai melaporkan fenomena langit aneh pada malam parade. Warna merah, hijau, biru, hingga putih berganti-ganti menerangi langit, yang oleh sebagian warganet dijuluki sebagai “gerbang neraka terbuka”.
Di saat bersamaan, publik juga dikejutkan oleh kasus perundungan tragis yang menyebabkan tewasnya seorang siswa SMA di Gansu. Namun, semua informasi mengenai kasus itu segera disensor. Komentar pedas pun bermunculan di media sosial: “Mengaku anti-fasis, tapi tidak anti-bullying. Mengecewakan!”
Efek Domino: Panik Publik & Krisis Properti
Video percakapan Xi–Putin disiarkan penuh oleh sejumlah media internasional, termasuk ABC (Australia), BBC (Inggris), ANN (Jepang), dan Phoenix TV. Meski berita itu cepat diblokir di dalam negeri, kepanikan rakyat sudah telanjur meluas.
Pencarian kata kunci “150” di aplikasi WeChat melonjak hingga 9.650%. Jutaan komentar bernada getir bermunculan, salah satunya: “Kalau Xi benar hidup sampai 150 tahun, itu ibarat neraka tanpa akhir.”
Kepanikan semakin nyata pada 6 September, ketika akun Derun Media di Twitter/X merilis video warga Beijing berbondong-bondong menjual rumah.
Seorang perempuan terdengar berkata: “Dulu orang bertanya, ‘Kamu sudah beli rumah?’ Sekarang yang ditanya, ‘Kamu sudah jual belum? Jual berapa?’”
Jumlah properti yang masuk pasar disebut sudah mencapai 170–180 ribu unit dan terus bertambah setiap hari. Pemilik rumah terjebak dalam kerugian, sementara mereka yang tidak memiliki rumah malah diejek sebagai “pemenang”.
Dampaknya, saham industri militer dan sektor properti sama-sama anjlok. Warganet dengan nada sinis menyebut: “Beijing kini bukan pusat kekuasaan, tapi sudah jadi ‘bank organ’. Para pejabat besar sudah lama pindahkan asetnya, rakyat kecil baru sadar mereka yang jadi korban.”
Reuters Jadi Bahan Ejekan
Kantor berita Reuters sempat menayangkan cuplikan empat menit percakapan Xi–Putin, namun kemudian menghapusnya dengan alasan izin siaran dari CCTV dicabut. Publik menertawakan langkah ini.
Komentar populer menyebut: “Internet punya ingatan. Semua sudah dibackup. Makin disensor, makin viral.”
Dokumenter “State Organs” Gegerkan Kanada
Di tengah kontroversi, sebuah film dokumenter berjudul State Organs karya sutradara Zhang Yongjing ditayangkan di Toronto, Kanada, pada 7 September 2025. Film yang diproduksi selama tujuh tahun ini membongkar praktik pencabutan organ oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Film tersebut sudah meraih sejumlah penghargaan internasional bergengsi, antara lain Lion Award Kanada, Spirit of Art Film Award di AS, serta Best Human Rights Documentary di Manhattan Film Festival.
Lebih dari 30 wawancara eksklusif dihadirkan, termasuk kesaksian keluarga korban dan dokter yang terlibat langsung. Produser Cindy Song menegaskan bahwa praktik pencabutan organ selalu berkaitan dengan penghilangan paksa. Para korban ditahan di rumah sakit militer secara rahasia, lalu “dihilangkan” tanpa konsekuensi hukum.
“Film bisa memiliki akhir,” kata Cindy, “tapi sejarah ini belum berakhir. Akhirnya tergantung kita—apakah kita berani menyingkap kebenaran demi menghentikan kejahatan ini.”
Penayangan di Toronto membuat penonton terguncang. Banyak yang menilai tindakan PKT sebagai “kejahatan tak berperikemanusiaan”. Harapannya, kebenaran ini bisa mendorong lebih banyak negara memberlakukan undang-undang anti-pencabutan organ paksa.





