Andaikata Hidup Kita Hanya Tersisa 15 Menit

Gao Tianyun

Andaikata masih ada 15 menit Anda sampai pada akhir kehidupan …..

 “Ada rudal balistik menyerang Hawaii, diharap segera bersembunyi di tempat pengungsian. Ini bukan sebuah latihan.” Demikian alarm dikumandangkan di seluruh Hawaii.

Pagi hari pukul 08:07 pada 13 Januari 2018, berita peringatan seperti itu disebarkan ke ponsel semua penduduk Hawaii, dalam sekejap telah mengubah kehidupan jutaan orang. Penduduk setempat tahu jelas, peluncuran rudal (dari Korea Utara) hingga mencapai sasaran, hanya memerlukan 15~20 menit, lalu bagaimana?

Pulau nan indah dalam sekejap akan berubah menjadi sebuah medan malapetaka. Ketakutan, kakacauan dan penderitaan tersebar diseluruh pelosok.

Masyarakat termangu dan terisak, namun dengan cepat mulai bereaksi: mengirim SMS kepada keluarga, dan sekali lagi mennyampaikan: saya cinta padamu.

Lalu segera melesat pulang, berpelukan dengan keluarga dan siap bersama-sama menghadapinya.

Ada yang menggendong anaknya, namun tidak tahu akan sembunyi dimana. Ada yang sedang mengendarai mobil melaju dengan cepat, dalam benak terbayang serentetan kejadian dalam hidupnya…..

38 menit selanjutnya dirasakan teramat lama, setiap detik dilewati dengan hati yang menderita.

Ancaman jiwa dan krisis hendak menggilas, penduduk Hawaii telah mengalami guncangan batin yang luar biasa!

Pasca kejadian, reporter Washington Post Gene Park menulis sebuah kisah di twitter: “ketika menerima peringatan ancaman rudal, terdapat seorang ayah baru saja tiba disebuah mal dengan mengendarai mobil. Istrinya sedang masuk kerja, putra bungsunya di bandara dan dua anak lainnya berada di rumah.”

“Apa yang harus ia lakukan? Apakah cepat-cepat mencari tempat perlindungan, atau berkumpul dengan keluarga? Jika berkumpul dengan keluarga, harus kemana terlebih dahulu? Sampai ke tiga tempat itu, paling sedikit perlu 15 menit. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang, karena di rumah ia bisa berkumpul dengan anggota keluarga yang paling banyak.”

Ibu Ruth Goldbaum mengatakan kepada kantor berita CNN: ”Saya telah mengalami suasana seharian dari nyaman hingga menakutkan”, “Apakah ini dunia yang akan datang? Apakah kita hanya dapat menunggu didalam tempat perlindungan? Satu-satunya hal yang kita butuhkan adalah perdamaian.”

Memang benar, kita membutuhkan perdamaian dan cinta kasih. Ketika melangkah melewati garis pemisah hidup dan mati, baru memahami bahwa hidup itu sangat berharga, juga merupakan saat yang paling kita inginkan untuk menggenggam erat cinta sejati.

Sebelum berpisah, menyampaikan perkataan terakhir kepada orang yang dicintai, atau mengirim sebuah informasi di sosmed, meninggalkan sedikit jejak. Kehidupan manusia yang tidak menentu, benarkah begitu sulit dikuasai dan tidak dapat diprediksi sebelumnya?

Umat manusia telah kenyang dengan pahit getir kehidupan, dalam satu abad terakhir, telah mengalami  luka parah akibat perang dan teror. Puluhan juta orang mati dalam api peperangan dan pembantaian.

Setelah melewati dua kali perang dunia, dibanyak daerah, konflik ras dan etnis terus berlanjut, berbagai bentuk terorisme bangkit dan merajarela, dengan cara yang brutal menciptakan ketakutan, memperluas kekuatannya, terutama kejahatan terorisme oleh negara adalah yang paling mengerikan.

Bayangan gelap serangan teroris dan ancaman nuklir, telah menutupi sinar mentari; kobaran api dendam, telah menghalangi perdamaian dan mencekik kasih sayang.

Jika yang terpendam dalam hati adalah ketulusan, kebajikan dan toleransi, maka tidak akan ada apatisme, ego dan perebutan, bahkan tidak mungkin timbul peperangan atau tindakan brutal yang ekstrim.

Ketika intisari dari nilai tradisi dicampakkan, ketika keseimbangan benar dan salah, baik dan buruk dijungkirkan, masyarakat dihantam oleh kekacauan dan gejolak dan yang seolah tidak berjodoh lagi dengan ketentraman.

Disaat yang paling krusial ini, manusia perlu menundukkan kepala merenung, dengan sikap rendah hati mengakui kesalahan yang telah diperbuat,dan memohon bimbingan kepada sang Pencipta.

Ketika kejadian mendebarkan di Hawaii menyebar keseluruh dunia, masyarakat dunia juga telah merasakan dekatnya maut mengintai, merasakan ketidakberdayaan sebagai suatu kehidupan. Insiden keliru menekan tombol alarm kali ini, bukankah merupakan sebuah lonceng peringatan? (SUD/WHS/asr)