Rekaman Pembicaraan Telepon Picu Kontroversi, PM Thailand Paetongtarn Shinawatra Diskors oleh MK

EtIndonesia. Mahkamah Konstitusi Thailand pada Selasa (1/7/2025) memutuskan menghentikan sementara Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra dari jabatannya. Hal demikian sehubungan dengan bocornya rekaman pembicaraan yang memicu kontroversi terkait sengketa diplomatik Thailand-Kamboja. Pengadilan juga akan menyelidiki tindakannya dalam konflik tersebut.

Menurut rekaman yang bocor, Paetongtarn berbicara melalui telepon dengan mantan perdana menteri otoriter Kamboja, Hun Sen, dan menyebutnya sebagai “Paman.” Ia juga menyebut seorang komandan militer Thailand sebagai “pihak lawan,” yang memicu kecaman publik.

Politisi dari kubu konservatif Thailand menuduh Paetongtarn bersikap tunduk pada Kamboja, melemahkan militer Thailand, dan melanggar norma konstitusi yang berlaku untuk menteri kabinet. Mereka mengajukan gugatan dengan tuduhan bahwa Paetongtarn bertindak tidak bermoral dalam menangani sengketa perbatasan dengan Kamboja.

Para pengunjuk rasa antipemerintah berkumpul di Monumen Kemenangan di Bangkok, 28 Juni 2025, untuk menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra (CHANAKARN LAOSARAKHAM/AFP via Getty Images)

Dalam pernyataan resminya hari ini, Mahkamah Konstitusi menyatakan:  “Dengan suara mayoritas 7 banding 2, Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk menangguhkan tugas perdana menteri yang dijabat oleh terdakwa mulai 1 Juli, sampai putusan akhir ditetapkan.”

Sengketa wilayah yang telah lama terjadi antara Thailand dan Kamboja memanas pada Mei tahun ini, yang berujung pada konflik lintas batas dan menewaskan seorang tentara Kamboja. Ketegangan meningkat terus-menerus meskipun pejabat pemerintah Thailand mencoba meredakannya. 

Pihak militer Thailand tetap bersikap keras, dan dalam perundingan perbatasan yang digelar pada 14–15 Juni, kedua negara gagal mencapai kesepakatan. Ketegangan pun tetap membeku.

Pada 15 Juni, rekaman percakapan antara Hun Sen dan Paetongtarn bocor ke internet, dan memicu kemarahan publik. Paetongtarn kini menghadapi tekanan politik dalam negeri yang sangat besar.

Partai oposisi terbesar di DPR Thailand, People’s Party, menyerukan pembubaran parlemen dan pemilu ulang. Sementara itu, Bhumjaithai Party (partai terbesar kedua dalam koalisi pemerintahan) menyatakan keluar dari pemerintahan. Delapan menteri kabinet dari partai tersebut telah mengundurkan diri.

Para pengunjuk rasa anti pemerintah berkumpul di Monumen Kemenangan di Bangkok, 28 Juni 2025, untuk menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra. (Lauren DeCicca/Getty Images)

Amarah rakyat semakin meluas. Pada 28 Juni, lebih dari 10.000 orang turun ke jalan dalam unjuk rasa yang dipimpin oleh mantan pemimpin “Kaos Merah,” Jatuporn Promphan, melalui organisasi United Power of the Land to Protect Sovereignty, yang juga didukung oleh kelompok pro-kerajaan “Kaos Kuning.” Mereka menuntut Paetongtarn mengundurkan diri.

Untuk mengisi kekosongan jabatan menteri setelah keluarnya Bhumjaithai Party dari koalisi, Paetongtarn mengajukan daftar kabinet baru kepada Raja Thailand, Raja Vajiralongkorn, pada 28 Juni. Daftar itu berisi 12 nama menteri dan wakil menteri baru. Jika disetujui oleh Raja, kabinet baru dapat segera dilantik.

Paetongtarn juga tidak memilih untuk mundur. Ia bahkan menunjuk dirinya sendiri sebagai Menteri Kebudayaan dalam kabinet baru, langkah strategis agar ia masih bisa menghadiri rapat kabinet apabila posisinya sebagai perdana menteri dihentikan sementara oleh Mahkamah Konstitusi.

Kini, setelah benar-benar diberhentikan sementara, Paetongtarn juga mungkin akan menghadapi mosi tidak percaya di parlemen yang kemungkinan akan diluncurkan oleh Bhumjaithai Party pada saat sidang parlemen kembali dibuka pada 3 Juli. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Kucing Mampu Melihat dengan Baik dalam Cahaya yang Redup

oleh Lee Pickett

Meskipun kucing tak bisa melihat dalam kondisi benar-benar gelap, mereka dapat mendeteksi cahaya yang enam kali lebih redup dibandingkan kemampuan manusia

Tanya: Apa yang bisa Anda ceritakan tentang penglihatan kucing? Saya pernah dengar bahwa kucing bisa melihat dengan baik dalam gelap, tetapi saya tetap merasa kita perlu menyalakan lampu malam agar kucing bisa menemukan mangkuk air dan kotak pasir mereka. Pasangan saya tidak setuju.

Jawab: Saya setuju dengan Anda; kami juga menempatkan lampu malam di lokasi strategis untuk hewan peliharaan kami. Namun, pendapat pasangan Anda juga valid karena memang benar bahwa kucing melihat jauh lebih baik di malam hari dibandingkan manusia.

Meskipun kucing tidak bisa melihat dalam kegelapan total, mereka dapat mendeteksi cahaya yang enam kali lebih redup daripada yang bisa dilihat oleh manusia. Sejumlah fitur luar biasa pada mata kucing memberi mereka kemampuan penglihatan malam yang unggul.

Sebagai permulaan, kornea mereka besar, dan pupil mereka dapat membuka sangat lebar untuk menyerap semua cahaya yang tersedia.

Cahaya ini kemudian mengenai retina, yang mengandung tiga kali lebih banyak batang (rods) dibandingkan retina manusia. Batang adalah fotoreseptor yang memungkinkan kita melihat dalam cahaya redup dan mendeteksi gerakan. Karena retina kucing dipenuhi oleh batang, mereka memiliki lebih sedikit kerucut (cones), yaitu fotoreseptor yang mengenali warna. Tentang aspek penglihatan warna ini akan kita bahas sebentar lagi.

Mata kucing juga memiliki lapisan reflektif bernama tapetum lucidum, yaitu lapisan berkilau yang memantulkan cahaya yang telah melewati retina agar kembali mengenainya. Berkat tapetum lucidum ini, 130 kali lebih banyak cahaya mengenai retina kucing dibandingkan retina manusia.

Kemampuan kucing dalam penglihatan malam dan deteksi gerakan menjadikan mereka pemburu malam yang sukses.

Namun, kucing tak dapat melihat warna dengan baik. Karena jumlah kerucut di mata mereka relatif sedikit, warna-warna tampak kusam, dan bagian ujung merah dari spektrum warna tampak seperti abu-abu. Meskipun demikian, mereka dapat melihat ungu dan biru dengan cukup baik, dan beberapa kucing juga bisa melihat hijau.

Terakhir, ketajaman visual kucing adalah sekitar 20/100, artinya mereka harus berada lima kali lebih dekat daripada manusia dengan penglihatan 20/20 untuk melihat sesuatu dengan jelas. Namun, mereka tidak dapat memfokuskan pandangan pada objek yang berjarak lebih dekat dari 10 inci (sekitar 25 cm), sehingga mereka menggunakan hidung, kumis, dan cakar mereka untuk membantu—bahkan saat ada lampu malam sekalipun.

Tanya: Kami menerima tamu, termasuk anak-anak kecil, selama liburan. Anjing kami menghabiskan banyak waktu bersembunyi, gemetar, dan terengah-engah saat mereka ada di rumah, terutama ketika suasana menjadi ramai dan kacau. Sekarang setelah tamu pergi, anjing kami kembali normal. Bagaimana cara mencegah hal ini terjadi lagi di masa depan?

Jawab: Pendengaran anjing jauh lebih peka dibandingkan manusia, jadi tidak mengherankan jika mereka sering bereaksi terhadap suara keras seperti kembang api dan guntur dengan kecemasan dan ketakutan.

Banyak anjing juga merespons suara lingkungan sehari-hari—telepon, microwave, penggiling kopi, penyedot debu, bunyi pengering pakaian, detektor asap yang berbunyi, dan teriakan anak-anak—dengan cara yang sama. Masalahnya adalah banyak keluarga tidak menyadari hal ini.

Noise aversion (kepekaan terhadap suara), istilah formal yang digunakan untuk menggambarkan reaksi perilaku negatif terhadap suara, berkisar dari sensitivitas suara, kecemasan suara, hingga fobia suara. Penelitian menunjukkan bahwa setengah dari anjing mengalami beberapa tingkat noise aversion.

Tanda-tanda klinis meliputi:

  • gemetar,
  • menempel pada orang yang dikenal,
  • bersembunyi,
  • merunduk,
  • terengah-engah,
  • mondar-mandir dan gelisah,
  • waspada berlebihan,
  • merengek, melolong, menggonggong,
  • dan menjilat bibir.

Sebuah studi terbaru yang mengevaluasi survei keluarga dan video ratusan anjing peliharaan menunjukkan bahwa suara rumah tangga umum dapat menyebabkan kecemasan dan ketakutan pada anjing, namun anggota keluarga gagal mengenali perilaku noise aversion ini sebagai tanda stres. Meskipun video menunjukkan gejala-gejala ini, 67 persen keluarga menyatakan dalam survei bahwa anjing mereka tidak takut.

Faktanya, reaksi anggota keluarga terhadap perilaku noise aversion pada anjing, diurutkan dari yang paling sering, adalah:

  1. tidak bereaksi,
  2. merasa terhibur (menganggap lucu),
  3. sengaja mengusik anjing,
  4. memberikan penjelasan atau analisis perilaku,
  5. dan mengungkapkan kekhawatiran.

Lain kali saat Anda berencana menerima tamu, pertimbangkan untuk membatasi jumlah tamu, dan minta anak-anak bermain di luar serta tenang saat berada di dalam rumah. Dokter hewan Anda dapat meresepkan modifikasi perilaku dan/atau obat-obatan untuk mengatasi noise aversion atau kecemasan, sehingga anjing Anda tetap tenang. (asr)

Sepanjang Hidup, Apa yang Paling Penting ?

EtIndonesia. Mungkin kita semua pernah bertanya-tanya soal “Apa yang sebenarnya paling penting dalam hidup ini?” —sekilas dalam lamunan atau di tengah malam yang sepi. Tapi bagi kebanyakan orang, pertanyaan ini segera terlewat begitu saja. Realitas hidup terlalu padat dengan masalah-masalah mendesak yang harus segera diselesaikan. Dibandingkan dengan itu, pertanyaan seperti “apa yang paling penting dalam hidup” seolah hanyalah renungan filosofis yang tak relevan.

Apa yang sebenarnya paling penting dalam hidup ini?

Jawabannya Berubah Seiring Usia

Sebenarnya, sekalipun kita merenung berhari-hari, sulit rasanya menemukan satu jawaban pasti yang benar untuk semua orang. Karena seiring waktu dan tahap kehidupan yang berbeda, apa yang dianggap penting juga akan terus berubah.

Saat kita berusia tiga tahun, sepotong permen di tangan adalah segalanya. Kita mencengkeramnya erat-erat, takut diambil orang lain—itu yang paling penting.

Ketika mulai masuk sekolah, yang terpenting adalah mendapat pujian dari guru. Lalu di SMP, kita merasa masuk ke SMA favorit adalah segalanya. Begitu masuk SMA, lulus ujian masuk universitas menjadi pusat dunia.

Setelah kuliah dan lulus, kita membawa CV ke sana kemari, berharap menemukan pekerjaan yang layak. Kemudian, pada usia menikah, fokus berpindah ke mencari pasangan hidup yang tepat. Ketika punya anak, yang utama adalah bekerja keras untuk menghidupi keluarga dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak.

Saat menginjak usia 40 atau 50, tubuh mulai menua, barulah kita sadar bahwa kesehatan adalah harta tak ternilai. Lalu di usia 60-an, ketika orang tua mulai renta, kesadaran untuk berbakti muncul dengan dalamnya—dan kita tahu bahwa waktu bersama mereka sangatlah terbatas.

Dan saat kita berada di ambang akhir kehidupan—napas mulai berat, pandangan menoleh ke belakang, kita mungkin masih belum bisa menjawab dengan pasti: apa yang benar-benar paling penting dalam hidup ini?

Hidup Terlalu Singkat dan Penuh Penyesalan

Filsuf Zhuangzi pernah berkata : “Hidup manusia di antara langit dan bumi bagaikan seberkas kilatan kuda putih yang melesat di celah pintu—begitu cepat berlalu.”

Banyak orang menyelesaikan hidupnya tanpa pernah sempat bertanya: Apa makna dari hidupku? Apa yang paling penting yang telah aku lakukan?

Segalanya berlalu dengan begitu cepat, begitu terburu-buru. Kita tak sempat berpikir dengan tenang, tak sempat benar-benar menjalani, dan tahu-tahu hidup telah berlalu begitu saja. Pada akhirnya, kita hanya menyisakan penyesalan:

·        Barang yang kita sukai tak sempat dimiliki.

·        Kebahagiaan yang kita impikan belum sempat dirasakan.

·        Bahkan, orang yang kita cintai pun tak sempat kita ucapkan selamat tinggal.

Yang Paling Penting: Hidup di Saat Ini

Padahal hidup ini, walau tak panjang, juga tidaklah terlalu pendek. Tapi mengapa begitu banyak penyesalan yang tersisa?

Coba pikirkan kembali:

·        Saat kecil, ketika mengerjakan PR, kita memikirkan main.

·        Saat bekerja, kita membayangkan akhir pekan.

·        Ketika gagal, kita menyesali masa lalu.

·        Saat sukses, kita sudah sibuk merancang impian baru.

Kita terlalu sering hidup dalam masa lalu atau masa depan, namun jarang benar-benar hadir di masa sekarang.

Dalam buku Zhuangzi – Dunia Manusia, tertulis: “Masa depan belum datang, masa lalu sudah tak bisa dikejar.”

Jika kita terlalu banyak waktu mengingat yang telah lalu, atau mencemaskan yang belum terjadi, maka kita kehilangan momen paling berharga—yakni saat ini.

Saat inilah waktu kita hidup. Tapi karena terlalu sibuk mengkhawatirkan kemarin dan besok, hal-hal yang seharusnya kita lakukan tak sempat kita lakukan, kebahagiaan yang seharusnya kita nikmati tak sempat kita rasakan.

Makna Hidup Ada di Perjalanan, Bukan Hanya di Tujuan

Seperti dalam kisah klasik Perjalanan ke Barat, tujuan utama para tokoh adalah mencari kitab suci. Tapi sejatinya, makna sejati dari perjalanan itu bukan pada “kitab suci”-nya, melainkan pada 81 cobaan yang mereka hadapi sepanjang jalan.

Demikian pula hidup:

Yang penting bukan hanya apa yang kita capai, tapi bagaimana kita menjalaninya.

Menghidupi setiap hari sepenuh hati, merasakan pahit dan manisnya hidup, menuntaskan tanggung jawab saat ini, menghargai cinta dan kasih yang kita miliki sekarang—itulah makna sejati kehidupan.

Penutup: Jangan Lewatkan Hidup Ini

Hidup ini hanya sekali. Jika kita terus menunggu waktu yang tepat, menunda kebahagiaan, atau hanya mengejar tujuan yang belum tentu kita nikmati, maka ketika menyadarinya, semuanya sudah terlalu terlambat.

Yang paling penting dalam hidup ini adalah: Hiduplah saat ini. Rasakan hari ini. Syukuri detik ini.

Karena hanya dengan benar-benar hidup di saat ini, kita bisa menemukan makna sesungguhnya dari keberadaan kita di dunia ini.(jhn/yn)

Sang Pemikir: Sisi Lain dari Sains

Etindonesia. Kita hidup di era teknologi, di mana kehidupan manusia tak bisa lagi dipisahkan dari sains dan teknologi. Berbagai perangkat elektronik telah memberikan kemudahan luar biasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kenyamanan itu, sebenarnya tersembunyi pula berbagai potensi bahaya. Karena pada hakikatnya, sains adalah pedang bermata dua. Seperti yang dikatakan oleh Gustave Le Bon: “Ilmu pengetahuan menjanjikan kebenaran dengan memberikan kita pengetahuan, namun dia tidak pernah menjanjikan kedamaian atau kebahagiaan.”

Dalam konteks tersebut, berbagai tragedi pun terjadi: anak-anak yang mengalami kecelakaan karena orangtua asyik bermain ponsel, kecelakaan lalu lintas akibat sopir bermain gawai, hubungan asmara yang hancur karena pasangan kecanduan gim online, atau kerugian besar akibat penipuan teknologi tinggi. Namun semua ini hanyalah permukaan—gejala kasat mata dari sisi gelap sains. Di balik kemajuan ilmiah, tersembunyi ancaman yang lebih mengerikan.

1. Ancaman Pertama: Analisis Big Data yang Menakutkan

Pernahkah kamu mengalami hal ini: setelah mencari suatu produk lewat aplikasi belanja di ponsel, tiba-tiba saat membuka komputer (bahkan komputer milik orang lain), muncul iklan-iklan yang sesuai dengan barang yang tadi kamu cari? Itulah hasil dari analisis big data. Ini bukan semata bukti kecanggihan AI, tetapi justru mengindikasikan bahwa privasi kita nyaris tidak ada. Smartphone, kamera pengawas, hingga perangkat elektronik di rumah—semuanya bisa merekam dan mengunggah data pribadi kita ke suatu sistem besar, kemudian secara otomatis dianalisis dan dikompilasi.

Orang yang memiliki akses pada sistem itu bisa mengetahui segalanya tentang kita—selera, kebiasaan, bahkan pola pikir. Meski kita berada di dalam rumah sendiri, rumah itu sebetulnya transparan, selalu ada mata yang mengamati. Dan mata itu bukanlah “mata Tuhan”—dia tak punya belas kasih maupun moral. Jika kekuatan ini jatuh ke tangan orang jahat atau kelompok dengan niat buruk, maka ia akan menjadi alat untuk mengendalikan dan menyerang siapa saja yang mereka kehendaki. 

Jika kekuasaan menggunakan big data untuk menindas rakyat, maka kebebasan sejati manusia sudah tidak ada lagi.

2. Ancaman Kedua: Perang Skala Global

Perang Dunia II telah menjadi sejarah kelam yang tak ingin diulang oleh siapa pun. Kedamaian adalah kebahagiaan terbesar umat manusia. Apalagi di era teknologi tinggi saat ini, perang tidak boleh terjadi lagi.

Karena banyak negara kini memiliki senjata pemusnah massal seperti senjata nuklir, sekali digunakan, dampaknya bukan hanya bagi pihak yang berperang—tapi bisa menghancurkan setengah planet ini.

Berapa banyak jiwa tak berdosa yang akan ikut terkubur?

Tanpa peningkatan moral dan etika, perkembangan teknologi menjadi sangat berbahaya. Jika teknologi canggih jatuh ke tangan orang gila atau tak bermoral, maka teknologi akan berubah menjadi senjata mematikan. Jika sebuah negara memulai perang, yang terdampak bukan hanya dua negara itu saja, tapi seluruh umat manusia.

Sains bisa memperkuat kekuatan militer sebuah negara, tapi juga bisa memicu malapetaka global.

3. Ancaman Ketiga: Melemahkan Kemanusiaan

Teknologi membawa internet, dan internet membawa kemudahan. Tapi kemudahan yang berlebihan justru melemahkan manusia itu sendiri.

Pertama adalah pelemahan fisik. Kehadiran alat-alat canggih membuat manusia semakin malas bergerak. Kurangnya aktivitas fisik mengakibatkan tubuh manusia mengalami perubahan: perut membesar, mata rusak, gerak menjadi tak seimbang, gangguan tulang belakang dan persendian meningkat. Seluruh dunia kini menghadapi satu penyakit yang sama: penurunan kondisi fisik dan kemampuan praktis manusia.

Yang lebih berbahaya adalah melemahnya daya pikir. Dulu, manusia suka berpikir, menyusun logika, dan mewariskan pemikiran dari generasi ke generasi. Sekarang, orang lebih suka mengandalkan jawaban dari internet, dan malas berpikir kritis.

Bahkan dalam dunia kerja, semuanya diserahkan pada sistem komputer. Jika sistem berkata benar, maka benar; jika tidak ada dalam sistem, maka dianggap salah. Mesin bahkan mulai menggantikan peran penguji dalam ujian—jika sistem keliru, manusia tak punya ruang untuk membela diri.

Teknologi perlahan tapi pasti sedang melemahkan, menggerus, dan memanipulasi manusia.

4. Ancaman Keempat: Teknologi Biologi

Teknologi biologi memang membawa manfaat besar: padi hibrida menyelamatkan rakyat dari kelaparan, kemajuan medis menyelamatkan pasien kanker.

Namun, di balik itu semua, banyak juga penyalahgunaan yang membahayakan manusia. Ada pihak tak bermoral yang mengembangkan produk-produk rekayasa genetika (GMO) dan beras plastik demi keuntungan pribadi. Produk-produk ini masuk ke pasaran, dan karena masyarakat tidak punya kemampuan membedakannya, mereka terpaksa mengonsumsinya. Efeknya: sakit-sakitan, bahkan kematian.

Filsafat Taoisme di Tiongkok mengajarkan konsep “kesatuan antara manusia dan alam semesta”. Tapi jika tubuh manusia terus-menerus terpapar zat-zat hasil rekayasa, bukankah manusia itu sendiri akan berubah atau bermutasi?

5. Ancaman Kelima: Teknologi Rekayasa Tubuh Manusia

Setiap orang ingin hidup abadi dan sehat. Tapi jika keinginan itu membuat manusia melawan hukum alam seperti kelahiran, penuaan, sakit, dan kematian, maka itu sama saja seperti bermain api.

Teknologi seperti transplantasi organ, rekayasa genetik, kloning, pembekuan tubuh, dan anti-aging ekstrem, terdengar sangat menggoda—karena semuanya seakan bisa “melawan kematian”. Tapi justru di situlah letak bahayanya. Teknologi ini melanggar moralitas dan tatanan alam.

Ambil contoh transplantasi organ: karena ada permintaan, maka pasti muncul tawaran. Maka terjadilah perdagangan organ secara ilegal, yang menjadikan manusia sebagai korban.

Film Kill Zone (Sha Po Lang) sempat menggambarkan fenomena ini: polisi korup, dokter jahat, dan sindikat perdagangan manusia menculik orang-orang lemah, mencabut organnya, lalu menjualnya ke orang kaya.

Yang lebih mengerikan, kenyataan seperti itu benar-benar terjadi di dunia nyata. Di Tiongkok, banyak praktisi Falun Gong yang secara hidup-hidup diambil organnya oleh aparat rezim demi uang.

Maka dari itu, jangan terlalu cepat bertepuk tangan atas teknologi seperti ini. Ia tidak menjanjikan keabadian untuk semua orang—hanya memberikan alat bagi para penguasa dan orang kaya untuk menindas yang lemah dan menginjak-injak nilai kehidupan. Sebagian besar dari kita adalah orang biasa. Jika kita membiarkan teknologi seperti itu berkembang tanpa kendali, maka kita bisa menjadi korban berikutnya.

Teknologi semacam ini juga menanamkan pemikiran: “asal punya uang, kamu bisa hidup abadi seperti dewa”. Jika itu menjadi keyakinan umum, apakah tidak berarti orang akan rela melakukan apa saja demi uang? Karena tidak lagi takut mati, tidak takut karma, manusia pun akan semakin tega berbuat jahat. Dunia akan berubah menjadi neraka—dan semuanya dimulai dari manusia yang saling memangsa.

Penutup: Renungan atas Sains dan Moralitas

Setiap hal di dunia ini memiliki dua sisi—begitu pula dengan sains. Namun karena manusia telah lama berada dalam kemiskinan dan kebodohan, begitu melihat manfaat dari sains, mereka lupa akan bahayanya.

Demikian pula dengan sains: Jika manusia hanya mengejar teknologi, tapi lupa memperbaiki moral dan etika, maka sains akan menjadi alat bagi kekuatan jahat untuk menghancurkan umat manusia. (jhn/yn)

Mendidik Anak Tanpa Kekerasan: Jangan Biarkan Amarah Merusak Hubungan Orang Tua dan Anak

EtIndonesia. Setiap kali kita membiarkan diri melakukan tindakan kekerasan, yang terluka bukan hanya anak—tetapi juga anak yang hidup dalam diri kita.

Saat orang tua melampiaskan amarahnya dalam bentuk kekerasan, yang rusak bukan hanya anak, tetapi juga hubungan antara orang tua dan anak, bahkan melukai batin sang pelaku itu sendiri.

Padahal sebagai orang tua, kita bisa membentuk citra diri yang lebih baik. Jangan biarkan kekerasan merusak ikatan dengan anak.

Ketika kita mampu menyampaikan pesan cinta kepada mereka, kita pun akan merasakan cinta itu tumbuh dalam diri kita.

Apakah Kamu Telah Melakukan Kesalahan yang Tak Bisa Diperbaiki?

Perlu diketahui: tindakan kekerasan bukan sesuatu yang tak bisa diperbaiki. Jika kita berpikir bahwa kesalahan itu tidak bisa ditebus, maka kita akan kesulitan memperbaiki hubungan dengan anak.

Langkah pertama untuk memperbaikinya adalah menyadari perbuatan kita. Ya, mengakui bahwa kita telah melakukan kekerasan memang tidak mudah. Kita cenderung menyepelekan keseriusannya, atau malah menyalahkan anak.

Langkah berikutnya adalah menggali apa yang sebenarnya memicu kemarahan kita, bukan hanya ledakan emosinya. Kita perlu memahami akar permasalahan agar anak—yang menjadi “korban”—tidak terus menerus memikul beban rasa bersalah.

Apa yang Dibutuhkan Anak: Bukan Permintaan Maaf, Tapi Empati

Kita perlu memahami perasaan anak yang menjadi korban kekerasan. Lebih dari sekadar permintaan maaf, anak butuh empati dan penjelasan.

Anak berhak marah pada kita. Ia butuh waktu untuk:

·        mengenali perasaannya sendiri,

·        berani mengatakan bahwa ia takut, terluka, atau marah.

Berikan waktu itu padanya. Hanya setelah itu, barulah kita bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita.

Penjelasan ini akan membantu anak tidak lagi merasa bahwa dirinya bertanggung jawab atas ledakan emosi orang tua.

Biasanya, ketika kita sungguh-sungguh memahami luka anak, tidak menyepelekan perasaan mereka, tidak mencari pembenaran—komunikasi tulus seperti ini sudah cukup untuk mulai memperbaiki hubungan.

Tes Diri: Mana yang Paling Mewakili Sikapmu?

a. Saya mendengarkan anak dengan sungguh-sungguh dan berusaha memperbaiki hubungan kami.
b. Saya minta maaf, lalu tidak membahasnya lagi.
c. Saya mengakui bahwa saya kelewat batas, tapi menolak meminta maaf pada anak.
d. Saya tidak tahu bagaimana cara meminta maaf.
e. Saya tidak akan minta maaf—justru dia yang harusnya minta maaf pada saya!

Penjelasan atas Jawabanmu:

·        a: Kamu mampu memahami dirimu dan anakmu. Anakmu akan tahu bahwa ia bisa mempercayaimu.

·        b: Mungkin kamu menghindari sesuatu.

·        c: Kamu masih terjebak dalam permainan kuasa.
Kemungkinan kamu belum menyadari bahwa amarahmu adalah pantulan dari pengalaman masa kecilmu.

      Kamu mungkin ingin tetap mengontrol anak, sebagaimana orang tuamu dulu mengontrolmu—ketika kamu merasa sangat tak berdaya. Ini adalah bentuk balas dendam yang tidak disadari. Namun anakmu tidak akan tertipu selamanya.
Saat ia masih kecil, mungkin ia akan takut padamu dan kamu menganggap itu sebagai keberhasilan. Tapi sebenarnya, ia hanya tunduk, bukan percaya. Dan saat ia tumbuh besar, ia akan sadar bahwa kamu tidak bisa diandalkan.

·        d: Permintaan maaf sebaiknya sederhana.
Fokuskan pada anak dan apa yang dia alami saat kamu marah. Jelaskan pula apa yang terjadi padamu:

“Maaf, aku tahu saat aku membentakmu tadi, itu pasti menyakitkan. Mungkin kamu takut.
Aku terlalu berlebihan. Sebenarnya, aku sudah merasa kesal sejak sebelum pulang.
Hari ini di tempat kerja aku stres (jika ini memang benar—jangan mengarang!).
Ketika aku melihat kamu meletakkan jaket di kursi, aku langsung meledak.
Memang seharusnya kamu bisa menggantungnya, tapi reaksi aku terlalu berlebihan.”

Terlalu panjang? Mungkin. Tapi percayalah, ini akan menghemat banyak waktu dan luka di kemudian hari.

·        e: Jika kamu masih merasa sangat marah dan memproyeksikannya ke anak, itu adalah tanda peringatan.
Mungkin masih ada bagian dirimu yang gelap, terluka, atau terabaikan.
Apa yang dirasakan anak dalam situasi seperti itu?
Kesedihan, kemarahan, ketakutan, keputusasaan, jijik…
Semua itu mungkin juga pernah kamu rasakan saat kecil, hanya saja kamu tak diberi ruang untuk mengekspresikannya. Tapi emosi itu masih hidup dalam dirimu.

Setiap Kali Kita Bersikap Kasar, Kita Juga Menyakiti Diri Sendiri

Ketika kita menyakiti anak, sebenarnya kita juga menyakiti anak kecil dalam diri kita sendiri.
Namun, saat kita menyampaikan pesan cinta, kita akan merasakan cinta itu tumbuh kembali dalam hati kita.

Semua orang bisa saja sesekali dikuasai oleh dorongan kebencian. Tapi tetap saja, kita selalu bisa memilih antara menyakiti atau mencintai. Penting untuk selalu ingat bahwa pilihan itu ada.

Jika Amarah Sudah Terlalu Kuat—Carilah Bantuan Profesional

Ketika dorongan untuk menyakiti anak terlalu besar, saat kita merasa kehilangan kendali, jangan tunda—segeralah konsultasi ke profesional. Mendalami akar dari perilaku kita adalah tugas seorang psikoterapis. Mereka tahu bagaimana membantu kita.

Jangan mengatakan:

“Ini hanya fase… Nanti juga akan lewat… Tidak terlalu serius…”

Karena ini serius!

Baik untuk anak, untuk dirimu sendiri, untuk pasanganmu, untuk masa kini, dan masa depan kalian.

Pilih untuk Menyembuhkan

Kita memang tidak wajib menjalani terapi. Tapi jika ada cara agar kita bisa lebih bahagia sebagai orang tua, jika ada cara untuk membentuk citra diri yang lebih sehat dan penuh cinta,  mengapa tidak mencobanya?

Masa lalu kita tidaklah seburuk itu hingga tak bisa disembuhkan. Jangan biarkan masa lalu itu merusak hubungan kita dengan anak-anak.(jhn/yn)

Memiliki Kekuatan Sekaligus Kelembutan, Itulah Kunci Menjadi Pemimpin yang Lebih Hebat!

EtIndonesia. Dalam konsep Enneagram (sembilan tipe kepribadian), Tipe 8 dikenal sebagai “Tipe Pemimpin”. Tipe ini juga sering disebut sebagai: Pemimpin, Pelindung, Dominan, Komandan, Bos, Penguasa, Raja, Pengusaha Besar, Penantang, Abang Besar, Pecinta Kekuasaan.

Mereka yang termasuk dalam Tipe 8 umumnya memiliki karakteristik perilaku sebagai berikut:

·        Mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri sendiri, tidak menggantungkan diri pada orang lain

·        Melindungi orang-orang yang dianggap “miliknya”, dan enggan bergaul dengan yang lemah

·        Merasa bahwa menegakkan keadilan adalah tanggung jawab pribadi

·        Ingin mengendalikan segala hal, menyukai tantangan dan proyek-proyek besar

·        Tidak takut konflik atau pertentangan, bahkan cenderung menyambutnya

·        Falsafah berjuang: menilai kekuatan lawan, menentukan strategi, menyerang saat kuat, menunggu saat lemah

·        Bersikap blak-blakan dalam bertindak dan berbicara

·        Pantang menyerah, dan memiliki daya balas dendam yang kuat

Tipe 8 memiliki aura kepemimpinan yang kuat, penuh semangat keadilan, dan senang melindungi yang lemah. Namun satu kelemahan utama mereka adalah terlalu menyukai kontrol atas orang lain.

Lalu, bagaimana agar seorang Tipe 8 bisa berkembang menjadi seorang pemimpin yang hangat dan penuh toleransi?

1. Latihlah Diri untuk Menahan Diri

Belajarlah untuk menahan diri. Ketika kamu mampu tidak memaksakan kehendakmu kepada orang lain, saat itulah kamu menunjukkan kekuatan sejati.

Menunjukkan kebesaran hati sering kali lebih dihargai dan disukai dibandingkan dengan memamerkan kekuasaan. Gunakan kekuatanmu untuk menanggung tanggung jawab, menolong orang-orang di sekitarmu melewati masa sulit, dan dengan itu kamu akan mendapat cinta serta penghormatan tulus dari mereka.

2. Belajarlah untuk Rendah Hati dan Memberi Ruang

Ketika kamu mampu menahan keinginan untuk menguasai hati semua orang, kamu sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik. Dalam hal-hal yang tidak terlalu penting, cobalah memberi kepercayaan penuh kepada orang lain, beri mereka ruang untuk bertindak. Jangan khawatir bahwa itu akan mengancam otoritasmu—justru sebaliknya, itu menunjukkan kebesaran dan kelapangan hatimu.

3. Izinkan Cinta Masuk ke Dalam Hidupmu

Sadari bahwa tidak semua orang di dunia ini memusuhimu. Banyak orang mencintaimu, memedulikanmu. Ketika kamu tahu siapa yang benar-benar berada di pihakmu, menunjukkan sisi lembut dan penuh kasih tidak akan melemahkanmu. Justru, itu akan memperkuat harga dirimu, membangun keyakinan dan keunggulanmu dalam hidup.

4. Ingat: Kita Semua Makhluk Sosial

Sebagai manusia, kita tidak bisa menghindari hubungan dengan orang lain. Mungkin kamu merasa semua pencapaianmu adalah hasil jerih payah sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Namun faktanya, komitmen dan kerja keras banyak orang di sekitarmu—baik mitra kerja, sahabat, maupun keluarga—adalah bagian penting dari keberhasilanmu. Jangan lupakan mereka.

5. Jangan Terlalu Mengagungkan Kekuasaan

Kekuasaan yang diperoleh dari harta, status, atau bahkan kekuatan fisik memang bisa membuat seseorang merasa luar biasa, ditakuti, dan disanjung. Tapi perlu diingat:

Orang yang mendekat hanya karena kekuasaanmu tidak sungguh-sungguh mencintaimu. Kamu juga tidak benar-benar peduli pada mereka. Pada akhirnya, hubungan semacam itu hanya transaksi palsu—yang akan membuatmu selalu khawatir soal kesetiaan dan posisi.

6. Perjuangkan Tujuan yang Lebih Tinggi dari Diri Sendiri

Hidup bukan hanya soal kepentingan pribadi. Bagi kebanyakan orang, keluarga dan orang-orang terdekat adalah sumber motivasi utama dalam hidup.

Belajarlah memperjuangkan tujuan yang lebih besar daripada keuntungan pribadi—seperti kasih sayang terhadap pasangan dan anak-anak. Di sanalah kamu bisa merasakan kepuasan sejati, pertumbuhan spiritual, serta pengalaman hidup yang sangat berharga.

7. Temukan dan Bangun Keyakinan Diri Lewat Iman

Iman akan membawamu pada kesadaran bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih agung dari dirimu sendiri, sesuatu yang layak membuatmu berserah.

Bagi banyak Tipe 8, menundukkan diri atau berserah kepada siapa pun terasa tidak terbayangkan. Namun tanyakanlah pada dirimu:

Apakah kamu tidak percaya kepada Tuhan karena benar-benar rasional dan logis, atau hanya karena kamu enggan melepaskan egomu dan kenikmatan dunia?

8. Jangan Menutup Diri dari Kemungkinan Perubahan

Jangan menolak kemungkinan untuk berubah. Jika kamu berada dalam kondisi kejiwaan yang tidak sehat, dan menyakiti orang lain karena luka batinmu sendiri, maka inilah saatnya untuk mulai mengubah hidupmu.

Hidup tak hanya menawarkan satu jalan. Percayalah pada kebaikan hatimu yang terdalam, dan jangan tolak kesempatan untuk benar-benar berubah.

9. Gunakan Kekuatanmu untuk Menciptakan Kesempatan bagi Orang Lain

Kemampuanmu untuk membuka jalan dan memberi peluang kepada orang lain adalah potensi terbesar dalam dirimu. Ketika Tipe 8 menggunakan kekuatannya untuk memberi harapan dan keberuntungan kepada orang lain, mereka akan dikenang sebagai sosok yang murah hati dan dihormati.

Jadi, saat kamu memiliki kuasa dan sumber daya, gunakanlah dengan bijaksana dan murah hati. Kamu akan mendapatkan banyak sekutu, dan bisa mempercayai orang-orang yang bekerja bersamamu. Meskipun hasil jerih payahmu bisa saja diklaim orang lain, atau dilupakan, jangan khawatir—orang akan selalu mengingat siapa yang peduli dan memberi. Ketika kamu memperhatikan kebutuhan orang lain, kebutuhanmu pun akan diperhatikan.

10. Pertanyaan Terakhir:

Luka yang kamu timbulkan pada orang lain, atau pertolongan yang kamu berikan kepada mereka—manakah yang kamu ingin orang lain ingat darimu?

Aku yakin kamu sudah punya jawabannya di dalam hati. Maka, ikutilah suara hatimu—dan lakukan yang terbaik. (jhn/yn)

Trump Cabut Sanksi AS Terhadap Suriah: Apa Isi Perintah Eksekutif Tersebut dan Apa Artinya bagi Ahmed al-Sharaa?

EtIndonesia. Dalam perkembangan besar, Presiden AS, Donald Trump pada hari Senin (30/6) menandatangani perintah eksekutif yang mengakhiri program sanksi terhadap Suriah, dan Gedung Putih mengatakan bahwa hal itu dilakukan untuk mendukung negara tersebut untuk membangun kembali setelah perang saudara yang menghancurkan. Hal ini akan memungkinkan diakhirinya isolasi negara tersebut dari sistem keuangan internasional. 

Langkah tersebut juga akan memungkinkan AS untuk mempertahankan sanksi terhadap mantan presiden Suriah yang digulingkan Bashar al-Assad, rekan-rekannya, pelanggar hak asasi manusia, pengedar narkoba, orang-orang yang terkait dengan aktivitas senjata kimia, afiliasi ISIS dan Negara Islam serta proksi untuk Iran, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada wartawan dalam sebuah pengarahan. 

Presiden Trump telah bertemu dengan pemimpin baru Suriah Ahmed al-Sharaa, di Riyadh pada bulan Mei, dalam apa yang disebut sebagai perubahan kebijakan yang signifikan.

Bashar al-Assad digulingkan pada bulan Desember dalam serangan kilat oleh pemberontak yang dipimpin oleh Islamis dan Suriah sejak itu telah mengambil langkah-langkah untuk membangun kembali hubungan internasional. 

Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shibani mengatakan penghentian program sanksi Suriah oleh Trump akan “membuka pintu rekonstruksi dan pembangunan yang telah lama ditunggu-tunggu,” menurut sebuah posting oleh menteri luar negeri di platform media sosial X. Dia mengatakan langkah itu akan “menghilangkan hambatan” terhadap pemulihan ekonomi dan membuka negara itu bagi masyarakat internasional. 

Pertemuan tak terduga Trump dengan Sharaa di Riyadh di hadapan Mohammad Bin Salman telah mengisyaratkan perubahan besar geopolitik terkait masa depan Suriah dan hubungannya dengan Barat.

Apa isi perintah eksekutif tersebut?

Gedung Putih dalam sebuah lembar fakta mengatakan perintah itu mengarahkan Menteri Luar Negeri untuk meninjau penunjukan teroris Hayat Tahrir al-Sham, sebuah kelompok pemberontak yang dipimpin Sharaa yang berakar pada al Qaeda, serta penunjukan Suriah sebagai negara sponsor terorisme. 

Dia juga menambahkan bahwa pemerintahan Trump akan terus memantau kemajuan Suriah pada prioritas utama, termasuk “mengambil langkah konkret menuju normalisasi hubungan dengan Israel, menangani teroris asing, mendeportasi teroris Palestina, dan melarang kelompok teroris Palestina.”

Dari teroris al-Qaeda menjadi ‘pria tangguh dan menarik’ Trump 

Pada bulan Mei, ketika Trump bertemu Sharaa, dia berjabat tangan dengannya dan berkata, “pria muda yang menarik. Pria tangguh. Masa lalu yang kuat. Masa lalu yang sangat kuat. Pejuang. Dia memiliki peluang nyata untuk bangkit.” 

Presiden AS juga mengumumkan pencabutan sanksi era Assad terhadap Suriah dan mendesak al-Sharaa untuk mengakui Israel, dengan maksud untuk memperluas Perjanjian Abraham miliknya. 

Amerika merangkul Ahmed al-Sharaa alias Abu Mohammad Al-Jolani – yang pernah ditetapkan AS sebagai teroris yang front Al-Nusra-nya merupakan cabang dari Al-Qaeda Osama Bin Laden – menjadi momen yang membuka jalan dalam sejarah kontemporer Asia Barat.

Ahmed al-Sharaa mendirikan Front al-Nusra, cabang al-Qaeda, yang memainkan peran utama dalam konflik Suriah. Namun pada tahun 2016, al-Sharaa secara terbuka memisahkan diri dari al-Qaeda, mengubah nama organisasinya menjadi Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), yang menandakan pergeseran ke arah agenda Suriah yang lebih lokal.

Naiknya Ahmed al-Sharaa ke tampuk kekuasaan di Suriah merupakan hasil dari kampanye militer yang cepat dan transisi politik yang dikelola dengan cermat. Pada akhir tahun 2024, pasukan yang setia kepada al-Sharaa, di bawah panji HTS, melancarkan serangan besar terhadap Tentara Arab Suriah. 

Kampanye ini berpuncak pada perebutan Damaskus pada tanggal 8 Desember, yang memaksa Presiden Bashar al-Assad saat itu untuk meninggalkan negara itu, mencari perlindungan di Rusia. 

Kemudian, al-Sharaa dipilih sebagai presiden sementara Suriah. Dia mulai menggunakan nama lahirnya – al-Sharaa – untuk menampilkan dirinya sebagai tokoh politik yang sah dan menjauhkan diri dari masa lalunya dengan organisasi teroris al-Qaeda.(yn)

Memberi Anak Ruang untuk Memutuskan Sendiri: Cara Membangun Rasa Aman dan Percaya Diri

EtIndonesia. Kekuatan, izin, dan perlindungan adalah tiga aset tak kasat mata yang dapat diberikan orangtua kepada anak. Namun dalam keseharian, membiarkan anak mengambil keputusan sendiri bukan berarti melepaskan tanggung jawab—justru itu adalah bagian penting dalam membantu mereka tumbuh dan membangun rasa aman serta kepercayaan diri dari dalam diri mereka sendiri.

Belajar Mengatakan “Tidak” dan Juga “Ya”

Pada awalnya, orangtua memegang penuh tanggung jawab untuk melindungi anak. Namun seiring waktu, mereka akan mulai memberi ruang bagi anak untuk mandiri dan menjauh secara perlahan. Di titik inilah, orangtua mulai membuka dunia anak.

Namun, menyeimbangkan perlindungan dan kebebasan bukanlah hal yang mudah. Dalam hal ini, saya menggunakan prinsip seperti “tombol pengatur” dalam diri saya—bergerak di antara dua kutub:

Keamanan ↔ Kebebasan

Semakin kecil usia anak, maka tombol itu harus lebih condong ke sisi “keamanan”. Semakin dewasa, maka tombol itu perlahan bergerak ke arah “kebebasan”. Dan ketika dia akhirnya meninggalkan rumah, tombol itu seharusnya berada sepenuhnya di sisi kebebasan. Apakah ini juga berlaku dalam situasimu?

Apakah Saya Telah Memberi Anak Cukup Kemandirian?

Tanyakan pada diri sendiri:

·        Apakah saya sering melakukan hal-hal yang seharusnya sudah bisa dilakukan anak sendiri?

·        Apakah saya mendampingi anak saat dia membutuhkannya, bukan mengambil alih?

·        Apakah saya mengajarkan keterampilan hidup seperti: memotong makanan, menyendok, berpakaian, mandi, merapikan tempat tidur, mengupas telur, mengerjakan PR, dll?

Waspadai Perlindungan yang Terlalu Agresif

Atas nama perlindungan, orangtua bisa bersikap terlalu invasif. Terutama saat anak memasuki masa remaja, beberapa orangtua sulit menerima kemandirian anak dan akhirnya:

·        Masuk ke kamar anak tanpa mengetuk,

·        Membaca buku harian anak,

·        Mengintip isi blog atau media sosial anak,

·        “Membersihkan” kamar anak sembari memeriksa pakaian dalam atau seprei mereka…

Pertanyaannya:

Jika saya benar-benar membiarkan anak tumbuh dewasa, apakah saya siap menghadapi perasaan “tak lagi berguna”?

Dari “Tidak Boleh” Menuju “Boleh”

Mengatakan “tidak” dan membatasi ruang anak demi perlindungan sangatlah penting, tapi seiring waktu, kata “tidak” harus bertransformasi menjadi “boleh”.

Contoh:

·        Saat anak berusia 13 tahun: “Tidak, kamu belum boleh keluar malam sendirian.”

·        Saat usia 15: “Boleh, tapi ada syaratnya.”

·        Saat usia 18 dan sudah dewasa: “Boleh”—tanpa syarat.

Contoh lainnya:

·        Anak usia 1 tahun: “Tidak, kamu tidak boleh menyentuh gelas kristal ini.”
(Atau bahkan lebih baik: “Ini gelasmu, pakai ini saja.”)

·        Anak usia 2 tahun: “Kalau ibu di dekatmu, kamu boleh memegangnya.”

·        Anak usia 3 tahun dan mulai cekatan: “Lihat, pegangnya harus begini. Sekarang kamu boleh mencobanya.”

Jika Anak Bertanya: “Boleh Tidak…?”

Misalnya:

“Boleh tidak aku main perosotan?”
“Boleh tidak aku main ke rumah teman?”
“Boleh tidak aku beli roti sendiri?”
“Boleh tidak aku buat kue?”
“Boleh tidak aku pergi ke sekolah sendiri?”

Kadang sulit untuk mengatakan “ya”, bukan?

Mungkin karena kita sendiri tidak pernah mendapatkan izin untuk hal-hal serupa saat kecil. Memberi izin pada anak untuk melakukan sesuatu yang dulu tidak pernah kita dapatkan bisa terasa sulit dan menakutkan. Kita tidak punya pengalaman itu, maka ketidaktahuan bisa menimbulkan kekhawatiran.

Bagaimana Jika Saya Memberi Izin kepada Diri Sendiri?

Coba mulai dari hal kecil:

·        Saya izinkan diri saya untuk mengganggu tetangga—meminjam garam, tepung, atau bawang putih.

·        Saya izinkan diri saya untuk mencoba hal baru, meski saya tahu saya tidak akan menyelesaikannya.

·        Saya izinkan diri saya untuk…

Ketika Saya Tak Bisa Mengatakan “Ya” atau “Tidak”

Kadang, kita tidak bisa mengatakan “ya” ataupun “tidak” yang tegas. Kita menyerahkan keputusan kepada anak bukan karena menghormati kebutuhannya, melainkan karena kita tidak mampu mengambil sikap.

Namun untuk berkata “ya” dengan sungguh-sungguh, atau “tidak” dengan penuh keyakinan, dibutuhkan kekuatan dari dalam.

Apa yang Terjadi Saat Orangtua Kehilangan Kekuatan Pribadi?

Ketika orangtua merasa tak berdaya, mereka:

·        Bisa menjadi otoriter atau manipulatif, demi memaksakan keinginannya.

·        Atau justru melepaskan semua kendali, membiarkan anak bertindak semaunya.

Tiga Hal yang Saling Terhubung: Kekuatan – Izin – Perlindungan

Tiga hal ini adalah pilar pengasuhan yang tak terpisahkan.

·        Kekuatan sejati bukanlah kontrol, melainkan rasa aman dari dalam—sebuah bentuk percaya diri.

·        Kekuatan yang berasal dari kasih dan cinta pada kehidupanlah yang membuat kita berdiri teguh.

Tanpa kekuatan:

·        Izin bisa berubah menjadi kelonggaran yang merusak.

·        Perlindungan bisa menjadi tidak konsisten dan membingungkan.

Saya Menjadi Kuat Saat…

·        Saya bisa terhubung dengan emosi saya sendiri.

·        Saya merasa aman secara batin.

·        Apapun yang dikatakan atau dilakukan anak, tidak bisa menghancurkan saya.

·        Saya tidak takut dinilai orang, karena saya tahu bahwa penilaian mereka hanya cerminan luka batin mereka sendiri.

·        Saya mencintai diri saya sendiri.

Kesimpulan:

Memberi anak kesempatan untuk mengambil keputusan bukan berarti melepaskan tanggung jawab, tapi justru bagian penting dalam membangun pribadi yang percaya diri, mandiri, dan kuat dari dalam.

Kekuatan sejati orangtua terletak bukan pada kendali, melainkan pada kemampuan untuk menyelaraskan perlindungan, izin, dan kekuatan batin.(jhn/yn)

Dalai Lama Siap Ungkap Rencana Suksesi: Bagaimana Penerusnya Akan Dipilih?

EtIndonesia. Pemilihan penerus Dalai Lama, pemimpin spiritual umat Buddha Tibet, merupakan masalah yang menarik perhatian tidak hanya bagi para pengikut agamanya, tetapi juga Tiongkok, India, dan Amerika Serikat, karena alasan strategis.

Peraih Nobel perdamaian, yang berusia 90 tahun pada hari Minggu (29/6), dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia, dengan pengikut yang jauh melampaui agama Buddha.

Bagaimana Dia Dipilih?

Tradisi Tibet menyatakan bahwa jiwa seorang biksu Buddha senior bereinkarnasi setelah kematiannya.

Dalai Lama ke-14, lahir dengan nama Lhamo Dhondup pada tanggal 6 Juli 1935, dari keluarga petani di Tibet timur laut, diidentifikasi sebagai reinkarnasi tersebut ketika dia baru berusia dua tahun.

Sebuah tim pencari yang dikirim oleh Pemerintah Tibet membuat keputusan berdasarkan beberapa tanda, seperti sebuah penglihatan yang diungkapkan kepada seorang biksu senior, situs web Dalai Lama mengatakan. Para pencari yakin ketika balita itu mengidentifikasi barang-barang milik Dalai Lama ke-13 dengan kalimat: “Itu milikku, itu milikku”.

Pada musim dingin tahun 1940, Lhamo Thondup dibawa ke Istana Potala di Lhasa, ibu kota Daerah Otonomi Tibet saat ini, dan secara resmi dilantik sebagai pemimpin spiritual orang Tibet.

Bagaimana Penggantinya Akan Dipilih?

Dalam bukunya “Voice for the Voiceless”, yang dirilis pada Maret 2025, Dalai Lama mengatakan penggantinya akan lahir di luar Tiongkok.

Dalai Lama telah tinggal di pengasingan di India utara sejak tahun 1959, setelah melarikan diri dari pemberontakan yang gagal terhadap pemerintahan Komunis Mao Zedong.

Dia menulis bahwa dia akan merilis rincian tentang suksesinya sekitar ulang tahunnya yang ke-90.

Parlemen Tibet di pengasingan, yang berpusat di Kota Dharamshala di Himalaya, seperti Dalai Lama, mengatakan bahwa sebuah sistem telah ditetapkan agar pemerintah yang diasingkan dapat melanjutkan pekerjaannya sementara para pejabat Yayasan Gaden Phodrang akan ditugaskan untuk mencari dan mengakui penggantinya.

Dalai Lama saat ini mendirikan yayasan tersebut pada tahun 2015 untuk “mempertahankan dan mendukung tradisi dan lembaga Dalai Lama” berkenaan dengan tugas-tugas keagamaan dan spiritualnya, demikian yang tertulis di situs webnya. Para pejabat seniornya termasuk beberapa pembantunya.

Apa Kata Tiongkok

Tiongkok mengatakan para pemimpinnya memiliki hak untuk menyetujui pengganti Dalai Lama, sebagai warisan dari masa kekaisaran. Sebuah ritual pemilihan, di mana nama-nama reinkarnasi yang mungkin diambil dari sebuah guci emas, berasal dari tahun 1793, selama dinasti Qing.

Para pejabat Tiongkok telah berulang kali mengatakan bahwa reinkarnasi Dalai Lama harus diputuskan dengan mengikuti hukum nasional yang menetapkan penggunaan guci emas dan kelahiran reinkarnasi di dalam perbatasan Tiongkok.

Namun, banyak warga Tibet menduga peran Tiongkok dalam pemilihan tersebut sebagai taktik untuk memengaruhi masyarakat.

Tidaklah pantas bagi Komunis Tiongkok, yang menolak agama, “untuk mencampuri sistem reinkarnasi para lama, apalagi Dalai Lama,” kata pemimpin Buddha tersebut.

Dalam bukunya, dia meminta warga Tibet untuk tidak menerima “calon yang dipilih untuk tujuan politik oleh siapa pun, termasuk mereka yang berada di Tiongkok,” merujuk pada negara tersebut.

Beijing mencap Dalai Lama, yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1989 karena tetap memperjuangkan kepentingan Tibet, sebagai seorang “separatis” dan melarang pajangan fotonya atau pertunjukan pengabdian apa pun di depan umum kepadanya.

Pada bulan Maret 2025, seorang juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok mengatakan Dalai Lama adalah seorang pengasingan politik yang “tidak memiliki hak untuk mewakili rakyat Tibet sama sekali”.

Tiongkok menyangkal telah menekan hak-hak rakyat Tibet, dan mengatakan bahwa pemerintahannya mengakhiri perbudakan di wilayah yang terbelakang dan membawa kemakmuran bagi mereka.

Peran Apa yang Dapat Dimainkan India dan AS?

Selain Dalai Lama, India diperkirakan menjadi rumah bagi lebih dari 100.000 penganut Buddha Tibet yang bebas untuk belajar dan bekerja di sana.

Banyak orang India yang memujanya, dan para ahli hubungan internasional mengatakan kehadirannya di India memberi New Delhi semacam pengaruh terhadap saingannya, Tiongkok.

Amerika Serikat, yang menghadapi persaingan yang semakin ketat dari Tiongkok untuk mendominasi dunia, telah berulang kali mengatakan bahwa mereka berkomitmen untuk memajukan hak asasi manusia warga Tibet.

Anggota parlemen AS sebelumnya mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan Tiongkok memengaruhi pilihan penerus Dalai Lama.

Pada tahun 2024, Presiden AS saat itu Joe Biden menandatangani undang-undang yang menekan Beijing untuk menyelesaikan perselisihan mengenai tuntutan Tibet untuk otonomi yang lebih besar. (yn)

Trillion Rupiah Game: Mengupas Strategi Investasi Properti Iwan Sunito

0

JAKARTA, 1 Juli 2025  – “The best investment on Earth is earth.” Demikian kutipan terkenal dari Louis Glickman, seorang investor properti asal New York, Amerika Serikat. Tak dapat dibantah, properti merupakan salah satu investasi paling menguntungan, lantaran ketersediaan lahan yang terus berkurang, inflasi, permintaan yang terus bertambah, dan perkembangan infrastruktur kawasan.

Hal inilah yang dicermati Iwan Sunito, Founder & CEO One Global Capital, perusahaan investasi dan pengembang properti yang berbasis di Sydney, Australia. Bayangkan, dengan modal awal “hanya” Rp150 miliar, pengusaha kelahiran Surabaya ini mampu mencetak Rp1 triliun untuk properti yang berada di Five Dock, kawasan suburban Sydney.

Dia mengungkapkan, sebelumnya kawasan Five Dock tidak dilirik pengembang. Bahkan, lahan di 155 William Street, Five Dock, yang diakuisisinya pada 2002 silam, semula hanya berupa showroom mobil bekas dengan ceceran oli di sana-sini dan bising oleh deru truk-truk bermuatan berat yang melintasi Parramatta.

Namun, saat banyak pengembang mengabaikannya, pria yang besar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah ini, justru melihat sebuah peluang emas—bukan hanya mengembangkan sebidang tanah, melainkan membangun masa depan kota.

“Tanpa peliputan dari media, tanpa pesta peresmian, hanya dering telepon, proposal sederhana, dan tentu saja optimisme,” kenang Iwan Sunito.

Setelah berhasil mengakuisisi lahan tersebut, Iwan beserta kolega kemudian menyewakannya sebagai showroom mobil. “Selama lebih dari satu dekade, harga sewa dipatok hanya AUD1 juta per tahun. Sekadar cukup untuk membayar bunga dan biaya operasional—hingga waktunya dikembangkan,” tuturnya.

Momentum itu datang pada tahun 2019, saat Pemerintah New South Wales (NSW) meluncurkan Parramatta Road Transformation Strategy, yang mengubah aturan zonasi dan membuka potensi besar di koridor ini.

Pemerintah NSW pun menetapkan kawasan Five Dock sebagai pusat pertumbuhan baru, dengan stasiun metro modern yang akan menghubungkan Parramatta dan Sydney CBD secara cepat dan efisien.

Menurut Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, proyek metro dan zonasi baru menciptakan peluang luar biasa untuk perumahan dan komersial di kawasan Five Dock dan sekitarnya. “Dengan demikian, Five Dock akan menjadi titik strategis dalam konektivitas kota,” jelas Albanese—yang juga merupakan warga wilayah tersebut.

Tak hanya Pemerintah, para ahli tata kota mendukung optimisme ini. “Five Dock adalah studi kasus ideal bagaimana transportasi publik dan perencanaan terpadu menciptakan pusat kota baru yang inklusif dan bernilai tinggi,” kata Prof. Nicole Gurran, pakar perencanaan dari University of Sydney.

Alhasil, Five Dock yang dulu dipandang sebelah mata, kini berdiri di garis depan perubahan. Zonasi lahan berubah secara dramatis. Potensi GFA (Gross Floor Area) melonjak menjadi 65.000 m² dan membuka kesempatan pembangunan 750 apartemen.

Di sisi lain, lahan yang dibeli Iwan Sunito dan koleganya hanya Rp150 miliar di 2002, kini nilainya meroket menjadi Rp1 triliun, dengan potensi pengembangan senilai lebih dari Rp10 triliun. “Ini bukan spekulasi, tapi strategi, riset mendalam, kesabaran, dan kemampuan membaca arah pengembangan tata kota,” tukasnya.

Di tengah pasar properti yang stakeholder-nya sering terobsesi pada investasi dan keuntungan jangka pendek, Iwan Sunito memiliki filosofi berbeda, yakni urban chess.

Setiap akuisisi yang dilakukan, dievaluasi dari sisi urban, baik perubahan zonasi, kebijakan infrastruktur, serta proyeksi pertumbuhan kota. “Pada akhirnya, nilai investasi terbaik itu tercapai bahkan sebelum pengurusan IMB. Kesabaran itu kini membuahkan hasil berlipat ganda,” tuturnya.

Lebih lanjut, Iwan mengatakan, pihaknya berencana mengembangkan proyek mixed-use mid-rise di Five Dock, kawasan suburban Sydney. Dirancang menjadi ikon baru, proyek ini terletak sangat strategis, yakni hanya 20 menit dari central business district (CBD) menggunakan proyek Sydney Metro West yang saat ini tengah dibangun.

One Global Capital: Lahirnya Filosofi Baru

Sebagai pendiri Crown Group (1996), Iwan Sunito telah menciptakan ikon-ikon arsitektur yang menghiasi di langit Sydney. Namun, menurutnya, Five Dock menjadi lebih dari sekadar proyek. Ini merupakan titik balik.

“Dari sinilah lahir visi One Global Capital: platform untuk mengubah aset tersembunyi menjadi investasi unggulan—melalui struktur modal kecil, utang rendah, dan visi jangka panjang,” paparnya.

Dalam 12 bulan terakhir, One Global Capital telah mengakuisisi dan mengoperasikan One Global Resorts, proyek resor dan kawasan gaya hidup senilai Rp1 triliun; Grand Eastlakes, proyek hunian mixed-use senilai Rp280 miliar; dan Macquarie Park Hotel, proyek hotel modular senilai Rp750 miliar.

One Global Capital memiliki visi untuk mengulang kesuksesan ini dengan melebarkan kemitraan dari segelintir partner menjadi 1.000 partner—lintas geografi dan kelas aset—dengan pendekatan yang menggabungkan co-investor aktif dan mitra pasif.

“Banyak mitra baru kami berasal dari AS dan Tiongkok, yang tertarik bergabung lantaran stabilitas properti Australia dan pendekatan investasi butik kami yang personal,” jelas Iwan.

Lebih lanjut, dia menerangkan, One Global Capital bukan institusi dana atau pula platform urun dana (crowdfunding) massal. Ini adalah jalur investasi yang eksklusif, personal, dan kolaboratif.

“Model hybrid ini memungkinkan mitra pasif menikmati hasil stabil, sementara mitra aktif ikut membentuk proyek sejak tahap awal,” ujarnya.

Kini, jaringan sindikasi 1.000 mitra eksklusif One Global Capital sedang dibangun—untuk proyek-proyek di Sydney, Jakarta, Los Angeles, dan Singapura.

Setiap proyek membawa DNA Five Dock, yakni akuisisi berbasis keyakinan, utang rendah, arus kas nyata, dan kenaikan nilai jangka panjang. “Kami hanya butuh 1.000 orang yang berpikir seperti kami—yang ingin membangun kota, bukan sekadar portofolio,” pungkasnya.***

Hidup Tidak Ada Gladi Resik, Maka Hargailah Saat Ini

EtIndonesia. Hidup memang sulit dan penuh tantangan, karena itu sesekali kita perlu membaca kisah-kisah yang menggugah semangat untuk memotivasi diri. Artikel berikut ini merupakan pilihan cerita inspiratif yang semoga bisa menyentuh hati dan memberi energi baru bagi Anda.

1. Waktu Hanya Tempat Singgahan, Tapi Kita Pemiliknya

Waktu hanyalah tamu yang datang dan pergi, sedangkan kita adalah tuan rumah atas hidup kita sendiri. Tak perlu terlalu memaksa diri dalam menjalani kehidupan. Selama kita berani melangkah, jalan akan terbuka di depan kaki kita. Selama kita berani membentangkan layar, angin dari segala arah akan datang membantu. Saat kita memulai perjalanan, di situlah hidup kita sesungguhnya dimulai.

2. Hidup Ini Singkat, Jangan Terlalu Memusingkan Segalanya

Hidup ini pendek, jadi mengapa harus terlalu banyak dipikirkan? Waktu mengalir seperti sungai; tepi kiri adalah kenangan yang tak terlupakan, tepi kanan adalah masa muda yang harus digenggam. Sedangkan air yang mengalir deras di tengah adalah kepedihan samar masa muda yang sulit dijelaskan.

Di dunia ini banyak hal yang indah, tapi yang sungguh-sungguh menjadi milik kita sebenarnya sangat sedikit. Maka dari itu, nikmatilah setiap saat tanpa harus menggenggam semuanya.

3. Cinta Itu Tak Selalu Logis, Cinta Ya Cinta

Cinta bukan soal jatuh hati pada pandangan pertama atau tumbuh karena waktu yang panjang. Bukan pula karena yang tak bisa dimiliki terasa paling indah. Bukan jarak yang menciptakan kerinduan, dan bukan pula kesepian yang lebih bisa diandalkan daripada keromantisan.

Cinta adalah sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Setiap orang punya cara mencintainya masing-masing. Saat kamu mencintai seseorang, maka kamu memang sedang mencintai—tak perlu alasan.

4. Hidup Tak Selalu Sesuai Harapan, Asal Tak Menyesali Hati Sendiri

Hidup seseorang tidak selalu sesuai keinginan, tapi yang penting kita tidak menyesali apa yang ada di hati. Dalam perjalanan hidup, kita akan melewati banyak pemandangan—ada yang indah, ada pula yang mengerikan. Namun apapun yang kita temui, kita harus menerimanya dengan tenang, karena kita tak bisa mengubah apa yang telah ditentukan oleh perjalanan waktu.

5. Kebahagiaan Butuh Hati yang Tenang

Untuk merasakan kebahagiaan dalam hidup, kita butuh hati yang tenang. Matahari terbit setiap pagi dan tenggelam setiap sore, tapi dalam seumur hidup manusia, berapa kali kita benar-benar memperhatikannya?

Itulah mengapa kita harus menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakannya. Jalani setiap hari dengan penuh makna, lakukan hal yang bermanfaat—baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

6. Setiap Pilihan Adalah Sekali Seumur Hidup

Setiap pengalaman hidup adalah sebuah proses akumulasi. Hidup ibarat sebuah kebun buah yang luas, menanti kita untuk membuat pilihan demi pilihan yang tidak bisa diulang kembali. Kita memetik buah yang menjadi milik kita sendiri, dan tidak ada kesempatan untuk menoleh ke belakang.

Setiap orang tahu bahwa untuk meraih keberhasilan, kita harus membuat pilihan yang bijak. Dengan perbandingan yang cermat, kita berusaha memilih jalan terbaik agar bisa memetik buah paling besar dan manis.

7. Hargai Saat Ini, Karena Hidup Tak Ada Gladi Resik

Hidup ini tidak ada uji coba, semua terjadi hanya sekali. Di tengah hiruk-pikuk dunia ini, jika kita menoleh ke belakang, kita akan sadar bahwa menghargai adalah sebuah keindahan.

Menghargai adalah pemandangan yang indah—tempat yang setiap orang rindukan, dengan empat musim yang bersahabat dan cita rasa yang tak terlupakan. Belajarlah untuk menghargai, maka kamu akan belajar menikmati hidup. Belajarlah untuk menghargai, maka kamu akan menemukan kebahagiaan. Belajarlah untuk menghargai, maka kamu akan semakin dekat dengan makna sejati kebahagiaan. Belajarlah untuk menghargai, maka kamu akan menjadi manusia yang utuh.

Tambahan Renungan Kehidupan:

·        Hidup itu seperti mimpi, dan waktu tidak pernah kompromi. Pada akhirnya, kamu akan mengerti bahwa kehilangan justru lebih membumi daripada memiliki. Waktu, sesungguhnya, adalah proses kehidupan. Saat hidup mencapai ujungnya, bukan berarti ia menghilang begitu saja—kadang ia berubah bentuk, atau mungkin lahir kembali.

·        Hidup tidak sampai seratus tahun, tapi banyak dari kita menyimpan kekhawatiran layaknya akan hidup seribu tahun. Selama masih hidup, kita harus terus bertahan. Tapi untuk hidup lebih baik, kita harus ikut dalam permainan persaingan. Dan untuk bertahan dalam dunia ini, kita perlu belajar cara bersaing.

·        Hidup ini terlalu singkat untuk mengejar waktu. Hidup tak punya cetakan baku, yang kita butuhkan hanyalah menyalakan lentera di dalam hati. Apa pun yang kita lakukan, jika tidak konsisten dan menyerah di tengah jalan, bahkan hal yang paling sederhana pun akan gagal. Sebaliknya, dengan semangat pantang menyerah, perkara sesulit apa pun bisa diselesaikan.

·        Dalam hidup, keindahan bukan berarti tidak ada—yang kurang hanyalah mata untuk melihat keindahan itu. Dalam hidup, banyak kegagalan dan keberhasilan datang secara tak terduga. Banyak hal juga bukan sesuatu yang bisa kita tanggung sendirian. Tapi selama kita berusaha, kita akan meraih ketenangan setelah perjuangan—dan itu juga adalah bentuk kebahagiaan.

·        Hadapilah kenyataan dengan senyuman, jalani hidup dengan senyum di wajah! Hidup ini laksana mimpi, dan mimpi pun seperti hidup. Berapa banyak waktu yang masih menjadi milik kita? Waktu berlalu cepat—masihkah kita ingin menyia-nyiakannya? Hargailah setiap waktu, setiap perasaan, setiap pengalaman, dan setiap persahabatan yang kita punya.

·        Hidup adalah sebuah latihan spiritual; penderitaan dan kebahagiaan semuanya bagian dari perjalanan. Hidup bisa jadi sangat melelahkan, karena kita dihadapkan pada kenyataan, luka, penderitaan, dan rintangan. Di dalam kesendirian kita mencari sandaran, di dalam kesulitan kita mencari pertolongan, di dalam keputusasaan kita mencari penghiburan, di tengah penyakit kita mencari harapan.

·        Hidup seratus tahun pun, dalam sekejap bisa terasa kosong. Banyak hal yang tak bisa kita ubah. Tuhan mungkin memberi kita kesempatan, namun sering kali kita melewatkannya. Kita mungkin tak bisa menggenggam dengan baik, terlalu sering galau antara memiliki dan kehilangan—akhirnya hanya menyisakan kecewa dan kesedihan.

·        Hidup sering kali penuh dengan kekhawatiran, sedangkan kebahagiaan justru sangat sedikit. Ingatan kita terlalu sesak, mungkin memang saatnya melepaskan sebagian. Hanya jika hati kita tenang, dunia luar tidak akan terasa riuh. Barulah kita bisa mendengar suara hati. Banyak pengejaran dalam hidup ini yang tampak semangat, tapi sejatinya bukanlah apa yang benar-benar kita butuhkan—hanya upaya menyesuaikan diri dengan masyarakat, atau sekadar menyenangkan orang lain.(jhn/yn)

Penggunaan Ponsel Secara Kompulsif Melipatgandakan Risiko Bundir pada Remaja

Jumlah waktu yang dihabiskan remaja dengan ponsel dan media sosial dikalahkan oleh penggunaan yang kompulsif dan adiktif

Cara Michelle Miller

Saat banyak anak mencapai usia 10 tahun, mereka mungkin sudah berada di jalur yang dapat melipatgandakan risiko bunuh diri mereka.

Sebuah studi longitudinal baru yang diterbitkan pada Rabu (25/6) di JAMA Network Open menemukan bahwa anak-anak muda yang menggunakan ponsel, video game, atau media sosial secara kompulsif menghadapi risiko yang jauh lebih tinggi terhadap ide bunuh diri dan gangguan emosional di awal masa remaja.

“Kesimpulan paling penting dari studi ini adalah bahwa bukan jumlah waktu layar yang membuat remaja berisiko—melainkan bagaimana mereka menggunakan layar yang paling menentukan,” kata Yunyu Xiao, penulis utama dan asisten profesor di Weill Cornell Medical College, kepada The Epoch Times melalui email.

Anak-anak yang merasa kesal saat dipisahkan dari ponsel mereka, kesulitan berhenti menggunakan aplikasi, atau menggunakan layar sebagai cara mengatasi stres adalah yang paling mungkin menggunakan layar secara kompulsif—dan hal ini memprediksi masalah kesehatan mental di masa depan.

“Ini mengalihkan fokus percakapan dari sekadar paparan layar menuju perhatian yang lebih tepat pada penggunaan yang adiktif,” kata Xiao.


Risiko dan Tanda Peringatan Dini

Studi ini mengikuti lebih dari 4.200 anak selama empat tahun sebagai bagian dari studi Adolescent Brain Cognitive Development—penelitian perkembangan otak jangka panjang terbesar dalam sejarah AS.

Berbeda dari studi sebelumnya yang menekankan total waktu layar, penelitian ini menganalisis “trajektori penggunaan adiktif” —pola yang ditandai oleh peningkatan kompulsi, ketergantungan emosional, dan kesulitan melepaskan diri dari layar seiring waktu. Pola-pola ini terbukti lebih akurat memprediksi risiko bunuh diri dibandingkan sekadar durasi penggunaan.

Anak-anak dalam studi ini diminta menanggapi pernyataan seperti:

  • “Saya merasa kesal ketika saya tidak bisa menggunakan ponsel.”
  • “Saya menggunakan media sosial untuk merasa lebih baik saat saya sedih.”

Berdasarkan tanggapan mereka, para peneliti mengelompokkan anak-anak ke dalam pola risiko rendah, meningkat, atau tinggi dengan melacak bagaimana kebiasaan layar mereka dan keterikatan emosional terhadap perangkat berubah seiring waktu.

Hampir setengah dari mereka menunjukkan tanda-tanda ketergantungan layar yang tinggi atau meningkat—sering kali dimulai sekitar usia 10 tahun.

Pada usia 14 tahun, hampir satu dari tiga remaja mengembangkan pola penggunaan media sosial yang semakin kompulsif, dan sekitar satu dari empat menunjukkan perilaku serupa dengan ponsel. Anak-anak ini memiliki kemungkinan hingga 2,4 kali lebih besar melaporkan pemikiran atau perilaku bunuh diri dibandingkan mereka yang penggunaan adiktifnya rendah.

Lebih dari 30 persen anak berpindah dari pola risiko rendah ke pola risiko tinggi selama masa awal remaja—sering kali dengan konsekuensi serius.

“Yang mengejutkan kami adalah tidak adanya hubungan antara total waktu layar dengan bunuh diri atau masalah kesehatan mental,” kata Xiao. “Sebaliknya, trajektori penggunaan adiktif—ditandai dengan kompulsi tinggi dan meningkat, tekanan emosional, dan kesulitan melepaskan diri—berkaitan dengan peningkatan dua hingga tiga kali lipat dalam perilaku dan pemikiran bunuh diri.”

Anak perempuan lebih mungkin mengembangkan kebiasaan bermasalah terkait media sosial dibanding anak laki-laki. Sebaliknya, anak laki-laki lebih sering menunjukkan penggunaan video game yang adiktif.


Di Luar Risiko Bunuh Diri

Penggunaan adiktif juga dikaitkan dengan gejala emosional dan perilaku. Penggunaan media sosial dikaitkan dengan kecemasan dan depresi, serta agresi dan mudah marah. Kecanduan video game lebih berkaitan dengan kesedihan, penarikan diri, dan suasana hati rendah yang terus-menerus.

Meskipun studi ini tidak meneliti mekanisme di balik hubungan tersebut, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami kesulitan emosional mungkin menggunakan layar untuk mengatasi stres—namun penggunaan kompulsif justru dapat memperburuk keadaan karena menghalangi mereka mengelola emosi secara sehat.

Terapis berlisensi Thomas Kersting, yang tidak terlibat dalam studi ini namun bekerja dengan remaja yang mengalami ketergantungan digital, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa gejala-gejala tersebut sering muncul di rumah lebih dari sekadar perubahan suasana hati biasa.

“Jika anak Anda menjadi agresif atau bahkan meledak ketika Anda mengambil perangkatnya—itu bukan hanya sikap, itu adalah gejala penarikan diri,” kata Kersting, penulis buku Disconnected: How to Protect Your Kids From the Harmful Effects of Device Dependency. “Itu salah satu tanda peringatan paling awal bahwa hubungan mereka dengan layar sudah tidak sehat secara emosional.”


Tidak Semua Screen Time Sama

Studi ini menunjukkan bahwa cara anak-anak berinteraksi dengan layar lebih penting daripada sekadar mengawasi jumlah waktunya.

Namun, ini tidak berarti waktu layar tidak berdampak. Penggunaan berlebihan tetap bisa menggantikan aktivitas penting seperti tidur, olahraga, dan interaksi langsung. Banyak platform dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan dan membuat penggunanya sulit berhenti.

Psikiater anak Dr. Victoria Dunckley mengatakan dalam email kepada The Epoch Times bahwa waktu layar yang tinggi dan penggunaan kompulsif sering kali berjalan beriringan—dan keduanya dapat meningkatkan kerentanan emosional.

“Anak-anak yang tertarik pada layar seperti ngengat pada api dan kesulitan berhenti memiliki risiko lebih tinggi,” kata Dunckley. “Bahkan dengan penggunaan yang dianggap ‘normal,’ masalah suasana hati dan perilaku terkait layar makin umum. Dan dalam semua kasus, kami melihat perbaikan saat penggunaan layar dikurangi.”

Dunckley menambahkan bahwa waktu layar interaktif—terutama media sosial dan video game—dapat menstimulasi berlebihan dan mengganggu sistem saraf, dengan cara:

  • Menumpulkan jalur penghargaan di otak,
  • Mengacaukan ritme sirkadian tubuh,
  • Memicu aktivasi kronis mode ‘lawan atau lari’.

Banyak platform ini, katanya, mengeksploitasi kerentanan perkembangan dan naluri evolusioner, sehingga “tidak masuk akal mengharapkan anak pra-remaja dan remaja bisa ‘mengatur diri sendiri’ menghadapi aplikasi yang dirancang untuk membajak otak mereka.”


Apa yang Bisa Diperhatikan Orang Tua

Xiao mendorong orang tua atau pengasuh untuk bertanya:

  • Apakah anak saya menarik diri dari aktivitas dan hubungan nyata?
  • Apakah mereka menjadi stres saat terputus dari perangkat?
  • Apakah mereka kesulitan berhenti, bahkan ketika mereka ingin?

Kersting menambahkan bahwa ledakan emosi mendadak atau perubahan suasana hati ekstrem terkait penggunaan perangkat seharusnya menjadi peringatan.

“Jika anak Anda yang biasanya tenang tiba-tiba berubah jadi Hulk saat Anda mengambil ponsel atau game-nya, itu tanda bahaya,” katanya. “Saya pernah melihat anak-anak berteriak, memaki, bahkan menjadi kasar secara fisik.”

Tanda lain bisa berupa anak menjauh dari keluarga dan menunjukkan kesedihan atau isolasi. Ketika pola seperti itu muncul, kata Kersting, saatnya bertindak: “Mulailah mendidik secara tegas—buat aturan, jangan ada perangkat di kamar saat malam, bawa anak-anak kembali ke ruang bersama.”


Mengatur Ulang Sistem

Dunckley mengatakan bahwa penggunaan layar yang berlebihan sering kali memperburuk masalah emosional—dan tidak bisa dipisahkan dari masalah kesehatan mental lainnya.

“Menurut pengalaman saya, sangat sulit mengatasi masalah kesehatan mental secara efektif tanpa terlebih dahulu mengatasi kebiasaan layar,” katanya.

Ia merekomendasikan agar orang tua mempelajari bagaimana layar memengaruhi sistem saraf—terutama suasana hati, tidur, dan perhatian. Dalam kasus yang lebih serius, Dunckley menyarankan “puasa layar” selama tiga hingga empat minggu untuk mengatur ulang regulasi emosional dan perilaku.

“Sekadar mengurangi tidak akan cukup pada anak yang sudah kecanduan,” katanya. Istirahat penuh memberi waktu bagi sistem saraf untuk menyesuaikan ulang, yang sering kali membuka jalan untuk bermain yang lebih kreatif, sosial, dan aktif.

Tujuannya, menurut para ahli, bukan menghilangkan layar sepenuhnya—tetapi membentuk kebiasaan yang lebih sehat.


Tips untuk Keluarga

  • Jadikan waktu makan dan tidur bebas layar.
  • Dorong aktivitas offline setiap hari.
  • Ajak anak bicara secara rutin tentang pengalaman online mereka.
  • Tunjukkan keseimbangan dan batasan sebagai orang dewasa.

“Jangan hanya fokus pada berapa lama anak-anak menggunakan ponsel mereka,” kata Xiao. “Perhatikan bagaimana penggunaan mereka memengaruhi kesejahteraan, hubungan, dan fungsi sehari-hari mereka.”

Xi Jinping Hilang Kekuasaan? Tanda-tanda Kejatuhan Rezim Komunis Mulai Terbaca!

EtIndonesia. Dalam beberapa pekan terakhir, dunia dikejutkan oleh gelombang isu yang berhembus dari jantung kekuasaan Tiongkok—Zhongnanhai. Arah angin politik di kawasan elite ini berubah menjadi sangat ganjil dan penuh teka-teki. Salah satu rumor terbesar adalah kabar tentang wafatnya Xi Jinping, sang pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT). Bukan sekadar rumor biasa, isu ini kini telah menjadi pembicaraan serius, bahkan di lingkaran elite Amerika Serikat.

Salah satu tokoh yang menyulut perhatian adalah Letnan Jenderal Purnawirawan Angkatan Darat AS, Michael T. Flynn. Dia bukan figur sembarangan: mantan penasihat keamanan nasional Presiden Trump, mantan Direktur Badan Intelijen Pertahanan (DIA), serta lama berkecimpung di dunia intelijen. 

Pada 27 Juni 2025, Michael T. Flynn, secara langka menulis pernyataan penting: “Sedang terjadi pergantian kekuasaan di Tiongkok.” 

Dia bahkan menegaskan bahwa para pejabat tinggi di sistem keamanan nasional PKT kini mulai kehilangan kepercayaan pada para pemegang kekuasaan utama. Imbasnya, perubahan ini diyakini bakal mengguncang struktur kekuasaan Tiongkok secara fundamental.

Isyarat Manuver Militer: Siapa yang Muncul ke Permukaan?

Pernyataan Michael T. Flynn, tak berhenti di situ. DIa mengunggah beberapa foto yang terbilang “artistik”—menampilkan tokoh-tokoh utama yang diyakini sedang memegang kendali. Nama-nama yang dimunculkan antara lain Zhang Xiaoxia, Ding Xuexiang, dan Chen Jining. Salah satu foto bahkan memperlihatkan Zhang Xiaoxia tengah membawa senjata, sebuah sinyal kuat tentang kemungkinan adanya manuver militer dan pembersihan internal yang tengah terjadi.

Zhang Xiaoxia sendiri merupakan Wakil Ketua Pertama Komisi Militer Pusat dan selama ini dikenal sebagai orang kepercayaan Xi Jinping. Namun kabar terbaru menyebutkan, Zhang justru diduga tengah memimpin proses pergantian kekuasaan besar-besaran. Ding Xuexiang, tokoh muda yang kariernya melejit bersama Xi sejak di Shanghai, kini juga disebut-sebut sebagai salah satu kunci. Chen Jining, mantan Menteri Lingkungan Hidup yang kini memimpin Shanghai, dikenal mampu menembus berbagai faksi dan kelompok elite dalam PKT, mulai dari kelompok Tsinghua, kubu keluarga Xi, hingga kelompok Shanghai.

Struktur Pemerintahan Baru: Skenario Pengambilalihan Kekuasaan

Pada 28 Juni 2025, Li Muyang—pembawa acara “Berita Terkini”—secara terang-terangan membedah sinyal dari foto-foto yang diunggah Michael T. Flynn. Dia mengindikasikan bahwa ketiga tokoh tersebut disiapkan untuk menempati posisi puncak:

  • Zhang Xiaoxia sebagai Ketua Komisi Militer Pusat,
  • Ding Xuexiang sebagai Sekretaris Jenderal,
  • Chen Jining sebagai Perdana Menteri.

Dengan demikian, struktur pemerintahan Tiongkok diprediksi akan segera berubah, meskipun secara formal Xi Jinping masih tercatat sebagai presiden.

Namun, berbagai sumber menyebutkan, Xi kini hanya menjadi boneka. Dia memang masih tampil di hadapan publik, tetapi seluruh instruksi dan keputusan sudah tidak lagi berada di bawah kendalinya. 

Sejumlah media diaspora Tionghoa bahkan membocorkan informasi bahwa sejak April tahun lalu, Xi telah kehilangan sebagian besar kekuasaan. Kabarnya, Xi sempat mencoba melakukan perlawanan, bahkan terjadi insiden penggunaan senjata, tetapi usahanya berhasil diredam oleh kelompok baru ini. Kini, Xi Jinping hanya “dipelihara” untuk sekadar menjalankan peran seremonial di depan publik.

Sosok-sosok di Balik Layar: Siapa Pengendali Sebenarnya?

Data yang dihimpun dari berbagai sumber mengindikasikan bahwa Wen Jiabao (mantan Perdana Menteri) dan Zhang Xiaoxia kini adalah poros utama penentu arah politik di Tiongkok. Kedua figur tersebut telah membentuk aliansi yang efektif menyingkirkan kekuasaan Xi Jinping.

Tak ketinggalan, nama Stapleton Roy—mantan diplomat senior AS yang lama meneliti Tiongkok—ikut menambah panas isu ini. Dalam sebuah artikel di New York Post, Stapleton Roy menyatakan bahwa pada Sidang Pleno Agustus mendatang, Xi Jinping kemungkinan akan benar-benar lengser. Menariknya, dia juga menyebut Hu Jintao—mantan presiden yang pernah dipermalukan Xi di depan publik—sebagai sosok yang diduga berada di balik skenario pergantian kekuasaan ini.

Gelombang Pembersihan dan Fakta-fakta Mencurigakan

Berbeda dengan rumor sebelumnya, gelombang pembersihan kali ini berskala besar. Para loyalis Xi satu per satu tersingkir dari jajaran militer dan politik, bahkan beberapa di antaranya diberitakan meninggal secara misterius—dengan kondisi yang penuh tanda tanya. Kini, kendali penuh atas militer beralih ke tangan Zhang Xiaoxia, tokoh yang dulu sempat bermusuhan dengan Xi.

Dukungan terhadap tesis ini juga terlihat dari serangkaian fakta aneh:

  • Museum Kenangan Xi Zhongxun (ayah Xi Jinping), yang dulu diagung-agungkan, kini namanya dihapus dan diganti menjadi “Museum Revolusi Guanzhong.”
  • Jumlah pengawal pribadi Xi Jinping mendadak berkurang separuh, sesuatu yang tidak lazim untuk seorang pemimpin negara.
  • Xi Jinping “menghilang” selama dua minggu di akhir Mei hingga awal Juni, absen dari berbagai agenda diplomatik penting. Saat akhirnya muncul kembali, Xi tampak lesu dan lemah, melakukan pertemuan dengan Presiden Belarus di tempat yang jauh dari standar protokol kenegaraan.

Selain itu, dalam siaran CCTV usai Xi menelepon Trump, dia tidak lagi disebut dengan gelar resmi “Sekretaris Jenderal PKT” atau “Presiden Tiongkok”—melainkan hanya “Xi Jinping.” Meskipun sempat diralat, ini diduga sebagai eksperimen untuk menguji respons publik. Bahkan, para dosen universitas kini berani mengkritik Xi secara terbuka, sesuatu yang sebelumnya sangat tabu.

Siapa Calon Pengganti?

Walau belum ada kepastian, sejumlah nama mencuat sebagai kandidat pengganti. Salah satunya adalah Wang Yang, mantan Wakil Perdana Menteri dan Ketua Dewan Permusyawaratan Politik Rakyat. Wang dikenal sebagai tokoh moderat yang mendukung pasar bebas dan pendekatan diplomasi lunak, serta pernah diangkat oleh Deng Xiaoping. Dipertimbangkan pula oleh para tetua partai, ia dinilai mampu membawa Tiongkok menuju perubahan tanpa kekerasan.

Akar Masalah: Krisis Ekonomi dan Legitimasi Rezim

Stapleton Roy menegaskan, runtuhnya kekuasaan Xi Jinping bukanlah kebetulan. Kepemimpinan otoriter Xi telah menimbulkan krisis multidimensi:

  • Utang nasional Tiongkok melonjak lebih dari 50 triliun dolar AS
  • Aset para taipan besar kabur ke luar negeri
  • Pengangguran meluas hingga tingkat depresi besar
  • Kerusuhan sosial, pembakaran pabrik, dan demonstrasi anti-pemerintah terjadi di mana-mana

Situasi ini kian memperkuat dugaan bahwa perubahan di Tiongkok sudah tidak terelakkan.

Dampak Geopolitik Global

Menurut Stapleton Roy, jika krisis ini dapat dikelola dengan baik oleh Amerika Serikat dan sekutu demokrasinya, maka perubahan di Tiongkok bisa menjadi momentum penting untuk menekan rezim otoriter tanpa harus mengangkat senjata. Rusia, Korea Utara, dan Iran diprediksi akan ikut terdampak secara negatif. Sementara itu, bagi rakyat Tiongkok, perubahan ini diharapkan menjadi pintu gerbang menuju pasar bebas, demokrasi sejati, dan supremasi hukum.

Faksi di Internal PKT: Dilema Penanganan Xi Jinping

Kini, di tubuh Partai Komunis sendiri telah terbentuk dua faksi utama:

  1. Kubu Wen Jiabao dan Zhao Xia: mendesak pengusutan tuntas kesalahan Xi Jinping.
  2. Kubu Hu Jintao: memilih opsi “jalan keluar terhormat” dengan membiarkan Xi pensiun terhormat, seperti yang dialami Hua Guofeng di era Deng Xiaoping.

Namun, yang jelas, krisis kepercayaan dan legitimasi sudah mengguncang sistem hingga ke akarnya. Jika militer dan tetua politik tidak lagi mendukung Xi, maka pertanyaan besarnya: Seberapa lama sistem ini bisa bertahan?

Kesimpulan: Era Xi Jinping di Ujung Tanduk, Tiongkok Menuju Babak Baru

Perubahan kekuasaan kali ini bukan lagi rahasia yang dikunci rapat di ruang belakang; seluruh dunia kini mengawasi, bahkan jenderal-jenderal senior AS sudah angkat bicara. Semua ini adalah sinyal bahwa era kepemimpinan Xi Jinping, dan bahkan dominasi Partai Komunis Tiongkok, sedang berada di ujung tanduk.

Bagi para loyalis Xi dan mereka yang masih “mengikatkan diri” pada rezim lama, saatnya waspada—karena gelombang besar sedang datang, dan sejarah tidak pernah memberi ampun pada mereka yang tidak siap beradaptasi.

Seperti diungkap oleh Analis, “Partai Komunis Tiongkok saat ini ibarat gedung tua yang tampak megah dari luar, tetapi di dalamnya sudah kosong, retak, dan lapuk. Badai besar sudah di ambang pintu—siapa pun yang masih nekat bertahan di dalamnya, sama saja menjemput kehancuran.”

Baru Bicara Sudah Bertengkar? Ini 5 Pemicu Konflik dalam Komunikasi Suami Istri yang Harus Dihindari

EtIndonesia. Dalam hubungan rumah tangga, kita sering merasa tak perlu bersikap basa-basi dengan pasangan. Kita bicara langsung dan seringkali menusuk ke titik lemah pasangan. Namun alih-alih menyelesaikan masalah, ini justru memperbesar luka dan konflik.

Saat bersama orang lain, kita bisa bersikap sopan dan menjaga nada bicara. Tapi dengan keluarga—terutama pasangan—karena sudah terlalu akrab, kita cenderung terlalu blak-blakan hingga bisa menyakiti tanpa sadar.

Itulah mengapa ada pepatah: Semakin dekat hubungan, semakin mudah menyakiti. Karena mereka tahu titik terlemah kita.

Pasangan yang telah hidup bersama selama bertahun-tahun pasti tahu: siapa pun pasti pernah bertengkar.

 “Jatuh cinta itu mudah, tapi menjalin hubungan itu sulit.”

 Perbedaan kepribadian, pola pikir, suasana hati, dan karakter membuat pertentangan hampir tak terhindarkan.

Karena itu, kesadaran dan niat untuk memperbaiki komunikasi sangat penting.

Contoh Situasi dan Cara Mengatasinya

Situasi 1: Masalah Beli Rumah

Istri ingin segera membeli rumah agar punya tempat tinggal sendiri. Mereka yakin cicilan bisa dibayar bersama dan investasi ini bermanfaat untuk masa depan.

Suami tidak setuju karena khawatir tekanan ekonomi akan menurunkan kualitas hidup. Dia lebih memilih menyewa rumah untuk saat ini.

Versi yang buruk:

·        Istri: “Kenapa kamu selalu menentang? Kalau tidak beli sekarang, selamanya kita nggak akan punya rumah sendiri! Kamu mau ngontrak seumur hidup?”

·        Suami: “Beli rumah itu berisiko besar. Kita nggak boleh gegabah. Ini cuma bikin kita makin tertekan secara ekonomi.”

Pola seperti ini hanya memperbesar ketegangan. Saling menyalahkan dan menolak sudut pandang satu sama lain tidak akan menyelesaikan masalah.

Versi yang lebih sehat:

·        Istri: “Aku tahu ini keputusan besar, tapi menurutku rumah adalah bentuk investasi yang aman. Dengan punya rumah sendiri, kita bisa merasa lebih stabil. Mungkin kita bisa cari opsi yang cocok dengan kondisi kita.”

·        Suami: “Aku paham maksudmu. Tapi aku juga punya kekhawatiran. Kita harus pertimbangkan kondisi keuangan dan kualitas hidup kita. Mungkin kita bisa tetap menyewa dulu, sambil menabung.”

Dalam versi ini, masing-masing pihak menghormati perasaan dan sudut pandang pasangannya, lalu mencoba mencari titik temu. Komunikasi menjadi lebih sehat dan produktif.

Situasi 2: Waktu Bersama Keluarga

Istri ingin suami lebih sering pulang lebih awal dan menemani keluarga. Namun suami merasa butuh waktu sendiri dan ingin tetap bersosialisasi dengan teman-temannya.

Versi yang buruk:

·        Istri: “Kamu selalu pulang malam habis minum-minum sama teman. Kamu nggak peduli sama keluarga atau anak. Kamu nggak punya rasa tanggung jawab sebagai suami.”

·        Suami: “Aku butuh waktu sendiri! Aku bukan budakmu. Aku juga perlu bersantai dan kumpul bareng teman!”

Ucapan seperti ini akan memicu ledakan emosi. Komunikasi berubah jadi saling menyerang.

Versi yang lebih sehat:

·        Istri: “Aku ingin kamu lebih sering di rumah karena itu akan menciptakan lebih banyak waktu bersama. Tapi aku juga paham kamu butuh ruang untuk bersosialisasi. Bisa nggak kita cari cara supaya dua-duanya tetap jalan?”

·        Suami: “Aku mengerti. Aku juga ingin lebih banyak waktu bersama keluarga, tapi kadang aku butuh hangout dengan teman-teman. Mungkin kita bisa buat jadwal supaya ada waktu untuk keluarga dan juga untukku.”

Pendekatan ini menunjukkan bahwa kebutuhan pribadi dan keluarga bisa dikomunikasikan tanpa saling menuntut atau menyalahkan.

5 Pemicu Utama yang Sebaiknya Dihindari dalam Komunikasi Suami Istri

Bertengkar biasanya dipicu oleh ketidakpuasan emosional. Namun jika tidak disampaikan dengan bijak, hal ini bisa memperbesar masalah. Berikut beberapa kesalahan umum yang sebaiknya dihindari:

1. Menyerang dan Menyalahkan

Menyerang langsung atau menyalahkan hanya akan membuat pasangan merasa disudutkan. Ini mengabaikan perasaan dan posisi pasangan, serta memperkuat konflik.

→ Sebaiknya: berikan ruang pada pasangan untuk bicara, dengarkan sudut pandangnya.

2. Menggunakan Kata-Kata Absolut

Kalimat seperti “kamu selalu…” atau “kamu tidak pernah…” sangat menyakitkan dan membuat lawan bicara merasa tak berdaya.

→ Misalnya: “Kamu tidak pernah bantu urusan rumah, semua aku yang kerjakan!”

→ Sebaiknya: sampaikan keluhan dengan contoh konkret, bukan hiperbola.

3. Tidak Menyentuh Akar Masalah

Mengulang kesalahan masa lalu tanpa mencoba memahami akar konflik, hanya akan membuat pertengkaran berputar-putar tanpa solusi.

→ Sebaiknya: fokus pada solusi dan perubahan ke depan, bukan kesalahan masa lalu.

4. Hanya Fokus pada Diri Sendiri

Kita cenderung lebih fokus pada ketidakadilan yang kita alami. Tapi jika hanya memikirkan kepentingan pribadi, kita mengabaikan perasaan pasangan.

→ Solusi: tarik napas, dengarkan pasangan, utamakan hubungan di atas ego pribadi.

5. Memotong Pembicaraan

Saat pasangan bicara, lalu kita terus menyela karena merasa tak sabar—itu hanya menunjukkan bahwa kita tidak benar-benar mau mendengar.

→ Dampaknya: pasangan merasa tidak dihargai dan enggan lanjut bicara.

Komunikasi Efektif: Ungkapkan Perasaan dan Kebutuhan Secara Spesifik

Mengungkapkan perasaan saja tidak cukup—perlu disertai permintaan yang konkret.

Banyak pria bingung harus berbuat apa saat pasangan marah. Ketika ditanya “maunya aku gimana?”, pasangannya malah menjawab “kamu harus tahu sendiri!”.

Padahal tidak semua orang bisa langsung peka terhadap harapan pasangannya.

Contoh nyata:

Seorang suami yang tidak tahu harus berbuat apa mengirim bunga ke istrinya sebagai permintaan maaf. Tapi sang istri malah menangis—karena itu bukan yang dia butuhkan.

Jika sejak awal istri berkata: “Aku ingin kita lebih sering bersama. Bisa nggak kita setidaknya makan malam bersama dua kali seminggu dan ngobrol 10 menit sebelum tidur?”

Maka suami akan tahu tindakan konkret apa yang bisa dilakukan.

Kesimpulan: Kunci Hubungan Harmonis Adalah “Saling Menghormati”

Setiap rumah tangga punya tantangan sendiri. Namun fondasi hubungan suami istri yang sehat adalah saling menghormati.

Saat kita saling menghargai, kita akan mampu menyampaikan keinginan dan keluhan dengan lebih tenang. Hasilnya?

Kompromi yang sehat dan solusi bersama.(jhn/yn)

Dunia Terbalik: Israel Ajak Suriah dan Lebanon Damai, Ukraina Cabut Diri dari Konvensi Ranjau!

EtIndonesia. Dinamika geopolitik Timur Tengah dan Eropa kembali mencuri perhatian dunia. Dalam konferensi pers yang digelar di Tel Aviv, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, secara resmi mengumumkan ambisi Pemerintah Israel untuk memperluas cakupan Abraham Accords—sebuah kerangka perjanjian perdamaian dan normalisasi hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab yang dipelopori oleh Amerika Serikat sejak 2020.

Menurut laporan Reuters, Gideon Sa’ar menegaskan bahwa Israel secara aktif mendorong upaya pembicaraan dengan berbagai negara di kawasan, termasuk dua negara yang selama ini dikenal sangat berseberangan, yaitu Suriah dan Lebanon. 

“Kami terbuka untuk memperluas Abraham Accords ke negara mana pun yang siap bergerak ke arah perdamaian dan stabilitas kawasan. Tidak ada negara yang kami tutup pintunya, bahkan Suriah dan Lebanon,” ujar Gideon Sa’ar.

Dia juga menyampaikan apresiasi kepada Amerika Serikat, khususnya Presiden Donald Trump yang sejak Mei lalu terus mendorong inisiatif normalisasi baru dan bahkan telah mengumumkan pencabutan semua sanksi terhadap Suriah untuk mendorong dialog konstruktif.

Perkembangan Konflik Ukraina-Rusia: Senjata Korea Utara Muncul di Medan Perang

Di saat isu Timur Tengah terus bergejolak, kawasan Eropa Timur pun tidak kalah panas. Pada 30 Juni, unit drone militer Ukraina mengumumkan sebuah keberhasilan signifikan di garis depan: sebuah kendaraan peluncur roket berganda buatan Korea Utara yang dipasok kepada Rusia berhasil dihancurkan melalui serangan drone presisi.

Berdasarkan video yang dirilis oleh pihak militer Ukraina, kendaraan peluncur roket tipe M1991 kaliber 240mm—yang memiliki jangkauan tembak hingga 60 kilometer—meledak hebat setelah dihantam drone Ukraina. Dua personel militer Rusia yang berada di dalam kabin dilaporkan berhasil melarikan diri sebelum kendaraan tersebut terbakar habis.

Sebelumnya, menurut sejumlah laporan intelijen Barat, sejak awal 2024 Korea Utara telah memasok sekitar 100 unit peluncur roket M1991 ke Rusia. Penggunaan senjata ini oleh militer Rusia pertama kali terungkap ke publik pada bulan April, saat video penembakan roket tersebut beredar luas di media sosial dan menjadi sorotan dunia internasional.

Ukraina Mundur dari Konvensi Ottawa Akibat Agresi Rusia

Masih di tanggal yang sama, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengumumkan langkah besar yang langsung menjadi perbincangan internasional: Ukraina secara resmi menarik diri dari Konvensi Ottawa—sebuah perjanjian internasional yang melarang penggunaan, produksi, dan penyimpanan ranjau darat anti-personil.

Langkah ini diambil menyusul intensitas serangan Rusia yang kian membabi buta dengan penggunaan ranjau mematikan di wilayah Ukraina. Dalam konferensi video yang digelar bersama para pejabat tinggi Ukraina, Zelenskyy menegaskan bahwa keselamatan negara dan rakyat Ukraina kini harus menjadi prioritas utama di tengah ancaman agresi militer yang belum mereda.

“Karena serangan Rusia yang tak pandang bulu dengan menggunakan ranjau, Ukraina terpaksa menarik diri dari Konvensi Ottawa demi melindungi kedaulatan negara dan keselamatan warganya,” ungkap Zelenskyy.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina menambahkan bahwa keputusan ini telah disampaikan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan akan berlaku enam bulan setelah pemberitahuan resmi diterima. Namun, jika pada saat tenggat tersebut Ukraina masih dalam kondisi perang atau darurat militer, maka penarikan diri akan efektif setelah konflik benar-benar dinyatakan berakhir.

Sebagai catatan, Amerika Serikat dan Rusia memang sejak awal tidak menjadi anggota Konvensi Ottawa, dengan alasan pertimbangan strategis dan keamanan nasional masing-masing negara.

Kesimpulan:

Situasi geopolitik internasional terus bergerak dinamis. Di Timur Tengah, Israel berupaya memperluas perdamaian ke wilayah-wilayah yang selama ini dikenal penuh konflik, sementara di Eropa Timur, Ukraina mengambil keputusan ekstrem demi kelangsungan negara di tengah serangan Rusia yang tak kunjung reda. Langkah-langkah ini menegaskan bahwa peta politik global masih jauh dari kata stabil, dan berbagai negara terus menyesuaikan strategi demi bertahan dalam arus perubahan zaman.