Prediksi “Gempa Besar” Jepang Semakin Dekat, Sebagian Warga Mengungsi Hingga Membawa Surat Wasiat

Mangaka Jepang Ryo Tatsuki meramalkan akan terjadi gempa besar dan tsunami dahsyat pada Juli ini. Kebenaran ramalan ini masih menjadi perdebatan. Menanggapi hal tersebut, Ryo Tatsuki baru-baru ini menerbitkan karya baru berjudul “Testamen Malaikat”, yang menjelaskan “visi mimpi” yang ia lihat.

EtIndonesia. Ryo Tatsuki, yang dijuluki sebagai “Nostradamus Jepang,” dalam manga-nya “Masa Depan yang Kulihat” meramalkan bahwa “pada 5 Juli Jepang akan mengalami gempa bumi dahsyat, sepertiga wilayah negara akan lenyap.”

Ramalan ini menarik perhatian publik. Ketika tanggal tersebut tiba, saluran YouTube pemantauan gempa di Jepang diserbu lebih dari 230.000 penonton yang menonton siaran langsung. Namun, gempa “kiamat” yang diramalkan tidak terjadi.

Meski demikian, wilayah Kepulauan Tokara di selatan Prefektur Kagoshima telah mengalami ribuan gempa kecil sejak 21 Juni, mencatat rekor tertinggi sejak tahun 1995.

Menurut media Jepang, akibat aktivitas gempa yang terus berlanjut, penduduk Desa Toshima yang berada di dekat pusat gempa mulai mengungsi sejak 4 Juli. Gelombang pertama pengungsi kini telah ditempatkan di tempat penampungan sementara di Kota Kagoshima. Masa pengungsian sementara ditetapkan selama satu minggu.

Seorang warga mengatakan bahwa karena gempa yang terus-menerus, mereka tidak bisa tidur dan merasa sangat lelah:

“Rasanya bumi terus berguncang, bahkan saat tidur pun terasa menakutkan.”

Seorang pengungsi lain berkata:

“Karena tidak bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi, saya sulit tidur tiap malam. Sekarang akhirnya bisa tidur dengan tenang, benar-benar terasa lega. Beberapa orang masih tinggal karena harus merawat hewan peliharaan, dan sebagainya.”

Kepala Desa Toshima, Genichiro Nagakubo, mengatakan: “Melihat warga sudah sangat kelelahan secara fisik dan mental, kami memprioritaskan pemindahan bagi mereka yang ingin mengungsi.”

 Saat ini, sekitar 50 orang masih bertahan di pulau, dan kemungkinan gelombang kedua evakuasi akan dilakukan paling cepat pada 6 Juli.

Reaksi warganet Jepang terhadap “ramalan kiamat 5 Juli” bervariasi. Ada yang menimbun bahan makanan, bahkan membawa surat wasiat, namun banyak juga yang tetap menjalani hidup seperti biasa.

Masunori Takeuchi, warga Tokyo, mengatakan bahwa yang paling terpengaruh oleh ramalan ini justru adalah anak-anak muda:

“Di beberapa supermarket di Tokyo, memang ada peningkatan penjualan barang-barang darurat. Beberapa warga menimbun bahan makanan, bahkan ada siswa yang pergi ke sekolah memakai helm.”

Ibu Zhang, seorang warga Tionghoa yang bekerja di media Jepang, mengatakan kepada Red Star News bahwa ramalan “kiamat 5 Juli” cukup ramai dibicarakan di kalangan komunitas Tionghoa di Jepang, namun sejauh ini tidak ada orang di sekitarnya yang benar-benar terpengaruh. Supermarket di sekitar tempat tinggalnya juga tidak mengalami panic buying.

Seorang pemuda asal Henan yang telah tinggal di Jepang selama 11 tahun mengatakan bahwa di Tokyo sendiri tidak terasa ada gempa, toko dan supermarket tetap buka seperti biasa. Tidak ada penimbunan atau kepanikan, dan perusahaannya tetap bekerja seperti biasa. Hampir tidak ada orang di sekitarnya yang bepergian khusus karena ramalan itu.

Ramalan “5 Juli” dan kecemasan akibat frekuensi gempa yang meningkat telah berdampak pada sektor pariwisata Jepang. Banyak turis asing membatalkan perjalanan ke Jepang.

Badan Meteorologi Jepang menegaskan bahwa ramalan “kiamat” ini tidak memiliki dasar ilmiah, dan mengimbau masyarakat untuk menyikapinya secara rasional. (Hui/asr)

oleh Luo Tingting / Wen Hui

Ketua Lembaga Think Tank AS: Trump Sudah Lama Tahu Xi Jinping Kehilangan Kekuasaan

EtIndonesia. Ketua International Strategic Studies Association (ISSA) dan  Pimred “Defense & Foreign Affairs” Gregory Copley, dalam sebuah wawancara mengungkap sejumlah tanda bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping telah kehilangan kekuasaan. Ia juga menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump sudah mengetahui kondisi ini.

Dikutip NTD, 5 Juli 2025, Dalam wawancara terbaru dengan berbagai media, Copley merinci informasi yang ia terima mengenai melemahnya kekuasaan Xi Jinping, termasuk:

  • Sejumlah loyalis militer Xi telah disingkirkan;
  • Jumlah pengawal pribadi Xi dikurangi hingga separuh;
  • Istri Xi, Peng Liyuan, sudah lama tidak muncul di depan publik.

Copley juga menyebut bahwa Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT, kini mengendalikan kekuasaan militer. Xi Jinping disebut telah dipaksa untuk berkompromi dengan menyerahkan kekuasaan demi menjamin keselamatan dirinya dan keluarganya. Kemungkinan, Xi akan mundur dari jabatannya pada musim gugur tahun ini.

Lebih lanjut, Copley mengatakan bahwa Trump mengetahui situasi internal rezim Beijing, namun memilih pendekatan konservatif dan untuk saat ini tidak mendorong langsung agar Xi turun atau mendesak perubahan rezim PKT.

Sebenarnya, kata dia, sejak Januari lalu, media The Epoch Times edisi bahasa Inggris sudah mengutip informasi dari Copley, menyebut bahwa: “Trump tahu Xi Jinping telah kembali berada di bawah kendali penuh Partai Komunis Tiongkok dan telah kehilangan basis kekuatannya di dalam militer.”

Akhir-akhir ini, semakin banyak tanda bahwa Xi Jinping sedang kehilangan kekuasaan. Gonjang-ganjing dalam dunia politik PKT juga mulai menarik perhatian para pengamat politik di Amerika Serikat.

Baru-baru ini, mantan diplomat Amerika Gregory W. Slayton menulis artikel di New York Post, menganalisis berbagai gejala tidak biasa terkait Xi Jinping dan memprediksi bahwa kemungkinan besar Xi akan turun dari jabatannya pada Pleno PKT  Agustus mendatang atau hanya akan mempertahankan posisi simbolis. (Hui/asr)

Sumber :  NTDTV.com

CHENSORA Luncurkan KAKKOI, Produk Detox Praktis Pertama di Indonesia dengan Triple Booster

0

Surabaya, 6 Juli 2025 – Chensora resmi meluncurkan Kakkoi, produk detox praktis pertama di Indonesia yang menggabungkan manfaat detox usus, kesehatan kulit, dan daya tahan tubuh dalam satu sediaan cair. Peluncuran produk ini digelar di BonCafe Surabaya dan dihadiri oleh lebih dari 50 dokter terkemuka serta para Brand Ambassador Chensora.

Kakkoi dirancang sebagai solusi lengkap bagi mereka yang ingin membersihkan sistem pencernaan, membakar lemak, menurunkan berat badan secara alami, sekaligus merawat kulit dari dalam. Produk ini mengandung bahan-bahan premium seperti Blackcurrant Extract, Moringa Oleifera, Garcinia Astroviridis, Marine Collagen Jepang, Grape Seed, Blue Spirulina, dan Glutathione sebagai antioksidan kuat.

“Kakkoi bukan sekadar produk detox, melainkan solusi praktis untuk kesehatan pencernaan, kulit, dan imunitas,” ujar Chen Maria, CEO Chensora.

Produk ini telah terdaftar di BPOM RI (MD 272882010200050) dan memiliki sertifikasi HALAL, menjamin keamanan dan kualitasnya. dr. Festine Rohrich, Medical Expert Chensora, menambahkan bahwa Kakkoi dirancang untuk membantu masyarakat mencapai pencernaan sehat, berat badan ideal, dan kulit bercahaya dengan cara alami dan aman.

Eko Wibowo, General Manager Chensora, menjelaskan bahwa Kakkoi mengusung pendekatan modern berbahan aktif premium dengan kemasan praktis dan rasa blackcurrant yang enak. “Kakkoi detox praktis tanpa ribet, bisa diminum kapan saja,” jelasnya.

Selain Kakkoi, Chensora juga menghadirkan produk nutrisi lain seperti Pyon Pyon (nutrisi mata) dan Yorokobi (kopi kesehatan & vitalitas), sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Terpantau 50 Titik Terendam Banjir di Jakarta, Ratusan Jiwa Mengungsi 

EtIndonesia. Sebanyak 50 Rukun Tetangga (RT) tergenang air di wilayah Daerah Khusus Jakarta. Berdasarkan informasi yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta hingga Minggu (6/7) pukul 16.00 WIB, kondisi ini disebabkan oleh curah hujan tinggi sejak Sabtu (5/7) yang memicu kenaikan tinggi muka air di sejumlah pintu air, serta dipengaruhi oleh fenomena pasang air laut di pesisir utara Jakarta.

Dikutip dari siaran pers yang disampaikan oleh Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, adapun wilayah terdampak di Jakarta Selatan mencakup 20 RT yang tersebar di Kelurahan Tanjung Barat, Pengadegan, Rawa Jati, Pejaten Timur, Kebon Baru, dan Manggarai.

Banjir di Jakarta (BNPB)

Sedangkan 30 RT lainnya berada di Jakarta Timur, meliputi Kelurahan Bidara Cina, Kampung Melayu, Bale Kambang, Cawang, dan Cililitan. Ketinggian muka air bervariasi antara 40 hingga 270 sentimeter.

Sementara itu, genangan air terpantau telah surut di tiga wilayah, yaitu Kelurahan Gedong, Tanjung Barat, dan Kebon Baru.

BPBD DKI Jakarta mencatat sebanyak 371 jiwa atau 105 Kepala Keluarga (KK) mengungsi di sejumlah titik, antara lain di Aula Kantor Kelurahan Bidara Cina, RPTRA Bidara Cina, Masjid Jami Al Abror sebanyak 137 jiwa, Masjid Jami Ittihadul Ikhwan 74 jiwa, SDN 01/02 Kampung Melayu 119 jiwa, Masjid Al-Hawi Cililitan 11 jiwa dan Mushala Al-Ishlah Kampus Binawan Cawang 30 jiwa.

Banjir di Jakarta (BNPB)

Selain itu, kondisi ini menyebabkan peningkatan status pada sejumlah pintu air dan pos pantau, meliputi:

1. Pintu Air Pasar Ikan: Siaga 2, Sabtu (5/7), pukul 14.00 WIB

2. Bendung Katulampa: Siaga 3, Sabtu (5/7), pukul 17.00 WIB

3. Pos Depok: Siaga 3, Sabtu (5/7), pukul 21.00 WIB naik ke Siaga 2, pukul 22.00 WIB

4. Pos Pantau Sunter Hulu: Siaga 3, Minggu (6/7), pukul 01.00 WIB

5. Pos Pantau Pesanggrahan: Siaga 3, Minggu (6/7), pukul 03.00 WIB

6. Pintu Air Karet: Siaga 3, Minggu (6/7), pukul 11.00 WIB

Menanggapi hal tersebut, BPBD DKI Jakarta bersama unsur terkait mengerahkan personel untuk memantau perkembangan genangan, menyedot air, memantau fungsi tali-tali air, serta mendistribusikan bantuan kebutuhan dasar bagi para pengungsi.

Berdasarkan prakiraan cuaca dari instansi terkait untuk periode Minggu (6/7) hingga Senin (7/7), wilayah Jakarta masih didominasi oleh hujan sedang hingga lebat.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kenaikan tinggi muka air, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan genangan, bantaran sungai, maupun pesisir. Jika terjadi kondisi darurat, ikuti instruksi dan informasi resmi dari pemerintah daerah setempat. Masyarakat juga disarankan menyiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan pokok, dokumen penting, serta perlengkapan darurat lainnya. (BNPB)

Tampilkan 7.000 Pesilat dan Penari di Bundaran HI, Pemprov DKI Raih Rekor MURI

EtIndonesia. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meraih rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pelaksanaan “Jakarta Dalam Warna” di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Minggu (6/7/2025). 

Acara ini menampilkan pertunjukan kolosal budaya pencak silat dan tarian tradisional Betawi oleh lebih dari 5.000 pesilat dan 2.000 penari dari berbagai padepokan dan sanggar di DKI Jakarta. Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dan Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno.

“Jakarta Dalam Warna” di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Minggu (6/7/2025) (Dok Pemprov DKI Jakarta)

Gubernur Pramono mengatakan, kolaborasi pertunjukan ini menjadi wajah Jakarta yang membuat warga bangga terhadap budayanya. Ia berharap warga Jakarta juga semakin bangga terhadap kota yang sedang berbenah menjadi kota global yang aman dan nyaman.

“Wajah Jakarta adalah kebudayaan, terutama wajah Betawi. Undang-Undang (UU) No. 2 tahun 2024 juga telah mengatur hal itu. Hal yang terpenting dalam kegiatan ini adalah masyarakat Jakarta bangga terhadap budaya dan kotanya, menikmati Jakarta yang sedang kita ubah dan perbaiki perlahan-lahan. Kami ingin bangun Jakarta yang aman dan nyaman bagi warga maupun pendatang,” jelas Gubernur Pramono dikutip dari siaran pers Dinas Kominfotik Pemprov DKI Jakarta.

“Jakarta Dalam Warna” di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Minggu (6/7/2025) (Dok Pemprov DKI Jakarta)

Tema budaya Betawi diangkat dalam event ini sebagai simbol transformasi Jakarta menuju lima abad kota budaya yang berdaya saing global, sekaligus mempromosikan warisan budaya Betawi ke panggung dunia.

“Di berbagai acara saya sudah mewajibkan untuk menggunakan busana Betawi. Seperti saat melantik pejabat, saya wajibkan memakai baju adat ujung serong. Sehingga, wajah Betawi bukan hanya untuk perayaan, tetapi memang ada di dalam masyarakat,” ujarnya.

Gubernur Pramono mengaku bangga karena “Jakarta Dalam Warna” meraih rekor MURI sebagai kolaborasi peragaan pencak silat dan tari oleh peserta terbanyak. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh MURI kepada Gubernur Pramono.

“Jakarta Dalam Warna” di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Minggu (6/7/2025) (Dok Pemprov DKI Jakarta)

Ia berharap “Jakarta Dalam Warna”, yang merupakan rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-498 DKI Jakarta membuat masyarakat semakin semangat dalam menjaga, merawat, dan meletarikan budaya. “Saya ingin masyarakat Jakarta betul-betul bisa menikmati budayanya, karena akar yang ada di masyarakat adalah budaya. Sekaligus, dapat menjaga Jakarta menjadi kota yang aman dan nyaman,” terangnya.

Sementara itu, Wagub Rano menambahkan, kekuatan Jakarta ada di olahraga pencak silat, yang bukan hanya ilmu bela diri, tetapi juga melambangkan keindahan budaya Betawi. Ia berterima kasih kepada seluruh pesilat dari ratusan padepokan silat di Jakarta juga penari dari semua sanggar yang sukses berkolaborasi di acara “Jakarta Dalam Warna”.

“Ini adalah awal kita membangun Jakarta menuju 500 tahun pada 2027. Mudah-mudahan ke depannya, bukan hanya kebudayan Betawi yang ditampilkan disini, tetapi nanti ada budaya dari Sumatera Barat, Jawa Barat, dan sebagainya. Semua budaya yang ada di Jakarta akan tampil di sini. Sekarang kita awali dengan kebudayan Betawi,” kata Wagub Rano.

Selain penampilan kolosal ribuan pesilat dan penari, “Jakarta Dalam Warna” dimeriahkan pertunjukan musik oleh sejumlah musisi ternama, seperti Rossa dan Ayu Ting Ting, artis pesilat Prisia Nasution, penari Happy Salma dan Ufa Suforia, serta marching band Jakarta Drum Corps. (asr)

Irsyadillah Diam-diam Punya Anak, Davina Karamoy Tak Terima

Jakarta – Bambang (diperankan oleh Gito Gilas), ayah Angela (diperankan oleh Davina Karamoy), diam-diam melancarkan misi “mata-mata” untuk menyelidiki Bana (diperankan oleh Irsyadillah). Calon menantu pilihan anaknya ini ternyata berhasil meluluhkan hati sang calon mertua melalui ide bisnis yang brilian.

Bana pun mendapat lampu hijau sekaligus peluang karier di perusahaan Bambang. Sementara Angela pun terselamatkan dari masalah keuangan dan bisa menyelamatkan bisnis yang dibangunnya. Misi pernikahan kontrak ini juga membebaskan Angela dari Vadel (diperankan oleh Richard Gibson), laki-laki yang terobsesi dengan Angela.

Pertunangan pun digelar, semua tampak sempurna. Namun, di balik senyum bahagia itu, ada bom waktu yang tidak disadari keduanya. Tiba-tiba saja seorang anak kecil bernama Kayla (diperankan oleh Alesha Fadillah) hadir di tengah-tengah kehidupan Angela dan Bana. Kehadiran Kayla disertai sebuah surat yang menyebutkan Kayla adalah anak kandung Bana.

Bayangkan bagaimana perasaan Angela saat mengetahui ada anak kecil di apartemen Bana. Berbagai pertanyaan pun berkecamuk di benaknya. Bagaimanakah respon Angela mengetahui hal tersebut? Apakah pernikaham kontrak antara Angela dan Bana tetap terjadi?

Saksikan selengkapnya di WeTV Original Main Hati setiap hari Jumat dan Sabtu pukul 18.00 WIB hanya di WeTV. Episode 2 juga sudah bisa disaksikan lewat akses WeTV VIP.

Apakah Anda Bahagia?

oleh Wu Huilin

Belum lama ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa merilis Laporan Kebahagiaan Dunia tahun 2025 yang menunjukkan bahwa Taiwan tercatat berada di peringkat ke-27 dari sekitar 150 negara di dunia. Naik tiga peringkat dari tahun sebelumnya. Negara ini berada di peringkat ketiga di antara negara-negara Asia, di bawah Israel dan Uni Emirat Arab. Tetapi menduduki peringkat pertama di antara negara-negara Asia Timur, lebih baik daripada Jepang (di peringkat 55) dan Korea Selatan (di peringkat 58).

Makan Bersama Membangkitkan Rasa Bahagia

Laporan tahun ini yang secara khusus mengkaji faktor-faktor di luar penentu tradisional seperti kesehatan dan kekayaan, mengungkapkan bahwa makan bersama dan mempercayai orang lain ternyata adalah faktor penentu kebahagiaan yang lebih kuat dari apa yang kita perkirakan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa dampak dari makan bersama terhadap rasa bahagia subjektif sebanding dengan dampak pendapat dan pengangguran, dan orang-orang yang lebih sering menikmati makan bersama akan memiliki kepuasaan hidup yang jauh lebih tinggi. 

Jan-Emmanuel De Neve, editor laporan tersebut, yang mengambil Taiwan sebagai contoh menyebutkan: “Orang Taiwan mengatakan bahwa mereka lebih sering menikmati makan bersama.” Rata-rata, orang Taiwan menikmati 5,5 dari 7 kali makan malam, serta 4,7 dari 7 kali makan siang bersama dengan orang lain. Jadi bila ditotal, ada 10,2 dari 14 kali makan siang atau malam yang mereka nikmati bersama dengan orang lain. Dalam hal ini, Taiwan menduduki peringkat ke-8 dunia. 

Laporan juga menyebutkan: “Studi terdahulu menemukan bahwa kebiasaan makan sendirian semakin meningkat di negara-negara Asia Timur, khususnya di Jepang dan Korea Selatan. Dua alasan yang paling sering dikemukakan adalah meningkatnya jumlah rumah tangga dengan satu orang penghuni, dan masalah populasi yang menua.” 

Jan-Emmanuel De Neve mengatakan: “Di era isolasi sosial dan polarisasi politik ini, kita perlu menemukan cara agar orang-orang bisa kembali duduk di depan meja untuk menikmati makan bersama, karena rasa bahagia ini sangat penting bagi individu maupun kelompok.” 

Alberto Prati, asisten profesor ekonomi di University College London, yang berpartisipasi dalam persiapan laporan juga menulis, mereka menemukan di hampir semua wilayah bahwa makan bersama berkorelasi positif secara signifikan dengan kebahagiaan. Ia mengatakan, rasa bahagia saat bersantap bersama tidak hanya dirasakan saat membandingkan antar negara, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat di berbagai daerah di dalam negeri. Artinya, di negara yang sama, orang yang sering menikmati makan bersama akan memiliki rasa bahagia yang lebih tinggi. 

Alberto Prati mengatakan bahwa makan sendirian di antara orang-orang modern sekarang menjadi semakin umum. Dibandingkan dengan tahun 2003, warga Amerika Serikat berusia 18 hingga 24 tahun yang makan sendirian di setiap waktu makan jumlahnya mungkin sudah bertambah 90%. Warga Amerika Serikat yang setidaknya satu kali dalam sehari menikmati makan bersama orang lain ternyata memiliki tingkat rasa bahagia yang lebih tinggi, mereka lebih tidak stres, tidak terlalu merasakan tekanan, rasa sakit dan kesedihan pun lebih rendah.

Bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial, menikmati makan bersama orang lain lebih membahagiakan daripada makan sendirian, ini jelas mudah dibayangkan. Namun, seiring dengan evolusi masyarakat modern dan semakin “terpecahnya” anggota keluarga, bisa jadi jumlah kesempatan untuk makan bersama anggota keluarga semakin berkurang. 

Khususnya di era AI, bahkan jika orang-orang berkumpul dalam ruangan yang sama, nyaris tidak berbeda dengan keadaan sedang sendirian, karena semakin banyak individu yang sibuk dengan melihat ponsel miliknya. Jika demikian halnya, apakah makan bersama masih dapat membangkitkan rasa bahagia? 

Apa itu kebahagiaan?

Tidak diragukan lagi kebahagiaan adalah hal yang dikejar sepanjang waktu oleh orang-orang biasa. Ekonomi dasar menggunakan “utilitas” (utility) untuk mewakili kebahagiaan, dan “maksimalisasi utilitas” adalah apa yang dikejar konsumen. 

Apa sebenarnya kebahagiaan itu? Sesungguhnya tidak ada kriteria khusus untuk mengukur kebahagiaan. Karena itu, pada akhirnya jawaban sederhana adalah, “Kebahagiaan adalah hal yang mudah — jangan memaksakan diri untuk bersedih itulah bahagia.” Jawaban yang sederhana dan tampaknya tak berdaya itu mungkin merupakan arti kebahagiaan.

Sebagai bentuk protes, bayi akan menangis ketika terlahir, seolah-olah ia sudah menyadari bahwa sejak saat itu ia akan menjalani kehidupan yang keras di dunia ini. Memang, “tua,” “sakit,” dan “mati” adalah penderitaan yang pasti dialami oleh setiap manusia, belum lagi rasa lapar, kenyang, kedinginan, kepanasan… hampir semuanya membuat manusia terasa tidak nyaman. 

Akan tetapi, karena kita dilahirkan sebagai manusia, maka sudah seharusnya kita menerima takdir kita dan tetap “menemukan kegembiraan dalam penderitaan” serta mengejar kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup. Meskipun “Ode to Joy” pun tidak dapat memberikan jawaban standar tentang apa sebenarnya kebahagiaan itu, kita masih tetap terus bertanya pada diri sendiri: Apakah Anda bahagia?

Pada saat itu, ada survei indeks kesehatan mental yang menunjukkan bahwa kesehatan mental masyarakat Taiwan buruk, terutama kepuasan mereka terhadap nilai pribadi yang sangat rendah. 

Di antara responden, 58,9% percaya bahwa kemampuan dan karakteristik mereka sendiri tidak sepenuhnya dimanfaatkan, 42,4% tidak puas terhadap kinerja yang mereka capai, 38,6% beranggapan bahwa hidup kurang berarti, dan 36,1% tidak puas dengan status diri mereka. Hasil survei tersebut ditafsirkan sebagai: masyarakat Taiwan sangat tidak bahagia.

Karena survei ini tidak terbatas pada atribut kategori subjek saja, sehingga hasilnya dapat dengan mudah diinterpretasikan sebagai berikut: pengangguran, lansia, hidup sendiri, bercerai, atau janda/duda kurang bahagia, terutama kemiskinan menjadi alasan penting. 

Namun, pada awal September 1994, “Organisasi Penelitian dan Survei” Hong Kong menerbitkan survei tentang indeks kebahagiaan orang-orang di beberapa negara Asia. Hasilnya menunjukkan bahwa orang Jepang adalah orang Asia yang paling tidak bahagia, Taiwan serta Korea Selatan, yang termasuk di antara empat macan Asia, juga memiliki banyak orang yang tidak bahagia. 

Sebaliknya, orang-orang di negara tropis seperti Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Filipina lebih bahagia. Jika kita melihatnya dari perspektif pembangunan ekonomi atau pertumbuhan ekonomi, atau tingkat pendapatan nasional, tampaknya semakin tinggi pendapatan suatu negara atau wilayah, semakin tidak bahagia rakyatnya. Oleh karena itu, beberapa orang mengomentari hal ini dengan mengutip pepatah lama: Uang tidak dapat membeli kebahagiaan. Apakah ini masuk akal? Pengalaman Jepang memiliki nilai referensi yang tinggi.

Kembali ke Keluarga untuk Menemukan Kebahagiaan

Business Week melaporkan pada  Februari 2003 bahwa setelah lebih dari satu dekade Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang rendah, meski para pekerja kantoran di kawasan metropolitan Tokyo masih sibuk bekerja, pusat perbelanjaan masih terawat bersih dengan lampunya yang bersinar terang, orang-orang yang mondar mandir di jalan masih tampak tersenyum, juga bersemangat. Apakah ini merupakan ciri khas wilayah metropolitan Tokyo, ataukah kekuatan ekonomi Jepang masih utuh? 

Menurut laporan, Jepang memang telah jatuh ke dalam resesi jangka panjang, sehingga membuat budaya konsumsi mewah mereka menurun, dan jumlah orang yang bersosialisasi juga menurun secara signifikan, hal mana mengakibatkan penurunan tajam dalam pendapatan tip bagi mamasan Ginza hingga tiga perempat, selain itu pengeluaran masyarakat Jepang untuk makan di luar rumah juga menurun sebesar 32%. 

Sesuai dengan fenomena ini, orang Jepang merasakan kebahagiaan terbesar adalah momen di saat mereka pulang ke rumah lebih awal setelah bekerja seharian lalu menikmati sedikit minuman beralkohol. Di antara produk-produk yang paling laku dijual di Jepang pada akhir tahun 2002 adalah produk-produk DIY yang dapat dibawa pulang, Tercatat bahwa dalam setahun produk-produk DIY yang bisa dibawa sendiri oleh konsumen telah tumbuh sebesar lebih dari 20%.

Pria Jepang yang umumnya memiliki mentalitas machismo (rasa bangga berlebihan terhadap kaum pria), menerapkan konsep “pria bekerja di luar, wanita bekerja di dalam” sampai pada titik ekstrem. Sekalipun bisa pulang kerja lebih awal, tetapi mereka tetap saja baru pulang ke rumah setelah malam. Jika tidak, mereka akan dipandang rendah oleh sesama teman pria dan merasa malu. 

Namun pada akhir abad ke-20, pria Jepang tidak hanya lebih memilih pulang ke rumah lebih awal, tetapi juga mulai membantu pekerjaan rumah tangga saat berada di rumah. Bahkan beberapa department store besar di Jepang mulai memasang meja untuk mengganti popok di toilet pria pada tahun-tahun itu. Business Weekly melaporkan bahwa di bawah bayang-bayang ekonomi dan konsumsi Jepang yang lesu, hubungan sosial, interpersonal yang lebih dalam, dan bahkan nilai-nilai telah mengalami perubahan kualitatif… Ekonomi yang stagnan telah membawa perubahan besar dalam lanskap sosial, hal ini yang tidak pernah diduga oleh siapa pun.”

Laporan ini telah mengisyaratkan kepada kita bahwa kemerosotan ekonomi tidak hanya gagal menggerogoti kebahagiaan dan kegembiraan orang Jepang, sebaliknya membuat para pria Jepang tanpa sadar meninggalkan mentalitas machismo mereka dan mendapatkan kembali suasana “keluarga sebagai tempat berlindung yang aman.” 

Yang lebih menarik adalah bahwa pandangan terhadap “nilai” yang paling sulit digoyahkan telah berubah secara alami. “Keluarga” adalah sumber kebahagiaan dan kegembiraan. Perasaan ini tidak hanya dialami orang Jepang selama resesi. Dalam survei yang dilakukan pada bulan Maret 2003 terhadap para manajer menengah dan senior di berbagai perusahaan Taiwan dan asing oleh majalah Farsighted, “keluarga yang bahagia” merupakan tujuan paling berharga dalam benak para responden, karena itu merupakan “sumber kebahagiaan.”

Para pembaca yang budiman, mari kita mencoba untuk menenangkan diri dan bertanya pada diri sendiri: Apa itu kebahagiaan? Bagaimanapun, ini adalah pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh orang yang masih hidup! Mengapa kita sendiri yang membuat diri kita merasa tidak bahagia?  (***)

Penulis adalah peneliti khusus di Institut Penelitian Ekonomi Tiongkok

[Observasi Qin Peng]  NATO Bergerak ke Kanan Sedangkan New York Bergerak ke Kiri?

Ketika Trump melangkah ke panggung KTT NATO 2025, Sekjen NATO Mark Rutte dengan nada setengah bercanda memanggil Trump “Daddy”, yang kemudian ramai diperbincangkan oleh media global. Hal ini selain sebuah penegasan terhadap pengaruh pribadi Trump, juga sebagai simbol kembalinya dominasi Amerika Serikat di NATO.

Pada saat yang sama, suatu hal yang menggemparkan dunia politik AS terjadi di New York, kota terbesar Amerika Serikat. Di mana Zohran Mamdani, seorang sosialis demokrat berusia 33 tahun berhasil mengalahkan politikus kawakan dan mantan Gubernur New York Andrew Cuomo dalam pemilihan pendahuluan wali kota dan menjadi calon yang diusung oleh Partai Demokrat. Kemenangannya  menandakan bahwa New York, basis liberal ini akan kembali bergerak ke kiri, dan bayangan sosialisme seakan tak lama lagi akan menyelimuti seluruh persimpangan dunia ini.

Ini adalah badai tentang kekuatan global, ideologi, dan masa depan. Apakah Anda sudah siap?

“Daddy” Trump Kembali, Amerika Serikat Menciptakan Prestasi Gemilang di NATO

Pada 24 Juni, Trump terbang dengan Air Force One menuju Den Haag, Belanda untuk menghadiri KTT NATO. Ketika ia ditanya oleh wartawan tentang apakah ia bersedia mendukung Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara, terkait klausul pertahanan kolektif, yang menyatakan bahwa jika ada negara anggota yang diserang, maka negara anggota lainnya akan menanggapi bersama-sama. 

Trump menjawab secara ambigu mengatakan: “Karena ada banyak definisi tentang Pasal 5 ini jadi sangat tergantung pada bagaimana Anda mendefinisikannya. Anda tahu itu, kan? Tetapi saya berkomitmen untuk berteman dengan mereka.” Jawaban ini langsung menimbulkan kegemparan. Media Eropa khawatir bahwa ini akan melemahkan persatuan NATO, Trump bahkan menarik diri dari aliansi tersebut. Sementara itu komentator Rusia dan PKT justru memanfaatkan kesempatan ini untuk mencemooh keretakan NATO.

Namun, ini adalah strategi negosiasi yang biasa dilakukan Trump: Menciptakan ketidakpastian terlebih dahulu, kemudian menuai hasilnya dengan ketegasan sikap. Fakta membuktikan bahwa Trump menang lagi, seperti 1,5 bulan lalu ketika ia diterima bagaikan raja di Timur Tengah. Dan KTT NATO ini telah menjadi KTT Trump yang sesungguhnya. 

Sampai-sampai Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dan negara-negara anggota memberikan hadiah yang “dibuat secara khusus” untuk Trump. Ini unik karena belum pernah terjadi dalam sejarah NATO selama 75 tahun terakhir. Situasi telah berubah sekarang, dimana negara sekutu yang selama ini terbiasa mendapat perlindungan dari Amerika Serikat, negara yang tampak mudah dikibuli, kini tidak lagi bisa begitu:

Pertama, pembagian beban anggaran militer NATO: komitmen bersejarah sebesar 5% dari PDB

Trump telah lama mengkritik negara-negara anggota NATO karena subsidi untuk anggaran militer NATO tidak mencukupi, sehingga membebani tanggung jawab Amerika Serikat. Pada pertemuan puncak ini, 32 negara anggota NATO dengan suara bulat menyepakati untuk meningkatkan pengeluaran militer hingga 5% dari PDB masing-masing anggota, jauh melampaui target sebelumnya yang 2%.

Secara khusus, Mark Rutte mengusulkan rencana alokasi yang jelas, yakni 3,5% untuk anggaran militer inti (senjata, pasukan, amunisi), dan 1,5% untuk infrastruktur strategis dan keamanan siber (jembatan, jalan, pertahanan jaringan). Rancangan ini selain memenuhi permintaan Trump untuk peningkatan pengeluaran militer, tetapi juga secara cerdik menghubungkan kerja sama militer dengan kepentingan ekonomi. Misalnya, dana dari peningkatan belanja militer mengalir ke industri pertahanan Amerika Serikat dan Eropa, yang juga sejalan dengan kebijakan America First usungan Trump, dan sengketa perdagangan yang diakibatkannya.

Komitmen ini sempat menemui perlawanan. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez pernah mencoba mencari pengecualian, tetapi akhirnya berkompromi karena tekanan Trump.

Kedua, agenda tersebut berorientasi untuk memenuhi prioritas geopolitik Trump.

Agenda KTT tersebut disesuaikan dengan cermat untuk berfokus pada area inti kebijakan luar negeri Trump. Pertama, isu Iran menjadi fokus. Dalam pesan pribadi dan pidatonya, Mark Rutte sangat memuji tindakan tegas Trump yang mengubah situasi di Timur Tengah.

Topik ini juga memicu salah satu episode paling meriah dari KTT NATO kali ini. Ketika Trump dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte berbicara di panggung yang sama, mereka berbicara tentang Trump menengahi gencatan senjata antara Iran dan Israel, dan mengakhiri perang yang berlangsung selama 12 hari. Trump mengatakan: “Mereka bertengkar hebat, seperti dua orang anak kecil berkelahi di halaman sekolah. Biarkan mereka bertengkar selama dua menit, agar lebih mudah untuk menghentikan mereka.” Mark Rutte lalu menimpali: “Sampai Daddy terkadang harus menggunakan bahasa yang kasar” (And then Daddy has to sometimes use strong language).

Percakapan ini menjadi topik hangat di media besar dan media sosial di seluruh dunia. Tentu saja, ketika Trump ditanya soal hal ini pada konferensi pers setelahnya, “Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, dia memanggil Anda ‘Daddy’ sebelumnya… Apakah Anda memperlakukan sekutu NATO sebagai anak-anak?” Trump memberikan jawaban yang tidak merusak reputasi Rutte tetapi bermakna: “Tentu saja mereka bukan anak-anak, mereka hanya butuh sedikit bantuan di awal.”

Kedua, untuk pertama kalinya NATO mencantumkan ekspansi militer PKT sebagai agenda pembahasan utama. Dalam pidato pembukaannya, Mark Rutte memperingatkan bahwa modernisasi militer PKT sangat membahayakan, dan berpotensi menimbulkan risiko krisis di Selat Taiwan. Ia juga mengatakan: “Setelah Rusia dan Iran, PKT adalah negara berikutnya yang menerima perlakuan khusus dari Barat……” Hal ini secara langsung menanggapi kekhawatiran Trump yang tinggi tentang ancaman PKT dan juga meletakkan dasar bagi penyesuaian strategis NATO.

Ketiga, tanggapan fleksibel terhadap kontroversi Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara

Pada masa jabatan pertama, kritikan Trump terhadap NATO dan sekutu Barat pernah memicu reaksi keras. Namun kali ini, para pemimpin negara NATO memilih untuk menghormati dan menanggapi secara fleksibel kontroversi yang ada.

Tidak diragukan lagi bahwa masalah pengeluaran untuk anggaran militer NATO telah dapat diatasi, dan penghormatan tinggi yang diberikan oleh sekutu telah mendatangkan respons yang menggembirakan bagi Trump. Pada konferensi pers, ketika ia ditanya: “Apakah Anda mendukung Pasal 5?” Trump mengatakan: “Itulah sebabnya saya di sini. Jika tidak, saya tidak akan berada di sini.” Reporter itu bertanya lagi: “Apakah Anda akan membela negara-negara ini?” Trump hanya menjawab: “Tentu saja. Kalau tidak, untuk apa saya di sini?” Anda lihat, Trump juga sangat pandai mengendalikan diri.

Keempat, tampilan profil tinggi tentang pertemuan Trump dengan Zelenskyy

Untuk memenuhi keinginan Trump yang suka menunjukkan pengaruhnya di depan umum, KTT NATO juga secara khusus mengatur pertemuannya dengan Presiden Ukraina Zelensky. Pertemuan tersebut disiarkan langsung ke seluruh dunia, dan Zelensky yang biasanya lebih sering memakai T-shirt mengenakan jas untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada Trump. Setelah pertemuan tersebut, lewat konferensi pers Trump mengatakan bahwa Zelensky adalah orang baik.

Pertemuan ini tidak hanya meningkatkan citra internasional Trump, tetapi juga meredakan kekhawatiran sekutu Eropa tentang berkurangnya dukungan Amerika Serikat terhadap Ukraina. Lewat media sosial Zelensky mengatakan: “Kami membahas cara mencapai gencatan senjata dan perdamaian sejati.”

Selain itu, NATO juga menyederhanakan jadwal dan pernyataan bersama (hanya satu halaman) sebagai tanggapan atas ketidaksukaan Trump terhadap birokrasi, menghindari perdebatan panjang, dan menunjukkan bahwa KTT berakhir tanpa perselisihan.

Singkatnya, KTT NATO tahun 2025 bukan hanya kemenangan bagi pribadi Trump, tetapi juga momen transformasional bagi NATO untuk beradaptasi dengan era baru. Hubungan antara Amerika Serikat dan sekutunya telah mulai memasuki periode yang sangat baik, dan semua orang memahami bahwa ini mungkin menjadi berita buruk bagi beberapa rezim.

Berita Palsu Muncul Lagi. Artikel di New York Times Menyebut: Trump Menyerahkan Wacana Global

Namun, di mata orang biasa, mudah untuk menilai benar dan salah. Dalam tulisan-tulisan beberapa negara dan beberapa media, mungkin narasinya sama sekali berbeda.

Misalnya, setelah gencatan senjata antara Iran dan Israel, di pinggiran selatan Beirut, tempat sekutu Iran, Hizbullah bermarkas terpasang sebuah spanduk yang merayakan kemenangan Khamenei, berbunyi: Trump berlutut di tanah untuk memohon Khamenei menghentikan tembakan.

Pada 25 Juni, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengonfirmasi  bahwa fasilitas nuklir Iran mengalami kerusakan parah akibat serangan AS selama akhir pekan. Selain itu, ia juga mengklaim bahwa yang pertama kali mengirim pesan untuk menghentikan tembakan adalah Amerika Serikat, bukan Iran, yang berarti bahwa Amerika Serikat yang terlebih dahulu memohon Iran untuk menghentikan konflik senjata. Ia juga mengatakan bahwa Amerika Serikat harus membayar ganti rugi atas kerusakan fasilitas Iran. Iran akan menuntut hal ini melalui jalur diplomatik dan hukum.

Ini sungguh menggelikan, bukan. AS memang cukup tulus untuk meminta gencatan senjata setelah menjatuhkan 14 bom super berat dan 30 rudal Tomahawk ke Iran. Kepada siapa keadilan akan diminta?

Namun, beberapa media arus utama di dunia telah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan media Iran dalam beberapa hari terakhir. Misalnya, The New York Times dan CNN melaporkan bahwa serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran berdampak kecil dan hanya mengakibatkan penundaan program nuklir Iran selama beberapa bulan. Penulis benar-benar tidak tahu harus berkata apa tentang mereka. Informasi yang mereka kutip berasal dari laporan dari biro intelijen AS, yang mengatakan bahwa kurang kredibel menyebabkan pukulan berat. Namun, semua orang tahu bahwa ketika Kementerian Energi AS dan FBI melacak sumber epidemi virus PKT, menambahkan pernyataan yang kurang kredibel hanya berarti bahwa penyelidikan lebih lanjut diperlukan, dan itu tidak berarti bahwa PKT dapat menghindari tanggung jawab! Oleh karena itu, beberapa media sebenarnya hanya berpura-pura bingung saja.

Dalam dua hari terakhir, pernyataan New York Times dan CNN telah dibantah oleh banyak pihak. Pertama, badan intelijen Israel Mossad mengonfirmasi bahwa fasilitas nuklir di Fordow mengalami kehancuran total setelah serangan itu. Kedua, Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga secara terbuka membantah: “Jika Iran benar-benar tidak terluka, mengapa mereka bersedia berbicara tentang gencatan senjata?” Selain itu, citra satelit perusahaan satelit Maxar lebih lanjut menunjukkan bahwa puncak bukit Fordow telah hancur, muncul enam kawah di kawasan pemboman, dan 12 bom dijatuhkan di fasilitas nuklir Fordow, membuktikan bahwa pemboman itu sangat akurat. Terlebih lagi, video di internet menunjukkan kawah bom tersebut setidaknya ada beberapa meter dalamnya, dan terdengar suara air di dalamnya, sehingga dapat dipastikan terjadi kerusakan pada fasilitas di dalamnya.

Namun, New York Times pada 25 Juni menerbitkan artikel lain yang ditulis oleh jurnalis Tiffany Hsu dengan judul Pemerintahan Trump Menyerahkan Wacana Global kepada Musuh Seperti Tiongkok dan Rusia. Artikel tersebut mengklaim bahwa pemerintahan Trump sedang bunuh diri dengan meninggalkan kekuatan lunak global Amerika Serikat dengan menutup media yang didanai pemerintah federal seperti Voice of America (VOA), Radio Free Asia, serta membubarkan Kantor Penanggulangan Informasi Palsu.

Cara tidak menanggapi setelah dibantah dan beralih ke topik baru ini juga menunjukkan bahwa beberapa media hanya menentang Trump demi ideologi. Mari kita ambil artikel ini sebagai contoh:

1. Apakah penutupan Voice of America akan menyebabkan krisis pengaruh global bagi Amerika Serikat?

Secara historis, Voice of America memang memainkan peran dalam nilai-nilai Amerika Serikat yang dianut Trump, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, Voice of America mengikuti USAID untuk mempromosikan beberapa agenda ekstrem kiri, yang sebenarnya menyimpang dari tujuan awalnya. Sekarang, pengurangan dana yang disubsidi pemerintah untuk VOA tidak lagi dapat dihindari.

Selain itu, Voice of America telah lama dikritik karena sangat birokratis dan tidak efisien, dan pengaruhnya di era digital jauh lebih kecil daripada platform media sosial yang sedang berkembang. Keputusan pemerintahan Trump bukanlah untuk meninggalkan soft power, tetapi untuk mengalokasikan kembali sumber daya ke saluran propaganda yang lebih efektif, seperti berinteraksi langsung dengan khalayak global melalui platform X.

Mengambil contoh serangan fasilitas nuklir Iran, artikel mengakui bahwa siaran Voice of America dalam bahasa Persia dengan cepat dipulihkan setelah serangan tersebut, menghasilkan sejumlah besar laporan dan konten media sosial. Hal ini membuktikan bahwa pemerintahan Trump tidak menyerah dalam perang informasi, tetapi telah secara fleksibel mengerahkan sumber daya pada saat-saat kritis. Faktanya, citra satelit setelah serangan (yang memperlihatkan bahwa fasilitas nuklir Iran Fordow hancur) yang dirilis oleh Amerika Serikat melalui platform X justru mendapat postingan ulang sampai jutaan kali, jauh melebihi pengaruh media tradisional.

2. Klaim berlebihan bahwa PKT dan Rusia merebut ruang wacana

Artikel tersebut mengklaim bahwa PKT, Rusia, dan negara-negara lain sedang merebut ruang wacana yang ditinggalkan oleh Amerika Serikat, termasuk pembukaan kantor di Afrika oleh Badan Komunikasi Satelit Rusia, perluasan jangkauan siaran TRT Turki, dan sebagainya. Namun, tindakan ini sudah dimulai jauh sebelum Trump menjabat dan bukan merupakan hasil dari “penarikan diri” Amerika Serikat.

Yang lebih penting, artikel tersebut mengabaikan keuntungan Amerika Serikat di era digital. Trump sendiri secara langsung memengaruhi ratusan juta pengguna global melalui Truth Social dan platform X. Cara penyebaran informasi yang dipersonalisasi ini jauh lebih efektif daripada media tradisional.

Selain itu, bukankah akan lebih efektif jika Amerika Serikat menginvestasikan sumber dayanya yang terbatas untuk menyatukan sekutu guna melawan PKT?

Terlebih lagi, kekuatan lunak Amerika Serikat perlu didefinisikan ulang, dan pemerintahan Trump tengah memperluas pengaruh global Amerika Serikat. Perkembangan ekonomi AS dan perang melawan terorisme seperti Iran merupakan perwujudan kekuatan lunak Amerika Serikat yang setingkat lebih atas. Setelah membereskan para pembuat onar di Timur Tengah, Amerika Serikat juga dapat lebih fokus dalam memerangi PKT.

Selain itu, artikel tersebut menyebutkan bahwa Uni Eropa dan Inggris berupaya mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh “penarikan diri” AS, tetapi ini hanya membuktikan bahwa sekutu NATO berbagi lebih banyak tanggung jawab, yang sejalan dengan tuntutan jangka panjang Trump. Pendanaan Uni Eropa untuk Radio Free Europe bukan untuk menggantikan Amerika Serikat, tetapi kerja sama yang saling melengkapi.

Debut Bintang Baru Sosialis Pemilihan Wali Kota New York, Etnis Tionghoa Perlu Waspada!

Hasil dari Pemilihan Pendahuluan Wali Kota Demokrat Kota New York pada 24 Juni mengejutkan AS: anggota legislatif negara bagian berusia 33 tahun Zohran Mamdani unggul dengan 43,5% suara, mengalahkan mantan Gubernur Andrew Cuomo (36,4%) dan menjadi calon wali kota dari Partai Demokrat.

Pemilihan ini merupakan pukulan fatal bagi karier politik Andrew Cuomo, tetapi juga menandai momen bersejarah dalam politik Kota New York: bahaya sosialisme.

Zohran Mamdani, seorang etnis India, lahir di Uganda dan berimigrasi ke New York pada usia 7 tahun. Sebagai seorang sosialis demokrat, ia memperoleh dukungan antusias dari kalangan pemilih muda. dengan berfokus pada keterjangkauan dan penyebaran media sosial yang viral. Kampanyenya juga mendapat dukungan dari dua perwakilan sayap kiri lainnya, Perwakilan AS AOC dan Senator Bernie Sanders.

Platform kampanye Mamdani adalah serangkaian kebijakan sosialis radikal:

1 Pembekuan uang sewa: Ia berjanji untuk membekukan uang sewa 1 juta apartemen dengan sewa terkendali dan membangun 200.000 unit perumahan umum dalam 10 tahun ke depan. Tujuannya adalah untuk mengatasi krisis perumahan, tetapi telah dikritik dari dua sisi: di satu sisi, kebijakan murah hati yang dilakukan dengan cara merampas kepentingan pemilik properti, yang merupakan bentuk komunisme yang terselubung. Di sisi lain, dari mana dana untuk perumahan umum berskala besar itu berasal? Menaikkan pajak bagi orang kaya dan bisnis? Ini jelas akan menjadi pukulan lain bagi New York, tempat orang kaya dan pebisnis yang telah banyak hengkang sejak epidemi tahun 2020. Pada akhir tahun 2020, orang kaya telah meninggalkan New York, yang menyebabkan hilangnya pendapatan sebesar USD 34 miliar.

2 Transportasi umum gratis: Ia mengusulkan untuk memberikan layanan gratis bagi penumpang bus di seluruh kota, dengan perkiraan biaya tahunan sebesar $630 juta.

3 Toko kelontong yang dikelola pemerintah kota: Sebagai respons terhadap kenaikan harga pangan, ia berencana untuk mendirikan toko kelontong yang dikelola oleh pemerintah Kota New York dan menerapkan kontrol harga.

4 Memotong dana polisi: Ini juga merupakan berita buruk bagi kota yang keamanan publiknya sudah menghadapi banyak tantangan.

Mantan pembawa acara TV dan radio @John Cardillo memperingatkan: “Jangan menyalahkan warga orang kulit hitam atau Latino di New York atas pelanggaran Mamdani. Mereka justru memilih menentangnya. Itu dilakukan oleh orang kulit putih dan Asia.” Hasil survei menunjukkan bahwa 58% orang Asia yang memilih memberikan suara mereka untuk Mamdani….. merupakan proporsi tertinggi dari semua kelompok etnis! Dan di antara orang Asia di New York, jumlah terbesar adalah warga etnis Tionghoa.

Agenda sosialis Zohran Mamdani mengandung banyak risiko:

1 Ketidakberlanjutan finansial: Anggaran Kota New York tahun 2026 sudah sangat jomplang, anggaran pengeluaran lebih besar dari pendapatan. Dari mana dana untuk menunjang rencana Mamdani (transportasi umum gratis, toko kelontong yang dikelola pemerintah kota, perumahan umum) yang diperkirakan akan tambah membebani anggaran pengeluaran yang jumlahnya mencapai miliaran dolar setiap tahunnya.

2 Penurunan efisiensi administratif: Rencana seperti toko kelontong yang dikelola kota memerlukan sistem birokrasi yang besar untuk mendukungnya, tetapi pemerintah Kota New York memiliki catatan yang buruk dalam mengelola proyek publik. Misalnya, sistem kereta bawah tanah New York yang kotor dan bau. Mamdani yang tidak memiliki pengalaman administratif tingkat tinggi mungkin sulit untuk menerapkan kebijakan yang rumit ini secara efektif.

3 Meningkatnya perpecahan sosial: Sikap anti-Israel Mamdani (dia secara terbuka mengkritik kebijakan Palestina Israel) telah menimbulkan kontroversi di komunitas Yahudi New York, yang dapat menyebabkan perpecahan lebih lanjut dalam solidaritas sosial, mengingat New York memiliki hampir 1 juta penduduk Yahudi.

4 Konflik dengan pemerintah federal: Pemerintahan Trump secara eksplisit menentang sosialisme

NATO bergerak ke kanan sedangkan New York bergerak ke kiri. Dua tren yang sangat bertolak belakang ini mengingatkan kita bahwa tahun 2025 belum bisa damai. (***)

Setelah Seorang Wanita Selingkuh, Akan Ada 3 Tanda yang Sulit Disembunyikan – Para Pria Wajib Waspada!

EtIndonesia. Dalam pernikahan atau hubungan, tak ada yang lebih menyakitkan dibanding pengkhianatan.

Ketika kepercayaan dihancurkan dan kebenaran terungkap, banyak orang akan terjebak dalam rasa sakit dan keraguan terhadap diri sendiri.

Namun, pengkhianatan tidak pernah datang tanpa tanda. Ada “jejak-jejak” yang tersisa dalam keseharian, dan jika seorang wanita pernah berselingkuh, biasanya akan ada 3 tanda jelas yang muncul pada dirinya.

Ini bukan asumsi tanpa dasar, melainkan hasil dari perubahan pola perilaku dan kondisi psikologis yang tak bisa disembunyikan.

Berikut adalah 3 tanda paling mencolok ketika seorang wanita sudah tak setia:

01. Sikapnya Mendadak Dingin dan Sengaja Menjauh

Jika seorang wanita sudah menaruh hati pada pria lain, maka sikapnya terhadap pasangannya akan berubah perlahan.

Awalnya, dia akan menghindari banyak momen kebersamaan.

Misalnya:

·        Dulu suka makan malam bareng, sekarang bilang capek.

·        Dulu suka diajak jalan atau ngobrol, sekarang memilih menyendiri.

Perubahan ini bukan sekadar perubahan suasana hati, melainkan bentuk nyata dari jarak emosional yang disengaja. Dia tidak lagi peduli dengan keseharianmu, bahkan enggan berbagi cerita tentang dirinya.

Bahkan saat kamu mencoba memulai percakapan, dia akan:

·        Menjawab singkat

·        Tampak tak tertarik

·        Bahkan menunjukkan ketidaksabaran

Yang lebih mencolok, dia akan menolak kedekatan fisik.

Dulu suka pegangan tangan, berpelukan, kini tiba-tiba menjauh atau menghindar saat kamu menyentuhnya.

Ini adalah tanda penolakan bawah sadar, karena kedekatan dan kelembutan itu telah dia berikan kepada orang lain.

Hatinya sudah bukan milikmu lagi.

02. Menjadi Sangat Kritis dan Terlalu Sering Menyalahkanmu

Orang yang mengkhianati pasangannya sering kali akan membenarkan perselingkuhannya dengan cara merendahkan orang yang dikhianati.

Contohnya:

·      Dulu dia bangga karena kamu rajin kerja, sekarang bilang: “Kerja terus, nggak ngerti cara menikmati hidup.”

·      Dulu dia suka kamu hemat, sekarang bilang: “Pelit, nggak punya romantisme.”

Sikap kritis ini bukan bertujuan untuk memperbaiki hubungan, tapi untuk menciptakan alasan pembenaran atas perilaku curangnya sendiri.

Yang lebih parah, dia mulai membandingkan kamu dengan pria lain: “Lihat suami temanku, romantis banget. Kamu? Nggak pernah peka.”

Ini bukan lagi ucapan biasa, tapi sudah menunjukkan bahwa dalam pikirannya, ada pria lain yang dijadikan tolok ukur

Itulah alasan dia:

·        Selalu mencari kesalahanmu

·        Tidak pernah puas

·        Berharap kamu menyerah dan pergi

Saat wanita mulai mengecilkan kamu, membesar-besarkan orang lain, itu tandanya hatinya sudah berpindah.

03. Mendadak Overprotektif, Penuh Curiga, dan Mengontrol Sosialmu

Ironisnya, seseorang yang berselingkuh justru sering menjadi lebih curiga terhadap pasangannya.

Kenapa? Karena rasa bersalah dan takut ketahuan membuat mereka berusaha mengalihkan perhatian atau menutupi jejak.

Dia akan mulai:

·        Bertanya secara detail kamu pergi ke mana, dengan siapa, dan berapa lama

·        Meminta kamu melaporkan kegiatanmu sepanjang hari

·        Menghalangi kamu untuk berteman dengan lawan jenis

Misalnya: “Kamu pergi sama siapa? Teman cewek lagi? Jangan-jangan kamu juga selingkuh!”

Ini bukan bentuk perhatian, melainkan proyeksi dari rasa bersalahnya sendiri.

Bahkan, dia bisa:

·        Menghapus teman-temanmu di media sosial

·        Mengecek HP-mu diam-diam

·        Membatasi interaksimu dengan teman atau rekan kerja

Semua ini adalah bentuk panik dan usaha menutupi jejaknya.
Dengan mengontrol kamu, dia merasa bisa mengalihkan kecurigaan darinya.

Penutup: Jangan Membutakan Diri – Hadapi Kenyataan

Pengkhianatan adalah bentuk luka yang dalam. Namun yang lebih menyakitkan dari dikhianati adalah saat kamu tetap berpura-pura tidak tahu.

Saat seorang wanita menunjukkan tiga tanda ini:

1. Dingin dan menjauh

2. Terlalu banyak mengkritik

3. Kontrol berlebihan terhadapmu

…itu adalah cerminan dari hatinya yang sudah tidak bersama kamu lagi.

Daripada terus hidup dalam penyangkalan, lebih baik hadapi kenyataan dengan kepala tegak.

Hubungan hanya bisa berjalan jika masih ada kejujuran dan saling percaya.

Jika keduanya sudah hilang, mungkin melepaskan adalah satu-satunya bentuk cinta yang tersisa.

Ingat: Kamu layak dihargai. Kamu pantas mendapatkan cinta yang setia dan tulus tanpa pengkhianatan.(jhn/yn)

Menjalani Hidup, Kita Wajib Tahu Kapan Harus Berbelok

EtIndonesia. Hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh liku. Kita semua sedang berjalan di atas jalan itu—kadang jalannya lapang dan cerah, kadang juga terjal dan penuh duri. Dalam perjalanan ini, kita tidak bisa memprediksi setiap tikungan, tidak bisa mengatur semua pemandangan. Tapi satu hal yang pasti bisa kita lakukan adalah: belajar untuk berbelok di waktu yang tepat.

1. Berbelok adalah Wujud Kebijaksanaan

Berbelok bukan berarti menyerah, tapi justru tanda kecerdasan.

Banyak orang terlalu terpaku pada satu jalan yang menurut mereka benar. Mereka terus berjalan, berpikir bahwa selama mereka gigih, mereka pasti akan sampai.

Tapi kenyataannya, tidak semua jalan cocok untuk kita. Bisa jadi itu jalan buntu. Bisa jadi justru menuju jurang yang curam.

Alih-alih bersikukuh, kadang yang paling bijak adalah mengubah arah.

Di dunia kerja misalnya, kita kadang mencapai titik stagnan. Segala upaya tak menghasilkan apa yang kita harapkan.

Sebagian orang tetap bertahan, berputar di tempat yang sama. Tapi ada juga yang memilih menyesuaikan langkah, mencari peluang baru, bahkan mungkin beralih ke jalur yang lebih cocok.

Berbelok adalah mendengarkan suara hati. Itu adalah strategi cerdas agar kita bisa berjalan lebih jauh dan lebih baik.

2. Berbelok Adalah Keberanian untuk Menghadapi Kenyataan

Berbelok itu sulit, apalagi jika kita sudah banyak menginvestasikan waktu, tenaga, bahkan perasaan.

Mengubah arah seolah-olah seperti mengakui kekalahan, dan itu menyakitkan.

Namun sejatinya, berbelok bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian menghadapi kenyataan.

Dalam hubungan, sering kali kita terlalu banyak memberi, terlalu lama bertahan. Meski sudah tahu tak sejalan, tetap saja kita paksakan.

Akhirnya, bukan hanya kita sendiri yang tersakiti, tapi juga orang lain.

Padahal, melepaskan di saat yang tepat adalah tanda kedewasaan. Berbalik bukan mundur. Itu justru jalan menuju masa depan.

Karena hidup selalu punya luka dan kecewa, tapi dari sanalah kita belajar dan melangkah lebih kuat.

3. Berbelok Adalah Bentuk Memaafkan Diri Sendiri dan Orang Lain

Tak jarang, kita menyesali kesalahan masa lalu dan terjebak dalam penyesalan tanpa akhir. Namun menyalahkan diri sendiri tidak akan memperbaiki apa pun. Justru kita jadi lelah dan kehilangan harapan.

Berbelok adalah cara untuk berdamai.

Kita harus belajar memaafkan diri sendiri, menerima bahwa tidak semua keputusan kita sempurna. Begitu pula dengan orang lain—mereka pun bisa keliru, bisa menyakiti, bisa mengecewakan. Tapi menggenggam amarah dan dendam hanya akan memberatkan langkah.

Ketika kita tahu kapan harus berhenti menyalahkan dan mulai melangkah lagi, itulah saat kita benar-benar melepaskan beban.

Kadang, berbelok berarti melepaskan rasa sakit, memilih untuk tidak mengungkit pertengkaran, tidak menuntut permintaan maaf, dan tidak lagi memperpanjang luka.

Berbelok adalah keputusan untuk bebas.

4. Berbelok Adalah Cara Menyembuhkan Luka Batin

Di zaman ini, banyak orang mengejar pengakuan dan pencapaian luar, tapi melupakan perawatan diri di dalam.

Kita tertekan oleh pekerjaan, kecewa dalam hubungan, kelelahan oleh ekspektasi. Kita terus berlari, tak memberi waktu untuk menyentuh luka batin yang belum sembuh.

Berbelok berarti berhenti sejenak untuk merawat jiwa.

Itu bukan pelarian, tapi bentuk cinta pada diri sendiri.
Kita bisa:

·        Melakukan hal-hal yang menenangkan hati

·        Mengisi waktu dengan hal yang menyenangkan

·        Curhat dengan sahabat

·        Berjalan santai, membaca buku, atau sekadar menyepi

Saat kita mengambil jeda untuk menyembuhkan diri, kita akan menemukan kembali keseimbangan dalam hidup.

5. Berbelok Adalah Proses Menuju Kedewasaan

Hidup bukan jalur lurus, tapi serangkaian tikungan yang penuh pilihan.
Setiap kali kita berani meninggalkan jalan yang salah untuk mencari jalan yang lebih baik, kita sedang bertumbuh dan menjadi lebih dewasa.

Berbelok adalah:

·        Belajar mendengarkan suara hati

·        Belajar menerima bahwa tak semua hal bisa dikontrol

·        Belajar memilih ketenangan daripada keras kepala

Bukan berarti kita kalah. Tapi kita telah memahami bahwa hidup bukan soal siapa yang tercepat, tapi siapa yang paling bijak menyikapi arah.

Penutup

Dalam perjalanan hidup, tak mungkin semua berjalan mulus. Akan selalu ada cabang jalan, selalu ada momen ketika kita harus memilih: 

Terus maju, atau berbelok.

Yang penting bukan seberapa cepat kita berjalan, tapi apakah kita tahu kapan saatnya berbelok.

Ingatlah:

·        Berbelok bukan menyerah, melainkan langkah untuk maju lebih baik.

·        Berbelok bukan lari dari kenyataan, melainkan cara untuk menghadapinya dengan bijak.

Belajarlah untuk berbelok saat perlu.

Berilah dirimu lebih banyak ruang, lebih banyak pilihan, agar kamu bisa berjalan lebih ringan, lebih bebas, dan lebih damai.(jhn/yn)

Hal yang Harus Kamu Katakan kepada Anakmu: Jika Mereka Salah Melangkah ke Jalan Ini, Maka Hidup Mereka Akan Benar-Benar Hancur

EtIndonesia. Hidup ini ibarat permainan catur. Satu langkah salah, maka langkah-langkah berikutnya pun ikut salah, dan akhirnya seluruh permainan berujung pada kekalahan total.

Jika seseorang sudah salah arah sejak awal, maka hampir pasti dia akan terus berada dalam posisi lemah. Dan siapa pun yang ada di posisi lemah, akan terus membuat keputusan-keputusan bodoh. Kalau dibiarkan terus seperti itu, maka kegagalan, kemiskinan, dan keterpurukan hanya tinggal menunggu waktu.

Terlebih lagi, di era kompetisi yang sangat ekstrem ini, “toleransi terhadap kesalahan” bagi orang biasa sangatlah rendah. Sekali saja salah langkah, akibatnya bisa fatal dan tak bisa diperbaiki.

Lalu, siapa yang bisa membantu para anak muda yang telah terjebak dalam kubangan hidup yang melelahkan, penuh utang, tanpa masa depan, dan tak sanggup menghasilkan uang?

Jawabannya: tidak ada yang bisa membantu mereka, bahkan orangtua mereka sendiri tidak bisa. Karena, kenyataannya, mayoritas orangtua juga berasal dari kalangan pekerja biasa—hidup dari gaji ke gaji, nyaris tanpa tabungan, dan tidak punya kemampuan lebih untuk menolong.

Maka dari itu, satu-satunya jalan adalah mencegah sejak dini—mencegah kesalahan kecil sebelum berkembang menjadi bencana besar. Katakan kepada anakmu: jika mereka sampai salah masuk ke dalam empat jalan ini, maka hidup mereka benar-benar bisa hancur.

1. Jika Mereka Terlalu Penakut dan Mudah Menyerah, Maka Hidup Mereka Akan Hancur

Dalam dunia investasi, ada sebuah pepatah yang berbunyi: “Yang berani akan bertahan dan kaya, yang penakut akan mati kelaparan.”

Semakin berani seseorang mencoba dan mengambil risiko, semakin besar pula peluang mereka menemukan jalan keluar. Sebaliknya, mereka yang tidak berani mengambil langkah apa pun hanya akan tertinggal di tempat—dan akhirnya disingkirkan oleh zaman.

Zaman ini tidak menyukai orang dengan kepribadian lemah dan mudah menyerah. Zaman sekarang—yang penuh dengan persaingan ekstrem—adalah hutan rimba yang kejam. Hanya mereka yang bisa mengikuti irama perkembangan zaman yang bisa menikmati hasilnya. Yang tidak sanggup, akan langsung terlempar keluar dari arena.

Bahasa kasarnya: “Orang lemah mudah ditindas, kuda jinak mudah ditunggangi.”

Anak yang lemah, penakut, dan tanpa daya saing akan mudah ditindas, dilecehkan, atau disingkirkan. Lalu bagaimana dia bisa bertahan hidup?

Maka sebagai orangtua, jangan besarkan anakmu seperti domba yang jinak, tetapi ajarkan mereka menjadi “serigala” yang tahu bagaimana bertahan dan menyerang bila perlu. Hanya karakter serigala-lah yang bisa “makan daging” dan bertahan hidup dalam era hiper-kompetitif ini.

2. Jika Mereka Sembarangan Berutang, Maka Hidup Mereka Akan Hancur

Generasi 80-an di Tiongkok bisa dibilang adalah “kelinci percobaan” dari zaman yang berubah cepat. Di usia 20-30-an, mereka nekat mengambil banyak pinjaman, membeli properti atau investasi tinggi, dan akhirnya terjebak dalam utang yang menumpuk hingga kini.

Yang lebih menyedihkan, generasi ini juga menjadi angkatan pertama yang harus menghadapi “krisis usia 35 tahun di dunia kerja.” Ketika mereka sudah mati-matian bekerja, berharap naik jabatan dan gaji, justru malah diberhentikan.

Utang menumpuk + kehilangan pekerjaan = bencana total.

Banyak keluarga dan kehidupan benar-benar hancur karenanya.

Pelajaran ini harusnya menjadi peringatan bagi generasi berikutnya. Generasi 90-an dan 2000-an memang terlihat lebih cerdas dan hati-hati, tetapi tidak ada jaminan bahwa anak-anakmu kelak tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Di zaman penuh jebakan ini, informasi sangat kompleks. Salah klik satu video, salah mengikuti satu influencer, anakmu bisa saja tertipu dan menjadi “korban pencukuran rumput” (alias jadi korban bisnis yang menipu anak muda).

Sebagai orangtua, kamu harus mengajarkan anakmu untuk tidak mengejar utang, tidak menambah beban hidup, dan jangan sembarangan “bermain leverage” (meminjam uang demi gaya hidup). Jika tidak, bukan hanya anakmu, seluruh keluarga pun bisa terseret jatuh bersamanya.

3. Jika Mereka Salah Memilih Pasangan Hidup, Maka Seluruh Keluarga Bisa Ikut Hancur

Fakta pahit: banyak keluarga yang jatuh miskin kembali hanya karena anaknya menikah dengan orang yang salah.

Bayangkan, kamu dan pasanganmu adalah pensiunan pekerja yang cukup stabil secara finansial. Tapi kemudian anakmu menikah dengan seseorang yang datang dari keluarga miskin, penuh utang, bahkan memiliki anggota keluarga yang sakit dan harus dirawat.

Mau tidak mau, seluruh biaya perawatan, tanggungan, dan penghidupan akan jatuh ke tanganmu. Puluhan bahkan ratusan juta rupiah bisa terkuras dalam waktu singkat.

Pertanyaannya, berapa banyak keluarga yang benar-benar siap mengeluarkan uang sebesar itu?

Dan andai pun punya, sekali uang habis, bukankah seluruh keluarga bisa jatuh miskin dalam semalam?

Seorang anak dari keluarga menengah yang menikah dengan pasangan dari keluarga bawah—yang terlilit utang dan penuh masalah—bisa berubah dari kelas menengah ke kelas “miskin absolut” hanya dalam hitungan bulan.

Sayangnya, banyak orang tidak percaya akan hal ini. Mereka tetap nekat ingin “mencoba”. Tapi pada akhirnya, yang mereka coba adalah “menghancurkan diri sendiri”.

Sebagai orangtua, kalaupun kamu tidak peduli untuk anakmu, pikirkanlah masa tuamu sendiri. Jangan biarkan satu orang asing yang baru datang menghancurkan keluarga yang kamu bangun bertahun-tahun.

4. Jika Mereka Tertipu oleh Omongan Orang dan Terus-Menerus Mengorbankan Kesehatan, Maka Umur Mereka Akan Pendek dan Nasib Mereka Malang

Beberapa tahun ke depan, yang menjadi medan persaingan bukan lagi kerja lembur atau pencapaian kerja, melainkan kesehatan.

Mereka yang mati-matian mendorong budaya kerja berlebihan (workaholic, hustle culture), bukanlah pekerja biasa. Mereka adalah para pemilik perusahaan, para elite yang punya kepentingan. Mereka tidak peduli apakah kamu sehat atau tidak, mereka hanya ingin untung.

Lihatlah konten di media sosial. Banyak bos perusahaan besar, saat diwawancarai, justru menyuruh para pekerja untuk kerja keras tanpa istirahat, seakan-akan itu hal yang hebat.

Tapi apakah mereka peduli pada kehidupan para karyawan?

Tidak. Mereka hanya peduli pada laba perusahaannya.

Sebagai orangtua, jika kamu juga ikut-ikutan menyuruh anakmu kerja mati-matian tanpa peduli kesehatan mereka, maka itu bukan bentuk cinta, melainkan mendorong anakmu ke dalam jurang.

Seperti pepatah lama berkata: “Banyak anak muda, mati sebelum rambutnya memutih.”

Banyak orangtua harus mengantar anaknya ke liang kubur karena terlalu mendorong mereka. Tapi ketika penyesalan datang, tidak ada lagi obat yang bisa menyembuhkan.

Jangan tunggu sampai semuanya terlambat. (jhn/yn)

Dalam Hubungan Suami Istri, 4 Sikap Istri Ini Paling Menyakiti Hati Suami — Segera Hentikan!

EtIndonesia. Pernikahan ibarat sebuah benteng yang dibangun dengan susah payah—dia hanya akan kokoh jika dipelihara dan dijaga oleh kedua belah pihak, suami dan istri, dengan sepenuh hati.

Namun dalam kehidupan rumah tangga, beberapa perilaku istri yang tampak sepele justru bisa menjadi pisau tajam yang melukai hati suami, tanpa dia sadari. Jika dibiarkan, luka itu bisa merusak keharmonisan dan keutuhan rumah tangga.

Maka penting bagi para istri untuk memahami dan menghindari sikap-sikap yang menyakitkan tersebut. Berikut ini adalah empat perilaku wanita dalam rumah tangga yang paling menyakiti hati seorang pria.

1. Terlalu Sering Merendahkan dan Menyalahkan

Ada sebagian istri yang tanpa sadar menjadikan kritik sebagai kebiasaan, seolah-olah apa pun yang dilakukan suaminya selalu salah.

Contoh:

·        Suami baru pulang kerja dalam keadaan lelah, ingin bersantai sebentar. Namun karena dia meletakkan bajunya sembarangan, langsung dimarahi:

“Kamu ini jorok banget! Udah nggak bantu kerjaan rumah, bikin berantakan pula. Hidup macam apa ini?!”

·        Saat suami bercerita dengan senang karena meraih pencapaian kecil di kantor, sang istri justru menanggapi dingin:

“Cuma segitu? Orang lain jauh lebih hebat daripada kamu.”

Sikap meremehkan seperti ini sangat melukai harga diri pria. Sebagai suami, mereka ingin merasa dihargai dan dianggap mampu di mata istrinya.

Pengakuan dan pujian dari istri bisa menjadi penyemangat luar biasa bagi seorang pria.

Filsuf Socrates pernah berkata: “Apakah seseorang bisa meraih prestasi atau tidak, tergantung pada apakah dia punya harga diri dan kepercayaan diri.”

Jika sang istri terus-menerus merendahkan dan menyalahkan, harga diri suami akan terkikis sedikit demi sedikit, dan rasa percaya dirinya pun ikut hancur.

Lama kelamaan, dia bisa merasa kecewa pada pernikahannya, bahkan mungkin mulai menjauh secara emosional.

2. Mengabaikan Perjuangan dan Pengorbanannya

Banyak istri hanya fokus pada pengorbanan dan kelelahan diri sendiri, tapi lupa menghargai kerja keras suaminya.

Mereka menganggap bahwa semua yang dilakukan suami adalah hal biasa—wajar, bahkan wajib.

Padahal, bisa jadi suaminya:

·        Setiap hari bekerja keras mencari nafkah demi keluarga

·        Pulang kerja masih membantu mengurus rumah tangga

Namun karena satu kali dia lelah dan tidak sempat menyapu atau mencuci piring, istri langsung mengeluh dan mengkritik.

Pria juga ingin dihargai. Mereka juga ingin merasa bahwa apa yang mereka lakukan untuk keluarga itu berarti.

Seperti kata sastrawan Rusia Ivan Turgenev: “Kebahagiaan tidak mengenal masa lalu ataupun masa depan. Ia hanya ada di saat ini.”

Artinya, apresiasilah perjuangan suami sekarang, saat ia masih bisa hadir, berkontribusi, dan mencintaimu.

Ucapan sederhana seperti: “Terima kasih, ya, sudah bekerja keras,” bisa memberikan efek besar.

Saat seorang pria merasa dihargai, dia akan semakin bersemangat memberikan yang terbaik bagi keluarganya.

3. Sering Membandingkan dengan Suami Orang Lain

Sebagian wanita gemar membandingkan suaminya dengan pria lain, dan merasa bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau.

Contoh:

·        “Lihat tuh si Pak Joko, masih muda udah jadi manajer. Kamu, udah bertahun-tahun, gitu-gitu aja.”

·        “Istrinya Pak Andi enak banget, suaminya tiap hari temenin ke mana-mana. Kamu? Sibuk kerja terus.”

Kebiasaan membandingkan seperti ini sangat menyakitkan. Pria bisa merasa bahwa di mata istrinya, dia tidak berarti apa-apa.

Padahal, setiap orang punya jalan hidupnya sendiri. Pernikahan bukanlah perlombaan siapa paling sukses atau paling romantis.

Seperti yang dikatakan Romain Rolland: “Satu-satunya bentuk kepahlawanan sejati adalah tetap mencintai kehidupan bahkan setelah tahu betapa kerasnya kenyataan.”

Suamimu mungkin belum sehebat orang lain, tapi ia sedang berjuang dengan caranya. Hargai prosesnya. Jangan hancurkan semangatnya hanya karena perbandingan yang tak adil.

4. Membatasi Kebebasan Sosialnya Secara Berlebihan

Dalam banyak kasus, ada istri yang terlalu posesif dan terlalu mengatur kehidupan sosial suaminya.

Contoh:

·        Suami ingin menonton bola bersama teman-temannya, tapi dilarang dengan alasan:

“Ngapain nonton bola? Lebih baik temani aku di rumah.”

·        Suami ingin menghadiri makan malam bersama rekan kerja, tapi istri terus menelepon dan mendesak pulang cepat.

Padahal, suami juga butuh ruang untuk bersosialisasi, mengobrol dengan teman, melepas penat.

Jika terus-menerus ditekan dan dikekang, pria bisa merasa sesak dan kehilangan kebebasan sebagai individu.

Seperti kata Honoré de Balzac: “Masyarakat itu seperti kubangan lumpur, kita harus berdiri di atas tanah yang lebih tinggi agar tidak tenggelam.”

Melalui interaksi sosial, pria bisa memperluas wawasan, menambah relasi, dan membangun jaringan yang baik untuk pekerjaan dan perkembangan dirinya.

Sebagai istri, berilah kepercayaan dan ruang gerak yang wajar. Jangan membuatnya merasa hidupnya hanya sebatas rumah dan kantor.

Kesimpulan

Dalam kehidupan pernikahan, empat sikap wanita yang sangat menyakiti hati pria adalah:

1. Terlalu sering merendahkan dan menyalahkan

2. Mengabaikan perjuangan dan pengorbanannya

3. Membandingkan dengan pria lain

4. Membatasi kebebasan sosialnya secara berlebihan

Pernikahan adalah perjalanan panjang yang membutuhkan pengertian, dukungan, dan toleransi dari kedua belah pihak.

Sebagai istri, belajarlah menempatkan diri di posisi suami, memahami perasaan dan kebutuhannya.

Berikan lebih banyak pujian dan apresiasi. Jangan bandingkan dia dengan orang lain. Dan berilah ruang agar ia bisa tetap menjadi dirinya sendiri.

Seperti kata Leo Tolstoy: “Keluarga yang bahagia itu mirip satu sama lain. Tapi keluarga yang tidak bahagia, masing-masing punya cerita sedihnya sendiri.”

Mari kita semua belajar membangun rumah tangga yang hangat, saling menghargai, dan penuh cinta—dengan menghindari empat sikap menyakitkan ini.(jhn/yn)

Apa Itu Perjanjian Ottawa 1997: Ukraina Akan Keluar dari Perjanjian Ranjau Antipersonel Utama di Tengah Agresi Rusia

EtIndonesia. Ukraina berharap untuk menarik diri dari perjanjian internasional utama tentang ranjau darat antipersonel saat Rusia terus melancarkan serangan ke Kyiv, memasuki tahun keempat perang. Dengan menarik diri dari perjanjian tersebut, Ukraina dapat memperkuat pertahanannya di medan perang saat pasukan mencoba menahan serangan gencar Rusia.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menandatangani dekrit untuk menarik diri dari Perjanjian Ottawa 1997, yang melarang produksi dan penggunaan ranjau antipersonel tanpa pandang bulu. Dia menekankan bahwa bahan peledak ini adalah alat yang tak tergantikan dalam mempertahankan negara di tengah agresi Rusia.

DIa mengeluh bahwa Rusia tidak pernah menjadi bagian dari perjanjian tersebut dan telah menggunakannya.

“Rusia tidak pernah menjadi pihak dalam perjanjian ini dan menggunakan ranjau antipersonel dengan sinisme yang ekstrem,” kata Zelenskyy dalam pidatonya setelah itu.

“Dan tidak hanya sekarang, dalam perang melawan Ukraina. Ini adalah gaya khas pembunuh Rusia — menghancurkan kehidupan dengan segala cara yang mereka miliki,” tambahnya.

Apa itu ranjau antipersonel?

Ranjau antipersonel adalah alat peledak yang sangat kontroversial yang dapat meledak dengan tekanan kecil dan dirancang untuk membunuh manusia, bukan kendaraan. Ranjau ini dapat dibagi menjadi ranjau peledak dan ranjau fragmentasi.

Karena bahayanya yang besar, ranjau antipersonel dilarang secara internasional. Ranjau darat dikubur atau disembunyikan di tanah dan digunakan dalam peperangan untuk melumpuhkan atau membunuh personel musuh.

Ranjau dirancang dengan cara tertentu, untuk melompat ke udara sebelum meledak, menyebarkan pecahan peluru ke area yang luas. Berbeda dengan ranjau anti-tank, ranjau ini digunakan terhadap manusia dalam peperangan.

Apa itu Perjanjian Ottawa 1997?

Perjanjian Ottawa tahun 1997 melarang penggunaan produksi, penimbunan, dan pemindahan ranjau darat anti-personel sebagai langkah untuk melindungi warga sipil dalam perang. Perjanjian ini diikuti oleh lebih dari 160 negara.

Ukraina menandatangani perjanjian tersebut pada tahun 2005, 17 tahun sebelum Rusia memulai perang pada tahun 2022.

Namun pada bulan Maret, negara-negara Baltik dan Polandia mengumumkan keputusan besar mereka, untuk menarik diri dari Perjanjian Ottawa, yang menunjukkan bagaimana negara-negara tetangga Ukraina bersiap menghadapi potensi perang di Eropa.

Bagaimana reaksi pengamat Hak Asasi Manusia terhadap hal ini?

Human Rights Watch mengecam keputusan Ukraina untuk menarik diri dari perjanjian ranjau, dengan mengatakan bahwa hal itu akan memberi mereka alasan politik untuk melanggar larangan yang telah lama berlaku.

Mary Wareham, wakil direktur Divisi Krisis, Konflik, dan Persenjataan di Human Rights Watch, menekankan bahwa Ukraina tengah dilanda perang, seraya menambahkan: “Ini adalah langkah simbolis yang bertujuan memberi Ukraina perlindungan politik untuk secara mencolok melanggar larangan lama tentang pengembangan, produksi, dan penggunaan ranjau antipersonel.”

“Membawa kembali ranjau antipersonel adalah pilihan yang berisiko menyebabkan lebih banyak penderitaan dan korban, dalam jangka pendek dan panjang,” kata Wareham kepada Kyiv Independent.

The International Observer mengutip Pasal 20 Perjanjian Ottawa, dan mengatakan bahwa dibutuhkan waktu setengah tahun setelah negara tersebut mengajukan pemberitahuan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa agar penarikan diri tersebut mulai berlaku.(yn)

Apakah Anakmu Akan Menjadi Kaum Kelas Bawah? Lihat 6 Kriteria Ini untuk Mengetahuinya

EtIndonesia. Satu kenyataan yang sulit diterima oleh banyak orangtua adalah ketika anak mereka semakin biasa-biasa saja, dan perlahan-lahan jatuh menjadi bagian dari kelompok masyarakat paling bawah.

Menurut prinsip “aturan 80/20”, lebih dari 80% orang hanya akan menjadi bagian dari kelompok terbawah dalam masyarakat. Hanya kurang dari 20% yang memiliki peluang untuk naik menjadi kelas menengah, atau bahkan kelas elite.

Semakin ke atas, jumlah posisi yang tersedia semakin sedikit dan persaingan semakin ketat. Sebaliknya, semakin ke bawah, posisi semakin banyak dan persaingan justru semakin longgar. Memang benar, jatuh ke bawah jauh lebih mudah daripada naik ke atas.

Apakah anakmu termasuk yang akan terperosok ke lapisan terbawah? Lihat 6 standar berikut ini, dan kamu akan tahu jawabannya.

01. Dari Sisi Kemampuan: Apakah Mereka Memiliki Pendidikan yang Baik?

Ada satu kenyataan pahit yang harus dihadapi: anak-anak dari daerah terpencil dan kota kecil, jika tidak unggul dalam pendidikan, maka besar kemungkinan mereka akan menjadi orang miskin seumur hidup.

Jangan lagi berandai-andai bahwa “lulusan SMP pun bisa jadi bos”. Itu mungkin berlaku pada tahun 2000, tapi di tahun 2025 sekarang, sudah tidak relevan lagi.

Saat ini, perusahaan-perusahaan yang berkembang pesat adalah jenis perusahaan berbasis teknologi tinggi. Misalnya: internet, big data, energi baru, kecerdasan buatan, dan sebagainya.

Semua itu membutuhkan latar belakang pendidikan tinggi. Sedangkan lulusan SMK, SMA, atau bahkan diploma, akan sangat sulit bersaing di masa depan yang kompetisinya luar biasa brutal.

02. Dari Sisi Kemampuan: Apakah Mereka Memiliki Keunggulan Khusus?

Untuk bisa menonjol dalam kompetisi yang begitu sengit, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan tinggi. Mereka juga harus memiliki “keunggulan pribadi” yang membedakan dirinya dari orang lain.

Jika kamu sangat kuat di bidang matematika, itu adalah keunggulanmu. Jika kamu jago dalam pemodelan atau desain, itu juga keunggulanmu. Jika kamu punya bakat luar biasa dalam menggambar dan berkarya, itu tetap keunggulanmu.

Dalam bahasa sederhana: seseorang perlu memiliki “satu keahlian utama”. Jika ijazah hanyalah tiket masuk, maka keahlian pribadi adalah kunci utama untuk menyalip dan meninggalkan yang lain.

Dunia masa depan tidak membutuhkan orang biasa-biasa saja. Dunia masa depan membutuhkan individu dengan keahlian yang menonjol. Jangan pernah berpikir bahwa kemajuan teknologi akan menguntungkan semua orang. Justru, semakin maju teknologi, semakin banyak orang biasa yang akan tersingkir.

03. Dari Sisi Kepribadian: Apakah Mereka Mampu Menyesuaikan Diri dengan Lingkungan?

Setelah membahas kemampuan, sekarang mari kita bicara soal kepribadian. Kita semua pernah mendengar ungkapan, “Kepribadian menentukan nasib.”

Mengapa demikian? Karena kepribadian seseorang memengaruhi setiap keputusan yang diambil dalam hidup. Pilihan jalan hidup, semua berakar pada karakter dasarnya.

Lalu, seperti apa kepribadian yang paling menguntungkan? Jawabannya: kepribadian yang mampu “berbaur dengan dunia”, yaitu bisa menyesuaikan diri, apa pun kondisi lingkungannya.

Dalam pusaran zaman, mereka yang mampu menyesuaikan diri akan tetap bertahan dan bahkan berkembang. Sebaliknya, mereka yang melawan arus akan lebih mudah tersingkir.

04. Dari Sisi Kepribadian: Apakah Mereka Mampu Bertahan Meski Sering Terjatuh?

Setinggi apa pun pendidikanmu, sehebat apa pun kemampuanmu, hidup ini akan tetap memberimu pukulan. Tak seorang pun bisa menghindarinya.

Realitas sosial selalu menyodorkan tantangan bagi orang-orang biasa. Ini adalah bagian dari “mekanisme seleksi alam” — di mana yang tangguh akan bertahan, dan yang rapuh akan tersingkir.

Mereka yang berhati rapuh, seperti kaca, akan mudah retak hanya dengan satu benturan. Meski berilmu setinggi langit, mereka bisa saja mengakhiri hidup karena tak sanggup menanggung tekanan.

Sebaliknya, mereka yang bermental kuat, seperti berlian, meskipun kemampuan mereka tidak luar biasa, tetap akan bertahan sampai akhir. Ibarat kecoak yang tak bisa mati, mereka terus bangkit dan akhirnya berhasil.

05. Dari Sisi Keberuntungan: Apakah Mereka Bisa Mendapat “Dividen”?

Setelah karakter, kini kita bahas soal keberuntungan — atau lebih tepatnya, faktor “waktu yang tepat”.

Apa itu “waktu yang tepat”? Intinya adalah dividen yaitu peluang luar biasa yang muncul hanya di era tertentu. Contohnya: peluang saat booming perdagangan bebas, saat properti meledak, saat era internet dan big data, saat live streaming dan e-commerce naik daun, dan sebagainya.

Namun semua itu bukan selamanya, hanya sementara. Lihat saja industri properti—di tahun 2015, setiap orang berlomba masuk. Tapi di tahun 2025, peluang itu sudah nyaris menghilang.

Orang biasa hanya bisa naik kelas jika bisa menangkap peluang besar yang dibawa oleh zaman. Sejak zaman dahulu, pepatah Tiongkok mengatakan, “Situasi yang tepat menciptakan pahlawan.” Tidak ada orang kuat di segala era, yang ada hanya orang yang tepat pada waktunya.

06. Dari Sisi Keberuntungan: Apakah Mereka Bisa Mendapat Bantuan dari “Orang Penting”?

Banyak orang bertanya: “Kami rakyat biasa, tidak punya koneksi, bagaimana bisa dapat bonus zaman?”

Jawabannya: lewat bantuan dari orang penting, atau dalam budaya Tiongkok disebut guì rén — seseorang yang membimbing dan menarikmu naik.

Jika kamu beruntung dibantu oleh orang penting, kamu bisa menghemat perjuangan 20-30 tahun. Tapi kalau tidak punya siapa pun yang membimbing, bisa jadi kamu berjuang seumur hidup hanya sebagai kuda beban—kerja keras, tapi tidak pernah naik ke permukaan.

Contohnya, kamu seorang staf biasa, sudah hampir putus asa karena tak kunjung naik jabatan. Tapi suatu hari, seorang atasan menarik tanganmu—itulah keberuntunganmu. Atau kamu seorang pemuda biasa yang hidupnya membingungkan, lalu ada satu orang bijak yang menasihatimu dan membuka pikiranmu—itu juga keberuntunganmu.

Keberuntungan memang sesuatu yang misterius. Tidak semua orang memilikinya. Maka dari itu, ada yang tinggal di menara tinggi, ada yang tinggal di lembah sunyi. Ada yang bersinar terang, dan ada yang hidup dalam karat.(jhn/yn)

Hari H+2 Pencarian Tenggelamnya KMP Tunu Pratama, Tim SAR Gabungan Lakukan Pencarian di Laut, Udara dan Darat

EtIndonesia. BANYUWANGI – Upaya pencarian terhadap para korban musibah tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya rute Ketapang – Gilimanuk, telah dilakukan tim SAR gabungan hingga Jumat (4/7/2025) pukul 16.00 WIB. Tidak hanya di laut, pencarian juga dilakukan melalui udara dan darat.

Dikutip dari siaran pers BASARNAS, pencarian di laut dilakukan di wilayah perairan Selat Bali, dari utara hingga selatan.  Pada saat yang bersamaan, tiga SRU udara juga melaksanakan pencarian dari arah utara ke selatan. Sedangkan SRU darat, melakukan pemantauan di seluruh wilayah pesisir selat Bali, baik dari sisi Ketapang maupun dari sisi Gilimanuk.

Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan BASARNAS, R. Eko Suyatno mengatakan bahwa upaya pencarian yang dilakukan tim SAR gabungan pada H+2 ini dimulai sejak pukul 07.00 WIB, namun belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban.

Eko Suyatno menjelaskan, kendala yang dihadapi oleh tim SAR gabungan dalam proses pencarian ini kondisi cuaca di perairan selat Bali yang tidak bersahabat. 

Dimana menurut data BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Banyuwangi, kondisi cuaca hujan ringan, kecepatan angin berkisar diantara 4 – 14 knots dari arah selatan ke barat daya, ketinggian gelombang berkisar diantara 0,4 – 1,25 meter, serta kecepatan arus 0,86 – 2,06 m/s dominan  ke arah selatan.

Menanggapi informasi dari Kedutaan Besar Malaysia terkait adanya WNA asal Malaysia yang dikabarkan menjadi salah satu penumpang KMP Tunu Pratama Jaya, Eko Suyatno selaku SMC telah merespon dengan mengerahkan unsur dari BPBD Provinsi Jatim untuk berkoordinasi dengan Kepolisian guna menelusuri Nopol mobil travel yang disinyalir ditumpangi oleh WNA asal Malaysia tersebut.

“Setelah ditelusuri, Kami menemukan data dari Nopol kendaraan tersebut memang menjadi salah satu penumpang KMP Tunu Pratama Jaya. Namun dari delapan nama dalam manifest travel itu, tidak terdapat nama WNA yang dimaksud”, jelas Eko Suyatno.

Dari data korban selamat yang telah di-release, pada Kamis (4/7/2025), tim SAR gabungan mendapatkan konfirmasi dari ASDP dan Kepolisian adanya perubahan data. Awalnya tercatat terdapat 29 orang korban selamat, dengan hasil 21 orang korban selamat telah diserahkan kepada pihak keluarga di Ketapang, dan 8 orang korban telah diserahkan kepada pihak keluarga di Gilimanuk. 

Namun setelah dilakukan konfirmasi dan rekonfirmasi, terdapat 9 orang korban selamat dan telah diserahkan kepada pihak keluarga di Gilimanuk. 

Dari hasil rekonfirmasidata tersebut, dapat disimpulkan bahwa jumlah korban kejadian tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya yang telah ditemukan sebanyak 36 korban, dengan rincian 30 korban selamat dan 6 orang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Dengan demikian, data korban yang masih belum ditemukan sesuai data manifest kapal yakni 29 orang.

“Sebelumnya dari data nama korban selamat tidak ada korban atas nama Yudi atau Wahyudi, namun ternyata yang bersangkutan sudah ditemukan selamat dan sudah dijemput oleh pihak keluarga di Gilimanuk tanpa melapor terlebih dahulu kepada Posko SAR Gabungan di Gilimanuk”, imbuh Eko Suyatno.

Adapun unsur SAR yang terlibat dalam operasi SAR H+2 ini, diantaranya Kantor Pusat BASARNAS, Kantor SAR Surabaya, Kantor SAR Denpasar, LANAL Banyuwangi, LANAL Gilimanuk, Wing Udara 2 PUSPENERBAL, DITPOLAIRUD POLDA JATIM, SATBRIMOB, BSG (BASARNAS Special Group), KSOP Banyuwangi.

Unsur lainnya yang terlibat pencarian adalah  ASDP Ketapang, BMKG, Syahbandar Gilimanuk, KPLP Gilimanuk, POLRES Banyuwangi, SATPOLAIRUD Banyuwangi, SATPOLAIRUD POLDA Bali, KODIM 0825 Banyuwangi, BPBD Prov Jatim, KORAMIL Banyuwangi Kota, KP3 Banyuwangi, BPTD Gilimanuk, BPBD kab Banyuwangi, DAMKAR, TAGANA, BKK Banyuwangi, BALI Air, nelayan sekitar dan sejumlah organisasi potensi SAR lainnya.

Sejumlah Alut SAR yang digunakan, diantaranya helikopter BASARNAS Dauphin HR 3606, helikopter Ditpolairud POLDA Jatim, helikopater Bali Air, KRI Tongkol 517, KRI Teluk Ende 813, KN SAR 249 Permadi, KN 229 SAR Arjuna, KN Cundamani P.116.

Selain itu, Alut SAR lainnya adalah KNP Grantin, Kapal Pengawas Hiu Macan Tutul dari KKP, RIB 03 dan RBB Pos SAR Banyuwangi, RIB 01 Pos SAR Jembrana, Speed boat Satpolairud Banyuwangi, Speed boat KPLP Gilimanuk, serta sejumlah Alut lainnya. (***)