Pola Pikir Pendidikan yang Keliru Bukan Hanya Membuat Anak Gagal di Garis Start, Tapi Membuat Orangtua juga Tumbang di Garis Start

EtIndonesia. Ungkapan “jangan biarkan anak kalah di garis start” seolah sudah menjadi konsensus umum di kalangan orangtua. Kalimat ini sebenarnya tidak salah, karena memang pendidikan sebaiknya dimulai sejak dini. Namun, ketika dipahami secara keliru, kalimat ini justru bisa berubah menjadi racun.

Beberapa waktu lalu, seorang ibu muda berusia 33 tahun di Nanjing mengalami stroke saat tengah malam karena marah ketika mendampingi anaknya mengerjakan PR yang sangat lambat. Dokter menyebutkan, pembuluh darah besar di otaknya tersumbat karena ledakan emosi yang kuat. Tahun lalu, ada juga berita tentang orangtua yang terkena serangan jantung saat membantu anak mengerjakan PR.

Di kalangan orangtua, ada sebuah lelucon yang populer: “Anak tidak mengerjakan PR, ibu dan anak saling menyayangi; anak mulai mengerjakan PR, rumah langsung jadi medan perang.”

Mayoritas orangtua merasa frustrasi dan kelelahan saat mendampingi anak belajar.

Beberapa hari terakhir, media sosial pun diramaikan oleh gelombang candaan tentang “menikahkan anak sejak dini”. Banyak orangtua muda bercanda bahwa mereka siap memberikan mahar besar, mobil, bahkan rumah, asalkan calon menantu bersedia sekarang juga mengambil alih tugas mendampingi anak belajar.

Tentu ini hanya guyonan pahit dari para orangtua muda. Namun di balik itu, tersembunyi masalah serius: kesalahan dalam pola pikir pendidikan orang tua.

Mengajari PR Bukan Sekadar Mengajari Materi

Sebagian besar orangtua menganggap mendampingi anak belajar berarti “jika anak tidak bisa, maka orangtua yang harus mengajarkan.” Tapi pola pikir ini hanya akan membuat anak terus bergantung—tidak bisa menyelesaikan masalah sendiri, selalu menunggu solusi dari orangtua atau guru.

Pendampingan belajar yang benar justru bertujuan untuk membentuk kebiasaan belajar yang baik, menumbuhkan cara berpikir, serta melatih kemandirian dan manajemen diri. Bila hal ini berhasil dilakukan, ketergantungan anak pada guru akan menurun, anak akan belajar lebih mandiri, dan tentu saja, kemampuan serta efisiensi belajar pun meningkat tajam.

Seperti kata pepatah: “Berikan seseorang ikan, dia kenyang sehari. Ajari dia cara memancing, dia kenyang seumur hidup.”

Sayangnya, kebanyakan orangtua masih memilih “memberikan ikan”, bukan “mengajarkan cara memancing”. Mereka menjalani pendidikan anak dari hari ke hari, tanpa rencana, tanpa arah, dan tidak memiliki visi jangka panjang yang ilmiah.

Terlalu Fokus pada Nilai, Lupa pada Pondasi

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masa pendidikan anak paling intens terjadi saat usia dini dan sekolah dasar. Padahal, lebih dari 90% masa peka dalam perkembangan anak terjadi saat usia dini—termasuk kemampuan membaca, bahasa, detail, perhatian, dan daya tahan mental.

Sayangnya, sebagian besar orangtua justru hanya fokus pada pemahaman materi dan perolehan nilai, dan melupakan pembentukan kualitas inti (core competencies) seperti fokus, kemandirian, ketekunan, dan kebiasaan belajar.

Padahal, jika kualitas inti ini terbentuk dengan baik sejak dini, belajar ilmu dan keterampilan lain akan menjadi hal yang jauh lebih mudah. Kesalahan umum dalam pendidikan justru terletak pada perhatian yang berlebihan terhadap “hasil belajar” dan pengabaian terhadap fondasi yang sebenarnya jauh lebih penting.

Ilustrasinya sederhana: Membangun kualitas inti anak itu seperti membangun fondasi rumah. Jika fondasi kokoh, maka rumah setinggi apa pun bisa dibangun di atasnya. Tapi jika fondasi rapuh, jangankan gedung tinggi, pondok pun akan mudah runtuh. Maka, jangan buru-buru membangun rumah jika fondasinya saja belum kokoh.

Anak Adalah Individu Mandiri, Bukan Bayangan Orangtua

Anak bukanlah perpanjangan tangan orangtua, apalagi boneka yang bisa dikendalikan. Orangtua tidak bisa selamanya menggantikan anak dalam tumbuh dan berkembang. Jika terlalu sering mengawasi, menegur, memerintah, dan mendikte anak, hasil akhirnya bukan pertumbuhan, tapi kelelahan—baik untuk orangtua maupun anak.

Karena itu, yang harus dibentuk bukan pengawasan yang ketat, tapi kemandirian belajar dan kemampuan mengatur diri sendiri. Dengan itu, peran orangtua cukup menjadi pemandu dan penyemangat, bukan “mandor” yang terus-menerus mengontrol.

Pendidikan Harus Berdasarkan Bakat Anak, Bukan Ambisi Orangtua

Banyak orangtua mengabaikan perencanaan pendidikan dari sisi bakat anak, terutama sebelum usia 5 tahun—padahal saat itulah bakat alami anak mulai terlihat. Anak yang melakukan sesuatu sesuai bakatnya akan lebih cepat berkembang dan lebih mudah meraih keberhasilan, sekaligus membangun rasa percaya diri.

Sayangnya, banyak orangtua tidak peka terhadap bakat anak—bahkan sering menyamakan “minat” dengan “bakat”. Ini kesalahan besar yang sering membuat potensi anak tenggelam dan tak pernah terlihat.

Kerja keras bisa membuat seseorang menjadi baik. Tapi hanya bakat yang bisa membuat seseorang menjadi luar biasa.

Kita sering berkata: “Setiap anak itu jenius.”

Ya, asal bakat mereka ditemukan dan diarahkan sejak dini. Jika tidak, besar kemungkinan mereka akan tumbuh menjadi sosok biasa-biasa saja.

Jalan yang Tepat: Fondasi Kuat, Bakat Terarah, Orangtua Bahagia

Pendidikan yang benar dan ilmiah adalah pendidikan yang dibangun di atas pemahaman mendalam tentang bakat anak, lalu dirancang perencanaan jangka panjang secara ilmiah, dan dijalankan dengan tujuan mengembangkan kualitas inti serta karakter positif anak.

Jika orangtua bisa melakukannya, anak akan tumbuh secara otomatis dan mandiri—sehat, percaya diri, dan bahagia. Anak akan belajar dengan ringan, menyenangkan, dan efisien. Semakin besar rasa percaya diri yang tumbuh, semakin besar pula dorongan untuk terus berkembang.

Itulah jalan pendidikan yang tepat.

Orangtua tidak perlu menyiksa diri menjadi “pejuang pendidikan” yang melelahkan setiap hari. Cukup menjadi pemandu dan penyemangat di samping anak—biarkan anak bertumbuh dengan percaya diri dan bahagia.

Mengapa harus membuat diri sendiri kelelahan tanpa hasil, jika sebenarnya Anda bisa mendampinginya dengan santai?(jhn/yn)

Teror dari Dalam: Jaringan Mata-mata Rusia Guncang Ukraina, Zelenskyy Ultimatum Putin

EtIndonesia. Dalam Konferensi Keamanan Helsinki yang digelar oleh negara-negara Nordik, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menyampaikan peringatan tegas kepada komunitas internasional terkait ancaman berkelanjutan dari Rusia di bawah kepemimpinan Vladimir Putin. Dalam pidatonya yang penuh tekanan, Zelenskyy menegaskan bahwa meskipun perang antara Rusia dan Ukraina suatu saat berakhir, stabilitas Eropa tetap tidak akan terjamin selama Putin masih memegang tampuk kekuasaan di Kremlin.

Zelenskyy menyoroti bahwa agresi militer Rusia bukan sekadar serangan terhadap kedaulatan Ukraina, melainkan merupakan ancaman sistemik bagi keamanan dan masa depan seluruh benua Eropa. 

“Selama Putin masih berkuasa, tidak ada jaminan keamanan bagi Eropa. Ancaman itu akan tetap ada, dan Rusia akan terus berupaya mengacaukan tatanan dunia,” tegasnya di hadapan para pemimpin Eropa Utara.

Lebih jauh, Zelenskyy menyerukan dukungan global untuk mendorong perubahan rezim di Rusia. Menurutnya, dunia internasional harus bersatu menekan Kremlin agar tidak lagi menjadi sumber konflik global. Salah satu langkah nyata yang dia usulkan adalah penyitaan aset-aset Rusia di luar negeri. Aset tersebut, lanjut Zelenskyy, dapat digunakan untuk membantu rekonstruksi dan pertahanan Ukraina, sekaligus memutus sumber pendanaan militer Rusia.

“Rusia menggunakan aset-aset luar negeri untuk membiayai perang. Jika dunia ingin menghentikan agresi ini, aset-aset tersebut harus disita dan dialihkan untuk memperkuat pertahanan negara-negara yang menjadi korban,” imbuhnya. 

Seruan ini mendapat respons positif dari sejumlah negara Eropa, terutama mereka yang selama ini menjadi target ancaman keamanan Rusia.

Skandal Mata-mata Mengguncang Ukraina: Anggota Parlemen Ternyata Agen FSB Rusia

Sementara itu, Ukraina kembali dihebohkan oleh skandal mata-mata besar yang melibatkan tokoh penting di parlemen. Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengumumkan bahwa seorang anggota parlemen aktif, Krishchenko, telah terbukti menjadi agen tingkat tinggi Badan Intelijen Federal Rusia (FSB). Temuan ini menjadi tamparan keras bagi sistem keamanan dan politik Ukraina.

Menurut penyelidikan SBU, Krishchenko diduga telah menjalin kerja sama jangka panjang dengan pihak intelijen Rusia. Dia memanfaatkan posisinya di parlemen untuk menyusup ke berbagai institusi strategis, termasuk lembaga keamanan dan anti-korupsi. Tidak hanya itu, Krishchenko juga dituduh mempengaruhi proses pengangkatan pejabat penting serta mengatur jalannya kebijakan nasional sesuai kepentingan Moskow.

Skandal ini terkuak setelah invasi Rusia ke Ukraina. Krishchenko diketahui melarikan diri ke luar negeri, namun tetap aktif mengendalikan jaringan bawah tanah di lembaga anti-korupsi Ukraina. Sampai saat ini, SBU telah memasukkan 70 orang ke dalam daftar penyelidikan, dengan 15 di antaranya terlibat langsung dalam aktivitas spionase. Pihak SBU mengakui bahwa tingkat infiltrasi agen Rusia di pemerintahan dan institusi vital Ukraina jauh lebih parah dari yang diduga sebelumnya, dan penyelidikan masih terus meluas.

Kebocoran Data Militer: Mayor Angkatan Udara Ukraina Ditangkap karena Diduga Berkhianat

Di sisi lain, pada 30 Juli 2025 , SBU mengumumkan penangkapan seorang perwira Angkatan Udara Ukraina berpangkat mayor yang diduga kuat membocorkan data rahasia militer kepada pihak Rusia. Informasi yang dibocorkan meliputi lokasi penempatan pesawat F-16 milik NATO, pesawat tempur Mirage 2000 dari Prancis, Su-24 Ukraina, jadwal penerbangan, hingga identitas kru penerbang.

Kebocoran ini dinilai sangat membahayakan, karena memungkinkan serangan presisi terhadap pangkalan udara Ukraina dan menimbulkan potensi korban besar di pihak militer. Jaksa penuntut umum telah menjerat mayor tersebut dengan pasal pengkhianatan negara, ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup.

Kasus ini langsung menarik perhatian serius dari negara-negara sekutu Ukraina. Para analis keamanan menilai insiden ini sebagai bukti nyata bahwa perang di Ukraina tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga dalam perang intelijen yang sangat kompleks dan penuh risiko.

Situasi di Ukraina menunjukkan betapa besar tantangan yang dihadapi negara tersebut, baik dari ancaman eksternal berupa agresi militer Rusia, maupun dari ancaman internal berupa infiltrasi dan pengkhianatan di tubuh pemerintahan serta militer. Dunia kini menanti langkah tegas berikutnya dari Ukraina dan sekutunya dalam upaya menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan Eropa.

Batas Waktu Tarif Tak Akan Diperpanjang, Trump Kembali Soroti Ancaman Anti-AS dari Negara BRICS

EtIndonesia. Hanya tinggal dua hari lagi menjelang tenggat tarif impor yang ditetapkan Presiden Donald Trump, dan Trump telah menegaskan bahwa batas waktu 1 Agustus tidak akan diperpanjang. Saat ini, beberapa mitra dagang utama seperti Jepang, Uni Eropa, Indonesia, dan Inggris telah membuat konsesi dan menandatangani kesepakatan dengan AS, sementara India, Taiwan, dan Meksiko masih melakukan negosiasi intensif guna menghindari tarif baru.

Trump baru saja mengumumkan bahwa kesepakatan dagang telah tercapai dengan Korea Selatan, namun dalam konferensi pers yang sama, ia mengumumkan langkah keras terhadap India.

 “India akan dikenakan tarif 25% atas barang impornya ke AS, ditambah tarif hukuman tambahan karena pembelian senjata dan minyak dari Rusia, yang menurut saya ikut memicu perang di Ukraina,” katanya. 

Trump juga mengaitkan India dengan blok BRICS, yang ia gambarkan sebagai “aliansi negara-negara anti-Amerika.”

“India bagian dari BRICS. Percaya atau tidak, itu adalah kelompok yang pada dasarnya menentang Amerika. Itu adalah serangan terhadap dolar. Dan kami tidak akan membiarkan siapa pun menyerang dolar AS. Ini semua berkaitan dengan kondisi perdagangan dan defisit yang tidak seimbang,” tambahnya.

Menurut laporan, negosiasi AS-India sebelumnya telah beberapa kali mengalami kebuntuan. Pemerintah India menolak membuka pasar domestiknya untuk impor produk pertanian dan susu dari AS, demi melindungi mata pencaharian jutaan petani lokal.

Di hari yang sama, Trump juga mengumumkan bahwa AS telah mencapai kesepakatan dengan Pakistan untuk mengembangkan cadangan minyak bersama. Selanjutnya, ia akan bertemu dengan delegasi dagang Korea Selatan guna membahas proposal penurunan tarif dari pihak Seoul.

Trump juga menandatangani sebuah perintah eksekutif baru yang mengenakan tarif 50% terhadap impor dari Brasil, dengan alasan bahwa kebijakan Brasil saat ini mengancam keamanan nasional, kebijakan luar negeri, dan stabilitas ekonomi AS. Trump juga mengecam dugaan persekusi politik terhadap mantan Presiden Jair Bolsonaro oleh pemerintah Brasil saat ini.

Sebagai tindak lanjut, Departemen Keuangan AS juga mengumumkan sanksi terhadap Hakim Mahkamah Agung Brasil, Alexandre de Moraes, berdasarkan Global Magnitsky Human Rights Accountability Act, terkait penanganannya terhadap kasus Bolsonaro.

Sementara itu, menurut laporan Reuters, delegasi perdagangan Taiwan masih berada di Washington untuk bernegosiasi. Bloomberg mengutip sumber yang menyebut bahwa pemerintahan Trump menawarkan tarif terbaik sebesar 15%, namun dengan syarat Taiwan harus menambah investasi ke AS sebesar 550 miliar dolar atau lebih, menyamai komitmen Jepang.

Trump menegaskan di akun X (dulu Twitter) bahwa 1 Agustus adalah tenggat terakhir, tanpa ada perpanjangan waktu.

Tak hanya itu, perdagangan dengan negara-negara Asia lainnya juga tengah berbenah menghadapi gelombang kebijakan tarif baru ini.

Di hari yang sama, Trump juga menandatangani sebuah pengumuman tambahan yang menyatakan bahwa mulai 1 Agustus, AS akan memberlakukan tarif sebesar 50% terhadap produk setengah jadi berbahan tembaga serta produk turunan dengan kadar tembaga tinggi, dengan alasan ancaman terhadap keamanan nasional. (Jhon/asr)

Sumber  : NTDTV.com

Banjir Bandang Terjang Beijing, Ratusan Orang Hilang – Shanghai Terancam Topan dan Tsunami

EtIndonesia. Topan ke-8 tahun ini, bernama Co-may—yang dikenal secara lokal sebagai “Zhu Jie Cao”, telah mendarat di provinsi Zhejiang dan diperkirakan segera mengancam kota Shanghai. Ditambah lagi, tsunami yang dipicu gempa kuat di Rusia memperburuk situasi. Pada Rabu (30/7/2025), ratusan penerbangan di Shanghai dibatalkan dan lebih dari 280.000 orang dievakuasi.

Sementara itu, Beijing dilanda banjir bandang hebat yang telah memakan korban jiwa  dan menyebabkan ratusan lainnya hilang. Warga menuding pemerintah melakukan pembukaan bendungan tanpa peringatan, yang justru memperparah bencana.

Seorang warga korban banjir berkata:  “Airnya sih sudah surut sekarang, tapi situasinya benar-benar hancur total, lihat jembatan itu, putus total.”

Beijing telah diguyur hujan deras selama beberapa hari terakhir. Hampir seluruh bendungan di wilayah tersebut melakukan pembukaan pintu air. Salah satunya adalah Bendungan Miyun, yang pada 29 Juli pukul 19.00, telah mengalirkan air hingga 180 juta meter kubik—jumlah ini memecahkan rekor sejarah. Namun, banyak warga desa mengaku tidak menerima pemberitahuan dini terkait pelepasan air ini.

Warga Desa Guanshang, Distrik Pinggu, Beijing, Ny. Wang:  “Sekitar pukul 5 pagi air dilepaskan, tapi tidak ada pemberitahuan sama sekali. Warga benar-benar tidak siap. Banyak mobil tersapu air, ada orang yang ikut hanyut, dan banyak yang hilang.”

Video yang beredar di internet menunjukkan banjir besar di wilayah Miyun, Yanqing, dan Huairou, merendam desa-desa dan panti jompo. Warga sampai harus melompat keluar jendela di tengah malam untuk menyelamatkan diri. Lansia di panti jompo hanya bisa duduk di jendela sambil meminta pertolongan.

Karena jembatan rusak dan akses jalan terputus, banyak desa kehilangan kontak dengan dunia luar. Seorang perempuan dari Desa Sunhugou, Kecamatan Liulimiao, Distrik Huairou, menangis menceritakan bahwa lebih dari 300 orang di desanya belum bisa dievakuasi, nasib mereka belum diketahui.

Seorang korban dari Huairou menangis:  “Desa kami masih ada 330 orang yang belum bisa keluar. Sekretaris desa dan istrinya juga tersapu air. Kalau ada longsor tanah susulan, mungkin tak seorang pun akan selamat.”

Namun, media resmi pemerintah  awalnya menyatakan tidak ada korban jiwa hingga 28 Juli malam. Baru setelah adanya laporan ke pemimpin pusat (Zhongnanhai), CCTV melaporkan pada pagi 29 Juli bahwa 30 orang tewas—menyulut kritik keras dari publik.

Li Muyang, pembawa acara program News Watch, menyatakan:  “Kita tahu betul pola kerja birokrasi Partai Komunis. Kalau ada bencana besar, korban jiwa harus diumumkan oleh otoritas pusat dulu, baru media boleh memberitakan. Kalau urutannya terbalik—itu pasti ada sesuatu yang disembunyikan.”

Meski air sudah mulai surut, kondisi di daerah terdampak sangat memprihatinkan. Pemerintah berusaha menutup informasi. Bahkan seorang perempuan di Distrik Miyun yang mengunggah video rumahnya kebanjiran, akunnya langsung diblokir.

Seorang relawan penyelamat bernama Ny. Zhang mengaku kepada New Tang Dynasty TV:
“Airnya luar biasa besar, rumah ambruk, mobil tenggelam. Banyak mobil tersangkut di jembatan. Yang tewas lebih dari 30 orang—yang kami tahu saja belum dilaporkan semua.”

Di saat bersamaan, Topan Zhu Jie Cao mendarat di Zhejiang pada pukul 04.30 pagi waktu setempat, dan kini tengah mengancam Shanghai. Lebih buruk lagi, gempa berkekuatan Magnitudo 8,8  di Rusia telah memicu tsunami yang diperkirakan akan mencapai pesisir Zhejiang dan Shanghai dalam waktu dekat.

Badan meteorologi memperkirakan, wilayah yang dilalui pusat topan akan mengalami angin kencang hingga level 9–10 Beaufort. Menghadapi kombinasi bencana topan dan tsunami, Shanghai, khususnya kawasan Pudong, sejak tanggal 29 Juli telah masuk status “siaga perang”.

Hingga 30 Juli, tercatat 282.800 orang telah dievakuasi di seluruh kota. Bandara Pudong dan Hongqiao juga menjadwalkan pembatalan lebih dari 600 penerbangan. (jhon/asr)

Sumber : NTDTV.com

 

Ultimatum Trump ke Rusia: Ancaman Nuklir, Sanksi 500%, Asia Tenggara Kena Imbas!

EtIndonesia. Situasi geopolitik global kembali memanas setelah mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, melontarkan sindiran tajam kepada Donald Trump terkait konflik Rusia-Ukraina. Ketegangan antara dua tokoh ini bukan hanya berputar pada masalah perang, tetapi juga saling ancam yang berpotensi mengeskalasi krisis internasional, terutama terkait isu nuklir dan sanksi ekonomi.

Perang Kata antara Medvedev dan Trump

Pada 30 Juli 2025, Medvedev menyindir Trump sebagai “kakek keras kepala” serta menegaskan bahwa Rusia bukanlah Israel ataupun Iran, sehingga tidak harus tunduk pada perintah Amerika Serikat. 

Dia menegaskan: “Setiap ultimatum adalah satu langkah menuju perang. Negosiasi baru akan berakhir jika semua tujuan militer kami tercapai. Urus saja Amerika-mu sendiri!”

Tak berhenti di situ, Medvedev juga membuat pernyataan kontroversial di platform X (sebelumnya Twitter), menyebut bahwa “ada negara yang siap menyediakan hulu ledak nuklir untuk Iran.” 

Pernyataan ini langsung disambar Trump lewat media sosial: “Apakah dia benar-benar bicara soal senjata nuklir? Kalau benar, beri tahu saya segera. Kapal selam kami baru saja menembakkan 30 rudal Tomahawk, semuanya tepat sasaran, ini senjata paling mematikan sepanjang sejarah.” 

Pernyataan keras Trump ini dinilai sebagai peringatan tidak hanya untuk Iran, tetapi juga bagi Rusia sendiri.

Medvedev kemudian menegaskan posisi Rusia sebagai penandatangan perjanjian non-proliferasi nuklir, dan menyindir serangan Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Iran yang menurutnya “tidak efektif, gagal mencapai tujuan strategis.” 

Medvedev bahkan berkata: “Kalau pernyataanku saja bisa bikin Trump tegang, berarti kita di jalur yang benar!” 

Medvedev tak lupa menyindir Trump agar menonton kembali film-film lama tentang kedahsyatan sistem balas dendam nuklir Soviet.

Trump tidak tinggal diam. Pada 31 Juli 2025, dia kembali menanggapi: “Medvedev, mantan presiden gagal Rusia yang masih merasa dirinya presiden. Hati-hati bicara! Sekarang dia benar-benar sudah menginjak ranjau berbahaya.” 

Suasana pun semakin panas ketika Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, juga mengecam Vladimir Putin beserta lingkaran dalamnya. Rubio menegaskan bahwa Trump telah menunggu itikad baik untuk kemajuan damai lebih dari enam bulan, namun kini kesabarannya sudah habis. 

“Jika Putin mengabaikan ultimatum, Amerika siap menjatuhkan sanksi baru di sektor pos, perbankan, dan industri vital Rusia,” tegas Rubio.

AS Ancam Tiongkok dan Rusia, Uni Eropa Siap Naikkan Tarif 500%

Dampak krisis ini semakin meluas ketika Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa jika Tiongkok terus membeli minyak Rusia, maka Beijing akan menghadapi tarif ekspor yang jauh lebih tinggi. Saat ini, Kongres AS sedang membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) yang akan memberikan Presiden wewenang untuk mengenakan tarif hingga 500% terhadap negara manapun yang mengimpor minyak dari Rusia. Jika RUU ini disahkan oleh Senat, Uni Eropa pun dikabarkan siap menerapkan tarif sekunder serupa sebagai bentuk dukungan.

Jurnalis André dari Radio Prancis Internasional (RFI) melaporkan bahwa “Xi Jinping tampaknya sudah terikat erat pada Rusia di bawah kepemimpinan Putin. Tiongkok tetap membeli minyak Rusia, bukan semata-mata karena kebutuhan, melainkan karena jika Tiongkok berhenti, perang Rusia akan sulit bertahan.”

South Tiongkok Morning Post bahkan mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, sempat menyampaikan kekhawatiran ke pejabat tertinggi Uni Eropa. Tiongkok, menurut Wang, tidak bisa membiarkan pengaruh Rusia di Ukraina terus membesar, sebab mereka khawatir Amerika akan sepenuhnya memusatkan perhatian ke Beijing.

Trump Tetapkan Batas Damai 8 Agustus, Asia Tenggara Ikut Terseret

Pada 31 Juli 2025, Trump memberikan batas waktu agar perang Rusia-Ukraina sudah harus mencapai kesepakatan damai sebelum 8 Agustus 2025. Jika tidak, kata diplomat senior AS di PBB, Dorothy Camille Shea, Amerika Serikat siap mengumumkan sanksi tambahan dalam waktu sepuluh hari ke depan.

Di sisi lain, Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, mengumumkan bahwa Amerika baru saja menandatangani perjanjian dagang dengan Thailand dan Kamboja. Ancaman tarif tinggi dari Trump telah memaksa kedua negara Asia Tenggara itu mengakhiri konflik perbatasan yang selama ini memanas. Para pemimpin Thailand dan Kamboja bahkan secara terbuka mengucapkan terima kasih kepada Trump, mengingat AS adalah pasar ekspor utama mereka.

Menurut laporan FX168 Finance, langkah cepat Amerika ini jelas merebut posisi dominan Tiongkok di kawasan Asia Tenggara, membuat Beijing harus semakin waspada terhadap pergeseran kekuatan ekonomi dan politik regional.

Kesimpulan:

Ketegangan diplomatik antara Rusia, Amerika Serikat, Tiongkok, dan sekutunya kini memasuki babak baru. Ultimatum, sindiran pedas, ancaman sanksi ekonomi, hingga isu nuklir semuanya berpadu dalam drama geopolitik yang menuntut perhatian dunia. Krisis ini bukan hanya menentukan masa depan Rusia-Ukraina, tetapi juga keseimbangan kekuatan global, terutama di tengah rivalitas AS, Rusia, dan Tiongkok yang makin terbuka.

Janji Manis Putin Berujung Mimpi Buruk: Uang Prajurit Raib, Ancaman Baru Menanti

EtIndonesia. Di tengah gencarnya propaganda Pemerintah Rusia yang menjanjikan kehormatan dan kemakmuran bagi para prajurit yang kembali dari garis depan, realitas di lapangan justru sangat ironis dan memilukan. Alih-alih disambut sebagai pahlawan bangsa, banyak veteran perang Rusia kini harus menghadapi ancaman ganda—bukan dari musuh di medan tempur, melainkan dari aparat negara sendiri.

Janji Manis Pemerintah untuk Menarik Prajurit

Sejak awal invasi ke Ukraina, Kremlin terus menggaungkan janji-janji bombastis demi menarik minat warga dari daerah miskin untuk menjadi prajurit. Pemerintah menawarkan insentif besar: bonus tahunan hingga 5,2 juta rubel (sekitar Rp 900 juta) di tahun pertama dinas, serta kompensasi sebesar 4 juta rubel bagi prajurit yang terluka—jumlah yang enam kali lipat dari rata-rata gaji nasional Rusia. Tawaran fantastis ini memang berhasil memotivasi ribuan pemuda untuk mendaftar, meskipun banyak di antara mereka belum pernah memegang senjata sebelumnya.

Kisah Tragis Nikita Kursa: Dari Medan Perang Menuju Jerat Aparat

Namun, realita pahit justru menimpa banyak prajurit setelah mereka pulang. Salah satu kisah tragis dialami oleh Nikita Kursa, seorang veteran berusia 39 tahun asal Rostov. Pada musim panas 2024, dia kembali dari Ukraina dalam kondisi terluka dan menerima kompensasi tunai sebesar 2,66 juta rubel. Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk membeli rumah baru, sebuah harapan baru setelah menghadapi maut di medan perang.

Namun, nasib berkata lain. Ketika hendak melakukan transaksi, Nikita justru menjadi korban perampokan yang dilakukan oleh dua polisi lalu lintas. Parahnya, setelah melapor ke pihak berwajib, kasusnya justru mandek dan tidak pernah dibawa ke pengadilan. Alasan utamanya: kedua polisi pelaku perampokan tersebut kemudian mendaftar sebagai tentara wajib militer, sehingga kasus pidana mereka dialihkan menjadi urusan internal militer dan otomatis “dihapus” dari proses hukum sipil. Akibatnya, Nikita bukan hanya kehilangan seluruh uang kompensasi, tetapi juga terancam dipanggil kembali ke garis depan karena status kontraknya yang masih aktif.

Sindikat Aparat: Modus Bius hingga Penipuan Digital

Fenomena serupa tak hanya menimpa Nikita. Di Moskow, laporan investigasi BBC mengungkap keberadaan sindikat polisi yang bekerja sama dengan sopir taksi. Modusnya, tentara yang baru pulang dari medan perang akan dibius atau dipaksa mabuk, lalu kartu bank milik korban diambil paksa. Dalam sejumlah kasus, para korban kehilangan hingga 1,5 juta rubel dalam hitungan jam.

Tak hanya di ibu kota, di Belgorod seorang pejabat daerah dilaporkan mengaitkan rekening bank para tentara baru ke akun pribadinya, lalu secara sistematis menguras jutaan rubel yang seharusnya menjadi hak para prajurit. Semua ini terjadi dengan dalih administrasi dan tanpa pengawasan.

Pelanggaran di Tingkat Satuan Militer: Perwira Kuasai Puluhan Kartu ATM Prajurit

Kekacauan administrasi dan penyalahgunaan wewenang juga terjadi di lingkungan militer itu sendiri. Seorang prajurit yang diwawancarai mengungkap bahwa para perwira melarang prajurit berbelanja ke toko dan memaksa mereka menyerahkan kartu bank beserta PIN. Salah satu perwira bahkan menguasai hingga 50 kartu perusahaan yang masing-masing berisi hingga 2 juta rubel. Diduga kuat, perwira tersebut kemudian melarikan diri dengan membawa seluruh dana prajurit yang seharusnya menjadi hak mereka.

Janji Perlindungan yang Tak Pernah Terwujud

Kontras dengan retorika Vladimir Putin yang menjanjikan bahwa “setiap prajurit akan diperlakukan sebagai pahlawan dan dijamin masa depannya”, fakta di lapangan justru menunjukkan maraknya penipuan, pemerasan, hingga kekerasan yang dilakukan oleh aparat negara sendiri terhadap para veteran. Tak sedikit prajurit yang akhirnya jatuh dalam kemiskinan, kehilangan rasa percaya diri, dan kembali dalam lingkaran ketakutan karena ancaman pemanggilan ulang ke medan perang.

Kritik dan Kegelisahan Meluas di Tengah Masyarakat

Fenomena ini memicu kegelisahan luas di kalangan masyarakat Rusia, terutama keluarga para prajurit. Mereka merasa negara hanya menjadikan para prajurit sebagai “alat perang”, namun abai saat mereka kembali membawa luka—baik fisik maupun psikologis. Sejumlah LSM dan media independen bahkan menyerukan adanya reformasi dan perlindungan nyata bagi para veteran perang, agar mereka tidak menjadi korban kedua dari sistem yang semestinya melindungi mereka.

Kesimpulan:

Di balik sorotan dan propaganda kemenangan, kisah nyata para prajurit Rusia yang pulang dari perang justru dipenuhi kepahitan dan ironi. Mereka bukan hanya berjuang di medan tempur, tapi juga harus bertarung melawan ketidakadilan, penipuan, dan pengkhianatan aparat negara sendiri. Kisah Nikita Kursa dan para korban lainnya menjadi gambaran buram tentang nasib pahlawan di negeri sendiri, di mana janji manis negara berbalik menjadi ancaman nyata di tengah kehidupan mereka yang seharusnya tenang.

Cara Memasak untuk Mengatasi Kesalahan Dapur yang Umum Terjadi

Syukurlah, tidak setiap kesalahan saat memasak berakhir menjadi pemborosan total

Mary Hunt

Untungnya, tidak setiap kesalahan memasak berakhir dengan sia-sia. Itu terjadi lagi; penulis mengalami bencana dapur. Duh, penulis benci ketika itu terjadi! Kali ini, penulis merusak seluruh panci pasta karena sibuk dan tidak memperhatikan. Ketika penulis sadar, pasta sudah terlalu matang atau melewati matang tapi masih agak kenyal hingga menjadi lembek. penulis bahkan hampir tidak bisa mengenali bentuk pastanya!

Menyedihkan harus membuang semuanya dan memulai dari awal, tapi tidak ada cara untuk memperbaiki bencana itu—sudah terlalu parah! Untungnya, tidak semua kesalahan memasak seperti itu. Berikut adalah daftar yang ingin Anda simpan untuk berjaga-jaga.

Pasta Lengket

Ketika pasta tidak benar-benar lembek tetapi lengket seperti ditempel lem, tiris dan dinginkan segera. Kemudian masukkan kembali pasta ke dalam wajan, tambahkan satu sendok makan minyak zaitun, dan aduk sambil memanaskan kembali. Ini akan mengatasi kelengketan, dan tidak ada yang akan tahu.

Terlalu Banyak Garam

Ini adalah kesalahan memasak yang umum. Jika Anda menambahkan terlalu banyak garam ke saus atau sup dan Anda punya cukup bahan, gandakan resep atau buat lagi setengah porsi. Campurkan sedikit demi sedikit dengan adonan yang keasinan hingga mencapai rasa yang diinginkan. Trik lain adalah menambahkan sedikit air tawar ke dalam campuran, asalkan ini tidak juga mengencerkan rasa.

Roti Bakar Gosong

Jangan buang sebelum mencoba trik ini: Gunakan parutan keju untuk mengikis lapisan yang gosong dengan cepat. Berhasil seperti sulap! Pilihan lain: Kikis bagian yang paling parah, olesi dengan minyak zaitun, taburi dengan keju Parmesan, dan sajikan sebagai crostini atau gunakan untuk crouton.

Roti Tawar Basi

Basahi jari Anda dan percikkan air dengan murah hati ke roti. Kemudian bungkus dengan aluminium foil dan panaskan dalam oven pada suhu 120 derajat Celsius selama 10 menit.

Kue Kurang Matang

Tanda pertama kue yang belum matang adalah bagian tengahnya yang cekung. Setelah dingin, Anda tidak bisa memanggangnya lagi. Tapi jangan khawatir; ini bukan bencana dapur yang tanpa harapan. Pecahkan kue yang sudah dingin menjadi potongan-potongan (bahkan bagian yang kurang matang) dan lapisi dengan krim kocok dan buah segar untuk membuat parfait pencuci mulut atau satu trifle besar. Sempurna!

Sayuran Terlalu Matang

Jika Anda terlalu memasak brokoli, asparagus, atau sayuran serupa, jangan putus asa. 

Sesuaikan menu Anda sedikit untuk menyertakan sup krim sayuran. Haluskan sayuran dalam blender, tuang sedikit krim kental, periksa bumbunya, dan tambahkan garam serta merica sesuai kebutuhan. Selesai! Kesalahan memasak teratasi.

Daging Sapi Terlalu Gosong

Anda bisa mengubah bencana ini dengan menggosok daging sapi dengan campuran bawang putih, lada hitam bubuk, dan bubuk cabai, lalu sajikan sebagai “blackened.”

Atau ubah rencana! Potong bagian yang terlalu gosong, lalu iris daging sapi yang gosong untuk tumisan, fajitas, atau salad.

Puding, Custard, atau Sup Gosong

Bahkan koki paling berpengalaman pun pernah membakar satu atau dua custard. Jika Anda melihat lapisan bawah custard atau sup berbasis krim berubah gelap, segera hentikan pengadukan. Anda tidak ingin mencampur bagian gosong di dasar dengan bagian yang tidak gosong. Tuang sisa custard, puding, atau krim ke dalam panci baru, pastikan Anda tidak mengikis bagian yang gosong di dasar, lalu lanjutkan memasak.

Saus Encer

Ada beberapa teknik yang bisa Anda coba untuk mengentalkan saus encer. Campurkan tepung dengan sedikit mentega. Didihkan saus dan masukkan bola-bola tepung-mentega satu per satu sambil diaduk hingga saus mencapai kekentalan yang diinginkan. Tepung maizena juga biasanya merupakan pengental yang baik, asalkan sudah dicampur dengan air dingin terlebih dahulu. Tambahkan sedikit demi sedikit ke cairan yang mendidih sambil diaduk. Beberapa juru masak menggunakan serpihan kentang kering sebagai pengental darurat.

Sayuran Layu

Berikan sayuran itu mandi segar dalam mangkuk besar berisi air yang sangat dingin dan beberapa es batu. Biarkan selama sekitar 10 menit. Selanjutnya, angkat sayuran dengan lembut dari air dingin, bungkus dengan handuk teh yang lembap, dan masukkan ke dalam kulkas. Jika belum terlalu layu, sayuran akan menjadi renyah dan terlihat segar serta menarik.

Buah Terlalu Matang

Ketika sudah terlalu matang untuk salad buah, keluarkan blender untuk membuat smoothie. Lebih suka makanan penutup? Tambahkan sedikit agave, gula, atau sirup maple untuk topping es krim yang lezat.

Para Pembaca: Kami ingin mendengar dari Anda. Topik apa yang ingin Anda baca? Silakan kirim masukan dan tips Anda ke [email protected].

Apple Tutup Toko di Tiongkok untuk Pertama Kalinya Seiring Meluasnya Pelemahan Pasar

Apple menutup toko di timur laut Tiongkok di tengah tantangan ekonomi yang lebih luas di sektor ritel yang sedang lesu.

EtIndonesia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan, Apple menutup salah satu tokonya di Tiongkok, seiring tekanan ekonomi yang semakin berat dan melemahnya daya beli di dalam negeri Tiongkok.

Toko yang berada di dalam mal Parkland, Kota Dalian, Tiongkok timur laut, akan ditutup setelah tanggal 8 Juli, menurut pengumuman di situs resmi Apple.

“Mengingat keluarnya sejumlah peritel dari mal Parkland, kami telah memutuskan untuk menutup toko kami di sana pada 9 Agustus 2025,” kata Apple dalam pernyataan kepada media domestik.

Keputusan ini muncul ketika ekonomi terbesar kedua di dunia tengah bergulat dengan tekanan deflasi yang memburuk, dipicu oleh kelebihan pasokan dan lemahnya permintaan domestik, ditambah lagi dengan perang tarif dengan Amerika Serikat.

Pertumbuhan penjualan ritel pada  Juni lebih rendah dari perkiraan. Bahkan, harga properti mencatat penurunan terbesar dalam delapan bulan terakhir, menurut data resmi.

Penutupan ini berdampak pada salah satu dari dua toko Apple di Kota Dalian; toko lainnya berada di kompleks Olympia 66, sekitar 10 menit dari lokasi Parkland. Apple menambahkan bahwa para karyawan dari toko Parkland akan ditawari posisi di gerai lainnya yang berdekatan.

Apple mengoperasikan 41 toko di seluruh Tiongkok, menurut situs web perusahaan. Jumlah ini mencakup kurang dari 10 persen dari total lebih dari 530 toko fisik Apple di seluruh dunia.

Data terbaru dari lembaga riset IDC menunjukkan bahwa pasar ponsel pintar Tiongkok mengalami kontraksi pada kuartal kedua tahun ini, dengan pengiriman (shipment) menurun di empat dari lima merek teratas akibat melemahnya permintaan konsumen.

Apple menempati peringkat kelima di pasar ponsel pintar Tiongkok, di bawah para pesaing lokal seperti Huawei, Vivo, Oppo, dan Xiaomi. Menurut IDC, raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu mengalami penurunan pengiriman sebesar 1,3 persen dari tahun ke tahun menjadi 9,6 juta unit pada kuartal kedua—penurunan yang lebih kecil dibandingkan kuartal pertama yang mencapai 9 persen—berkat penyesuaian harga pada varian iPhone 16 dan 16 Pro tertentu yang memenuhi syarat untuk subsidi pemerintah.

Pangsa pasar Apple naik menjadi 13,9 persen pada kuartal Juni, dari 13,7 persen pada kuartal Maret. Ini menandai kuartal kedelapan berturut-turut penurunan bagi Apple, menurut data IDC.

Sebagai perbandingan, Huawei memiliki pangsa pasar sekitar 18 persen, sementara Xiaomi sekitar 14 persen.

Sementara itu, Apple sedang merestrukturisasi rantai pasoknya dengan memindahkan produksi dari Tiongkok. India kini telah menggantikan Tiongkok sebagai pemasok ponsel pintar terbesar yang diimpor ke Amerika Serikat, menyumbang 44 persen dari total pengiriman pada kuartal kedua, dibandingkan dengan Tiongkok yang sebesar 25 persen, menurut firma riset Canalys.

Pemasok Apple di India menghasilkan sekitar 14 miliar dolar AS dari produksi iPhone selama tahun 2024—sekitar 14 persen dari total produksi global—dengan rencana ekspansi lebih lanjut di India dan Vietnam, di tengah ketegangan perdagangan yang lebih luas.

Reuters turut berkontribusi dalam laporan ini.

Skandal Kuil Shaolin Soroti Infiltrasi Partai Komunis Tiongkok ke Lembaga Keagamaan

EtIndonesia. Pada 27 Juli, Shi Yongxin, kepala biara Kuil Shaolin di Tiongkok—yang dikenal sebagai tempat kelahiran legendaris kung fu dan Buddhisme Zen—dilaporkan sedang diselidiki atas dugaan penggelapan dana. Hal demikian disampaikan  melalui akun media sosial resmi kuil itu.

Biksu berusia 60 tahun itu juga dituduh melanggar sila-sila Buddhis karena “menjalin hubungan tidak pantas dengan banyak perempuan dalam jangka waktu panjang” dan memiliki setidaknya satu anak di luar nikah, menurut pemberitahuan yang beredar.

Namun, menurut para pelarian dari daratan Tiongkok dan orang dalam, kasus Shi bukanlah insiden tunggal. Mereka mengatakan, kasus ini mencerminkan kebijakan jangka panjang Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam rangka mengendalikan lembaga keagamaan demi kepentingan politik. Dalam konteks ini, Shi bukanlah biksu menyimpang semata, melainkan agen rezim partai komunis yang dibina secara hati-hati.

‘Biksu’ karena Penugasan, Bukan karena Iman

Dalam wawancara dengan The Epoch Times, pembangkang Tiongkok dan mantan presiden Asosiasi Penulis Tionghoa Luar Negeri, Cai Kefeng, menceritakan sebuah episode yang jarang diketahui dari tahun 1970-an. Menurutnya, peristiwa itu menunjukkan bagaimana PKT secara sistematis menempatkan kader setianya ke posisi kepemimpinan keagamaan di Tiongkok demi tujuan politik.

Pada musim gugur 1973, Cai sedang memulihkan diri dari sakit di Guangzhou ketika seorang pejabat perempuan dari Partai secara tak terduga mengunjungi rumahnya. Pesannya adalah bahwa rezim membutuhkan kaum muda berpendidikan untuk menyamar sebagai biksu dan pendeta di kuil dan gereja di seluruh Tiongkok—bukan untuk mengejar pencerahan spiritual, melainkan untuk mengesankan para pengunjung asing.

“Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan kasar,” kenangnya menirukan ucapan pejabat itu. “[Kamu] hanya menyambut tamu asing.”

Ia mengungkapkan bahwa PKT tengah bersiap menghadapi lonjakan kunjungan asing pasca kunjungan Presiden AS Richard Nixon ke Tiongkok. Oleh karena itu, rezim berencana menempatkan “orang-orang berpendidikan dan dapat dipercaya secara politik di ruang-ruang keagamaan.”

Hanya beberapa tahun setelah Pengawal Merah Mao merusak kuil-kuil bersejarah dan menganiaya para biksu selama Revolusi Kebudayaan yang brutal, tawaran itu terdengar ganjil sekaligus membuka mata.

Menurut Cai, tawaran tersebut datang dengan gaji tinggi—jauh di atas rata-rata lulusan universitas pada saat itu. Namun, sifat pekerjaannya mengejutkan. Ia harus mencukur kepala, mengenakan jubah biksu, melafalkan kitab suci, dan makan makanan vegetarian di kuil. Di luar jam kerja, ia boleh pulang, makan daging, bahkan menikah—selama tetap merahasiakannya.

Secara tradisional, biksu Buddha di Tiongkok harus hidup dalam selibat dan menjalani pola makan vegetarian secara ketat.

“Kamu akan menjadi ‘biksu revolusioner’,” tegas pejabat itu waktu itu. “Kamu sedang menjalankan misi politik.” Namun, Cai menolak tawaran itu.

Meskipun ada iming-iming uang dan stabilitas, ia dan ibunya khawatir dicap sebagai takhayul atau tidak dapat dipercaya secara politik jika arah angin politik Tiongkok kembali berubah, seperti yang terjadi saat Revolusi Kebudayaan.

Ia kemudian melarikan diri dari Tiongkok melalui serangkaian upaya penyelundupan berbahaya, hingga akhirnya menetap di New York.

BACA JUGA : Kepala Biara Shaolin di Tiongkok ‘Biksu CEO’ Shi Yongxin Ditangkap – Orang Dalam Ungkap Lebih Banyak Skandal yang Melibatkannya 

BACA JUGA : Skandal Kepala Shaolin Shi Yongxin Makin Heboh, Media Partai Komunis Tiongkok Dibongkar Pernah Beramai-ramai Membelanya


Kepala Biara Menari dan Teater Politik

Kesaksian Cai sejalan dengan yang disampaikan komentator independen Tiongkok, Zhang Xiujie, pada 28 Juli. Salah satu contohnya, Zhang menceritakan peristiwa tahun 1980-an ketika seorang jurnalis mengunjungi sebuah kuil terkenal—bahkan lebih terkenal dari Shaolin—untuk mewawancarai kepala biara. Staf mengatakan kepala biara tidak ada. Namun kemudian, jurnalis itu menemukannya sedang menari di klub malam kota.

Ketika jurnalis itu mengkonfrontasi sang kepala biara di klub, pria itu beralasan, melepas wig-nya, mengenakan kembali jubah biksu, dan memberi wawancara lengkap dengan atribut keagamaannya.

“Inilah sebabnya mengapa orang seperti Shi Yongxin bisa muncul dari tempat yang seharusnya murni secara spiritual. Ketika politik menyusup ke setiap bidang—terutama agama—apa lagi yang bisa kita harapkan?” simpul Zhang. 


Shi Yongxin: Bidak yang Dibentuk dengan Cermat?

Lahir pada 1965, Shi Yongxin masuk Kuil Shaolin pada usia 16 tahun dan cepat naik pangkat. Pada usia 22, ia sudah diangkat menjadi direktur komite manajemen kuil dan kemudian menjadi wajah ekspansi global Shaolin. Ia pernah menjabat beberapa kali sebagai delegasi Kongres Rakyat Nasional, parlemen boneka PKT, dan membina hubungan erat dengan elite politik dan bisnis rezim.

Bagi para kritikus seperti Cai, kenaikan karier secepat itu bukanlah kebetulan. Shi sangat cocok dengan profil “biksu politik” yang dibina oleh rezim sejak puluhan tahun lalu: muda, berpendidikan, setia, dan mampu menjembatani kepentingan agama, politik, dan komersial.

“Jika ia menjadi biksu hanya setelah mencapai kesepakatan dengan otoritas, maka jelas ia melayani kehendak Partai,” kata Cai.


Lebih dari Sekadar Skandal Pribadi

Cai berpendapat bahwa gelombang tuduhan terhadap Shi saat ini—termasuk penyalahgunaan dana kuil dan hubungan dengan banyak perempuan—seharusnya tidak dipandang semata-mata sebagai kegagalan pribadi.

Ia menjelaskan bahwa di mata PKT, kebajikan pribadi bukanlah hal penting. Yang penting hanyalah kontrol. Oleh karena itu, skandal sesungguhnya bukan pada hubungan gelapnya, melainkan pada sistem yang memungkinkan dan melindunginya selama bertahun-tahun, hingga ia tak lagi bermanfaat bagi rezim.

“Masalah utamanya bukan apakah Shi Yongxin layak disebut biksu, melainkan siapa yang mengizinkannya menjadi biksu sejak awal,” kata Cai.


Biksu Politik, Bukan Pembimbing Rohani

Di bawah rezim komunis, biksu Buddha, pendeta Tao, dan rohaniwan Kristen di Tiongkok semuanya tunduk pada persetujuan, pelatihan, dan pengawasan negara partai. Orang-orang beriman dipaksa menjalankan keyakinannya secara diam-diam, seperti gerakan gereja bawah tanah yang besar di Tiongkok.

Para pemimpin agama sering kali memegang jabatan administratif setara dengan pejabat pemerintah dan harus lolos seleksi ideologis. Banyak dari mereka ditugaskan menyambut delegasi asing, menyebarkan propaganda Partai, dan melaporkan kegiatan umat lokal.

“Biksu kini telah menjadi semacam jabatan administratif,” ujar Cai.

 “Mereka tidak mengabdikan diri untuk pembinaan spiritual, tetapi absen masuk kerja dan menjalankan tugas front persatuan [PKT]. Mereka memang biksu—tetapi juga pejabat pemerintah, manajer bisnis, dan pada akhirnya alat sistem politik,” pungkasnya. 

Laporan ini turut disumbangkan oleh Cai Rong.

Sumber ; Theepochtimes.com

Konferensi PBB yang Ditandatangani Negara-negara Arab Dukung Perlucutan Senjata Hamas dan Solusi Dua Negara

Sebuah deklarasi menyerukan agar Hamas menyerahkan senjatanya kepada Otoritas Palestina, sebagai bagian dari dorongan lebih luas untuk membentuk negara Palestina.

EtIndonesia. Perwakilan tingkat tinggi dalam sebuah konferensi PBB pada 29 Juli mengeluarkan deklarasi yang menyerukan kelompok teroris Hamas agar melucuti senjata dan mendesak komunitas internasional mendukung resolusi jangka panjang atas konflik Israel–Palestina dengan menerapkan solusi dua negara.

Menurut salinan dokumen yang diperoleh The Times of Israel, “Deklarasi New York” menyatakan bahwa ketua bersama konferensi, yaitu Prancis dan Arab Saudi, bersama Uni Eropa, Liga Arab, dan 15 negara yang memimpin kelompok kerja, sepakat untuk “mengambil tindakan kolektif untuk mengakhiri perang di Gaza” dan “mewujudkan penyelesaian yang adil, damai, dan tahan lama atas konflik Israel-Palestina berdasarkan penerapan efektif solusi dua negara.”

Deklarasi tersebut secara eksplisit mengutuk serangan 7 Oktober 2023 di wilayah selatan Israel, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya oleh kelompok teroris Hamas.

Deklarasi itu juga mengecam tindakan pemerintah Israel dalam konflik lanjutan di Jalur Gaza, menuduh Israel melakukan serangan terhadap warga sipil, penghancuran luas infrastruktur sipil, serta memperburuk kondisi kemanusiaan bagi warga sipil Gaza.

Deklarasi tersebut menyerukan agar Otoritas Palestina mengambil alih penegakan hukum dan keamanan di seluruh wilayah Palestina, serta agar Hamas menyerahkan persenjataannya kepada Otoritas Palestina, “sesuai dengan tujuan membentuk negara Palestina yang berdaulat dan merdeka.”

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Nöel Barrot, dalam wawancara dengan surat kabar La Tribune pada 29 Juli, menekankan pentingnya keterlibatan 22 negara anggota Liga Arab dalam konferensi dan deklarasi tersebut.

“Dalam konferensi ini, negara-negara Arab untuk pertama kalinya akan mengutuk Hamas dan menyerukan perlucutan senjatanya, yang akan meresmikan isolasi totalnya,” kata Barrot.

Barrot juga memuji konferensi tersebut karena berhasil membangkitkan kembali minat internasional untuk mewujudkan negara Palestina.

Ketua bersama Barrot, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan, menyebut konferensi ini sebagai “tahap bersejarah” untuk mengakhiri konflik dan “mengubah suasana internasional ke arah solusi dua negara.”

Pekan lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa ia akan secara resmi mengakui negara Palestina saat Sidang Umum PBB digelar pada bulan September.

Inggris termasuk salah satu ketua kelompok kerja konferensi.

Pada 29 Juli, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan bahwa Inggris juga akan mengakui negara Palestina pada  September “kecuali pemerintah Israel mengambil langkah substantif untuk mengakhiri situasi mengerikan di Gaza dan berkomitmen pada perdamaian jangka panjang yang berkelanjutan, termasuk dengan mengizinkan PBB untuk segera memulai kembali pengiriman bantuan kemanusiaan kepada rakyat Gaza untuk mengakhiri kelaparan, menyetujui gencatan senjata, dan menyatakan dengan jelas bahwa tidak akan ada aneksasi di Tepi Barat.”

Berbicara di konferensi PBB pada 29 Juli, Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy menyebutkan serangkaian resolusi PBB sejak tahun 1947.

“Berkali-kali Majelis ini dan Dewan Keamanan telah menyatakan bahwa harus ada solusi dua negara,” kata Lammy. “Resolusi demi resolusi. Resolusi 181. Resolusi 242. Resolusi 446. Resolusi 1515. Resolusi 2334. Ini bukan sekadar angka di atas kertas. Tetapi cerminan keyakinan dunia yang frustrasi.”

Presiden AS Donald Trump, saat berbicara dengan wartawan di atas pesawat Air Force One pada 29 Juli, menyuarakan penolakannya terhadap dorongan solusi dua negara saat ini.

“Saya tidak sependapat dengan itu karena jika Anda melakukannya, Anda sebenarnya sedang memberi hadiah kepada Hamas,” ujarnya.

Kementerian Luar Negeri Israel juga menyatakan bahwa niat Starmer untuk mengakui negara Palestina berarti memberi penghargaan kepada Hamas. Bahkan, melemahkan upaya yang sedang berlangsung untuk mencapai gencatan senjata di Gaza.

Israel dan Hamas sebelumnya mencapai kesepakatan gencatan senjata pada hari-hari terakhir masa jabatan Presiden AS Joe Biden. Biden menyebut gencatan senjata itu sebagai proses tiga tahap yang diharapkan dapat mengakhiri konflik Gaza.

Para pihak mematuhi gencatan senjata selama tahap pertama kerangka kerja tersebut, tetapi runtuh pada bulan Maret karena ketidaksepakatan atas langkah berikutnya.

Negosiator Israel mendukung proposal untuk memperpanjang ketentuan tahap pertama. Sementara itu, negosiator Hamas mendesak agar proses dilanjutkan ke tahap kedua, yang akan mengharuskan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza sebagai imbalan atas pembebasan seluruh sandera hidup yang masih ditahan Hamas.

Utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, awalnya berencana menghadiri putaran baru perundingan damai dengan Hamas awal bulan ini, tetapi kemudian mengundurkan diri dan menyatakan bahwa Hamas menunjukkan “kurangnya keinginan untuk mencapai gencatan senjata di Gaza.”

Meskipun pemerintahan Trump  mengecam taktik negosiasi Hamas dan mendesak negara lain agar tidak mendorong pengakuan terhadap negara Palestina, presiden menyerukan agar Israel memprioritaskan pengiriman makanan ke rakyat Gaza pekan ini.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak klaim memburuknya situasi kemanusiaan di wilayah konflik tersebut.

“Israel digambarkan seolah-olah kami sedang menjalankan kampanye kelaparan di Gaza,” kata Netanyahu pada 27 Juli. “Itu adalah kebohongan terang-terangan. Tidak ada kebijakan kelaparan di Gaza, dan tidak ada kelaparan di Gaza.” (asr)

Sumber : Theepochtimes.com

Simbol-simbol Misterius yang Diyakini Sebagai ‘Peringatan Kuno dari Leluhur’ Muncul di Pantai Hawaii Sebelum Gempa Rusia

EtIndonesia. Beberapa hari sebelum gempa bumi Rusia, tanda-tanda dan simbol-simbol yang tidak menyenangkan dari lebih dari 1.000 tahun yang lalu muncul di sebuah pantai di Hawaii.

Tanda-tanda tersebut tidak terlihat selama satu dekade, dan penduduk asli Hawaii mengatakan kemunculan kembali mereka dari laut merupakan pertanda akan datangnya bencana.

Menurut mereka, rangkaian 26 petroglif, yang berasal dari antara tahun 1000 dan 1400 M, merupakan sebuah peringatan kuno. Simbol-simbol tersebut mulai terlihat sekitar tanggal 23 Juli ketika air pasang di sepanjang garis pantai Teluk Pōkaʻī surut.

Tanda-tanda tersebut menunjukkan figur-figur batang mirip manusia, yang diyakini sebagai penggambaran sederhana dari peristiwa yang terjadi ribuan tahun yang lalu. Namun, penduduk asli Hawaii mengatakan bahwa itu adalah peringatan dari leluhur mereka tentang bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Mail Online mengutip praktisi budaya penduduk asli Hawaii, Glen Kila, yang mengatakan: “Ini memberi tahu masyarakat bahwa permukaan laut sedang naik.”

26 ukiran yang dibuat di permukaan batu tersebut muncul di Pulau Oahu. Ini adalah pertama kalinya sejak 2016 semuanya terlihat sepenuhnya. Tanda-tanda peringatan kuno muncul tujuh hari sebelum gempa bumi dahsyat melanda Rusia. Gempa bumi dahsyat ini juga memicu peringatan tsunami untuk Hawaii.

Air laut menyapu pasir dan lumut dari ukiran batu di Hawaii

Simbol-simbol ini biasanya tertutup pasir dan lumut. Namun setiap tahun antara Mei dan November, air laut membersihkan bebatuan, memperlihatkan beberapa simbol kuno. Delapan belas di antaranya berupa figur batang sederhana yang menampilkan bentuk-bentuk seperti manusia. Delapan di antaranya konon menunjukkan alat kelamin laki-laki. Seluruh koleksi membentang sekitar 115 kaki.

Wisatawan dapat melihat simbol-simbol tersebut dengan jelas saat air surut. Para ilmuwan masih belum yakin tentang arti simbol-simbol ini. Simbol-simbol ini dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah dan spiritual tertentu. Tanggal pembuatannya juga belum sepenuhnya diketahui.

Kila mengatakan petroglif tersebut kemungkinan besar dibuat oleh pemukiman Polinesia awal di Waianae lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Namun, Laura Gilda, seorang arkeolog, memperkirakan usianya baru 600 tahun.

Simbol kuno di pantai Hawaii, sebuah tanda peringatan?

Kila menduga figur-figur tersebut menceritakan kisah keagamaan atau seremonial. Ia menguraikan figur petroglif terbesar yang menggambarkan satu tangan dengan jari-jari terangkat dan tangan lainnya mengarah ke bawah, berdasarkan ajaran penduduk asli Hawaii.

Dia mengatakan kepada Associated Press bahwa simbol ini menggambarkan terbit dan terbenamnya matahari. Ini bisa jadi “interpretasi Maui, dewa setengah dewa, Maui,” kata Kila kepada AP pada tahun 2017.

Sementara itu, orang-orang tak dapat menyangkal bahwa kemunculan kembali figur-figur ini berkaitan dengan gempa bumi yang melanda Semenanjung Kamchatka pada hari Rabu (30 Juli). Gempa tersebut mengguncang Samudra Pasifik dan mengirimkan gelombang tsunami ke Jepang, Hawaii, dan pesisir Rusia. Sementara itu, penduduk asli Hawaii percaya bahwa ini bisa menjadi tanda peringatan bahwa akan ada lebih banyak bencana alam yang akan datang.(yn)

Anak Laki-laki Berusia 3 Tahun di Tiongkok Ditemukan Selamat Setelah Jatuh dari Lantai 18

EtIndonesia. Seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun di Tiongkok mengejutkan publik setelah dia secara ajaib selamat dari jatuh dari lantai 18 dari gedung tempat tinggalnya, berkat pohon yang menahannya.

Sebagai tanda terima kasih, ayah bocah itu kemudian menghiasi pohon itu dengan bunga merah besar.

Insiden itu terjadi pada 15 Juli di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok tenggara, ketika balita yang tidak diketahui identitasnya itu dititipkan kepada kakek-neneknya.

Mengira anak itu sedang tidur, kakek-neneknya meninggalkan rumah sebentar untuk berbelanja, mengunci pintu apartemen agar dia tidak berkeliaran.

Namun, bocah laki-laki itu terbangun dan pergi ke kamar mandi.

Jendela kamar mandi tidak memiliki palang pengaman, sehingga dia dapat memanjat ke toilet dan kemudian ke jendela, tempat dia jatuh.

Ajaibnya, dia ditahan pohon dan dia selamat.

Anak laki-laki itu ditemukan tergeletak di lantai oleh seorang warga yang merekam video dan membagikannya kepada pihak pengelola properti.

Ayah anak laki-laki itu, yang bermarga Zhu, mengenang ketidakpercayaan awalnya: “Awalnya, saya tidak percaya dia jatuh dari lantai 18 sampai rekaman CCTV dari pihak pengelola properti mengonfirmasinya.”

Mengatakan bahwa saat jatuh, putranya kemungkinan “terhalang” oleh jendela yang terbuka di lantai 17, yang menyebabkan “penyimpangan” lintasannya.

Penyimpangan krusial ini membuatnya mendarat tepat di pohon, yang bertindak sebagai penyangga vital, menyerap sebagian besar benturan sebelum dia menyentuh tanah.

“Kalau tidak, anak itu pasti akan mendarat langsung di beton,” kata Zhu.

Ketika anak laki-laki itu tiba di rumah sakit, staf medis menggambarkan keselamatannya sebagai “keajaiban”.

Dia menderita cedera termasuk patah lengan kiri, cedera tulang belakang, dan kerusakan organ dalam. Kepalanya tidak terluka.

Anak laki-laki itu tetap sadar sepenuhnya dan, yang mengejutkan, dia mampu berkata kepada para dokter: “Minta Ayah untuk membelikanku Bumblebee.”

Sebagai tanda terima kasih, Zhu kemudian “mempersembahkan sekuntum bunga merah besar”, simbol penghormatan dan perayaan tradisional Tiongkok, kepada “pohon penyelamat”.

Keberlangsungan hidup anak laki-laki itu memicu diskusi luas di dunia maya.

Seseorang berkata: “Bagaimana mungkin orangtuanya begitu ceroboh? Bahkan saat memelihara kucing, orang-orang tahu untuk menutup semua jendela.”

Sementara yang lain menambahkan: “Anak kecil yang sangat beruntung, dia sungguh diberkati. Semoga cepat sembuh, sayang! Ini sungguh keajaiban.” (yn)

Perbedaan Besar Antara Orang yang Sering Membaca dan yang Tidak Pernah Membaca

EtIndonesia. Di internet, sering kita temukan berbagai artikel dan video yang menganjurkan kita untuk banyak membaca buku di waktu luang. Namun, sangat jarang ada yang benar-benar menjelaskan: Mengapa kita harus membaca buku?

Apa sebenarnya perbedaan antara orang yang sering membaca dengan yang tidak pernah membaca?

Salah satu adegan dalam film Green Book meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Sang sopir kulit putih dalam film itu tidak banyak membaca dan kurang berpendidikan. Ketika dia menulis surat untuk istrinya, tulisannya acak-acakan, penuh kesalahan ejaan, logikanya berantakan, dan isinya tidak lebih dari catatan harian biasa.

Sebaliknya, pianis kulit hitam yang berpendidikan tinggi membantunya menulis ulang surat tersebut. Kalimatnya tertata rapi, penuh makna dan indah. Sang istri sangat tersentuh ketika membacanya.

Inilah salah satu perbedaan paling mencolok antara orang yang suka membaca dan yang tidak: Kemampuan mengekspresikan diri.

Orang yang sering membaca memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik, bisa menyampaikan pesan secara tepat dan menyentuh hati orang lain. Tak heran, mereka pun lebih mudah disukai dan dihargai dalam interaksi sosial.

Namun, perbedaan antara orang yang suka membaca dan yang tidak, tidak hanya berhenti di situ.

1. Orang yang Sering Membaca Memiliki Pengendalian Diri yang Lebih Baik

Di era internet dan hiburan digital, kita dikelilingi oleh begitu banyak hal menarik dan menyenangkan.

Meski di dunia nyata hidupmu mungkin tidak memuaskan, kamu bisa ‘melarikan diri’ ke dunia fiksi atau hiburan dan mendapatkan apa pun yang kamu mau.

Hiburan-hiburan ini memiliki satu kesamaan: Mudah, cepat, dan memuaskan.

Kamu cukup geser layar ke atas atau ke bawah, dan dalam sekejap—dopamin langsung mengalir.

Sebaliknya, membaca buku jelas jauh lebih “tidak menarik” di awal:

·        Kamu harus menyingkirkan ponsel

·        Duduk tenang dan fokus

·        Dan butuh waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk merasakan dampaknya

Lebih parahnya lagi, hasil dari membaca itu tidak pasti. Kamu bisa saja membaca ratusan halaman, tapi tak langsung merasakan perubahan signifikan. Ini melelahkan dan membuat frustrasi.

Otak manusia secara alami lebih menyukai kesenangan instan. Karena itu, banyak orang kecanduan scrolling dan konten cepat.

Justru karena itulah, orang yang mampu menahan diri dan tetap memilih membaca—jauh lebih berharga.  Mereka mampu menahan dorongan sesaat demi hasil jangka panjang—itulah yang disebut “kemampuan menunda kepuasan”.

Psikologi mengenalnya sebagai Marshmallow Test. Anak yang mampu menahan diri untuk tidak memakan permen demi mendapatkan lebih banyak nanti, terbukti lebih sukses di kemudian hari.

2. Orang yang Sering Membaca Punya Pola Pikir Lebih Dalam dan Tajam

Orang yang tidak membaca umumnya hanya mendapat informasi dari media sosial atau berita daring yang seringkali bersifat dangkal dan sensasional. Informasi semacam ini tidak memberi nilai tambah berarti, bahkan bisa membentuk pola pikir sempit dan dangkal.

Contohnya: “Gaji saya kecil karena bos saya pelit.”

Padahal, bisa saja ada banyak faktor lain—kurangnya skill, kurang pengalaman, atau kontribusi yang belum maksimal. Tapi orang semacam ini lebih senang menyalahkan luar daripada melihat ke dalam.

Contoh lain: Saat seseorang mengkritik kemampuan akting seorang aktor, komentar yang muncul bisa jadi seperti:

“Kalau kamu bisa, kamu aja yang main film!”

Logika semacam ini sangat umum, tapi jelas tidak masuk akal.

Orang yang sering membaca, sebaliknya, terlatih dalam berpikir sistematis dan logis. Mereka mampu melihat inti masalah, dan tidak mudah tertipu oleh argumen dangkal.

Dengan pemahaman logika dasar seperti silogisme (three-part syllogism), mereka bisa mengurai dan menyanggah argumen dengan rapi.

Singkatnya, mereka tidak hanya membaca lebih banyak—mereka berpikir lebih baik.

3. Orang yang Sering Membaca Lebih Sadar bahwa Dirinya Masih Banyak Tidak Tahu

Dalam psikologi, ada yang disebut dengan Dunning-Kruger Effect—sebuah fenomena di mana orang yang kurang kompeten justru merasa dirinya paling hebat.

Mereka hanya tahu sedikit, tapi merasa tahu segalanya. Penuh percaya diri tanpa dasar, dan senang memamerkan “ilmu” mereka ke mana-mana.

Sebaliknya, semakin banyak seseorang membaca dan belajar, semakin dia sadar bahwa dunia ini luas dan pengetahuannya masih terbatas.  Semakin tinggi pemahaman, semakin besar rasa rendah hati.

Satu contoh nyata:

Pernah dalam satu diskusi, seseorang berkata bahwa berbisnis online itu mudah:

“Cari barang di internet, pasang iklan, habis itu tinggal tunggu uang datang!”

Ternyata, dia sama sekali belum pernah mencoba—hanya berbicara berdasarkan asumsi. Dan saat dikritik, ia malah tersinggung dan marah.

Inilah ciri khas dari mereka yang tidak membaca dan tidak belajar: Percaya diri yang tidak berdasar dan penolakan terhadap masukan.

Seperti kata Bertrand Russell: “Masalah dunia ini adalah orang bodoh terlalu yakin pada diri sendiri, sementara orang bijak selalu penuh keraguan.”

4. Membaca Memang Tampak Biasa, Tapi Efeknya Luar Biasa

Sekilas, membaca tampak seperti hobi biasa—sama seperti berenang, mendaki, atau bermain basket.

Tapi sejatinya, membaca adalah cara paling murah dan efektif untuk meningkatkan kualitas berpikir dan memperluas wawasan.

Saat kamu membaca, kamu tidak hanya menyerap informasi—kamu sedang berdialog dengan para pemikir hebat dunia.
Pemikiran-pemikiran mereka berbenturan dengan ide-idemu, dan dari sinilah pembaruan pemahaman muncul.

Satu buku mungkin tidak memberi perubahan besar. Namun setelah 100, 200, bahkan 500 buku?  Kualitas hidup dan cara berpikirmu akan berubah secara drastis.

Kesimpulan: Membaca adalah Investasi Diri Paling Bijak

·        Mereka yang rajin membaca lebih tenang, lebih bijak, dan lebih terbuka.

·        Mereka lebih memahami diri sendiri, dunia, dan orang lain.

·        Mereka tidak mudah tersesat oleh opini dangkal atau informasi palsu.

·        Dan yang terpenting: Mereka sadar bahwa hidup adalah proses belajar yang tak pernah selesai.

Jadi, jika kamu ingin mengubah nasib, memperluas wawasan, memperdalam pemikiran, dan memperbaiki diri…

Jangan tunda lagi—mulailah membaca sekarang juga. (jhn/yn)