AS Serang Fasilitas Nuklir Iran, Posisi PKT Makin Canggung

Ketegangan antara Israel dan Iran terus memanas. Militer AS akhirnya turun tangan dengan membombardir fasilitas nuklir Iran. Banyak pihak menilai, langkah ini memberikan pukulan telak bagi “kakak besar” di belakang Iran, yaitu Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang kini menghadapi tekanan berlapis dan posisi yang semakin sulit di Timur Tengah.

EtIndonesia. Pada 21 Juni waktu setempat, Presiden AS Donald Trump mengumumkan melalui platform media sosialnya “Truth Social” bahwa militer AS berhasil membom tiga fasilitas nuklir Iran—Fordow, Natanz, dan Isfahan—dengan seluruh pesawat tempur kembali dengan selamat.

AS Gunakan Bom Penembus Bunker, Target Utama: Fasilitas Bawah Tanah Iran

“Fasilitas nuklir Iran sangat unik karena tersembunyi di bawah tanah. Israel tidak memiliki kemampuan menyerang target bawah tanah sedalam itu, sehingga dibutuhkan senjata khusus seperti bom penembus bunker raksasa GBU-57 milik AS untuk menghancurkan instalasi nuklir tersembunyi itu. Inilah tujuan utama serangan kali ini,” ujar Dr. Chung Chih-tung dari Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan. 

Iran: Sekutu Strategis PKT di Timur Tengah

Selama ini, Iran menjalin hubungan erat dengan PKT dan Rusia, bahkan dianggap sebagai perwakilan kepentingan mereka di Timur Tengah. Iran diketahui mendukung kelompok teroris seperti Hamas dan giat mengembangkan senjata nuklir demi menjadi negara nuklir.

Pada 13 Juni lalu, Israel melancarkan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran karena kekhawatiran bahwa Iran hampir mencapai titik kritis senjata nuklir.

Beijing Bereaksi Keras, Posisi Diplomatik Makin Canggung

Berbeda dari respons awal saat Rusia menginvasi Ukraina, Kementerian Luar Negeri PKT langsung mengecam Israel dan mendesak penghentian serangan.

Su Tzu-yun, Kepala Divisi Strategi dan Sumber Daya, Institut Penelitian Pertahanan Taiwan, menyatakan: “PKT saat ini berada di posisi paling canggung. Dengan kehilangan Iran, PKT bukan hanya kehilangan pijakan geopolitik penting, tetapi juga pasokan 1,7 juta barel minyak mentah murah. Jadi ini adalah pukulan berlapis bagi PKT.”

Su juga menjelaskan, karena Iran dikenai sanksi dan diisolasi internasional, PKT diam-diam membeli minyak Iran dengan harga murah serta menjadikan Iran bagian dari agenda ekonomi kolonial melalui skema “Belt and Road”. Jika terjadi pergantian rezim di Iran dan sanksi dicabut, pemerintah baru tidak akan lagi bersahabat dengan Beijing.

Jika Iran Blokir Selat Hormuz, PKT Bisa Kena Getahnya

Banyak pihak khawatir, jika situasi memanas, Iran bisa menutup Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dunia. Su Tzu-yun menilai hal ini akan makin memojokkan posisi Beijing.

“Menjaga keamanan di Selat Hormuz menguntungkan semua pihak. Tapi karena PKT dan Iran adalah sekutu, kalau Angkatan Laut PKT ikut bergabung dalam misi pengamanan, tentu Barat akan menyambut. Tapi ini sama saja dengan Beijing menendang kakinya sendiri. Soal Selat Hormuz, Beijing ibarat bercermin—apa pun yang dilakukan tetap salah.”

Trump Tegas: Fasilitas Nuklir Iran Telah Dihancurkan

Pada  21 Juni malam, Presiden Trump menyampaikan pidato nasional bahwa: “Fasilitas pengayaan nuklir Iran telah dihancurkan total.”

Ia memperingatkan Iran bahwa jika tidak menyetujui perjanjian damai, serangan lanjutan yang lebih besar akan dilakukan.

AS Serang 3 Target Sekaligus: Nuklir, Kredibilitas, dan Dominasi PKT-Rusia

Menurut Su Tzu-yun: “Serangan Trump ini sekaligus menargetkan tiga hal:

  1. Menghancurkan kemampuan nuklir Iran;
  2. Memulihkan reputasi AS di dunia Arab—banyak negara berharap Trump menghentikan ancaman bersama;
  3. Mengusir pengaruh PKT dan Rusia dari kawasan tersebut.”

PKT Terbatas dalam Mendukung Iran, Takut Picu AS

Sebelumnya, banyak pihak bertanya apakah AS akan terlibat langsung dalam konflik Israel-Iran. Trump sempat mengatakan akan membuat keputusan dalam dua minggu. Saat ditanya apakah AS akan mengerahkan pasukan darat, ia menjawab dengan tegas: “Saya tidak ingin membahas pasukan darat.”

Dr. Chung Chih-tung menambahkan: “Dalam perang terbatas seperti ini, cara PKT mendukung Iran adalah dengan menjadi mediator, memberi Iran waktu untuk negosiasi. Bila perang berlanjut, dukungan ekonomi dan pasokan militer dari PKT bisa diprediksi, mirip dukungannya terhadap Rusia.”

Ia menegaskan bahwa meskipun PKT akan mati-matian menjaga rezim Iran tetap bertahan, mereka tidak punya kemampuan atau keberanian untuk terlibat langsung secara militer, karena itu akan langsung memicu kemarahan besar dari AS. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Badai di Teheran ! Jet Tempur Hancur, Penjara Oposisi Meledak, Israel Tinggalkan Pesan Kebebasan

EtIndonesia. Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya pada hari Senin (23/6), setelah pasukan Israel melancarkan serangan udara terkoordinasi yang melumpuhkan sejumlah infrastruktur vital Iran. Dalam aksi militer yang digambarkan sebagai “serangan dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya”, jet tempur Israel menyasar enam bandara utama di wilayah barat, timur, dan tengah Iran. Akibat serangan ini, sedikitnya 15 unit pesawat tempur dan helikopter serang milik Angkatan Udara Iran hancur di darat. Tak hanya itu, pesawat pengisian bahan bakar yang selama ini disembunyikan di hanggar bawah tanah ikut diluluhlantakkan, sehingga mematikan hampir seluruh kemampuan tempur udara Iran dalam satu malam.

Tak berhenti di situ, militer Israel juga menargetkan sejumlah pusat kekuasaan dan simbol penindasan rezim Teheran. Menurut laporan AFP, jet-jet tempur Israel menghantam markas Garda Revolusi, milisi Basij, serta Penjara Evin—sebuah penjara berpengamanan tinggi yang selama ini terkenal menampung para tahanan politik dan oposisi rezim. Ledakan dahsyat bahkan terjadi di pintu gerbang Penjara Evin, yang kemudian viral setelah Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, mengunggah video momen tersebut di platform X (dulu Twitter) dengan pesan singkat: “Hidup kebebasan.”

Dalam pernyataan resminya, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menegaskan bahwa operasi ini memang dirancang untuk menekan langsung “inti kekuasaan” Teheran. Dia menyebut serangan ini sebagai pesan tegas kepada para pemimpin Iran bahwa dunia tidak lagi mentoleransi kebijakan penindasan dan program nuklir rahasia mereka.

AS dan Israel Kompak, Iran Terpojok

Dikutip dari The Wall Street Journal yang berbicara dengan pejabat keamanan Israel, tujuan utama Israel kini adalah memastikan perang dengan Iran segera berakhir—terlebih setelah Amerika Serikat sebelumnya menghancurkan fasilitas nuklir strategis Iran.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam konferensi pers menegaskan bahwa Amerika tidak berencana melakukan operasi militer lebih lanjut, kecuali jika Iran berani membalas dan menyerang kepentingan atau warga Amerika. Rubio menegaskan bahwa dialog masih terbuka, namun memperingatkan Teheran agar segera “menyadari realitas baru” dan menerima bahwa program nuklir sipil boleh berjalan, namun pengayaan uranium ke level militer adalah garis merah yang tak bisa dinegosiasikan.

Wakil Presiden AS, JD Vance, pada 22 Juni menegaskan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran telah “memundurkan program nuklir Iran selama bertahun-tahun ke belakang.” Dia menambahkan, Amerika tidak berniat menggulingkan rezim Iran, belajar dari pengalaman pahit di Libya—di mana kekosongan kekuasaan justru menimbulkan perang saudara dan tumbuhnya ekstremisme. Menurut Vance, risiko Iran menjadi “Libya kedua” sangat besar, apalagi negeri para mullah itu merupakan negara teokrasi tanpa oposisi formal dan berpotensi melahirkan puluhan faksi ekstremis jika terjadi kekacauan internal. Dia juga memperingatkan bahwa keterlibatan sekutu Iran seperti Rusia dan Tiongkok berpotensi memperluas konflik menjadi perang regional yang tak berujung.

Penjara Politik Dibom: Upaya Membebaskan Oposisi atau Tekanan Psikologis?

Salah satu langkah yang menuai kontroversi adalah serangan langsung ke Penjara Evin—tempat para oposisi, jurnalis, dan aktivis hak asasi manusia selama ini mendekam. Banyak pengamat menilai tindakan Israel ini sebagai isyarat memberi ruang bagi para pembangkang untuk melawan dari dalam, sekaligus “membebaskan” suara-suara perubahan yang selama ini dibungkam oleh rezim Ayatollah.

Namun, beberapa kalangan justru menyoroti risiko besar dari taktik ini, mengingat kemungkinan terjadinya kerusuhan internal, aksi balas dendam, serta kekacauan hukum di tengah masyarakat Iran yang selama ini hidup dalam tekanan.

Dinamika Gencatan Senjata: Masih Penuh Tanda Tanya

Situasi menjadi semakin kompleks ketika, pada sore hari waktu Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengumumkan di Truth Social bahwa Israel dan Iran telah sepakat melakukan gencatan senjata. Namun, pernyataan ini segera dibantah oleh pejabat kedua negara.

Menteri Luar Negeri Iran secara tegas menyatakan tidak pernah ada kesepakatan gencatan senjata, bahkan menyebut kabar tersebut sebagai “hoaks”. Kantor berita Fars, corong resmi Pemerintah Iran, juga berjanji akan membuktikan bahwa informasi tersebut tidak benar. Di kubu Israel, Perdana Menteri Netanyahu memerintahkan seluruh menterinya untuk tidak mengeluarkan komentar resmi terkait isu gencatan senjata, menunjukkan adanya kehati-hatian dan ketidakpastian di level elite politik.

Laporan Jerusalem Post mengungkapkan detail menarik di balik operasi militer terbaru. Awalnya, Trump hanya menginstruksikan pemboman pada fasilitas nuklir Fordow. Namun, setelah konsultasi intensif dengan Netanyahu dan Menteri Urusan Strategis Israel, keputusan diubah—target diperluas ke Natanz dan Isfahan, dua lokasi vital program nuklir Iran. Dalam eksekusi operasi ini, militer AS memegang peranan kunci sebagai pelaksana utama, sementara Israel menyuplai data intelijen dan logistik penting. Kolaborasi erat ini juga disertai “sandiwara” perbedaan pendapat di muka publik, untuk mengecoh pihak Iran terkait target dan waktu serangan.

Iran Terpaksa Mengakhiri Perang, Peran Tiongkok Jadi Penentu

Saat ini, hampir seluruh program nuklir Iran dikabarkan telah hancur atau setidaknya lumpuh total akibat serangan beruntun. Iran, yang semula bersikap keras, tampak mulai kehilangan kekuatan untuk membalas. Selain kerugian militer yang sangat besar, tekanan juga datang dari Tiongkok—mitra ekonomi dan diplomatik utama Iran. Beijing, menurut sejumlah sumber diplomatik, tidak merestui perang berkepanjangan yang berpotensi mengganggu stabilitas regional dan pasar energi global. Isyarat penolakan dari Tiongkok membuat Teheran akhirnya mempertimbangkan untuk “menurunkan tensi” dan membuka pintu negosiasi.

Penutup: Dunia Menanti Babak Berikutnya

Serangan besar ke Iran ini bukan hanya menunjukkan superioritas teknologi militer Israel dan Amerika Serikat, tapi juga menjadi momen penentu bagi nasib kawasan Timur Tengah ke depan. Pertanyaan yang kini muncul: Akankah tekanan frontal dan kehancuran fasilitas strategis mampu menundukkan Iran di meja diplomasi? Ataukah justru memicu gelombang radikalisme baru dan konflik berkepanjangan? Yang pasti, dunia masih menanti, sementara di balik layar, diplomasi dan kekuatan militer terus berpacu menentukan arah sejarah.

Sate Klopo Cak Mad: Merintis Usaha Inspirasi dari Menu Idola Keluarga Besar

0

Kuliner Jawa Timur memang tidak pernah ada habisnya terutama kuliner Surabaya. Di tengah gemerlap kuliner Surabaya yang kaya akan cita rasa, Sate Klopo Cak Mad hadir sebagai salah satu hidangan ikonik yang berhasil memikat lidah banyak orang. Berdiri sejak 2015, usaha ini didirikan oleh Rusli Yuwelana (Cak Rusli), seorang pengusaha kuliner asli Surabaya yang lahir pada 1984. Dengan tekad kuat dan semangat pantang menyerah, Cak Rusli membangun bisnisnya dari nol hingga kini menjadi salah satu destinasi sate klopo favorit di Kota Pahlawan. 

Awal Mula Berdirinya Sate Klopo Cak Mad 

Rusli Yuwelana memulai usahanya dengan berjualan sate klopo di depan sekolah Pucang Jajar, Kertajaya, Surabaya. Awalnya, ia hanya menyewa sebuah tempat kecil di sekitar kantin sekolah. Namun, karena ketekunan dan rasa sate yang khas, pelanggannya semakin bertambah. Setahun berjalan, Rusli memutuskan untuk mengembangkan usahanya secara mandiri dengan dukungan penuh dari sang istri. 

Inspirasi mendirikan usaha sate klopo ini berawal dari kenangan masa kecil Cak Rusli. Setiap berkunjung ke rumah kakeknya di daerah Pacar Keling, Surabaya, ia selalu disuguhi sate klopo yang lezat. Kenangan itulah yang kemudian memotivasinya untuk menciptakan hidangan serupa dengan cita rasa otentik.  Maka terciptalah sate klopo ala Cak Rusli namun diberi label Sate Klopo Cak Mad (nama putra pertamanya bernama Muhammad).

“Saya ingin meninggalkan warisan untuk anak keturunan saya usaha kuliner ini maka saya beri nama Sate Klopo Cak Mad, seperti nama anak saya,” jelas Cak Rusli kepada The Epoch Times.

Perjuangan dan Inovasi dalam Membangun Brand 

Membangun usaha kuliner bukanlah hal mudah. Cak Rusli mengawali bisnisnya dengan mencoba berbagai resep, terutama dengan bantuan istrinya yang terus berinovasi dalam menciptakan bumbu sate yang khas. Salah satu keunikan Sate Klopo Cak Mad terletak pada bumbu kacangnya yang kasar dan juga irisan sate yang lebih besar namun tetap empuk dan bumbu khas yang berbeda, memberikan sensasi berbeda dibanding sate pada umumnya. 

Awalnya, pemasaran dilakukan secara offline melalui komunitas-komunitas kuliner yang diikuti Cak Rusli. Namun, seiring perkembangan zaman, ia mulai memanfaatkan media sosial dan platform online seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood. Strategi ini terbukti efektif dalam memperluas jangkauan pelanggan. 

Konsistensi Rasa dan Warisan untuk Generasi Selanjutnya

Salah satu kunci kesuksesan Sate Klopo Cak Mad adalah konsistensi rasa. Cak Rusli sangat menjaga kualitas bumbu dan penyajiannya sehingga pelanggan selalu mendapatkan cita rasa yang sama setiap kali berkunjung. Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp13.000 hingga Rp30.000 per porsi (porsi lengkap dengan nasi sate daging ayam dan daging sapi), dengan harga murah namun sedap membuat sate ini digemari berbagai kalangan. 

Cak Rusli berharap usaha ini dapat menjadi warisan kuliner bagi anak-anaknya, Muhammad Ridho dan Muhammad Attar. Ia ingin bisnis ini terus berkembang dan menjadi legenda seperti sate-sate legendaris lainnya di Surabaya. 

Pantang Menyerah dan Modal Kecil Bisa Jadi Besar 

Bagi Cak Rusli, menjadi pengusaha UMKM harus memiliki mental pejuang. Ia menekankan bahwa kesuksesan tidak datang instan. Meski demikian Cak Rusli mengaku saya bisa tiga hari sekali menusuk daging untuk sate minimal 300 tusuk (daging sapi dan daging ayam).

“UMKM itu harus kuat, berawal dari kecil biar menjadi besar. Jangan mudah menyerah hanya karena hari ini sepi. Besok buka lagi, terus berdoa, yakin pasti ramai.”  Kata Cak Rusli yang istrinya juga memiliki usaha warung penyetan.

Ia juga percaya bahwa media digital memegang peranan penting dalam memajukan usaha kecil. Dengan memanfaatkan sosial media (dapat dipesan melalui WA (087855946618), pemasaran bisa dilakukan tanpa harus membuka gerai besar.  Untuk mencicipi di warungnya berada di jalan menur V no 31 Surabaya, (daerah pasar lokal di gang tersebut) atau juga dapat dipesan 24 jam di Artotel TS Suite Sutos Surabaya.

Visi ke Depan: Ekspansi dan Menjadi Legenda Kuliner Surabaya

Ke depan, Cak Rusli berencana untuk terus mengembangkan usahanya, baik dari segi pemasaran maupun varian menu. Ia juga aktif mengikuti pameran kuliner untuk memperkenalkan Sate Klopo Cak Mad ke lebih banyak orang. 

“Saya ingin sate ini dikenal bukan hanya di Surabaya, tapi juga di seluruh Indonesia. Yang penting konsisten, pelan-pelan pasti bisa besar,” ujarnya penuh semangat. 

Sate Klopo Cak Mad adalah bukti bahwa usaha kecil dengan ketekunan dan konsistensi bisa tumbuh menjadi legenda. Rusli Yuwelana membangun bisnisnya dari bawah, mengandalkan kualitas, dan memanfaatkan teknologi untuk berkembang. Dengan semangat pantang menyerah, ia berharap usaha ini akan terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.  Bagi pecinta kuliner Surabaya, Sate Klopo Cak Mad bukan sekadar hidangan, melainkan sebuah cerita perjuangan, kenangan, dan warisan rasa yang tak terlupakan. 

“Dari kecil jadi legenda, itulah mimpi kami.” – Rusli Yuwelana.

Detail Serangan Mendadak AS ke Iran Terungkap, Trump Pamerkan Video Kembalinya B-2 Bomber

EtIndonesia. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine pada 22 Juni,  menggelar jumpa pers di Pentagon untuk menjelaskan rincian operasi serangan AS ke fasilitas nuklir Iran. .

Hegseth mengatakan: “Meski penilaian dampak masih berlangsung, semua senjata berpemandu presisi berhasil mengenai target yang dituju dan mencapai efek yang diharapkan.”

Jenderal Caine menyebut bahwa misi ini dinamai Operasi Midnight Hammer, melibatkan lebih dari 125 pesawat militer, termasuk:

  • Pesawat pembom B-2 stealth
  • Pesawat pengisian bahan bakar
  • Pesawat pengintai
  • Jet tempur

Taktik Pengecohan: Dua Rombongan B-2, Salah Satunya Umpan

Untuk mengecoh musuh, AS mengirim dua kelompok B-2 dari daratan Amerika:

  • Satu kelompok sebagai umpan diterbangkan ke arah barat menuju Samudera Pasifik.
  • Kelompok lainnya (7 B-2 bomber) secara diam-diam menuju Iran dan menjatuhkan 14 bom penembus bunker (MOP) ke Fordow dan Natanz.
  • Fasilitas ketiga di Isfahan dihantam dengan rudal jelajah Tomahawk, untuk memastikan efek kejutan maksimal.

Serangan Hanya Butuh 25 Menit, Iran Tak Memberi Respons

Jenderal Caine menyebut:

  • Pesawat-pesawat lepas landas dari Missouri.
  • Ini adalah operasi B-2 terbesar dalam sejarah AS.
  • Puluhan rudal Tomahawk juga ditembakkan ke sejumlah target di Iran.

Seluruh operasi hanya berlangsung 25 menit antara pukul 18:40 hingga 19:05 waktu bagian timur AS (ET) pada 21 Juni.

Setelah selesai, seluruh pesawat keluar dari wilayah udara Iran dan kembali ke pangkalan. Selama operasi:

  • Militer Iran tidak memberikan respons apapun.
  • Jet tempur Iran tidak lepas landas.
  • Sistem rudal permukaan-ke-udara Iran tidak mendeteksi keberadaan pesawat AS.

“Kami berhasil mempertahankan elemen kejutan total,” ujar Jenderal Caine. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Fasilitas Rudal Iran Kembali Diserang Militer Israel, Penerbangan Global Menghindari Timur Tengah

EtIndonesia. Setelah tiga fasilitas nuklir Iran dibombardir oleh militer AS, Iran membalas dengan menembakkan 30 rudal ke arah Israel. Sebagai tanggapan, militer Israel pada  22 Juni melancarkan serangan udara baru ke sejumlah target militer di Iran, termasuk kota Qom di wilayah barat dan tengah Iran. Serangan tersebut menyasar fasilitas peluncuran dan penyimpanan rudal Iran. Sementara itu, akibat aksi saling tembak rudal antara Israel dan Iran, maskapai penerbangan dunia terus menghindari sebagian besar wilayah udara Timur Tengah.

Menurut laporan AFP, militer Israel menyampaikan melalui aplikasi Telegram bahwa: “Sekitar 20 pesawat tempur (Angkatan Udara Israel) melakukan serangan berdasarkan informasi intelijen, dan menjatuhkan lebih dari 30 bom ke target militer Iran.”

Dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa target serangan adalah infrastruktur penyimpanan dan peluncuran rudal, serta satelit militer dan stasiun radar Iran.

Dalam pernyataan sebelumnya, militer Israel menyebutkan bahwa mereka telah menyerang peluncur rudal Iran yang sedang bersiap menyerang wilayah Israel, serta menghancurkan peluncur rudal yang baru saja digunakan untuk menyerang Israel.

Pada 22 Juni, sirine peringatan serangan udara terdengar di banyak wilayah Israel, termasuk Tel Aviv (kota terbesar kedua) dan Yerusalem.

Penerbangan Global Hindari Wilayah Udara Timur Tengah

Menurut laporan Reuters, sebuah organisasi pemantau risiko penerbangan pada  22 Juni memperingatkan bahwa akibat konflik rudal antara Israel dan Iran, maskapai penerbangan global terus menghindari wilayah udara Timur Tengah.

Situs Safe Airspace, yang dijalankan oleh organisasi industri penerbangan OPSGROUP, menyatakan: “Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa mereka akan melakukan pembalasan secara langsung maupun melalui perantara seperti Hizbullah terhadap kepentingan militer AS di kawasan.”

FlightRadar24, situs pelacak penerbangan, juga menunjukkan bahwa maskapai telah mengalihkan jalur penerbangan di sekitar kawasan tersebut.

Dari pantauan FlightRadar24, tidak ada pesawat komersial yang melintasi wilayah udara Iran, Irak, Suriah, dan Israel.
Maskapai memilih jalur yang lebih aman, seperti melalui Laut Kaspia di utara, atau melalui Mesir dan Arab Saudi di selatan, meskipun jalur ini meningkatkan biaya bahan bakar, sumber daya manusia, dan memperpanjang waktu tempuh.

Sebagai contoh:

  • Singapore Airlines menyatakan bahwa mereka telah membatalkan penerbangan dari Singapura ke Dubai setelah melakukan penilaian keamanan.
  • British Airways juga membatalkan penerbangan menuju dan dari Dubai dan Doha.

Israel Buka Kembali Wilayah Udaranya Selama 6 Jam untuk Evakuasi

Setelah meluncurkan rentetan rudal ke arah Iran sebagai balasan, Israel kembali membuka wilayah udaranya selama 6 jam pada  22 Juni untuk memulangkan warganya yang tertahan di luar negeri sejak konflik Israel-Iran pecah pada 13 Juni.

Otoritas Bandara Israel menyampaikan bahwa mulai 23 Juni, jumlah “penerbangan evakuasi” menuju Israel akan ditingkatkan hingga 24 kali sehari, dari berbagai negara.
Sementara itu, setiap penerbangan yang berangkat dari Israel hanya boleh mengangkut maksimal 50 penumpang. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Krisis Teluk Persia Meledak! Tiongkok Ancam Iran, Amerika Kirim Bomber Siluman, Rusia Main Kartu Nuklir

EtIndonesia. Krisis geopolitik terbaru meletus di kawasan Teluk Persia setelah Parlemen Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz—jalur pelayaran paling vital dunia yang menjadi nadi utama ekspor minyak dari Timur Tengah. Setidaknya 20 juta barel minyak, atau sekitar 30% kebutuhan dunia, melewati selat sempit ini setiap harinya. Keputusan sepihak Iran tersebut sontak mengguncang pasar energi global dan memicu gelombang kecemasan di berbagai belahan dunia.

Penutupan Selat Hormuz bukan hanya ancaman bagi negara-negara Barat, tetapi juga menjadi pukulan telak bagi Tiongkok. Negeri Tirai Bambu merupakan importir minyak terbesar dari kawasan Teluk, terutama dari Iran. Jika aliran minyak terhenti, rantai pasokan energi Tiongkok akan lumpuh, berpotensi memicu krisis ekonomi dan lonjakan harga minyak secara global.

Peringatan Keras dari Tiongkok: Jalur Perdagangan Jangan Disentuh!

Sebagai reaksi langsung, Pemerintah Tiongkok pada hari ini mengeluarkan peringatan keras terhadap Teheran. Melalui pernyataan resmi juru bicara Kementerian Luar Negeri, Beijing menuntut agar Iran tetap menjaga stabilitas Selat Hormuz dan tidak mengganggu jalur perdagangan internasional yang melintasi kawasan tersebut. Tiongkok menegaskan pentingnya kelancaran lalu lintas perdagangan demi stabilitas ekonomi dunia.

Tak hanya itu, Tiongkok juga mendesak seluruh anggota Dewan Keamanan PBB mendukung resolusi bersama—disponsori oleh Tiongkok, Rusia, dan Pakistan—yang menuntut segera dilaksanakannya gencatan senjata tanpa syarat. Beijing juga mengonfirmasi sedang melakukan komunikasi langsung tingkat tinggi dengan otoritas Iran demi meredakan ketegangan.

Amerika Serikat Ikut Turun Tangan: Peringatan untuk Beijing dan Iran

Pemerintah Amerika Serikat, melalui Menteri Luar Negeri, Rubio pada 22 Juni, secara tegas meminta Tiongkok menggunakan pengaruhnya untuk mencegah Iran menutup Selat Hormuz. Rubio menekankan, jika jalur minyak dunia tertutup, justru Tiongkoklah yang akan paling terdampak karena lebih dari separuh kebutuhan energinya bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut.

Pada rapat darurat Dewan Keamanan PBB yang digelar hari itu, situasi semakin memanas. Perwakilan Tiongkok di PBB, Fu Cong, secara terbuka mengecam aksi militer Amerika Serikat ke Iran, menuduh Washington telah menghancurkan kredibilitasnya sebagai mitra internasional dan melanggar kedaulatan Iran. 

Sebaliknya, Duta Besar AS untuk PBB, Shea, menyampaikan sikap keras: “Serangan Amerika bertujuan memaksa Iran menghentikan program nuklirnya. Jika Iran menyerang warga atau pangkalan AS—baik secara langsung maupun tidak langsung—maka kami akan membalas dengan kekuatan yang menghancurkan.”

Rusia Dukung Iran, Medvedev Ancam Pasok Nuklir

Di tengah ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran melakukan kunjungan darurat ke Rusia dan mendapat dukungan terbuka dari Presiden Vladimir Putin. Yang paling mengejutkan, mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev terang-terangan mengancam akan memasok hulu ledak nuklir untuk Iran, jika diperlukan.

“Jika benar Medvedev sudah bicara soal ‘nuklir’ dan dukungan senjata ke Iran, segera laporkan pada saya,” ujar Trump melalui Truth Social—seolah ingin menegaskan bahwa Amerika akan bereaksi keras jika Rusia berani bermain api.

Pernyataan Trump tersebut dibaca oleh banyak pengamat sebagai sinyal ancaman tegas bagi Moskow. Publik internasional pun dibuat tegang, sebab eskalasi lebih lanjut dapat menyeret dunia ke ambang konfrontasi nuklir.

Operasi Militer Amerika: B-2 Bomber Kembali Jadi Mimpi Buruk Dunia Timur

Dalam serangan udara terbaru ke Iran, Amerika Serikat mengerahkan pesawat pengebom siluman B-2, yang dikenal sangat sulit dideteksi radar. Tiga fasilitas nuklir penting Iran berhasil dilumpuhkan dalam satu serangan terkoordinasi. Dalam berbagai simulasi perang, B-2 memang menjadi momok yang menakutkan, terutama bagi Tiongkok dan Rusia.

Banyak warganet teringat pernyataan Trump setahun silam yang sempat viral: “Jika Tiongkok menyerang Taiwan, saya akan mengebom Beijing!”—dan fakta di lapangan kini menunjukkan, ancaman itu bukan sekadar gertakan politik.

Manuver Tiongkok: Dugaan Pengiriman Bantuan ke Iran

Di tengah eskalasi konflik, laporan intelijen menyebutkan Tiongkok mengirim tiga pesawat kargo Boeing 747 ke Iran. Meskipun belum ada konfirmasi resmi, kuat dugaan misi tersebut berkaitan dengan dukungan militer atau logistik guna memperpanjang konflik serta mengalihkan perhatian Amerika dari isu Taiwan.

Pengamat keamanan senior Huang Wei Han dan Profesor Ming Juzheng meyakini, jika konflik di Iran dibiarkan berlarut-larut, Tiongkok bisa saja memanfaatkan kekosongan perhatian global untuk melakukan langkah militer ke Taiwan. Karena itulah, aksi cepat Amerika di Iran dilihat sebagai strategi pencegahan terhadap ambisi Tiongkok di Asia Timur.

Dampak Strategis: Iran, Taiwan, dan Poros “Kekuatan Jahat”

Pengamat menilai, perang di Iran sangat berkaitan erat dengan keamanan Selat Taiwan. Jika rezim Iran jatuh, maka struktur aliansi kekuatan anti-Barat di Timur Tengah—termasuk pengaruh Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara—akan terguncang hebat. Hal ini akan menimbulkan tekanan strategis baru terhadap negara-negara yang selama ini menantang hegemoni Barat.

Penutup: Dunia Menuju Titik Didih Baru

Situasi di Selat Hormuz saat ini bukan hanya konflik regional, melainkan telah berkembang menjadi krisis global yang melibatkan kekuatan utama dunia: Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan Iran. Jalur minyak dunia kini dipertaruhkan. Apakah diplomasi akan menang, atau senjata akan kembali bicara?

Dunia kini menanti, dengan napas tertahan, babak baru sejarah di Teluk Persia—sebuah krisis yang bukan mustahil akan menentukan arah masa depan tatanan dunia.

Militer AS Bombardir Iran: Kekuatan B-2 dan Bom Penghancur Bunker Raksasa Terungkap

Pada 21 Juni malam waktu setempat, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah melancarkan serangan udara presisi terhadap tiga fasilitas nuklir Iran, termasuk menghancurkan fasilitas nuklir Fordow yang terletak jauh di bawah tanah. Trump mengungkapkan bahwa pesawat pembom siluman B-2 milik AS membawa enam bom penghancur bunker raksasa dalam serangan tersebut.

EtIndonesia. Sejak 13 Juni, Israel telah meluncurkan serangkaian serangan rudal ke Iran yang menghancurkan sebagian besar fasilitas militer permukaan Iran, menewaskan puluhan komandan militer senior dan sedikitnya 10 ilmuwan nuklir Iran.

Namun, untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang berada jauh di bawah tanah, satu-satunya senjata yang dianggap efektif adalah bom penghancur bunker raksasa milik AS — dan senjata ini hanya bisa dibawa oleh pesawat pembom siluman B-2.

Seberapa dahsyat kekuatan bom penghancur bunker raksasa milik AS?

Bom penghancur bunker raksasa AS (MOP) adalah bom konvensional terbesar yang dimiliki militer AS. Senjata ini dirancang untuk menghancurkan bunker bawah tanah yang kuat, dengan cara menembus ke dalam tanah atau struktur pertahanan sebelum meledak.

Salah satu varian paling kuat, GBU-57, memiliki berat mencapai 30.000 pon (sekitar 14 ton), panjang sekitar 6,25 meter, dan dilengkapi dengan sistem pemandu GPS untuk serangan yang sangat presisi. Bom ini mampu menembus lebih dari 60 meter beton bertulang, cukup untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah paling terlindung di dunia.

Menurut data dari Angkatan Udara AS, bom ini awalnya dikembangkan untuk menghancurkan senjata pemusnah massal yang disembunyikan di fasilitas bawah tanah yang sangat dilindungi. Namun, belum pernah digunakan dalam pertempuran nyata — sampai digunakan dalam serangan ke Iran kali ini.

Trump mengungkapkan bahwa pembom B-2 AS yang membawa enam bom penghancur bunker raksasa ikut serta dalam serangan udara terhadap fasilitas nuklir Fordow.

“Senjata Pamungkas” Peluncur Bom: Pesawat Pembom Siluman B-2

Saat ini, satu-satunya pesawat yang bisa meluncurkan bom penghancur bunker raksasa adalah B-2 Spirit — pesawat pembom siluman strategis milik militer AS. Setiap B-2 mampu membawa dua bom penghancur bunker dalam satu misi.

B-2 adalah pesawat militer termahal dalam sejarah, dengan harga sekitar 2,1 miliar dolar AS per unit. Pesawat ini menggunakan teknologi siluman tercanggih dan mulai diproduksi pada akhir 1980-an. Namun, setelah runtuhnya Uni Soviet, Pentagon mengurangi jumlah produksinya dan hanya membangun 21 unit.

B-2 dapat terbang lebih dari 11.000 kilometer tanpa pengisian bahan bakar. Dengan bantuan pengisian bahan bakar di udara, pesawat ini mampu menyerang target di mana pun di dunia dari pangkalannya di Amerika Serikat.

Pesawat ini memiliki kapasitas angkut lebih dari 40.000 pon (sekitar 18 ton), dapat membawa berbagai jenis senjata konvensional dan nuklir, termasuk dua bom penghancur bunker GBU-57A/B MOP. (Hui/asr)

Sumber  : NTDTV.com

Trump Pancing Amarah Dunia: Serangan ke Iran Picu Efek Domino Internasional!

EtIndonesia. Situasi geopolitik dunia kembali bergejolak setelah Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran ke fasilitas nuklir Iran. Tidak hanya memicu reaksi keras dari pemerintah dan militer Iran, peristiwa ini juga menimbulkan efek domino berupa peringatan keamanan global, demonstrasi anti-Amerika di berbagai negara, hingga perubahan sikap diplomasi sejumlah negara sahabat.

AS Keluarkan Peringatan Keamanan Global Usai Iran Ancam Balas Dendam

Pasca serangan presisi yang menghantam tiga fasilitas nuklir utama Iran, pemerintah Teheran secara terbuka mengancam akan membalas dengan menjadikan seluruh warga sipil dan militer Amerika Serikat di luar negeri sebagai target. Menyikapi ancaman ini, Departemen Luar Negeri AS pada 22 Juni waktu setempat langsung mengeluarkan imbauan keamanan berskala global.

Dalam rilis resminya, Pemerintah AS meminta seluruh warganya di luar negeri untuk meningkatkan kewaspadaan, menghindari lokasi ramai, dan selalu mengikuti perkembangan situasi dari sumber-sumber resmi pemerintah. 

“Risiko serangan balasan atau demonstrasi anti-AS sangat nyata di kawasan Timur Tengah dan bahkan di berbagai penjuru dunia,” tulis pernyataan tersebut.

Konflik Israel-Iran yang turut memanas akibat serangan ini juga telah menyebabkan gangguan lalu lintas udara, penundaan jadwal penerbangan internasional, hingga penutupan sejumlah wilayah udara. Pemerintah AS mengingatkan masyarakatnya untuk mempertimbangkan ulang perjalanan ke wilayah-wilayah berisiko tinggi dan memantau situs resmi pemerintah untuk update situasi terbaru.

Slogan “Make Iran Great Again” dan Isu Pergantian Rezim: Strategi Baru Trump

Tak hanya di panggung militer, situasi kian memanas di ranah politik. Pada hari yang sama, Presiden AS, Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah menggulirkan slogan provokatif “Make Iran Great Again” melalui media sosial pribadinya. Dia juga secara terbuka mempertanyakan: “Sudah saatnya Iran mengalami pergantian pemerintahan demi masa depan yang lebih baik?”

Pernyataan tersebut menuai kontroversi luas, lantaran bertolak belakang dengan sikap resmi Pemerintah Amerika Serikat yang menegaskan tidak berniat menggulingkan rezim di Iran. 

Wakil Presiden Vance dan Menteri Luar Negeri, Rubio menegaskan bahwa misi militer AS semata-mata untuk menekan kemampuan nuklir Iran, tanpa intervensi politik internal. Namun, langkah Trump semakin memperkuat citra dirinya sebagai sosok keras, sekaligus menambah ketidakpastian arah kebijakan Amerika di kawasan Timur Tengah.

Pakistan: Dari Pengusul Nobel ke Pengutuk Serangan Trump

Sikap kontradiktif juga ditunjukkan Pakistan dalam merespons perkembangan terbaru ini. Hanya sehari sebelum serangan AS ke Iran, Pemerintah Pakistan secara resmi mengajukan nama Donald Trump sebagai kandidat peraih Nobel Perdamaian, atas perannya menengahi konflik perbatasan India-Pakistan.

Namun, begitu berita serangan ke Iran tersebar, Islamabad langsung berbalik mengutuk keras tindakan Trump dan menyebutnya sebagai pelanggaran berat hukum internasional. Dalam pernyataan resminya, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, bahkan menghubungi Presiden Iran yang baru untuk menyampaikan penyesalan mendalam sekaligus menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan dialog damai.

Gejolak emosi juga terlihat di jalan-jalan Karachi. Ribuan warga Pakistan turun ke jalan dalam unjuk rasa besar-besaran, membakar poster bergambar Trump, menginjak-injak bendera AS, dan meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika, anti-Israel, serta anti-India. Aksi demonstrasi ini mencerminkan kemarahan dan kekhawatiran masyarakat Pakistan terhadap ketidakpastian keamanan di kawasan Asia Selatan.

Gedung Putih Tegaskan Tidak Akan Ada Perang Darat dengan Iran

Di tengah kecemasan global, Wakil Presiden AS, JD Vance berusaha menenangkan suasana dengan menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak berniat mengobarkan perang terbuka dengan Iran. 

Dalam jumpa pers di Washington, Vance menyampaikan: “Kami tidak dalam status perang penuh dengan Iran. Pemerintah tidak memiliki rencana mengirim pasukan darat ke wilayah Iran.”

Penegasan ini bertujuan meredam ketegangan internasional sekaligus memberikan sinyal bahwa langkah militer AS bersifat terbatas dan terukur, hanya menargetkan infrastruktur nuklir Iran tanpa melibatkan operasi militer berskala besar atau intervensi perubahan rezim.

Dampak Lanjutan: Ketidakpastian Global dan Potensi Gejolak Baru

Pakar geopolitik menilai, serangan AS ke Iran dan reaksi berantai di sejumlah negara telah memicu babak baru dalam dinamika keamanan internasional. Peringatan keamanan global yang dikeluarkan Amerika Serikat dinilai sebagai sinyal bahwa konflik bisa meluas jika aksi balasan Iran benar-benar terjadi.

Pihak maskapai penerbangan dunia juga telah bersiap melakukan penyesuaian rute, sementara pasar keuangan global mengalami tekanan akibat kekhawatiran eskalasi konflik yang melibatkan negara-negara besar.

Di sisi lain, respons masyarakat dunia masih terus bergulir. Demonstrasi anti-AS bukan hanya terjadi di Pakistan, tetapi juga mulai muncul di negara-negara lain di Timur Tengah, Afrika, bahkan di sebagian wilayah Eropa. Isu Iran dan peran Trump kembali menjadi perdebatan utama di berbagai media internasional.

Kesimpulan

Serangan AS ke fasilitas nuklir Iran telah memicu efek domino yang menegangkan, baik di ranah diplomasi, keamanan, hingga sosial-politik. Dengan peringatan keamanan global, aksi demonstrasi besar-besaran, dan munculnya wacana perubahan rezim di Iran, dunia kini kembali berada di persimpangan penuh ketidakpastian. Semua pihak menanti langkah selanjutnya dari Washington, Teheran, dan negara-negara sekutunya—sekaligus berharap agar krisis kali ini tidak berkembang menjadi konflik berskala lebih luas.

Parlemen Iran Setujui Penutupan Selat Hormuz, Dua Kapal Tanker Raksasa Putar Balik

EtIndonesia. Setelah Amerika Serikat menyerang fasilitas nuklir utama Iran, dunia kini memantau dengan ketat bagaimana Iran akan merespons. Menurut laporan, Parlemen Iran telah menyetujui langkah untuk menutup Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi energi dunia. Pada 22 Juni, dua kapal tanker super terlihat berbalik arah di dalam selat, menandakan potensi terganggunya pelayaran komersial di kawasan tersebut.

Selat Hormuz adalah perairan yang berbatasan dengan Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab, lebarnya sekitar 25 km, dan merupakan jalur pengiriman hampir seperempat pasokan minyak dunia.

Serangan gabungan AS dan Israel pada 21 Juni menyebabkan kerusakan besar di Iran dan dianggap sebagai serangan militer terbesar dari negara-negara Barat terhadap Iran sejak Revolusi Islam tahun 1979.

Stasiun televisi pemerintah Iran, Press TV, melaporkan bahwa parlemen telah menyetujui langkah penutupan Selat Hormuz. Namun, implementasi keputusan ini masih memerlukan persetujuan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, yang dipimpin oleh pejabat yang ditunjuk oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Menurut laporan Reuters, pemungutan suara ini tidak bersifat mengikat, karena keputusan akhir tetap ada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Namun, bahkan sebelum hasil pemungutan suara diumumkan, para analis sudah memprediksi kenaikan harga minyak sebesar US$5.

Para pengamat memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz benar-benar ditutup oleh Iran, maka akan memutus pasokan minyak dari Teluk Persia, menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, merusak perekonomian global, dan memicu konflik dengan Armada Kelima Angkatan Laut AS yang saat ini bertugas menjaga keamanan selat tersebut.

Menurut laporan AFP, harga minyak melonjak tajam pada pembukaan perdagangan 22 Juni. Minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 4%, mencapai level tertinggi sejak Januari tahun ini, meskipun kemudian sedikit turun.
Hingga pukul 23:35 GMT tanggal 22 Juni, harga minyak Brent naik 2,4% menjadi US$78,83 per barel, dan WTI naik 2,5% menjadi US$75,66 per barel.

Mengutip data pelacakan kapal yang dikumpulkan oleh Bloomberg News, dalam situasi risiko yang meningkat: Kapal tanker Coswisdom Lake dan South Loyalty pada 22 Juni masuk ke Selat Hormuz namun tiba-tiba berbalik arah dan bergerak ke selatan, menjauh dari mulut Teluk Persia.

Coswisdom Lake terdaftar dan dimiliki oleh perusahaan di Hong Kong, sedangkan South Loyalty berlayar di bawah bendera Kepulauan Marshall, dengan data kepemilikan yang tidak disebutkan, namun tercatat terhubung dengan Perusahaan Penyewaan Kapal Internasional Hong Kong.

Menteri Luar Negeri AS sekaligus Penasihat Keamanan Nasional, Marco Rubio, pada 22 Juni mendesak pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk mencegah Iran menutup Selat Hormuz.

 “Saya menyarankan pemerintah PKT agar segera menyerukan kepada Iran untuk tidak melakukan hal ini, karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk pasokan minyak mereka,” katanya. 

“Jika Iran melakukan hal ini, itu akan menjadi kesalahan besar lainnya. Itu akan sama saja dengan bunuh diri ekonomi. Kami memiliki berbagai opsi untuk menanggapi situasi ini, namun negara-negara lain juga harus mempertimbangkan. Dampaknya terhadap ekonomi mereka bisa jauh lebih parah daripada kami,” ujarnya. 

Sebelumnya, para pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak Iran untuk tidak mengambil tindakan yang dapat merusak stabilitas kawasan.

Pernyataan itu menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan tidak boleh lagi menjadi ancaman bagi keamanan regional. (Hui/asr)

Citra Satelit: Fasilitas Nuklir Fordow Iran Ditembus Bom Penembus Bunker, Muncul Enam Lubang

Pada 21 Juni, Amerika Serikat meluncurkan serangan dengan bom penembus bunker berdaya besar terhadap tiga fasilitas nuklir di Iran. Berdasarkan citra dari satelit komersial, serangan terhadap fasilitas nuklir Fordow menyebabkan kerusakan serius, bahkan mungkin telah menghancurkan fasilitas bawah tanah tersebut beserta sentrifugal pengayaan uranium di dalamnya, meski hal ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh para ahli. Pihak Iran sendiri berusaha meremehkan tingkat kerusakan.

EtIndonesia. Citra satelit memperlihatkan enam lubang pada pegunungan tempat fasilitas Fordow berada, yang diduga akibat bom penembus bunker, dengan tanda-tanda gangguan di sekitar permukaan tanah yang tertutup debu tebal.

Sejumlah pakar menyatakan bahwa kemungkinan besar Iran telah memindahkan sebagian uranium yang diperkaya mendekati level senjata dari Fordow sebelum serangan pada  21 Juni pagi. Uranium tersebut dan komponen nuklir lainnya diduga disembunyikan di lokasi-lokasi yang tidak diketahui oleh Israel, Amerika Serikat, maupun Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Citra dari Maxar Technologies menunjukkan adanya aktivitas tidak biasa pada 19 dan 20 Juni di fasilitas Fordow, termasuk antrean kendaraan di luar gerbang fasilitas. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada 22 Juni bahwa sebagian besar uranium yang diperkaya hingga 60% telah dipindahkan sebelum serangan.

Namun, mantan inspektur IAEA dan Direktur Institute for Science and International Security, David Albright, menyatakan:

“Mereka benar-benar menggunakan bom penembus raksasa (Massive Ordnance Penetrator, MOP) untuk menghantam langsung.”

 “Saya kira fasilitas itu kemungkinan besar sudah hancur.”

Namun begitu, Decker Eveleth, peneliti dari CNA Corporation yang khusus mempelajari citra satelit, menyatakan bahwa aula tempat ratusan sentrifugal dipasang terlalu dalam di bawah tanah, sehingga tingkat kerusakan tidak bisa dinilai hanya dari citra satelit.

Pakar pencegahan proliferasi nuklir dari Middlebury Institute of International Studies di Monterey, California, Jeffrey Lewis, mengatakan:

“Saya rasa sangat sulit untuk yakin sepenuhnya telah menghancurkan seluruh program nuklir mereka. Paling tidak hanya bisa menunda program mereka beberapa tahun.”
“Kemungkinan besar masih ada fasilitas lain yang belum diketahui keberadaannya.”

Kepala IAEA, Rafael Grossi, menyatakan bahwa sulit untuk menilai tingkat kerusakan fasilitas nuklir Iran, karena sejak serangan Israel pada 13 Juni, inspektur IAEA tidak dapat mengakses lokasi-lokasi nuklir di Iran.

Menurut AFP, meskipun komunitas internasional kesulitan menilai dampaknya, terutama karena fasilitas seperti Fordow dan Natanz berada di bawah tanah, beberapa pemerintah Eropa menyimpulkan bahwa sebagian besar program nuklir Iran telah rusak akibat serangan AS.

Informasi Tambahan:

  • Fasilitas Fordow:
    Terletak di bawah sebuah gunung, sekitar 100 km barat daya Teheran, dekat kota suci Syiah Qom. Tempat ini menjadi sasaran serangan “penuh muatan bom”.
  • Fasilitas Natanz:
    Terletak sekitar 220 km tenggara Teheran. Pengayaan uraniumnya telah mencapai kemurnian 60% (mendekati level senjata). Sebelumnya, Israel telah menghancurkan sebagian struktur permukaan fasilitas ini. Setelah serangan dengan bom GBU-57 oleh AS, terlihat kawah besar di lokasi tersebut.
    Fasilitas ini dulunya hanya digunakan untuk pengayaan uranium hingga 5%. Menurut IAEA, serangan Israel menyebabkan pemadaman listrik, sehingga sebagian besar sentrifugal rusak.
  • Fasilitas Isfahan:
    Sejak pecahnya perang antara Iran dan Israel pada 13 Juni, tempat ini sudah diserang oleh Israel. Sebelum serangan rudal jelajah AS, citra satelit telah menunjukkan kerusakan akibat pemboman Israel.
    Menurut IAEA, sebagian besar uranium yang diperkaya tinggi disimpan di bawah tanah di Isfahan, dan pintu masuk ke terowongan ini telah menjadi target serangan militer AS. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Strategi “Mengelabui Langit dan Laut”: Analisis Taktik Operasi “Palu Tengah Malam” Amerika Serikat

EtIndonesia. Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth  pada Minggu (22 Juni) di Pentagon menyatakan bahwa operasi pemboman terhadap Iran yang diberi nama “Midnight Hammer” (Palu Tengah Malam) telah meraih kesuksesan yang luar biasa dan menentukan, serta menghancurkan program nuklir Iran. Para analis menyebutkan bahwa keberhasilan operasi ini bergantung pada strategi militer menipu musuh, menciptakan pengalihan, dan penggunaan bom penembus bunker (drill bomb) secara cermat.

“Ini adalah operasi serangan terbesar dalam sejarah penggunaan pesawat pembom B-2 oleh Amerika Serikat, dan juga merupakan misi penerbangan terpanjang pesawat B-2 sejak aksi militer pasca-serangan 11 September 2001,” ujar Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Kane. 

Menurutnya, pada hari Sabtu (21 Juni), militer AS meluncurkan Operasi Midnight Hammer, dengan pengerahan lebih dari 125 pesawat, termasuk pembom siluman B-2, pesawat pengisi bahan bakar, pesawat pengintai, dan jet tempur.

Zhou Ziding, pembawa acara “Detik Eksplorasi”, menjelaskan: “Yang paling mengesankan dari operasi militer AS kali ini adalah strategi militernya yang luar biasa: mengelabui langit dan laut, serta mengalihkan perhatian musuh. Kita tahu bahwa pada dini hari 21 Juni, dua gelombang pembom siluman B-2 lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri.

Gelombang pertama berangkat sekitar pukul 00.00 tengah malam waktu setempat dan terbang menuju Timur untuk membombardir Iran.

Sementara itu, gelombang kedua berangkat sekitar 4,5 jam kemudian (pukul 04.30 pagi waktu setempat) dan terbang ke arah Barat, melewati California dan menuju ke atas Samudera Pasifik.”

Zhou menambahkan bahwa militer AS sengaja membocorkan informasi penerbangan dari gelombang kedua (yang menuju Pasifik), termasuk data pengisian bahan bakar di udara, untuk menarik perhatian publik dan intelijen musuh, sementara gelombang pertama yang sebenarnya melakukan pemboman berhasil menjalankan misinya dengan penyamaran tersebut.

Militer AS juga menyatakan bahwa dalam Operasi Palu Tengah Malam, untuk pertama kalinya mereka menggunakan bom penembus bunker raksasa GBU-57, dan total 14 bom dijatuhkan ke dua fasilitas nuklir Iran, yaitu:

  • 12 bom ke fasilitas nuklir Fordow
  • 2 bom ke fasilitas Natanz

Jenderal Dan Kane mengatakan: “Pada pukul 14.10 waktu AS Timur (pukul 02.10 waktu Iran), pesawat B-2 utama menjatuhkan dua bom penembus besar GBU-57 ke salah satu target di Fordow.”

Zhou Ziding menjelaskan bahwa fasilitas nuklir Iran dibangun di bawah lapisan granit alami, yang jauh lebih sulit ditembus dibanding beton biasa, sehingga militer AS kemungkinan menggunakan dua bom GBU-57 secara beruntun untuk menembus granit tersebut.

Ia menjelaskan lebih lanjut: “Dalam serangan terhadap Fordow, militer AS menggunakan 12 bom penembus bunker, dengan 6 kali sortie dari pembom B-2, artinya masing-masing B-2 membawa dua bom.

Berdasarkan citra satelit yang kita lihat hari ini, terlihat 6 lubang besar di permukaan tanah, ini mengindikasikan bahwa dua bom ditembakkan ke dalam satu lubang yang sama, di mana bom pertama menembus sedalam 20 hingga 30 meter, lalu bom kedua menembus lebih dalam lagi dan meledak di kedalaman yang diinginkan.”

Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Kane, menambahkan bahwa penilaian awal menunjukkan ketiga fasilitas nuklir bawah tanah Iran mengalami kerusakan dan kehancuran yang sangat parah. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Serangan Mendadak AS Hancurkan Ambisi Nuklir Iran, Inggris-Prancis-Jerman Peringatkan Iran untuk Tidak Membalas

EtIndonesia. Militer Amerika Serikat pada Sabtu (21 Juni) malam, secara tiba-tiba menyerang tiga fasilitas nuklir utama Iran, menjadi sorotan global. AS mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan guna mencapai kesepakatan, sembari memperingatkan bahwa jika Iran menyerang AS, konsekuensinya akan sangat berat. Iran membalas dengan menyatakan sedang mempertimbangkan balasan dan menegaskan bahwa tidak akan kembali ke jalur diplomatik selama berada di bawah serangan AS dan Israel. Sementara itu, konflik antara Iran dan Israel terus berlangsung.

“Fasilitas utama pengayaan nuklir Iran telah dihancurkan sepenuhnya,” ujar Presiden AS Donald Trump. 

“Amerika Serikat bergerak secara langsung! Pada Sabtu malam, militer AS melancarkan operasi kejutan yang diberi nama sandi “Midnight Hammer” (Palu Tengah Malam), dengan tiga fasilitas nuklir Iran sebagai target utama: Fordow, Natanz, dan Isfahan. Setelah misi selesai, seluruh pesawat tempur AS kembali dengan selamat.”

Trump melanjutkan: “Ini adalah kemenangan militer yang luar biasa. Si penindas dari Timur Tengah kini harus mencari jalan damai. Jika mereka tidak melakukannya, maka serangan berikutnya akan lebih hebat dan lebih mudah dilakukan.”

Citra satelit menunjukkan perbedaan mencolok pada ketiga fasilitas nuklir di Teheran sebelum dan sesudah serangan.

Pada Minggu (22 Juni), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan dalam konferensi pers di Pentagon bahwa tujuan utama AS adalah menghancurkan program nuklir Iran, bukan menggulingkan rezim Iran.

Gedung Putih pada Minggu dini hari juga merilis serangkaian foto yang menunjukkan Presiden Trump bersama Wakil Presiden Vance, Menlu Rubio, dan pejabat tinggi lainnya memantau operasi secara langsung dari ruang kendali militer.

Vance dan Rubio pada hari yang sama menyampaikan kepada media bahwa jika Iran menyerang AS, maka Teheran akan menghadapi masalah besar.

Wakil Presiden JD Vance mengatakan: “Iran punya pilihan: mereka bisa memilih jalan damai, atau tetap pada kebijakan ekstrem seperti mendanai terorisme dan berusaha mengembangkan senjata nuklir — dan yang terakhir adalah sesuatu yang tidak dapat diterima oleh Amerika Serikat.”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menambahkan: “Caranya sangat sederhana: mari kita bertemu langsung, mencapai kesepakatan yang menguntungkan Iran, terutama rakyatnya, serta membawa keamanan bagi dunia dan Amerika Serikat.”

Pada hari yang sama, pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman mengeluarkan pernyataan bersama, mendesak Iran untuk tidak mengambil langkah-langkah lebih lanjut yang dapat mengganggu stabilitas kawasan.

 Pernyataan itu menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan tidak boleh lagi menjadi ancaman terhadap keamanan regional.

Namun, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Minggu mengatakan bahwa serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran membuktikan Washington adalah dalang utama di balik serangan Israel.

Menlu Iran, Araghchi, mengancam bahwa Teheran sedang mempertimbangkan opsi balasan, dan menyatakan bahwa dalam kondisi diserang oleh AS dan Israel, diplomasi tidak lagi menjadi pilihan.

Pada Minggu pagi, Iran meluncurkan gelombang serangan baru terhadap wilayah Israel, termasuk Tel Aviv. Untuk pertama kalinya, Iran menggunakan rudal balistik paling kuatnya yakni rudal “Kheibar”, yang menyebabkan setidaknya 86 orang terluka.

“Kami tetap waspada di semua lini dan telah siap sepenuhnya. Pasukan Pertahanan Israel telah menunjukkan tekad dan kemampuannya — siapa pun yang mencoba menantang kami akan membayar mahal,” ujar Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir.

Militer Israel mengatakan bahwa serangan akan terus ditingkatkan sesuai dengan rencana operasi.

Pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyisipkan secarik kertas ke celah di Tembok Barat Yerusalem, yang bertuliskan: “Rakyat bangkit seperti singa, bangsa Israel hidup abadi.” (Hui/asr)

Laporan oleh reporter NTD, Yi Jing.

Saat Pesawat B-2 Kembali ke AS,  Trump Serukan “Pergantian Rezim” di Iran

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pesawat pembom B-2 yang melakukan serangan terhadap fasilitas nuklir bawah tanah Iran telah kembali ke Amerika Serikat, dan ia juga menyatakan dukungannya terhadap “pergantian rezim” di Iran.

Pada 22 Juni waktu AS bagian Timur, Trump memposting tiga pernyataan secara beruntun di platform media sosialnya “Truth Social”, menanggapi pemboman terhadap fasilitas nuklir Iran:

  1. Pernyataan pertama menyebutkan bahwa kerusakan terhadap fasilitas nuklir Iran sangat besar. Serangan itu dilakukan dengan akurat dan efektif, dan militer AS menunjukkan keterampilan yang luar biasa.
  2. Dalam pernyataan kedua, Trump menyinggung isu pergantian rezim, menyatakan:


    “Meskipun istilah ‘regime change’ tidak lagi dianggap politis, namun jika rezim saat ini di Iran tidak bisa membuat Iran menjadi hebat, mengapa tidak boleh ada pergantian rezim? Mari kita buat Iran hebat kembali (MIGA – Make Iran Great Again)!”


    (Dalam unggahan tersebut, Trump menyertakan tagar MIGA, yang menyerupai slogan kampanyenya: MAGA – Make America Great Again)
  3. Pernyataan ketiga menegaskan bahwa pesawat-pesawat pembom B-2 yang menyerang Iran telah kembali dengan selamat dan telah mendarat di Negara Bagian Missouri.

Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sama-sama menyatakan bahwa serangan udara terhadap Iran bertujuan untuk menghancurkan program nuklir Iran, namun keduanya juga menyatakan dukungan terhadap runtuhnya pemerintahan teokratis Iran.

Pada hari yang sama, sekutu Trump, Senator senior AS Lindsey Graham, mengatakan dalam acara televisi NBC bahwa setelah berbicara dengan Netanyahu, ia menyampaikan bahwa:

“Netanyahu berharap saya mendesak rakyat Iran untuk mengakhiri kegilaan ini, menumbangkan rezim mereka, menjalani kehidupan yang lebih baik, dan menjadi bagian dari kawasan ini dengan cara yang baru dan berbeda.”

Graham juga mengatakan bahwa Netanyahu ingin rakyat Amerika Serikat mengetahui bahwa Israel tidak akan hidup di bawah ancaman Iran selamanya.

Ketika ditanya apakah ia mendukung Israel dalam upaya menumbangkan rezim Iran, Graham menjawab: “Kalau saya jadi Israel, saya sudah lama melakukannya.”

Namun ia menambahkan bahwa ia tidak memperkirakan AS akan mengirim pasukan darat ke Iran. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Teroris Ledakkan Bom di Gereja Ibu Kota Suriah,  Tewaskan 22 Orang dan Lukai 63 Lainnya

EtIndonesia. Sebuah serangan bundir terjadi pada 22 Juni di sebuah gereja Ortodoks Yunani di Damaskus, ibu kota Suriah, menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai 63 lainnya. Hingga kini belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, namun Kementerian Dalam Negeri Suriah menyatakan bahwa pelakunya adalah anggota kelompok ekstremis ISIS.  

Ledakan tersebut terjadi di Gereja Mar Elias di distrik Dweila, pinggiran Damaskus, ketika para jemaat sedang berdoa di dalam gereja.

Dalam pernyataannya, Kementerian Dalam Negeri menyebutkan:  “Seorang pelaku bom bunuh diri yang merupakan anggota organisasi teroris Negara Islam (ISIS) memasuki Gereja Mar Elias sambil melepaskan tembakan, kemudian meledakkan sabuk bom yang dikenakannya.”

Organisasi Pertahanan Sipil Suriah (yang dikenal sebagai White Helmets) melakukan siaran langsung dari lokasi kejadian, menunjukkan kondisi gereja yang hancur, bangku dan tembok yang remuk, serta lantai yang berlumuran darah.

Seorang jurnalis AFP yang berada di tempat kejadian menyaksikan petugas medis mengevakuasi korban luka dari antara puing-puing kayu bangku dan perlengkapan gereja yang berserakan. Pasukan keamanan telah menutup dan mengamankan area tersebut.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Suriah menyatakan bahwa serangan ini menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai 52 orang, namun data tersebut kemudian diperbarui menjadi 22 korban tewas dan 63 orang luka-luka.

Ini adalah serangan pertama terhadap gereja sejak pecahnya perang saudara di Suriah pada tahun 2011. Peristiwa ini mendapat kecaman luas dari komunitas internasional. Masalah keamanan tetap menjadi tantangan terbesar bagi pemerintahan baru Suriah, dan masyarakat internasional terus menyerukan perlindungan terhadap kelompok agama minoritas. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com