Apa Arti Perubahan Pola Investasi Tiongkok?

Penurunan jumlah investasi keluar dari Tiongkok menunjukkan, dengan cara lain lagi, masalah ekonomi dan keuangan yang lebih luas yang dihadapi negara itu

Milton Ezrati 

Investasi ke luar negeri oleh bisnis Tiongkok—baik swasta, BUMN, maupun pemerintah—telah merosot tajam. Memang, data dari sumber-sumber Tiongkok cukup kabur, sehingga kesimpulan apa pun yang ditarik darinya masih bersifat tentatif.

Namun demikian, informasi yang tersedia memberikan tiga kesimpulan.

Pertama, Beijing perlu memanfaatkan sumber daya domestik yang sebelumnya dialirkan ke luar negeri untuk menahan dampak krisis properti serta masalah ekonomi dan keuangan yang menyertainya.

Kedua, Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI), yang sebelumnya menyedot dana besar dari Beijing dan BUMN, kini menghadapi masalah yang membuat pihak berwenang Tiongkok lebih berhati-hati.

Ketiga, dan yang paling spekulatif, tren ini telah menekan arus balik di mana investor swasta Tiongkok berusaha mencari cara untuk mengeluarkan aset dari dalam negeri.

Bahkan sebelum mempertimbangkan maknanya, angka-angka investasi keluar ini sudah mencolok. Menurut China Global Investment Tracker (CGIT) yang dihimpun Derek Scissors dari American Enterprise Institute, investasi Tiongkok—baik dari sumber swasta, BUMN, maupun pemerintah—mencapai puncaknya pada 2017 dengan setara 175,1 miliar dolar AS. 

Setelah puncak tersebut, arus uang ke luar negeri menyusut dalam dua tahun berikutnya sekitar 45 persen. Arus itu kembali menurun pada tahun pandemi 2020, lalu naik sekitar 16 persen pada tahun pemulihan 2021.

Mungkin lonjakan itu mencerminkan upaya mencari peluang sementara ekonomi Tiongkok menderita akibat lockdown dan karantina nol-COVID yang diterapkan Beijing. Namun, arus uang ke luar negeri kembali menurun pada 2022 dan terus berlanjut hingga paruh pertama tahun ini, ketika rata-rata arus keluar investasi hanya sekitar 44 miliar dolar AS—sekitar 75 persen lebih rendah dari puncaknya pada 2017.

Memang, angka CGIT sedikit berbeda dengan data yang disajikan Kementerian Perdagangan Tiongkok, tetapi keduanya sama-sama menunjukkan penurunan investasi ke luar negeri. Dan meskipun ketidakpastian yang ditimbulkan oleh tarif dan ancaman Presiden AS Donald Trump mungkin melebih-lebihkan penurunan pada 2025, tren penurunan itu jelas, terutama bila dibandingkan dengan pertumbuhan besar-besaran arus tersebut sebelum 2017.

Meskipun tidak ada garis lurus yang menghubungkan penurunan arus investasi ini dengan masalah ekonomi dan keuangan Tiongkok secara umum, sulit untuk menyangkal adanya hubungan. Runtuhnya beberapa pengembang properti besar dan kegagalan hipotek berikutnya telah membuat keuangan Tiongkok—baik swasta maupun BUMN—kehabisan dana, termasuk untuk investasi ke luar negeri.

Kekurangan aktivitas ekonomi Tiongkok berikutnya hanya bisa berasal dari terbatasnya ketersediaan dana. Menurunnya arus investasi ini menjadi tanda jelas betapa seriusnya tantangan ekonomi dan keuangan Tiongkok, cukup kuat hingga mampu mengalahkan dorongan untuk memindahkan uang ke luar negeri—dorongan yang tersirat dalam menurunnya kepercayaan rumah tangga dan bisnis swasta Tiongkok.

Penurunan investasi luar negeri ini juga tampaknya mencerminkan kebutuhan Beijing akan dana untuk merangsang aktivitas ekonomi domestik. Patut dicatat, upaya otoritas perencanaan pada 2023 dan 2024 untuk secara signifikan memperluas sektor teknologi Tiongkok pasti telah mengalihkan miliaran dolar dari ambisi Beijing menggunakan investasi luar negeri untuk memperluas pengaruh globalnya.

Data mengenai permintaan dana domestik ini memang minim, tetapi perkiraan mencapai sekitar 100 miliar dolar AS yang didedikasikan untuk pembangunan teknologi, termasuk 8 miliar dolar untuk startup kecerdasan buatan saja.

Sementara itu, Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) yang dulunya diagung-agungkan Beijing telah menghadapi resistensi dari mitra saat ini maupun yang potensial, cukup untuk memperlambat aliran dana dari pemerintah dan BUMN ke proyek luar negeri tersebut. Anda bisa membaca detailnya di sini.

Pada 2023 dan 2024, pemimpin Tiongkok Xi Jinping mencoba mengatasi resistensi ini dengan mengalokasikan lebih banyak dana ke BRI, terutama dalam bentuk pinjaman ke negara penerima. Namun, penurunan arus dana ke luar negeri yang berlanjut menunjukkan bahwa upaya ini pun tampaknya sudah meredup.

Meskipun arus investasi ini—atau lebih tepatnya kekurangannya—tidak bisa mengatakan dengan pasti tentang seberapa parah masalah ekonomi domestik Tiongkok atau resistensi terhadap BRI, tetapi data ini tetap memverifikasi tanda-tanda lain dari masalah ekonomi dan keuangan yang sering dilaporkan. Setidaknya, hal ini menjadi pengingat tentang betapa seriusnya masalah tersebut dan  layak untuk terus dipantau.

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.

Milton Ezrati adalah editor kontributor di The National Interest, afiliasi dari Center for the Study of Human Capital di University at Buffalo (SUNY), dan kepala ekonom di Vested, sebuah firma komunikasi yang berbasis di New York. Sebelum bergabung dengan Vested, ia menjabat sebagai kepala strategi pasar dan ekonom di Lord, Abbett & Co. Ia juga sering menulis untuk City Journal dan blog rutin di Forbes. Buku terbarunya adalah Thirty Tomorrows: The Next Three Decades of Globalization, Demographics, and How We Will Live.

Putin Dipermalukan di AS: Dikabarkan Bayar BBM Puluhan Ribu Dolar Pakai Koper Uang Tunai, Ukraina Hancurkan Pertahanan Rusia

EtIndonesia– Kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Amerika Serikat, pada  15 Agustus 2025 meninggalkan momen memalukan. Saat pesawat khusus Rusia melakukan pengisian bahan bakar di Alaska, seluruh biaya harus dibayar secara tunai. Menurut pejabat AS, sekali pengisian membutuhkan sekitar 85.000 dolar AS. Para pejabat Rusia bahkan terlihat menyeret koper berisi uang tunai ke loket pembayaran.

Kejadian ini menjadi simbol dampak keras sanksi ekonomi Barat sejak invasi Rusia ke Ukraina. Sistem perbankan Rusia nyaris lumpuh: kartu kredit tak berlaku, transfer lintas negara terhenti. Akibatnya, bahkan seorang presiden berkuasa penuh seperti Putin harus kembali ke “era uang tunai”. Situasi ini bukan hanya ironis, melainkan juga mempermalukan Kremlin di mata dunia.

Serangan Balik Ukraina: Kemenangan di Red Army Village

Di medan perang, Ukraina mencatat serangkaian kemenangan penting:

  • Red Army Village, Pokrovsk: Pertahanan Rusia dihancurkan. Kamp militer dan sistem pertahanan udara diratakan, logistik musuh terputus. Ukraina merebut kembali wilayah rawa seluas 150 km².
  • Kupiansk Timur: Sebuah tank Ukraina berhasil lolos dari kepungan lima titik tembak Rusia, lalu meledakkan gudang senjata musuh dari jarak dekat.
  • Toretsk: Brigade Azov ke-12 menggagalkan serangan mekanis Rusia dan merebut kembali sebagian wilayah Katerlynivka.
  • Luhansk (Bilohorivka): Drone Ukraina menghancurkan dua gudang amunisi besar, memicu tujuh ledakan dahsyat yang bahkan terekam satelit NASA.

Front Selatan: Serangan Udara dan Gangguan Logistik

Pertempuran kian panas di selatan Ukraina:

  • Zaporizhia: Jet tempur MiG-29 Ukraina menjatuhkan bom berpemandu ke sistem pertahanan udara Rusia di Myrne. Ledakan memicu awan jamur dan dentuman beruntun.
  • Tokmak: Drone Ukraina menghantam depot bahan bakar Rusia, menimbulkan kebakaran besar. Rusia sempat membantah dengan klaim bahwa yang terbakar hanyalah pusat perbelanjaan, namun bukti di lapangan mengungkap fasilitas energi.
  • Kherson: Markas Rusia dihantam untuk ketiga kalinya oleh kombinasi drone dan rudal HIMARS. Beberapa jembatan penting ikut hancur, memaksa konvoi Rusia mengambil jalur memutar yang lebih berisiko.

Kolapsnya Garis Pertahanan Siverskyi–Sumi

Serangan terpadu Ukraina di sektor Sumi memaksa Rusia mundur:

  • Pasukan Rusia terdesak hingga ke lembah sungai.
  • Tank, artileri, dan kendaraan lapis baja ditinggalkan begitu saja.
  • Foto-foto peralatan militer Rusia yang terbakar dan berserakan menjadi viral, memperlihatkan kemunduran drastis kekuatan tempur Rusia.

Kekalahan ini meruntuhkan moral pasukan Moskow, sementara Ukraina justru semakin percaya diri untuk melanjutkan ofensif.

Krisis Energi Rusia dan Tekanan di Krimea

Serangan ke fasilitas energi mulai menghantam ekonomi Rusia:

  • Produksi kilang minyak turun 13% pada Agustus.
  • Kerugian diperkirakan mencapai 74 miliar dolar AS atau setara 4% PDB Rusia.
  • Di Krimea, pasokan bahan bakar menipis. SPBU kehabisan stok bensin RON 92 dan RON 95.

Drone Ukraina juga menghantam pipa minyak Druzhba di Tambov, menghentikan pasokan ke Hungaria dan Slovakia. Hal ini memicu protes keras dari Budapest, bahkan ada ancaman balasan berupa pemutusan suplai listrik ke Ukraina.

Eropa dan NATO: Persiapan Menghadapi Eskalasi

Di Eropa, langkah-langkah strategis tengah dipercepat:

  • Jerman: Menetapkan anggaran militer jangka panjang sebesar 355 miliar euro hingga 2041, mencakup pembelian jet F-35, tank, kapal selam, dan sistem pertahanan udara.
  • Polandia: Ledakan mengejutkan terjadi di wilayah Osiny dekat Warsawa. Meski penyebabnya belum jelas, NATO langsung meningkatkan kewaspadaan.
  • Sabotase: Sejumlah fasilitas militer Jerman diserang, termasuk pembakaran kendaraan militer dan truk Rheinmetall, pemasok utama senjata untuk Ukraina.

NATO menjadwalkan pertemuan darurat membahas Ukraina, khususnya soal jaminan keamanan pascaperang.

Diplomasi Tingkat Tinggi: AS, Eropa, dan Ukraina

Diplomasi global juga berjalan intens:

  • Washington, 18 Agustus: Presiden Volodymyr Zelensky bertemu Donald Trump bersama pemimpin Eropa (Jerman, Italia, Prancis, Inggris, Finlandia, dan NATO). Pertemuan menghasilkan rencana besar bantuan militer dan koordinasi keamanan jangka panjang.
  • Zelensky menyatakan Ukraina siap membeli senjata AS senilai 100 miliar dolar AS dengan dukungan finansial dari Eropa.
  • Trump menelpon Putin, menawarkan pertemuan langsung dengan Zelensky dalam dua minggu ke depan. Namun, Kremlin merespons hati-hati dan menunda keputusan.

Meski diplomasi berjalan, analis menilai perdamaian masih jauh dari nyata. Ukraina tetap menolak kompromi teritorial, sementara Putin dinilai enggan mengakhiri perang karena berisiko melemahkan kekuasaannya.

Kesimpulan: Keseimbangan Kekuatan Mulai Bergeser

Perkembangan terbaru menunjukkan keseimbangan perang mulai condong ke Ukraina:

  • Militer: Pertahanan Rusia ditembus di berbagai front, gudang amunisi hancur, logistik lumpuh.
  • Ekonomi: Rusia menghadapi krisis energi dan kerugian ekonomi besar.
  • Diplomasi: Dukungan internasional terhadap Ukraina semakin kuat, lebih dari 30 negara berkomitmen memberi jaminan keamanan.

Meski perang masih panjang dan penuh pengorbanan, tanda-tanda kelemahan Rusia semakin nyata. Seperti pepatah klasik: “Dengan perjuangan, perdamaian bisa dipertahankan. Tetapi dengan kompromi semu, perdamaian pasti akan hancur.”

Ukraina kini berusaha membuktikan pepatah itu—dengan darah, keringat, dan pengorbanan rakyatnya. (***)

Serangan Udara Rusia di Ukraina Barat Tewaskan 1 Orang, Lukai 18 Orang

EtIndonesia. Serangan udara Rusia semalam menewaskan satu orang, melukai setidaknya 18 orang, dan menghantam sebuah pabrik elektronik AS di Ukraina barat, kata pejabat Ukraina pada hari Kamis (21/8).

Sebuah serangan rudal melukai 15 orang dan menghancurkan fasilitas penyimpanan di pabrik tersebut di Kota Mukachevo, kata layanan darurat dan otoritas lokal di wilayah Zakarpattia barat.

Televisi nasional menunjukkan gubernur wilayah tersebut, Myroslav Biletskyi, berdiri di dekat gedung yang diselimuti asap, yang mengatakan pabrik tersebut memproduksi barang elektronik konsumen, sementara Menteri Luar Negeri Andrii Sybiha mengutuk serangan tersebut dalam sebuah unggahan di X.

“Sebuah fasilitas sipil yang sepenuhnya tidak ada hubungannya dengan pertahanan atau militer,” katanya.

“Ini bukan serangan Rusia pertama terhadap bisnis Amerika di Ukraina, setelah serangan terhadap kantor Boeing di Kyiv awal tahun ini dan serangan-serangan lainnya.”

Di kota Lviv di bagian barat, serangan tersebut menewaskan satu orang, melukai tiga orang lainnya, dan merusak 26 rumah, menurut Gubernur Maksym Kozytskyi.

Angkatan Udara Ukraina mengatakan bahwa Rusia menggunakan 574 pesawat nirawak dan 40 rudal dalam serangan semalam di negara itu, yang merupakan serangan terbesar sejauh ini pada bulan Agustus.

“Inilah mengapa upaya untuk memaksa Rusia mengakhiri perang sangat penting,” kata Sybiha.

Serangan itu terjadi di saat Presiden AS, Donald Trump sedang gencar berupaya mengakhiri perang Rusia di Ukraina.

Rusia, yang menyangkal menargetkan warga sipil, telah menggunakan rudal dan pesawat nirawak untuk menyerang kota-kota Ukraina yang jauh dari garis depan perang.

Ribuan warga sipil, sebagian besar warga Ukraina, telah tewas sejak Moskow menginvasi pada tahun 2022.(yn)

Dari Meja Negosiasi ke Medan Perang: Strategi Putin dan Manuver Trump Bikin Dunia Tegang

EtIndonesia. Situasi geopolitik antara Rusia, Ukraina, dan Barat kembali memanas pada 21 Agustus 2025 setelah muncul serangkaian perkembangan yang berpotensi mengubah arah negosiasi perdamaian. 

Reuters melaporkan secara eksklusif bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mengajukan syarat baru dalam pembicaraan dengan Donald Trump. Pada saat yang sama, Trump untuk pertama kalinya secara terbuka menyebut Rusia sebagai “negara agresor,” menandai perubahan sikap politik yang mengejutkan.

Trump Tarik Diri dari Mediasi Langsung

Menurut pejabat Gedung Putih pada 21 Agustus 2025, Trump berencana menarik diri dari proses mediasi langsung antara Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Ia menegaskan, inisiatif pertemuan harus diatur terlebih dahulu oleh kedua negara. Amerika Serikat hanya akan ikut campur pada tahap lanjutan jika pembicaraan awal berhasil digelar.

Namun, pernyataan Trump di platform X memicu perhatian internasional. Untuk pertama kalinya, ia menyebut Rusia sebagai “invasi negara” dan menyindir kebijakan Presiden Joe Biden yang dinilainya hanya berfokus pada strategi bertahan tanpa memberi ruang bagi Ukraina untuk menyerang balik.

Trump menulis: “Jika saya menjadi presiden, perang ini tidak akan pernah terjadi. Peluangnya nol.”

Pernyataan tersebut dianggap sebagai sinyal bahwa Trump kini membuka kemungkinan dukungan terhadap ofensif militer Ukraina, termasuk opsi bantuan untuk merebut keunggulan udara (air superiority).

Putin Ajukan Syarat Baru

Laporan Reuters pada 21 Agustus 2025, mengutip tiga sumber dekat Kremlin, mengungkapkan bahwa Putin menggandakan tuntutannya dalam perundingan:

  • Ukraina harus menyerahkan wilayah Donbas.
  • Membatalkan rencana bergabung dengan NATO.
  • Menetapkan status netral dan menolak kehadiran pasukan Barat di wilayahnya.

Sebagai imbalannya, Rusia bersedia membekukan garis pertempuran di Kherson dan Zaporizhzhia. Namun, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan bahwa Moskow sama sekali tidak akan menerima kehadiran pasukan Eropa di Ukraina. Rusia bahkan menuntut untuk ikut serta dalam skema jaminan keamanan pasca perang.

Eskalasi Militer: Serangan Udara Terbesar

Sesaat setelah pertemuan Trump–Putin pada 21 Agustus 2025, Rusia melancarkan serangan udara terbesar sejak Juli. Salah satu target yang dihantam adalah pabrik milik perusahaan Amerika Serikat di Ukraina. Presiden Zelensky menuding serangan tersebut sebagai upaya Rusia menekan Washington melalui kerugian investasi dan kepemilikan bisnis.

Wakil Presiden AS JD Vance dalam wawancara dengan Fox News di hari yang sama menegaskan bahwa Putin tidak sekadar mempertahankan wilayah yang sudah direbut, tetapi juga berambisi menguasai lahan baru. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa Moskow bisa sewaktu-waktu membatalkan komitmen perundingan.

Militer AS dan Eropa Bahas Opsi Baru

Di sisi lain, militer AS dan sejumlah negara Eropa dikabarkan pada 21–22 Agustus 2025 telah merampungkan kajian strategi pertahanan Ukraina. Beberapa opsi yang dibahas antara lain:

  • Pengiriman pasukan Eropa dengan komando militer AS.
  • Dukungan udara terbatas untuk Ukraina.
  • Penguatan sistem pertahanan rudal dan drone.
  • Penerapan zona larangan terbang (no-fly zone) di sebagian wilayah Ukraina.

Trump sendiri menegaskan bahwa ia tidak akan mengerahkan pasukan Amerika secara langsung ke Ukraina. Namun, ia memberi sinyal bahwa Washington bisa memainkan peran strategis melalui udara dan koordinasi militer dengan Eropa.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut dua pekan ke depan akan menjadi periode krusial:
“Jika tidak ada perdamaian, strategi baru akan segera ditempuh.”

Kesimpulan

Dinamika terbaru menunjukkan bahwa proses negosiasi damai Rusia–Ukraina kian rapuh. Putin menambah daftar tuntutan, sementara Trump mulai mengubah narasi dengan menyebut Rusia sebagai agresor. 

Di tengah eskalasi serangan udara dan ancaman perluasan perang, keputusan politik dalam dua minggu ke depan—setelah 21 Agustus 2025—akan menentukan apakah dunia akan melihat terobosan diplomasi atau justru babak baru eskalasi militer di Eropa Timur. (***)

Penggunaan AI dan Krisis Kebocoran Data Pengguna

EtIndonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin meluas. Dari mesin pencari, chatbot, asisten suara, hingga layanan konsultasi medis, pendamping belajar, serta analisis pemasaran—AI hampir merambah ke setiap sudut kehidupan kita. Banyak orang sudah terbiasa berbincang dengan AI setiap hari, entah untuk mencari solusi, memperoleh informasi, atau bahkan sekadar menyalurkan emosi.

Namun, di balik semakin intensnya interaksi kita dengan AI, terselip sebuah ancaman serius yang kerap terabaikan—kebocoran data pribadi pengguna.

1. Kita Mengira Tidak Membocorkan Apa-apa, Padahal Sudah Mengungkap Banyak Hal

Ketika berinteraksi dengan AI, biasanya kita hanya fokus pada jawaban yang ingin diperoleh. Tanpa disadari, kita sebenarnya sudah memberikan begitu banyak informasi pribadi—mulai dari kebiasaan sehari-hari, kondisi kesehatan, pekerjaan, struktur keluarga, situasi finansial, hingga keadaan emosional.

Misalnya, kamu mungkin berkata santai: “Saya setiap pagi jam enam jalan-jalan di taman, lalu sore berenang di kolam renang.”

Bagi kita, ini sekadar cerita ringan. Tapi bagi sistem dengan kemampuan analisis data, pernyataan ini sudah cukup untuk memetakan pola hidupmu. Jika informasi semacam itu jatuh ke tangan yang salah, bisa saja dipakai untuk melacak keberadaanmu atau bahkan menimbulkan risiko terhadap keselamatan dan keuanganmu.

Lebih jauh lagi, sebagian besar layanan AI menyimpan data input pengguna beserta respon sistem sebagai bahan pengembangan model. Artinya, meski kita sudah lupa pernah menanyakan sesuatu, rekam jejak itu bisa bertahan lama di server. Jika suatu hari ada orang yang melakukan pencarian berdasarkan kata kunci tertentu, data percakapan yang mengandung informasi pribadi kita bisa saja muncul.

2. Area dengan Risiko Tinggi Terjadinya Kebocoran Privasi

Tidak semua informasi yang kita bagikan berbahaya. Contohnya, bertanya ke AI tentang cara meredakan gejala flu mungkin tidak mengandung risiko serius, karena flu adalah hal umum yang bisa dialami siapa saja.

Namun, risiko meningkat drastis jika pertanyaan kita menyentuh hal yang sangat sensitif, misalnya kondisi medis serius:

·        “Saya terkena kanker paru, apa yang harus dilakukan?”

·        “Saya didiagnosis kanker serviks, pilihan pengobatannya apa saja?”

·        “Apa risiko operasi prostat?”

Pertanyaan-pertanyaan ini jelas berhubungan langsung dengan identitas dan kesehatan pribadi. Jika terekam dan kemudian dipadukan dengan data lain, bisa dipakai untuk mengidentifikasi diri kita. Lebih buruk lagi, data tersebut berpotensi dimanfaatkan perusahaan asuransi, pengiklan, atau pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Hal serupa berlaku untuk urusan finansial, sengketa hukum, hingga masalah pribadi seperti konflik rumah tangga. Jika detail-detail itu digabungkan, bisa terbentuk “profil pribadi lengkap” yang menyingkap identitas kita secara utuh.

3. Cara Praktis Mengurangi Risiko Kebocoran Data

Karena kenyamanan AI selalu berdampingan dengan risiko, kita perlu cerdas meminimalkan ancaman kebocoran data. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan:

1. Gunakan gaya bertanya hipotetis

o   Salah: “Saya terkena kanker paru, apa yang harus saya lakukan?”

o   Benar: “Jika ada seseorang terkena kanker paru, apa yang harus dilakukan?”

Meski hasil jawabannya hampir sama, pertanyaan kedua membuat data yang tersimpan tidak langsung mencerminkan kondisi pribadimu.

2. Kurangi detail kehidupan sehari-hari
Hindari menyebutkan jadwal, lokasi, atau kebiasaan spesifik. Daripada berkata:
“Saya setiap hari jam 7:15 lari di taman X selama 30 menit,”
lebih aman menyebut: “Saya biasanya rutin berolahraga.”

3. Jangan pernah membagikan data identitas yang bisa dikenali
Seperti nama asli, alamat, nomor telepon, KTP, rekening bank, atau detail perusahaan tempat bekerja.

4. Manfaatkan fitur hapus riwayat percakapan
Beberapa platform AI menyediakan opsi ini. Walaupun tidak menjamin data benar-benar hilang dari server, setidaknya dapat menekan risiko akses langsung oleh pihak lain.

Tanggung Jawab Platform AI dan Kesadaran Pengguna

Tentu saja, beban risiko ini tidak sepenuhnya berada di tangan pengguna. Penyedia layanan AI juga memiliki kewajiban, seperti:

·        Menguatkan enkripsi dan kontrol akses data

·        Menetapkan kebijakan penyimpanan data yang transparan

·        Memberikan opsi kepada pengguna untuk tidak menyimpan percakapan

·        Melatih tim internal maupun eksternal terkait perlindungan data

Namun, kebijakan perusahaan sebesar apa pun tetap tidak bisa menggantikan kewaspadaan pengguna. Pada akhirnya, pengamanan paling efektif tetap datang dari kesadaran kita untuk menyaring informasi sebelum diucapkan.

Bijak Menggunakan AI

Tak diragukan lagi, AI membawa kemudahan luar biasa. Ia bisa menjadi asisten yang memberikan solusi, sumber informasi, bahkan teman saat kita merasa sendiri. Tetapi di balik kenyamanan itu, selalu ada potensi kebocoran data yang mengintai.

Maka, saat berbicara dengan AI, ingatlah pepatah: “Apa yang hendak diucapkan, sisakan tiga bagian untuk diri sendiri.” Privasi adalah wilayah yang harus kita lindungi sendiri.

Dengan kata lain, berbicara dengan AI bukanlah aktivitas yang sepenuhnya privat. Percakapan kita bisa saja direkam, dianalisis, dan disimpan sebagai data. Setiap kalimat bisa menjadi bagian dari basis informasi yang kelak digunakan pihak lain.

Hanya dengan sikap waspada terhadap keamanan data, kita bisa menikmati manfaat AI.(jhn/yn)

Gempa di Palung Nankai Ancam Jepang, Diperkirakan Lebih dari 520.000 Orang Harus Dievakuasi Lebih Awal

EtIndonesia. Pada Rabu (20 Agustus), Kantor Kabinet Jepang merilis hasil survei yang menunjukkan bahwa jika terjadi gempa besar di Palung Nankai di lepas pantai Pasifik Jepang, disertai tsunami besar, lebih dari 520.000 penduduk harus dievakuasi lebih awal. Angka ini jauh melampaui skala evakuasi saat Gempa Besar Tohoku 11 Maret 2011, ketika sekitar 470.000 orang mengungsi. Selain itu, evakuasi perlu dimulai setidaknya satu minggu sebelum bencana.

Laporan ini merupakan kali pertama pemerintah Jepang melakukan survei terkait jumlah warga yang perlu dievakuasi lebih awal.

Jika gempa Palung Nankai benar terjadi, sebagian wilayah pesisir dapat disapu tsunami hanya dalam hitungan menit, sehingga warga tidak sempat menyelamatkan diri. Karena itu, pemerintah meminta pemerintah kota dan desa menetapkan zona evakuasi dini, yang dibagi menjadi:

  1. Wilayah yang seluruh penduduknya wajib dievakuasi lebih awal, dan
  2. Wilayah di mana hanya kelompok rentan (lansia, penyandang disabilitas, dan lain-lain.) yang harus dievakuasi lebih awal.

Begitu pemerintah mengeluarkan peringatan gempa besar, semua warga yang termasuk dalam zona tersebut diwajibkan melakukan evakuasi dini selama satu minggu.

Survei dilakukan pada Juni hingga Agustus tahun ini, mencakup 29 prefektur dan 707 kota/kabupaten yang masuk dalam kategori wilayah dengan rencana mitigasi bencana. 

Saat ini, 16 prefektur dan 130 kota/kabupaten (mulai dari Prefektur Chiba hingga Kagoshima) telah menyelesaikan penetapan zona evakuasi dini, dengan total penduduk yang perlu dievakuasi mencapai lebih dari 520.000 orang.

Rinciannya:

  • Sekitar 245.600 orang tinggal di zona dengan kewajiban evakuasi penuh.
  • Sekitar 274.800 orang tinggal di zona dengan evakuasi khusus bagi kelompok rentan.

Berdasarkan prefektur, jumlah terbesar berasal dari:

  • Kochi sekitar 92.100 orang
  • Miyazaki sekitar 79.900 orang
  • Shizuoka sekitar 70.200 orang

Pada Juli tahun ini, pemerintah Jepang merevisi Rencana Dasar Penanggulangan Bencana Gempa Palung Nankai, yang mewajibkan pemerintah daerah mencantumkan strategi evakuasi dini. 

Lalu pada Agustus, wilayah pesisir rendah juga dimasukkan dalam perhitungan, yang berarti kedepan jumlah wilayah dan warga yang wajib evakuasi kemungkinan masih akan bertambah.

Sumber : NTDTV.com

Banjir Melanda Barat Daya Tiongkok dan Tiongkok Utara, Tanah Longsor di Yunnan Tewaskan Puluhan Orang Hingga Membuat Desa-desa Terisolasi

Beberapa daerah di Tiongkok, termasuk Yunnan dan Mongolia Dalam, dalam beberapa hari terakhir dilanda banjir bandang yang memicu longsor lahar parah. Bencana ini telah menghancurkan banyak rumah, membuat warga terjebak, serta menyebabkan sejumlah korban jiwa dan orang hilang.

EtIndonesia. Pada  20 Agustus dini hari, Desa Luanshitou, Kelompok Warga Desa Tuanjie, Kabupaten Ning’er, Yunnan, dilanda longsor lahar. Lumpur bercampur batang pohon dengan cepat menerjang desa, menghancurkan rumah warga dalam sekejap.

Rekaman video memperlihatkan kondisi desa porak-poranda, jalanan dipenuhi lumpur dan bebatuan sehingga lalu lintas di beberapa titik terputus.

Media pemerintah Partai Komunis Tiongkok melaporkan longsor ini menyebabkan dua rumah roboh dan empat orang tewas, sementara 23 keluarga (58 orang) telah dievakuasi. Namun, warga setempat mengatakan longsor terjadi saat dini hari ketika banyak orang sedang tidur, sehingga tidak sempat menyelamatkan diri. Karena kebiasaan rezim PKT menutupi fakta, banyak pihak khawatir jumlah korban sebenarnya lebih tinggi.

Selain itu, Desa Enyong, di Kecamatan De’an, juga terdampak. Menurut warga, sebagian besar rumah rendah di desa tersebut telah tenggelam, membuat desa menjadi “pulau terisolasi”. 

Jalan menuju luar desa rusak parah, baik karena terjangan sungai maupun tertimbun longsoran gunung. Mayoritas warga yang terjebak adalah lansia dan anak-anak yang sulit dievakuasi. Namun, media resmi CCTV tidak melaporkan kondisi di desa ini, sehingga jumlah korban tidak diketahui.

Seorang warga berkata: “Kerusakan rumah sangat parah, jalan sudah putus, kondisinya benar-benar porak-poranda.”

Sementara itu, banjir juga melanda banyak daerah di Mongolia Dalam. Dari sore 18 Agustus hingga dini hari 19 Agustus, hujan deras mengguyur beberapa distrik di Kota Ordos, menewaskan sedikitnya tiga orang dan membuat tiga lainnya hilang.

Seorang warga Ordos, Tuan Wang, mengatakan: “Di Dongsheng turun hujan semalaman, benar-benar menakutkan. Banyak mobil terendam, katanya ada tiga orang meninggal.”

Warga lain menuturkan bahwa pelepasan air bendungan memperparah banjir.

Seorang warga Kota Shenmu, Nyonya Li, berkata: “Mereka membuka bendungan di Mongolia Dalam, air melewati Shenmu, sungai meluap sampai tak terlihat lagi rerumputan. Arusnya sangat deras, lahan sayur dan jagung sudah habis, banyak sampah terbawa, termasuk batang pohon besar dan ternak.”

Seorang warga Desa Tumote Youqi, Kota Baotou, Tuan Hao, menambahkan: “Dua hari ini mereka kembali melepas bendungan, Tumote Youqi terdampak parah, terutama toko-toko di tepi jalan banyak kehilangan barang dagangan. Banyak mobil tersapu banjir, ladang ikut tenggelam. Airnya terlalu besar.”

Sebelumnya, di Urat Houqi, Kota Bayan Nur, banjir bandang di Desa Dongwu Gai pada 18 Agustus menelan lima keluarga yang sedang berkemah. Hingga pagi 20 Agustus, tercatat 11 orang tewas, 1 orang hilang, hanya 1 selamat.

Seorang penyiar independen berkata: “Banjir datang terlalu cepat, dalam sepuluh menit air naik puluhan meter, seolah muncul begitu saja. Airnya mengerikan, beberapa mobil langsung hancur jadi rongsokan.”

Menurut prakiraan Badan Meteorologi Nasional Tiongkok, dalam 10 hari ke depan, hujan masih akan mengguyur Mongolia Dalam bagian timur, Hebei utara, Tiongkok timur laut, serta Tibet bagian selatan.

Pada 20 Agustus, Beijing mengeluarkan peringatan hujan deras level biru, dengan Tianjin dan Hebei juga diguyur hujan. Kementerian Sumber Daya Air telah mengaktifkan respon darurat banjir level IV.

Sumber : NTDTV.com

Membiarkan Masalah untuk Orang Lain

EtIndonesia. Orang yang egois ada di mana-mana. Mereka hanya melakukan hal yang menguntungkan diri sendiri, tanpa sedikit pun peduli pada perasaan orang lain. Bertemu satu orang yang egois saja sudah merepotkan, apalagi bila berhadapan dengan sekelompok orang yang bukan hanya egois, tetapi juga tidak punya kesadaran sosial—itu adalah bencana.

Egois dalam Hal Sepele: Sampah dan Sisa Makanan

Ambil contoh sederhana: membuang sisa makanan. Sudah rahasia umum bahwa kecuali tersedia mesin penghancur khusus, sisa makanan seharusnya dibuang ke tempat sampah, bukan ke dalam wastafel. Namun, selalu ada orang yang demi “praktis” langsung menuangkan sisa makanan ke bak cuci piring. Bagi mereka, yang penting tidak kelihatan, urusan selesai.

Padahal akibatnya jelas: saluran air tersumbat. Jika sudah dipasang saringan, mereka malah makin semena-mena. Karena dalam pikiran mereka: “Toh saringan yang menahan, nanti pasti ada orang yang membersihkan.”

Mengapa mereka berani begitu? Karena tempat itu bukan rumah mereka. Kalau di rumah, membiarkan sisa makanan menumpuk jelas akan menimbulkan bau, mengundang bakteri, jamur, bahkan serangga. Mau tidak mau, mereka pasti membersihkannya. Tetapi di pantry kantor, yang merupakan ruang bersama, mereka dengan enteng berpikir: “Kalau ada yang tidak tahan, biar orang lain yang bereskan.”

Inilah bentuk nyata egoisme: sampah yang mereka buat, malah ditinggalkan untuk orang lain.

Perilaku yang Menular

Yang lebih parah, sifat seperti ini mudah menular. Saat sisa makanan terus menumpuk, coba pikirkan: mana yang lebih banyak, orang yang rela membersihkan atau orang yang ikut-ikutan cuek?

Fenomena ini persis seperti “teori jendela pecah” (broken windows theory). Begitu ada satu jendela pecah yang dibiarkan, akan muncul lebih banyak jendela pecah lain, hingga akhirnya memicu tindakan pelanggaran yang lebih besar. Sebuah lingkungan pun perlahan rusak karena ketidakpedulian kecil yang diabaikan.

Dari Kebiasaan Kecil ke Dunia Kerja

Orang yang terbiasa meninggalkan sisa makanan untuk dibersihkan orang lain, biasanya juga akan melakukan hal serupa dalam pekerjaan: meninggalkan masalah, beban, dan “sampah kerja” untuk timnya.

Ini bukan soal kemampuan, melainkan soal kebiasaan. Jika atasan tidak menegur atau memperbaiki, perlahan seluruh tim akan terseret dalam pola buruk yang sama—hingga akhirnya kinerja runtuh tanpa disadari. (jhn/yn)

Israel Luncurkan Operasi Militer Pertama di Kota Gaza, Kuasai Wilayah Pinggiran Kota

Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, pada Rabu (20 Agustus) mengumumkan dimulainya operasi militer awal dan tahap pertama serangan terhadap Kota Gaza, serta menyatakan bahwa pasukan Israel telah menguasai wilayah pinggiran kota. Militer Israel juga telah memobilisasi sekitar 60.000 pasukan cadangan, sementara pemerintah sedang mempertimbangkan usulan gencatan senjata baru untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung hampir dua tahun.

EtIndonesia. Israel menyatakan bahwa Kota Gaza merupakan pusat pemerintahan dan kegiatan militer  Hamas. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) kini telah bergerak di wilayah pinggiran Kota Gaza dan “menguasai daerah pinggiran kota.”

Menurut Defrin, Hamas saat ini telah berubah menjadi “pasukan gerilya yang sangat melemah.”

Sebagai bagian dari operasi tersebut, militer Israel sedang menghancurkan fasilitas militer di atas dan bawah tanah, menumpas kelompok bersenjata, serta memperkuat kendali operasional di wilayah itu. Hal ini memungkinkan pasukan Israel memperluas operasinya ke lebih banyak lokasi dan mencegah kelompok bersenjata Palestina kembali ke basis mereka.

Diketahui, Israel kini telah menguasai sekitar 75% wilayah Jalur Gaza.

Dewan Keamanan Israel yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bulan ini telah menyetujui rencana perluasan operasi militer di Gaza. 

Meski mendapat kritik internasional karena operasi militer ini kemungkinan besar akan membuat lebih banyak warga Palestina kehilangan tempat tinggal, Israel tetap melanjutkan rencana untuk merebut kota terbesar di Gaza tersebut.

Untuk mengurangi risiko korban sipil, militer Israel telah memberikan peringatan kepada warga sipil yang berada di zona pertempuran dan mengizinkan mereka mengungsi ke arah selatan. Netanyahu juga menyatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk merebut Kota Gaza akan dipersingkat.

Selain itu, pada 20 Agustus, Menteri Pertahanan Israel tidak hanya menyetujui rencana merebut Kota Gaza, tetapi juga mengizinkan mobilisasi sekitar 60.000 pasukan cadangan. Langkah ini, di tengah upaya mediator mendorong gencatan senjata, semakin menekan Hamas.

Sementara itu, pemerintah Israel tengah mempertimbangkan usulan gencatan senjata baru. Negara-negara mediator yang berupaya menghentikan perang Gaza selama hampir dua tahun terakhir kini menunggu tanggapan resmi Israel atas proposal terbaru tersebut.

Sumber : NTDTV.com

Badai Topan Erin Timbulkan Gelombang Raksasa Berbahaya, Banyak Pantai di Pantai Timur AS Ditutup Darurat

Saat ini, badai Erin  sedang mendekati pantai timur Amerika Serikat. Gelombang raksasa yang berbahaya diperkirakan akan memicu arus balik (rip current) yang kuat, memaksa banyak pantai di kawasan pantai timur AS ditutup darurat. Negara Bagian Carolina Utara sudah mengumumkan status darurat, sementara sebagian warga mulai melakukan evakuasi. 

 Xia Wenyue – NTD di New York

Seiring dengan mendekatnya Erin, peringatan gelombang besar dan arus balik telah dikeluarkan mulai dari pesisir Florida hingga pesisir New England. Pada Rabu (19 Agustus) hingga Kamis (20 Agustus), pantai-pantai di New York City, Long Island, New Jersey, dan Delaware ditutup untuk aktivitas berenang.

Reporter Xia Wenyue melaporkan:  “Meskipun Topan Erin kemungkinan tidak langsung mendarat di AS, sistem badai raksasa ini sudah mempengaruhi wilayah pesisir timur. Dari Florida hingga New York, banyak pantai telah ditutup total. Badan cuaca memperingatkan bahwa badai bisa memicu gelombang setinggi 3 hingga 6 meter, disertai arus balik yang sangat berbahaya.”

Sementara itu, Direktur National Hurricane Center, Michael Brennan, mengatakan:  “Topan Erin saat ini membentang lebih dari 265 mil dari pusatnya, dan kekuatan angin terus meluas. Hal ini akan membawa badai tropis, gelombang berbahaya, serta risiko arus balik besar di sepanjang pantai timur, terutama Outer Banks di Carolina Utara.”

Gubernur Carolina Utara, Josh Stein, mengatakan:  “Berdasarkan prakiraan saat ini, kami memperkirakan mulai Rabu malam hingga Kamis, sebagian besar garis pantai Carolina Utara, khususnya Outer Banks dan wilayah teluk, akan mengalami banjir pesisir akibat gelombang besar, angin badai tropis, pasang laut, dan gelombang pasang.”

Pada Rabu, Gubernur Stein kembali mengingatkan warganya bahwa Erin tetap berbahaya dan berpotensi menimbulkan banjir besar di Carolina Utara. Sehari sebelumnya, ia telah mengumumkan status darurat dan mendesak warga pesisir untuk bersiap menghadapi evakuasi sewaktu-waktu.

Menurut prakiraan cuaca, gugusan pulau pasir di Outer Banks, Carolina Utara, akan terkena dampak terberat. Diperkirakan badai ini bisa menimbulkan gelombang badai setinggi 4,6 meter yang berpotensi menenggelamkan jalan-jalan di kawasan tersebut.

Di Pulau Hatteras dan Ocracoke, pemerintah telah mengeluarkan perintah evakuasi wajib. Lebih dari 1.800 orang sudah menyeberang dengan feri untuk meninggalkan Ocracoke.

Seorang wisatawan yang sedang dievakuasi mengatakan: “Agak menegangkan juga, karena untuk bisa datang ke sini kami sudah mengeluarkan banyak biaya. Kami berharap bisa tinggal seminggu penuh menikmati suasana liburan. Tapi tiba-tiba harus pergi. Sangat disayangkan.”

Menurut Pusat Badai Nasional, pada Selasa (19/8/2025), Topan erin sempat melemah menjadi badai kategori 2, namun diperkirakan bisa kembali menguat pada Kamis (21/8/2025), sebelum melemah lagi pada Jumat (22/8/2025). 

Trump Melihat Perdamaian Universal Sebagai Misinya, Tegaskan Mengakhiri Perang Seperti Kembali ke Surga

Sejak menjabat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus berupaya mengembalikan keimanan rakyat Amerika kepada Tuhan. Pada Selasa (19 Agustus), dalam sebuah wawancara, ia menyatakan bahwa jika bisa menghentikan perang yang menimbulkan penderitaan, ia rela memikul beban tersebut. Bahkan, Trump mengatakan: “Itu akan menjadi salah satu alasan saya bisa masuk surga.” 

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa presiden serius dengan ucapannya. Sementara itu, Wakil Presiden Vance dan Menteri Pertahanan Hegseth  mengunjungi pasukan Garda Nasional yang ditempatkan di Washington DC, untuk berterima kasih atas kontribusi mereka dalam menurunkan angka kejahatan di ibu kota secara signifikan. 

Laporan dari wartawan NTD di Washington, Zhang Liang dan Ren Hao

Reporter Zhang Liang (NTD Washington): Presiden Trump terus berupaya menjadi mediator untuk mengakhiri konflik di berbagai kawasan dan membawa perdamaian dunia. Pada Selasa, dalam wawancara telepon dengan Fox News, ia mengatakan bahwa mengakhiri perang di berbagai negara mungkin akan menjadi alasan baginya untuk masuk surga.

Presiden AS Donald Trump :  “Kalian tahu, jika (dengan mengakhiri perang Rusia–Ukraina) saya bisa menyelamatkan 7.000 orang setiap minggu dari kematian, saya rasa itu hal yang sangat baik. Saya ingin melakukannya jika memungkinkan, dan jika karena itu saya bisa masuk surga.”

Trump menambahkan, meski ada yang menilai kinerjanya buruk, ia yakin telah memikul beban dunia di pundaknya.

Trump:  “Jika saya bisa masuk surga, maka (mengakhiri beberapa perang) seharusnya menjadi salah satu alasannya.”

Sejak menjabat lebih dari setengah tahun, Trump mengklaim sudah berhasil mengakhiri 7 perang.

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt:  “Saya rasa presiden benar-benar serius. Saya kira presiden ingin masuk surga, dan saya berharap semua orang di sini juga demikian (ingin masuk surga).”

Vance Kunjungi Stasiun Union, Apresiasi Garda Nasional

Pada Rabu (20 Agustus), Wakil Presiden JD Vance, Menteri Pertahanan Hegseth, dan Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller mengunjungi pasukan Garda Nasional yang ditempatkan di Stasiun Union, Washington DC.

Wakil Presiden Vance: “Beberapa tahun lalu, saya membawa anak-anak ke sini (Union Station), dan mereka diganggu oleh gelandangan yang berperilaku kasar. Anak-anak sangat ketakutan. Salah satu pencapaian dari kerja sama pemerintah federal dengan Garda Nasional dalam 9 hari terakhir adalah menjadikan tempat ini kembali aman untuk berjalan kaki, dan tempat yang bisa kembali didatangi anak-anak bersama keluarganya.”

Vance mengucapkan terima kasih atas pengabdian Garda Nasional. Ia menegaskan bahwa ibu kota AS pernah menjadi salah satu kota dengan tingkat kejahatan tertinggi di dunia, dan ketidakamanan di jalanan pada malam hari adalah sebuah aib bagi seluruh rakyat Amerika.

Vance:  “Syukur kepada Tuhan! Kita kini punya presiden yang dengan kepemimpinannya telah mengubah (Washington DC).”

Menurut Vance, sejak Trump menandatangani perintah eksekutif menempatkan pasukan di Washington DC, angka kejahatan dengan kekerasan turun 35%, sementara kasus perampokan turun 50%.

Meski demikian, ada aksi protes di sekitar stasiun serta hasil survei yang menolak pengerahan pasukan. Vance menilai survei itu tidak mewakili suara rakyat.

Stephen Miller, Wakil Kepala Staf Gedung Putih:  “Suara (protes) yang kalian dengar itu berasal dari komunis gila. Mereka tidak punya akar di sini, tidak punya hubungan dengan kota ini.”

Miller juga menegaskan bahwa pemerintah akan meningkatkan penegakan hukum, memberantas kelompok kriminal dan geng di Washington DC.

Trump Desak Anggota Dewan Gubernur The Fed Mengundurkan Diri

Pada Rabu, Trump menulis di platform sosial Truth Social, mendesak anggota Dewan Gubernur Federal Reserve, Lisa D. Cook, untuk mundur.

Sebelumnya, Direktur Badan Keuangan Perumahan Federal (FHFA), Bill Pulte menuduh Cook melakukan penipuan terkait pinjaman perumahan. Ia diduga pada Juni 2021 terlebih dahulu mendaftarkan sebuah properti di Michigan sebagai tempat tinggal utama untuk memperoleh kredit, lalu mengubah alamat utama ke apartemen di Georgia untuk mengajukan hipotek lain.

Pulte telah mengirim surat kepada Jaksa Agung Bondi untuk meminta investigasi.

Sumber : NTDTV.com

Lima Tewas, 36 Luka-luka dalam Serangan Bom Mobil di Pangkalan Udara di Kolombia

EtIndonesia. Setidaknya lima orang tewas dan 36 orang luka-luka ketika sebuah bom mobil meledak di jalanan yang ramai di Kota Cali, Kolombia, pada Kamis (21/8), kata polisi, yang tampaknya menargetkan sebuah pangkalan udara.

“Sebuah alat peledak meledak di dekat Sekolah Penerbangan Militer Marco Fidel Suarez,” kata polisi.

“Terdengar suara gemuruh seperti ledakan di dekat pangkalan udara,” ujar saksi mata berusia 65 tahun, Hector Fabio Bolanos, kepada AFP. “Banyak orang terluka. Banyak rumah rusak di depan pangkalan,” katanya.

Beberapa bangunan dan sekolah dievakuasi di area tersebut setelah serangan tersebut.

Saksi mata Alexis Atizabal, 40 tahun, mengindikasikan bahwa warga sipil mungkin termasuk di antara korban tewas.

“Ada korban jiwa di antara orang-orang yang lewat di jalan tersebut,” katanya.

Belum jelas siapa yang bertanggung jawab, tetapi gubernur daerah Dilian Francisca Toro menyebutnya sebagai “serangan teroris.”

Pada bulan Juni, gerilyawan kiri mengaku bertanggung jawab atas gelombang serangan bom dan senjata di dan sekitar Cali yang menewaskan tujuh orang. (yn)

Berjanji Kalahkan Hamas, Militer  Israel Bersiap Perluas Serangan ke Gaza

Pada Rabu (20/8/2025), militer Israel menyatakan telah memulai tahap kedua dari operasi “Kereta Perang Gideon” di Gaza, sekaligus memobilisasi 60.000 pasukan cadangan. Selain itu, Israel juga akan meningkatkan bantuan kemanusiaan ke Gaza untuk memutus ketergantungan warga terhadap Hamas.

EtIndonesia. Rabu (20/8)  dini hari, serangan udara Israel ke Jalur Gaza masih terus berlangsung. Ledakan dahsyat mengguncang Gaza dan cahaya api menerangi langit malam.

Pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Israel Katz meninjau markas komando di wilayah selatan, sebagai persiapan untuk memperluas operasi militer di Kota Gaza.

Militer Israel juga mengumumkan, sebelum memperkuat serangan ke Kota Gaza, mereka akan memperluas mobilisasi pasukan, termasuk memanggil 60.000 pasukan cadangan serta memperpanjang masa dinas 20.000 prajurit aktif.

Brigjen Effie Defrin, juru bicara IDF:  “Kami akan meningkatkan serangan terhadap Hamas di Kota Gaza, yang merupakan pusat pemerintahan dan teror militer organisasi tersebut. Kami akan memperdalam serangan terhadap infrastruktur teroris di atas maupun bawah tanah, serta memutus ketergantungan warga pada Hamas.”

Menurut laporan media, meskipun Hamas telah mengalami kerugian besar dalam perang dengan Israel, sebagian anggotanya masih berupaya untuk kembali berkumpul dan melancarkan serangan, termasuk menembakkan roket ke Israel.

Brigjen Defrin:  “Berdasarkan arahan pimpinan politik dan setelah rencana disetujui oleh Kepala Staf, IDF telah memulai tahap kedua operasi – yaitu tahap kedua Operasi Kereta Perang Gideon.”

Selain operasi militer, Defrin juga menekankan bahwa Israel sedang memperkuat distribusi bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza dengan menambah pusat-pusat distribusi bantuan.

Pada hari yang sama, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, dalam wawancara dengan media, menyatakan bahwa Amerika Serikat menghormati keputusan Israel terkait Gaza.

 “Presiden Trump sepenuhnya mendukung hal ini, memastikan Hamas tahu bahwa dari sudut pandang AS, mereka harus dilucuti dari senjata, dan mereka harus membebaskan semua sandera agar bisa pulang,” katanya. 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Gaza Humanitarian Foundation (GHF), John Ackry, mengungkapkan bahwa banyak pekerja mereka menghadapi ancaman pembunuhan dari  Hamas.


“Hampir semua orang yang terkait dengan GHF, selama mereka tampil di depan umum, menghadapi ancaman kematian. Keluarga mereka diganggu, dan rumah mereka dihancurkan,” ujarnya. 

Selain itu, menurut Reuters, pada Rabu dini hari, militer AS melancarkan operasi penyergapan di barat laut Suriah dan berhasil menewaskan seorang anggota senior ISIS. Sosok ini dianggap sebagai kandidat pemimpin ISIS di Suriah. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Basis Rudal Rahasia Korut Terungkap untuk Pertama Kalinya dalam 10 Tahun, Berdekatan dengan Tiongkok dan Dijaga Ketat

Sebuah laporan terbaru dari lembaga think tank Amerika Serikat mengungkap bahwa Korea Utara memiliki sebuah basis militer yang sangat rahasia, diduga digunakan untuk menempatkan rudal jarak jauh terbaru. Basis rudal ini, yang tersembunyi selama 10 tahun, berlokasi dekat perbatasan Tiongkok dengan tingkat pengamanan sangat ketat, dan baru saja terungkap.

EtIndonesia. Media Amerika The Wall Street Journal pada 20 Agustus mengutip laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang menyebutkan Korea Utara secara diam-diam membangun sebuah basis rudal jarak jauh di dekat perbatasan Tiongkok, bernama Basis Operasi Rudal Balistik Sinpung-dong. Basis yang sangat rahasia ini diyakini telah disembunyikan selama satu dekade.

Menurut laporan tersebut, basis ini mulai dibangun sekitar tahun 2004 dan diperkirakan mulai beroperasi sejak 2014. Namun, baru belakangan ini keberadaannya terungkap.

Basis Sinpung-dong termasuk dalam 15 hingga 20 basis rudal balistik dan fasilitas pendukung lain yang belum pernah dipublikasikan di Korea Utara. Rudal yang ditempatkan di basis ini mampu membawa hulu ledak nuklir.

CSIS yang berbasis di Washington DC mengonfirmasi bahwa basis rudal Sinpung-dong hanya berjarak sekitar 27 km dari perbatasan Tiongkok. Laporan itu menegaskan: “Rudal-rudal ini menimbulkan potensi ancaman nuklir terhadap Asia Timur dan daratan utama Amerika Serikat.”

Basis tersebut berada di sebuah lembah panjang sempit yang membentang dari barat daya ke timur laut, dengan luas sekitar 22 kilometer persegi. Wilayah ini terbagi dalam enam zona fungsional, dengan desain keseluruhan mirip dengan basis rudal Ryongrim di Korea Utara, yang memanfaatkan lembah utama dan cabang-cabang lembah untuk menyembunyikan penempatan rudal.

Jennifer Jun, salah satu penulis laporan tersebut, menyatakan bahwa Korea Utara telah berusaha keras menutupi keberadaan basis ini. Ia mengatakan: “Sejauh ini, basis Sinpung-dong adalah yang paling sulit ditemukan.”

Para analis sejak lama meyakini bahwa aksi provokasi rudal Korea Utara mendapat dukungan dari Beijing. Pembangunan basis rudal di lokasi yang sangat dekat dengan perbatasan Tiongkok diyakini bertujuan agar mendapat perlindungan dari Tiongkok, sehingga setiap serangan terhadap basis rudal Korea Utara akan berisiko mengenai wilayah Tiongkok. 

Sumber : NTDTV.com